Artikelilmiahs
Menampilkan 9.481-9.500 dari 48.943 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 9481 | 9516 | G1A010099 | Korelasi Indeks Massa Tubuh Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisis Dengan Lama Menjalani Hemodialisis Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Latar Belakang: Penyakit ginjal kronis merupakan gangguan pada ginjal yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan dapat berakhir menjadi gagal ginjal, sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis. Lama menjalani hemodialisis berpengaruh terhadap perubahan indeks massa tubuh (IMT) pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Tujuan: Mengetahui korelasi IMT pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan lama menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan teknik consecutive sampling. Subjek penelitian berjumlah 42 pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di Instalasi Hemodialisis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Variabel terikat adalah IMT dan variabel bebas adalah lama menjalani hemodialisis. Hasil: Rerata IMT 22,054,3. Rerata lama menjalani hemodialisis 77,637,4 minggu. Uji Spearman nilai p>0,05 dan r=0,06, sehingga tidak terdapat korelasi yang bermakna. Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara IMT pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis dengan lama menjalani hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. | Chronic kidney disease is a disorder of the kidney that causes a progressive decline in renal function and may end up being kidney failure, thus require renal replacement therapy, for example hemodialysis. Length undergoing hemodialysis influence the change in body mass index (BMI) of chronic renal failure patients undergoing hemodialysis. Objective: To investigate correlation of BMI chronic renal failure patients undergoing hemodialysis at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital's with length undergoing hemodialysis. Methods: Observational studied with cross sectional approach and a consecutive sampling technique. Subjects were 42 chronic renal failure patients undergoing hemodialysis at Installation Hemodialysis of Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital's. The dependent variable was BMI and the independent variable was the length undergoing hemodialysis. Results: The mean BMI was 22.054.3. The mean length undergoing hemodialysis was 77.637.4 week. Spearman test p values >0.05 and r = 0.06, so that there was no significant correlation. Conclusion: There was no correlation between the BMI of chronic renal failure patients undergoing hemodialysis with length undergoing hemodialysis at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospitals. | |
| 9482 | 9517 | A1M010018 | PENGARUH PENGGUNAAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DAN TAPIOKA TERHADAP SIFAT SENSORI DAN KIMIA SOSIS ANALOG BERBASIS TEMPE KACANG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis) | Kacang koro pedang memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan menjadi bahan pangan bergizi berbasis nabati. Pada penelitian ini dilakukan penambahan rumput laut E.cottonii dan tapioka dalam memproduksi sosis. Penambahan rumput laut E.cottonii bertujuan untuk menghasilkan sosis dengan kekenyalan yang diharapkan. Penambahan tapioka ditujukan untuk memperbaiki tekstur dan kenampakan sosis yang halus. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor, yaitu proporsi berat tempe koro dengan rumput laut R1 (80:20), R2 (70:30) dan R3 (60:40), serta konsentrasi tepung tapioka, K1 (5%), K2 (7,5%) dan K3 (10%). Perlakuan tersebut disusun dalam bentuk faktorial, sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Hasil formula terbaik menunjukkan bahwa penggunaan tempe kacang koro : rumput laut sebanyak 60%:40% dengan penambahan tapioka 10% menghasilkan produk dengan kadar air 57,17% bb; kadar abu 2,37% bk; protein terlarut 1,32 % bk; protein total 14,27% bk; lemak total 26,30% bk; HCN 0,06% bk; karbohidrat 60,46% bk; tekstur agak kenyal (2,04); aroma khas koro pedang “agak khas” (2,57); rasa khas koro pedang “agak khas” (2,26); kesukaan agak disukai (2,23). | Jackbean contains high carbohydrates and proteins so that it can be used as a nutritious plant-based food. This research was done by addition of seaweed E.cottonii and tapioca in producing sausage. The addition of seaweed E.cottonii was aimed to produce sausages with expected texture. The addition of tapioca was intended to improve the texture and appearance of a smooth sausage. This research used a Randomized Block Design (RBD) with two factors, those were the weight proportion of jackbean tempe with seaweed R1 (80:20), R2 (70:30) and R3 (60:40), and tapioca concentration, K1 (5 %), K2 (7.5%) and K3 (10%). The treatments were arranged in a factorial form, so that obtained 9 treatment combinations. Each treatment was repeated 3 times and obtained 27 experimental units. The best formula showed that the usage of jackbean tempe : seaweed as many as 60%: 40% with the addition of 10% tapioca resulted the product with 57.17% wb water content; 2.37% db ash content; 1.32% db soluble protein; 14.27% db of total protein; 26.30% db of total fat; 0.06% db HCN; 60.46% db carbohydrate by difference; mid-chewy texture (2.04); typical aroma of jackbean “rather typical” (2.57); typical flavor of jackbean "rather typical" (2.26); overall acceptance (2,23). | |
| 9483 | 9518 | E1A010084 | TINJAUAN YURIDIS PASAL 11 PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1/POJK.07/2014 JO. PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 10/1/PBI/2008 DALAM PENYELESAIAN SENGKETA NASABAH PERBANKAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN | Tidak tercapainya kesepakatan antara nasabah dengan bank dalam proses pelayanan dan penyelesaian pengaduan nasabah, dapat menimbulkan sengketa. Berdasarkan Pasal 11 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan, penyelesaian terhadap sengketa tersebut dapat diupayakan melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di sektor perbankan. Oleh karena Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di sektor perbankan belum terbentuk, maka nasabah dapat mengajukan permohonan pemberian fasilitas penyelesaian sengketa oleh Otoritas Jasa Keuangan. Ketentuan yang mengatur mengenai fasilitasi penyelesaian sengketa oleh Otoritas Jasa Keuangan terdapat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan baru berlaku efektif pada tanggal 6 Agustus 2014. Oleh karena itu, sampai dengan tanggal 6 Agustus 2014 peraturan yang dipakai sebagai dasar hukum dari pemberian fasilitas penyelesaian sengketa oleh Otoritas Jasa Keuangan yaitu masih memakai Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/1/PBI/2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan Pasal 11 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2014 jo. Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/1/PBI/2008 dalam penyelesaian sengketa nasabah perbankan oleh Otoritas Jasa Keuangan melalui jalur Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) yang bersifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari bahan kepustakaan yang didukung dengan data primer dari hasil wawancara. Data diuraikan dalam bentuk teks naratif secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan ialah metode normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan telah menerapkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/1/PBI/2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan dalam proses fasilitasi penyelesaian sengketa antara nasabah dengan bank. Ketentuan yang mengatur mengenai proses beracara penyelesaian sengketa yang terdapat dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/1/PBI/2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan dengan yang terdapat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan secara garis besar ialah sama, namun terdapat beberapa perbedaan dalam ketentuan tersebut. | Disagreement between the costumers and the bank in the process of service and completion of customer’s complaints, can inflict to disputes. Based on article 11 of the Otoritas Jasa Keuangan Regulation Number 1/POJK.07/2014 of the Institute of Alternative Dispute Resolution in The Financial Services Sector, settlement of the dispute can be pursued through the Institute of Alternative Dispute Resolution in the banking sector. Therefore The Institute of Alternative Dispute Resolution in the banking sector has not been established, then the customer can apply the provision of facilities for dispute resolution by Otoritas Jasa Keuangan. Facilitation provisions governing the settlement of disputes by Otoritas Jasa Keuangan contained in the Otoritas Jasa Keuangan Regulation Number 1/POJK.07/2013 on Consumer Protection Financial Services Sector. The Otoritas Jasa Keuangan Regulation Number 1/POJK.07/2013 on Consumer Protection Financial Services Sector recently effective on August 6, 2014. Therefore, until the date of August 6, 2014 the regulations that used as the legal basis of the dispute resolution provision of facilities by the Otoritas Jasa Keuangan is still using Bank Indonesia Regulation Number 10/1/PBI/2008 concerning Amendment to Bank Indonesia Regulation Number 8/5/PBI/2006 on The Banking Mediation. The purpose of this study was to determine the application of Article 11 of the Otoritas Jasa Keuangan Regulation Number 1/POJK.07/2014 jo. Bank Indonesia Regulation Number 10/1/PBI/2008 in the banking customer dispute resolution by the Otoritas Jasa Keuangan through Alternative Dispute Resolution (ADR). This study uses a normative approach to law (Statute Approach) which is descriptive. Sources of data in this study used secondary data from the literature are supported by primary data from interviews. The data described in the form of narrative text systematically. Data analysis method used is qualitative normative method. The results showed that the Otoritas Jasa Keuangan has implemented a Bank Indonesia Regulation Number 10/1/PBI/2008 concerning Amendment to Bank Indonesia Regulation Number 8/5/PBI/2006 of the Banking Mediation in dispute settlement facilitation process between the customer and the bank. Provisions governing the proceedings of dispute resolution contained in the Bank Indonesia Regulation Number 10/1/PBI/2008 concerning Amendment to Bank Indonesia Regulation Number 8/5/PBI/2006 on the Banking Mediation contained in the Otoritas Jasa Keuangan Regulation Number 1/POJK.07/2013 on Consumer Protection Financial Services Sector in outline is the same, but there are some differences in the provision. | |
| 9484 | 5814 | F1D006046 | PERAN PEMERINTAH KELURAHAN DALAM PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL SEBAGAI KEKUATAN EKONOMI RAKYAT DI PURWOKERTO | Penelitian ini mengambil judul “Peran Pemerintah Kelurahan dalam Pengelolaan Pasar Tradisional Sebagai Kekuatan Ekonomi Rakyat di Purwokerto (Studi Kasus Pasar Glempang Kelurahan Bancarkembar Kecamatan Purwokerto Utara)”. Penelitian ini memiliki perumusan masalah yaitu “Bagaimanakah peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar dalam pengelolaan Pasar Glempang Kelurahan Bancarkembar Kecamatan Purwokerto Utara sebagai kekuatan ekonomi rakyat?” dan “Apa faktor-faktor yang mempengaruhi peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar dalam pengelolaan Pasar Glempang Kelurahan Bancarkembar Kecamatan Purwokerto Utara sebagai kekuatan ekonomi rakyat?” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi kasus. Teknik pemilihan informan adalah purposive sampling dan metode analisis data adalah metode interaktif. Jumlah informan yang diambil dalam penelitian ini adalah 17 informan. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar Kecamatan Purwokerto Utara dalam Pengelolaan Pasar Tradisional sebagai Kekuatan Ekonomi rakyat adalah sangat dominan (berkuasa) terhadap pelaksanaan pengelolaan sewa kontrak Pasar Glempang, maksudnya pemerintah Kelurahan Bancarkembar mengendalikan semua proses pengelolaan sewa kontrak Pasar Glempang. Faktor-faktor yang mendukung peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar dalam pengelolaan Pasar Tradisional sebagai kekuatan Ekonomi rakyat adalah kemampuan aparat pemerintah kelurahan dan pengelola pasar dan kebijakan baik dari pemerintah pusat, pemerintah Kabupaten maupun pemerintah Kelurahan. Faktor penghambat peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar adalah maraknya pembangunan pasar-pasar modern (Modernisasi), konflik antara pedagang dengan pemerintah Kelurahan Bancarkembar, adanya masalah pengumpulan retribusi dan konsep revitalisasi pasar Glempang. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah peran pemerintah Kelurahan Bancarkembar dalam pengelolaan pasar Kelurahan Glempang sangat dominan dalam segala hal baik dalam penentuan kebijakan maupun dalam pelaksanaan pengelolaan pasar Glempang. | This study took the title "Village Government Role in the Management of Traditional Markets For Power of People's Economy in Purwokerto (Case Study Glempang Village Market Bancarkembar Northern District of Purwokerto)". This study has a formulation of the problem is "How does the government's role in the management Glempang Village Market of Bancarkembar Northern District of Purwokerto as the economic power of the people?" And "What are the factors that affect the government's role in the management Glempang Village Market Bancarkembar Northern District of Purwokerto as a power people's economy? " The method used is qualitative case study. Informant selection techniques are purposive sampling and data analysis methods is an interactive method. The number of informants is taken in this study were 17 informants. Data collection techniques are in-depth interviews, observation and documentation. These results indicate that the role of government Village Bancarkembar Northern District of Purwokerto in the Management of Traditional Market as Economic Power of the people is very dominant (ruling) on the implementation of the management lease contract Glempang market, meaning the government controls all the Village Bancarkembar rental management contract Glempang Market. Factors that support the government's role in the management Bancarkembar Village Traditional Market as an Economic strength is the ability of the people of village government officials and managers of both markets and policies of the central government, district or urban village government. Inhibiting factor is the role of government Village Bancarkembar rampant construction of modern markets (modernization), the conflict between traders and the government Bancarkembar Village, the levy collection issues and concepts Glempang market revitalization. Conclusions in this study is the role of government in managing Glempang market of Bancarkembar very dominant in all the good things in the determination of policy and the implementation of market management Glempang. | |
| 9485 | 10777 | H1B010005 | MODEL REGRESI DUA LEVEL UNTUK DATA IPK MAHASISWA ANGKATAN 2013 | Model regresi dua level merupakan model multilevel yang terdiri dari dua level. Level pertama adalah data individu dan level kedua adalah data kelompok. Data yang digunakan dalam metode ini adalah data hierarki yaitu data yang bertingkat. Data hierarki dapat dimodelkan dengan cara melakukan analisis deskriptif, melakukan uji asumsi kenormalan, mengestimasi parameter dari model regresi dua level, menguji parameter-parameter yang signifikan, dan memodelkan regresi dua level. Pada penelitian ini menggunakan metode maksimum restricted likelihood yang sering digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di bidang pendidikan. Metode ini diaplikasikan pada data IPK mahasiswa Fakultas MIPA, Perikanan dan Kelautan dan Teknik angkatan 2013 mahasiswa dari 7 jurusan. | The two-level regression model is a multilevel model consists of two levels. The first level is the individual data and the second is a group of data. The data is about stratified hierarchy. The steps for analyze the data are: do the descriptive analysis, test the normality assumption, estimate the parameters of a two-level regression models, test the significant parameters, and form two-level regression model. This research uses the maximum likelihood method which is often used for solving problems in education field. The method is applied to the GPA data of Mathematic and Science, Fisheries and Marine and Engineering Faculty academic year 2013 students from 7 majors. | |
| 9486 | 9505 | F1A010051 | PRIMORDIALISME DALAM DUNIA PENDIDIKAN ( Analisis tentang Sikap Primordialisme dalam Praktik Penggunaan Bahasa Sunda di Sekolah Dasar Negeri Desa Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes) | Kecamatan Salem berada di Kabupaten Brebes yang letaknya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Barat dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda. Penelitian bertujuan untuk mengetahui praktik penggunaan bahasa Sunda di SDN Desa Bentarsari, Kec.Salem, Kab.Brebes dan untuk mengetahui faktor penyebab minimnya penguasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar bagi siswa di wilayah tersebut. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan adalah purposive sampling dan teknik pengumpulan datanya adalah wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi. Sasaran utama penelitian adalah tenaga pengajar dan kepala SDN Desa Bentarsari dan sasaran pendukungnya adalah beberapa siswa, pihak dinas pendidikan dan juga beberapa wali murid. Berdasarkan penelitian, diketahui penggunaan bahasa Sunda di Sekolah Dasar Negeri wilayah tersebut sebagai bahasa pengantar dalam penyampaian materi pelajaran dan sebagai muatan lokal. Hal tersebut disebabkan karena beberapa tenaga pengajar merasa lebih nyaman ketika menggunakan bahasa Sunda saat mengajar karena merupakan bahasa komunikasi sehari-hari dan sebagian menganggap penggunaan bahasa tersebut sebagai suatu bentuk pelestarian budaya bahasa kepada peserta didik agar bahasa Sunda tidak punah keberadaannya. Lingkungan, kemampuan siswa dan guru serta rendahnya kesadaran orangtua akan pendidikan menjadi faktor minimnya penguasaan bahasa Indonesia di kalangan siswa di wilayah tersebut. | Salem district it’s in the Brebes regency that is located on the border between Central Java and West Java province and the language is sundanese. The research aim to determine the Sundanese language practic in a public elemtary school in the Bentarsari village , Salem, Brebes regency and to determine the factors causing the lack of mastery Indonesian languages in the region. Using descritive qulitative research method selection techniques, the informants was purposive sampling and data collection techniques are in-depth interview, observation, and documentation. The main target research is the teacher and the public elemenetary school principal Bentarsari village. And the support target research is the teacher, education office, also parents. It is known use of sundanese language in public elementary school in the region as a language instruction in the delivery of the subject matter and the local content. It is because some teacher feel more comfortable when using sundanese language whil they teach, because it is the daily language and some have even suggested the use of sundanese language as a language cuktural preservation to student that are not extinct existanse sundanese. Environment, the student ability, and teacher, also low awereness of parental education would be a lack of mastery of indonesian language factors among student in the region. | |
| 9487 | 9519 | F1B009032 | DISASTER RISK MANAGEMENT GUNUNGAPI SLAMET DI KABUPATEN BANYUMAS | Kabupaten Banyumas memiliki risiko terdampak bencana Gunungapi Slamet. Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas melakukan tindakan manajemen risiko bencana gunung berapi berbasis pengurangan risiko bencana dengan melaksanakan mitigasi bencana dan kesiapsiagaan bencana. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Banyumas. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana manajemen risiko bencana Gunungapi Slamet di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis linear Creswell. Hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa manajemen risiko bencana berbasis pengurangan risiko bencana gunung berapi di Kabupaten Banyumas belum terselenggara dengan baik, sebab perencanaan pada tahap mitigasi bencana dan tahap kesiapsiagaan bencana belum terlaksananya dengan baik. Akibatnya pelaksanaan pada tahap pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dalam manajemen risiko bencana Gunungapi Slamet di Kabupaten Banyumas belum berjalan dengan baik. Berkaitan dengan itu, pemerintah Kabupaten Banyumas harus membentuk dan memperkuat perencanaan dari manajemen risiko bencana dalam tahap pra bencana, yaitu perencanaan mitigasi dan perencanaan kesiapsiagaan yang diperkuat dengan legal framework sebagai landasan pelaksanaan manajemen risiko bencana Gunungapi Slamet di Kabupaten Banyumas. | Banyumas Regency has affected risk catastrophic eruptions of Mount Slamet. Banyumas Regency Government through BPBD district of Banyumas perform actions for disaster risk management-based volcano disaster risk reduction to implement disaster mitigation and disaster preparedness. Research locations in the Regency of Banyumas. The research aims to describe how the disaster risk management of Mount Slamet in the Regency of Banyumas. Using descriptive qualitative research methods and use techniques selection of informants with purposive sampling and snowball sampling. Data collection is done using interviews, observation and documentation. Methods of analysis used is linear analysis model Creswell. The results of this research indicate that disaster risk management for disaster risk reduction-based volcano in the Regency of Banyumas has not been well established, because at this stage of disaster mitigation planning and implementation phases of disaster preparedness has not been well. As a result of implementation at the stage of organizing, directing and controlling in disaster risk management of Mount Slamet in the Regency of Banyumas has not gone well. Related to that, Banyumas Regency Government should establish and strengthen planning of disaster risk management in the stage of pre disaster, that mitigation planning and preparedness planning is reinforced with legal framework as a foundation for disaster risk management of mount Slamet in the Regency of Banyumas. | |
| 9488 | 9520 | A1M010071 | PENGARUH CAMPURAN BUBUK KAYU NANGKA, BUBUK KULIT BUAH MANGGIS DAN BUBUK KAPUR TERHADAP SIFAT SENSORI GULA KELAPA CETAK | Gula kelapa merupakan produk yang dibuat dari bahan baku nira kelapa. Nira kelapa mudah mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh mikroba.Kerusakan nira kelapa dapat dihambat dengan menambahkan bahan pengawet alami seperti kayu nangka, kulit buah manggis dan kapur.Pada penelitian ini bahan-bahan tersebut dibuat dalam bentuk bubuk. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui pengaruh perbandingan bubuk kayu nangka : bubuk kulit buah manggis; 2) Mengetahui pengaruh perbandingan campuran bubuk kayu nangka dan bubuk kulit buah manggis : bubuk kapur dan 3) Mengetahui kombinasi perlakuan yang menghasilkan gula kelapa cetak dengan sifat sensori terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semua kombinasi perlakuan menghasilkan gula kelapa cetak dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan gula kelapa cetak yang menggunakan laru kapur dan natrium metabisulfit dan sesuai SNI 01-3743-1995. Mempertimbangkan dari aspek teknis dan ekonomis, kombinasi perbandingan bubuk kayu nangka dan bubuk kulit buah manggis (b/b) 1:1 dengan perbandingan campuran bubuk kayu nangka dan bubuk kulit buah manggis : bubuk kapur (b/b) 5:95 (b/b) (B1K1) merupakan kombinasi yang dipilih pada penelitian ini. Kombinasi perlakuan tersebut menghasilkan gula kelapa cetak dengan warna coklat kuning pucat dan tekstur keras | Coconut sugar is made from raw material coconut neera. Neera susceptible to damage caused by microbial activity.The damage neera can be inhibited by adding preservative such as jackfruit wood, mangosteen rind and lime. In this research, materials is made in the form of powder. The aim of research are: 1) Know the effect ratio of jackfruit wood powder : mangosteen rind powder; 2) Know the effect ratio of mixture jackfruit wood powder and mangosteen rind powder : lime powder and 3) Know the effect of the combination treatment which produce the best solidified coconut sugar. The result showed that all of treatment combination produce solidified coconut sugar with the quality of being better than with coconut sugar using lime powder and natrium matabisulfite and accord with SNI 01-3743-1995. Consider of the technical and economical aspects, the combination of ratio of jackfruit wood powder : mangosteen rind powder (w/w) 1:1 with treatment ratio of mixture jackfruit wood powder and mangosteen rind powder : lime powder (w/w) 5:95 (B1K1) is combination chosen on this research. That combination produce solidified coconut sugar with a pale-yellow brown color and hard texture. | |
| 9489 | 9534 | A1M010030 | PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI GULA TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK JELLY DRINK | Salah satu sumber pemanis yang digunakan oleh skala industri pada produk jelly drink adalah gula tebu (gula pasir). Banyaknya issue mengenai bahaya konsumsi gula tebu terhadap kesehatan menyebabkan perlu peralihan konsumsi gula tebu dengan pemanis alami diantaranya adalah gula kelapa yang juga memiliki banyak kandungan gizi. Sebagai salah satu sentral penghasil gula kelapa, Kabupaten Banyumas memiliki potensi lebih dalam pengembangan produksi gula kelapa, termasuk di dalamnya peningkatan nilai guna gula kelapa sebagai pemanis dalam minuman kemasan jelly drink.Penelitian ini bertujuan untuk 1)mengetahui pengaruh jenis gula terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik jelly drink, 2)mengetahui pengaruh konsentrasi gula terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik jelly drink, dan 3)mengetahui kombinasi perlakuan terbaik sesuai sifat sensori dan kesukaan jelly drink. Penelitian ini berbentuk eksperimental dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan yang disusun secara faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis gula (J) terdiri atas tiga taraf yaitu: J1=Gula Kelapa Cair, J2= Gula Kelapa Cetak, dan J3= Gula Pasir. Faktor kedua adalah konsentrasi gula (K) yang terdiri atas tiga taraf yaitu: K1= 14%, K2=15%, dan K3=16%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis gula berpengaruh pada derajat brix, viskositas, warna, tingkat kemanisan, aroma khas gula, dan tekstur jelly drink. Sedangkan konsentrasi gula berpengaruh terhadap derajat brix, kadar air, sineresis, viskositas, dan tingkat kemanisan jelly drink. Secara umum kombinasi perlakuan jenis dan konsentrasi gula tidak memberikan pengaruh pada tingkat kesukaan terhadap produk jelly drink. | One of the source jelly drink sweeteners which many used by industrial is bit sugar. So many issue about bit sugar consumption towards human healthy caused change into natural sweeteners, including coconut palm sugar. As a one of coconut palm sugar central, Banyumas has more potential to expand coconut palm sugar, including increase value of coconut palm sugar as sweeteners on jelly drink. This research aimed to 1) find out influence of kind of sugar towards jelly drink physicochemical and sensory, 2) find out influence of sugar concentration towards jelly drink physicochemical and sensory, 3) find out the best treatment combination which appropriate jelly drink most liking. This research used a randomized block design (RBD) with 2 factors which arranged on 3 replications. First factor is kind of sugar (J) consist of 3 levels, are: J1= Liquid Brown Sugar, J2= Block Brown Sugar, and J3= bit sugar. Second factor is sugar concentration (K) which also consists of 3 levels, are: K1= 14%, K2=15%, and K3=16%. Result of this research indicated that kind of sugar has influence on degree of brix, viscosity, color, sweet level, sugar special flavor, and jelly drink texture. Besides it, concentration of sugar has influence on degree of brix, water content, syneresis, viscosity, and jelly drink sweet level. In general, combination of kind of sugar and sugar concentration did not influence on jelly drink liking level. | |
| 9490 | 9521 | D1E010235 | PENGARUH LAMA PERENDAMAN DALAM AIR KELAPA YANG BERBEDA TERHADAP SUSUT MASAK DAN KEEMPUKAN KARKAS BAGIAN PAHA (Biceps femoris) AYAM PETELUR AFKIR | Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh lama waktu perendaman karkas bagian paha ayam petelur afkir dengan jenis air kelapa terhadap susut masak dan keempukan. Metode penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan yaitu: P0= karkas tanpa perendaman, P1= karkas dengan perendaman air kelapa muda selama 30 menit, P2= karkas dengan perendaman air kelapa muda selama 60 menit, P3= karkas dengan perendaman air kelapa tua selama 30 menit, P4= karkas dengan perendaman air kelapa tua selama 60 menit. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu perendaman dengan air kelapa berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap susut masak, namun terhadap keempukan perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05), yaitu perlakuan perendaman dengan air kelapa tua selama 60 menit (0,33 mm/g/dt) berbeda nyata dengan perendaman air kelapa muda selama 30 menit (0,031 mm/g/dt) dan air kelapa tua selama 30 menit (0,031 mm/g/dt). Kesimpulannya adalah perendaman karkas bagian paha ayam petelur afkir menggunakan air kelapa muda dan air kelapa tua dengan waktu 30 menit dan 60 menit menghasilkan susut masak yang relatif sama, sedangkan perendaman dengan air kelapa tua selama 60 menit menghasilkan keempukan yang cenderung paling tinggi. | The purpose of this study was to determine the effect of immersion time of thigh-part carcass in coconut’s water on cooking losses and tenderness. The research method was experimental using completely randomized design (CRD) with 5 treatments. The treatments were P0= carcass without immersion, P1= carcass immersed in young coconut’s water for 30 minutes, P2= carcass immersed in young-coconut’s water for 60 minutes, P3= carcass immersed in old coconut’s water for 30 minutes, and P4= carcass immersed in old coconut’s water for 60 minutes. The data were analysed by analysis of variance followed by honesty significant difference test (HSD). The results showed that the time of immersion of thigh-part carcass in coconut’s water had no significant effect (P>0.05) on cooking loss, but affected the tendernes significantly (P<0.05). The test results further indicated that immersion treatments with old-coconut’s water for 60 minutes (0.033 mm/g/sec) significantly different than the young-coconut’s water for 30 minutes (0.031 mm/g/sec) and 30 minutes (0.031 mm/g/sec) in old-coconut’s water. The conclusion is, immersion of carcasses of culled layer chicken thigh using either young or old coconut’s water for 30 minutes or 60 minutes produces similar cooking losses, while immersion in old coconut’s water for 60 minutes results in higher tenderness | |
| 9491 | 9522 | D1E010247 | PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LACTOBACILLUS PLANTARUM DAN LAMA PENYIMPANAN SOSIS AYAM FERMENTASI TERHADAP TOTAL MIKROBA DAN TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT (EFFECTS OF VARIOUS CONCENTRATION OF LACTOBACILLUS PLANTARUM AND THE TIME OF STORANGE OF CHIKEN SAUSAGE FERMENTATION ON TOTAL MICROBES AND LACTIC ACID BACTERIA) | Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan kombinasi bakteri L. plantarum dan lama penyimpanan terhadap total mikroba dan bakteri asam laktat sosis ayam fermentasi. Materi penelitian yang digunakan adalah kultur L. plantarum dan daging dari ayam pedaging 2,5 kg. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Perlakuan yang digunakan yaitu konsentrasi L. plantarum TW 14 (5%,10%,15%) dan lama penyimpanan ( 0 jam, 12 jam,24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan interaksi dan konsentrasi berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba. Perlakuan konsentrasi total bakteri asam laktat berpengaruh nyata (P<0,05) menggunakan konsentrasl L. plantarum terhadap total bakteri asam laktat. Interaksi dihasilkan dari respon linear pada garis Y= 7,05267- 0,366586. sedangan lama penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap total bakteri asam laktat. Total mikroba yang diperoleh rataan berkisar 15,453 ± 0,19 10 log cfu/cm2 sampai 17,457 ±0.17 log cfu/cm2 sedangkan total bakteri asam laktat diperoleh hasil 15,565bc log cfu/ cm 2 sampa 18,709a log cfu/cm2.. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian L. plantarum terhadap total mikroba tidak berpengaruh nyata, sedangkan pemberian L. plantarum terhadap total bakteri asam laktat dengan pemberian konsentrasi ( 5%,10%,15%) berpengaruh nyata terhadap sosis ayam fermentasi, sedangkan lama penyimpanan ( 0 jam, 12 jam, 24 jam ) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sosis ayam fermentasi. | This research aimed to determine interacted concentration of L. plantarum and the time storage of chiken sausage fermentation on total microbes and lactic acid bacteria. The materials used this reseach were culture of L. plantarum and broiler meat 2,5 kg. the method used was experimental using completely Randomized Design (RAL). The treatments applied were concentrations of L. Plantarum. TW 14 (5% .10%, 15%), and the time of storange (0 hours, 12 hours,24 hours). The results showed that the treatment of interaction had no significant influence and total Microbe.The results of research showed that the interaction concentration of L. plantarum significantly ( P<0,05) affected the lactid acid bacteria, with aLine equalisation Y=7,05267- 0,366586. Whereas the long of storange no significant effect on total lactic acid bacteria the average of total observed microbe range from 15,453 ± 0,19 10 log cfu/cm2 up to 17,457 ± 0,17 log cfu/ cm2 whereas total lactic acid bacteria 15,565 bc log cfu/cm up to 18,709 a log cfu/cm 2. The conclusion this researce is the addition of L. plantarum has no significant effect on total microbe. but had significant cant effect on the fermented sausage of chiken. Whereas the length of storage had concentration ( 5%,10%,15%) of L. plantarum has significant effect on total lactic acid bacteria. whereas long storage ( 0 hours, 12 hours, 24 hours) has no significant effect on chiken sausage fermentation. | |
| 9492 | 9523 | H1A010056 | PENGARUH KONSENTRASI ASAM FORMAT TERHADAP KEMAMPUAN BULU AYAM DALAM MENGADSORPSI METILEN BIRU | ABSTRAK PENGARUH KONSENTRASI ASAM FORMAT TERHADAP KEMAMPUAN BULU AYAM DALAM MENGADSORPSI METILEN BIRU Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam format terhadap kemampuan bulu ayam dalam mengadsorpsi zat warna metilen biru. Variasi konsentrasi asam format yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,025; 0,05 dan 0,1 N untuk menghasilkan adsorben 1, 2 dan 3. Masing-masing adsorben yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan Surface Area Analyzer (SAA) untuk mengetahui pengaruh penambahan asam format terhadap ukuran luas permukaan, ukuran rata pori dan total volume pori. Adsorben kemudian digunakan dalam adsorpsi metilen biru dengan variasi pH, waktu kontak dan konsentrasi metilen biru. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan adsorben 2 dengan konsentrasi asam format 0,05 N yang memberikan kemampuan terbesar dalam mengadsorpsi zat warna metilen biru pada pH 9 dan waktu kontak optimum 70 menit dengan kapasitas adsorpsi 5,395 mg/g. Berdasarkan karakterisasi SAA adsorben 2 memiliki ukuran rata pori 1,119 x 102 Å, luas permukaan 2,477 m2/g dan total volume pori sebesaar 6,929 x 10-3 cc/g. Kata kunci : Metilen biru, bulu ayam, asam format | ABSTRACT THE EFFECT OF FORMIC ACID CONCENTRATION TO THE ABILITY OF CHICKEN FEATHERS IN ADSORB METHYLENE BLUE Research has been done to determine the effect of formic acid concentration to the ability of chicken feathers in adsorb methylene blue dye. The variation of formic acid concentration used in this research were 0.025, 0.05 and 0.1 N which then produced as adsorbent 1, 2 and 3. Each adsorbent obtained were characterized using Surface Area Analyzer (SAA) to determine the effect of formic acid addition to the size of surface area, average pore, and total pore volume. The adsorbent is then used in the adsorption of methylene blue dye with the variation of pH, contact time, and methylene blue concentration. Based on the research results, adsorbent 2 with 0.05 N of formic acid concentration gave the biggest ability to adsorb methylene blue at pH 9 and 70 minutes contact time with adsorption capacity of 5.395 mg/g. Based on SAA characterization, the adsorbent has average pore size of 1.119 x 102 Å, surface area of 2.477 m2/g and total pore volume of 6.929 x 10-3 cc/g. Keywords: Methylene blue, chicken feather, formic acid | |
| 9493 | 11129 | D1E011189 | NILAI MEAN CORPUSCULLAR HEMOGLOBIN CONCENTRATION (MCHC) DAN MEAN CORPUSCULLAR HEMOGLOBIN (MCH) PADA BERBAGAI AYAM SENTUL BETINA UMUR 18 MINGGU | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan nilai Mean Corpuscullar Hemoglobin Concentration (MCHC) dan nilai Mean Corpuscullar Hemoglobin (MCH) pada berbagai varietas ayam Sentul betina umur 18 minggu. Materi penelitian menggunakan 175 ekor ayam Sentul. Ayam Sentul yang digunakan ada 5 varietas, yaitu ayam Sentul Abu (Sa), ayam Sentul Batu (Sb), ayam Sentul Debu (Sd), ayam Sentul Emas (Se) dan ayam Sentul Geni (Sg). Jenis kelamin yang digunakan adalah betina. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas Sa, Sb, Sd, Se dan Sg. Peubah yang diamati adalah nilai MCHC dan MCH. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai MCHC, yaitu ayam Sentul Abu (Sa) = 28,91±1,56%, ayam Sentul Batu (Sb) = 29,57±0,59%, ayam Sentul Debu (Sd) = 29,52±2,60%, ayam Sentul Emas (Se) = 27,02±2,09% dan ayam Sentul Geni (Sg) = 26,91±1,91%. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai ayam Sentul betina umur 18 minggu berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai MCHC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai MCH, yaitu ayam Sentul Abu (Sa) = 31,64±3,97 pg, ayam Sentul Batu (Sb) = 33,25±4,27 pg, ayam Sentul Debu (Sd) = 30,82±1,76 pg, ayam Sentul Emas (Se) = 32,92±6,72 pg dan ayam Sentul Geni (Sg) = 30,27±6,07 pg. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai ayam Sentul betina berpengaruh tidak nyata (P>0,01) terhadap nilai MCH. Hasil penelitian dapat disimpulkan berbagai varietas ayam Sentul tidak mempengaruhi nilai MCH dan MCHC. | The purpose of this study was to determine the difference values of Mean Corpuscullar Hemoglobin Concentration (MCHC) and Mean Corpuscullar Hemoglobin (MCH) on different varieties of chickens Sentul females age 18 weeks. The research materials were 175 Sentul chicken. Sentul chicken used were 5 varieties, namely chicken Sentul Abu (Sa), Sentul Batu (Sb), Sentul Debu (Sd), Sentul Emas (Se) and Sentul Geni (Sg). The gender used was female. The method of the research was experimental, using Completely Randomized Design (CRD). As the treatment were of Sa, Sb, Sd, Se and Sg. The parameters measured were the values of MCHC and MCH. The data were analyzed using analysis of variance. The results showed that the average value of MCHC, of Sentul Abu (Sa) chicken = 28.91±1.56%, Sentul Batu (Sb) chicken = 29.57±0.59%, Sentul Debu (Sd) chicken = 29.52±2.60%, Sentul Emas (Se) chicken = 27.02±2.09% and Sentul Geni (Sg) chicken = 26.91±1.91%. The analysis showed that the various female chickens Sentul at the age of 18 weeks, did not significantly affect (P>0.05) MCHC value. The results showed that the average value MCH, of namely Sentul Abu (Sa) chicken = 31.64±3.97 pg, Sentul Batu (Sb) chicken = 33.25±4.27 pg, Sentul Debu (Sd) chicken = 30.82±1.76 pg, Sentul Emas (Se) chicken = 32.92±6.72 pg and Sentul Geni (Sg) chicken = 30.27±6.07 pg. The analysis showed that the various impact toward MCH value at the age of 18 weeks did not give any significant affect (P>0.01) on MCH value. The results of this study concludes, various Sentul chicken does not affect the value of MCH and MCHC. | |
| 9494 | 9524 | D1E010021 | KEKERASAN DAN KECEPATAN LELEH ES KRIM YOGURT SUSU SAPI DENGAN PERSENTASE GULA YANG BERBEDA | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekerasan, dan kecepatan leleh es krim yogurt susu sapi dengan persentase penggunaan gula yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah skim, starter yogurt, susu penuh, gula pasir, CMC, stabilizier, minyak goreng, kuning telur, dan aquades. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu T1: penggunaan gula 9%, T2¬: penggunaan gula 12%, T3: penggunaan gula 15% dan T4: penggunaan gula 18%; dengan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis variansi, apabila hasil berbeda nyata maka diuji lanjut menggunakan uji ortoghonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gula dengan persentase yang berbeda berpengaruh nyata terhadap kekerasan es krim yogurt susu sapi (P<0,05) dengan persamaan Y= 0,0163 + 0,0027X (r=0,64). Penggunaan gula berpengaruh sangat nyata terhadap kecepatan leleh es krim yogurt susu sapi (P<0,01) dengan persamaan Y= 1,7089 – 0,0379X (r=0,87). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin tinggi persentase penggunaan gula yaitu 18% maka es krim akan semakin empuk dan kecepatan leleh meningkat. | The purpose of this study was to determine the hardness, and velocity melting of ice-cream cow's milk yogurt with different percentages of sugar use. The experiment was conducted at the Laboratory of Livestock Product Technology Faculty of Animal Husbandry, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. The materials used in this study were skim milk, yogurt starter, whole milk, sugar, CMC, stabilizer, cooking oil, egg yolks, and distilled water. The research design used was completely randomized design (CRD) with 4 treatments ie T1: the use of sugar as much as 9%, T2: the use of sugar as much as 12%, T3: the use of sugar as much as 15% and T4: use as much as 18% sugar; with each treatment was repeated 5 times. The data were analyzed using analysis of variance, if the results were significantly different then further tested using polynomial ortoghonal test. The results showed that the use of sugar with different percentages affected the hardness of yogurt ice cream cow's milk (P<0.05) Y=0.0163 + 0.0027X (r=0.64). The use of sugar very significant effect on the speed of melting ice-cream cow's milk yogurt (P<0.01) Y= 1,7089 – 0.0379X (r=0.87). The conclusion of this study is the high percentage of sugar which is 18% then the ice cream will be soft and melting speed increases. | |
| 9495 | 9525 | D1E009012 | MORTALITAS PEDET PRA SAPIH, SERVICE PER CONCEPTION, DAN CALVING INTERVAL SAPI PERANAKAN ONGOLE DI KABUPATEN PURBALINGGA | Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat mortalitas pedet pra sapih, calving interval, dan service per conception sapi PO di Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survei pada peternak sapi PO. Sampel wilayah atau kecamatan dipilih secara stratified random sampling menjadi 3 tingkatan berdasarkan jumlah ternak yaitu tinggi, sedang dan rendah kemudian terpilih 3 Kecamatan yang dijadikan sampel penelitian dari 18 Kecamatan yang ada di Kabupaten Purbalingga. Pengambilan sampel responden dilakukan dengan metode simple random sampling secara proposional yang diambil sebanyak 30 persen pada tiap wilayah. Mortalitas pedet pra sapih di Kabupaten Purbalingga dari 45 responden jumlah pedet pra sapih yang lahir sebanyak 45 ekor dan yang mati sebanyak 4 ekor atau 9 persen mortalitas pedet pra sapih di Kabupaten Purbalingga. Service per conception sapi PO di Kabupaten Purbalingga diperoleh hasil sebesar 1,8. Responden di Kabupaten Purbalingga yang memiliki sapi PO yang beranak lebih dari satu kali menunjukan hasil calving interval rata-rata sapi PO 13,4 bulan. | The purpose of the research was to investigate the level of Mortality of pre-weaning calf, service per conception, and calving interval of half blooded ongole cow in the Purbalingga district. The research was carried out using survey method on ongole crossbred cattle farmers. The sample areas or sub-district was selected by stratified random sampling into 3 levels, based on the population of cattle that were high, medium, and low. Then 3 sub-districts out of 18 were choosen for sample research. The sample collection were done using simple random sampling method, propotionally as much as 30 percent in each sub-district. The mortality of pre-weaning calf in the Purbalingga district from the 45 respondents of pre-weaning calf was born as many as 45 the heads and the dead as many as 4 heads or 9 percent of mortality of pre-weaning calf in the Purbalingga district. Service per conception of ongole crossbred cattle in the purbalingga district was 1.8. The respondents who had ongole crossbred cattle that had experiencing calving more than once, showed the arange calving interval as long as 13.4 month. | |
| 9496 | 9526 | H1K010022 | ANALISIS KAROTENOID DAN IDENTIFIKASI BAKTERI SEDIMEN MANGROVE SEGARA ANAKAN-CILACAP | Bahan pewarna alami yaitu bahan pewarna yang diperoleh dari makhluk hidup, sedangkan bahan pewarna buatan yaitu bahan pewarna yang diproduksi oleh industri modern. Konsumsi bahan pewarna buatan yang berlebihan dapat mengakibatkan efek negatif terhadap tubuh manusia. Salah satu jenis bahan pewarna alami adalah karotenoid. Karotenoid merupakan pigmen warna kuning, orange dan kuning kemerahan yang diproduksi oleh tumbuhan, hewan, alga dan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pigmen karotenoid dari bakteri sedimen mangrove Segara Anakan-Cilacap serta mengidentifikasi spesies bakteri penghasil karotenoid. Isolat bakteri yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari koleksi laboratorium bioteknologi kelautan, Unsoed yang diisolasi dari sedimen mangrove Segara anakan-Cilacap. Analisis karotenoid menggunakan Thin Layer Chromatography (TLC) dan UV-Vis spektrofotometer. Identifikasi bakteri dilakukan secara molekuler berdasarkan PCR 16S rDNA dan analisis sekuen DNA dengan penelusuran program database Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). Kekerabatan bakteri ditampilkan dalam Phylogenetic tree menggunakan software Bioedit dan MEGA 5. Analisis kualitatif menggunakan TLC menghasilkan pigmen: β-karoten, β-isorenieraten,likopen, flavonoid, klorofil a, klorofil b dan feofitin a dengan nilai Rf 0.36-0.95. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa bakteri KH, KT dan KM dapat memproduksi karotenoid sebesar 95.30 g/g, 110.343 g/g dan 25.349 g/g. KH, KT dan KM diduga merupakan bakteri jenis Streptomyces chartreusis, Bacillus megaterium dan Streptomyces chromofuscus dengan kemiripan 99%. Kata kunci : pigmen, karotenoid, sedimen mangrove, bakteri | Natural dyes which dye derived from living organisms, whereas artificial dyes which dye produced by modern industry. Consumption of excessive artificial dyes can lead to negative effects on the human body. One type of natural dyes is a carotenoid. Carotenoids are pigments in yellow, orange and reddish yellow are produced by plants, animals, algae and microorganisms. This study aims to analyze the carotenoid pigments of bacterial mangrove sediment Segara anakan-Cilacap and identify species of bacteria producing carotenoids. This study used bacteria from the laboratory collection of marine biotechnology UNSOED, isolated from mangrove sediment Segara anakan-Cilacap. Analysis of carotenoids using Thin Layer Chromatography (TLC) and UV-Vis spectrophotometer. Molecular identification of bacteria carried by 16S rDNA PCR and DNA sequence analysis with a program Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). The kinship of bacteria shown in Phylogenetic tree using Bioedit and MEGA 5 software. Qualitative analysis using TLC produces pigments: β-carotene, β-isorenieraten, lycopene, flavonoids, chlorophyll a, chlorophyll b and a feofitin with Rf value of 0.36-0.95. Quantitative analysis showed that the bacteria KH, KT and KM can produce carotenoids at 95.30 g/g, 110.34 g/g and 25.349 g/g. KH, KT and KM suspected to be bacterial types Streptomyces chartreusis, Bacillus megaterium and Streptomyces chromofuscus with similarity 99%. Keywords: pigment, carotenoids, mangrove sediment, bacteria | |
| 9497 | 9527 | E1A009102 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PROFESI WARTAWAN DI INDONESIA | Perlindungan hukum dalam profesi jurnalistik sebenarnya berhubungan erat dengan dua kebutuhan dasar: (1) terkait dengan perlindungan hukum terhadap pekerja pers dengan segala kompleksitas permasalahannya; (2) menyangkut perlindungan hukum terhadap masyarakat akibat arogansi pers. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum terhadap profesi wartawan di Indonesia. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui peranan Dewan Pers dalam memberikan perlindungan hukum terhadap profesi wartawan di Indonesia. Guna mencapai tujuan tersebut maka peneletian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Hasil penelitian menyatakan bahwa, bentuk perlindungan hukum terhadap profesi wartawan di Indonesia sebagaimana dijamin dalam UU 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Peraturan Dewan Pers Nomor: 5/Peraturan-DP/IV/2008 Tentang Standar Perlindungan Profesi Wartawan. Peranan Dewan pers dalam hal dalam memberikan perlindungan hukum terhadap profesi wartawan di Indonesia antara lain mengoordinasikan pelaksanaan Pedoman Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap wartawan ini dengan perusahaan pers dan organisasi profesi wartawan. Mengingatkan tanggung jawab perusahaan pers dan organisasi profesi wartawan. Turut mengupayakan dana yang dibutuhkan untuk menangani kasus kekerasan terhadap wartawan sampai proses hukum dinyatakan selesai dan lainnya. | Legal protection of reporters is actually closely related to the two basic requirements: (1) related to the legal protection against press workers with all the complexity of the problem; (2) concerning the legal protection of the public due to the arrogance of the press. This study aims to analyze the form of legal protection of reporters in Indonesia. It also aims to determine the role of the Press Council in providing legal protection for reporters in Indonesia. To achieve these objectives, the intensive search was conducted using the normative juridical approach. Secondary data were collected and then processed, presented, and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data. The study states that the form of legal protection of reporters in Indonesia as guaranteed by the Act 40 of 1999 on the Press and the Press Council Regulation No. 5 / Rule-DP / IV / 2008 about the Standards of Reporters protection. The role of the Council in terms of the press in providing legal protection for reporters in Indonesia include coordinating the implementation of the Guidelines for Handling Cases of Violence Against reporters with press companies and the organizations of reporters. Reminding of press companies responsibilities and the organizations of reporters. Helped raise funds needed to handle cases of violence against reporters until the legal process is completed and etc. | |
| 9498 | 9528 | P2CC11063 | PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, TRANSAKSIONAL, PELATIHAN DAN SUPERVISI KLINIS TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Penelitian ini... | This Study... | |
| 9499 | 9529 | A1M010037 | PENERAPAN BERBAGAI JENIS LARU DALAM PEMBUATAN GULA KELAPA CETAK : STUDI KASUS DI DESA SUSUKAN DAN GANDATAPA | Nira merupakan bahan utama dalam pembuatan gula kelapa cetak.Mikroorganisme merupakan faktor utama penyebab kerusakan nira kelapa.Pencegahan kerusakan nira kelapa salah satunya dengan bahan pengawet nira yang dikenal dengan istilah laru.Laru terdiri dari dua jenis yaitu laru alami dan laru kimia.Laru alami yang digunakan dalam penelitian ini adalah laru kapur-manggis, kapur-tatal nangka serta kapur.Laru kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah natrium metabisulfit. Tujuan penelitian ini antara lain: mengetahui kualitas gula kelapa cetak yang dihasilkan dari unit lokasi pengolahan yang berbeda serta mengetahui kualitas gula kelapa cetak yang dihasilkan dari berbagai jenis laru. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan rancangan tersarang. Faktor yang diuji adalah 1) Perbedaan unit lokasi pengolahan gula kelapa cetak dan 2) Jenis laru yang digunakan.Jenis laru yang digunakan yaitu kapur-manggis, kapur-tatal nangka, kapur dan natrium metabisulfit dengan unit lokasi pengolahan gula kelapa cetak yang berbeda yaitu Desa Susukan dan Gandatapa. Ulangan dilakukan sebanyak tiga kali. Variabel fisikokimia yang diamati yaitu kadar air, kadar gula reduksi dan kadar abu. Variabel organoleptik yang diamati meliputi kekerasan, kesukaan kekerasan dan tingkat kemanisan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Gula kelapa cetak yang dihasilkan pada unit pengolahan di Desa Susukan dan Gandatapa tidak menunjukkan adanya perbedaan mutu. 2) Laru yang terdiri dari bahan kapur, kulit manggis, tatal kayu nangka dan natrium metabisulfit menghasilkan gula kelapa cetak dengan kadar gula reduksi dan kadar abu yang telah memenuhi SNI. Gula kelapa cetak dengan menggunakan laru kulit manggis dan natrium menghasilkan gula kelapa dengan kekerasan yang lebih disukai. | The sap is the main ingredient in the manufacture of shaped coconut sugar. Microorganism is a major factor causing damage to coconut sap. To prevent damage for the coconut sap with preservatives sap known as antimicrobial substance. Antimicrobial substances consists of two types ,natural substance and sintetic substance. Natural antimicrobial substancesthat used in this study is lime – mangosteen antimicrobial substance, jackfruit chips antimicrobial substance, limeantimicrobial substance and sintetic antimicrobial substance used in this study is sodium metabisulfite. The aim of this study include: knowing the quality of the resulting shaped coconut sugar from a different processing unit locations and determine quality of shapedcoconut sugar produced from various types of antimicrobial substance. This experiment is done by an experimental method by Nested Design.Factor tested were 1)Differences coconut sugarprocessing unit location and 2) The type of antimicrobial substances. The type of antimicrobial substances used are lime - mangosteen , jackfruit chips lime, lime and sodium metabisulfite with coconut sugar processing unit location different and the Village Susukan Gandatapa.Block done as much three times.Variable physicochemical observed that moisture content, reducing sugar content and organoleptic dust.Variable levels observed were violent, violence and level of the sweeten. The result from a study showed that 1) Shaped palm sugar produced at the processing unit in the village of Susukan and Gandatapa showed no difference in quality . 2) Singing consisting of lime, skin mangosteen, jackfruit wood chips and produce sodium metabisulfite shaped coconut sugar with sugar reduction and ash content that has met the standards. Shaped palm sugar using mangosteen peel antimicrobial substance and sodium metabisulfite resulted in a violent palm sugar preferred. | |
| 9500 | 9535 | A1C010118 | ANALISIS PEMASARAN SELADA DAN PAKCOY ORGANIK DI KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS | Kecamatan Kedungbanteng merupakan wilayah di Kabupaten Banyumas yang membudidayakan tanaman sayuran secara organik. Salah satu Desa di Kecamatan Kedungbanteng yang membudidayakan sayuran secara organik adalah Desa Windujaya dengan komoditas selada dan pakcoy organik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Windujaya dengan tujuan untuk 1) menganalisis saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran pada komoditas selada dan pakcoy organik; 2) menganalisis struktur dan perilaku pasar pada masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat; 3) menganalisis efisiensi saluran pemasaran selada dan pakcoy organik berdasarkan margin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pengambilan responden secara sensus, berjumlah 4 petani selada organik dan 3 petani pakcoy organik. Penentuan sampel lembaga pemasaran selada dan pakcoy organik menggunakan snowball sampling berjumlah 5 lembaga pemasaran yang terdiri dari 1 pedagang pengumpul dan 4 pedagang pengecer. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis saluran pemasaran, analisis lembaga dan fungsi-fungsi pemasaran, analisis struktur dan perilaku pasar, analisis margin pemasaran, analisis farmer’s share, serta analisis rasio keuntungan dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 saluran pemasaran selada dan pakcoy organik. Setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Struktur pasar mengarah pada struktur pasar oligopoli. Saluran pemasaran yang paling efisien adalah saluran pemasaran II karena memiliki margin pemasaran yang paling kecil, farmer’s share yang paling besar, serta rasio keuntungan dan biaya paling besar dibandingkan saluran pemasaran I. | Kedungbanteng Subdistrict is region in Banyumas Regency that cultivate a vegetables in a organic manner. One of the Village in Kedungbanteng Subdistrict that cultivate a vegetables in a organic manner is Windujaya Village with lettuce and organic pakcoy commodity. This research was conducted in Windujaya Village which was aimed to 1) analyze channels and marketing function that to do by marketing agencies to lettuce and organic pakcoy commodity; 2) analyze structure and market conduct in each marketing agencies that involved; 3) analyze the efficiency marketing channels of lettuce and organic pakcoy grounded on marketing margins, farmer’s share, profit and cost rastio. The case study was used in this research by respondent withdrawal in a census manner, amount 4 organic lettuce farmers and 3 organic pakcoy farmers. Determination of sample marketing agencies lettuce and organic pakcoy using snowball sampling totaling 5 marketing agencies consist of 1 wholesaler and 4 retailers. Data analysis method which used is marketing channels analysis, agency and marketing function analysis, structure and market conduct analysis, marketing margins analysis, farmer’s share analysis, with profit and cost ratio analysis. The result showed there 2 marketing channels of lettuce and organic pakcoy. Every marketing agencies perform marketing functions namely exchange function, physical function, and function facilities. Market structure direct to oligopolized market structure. Second channels is the most efficient channels because having the smallest marketing margins, the highest farmer’s share, profit and cost rastio than first channels. |