Artikelilmiahs

Menampilkan 48.861-48.871 dari 48.871 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4886152245D1A022199PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN TEPUNG DAUN BAMBU SEBAGAI FEED ADITIF TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN DAN KONVERSI PAKAN DOMBA LOKALPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan tepung daun Waru (Hibiscus tiliaceus) dan tepung daun Bambu tali (Gigantochloa apus) sebagai feed additive dalam pakan konsentrat terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan konversi pakan domba lokal. selama 3 bulan di Dusun II Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah 18 ekor domba lokal jantan dengan umur 1-1,5 tahun dan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental secara in vivo dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah yang terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diuji meliputi: P0 (kontrol: silase tebon jagung + konsentrat), P1 (P0 + 2,49 g tepung daun Waru/kg konsentrat), P2 (P0 + 1,87 g tepung daun Waru + 0,33 g tepung daun Bambu/kg konsentrat), dan P3 (P0 + 1,25 g tepung daun Waru + 0,65 g tepung daun Bambu/kg konsentrat). Variabel yang diukur adalah pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan. Hasil analisis variansi (ANOVA) menunjukkan bahwa penambahan tepung daun Waru dan tepung daun Bambu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PBBH dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap FCR domba lokal. Penambahan TDW dan TDB sebagai feed additive tidak diperlukan karena tidak meningkatkan performa domba lokal.This study aims to evaluate the effect of adding Waru leaf meal (Hibiscus tiliaceus) and Bamboo leaf meal (Gigantochloa apus) as feed additives in concentrate feed on the average daily gain (ADG) and feed conversion ratio (FCR) of local sheep. The research was conducted over three months in Dusun II, Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java Province, using 18 Rams aged 1–1,5 years with average body weight of 37,18 ± 3,49 kg. The research employed an in vivo experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and five replications, specifically: P0 (control: corn stover silage + concentrate), P1 (P0 + 2,49 g Waru leaf meal/kg concentrate), P2 (P0 + 1,87 g Waru leaf meal + 0,33 g Bamboo leaf meal/kg concentrate), and P3 (P0 + 1,25 g Waru leaf meal + 0,65 g Bamboo leaf meal/kg concentrate). The measured variables were ADG and FCR, and the analysis of variance (ANOVA) indicated that the addition of Waru and Bamboo leaf meals had a significant effect (P < 0.05) on average daily gain (ADG) and had no significant effect (P > 0.05) on the feed conversion ratio (FCR) of local sheep. The addition of Waru leaf meal (TDW) and Bamboo leaf meal (TDB) as feed additives is not necessary because they did not improve the performance of local sheep.
4886252246D1A022080Perbandingan Pertumbuhan Bobot Badan dan Feed Convertion Ratio Ayam Broiler pada Sistem Closed House Bertingkat Menggunakan Analisis One-Way ANOVA.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan produktivitas ayam broiler yang meliputi pertumbuhan bobot badan (PBB) dan feed convertion ratio (FCR) pemeliharaan ayam broiler lantai A, lantai A1 dan lantai A2 pada sistem pemeliharaan closed house bertingkat. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal tanggal 27 Oktober 2024 yang berlokasi di Desa Cendana, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah ayam broiler strain cobb dengan total populasi 48.000 ekor, yang terbagi rata 16.000 ekor per lantai. Pengambilan sampel PBB dilakukan pada hari ke-35 pemeliharaan dengan cara mengambil 20 ekor dari 5 titik berbeda dalam satu lantai kandang. Pengambilan data FCR dilakukan dengan melihat catatan penggunaan pakan selama 35 hari pemeliharaan dari setiap lantai, data dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA. Hasil analisis statistik dasar pertumbuhan bobot badan menunjukkan lantai A sebesar 2420.10 ± 69.64 gram, lantai A1 sebesar 2350 ± 63.25 dan lantai A2 sebesar 2200 ± 63.25. Hasil uji one-way ANOVA untuk PBB menunjukkan hasil p-value 0.001 (< 0.05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rataan PBB antara lantai A, lantai A1 dan lantai A2. Hasil uji one-way ANOVA untuk FCR menunjukkan hasil p-value 0.005 (< 0.05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rataan FCR antara lantai A, lantai A1 dan lantai A2. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA dapat disimpulkan bahwa perbedaan lantai berpengaruh signifikan terhadap PBB dan FCR.This study aimed to analyze the differences in broiler productivity, including body weight gain (BWG) and feed conversion ratio (FCR), among broilers reared on floor A, floor A1, and floor A2 in a multi-tier closed house system. The research was conducted on October 27, 2024, in Cendana Village, Kutasari District, Purbalingga Regency, Central Java. The material used consisted of Cobb strain broiler chickens with a total population of 48,000 birds, evenly distributed with 16,000 birds per floor. Sampling of body weight gain (BWG) was conducted on day 35 of the rearing period by collecting 20 birds from five different points on each floor. FCR data were obtained from feed consumption records over the 35-day rearing period for each floor. The data were analyzed using a one-way analysis of variance (ANOVA). The results of descriptive statistical analysis for body weight gain showed that floor A reached 2420.10 ± 69.64 g, floor A1 reached 2350 ± 63.25 g, and floor A2 reached 2200 ± 63.25 g. The one-way ANOVA results for BWG indicated a p-value of 0.001 (< 0.05), demonstrating a statistically significant difference among floors A, A1, and A2. Similarly, the one-way ANOVA results for FCR showed a p-value of 0.005 (< 0.05), indicating a significant difference in FCR among the three floors. Based on the one-way ANOVA results, it can be concluded that floor differences significantly affect body weight gain (BWG) and feed conversion ratio (FCR).
4886352247D1A022074HUBUNGAN KARAKTER KOSMOPOLIT DAN SIFAT INOVATIF DENGAN PERSEPSI INTERNET MARKETING PETERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN BANYUMASInternet marketing memberikan peluang lebih besar kepada peternak untuk meningkatkan pendapatannya melalui akses pasar yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi karakter kosmopolit, sifat inovatif, dan persepsi terhadap internet marketing, serta hubungan karakter kosmopolit dan sifat inovatif dengan persepsi terhadap internet marketing pada peternak sapi potong di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan sasaran peternak sapi potong di Kabupaten Banyumas, sehingga didapat 240 peternak sebagai responden. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner melalui wawancara kepada 240 responden yang dipilih dengan metode random sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Analisis data dilakukan menggunakan program IBM SPSS Statistics 25 untuk mengukur validitas, reliabilitas dan korelasi Rank Spearman. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki karakter kosmopolit pada kategori sedang, sifat inovatif pada kategori tinggi, dan persepsi terhadap internet marketing pada kategori baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kosmopolit dan sifat inovatif memiliki hubungan positif dan signifikan dengan persepsi terhadap internet marketing pada peternak sapi potong di Kabupaten Banyumas. Karakter kosmopolit memiliki tingkat hubungan sedang dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,594, sedangkan sifat inovatif memiliki tingkat hubungan kuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,730. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi karakter kosmopolit dan sifat inovatif peternak, maka semakin baik pula persepsi peternak terhadap pemanfaatan internet marketing dalam pemasaran produk peternakan. Rekomendasi berdasarkan hasil dari penelitian ini adalah adanya peningkatan pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan terkait pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan kemampuan peternak dalam mengoptimalkan internet marketing sebagai strategi pemasaranInternet marketing provides greater opportunities for livestock farmers to increase their income through wider market access. This study aims to analyze the perception of cosmopolitan character, innovative nature, and perceptions of internet marketing, as well as the relationship between cosmopolitan character and innovative nature with
perceptions of internet marketing among beef cattle farmers in Banyumas Regency. The study was conducted using a survey method targeting beef cattle farmers in Banyumas Regency, resulting in 240 farmers as respondents. Data collection was carried out using a questionnaire through interviews with 240 respondents selected by random sampling method. Data were analyzed using descriptive analysis and Spearman rank correlation test to determine the relationship between variables. Data analysis was performed using the IBM SPSS Statistics 25 program to measure validity, reliability and Spearman rank correlation. The results of the descriptive analysis showed that most livestock farmers had a cosmopolitan character in the medium category, innovative nature in the high category, and perceptions of internet marketing in the good category. The results showed that cosmopolitan character and innovative nature have a positive and significant relationship with perceptions of internet marketing among beef cattle farmers in Banyumas Regency. Cosmopolitan character has a moderate correlation with a correlation coefficient of 0.594, while innovative character has a strong correlation with a correlation coefficient of 0.730. The conclusion of this study is that the higher the cosmopolitan character and innovative nature of farmers, the better the farmers' perception of the use of internet marketing in marketing livestock products. Recommendations based on the results of this study are to increase training, counseling, and mentoring related to the use of digital technology to improve farmers' ability to optimize internet marketing as a marketing strategy.
4886452248D1A022045HUBUNGAN PERSEPSI DAN PENDIDIKAN ANAK DENGAN MINAT ANAK PETERNAK SAPI POTONG DALAM MELANJUTKAN USAHA ORANG TUANYA DI KABUPATEN BANYUMAS
Fenomena farmer aging merupakan permasalahan bagi keberlanjutan usaha peternakan dan produksi protein hewani asal ternak, oleh karena itu diperlukan adanya regenerasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat persepsi, tingkat pendidikan, minat anak peternak, serta hubungan antara persepsi dan pendidikan dengan minat anak peternak dalam melanjutkan usaha orang tuanya. Metode penelitian dilakukan secara survei dan dilaksanakan pada bulan Februari–Maret 2026 di Kecamatan Kalibagor, Sumbang, dan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan jumlah responden sebanyak 101 anak peternak sapi potong. Data dikumpulkan melalui wawancara berbasis kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi anak peternak tergolong positif, tingkat pendidikan didominasi oleh lulusan SMA/SMK sebesar 53,5%, dan minat anak peternak dalam melanjutkan usaha orang tua tergolong tinggi. Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara persepsi dengan minat (r = 0,595 ; p < 0,001), serta hubungan negatif dan signifikan antara pendidikan dengan minat (r = -0,351; p < 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa semakin positif persepsi anak terhadap usaha peternakan sapi potong maka semakin tinggi minat untuk melanjutkan usaha, sedangkan semakin tinggi tingkat pendidikan maka minat untuk melanjutkan usaha cenderung menurun. Rekomendasi dari penelitian ini penyuluh perlu meningkatkan edukasi dan pendampingan kepada generasi muda melalui penyuluhan inovatif guna membentuk persepsi positif dan meningkatkan minat melanjutkan usaha peternakan sapi potong.
The phenomenon of farmer aging poses a challenge to the sustainability of livestock farming and the production of animal-based protein, making regeneration essential. This study aims to examine the level of perception, education, and interest of farmers’ children, as well as the relationship between perception and education with their interest in continuing their parents’ beef cattle farming business. The research was conducted using a survey method from February to March 2026 in Kalibagor, Sumbang, and Kembaran Subdistricts, Banyumas Regency, involving 101 respondents. Data were collected through questionnaire-based interviews and analyzed using descriptive analysis and Spearman Rank correlation. The results showed that farmers’ children generally had positive perceptions, with education levels dominated by high school/vocational graduates (53.5%), and a high level of interest in continuing the family business. The correlation test revealed a positive and significant relationship between perception and interest (r = 0.595; p < 0.001), and a negative and significant relationship between education and interest (r = -0.351; p < 0.001), indicating that more positive perceptions increase interest, while higher education tends to decrease it. Therefore, it is recommended that extension workers strengthen innovative educational and mentoring programs to foster positive perceptions and enhance youth interest in continuing beef cattle farming.

4886552249D1A022017Hubungan Pendidikan dan Jumlah Ternak dengan Tingkat Adopsi Inovasi Pembuatan Pupuk Kompos pada Peternakan Domba Sakub di Kabupaten Brebes Penelitian dengan judul Hubungan Pendidikan dan Jumlah Ternak Dengan Tingkat Adopsi Inovasi Pembuatan Pupuk Kompos Pada Peternakan Domba Sakub Di Kabupaten Brebes dilaksanakan pada tanggal 28 Januari - 3 Februari 2026 di Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dan Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata tingkat pendidikan peternak domba sakub di Kabupaten Brebes, mengetahui rata-rata jumlah ternak domba sakub di Kabupaten Brebes, mengetahui tingkat adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos di Kabupaten Brebes, menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan jumlah ternak domba sakub di Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, Pemilihan wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu dengan memilih kecamatan yang menjadi sentra pengembangan domba Sakub di Kabupaten Brebes. Kecamatan yang terpilih adalah kecamatan Sirampog dan kecamatan Paguyangan. Berdasarkan kecamatan terpilih selanjutnya diambil dua desa secara dipilih secara purposive sampling yaitu desa Wanareja dan desa Pandansari.
Banyaknya responden ditentukan menggunakan rumus slovin dengan margin of error sebesar 10%, responden dipilih secara acak yaitu 110 peternak. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa peternak domba di Kabupaten Brebes memiliki tingkat pendidikan dann jumlah kepemilikan ternak yang masih rendah. Peternak domba sakub di Kecamatan Sirampog dan Paguyangan sudah sadar adanya adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos dari limbah ternak tetapi hanya 31.8% yang mengadopsi, karena beberapa faktor yang menghambat untuk mengadopsi inovasi. Hasil analisis Rank Spearman menunjukkan pendidikan dan jumlah ternak mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan tingkat adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos.
The research entitled “The Relationship between Education Level and Number of Livestock with the Level of Innovation Adoption in Compost Production among Sakub Sheep Farmers in Brebes Regency” was conducted from January 28 to February 3, 2026, in Wanareja Village, Sirampog District, and Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes Regency. This study aimed to determine the average education level of Sakub sheep farmers in Brebes Regency, identify the average number of livestock owned, analyze the level of innovation adoption in compost production, and examine the relationship between education level and number of livestock with the level of innovation adoption.
The research employed a survey method. The study area was selected using purposive sampling by choosing districts that serve as development centers for Sakub sheep in Brebes Regency, namely Sirampog and Paguyangan Districts. From these districts, two villages were further selected purposively, namely Wanareja Village and Pandansari Village.
The number of respondents was determined using the Slovin formula with a margin of error of 10%, resulting in 110 randomly selected farmers. The data were analyzed using descriptive analysis and Spearman Rank correlation analysis. The results showed that Sakub sheep farmers in Brebes Regency generally have low levels of education and relatively small-scale livestock ownership. Although farmers in Sirampog and Paguyangan Districts are aware of the innovation of compost production from livestock waste, only 31.8% have adopted it due to several inhibiting factors. The Spearman Rank analysis indicated that education level and number of livestock have a moderate relationship with the level of innovation adoption in compost production.
4886652250C0A023042Proses Arsip Dokumen Kredit dan Upload pada Sistem BRIMEN di PT. Bank Rakyat Indonesia. Artikel ini membahas peran perkembangan teknologi dan digitalisasi dalam mengubah sistem pengelolaan
dokumen di berbagai sektor, khususnya sektor perbankan, guna meningkatkan efisiensi operasional dan keamanan
data. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menerapkan sistem BRIMEN sebagai solusi atas berbagai permasalahan yang
muncul pada sistem pengarsipan manual, seperti keterbatasan ruang penyimpanan, lamanya proses pencarian
dokumen, dan tingginya risiko kehilangan atau kerusakan dokumen fisik (Syahrir, 2025). Studi ini menggunakan
pendekatan eksperimental alami untuk mengevaluasi dampak penerapan sistem BRIMEN dalam pengelolaan
dokumen di Bank BRI. Dalam Implementasi ini menunjukkan bahwa penerapan BRIMEN memberikan
peningkatan signifikan terhadap efisiensi pengelolaan dokumen, terutama dalam hal percepatan proses pencarian,
kemudahan penyimpanan, serta pengurangan penggunaan arsip fisik. Dibandingkan dengan sistem manual
sebelumnya, BRIMEN terbukti lebih efektif dalam menjaga keamanan dan ketersediaan dokumen. Namun
demikian, efektivitas implementasi sistem BRIMEN masih dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perbedaan
kebijakan antar unit kerja dan tingkat kompetensi sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem. Oleh
karena itu, karyawan agar pemanfaatan BRIMEN dapat berjalan lebih optimal, akurat, dan berkelanjutan.
This article discusses the role of technological development and digitization in the transformation of document
management systems in various sectors, particularly the banking sector, in order to improve operational efficiency
and data security. Bank Rakyat Indonesia (BRI) implemented the BRIMEN system as a solution to various
problems that arose in manual filing systems, such as limited storage space, time-consuming document search
processes, and a high risk of physical document loss or damage (Syahrir, 2025). This study uses a natural
experimental approach to evaluate the impact of the BRIMEN system implementation on document management
at Bank BRI. This implementation shows that the application of BRIMEN provides a significant improvement in
document management efficiency, particularly in terms of speeding up the search process, ease of storage, and
reducing the use of physical archives. Compared to the previous manual system, BRIMEN has proven to be more
effective in maintaining document security and availability. However, the effectiveness of the BRIMEN system
implementation is still influenced by several factors, such as differences in policies between work units and the
level of competence of human resources in operating the system. Therefore, periodic system updates, search
feature enhancements, and ongoing training for employees are necessary to ensure that the use of BRIMEN is
more optimal, accurate, and sustainable.
4886752251F1B022060Evaluasi Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima: Studi Kasus Pedagang Kaki Lima di Alun-Alun Kabupaten PurbalinggaPenurunan jumlah pedagang kaki lima di lokasi relokasi Purbalingga Food Center menunjukkan bahwa kebijakan relokasi belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan kebijakan relokasi berdasarkan enam kriteria William N. Dunn. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan model evaluasi single program after-only. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan kebijakan belum optimal, ditandai dengan penurunan jumlah pedagang, rendahnya kunjungan, serta pendapatan yang belum stabil. Penelitian ini menyimpulkan adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan dan kondisi lapangan, sehingga diperlukan perbaikan pada fasilitas, pengelolaan lokasi, dan respons kebijakan.This study examines the declining number of street vendors (micro entrepreneur) at the Purbalingga Food Center relocation site, indicating that the policy has not been fully optimal. It aims to evaluate the success of the relocation policy using six criteria proposed by William N. Dunn. A qualitative approach with a single program after-only model was used. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed interactively. The results show the policy remains suboptimal, reflected in fewer vendors, low visitor levels, and unstable income. The study concludes that the policy has not been successful due to a gap between objectives and field conditions, requiring improvements in facilities, site management, and policy responsiveness.
4886852254H1B022001Analisis Kebutuhan Informasi Pejabat Pembuat Komitmen untuk Rancangan Sistem Informasi Pengendalian Proyek Konstruksi Berbasis WebPejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang juga menjabat sebagai akademisi sering kali menghadapi beban kerja ganda akibat tanggung jawab manajerial proyek konstruksi dan kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi. Peran ganda tersebut menciptakan tantangan besar dalam manajemen waktu dan pengawasan proyek konstruksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prioritas kebutuhan informasi sebagai dasar perancangan sistem informasi berbasis web yang mampu mendukung efektivitas kerja PPK dengan mobilitas tinggi tersebut. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk identifikasi awal, serta Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) untuk menentukan bobot prioritas berdasarkan perspektif 6 responden pakar. Hasil penelitian mengidentifikasi enam alternatif kebutuhan informasi utama, di antaranya Kurva S, Informasi Proyek & Perubahan Kontrak, Register Risiko & Isu Kritis, Hasil Uji Mutu, Dokumentasi & Laporan, serta Network Schedule. Temuan menunjukkan bahwa kriteria "Mengurangi Risiko Keterlambatan dan Pembengkakan Biaya" (K5) menjadi prioritas utama dengan bobot 0,313 diikuti oleh kriteria "Meningkatkan Akurasi Pelaporan dan Akuntabilitas" (K3) dengan bobot 0,276. Instrumen informasi yang paling krusial adalah Network Schedule dengan bobot 0,411 untuk aspek mitigasi risiko waktu, dan Dokumentasi & Laporan dengan bobot 0,377 untuk aspek akuntabilitas. Temuan ini merekomendasikan pengembangan fitur pelacakan lintasan kritis dan manajemen dokumen digital sebagai fokus utama dalam perancangan sistem informasi pengendalian proyek konstruksi.Project Owners (locally known as PPK) who also serve as academics often face a dual workload due to their project management responsibilities and the obligations of the Higher Education Tridharma. This dual role creates significant challenges in time management and the supervision of construction projects. Therefore, this study aims to identify and analyze the priority of information needs for Project Owners as a basis for designing a web-based information system. The method used is Systematic Literature Review (SLR) with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) protocol for initial identification, and Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) to determine priority weights based on the perspectives of 6 expert respondents. The study identified six main information alternatives, including S-Curves, Project Information & Contract Changes, Risk Registers & Critical Issues, Quality Test Results, Documentation & Reporting, and Network Schedules. The results showed that the criterion "Reducing the Risk of Delays and Cost Overruns" (K5) was the main priority with a weight of 0.313, followed by "Increasing Reporting Accuracy and Accountability" (K3) with a weight of 0.276. The most crucial information instruments are the Network Schedule with a weight of 0.411 for time risk mitigation, and Documentation & Reporting with a weight of 0.377 for accountability aspects. These findings recommend focusing on critical path tracking and digital document management features as the main priorities in the design of construction project control information systems.
4886952255H1E022073USULAN STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK YOGHURT DRINK KELOMPOK TANI TERNAK SUPRAH
BERDASARKAN PREFERENSI KONSUMEN MENGGUNAKAN METODE CHOICE-BASED CONJOINT
(CBC)
Kelompok Tani Ternak (KTT) Suprah di Kabupaten Banjarnegara merupakan kelompok peternak sapi perah yang selama ini memasarkan susu segar sebagai produk utama. Namun, rendahnya nilai jual susu segar dibandingkan produk olahan membatasi peningkatan pendapatan peternak. Oleh karena itu, KTT Suprah
berupaya melakukan diversifikasi usaha melalui pengembangan produk olahan susu bernilai tambah, salah satunya yoghurt drink. Produk ini dipilih karena proses
produksinya relatif sederhana, memiliki masa simpan lebih panjang, serta semakin diminati konsumen seiring meningkatnya kesadaran terhadap pangan fungsional yang mengandung probiotik. Namun, keberhasilan pengembangan produk ini sangat dipengaruhi oleh kesesuaian atribut produk dengan preferensi konsumen.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pengembangan produk berdasarkan preferensi konsumen pada Kelompok Tani Ternak Suprah sebagai studi kasus pengembangan usaha olahan susu lokal. Metode yang digunakan adalah Choice-Based Conjoint (CBC) untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap tiga atribut utama, yaitu rasa (original dan jahe), kemasan (pouch dan botol kaca), serta kombinasi harga (Rp3.000/50 ml dan Rp5.000/100 ml). Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 125 responden, kemudian dianalisis dengan Multinomial Logit Model (MNL) untuk mengestimasi nilai utilitas parsial, tingkat kepentingan relatif atribut, serta melakukan simulasi pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut rasa merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi keputusan konsumen (61,88%), diikuti oleh kemasan (32,82%), sedangkan harga memiliki tingkat kepentingan relatif paling rendah dan tidak signifikan secara statistik (5,30%). Secara spesifik, varian rasa original dan kemasan pouch memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen. Hasil simulasi pasar
menunjukkan bahwa kombinasi produk yoghurt drink rasa original dalam kemasan pouch dengan harga Rp3.000 memiliki probabilitas pilihan tertinggi sebesar 74%, jauh lebih tinggi dibandingkan kombinasi rasa jahe dalam botol kaca dengan harga Rp5.000 sebesar 26%. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengembangan produk yoghurt drink sebaiknya memprioritaskan rasa original serta penggunaan kemasan pouch, dibandingkan hanya berfokus pada strategi penurunan harga. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan dasar pengambilan keputusan strategis bagi pengembangan produk olahan susu bernilai tambah guna meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha peternak skala kecil.
The Suprah Livestock Farmer Group in Banjarnegara Regency is a group of dairy farmers who have been marketing fresh milk as their main product. However, the low selling price of fresh milk compared to processed products limits the increase in farmers' income. Therefore, KTT Suprah is trying to diversify its business by developing value-added dairy products, one of which is yoghurt drink. This product was chosen because its production process is relatively simple, it has a longer shelf life, and it is increasingly in demand by consumers as awareness of functional foods containing probiotics increases. However, the success of this product development is greatly influenced by the suitability of the product attributes to consumer preferences. This study aims to design a product development strategy based on consumer preferences in the Suprah Livestock Farmers Group as a case study of local milk processing business development. The method used was Choice-Based Conjoint (CBC) to analyse consumer preferences for three main attributes, namely taste (original and ginger), packaging (pouch and glass bottle), and price combinations (Rp3,000/50 ml and Rp5,000/100 ml). Data was collected through questionnaires administered to 125 respondents, then analysed using the Multinomial Logit Model (MNL) to estimate partial utility values, relative attribute importance levels, and perform market simulations. The results showed that flavour was the most dominant factor influencing consumer decisions (61.88%), followed by packaging (32.82%), while price had the lowest relative importance and was not statistically significant (5.30%). Specifically, the original flavour and pouch packaging had a positive and significant influence on consumer preferences. Market simulation results show that the combination of original flavour yoghurt drink in pouch packaging at a price of IDR 3,000 has the highest selection probability of 74%, much higher than the combination of ginger flavour in glass bottles at a price of IDR 5,000 at 26%. This study implies that the development of yoghurt drink products should prioritise the original flavour and the use of pouch packaging, rather than focusing solely on price reduction strategies. This study contributes to providing a basis for strategic decision-making in the development of value-added dairy products to improve the competitiveness and sustainability of small-scale dairy farmers' businesses.
4887026754G1I014038HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit
Lampiran 5. Persetujuan Menjadi Responden 57
Lampiran 6. Profil Responden 58
Lampiran 7. Data Tes 59
Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian 60
Lampiran 9. Hasil Analisis Deskriptif Putra 66
Lampiran 10. Hasil Analisis Deskriptif Putri 68
Lampiran 11. Uji Normalitas 70
Lampiran 12. Uji Linieritas 71
Lampiran 13. Uji Homogenitas 72
Lampiran 14. Hasil Analisis Korelasi Product Moment 73
Lampiran 15. Hasil Analisis Korelasi Berganda 74
Lampiran 16. Titik Persentase Distribusi F untuk Probabilita = 0,05 75
Lampiran 17. Dokumentasi 76


DAFTAR SINGKATAN

ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
BAPPEDALITBANG : Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan ..Pengembangan
Cm : Centi Meter
H1 : Hipotesis 1
H2 : Hipotesis 2
H3 : Hipotesis 3
IPSI : Ikatan Pencak Silat Indonesia
KESBANGPOL : Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
Kg : Kilo Gram
MP : Merpati Putih
MUNAS : Musyawarah Nasional
P value : Nilai Probabilitas
P : Probabilitas
PJKR : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
PKM : Pusat Kegiatan Mahasiswa
POM : Pekan Olahraga Mahasiswa
PSHT : Persaudaraan Setia hati Terate
R : Koefisien Korelasi
Rxy : Koefisien Korelasi X dan Y
Sig : Signifikan
SPSS : Statistical Package For The Social Sciences
UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa
UNSOED : Universitas Jenderal Soedirman
X1 : Power Otot Tungkai
X2 : Panjang Tungkai
Y : Kecepatan Tendangan Sabit


Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit

Abstract
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE POWER OF LEG MUSCLE AND LENGTH LEG WITH THE SPEED OF TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT IN JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY PENCAK SILAT STUDENT ORGANIZATION
Angger Widorotama
Background : Tendangan Sabit is a kind of kick that is often used in Pencak Silat battle. This kick needs the speed component; therefore, the kick can quickly hit the target point of enemy, while leg muscle power component is needed to get a qualifield tendangan sabit. Leg muscle power is beneficial to support the muscle burst out capacity that has contraction and the joint that work while doing tendangan sabit. Beside leg muscle power, leg length is funcitioned to reach the target within the distan range while doing tendangan sabit.
Methods Research : This research is a correlational descriptive research that use the cross sectional approach to find out the relationship between free variable and bound variable. The relating factor of leg muscle power that is measured with the standing board jump test and leg length that is measured with the measuring tape on the tendangan sabit kanan. Sample from Jenderal Soedirman University Pencak Silat Student Organization with 33 people are taken as simple with the purposive sampling technique. Data analysis technique are the normality test, linearity test and homogenity test. Hypothesist test uses the product moment correlation and double correlation formula.
Result Research : The result of the study shows that : 1) there is significant relationship between leg muscle power and tendangan sabit kanan speed with the 0.745 correlation score. 2) there is significant relationship between leg length and tendangan sabit speed kanan with the 0.509 correlation score. 3) there is significant relationship between leg muscle power and leg length with the tendangan sabit kanan speed by 0.792 correlation score.
Keyword : leg muscle power, leg length, tendangan sabit speed
4887152256D1A022147PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN TEPUNG DAUN BAMBU SEBAGAI FEED ADITIF TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PROTEIN KASAR DOMBA LOKALPenelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal” telah dilaksanakan selama 3 bulan di Dusun II Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis terbaik penambahan tepung daun Waru (TDW) dan tepung daun Bambu (TDB) sebagai feed additive terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar domba lokal. Sejumlah 24 ekor domba ekor tipis jantan berumur 1-1,5 tahun dengan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg yang ditempatkan pada kandang individu diacak secara sempurna sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk menerima salah satu perlakuan berikut: P0 (silase tebon jagung + konsentrat); P1 ( P0 + TDW 2,49 g/kg konsentrat); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg konsentrat + 0,33 g/kg konsentrat); P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg konsentrat + TDB 0,65 g/kg konsentrat) dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Konsumsi bahan kering masing-masing domba adalah 4% dari bobot badan. Konsentrat diberikan sebanyak 2,8% dari bobot badan dan silase secara ad libitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan protein kasar menggunakan metode koleksi total. Rataan konsumsi protein kasar 0,17 ± 0,04; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; 0,15 ± 0,02 untuk P0, P1, P2, P3. Rataan kecernaan protein kasar 79,38 ± 2,81; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; 76,02 ± 1,76 untuk P0, P1, P2, P3. Analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein kasar, akan tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun waru dan tepung daun bambu pada level perlakuan yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi protein kasar tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap kecernaan protein kasar domba lokal.The research entitled "Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal" was conducted for three months in Dusun II, Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java Province, Indonesia. This study aimed to evaluate the optimal dosage of Waru leaf meal (TDW) and bamboo leaf meal (TDB) supplementation as feed additives on crude protein intake and digestibility in local sheep. A total of 24 thin-tailed male sheep aged 1–1,5 years with an average body weight of 37,18 ± 3,49 kg were housed individually and randomly assigned according to a Completely Randomized Design (CRD) to receive one of the following treatments: P0 (corn stover silage + concentrate); P1 (P0 + TDW 2,49 g/kg concentrate); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg concentrate + TDB 0,33 g/kg concentrate); and P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg concentrate + TDB 0,65 g/kg concentrate), with six replications per treatment. Dry matter intake of each sheep was set at 4% of body weight. Concentrate was provided at 2,8% of body weight, while silage was offered ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude protein intake and crude protein digestibility using the total collection method. The average crude protein intake was 0,18 ± 0,03; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; and 0,15 ± 0,02 kg/head/day for P0, P1, P2, and P3, respectively. The average crude protein digestibility was 80,55 ± 1,21; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; and 76,02 ± 1,76% for P0, P1, P2, and P3, respectively. Analysis of variance showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude protein consumption, but had a very significant effect (P<0.05) on crude protein digestibility. Based on the results of the study, it can be concluded that the provision of hibiscus leaf flour and bamboo leaf flour at the treatment level used did not have a significant effect on crude protein consumption but had a very significant effect on crude protein digestibility of local sheep.