Artikelilmiahs
Menampilkan 12.761-12.780 dari 49.588 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 12761 | 5757 | E1A109019 | KEDUDUKAN TAP MPR DALAM HIRARKI PERATURAN PERUNDANGAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN | ABSTRAK Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan memuat ketentuan baru yang memasukkan kembali TAP MPR dalam hierarki peraturan perundang-undangan. Dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa hierarki peraturan perundang-undangan terdiri dari: 1. UUD 1945 2. TAP MPR 3. Undang-Undang /Perpu 4. Peraturan Pemerintah 5. Perpres 6. Perda Provinsi; dan 7. Perda Kabupaten. Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu karena MPR sudah tidak lagi berwenang mengeluarkan TAP MPR maka Pada Undang-undang No.10 Tahun 2004, Ketetapan MPR tidak termasuk dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Namun, terjadi perubahan tentang kedudukan Ketetapan MPR setelah dicabutnya Undang-undang No.10 Tahun 2004 dan digantikan dengan Undang-undang No.12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dengan adanya Undang-Undang No 12 tahun 2011 ini TAP MPR menjadi salah satu peraturan perundang-undangan kembali. Pembasahan dari penelitian ini adalah kedudukan TAP MPR adalah sebagai salah satu jenis peraturan perundangan yang secara hirarki ada dibawah Undang-Undang Dasar 1945 dan diatas Undang-Undang, sehingga jika TAP MPR bertentangan dengan Undang-Undang Dasar maka akibatnya adalah batal demi hukum dan yang dapat melakukan Pengujian TAP MPR yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar adalah Mahkamah Konstitusi. Kata Kunci : Kedudukan, TAP MPR, Hirarki, Undang-Undang. | ABSTRAC Law Number 12 Year 2011 regarding Amendment to Law Number 10 Year 2004 on the formation of legislation take the new terms that include People's Consultative Assembly Decree back in the hierarchy of legislation. In Article 7 paragraph (1) stated that the hierarchy of legislation consists of: a. Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945 b. People's Consultative Assembly Decree c. Law/Peraturan in Lieu of Law d. Government Regulation e. Presidential Regulation f. Provincial Regulation g. District Regulations The research result that is obtained by People's Consultative Assembly is no longer authorized to issue the People's Consultative Assembly Decree At Law No. 10 Year 2004, the Ruling does not include the layout People's Consultative Assembly sequence of legislation in Indonesia. However, there was a change of position after MPR Resolution withdrew Law No.10 of 2004 and replaced by Law No.12 year 2011 About Formation Legislation. With the advent of Law No. 12 of 2011 became one of the People's Consultative Assembly Decree legislation back. Wetting of the research is People's Consultative Assembly Decree position is as one of the legal regulations in the hierarchy are under the Law of 1945 and the Law on, so if People's Consultative Assembly Decree contrary to the Constitution of the result is null and void and can perform testing People's Consultative Assembly Decree contrary to Policy Law is Constitutional Court. Keywords: position, People's Consultative Assembly Decree, Hierarchy, Law. | |
| 12762 | 5770 | D1E009074 | PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS PROBIOTIK DALAM RANSUM AYAM ARAB TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN INCOME OVER FEED COST | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai jenis probiotik dalam ransum ayam Arab terhadap konsumsi pakan dan Income Over Feed Cost. Materi yang digunakan adalah ayam Arab betina umur 91 minggu sebanyak 60 ekor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah penggunaan probiotik terdiri atas R0 ( tanpa probiotik), R1 (penggunaan probiotik Lactobacillus sp), R2 (penggunaan probiotik Bakteri asam laktat), dan R3 (penggunaan probiotik Bacillus sp). Peubah yang dicatat dan diamati adalah Konsumsi pakan dan Income Over Feed Cost. Data di analisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis probiotik dalam ransum ayam Arab berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi pakan dan Income Over Feed cost.Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan berbagai jenis probiotik dalam ransum ayam Arab tidak memengaruhi efisiensi konsumsi pakan dan Income Over Feed cost ayam Arab umur 91 minggu. | The purpose of this research was to know the effect of different types of probiotics in Arabian chicken diet on feed consumption and Income Over Feed Cost. The Materials that were used were female Arabian chicken of 91 weeks old as many as 60 heads. This research was conducted by invivo experimental method, by using Completely Randomized Design (CRD). The tested treatments were R0 ( without probiotic), R1 ( the use of Acid lactid bacteria probiotic), R2 ( the use of Lactobacillus sp. probiotic), R3 ( the use of Bacillus sp. probiotic). Variables that were recorded and were observed were feed consumption and Income Over Feed Cost. Data were analyzed using analysis of variance. The variance analysis results showed that use variation of probiotics in diet of Arabian chicken had no significant (P>0.05) with feed consumption and Income Over Feed Cost. The conclusion of this research is, the use of various types of probiotics in Arabian chicken rations are not able to efficiently increase feed consumption and increase Income Over Feed cost Arabian chickens at the age of 91 weeks old. | |
| 12763 | 5758 | O1A006032 | Analisis Parasetamol pada Jamu Asam Urat dengan Metode KLT dan Spektrofotometri UV | Pencampuran jamu dengan bahan kimia obat sintetis tidak boleh dilakukan, akan tetapi sering dilakukan untuk menjadikan jamu semakin berkhasiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan parasetamol pada jamu serbuk asam urat, dan untuk mengetahui kadar parasetamol apabila terkandung dalam jamu serbuk asam urat yang diproduksi di Cilacap. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental laboratorium yang meliputi pengambilan sampel dengan metode consecutive sampling, yaitu dengan mengambil jamu serbuk yang diproduksi di Cilacap dengan kemasan utuh, tidak rusak dan belum kadaluarsa. Dilanjutkan dengan analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis dan kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV. Sampel mengandung parasetamol jika bercak sampel berada pada kisaran 95 – 105% terhadap Rf standar parasetamol. Analisis terhadap tiga sampel menunjukkan bahwa sampel jamu asam urat positif mengandung parasetamol. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Rd sampel yang berada pada kisaran 95 – 105%. Analisis dengan metode spektrofotometri UV diperoleh panjang gelombang maksimum 248 nm. Kadar rata-rata parasetamol per bungkus dalam sampel A = 79,24 mg ± 17,38 mg; B = 114,29 mg ± 11,77 mg; dan C = 540,07 mg ± 162,34 mg. | Mixing herbs with synthetic drugs are illegal, but it is often done to increase efficacy. The objective of this study was to determine the presence and concentration of paracetamol in herbal medicine produced in Cilacap. This research was carried out with laboratory experimental method includes sampling using consecutive sampling method, sampling was done by taking herbal medicine produced in Cilacap with packaging intact, undamaged, and not expired. Followed by qualitative analysis by thin-layer chromatography and quantitative analysis by UV spectrophotometry. Samples contained paracetamol if Rf values in the range of 95 – 105% to the standard Rf. Results of the analysis showed that all of the samples contained paracetamol, indicated by Rd values which were in the range of 95 – 105%. Analysis by UV spectrophotometry obtain maximum wavelength 248 nm. The average concentration of paracetamol in one pack on sample A = 79.24 mg ± 17,38 mg; sample B = 114.29 mg ± 11,77 mg; and sample C = 540.07 mg ± 162,34 mg. | |
| 12764 | 5759 | H1D008032 | UJI KEHANDALAN BEBERAPA RUMUS EMPIRIS PENURUNAN DATA HUJAN HARIAN MENJADI HUJAN JAM-JAMAN UNTUK PERKIRAAN HIDROGRAF BANJIR | Hal yang sangat menentukan dalam pembuatan rancangan dan rencana bangunan air adalah distribusi curah hujan. Curah hujan menjadi masukan utama bagi aliran sungai dan di dalam tampungan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah. Distribusi curah hujan ini bermacam-macam sesuai dengan jangka waktu yang ditinjau yakni curah hujan tahunan, curah hujan bulanan, curah hujan harian, curah hujan per jam. Namun data curah hujan yang diamati pada periode tertentu seringkali tidak tersedia, atau terjadi kekosongan data terutama data hujan jam-jaman. Adanya data yang kosong akan mengurangi informasi yang terkandung pada data. Dengan memperhatikan masalah tersebut penelitian ini akan mencoba untuk mengisi data curah hujan jam-jaman yang kosong dengan cara menurunkan data hujan harian menjadi data hujan jam-jaman menggunakan beberapa rumus empiris, serta menguji kehandalan beberapa rumus empiris tersebut untuk perkiraan hidrograf banjir. Rumus yang digunakan untuk mendistribusikan hujan harian menjadi hujan jam-jaman menggunakan beberapa pola curah hujan distribusi seperti Mononobe, ABM dan Tadashi Tanimoto yang diterapkan pada DAS Tajum. Uji kehandalan dilakukan dengan membandingkan hasil penurunan data hujan harian menjadi jam-jaman yang terhitung dengan data debit yang terukur di AWLR bendung Tajum kaitannya dengan hidrograf banjir dengan model hidrologi yang ada di program HEC-HMS. Berdasarkan perbedaan volume, debit puncak, waktu puncak , dan time of center mass penyimpangan terkecil diberikan oleh pola distribusi hujan menurut metode ABM dengan penyimpangan rerata 15.71 %, penyimpangan lebih besar diberikan oleh pola distribusi hujan menurut metode Mononobe dengan penyimpangan rerata 18.55 %, dan metode Tadashi Tanimoto yaitu dengan penyimpangan rerata 24.01 %. | The purpose of this study istrytofillin the missing of hourly rainfall data by disaggregating the daily rainfall data to hourly rainfall data using some empirical formulas, and will test the reliability of the empirical formulas which is used to determine flood hydrograph. The equation which is used to distribute the daily rainfall into the hourly rainfall are Mononobe, ABM, and Tadashi Tanimoto that applied at Tajum watershed. Reliability test is done by comparing the derivation result of daily rainfall to hourly rainfall with the discharge data that measured on AWLR Tajum weir, which relate to flood hydrograph with existing hydrological models in HEC-HMS program. Based on the differences in volume, peak discharge, time peak, and time of center mass, derivation the smallest deviation given by rainfall distribution pattern according to ABM method, which have mean deviation 15.71%, large deviations given by rainfall distribution using Mononobe method which is 18.55% mean deviation, and methods of Tadashi Tanimoto which has a mean deviation of 24.01%. | |
| 12765 | 5745 | E1A009188 | PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN DAN PENCURIAN DENGAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN RESIDIVIS (Tinjauan Yuridis terhadap Putusan Nomor: 137/Pid.B/2012/PN.Pwt) | ABSTRAK Di dalam suatu proses peradilan, pada tingkat pemeriksaan di sidang pengadilan tahap pembuktian merupakan hal yang sangat penting. Alat-alat bukti pun ikut berperan dalam tahap pembuktian untuk menentukan seorang terdakwa bersalah atau tidak. Adakalanya dapat terjadi seseorang kembali memerani peran sebagai tersangka, terdakwa, dan terpidana. Orang tersebut dikenal dengan sebutan residivis. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti dan menuangkan hasilnya dalam judul: PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN DAN PENCURIAN DENGAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN RESIDIVIS (Tinjauan Yuridis terhadap Putusan Nomor: 137/Pid.B/2012/PN.Pwt). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang pertama, alat bukti apa saja yang menunjukkan terbuktinya tindak pidana perkosaan dan pencurian dengan kekerasan dalam Putusan Nomor: 137/Pid.B/2012/PN.Pwt? Kedua, bagaimana kekuatan pembuktian keterangan terdakwa residivis dalam tindak pidana perkosaan dan pencurian dengan kekerasan pada Putusan Nomor: 137/Pid.B/2012/PN.Pwt? Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa alat-alat bukti yang menunjukkan terbuktinya tindak pidana perkosaan dan pencurian dengan kekerasan, yakni keterangan saksi (MDD, FSU, EP, M, dan L), surat berupa laporan Visum et Repertum, dan keterangan terdakwa AM. Kekuatan pembuktian keterangan terdakwa residivis, yakni sifatnya bebas dalam arti hakim bebas dalam menilai kebenaran yang terkandung di dalam alat bukti keterangan terdakwa residivis. Kata kunci: Pembuktian, Tindak Pidana Perkosaan, Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan, Residivis. | ABSTRACT In a judicial process, at the level of checks in the evidentiary phase of the trial is very important. In it any stuffs of evidence involved in the authentication phase to determine a defendant is guilty or not. Sometimes it happens to someone reprises the role as a suspect, the accused or the convicted person. That person is known as recidivist. Based on the description, the author is interested for researching and expressing the results in a title: THE EVIDENTIARY of FELONY RAPE and THEFT with VIOLENCE COMMITTED by RECIDIVIST (Juridical Review Decision No. 137/Pid. B/2012/PN.Pwt). Based on the explanation above, the first problem can be formulated, what are the evidences that showed the evidence of felony of rape and theft with violence in the Number of Decision: 137/Pid. B/2012/PN.Pwt? Second, how does the power of proof the defendant's description of recidivist in the felony of rape and theft with violence in the Number of Decision: 137/Pid. B/2012/PN.Pwt? Based on the results of the research can be obtained the conclusion that the stuffs of evidence showed the evidence of felony of rape and theft with violence, are the eyewitness (MDD, FSU, EP, M, and L), the report letter of Visum et Repertum, and the defendant's description of AM. The power of proof is convicts the defendant's description of its nature is free, it is meant that the judge is free for assessing the truth implied in the recidivist of the defendant's description of evidence. Key words: Evidentiary, Felony of rape, Felony of theft with violence, Recidivist. | |
| 12766 | 5997 | G1A009133 | Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Tahun 2012-2013 | Latar belakang: Dalam sistem reproduksi perempuan terjadi serangkaian perubahan siklik yang teratur, yang disebut sebagai siklus menstruasi. Siklus menstruasi dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satunya adalah tingkat aktivitas fisik. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan siklus menstruasi pada mahasiswi jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Unsoed Purwokerto angkatan 2010-2012. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2013 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Unsoed Purwokerto tahun 2012-2013 pada mahasiswi jurusan Kedokteran dengan total responden berjumlah 75 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner tingkat aktivitas fisik Riskesdas 2007 sedangkan siklus menstruasi diukur menggunakan kuesioner siklus menstruasi. Hasil: Didapatkan 50 sampel (66,7%) siklus menstruasi normal dan 25 sampel (33,3%) siklus menstruasi tidak normal. Analisis pengaruh tingkat aktivitas fisik dan siklus menstruasi dilakukan dengan uji Chi-square memperoleh nilai p = 0,026 yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik berat terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Unsoed Purwokerto angkatan 2010-2012. | Background: In the female reproductive systems there is a series of cyclic changes regularly, which is called the menstrual cycle. Menstrual cycle is affected by several factors and one of them is the physical activity level. Objective: The research aims to determine the association of the physical activity level with the menstrual cycle in college student Medical Faculty of Medicine and Health Sciences University of Jendral Soedirman Purwokerto 2012-2013. Methods: This study was an observational analytic study with cross-sectional study. This study was conducted in June 2013 in college student Medical Faculty of Medicine and Health Sciences University of Jendral Soedirman Purwokerto used 75 suitable responden based on inclusion and exclusion criterias. Physical activity levels were measured by a questionnairre of physical activity levels Riskesdas 2007 while menstrual cycle was measured using a questionnairre of menstrual cycle. Results: This study was obtained 50 samples (66.7%) normal menstrual cycle and 25 samples (33.3%) abnormal menstrual cycles. The analysis by Chi-square correlation test found a significant association between physical activity level and menstrual cycle with p=0,026. Conclusion: This study concluded that heavy physical activity level association with menstrual cycle in college student Medical Faculty of Medicine and Health Sciences University of Jendral Soedirman Purwokerto 2012-2013. | |
| 12767 | 6329 | G1B009006 | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERSEPSI KESELAMATAN KERJA DENGAN PERILAKU AMAN PADA KARYAWAN DI PT INDONESIA POWER BANJARNEGARA | Industrialisasi tidak terlepas dari sumber daya manusia, dimana setiap manusia diharapkan dapat menjadi sumber daya siap pakai dan mampu membantu tercapainya tujuan perusahaan. Akan tetapi keberadaan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan tidak akan terlepas dari adanya risiko penyakit akibat kerja atau kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh perilaku tidak aman dan kondisi yang tidak aman. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan persepsi keselamatan kerja dengan perilaku aman pada karyawan di PT Indonesia Power Banjarnegara. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Populasi adalah seluruh karyawan PT Indonesia Power Banjarnegara UBP Mrica sebanyak 280 karyawan, sampel sebanyak 31 karyawan dengan metode purposive sampling. Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat (chi square). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan keselamatan kerja (p value = 0,172), dan persepsi keselamatan kerja (p value = 0,383), dengan perilaku aman pada karyawan PT Indonesia Power Banjarnegara Dalam rangka untuk meningkatkan perilaku aman perlu dilakukan pelatihan emosional dan spiritual, memberikan motivasi, memberikan informasi keselamatan kerja melalui berbagai media untuk meningkatkan pengetahuan, dan memberikan pengawasan yang lebih intensif pada karyawan. | Industrialization does not be released from human resources, where every human is expected to be a human resource that ready for used and can help to achieve acompany goals. However, the existence of human resources with company will not be released from the risk of illness work result or work accidents caused by unsafe behaviors and unsafe conditions. The purpose of this study is to analyze the relationship between knowledge level and safety work perception with safety behavior for employee in PT Indonesia Power Banjarnegara. The research method is quantitative with crossectional approach. The population was all employees in PT Indonesia Power Banjarnegara UBP 2 Mrica as much as 280 employees, a sample of 31 employees with purposive sampling method. Data Analysis of univariate and bivariate analyzes (chi square). The result showed there was no correlation between safety work knowledge (p value =0.172), and safety work perception (p value =0.383), with safety behavior for the employees of PT Indonesia Power Banjarnegara In order to increase the safety behavior, it necessary gives emotional and spiritual training, giving motivation, provide safety work information through various media to increase knowledge, and provide more intensive supervisi on to the employees. | |
| 12768 | 5761 | C1A008119 | EFISIENSI TEKNIS DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL BATIK BANYUMAS DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “EFISIENSI TEKNIS DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL BATIK BANYUMAS DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis usaha batik banyumas dan pengaruh bahan baku, modal dan tenaga kerja terhadap produksi industri kecil batik banyumas di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Data diperoleh dari hasil wawancara dan penyebaran kuesioner. Alat analisis yang digunakan adalah Regresi Logaritma Natural Berganda dengan model statistik untuk pengujian secara parsial menggunakan uji t dan secara simultan menggunakan uji F. Untuk mengetahui penyimpangan asumsi klasik dalam penelitian ini di gunakan Uji Multikolinearitas, Uji Autokorelasi, dan uji Heteroskedastisitas. Untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis pada usaha produksi batik banyumas digunakan alat analisis DEA. Berdasarkan hasil perhitungan uji F dapat diketahui bahwa variabel bahan baku, modal dan tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan. Sedangkan berdasarkan uji t dapat diketahui bahwa variabel bahan baku dan tenaga kerja secara parsial berpengaruh signifikan. Tetapi secara parsial variabel modal tidak berpengaruh signifikan, hal ini disebabkan karena masih adanya proses produksi yang dilakukan di luar daerah. Dengan menggunakan alat analisis DEA diketahui bahwa dari 38 responden terdapat 31 pengusaha yang sudah mencapai tingkat efisiensi secara teknis dan terdapat 7 pengusaha yang belum mencapai tingkat efisiensi secara teknis. Implikasi dari penelitian ini adalah pengusaha industri batik banyumas hendaknya memperhatikan variabel bahan baku dan tenaga kerja karena memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan produksi. Peningkatan kemampuan tenaga kerja dan melengkapi peralatan produksi juga sangat diperlukan agar kegiatan proses produksi yang dilakukan di luar daerah bisa dilakukan sendiri sehingga bisa menekan biaya produksi yang pada akhirnya bisa meningkatkan efisiensi. Untuk pengusaha batik banyumas yang sudah mencapai tingkat efisiensi secara teknis maka disarankan agar tetap mempertahankannya dan para pengusaha yang belum mencapai tingkat efisiensi secara teknis maka perlu memperhatikan kombinasi penggunaan faktor produksi yang tepat untuk memperoleh jumlah produksi yang optimal. | This research entitle "TECHNICAL EFFICIENCY AND FACTORS AFFECTING BATIK BANYUMAS SMALL-SCALE INDUSTRIAL PRODUCTION IN SUB-REGENCY SOKARAJA BANYUMAS REGENCY". The purpose of this study is to determine the level of technical efficiency of Batik Banyumas industry and the influence of raw material, capital and labor to the production of Batik Banyumas small-scale industry in Sub-regency Sokaraja Banyumas Regency. The research was conducted by survey method. Data obtained from interview and questionnaire. Analysis tool used is the Multiple Natural Logarithm Regression with statistical Model for partial testing using the t test and simultaneously using F test. To find out irregularity of classical assumption in this study used Multicollinearity test, autocorrelation test, and Heteroskidastity test. To d etermine the level of technical efficiency in Batik Banyumas industrial production used DEA analysis tool. Based on the calculation of the F test can be seen that raw material variable, capital and labor collectively significant. While based on t can be seen that the raw material and labor variables are partially significant affecting. But in partial, capital variable is not significant, it is because there still production process conducted outside the area. By using DEA analysis tool known that from 38 respondents there are 31 entrepreneur who have reached the level of technical efficiency and there are 7 businesses that have not reached the level of technical efficiency. The implication of this study is Batik Banyumas industry etrepeneur should pay attention to raw material and labor variables due to a significant impact on increasing production. Increasing workforce capability and completing production equipment also very necessary for production activity conducted outside of the area can be conducted independently so that it can reduce the cost of production, which in turn can increase the efficiency. For Batik Banyumas entrepreneur who have reached the level of technical efficiency it is recommended to keep it and the entrepreneur who have not reached the level of technical efficiency it is necessary to pay attention to the combination of the proper use of production factor to obtain the optimal production quantity. | |
| 12769 | 5762 | C1C008098 | PENGARUH PROFESSIONAL MODEL: DEDIKASI PROFESI, KEWAJIBAN SOSIAL, KEMANDIRIAN, KEYAKINAN PERATURAN PROFESI SERTA HUBUNGAN SESAMA PROFESI ATAS PERSEPSI KINERJA MANAJERIAL BADAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH PADA KANTOR BAPPEDA EKS-KARESIDENAN BANYUMAS | Subjek penelitian ini adalah Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah di Eks-Karesidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara serta Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh professional model, yang terdiri dari: dedikasi profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan peraturan profesi serta hubungan sesama profesi atas persepsi kinerja manajerial. Tujuan utama dari penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan: (1) Apakah dedikasi profesi berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (2) Apakah kewajiban sosial berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (3) Apakah kemandirian berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (4) Apakah keyakinan peraturan profesi berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (5) Apakah hubungan sesama profesi berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (6) Diantara professional model, yang terdiri dari: dedikasi profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan peraturan profesi serta hubungan sesama profesi, manakah yang memiliki pengaruh paling dominan atas persepsi kinerja manajerial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Eks-Karesidenan Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif yang didasarkan pada data primer. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai Bappeda excluded Kepala Bappeda pada Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Eks-Karesidenan Banyumas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan yaitu uji validitas dan uji reliabilitas, uji asumsi klasik sedangkan untuk pengujian hipotesis menggunakan analisi regresi berganda. Hasilnya semua variabel valid dan reliabel, serta uji asumsi klasik terpenuhi. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa dedikasi profesi dan hubungan sesama profesi berpengaruh positif dan signifikan atas persepsi kinerja manajerial serta hubungan sesama profesi adalah variabel yang paling berpengaruh atas persepsi kinerja manajerial. Sedangkan variabel lainnya yakni kewajiban sosial, kemandirian dan keyakinan peraturan profesi tidak berpengaruh dan tidak signifikan atas persepsi kinerja manajerial. | The subjects of this research are Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah of Banyumas residency which including Banyumas regency, Purbalingga regency, Banjarnegara regency and Cilacap regency. This research aimed to examine the effect of a professional model, which consists of: a sense of calling to the field, a believe in service to the public, autonomy, believe in self regulation and the use of the professional organization as a major reference on perception of managerial performance. The main objective of this research are formulating to this questions: (1) does the sense of calling to the field has a positive effect and significant on perception of managerial performance. (2) does the believe in service to the public has a positive effect and significant on perception of managerial performance. (3) does the autonomy has a positive effect and significant on perception of managerial performance. (4) does the believe in self regulation has a positive effect and significant on perception of managerial performance. (5) does the use of the professional organization as a major reference has a positive effect and significant on perception of managerial performance. (6) Among the professional model, which consists of: a sense of calling to the field, a believe in service to the public, autonomy, believe in self regulation and the use of the professional organization as a major reference, which one has the most dominant influence on the perception of managerial performance Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah of Banyumas residency. This research is explanatory research with quantitative approach that is based on primary data. The population in this research are all employees excluded head of Bappeda of Banyumas residency. Data collection method that used is questionnaire. Data analyze methods are test validity and reliability testing, whereas the classical assumption test, for hypothesis testing using multiple regression analysis. The results are valid and reliable for all variables, as well as the classic assumption test is met. The results in this study indicate that the sense of calling to the field and the use of the professional organization as a major reference among positive and significant effect on the perception of managerial performance and the use of the professional organization as a major reference is the most influential variable on perceptions of managerial performance. While the other variables like a believe in service to the public, autonomy, believe in self regulation hadn’t positive and significant effect on perceptions of managerial performance. | |
| 12770 | 5763 | H1C009023 | KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB) KAPASITAS 100 KILOWATT DI PANTAI TELUK PENYU CILACAP | Pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) merupakan salah satu pembangkit terbarukan yang sedang dikembangkan di Indonesia sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan energi sekaligus penghematan bahan bakar minyak. Perencanaan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam pembangunan PLTB. Dalam perencanaan diperlukan kajian secara teknis dan ekonomis terlebih dahulu. Dalam penelitian ini mengkaji potensi energi angin khususnya di pantai Teluk Penyu Cilacap. Potensi tersebut digunakan untuk merencanakan PLTB dari menentukan komponen, kapasitas konverter serta jumlah baterai yang digunakan. Simulasi dilakukan menggunakan software homer untuk melihat keberhasilan perencanaan dan melihat rincian biaya dari PLTB tersebut. PLTB yang direncanakan adalah PLTB berkapasitas terpasang 100 kilowatt baik dengan turbin berkapasitas 10 kW maupun 25 kW. PLTB pertama menggunakan 10 unit turbin BWC Excel-S 10 kW, konverter 72 kW dan 110 baterai dengan total produksi energi 22.916 kWh/yr, initial capital USD 678.400, total NPC USD 850.702 serta COE sebesar USD 4,115/kWh. PLTB kedua menggunakan 4 unit turbin Polaris 25 kW, konverter 100 kW dan 330 baterai dengan total produksi energi 82.333 kWh/yr, initial capital USD 682.654, total NPC USD 1.189.073 serta COE sebesar USD 1,547/kWh. | Wind power plant is a renewable generator which is being developed in Indonesia as an effort to fulfill the needs of energy as well as fuel saving measures. Planning is a very important step in establishing a wind power plant. There must be a technical and economic study in this step. This research investigates the wind power potential especially at Teluk Penyu Beach, Cilacap. In planning the wind power plant, this potential is used to determine the components, converter capacity and the number of battery used. A simulation is done through Homer Software to examine the success of the plan and budget details of it. The planned power plant is a 100-kilowatt-capacity wind power plant, with 10 kW or 25 kW turbines. The first wind power plant uses 10 BWC Excel-S 10 kW turbines, 72 kW converter and 110 batteries with 22.916 kWh/yr power produced, USD 678.400 initial capital, USD 850.702 total NPC and USD 4,115/kWh COE. The second wind power plant uses 4 units of Polaris 25 kW turbines, 100 kW converter and 330 batteries with 82.333 kWh/yr power produced, USD 682.654 initial capital, USD 1.189.073 total NPC and USD 1,547/kWh COE. | |
| 12771 | 5764 | A1M009043 | Penerapan Sistem Pengendalian Mutu HACCP pada Industri Kecil Menengah Gula Kelapa di Desa Pageraji Kecamatan Cilongok | Gula kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Banyumas dan sudah memasuki pasar internasional, sehingga perlu meningkatkan suatu standar kualitas yang memenuhi kriteria keamanan pangan. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) merupakan sistem yang dapat menjamin bahwa suatu produk aman untuk dikonsumsi, sehingga konsep HACCP perlu diterapkan pada usaha gula kelapa. Penelitian ini menggunakan metode survey dan analisis laboratorium. Pemilihan desa dan sampel menggunakan purposive sampling. Desa terpilih yaitu Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. yang mempunyai skala produksi lebih dari 10 kg per hari. Variabel yang diamati (a) tingkat penerapan GMP, (b) tingkat penerapan SSOP, (c) identifikasi bahaya fisik, kimia, dan biologi, (d) penetapan critical control point (CCP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan GMP industri gula kelapa Desa Pageraji sebesar 51,4924 % (kategori tidak baik) dan tingkat penerapan SSOP sebesar 37,6472 % (kategori tidak baik). Identifikasi potensi bahaya dengan signifikansi resiko tinggi yaitu bahaya biologi (E.coli) dan bahaya kimia (asam lemak bebas). CCP terdapat pada bahan baku berupa minyak kelapa (batas kritis minyak belum pernah pakai), tahap produksi meliputi persiapan penderesan (batas kritis kebersihan peralatan), tahap penyaringan (batas kritis penggunaan kain saring), tahap pemasakan (batas kritis penambahan minyak 5 ml/25 liter nira), tahap pencetakan (batas kritis suhu air 1000C dan tangan pekerja bersih), tahap pengemasan (batas kritis tangan pekerja bersih), serta tahap penyimpanan (batas kritis tempat penyimpanan bebas hama). | Palm sugar was one of the best commodities in Banyumas, and has entered international market already, that needed a quality standard that met the criteria of food safety. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) was a system which could guarantee that a product was safe for consumption. The concept of HACCP had to be applied in coconut sugar business. This research used survey method and laboratory analysis. The selection of village and samples was using purposive sampling method. The selected village was Pageraji Village in Cilongok Sub-district, Banyumas Regency, with the production scale of 10 kg per day. The variables were 1) GMP implementation level; 2) SSOP implementation level; 3) physical, chemical, and biological hazard identification; 4) critical control point (CCP) determination.. The result showed that the GMP implementation level in coconut sugar industries in Pageraji Village was 51.4924% (bad category), while the SSOP implementation level was 37.6472% (bad category). Potential hazard identification on coconut sugar showed a high risk, which were biological hazard (E. coli) and chemical hazard (free fat acid). CCP were raw material such as palm oil (the oil status critical limit), production phase included tapping preparation (the equipment hygiene critical limit), filtering phase (the oil addition critical limit, which was 5 mL/25 L of sap), forming phase (water temperature critical limit, which was 100oC, and the worker hand hygiene), packaging phase (the worker hand hygiene critical limit), and storage phase (pest-free storage critical limit. | |
| 12772 | 5765 | D1E009112 | PENGGUNAAN AZOLLA DAN LEMNA PADA LEVEL PROTEIN PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE DAGING DAN TULANG KARKAS ITIK PEKING | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara kombinasi Azolla dan Lemna dengan level protein pakan terhadap bobot dan persentase daging dan tulang karkas itik peking umur delapan minggu. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik peking unsexed, Azolla dan Lemna, ransum basal dengan protein 16%, 18%, dan 20%. Metode penelitian adalah eksperimental in vivo menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 4. Faktor pertama adalah kombinasi Azolla dan Lemna terdiri dari Azolla 0% dan Lemna 0%, Azolla 15% dan Lemna 5%, Azolla 10% dan Lemna 10%, dan Azolla 5% dan Lemna 15%. Faktor kedua adalah level protein terdiri dari 16%, 18%, dan 20%. Terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan DMRT dan ortogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berinteraksi sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot daging karkas, nyata (P<0,05) terhadap persentase tulang karkas, interaksi tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase daging karkas dan bobot tulang karkas. Rataan bobot daging karkas = 604,3 g, rataan persentase daging karkas = 73,104%, rataan bobot tulang karkas = 197,4 g, dan rataan persentase tulang karkas = 24,081%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5% dengan level protein 20% dalam ransum menghasilkan bobot daging karkas yang tinggi dan persentase tulang karkas yang rendah. | The research aimed to determine the interaction between a combination of Azolla and Lemna with protein feed on weight and percentage of carcass meat and bone pekin duck of eight weeks age. The material used in this study is the pekin duck unsexed, Azolla and Lemna, basal diet with 16% protein, 18%, and 20%. Method is experimental in vivo study using a completely randomized design (CRD) factorial 3 x 4, the first factor use a combination of Azolla and Lemna (A) consists of Azolla 0% and Lemna 0%, 15% Azolla and Lemna 5%, Azolla and Lemna 10% 10%, and 5% is Azolla and Lemna 15%. The second factor use the level of protein (B) consisting of 16%, 18%, and 20%. There are 12 combinations of treatments with 3 replications. Data were analyzed using analysis of variance followed by DMRT and orthogonal polynomials. The results showed the interaction between a combination of Azolla and Lemna with protein feed that treatment interacted had highly significant effect (P <0.01) on the weight of carcass meat, significant effect (P <0.05) on the percentage of carcass bone, but the interaction was not significant effect (P> 0.05) on the carcass meat percentage and weight carcass bones. The average weight of carcass meat = 604.3 g, the average percentage of carcass meat = 73.104%, the average carcass bone weight = 197.4 g, the average percentage of carcass bone = 24.081%, and the average percentage of live weight meat = 38.949%. The conclusion of this study is combination use of Azolla 15% and Lemna 5% with 20% protein level in the diet produces high carcass meat weight with low percentage of carcass bone. | |
| 12773 | 5766 | D1E009007 | SISTEM PEMASARAN DAN PROFIT MARGIN PETERNAKAN KELINCI DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian bertujuan untuk mengkaji sistem pemasaran dan perbedaan profit margin yang diperoleh peternak kelinci serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha ternak kelinci di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Pengambilan sampel responden menggunakan metode sensus. Variabel yang diamati dan diukur terdiri dari sistem pemasaran, profit margin dan pendapatan peternak kelinci di Kabupaten Banyumas. Perbedaan profit margin dianalisis menggunakan Analisis Variansi dan Analisis Deskriptif, sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dianalisis menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem pemasaran usaha ternak kelinci yang dilakukan oleh peternak kelinci di Kabupaten Banyumas sudah cukup baik. Terdapat perbedaan profit margin yang diperoleh peternak kelinci di Kabupaten Banyumas yang dipengaruhi oleh sistem pemasaran yang digunakan oleh setiap peternak. Usaha ternak kelinci di Kabupaten Banyumas mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan laba dengan nilai profit margin rata-rata 89,27% / tahun. Rata - rata pendapatan peternak kelinci di Kabupaten Banyumas sebesar Rp. 256.493,48/ bulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha ternak kelinci adalah jumlah ternak dan pendidikan peternak, sedangkan biaya pakan, umur peternak, dan lama beternak bernilai negatif, artinya kenaikan jumlah faktor-faktor tersebut menyebabkan penurunan terhadap pendapatan peternak kelinci di Kabupaten Banyumas. | This research was conducted to investigate a marketing system and differences in profit margin which were obtained by the farmers of rabbits and to know the factors that affected the operating income of rabbit in the Regency of banyumas. The research was done by the method of survey. The collection of the sampled respondents used the census method. The observed and measured variables consisted of marketing system, profit margin and farmer income of rabbit in the Regency of Banyumas. The difference in profit margin was analyzed using Descriptive Analysis and Variance Analysis, while to know the factors that influenced income, Multiple Linear Regression Analysis was used. The research results showed that the system of business management and marketing of rabbit that was performed by farmers of rabbits in the Regency of Banyumas was good enough. There was a difference in profit margin obtained by rabbit farmers in the Regency of Banyumas that was affected by the marketing system. The business of rabbit in the Regency of Banyumas had high aptitude to earn profit with the value of 89,27 %/ year in average. On average, the income of farmers of rabbits in the Regency of Banyumas was Rp. 256.493,48/ month. The factors that affected the operating income of rabbit farmers were the sum of rabbits, education the cost of feed, the age of farmers, and time period of farming. It meants an increase in the number of those factors caused a decrease in the earnings of rabbits farmers in the Regency of Banyumas. | |
| 12774 | 5767 | C1F008003 | Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Dilihat Dari Aspek Demografi Pada Pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga | RINGKASAN Penelitian ini merupakan penelitian survey pada pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Purbalingga. Penelitian ini mengambil judul “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Dilihat Dari Aspek Demografi Pada Pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aspek demografi yang meliputi umur, masa kerja, tingkat jabatan dan tingkat pendidikan terhadap kepuasan kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga sejumlah 74 orang. Jumlah responden yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 43 orang. Metode Accidental Sampling digunakan dalam penentuan responden. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan mengguanakan Regresi Linier Berganda menunjukkan bahwa : (1) Umur tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, (2) Masa kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, (3) Tingkat jabatan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, (4) Tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, (5) Masa kerja adalah variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap kepuasan kerja meskipun tidak sampai pada tingkat signifikan. Implikasi dari kesimpulan di atas adalah bahwa pada dasarnya pegawai-pegawai Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga sudah merasa cukup puas dengan status mereka sebagai pegawai negeri. Keinginan dan motivasi akan pekerjaannya masih kurang sehingga mereka cenderung tidakberprestasi. Kondisi tersebut dimungkinkan berkaitan dengan sistem birokrasi yang ada, yang kurang mendorong pegawai untuk berprestasi tinggi. Melihat kondisi demikian, penulis menyarankan perlu adanya reformasi birokrasi di lingkungan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga yang berkaitan dengan masalah kepegawaian seperti perubahan sistem kenaikan pangkat, pemberian penghargaan, dan rotasi pegawai. | SUMMARY This research is a survey on the employees of Agriculture and Forestry Office Purbalingga Regency. The research entitled "The Analysis of Factors Affect Job Satisfaction Observed From Demography Aspect on The Employees of Agriculture and Forestry Office Purbalingga Regency". The aim of the research is to find out the effect of demography aspects, include age, working period, position level and education level towards job satisfaction. The population of research are the employees of Agriculture and Forestry Office Purbalingga Regency as many as 74 employees. There 43 respondents chosen as research samples. Accidental sampling method was applied to determine the respondents. As a result of research and data analysis using Multiple Linear Regression, it shows that: (1) Age doesn’t have significant effect towards job satisfaction, (2) Working period doesn’t have significant effect towards job satisfaction, (3) Position level doesn’t have significant effect towards job satisfaction, (4) Education level doesn’t significant effect towards job satisfaction, (5) Working period is the variable that has the greatest effect towards job satisfaction even it doesn’t reach significant level. As research implication of the conclusion above, basically the employees of Agriculture and Forestry Office Purbalingga Regency have felt satisfied with their status as government officers. They have low idealism and motivation on their job so they tent not to have good performance. The condition has a relationship with the beureaucracy system available which doesn’t support the employees to high performance. By having a look at the condition, the writer suggests a reformation of beureaucracy in the Office of Agriculture and Forestry Purbalingga Regency related with employment problems such as the changes of promotional system and job rotation. | |
| 12775 | 5768 | G1F009029 | ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KLIEN TERHADAP PELAYANAN OBAT PADA PASIEN PULANG DI RSUD “45” KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2013 | Proses mempersiapkan pasien pulang merupakan tahapan yang rentan terjadinya kesalahan pengobatan karena klien adalah penyedia perawatan di rumah, sehingga pemberian pelayanan obat kepada klien harus benar dan tepat agar dapat memberikan kepuasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan klien terhadap pelayanan obat yang diberikan pada pasien pulang. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Sampel penelitian berjumlah 93 orang, ditentukan melalui teknik accidental sampling. Analisis tingkat kepuasan klien yang membandingkan harapan dan kenyataan diukur menggunakan tingkat kesesuaian, analisis gap, dan diagram Kartesius terhadap 10 item pernyataan terkait pelayanan obat. Hasil analisis data menunjukkan tingkat kesesuaian sebagian besar item pernyataan < 100% atau klien belum merasa puas atas pelayanan yang diberikan. Hasil analisis gap secara keseluruhan bernilai negatif dengan kisaran gap (-0,22) – (-0,58), dan nilai gap rata-rata -0,434. Semua item tersebar merata di kuadran A, B, C, dan D dalam diagram Kartesius. Kecepatan pelayanan resep obat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) merupakan prioritas item yang harus diperbaiki kinerjanya oleh rumah sakit. Secara keseluruhan, kenyataan kinerja pelayanan obat pada pasien pulang belum memenuhi harapan klien karena tingkat kepuasan yang dirasakan masih termasuk kategori sedang, sehingga pihak rumah sakit perlu mengevaluasi dan memperbaiki kinerja pelayanan obat. | Process of preparing the discharge patient is a vulnerable process to medication errors caused of the client as the homecare provider, so the provision of drug services to the client must be correct and right in order to give satisfaction. This research aims to know the level of client’s satisfaction toward the drug service that is given to discharge patient. The method used is survey method with cross sectional approach using a questionnaire. The samples of this research are 93 people, taken by accidental sampling. The analysis of level of client satisfaction which was comparing the expectation and the fact is measured by using the level of uniformity, gap analysis, and Cartesius diagram toward 10 question items which are related to the drug service. The results of data analysis showed that the level of uniformity of most question items < 100% or client didn’t feel satisfied yet with the service given. The gap analysis result as a whole is negative with the magnitude of the gap -0.22 up to -0.58 and average gap value is -0,434. All items spread evenly at A, B, C, and D quadrant on Cartesius diagram. The speed of drug prescription service in accordance with Minimum Standard Service (MSS) is the priority of item that should be fixed by the hospital. As a whole, the fact was the drug service at discharge patient didn’t fulfill client’s expectation yet, because the level of satisfaction that felt was still in moderate category, so the hospital needs to evaluate and fix the drug services. | |
| 12776 | 5771 | A1M009059 | PENGARUH JENIS, PREPARASI, DAN CARA EKSTRAKSI JAHE TERHADAP KADAR SUKROSA DAN TINGKAT KEMANISAN KONSENTRAT MINUMAN NIRA-JAHE | ABSTRAK Salah satu minuman tradisional yang cukup digemari masyarakat adalah wedang jahe. Penggunaan nira kelapa dalam pembuatan wedang jahe merupakan salah satu diversifikasi dari produk olahan nira kelapa. Produk dibuat dalam bentuk konsentrat dengan tujuan untuk mengurangi kadar air sehingga masa simpannya menjadi lebih panjang. Jenis jahe, preparasi jahe, dan cara ekstraksi jahe diduga akan memberikan pengaruh terhadap karakteristik produk. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor yang diuji yaitu jenis jahe (J) yang terdiri dari jahe merah (J1) dan jahe emprit (J2); preparasi jahe (P) yang terdiri dari dibakar (P1) dan tidak dibakar (P2); serta cara ekstraksi jahe (E) yang terdiri dari dimemarkan (E1) dan diblender (E2). Kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik yaitu jahe emprit, dibakar dan dimemarkan. Kombinasi perlakuan tersebut memiliki kadar sukrosa 77,29 % bk; dan skor tingkat kemanisan 3,99 (cukup manis). Kata kunci : Konsentrat, nira kelapa, jahe merah, jahe emprit | ABSTRACK One of the traditional beverage that quite popular in society is wedang jahe. The use of coconut sap in making wedang jahe is one of diversification of coconut sap processed product. Product was made in concentrate form in order to reduced the water content level so the self life become longer. The type of ginger, preparation of ginger, and extraction methods of ginger were expected to had an effect on the characteristics of the product. The research was done by experimental method using a randomized block design. Factors tested were ginger types (J), that consist of red ginger (J1) and emprit ginger (J2); ginger preparation (P), that consist of burnt (P1) and not burnt (P2); and ginger extraction methods (E), that consist of bruised (E1) and blended (E2). The combination treatment was repeated three times so there were 24 units in this research. The result showed that the best treatment was a combination of emprit ginger, burnt treatment and blended treatment. That combination treatment had a sucrose content at 77,29 % db and sweetness level at 3,99 (fair sweetness) Key words : Concentrate, coconut sap, red ginger , emprit ginger | |
| 12777 | 5788 | H1C009061 | PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA SISTEM STAND ALONE KAPASITAS 900 WATT PEAK UNTUK RUMAH TINGGAL di PURWOKERTO | PLTS merupakan pembangkit listrik alternatif yang memanfaatkan tenaga radiasi matahari dengan menggunakan sel surya sebagai pengkonversi energi matahari menjadi energi listrik. Salah satu tipe PLTS yang banyak diterapkan adalah sistem stand alone photovoltaic yang memiliki keuntungan independensi dalam memanfaatkan energi alternatif sebagai sumber pembangkit. Pada tugas akhir ini membahas perancangan yang tepat dalam memilih, menentukan kapasitas dan konfigurasi setiap komponen sistem PLTS dengan kapasitas fotovoltaik terpasang 900 Watt Peak. Perancangan sistem PLTS dilakukan dengan perhitungan, simulasi perangkat lunak Homer dan implementasi perancangan dilapangan. Pada perancangan ini diperoleh konfigurasi dari PLTS menggunakan perhitungan maupun simulasi menunjukan kesesuaian, yakni terdiri dari: 1) Tegangan kerja yang digunakan sebesar 48 V, 2) Jumlah modul Pv yang digunakan adalah 18 modul dengan kapasitas 48 Wp/modul, 3) Konfigurasi modul Pv array terdiri dari 3 seri dan 6 string, 4) Kapasitas baterai yang dibutuhkan untuk otonom day 1 hari dan 2 hari adalah 92,24 Ah dan 184 Ah dengan konfigurasi 8 baterai terhubung serie dan 8 baterai terhubung serie dengan 2 strin,g 5) Kapasitas converter yang diutuhkan 1,2 Kw terdiri dari charge controller dan inverter, berdasarkan konfigurasi yang dihasilkan menggunakan simulasi menunjukan bahwa sistem PLTS dengan otonom day 2 hari memiliki performansi yang jauh lebih baik dalam mensuplai beban dengan pengurangan kapasitas beban (shotage capacity) 0,01 %. Dalam implementasi PLTS sistem stand alone kapasitas 900 Watt Peak diperoleh bahwa besarnya energi yang dihasilkan sistem dipengaruhi oleh kondisi komponen, Insolasi matahari, efek shading yang diterima pv array, kapasitas baterai, dan beban yang disuplai sistem. | Solar power plant is an alternative power plant which utilize solar radiation as it’s main source and a solar cell to convert the solar energy to become electricity. There is one type of solar energy power plant commonly used, it is stand alone photovoltaic type which have an advantage feature such as employing alternative energy as it’s source, independently. This paper describes a precise plan to choose, determine a power plant capacity and a configuration for every component of a solar power plant with 900 watt peak installed photovoltaic capacity. Calculation and simulation of a solar power plant design carried out with Homer software while it’s implementation done on the research field. The configuration of this design showed to be suitable with planned calculation and simulation. The suitable points are: 1) The working voltage in this design employed 48 V, 2) This design utilized 18 modules with 48 Wp/module capacity, 3) Pv array configuration carried out by 3 series and 6 string, 4) Battery capacity needed are 92.24 Ah for One Day Otonom and 184 Ah for Two Days Otonom with 8 series battery connected to 2 strings configuration, 5) A charge controller and an inverter utilized as converter which had 1.2 Kw capacity. Based on the simulated final configuration, 2 Days otonom solar power plant design showed better performance in load manipulation which resulted 0.01 % shortage capacity. During the implementation of the design, several factors such as component condition, solar insolation, shading effects on the Pv array, battery capacity and the load supplied by the system were effecting the amount of energy which generated by the power plant. | |
| 12778 | 5773 | H1C008001 | STUDI SIZING PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRIDA (PLTH) PV – DIESEL BATERAI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KETERSEDIAAN BAHAN BAKAR | Pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) merupakan salah satu sumber energi listrik alternatif yang sangat berguna terutama untuk daerah terpencil. Salah satu permasalahan yang mempengaruhi perencanaan operasi PLTH, dan yang menjadi penelitian ini, ini adalah keterbatasan dan sulitnya suplai bahan bakar untuk daerah terpencil. Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitiaan ini dilakukan pengoptimalan penentuan ukuran (sizing) PLTH dengan memasukkan prasyarat operasi berupa terbatasnya suplai bahan bakar. Pada penelitian Sizing PLTH PV-diesel ini menggunakan software HOMER. Pada penelitian ini kapasitas beban yang disuplai kurang sehingga untuk memenuhi suplai beban, dirasa perlu memperbaiki subsistem yang digunakan yaitu, penambahan kapasitas pada PV, dan baterai. Pada skenario penelitian ini penambahan kapasitas photovoltaic sebesar 450 kW, dan 540 baterai dengan berkapasitas 2500 Ah. | Hybrid power plant is one of electrical energy alternative sources are very useful especialy for urban area. one of discuss in influenced by affecting operation planning hybrid power plant. So it is the reason for researching the limitation and the difficulty for the fuel supply in the urban area. For that reason the searching is doing by determination of size with the first condition without limitation using fuel. On observation the sizing of PLTH PV-diesel this observation use Homer software. result in deficiencies in the supplied load capacity, to meet the necessary improve the load supply subsystem that is used, the addition of the PV capacity, and battery. In the scenario of this research the addition of photovoltaic capacity of 450 kW, and 540 batteries with a capacity of 2500 Ah. | |
| 12779 | 5754 | E1A008288 | TINDAK PIDANA MEMBUJUK ANAK MELAKUKAN PERSETUBUHAN DENGAN TIPU MUSLIHAT DAN SERANGKAIAN KEBOHONGAN (Kajian Yuridis Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto No. 71/Pid.Sus/2011/PN.PWT) | ABSTRAK Tindak Pidana Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan Dengan Tipu Muslihat dan Serangkaian Kebohongan merupakan suatu ancaman yang sangat serius terhadap generasi penerus bangsa, hal tersebut termasuk dalam kejahatan kesusilaan yang sangat mencemaskan dan memunculkan pengaruh psikologis terhadap korbannya yang masih di bawah umur maka dalam penanganannya haruslah benar-benar ditangani dengan serius. Seperti yang terjadi pada diri Imam Basuki Bin Rislam yang perkaranya sudah diputus oleh Pengadilan Negeri Purwokerto dalam putusan perkara No. 71/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. Dalam putusan tersebut Terdakwa telah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan ”Tindak Pidana Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan Dengan Tipu Muslihat dan Serangkaian Kebohongan” yang memenuhi rumusan delik Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan diputus dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan Denda sebesar Ro. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Dari putusan tersebut dapat ditarik permasalahan sebagai berikut : bagaimanakah penerapan unsur-unsur Pasal 81 ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang "Perlindungan Anak" dalam Putusan No. 71/Pid.Sus/2011/PN.Pwt dan untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan perkara No. 71/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. Hasil penelitian menunjukan bahwa Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam memutus perkara Nomor :71 /Pid.Sus/2011/PN.Pwt, telah menerapkan unsur-unsur tindak pidana “Dengan Sengaja Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan Dengannya” seperti yang dirumuskan dalam Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dalam hal ini Hakim hanya memutus terdakwa dengan Pidana Penjara selama 5 (lima) tahun saja dimana artinya rasa keadilan bagi si korban itu sendiri tidaklah cukup. Selain masa depan dari si korban tersebut telah hancur, juga pengaruh psikologis korban yang terganggu dengan kejadian ini. Kata kunci : barangsiapa, dengan sengaja, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. | ABSTRACK Criminal act to persuade a children doing a sexual intercourse with guile and a series of lie was a threat that are serious about the future generation, it was included in crime decency that is very worrying and raises the influence of psychological victim is under age so in the handling must really be dealt with seriously. Like that happened in self Basuki Bin Rislam that his case has been decided by the Court of Purwokerto in the decision for case No. 71/pid.sus /2011/pn.pwt . In its decision, the accused has proven legally and convince guilty doing ”Criminal act to persuade a children doing a sexual intercourse with guile and a series of lies" that meet formulation offense Article 81 Paragraph (2) of Act No. 23 in the year 2002 about the Child Protection and sentenced to imprisonment for 5 (five) years and a maximum fine of Ro. 60,000,000,- (sixty million rupiah). From decision was to be drawn problems as follows: how did the elements application Article 81 paragraph (2) of Act No. 23 The year 2002 about "Protection of Children" in the Decree No. 71/pid.sus /2011/pn.pwt and to know legal considerations judges in judge No. 71/pid.sus /2011/pn.pwt . Results of research has shown that Judge of Court of Purwokerto in deciding on a case Number : 71 per pid.sus /2011/pn.pwt , has applied these elements of a criminal act "With deliberately persuade Children Doing a sexual intercourse With him" such as that is formulated in the Article 81 Paragraph (2) of Act No. 23 in the year 2002 about the Child Protection. In this case Judge only decide upon the defendant with criminal prison in the last 5 (five) years where it means a sense of justice for the victims, itself is not enough. In addition the future of the victims had been destroyed, also influence the victim psychological disturbed by this incident. Key words : whoever, with deliberately, doing guile, a series lie, or persuade children doing a sexual intercourse with him or with other people | |
| 12780 | 5774 | D1E009265 | PRODUKSI TELUR BERBAGAI JENIS AYAM SENTUL DI GABUNGAN KELOMPOK TANI TERNAK CIUNG WANARA KECAMATAN CIAMIS KABUPATEN CIAMIS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi telur, Hen Day Production (HDP) dan Hen House Production (HHP) berbagai jenis ayam Sentul dan jenis ayam Sentul apa yang memiliki produksi telur paling tinggi. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah berbagai jenis ayam Sentul yang di pelihara oleh Gabungan Kelompok Tani Ternak Ciung Wanara dengan anggota peternak tersebar di Kecamatan Ciamis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan menggunakan General Linear Model. Fixed effect dalam penelitian yaitu lima jenis ayam Sentul (ayam Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Geni dan Sentul Emas) dan sebagai ulangan yaitu peternak. Peubah yang dicatat dan diamati adalah produksi telur yang meliputi jumlah telur, HDP dan HHP ayam Sentul. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa berbagai jenis ayam Sentul berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi telur, HDP and HHP. Analisis kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur. Hasil analisis uji lanjut Beda Nyata Jujur menunjukan bahwa produksi telur ayam Sentul Abu dan Sentul Batu berbeda sangat nyata dengan ayam Sentul lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah berbagai jenis ayam sentul mempengaruhi produksi telur dan ayam sentul yang memiliki produksi telur paling tinggi yaitu ayam sentul batu. | The purpose of this research was to determine the egg production, Hen Day Production (HDP) and House Production (HHP) of various type of Sentul hens, and which of them had the highest egg production. Materials used in this research were various type of Sentul chicken at Ciung Wanara Livestock farmer Groups which members spread in Ciamis District. This research was carried out using survey method and General Linear Model (GLM). Fixed effect number on this research was five kinds of Sentul chickens (Sentul Batu, Sentul Abu, Sentul Debu, Sentul Geni and Sentul Emas), and the farmers as replication. Variables that were recorded and observed were egg production, HDP and HHP of Sentul Chicken. Data were analyzed using analysis of variance. The result of anova showed that various type of Sentul chicken had a highly significant effect (P<0.01) on egg production, HDP and HHP. Based on HSD test showed that egg production of Sentul abu and Sentul Batu had a highly significant than the others. It can be concluded that egg production was affected by the different type of Sentul chicken, and the highest egg productions was obtained by Sentul batu hens. |