Artikelilmiahs
Menampilkan 13.261-13.280 dari 49.632 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 13261 | 16599 | E1A012303 | TINJAUAN YURIDIS TERHADAP SIFAT TIDAK DAPAT DIBAGI-BAGI DARI JAMINAN HAK TANGGUNGAN (STUDI DALAM PUTUSAN NOMOR : 477/PDT.G/2014/PN.SBY) | Penelitian ini berjudul : “Tinjauan Yuridis Terhadap Sifat Tidak Dapat Dibagi-bagi Dari Jaminan Hak Tanggungan (Studi Dalam Putusan Nomor : 477/PDT.G/2014/PN.SBY). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis debitur yang telah diputus pailit ingin membayar sebagian utang kepada kreditur pada perjanjian kredit. Rumusan masalahnya yaitu bagaimanakah penerapan prinsip tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan dalam hal debitur dijatuhi Keputusan Kepailitan dan bagaimana pertimbangan hukum dalam perkara tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dan menganalisis, penerapan prinsip tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan dalam hal debitur dijatuhi Keputusan Kepailitan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan yang digunakan pendekatan perundang-undangan. Jenis data yang digunakan adalah Data Sekunder yang terdiri dari tiga bagian yaitu Bahan Hukum Primer, Bahan Hukum Sekunder, Bahan Hukum Tersier dan analisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil bahwa Liem Elly Setiawati, Liem Hendra Santoso, Tommy Hendrawan Santoso tidak dapat membayar utang sebagian untuk menebus harta pribadi milik mereka, karena harta-harta tersebut telah diikat dengan Hak Tanggungan dan mereka telah dijatuhkan putusan kepailitan. Dalam jaminan Hak Tanggungan dianut asas bahwa obyek Hak Tanggungan tidak dapat dibagi-bagi, kecuali diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan, selanjutnya dengan adanya putusan kepailitan seorang debitur menjadi kehilangan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum atas harta kekayaanya | This research entitled : “Juridicial Review of Nature Can Not Shared to Warranties of Title of Liability (Study in Decision Number : 477/PDT.G/2014/PN.SBY). This study was conducted to analyze debtors who had been made bankrupt want to pay some debts to creditors in the credit agreement. The formulation of the problem is how the application of the principle can not be divided from Encumbrance in terms of the debtor sentenced Bankruptcy Decision and how the legal reasoning in the case. This research was conducted with the purpose of knowing and analyzing, the application of the principle can not be divided from Encumbrance in terms of the debtor sentenced Bankruptcy Decision. The method used is a normative juridical method with the approach used approach to legislation. The data used is secondary data which consists of three parts, namely Legal Materials Primary, Secondary Legal Materials, Materials Tertiary Legal and normative qualitative analysis. Based on the analysis result that Liem Elly Setiawati, Hendra Liem Santoso, Tommy Lawrence Santoso can not pay the debt in part to make up for their own personal property, because the treasures had been tied with Encumbrance and they have dropped the decision of the bankruptcy. Mortgage guarantees adopted in principle that the Mortgage object can not be divided, unless otherwise agreed in the Deed Granting Mortgage, subsequent to the decision of the bankruptcy of a debtor be losing authority to perform legal acts on property wealth. | |
| 13262 | 16598 | C1L012017 | Determinants of Islamic Social Reporting Disclosure: An Empirical Study on Islamic Banks in Indonesia and Malaysia | Islamic social reporting (ISR) menjadi hal yang penting untuk pemenuhan pengungkapan informasi kepada stakeholder. Dalam upaya meningkatkan tingkat pengungkapan, perlu dilakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan ISR. Pada studi penelitian ini bertujuan untuk mengatahui bagaimana tingkat pengungkapan dan mengatahui and menganalis faktor-faktor yang dimungkinkan mempunyai pengaruh terhadap pengungkapan ISR pada Islamic banks di Indonesia dan Malaysia. Faktor-faktor yang dilakukan penelitian adalah karakteristik perusahaan, yaitu, ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, perusahaan audit, Islamic Governance score, dan investment account holder. Anali pengungkapan ISR diinvestigasi dengan teori Stakeholder dan teori Sharia Enterprise. Sampel terdiri dari 9 Islamic banks dari Indonesia dan 4 Islamic banks dari Malaysia yang melaporkan laporan tahunan selama periode 2012-2015. Analisis data menggunakan analisis konten yang dikembangkan oleh Othman et al. (2009) dengan penambahan. Scoring dilakukan dengan pemberian skor 1 jika bank tersebut mengungkapkan item-item dari ISR dan 0 jika item-item tersebut tidak diungkapkan. Hasil penelitian pada multiple linear regression ditunjukkan bahwa variabel-variabel pada ukuran perusahaan dan proporsi investment account holder mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan ISR. Variabel dari Islamic Governance score dengan sub variabel jumlah Dewan Pengawas Syariah mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan ISR. Hal ini bertentangan dengan variabel profitabilitas perusahaan, perusahaan audit, Islamic Governance score dengan sub variabel cross membership dan latar belakang pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap pengungkapan ISR. | Islamic social reporting became important issue to fulfill the disclosure of information for stakeholder. In order to increase levels of disclosure, it requires factor analysis which affect the ISR disclosure. This study aims to determine how level of ISR disclosure and also to determine and analysis of the factors that may have effect on the Islamic Social Reporting (ISR) disclosure within Islamic banks in Indonesia and Malaysia. The factors suspected from characteristics of company, namely, firm size, firm profitability, audit firm, Islamic Governance score, and investment account holder. The determinants of ISR disclosures are investigated using the Stakeholder Theory and Sharia Enterprise Theory. The sample are 9 Islamic banks from Indonesia and 4 Islamic banks from Malaysia which reported annual report in 2012-2015 periods. The data analysis used content analysis of ISR index that developed by Othman et al. (2009) with additional. The scoring given 1, if banks disclosed these ISR items and 0 if these items is not disclosed. Research result of multiple linear regression showed that the variables of firm size and proportion of investment account holder have positive and significant effect toward ISR disclosure. The variable of Islamic Governance score with sub variable of Sharia Supervisory Board members has negative and significant effect toward ISR disclosure. This contradicts with the variable of firm profitability, audit firm, Islamic Governance score with sub variable cross membership and educational background have no significant effect toward ISR disclosure. | |
| 13263 | 16601 | D1E010059 | KARAKTERISTIK KUALITATIF SAPI PERANAKAN ONGOLE DI KAWASAN PERWILAYAHAN SUMBER BIBIT KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH | Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi kualitatif sapi PO jantan dan betina, perbedaan karakteristik kualitatif sapi PO jantan dan betina, dan perbedaan karakteristik kualitatif sapi PO antar kelompok ternak. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2015 sampai 17 April 2015 bertempat di 6 Kecamatan (Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal, Mirit) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah sapi PO berjumlah 846 ekor terdiri dari 267 ekor jantan dan 579 ekor betina. Metode penelitian ini menggunakan analisis chi-square, dengan variabel yaitu pola warna dominan, bentuk kepala, keberadaan punuk, bentuk punuk, keberadaan tanduk, bentuk tanduk, bentuk gelambir, warna rambut ekor, warna mata, warna moncong. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan dan persamaan karakteristik kualitatif dari sapi PO jantan dan betina, perbedaan terlihat pada pola warna dominan, ada tiga macam pada sapi PO jantan yaitu putih (85,87%), putih abu-abu (6,01%), dan warna lain (8,01%) sedangkan sapi PO betina hanya putih (88,014%) dan putih abu-abu (11,89%). Perbedaan lain pada bentuk punuk sapi PO jantan ada tiga macam bentuk punuk yaitu kecil (75,51%), besar dan tegak (13,35%) serta besar dan rubuh (14,12%) lain halnya dengan sapi PO betina yang hanya memiliki bentuk punuk kecil (89,38%) serta besar dan tegak (10,61%). Ada tiga bentuk tanduk pada sapi PO jantan yaitu pendek (92,23%), panjang ke atas (0,38%) dan asimetris (0,38%) sedangkan sapi PO betina lebih bervariasi yaitu pendek (74,48%), panjang ke belakang (9,93%), panjang ke atas (11,98%), lengkung ke bawah (2,39%) dan asimetris (1,19%). Karakteristik lainnya seperti bentuk kepala, warna moncong, warna mata, warna rambut ekor dan bentuk gelambir memiliki karakterisik yang sama. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan dan persamaan karakteristik kualitatif antara sapi PO jantan dan betina, sapi PO di wilayah Kabupaten Kebumen mempunyai karakteristik pola warna tubuh dominan putih, bentuk kepala biasa, bentuk tanduk pendek, bentuk punuk kecil, warna moncong hitam, warna rambut ekor hitam, warna mata hitam serta bentuk gelambir panjang berlipat, dan tidak terdapat perbedaan karakteristik kualitatif sapi PO jantan maupun betina antar kelompok ternak wilayah sumber pembibitan di Kabupaten Kebumen. | The purpose of this research to obtain a qualitative description male beef and female beef PO cattle, PO cattle qualitative differences in the characteristics of male beef and female beef, and the differences between qualitative characteristics PO cattle herd. This research was conducted on March 7, 2015 until 17 April 2015 located in the 6 District (Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal, Mirit) Kebumen, Central Java. The material used is PO cattle totaling 846 tails consisted of 267 male beef cattle and 579 female beef cattle. This research method using chi-square analysis, the variables of the pattern of the dominant color, shape of the head, presence of hump, hump shape, presence of horns, horn shape, wattle form, tail hair color, eye color, the color of muzzle. The results showed there are differences and similarities qualitative characteristics of PO male beef cattle and female beef cattle, the differences seen in the dominant color pattern, there are three kinds of PO cattle male beef is white (85.87%), white shades gray (6.01%) and other colors (8.01%) while the PO females beef cattle only white (88.01%) and white shades gray (11.89%). Another difference in the shape of a PO males beef cattle hump there are three kinds of hump that is small (75.51%), big and upright (13.35%), big and collapsed (14.12%), another case with PO females beef cattle only have a small hump shape (89,384%) as well as big and upright (10.61%). There are three forms of PO male beef cattle’s horns is short (92.23%), long upward (0.38%), and asymmetric (0.38%) whereas females beef cattle more varied are short (74.48%), long back (9.93%), a long upward (11.98%), downward curved (2.39%) and asymmetric (1.19%). Other characteristics such as the shape of the head, muzzle color, eye color, tail hair color and shape of the wattle has the same characteristics. The conclusion from this research is that there are differences and similarities qualitative characteristics between males and females PO beef cattle, PO cattle in the district of Kebumen has a characteristic pattern of body color predominantly white, shape of head plain, form short horns, form a hump of small, black muzzle color, black tail hair color, black eye color and shape of a long wattle doubled, and there are no qualitative differences in the characteristics of males and females PO beef cattle herd between the source region of breeding in Kebumen. | |
| 13264 | 16602 | C1L011004 | The Influence of Size, Profitability and Leverage on Voluntary Disclosure of Annual Report Moderated by Growth | Laporan tahunan dan pengungkapan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan merupakan metode utama untuk tetap memberikan investor suatu informasi mengenai kinerja perusahaan. Terdapat sebuah fenomena mengenai kurangnya transparansi dalam pengungkapan informasi yang dibuat oleh perusahaan tambang. Di sisi lain, terdapat pula sedikitnya bukti-bukti yang mendukung mengenai pengaruh atribut perusahaan seperti ukuran, profitabilitas, leverage dan pertumbuhan pada tingkat pengungkapan sukarela tahunan. Bukti empiris dari penelitian sebelumnya adalah saling bertentangan dan tidak meyakinkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran, profitabilitas dan leverage terhadap pengungkapan sukarela dengan dimoderasi oleh pertumbuhan. Jenis penelitian ini adalah desain korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2012-2014. Penelitian ini mengambil sampel dari 18 perusahaan tambang dengan metode purposive sampling. Data tersebut dianalisis dengan Analisis Regresi Moderasian (MRA). MRA digunakan untuk menguji pengaruh ukuran, profitabilitas dan leverage terhadap pengungkapan sukarela yang dimoderasi oleh pertumbuhan. Hasil dari penelitian ini adalah pertumbuhan memoderasi pengaruh ukuran pada pengungkapan sukarela. Artinya, semakin besar perusahaan semakin tinggi tingkat pengungkapan sukarela dalam perusahaan yang bertumbuh. Sementara itu, pertumbuhan memoderasi pengaruh profitabilitas pada pengungkapan sukarela dalam arah yang egative. Artinya, semakin rendah profitabilitas, semakin tinggi tingkat pengungkapan sukarela dalam perusahaan yang bertumbuh. Selain itu, pertumbuhan tidak memoderasi pengaruh leverage pada pengungkapan sukarela. Artinya, semakin tinggi leverage, hal ini tidak akan memperluas pengungkapan sukarela dalam perusahaan yang bertumbuh. Temuan dari hasil penelitian ini memiliki implikasi bagi investor untuk mengambil keuntungan dari pengungkapan sukarela yang disediakan oleh perusahaan sebagai pertimbangan pada keputusan investasi yang akan dilakukan. Hal ini juga membantu manajemen perusahaan dalam menentukan keputusan untuk mengungkapkan informasi perusahaan. | Annual report and disclosure by management are the primary methods of keeping investors informed about corporate performance. There is a phenomenon about lack of transparency in disclosing the information that has been made by mining companies. On the other hand, there is very little supporting empirical evidence about the influence of firm specific-attributes such as size, profitability, leverage and growth on the extent of annual voluntary disclosure. However, the empirical evidence from previous studies are conflicting and not conclusive. This study aims to analyze the influence of size, profitability and leverage on voluntary disclosure moderated by growth. Type of this research is a correlational design with a quantitative approach. The population of this study is mining companies listed on IDX period 2012-2014. This study takes a sample of 18 mining companies by a purposive sampling method. The data is analyzed by Moderated Regression Analysis (MRA). MRA is used to test the influence of size, profitability and leverage on voluntary disclosure moderated by growth. The result of this study proves that growth moderates the influence of size on voluntary disclosure. It means, the larger the firms, the higher the extent of voluntary disclosure in a growth company. Meanwhile, growth moderates the influence of profitability on voluntary disclosure in a negative association. It means, the lower the profitability, the higher the extent of voluntary disclosure in a growth company. Furthermore, growth does not moderate the influence of leverage on voluntary disclosure. It means, the higher the leverage, it will not extent the voluntary disclosure in a growth company. The findings of this study have an implication for investor to take advantage of the voluntary disclosure provided by the company as consideration on investment decisions which will be made. It also helps the company’s management in taking decision to disclose the company’s information. | |
| 13265 | 16603 | E1A012360 | Tinjauan Yuridis Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Terhadap Penumpang Pesawat Udara Akibat Kelebihan Kapasitas Penumpang (Over Capacity) Dalam Putusan Nomor 260/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Pst. | Pengangkutan udara dinilai menjadi salah satu pengangkutan yang memiliki peran penting dalam mendukung segala bentuk kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan munculnya banyak perusahaan yang bersaing di bidang penerbangan di Indonesia yang menerapkan pola penerbangan berbiaya murah hanya untuk mementingkan kuantitas penumpang bukan kualitas operasional. Permasalahan yang dibahas adalah mengenai tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang pesawat udara akibat kelebihan kapasitas penumpang(over capacity) dalam putusan Nomor 260/PDT.G/2014/PN.JKT.PST. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa buku-buku literatur, peraturan perundang-undangan, dokumen resmi dan situs-situs internet dengan cara studi pustaka, yaitu dengan menginventarisasi data-data tersebut yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian sistematis. Data-data yang diperoleh dianalisis dan dijabarkan berdasarkan norma hukum yang berkaitan dengan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang akibat kelebihan kapasitas penumpang yaitu dalam bentuk ganti rugi. ganti rugi berupa mengalihkan ke penerbangan lain tanpa membayar biaya tambahan, kemudian memberikan konsumsi, akomodasi, dan biaya transportasi apabila tidak ada penerbangan lain ke tempat tujuan. Akibat hukumnya yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan Permenhub No 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Angkutan Udara, pengangkut harus mengembalikan seluruh biaya tiket dan membayar uang ganti rugi sejumlah Rp. 5.107.700,00. | Air transportation is considered to be the one of transportation who have important roles on support all forms of community needs in daily life. This led to the appereance of many companies who compete in the field of aviation in Indonesia who apply flight cheap cost system, that’s only to prioritize the quantity of passengers not the quality of operational .Issues discussed is about responsibility flight carrier to the aircraft passengers due to excess capacity passengers (over capacity ) in a Putusan number 260 / pdt.g / 2014 / pn.jkt.pst A method of approach used is normative juridical .The data used was secondary data literature in the form of books, legislation , official documents and internet sites by way of the literature study , data presented in a systematic description .The data obtained analyzed and elaborated based on the norms of law pertaining to an object of research The result of this legal research shows that the protection provided to the passengers who have overseat is a compensation, such as flight ticket, flight ticket to different airlines, consumption, accommodation and transportation to the passengers who have overseat. Due to the law that is based on the law number 1 of 2009 on a flight and permenhub no. 77 of 2011 on the responsibility air transportation , carrier must return the entire cost of tickets and pay compensation about Rp .5.107.700,00 . | |
| 13266 | 16604 | G1A011095 | HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO ABSTRAK Latar belakang: Informed consent adalah suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas tindakan yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi mengenai segala manfaat dan risiko yang mungkin terjadi. Tujuan dari pemberian informasi tersebut adalah untuk memberikan pemahaman (persamaan persepsi) pasien dan dokter terhadap prosedur tindakan yang akan dilakukan. Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent. Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observational dengan pendekatan potong lintang. Responden penelitian ini adalah keluarga pasien yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo setelah menandatangani informed consent. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah keluarga pasien yang tidak bisa menggunakan bahasa indonesia, pasien dengan gangguan kejiwaan. Analisis bivariabel menggunakan uji nonparametric spearman. Hasil: Keseluruhan responden yang mengikuti penelitian ini berjumlah 42 responden. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent (r = 0,5929 dan p = <0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna dengan korelasi sedang antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent | RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY EDUCATION LEVEL WITH KNOWLEDGE OF PATIENT INFORMED CONSENT AT THE POSTPARTUM ROOM MARGONO HOSPITAL SOEKARJO PURWOKERTO ABSTRAK Background: Informed consent is an agreement or consent of the patient on measures to be taken against his/her doctor after obtaining information on all the benefits and possible risks that will be happen. The purpose of the provision of such information is to provide an understanding (perception) patients and doctors with procedures for actions to be taken. Purpose : Knowing whether there is a relationship between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent. Methode : This study uses an observational analytic study with cross sectional approach. Respondents are families of patients which treated in Margono Hospital Soekarjo after signing an informed consent. Exclusion criteria in this study were the families of patients who can not use Indonesia language, patients with psychiatric disorders. Bivariable analysis using Spearman nonparametric test.. Result : Overall respondents who join this research were 42 respondents. The results showed that there was a significant relationship between the level of education and knowledge about the patient's family informed consent (r = 0.5929 and p = <0.001). Conclusion : There is a significant association with moderate correlation between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent. | |
| 13267 | 16605 | F1B012007 | COLLABORATIVE GOVERNANCE PROGRAM ONE VILLAGE ONE PRODUCT DALAM PENINGKATAN DAYA SAING PRODUK UNGGULAN GULA KELAPA DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS | Collaborative governance saat ini banyak digunakan dalam menyelesaikan permasalahan publik atau mengelola suatu program, salah satunya digunakan dalam upaya peningkatan daya saing produk unggulan gula kelapa di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas melalui program OVOP, dimana pemerintah berkolaborasi dengan pihak kepentingan lainnya seperti swasta atau pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat agar daya saing produk gula kelapa dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses collaborative governance program OVOP dalam peningkatan daya saing produk unggulan gula kelapa di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banymuas. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian di Kecamatan Cilongok, sasaran dalam penelitian ini antara lain yaitu unsur pemerintah yaitu, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Banyumas, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Banyumas, unsur swasta meliputi Koperasi Nira Satria, UD nira Barokah, dan CV P3R, unsur masyarakat meliputi kelompok penderes nira barokah, dan kelompok penderes gunung lurah, serta LSM LPPSLH. Pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah interaktif. Keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses collaborative governance mampu mendorong peningkatan daya saing melalui munculnya inovasi produk gula kelapa kristal, namun tidak menyeluruh hal tersebut dikarenakan forum koordinasi yang tidak dimanfaatkan dengan baik mengakibatkan adanya kendala dalam proses komunikasi antar stakeholder, dimana forum deliberative jarang terjadi, hal tersebut menyebabkan kurangnya kepercayaan, komitmen atas proses, pemahaman bersama yang kurang antar stakeholder. | Collaborative governance the widely used in overcoming public or manage a program, one of them is used in improving the competitivenss of top products coconut sugar in district Cilongok regency of Banyumas through One Vilage One Product program, where the government collaborated with the interests group such as private, non-governmental organizations, and the community to competitiveness coconut suger product can increase. This research aims to know and describe the process of collaborative governance programs One Village One Product in the improvement of the competitiveness of coconut sugar products in district of Banyumas Regency Cilongok. The research method used is qualitative descriptive study. Research locations in district of Cilongok. which the target are, element of governance include Department of Industry Trade and cooperatives, Banyumas Regency regional development planning Board Regency of Banyumas, from private parties include CV P3R, cooperative Nira Nira Barokah, and UD Satria, the community include group of penderes Gununglurah and Group of Penderes Nira Barokah, as well as non-governmental organization LPPSLH. The selection of informants is done using purposive sampling technique. The collection of data using interviews, observation, and documentation. Methods of analysis used are interactive. The validity of the data is tested with the triangulation of sources. The results of research showed that the process of collaborative governance could encourage increased competitiveness through the emergence of product innovation coconut sugar crystalline, but coordination forum not used and resulting in the obstacles of the process communication between stakeholders, where forum deliberative rare. This cause trust building, comittment to process, shared understanding with less between stakeholder. | |
| 13268 | 16600 | F1A012077 | Ketika Istri Harus Berbaju Seksi (Studi tentang Persepsi dan Respons Suami terhadap Istri yang Bekerja sebagai Sales Promotion Girl Rokok di Purwokerto) | Sales promotion girl (SPG) rokok merupakan pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan SPG rokok adalah pekerjaan yang menawarkan produk dengan konsumen utamanya laki-laki dan mereka memakai pakaian minim ketika melakukan pekerjaannya. Pekerjaan SPG rokok menjadi problematik ketika dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah menikah. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi dan respons suami terhadap istri yang bekerja sebagai sales promotion girl rokok di Purwokerto dengan metode kualitatif deskriptif. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah suami yang istrinya bekerja atau pernah bekerja sebagai SPG rokok. Validasi menggunakan triangulasi sumber yang tertuju pada istri yang menjadi SPG rokok, team leader SPG rokok, dan ibu SPG rokok. Peneliti menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa persepsi suami terhadap pekerjaan SPG rokok lebih cenderung ke arah pekerjaan yang negatif, akan tetapi suami memiliki respons yang berbeda-beda ketika pekerjaan SPG rokok dilakoni oleh istri sendiri. Mereka ada yang memaklumi karena suami yang belum bekerja, memberikan respons positif karena antara suami dan istri sama-sama bekerja, dan ada yang berhenti sebagai SPG rokok karena pengalaman pribadi yang tidak ingin diulangi kembali. Kemudian ada suami yang lebih aktif untuk mengetahui pekerjaan yang dilakukan istri agar istri tidak dipandang negatif oleh masyarakat dan tetap membolehkan istri bekerja menjadi SPG rokok. Dampak terhadap anak juga mengalami kendala, akan tetapi mereka tetap berusaha memberikan waktu dan kasih sayangnya walaupun suami istri bekerja dan tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai orangtua. Kesimpulan dari penelitian ini, persepsi yang ada menyebutkan bahwa para suami memberikan pandangan yang negative terhadap peran SPG rokok sebagai sarana untuk mempromosikan produk rokok yang dituntut dengan sedemikian rupa agar dapat menarik perhatian konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan. Sementara respons suami ketika istri bekerja sebagai SPG rokok memberikan tanggapan yang berbeda-beda dan lebih mendominasi adanya keraguan, seperti khawatir terhadap istri, kurang membolehkan dan merasa tidak dihargai. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah diperlukan adanya kerjasama yang baik antara pekerja SPG rokok sendiri, masyarakat, keluarga dan pemerintah. | Sales Promotion Girl (SPG) for cigarette’s brand still have a bad stereotype in society. The reasons are first mostly their customers are men second their appereance must be sexy. SPG for cigarette’s brand become problematic when it be done by married woman. This research was conducted to know husband’s perceptions and responses toward a wives who work as sales promotion girl for cigarette’s brand in Purwokerto by using descriptive qualitative research method. The object in this research are husbands who married with woman who are working as SPG for cigarrette’s brand or have work experiment as SPG for cigarrette’s brand. In this research, researcher used triangulation data ass data validation. The object was wives who are working as SPG for ciggarette’s brand, SPG for cigarrette’ brand’s team leader and SPG’ mother. This research used purposive sampling as the sampling technique. The method of data collection in this research was depth interview, observation and documentation. The result of this research explain that husbands have negative perception to SPG for cigarette’s brand, meanwhile when it is be done by their wifes they give different preceptions. Some of them understand the condition because the husbands have not get job, give positive respons because both of them are working, and there are women who decide to resign because of bad personal experiences. Then, there are husbands who want to know what are their wifes do to avoid bad stereotypes from society and let their wifes work as SPG for cigarette’s brand. Effects that was given for childern became problem, meanwhile they still tried to gave time and affection though both husband and wife working and did not forget about their responsibility as parents. The conclusion of this research, perception who that husbands understand the roles of SPG for cigarette’s brand is as the was to promote the brand of cigarette. Thus, SPG for cigarette’s brand must be in an interesting appereance to attract customers attention to but ther products. Meanwhile, husbands’ responses when their wive work as SPG for cigarrette’s brand are different they show their doubt, do not let their wive work and fell unrespected. The impication of this research is cooperation between SPG for cigarette’s brand, society, family and goverment are needed. | |
| 13269 | 16607 | D1E011236 | STUDI KELAYAKAN FINANSIAL DAN SENSITIFITAS HARGA PADA USAHA PEMBIBITAN SAPI PO KEBUMEN DI KABUPATEN KEBUMEN | Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi usaha penghasil sapi potong dengan menggunakan analisis finansial di 4 kecamatan pada Kabupaten Kebumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey pada peternak sapi PO Kebumen. Sampel dipilih secara purposive pada 4 kecamatan yang merupakan sentra budidaya sapi PO Kebumen. Variabel yang diukur meliputi Net B/C Ratio, NPV, dan IRR, serta dilakukan analisis sensitivitas. Berdasarkan hasil analisis aspek finansial usaha pembibitan sapi potong pada empat kecamatan di Kabupaten Kebumen menunjukkan nilai NPV positif, nilai IRR lebih besar dari discount factornya, R/C > 1, dan PP kurang dari 5 tahun, yang berarti usaha ini sudah dapat menutup biaya investasi awalnya sebelum umur usaha berakhir. Usaha pembibitan sapi potong di Kabupaten Kebumen jika ada kenaikan harga input sampai 10 persen dan penurunan harga output 10 persen masih layak untuk dijalankan. | The research aimed to evaluate the Kebumen PO Cattle Farming using financial analysis in 4 subdistricts of Kebumen. The research used survey method and area samples were selected by purposive sampling method since the area are production centre of Kebumen PO cattle. Variables observed were Net B/C Ratio, NPV, IRR, and also sensitivity analysis. The financial analysis results showed that the Kebumen PO cattle farming in 4 subdistricts of Kebumen had a positive NPV, IRR was bigger than the discount factor, the R/C > 1, and Payback Period less than 5 years. This means that the business was able to cover the investment cost before the business was over. The Kebumen PO Cattle Farming was feasible to be continued, even if there was increase of input cost up to 10% and decrease of output cost up to 10%. | |
| 13270 | 16620 | A1H012012 | PENGARUH PENAMBAHAN CMC DAN PERBANDINGAN ANTARA JAGUNG DENGAN AIR TERHADAP SIFAT FISIK DAN ORGANOLEPTIK SUSU JAGUNG | Produk olahan jagung dapat diunggulkan karena jagung sebagai bahan baku mengandung karbohidrat yang cukup tinggi. Salah satu produk yang dapat dikembangkan dari jagung, yaitu susu jagung yang merupakan salah satu minuman suplemen (tambahan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel – variabel varietas jagung manis (sweet lady dan talenta), penambahan cmc (Carboxymethyl Cellulose) serta formulasi perbandingan antara berat biji jagung dan air terhadap sifat fisik larutan jagung manis dengan parameter yang ditentukan, serta untuk mengetahui sifat organoleptik susu jagung terhadap kesukaan konsumen. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei 2016 di Laboratorium Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktornya adalah varietas jagung manis ( talenta dan sweet lady ), penambahan CMC (0,5%;1%;1,5%), perbandingan biji jagung dan air (0,50;0,25;0,16). Analisis data menggunakan uji F pada taraf 1% dan 5%. Variabel yang diukur yaitu warna ekstrak biji jagung, viskositas, kadar gula, total solid, massa jenis, uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang nyata pada semua variabel pengukuran terkecuali pada pengukuran kadar gula(oBrix). Dari hasil uji organoleptik dengan panelis didapat hasil sebagai berikut : Nilai tingkat aroma tertinggi didapat pada susu jagung varietas talenta dengan kadar CMC 1,5% serta perbandingan biji jagung da air sebesar 0,16 mempunyai nilai sebesar 2,98(agak kuat). Untuk tingkat rasa tertinggi didapat susu jagung varietas sweet lady dengan kadar CMC 0,5% serta perbandingan jumlah biji jagung dan air 0,16 sebesar 1,87 (agak manis), dan tingkat kesukaan tertinggi didapat susu jagung varietas sweet lady dengan kadar CMC 0,5% serta perbandingan air dan biji jagung 0,16 sebesar 3,91(normal). | Corn processed products can be featured because corn as the feedstock contains fairly high carbohydrates. One of the products that can be made from corn is corn milk which becomes one of supplement beverages. This study aimed to determine the effect of variables - varieties of sweet corn (sweet lady and talenta) variable, the addition of CMC (Carboxymethyl Cellulose), and the formulation of a certain ratio between the weight of corn seeds and water toward the physical properties of solution of sweet corn with the specified parameters, and to investigate the influence of organoleptic properties of milk corn on consumer preferences. Research was conducted in May 2016 at the Laboratory of Agricultural Technology, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study employed a Completely Randomized Design (CRD) factorial. The factor are varities of sweet corn (sweet lady and talenta),addition of CMC (0,5%;1%;1,5%), ratio beetween corn seeds and water (0,50;0,25;0,16). The data were analyzed by using F test at the level of 1% and 5%. The measured variables were the color of corn seed extract, viscosity, sugar content, total solid, density, organoleptic test. The results show that there is no any real influence on all measurement variables except on the measurement of sugar content (oBrix). The organoleptic test by panelists shows the following results: The highest score of aroma level was obtained from corn milk variety talenta, with CMC level of 1.5% and water and corn seeds ratio of 0.16, by 2.98. The highest level of taste was gained from corn milk variety sweet lady, with CMC level of 0.5%, water and corn seeds ratio of 0.6 by 1,87. The highest level of preference was obtained from corn milk variety sweet lady, with CMC level of 0.5%, water and corn seeds ratio of 0.16 by 3.91 | |
| 13271 | 16606 | F1B012003 | REFORMASI BIROKRASI MELALUI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (ONE STOP SERVICE) DI KANTOR PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN TERPADU KABUPATEN PURBALINGGA | Penelitian ini berjudul “Reformasi Birokrasi Melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran reformasi birokrasi di yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui program One Stop Service (OSS) di kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (KPMPT). Sebelum dibentuk program pelayanan terpadu satu pintu, pelayanan perizinan sangatlah lama dan juga birokrasi yang ditempuh amat panjang. Hal tersebut yang kemudian melatarbelakangi sistem pelayanan terpadu satu pintu yang memudahkan masyarakat dalam mengurus izin. Sebagai salah satu pelopor pelayanan terpadu satu pintu, Kabupaten Purbalingga ini tentu saja memberikan citra birokrasi pemerintahan yang lebih baik di mata masyarakat, karena masyarakat diberikan alternatif untuk memperoleh pelayanan yang lebih baik, bermutu, efektif dan efisien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling dan random sampling. Sedangkan metode yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model analisis interaktif dari Miles, Hubberman, dan Saldana. Penelitian ini dilakukan di Kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga yang menjadi fokus penelitian. Sasaran dalam penelitian ini adalah Kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga sebagai badan yang bertanggung jawab dalam menjalankan reformasi birokrasi di bidang pelayanan perizinan. Berdasarkan hasil analisis penelitian tentang Reformasi Birokrasi Melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (One Stop Service) Di Kantor Penanaman Modal Dan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga dapat dikatakan tidak banyak perubahan yang terjadi. Kabupaten Purbalingga sebagai salah satu pioneer pelayanan terpadu satu pintu belum banyak melakukan inovasi dari sisi pelayanan, dalam artian pelayanan yang diberikan masih stagnan dan belum begitu berkembang. Meskipun untuk pelayanan yang diberikan sudah jauh lebih cepat dibanding yang dulu namun dengan perkembangan zaman saat ini Kabupaten Purbalingga harus mampu mengikuti dinamika perkembangan masyarakat sehingga mampu bersaing dengan kabupaten lainnya. Hal tersebut diukur melalui penataan kelembagaan, penataan ketatalaksanaan, penataan sumber daya manusia, akuntabilitas dan pelayanan. | The title of this study is “Bureaucratic Reform through one stop service system the Purbalingga regency office of investment and integrated licensing”. The aim of this study was to decript bureaucratic reforms undertaken by the government in Purbalingga through the One Stop Service (OSS) in the Investment and Integrated Licensing Office. Before one stop services program was formed, licensing services takes time too long and also long bureaucratic was taken. These are aspects influenced of one stop service system that make it easy for the public in taking care of licencing. As one of the pioneers of the one stop service, Purbalingga of course gives a better image of bureaucracy in the public eyes, because the public is given an alternative to obtain better service, quality, effective and efficient. This research uses qualitative descriptive method. The technique of selection of informants in this study is with purposive sampling and random sampling. While the methods used are interviews, observation and documentation. Methods of data analysis using interactive analysis model of Miles, Huberman and Saldana. This research was conducted in the offices of investment and the integrated licencing in Purbalingga regency who became the focus of the research. The target in this research is Purbalingga regency office of investment and integrated licensing as the liable institution for running the bureucratic reforms in licensing service. Based on the analysis of the research on the bureucracy reform through the one stop service in the Purbalingga regency office of investment and integrated licensing, it can be said not much changes. Purbalingga as one of the pioneer of one stop service has not been a lot of innovation in terms of services, in terms of services provided remain stagnant and not so developed. Although for the given services is already much faster than it used to be but nowadays Purbalingga should be able to follow the growth of public dynamics so as to able to compete with other districts. It is measured through the institutional arrangement reform, structuring the management reform, the human resources reform, accountability and public service. | |
| 13272 | 16608 | H1A012023 | PENURUNAN NILAI COD DAN BOD DALAM LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENGGUNAKAN LAPIS TIPIS MESOPORI FOTOKATALIS TiO2-Ag PADA LAMPU UV DAN LAMPU TUNGSTEN | Telah dilakukan penelitian mengenai penurunan nilai COD dan BOD dalam limbah cair industry tahu menggunakan lapis tipis mesopori fotokatalis TiO2-Ag pada lampu UV dan lampu tungsten. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa optimasi, diantaranya perbandingan fotokatalis, pH, dan waktu kontak optimum, dan uji kerekatan foto katalis dengan PEG 1000 serta tanpa PEG 1000. Berdasarkan pengujian didapatkan perbandingan optimum fotokatalis TiO2-Ag dalam menurunan nilai COD dan BOD yaitu pada fotokatalis TiO2-Ag 98:2, persen penurunan pada lampu UV secara berturut-turut sebesar 33,76% dan 24,07% , sedangkan padal ampu tungsten 28,15% dan 20,37%. pH optimum fotokatalis TiO2-Ag 98:2 dalam menurunkan COD dan BOD adalah pada pH 11, dengan persen penurunan pada lampu UV secara berturut-turut adalah sebesar 73,51% dan 66,04%, sedangkan lampu tungsten adalah 62,06% dan 56,36%. Waktu kontak optimum fotokatalis yaitu pada jam kelima, dengan persen penurunan COD dan BOD menggunakan lampu UV sebesar 74,92% dan 59,67%, sedangkan lampu tungsten sebesar 68,37 dan 48,21%. Berdasarkan uji kerekatan, didapatkan lapis tipis fotokatalis dengan penambahan PEG 1000 memiliki kemampuan merekat yang lebih baik disbanding tanpa PEG 1000, dengan aktivitasnya dalam menurunkan nilai COD dan BOD pada lampu UV secara berturut-turut dalah 68,25% dan 55,56%, serta 51,27% dan 40,42%. | The research on COD and BOD decreased levels of tofu wastewater by thin layer mesoporous TiO2-Ag photocatalyst on UV and tungsten lamps has been conducted. In this research, several optimizations has been done, included ratio of photocatalyst, pH, and the optimum contact time, also adhesiveness test photocatalyst with PEG 1000 and without PEG 1000. Based on result, the optimum ratio of TiO2-Ag to decreased COD and BOD was on the TiO2-Ag 98:2 with percent degradation in the UV lamp respectively was 33.76% and 24.07%, while tungsten lamp was 28.15% and 20.37%. The optimum pH TiO2-Ag 98:2 todecreased COD and BOD was at pH 11, the percent degradation in the UV lamp respectively was 73.51% and 66.04%, while the tungsten lamp was 62.06% and 56.36%. The optimum contact time photocatalyst was in the fifth hour, the percent reduction in COD and BOD using UV lamp was 74,92% and 59.67%, while the tungsten lamp was 68.37 and 48.21%. Based on the test of adhesiveness, TiO2-Ag 98:2 thin layer with PEG 1000 obtained a better adhesiveness than without PEG 1000, with activity on the COD and BOD decreased levels on the UV lamp was 68.25% and 55.56%, respectively, and without PEG 1000 was 51.27% and 40.42%. | |
| 13273 | 16609 | H1A012005 | PENURUNAN NILAI BOD DAN COD LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN TEKNIK OKSIDASI SECARA ELEKTROKIMIA | ABSTRAK Nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD pada limbah cair batik tinggi, karena polutan yang terdapat pada limbah cair batik ini berupa padatan tersuspensi, bahan kimia maupun zat organik. Apabila langsung dibuang ke badan perairan, akan menyebabkan polutan pada air. Kadar senyawa organic yang ada dalam suatu perairan dapat diketahui dengan nilai BOD dan COD. Oleh karena itu, perlu dilakukan penurunan nilai BOD dan COD limbah cair batik tersebut sebelum dibuang ke badan perairan. Penurunan nilai BOD dan COD limbah cair batik dapat dilakukan menggunakan teknik oksidasi secara elektrokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh voltase, jarak elektroda, pH larutan, dan waktu elektrolisis terhadap penurunan nilai BOD dan COD limbah cair batik. Analisis sampel setelah elektrolisis menggunakan metode Winkler untuk analisis BOD dan metode titrasi iodometri untuk analisis COD. Eksperimen dilakukan dengan mengelektrolisis limbah cair batik menggunakan anoda PbO2 dan katoda Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibawah kondisi voltase 12V, jarak elektroda 1 cm, pH 1 dan waktu elektrolisis selama 150 menit, persentase penurunan nilai BOD dan COD mencapai 94,99% dan 96,67%. Penurunan nilai BOD dan COD limbah cair batik menggunakan teknik oksidasi secara elektrokimia dipengaruhi oleh voltase, jarak elektroda, pH larutan, dan waktu elektrolisis. | ABSTRACT Biochemical oxygen demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) values of batik wastewater were high, because there was suspended solid, chemical matters and organic maters pollutant . If we dumped it directly to water body, it would pollute the water. The content of organic matters in water could be known by BOD and COD values. Therefore, it was necessary to decrease the BOD and COD values of batik wastewater before discharged into the water body. Decreasing of BOD and COD values could be carried out using an electrochemical techniques. The purpose of this research was to determine the effect of potential, electrode distance, pH of the solution, and time to decrease of BOD and COD value of batik wastewater. Analysis of the sample after electrolysis used Winkler method for BOD analysis, and Iodometric titration method for COD analysis. The experiment had been performed on electrolysis batik wastewater using PbO2 as anode and Pb as cathode. The result of this research showed that under condition of 12 V voltage, 1 cm electrode distance, pH 1, and electrolysis time of 150 minutes, percentage BOD and COD of 94.99% and 96.67%, respectively. The decreasing BOD and COD values in batik wastewater by using electrochemical technique are influenced by voltage distance between electrodes, pH of the solution and electrolysis time. | |
| 13274 | 16613 | E1A111022 | Penerapan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) IV Cilacap Berdasarkan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas | Ketentuan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tersebut mewajiban kepada perseroan untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dan salah satu Perseroan Terbatas di Cilacap yang terkena kewajiban melaksanakan peraturan tersebut adalah PT. Pertamina refinery Unit IV Cilacap. Hal ini karena PT. Pertamina RU IV merupakan perseroan yang wajib patuh kepada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat ditarik permasalahan Bagaimana penerapan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di PT. Pertamina RU IV Cilacap Penelitian ini disusun menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan menggambarkan suatu objek atau peristiwa. Data yang digunakan adalah data sekunder Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dengan melakukan studi kepustakaan. Selain itu bahan hukum yang digunakan berupa, internet browsing, telaah artikel ilmiah termasuk didalamnya karya tulis ilmiah serta Data primer diperoleh dari kegiatan wawancara yaitu interaksi antara peneliti dengan responden, yang dilakukan oleh dua pihak yiatu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara dalam hal ini Senior Supervisor CSR PT. Pertamina Cilacap yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Pertamina RU IV Cilacap telah melaksanakan kewajibannya sebagai perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam (pengolahan minyak) yaitu menjalakan Corporate Social responsibility, hal ini sudah sesuai dengan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Kata Kunci: Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, Perseroan Terbatas | ABSTRACT The stipulation of Article 74 Ordinance Number 40 in 2007 about the Limited Company obligates to the company to conduct Corporate Social Responsibility and one of the Limited Company in Cilacap that has the obligation to do that regulation is PT. Pertamina Refinery Unit IV Cilacap. This is because PT. Pertamina RU IV is the company that obligates to obey the Ordinance Number 40 in 2007 about Limited Company. Bases on that stipulation, it can be concluded the problem how is the implementation Article 74 Ordinance Number 40 in 2007 about the Social and environment Responsibility at PT. Pertamina RU IV Cilacap. This research is arranged by using the method of normative juridical approach to describe an object or event. This research uses the secondary data. In this research, secondary data is obtained by conducting the literature study. Beside that, the material of law in this research uses the internet browsing, scientific article review such as scientific thesis and the Primary data is obtained from the interview activity that is the interaction between the researcher and respondent that are conducted by both sides they are interviewer that propose the question and the respondents in this case is Senior Supervisor CSR PT. Pertamina Cilacap who gives the answer for the questions. The result of research shows that PT. Pertamina RU IV Cilacap has conducted its obligation as the company that run its activity in the field of natural resource (oil refinery) that conducts the Corporate Social Responsibility, it has been based on the Article 74 Ordinance Number 40 in 2007 about the Social and Environment Responsibility. Keywords: Corporate Social Responsibility, Limited Company | |
| 13275 | 16612 | D1E012104 | PENAKSIRAN HERITABILITAS KARAKTERISTIK BOBOT TELUR DAN BOBOT TETAS HASIL PERSILANGAN ITIK TEGAL DENGAN MAGELANG MENGGUNAKAN METODE ANALISIS VARIANSI | Itik Tegal dan Magelang merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kemampuan produksi itik Tegal dan Magelang erat kaitannya dengan mutu genetik dari bibit yang digunakan. Salah satu pendekatan genetis untuk peningkatan mutu genetik yaitu melalui seleksi dan sistem perkawinan. Mutu genetik ternak dapat ditaksir dengan menghitung nilai heritabilitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui heritabilitas pada karakteristik bobot telur dan bobot tetas hasil persilangan itik Tegal dan itik Magelang generasi 1. Materi yang digunakan berjumlah 164 ekor yang terdiri atas pejantan itik Tegal sebanyak delapan ekor, betina itik Magelang 39 ekor dan itik hasil persilangannya yang selanjutnya disebut itik Gallang sebanyak 117 ekor. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis menggunakan metode half sib dengan pejantan sebagai perlakuan dan anak sebagai ulangan yang memiliki jumlah tidak sama (unequal). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot telur dan tetas hasil persilangan itik Tegal dengan itik Magelang adalah 65,34 ± 4,89 g dan 42,97 + 4,17 g. Terdapat hubungan yang sangat erat (P < 0,01) antara bobot telur dan tetas, dengan persamaan Y = 2,1871 + 0,6242X. Penaksiran nilai heritabilitas untuk karakteristik bobot telur dan tetas adalah 0,45 + 0,34 dan 0,07 + 0,19. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Nilai heritabilitas itik Gallang generasi pertama (F1) untuk karakteristik bobot telur tergolong sedang dan bobot tetas tergolong rendah; 2) Terdapat hubungan yang sangat erat antara bobot telur dengan bobot tetas. | Tegal duck and Magelang duck is Indonesia’s native germplasm those is very potential to be developed. The production capability of Tegal duck and Magelang duck closely related to the genetic quality of parent stock being used. One genetic approache to increase the genetic quality is selection and mating system. Genetic quality of livestock can be estimated by calculating the heritability value. The research was aimed to notice heritability value for egg weight and hatching weight characteristics of Tegal duck and Magelang duck crossbred in the 1st generation. The materials used were 164 birds, consisted of eight Tegal male ducks, 39 Magelang female ducks and crossbreed offspirng called Gallang as many as 117 birds. Data were tabulated and analyzed using halfsib method with unequal amount of males as treatment and duckling as replication. The results of the research described, generally egg weight and hatching weight of Gallang duck were 65.34 ± 4.89 g and 42.97 ± 4.17 g. There was a significant (P <0.01) relationship between egg weight and hatching weight, by the equation Y = 2.1871 + 0.6242X. The estimation of heritability for egg weight and hatching weight characteristics with half sib method were 0.45 ± 0.34 and 0.07 ± 0.19. Based on the results, it could be concluded that 1) Heritability value of Gallang duck’s first generation (F1) for the egg weight characteristic was classified as medium and hatching weight was as small.; 2) There was a significant relationship between egg weight and hatching weight. | |
| 13276 | 16614 | A1L012150 | PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI MIKORIZA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ENAM GENOTIPE KEDELAI (Glycine Max (L) Merill) | Penelitian ini bertujuan untuk : 1). Mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati mikoriza terhadap laju tumbuh dan hasil6 genotipe kedelai 2). Mengetahui genotipe kedelai yang memberikan respon terhadap pupuk hayati mikoriza 3) Mengetahui interaksi pupuk hayati mikoriza dan jenis genotipe terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Percobaan Petak Terbagi (Split Plot) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama merupakan pemberian pupuk hayati mikoriza dengan dosis 0 gr dan 5 gr per lubang tanam. Sedangkan dfaktor yang kedua merupakan genotipe tanaman kedelai yang terdiri dari Slamet, Grobogan, A635, A314, Pr 74 dan Pr 76. Penelitian ini menggunakan 12 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan 1) Pemberian pupuk hayati mikoriza tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel pertumbuhan yang diamati. Perbedaan genotipe kedelai tidak menunjukan adanya pengaruh terhadap variabel laju pertumbuhan serta laju asimilasi bersih ke 2 (4-6 MST) dan ke 3 (6-8 MST). 2) Genotip yang memberikan respon terbaik terhadap pemberian pupuk hayati mikoriza adalah Pr 76, Pr 74, A314, Slamet, Grobogan dan A635. 3) Terjadi interaksi antara pupuk hayati mikoriza dengan genotipe kedelai terhadap jumlah biji per tanaman. | This research aims for: 1). Knowing the influence of biological fertilizer mycorrhiza on the rate of growth and yield of soybean genotypes 6 2). Knowing soybean genotypes which provide a response to a biological fertilizer mycorrhizal 3) Knowing the biological fertilizer mycorrhizal interactions and types of genotype on growth and yield of soybean. The method used in this research is Design of Experiments Plots Divided (split plot) consisting of two factors. The first factor is the provision of a biological fertilizer mycorrhiza with a dose of 0 g and 5 g per planting hole. While the latter are dfaktor soybean genotypes comprising Slamet, Grobogan, A635, A314, Pr 74 and Pr 76. This study uses 12 treatments with three replications. The results showed 1) Providing a biological fertilizer mycorrhiza does not give effect to all the variables growth observed. Differences soybean genotypes showed no effect on the variable growth rate and net assimilation rate to 2 (4-6 MST) and 3 (6-8 MST). 2) Genotyping which gave the best response to administration of a biological fertilizer mycorrhiza is Pr 76, Pr 74, A314, Slamet, Grobogan and A635. 3) There was an interaction between biological fertilizer with mycorrhizal soybean genotypes to the number of seeds per plant. | |
| 13277 | 16615 | P2PA14004 | KAJIAN LINGKUNGAN DAMPAK PENGOLAHAN BATU KAPUR TERHADAP KEJADIAN DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PEKERJA PEMBAKARAN (Studi Kasus di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal) | industri batu kapur karena mempunyai gunung karang (kapur). Batu kapur tersebut digunakan membangun rumah setelah melalui proses pembakaran batu kapur. Industri batu kapur di Desa Karangdawa merupakan pengolahan batu gamping/kapur (limestone) mempunyai dampak yang positif dan negatif kepada masyarakat dan lingkungannya. Pengolahan batu kapur mempunyai dampak positif memberikan keuntungan berupa lapangan pekerjaan serta meningkatkan ekonomi dan sosial masyarakat. Pengolahan batu kapur dapat menimbulkan dampak negatif karena paparan zat-zat yang terjadi pada proses pengolahan batu kapur tersebut. Pengolahan batu kapur di Desa Karangdawa tidak mendapatkan penanganan yang baik, hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak pengolahan batu kapur terhadap kejadian dermatitis kontak iritan pada pekerja pembakaran di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Penelitian menggunakan metode survei (Maret-April 2016) yang merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan pengamatan langsung kejadian dermatitis kontak iritan pada pekerja pembakaran di tungku pembakaran batu kapur, sedangkan penelitian dilakukan dengan sensus terhadap pekerja pembakaran yaitu sejumlah 180 pekerja pembakaran batu kapur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja pembakaran yang mengalami kejadian dermatitis kontak iritan mencapai 71 orang (39,44%). Berdasarkan hasil analisis bivariat, kejadian dermatitis kontak iritan berhubungan dengan riwayat penyakit kulit, pengggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan kebersihan diri (personal hygiene). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara usia dengan kejadian dermatitis kontak, dengan p value sebesar 0,021. Usia ≥ 35 tahun memiliki risiko mengalami 0,331 kali lebih berisiko terkena dermatitis kontak iritan dibandingkan usia < 35 tahun. Kajian lingkungan mengenai dampak pengolahan batu kapur terhadap kejadian dermatitis kontak iritan dapat direduksi menggunakan APD dengan lengkap dan memperhatikan kebersihan diri (personal hygiene) selama bekerja. Peneliti memberikan saran kepada dinas terkait untuk melakukan penyuluhan kepada pekerja pembakaran untuk mengenal gejala dermatitis kontak iritan serta melakukan upaya pengendalian dan pengawasan kepada pekerja yang memiliki riwayat penyakit kulit sebelumnya dan memiki umur diatas 35 tahun. | Village Karangdawa, Huntly District is one of the village center industry because limestone rocks have (lime). The limestone used to build the house after the combustion process of limestone. Industrial limestone in the village Karangdawa processing limestone / lime (limestone) have a positive impact and negative to society and the environment. Processing of limestone have a positive impact provides the advantages of jobs and increase the economic and social fabric. Processing of limestone can have a negative impact due to exposure to substances that occur in the processing of limestone. Processing of limestone in the village Karangdawa not get proper treatment, it will have a negative impact on the environment and public health. This study aims to determine the impact of limestone processing on the incidence of irritant contact dermatitis in workers Karangdawa burning in the village, District Margasari, Tegal. The study used survey methods (March-April 2016) which is a quantitative research with cross sectional approach. The sampling technique with direct observation of events irritant contact dermatitis in workers burning furnace limestone, while research conducted by the census workers are burning some 180 workers burning limestone. The results showed that workers who experienced events combustion irritant contact dermatitis to 71 people (39.44%). Based on the results of the bivariate analysis, the incidence of irritant contact dermatitis associated with a history of skin disease, pengggunaan Personal Protective Equipment (PPE) and personal hygiene. Multivariate analysis showed that there was significant effect between age and incidence of contact dermatitis, with a p value of 0.021. ≥ 35 years of age at risk of 0.331 times more at risk of irritant contact dermatitis than age <35 years. The environmental assessment of the impact of limestone processing on the incidence of irritant contact dermatitis can be reduced using full PPE and attention to personal hygiene during work. Researchers provide advice to the relevant agencies to conduct outreach to workers combustion to recognize the symptoms of irritant contact dermatitis and by conducting control and supervision to a worker who had a previous history of skin diseases and have an age of above 35 years. | |
| 13278 | 16589 | H1A012048 | SINTESIS DAN KARAKTERISASI KARBOKSIMETIL KITOSAN SERTA APLIKASINYA SEBAGAI PENGAWET TAHU | Karboksimetil kitosan memiliki dua gugus aktif yaitu –NH2 dan –COOH yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang lebih baik dari kitosan. Tahu merupakan bahan pangan yang mengandung protein tinggi sehingga sangat mudah ditumbuhi mikroba. Oleh sebab itu, dilakukan penambahan karboksimetil kitosan pada tahu untuk memperpanjang masa simpan tahu. Pada penelitian ini dilakukan sintesis dan karakterisasi karboksimetil kitosan serta aplikasinya sebagai pengawet tahu. Hasil penelitian menunjukkan proses karboksimetilasi kitosan menggunakan asam monokloroasetat menghasilkan karboksimetil kitosan dengan karakteristik spektra IR karboksimetil kitosan pada: daerah 3441,01 cm-1 (vibrasi ulur gugus –OH) dan serapan pada gelombang 1597,06 cm-1 (pelebaran gugus C=O). Berdasarkan hasil penelitian tahu dengan penambahan karboksimetil kitosan dapat memperpanjang masa simpan tahu sampai 2 hari di suhu ruang. | Carboxymethyl chitosan has two active group is –NH2 and -COOH that can hinder growth of microbes better than chitosan. Tofu is a food ingredient containing high proteins that very easy overgrown by microbes. Therefore, addition of carboxymethyl chitosan in tofu to extend shelf life of tofu. In this research, synthesis and characterisation of carboxymethyl chitosan and application as preservative tofu is studied. The research results showed process that the carboxymetylation of chitosan the use of monochloroacetic acid produce carboxymethyl chitosan to characteristic of carboxymethyl chitosan respectively: show IR spectra wide in the area 3441.01 cm-1 (streching vibration of group –OH) and absorption on the wave 1597.06 cm-1 (widening of group C=O). Based research result tofu that is by addition carboxymethyl chitosan at room temperature storage in two days. | |
| 13279 | 16617 | A1L009175 | PENGARUH PERLAKUAN BAKTERI ANTAGONIS Bacillus subtilis B209 TERHADAP MORTALITAS LARVA DAN FEKUNDITAS Crocidolomia pavonana F. HAMA PADA TANAMAN KUBIS | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh bakteri Bacillus subtilis terhadap mortalitas serangga hama Crocidolomia pavonana F., dan 2) mengetahui pengaruh bakteri Bacillus subtilis terhadap reproduksi serangga hama Crocidolomia pavonana F. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan Februari hingga Juli 2016. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok non-faktorial, dengan enam ulangan. Percobaan terdiri dari 4 perlakuan yaitu kontrol, B. subtilis isolat konsentrasi 1 mL/100 mL, 5 mL/100 mL, dan 10 mL/100 mL. Setiap unit perlakuan percobaan menggunakan larva C. pavonana 10 ekor larva dan 10 g daun kubis. Variabel yang diamati yaitu mortalitas larva, persentase pupa yang terbentuk, ukuran pupa yang terbentuk, fekunditas dan fertilitas. Data dianalisis menggunakan uji F taraf 5 persen, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri B. subtilis efektif mematikan larva C. pavonana sebesar 73,33 persen, menurunkan persentase jumlah pupa yang terbentuk (kontrol 76,67 persen, B. subtilis 21,67 persen), menurunkan panjang pupa (kontrol 11,14 mm, B. subtilis 7,40 mm), menurunkan bobot pupa (kontrol 111,16 mg, B. subtilis 86,94 mg), menurunkan jumlah telur yang dihasilkan imago C. pavonana, dan mampu mengendalikan jumlah telur yang menetas. | The goals of this research were to 1) find out effect of bacterium Bacillus subtilis on larval mortality of Crocidolomia pavonana F., and 2) find out effect of bacterium Bacillus subtilis on reproduction of Crocidolomia pavonana F. The research was conducted in Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto on February until July 2016. The research used a non-factorial randomized block design, with six replication. The experiment consisted of 4 treatments that was control, B. subtilis isolat concentration 1mL/100mL, 5 mL/100mL, and 10 mL/100mL. Each unit of the treatment used 10 individu C. pavonana larvae and 10 g Cabbage leaf. Observed variables were larval mortality, percentage of formed pupa, size measure of formed pupa, fecundity and fertility. The data were analyzed by using the F test in 5 percent level followed by Least Significant Difference test (LSD). The result showed that B. subtilis was effective to kill C. pavonana larvae as 73,33 percent, lowered percentage of amount of pupae (control 76,67 percent, B. subtilis 21,67 percen)), lowered lenght of pupa (control 11,14 mm, B. subtilis 7,40 mm), lowered weight of pupa (control 111,16 mg, B. subtilis 86,94 mg), lowering the amount of eggs produced imago C. pavonana, and controlling amount of hatched eggs. | |
| 13280 | 16625 | A1C012030 | Analisis Komparatif Usahatani Tumpangsari Wortel dan Caisim dengan Monokultur Wortel di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga | Petani di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga menanam wortel dengan sistem tanam monokultur dan tumpangsari dengan caisim. Petani wortel di Kecamtan Karangreja dihadapkan pada pilihan usahatani dengan sistem tanam mana yang paling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan dari usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim; (2) perbedaan pendapatan antara usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim; (3) perbedaan efisiensi usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilaksanakan tanggal 6 April sampai 26 Mei 2016 di Desa Serang dan Desa Kutabawa. Sasaran Penelitian adalah petani yang melakukan usahatani monokultur wortel maupun tumpangsari wortel dengan caisim pada musim tanam Oktober 2015 sampai Maret 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Pengambilan sampel petani menggunakan metode simple random sampling, diperoleh 32 petani wortel dengan sistem tanam tumpangsari dengan caisim dan 31 petani wortel dengan sistem tanam monokultur yang dijadikan responden. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan teknik wawancara dengan menggunakan kuisoner. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, analisis efisiensi usahatani dan analisis uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada usahatani tumpangsari wortel dengan caisim per hektar per musim tanam total biaya sebesar Rp10.675.935,74, penerimaan sebesar Rp24.057.501,61, pendapatan sebesar Rp13.381.565,87 dan R/C ratio sebesar 2,27. Pada usahatani monokultur wortel per hektar per musim tanam total biaya sebesar Rp8.985.157,14, penerimaan sebesar Rp19.487.769,23, pendapatan sebesar Rp10.502.611,78 dan R/C ratio sebesar 2,13. (2) Besarnya pendapatan usahatani tumpangsari wortel dengan caisim lebih besar daripada pendapatan usahatani monokultur wortel. (3) Nilai R/C ratio usahatani tumpangsari wortel dengan caisim dan nilai R/C ratio usahatani monokultur wortel secara statistik tidak terdapat perbedaan atau tidak ada beda. | Farmer at Karangreja Sub-district, Purbalingga is cultivating Carrot using monoculture system and intercropping with caisim. Carrot farmer at Karangreja sub district faced with the option of which cultivation system will earn more profit. The aims of this study are to 1) find out how much the cost, revenue, and income from cultivating by monoculture and intercropping system, 2) find out the differences in income between using monoculture and intercropping with caisim ,and 3) the difference in efficiency between monoculture and intercropping with caisim, at Karangreja sub-district, Purbalingga. The study conducted at Serang and Kutabawa Village, on April 6th – May 26th 2016. The object of this study are farmers who cultivate carrot in monoculture system as well as intercropping with caisim on October 2015- Maret 2016 growing season. The research method which is used in this research is survey. Determination of respondents used was Simple Random Sampling, obtained 32 carrots monoculture farmers and 31 intercropping with caisim farmers. Data retrieval has been done using observation and interview method by quitionaers. Data was analyzed using cost, income, and profit analysis, farming efficiency analysis, and different test analysis. The result of this study shows that: 1) on carrot cultivation by intercropping with caisim, has spend total cost of Rp10.675.935,74, earned Rp24.057.501,61 of revenue, and Rp13.381.565,87 as income with R/C ratio of 2.27 per hectare in one growing season, while on carrot monoculture has spend total cost of Rp8.985.157,14, earned Rp19.057.501,61 of revenue, and Rp10.502.611,78 as income and 2.13 of R/C Ratio. 2) the income of carrot cultivation by intercropping with caisim is more than the income of carrot cultivation by monoculture. 3) Statistically, there are no difference between R/C ratio of carrot cultivation by intercropping with caisim and R/C ratio of carrot cultivation by monoculture. |