Artikelilmiahs

Menampilkan 9.381-9.400 dari 48.928 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
93819456B1J007182KOMPOSISI MIKROORGANISME PENYUSUN BIOFILM PERIFITON YANG DIINDUKSI Aeromonas sobria A3-51 PADA
SUBSTRAT YANG BERBEDA
Perifiton sebagai semua mikroorganisme ‘seperti tumbuhan’ atau mikroflora yang hidup pada suatu substrat terendam air. Komunitas perifiton pada umumnya memiliki waktu hidup yang pendek (short-lived) yaitu beberapa hari sampai beberapa minggu. Jenis substrat yang menjadi perlekatan biofilm perifiton dapat berasal dari organisme hidup maupun benda mati. Substrat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu dan kaca. Biofilm perifiton memiliki potensi dalam mendukung akuakultur yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Potensi tersebut dapat ditingkatkan dengan induksi probiotik untuk memanipulasi mikroba penyusunnya. Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah Aeromonas sobria A3-51 yang didapatkan dari koleksi kultur mikroba di Laboratorium Mikrobiologi. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui Perbedaan komposisi mikroorganisme penyusun biofilm perifiton pada substrat kaca dan bambu, serta perbedaan komposisi mikroorganisme penyusun biofilm perifiton pada substrat kaca dan bambu yang diinduksi A. sobria A3-51. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, dengan mengamati perubahan komposisi dilihat dari jumlah A. sobria A3-51, bakteri total, dan jumlah serta ragam mikroalga. Berdasarkan hasil hasil disimpulkan bahwa terdapat perbedaan komposisi mikroorganisme penyusun biofilm perifiton pada substrat bambu dan kaca, serta perbedaan komposisi mikroorganisme penyusun biofilm perifiton pada substrat kaca dan bambu yang diinduksi A. sobria A3-51.Periphyton as all the microorganisms 'such as plants' or microflora living on a substrate submerged in water. The substrate used in this study are bamboo and glass. Periphyton biofilms have the potential to support aquaculture environmentally friendly and sustainable. This potential can be enhanced with probiotics to manipulate microbial induction constituent. The bacteria used in this study were Aeromonas sobria A3-51. Based on these problems, the research conducted aimed to determine the difference in the composition of the constituent microorganisms periphyton biofilm on a glass substrate and bamboo, as well as differences in the composition of the constituent microorganisms periphyton biofilm on a glass substrate and bamboo induced A. sobria A3-51. The study was conducted with an experimental method, by observing changes in the composition indicated by the number of A. sobria A3-51, total bacteria, and the number and variety of microalgae. Based on the results of the results concluded that there are differences in the composition of the constituent microorganisms in the biofilm periphyton bamboo and glass substrates, as well as differences in the composition of the constituent microorganisms periphyton biofilm on a glass substrate and bamboo induced A. sobria A3-51.
93829458F1D008032POLITIK PARIWISATA: STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) MELALUI PENGEMBANGAN OWABONG SEBAGAI OBYEK WISATA DI KABUPATEN PURBALINGGA
RINGKASAN

Penelitian ini tentang politik pariwisata yang berfokus pada strategi pemerintah daerah dalam peningkatan PAD melalui pengembangan owabong sebagai obyek wisata di Kabupaten Purbalingga ini bertujuan untuk: 1) memahami dan mendeskripsikan strategi pemerintah daerah dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengembangan Owabong sebagai obyek wisata di Kabupaten Purbalingga; 2) mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor kontekstual yang mendukung dan menghambat pemerintah daerah untuk mengimplementasikan strateginya dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengembangan Owabong sebagai obyek wisata di Kabupaten Purbalingga; 3) mengetahui dan menjelaskan aktor-aktor yang dilibatkan oleh pemerintah daerah untuk mengimplementasikan strateginya dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengembangan Owabong sebagai obyek wisata di Kabupaten Purbalingga. Melalui paradigma konstruktivisme dan perspektif strukturalisme, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dengan berlokasi di wilayah Kabupaten Purbalingga, obyek penelitian ini mengambil obyek wisata air Owabong.
Hasil penelitian ini mengungkapkan kenyataan bahwa kegiatan politik pariwisata melalui pengembangan obyek wisata di Kabupaten Purbalingga dilakukan dengan cara menambah wahana, promosi, dan infrastruktur. Dari kegiatan tersebut, terdapat pola strategi pemerintah daerah dalam peningkatan PAD melalui pengembangan Owabong di Kabupaten Purbalingga yang lebih bersifat top-down, di mana Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga hanya sebagai pendamping dalam mengkoordinasi Perusahaan Daerah Owabong, pengusaha, masyarakat, dan persatuan pedagang di sekitar Owabong. Sementara faktor pendukung pengembangan Owabong di Kabupaten Purbalingga adalah: 1) potensi pariwisata di Kabupaten Purbalingga; 2) perhatian pemerintah Kabupaten Purbalingga terhadap pariwisata; 3) letak Owabong yang strategis; 4) partisipasi masyarakat. Sedangkan faktor penghambat pengembangan Owabong di Kabupaten Purbalingga adalah: 1) terbatasnya anggaran dana yang tersedia; 2) kurangnya koordinasi antarinstansi di tingkat Kabupaten Purbalingga.
ABSTRACT

This research on political tourism strategy that focused on local governments in increasing revenue through Owabong development as a tourist attraction in Purbalingga aims to: 1) understand and describe strategies to increase local government revenue through Owabong development as a tourist attraction in the District Purbalingga; 2) identify and explain the contextual factors that support and obstruct local governments to implement the strategy in improving local revenue through Owabong development as a tourist attraction in Purbalingga; 3) identify and explain the actors that involved by government areas to implement its strategy in increasing revenue through Owabong development as a tourist attraction in Purbalingga. Through the constructivism paradigm and structuralism perspective, this study used a qualitative research method with a case study approach. The location isPurbalinggaregion, the object of this study isOwabong water attractions.
Results of this study revealed the fact that the political activities of tourism through the development of tourism in Purbalingga done by adding rides, promotion, and infrastructure development. Of these activities, the pattern that used by local government strategies in increasing revenue through the development of PurbalinggaOwabong is a top-down approachment, in which the Department of Tourism Culture Youth and Sports do the companion in coordinating PD Owabong, entrepreneurs, community, and traders unity around Owabong. The supporting factor in the development OwabongPurbalinggaare: 1) the potential of tourism in Purbalingga; 2) Purbalingga government attention to tourism; 3) Owabong strategic location; 4) community participation. While the factors that obstruct the development of PurbalinggaOwabong are: 1) the limited budget thatare available, 2) lack of coordination among agencies in Purbalingga.

Keywords: political tourism, local revenue, tourism development
93839459B1J007125VARIASI MORFOLOGI BUNGA MAWAR ( Rosa)
DI KECAMATAN BATURRADEN
Mawar merupakan tanaman hias yang populer di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, tanaman semak dari genus Rosa, yang memiliki kurang lebih 100 spesies kebanyakan tumbuh dibelahan bumi utara yang berudara sejuk. Mawar (Rosa sp.)yang berbentuk semak berduri yang tingginya bisa mencapai 2-5m, dengan warna bunga yang bervariasi dari warna merah, putih, kuning, orange, merah muda sampai ungu muda. Helaian mahkota bunganya ada yang satu lapis ada pula yang bersusun.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kisaran variasi morfologis tanaman Mawar di Kecamatan Baturraden. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampling secara acak di Kecamatan Baturraden. Data ciri-ciri morfologi dari tanaman mawar dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui perbedaan karakter visual antar tanaman mawar di beberapa lokasi.Roses are popular ornamental plants in a Indonesian society,Rosais a kind of shrub, which includ 100 species found grows mostly in northern hemisphere whichiscool. The members of this genus have significant morphological variations of stem, leaves and flowers, so it can be grouped into several types of roses and cultivars. The rose is a thornyshrub that can reach 2-5tall, with various flower color from red, white, yellow, orange, pink to light purple. The petale can be single on double. The airnof this study is to know the morphological variation in the Baturraden district. The method used is survey method with random sampling in District Baturraden. Parameters observed included morphological characters of the stems, leaves and flowers. The morphological features of the was analyse descriptively to determine the visual character differences between roses in several locations in Baturraden . Research showed they results to variations in plant red rose in are number, the distal leaflets length, flower stalk length and density of spines
938411121G1A011056EFEK PEMBERIAN EKSTRAK AKAR PURWOCENG TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) TESTIS RATTUS NORVEGICUS JANTAN YANG DIINDUKSI PARADOXICAL SLEEP DEPRIVATIONLatar Belakang: Paradoxical Sleep Deprivation (PSD) adalah salah satu bentuk stres pada tikus putih yang memicu reaksi peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid menyerang testis dan meningkatkan produksi kadar malondialdehid (MDA) sebagai biomarker stres oksidatif. Ekstrak akar purwoceng mengandung zat aktif (flavonoid dan tanin) yang diharapkan mampu menurunkan kadar MDA testis.
Tujuan: Menganalisis efek pemberian ekstrak akar purwoceng terhadap kadar MDA testis Rattus norvegicus jantan yang diinduksi model stres PSD.
Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan posttest only with control group design. Tiga puluh ekor tikus dibagi secara acak menjadi lima kelompok: kelompok kontrol sehat (A), kelompok kontrol negatif (B), kelompok PSD yang diberi ekstrak akar purwoceng dengan dosis berturut-turut 16,65 mg; 33,75 mg; dan 50,25 mg/200 gramBB/hari (Kelompok C, D dan E). Induksi PSD dilakukan selama 96 jam dan dilanjutkan pemberian ekstrak akar purwoceng selama 7 hari. Pemeriksaan kadar MDA testis dilakukan dengan metode ELISA.
Hasil: Kadar MDA testis kelompok B menunjukkan rerata tertinggi (10,6±0,9), kelompok C (11,0±0,3), kelompok A (10,6±0,9), kelompok D (10,3±0,6) dan kelompok E (10,1±0,8). Uji One Way ANOVA menunjukkan hasil signifikan dengan nilai p=0,000, dilanjutkan uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan hasil signifikan (p<0,01) antara kelompok B terhadap kelompok lainnya.
Kesimpulan: Pemberian ekstrak akar purwoceng berefek menurunkan kadar MDA testis Rattus norvegicus jantan yang diinduksi Paradoxical Sleep Deprivation
Background: Paradoxical Sleep Deprivation (PSD) is a kind of stress models in rats which induce lipid peroxidation. Lipid peroxidation attack testicular and increase malondialdehyde level as biomarker of oxidative stress. Purwoceng roots extract that contain active substances (flavonoid and tannin) are expected to decrease testicular MDA level.
Objective: Analyze antioxidant effect of purwoceng roots extract to reduce testicular MDA level in male Rattus norvegicus induced by PSD.
Methods: This experimental research was using post-test only with control group design. Thirty rats were divide randomly into five groups: healthy control group (A), negative control group (B), groups of rats with PSD which given purwoceng roots extract respectively 16,65 mg; 33,75 mg; and 50,25 mg/200gramsBW/day (group C, D and E). PSD model stress induction was held during 96 hours and followed by administration of purwoceng roots extract for seven days. ELISA method was used to examine testicular MDA level.
Result: Testicular MDA level in group B was shown the highest rates (10,6±0,9), group C (11,0±0,3), group A (10,6±0,9), group D (10,3±0,6) and group E (10,1±0,8). One Way ANOVA test showed significant p-value=0,000, followed by Post Hoc Tukey HSD test that showed significant (p<0,01) between group B and the other groups.
Conclusion: Administration of purwoceng roots extract had effect to reduce testicular MDA level in male Rattus norvegicus induced by Paradoxical Sleep Deprivation.
93859457G1D010058HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN
SELF-EFFICACY PENDERITA DIABETES MELLITUS
TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I KEMBARAN
Latar belakang : Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang penatalaksanaanya masih bersifat pengendalian dan memerlukan waktu yang lama. Self-efficacy diperlukan untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan self-efficacy penderita DM tipe 2.
Metode : Analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 69 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner, dan analisis data yang digunakan adalah Chi-square.
Hasil : Mayoritas responden berusia 40-65 tahun (87%), dengan jumlah responden perempuan lebih banyak (69,6%), mayoritas responden berpendidikan rendah (79,7%), dan lama menderita DM <11 tahun (92,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan self-efficacy (p value: 0,171). Pada penelitian ini juga didapatkan tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, lama menderita DM dengan self-efficacy, tetapi terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan self-efficacy (p value: 0,048).
Simpulan : Hasil penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self-efficacy penderita DM tipe 2.
Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic syndrome which still needs controlled and long-time in management. Self-efficacy is needed to improve patients’ independence.
Objective: To determine the relations between family support and self-efficacy of type 2 diabetes mellitus patients at Kembaran 1 Public Health Center.
Methods: Correlative analytical with cross sectional. Sampling technique was used a purposive sampling. Study participants were 69 respondents. Research instrument was used questionaire. Data analysis was used Chi-square.
Results: The majority of respondents age is around 40-65 years old (87%), women are more (69,6%), less education (79,7%), duration of DM suffering <11 years (92,8%). Chi-Square test results showed there is no significant relations between family support and self-efficacy (p value: 0,171). This research also pointed out that there is no relations between age, sex, duration of DM suffering and self-efficacy, but there is significant relations between educational level and self-efficacy (p value: 0,048).
Conclusion: There is no significant relations between family support and self-efficacy.
938611122A1C010104ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS JAGUNG DI KECAMATAN SENTOLO
KABUPATEN KULON PROGO
Jagung merupakan tanaman pangan penting yang cukup potensial dikembangkan, karena mempunyai banyak manfaat bagi kesejahteraan manusia. Jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan , bahan pakan ternak dan bahan baku industri.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas jagung di Kecamatan Sentolo; 2) menganalisis Private Profitability (PP) dan Social Profitability (SP) usaha penanaman komoditas jagung di Kecamatan Sentolo.
Penelitian dilakukan pada tanggal 13 September sampai 13 Oktober 2014 di Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo dengan sasaran penelitian petani yang berusahatani jagung. Pemilihan responden dilakukan dengan metode simple random sampling sebanyak 45 responden. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara, kuisioner, dan observasi langsung. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, serta metode Policy Analysis Matrix (PAM).
Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani jagung di Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo memberikan manfaat dilihat dari sisi petani dan masyarakat secara keseluruhan, ditunjukkan dengan hasil keuntungan bersih secara finansial sebesar Rp 19.833.867,146 dan secara ekonomi atau keuntungan sosialnya sebesar Rp17.308.275,44. Usahatani jagung juga memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, hal ini diketahui bahwa nilai Private Cost Ratio (PCR) dan Domestic Ratio Cost Ratio (DRCR) kurang dari satu yaitu 0,83 dan 0,85. Tingkat proteksi yang dilakukan pemerintah terhadap usahatani jagung di Kecamatan Sentolo kurang maksimal jika dari kebijakan harga outputnya yang dilihat dari NPCO sebesar 0,98 dan EPC sebesar 1,01, sedangkan nilai NPCI 0,59 menunjukkan adanya proteksi berupa subsidi yang dilakukan pemerintah terhadap input tradable nya.
Corn is an important commodities that potential to developed, because it has many benefits for human welfare. Corn can be used as food, animal feed and industrial raw materials. The purpose of this research 1) to analyze corn commodity the comparative advantage in Sentolo District; 2) analyze Private Profitability (PP) and Social Profitability (SP) corn farming in Sentolo District.
The study was conducted on 13 September to 13 Oktober 2014 in Sentolo District, Kulon Progo Regency. Research was targeting on farmers which based on corn commodity. The selection of respondents was done by simple random sampling method by 45 respondents. The data in the form of primary and secondary research collected by interviews, questionnaires, and direct observation. The analytical methods were used for analysis of revenues and Policy Analysis Matrix (PAM) method.
The analysis showed that corn commodity in Sentolo District, Kulon Progo Regency provide benefits on farmers and society as a whole, was shown by the results of a financial profit Rp 19.833.867,00 and social benefit Rp 17.308.275,00. Corn commodity have a comparative and competitive advantages, which is indicated by Private Cost Ratio (PCR) and Domestic Cost Ratio (DRC) less than one, the calculation showed that the PCR and DRC 0.81 and 0.83. Degree of protection by the government in the district Sentolo less than one, was seen from NPCO 0.66 and EPC 0.67. The value of NPCI 0.62 indicates that there was protection in form of government subsidies to tradable inputs .
938711123A1C010011FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM BERUSAHATANI PADI ORGANIK DI KABUPATEN BANYUMASPerilaku petani dalam pengambilan keputusan untuk melakukan usahatani padi organik dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu permasalahan yang dihadapi petani padi organik di Kabupaten Banyumas adalah kurang mendukungnya kondisi eksternal bagi petani, seperti tidak tersedianya fasilitas pemasaran dan kurangnya pembinaan terhadap petani. Upaya dalam menangani masalah tersebut adalah perlunya menjalin kemitraan dengan pihak yang siap menampung hasil panen usahatani padi organik tanpa harus menjualnya melalui tengkulak, agar petani padi organik yang sudah mengusahakan padi organik dapat terserap produknya dan dapat menguntungkan petani dilihat dari segi ekonominya. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui besarnya biaya dan pendapatan yang diterima petani dalam usahatani padi organik di Kabupaten Banyumas dan (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam berusahatani padi organik di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sumbang, Kedungbanteng, Baturraden dan Pekuncen pada bulan September 2014 sampai dengan Oktober 2014. Lokasi penelitian dipilih secara purposive dengan pertimbangan kecamatan tersebut merupakan sentra produksi padi organik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Pengambilan sampel dilakukan dengan sensus, terhadap 35 responden. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan teknik wawancara menggunakan kuisioner. Metode analisis yang digunakan adalah (1) Analisis biaya dan pendapatan (2) Likert’s Summated Ratings (LSR) (3) Metode Successive Interval (MSI) (4) Uji asumsi klasik dan (5) Analisis regresi berganda.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penerimaan rata-rata per hektar padi organik di Kabupaten Banyumas adalah Rp.21.631.221,16 dan biaya produksi rata-rata per hektar sebesar Rp.9.694.066,00, sehingga pendapatan bersih yang diterima adalah Rp.11.937.155,16 per hektar. Variabel peran keluarga, minat, kemudahan sarana produksi, harga, dan hasil produksi secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap keputusan petani karena memiliki hubungan yang bersifat positif, sedangkan pengalaman sebelumnya dan kemudahan pemasaran berpengaruh nyata namun memiliki hubungan yang bersifat negatif terhadap keputusan petani. Berbeda dengan variabel hubungan sesama petani, peranan media informasi, dan kemudahan budidaya berpengaruh tidak nyata terhadap keputusan petani dalam melakukan usahatani padi organik di Kabupaten Banyumas.
The behavior of farmers in decision to do the organic rice farming is influenced by several factors, both internal factors and external factors. One of the problems organic rice farmers in Banyumas is less support farmers external conditions, such as not availability of marketing facilities and the lack of guidance to farmers. Efforts to problem solving is needy to establish partnerships with parties who are ready to accommodate the harvest of organic rice farming without having to sell through middlemen, so that organic rice farmers cultivate organic rice has absorbed its products and can benefit farmers of economy aspect. The research aimed to (1) Knowing the amount of costs and revenues that received by farmers in organic rice farming in banyumas (2) Analyze factors that influence the farmer’s decisions of farming organic rice in banyumas regency.
The research was conducted at Sumbang, Kedungbanteng and Baturraden District in Banyumas Regency on September 2014 to October 2014.This research area is choseen purposively because the district is organic rice production centers. The method used of this research was survey. Sampling is done by sensus, 35 samples. Data is collected by observation and interview techniques toward using questionnaires. The Analysis method used is (1) Costs and revenues (2) Likert's Summated Ratings (LSR) (3) Method Successive Interval (MSI) (4) The classical assumption test and (5) Multiple regression analysis.
Results of the research showed that average gain per hectare of organic rice in Banyumas Regency is Rp.21.631.221,16 and average production cost per hectare is Rp.9.694.066,00 so that the net income received is Rp.11.937.155,16 per hectare. Variable family roles, interests, ease of production facilities, prices, and production result significant effect on the farmer's decision because it has a positive relationship, whereas previous experience and ease of significant marketing but have negative correlation to the decision of farmers. In contrast to the variable relationship between farmers, the role of media information, and ease of cultivation effect is not noticeable to the decisions of farmers in conducting organic rice farming in Banyumas.
93889460B1J008055Pengaruh Paramaecium sp. sebagai Carrier Probiotik dalam Meningkatkan Populasi Bakteri Asam Laktat Intestinal dan Imunitas Ikan Plati (Xiphophorus sp.)Budidaya ikan memerlukan asupan pakan tambahan disamping pakan alami untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi. Kendala yang dihadapi adalah mahalnya harga bahan baku pakan tambahan. Kendala lain dalam budidaya ikan yaitu masalah penyakit dan pengendaliannya. Penggunaan antibiotik dan senyawa kimia dalam penanggulangan penyakit masih merupakan upaya utama pengendalian tetapi penggunaan antibiotik menyebabkan timbulnya resistensi patogen. Aplikasi probiotik dari genus Lactobacillus telah dibuktikan dapat mengurangi penyakit dan meningkatkan laju pertumbuhan. Aplikasi probiotik umumnya dilakukan melalui pakan dan air budidaya, tetapi cara ini tidak menjamin jumlah probiotik ke sistem intestinal ikan akan mencapai jumlah yang ideal yaitu minimal 106 sel per gram, keadaan ini mendorong pencarian solusinya. Salah satunya yaitu dengan menjadikan pakan alami Paramaecium sp. sebagai carrier Lactobacillus sp. yang merupakan bakteri asam laktat (BAL) agar sampai ke sistem pencernaan ikan sehingga dapat meningkatkan populasi BAL dalam intestinum sehingga dapat melakukan perannya dalam menekan pertumbuhan patogen dan meningkatkan imunitas ikan model yaitu ikan plati (Xiphophorus sp.). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dicobakan meliputi ikan plati diberi pakan komersil (IP1), ikan plati diberi pakan komersil dan probiotik (IP2), dan ikan plati diberi pakan komersil dan Paramaecium sp. yang ditambah probiotik (IP3). Parameter yang diukur adalah jumlah BAL intestinal, total bakteri intestinal, dan persentase ragam jenis leukosit. Hasil analisis variansi dari perlakuan yang diujikan berbeda nyata (p<0,05) terhadap jumlah BAL intestinal, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap total bakteri intestinal dan imunitas ikan plati. Selisih rata-rata jumlah BAL intestinal pada IP3 yaiitu 6,7x103 CFU per ml. Penelitian ini menunjukkan bahwa Paramaecium sp. sebagai carrier probiotik dapat meningkatkan jumlah BAL intestinal, namun tidak mempengaruhi total bakteri intestinal dan imunitas ikan plati.Constraints on fish farming is the high price of raw material feed supplement, disease, and control. The use of antibiotics and chemical compounds in the prevention of disease control is still a major effort, but the use of antibiotic resistance causing pathogens. Application of the genus Lactobacillus probiotics has been shown to reduce disease and increase the growth rate. Application of probiotics is generally done through aquaculture feed and water, but this method does not guarantee the amount of probiotics to the intestinal system of fish, this situation prompted the search for a solution. One of them is to make natural food Paramaecium sp. as a carrier of Lactobacillus sp. which is a lactic acid bacteria to get to the fish penernaan system so that it can perform its role in suppressing the growth of pathogens and increase the immunity of fish models plati fish (Xiphophorus sp.). The research method used was a completely randomized design with three treatments and three replications. The treatments tested included IP1 (plati fish fed commercial), IP2 (plati fish fed with commercial and probiotics), and IP3 (plati fish fed with commercial and Paramaecium sp plus probiotics). The results of this study indicate that Paramaecium sp. as a probiotic carrier can increase the number of intestinal lactic acid bacteria with an average increase of 6.7 x 103 CFU per ml. However, no effect on the total intestinal bacteria and immunity plati fish.
93899461G1D007079HUBUNGAN GOLONGAN DARAH DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA
DESA BANTARWARU
HUBUNGAN ANTARA GOLONGAN DARAH DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI POSYANDU LANSIA

Imam Prastawa ¹Saryono² Iwan Purnawan³

ABSTRAK

Latar belakang : Masa lansia merupakan tahap terakhir dalam kehidupan manusia karena perkembangan manusia berakhir setelah manusia menjadi lanjut usia. Banyak faktor yang berperan dalam mempengaruhi gangguan kesehatan diantaranya kemunduran fungsi tubuh, gangguan psikologi dan genetik. Variasi genetik berkaitan dengan variasi golongan darah yang diturunkan dari orang tua pada anaknya.
Tujuan : Mengetahui hubungan golongan darah dengan kualitas hidup pada Lansia di Posyandu lansia Desa Bantarwaru, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara total sampling dengan jumlah responden 60 lansia. Data tentang kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL dan data golongan darah diukur berdasarkan uji golongan darah menggunakan alat yang bernama reagen antigen A dan antigen B.
Hasil : Berdasarkan analisis yang dilakukan didapat rata-rata responden dengan kualitas hidup sedang yaitu sebanyak 65% , kualitas hidup tinggi yaitu 35%, golongan darah A yaitu 13 orang (21,7%), golongan darah B yaitu 17 orang (28,3%), golongan darah AB yaitu 3 orang (5%), dan golongan darah O yaitu 27 orang (45%). Hasil uji Chi Square diperoleh nilai χ2:0,60 (p=0,807) hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara golongan darah dengan kualitas hidup lansia.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang signifikan antara golongan darah dengan kualitas hidup Lansia di posyandu Lansia desa Bantarwaru.

Kata kunci : golongan darah, lansia, kualitas hidup.

RELATIONSHIP BETWEEN BLOOD GROUP WITH THE QUALITY OF LIFE IN ELDERLY
Imam Prastawa¹ Saryono² Iwan Purnawan³

ABSTRACT

Background : The elderly is the last stage in human life because human development will be end after become old. Many factors play a role in influencing health problems including deterioration of body functions, psychological and genetic disorders. Genetic variation associated with variation in blood groups derived from parent to child.
Objective : To determine blood type and quality of life relationship in elderly Bantarwaru Village, District Madukara, Banjarnegara district.
Methods: This is an analitic study with cross sectional approach. The samples were taken in total sampling with 60 elderly respondents. Data on quality of life was measured using the WHOQOL questionnaire and the data measured by testing the blood group blood type using a tool called reagent antigen A and antigen B.
Results : Based on the analysis conducted gained an average respondent to the quality of life were as many as 65%, a high quality of life that is 35%, blood group A is 13 people (21.7%), blood group B is 17 people (28.3 %), blood type AB is 3 people (5%), and blood type O is 27 people (45%). Chi Square test results obtained value of χ2:0.60 (p = 0.807), this showed that there is no significant correlation between blood groups with the quality of life of the elderly.
Conclusion : There is no significant correlation between blood group with the quality of life of the elderly in the Bantarwaru village.

Keywords : blood groups, the elderly, quality of life.
93909462G1D010053Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Keluarga Penderita Gangguan Jiwa dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas I KembaranLatar Belakang: Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan serius di dunia. Keberhasilan upaya penanganan pasien gangguan jiwa dipengaruhi perilaku pencarian pengobatan ke pelayanan kesehatan oleh keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan tentang gangguan jiwa dan faktor eksternal seperti akses ke pelayanan kesehatan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga penderita gangguan jiwa dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas I Kembaran.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 47 responden yang diambil dengan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Analisis data dengan uji statistik kolmogorov smirnov.
Hasil: Analisis hubungan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan, penghasilan, keterjangkauan biaya pengobatan, keterjangkauan pelayanan kesehatan, dan ketersediaan informasi dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan diperoleh nilai p (0,742), (0,797), (0,999), (0,907), (1,000), (1,000), (0,894), (0,059), dan (0,353).
Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan, penghasilan, keterjangkauan biaya pengobatan, keterjangkauan pelayanan kesehatan, dan ketersediaan informasi dengan perilaku keluarga penderita gangguan jiwa dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Kata Kunci: Perilaku keluarga penderita gangguan jiwa, pemanfaatan pelayanan kesehatan
Background: Mental disorder is a serious health problem in the world. The success of efforts to help mental disorder patients is affected by treatment-seeking behavior to health services by family members. This is affected by internal factors such as knowledge of mental disorders and external factors such as access to health services.
Aim: This research aims to determine the factors associated with family behaviour of mental disorders patients in health services utilization in region Puskesmas I Kembaran.
Method: This research uses descriptive analysis research with cross sectional approach. The number of sample are 47 respondents which is taken by total sampling method. The data is collected by questionnaires. Data analysis by using kolmogorov smirnov statistic test.
Results: The results correlation between age, gender, education level, occupation, level of knowledge, income, medical expenses affordability, access to health service, and the availability of information to the family behaviour of mental disorders patients in health services utilization is gotten p value (0,742), (0,797), (0,999), (0,907), (1,000), (1,000), (0,894), (0,059), and (0,353).
Conclusion: There is no relation between age, gender, education level, occupation, level of knowledge, income, medical expenses affordability, access to health service, and the availability of information to the family behavior of mental disorders patients in health services utilization.
Keywords: Family behavior of mental disorder patient, health services utilization
93919463G1D009004FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT MENGENAL PROFESI KEPERAWATAN DI DESA REMPOAH KABUPATEN BANYUMASLatar belakang: Citra perawat di masyarakat selama ini hanyalah pembantu dokter yang tidak memiliki kemandirian. Anggapan ini harus diluruskan karena tenaga keperawatan merupakan bagian dari tenaga kesehatan dan memiliki kemampuan sebagai kontributor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi masyarakat mengenal profesi keperawatan di Desa Rempoah Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 269 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 27 item. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik non parametrik dengan uji chi square.
Hasil: Berdasarkan analisis data yang dilakukan, hanya faktor pengalaman memperoleh pelayanan keperawatan yang memiliki pengaruh terhadap pengenalan profesi keperawatan (p=0,000).
Kesimpulan: Faktor pengalaman memperoleh pelayanan keperawatan memiliki pengaruh terhadap pengenalan profesi keperawatan oleh masyarakat.

Background: Nurse’s image to the people during this is just a doctors assistant who do not have independence. This assumption should be clarified, because the vigour of nurses are the part of the health vigour and have the ability as an important contributor to increase the people health quality services.
Objective: The aim of this research is to knowing the factors that affect the people to get to know the nursing profession in Rempoah village, Banyumas regency.
Methods: This research used an observational research design with cross sectional approach. Study sampel are 269 people. Sampling technique used the simple random sampling. The questionaire consists 27 questions. Data analysis that used is a non-parametric statistical test with chi square test.
Results: Analysis found that only factor experience with nursing services has an influence on the introduction of the nursing profession by the public (p=0,000).
Conclusion: Factor the experience with nursing services has an influence on the introduction of the nursing profession by the public.
93929464H1D007037AUDIT KESELAMATAN JALAN PADA LOKASI RAWAN KECELAKAAN DI RUAS JALAN ANTAR KOTA TIPE ARTERI DAN KOLEKTOR (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS)Angka kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah selalu terjadi peningkatan dari tahun ke tahunnya. Menurut data dari Satlantas Kabupaten Banyumas, diperoleh informasi bahwa tiga tahun terakhir (2011-2013) terjadi peningkatan jumlah kasus kecelakaan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yaitu dari kelalaian pengguna jalan seperti penggunaan kecepatan yang tinggi ketika berkendara. Dengan kondisi tersebut diperlukan upaya utuk mengetahui lokasi daerah kecelakaan (black spot) dan audit keselamatan jalan untuk mengurangi tingkat fatalitas kejadian kecelakaan dan meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Data sekunder dari Satlantas Kabupaten Banyumas berupa data kecelakaan lalu lintas dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan menghitung Angka Ekivalen Kecelakaan (AEK) menggunakan Metode Pembobotan yang mengacu pada Pedoman Konstruksi dan Bangunan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah Pdt T-09-2004-B tahun 2004. Data primer diperoleh dari hasil survei lapangan dan data primer dari hasil survei tersebut dibandingkan dengan 6 parameter yaitu penerapan standar geometrik jalan, penerapan marka dan rambu lalu lintas, tata guna lahan, kondisi penerangan jalan, kondisi fasilitas pelengkap jalan, dan kondisi fisik permukaan jalan.
Dari hasil analisis data sekunder yang dilakukan diperoleh lokasi daerah rawan kecelakaan (black spot) untuk jalan arteri yaitu Jalan Raya Kemranjen, Desa Kecila dan Jalan Raya Wangon, Desa Wangon. Sedangakan untuk jalan kolektor yaitu Jalan Raya Wangon, Desa Kelapagading, Jalan Raya Baturaden, Desa Rempoah dan Jalan Raya Patikraja, Desa Kedungrandu. Dari hasil audit keselamatan jalan pada jalan arteri dan kolektor antar kota Banyumas berdasarkan data lapangan didapatkan beberapa kondisi geometrik jalan yang meliputi lebar bahu jalan, kecepatan rencana kendaraan roda dua, jarak pandang henti kendaraan roda dua, penempatan marka dan rambu, penerangan jalan, fasilitas pelengkap jalan dan kondisi fisik permukaan jalan. Usulan penanganan secara umum adalah meningkatkan fungsi marka dan rambu, memasang fasilitas pelengkap jalan, dan melakukan pemeliharaan jalan.
The death rate of traffic accidents in Central Java always increase from year to year. Data from the Traffic Unit Banyumas reveals the information that there was increment of traffic accidents for last three years (2011-2013) in Banyumas, Central Java. The most common cause of traffic accident is the negligence of road users such as driving in high speed. On that condition there must be an essential attempt to check the regional location of accident (black spots) and the proposed value of the maximum speed limit of vehicles that can be used by road users to reduce the fatality rate of accidents and increase traffic safety.
Secondary data of the traffic unit Banyumas is a traffic accident data from 2011 until 2013, and the Department of Highways is class data and road function. The data were then analyzed by counting the number Equivalent Accident (AEK) using the weighting method refers to the Guidelines for Construction and Building Ministry of Settlement and Regional Infrastructure Rev. 09-2004 T-2004-B. Primary data were obtained from the results of the field survey and primary data from the survey results were as compared to six parameters, assembling road geometric standar, assembling marking and traffic signs, land used, road lighting condition,road complement facility, and the fhysical of surface conditions.
From the analysis of secondary data obtained the location of the accident-prone areas (black spots), they are Kemranjen Highway, Kecila Village, Wangon Highway, Wangon Village, for arterial road. Whereas for collector road are Wangon Highway , Kelapagading Village, Baturaden Highway, Rempoah Village, Patikraja Highway, Kedungrandu Village. From a road safety audit in the arterial and collector intercity in Banyumas building on field survey data obtained some geometric condition includes road shoulder width, appointment marking and signs, road lighting, road facility of complement and fhysical of surface condition. Proposed handling in general is to improve the function og signs and marking, tall in road complement facility, and execute road maintenance.
93939466G1D010076ANALISIS FAKTOR RISIKO KRAM OTOT, PENCEGAHAN, DAN PENATALAKSANAAN KRAM OTOT PADA PASIEN HEMODIALISIS DI UNIT HEMODIALISA RSUPN DR. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTALatar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan penyakit kerusakan ginjal progresif dan lambat dalam penyaringan dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Hemodialisis merupakan salah satu terapi efektif dalam menjaga kualitas hidup pasien. Komplikasi hemodialisis salah satunya kram otot. Kram otot merupakan keadaan otot mengalami kontraksi tidak sadar secara berlebihan karena ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor risiko kram otot dan menggambarkan tindakan pencegahan kram otot, penatalaksanaan kram otot dan kram otot pasien hemodialisis.
Metode: Jenis penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kohort prospektif. Sampel dalam penelitian adalah 70 pasien hemodialisis yang dipilih dengan purposive sampling. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan uji Spearman.
Hasil: Hasil analisis hubungan usia, ultrafiltration, natrium serum, kalium serum, tekanan darah, metabolisme otot abnormal, anemia, dan riwayat restless leg syndrome didapatkan nilai p (0,178); (0,402); (0,948); (0,321); (0,527); (0,018); (0,020); (0,038). Gambaran pencegahan dan penatalaksanaan kram otot menunjukkan 100% tidak melakukan pencegahan dan 28,3% melakukan penatalaksanaan kram otot. Gambaran kram otot lebih banyak intensitas ringan (10%), nyeri ringan (10%), kram >5 menit (10%), da 1 lokasi (18%).
Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan kram otot pasien hemodialisis adalah metabolisme otot abnormal, hemoglobin, dan riwayat restless leg syndrome.
Background: Chronic renal failure is a disease progressive and irreversible of kidney damage in filtration and fluid and electrolyte balance. Hemodialysis is an effective treatment in maintaining the quality of life patients. Complications of hemodialysis is muscle cramps. Muscle cramps are muscle contraction state of unconscious due to excessive fluid and electrolyte imbalance.
Objective: The aim of this research is to evaluate the risk factors of muscle cramps and describe preventive of muscle cramps, treatment of muscle cramps and muscle cramps in hemodialysis patients.
Methods: The method of this research was a descriptive analysis using prospective cohort approach. There was 70 hemodialysis patients as respondent taken by purposive sampling technique. Frequency distributions and Spearman were used in this research.
Results: The result showed that age, ultrafiltration, sodium serum, potassium serum, blood pressure, abnormal muscle metabolism, anaemia, and a history of restless leg syndrome had p value (0,178); (0,402); (0,948); (0,321); (0,527); (0,018); (0,020); (0,038). Overview of the prevention and treatment of muscle cramps showed 100% doesn’t perform preventive and 28.3% perform treatment of muscle cramps. Describe of muscle cramps more mild intensity (10%), mild pain (10%), duration muscle cramps >5 minutes (10%), and location of muscle cramps 1 location (18%).
Conclusions: risk factors associated with muscle cramps in hemodialysis patients is abnormal muscle metabolism, haemoglobin and a history of restless leg syndrome.
939410754F1C009058POLA PELIPUTAN JURNALISTIK LEMBAGA PERS MAHASISWA SOLIDARITAS (STUDI DESKRIPTIF PEMBERITAAN UANG KULIAH TUNGGAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN)Perannya selain sebagai sebuah lembaga pers, pers mahasiswa (persma) merupakan bagian dari sebuah gerakan mahasiswa. Dalam menjalani fungsinya, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas melakukan pengawasan terhadap sebuah kebijakan pendidikan salah satunya lewat pemberitaan terkait kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diterapkan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Terdapat pola peliputan jurnalistik yang mereka lakukan dalam membuat sebuah karya jurnalistik. Pola peliputan jurnalistik adalah serangkaian bentuk mengenai kegiatan (jurnalis) yang terstruktur yaitu, merumuskan ide pemberitaan, mencari berita, menyusun, atau menghimpun berita untuk kemudian disajikan kepada publik. Persma yang menjadi bagian dari gerakan mahasiswa dan jurnalis mereka yang berstatuskan mahasiswa akan mempengaruhi pola peliputan jurnalistik dalam proses produksi pemberitaan mereka.
Penelitian ini berfokus kepada pola peliputan jurnalistik LPM Solidaritas terkait pemberitaan UKT Unsoed. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Data yang muncul adalah data berupa narasi bersifat deskriptif, kemudian akan dianalisis dan diinterpretasikan untuk membuat kesimpulan. Informan dalam penelitian ini merupakan orang-orang yang terlibat dalam proses peliputan yang dilakukan oleh LPM Solidaritas terkait pemberitaan UKT Unsoed. Teknik yang digunakan dalam menguji keabsahan data menggunakan model triangulasi data yang meliputi sumber data, peneliti, metode dan teori.
Hasil penelitian ini membagi pola peliputan jurnalistik kedalam tiga tahap yaitu tahap pra peliputan, tahap peliputan, dan tahap pasca peliputan. Pola peliputan jurnalistik terbentuk dari sebuah proses produksi berita, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi proses produksi berita LPM Solidaritas. Faktor tersebut mulai dari tingkatan individu hingga ideologi. Terdapat hubungan antara pola peliputan jurnalistik dengan proses agenda setting. Pada tahap pra peliputan agenda media ditentukan. Isu UKT merupakan agenda media LPM Solidaritas. Seringkali mereka mengangkat isu-isu mengenai komersialisasi pendidikan dengan tujuan mereka yaitu biaya pendidikan yang bisa diakses siapa saja.
UKT merupakan isu yang sangat penting diketahui oleh publik khususnya mahasiswa sebagai pengguna kebijakan. Lewat berita-berita mengenai UKT serta komunikasi yang mereka bangun melalui jaringan sosial dengan pihak-pihak di luar mereka seperti “Save” Soedirman dan Aliansi Pers Mahasiswa, isu yang mereka hembuskan semakin kencang dan menjadi agenda publik. Isu UKT yang telah menjadi agenda publik ini diharapkan dapat mempengaruhi agenda kebijakan dengan adanya penataan sistem biaya pendidikan dengan perencanaan serta pelaksanaan yang baik. Sebagai Lembaga Pers Mahasiswa dan bersifat noncomersil, memaksimalkan peran dan fungsi para anggota adalah sebuah tantangan. Pers Mahasiswa diharapkan dapat memaksimalkan peran dan fungsinya baik sebagai sebuah lembaga media maupun bagian dari sebuah gerakan mahasiswa.
His role other than as a news agency, the student press (persma) is part of a student movement. In undergoing function, Student Press Agency (LPM) Solidaritas to supervise the education policy such as in news coverage related policies Single Tuition (UKT) is applied at the University of jenderral Sudirman (Unsoed). There is a pattern of journalistic reporting that they do in making a work of journalism. The pattern is a series of forms of journalistic reporting on activities (journalists) are structured, formulate ideas news, news search, compose, or gather the news and then presented to the public. Persma which becomes part of the student movement and those who student status journalists will affect the pattern of journalistic reporting in their news production process.
This study focuses on the pattern of coverage LPM Solidaritas related news journalism UKT Unsoed. Type of research is qualitative research. The data is the data that appears in the form of a narrative, descriptive, and then will be analyzed and interpreted to make the conclusion. Informants in this study are those involved in the reporting process conducted by LPM Solidaritas related news UKT Unsoed The technique used in testing the validity of the data using triangulation of data models that include data sources, researchers, methods and theories.
The results of this study divides the coverage pattern of journalism into three phases: pre-reporting, reporting stage, and the stage of post-reporting. The pattern is formed from a journalistic coverage of news production process, there are factors that affect the process of news production LPM Solidaritas. These factors ranging from the individual level to ideology. There is a relationship between the pattern of journalistic reporting with process of agenda setting. At the stage of pre- determined media coverage of the agenda. UKT issue is a media agenda LPM Solidaritas. Often they raise issues concerning the commercialization of education with their purpose, namely the cost of education that can be accessed by anyone.
UKT is a very important issue is known by the public, especially students as user policy. Through news about UKT and communication they built through social networks with parties outside of them as "Save" Sudirman and Student Press Alliance, the issues they breathe harder and become a public agenda. UKT issue that has become a public agenda is expected to influence the policy agenda with the structuring of the cost of education with good planning and implementation. As the Student Press Agency and is noncomersil, maximizing the role and functions of the members is a challenge. Press Students are expected to maximize the role and function well as a media agency or part of a student movement.
939512086A1L011049APLIKASI DUA ISOLAT Bacillus sp. TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT DI LAPANGANPenelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan lahan pertanaman tomat, Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas pada ketinggian tempat 225 m di atas permukaan laut, mulai Maret sampai dengan Juni 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan dua isolat Bacillus sp. dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium , serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, Bacillus sp. B42, Bacilus sp. B64, gabungan Bacillus sp. B42 dan Bacilus sp. B64, dan fungisida berbahan aktif mankozeb 80%. Variabel pengamatan meliputi komponen patosistem (masa inkubasi, laju infeksi, intensitas penyakit, kepadatan akhir patogen, kepadatan akhir antagonis), komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot segar akar, bobot kering akar), komponen hasil (jumlah buah, bobot buah) dan analisis senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus sp. B64 mampu menunda masa inkubasi sebesar 13,05%, menekan intensitas penyakit sebesar 33,94%, meningkatkan bobot segar akar, bobot kering akar, dan bobot buah masing-masing sebesar 31,65%, 33,15% dan 40,58%. Perlakuan Bacillus sp. mampu meningkatkan kandungan senyawa fenol (glikosida, saponin, dan tanin) di dalam jaringan tanaman.This research was carried out at Laboratory of Plant Protection and tomato filed at Banteran Village, Sumbang Sub-district, Banyumas Regency at altitude of 225 m above sea level, started on march to July 2015. This research aimed to know the effectiveness of two Bacillus sp. isolates to control the dissease and its effect on growth and yield. Randomized block design was used with five treatments and six replicates, the treatment were control, Bacillus sp. B42, Bacilus sp. B64, combination of Bacillus sp. B42 and Bacilus sp. B64, and fungicide with active ingredients mankozeb 80%. Variables observed were pathosystem components (incubation periode, infection rate, disease intensity, and late density of the antagonists), growth components (crop height, fresh weight of crops, dry weight of crops, fresh root weight, dry weight of root), yield components (number of fruits, fruit weight), and phenolic compounds analysis. Result of the research show that Bacillus sp. B64 was effective to delay incubation periode as high as 13,05%, to suppress the dissease as high as 33,94%, to increase fresh weight of root, dry weight of root, and fruit weight respectively as 31,65%, 33,15% and 40,58%. Bacillus sp. were able to increase phenolic compounds (saponins, glycosides and tannins).
939612217G1D011066HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP
PERKEMBANGAN BALITA DENGAN HIV/AIDS
DI WILAYAH KABUPATEN CILACAP DAN BANYUMAS


Latar Belakang: Dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Anak dengan HIV/AIDS sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya seperti keluarga. Jika dukungan ini tidak tersedia, keberhasilan pemulihan atau rehabilitasi menurun secara signifikan. Untuk mencapai keberhasilan itu, maka diperlukan bentuk dukungan keluarga yang dapat mempermudah terwujudnya perkembangan anak HIV/AIDS menjadi lebih optimal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga terhadap perkembangan balita dengan HIV/AIDS.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 12 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan formulir perkembangan DDST. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Somers’d.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap perkembangan balita dengan HIV/AIDS, dengan nilai p-value sebesar 0,000 dan nilai korelasi yang sangat kuat sebesar 0,737. Hal ini berarti terdapat hubungan yang positif antara dukungan keluarga terhadap perkembangan balita dengan HIV/AIDS. Artinya, semakin rendah dukungan keluarga maka akan semakin tinggi risiko balita mengalami curiga gangguan perkembangan. Atau, semakin tinggi dukungan keluarga, maka semakin baik perkembangan yang dialami oleh balita.
Kesimpulan: Dukungan keluarga berhubungan terhadap perkembangan balita dengan HIV/AIDS di wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas.
Background: Family support is seen as attitude, actions, and a family acceptance to their members. Therefore, children with HIV/AIDS really need support from their surroundings especially their family. If there is no support, it will be difficult for them to recover or rehabilitate. In this case, the family support is crucial to help these children develop better.
Purpose: This research is aimed at analyzing the correlation between the family support and the development of children with HIV/AIDS.
Methods: This research applies a cross sectional design and a purposive sampling technique for taking 12 respondents as the samples. The instruments are detailed questionnaire and form of DDST development. Then, the data is analyzed statistically by the Somers'd test.
Results: The results shows that there is a significant correlation between the family support and the development of children with HIV/AIDS by p-value 0.000 and the high correlation value 0.737, and this it reflects a positive correlation. In other words, if the family support is low, the children will face more risky developments; but conversely if the support is higher, they will be able to develop better.
Conclusion: The family support is closely related to the development of children with HIV/AIDS in Cilacap and Banyumas Regencies.
939712185D1E010164JUMLAH ERITROSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BERBAGAI AYAM SENTUL PERIODE PRODUKSI
(THE NUMBER OF ERYTHROCYTES AND LEVELS OF HEMOGLOBIN IN A RANGE OF CHICKEN PRODUCTION SENTUL THE PERIOD)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin pada berbagai jenis ayam Sentul periode produksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 125 ekor ayam Sentul betina dengan lima jenis yaitu ayam Sentul abu, Sentul batu, Sentul debu, Sentul emas dan Sentul geni. Setiap jenis ayam dari 25 unit di isi 5 ekor ayam Sentul per unit. Pakan yang diberikan adalah pakan campuran ayam petelur periode produksi terdiri atas dedak, jagung dan konsentrat dengan perbandingan 3 : 4 : 3 dengan kandungan protein 17,2 %, kandungan energy 2750 kkal/kg. Pemberian pakan 100 g/ekor/hari dan air minum diberikan secara ad libitum. Darah diambil pada ayam Sentul betina dari bagian bawah sayap ayam (vena pectoralis externa) sebanyak 1,5 ml per ekor kemudian darah dimasukan pada tabung EDTA . Penelitian dilakukan menggunakan metode experimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukan pada berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada berbagai ayam Sentul memiliki jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin yang relatif sama.

This research aims to determine the differences of the erythrocytes amount and hemoglobin levels in various types of Sentul Hen production period. The material uses in this study were 125 of Sentul hen with 5 types of chicken i.e Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas and Sentul Geni. Each type of them from 25 units are filled with 5 chickens of each unit. The feed is a composition feed from laying hens production period that consist of bran, corn and concentrate with a ratio of 3: 4: 3 and have a protein content of 17.2%, energy content of 2750 kcal / kg. The feeding of 100 g / head / day and water were given ad libitum. The blood is taken from the bottom of the Sentul hen’s wings (vena pectoralis externa) as much as 1.5 ml/head then it is inserted in the tube of EDTA. This research is conducted by using the experimental method with complete randomized design (CRD). The data are analyzed by using analysis of variance. The results of variances analysis show at various Sentul chicken do not have real effect (P> 0.05) toward the amount of erythrocytes and hemoglobin levels. The conclusion is on the various production period of Sentul hen have the amount of erythrocytes and hemoglobin levels that are relatively similar.


93989465P2FB11012MENGUKUR KINERJA PUSKESMAS I KEMBARAN DENGAN KONSEP BALANCED SCORECARD
Penilaian kinerja di sektor publik menarik untuk diperbincangkan lebih mendalam karena hal itu bukan sesuatu yang sederhana, melainkan sesuatu yang kompleks dan multidimensional. Tantangan globalisasi menuntut instansi pelayanan publik seperti Puskesmas I Kembaran bukan hanya berkinerja baik dihadapan pemerintah atasannya, tetapi puskesmas juga berkemampuan daya saing di hadapan unit pelayanan kesehatan lainnya. Kunci dari persaingan tersebut adalah kemampuan organisasi untuk menarik perhatian masa menjadi pelanggan. ISO 9001:2000, sistem manajemen yang berorientasi kepuasan pelanggan, berguna untuk meningkatkan performance puskesmas. Hasilnya Puskesmas memiliki Plan of Actions (POA) untuk mengelola organisasi, forum lokakarya mini sebagai sarana membangun keterbukaan dan kebersamaan sistem, pola penganggaran kerja berbasis activity based budgeting, sehingga puskesmas layak untuk diukur kinerjanya dengan ukuran kinerja organisasi privat, yaitu konsep Balanced Scorecard. Penilaian Kinerja yang mengukur dari perspektif keuangan dan non keuangan ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam & komprehensif kinerja Puskesmas, mengidentifikasikan permasalahan yang terjadi pada kinerja Puskesmas, dan mengajukan alternatif solusi yang praktis bagi Puskesmas dalam meningkatkan kinerja organisasinya.
Penilaian kinerja pelayanan kesehatan ini dilakukan terhadap seluruh pegawai puskesmas dengan menggunakan metode penelitian mixed method research. Penilaian ini mengukur kinerja dari perspektif pelanggan dalam aspek cakupan pelanggan, pangsa pasar, retensi dan akuisinya; perspektif keuangan dalam aspek ekonomis, efisiensi dan efektivitasnya; perspektif proses internal dalam proses inovasi, proses operasional dan proses pelayanannya; serta perspektif pengembangan dan pembelajaran dalam aspek pengembangan SDM dan teknologinya.
Kinerja Puskesmas I Kembaran,dari keempat perspektif, hasil penilaiannya adalah cukup baik. Puskesmas mampu mencapai target cakupan pelanggan dan memiliki pangsa pasar yang luas; pembiayaan pelayanannya sangat efektif; penyelenggaraan pelayanannya sangat tertib administrasi dan inovatif. Kendala yang dihadapi Puskesmas dalam mencapai kinerjanya antara lain: rendahnya tingkat retensi pasien, inefisiensi anggaran pelayanan, nilai Manufacturing Cycle Effectiveness (MCE) yang sangat tinggi dan lemahnya sistem pengembangan SDM. Adapun alternatif solusi praktis yang dapat diajukan untuk meningkatkan kinerja adalah: Puskesmas perlu meningkatkan retensi pasien, meningkatkan efisiensi anggaran pelayanan, menurunkan nilai MCE, optimalisasi fungsi jabatan manajemen representative untuk mengoptimalkan peluangpengembangan dan pembelajaran, serta melengkapi target kinerja yang masih kosong sebagai acuan kerjadan motor penggerak bagi para pegawai.

It is interested to discuss more about performance assessment of public sector because it is not easy to defined, it is complex and multidimensional. The challenge of globalization demand the change of public service agencies performance such as Puskesmas I Kembaran, it not only has good performance in government level, but also has capability to compete among other health service units. The key of the competition is the organization's ability to attract the attention of customers. ISO 9001: 2000 is a management system oriented to customer satisfaction, useful for improving performance of puskesmas. As a result, Puskesmas has a Plan of Actions (POA) to manage the Organization, mini workshop forum as a media to build openness and togetherness system, budgeting system based on activity based budgeting, it makes puskesmas eligible to be measured of its performance using measurement tool of the private organization's performance, it is Balanced Scorecard concept. The performance assessment measure financial and non financial perspective, it has purpose to describe performance of Puskesmas in depth and comprehensive, to identify problems that occured on the performance of puskesmas, and to propose practical alternative solutions for puskesmas to improve the performance of the organization.
Healthcare performance assessment was conducted to the entire employees of puskesmas using the mixed method research. This assessment measures the performance from the perspective of the customer in the coverage, market share, customer retention and acquisition aspect; financial perspective in economic, efficiency and effectiveness aspects; internal process perspective in the process of innovation, operational processes and service process; and the perspective of development and learning in the development of human resources and technology aspects
Performance of Puskesmas I Kembaran from the fourth perspective, the result of study is good enough. Puskesmas was able to reach the target coverage of customers and has a large market share; effective financial service; innovative and administrative in conducting service. There are some obstacles faced by puskesmas in achieving good performance namely: the low retention rate of the patient, inefficiency of the service budgeting, the Manufacturing Cycle Effectiveness value (MCE) is very high, and the weakness of human resource development system. There are some practical alternative solutions can be proposed to increase performance are follows: puskesmas need to increase patient retention, increase the efficiency of the service budgeting, decrease the value of MCE, optimalization the functions of the management representative office to optimalize the opportunities of learning and development, and complement the performance targets that are still empty as a reference work and its driving force for its employees
93999470P2EA12019PROSEDUR KEGIATAN BISNIS PERIKANAN KAPAL MOTOR PELITA JAYA BIDANG USAHA PENANGKAPAN IKAN DI JALUR PERAIRAN SELAT MAKASSARPenelitian ini.....This study....
94009467G1F010043Aktivitas Antiproliferasi Ekstrak Etanolik Daun Sirsak (Annona muricata) pada Sel Payudara Tikus yang Diinduksi
7,12 Dimetilbenzen(α)Antrasena (DMBA)
Secara in vitro ekstrak daun Annona muricata terbukti mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara T47D. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiproliferasi dari ekstrak daun sirsak pada sel payudara tikus yang diinduksi DMBA.
Penelitian menggunakan 48 hewan uji yang dibagi menjadi 7 kelompok dengan masing-masing jumlah hewan uji 7 ekor per kelompok, kecuali kelompok tanpa perlakuan 6 ekor. Enam kelompok diinduksi DMBA dengan dosis 20 mg/kgBB secara per oral dua kali seminggu selama lima minggu. Kelompok I, II, III, IV diberikan ekstrak daun sirsak berturut-turut dengan dosis 200 mg/kg BB, 300 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan 500 mg/kg BB yang diberikan selama 2 minggu secara per oral. Kelompok V diberikan Tamoxifen 0,36 mg/kg BB. Kelompok VI hanya diberi DMBA dan kelompok VII tanpa perlakuan. Formasi tubulus diamati secara deskriptif. Indeks mitosis dan variasi ukuran inti sel dihitung dan dianalisis dengan uji Anova One Way dan dilanjutkan dengan uji Tukey.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok ekstrak daun sirsak mampu menurunkan indeks mitosis dan skor variasi ukuran inti sel dibandingkan kelompok DMBA. Berdasarkan formasi tubulus, kelompok ekstrak daun sirsak memiliki gambaran tubulus yang normal dibandingkan gambaran tubulus kelompok DMBA. Tubulus dikatakan normal apabila memiliki batas lumen yang jelas dan dikelilingi oleh sel epitel yang tersusun teratur.
In vitro leaf extract of Annona muricata shown to have cytotoxic activity against breast cancer cells T47D. This study aims to determine the antiproliferative activity of Annona muricata leaf extract on breast cells DMBA-induced rats.
Research using the 48 test animals were divided into7 groups with each number 7 animals per group, except for the normal group 6 animals. Six groups induced by DMBA with dose of 20 mg/kg BB were orally twice a week for five weeks. Group I, II, III, IV administered Annona muricata leaf extract successively with a dose of 200 mg/kg BB, 300 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, and 500 mg/kg BB were administered for 2 weeks were orally. Group V given Tamoxifen 0,36 mg/kg BB. Group VI were given DMBA and group VII whitout intervetion. Tubule formation observed descriptively. Mitotic index and the cell nucleus size variation was calculated and analyzed by One Way ANOVA followed by Tukey's test.
The results showed the Annona muricata leaf extract group can lower mitotic index and the score variation in the size of the nucleus cell compared to DMBA group. While based on tubule formation, Annona muricata leaf extract group had a normal visible image of tubules than the DMBA group. Tubules are normal if it has a clear lumen restriction and surrounded by epithelial cells are arranged regularly.