Artikelilmiahs
Menampilkan 6.801-6.820 dari 48.871 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 6801 | 8062 | A1L109026 | PENGARUH MIKORIZA, PUPUK ORGANIK, DAN PUPUK PABRIKAN TERHADAP SIFAT FISIK ULTISOL DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium Ascalonicum L.) | Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh campuran mikoriza jenis gigaspora dan glomus terhadap beberapa sifat fisik tanah Ultisol, menentukan pengaruh pupuk organik, mikoriza, Urea-KCL-SP36, dan kombinasinya terhadap beberapa sifat fisik tanah Ultisol dan menentukan pengaruh pupuk organik, mikoriza, Urea-KCL-SP36, dan kombinasinya terhadap hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian Desa Suro dan Laboratorium Ilmu Tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial berbentuk 23 dengan 8 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari 3 faktor terdiri dari pupuk mikoriza, pupuk organik, pupuk Urea-KCL-SP36. Perlakuan yang dicoba yaitu kombinasi pemberian pupuk hayati, pupuk organik, dan pupuk Urea-KCL-SP36. A (kontrol) B (pemberian pupuk organik) C (pemberian pupuk hayati) D (pemberian pupuk kimia pabrikan) E (pemberian kombinasi pupuk antara hayati dan pupuk organik) F (pemberian kombinasi pupuk hayati mikoriza dan pupuk kimia) G (pemberian kombinasi pupuk kimia dan pupuk organik) H (pemberian kombinasi pupuk pabrikan, hayati, dan organik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk mikoriza jenis gigaspora danglomus tidak menunjukkan pengaruh nyata semua variable sifat fisik tanah.Pemberian pupuk kimia memberikan hasil tertinggi terhadap nilai BBW. Perlakuan Kombinasi mikoriza dan organik berpengaruh nyata terhadap BG, kombinasi mikoriza dan pupuk kimia berpengaruh nyata terhadap nilai BJP, dan Kombinasi pupuk kimia dan pupuk organik berpengaruh nyata pada hasil bawang merah | This research aimedis to determinethe effect of a mycorrhizal mixture of a types of gigaspora and glomus against some physical properties of Ultisols, tostudy the effect of organic fertilizer, mycorrhizae, Urea-KCL-SP36 , and a combination of some physical properties of Ultisols, tostudy the effect of organic fertilizer, mycorrhizae, Urea-KCL-SP36, and the combinations on the outcome ofonion. The research was conducted at the village farmland Suro, Kalibagor, Banyumas and Laboratory of soil science. The research was conducted from June to September 2013.The research used randomized block design at a formot with 23 with 8 treatment combinations and three replications. The treatment consisted of three factors, namely mycorrhizal fertilizers, organic fertilizers, urea-KCl- SP36 . Treatment attempted were combination of biological fertilizer, organic fertilizer, and Urea-KCL-SP36. The combination treatments were: A (control), B (organic fertilizer), C (biologicalfertilizer), D (chemicalfertilizer), E (a combination of biological fertilizerand organic fertilizers), F (a combination of organic fertilizers and chemicalfertilizer), G (a combination of chemical fertilizersand biological), H (a combination of chemical fertilizers, biological, and organic). The results showed thata biological fertilizer gigaspora and a glomus mycorrhizal hadn effect on all variablesof soil physical properties. The combination of mycorrhizae and organic treatment significantly affected theroll limit, Chemical fertilizer manufacturer gives the highest yield of the value of the boundary change color,The treatment a combination of biological fertilizer and chemical fertilizer significantly affectthe value of the particle density, and The combination of chemical fertilizer and organic fertilizera significant effect on the out come of onion | |
| 6802 | 8064 | A1L009065 | PENGARUH UMUR PINDAH TANAM TERHADAP UMUR PANEN DAN INDEKS PANEN PADI VARIETAS CIHERANG PADA BUDIDAYA AEROB DAN ANAEROB | Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui umur pindah tanam yang terbaik terhadap umur panen dan indeks panen padi varietas Ciherang, 2) Membandingkan kondisi aerob atau anaerob pada umur panen dan indeks panen padi varietas Ciherang,3) Mengetahui ada tidaknya interaksi umur pindah tanam dan kondisi aerob serta anaerob terhadap umur panen dan indeks panen padi varietas Ciherang. Penelitian ini dilakukan di screen house, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dilaksanakan mulai Mei sampai Agustus 2013. Faktor yang pertama yang dicoba yaitu umur pindah tanam terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu umur pindah tanam 12 hari (C1), umur pindah tanam 17 hari (C2), umur pindah tanam 22 hari (C3), umur pindah tanam 27 hari (C4). Faktor kedua yaitu kondisi tidak tergenang air (aerob) dan kondisi tergenang (anaerob). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan umur pindah tanam berpengaruh nyata terhadap bobot gabah per rumpun, bobot batang kering, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif. Perlakuan kondisi budidaya aerob dan anaerob berpengaruh terhadap variabel bobot gabah per rumpun, bobot 1000 biji, bobot batang kering, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, dan indeks panen. Tidak terdapat interaksi pada semua variabel antara umur pindah tanam dengan kondisi aerob maupun anaerob terhadap pertumbuhan dan hasil padi varietas Ciherang. | his research aimed 1) Determine to the optimum of transplanting time on growth and yield of rice varieties Ciherang, 2)Observe the effect of aerobic or anaerobic cultivation the optimum on growt and yield of varieties ciherang, 3) Observe the interaction effect on transplanting time and aerobic and anaerobic cultivation environments toward growth and yield of rice ciherang varieties. This research was conducted at the screen house, Faculty of Agriculture, University General Sudirman, Purwokerto was conducted from May to August 2013. The first factor is transplanting time consisted of 4 time of transplanting they are 12 days after seedling (C1), 17 daysafter seedling (C2), 22 daysafter seedling (C3),27 days afterseedling(C4). The second factor is not flooded conditions (aerobic) and flooded conditions (anaerobic). Research using complete randomized block design (RAKL) with 3 replications. The results showed that transplanting time shows the effect of the variable grain weight per hill , stem dry weight, total number of tillers, number of productive tiller . Treatment cultivation of aerobic and anaerobic conditions showed effect on variable grain weight per hill , weight of 1000 seeds, stem dry weight, total number of tillers, number of productive tillers and harvest index. There is no interaction between transplanting time aerobic and anaerobic conditions on the growth and yield of rice Ciherang varieties. | |
| 6803 | 8063 | A1L009053 | PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI MIKORIZA, KOMPOS, DAN N, P, K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUNCIS TEGAK PADA ULTISOL | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pupuk hayati mikoriza, pupuk kompos dan N, P, K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 dilahan petani di Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), perlakuan dirancang dalam bentuk faktorial lengkap 23 sehingga diperoleh delapan kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali,jadi terdapat 24 unit percobaan. Faktor yang dicoba adalah pemberian pupuk hayati mikoriza,pupuk kompos dari limbah jamur tiramdan pupuk N, P, K.Analisis hasil penelitian menggunakan analisis faktorial dan HSD 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Pupuk kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah daun, sedangkan pupuk N, P, K dengan dosis 50% dan pupuk hayati mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan luas daun tanaman buncis tegak yang ditanam pada tanah ultisol. 2). Pupuk kompos dapat meningkatkan jumlah polong per tanaman, sedangakan pupuk N, P, K dengan dosis 50% dapat meningkatkan bobot polong per tanaman dan bobot polong per petak buncis tegak yang ditanam pada tanah ultisol, dengan bobot 611,11 g/2,80m2. | This research aims to study the effects of mycorrhiza biofertilizer, compost and N, P, K on growth and yield of kidney bean. Research conducted in June to Augustust 2013 on farmers land in the village of Suro,sub-district of Kalibagor, Banyumas Regency. The research was conducted using a Randomized Block Design (RBD), treatment is designed in the form of full factorial 23 so retrieved eight combinations of treatment and each treatment was repeated three times, so that the obtained experimental unit 24. The factors arebiofertilizer of mycorrhizae, compostfrom waste oyster mushroomand N, P, K. Analysis of the results of research using the factorial analysis, and HSD 5%. The research results showed that 1). Compost can increase growth of plant height, the number of branches and number of leaves, while the amount of fertilizer N, P, K with a dose of 50% and mycoriza biofertilizer can increase the leaf area of kidney beans grown on the ultisol. 2) The compost can increase the number of pods per plant, while the fertilizer N, P, K with a dose of 50% can increase the weight of pods each plant and the weight of an upright swath of beans each pod is grown on ultisol soil. With weight 611,19 g/2,80m2. | |
| 6804 | 8050 | A1L009034 | PENGARUH DOSIS PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SEPULUH VARIETAS PADI SAWAH PADA JENIS TANAH INCEPTISOL DAN ULTISOL | Penelitian bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh perbedaan jenis tanah inceptisol dan ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil dari sepuluh varietas padi sawah berdaya hasil tinggi, (2) mengetahui dosis pupuk N optimal varietas padi sawah yang efisien N pada inceptisol dan ultisol, (3) mendapatkan kultivar varietas padi sawah pada inceptisol dan ultisol. Penelitian dilaksanakan di Screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Mulai Maret sampai dengan Agustus 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor yang diteliti terdiri atas varietas, dosis pemupukan dan jenis tanah. Variabel yang diamati meliputi beberapa variabel pertumbuhan vegetatif, komponen hasil tanaman, dan keefisienan pemanfaatan N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanah inceptisol memberikan pertumbuhan dan hasil sepuluh varietas padi sawah dengan rerata 13,5 ton/ha yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah ultisol 9,7 ton/ha. Dosis pemupukan N optimum pada tanah inceptisol adalah 113 kg N/ha setara dengan 245 kg Urea/ha, dan pada tanah ultisol 126 kg N/ha setara dengan 273 kg Urea/ha.Varietas padi sawah yang bisa dipilih menjadi kultivar berdaya hasil tinggi, berefisien tanggap pemupukan N pada inceptisol dan ultisol adalah varietas Ciherang dan Bondojudo. | This study aims to : (1) determine the effect of different soil types and inceptisol ultisol on growth and yield of ten varieties of rice paddy fields, (2) determine the optimal level of fertilizer N efficient varieties of rice paddy N inceptisol and ultisol soil, (3) get cultivar of paddy rice in the inceptisol and ultisol soil. This research has been carried out in the Screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University This study was from March to August 2013. The experimental design used in this study was Randomized Complete Block Design (RCBD). The Factors of study consisted of varieties, fertilizer dosage and type of soil. Variables are included of some variables observed vegetative growth and crop yield components and efisien of N. The results showed that soil inceptisol provides growth and yield of ten varieties of paddy rice (13,5 tons/ha) compared with the ultisol (9,7 tons/ha). Optimal level of N fertilization on soil inceptisol is 113 kg N / ha equivalent to 245 kg Urea / ha, and the ultisol 126 kg N / ha equivalent to 273 kg Urea / ha. Paddy rice varieties that can be chosen to be high yielding cultivars, responsive-efficiency N fertilization on inceptisol and ultisol are Ciherang and Bondojudo. | |
| 6805 | 10174 | B1J010130 | PRODUKSI INOKULUM MIKORIZA VESIKULA ARBUSKULA MENGGUNAKAN Pueraria javanica DAN Zea mays PADA MEDIA ZEOLIT DAN ARANG SEKAM DENGAN RASIO BERBEDA | Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA) dapat berasosiasi dengan ±90% familia tumbuhan yang ada dan pemanfaatan MVA dalam membantu pertumbuhan tanaman pada tanah marginal dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga perbanyakannya perlu dilakukan. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui interaksi antara media tanam zeolit dan arang sekam dengan rasio berbeda dan jenis tanaman inang terhadap produksi inokulum MVA dan mengetahui interaksi terbaik antara media tanam zeolit dan arang sekam dan jenis tanaman inang untuk produksi inokulum MVA. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama berupa komposisi media tanam yang terdiri dari 100% zeolit, campuran 75% zeolit + 25% arang sekam, campuran 50% zeolit + 50% arang sekam, campuran 25% zeolit + 75% arang sekam dan 100% arang sekam. Faktor kedua berupa jenis tanaman yaitu P. javanica dan Z. mays. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati meliputi derajat infeksi dan jumlah spora. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Ragam pada tingkat kesalahan 5% dan 1%, apabila perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara media zeolit dan arang sekam pada komposisi yang berbeda dengan jenis tanaman inang untuk produksi spora MVA sehingga tidak dihasilkan interaksi terbaik antara keduanya. | Vesicular arbuscular mycorrhiza (VAM) can interact symbiotically with ±90% plant families and it is commonly used to aid the growth of plant species in marginal soil so that production of VAM inoculum is needed. A research aimed to find out the interaction effect between plant growth medium i.e. zolite and rice charcoal with different composition and plant host i.e. Pueraria javanica and Zea mays to the production of VAM and to find out the best interaction between the plant growth medium and the plant host to the production of VAM. This research used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) in a factorial pattern with two factors. The first factor was the plant growth medium consisted of 5 levels i.e. 100% zeolite, the composition of 75% zeolit + 25% rice charcoal, 50% zeolite + 50% rice charcoal, 25% zeolite + 75% rice charcoal and100% rice charcoal, while the second factor was the plant growth i.e. P. javanica and Z. mays.Furthermore, each treatment was replicated 3 times. Parameters were the number of spore and the percentage of root infection of VAM. Results of this experiment showed that there were no interaction effect between medium composition and plant host to the number of spore and there were no the best interaction of them. | |
| 6806 | 13097 | A1H008043 | ANALISA KEBUTUHAN ENERGI DAN EMISI CO2 PADA PENGALENGAN RENDANG DI UPT BPPTK LIPI YOGYAKARTA | Rendang kaleng adalah produk yang dihasilkan dengan menggunakan proses pengalengan. Proses pengalengan rendang memerlukan energi. Setiap proses pengalengan rendang mengeluarkan emisi CO2. Audit energi bermanfaat untuk mengetahui jumlah energi yang dibutuhkan serta mengetahui emisi CO2 yang muncul pada proses pengalengan rendang. Tujuan penelitian ini antara lain: (1) Mengetahui kebutuhan energi dan emisi CO2 dengan menggunakan alat produksi berkapasitas 1.000 kaleng/hari. (2) Mengetahui kebutuhan energi dan emisi CO2 dengan menggunakan alat produksi berkapasitas 10.000 kaleng/hari. (3) Mengetahui perbandingan kebutuhan energi pada proses pengalengan rendang kapasitas 1.000 dan 10.000. Penelitian dilaksanakan di gedung proses pengalengan di UPT BPPTK LIPI, Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2012. Variabel data penelitian ini meliputi energi manusia, energi bahan bakar, energi listrik, emisi CO2, dan nilai kebutuhan energi proses pengalengan rendang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai perbandingan kebutuhan energi proses pengalengan rendang pada alat produksi berkapasitas 10.000 kaleng/hari sebesar 41,9731 % lebih efisien dibandingkan alat produksi berkapasitas 1.000 kaleng/hari. Nilai tersebut menunjukkan total penggunaan energi untuk memproduksi 1 kaleng rendang dengan menggunakan alat kapasitas besar membutuhkan 41,9731 % lebih sedikit dibandingkan konsumsi energi dengan menggunakan alat produksi berkapasitas 1.000 kaleng per hari Berdasarkan perhitungan, kebutuhan energi pada alat pengalengan kapasitas 1.000 kaleng per hari sebesar 429,2849 MJ dengan meghasilkan emisi 21.377,5 g CO2, sedangkan kebutuhan energi pada alat pengalengan kapasitas 10.000 kaleng per hari sebesar 1832,2990 MJ dengan meghasilkan emisi 42943,84 g CO2. Kebutuhan energi untuk memproduksi satu rendang kaleng dengan mengunakan alat berkapasitas 1.000 kaleng per hari yaitu 0,42929 MJ sedangkan dengan menggunakan alat berkapasitas 10.000 kaleng per hari yaitu 0,1801864 MJ. | Canned Rendang is a products which produced by using canning process. Rendang canning process require energy and each process will emit CO2. Energy audit is used to determine amount of energy required and to determine the CO2 emitted along rendang canning process. The purpose of this study are : (1) Determine the amount of energy required and CO2 emissions by using the production machine 1,000 cans / day capacity. (2) Determine the amount of energy required and CO2 emissions by using the production machine 10,000 cans / day capacity. (3) Determine the comparison of nergy requisites by using the production machine 1,000 cans/day with the production machine 10,000 cans/day. Research conducted at UPT BPPTK LIPI, gading Village, sub-districts Playen, district Gunung Kidul. The research was conducted from April to July 2013. The data variable of this research include human energy, fuel energy, electrical energy, CO2 emissions, and the energy requisites value of rendang canning process. The research’s result show that comparison energy value of rendang canning process by using the production machine 10,000 cans/day capacity is 41,9731 % more efficient than using the production machine 1,000 cans / day capacity. The value refer total usage energy to produce 1 rendang can by use the big machine only require 41,9731 % less than small machine. Based calculation, required energy on canning machine 1,000 cans/day capacity is 429.2849 MJ with the CO2 emission is 21377.5 g CO2, whereas required energy on canning machine 10,000 cans/day capacity is 1832.2990 MJ with the CO2 emission is 42943.84 g CO2. Usage energy to produce 1 rendang can using the production machine 1,000 cans / day capacity is 0.42929 MJ, whereas using the production machine 10,000 cans / day capacity is 0.1801864 MJ . . | |
| 6807 | 10175 | F1C010021 | Branding Perguruan Tinggi Negeri (Studi Kasus Strategi Marketing Public Relations Universitas Jenderal Soedirman) | Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui diferensiasi dari brand Universitas Jenderal Soedirman, untuk mengetahui strategi yang dilakukan Marketing Public Relations dalam melakukan branding Universitas Jenderal Soedirman, dan Untuk mengetahui media yang digunakan oleh Marketing Public Relations untuk melakukan branding Universitas Jenderal Soedirman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pemilihan informan utama dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling dan accidental sampling untuk teknik pemilihan informan pendukung. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa diferensiasi Universitas Jenderal Soedirman terlihat dari identitas visual dan non visual nya. Secara visual identitas Universitas Jenderal Soedirman terlihat dari logo dan patung Jenderal Soedirman. Secara non visual, terlihat dari karakter Jenderal Soedirman yang pantang menyerah, tegas dan berani. Kearifan lokal juga menjadi bagian dari identitas Universitas Jenderal Soedirman. Strategi Marketing Public Relations Universitas Jenderal Soedirman dalam melakukan branding menggunakan tiga dari lima langkah dalam melakukan branding. Pertama, adalah dengan brand campaign, mengkampanyekan/mengkomunikasikan berbagai prestasi yang di peroleh mulai dari prestasi mahasiswa, dosen, dan institusi. Kedua, brand recognition melakukan positioning secara berulang melalui berbagai kegiatan yang menjurus kepada postioning sebagai World Class Civic University. Ketiga, brand preference, dengan membuka Program Doktor untuk program S3 Ilmu Biologi dan program S3 Ilmu Manajemen, dan Program Studi Pendidikan. Media yang digunakan oleh Marketing Public Relations Universitas Jenderal Soedirman adalah media cetak dan elektronik, baik media sendiri maupun media berdasarkan kerjasama. Untuk media sendiri, Marketing Public Relations website, kliping online, dan buletin Suara Soedirman. Untuk media yang digunakan berdasarkan kerjasama, Marketing Public Relations menggunakan media cetak seperti radar banyumas dan suara merdeka, sedangkan untuk media elektroniknya menggunakan RRI Purwokerto, Dian Swara dan BMS TV. | The purpose of this research is to determine the differentiation of the brand University of Jenderal Soedirman, to decribe the strategies that conducted by Marketing Public Relations in branding University of Jenderal Soedirman, and to know about the media used by the Marketing Public Relations in branding University of Jenderal Soedirman. The method used in this research is qualitative research by case study approach. The main informant selection method in this research is purposive sampling and for the support informant selection is accidental sampling. The data are obtained by in-depth interviews, observation and documentation. The results of this research indicate that the diferentiation of University of Jenderal soedirman can be seen from visual and non visual identity. The visual identity reflected in logo and sculpture of Jenderal Soedirman. For non visual identity, can be seen from the character of Jenderal soedirman which is never give up, brave dan distinct. Local wisdom also part of identity of University of Jenderal Soedirman. Marketing public relations of University of Jenderal Soedirman in branding strategy used three of the five steps in branding which has been proposed by Rd.Soemanagara. Firstly is the brand campaign, which include communicating various achievements obtained. Second, brand recognition doing positioning repeatedly through a various activities that lead to positioning as a World Class Civic university. Third, brand preference, by opening the doctoral program for biology science and management science, and also education courses. Media used by marketing public relations of University of Jenderal Soedirman is print and electronic media. University of Jenderal Soedirman have their own media, there are website of Marketing Public Relations, online clippings, and Suara Soedirman bulletin. For media partnership, Marketing Public Relations use printe, there are seperti Radar Banyumas and Suara Merdeka. While for electronic media, there are RRI Purwokerto, Dian Swara and BMS TV. | |
| 6808 | 10176 | B1J010146 | Karakteristik Morfologi Varietas Pepaya (Carica papaya L.) DI Wilayah Kabupaten Banyumas | Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman herba berupa pohon dari familia Caricaceae yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat, bahkan kawasan sekitar Meksiko dan Costa Rica. Tanaman pepaya banyak ditanam, baik di daerah tropis maupun subtropis atau di daerah dataran rendah dan pegunungan. Varietas pepaya yang banyak diusahakan di Indonesia adalah tipe pepaya dengan ukuran buah yang besar dan berasal dari pepaya hermafrodit. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui karakteristik variasi morfologi Carica papaya dan (2) untuk mengetahui hubungan kemiripan varietas Carica papaya yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel acak terpilih terhadap tanaman pepaya yang tersedia yaitu dengan melihat karakteristik morfologi tanaman. Data karakter morfologi dari tanaman pepaya yang ditemukan, selanjutnya dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui variasi morfologi serta hubungan kemiripan dengan UPGMA menggunakan software MEGA 5.0. Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa karakteristik Carica papaya pada tiap varietasnya sangat bervariasi. Variasi tiap varietasnya dapat terlihat pada bentuk buah, warna daging buah, rongga buah, daun dan tangkai daun. Didapatkan 10 varietas dari Carica papaya, yaitu C. papaya ‘Item’, C. papaya ‘California’, C. papaya ‘Bangkok’, C. papaya ‘Ijo’, C. papaya ‘Mas’, C. papaya ‘Red Laddy’, C. papaya ‘Jingga’, C. papaya ‘Hawaii’, C. papaya ‘Meksiko’, C. papaya ‘Gantung’. Hubungan kemiripan yang terdekat pada varietas ‘California’ dan varietas ‘Red Laddy’ dengan indeks dissimilaritas 0.050. Hubungan kemiripan yang paling jauh pada varietas ‘Mas’ dan varietas ‘Meksiko’ dengan indeks dissimilaritas 0.296 | Papaya (Carica Papaya L.) is one of herbal plant that comes from Caricaceae family, that comes from Middle America and spread to West Hindia, Meksiko and Costa Rica. Most papaya plant are cultivated, both in tropical area or sub-tropical area in low land and mountain. Variety of papaya that most is planted in Indonesia is big papaya because of big size of fruit which comes from hermafrodit papaya. This research to (1) identify variation in Carica papaya morphology that lived in and (2) to identify a similarity relationship between variety of Carica Papaya that grow in Banyumas Residence. This research used survey method with puposive random sampling. Data were analyzed for similarity relationship with UPGMA. The data of accidence characteristic of papaya plant (Carica Papaya) that founded, will be analyzed descriptively to identify the variety of these. The result showed that there were 10 varieties of papaya that were widely spread in 8 district Banyumas regancy, which are C. papaya ‘Item’, C. papaya ‘California’, C. papaya ‘Bangkok’, C. papaya ‘Ijo’, C. papaya ‘Mas’, C. papaya ‘Red Laddy’, C. papaya ‘Jingga’, C. papaya ‘Hawaii’, C. papaya ‘Meksiko’, C. papaya ‘Gantung’. Variation in Carica papaya include to shape and hole of the fruit, leaves shape. The closest similarity relationship wa between “California” variety and “Red lady” variety with dissimilarity index of 0.050. Meanwhile the most far similar relationship come from variety of “Mas” and variety of “Meksiko” with dissimilarity of index is 0.296. | |
| 6809 | 8066 | F1F009076 | AN ANALYSIS OF TRANSLATION TECHNIQUES AND THE QUALITY OF TRANSLATION OF JOKES IN ENGLISH | Abstrak Seorang penerjemah yang baik harus bisa menemukan makna yang paling tepat dari teks dalam bahasa sumber ke teks di bahasa sasaran. Itu sebabnya penerjemah membutuhkan beberapa teknik untuk mencapai makna yang sama sehingga pembaca teks di bahasa sasaran akan mendapatkan ide yang sama seperti pembaca teks dalam bahasa sumber. Dalam studi ini, peneliti berfokus pada teknik penerjemahan teks yang ditemukan di buku Jokes in English berdasarkan teori dari Molina dan Albir. Peneliti juga menganalisis akurasi, keberterimaan dan keterbacaan terjemahan menggunakan penilaian kualitas terjemahan oleh Nababan,dkk. Peneliti menganalisis apakah penerjemah dari buku Jokes in English menyampaikan pesan secara akurat, berterima dan terbaca seperti yang ada pada bahasa sumber atau tidak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Peneliti mengambil bab pertama dalam buku sebagai sampel dalam penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan teori Molina dan Albir dan penilaian kualitas terjemahan oleh Nababan,dkk. Dalam penelitian ini, peneliti mengklasifikasikan teknik yang ada dalam objek yang ada. Di dalam analisis kualitas penerjemahan, peneliti memberikan kuesioner kepada para penilai dan hasilnya berdasarkan nilai yang telah diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penelitian ini penerjemah menemukan 10 teknik yaitu literal, amplification, reduction, particularization, established equivalent, variation, generalization, adaptation, modulation dan calque. Selanjutnya, teknik teknik ini dapat dibagi menjadi 3 teknik dominan yaitu literal, literal dan generalization, literal dan reduction. Berdasarkan analisis teknik penerjemahan, 35 data atau 92,1% menggunakan teknik literal. Artinya, terjemahan literal adalah teknik yang paling dominan digunakan dalam buku Jokes in English. Dari temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerjemah cenderung untuk mempertahankan karakteristik teks dalam bahasa sumber di dalam bahasa sasaran. Kualitas terjemahan dalam buku Jokes in English adalah akurat, berterima dan terbaca dalam bahasa sumber ke dalam teks di bahasa sasaran. Kualitas terjemahan tersebut dapat terlihat dari prosentase yang diperoleh, 81,6% akurat, 71,1% berterima dan 73,7% terbaca.Teknik-teknik yang digunakan oleh penerjemah menjadikan terjemahan teks akurat, berterima dan terbaca oleh para pembaca. Kata Kunci: Humor, teknik, akurasi, keberterimaan, keterbacaan. | Abstract A good translator must find the most appropriate meaning of the source language text to the target language text. Therefore, a translator needs techniques in order to achieve same meaning so that the target language text readers will get the same idea as that of the source language text readers. In this study, the researcher focused on the translation techniques found in the Jokes in English book based on Molina and Albir theories. The researcher also analyzed accuracy, acceptability and readability of the translation using translation quality assessment proposed by Nababan,et.al. This research applied qualitative research method. The researcher took the first chapter of Jokes in English book as the sample of this research. The data were analyzed using Molina and Albir’s theories and translation quality assessment suggested by Nababan,et.al. In this research, the researcher classified the data based on the technique used in this chapter. In the translation quality assessment analysis, the researcher gave the questionnaire to the raters and the results of the assessment based on the scores given by the raters. The result of the research shows there are 10 techniques; literal, amplification, reduction, particularization, established equivalent, variation, generalization, adaptation, modulation and calque. Based on dominant technique it can be divided into 3 techniques applied by the translator i.e. literal, literal and generalization, literal and reduction. Based on the analysis of the translation techniques, 35 data or 92.1% belong to literal translation. It means literal translation is the most dominant technique used in the Jokes in English book. From the findings, it can be concluded that the translator tends to maintain the characteristics of the source language text in the target language text. The translation of Jokes in English is accurate, acceptable and readable. It can be seen from the result which shows that 81.6% of the data are accurate, 71.1% are acceptable and 73.7% are readable. The techniques that the translator uses in translation make the translation accurate, acceptable and readable for the target readers. Keywords: Humor, Techniques, Accuracy, Acceptability, Readability. | |
| 6810 | 8065 | A1L009022 | PENENTUAN KULTIVAR DAN DOSIS OPTIMUM PEMUPUKAN N PADI SAWAH PADA INCEPTISOL DAN ULTISOL DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian bertujuan untuk: 1) Mengetahui pertumbuhan dan hasil varietas padi sawah pada dosis pemupukan N dan jenis tanah berbeda. 2) Memilih varietas berdaya hasil tinggi dan efiisien tanggap pemupukan N sebagai kultivar untuk Kabupaten Banyumas. 3) Mengetahui dosis optimum pupuk N pada jenis tanah berbeda varietas padi sawah terpilih sebagai kultivar untuk Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan di Screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, selama enam bulan dari Maret sampai dengan September 2013. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga kali ulangan. Faktor yang diteliti terdiri atas varietas (V), dosis pemupukan N (U) dan jenis tanah (T). Variabel yang diamati terdiri atas komponen pertumbuhan, hasil, dan karakter fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan, pemupukan sampai 200 kg N per hektar dapat meningkatkan pertumbuhan dan pemupukan 100 kg N per hektar dapat meningkatkan hasil semua varietas yang dicoba. Inceptisol memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan Ultisol pada pertumbuhan dan hasil padi sawah. Varietas yang berpotensi menjadi kultivar berdaya hasil tinggi dan efisien tanggap pemupukan N untuk Kabupaten Banyumas yaitu Ciherang dengan dosis optimum pemupukan 113 kg N per hektar pada Inceptisol dan 117 kg N per hektar pada Ultisol. | The research aims to: 1) know the growth and yield lowland rice varieties at different N fertilization dosage and soil types. 2) select high yielding varieties and responds efiisien to N fertilization by as cultivars for Banyumas district. 3) know the optimum dosage of N fertilizer at different soil types for rice varieties selected as cultivars for the district of Banyumas. This research had been carried out in the screen house at Faculty of Agriculture, Jenderal Sudirman University, for six months, from March to September 2013. Experiment was arranged in a Randomized Block Design Complete with three replications. The factors studles consisted of varieties (V), dosage of N fertilizer (U) and soil type (T). The observed variable consisted at growth, yield component and physiological characteristics. The results showed that fertilization up to 200 kg N per hectare could improve the growth and fertilization at 100 kg N per hectare could improve the productivity of all lowland rice varieties. Better effect than Ultisol of Inceptisol gave. The potentiall variety to be high yielding cultivar and efficient response to N fertilization for Banyumas district was Ciherang with the optimum dosage of N fertilizer 113 kg N per hectare in Inceptisol and 117 kg N per hectare in Ultisol. | |
| 6811 | 8069 | A1L010038 | PEMANFAATAN AGENS HAYATI PADA TANAMAN PADI DAN PENGARUHNYA TERHADAP SERANGAN SERANGGA HAMA DAN HASIL PANEN | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui jenis serangga hama yang menyerang pertanaman padi dan pola penyebarannya,(2) Mengetahui pengaruh aplikasi beberapa agens hayati (mikroba antagonis) terhadap tingkat serangan hama,(3) Mengetahui pengaruh aplikasi agens hayati (mikroba antagonis) tersebut terhadap hasil tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, selama 4 bulan (bulan April sampai Juli 2013). Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari aplikasi Plant growth promoting rhizobacter (PGPR), Corynebacterium sp (Coryne) dan Pseudomonas fluorescens (Bio P60). Jenis perlakuan tersebut adalah: (A) PGPR + Coryne, (B) PGPR + Bio P60, (C) PGPR + Coryne + Bio P60 (aplikasi Coryne dan Bio P60 dilakukan secara bergantian), (D) Cara petani (tanpa agens hayati). Variabel yang diamati adalah jenis hama berdasarkan fenologi tanaman, pola penyebaran serangga hama, tingkat kerusakan, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, jumlah daun, bobot gabah kering, jumlah bulir. Hasil penelitian menunjukkan serangga hama yang menyerang tanaman padi adalah ulat daun, belalang, hama putih palsu, penggerek batang, walang sangit dan wereng coklat. Serangga hama itu menyebar menurut waktu sesuai dengan kebutuhan makanannya (fenologi tanaman). Wereng coklat menyebar secara reguler cenderung mengelompok. Aplikasi agens hayati terhadap pertanaman padi tidak menurunkan tingkat kerusakan tanaman padi terhadap serangga hama secara nyata. Tingkat kerusakan akibat serangan hama masih dapat ditoleransi oleh tanaman. Aplikasi agens hayati terhadap pertanaman padi tidak meningkatkan hasil tanaman secara nyata. Hasil yang diperoleh sedang yaitu 5,15 ton/ha | The aims of the study were to: (1) know of insect pests that attack rice crops and their distribution patterns, (2) know of the influence of applications several biological agents (microbial antagonist) on the level of insect attack, (3) to evaluate the influence of application of biological agents (microbial antagonist) is the yields. This research was conducted at Village of Tingarjaya, Jatilawang, Banyumas, during 5 months (March to July 2013). Experimental design used was random completely block design (RCBD), 4 treatments and 5 replications. The treatments consisted of application of Plant growth promoting rhizobacter (PGPR), Corynebacterium sp (Coryne) and or Pseudomonas fluorescens (Bio P60). The treatments was (A) PGPR + Coryne, (B) PGPR + Bio P60, (C) PGPR + Coryne + Bio P60 (application of Coryne and Bio P60 was conducted alternately), (D) The farmer’s way (without biological agents). Observed variables were kind of insect pests based on plant phenology, the pattern of insect distribution, the level of damage, number of tillers, number of productive tillers, number of leaves, weight of grains, and number of grains. The result showed there were some insect pests that attack the rice crops such as grasshoppers, leaf caterpillars, leaf folder, steam borers, rice bugs, and brown planthoppers. Insect pests that distributed according to time as well as the needs of food (crop phenology). Brown planthoppers distributed regularly tend to aggregate. Applications of biological agents, did not decrease crop damage significantly. Applications of biological agents did not cause increase the yields significantly. The yields was moderate, 5.15 ton / ha. | |
| 6812 | 8067 | A1L009057 | KAJIAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH PADA PENGHAMBATAN N-NO3- DARI N–NH4+ UREA OLEH N-SERVE PADA TANAH PASIR PANTAI | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) takaran pupuk urea yang berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, 2) takaran N-serve yang dapat menghambat terbentuknya N-NO3- dari N-NH4+ urea dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, dan 3) interaksi antara takaran N-serve dengan pupuk urea yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman mulai Juni sampai September 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu takaran pupuk Urea dan N-serve dengan 3 taraf perlakuan. Variabel yang diamati meliputi komponen pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian N-serve takaran 0,25 kg/ha hanya dapat meningkatkan tinggi tanaman. Pemberian pupuk urea takaran 50 kg/ha dapat meningkatkan tinggi tanaman, bobot umbi segar dan kering per rumpun, serta indeks panen, namun menurunkan bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, bobot akar segar, panjang akar terpanjang, dan volume akar. Tidak terdapat interaksi antara takaran N-serve dan pupuk urea pada semua variabel pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di tanah pasir pantai. | This study aims to determine : 1) dose of urea fertilizer effect on growth and yield of shallots, 2) the dose of N-serve, which can inhibit the formation of N-NO3- from N-NH4 of urea on sand soil, and the effect on growth and yield of shallots, and 3) the interaction between the dose of N-serve with urea fertilizer which can improve the growth and yield of shallots in coastal sand land soil. The experiment was conducted at the screenhouse Faculty of Agriculture, JenderalSoedirman University. The experiment was conducted from June to September 2013. This research using a Randomized Completely Block Design with 3 replications. There are two factors with three levels were tested , the first factor is the dose of urea and N-serve. The variables measured were components of growth and yield of shallots. The data were analyzed using F test at 5% error level. The results showed that application N-serve dose of 0,25kg/ha can increase plant height and no effect on other variables. Application urea fertilizer dose of 50 kg/ha can increase plant height, weight of fresh and dry tuber per hill, and harvest index. However, decrease the weight of the plants provide fresh, weight of fresh canopy, weight of fresh root, length of the longest root, and root volume. There is no interaction between the dose of N-serve and urea fertilizer on all the growth and yield of shallotsvariables at the coastal sand soil. | |
| 6813 | 11936 | D1E011117 | HUBUNGAN DAYA TAHAN PANAS SAPI FH IMPOR DAN FH LOKAL DENGAN PRODUKSI SUSU DI SATKER PEMBIBITAN DAN BUDIDAYA SAPI PERAH PAGERKUKUH WONOSOBO | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1.) perbedaan daya tahan panas antara sapi FH impor dengan sapi FH lokal, 2.) hubungan antara daya tahan panas sapi FH impor dan sapi FH lokal di tempat penelitian dengan produksi susunya. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan menggunakan sampel 8 ekor sapi FH impor dan 15 ekor sapi FH lokal yang sedang laktasi. Peubah yang diukur adalah temperatur tubuh dan frekuensi nafas pada sapi. Pengukuran dilakukan sebanyak 8 kali dengan selang pengukuran 2 hari sekali. Pengukuran suhu rektal dilakukan 3 kali sehari dan frekuensi nafas diukur 2 kali sehari. Produksi susu diukur pada pagi dan siang hari kemudian dijumlahkan untuk memperoleh produksi susu dalam sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan daya tahan panas yang nyata antara sapi FH lokal dan sapi FH impor (P > 0,05) baik menggunakan metode Rhoad maupun metode Benezzra. Hubungan antara daya tahan panas dengan produksi susu diformulasikan sebagai Y = 7224,751808 + 92,9603834X untuk metode Rhoad dan Y = 46,4304773 + 803,0971628X untuk metode Benezzra. Namun demikian kedua formulasi itu tidak dapat digunakan sebagai penduga, karena nilai R sangat rendah (0,196 dan 0,199). Sehingga dapat disimpulkan bahwa: 1.) tidak terdapat perbedaan angka koefisien daya tahan panas antara sapi FH lokal dan sapi FH impor, 2.) tidak terdapat hubungan antara angka koefisien daya tahan panas dengan produksi susu. | There were two purpose of this study: 1.) to know the difference of heat tolerance coefficient between imported FH lactating cows and local FH lactating cows, 2.) the relationship between heat tolerance coefficient of imported FH lactating cows and local FH lactating cows with milk production in research place. The method of this study was survey method, using a sample of 8 imported FH lactating cows and 15 local FH lactating cows. The parameters measured were body temperature and frequency of breathing in cattle. Measurements carried out as many as 8 times the measurement interval 2 days. Rectal temperature measurement is done 3 times daily at 10:00, 13:00, and 15:00. Frequency of breath measured 2 times daily at 10:00 and 15:00. Milk production is measured in the morning and afternoon then summed to obtain the production of milk in a day. The results showed that there was no difference in heat tolerance coefficient between imported FH lactating cows and local FH lactating cows ( P > 0.05 ) using either a Rhoad method or Benezzra method. The relationship between heat tolerance coefficient could be formulated by Y = 7224,751808 + 92,9603834X to Rhoad method and Y = 46,4304773 + 803,0971628X to Benezzra method. However, the two formulations could not be use predicted due to the multiple R was very low (0,196 and 0,199). In could be concluded that : 1.) there was no difference of heat tolerance coefficient between imported FH lactating cows and local FH lactating cows, 2.) there was no relationship between heat tolerance coefficient of imported FH lactating cows and local FH lactating cows with milk production. | |
| 6814 | 8068 | C1C010072 | PENGARUH STRATEGI SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN TERHADAP KINERJA PADA PERUSAHAAN BULU MATA PALSU DI KABUPATEN PURBALINGGA | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh result control, action control, personal control, dan culture control terhadap kinerja pada perusahaan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 5 perusahaan dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data adalah dengan penyebaran kuesioner, sampel kuesioner yang dapat dianalisis berjumlah 45 kuesioner. Data yang diperoleh diolah menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa result control, action control, personal control, dan culture control secara simultan dan parsial berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pada perusahaan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga. Variabel culture control memiliki pengaruh paling dominan terhadap kinerja pada perusahaan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga. Model persamaan regresi mengindikasikan bahwa kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel kinerja perusahaan sebesar 71,6 persen dan 28,4 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. | The aims of this research is to determine the influences on result control, action control, personal control, and culture control to the performance of the company’s false eyelashes in the Purbalingga Regency. The number of this research sample is 5 company’s by using purposive sampling method. Data collection method used was questionnaire, sample questionnaire that can be analyzed are 45 questionnaires. Data obtained were processed using the technique of multiple regression analysis. The result of this research is showed that result control, action control, personal control, and culture control simultaneously and partially have positive significantly influence on result control, action control, personal control, and culture control to the performance of the company’s false eyelashes in the Purbalingga Regency. Culture control variable have the most dominant effect to the performance of the company’s false eyelashes in the Purbalingga Regency. The goodness of fit of the model indicates that the ability of the independent variables in explaining the performance company’s is only at 71,6 percent and 28,4 percent was explained by other variables. | |
| 6815 | 10178 | F1C010058 | “Feminisme dan Kritik Maskulinitas dalam Film : Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”. | Penelitian ini berjudul “Feminisme dan Kritik Maskulinitas dalam Film Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi feminisme dan kritik maskulinitas yang muncul dalam film Anchorman : The Legend of Ron Burgundy. Metode analisis semiotik dari Roland Barthes adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan metode pengumpulan data menggunakan metode analisis isi film serta studi pustaka yang berkaitan dengan feminisme serta kritik maskulinitas dalam film. Hasil dari penelitian adalah film Anchorman : The Legend of Ron Burgundy merupakan film yang mencoba menggambarkan perjuangan seorang anchorman wanita yang mencoba meraih kesetaraan derajat dalam pekerjaan yang dihambat oleh dominasi kaum pria. Representasi feminisme dan kritik maskulinitas muncul dalam bentuk makna denotasi dan konotasi. Dalam bentuk makna denotasi, feminisme dan kritik maskulinitas muncul dalam dialog-dialog tokoh film serta adegan-adegan dalam film. Sedangkan makna konotasi, dialog-dialog tokoh film serta adegan-adegannya memiliki makna tersirat yang merupakan representasi dari feminisme dan kritik maskulinitas. Feminisme muncul dalam dialog-dialog antara tokoh utama wanita film tersebut, Veronica, dengan Ed Harken, pemimpin redaksi di TV tempat mereka bekerja. Sedangkan representasi kritik maskulinitas muncul dalam bentuk adegan-adegan Ron dan teman-temannya yang mencoba berprilaku maskulin untuk menunjukan dominasi mereka terhadap Veronica. Permasalahan terkait kesetaraan gender dalam film ini muncul karena masih adanya mitos-mitos dalam masyarakat terhadap peran wanita dan pria dalam ruang publik. | The title of this research “Feminism and Masquline Critic in Film Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”. The purpose of this research is to know the representation of feminism and masquline critique that appear in film Anchorman : The Legend of Ron Burgundy. Roland Barthes semiotic analysys method used in this research. Data collection method used is film analytical content method and literature studies that relevant with feminism and masquline critic in film. The result of this research is the film Anchorman : The Legend of Ron Burgundy is a film that describe the struggle of a women anchorman who tried to get equality in her job, the job where dominated by men. Representation of feminism and masquline critic appear in denotation and connotation form. Denotation form of feminism and masquline critic appear on the dialogues of film characters and scenes on film. In connotation form, dialogues of film characters and scenes on film indicate the representation of feminism and masquline critic implicitly. Feminism appear in dialogues between the major women character of this film, Veronica, with Ed Harken, the editor in chief in TV where they worked. Representation of masculine critic appear in Ron and his friends scenes. They tried to act masquline in tend to show their domination to Veronica. The problem about gender equality in this film appear because there is still myths in society about women and men roles in public space. | |
| 6816 | 11224 | F1A011025 | FAKTOR INTENSITAS PENYULUHAN TERHADAP PRODUKTIVITAS PADI DI DESA CANDUK, KECAMATAN LUMBIR, KABUPATEN BANYUMAS THE FACTORS OF COUNSELING INTENSITY TO RICE PRODUCTIVITY IN CANDUK VILLAGE, LUMBIR, BANYUMAS REGION | Pemerintah dalam rangka mensukseskan program pembangunan pertanian memberikan dasar-dasar pengetahuan kepada petani. Penyuluhan adalah cara atau metode yang digunakan untuk memberikan pengetahuan kepada petani dengan tujuan meningkatkan produktivitas padi. Penyuluhan diadakan dengan sasaran petani yang tergabung dalam gapoktan Fajar Baru Desa Canduk. Penyuluhan merupakan proses diskusi antara PPL dengan petani yang didalamnya diajarkan cara-cara yang digunakan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam bertani. Seluruh petani yang ada di Desa Canduk sudah otomatis menjadi anggota poktan, tetapi tidak semua anggota ikut aktif dalam penyuluhan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah persepsi tentang kegiatan penyuluhan, luas kepemilikan lahan dan jarak rumah petani dengan balai pertemuan. Penelitian dengan judul “Faktor Intensitas Penyuluhan terhadap Produktivitas Padi di Desa Canduk, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas” ini bertujuan untuk mengungkap apakah benar persepsi petani dan luas kepemilikan lahan berpengaruh terhadap intensitas petani dalam mengikuti penyuluhan hubungannya dengan produktivitas padi di Desa Canduk. Penelitian ini dilakukan terhadap anggota gapoktan Fajar Baru Desa Canduk. Metode penelitian yang digunakan yaitu survai eksplanatif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling. Adapun rumus yang digunakan mengacu pada rumus Suharsimi Arikunto yaitu, jika subyek diatas 100 maka diambil antara 10%-15% atau 20%-25% tergantung kemampuan peneliti. Proses pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan kuesioner. Adapun analisis data yang dipakai menggunakan korelasi parsial Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persepsi yang baik tentang kegiatan penyuluhan dan luas kepemilikan lahan yang berbeda akan berpengaruh terhadap intensitas petani dalam mengikuti penyuluhan, sedangkan intensitas mengikuti penyuluhan yang dipengaruhi oleh faktor persepsi petani dan luas kepemilikan lahan akan mempengaruhi produktivitas padi yang diperoleh di Desa Canduk. Sebagian besar petani menganggap bahwa penyuluhan memberikan manfaat dan pengetahuan kepada mereka yang akan menunjang produktivitas padi yang diperoleh. Berdasarkan hasil dari peneitian ini maka diperlukan peran serta lembaga desa untuk mendukung setiap kegiatan penyuluhan yang ada dengan cara hadir dalam setiap pertemuan kalompok tani sehingga petani akan lebih termotivasi dalam mengikuti penyuluhan, selain itu untuk menunjang produktivitas padi yang lebih maksimal diperlukan adanya pola tanam yang serempak dalam mengikuti jadwal tanam, mengingat kondisi pengairan pada sawah di Desa Canduk merupakan tadah hujan sehingga kegiatan tanaman dipengaruhi oleh kondisi air hujan yang ada. | In order to succeed the agricultural development program, the government provides basic knowledges to farmers. Counseling is a method to provide knowledges to the farmers in order to increase rice productivity. Counseling is held by having farmers who are joint in Farmers Community (Gapoktan) Fajar Baru in Canduk village as the target. Counseling is done by doing a discussion between the PPL with the farmers who are taught the ways used to overcome the obstacles in farming. All farmers in Canduk village have automatically became a member of Farmers Community (Gapoktan) , but not all members actively participate in the counseling. It is caused by several factors, including the perception about the counseling activity, the land wide and the distance of the farmhouse with the meeting hall. The research entitled "The Factors of Counseling Intensity to Rice Productivity in Canduk Village, Lumbir, Banyumas Region.” aims to describe whether the perception of farmers and the land wide influence on the farmers intensity in joining the counseling and also the effect on rice productivity. This research was carried out to Fajar Baru members in Canduk village. The research used an explanatory survey as the method. The sampling technique in this research is random sampling, which in this sampling technique, the researcher "mix" the subjects in the population so that all subjects are considered equal. The formula which is used in this research is based on a formula from Suharsimi Arikunto saying that if the subject is above 100 then it’s taken between 10% -15% or 20% -25% depending on the ability of the researcher. The data collection processes are observation, interviews and questionnaires. The data analysis that is used is by using partial correlation. The result of this research shows that a good perception of counseling activity and the land wide which different each other will affect toward farmers’ intensity in following the counseling. Meanwhile the intensity of following the counseling affected by farmers’perception factors and the land wide will affect toward the productivity of rice in Canduk village. Most of farmers think that the counseling gives benefits and knowledges for them that support the rice productivity. Based on the result of this research, the participation of village institutions to support the counseling activity by joining the meeting of farmer community is absolutelt needed, so farmers will more triggered in joining the counseling. Besides, to support the rice produktivity in maximum level, the same plant pattern in following the planting schedule is needed regarding with the condition of the irrigation of the rice field in Canduk village which is rainfed so planting activity is affected by the rain. | |
| 6817 | 10300 | P2FB11049 | IMPLEMENTASI PENGARUSUTAMAAN GENDER PADA TAHAP PERENCANAAN PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT ( STUDI KASUS DI DESA PAGERANDONG KABUPATEN PURBALINGGA ) | Kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) mewajibkan perspektif gender menjadi arus utama dalam setiap kebijakan maupun program pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 tahun 2000. Salah satu program yang mengintegrasikan dimensi gender dalam desain programnya adalah Program Penyediaan Sarana Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang bertujuan untuk mengatasi persoalan rendahnya akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta rendahnya derajat kesehatan di pedesaan. Dari beberapa desa penerima Pamsimas, partisipasi masyarakat di Desa Pagerandong terhadap Pamsimas dinilai rendah. Pada saat yang sama sebagian masyarakat Pagerandong dianggap masih menjunjung tinggi kearifan lokal dan relasi yang setara dalam ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pengarusutamaan gender dengan melihat aspek akses, partisipasi, kontrol dan perolehan manfaat (APKM) dalam Tahap Perencanaan Pamsimas di Desa Pagerandong Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Penelitian juga bertujuan untuk menggali faktor apakah yang mendukung atau menghambat implementasi PUG tersebut. Penelitian ini dilakukan di Desa Pagerandong dengan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi PUG belum optimal dilihat dari rendahnya aspek APKM perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Penelitian ini menyimpulkan adanya beberapa faktor yang menghambat implementasi PUG, antara lain masih adanya dikotomi antara ruang publik-domestik, terbatasnya pemahaman pelaksana atas substansi PUG, rendahnya dukungan politik dari elit, lunturnya kearifan lokal yang memberi makna tinggi terhadap perempuan dan pelestarian lingkungan, serta krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pelaksana beserta kebijakan publik yang diusungnya. Di sisi lain, terdapat beberapa faktor pendukung dalam implementasi PUG antara lain dikotomi publik-domestik di Desa Pagerandong yang bersifat lentur dan dapat dinegosiasikan, sikap masyarakat yang relatif terbuka terhadap isu kesetaraan, serta sikap baik dan respon positif dari para pelaksana terhadap kebijakan PUG. Sebagai sebuah kebijakan yang bersifat protektif terhadap kelompok tertentu, dalam hal ini perempuan, PUG yang tujuan akhirnya adalah mencapai keadilan dan kesetaraan dalam implementasinya membutuhkan persamaan makna dan persepsi mengenai PUG itu sendiri. PUG dilaksanakan dengan upaya afirmasi, dengan mendorong perempuan untuk terlibat dalam setiap tahapan program. Kebijakan PUG tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dan beririsan dengan program ataupun kebijakan lainnya. Untuk itu dalam implementasinya PUG perlu didukung dengan aksi-aksi yang tidak hanya bersifat praktis namun juga secara filosofis menyentuh PUG. | Kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) mewajibkan perspektif gender menjadi arus utama dalam setiap kebijakan maupun program pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 tahun 2000. Salah satu program yang mengintegrasikan dimensi gender dalam desain programnya adalah Program Penyediaan Sarana Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang bertujuan untuk mengatasi persoalan rendahnya akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta rendahnya derajat kesehatan di pedesaan. Dari beberapa desa penerima Pamsimas, partisipasi masyarakat di Desa Pagerandong terhadap Pamsimas dinilai rendah. Pada saat yang sama sebagian masyarakat Pagerandong dianggap masih menjunjung tinggi kearifan lokal dan relasi yang setara dalam ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pengarusutamaan gender dengan melihat aspek akses, partisipasi, kontrol dan perolehan manfaat (APKM) dalam Tahap Perencanaan Pamsimas di Desa Pagerandong Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Penelitian juga bertujuan untuk menggali faktor apakah yang mendukung atau menghambat implementasi PUG tersebut. Penelitian ini dilakukan di Desa Pagerandong dengan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi PUG belum optimal dilihat dari rendahnya aspek APKM perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Penelitian ini menyimpulkan adanya beberapa faktor yang menghambat implementasi PUG, antara lain masih adanya dikotomi antara ruang publik-domestik, terbatasnya pemahaman pelaksana atas substansi PUG, rendahnya dukungan politik dari elit, lunturnya kearifan lokal yang memberi makna tinggi terhadap perempuan dan pelestarian lingkungan, serta krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pelaksana beserta kebijakan publik yang diusungnya. Di sisi lain, terdapat beberapa faktor pendukung dalam implementasi PUG antara lain dikotomi publik-domestik di Desa Pagerandong yang bersifat lentur dan dapat dinegosiasikan, sikap masyarakat yang relatif terbuka terhadap isu kesetaraan, serta sikap baik dan respon positif dari para pelaksana terhadap kebijakan PUG. Sebagai sebuah kebijakan yang bersifat protektif terhadap kelompok tertentu, dalam hal ini perempuan, PUG yang tujuan akhirnya adalah mencapai keadilan dan kesetaraan dalam implementasinya membutuhkan persamaan makna dan persepsi mengenai PUG itu sendiri. PUG dilaksanakan dengan upaya afirmasi, dengan mendorong perempuan untuk terlibat dalam setiap tahapan program. Kebijakan PUG tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dan beririsan dengan program ataupun kebijakan lainnya. Untuk itu dalam implementasinya PUG perlu didukung dengan aksi-aksi yang tidak hanya bersifat praktis namun juga secara filosofis menyentuh PUG. | |
| 6818 | 8070 | A1C008002 | KAJIAN KOMPARATIF FINANSIAL USAHATANI CABAI MERAH PETANI MITRA KSU SEJAHTERA ABADI DAN NON MITRA DI DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA | Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan komoditas sayuran yang dapat dikategorikan sebagai komoditas komersial karena sebagian besar ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar. Pelaksanaan usahatani cabai merah di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok petani mitra KSU Sejahtera Abadi dan kelompok petani non mitra. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui besarnya biaya dan pendapatan pada usahatani cabai merah dan perbedaannya (2) mengetahui efisiensi usahatani cabai merah, dan (3) mengetahui Break Even Point (BEP) usahatani cabai merah petani mitra dan non-mitra. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga pada bulan Agustus sampai September 2012 dengan metode survei. Rancangan pengambilan contoh menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan: analisis biaya dan pendapatan; R/C; Break Even Point (BEP) dan uji beda untuk mengetahui perbedaan biaya dan pendapatan antara usahatani cabai merah petani mitra dan non mitra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: rata-rata biaya usahatani cabai merah per hektar petani mitra (Rp44.659.082,70) lebih kecil daripada petani non mitra (Rp47.739.357,55). Hasil uji beda menunjukkan rata-rata biaya produksi per hektar usahatani cabai merah petani mitra berbeda dengan petani non mitra. Rata-rata pendapatan per hektar pada usahatani cabai merah petani mitra (Rp51.666.639,61) lebih besar daripada petani non mitra (Rp51.179.004,52). Hasil uji beda menunjukkan rata-rata pendapatan per hektar usahatani cabai merah petani mitra berbeda dengan petani non mitra. Usahatani cabai merah petani mitra (R/C=2,16) lebih efisien daripada petani non mitra (R/C=2,07) dan masing-masing sudah efisien (R/C>1). Usahatani cabai merah petani mitra mencapai BEP apabila berproduksi sebanyak 792,82 kg dengan harga jual sebesar Rp7.835,27 dan penerimaan sebesar Rp6.211.959,04 per hektar, sedangkan petani non mitra mencapai BEPapabila berproduksi sebanyak 726,20 kg dengan harga jual sebesar Rp8.669,96 dan memperoleh penerimaan sebanyak Rp6.296.125,57 per hektar, dengan demikian BEP petani mitra lebih besar daripada petani non mitra. Hasil produksi dan penerimaan usahatani cabai merah baik petani mitra dan non mitra sudah di atas BEP, sehingga usahatani cabai merah menguntungkan. | Red pepper (Capsicum annuum L.) is a vegetable commodity that can be categorized as commercial commodities because most are intended to satisfy market demand. Implementation of red chili farming at Kutabawa village Karangreja sub-district consists of two groups, namely the partner farmers and non-partner farmers. This study aims to: (1) determine the amount of costs and revenues in the red chili farming and the difference (2) determine the efficiency of farming red chili, and (3) determine Break Even Point (BEP) red chili farmers farming partner and non-partner This research was conducted in Kutabawa village, Karangreja district, Purbalingga regency on August till September 2012 with a survey method. The design of sampling using simple random sampling method. The analytical method used: cost and revenue analysis; R/C; Break Even Point (BEP); and different test to determine differences of costs and income between red chili farming partner farmers and non-partner farmers. The results showed that: the average cost per hectare of red chilli farming partner farmers (Rp44.659.082,70) is smaller than non-partner farmers (Rp47,739,357.56). Different test results showed that the average cost per hectare of red chili farming partner farmers is different with non-partner farmers. Average income per hectare of red chili farming partner farmers (Rp51.666.639,61) is greater than non-partner farmers (Rp51,179,004.52). Different test results showed that the average revenue per hectare of red chili farming partner farmers is different with non-partner farmers. Red chilli farming partner farmers (R/C=2.16) is more efficient than non-partner farmers (R/C=2.07) and each one has been efficient (R/C > 1). Red chili farming partners farmers achieve the BEP when producing as much as 792,82 pounds with selling price of Rp7,835.27 and revenue as much as Rp6.211.959,04 per hectare, whereas non-partner farmers achieve the BEP when producing as much as 726,20 pounds with selling price of Rp8,669.96 and revenue as much as Rp6.296.125,57 per hectare, therefore BEP red chilli farming farmer partners greater than non-partners. Production and revenue of red chilli farming both partner and non-partner farmers already above BEP, so the red chili farming is profitable. | |
| 6819 | 8071 | E1A010234 | TINDAK PIDANA TERHADAP SATWA YANG DILINDUNGI (Studi Putusan No. 151/Pid.B/2013/PN.TTD) | Satwa sebagai salah satu dari kekayaan sumberdaya alam bangsa Indonesia, harus diberikan perlindungan dan pemeliharaan yang baik agar tetap lestari dan hukum sebagai salah satu sarana dalam memberikan perlindungan tersebut. Hal ini yang menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengeluarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UUKH). Namun dengan diberlakukannya aturan tersebut ternyata belum bisa mengatasi permasalahan terkait tindak pidana terhadap satwa. Para pelaku justru tidak takut untuk melakukan tindak pidana terhadap satwa, khususnya satwa yang dilindungi, seperti ditangkap untuk dijual, dibunuh bahkan diawetkan menjadi berbagai souvenir yang bernilai estetika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis mengenai penerapan unsur-unsur tindak pidana dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UUKH), serta dasar pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Perkara No. 151/Pid.B/2013/ PN.TTD. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Pendekatan yuridis-normatif, Spesifikasi Penelitian deskriptif analitis, Pendekatan Masalah yang digunakan meliputi pendekatan Undang-Undang, Pendekatan Konseptual dan Pendekatan Analisis. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa secara umum penerapan unsur tindak pidana pada Pasal 21 ayat (2) huruf a dan b j.o Pasal 40 ayat (2) UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UUKH) dalam Putusan Perkara No. 151/Pid.B/2013/PN.TTD telah terpenuhi, yang pada pokoknya menetapkan terdakwa J terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Memperniagakan satwa yang dilindungi”, sehingga terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 4 (empat) bulan dikurangi masa tahanan. | Animals as one of the nation's wealth of natural resources of Indonesia, should be given the protection and maintenance of good order to remain sustainable and law as a means to provide such protection. This is the basis for the government in issuing Law Act Number 5 Year 1990 about Natural Living Resources Conservation and its Ecosystem (UUKH) . However, with the enactment of the rule was not able to overcome the problems related to criminal acts against animals. These individuals are not afraid to commit criminal acts animals, especially protected animals, such as captured for sale, murdered preserved even be valuable aesthetic souvenirs. The purpose of this research is to determine and analyze about the application of the elements of a criminal act under the Law Act Number 5 Year 1990 about Natural Living Resources Conservation and its Ecosystem (UUKH), as well as the basic of legal considerations by judges in Decision Case Number 151/Pid.B/ 2013/ PN.TTD. Approaching method that used in this research was juridical-normative and the specification of this research was descriptive analytical. In this research also used some problem approach include Statute Approach, Conceptual Approach and Analytical Approach. Based on the result of research, that that the general application of the elements of a criminal act under Article 21 paragraph (2) letter a and b j.o. Article 40 paragraph (2) Law Act Number 5 Year 1990 about Natural Living Resources Conservation and its Ecosystem (UUKH) in Decision Case Number 151/Pid.B/2013/ PN.TTD been fulfilled in judges Decision which essentially sets J defendant legally and convincingly proven guilty of committing a criminal acts “Trade in Protected Animals”, so that defendant sentenced to prison for 4 (four) months jail term reduced. | |
| 6820 | 10179 | H1D010059 | ANALISIS ANGKUTAN SEDIMEN LAYANG (SUSPENDED LOAD) PADA BANGUNAN KANTONG LUMPUR (SETTLING BASIN) BENDUNG GERAK SERAYU | Bendung Gerak Serayu sebagai bangunan pengatur muka air memiliki beberapa bangunan pelengkap salah satunya adalah bangunan kantong lumpur. Kantong lumpur merupakan salah satu bangunan pelengkap bendung yang berfungsi mengendapkan sedimen layang / suspended load yang melewati pintu intake. Besarnya angkutan sedimen layang dipengaruhi oleh beberapa hal seperti tingginya curah hujan, keberhasilan konservasi lahan dan material saluran irigasi yang dilewati. Pada penelitian ini peneliti mencoba untuk menganalisis tentang angkutan sedimen yang terjadi di kantong lumpur bendung gerak serayu baik itu mengenai jumlah angkutan sedimen ataupun periode penggelontoran untuk menjaga keefektifan kantong lumpur. Untuk mengetahui dan memperkirakan jumlah angkutan sedimen layang yang terjadi di kantong lumpur pada penelitian ini menggunakan metode Seksi Hidrometri. Untuk mengetahui besarnya angkutan sedimen layang ada beberapa parameter yang harus diketahui seperti kosentrasi, debit air dan gambar teknis bangunan itu sendiri. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai kosentrasi yang berbeda antara titik pengamatan sebelum di kantong lumpur dan setelah kantong lumpur. Debit sedimen layang yang diendapakan berdasarkan metode seksi hidrometri sebesar 1518,902 ton/hari dan memeliki nilai efisiensi sebesar 60 %. Dengan volume yang diendapkan sebesar 1146,341 m3/hari dan volume efektif kantong lumpur bendung gerak serayu sebesar 9858,708 m3, maka diperlukan periode penggelontoran sedimen yang mengendap selama 9 hari sekali. | Serayu Motion Weir as water level control structures have some complementary buildings one of which is settling basin. Settling basin is one of the buildings that serve complementary weir precipitate suspended load passes through the intake door. The magnitude of suspended load transport is influenced by several things such as high rainfall, the success of land conservation and irrigation material that is passed. In this study, researchers tried to analyze about sediment transport that occurs in settling basin Serayu Motion Weir either on the amount of sediment transport or flushing period to maintain the effectiveness of settling basin. To find and estimate the amount of sediment transport that occurs in settling basin of suspended load in this study using Hydrometric Section. To determine the amount of sediment transport overpass there are several parameters that must be known as concentration, water flow and technical image of the building it self. From the calculation results obtained concentration values are different between the observation point before in the bag after settling basin and silt. Elevated sediment discharge was sedimented by Hydrometric Section method of 1518,902 tonnes / day and own a 60% efficiency rate. With the volume deposited at 1146,341 m 3 / day and the effective volume of settling basin Serayu Motion Weir of 9858,708 m 3, the required period of flushing sediment that settles for 9 days. |