Artikelilmiahs
Menampilkan 12.781-12.800 dari 49.594 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 12781 | 5775 | D1E009263 | BOBOT BADAN BERBAGAI JENIS AYAM SENTUL DI GABUNGAN KELOMPOK TANI TERNAK CIUNG WANARA KECAMATAN CIAMIS KABUPATEN CIAMIS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan bobot badan pada berbagai jenis dan umur ayam Sentul di Gabungan Kelompok Tani Ternak Ciung Wanara di Ciamis. Materi yang digunakan adalah berbagai jenis ayam Sentul di gabungan kelompok tani ternak Ciung Wanara berjumlah 6 peternak. Sampel diambil umur 2 bulan, 5 bulan dan dewasa. Metode yang digunakan General Linier Model (GLM), sebagai fixed effect lima jenis ayam Sentul (Geni, Abu, Batu, Debu dan Emas) dengan ulangan tidak sama (anequal) yaitu peternak. Rataan bobot badan ayam Sentul (Batu, Abu, Debu, Emas dan Geni) umur 2 bulan jantan adalah 628.06±22.16, 611.74±35.69, 605.38±45.71, 636.61±49.63, dan 618.70±43.85, betina 601.04±32.21, 614.35±26.06, 611.69±57.70, 610.76±61.68, dan 628.71±12.08. Ayam Sentul umur 5 bulan jantan adalah 1768,19±50,82, 1812,03±37,96, 1768,34±44,83, 1779,39±46,63, dan 1777,39±40,62, betina 1287,11±24,47, 1300,55±13,19, 1286,21±36,59, 1284,43±28,85, dan 1287,06±24,21. Ayam Sentul dewasa jantan adalah 2736,23±140,45, 2817,74±106,19, 2751,81±73,49, 2693,11±142,18, dan 2781,86±82,91, betina 1690,06±62,78, 1713,57±125,88, 1745,43±65,44, 1714,09±131,43, dan 1593,55±135,73. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa berbagai jenis ayam sentul berpengaruh tidak nyata (P<0.01) terhadap bobot badan ayam Sentul (umur 2 bulan, 5 bulan dan dewasa). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tidak terdapat perbedaan bobot badan pada berbagai jenis ayam Sentul umur 2 bulan, 5 bulan dan dewasa jantan dan betina. | The purpose of the experiment was to know the differences body weight of various kinds and ages of Sentul chicken in Ciung Wanara livestock farmer group at Ciamis District, Ciamis Regency. The material that were used wass various kinds of Sentul chicken in Ciung Wanara Livestock Farmer Group at Ciamis District amounted to 6 farmers. Samples taken were 2 months old, 5 months and adults. Method that used is General Linear Model (GLM ), as fixed variable was various kinds of Sentul chicken with unequal replications farmers. The averages body weight of various kinds of Sentul chicken (Batu, Abu, Debu, Emas dan Geni) male 2 month old were 628.06±22.16, 611.74±35.69, 605.38±45.71, 636.61±49.63 and 618.70±43.85, female were 601.04±32.21, 614.35±26.06, 611.69±57.70, 610.76±61.68 and 628.71±12.08. Male Sentul chicken 5 month old were 1768.19±50.82, 1812.03±37,96, 1768.34±44.83, 1779.39±46.63 and 1777.39±40.62, female were 1287.11±24.47, 1300.55±13.19, 1286.21±36.59, 1284.43±28.85 and 1287.06±24.21. Male Sentul chicken adult were 2736.23±140.45, 2817.74±106.19, 2751.81±73.49, 2693.11±142.18, and 2781.86±82.91, female are 1690.06±62.78, 1713.57±125.88, 1745.43±65.44, 1714.09±131.43 and 1593.55±135.73. The results showed that various kinds Sentul chicken was not significantly (P<0,01) affected body weight of Sentul chicken (2 months old, 5 months and adults). The conclusions of this experiment is body weight of various kinds of Sentul chicken 2 months old, 5 months and adults in male and female is not different. | |
| 12782 | 5776 | E1A009208 | Peranan Media Massa Berdasarkan Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers | ABSTRAK Pers merupakan media komunikasi massa yang memiliki kebebasan dalam menyampaikan aspirasinya ,hal ini sesuai dengan amanat pasal 28 Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu kemerdekaan berserikat dan berkumpul , mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang – undang . Hak untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat ini diwujudkan dalam kemerdekaan pers sebagai pilar ke empat demokrasi. Kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan peranannya. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat dewasa ini juga tidak terlepas dari pengaruh media massa. Artinya masyarakat sangat tergantung dengan kehadiran media yang mempunyai fungsi-fungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai agen politik, media melakukan proses pengemasan pesan dan proses inilah yang sesungguhnya menyebabkan sebuah peristiwa atau aktor politik memiliki citra tertentu. Media massa itu sendiri harusnya bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai dengan peranan yang terdapat dalam Undang – undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers sebagai media informasi, pendidikan dan kontrol sosial tidak semata – mata hanya menjalankan fungsinya sebagai lembaga ekonomi yang berorientasi pada nilai ekonomis belaka. | ABSTRACT The press is mass communications which have the freedom in presenting the aspiration. The freedom conform with the mandate of Article 28 in 1945 constitution, that is the freedom of united and assemble, propose the thought verbally and in writing and others provided by the law. These rights are realized in the independence of press as the fourth pillar of democracy in Indonesia. The freedom of press is the absolute rules that needed by the press to perform their role optimally. Nowadays, the growth and the development of the society are really influenced by the press. It means the society very depend on the existence of the media with its functions to fulfill the society’s necessity. Media as the political agent do the message packaging process and such process actually is the cause when an event, incident, and politician have a certain image. The mass media itself should perform their role well as instructed in Act Number 40 1999 about Press. According to the act, the press as the information media, education, and social control should not run their function merely based on profit orientation. | |
| 12783 | 5777 | E1E007008 | KEDUDUKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM SISTEM KABINET MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945 | ABSTRAK Kekuasaan pemerintah negara mengalami pergeseran sebagai akibat dirubahnya susunan organisasi lembaga negara dan kewenangan-kewenangannya serta berubahnya sistem pemerintahan negara. Dihapuskannya Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 dalam rangka amandemen Undang-Undang Dasar 1945 mengakibatkan dihapuskannya sistem pemerintahan negara dalam Penjelasan umum Undang-Undang Dasar 1945. Berubahnya susunan organisasi lembaga negara dan kewenangnannya juga mengakibatkan pergeseran yang cukup berarti terhadap kedudukan Presiden. Dalam sistem pemerintahan kabinet parlementer, pada umumnya Presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara, sedangkan dalam sitem kabinet presidensil, Presiden disamping sebagai kepala negara, Presiden juga berfungsi sebagai kepala pemerintahan. Mengenai hal ini Undang-Undang Dasar 1945, dalam Bab III mengenai “Kekuasaan Pemerintahan Negara”, diatur dalam Pasal 4 yang menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Kedudukan Presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen mengalami pergeseran yang mendasar dalam kedudukannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, yaitu : 1. Kekuasaan membentuk Undang-Undang bergeser dari Presiden ke Dewan Perwakilan Rakyat. 2. Hak Prerogatif Presiden, sebagian harus dengan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat adalah amnesti dan abolisi, sedangkan harus dengan pertimbangan Mahkamah Agung adalah grasi dan rehabilitasi. 3. Perubahan terhadap pembentukan dan pembubaran Departemen harus dengan Undang-Undang. Presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen, apabila melakukan pelanggaran hukum dapat diadili oleh Mahkamah Konstitusi yang pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Perubahan kedudukan Presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen di era reformasi ini diharapakan dapat mewujudkan kehidupan ketatanegaraan yang lebih demokratis dan tidak terpusat kepada Presiden seperti yang terjadi pada masa pemerintahan orde baru. | ABSTRACK Goverment power has altered caused by alteration of institusion organization stucture, its authorities and the chance of goverment system in general explanation of 1945 Contitusion. The chance of institution organization stucture and itsa authority cause significant alternation of Presiden position. In goverment system of parliament cabinet, generally president function is just has head of state, and in system of presidential cabinet president function is as head of state and executive. Because of that 1945 Constitusion in chapter III about “Goverment Power of State” is regulated in article 4, which state that the president of Indonesia Republic has power of Goverment based on constitusion. In doing duty, president is assisted by one man as vice president. The position of president is based on 1945 Constitution after amandement has been altered, it is said that his position are as head of state and head of goverment, they are : 1. Authority to alter the law has changed from president to DPR. 2. Prerogative right of presidnet, part of them must be considered by DPR, they are amnesty and abolition, and elemency granted and rehabilitation considered by main court. 3. Alteration of estabilishment anddissolution departementmust be based on law. Position alteration of president based on 1945 Constitution after amandement, if makes violation of law can bring to constitution court, which regulated in law number 24, 2003 about constitution court. Position alternation of president based on 1945 constitution after amandement in reformation period, it is hoped to create the activities state more democratic and not located in central (president). | |
| 12784 | 5778 | D1E009168 | BOBOT DAN PERSENTASE BAGIAN-BAGIAN KARKAS ITIK MOJOSARI AFKIR BERDASARKAN SISTEM DAN LOKASI PEMELIHARAAN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem dan lokasi pemeliharaan terhadap bobot dan persentase bagian-bagian karkas (parting carcass) itik Mojosari betina afkir. Materi yang digunakan adalah itik Mojosari betina afkir sebanyak 47 ekor. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan menggunakan General Linear Model (GLM). Jumlah perlakuan empat dengan ulangan yang berbeda-beda (unequal). Perlakuan yang diterapkan terdiri atas pemeliharaan terkurung di lokasi pertanian (P1), pemeliharaan terkurung di lokasi pesisir (P2), pemeliharaan gembala di lokasi pertanian (P3), dan pemeliharaan gembala di lokasi pesisir (P4). Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah bobot dan persentase paha, bobot dan persentase dada, bobot dan persentase sayap, bobot dan persentase punggung dalam karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan lokasi pemeliharaan memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot paha, bobot dan persentase punggung dan bobot dada serta berpengaruh tidak nyata terhadap persentase paha, persentase dada dan bobot dan persentase sayap (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sistem pemeliharaan terkurung dan lokasi pemeliharaan di lokasi pesisir lebih potensial untuk memperoleh bobot dan persentase bagian-bagian karkas itik mojosari afkir yang lebih baik dan bobot dan bagian-bagian karkas (paha, dada, punggung dan sayap) pada itik mojosari afkir yang dipelihara sistem terkurung di lokasi pesisir lebih tinggi dari pada yang dipelihara secara terkurung di lokasi pertanian, terlebih itik mojosari afkir yang dipelihara secara gembala di lokasi pertanian dan pesisir. | The research aimed to study the effects of production system and farming location on weight and percentage of spent Mojosari duck carcass (parting carcass). The Materials used were 47 heads female Mojosari duck. The method used in this research was survey method using General Linear Model (GLM). The treatments were production systems i.e intensive and extensive systems in both both agricultural areas and in coastal areas. The variables measured in this research were the weights and percentages of thighs, back, chest and wings in the carcass. The results showed that the system and farming location had significant effect on weights of thigh, weights and percentage of back, and weights of chest, but no significant effect on the percentage of thigh, percentage of chest, and weights and percentage of wings (P>0,05). In conclusion, intensive ducks on coastal location were more potential to obtain higher weight and percentage of the parts of carcass of Mojosari duck in which it had better weights and parts of carcass ( thigh, chest, the back and wing ). | |
| 12785 | 5780 | E1A009178 | TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEPALA DAERAH INCUMBENT DALAM PENCALONAN ANGGOTA LEGISLATIF PASCA LAHIRNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH | ABSTRAK Indonesia pada tahun 2014 akan melaksanakan pemilu anggota legislatif yang memilih DPR, DPD dan DPRD. Pemilu anggota legislatif merupakan pemilu untuk memilih pemegang amanah dari rakyat, sehingga terkait persyaratan peserta pemilu, mekanisme pencalonan, nilai kursi legislatif dan penghitungan suara harus diatur dengan peraturan yang mempunyai integritas, profesionalitas, dan akuntabilitas. Setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Konstitusi tersebut berlaku untuk seluruh warga negara, tidak terkecuali seorang kepala daerah. Kepala daerah dapat mencalonkan diri menjadi anggota legislatif asalkan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dirumuskan dalam Pasal 51 ayat (1) dan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dapat dikatakan bahwa akan ada tumpang tindih antara peran kepala daerah yang sudah dijabat dengan posisinya sebagai calon anggota legislatif. Tumpang tindih seperti ini seringkali membuat kepala daerah yang akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dinilai sebagai perbuatan yang menyimpang, menyalahgunakan wewenang dan tidak ada ketegasan dalam berkarier. Dari hasil peneletian mendeskripsikan bahwa tentang persyaratan dan mekanisme pencalonan kepala daerah incumbent yang paling utama adalah kewajiban pengunduran diri terlebih dahulu sebagai kepala daerah/wakil daerah dan tidak dapat ditarik kembali. Pengunduran diri tersebut merupakan salah satu syarat untuk lolos verifikasi administrasi. Pencalonan anggota DPR dan DPRD tahap awal yang harus dilaksanakan adalah lolos seleksi partai politik dan verifikasi administrasi, sedangkan untuk pencalonan anggota DPD langsung mendaftar ke KPU dan melengkapi kelengkapan administrasi. Kata kunci: Pemilu Legislatif, Kepala Daerah Incumbent, Pengunduran diri | ABSTRACT In 2014, Indonesia will implement legislative election to choose General Election of House of Representative members (DPR), Regional Representative Council members (DPD), and Local House of Representatif members (DPRD). Legislative election is a method to chose representative of citizen and then mechanism abaut nominations, reqruitmen, vote countingby have to properly arranged in stated that law who have integrity, professionalism and accountability. Every citizen have to get equal opportunity to follow in election. The Constitution is applies to all citizens, not least to the regional head. Tehe ragional head can be candidate of legislative members if he can complete all of prerequirement in regarding 51 paragraph (1) and regarding 12 stated that Law Number 8 Year 2012 about General Election of House of Representative member, Regional Representative Council, and Local House of Representatif. It can be said that will there over lap between direction as regional head and direction as candidate as legislatif members. Over lap like that often makes the regional head who will be candidate of legislatif members get bed moral value from the citizen. The result of this research describ abaut the requirements and mechanism of regional head is incumbent who the most important is duty of resign as regional head and the resign can’t be cancel. It is one of prerequirement to be slip of verifikasi step. First step to be candidate of Election of House of Representative members (DPR) and Local House of Representatif members (DPRD) is slip of select polical party and then the first step to be Regional Representative Council members (DPD) is enroll to KPU and complete the administration prerequirement. | |
| 12786 | 5772 | H1D008054 | Studi Kehandalan Data Curah Hujan Satelit TRMM 3B42 Terhadap Data In-Situ Di Wilayah Kabupaten Banyumas | Perencanaan konstruksi bangunan hidro membutuhkan data hidrologi pada perencanaan, baik data debit maupun data hujan. Sering ditemukan kekosongan Data yang terjadi pada data debit atau data hujan. Data masukan yang tidak sesuai dapat mengakibatkan underestimate atau overestimate pada perancangan, bisa mengakibatkan membengkaknya biaya atau kontruksi yang tidak proporsional. Alternatif untuk mengisi kekosongan data pada data in-situ dicoba data 3B32 satelit TRMM untuk mengisi kekosongan data. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik data in-situ, karakteristik data 3B42 satelit TRMM, dan Seberapa baik data 3B42 satelit TRMM terhadap data in-situ di Kabupaten Banyumas. Pengambilan data hujan satelit dilakukan dengan mengunduh dari websait resmi satelit TRMM, Pengambilan data hujan in-situ dilakukan dengan menghubungi Dinas PSDA sebai penyedia data hujan konvensional. Data dianalisis dengan analisa statistik untuk mendapatkan karakteristik masing-masing sumber data dan hubungan antara kedua sumber data hujan. Hasil penelitian terdapat perbedaan karakteristik antara data 3B42 satelit TRMM dan data in-situ dalam berbagai parameter satistik. Selisih rata-rata hujan yang terjadi berkisar antara 0 mm/hari sampai 15.83 mm/hari. Simpangan baku yang terjadi pada data 3B42 satelit TRMM 0 mm/hari sampai 36.55 mm/hari, simpangan baku pada data in-situ 0 mm/hari sampai 40.75 mm/hari. Selisih jumlah hari hujan yang terjadi antara -1 sampai dengan 21 hari. Koefisien korelasi(r) yang terjadi antara -0.18 sampai 0.70. Pada pola grafik CDF yang terbentuk menyatakan bahwa pada curah hujan rendah terdapat kemiripan, tetapi pada curah hujan tinggi terdapat bias yang bervariasi. | Hydro construction planning requires the planning of hydrological data, both the data flow and rainfall data. Data is often found vacancy occurring in the flow data or rainfall data. Data input may cause them to underestimate or overestimate the design, can lead to cost overruns or construction disproportionate. Alternatives to fill the data gaps in the data in-situ, satellite TRMM 3B32 data is attempted to fill the data gaps. The research objective was to determine the characteristics of the data in-situ, satellite TRMM 3B42 data characteristics, and How well the data 3B42 TRMM satellite to the data in-situ in Banyumas. Satellite rainfall data retrieval is done by downloading from the official website TRMM satellite. Rainfall data in-situ collection was performed by contacting the PSDA as conventional rainfall data provider Data were analyzed with statistical analysis to obtain the characteristics of each data source and the relationship between the two sources of rainfall data. The results are characteristic differences between the data 3B42 TRMM satellite and in-situ data is in the range of parameters satistik. Difference in average rainfall ranging between 0 mm/day up to 15.83 mm/day. Standard deviation that occurs in the data satellite TRMM 3B42 0 mm/day up to 36.55 mm/day, the standard deviation of the data in-situ 0 mm/day up to 40.75 mm/day. Difference in number of rainy days that occur between -1 to 21 days. The correlation coefficient (r) which occurs between -0.18 to 0.70. At CDF chart pattern that forms state that the low rainfall there are similarities, but there is a high rainfall varying bias. | |
| 12787 | 5779 | G1A006116 | TESTING THE CONTENT ACCURACY OF BIBLE TRANSLATION MATTHEW 5: 1 – 12 (ESV) USING BACK TRANSLATION METHOD | ABSTRAK Joachim Frederick. April, 2013. Testing The Content Accuracy of Bible Translation Matthew 5: 1 – 12 (ESV) Using Back Translation Method. Program Sarjana Bahasa dan Sastra Inggris, Jurusan Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. Tahun Akademik 2012/2013. Pembimbing 1: R. Pujo Handoyo, S. S., M. Hum. Pembimbing 2: Dyah Raina P., S. S., M. Hum. Penguji: Asrofin Nur Kholifah, S. S., M. Hum. Kata Kunci: pengujian penerjemahan, keakurasian isi, metode back translation, Alkitab Penerjemahan adalah penggantian materi tekstual dalam suatu bahasa dengan materi tekstual yang sepadan dalam bahasa yang lain. Terdapat beberapa metode untuk menguji keakuratan suatu terjemahan. Metode back translation adalah sebuah metode yang unik, karena back translation menerjemahkan suatu teks terjemahan kembali ke bahasa aslinya dan metode ini dikerjakan oleh seorang penerjemah bebas tanpa membaca teks aslinya. Studi ini adalah tentang pengujian keakuratan isi untuk mencari tahu keakuratan dari teks Alkitab Matius 5: 1 – 12 (ESV). Penelitian ini dibuat untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan ini; perbedaan – perbedaan yang dapat diidentifikasi dari metode back translation antara teks asli/teks sumber dan teks back translation dalam sebuah teks terjemahan. Dan, keakuratan teks terjemahan “Sabda Bahagia” (Matius 5: 1 – 12) dalam Bible Works 6 berdasarkan metode back translation. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk yang menggambarkan keakuratan dari teks terjemahan dalam teks Alkitab Matius 5: 1 – 12 dan menganalisis keakuratan isi menggunakan metode back translation. Data primer dari penelitian ini dari dua sumber; teks bahasa Inggris diambil dari software Bible Works 6 dan teks Indonesia yang juga diambil dari software Bible works 6. Sedangkan data sekunder diambil dari teks bahasa Inggris (teks back translation) yang di terjemahkan oleh penerjemah yang tidak terikat. Untuk mencari tahu keakurasian isi dari teks Alkitab Matius 5: 1 - 12 (ESV), teks back translation dibandingkan dengan teks aslinya oleh seorang penilai yang menggunakan table penilaian. Setelah analisis ditemukan bahwa teks Alkitab Matius 5: 1 – 12 (ESV) memiliki beberapa perbedaan dalam kata dan frase antara teks asli dan teks back translation, sebagai contoh; perbedaan dalam kata, penghilangan atau pengurangan kata, penambahan kata, perbedaan dalam frase dan penambahan frase. Dalam analisis juga ditemukan bahwa teks alkitab ”Sabda Bahagia” akurat dan ini dapat dilihat dari tabel penilaian penguji. | ABSTRACT Joachim Frederick. April, 2013. Testing The Content Accuracy of Bible Translation Matthew 5: 1 – 12 (ESV) Using Back Translation Method. English Language and Literature Program, Department of Humanities, Faculty of Social and Political Science, Jenderal Soedirman University Purwokerto. Academic Year 2012/2013. First Advisor: R. Pujo Handoyo, S. S., M. Hum. Second Advisor: Dyah Raina P., S. S., M. Hum. Examiner: Asrofin Nur Kholifah, S. S., M. Hum. Keywords: testing of translation, content accuracy, back translation method, bible Translation is the replacement of textual material in one language by equivalent textual materials in another language. There are some methods to test the translation accuracy. The back translation method is a unique method, because it translates the translation text back to the original language and it’s done by an independent translator without reading the original text. This study is about the testing content accuracy to find out the Bible text accuracy in Matthew 5: 1 – 12 (ESV). This research is made to answer these questions, the differences between the original/source text and the back-translated text in translation text identified by Back Translation Method. And, the accurate of the translation of “The Beatitudes” (Matthew 5: 1-12) in Bible Works 6 based on back translation method. This research used descriptive qualitative method to describe the accuracy of translation text in Bible text Matthew 5: 1 – 12 and analyzed content accuracy used back translation method. The primary data of this research were taken from two sources; English text was taken from the software Bible Works 6 and the Indonesian text was also taken from the software Bible Works 6. Whereas, the secondary data were taken from English text (back translation text) done by the independent translator. To know the content accuracy of Bible text Matthew 5: 1 – 12 (ESV), the back translation text was compared to the original text by the rater and used a scoring table. The analysis found that the Bible text Matthew 5: 1 – 12 (ESV) has some differences in word and phrase between the original text and the back translation text, for example; different word, omitted word, adding word, different phrase and adding phrase. The analysis also found that the Bible text “The Beatitudes” is accurate and it can be seen from the rater scoring table. | |
| 12788 | 5781 | E1A009146 | ANALISIS YURIDIS PUTUSAN BEBAS KARENA ERROR IN PERSONA (STUDI KASUS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG R.I. NOMOR: 90 PK/PID/2008) | ABSTRAK Penegakan hukum mempunyai 3 (tiga) pilar yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman. Peran Penyidik Polri sangat penting karena penyidik yang membuat berita acara penyidikan, mencari tersangka dan mencari identitas dari korban serta penyidik secara langsung ada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dibandingkan jaksa dan hakim. Apabila pada tahap awal sudah terjadi rekayasa oleh penyidik kemudian jaksa dan hakim percaya begitu saja dengan data dari penyidik maka dapat terjadi yang namanya salah tangkap yang terjadi dalam putusan Pengadilan No. 49 PK/PID/2008. Dalam skripsi ini akan membahas mengenai 1. Bagaimanakah pertimbangan hukum hakim yang membebaskan terdakwa dalam Putusan Mahkamah Agung No. 90 PK/PID/2008? 2. Bagaimanakah akibat hukum bagi penyidik dalam hal salah tangkap (error in persona) dalamPutusan Mahkamah Agung No. 90 PK/PID/2008? Dalam pertimbangan hukum Hakim, dengan adanya Peninjauan Kembali dari pelaku sebenarnya, dan adanya tes DNA yang membuktikan bahwa mayat yang menjadi korban pembunuhan bukan mayat yang dituduhkan penyidik kepada Terpidana. Atas dasar Pasal 191 ayat (1) Undang-Undang No.8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, Hakim mengabulkan peninjauan kembali dari Permohon peninjauan kembali. Dengan adanya salah tangkap, maka penyidik yang melakukan penyidikan kasus tersebut terkena sanksi Pasal 21 ayat (1) Peraturan Kepala Kepolisian No. 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Kepolisian. Dalam melakukan penyidikan, penyidik diharapkan dapat bertindak secara professional, teliti, dan tidak boleh menyimpang dari peraturan yang berlaku. Sehingga setiap kasus dapat terselesaikan dengan tepat, baik pelaku dan korban yang diajukan ke pengadilan merupakan orang yang tepat, sehingga putusan yang dijatuhkan Hakim tidak keliru. Kata Kunci :Penegakan Hukum, Salah Tangkap, Penyidik | ABSTRACT Law enforcement has three (3) pillars namely police, prosecutors and the Judiciary. Police Investigator role is very important because the investigator who made the news event investigation, looking for suspects and are looking for the identity of the victim and the investigator directly at the crime scene (TKP) compared to prosecutors and judges. If in the early stages has occurred investigators then engineered by prosecutors and judges believe it with the data from this investigation may have been no wrongful arrests that occurred in the Court's decision No.. 49 PK/PID/2008. In this paper will discuss the 1. How legal reasoning the judge to acquit the defendant in the Supreme Court Decision. 90 PK/PID/2008? 2. How legal consequences for the investigator in the case of false arrest (error in persona) dalamPutusan Supreme Court. 90 PK/PID/2008? In consideration of the law judge, in the presence of a judicial review of the actual perpetrator, and a DNA test which proved that the bodies were victims of homicide investigators alleged corpse not to convict. On the basis of Article 191 paragraph (1) of Act 8 of 1981 on the Law of Criminal Procedure, the Judge granted a judicial review of plea reconsideration. With the false arrest, the investigators are investigating the case of sanctions of Article 21 paragraph (1) of Regulation No police chief. 14 Year 2011 About the Police Code. In conducting the investigation, the investigator is expected to act in a professional, thorough, and should not deviate from the regulations. So that each case can be resolved appropriately, both the perpetrator and victim are brought to justice is the right person, so the judge handed down the verdict was not erroneous. Keywords: Law Enforcement, False Arrest, Investigators | |
| 12789 | 5783 | F1F007038 | Approaches and Methods in English Teaching Process (An Explorative Study on the Fifth Grade English Teacher of Palm Kids Primary School Purwokerto as National Plus Primary School Academic Year 2012 – 2013) | Kusuma, Sebastian J. D. 2013, Approaches and Methods in English Teaching Process (An Explorative Study on the Fifth grade of Palm Kids Primary School as National-Plus Primary School Academic Year 2012/2013). Skripsi ini dibimbing oleh Drs, Ashari, M.Pd, Dian Ardiarti, S.S. M.Hum, and pembimbing eksternal, Tuti Purwati, S.S. M.Pd. Program Bahasa dan Sastra Inggris, Jurusan Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Tahun Akademik 2012/2013. Skripsi ini mengangkat kajian eksploratif tentang metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Inggris kelas 5 Palm Kids Primary School sebagai sekolah standar Nasional-Plus. Tujuan dari kajian eksploratif ini adalah menemukan metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Inggris yang diterapkan di Palm Kids Primary School sebagai sekolah standar Nasional-Plus. Penelitian ini menganalisa tentang metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Inggris berdasarkan teori dari Patel dan Praveen. Terdapat lima metode dan dua pendekatan dalam pembelajaran Bahasa Inggris, metode penerjemahan (translation), metode langsung (direct), metode membaca, metode dwi-bahasa, metode situasi, pendekatan struktur, dan pendekatan komunikatif. Data penelitian ini dikumpulkan dari pengamatan di kelas, wawancara guru, dan dokumentasi. Berdasarkan analisis data, peneliti menemukan bahwa guru membagi kegiatan belajar mengajar menjadi tiga tahap; pra-mengajar, proses belajar mengajar, dan diskusi atau penilaian. Berdasarkan hasil yang diperoleh, guru tersebut menerapkan pendekatan pada pra-mengajar dan menerapkan metode pembelajaran pada saat proses belajar mengajar. Pada saat mengajar kompetensi membaca, guru menerapakan pendekatan komunikatif dengan metode membaca dan langsung. Lalu pada saat mengajar kompetensi dasar menulis, guru menerapkan pendekatan struktur dengan metode langsung dan dwi-bahasa. Dalam mengajar kompetensi dasar mendengar, guru tersebut menerapkan pendekatan komunikatif dengan metode langsung, membaca, dan dwi-bahasa. Dalam mengajar kompetensi dasar berbicara, guru mengaplikasikan pendekatan komunikatif dengan metode langsung dan membaca. Lalu, dalam mengajar komponen tata bahasa, guru menerapkan pendekatan struktur dengan metode langsung dan dwi-bahasa. Kemudian, dalam mengajar komponen kosakata, guru tersebut menerapkan pendekatan struktur dan metode dwi-bahasa. | Kusuma, Sebastian J. D. 2013, Approaches and Methods in English Teaching Process (An Explorative Study on the Fifth grade of Palm Kids Primary School as National-Plus Primary School Academic Year 2012/2013). This thesis is supervised by Drs, Ashari, M.Pd, Dian Ardiarti, S.S. M.Hum, and the examiner, Tuti Purwati, S.S. M.Pd. English Language and Literature Study Program, Department of Humanities, Faculty of social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University Purwokerto, Academic Years: 2012/2013 Keywords: Explorative study, English teaching methods and approaches, English teaching skills and components, National-Plus Primary School. This paper presents an explorative study of the English teaching methods and approaches used on the fifth grade of Palm Kids Primary School Purwokerto as National-Plus School. The purpose of this explorative study is to discover the English teaching methods and approaches used on the fifth grade of Palm Kids Primary School as National Plus School. This research analyzed the English teaching methods and approaches based on Patel and Praveen’s theory. There are five methods and two approaches in English teaching, grammar-translation method, direct method, reading method, bilingual method, situation method, and then structural approach and communicative approach. The data of this were taken from classroom observation, in-depth interview with the teacher, and the documentation. From the data analysis, the researcher discovered that the teacher divided teaching and learning activity into three steps; pre-teaching, teaching and learning process, and assessment or discussion. As the result, he applied teaching approach on the pre-teaching and he implemented teaching method on teaching and learning process. On the teaching reading, he applied communicative approach, reading and direct method. On the teaching writing, he used structural approach, bilingual method and direct method. On the teaching listening, the teacher used communicative approach, direct method, reading method, and bilingual method. On the teaching speaking, he applied the communicative approach, direct method, and reading method. On the teaching grammar, he used structural approach, bilingual method, and direct method. On the teaching vocabulary, the teacher applied structural approach and bilingual method | |
| 12790 | 5784 | E1A008212 | PEMBUKTIAN KETERANGAN SAKSI KORBAN DALAM TINDAK PIDANA PENCABULAN ANAK SESAMA JENIS KELAMIN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 70/Pid.Sus/2011/PN.Pwt.) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kenapa saksi korban yang dikategorikan sebagai anak dihadirkan dalam persidangan pada putusan Nomor 70/Pid.Sus/2011/PN.Pwt.) dan untuk mengetahui kekuatan pembuktian alat bukti keterangan saksi korban dalam tindak pidana pencabulan anak sesama jenis kelamin pada putusan Nomor 70/Pid.Sus/2011/PN.Pwt.) Keterangan saksi sangat penting guna membuktikan suatu peristiwa pidana yang telah terjadi, diantara keterangan saksi tersebut terdapat saksi korban yaitu saksi yang mengalami sendiri baik secara fisik maupun mental atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu peristiwa tindak pidana. tidak sedikit saksi korban merupakan anak yang masih dibawah umur, karena lemah baik secara fisik maupun mental. Untuk itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang jelas dan bermanfaat untuk melindungi segenap warga masyarakat khususnya anak sebagai penerus bangsa agar terlindungi dari segala macam bentuk tindak pidana baik kekerasan maupun kejahatan, serta memberikan hukuman yang berat untuk memberi efek yang jera bagi siapa saja yang terbukti melakukan tindak pidana tersebut. | This study aims to find out why the witnesses categorized as presented at the hearing on the decision No. 70/Pid.Sus/2011/PN.Pwt.) And to determine the strength of evidence proving the victim witnesses in criminal child abuse in same-sex Number 70/Pid.Sus/2011/PN.Pwt decision.) Witness testimony is crucial to proving a criminal incidents that have occurred, between the testimony of the witnesses that the witnesses are witnesses who are themselves both physically and mentally or economic loss caused by a criminal event. not fewer victims are children who are still under age, because of weak both physically and mentally. It required legislation is clear and useful to protect all members of society, especially children as the nation's future to be protected from all forms of both violent crime and crime, as well as providing severe punishment to give a deterrent effect for anyone found guilty the offense. | |
| 12791 | 5785 | A1L009082 | PENAMPILAN KARAKTER AGRONOMIK DAN INTERAKSI GENOTIPE × LINGKUNGAN 12 GALUR HARAPAN PADI GOGO (Oryza sativa L.) DI BANYUMAS DAN PURBALINGGA | Padi gogo merupakan penunjang produksi padi nasional. Produktivitas padi gogo masih rendah sehingga perlu adanya pengembangan penelitian untuk menghasilkan varietas padi gogo yang berdaya hasil tinggi dan mutu beras yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mempelajari penampilan karakter agronomik 12 galur harapan padi gogo di dua lokasi tanam, 2) Mengkaji tingkat adaptabilitas 12 galur harapan padi gogo dan 3) mengetahui potensi dan kestabilan hasil 12 galur harapan padi gogo. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah lokasi tanam yaitu Purbalingga dan Banyumas. Faktor kedua adalah galur padi gogo yaitu AK.4-5-56-7, PK.15-16-537-28, B12154D-MR-10, B11902F-TB-6-1, UJS 136PS, UJS 191, SDM9-18-MR-4, IR83377-B-B-93-3, BIO 179, BIO 198, IPB 158-2, IPB 159-25, serta dua varietas pembanding Gadjah Mungkur dan Limboto. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan penampilan karakter agronomik yang nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, umur berbunga 50%, umur panen, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah dan hasil produksi. Galur yang menunjukkan kestabilan dibawah rerata dengan potensi hasil lebih tinggi daripada rerata umum pada dua lokasi tanam adalah B12154D-MR-10, UJS 136PS, BIO 179 dan varietas Limboto. | Upland rice is supporting the national rice production. Productivity of upland rice is still low, so it is necessary to study the development research to obtain upland rice varieties with high yielding and good quality rice. The objectives of the research are: 1) to study the appearance of the agronomic characters of 12 lines of upland rice in two locations, 2) to study the adaptability of 12 lines of upland rice and 3) to determines the yield potential and production stability of 12 lines of upland rice. The research is an factorial experimental consisting of two factor. The first factor is locations of planting namely Purbalingga and Banyumas. The second one is genotipe of upland rice namely AK.4-5-56-7, PK.15-16-537-28, B12154D-MR-10, B11902F-TB-6-1, UJS 136PS, UJS 191, SDM9-18-MR-4, IR83377-B-B-93-3, BIO 179, BIO 198, IPB 158-2, IPB 159-25 with two check varieties are Gadjah Mungkur and Limboto. Research compiled using Randomised Blocks Design (RBD) with repeated 4 times. The results showed the variation performance of agronomic characters in variable plant height, total number of tillers, productive tillers, 50% flowering, harvesting age, percentage of empty panicle, 1000 grain weight and grain yield. The genotipes showed stability under average stability and potential yield above average yield in two planting locations are B12154D-MR-10, UJS 136PS, BIO 179 and Limboto. | |
| 12792 | 5786 | A1L009024 | PENGARUH KOMPOSISI MEDIA DAN MACAM ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MELATI (Jasminum sambac(L.) Aiton) | Penelitian mengenai pengaruh komposisi media dan macam zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan stek melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) bertujuan mengetahui komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan stek melati, mengetahui jenis zat pengatur tumbuh alami yang terbaik untuk pertumbuhan stek melati, mengatahui kombinasi antara komposisi media dan jenis zat pengatur tumbuh alami yang terbaik untuk pertumbuhan stek melati. Penelitian dilakukan di lahan pekarangan Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan pada bulan Juli sampai Oktober. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor yaitu komposisi media (K) dan macam zat pengatur tumbuh alami (M). Komposisi media terdiri dari 1 pasir: 1 tanah: 1 pupuk kandang, 1 pasir: 2 tanah:1 pupuk kandang, dan 2 pasir: 1 tanah: 1 pupuk kandang. Macam zat pengatur tumbuh alami terdiri dari ekstrak bawang merah, air kelapa muda, dan air seni sapi. Variabel yang diamati meliputi: jumlah tunas, jumlah daun, luas daun, jumlah akar, bobot akar segar dan kering, panjang akar terpanjang, dan persentase stek tumbuh. Data dianalisis dengan uji F yang dilanjutkan dengan DMRT dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan stek melati adalah 2 pasir: 1 tanah: 1 pupuk kandang sapi, jenis zat pengatur tumbuh alami yang terbaik untuk pertumbuhan stek melati adalah ekstrak bawang merah dan kombinasi antara komposisi media dan macam zat pengatur tumbuh alami tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan stek melati. | Research on the influence of medium composition and a variety of natural plant growth regulators on the growth of cuttings of jasmine (Jasminum sambac (L.) Aiton aimed to detect best medium compositions for growth jasmine cutting, detect best variety natural plant growth regulators for growth jasmine cutting, detect best combination between medium compositions and natural plant growth regulators for growth jasmine cutting. Research carried out in a garden at Karangsari village, Karanganyar district, Pekalongan regency in July until October. The design used was a complete randomized block design (CRBD) with 9 treatments and 3 replications. Factor tested include: medium composition consisted of 1 sand: 1 soil: 1 manure, 1 sand: 2 soil: 1 manure, and 2 sand: 1 soil: 1 manure and natural plant growth regulators consisted of shallot extract, coconut water, and cow urine. Observed variables include: the number of shoots, number of leaves, leaf area, number of roots, fresh and dry weight of roots, length of longest root, and the percentage of cuttings grow. Data were analyzed by F test followed by DMRT at 5% level. The results showed that the best medium composition for the growth of jasmine cutting was 2 sand: 1 soil: 1 manure, the best natural plant growth for the growth jasmine cutting was shallot extract and combination between medium compositions with variety of natural plant growth regulators did not influence the growth of jasmine cuttings. | |
| 12793 | 5790 | H1L008061 | RANCANG BANGUN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PERLINDUNGAN KONSUMEN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ( STUDI KASUS DI DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI KABUPATEN BANYUMAS) | Dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi (Dinperindagkop) mempunyai tugas pokok melaksanakan teknis operasional urusan pemerintahan daerah bidang perindustrian, bidang perdagangan, pasar, koperasi dan usaha kecil menengah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Salah satu tugas dari badan tersebut adalah menyelenggarakan kegiatan perlindungan konsumen dan kemetrologian dalam rangka perlindungan masyarakat. Untuk melindungi masyarakat, dinas tersebut melakukan sidak untuk mengetahui kondisi dan kualitas terhadap produk makanan dan menerima laporan dari konsumen. Berbagai macam produk makanan yang disidak maupun laporan dari konsumen sangatlah banyak, sehingga diperlukan sebuah sistem pendukung keputusan untuk melakukan perangkingan produk. Sistem pendukung keputusan yang dibuat menggunakan visual basic 6.0 dan metode yang digunakan analytical hierarchy process (AHP). Hasil yang diperoleh adalah perangkingan produk makanan yang disidak maupun laporan dari konsumen mulai dari produk makanan dengan kualitas yang terbaik hingga makanan yang kualitasnya tidak baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendukung keputusan dapat membantu merangking produk makanan yang disidak maupun laporan dari konsumen untuk menentukan kualitas makanan tersebut dengan menggunakan lima kriteria. | Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) has the main task to carrying out technical operational affairs of regional government areas of industrial, trade, marketplace, cooperatives and small and medium enterprises based on the principle of autonomy and assistance. One of the duties from this agency is to carry out consumer protection and metrology activities in order to protect the public. To protect the public, the agency conduct the inspection to determine the condition and quality of the foods products and receive reports from consumers. Various kinds the food products in the inspection or the report of the consumer very much, so we need a decision support system to conduct product ranking. Decision support systems are created using Visual Basic 6.0 and the methods used analytical hierarchy process (AHP). The result is the ratings of food products from the inspection and reports of consumers ranging from food products with the best quality to the food with poor quality. The results show that decision support systems can help to rank in the inspection of food products as well as reports from the consumer to determine the quality of the food by using five criteria. | |
| 12794 | 5791 | A1H009018 | PENGARUH DOSIS RAGI TAPE DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP PRODUKSI BIOETANOL DARI BATANG SORGUM MANIS | Sorgum manis merupakan salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan menjadi bioetanol. Hasil perasan batang sorgum manis mengandung gula yang dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol. Faktor yang berpengaruh dalam produksi etanol antara lain dosis ragi dan lama fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh dosis ragi tape dan lama fermentasi terhadap kadar dan rendemen bioetanol, 2) dosis ragi tape dan lama fermentasi untuk menghasilkan kadar etanol optimum dan 3) rendemen bioetanol optimum yang dihasilkan dari batang sorgum manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2013 di Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor dengan sembilan perlakuan dan tiga kali ulangan. Faktor-faktor yang diuji adalah dosis ragi tape, yaitu: 10 g/l, 40 g/l dan 70 g/l; dan lama fermentasi, yaitu: 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Variabel yang diamati adalah kadar etanol dan rendemen bioetanol. Hasil pengamatan pada bahan baku batang sorgum manis yang ditanam di screen house Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada September 2012 dan dipanen pada Januari 2013 adalah sebagai berikut: total padatan (brix) 10%, kadar gula total 9,39% dan pH 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar dosis ragi tape yang ditambahkan pada fermentasi nira batang sorgum manis semakin tinggi kadar bioetanol yang dihasilkan. Semakin lama waktu fermentasi, kadar bioetanol yang dihasilkan semakin tinggi sampai pada titik maksimum tertentu kemudian mengalami penurunan. Dosis ragi tape 40 g/l dan lama fermentasi 48 jam merupakan perlakuan optimum yang menghasilkan bioetanol dari nira batang sorgum manis sebesar 1,75% dan rendemen bioetanol dari gula batang sorgum manis sebesar 18,67%. | Sweet sorghum is one of the crops which is potential to be developed into bioethanol. The squeezing process of sweet sorghum stalks produce high sugar content which is use for bioethanol feedstock. There are several factors affecting the ethanol production such as dose of yeast and fermentation time. This research was aimed to know: 1) the influence of “tape” yeast doses and fermentation time on the ethanol levels and the bioethanol yield, 2) the doses of yeast “tape” and fermentation time to produce the optimum ethanol levels and 3) the optimum bioethanol yield produced from sweet sorghum stalks. The research was carried out in February until May 2013 at the Agricultural Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman. The research used Randomized Block Design-two factors with nine treatments and three replications. The factors tested are “tape” yeast doses, i.e: 10 g/l, 40 g/l and 70 g/l; and fermentation time , i.e: 24 hours, 48 hours and 72 hours. The observed variables are the ethanol levels and bioethanol yield. The results of observations on the raw materials of sweet sorghum stalks planted in the screen house Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman in September 2012 and harvested in January 2013 included: total solids (brix) of 10 %, total sugar content of 9.39 % and pH of 5. Result of the research showed that the greater which “tape” yeast doses added on the fermentation process of sweet sorghum stalk juices, the higher levels of ethanol produced. The longer fermentation time corresponded with increasing ethanol level until certain point, then decreasing afterward. The dose of “tape” yeast of 40 g/l and fermentation time of 48 hours is the optimum treatments produced bioethanol from sweet sorghum stalk juices of 1.75% and bioethanol yield from sweet sorghum stalk sugar of 18.67%. | |
| 12795 | 5792 | F1G009016 | INTERPRETASI MAKNA DALAM MANTRA COWONGAN | Skripsi ini berjudul “Interpretasi Makna dalam Mantra Cowongan”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna dalam Mantra Cowongan. Penelitian ini termasuk deskriptif dengan fokus penelitian berupa makna dalam mantra Cowongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, wawancara, pengamatan (observasi), perekaman dan pengarsipan. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan teori Semiotika Riffatere. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap mantra tersebut dengan teori Semiotika Riffatere terdapat makna kamasutra yang indah. Mantra ini bercerita tentang kisah cinta Dewi Sulasih dan Sulanjana. | The thesis was titled “Interpretasi Makna dalam Mantra Cowongan ” was aimed to know the meaning of Cowongan’s Spell. This was a descriptive research which focused on meaning of Cowongan’s spell. Technique collecting data used in this research was reference , interview, observation, recording, and documentation. Next, the data was analyzed by using Riffatere’s Semiotic. Based on the result, there were meaning about beautiful kamasutra. This spell about love story Dewi Sulasih and Sulanjana. | |
| 12796 | 5793 | E1A009024 | PENJATUHAN PIDANA PENJARA BAGI ANAK PELAKU PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi terhadap Putusan Perkara Nomor: 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt.) | ABSTRAKSI Penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam menjatuhkan pidana penjara bagi anak dalam putusan Nomor: 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt, serta mengetahui kesesuaian penjatuhan pidana penjara bagi anak pelaku penyalahgunaan narkotika pada putusan Nomor: 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt dengan tujuan pemidanaan. Penulisan hukum ini disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun secara logis dan sistematis dan apabila dilihat dari tipenya termasuk dalam penelitian hukum yuridis normatif. Lokasi penelitian di Pengadilan Negeri Purwokerto, Pusat Informasi Ilmiah Fakultas Hukum dan Unit Pelayanan Terpadu Universitas Jenderal Soedirman. Jenis data yang dipergunakan adalah data sekunder. Putusan Nomor 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt berkaiatan dengan kasus penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh Saiful Ngibad Bin Kusworo. Jaksa Penuntut Umum mendakwa dengan dakwaan alternatif dimana dakwaan Kesatu didasarkan pada Pasal 111 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dan dakwaan Kedua didasarkan pada Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dalam kasus ini Hakim menggunakan dakwaan Kedua dengan menjatuhkan pidana penjara selama 1(satu) tahun dan 1(satu) bulan. Putusan berupa penjatuhan pidana penjara bagi anak pelaku penyalahgunaan narkotika belum sesuai dengan tujuan pemidanaan bagi anak karena kurang memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak khususnya anak penyalah guna narkotika. Kata kunci: pidana penjara, Anak Nakal, Penyalahgunaan Narkotika | ABSTRACT Legal research aims to to know the basic legal considerations Navan District Court Judge in imposing imprisonment for children in Decree Number: 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt and determine the suitability of the imposition of imprisonment for drug abuse offenders on Decree Number: 56/Pid.Sus/2011/PN.Pwt the purpose of punishment Legal writing is presented in the form of a narrative text arranged in a logical and systematic, and when seen from the type included in the normative legal research. Research sites in Navan District Court, Central Scientific Information Unit of the Faculty of Law and Integrated Services University General Sudirman. Type of data used is secondary data. Decree Number 56/Pd.Sus/2011/PN.Pwt relating with the case of abuse of narcotic that conducted by Saiful Ngibad Bin Kusworo. Public Prosecutor assert with alternative assertion which are Firs Assertion by articel 111 sentence (1) Law number 35 Year 2009 and Second Assertion by articel 127 sentence (1) letter a Law number 35 Year 2009 concerning Narcotic. The judge in this case using the two charges dropped imprisonment for one (1) year and one (1) month. The verdict in the form of sentences in prison for child abuse perpetrators of narcotics for the purpose of punishment is not appropriate for the child because of lack of attention to the best interests of children, particularly children of narcotics abusers. Keywords: imprisonment, Juvenile, Narcotics Abuse | |
| 12797 | 5795 | E1A009219 | UPAYA HUKUM KASASI DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012) | ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul “UPAYA HUKUM KASASI DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012). Berdasarkan dari judul tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan yang pertama yaitu apakah alasan – alasan upaya hukum kasasi dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012 sudah sesuai dengan Pasal 253 ayat (1) Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dan permasalahan yang kedua yaitu apakah akibat hukum upaya hukum kasasi dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui alasan – alasan upaya hukum kasasi dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012 dengan Pasal 253 ayat (1) Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dan juga untuk mengetahui akibat hukum upaya hukum kasasi dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan pendekatan konseptual dan pendekatan kasus. Dimana pendekatan konseptual beranjak dari doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum dan pendekatan kasus digunakan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari alasan yang diajukan oleh pemohon kasasi tidak ada yang sesuai dengan alasan – alasan kasasi dalam Pasal 253 ayat (1) Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dan Akibat hukum dalam upaya hukum kasasi terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 828 K/Pid.Sus/2012 yaitu dengan ditolaknya upaya hukum kasasi tersebut maka menguatkan putusan pengadilan sebelumnya sehingga putusan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Dan apabila para pihak masih belum menerima putusan tersebut, dapat melakukan upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali. | ABSTRACT The title of this research is “APPEAL LEGAL REMEDY IN COPULATION CRIMINAL ACT (Juridical Review about Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012). Based on the tittle, the problem that will be studied is the conformity of the reason of that appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012 with the Article 253 clause 1 Act 8/1981 about Law of Criminal Procedure (KUHAP) and the consequence of the appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012 in this decision The purpose of this research is to know the reason of the appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012 and its conformity with the Article 253 clause 1 Act 8/1981 about Law of Criminal Procedure (KUHAP) rule and the legal consequence of the appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012. The method of this research is juridical research or norm legal research with conceptual approach and case approach. The conceptual approach based on the doctrin that exist and expanded in law science and the case approach used to learn the implementation of legal norm in law practice. The result of the research show that all the reason of appeal legal remedy Indonesia Supreme Court Decision Number 828 K/Pid.Sus/2012 submission have no conformity with the legal reason in Article 253 clause 1 Act 8/1981 about Law of Criminal Procedure (KUHAP) and the legal consequence of the appeal legal remedy refusal in Supreme Court Decision number 828 K/Pid.Sus/2012 is strengthen the previous court decision so that decision has the constancy of power. If the parties still can not accept the decision, the can propose the extraordinary legal remedy. | |
| 12798 | 5796 | H1D008047 | PERBANDINGAN UNJUK KERJA MODEL HEC-HMS DAN MODEL RAIN RUN UNTUK PREDIKSI KETERSEDIAAN AIR DAS KLAWING | Kelangsungan hidup semua makhluk hidup dan ekosistem alam khususnya manusia sangat tergantung pada ketersediaan air. Sungai Klawing termasuk salah satu sumber air yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Sungai Klawing merupakan sungai terbesar di Kabupaten Purbalingga, luas DAS Klawing 581 km2. Setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya air akan selalu terkait dengan analisis hidrologi, sedangkan sungai merupakan komponen dari siklus hidrologi. Umumnya analisis hidrologi merupakan langkah awal yang dilakukan untuk menetapkan potensi ketersediaannya air pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang akan ditinjau. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model hidrologi berupa model hujan aliran (Rainfall runoff model). Penggunaan teknik pemodelan dalam aplikasi hidrologi saat ini sangat berkembang, dari model-model yang sederhana sampai model yang kompleks. Maka dari itu penelitian ini akan mencoba menganalisis ketersediaan air di DAS Klawing dengan membandingkan unjuk kerja model HEC-HMS dan model RAIN RUN. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui parameter DAS Klawing. Membandingkan debit terhitung dengan debit terukur di DAS Klawing. Mengaplikasi model HEC-HMS dan model RAIN RUN untuk mengetahui perbandingan unjuk kerja menganalisis ketersediaan air di DAS Klawing. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan model Soil Moisture Accounting (SMA) yang terdapat model HEC-HMS. Sedangkan dalam model RAIN RUN dengan menggunakan fasilitas SOLVER pada software Microsoft Excel membantu dalam tahap kalibrasi maupun verifikasi. Evaluasi ketelitian model dilakukan dengan membandingkan debit hasil simulasi dengan debit terukur yang terjadi dengan batasan selisih volume tidak lebih dari 10% dan nilai koefisien korelasi tidak kurang dari 0,7 dan tidak lebih dari 1. Berdasarkan hasil analisis untuk prediksi ketersediaan air di DAS Klawing, dapat disimpulkan bahwa hasil dari model RAIN RUN yang memiliki tingkat ketelitian lebih baik. Dilihat dari hasil verifikasi model RAIN RUN didapatkan selisih volume sebesar 4,854% dan nilai koefisien korelasi 0,771, sedangkan untuk model HEC-HMS dengan selisih volume 38,68% dan nilai koefisien korelasi 0,329. Semakin banyak parameter yang dimasukan, akan lebih banyak iterasi parameter yang terjadi dan menyulitkan dalam mengoptimasikan. Ini yang terjadi pada model HEC-HMS. | The survival of all living beings and natural ecosystems, especially humans being depend on water availability. Klawing river is one of water source that can be utilized by humans. Klawing River is the largest river in Purbalingga, Klawing watershed has catchment area 581 km2. Each of the utilization of water resources will always be associated with hydrologic analysis, while the river is a component of the hydrologic cycle. Generally, hydrologic analysis is the first step taken to define potential availability of water in a river catchment area (DAS) that will be reviewed. One way to do is using e a hydrologic model of flow model of rainfall (Rainfall runoff models). The use of modeling techniques in hydrology applications now highly developed, from simple models to complex models. Therefore this research will try to analyze the availability of water in the Klawing watershed by comparing the performance of the model and the HEC-HMS models RAIN RUN. The purpose of this study is determine the parameters Klawing watershed. Comparing the discharge calculated and the measured discharge in the Klawing watershed. Applying HEC-HMS and RAIN RUN models to compare the performance of analyzing the availability of water in Klawing catchment area. The method used by the model is the Soil Moisture Accounting (SMA) which contained the model HEC-HMS. While in the RAIN RUN models that using SOLVER in Microsoft Excel software help in the calibration and verification phase. Evaluation is done by comparing the accuracy of the model simulation results with the discharge that occurs with measurable discharge limits volume difference is not more than 10% and the correlation coefficient is not less than 0.7 and not more than 1. Based on the analysis for the prediction of water availability in the Klawing watershed concluded that the results of RAIN RUN models have better accuracy rate. From the results of the verification RAIN RUN models, the difference volume is 4.85% and the correlation coefficient is 0.771, in the other hand for the HEC-HMS models get 38.68% for difference volume and the value of the correlation coefficient is 0.329. The more parameters are entered, there will be more iterations occur and complicate parameter in optimizing. This happened on the HEC-HMS models. | |
| 12799 | 5782 | H1G009035 | Biosorpsi Logam Berat Timbal (Pb) oleh Biomassa Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada Berbagai Variasi pH dan Waktu Kontak | Penelitian berjudul “Biosorpsi Logam Berat Timbal (Pb) oleh Biomassa Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada Berbagai Variasi pH dan Waktu Kontak” telah dilakukan pada bulan Juni-Juli 2013. Biosorpsi dengan memanfaatkan biosorben merupakan metode alternatif untuk menanggulangi dampak pencemaran perairan. Pencemaran perairan oleh logam berat menimbulkan efek negatif bagi kualitas air, biota air dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas biosorpsi, pH dan waktu kontak optimum serta kadar logam berat Pb oleh E. crassipes; dan untuk membandingkan hasil biosorpsi dengan baku mutu yang berlaku. Penelitian biosorpsi logam Pb oleh E. crassipes ini telah dilakukan pada variasi pH dan waktu kontak. Perlakuan berupa pencampuran 100 mg biosorben ke dalam larutan Pb(NO3)2 pada rentang pH 3, 4, 5 dan 6 serta waktu kontak 60 menit, 120 menit, 180 menit, dan 240 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biosorpsi logam Pb oleh E. crassipes dipengaruhi oleh pH larutan dan lamanya waktu kontak. Kapasitas biosorpsi logam Pb oleh E. crassipes sebesar 42,35% pada pH optimum 4 dan waktu kontak 240 menit. Konsentrasi logam Pb hasil adsorpsi (25,97 ppm) melebihi baku mutu. E. crassipes dapat menjadi biosorben alternatif untuk mengurangi limbah mengandung logam berat Pb sebelum memasuki perairan dengan metode biosorpsi. | A study entitled “The Biosorption of Lead by Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) at different pH and resistance time” being held on June-July 2013. Biosorption using biosorbant is an alternative method to mitigate pollution impact in aquatic environment. Originally heavy metal water pollution provoked negative effect on water quality, aquatic biota and humans. This study aimed to determine biosorption capacity, optimum pH and contact time and Pb concentration adsorbed by E. crassipes; and to compare biosorption results with quality standard for the environment. Pb biosorption by E. crassipes had been done on different pH and contact times. Treatments were 100 mg biosorbant mixture to Pb(NO3)2 solution in pH range of 3, 4, 5 and 6 as well as different contact times of 60, 120, 180, and 240 minutes. The results showed that Pb biosorption by E. crassipes were influenced by solution pH and contact times. Pb biosorption capacity by E. crassipes was 42.35% with optimum pH of 4 and contact time of 240 minutes. Pb adsorbed concentrations, i.e. 25.97 ppm, exceeded quality standard. In conclusion, E. crassipes could be used as an alternative biosorbant in reducing Pb contained waste before entering waters using biosorption method. | |
| 12800 | 5798 | G1B007090 | PENILAIAN RISIKO KECELAKAAN KERJA PADA PABRIK KAYU LAPIS PT. WANA MAKMUR SEJAHTERA PURBALINGGA | Risiko kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat terjadi ditempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan probability, concequency, dan menilai tingkat risiko di PT Wana Makmur Sejahtera Purbalingga tahun 2011-2012. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang mempunyai maksud untuk membuat penilaian atau evaluasi fenomena yang terjadi secara cermat dalam pengamatan keselamatan kerja secara obyektif sedangkan jenis penelitian yang dilakukan adalah observasional dengan rancangan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kecelakaan kerja mengalami penurunan yaitu dari 48 kasus kecelakaan kerja di tahun 2011 menjadi 26 kasus kecelakaan kerja di tahun 2012. Nilai risiko kecelakaan kerja di tahun 2011 termasuk kategori besar dan nilai risiko kecelakaan kerja di tahun 2012 juga termasuk kategori besar. Disarankan membiasakan diri menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar dan benar untuk para tenaga kerja. | Risk of possible accidents and occupational diseases can occur in the workplace. This study aimed to describe the probability, concequency, and assess the level of risk in PT Wana Makmur Sejahtera Purbalingga 2011-2012. The method used is descriptive quantitative have an intention to make an assessment or evaluation of the phenomena that occur closely in safety observations objectively while the type of research is observational with a descriptive design. The results showed that the number of accidents decreased from 48 cases of occupational accidents in 2011 to 26 cases of occupational accidents in 2012. Value at risk of occupational accidents in 2011, including major categories and assess the risk of workplace accidents in the year 2012 also includes a large category. It is recommended to get used to using Personal Protective Equipment in accordance with the standards and the right to employment. |