Artikelilmiahs

Menampilkan 6.781-6.800 dari 48.871 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
678110168C1J010033Proper Life of Batik Labor in Purbalingga RegencyPenelitian ini berjudul “Kelayakan Hidup Buruh Batik Tulis di Kabupaten Purbalingga”. Membatik menjadi keterampilan sebagian besar wanita di desa penghasil batik tulis khas Purbalingga. Mereka dapat menghasilkan pendapatan dari pekerjaan tersebut, namun dalam menyelesaikan pekerjaan membatik memerlukan waktu yang cukup lama dan upah yang didapat oleh buruh batik dihitung dari berapa banyak lembar kain batik yang mereka hasilkan.
Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengetahui kontribusi pendapatan buruh batik tulis terhadap pendapatan keluarga buruh batik tulis di Kabupaten Purbalingga, 2) Mengetahui kesejahteraan keluarga buruh batik tulis di Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan adalah survei dengan pengamatan secara langsung. Jumlah responden sebanyak 80 orang buruh batik tulis yang masih aktif menghasilkan batik tulis. Untuk mencapai tujuan penelitian menggunakan tabulasi dan rumus pendapatan perkapita dibandingkan dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) untuk menghitung angka kesejahteraan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga buruh batik tulis masih banyak yang belum sejahtera, hal tersebut ditunjukkan dengan perbandingan pendapatan perkapita dibandingkan dengan KHL kurang dari 1. Kontribusi pendapatan buruh batik tulis tergolong kecil, dihitung dari perbandingan pendapatan buruh batik tulis dibagi dengan pendapatan dari anggota keluarga lainnya menghasilkan kurang dari 50 persen.
Implikasi dari penelitian ini adalah: Apabila buruh batik tulis ingin meningkatkan kontribusi pendapatan terhadap pendapatan rumah tangga, maka perlu meningkatkan keterampilan yang dimiliki. Untuk meningkatkan pendapatan per kapita, maka diperlukan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan menurunkan jumlah tanggungan keluarga dengan memberi acuan bagi anggota keluarga yang tergolong dalam usia produktif untuk bekerja.
This research entitled “Proper Life of Batik Labor in Purbalinga Regency”. To design batik is major skills of the most women in batik village Purbalingga. They can produce the profit from the job, but in completing the job of making Batik requires considerable time and wage earned by the batik labor is calculated from how much piece of Batik produced.
The purpose of this research is: 1) to determine income contribution of batik labor toward income of batik labor household in Purbalingga regency, 2) to determine the proper life of batik labor family in Purbalingga Regency. Method used is survey with direct observation. The total respondents were 80 batik labor who are still active in producing written batik. To achieve the purpose of this research used tabulation and percapita income formula compared with Adequate Living Need (ALN) to calculate the level of prosperity.
The result of this research indicated that there are many batik labor who have not been prosperous yet; this condition was indicated by the comparison of percapita income compared with ALN less than 1. Income contribution of batik labor was considered low, it was calculated by comparison of batik labor income divided by the income of other family member produced the result of less than 50%.
The implication from this research is: if the batik labors want to increase the contribution of income to the household income, it is necessary to improve the skills possessed. To increase per capita income, it is necessary to increase household income and decrease the number of family dependents to provide a reference for the family members who belong to the productive age to work.
678211223B1J010136PENGARUH TINGKAT KEASAMAN DAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN MISELIUM Tremella fuciformis PADA MEDIUM POTATO
DEXTROSE YEAST AGAR
Tremella fuciformis (jamur kuping putih) adalah jamur yang telah dikenal sebagai edible mushroom dan medicinal mushroom. Jamur kuping putih ini merupakan salah satu spesies dari kelas Heterobasidiomycetes dengan tubuh buah berbentuk seperti rumbai-rumbai, merekah tidak beraturan, berwarna putih bening seperti agar-agar. Jamur ini tumbuh di daerah tropis, dapat ditemukan di permukaan kayu yang sudah lapuk dari pohon berdaun lebar. Berdasarkan kandungan nutrisi dan khasiatnya, T. fuciformis memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai bahan makanan dan obat, namun masih kurangnya penelitian mengenai jamur tersebut menjadi kendala dalam usaha pengembangannya. Informasi awal yang umumnya dibutuhkan adalah medium yang digunakan dan faktor lingkungan yang mempengaruhi. Informasi tersebut sangat penting digunakan untuk mengetahui pengaruh tingkat keasaman medium tanam dan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan miselium jamur T. fuciformis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1). Pengaruh tingkat keasaman medium tanam dan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan miselium jamur T. fuciformis, 2). Tingkat keasaman medium tanam dan intensitas cahaya yang tepat untuk pertumbuhan miselium jamur T. fuciformis.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan yaitu tingkat keasaman (pH 4, 5, 6, dan 7) dan cahaya (terang, gelap terang, dan gelap). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 36 satuan percobaan.
Data hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pengaruh tingkat keasaman dan intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap diameter koloni miselium. Tingkat keasaman medium tanam dan intensitas cahaya yang tepat untuk pertumbuhan miselium jamur T. fuciformis adalah pada medium PDYA pH 6 dalam kondisi gelap (0 lux)
Tremella fuciformis (white mushroom) is a fungus known as edible mushroom and medicinal mushroom. This white mushroom is one of the species of the class Heterobasidiomycetes with fruiting bodies shaped like tassels, irregularly splitted, gelatinous translucent white-like. This fungus grows in the tropics, can be found on the surface of the rotted wood of broad-leaved trees. Based on nutrient content and usefulness, T. fuciformis has great potential to be developed as food and medicine, but there’s still lack of research on this kind of fungus that could be obstacle in it’s development. Initial information that generally required is the medium that used and influencing environmental factors. Those information are essential to determine the influence of plant-medium acidity and light intensity toward the growth of fungal mycelium of T. fuciformis. This study aims to determine: 1). Determine the influence of plant-medium acidity and light intensity toward the growth of fungal mycelium of T. fuciformis, 2). Knowing appropriate plant-medium acidity and light intensity for the growth of fungal mycelium of T. fuciformis.
The method used in this study was the experimental method with Completely Randomized Design (CRD). The treatment used were the acidity levels (pH 4, 5, 6, and 7) and light (light, dark, light, and dark). Each treatment was repeated 3 times, therefore there were 36 experimental units.
Research data results indicated that the effects of acidity and light intensity influenced the diameter of the mycelial colony. The best colonies growth of mycelium of T. fuciformis was at PDYA medium with a pH of 6 in the dark (0 lux).
678311341A1L011050UJI EFIKASI DUA ISOLAT Trichoderma sp. DALAM FORMULA CAIR DAN PADAT ORGANIK UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU
BAKTERI PADA TANAMAN TOMAT DI LAPANGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan jamur Trichoderma sp. dalam formula cair dan padat organik untuk mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman tomat serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dan lahan pertanaman tomat, Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas pada ketinggian tempat 225 m dpl, mulai Desember 2014 sampai dengan Februari 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, Trichoderma sp. isolat jahe, Trichoderma sp. isolat bawang merah, gabungan Trichoderma sp. isolat jahe dan isolat bawang merah, dan bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat 20%. Variabel pengamatan meliputi komponen patosistem (masa inkubasi, laju infeksi, intensitas penyakit, dan kepadatan akhir antagonis), komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot akar segar, bobot akar kering) komponen hasil (jumlah buah dan bobot buah) dan analisis senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan gabungan Trichoderma sp. isolat jahe dan isolat bawang merah mampu menekan intensitas penyakit sebesar 58,61% dan menunda masa inkubasi sebesar 57,94%. Perlakuan dengan menggunakan Trichoderma sp. isolat bawang merah merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan bobot tanaman segar bobot akar segar, jumlah buah dan bobot buah masing-masing sebesar 35,36; 13,60; 40,61 dan 53,22%.Perlakuan jamur Trichoderma sp. mampu meningkatkan kandungan senyawa fenol (glikosida, saponin, dan tanin) di dalam jaringan tanaman.This research aimed to know the effectiveness of Trichoderma sp. in solid and liquid formulas to control bacterial wilt and on growth and yield of tomato in the field. This research was carried out at the Laboratory of Plant Protection Agriculture Faculty Jenderal Soedirman University and the tomato field at Banteran Village, Sumbang Sub-District, Banyumas Regency at altitude of 225 m above sea level started from December 2014 to February 2015. Randomized block design was used with five replicates. The treatments were control, Trichoderma sp. ginger isolate, Trichoderma sp. onion isolate, combination Trichoderma sp. onion+ginger isolates, and bactericide with active ingredients of 20% streptomycin sulphate. Variables observed were patho-system components (incubation period, infection rate, disease intensity, and late density of the antagonists), growth components (crop height, crops fresh and dry weight, root fresh and dry weight), yield components (number of fruits, fruit weigh), and phenolic compounds analysis. Results of the research showed that treatment of combination Trichoderma sp. onion isolate and ginger isolate with flushed application on the crops was effective to suppress the disease as high as 58.61 % and delay incubation period as 57.94%. The Trichoderma sp. onion isolate treatment was effective to increase fresh weight of crops, dry weight of roots, number of fruits and fruit weight as 35.36, 13.60, 40.61 and 53.22%, respectively. Those treatments were able to increase phenolic compounds (saponins, glycosides and tannins).

678411382H1D009053STUDI POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DAN PENGGUNAAN TURBIN ULIR DI SALURAN IRIGASI PRIMER BANJARCAHYANAKebutuhan listrik di Indonesia semakin meningkat karena jumlah penduduk semakin meningkat. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara persediaan dan kebutuhan listrik di Indonesia, Sumber energi fosil pun mengalami penurunan. Pemerintah menyatakan agar penggunaan energi terbarukan (termasuk PLTMH) ditingkatkan untuk mengimbangi kebutuhan listrik di Indonesia.PLTMH bisa dipadukan dengan saluran irigasi salah satunya irigasi Banjarcahyana. Tinggi jatuh bangunan terjun pada saluran irigasi, rata-rata tidak begitu tinggi. Penggunaan jenis turbin ulir dapat mengatasi tinggi jatuh rendah pada PLTMH.
Studi potensi dilakukan di Saluran Irigasi Primer Banjarcahyana untuk menentukan bangunan terjun yang akan direncanakan sebagai PLTMH. Pemilihan prioritas bangunan terjun menggunakan metode yang digunakan oleh IMIDAP. Bangunan terjun yang terpilih kemudian dianalisis debit andalannya, direncanakan dimensi intake, saluran pembawa, bak penenang, saluran pengarah, turbin ulir dan saluran pembuangnya.
Berdasarkan hasil analisis dari IMIDAP maka pembangunan PLTMH adalah pada bangunan terjun B.BC 14. Pada bangunan intake, lebar intakeadalah 3,5 m, dan tinggi bukaan 1 m, jumlah pintu sorong bangunan intake sebanyak 2 buah, tinggi muka air saluran pembawa 0,808 m dengan lebar 3,7 m, volume bak penenang 113,4 m3, panjang bak penenang 18,9 m dengan lebar 10 m, saluran pengarah lebar 3,7 m, tinggi muka air 0,42 m, lebar saluran pembuang 3 m, dan tinggi muka air 0,65 m. Untuk dimensi turbinmemiliki casing turbin 1,25m, jari-jari luar 0,51 m, jari-jari dalam 0,347, jarak pitch 1,02 m, sudut dalam dan luar berturut turut adalah 64,910 dan 72,330.
Electricity demand in Indonesia is increasing because of the increasing population. This leads to an imbalance between supply and demand for electricity in Indonesia. Fossil energy sources also decline. The Government states that the use of renewable energy (including MHP) increase to offset the electricity demand in Indonesia. MHP can be combined with irrigation channel, c.g Banjarcahyana irrigation. Head of the drop structure of the irrigation channels are not so high. The use of screw turbine can be use to obtain low head of MHP.
Potential studies conducted in Banjarcahyana Primary irrigation channel determine which drop structure will planned as MHP. The selection of the drop structure is using IMIDAP. The selected falls then analyzed dependable discharge, designing the intake, head race, forebay, dirrection channel, screw turbine and exhaust channel.
Based on IMIDAP analysis, design of MHP is lay on B.BC 14 drop structure. The intake structure width is 3.5 m,and the opening height is 1 m, having 2 sluice gate, water level of head race is 0.808 m, and the width is 3.7 m, forebay volume is 113.4 m3, with forebay of 18,9 m a width of 10 m, 3.7 m wide directional channel, the water level of 0.42 m length, and the width of the exhaust channel is 3 m, and the water level is 0.65 m. For turbine dimensions are 1.25 m turbine casing, outer radius is 0.51 m, the radius within 0.347, pitch distance is 1.02 m, angle inside and outside are 64.910 and 72.330.
67858052A1H009066ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI INDIGENOUS DARI NIRA SORGUM MANIS SEBAGAI PENGHASIL ETANOL Kebutuhan bahan bakar sekarang bergantung pada minyak bumi. Ketersediaan cadangan minyak bumi terus menurun dan permintaan semakin meningkat, oleh karena itu diperlukan energi alternatif yang dapat diperbarui serta lebih ramah lingkungan salah satunya bioetanol. Bioetanol dapat dihasilkan melalui tahap fermentasi gula yang dikonversi menjadi etanol, salah satunya dari nira sorgum manis (Sorghum bicolor L.Moench) yang mengandung gula cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan bioetanol. Pembuatan bioetanol seringkali menggunakan khamir, ada beberapa bakteri yang memiliki kemampuan serupa dalam mengkonfersi gula menjadi etanol terutama bakteri indigenous sehingga perlu dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri indigenous pada nira sorgum manis yang dapat berpotensi menghasilkan etanol. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui bakteri indigenous yang terdapat pada nira sorgum manis dengan melihat sifat morfologi dan fisiologinya, 2) mengetahui isolat bakteri indigenous dari nira sorgum manis yang potensial untuk pembuatan bioetanol dan kadar etanol yang didapat. Isolasi bakteri dari nira sorgum manis dilakukan dalam laminar air flow untuk mengurangi kontaminasi. Identifikasi bakteri yang dilakukan yaitu pengamatan morfologi, uji katalase, dan reaksi dinding sel bakteri dengan pewarnaan Gram. Nira sorgum manis difermentasi dengan penambahan isolat yang dihasilkan untuk mengetahui kemampuan masing-masing isolat dalam mengkasilkan etanol. Hasil menunjukkan bahwa bakteri indigenous yang terdapat pada nira sorgum manis merupakan genus Trichococcus, Micrococcus, Staphylococcus, Zymomonas, Bacillus, dan Neisseria. Semua bakteri tersebut mampu menghasilkan etanol namun genus Zymomonas merupakan genus yang menghasikan etanol dari nira sorgum manis tertinggi sebesar 1,915% dan berpotensi digunakan dalam pembuatan bioetanol.Currently the fuel needs are dependent on petroleum. Availability of petroleum reserves continually reduce while the demand gradually increases, Therefore it is necessary to develop renewable energyalternative which more environmentally friendly such as bioethanol. Bioethanol can be produced through the fermentation of sugar converted into ethanol, such is sweet sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) which contains hight sugar so it can be used to produce of bioethanol. Produce of bioethanol usually use yeasts as starter, there are some bacteria that have similar capabilities in converting sugar into ethanol primarily indigenous bacteria, so it’s need to looking for isolate and identify of indigenous bacteria that can potentially produce ethanol. This research are aimed to: 1) Knowing indigenous bacteria from sweet sorghum sap by analysis morphology and physiology, 2) Knowing indigenous bacteria isolate from sweet sorghum sap that potential to produce bioethanol and obtained ethanol content. Isolation of bacteria from sweet sorghum sap is done in a laminar air flow in order to reduce contamination. Identification of bacteria was done using the morphology analysis, catalase test, and reaction with the bacteria cell wall of Gram staining. Sweet sorghum sapfermented with added isolate produced todetermine the ability of each isolate in producing ethanol. The result showed that indigenous bacteria of sweet sorghum sap are genus Trichococcus, Micrococcus, Staphylococcus, Zymomonas, Bacillus, and Neisseria. All of bacteria are able to produce ethanol, but the genus Zymomonas produce hight ethanol from sweet sorghum sap of 1.915% and is the most potential genus used in manufacture of bioethanol.
67868056A1H009065DINAMIKA EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) PADA PERTUMBUHAN PADI MENGGUNAKAN METODE PENANAMAN SRI (System Of Rice Intensification) DENGAN PENAMBAHAN ARANG PADA EKSPERIMEN POT
Lahan sawah diduga sebagai salah satu sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming). Tujuan penelitian ini antara lain (1) Mengetahui dinamika emisi gas rumah kaca (GRK). (2) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi emisi Gas Rumah Kaca pada penanaman padi. (3) Mengetahui produktifitas padi pada setiap penambahan arang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2013 sampaibulan Juli 2013diDesa Banjarsari wetan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas dan sampel gas dianalisis di Laboratorium Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian di Kota Pati, Jawa Tengah.
Variabel yang diamati dalam penelitian ini antara lain, emisi gas rumah kaca, pertumbuhan tanaman, sifat fisik tanaman, perlakuan yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa 5 buah Pot yang sudah dimodifikasi dengan perlakuan Pot 1: dengan dosis Arang 5 ton/ha + MOL, Pot 2 : dengan dosis Arang 10 ton/ha + MOL, Pot 3 : dengan dosis Arang 20 ton/ha + MOL, Pot 4 : hanyapemberian MOL tanpaarang, Pot 5 :hanyadosis Arang 10 ton/ha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang dosis 20 ton/ha + MOL menghasilkan emisi CO2 tertinggi yaitu sebesar 6779,65 ppm/hari. Emisi gas N2O tertinggi dengan total emisi 2556,32 ppb/hari pada pemberian arang dosis 20 ton/ha + MOL, emisi CH4 terbesar dihasilkan oleh pemberian MOL tanpa arang dengan total emisi 12,43 ppm/hari, pemberian arang dosis 10 ton/ha + MOL merupakan penghasil emisi terendah. Emisi gas rumah kaca pada lahan pertanian dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti nilai EC, pH, suhu permukaan, kelembaban, penambahan MOL, penambahan arang dan pertumbuhan tanaman. Produktifitas hasil tanaman paling tinggi dihasilkan oleh perlakuan pemberian arang dosis 10 ton/ha + MOL dengan total bobot kering 34, 75 gram.
Rice field is expected as one of emission resource from Greenhouse Gas which causes global warming. The aim of this research are: ( 1 ) knowing dynamics greenhouse gas emission.( 2 ) knowing factors affecting greenhouse gas emission on planting rice.( 3 ) knowing productivity of rice at any additional charcoal. This research was done on April until July 2013 in the East Banjarsari Village, Sumbang subdistrict, Banyumas regency. Gas sample analyzed in the agriculture environment hall, research and agriculture development comittee, Department of Agriculture in Pati, Central Java.
Variable observed in this research are, greenhouse gases (CO2, N2O, CH4), plant growth parameter, physical properties plants. The research use 5 pots, with different treatmens, first biochar doses of 5 ton/ha + MOL, second biochar doses of 10 ton/ha + MOL, third biochar doses of 20 ton/ha + MOL, fourth only use MOL without biochar, fifth only use biochar doses of 10 ton/ha.
The result shows that giving charcoal dose around 20 ton/ha + MOL produces the highest emission CO2 as big as 6779.65 ppm daily average. The highest N2O gas emission by total emission around 2556.32 ppb daily average in giving charcoal dose of 20 ton/ha + MOL, the biggest CH4 emission is produced by giving MOL without charcoal by total emission around 12.43 ppm daily average. Giving charcoal dose around 10 ton/ha + MOL is the lowest emission producer. Greenhouse gas emission in agriculture area influenced by environment factors, such as EC, pH value, surface temperature, humidity, additional MOL, additional charcoal and plant growth. Productivity of the highest plant result is produced by giving charcoal treatment around 10 ton/ha +MOL by the total of dry weight around 34.75 gram.
67878057E1A010101KEBIJAKAN OTONOMI KHUSUS PAPUA DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIAKeberadaan otonomi khusus dalam sistem ketatanegaraan Indonesia memberikan konsep baru dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. Otonomi khusus senyatanya menjadi sebuah polemik dalam konsep negara kesatuan yang dianut oleh Indonesia. Otonomi khusus bagi Papua yang diberikan oleh pemerintah sebagai salah satu kebijakan strategis ditujukan untuk memperkuat integrasi bangsa. Pembagian pemerintahan daerah hingga pada tingkat dua ditujukan sebagai gagasan yang mempermudah memunculkan aspirasi masyarakat Indonesia hingga pada wilayah kabupaten/kota. Pada umumnya otonomi daerah mempraktikan non-sentralistik dalam setiap kebijakan daerah dan pusat. Munculnya otonomi khusus yang merupakan perluasan dari konsep otonomi daerah senyatanya memiliki keterbatasan yang tercantum dalam undang-undang terkait. Hak kekhususan tetap didasarkan pada kedaulatan negara dan konstitusi tertulis yang terkodifikasi tunggal di Indonesia. Wilayah timur Indonesia memiliki beragam tantangan situasi dan kondisi, sumber daya alam yang berlimpah tidak memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar. Proses integrasi sejarah Papua ke dalam NKRI pun selalu dipertanyakan, keadaan inilah yang menimbulkan berbagai aksi ketidakpuasan terhadap pemerintah Indonesia. Kebijakan otonomi khusus yang diberikan kepada Papua adalah sebuah hak mutlak terbatas untuk Papua mengurus daerahnya dengan berbagai kekhususan yang diterima. Kekhususan di bidang pengelolaan keuangan, lembaga khusus, membuat peraturan khusus dan kewenangan khusus daerah lainnya dalam segala bidang. Hak kekhususan yang diberikan kepada Papua sangatlah berbeda dengan otonomi yang diberikan kepada daerah lain, pendapatan daerah sebagai pendukung pertama daerah terlihat jelas dalam pengalokasian besaran dana kepada Papua. Undang-undang Otonomi Khusus yang telah disahkan dan berjalan hingga 12 tahun senyatanya belumlah berjalan seperti yang diamanahkan. Berbagai permasalahan dan hambatan dipengaruhi oleh faktor internal di Papua itu sendiri yang memiliki sumber daya manusia dengan berbagai keterbatasan untuk bisa mengelola daerahnya. Papua yang saat ini telah dimekarkan menjadi dua yakni Papua dan Papua Barat, belumlah menjawab sebuah solusi yang menyelesaikan masalah pengelolaan otonomi khusus di Papua. Berbagai aksi ketidakpuasan terus dimunculkan sebagai outokritik pemberian otonomi khusus yang sepihak dan ketidaksiapan pejabat serta masyarakat Papua. The existence of specific autonomy in the Indonesia constitutional system provides a new concept in the system of local governance in Indonesia. Specific Autonomy in fact be a polemic in the unitary state concept that adopted by Indonesia. Specific autonomy for Papua, which is given by the government as one of the strategic policy aimed to strengthen national integration. The division of local government to the level of the two is intended as ideas that make it easier to raise the aspirations of the Indonesia people at the district or city. Generally the regional autonomy practice a non-centralistic system in every central or regional policy. The emergence of specific autonomy which is an extension from regional autonomy concept has its limitations that has been applied in its law. The right of the specification is based on the state sovereignty and constitution of Indonesia. Eastern region of Indonesia has a diverse challenges circumstances, abundant natural resources do not provide a significant impact on the welfare of the surrounding people. The integration process of Papua history into the Republic of Indonesia's history is always questionable, this condition caused the dissatisfaction with the Indonesian government. Specific autonomy policy that given for Papua is an absolute unlimited right to take care of the Papua region with different specificities received. Specification in the financial management field, specialized institutions, make special rules and other areas of specific authority in all of the field. Specificity rights granted to Papua autonomy is very different from that given to other areas, local revenue to support the area 's first evident in the allocation of funds to the amount of Papua. The law of specific autonomy was passed and goes up to 12 years in fact has not gone as mandated. A Various problems and barriers are influenced by internal factors in Papua itself which has a human resources with various limitations to be able to manage the region. Papua, which has been divided into two: Papua and West Papua, has not responded to a solution that solve the problem of the special autonomy management in Papua. Dissatisfaction Actions appears as a impact of the specific authority division unilaterally and the unilateral granting of specific autonomy and unpreparedness officials and the Papua people.
678810169H1F007003GEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA BATUAN VOLKANIK
DAERAH BULAKAN DAN SEKITARNYA
KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANG JAWA TENGAH
Lokasi penelitian berada di daerah Bulakan, Kecamatan Belik Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah secara geografis berada pada koordinat 1090.17’20”- 109.19’40” BT dan -70.07’30” -7.10’40” LS dengan luas daerah penelitian sebesar 6 x 4,5 km². Daerah penelitian merupakan bagian dari Formasi Rambatan, Formasi Halang dan Endapan Gunung Slamet, berumur Miosen Tengah sampai Pliosen.
Secara umum daerah penelitian terbagi menjadi tiga satuan geomorfologi yaitu Satuan Satuan Perbukitan struktural Curam dan Satuan aliran lava. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah Sesar Mendatar Kanan Menaik. Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi lima satuan, dari muda hingga tua adalah Satuan Lava Andesit, Satuan intrusi diorit, Satuan Breksi, Satuan Batupasir dan Satuan batulempung.
Perhitungan Cadangan Andesit dengan metode penampang tegak diperoleh cadangan sebesar : 10.900.233.180,00 Ton
The study area is located in Bulakan, District Belik Pemalang, Central Java Province is geographically located at coordinates 1090.17’20”- 109.19’40” BT dan -70.07’30” -7.10’40” LS with broad research area of 6 x4,5 km ². The research area is Rambatan Formation, Halang Formation and Lava Slamet Montain from Middle Miocene to Pliocene.
There are three main geomorphologic unit in the study area that is Structural Steeply Hills Unit and Deposit Lava Slamet Montain Hills Unit. Geological structure in this area that is Reverse Right Slip Fault. Stratigraphic study area is divided into four units, from young to old is Andesite Lava Unit, Intrusion Diorit, Breccia Andesite Unit, Sandstone Unit and Mudstone Unit.
Calculation of andesite resources with the vertical section method had obtainable as 10.900.233.180,00 ton
678910170C1J010035VARIABLES AFFECTING THE INCOME TO BROILER BUSINESS IN
BATURRADEN SUB-DISTRICT BANYUMAS REGENCY
Penelitian ini berjudul “VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA AYAM PEDAGING DI KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh modal, lama usaha, dan jam kerja terhadap pendapatan yang diperoleh peternak ayam pedaging dan untuk mengetahui variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pendapatan yang diperoleh peternak ayam pedaging di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantatif dengan data primer dan data sekunder pada pada usaha ayam pedaging, dimana terlebih dahulu dilakukan perhitungan dengan alat analisis yang ada baru kemudian dijelaskan dalam bentuk deskriptif. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Regresi Linear Berganda, Uji Statistik, Uji Asumsi Klasik, dan Uji Elastisitas.
Berdasarkan hasil analisis Regresi Linear Berganda menunjukkan bahwa modal, lama usaha dan jam kerja berpengaruh secara bersama-sama dan parsial terhadapan pendapatan usaha ayam pedaging. Berdasarkan uji F dan uji t menunjukan bahwa pada selang kepercayaan 95% dalam variabel modal (X1), lama usaha (X2), dan jam kerja (X3) menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan (Y) pendapatan usaha ayam pedaging di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Berdasarkan uji asumsi klasik, menunjukkan bahwa distribusi ketiga variable normal. Berdasarkan hasil uji elastisitas menunjukkan bahwa variabel modal (E1) paling berpengaruh terhadap pendapatan usaha ayam pedaging dibandingkan dengan variabel lama usaha (E2) dan variabel jam kerja (E3).
Implikasi dari penelitian ini adalah Usaha ayam pedaging di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas penting untuk memperhatikan variabel modal, lama usaha dan jam kerja, karena ketiga variabel tersebut secara nyata berpengaruh secara bersama-sama dan parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan usaha ayam pedaging. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan cara melakukan pembukuan penggunaan modal dengan cermat dan teratur, pencatatan jumlah produksi ayam pada setiap periodenya, konstruksi kandang akan mempengaruhi jumlah produksi, hal ini menjadi salah satu modal yang sangat mempengaruhi pendapatan suatu usaha ayam pedaging. Lamanya usaha menentukan pengetahuan akan mengelola usahanya dan curahan waktu para pekerja juga perlu diperhatikan. Para pengusaha ayam pedaging di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas lebih memperhatikan dan menitik-beratkan pada modal, karena dalam hasil uji elastisitas modal merupakan variabel yang sangat menentukan pendapatan yang diperoleh peternak. Modal yang dimaksud seperti konstruksi kandang, apabila kapasitas kandang besar tentu produksi ayam juga lebih banyak dan pendapatan yang diperoleh akan besar pula.
This research was entitled "The Variables Affecting the Income of Broiler
Business in Baturraden Sub-district Banyumas Regency". The aim of this research
was to determine the effect of capital, business duration and working hours toward
the income earned by broiler breeder and to determine the variable that has the most
significant effect toward the income earned by broiler breeder. This research was
descriptive quantitative with secondary data on broiler business, Then first
performed calculations with existing analysis tools then described descriptively. The
analytical tool used in this research is multiple linear regression, statistic test,
classical assumption test, and elasticity test.
Based on the research results of Multiple Linear Regression showed that the
captal, business duration, and working hours simultaneously and partially has
significant effect toward the income of broiler business.Based on the F Test and t Test
showed that the 95% confidence interval in the capital (X1), business duration (X2),
and working hours (X3) showed a significant effect on income (Y) of broiler business
in Baturraden sub-district Banyumas Regency. Based on the research results of
Classical Assumption Test showed that distribute of the third s normal. Based on the
research results of Elasticity Test showed that the capital variable (E3) is the most
influential variable toward the income of broiler business in Baturraden sub-district,
Banyumas Regency compared to business duration variable (E2) and working hour
(E3).
The implication of this research isBroiler business in Baturraden sub-district
Banyumas Regency is important to pay attention to variable of capital, business
duration and working hour, because the three variables simultaneously and partially
has significantly effect toward the income of broiler business. This can be carried out
well, one of the ways is by making bookkeeping on the use of capital carefully and
regularly, recording the number of chicken production on each period, cage of
construction will affect the amount of production, it is becoming one of the capital
that greatly affect the income of a business broilers. The business duration to
determine the knowledge to manage their business and the working hours also need
to be considered. The breeder of broiler in Baturraden sub-district Banyumas
Regency should be pay attention more and focus on capital, because in the result of
elasticity test, capital are variables that determine the income of farmers . Capital is
defined as the construction of the cage, if the capacity of a large cage, so the chicken
production will more too and earned income will be greater.
67908055A1H009021Uji Performansi Rapid Quality Detector (Prototype II) Untuk Pengukuran Kualitas Buah Pepaya CaliforniaKemajuan dalam pengembangan alat dan mesin untuk evaluasi mutu berbasis sifat optik belum dapat dinikmati oleh petani di negara berkembang (termasuk indonesia), karena keterbatasan finansial untuk dapat memilikinya. Dalam upaya memperoleh solusi terhadap permasalahan tersebut perlu diciptakan teknologi pendeteksi mutu buah dengan menggunakan komponen dengan harga yang terjangkau dan tersedia di pasaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik luaran sensor LDR terhadap indikator mutu buah (kekerasan, total padatan terlarut, warna) dan membuat persamaan matematis hubungan luaran sensor LDR terhadap indikator mutu buah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2013. Penelitian ini menggunakan metode non destruktif dan destruktif dengan tiga perlakuan awal yaitu utuh, impact, pressure. Variabel yang dimati dalam penelitian ini meliputi respon sensor, kekerasan, total padatan terlarut, warna dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat Rapid Quality Detector (Prototype II) dapat merespon perubahan kematangan buah pepaya California terhadap indikator mutu buah. Hubungan respon sensor dengan kekerasan didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yu = 124,27x2 – 7,7065x + 18,15 dengan R² = 0,3651, perlakuan impact yi = 8620,4x2 – 2279,9x -170,1 dengan R² = 0,942, dan perlakuan pressure yp = 8158,5x2 – 2208,6x + 166,71 dengan R² = 0,9958. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap kekerasan buah pepaya. Hubungan respon sensor dengan total padatan terlarut didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yu = 191,93x2 – 51,945x + 3,8829 dengan R² = 0,1062, perlakuan impact yi = -2439,1x2 + 646,42x – 41,685 dengan R² = 0,887, dan perlakuan pressure yp = -2714,4x2 + 735,55x – 47,818 dengan nilai R² = 0,9908. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap total padatan terlarut buah pepaya. Hubungan perubahan warna terhadap respon sensor didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yL = 1823,9x2 – 528,18x + 92,068 dengan R2 = 0,7147, ya = 4865,8x2 – 1395x + 94,79 dengan nilai R² = 0,9672, dan yb = 5869,9x2 – 1602,6x + 144,76 dengan R² = 0,8989. Perlakuan Impact yL = -8279,7x2 + 2268,1x – 95,602 dengan R2 = 0,4736, ya = -11828x2 + 3158,2x – 209,65 dengan R² = 0,5183, dan yb = -13007x2 + 3578,5x – 200,39 dengan R² = 0,546. Perlakuan Pressure yL = -5295,3x2 + 1493,5x – 46,898 dengan R2 = 0,5862, ya = -3640,2x2 – 1007,2x – 70,628 dengan R² = 0,0528, dan yb = -10311x2 + 2806,3x – 146,99 dengan R² = 0,6747. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap perubahan parameter warna buah pepaya. Ambang batas penerimaan konsumen adalah pada nilai OD sebesar 0,165013.The progress of tools and machines development for quality evaluation which is based on the optical characteristics can not be enjoyed by farmers in developing countries (including Indonesia) because of financial constraints to get it. An effort to obtain the solutions toward these cases, therefore, it needs to be created the technology of fruit quality detection using components by inexpensive price and it available in the market. The aims of this study are to find out the characteristics of LDR censor outputs toward the changing of fruit quality indicators and to create mathematical equations of LDR censor outputs toward fruit quality indicators. This research was conducted at the Agricultural Technology Laboratory, Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study was done on June until September 2013. This research also use non-destructive and destructive methods with three pre- treatments, they are intact, impact, and pressure. The variables that are observed in this study include of the censor response, hardness, total solid matter soluble, color and organoleptic tests. Result of this research shows that the Rapid Quality Detector (Prototype II) tool can respond the changing of overripe California papaya toward fruit quality indicators. The correlation of censor response with hardness is obtained by the equations, they are intact treatment yu = 124.27x2 – 7.7065x + 18.15 with R² = 0.3651, impact treatment yi = 8620.4x2 – 2279.9x -170.1 with R² = 0.942, and pressure treatment yp = 8158.5x2 – 2208.6x + 166.71with R ² = 0.9958, so the censor response influences papaya hardness, besides, correlation of censor response with total solid matter soluble obtained by the equations, they are intact treatment yu = 191.93x2 – 51.945x + 3.8829 with R² = 0.1062, impact treatment yi = -2439.1x2 + 646.42x – 41.685 with R² = 0.887, and pressure treatment yp = -2714.4x2 + 735.55x – 47.818 with a value of R² = 0.9908, thus the censor response influences toward total solid matter soluble of papaya fruit. In addition, the correlation of changing color toward censor response is obtained several equations, such as intact treatment yL= 1823.9x2 – 528.18x + 92.068 with value of R2 = 0.7147, ya = 4865.8x2 – 1395x + 94.79 with value of R² = 0.9672 and yb = 5869.9x2 – 1602.6x + 144.76 with value of R² = 0.8989. Impact Treatment yL = -8279.7x2 + 2268.1x – 95.602 with value of R2 = 0.4736, ya = -11828x2 + 3158.2x – 209.65 with R² = 0.518, and yb = -13007x2 + 3578.5x – 200.39 with R² = 0.546. Pressure Treatment yL = -5295.3x2 + 1493.5x – 46.898 with R2 = 0.5862, ya = -3640.2x2 – 1007.2x – 70.628 with R² = 0.0528 and yb = -10311x2 + 2806.3x – 146.99 with R² = 0.6747. Therefore, the censor response influences toward the changing parameters of papaya fruit color, and the threshold of consumer acceptance is at the OD value as big as 0.165013.
679111221A1L011086PENGARUH DUA DOSIS SULFUR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA GENOTIPE BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) SECARA NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT)Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sulfur dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas umbi bawang merah. Tujuan penelitian ini untuk (1) Mengetahui pengaruh dua dosis sulfur terhadap karakter pertumbuhan dan hasil lima belas genotipe dan lima varietas pembanding bawang merah, (2) Mengetahui perbedaan genotipe pada karakter pertumbuhan dan hasil lima belas genotipe dan lima varietas pembanding bawang merah (3) Mengetahui interaksi antara sulfur dengan genotipe pada karakter pertumbuhan dan hasil lima belas genotipe dan lima varietas pembanding bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan Nopember 2014 di screen house Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Desa Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 110 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan ulangan 3 kali. Faktor pertama yang dicoba adalah dosis Sulfur (S) yang terdiri dari S1 (30 ppm) dan S2 (90 ppm) dan faktor kedua adalah genotipe (G) yang berjumlah lima belas genotipe dan lima varietas pembanding. Karakter yang diamati dalam penelitian ini: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, diameter daun, volume akar, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah umbi, bobot kering umbi. Data dianalisis dengan uji F dilanjutkan Uji Jarak Ganda Duncan (UJGD) dan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan (1) Peningkatan dosis sulfur meningkatkan jumlah daun, panjang daun, panjang akar, bobot kering tanaman dan bobot kering umbi, (2) Terdapat perbedaan genotipe pada semua karakter pertumbuhan dan hasil bawang merah yang diamati. (3) Interaksi antara genotipe dengan sulfur terdapat pada karakter panjang daun, diameter daun, volume akar, panjang akar, bobot kering tanaman, diameter umbi, bobot basah umbi dan bobot kering umbi, (4) Bobot kering umbi pada dosis sulfur 30 ppm tertinggi pada genotipe bawang merah G2, pada dosis sulfur 90 ppm tertinggi pada varietas bawang merah Bima Juna.Shallot (Allium ascalonicum L.) is one of vegetables that have high economic value. Sulfur can affect the quantity and quality of onion bulbs. The objectives of this research are (1) to know the influences of two doses of sulphur to the growth character and the yield of fifteen genotypes and five comparator varieties of shallot, (2) to know the genotype differences in the character of the growth and the yield of fifteen genotypes and five comparator varieties of shallot, (3) to know the interaction between sulphur with genotype on the growth character and the yield of fifteen genotypes and five comparator varieties of shallot.This research was conducted from August to November 2014 in Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology’s screen house, The Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Grendeng Village, North Purwokerto District, Banyumas Regency with altitude 110 m asl. The experimental design used in this research is a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 times repetitions. The first factor tested is the dose of Sulphur (S) consisting of S1 (30 ppm) and S2 (90 ppm) and the second factor is the genotype (G) in sum of fifteen genotypes and five varieties. The Characters that observed in this research are: height of plant, number of leaves, length of leaf, diameter of leaf, volume of root, fresh weight of plant, dry weight of plants, number of bulb, diameter of bulb, fresh weight of bulb, dry weight of bulb. Data is analyzed using F test and followed with Duncan Multiple Range Test (DMRT) and Least Significant Different (LSD) at the level of 5% error.The results of the research show: (1) The increase of sulphur influences the growth and the production of shallot in the number of leaves, the length of leaves, the length of roots, dry weight of plant, and dry weight of bulb, (2) There are differences of genotypes in all growing characters and shallot production that is examined. (3) The interaction between genotype with sulphur is found in the character of length of leaf, diameter of leaf, volume of root, dry weight of plant, diameter of bulb, fresh weight of bulb and dry weight of bulb. (4) The highest dry weight of bulb in the dose of 30 ppm sulphur is at shallot genotype G2 , while in the dose of 90 ppm sulphur is at shallot variety Bima Juna.
679211222A1C007018PENENTUAN HARGA PRODUKSI MARNING JAGUNG
PADA USAHA DAGANG CUKUP SARI
KECAMATAN BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA
UD “Cukup Sari” merupakan perusahaan agroindustri yang memproduksi makanan marning dengan bahan dasar jagung. Proses produksinya masih sangat sederhana sehingga dibutuhkan perhitungan harga pokok produksi agar terjadi kesesuaian harga jual. Tujuan penelitian adalah menghitung perbedaan harga pokok produksi menurut UD “Cukup Sari” dengan harga pokok produksi metode variabel costing dan menghitung perbedaan laba menurut UD “Cukup Sari” dengan perhitungan laba metode variabel costing.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus usaha dagang marning jagung “Cukup Sari” di Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga, sedangkan alat analisis yang digunakan adalah analisis harga pokok produksi dan laba bersih usaha serta uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata harga pokok produksi sesungguhnya pada usaha dagang jagung marning Rp9.121,90 per kg, menurut metode variable costing rata-rata harga pokok produksi Rp7.607,03 per kg.
Harga pokok produksi yang ditetapkan perusahaan tidak berbeda dengan harga pokok produksi berdasarkan variable costing. Laba menurut variable costing Rp4.797,58 per-kilogram sedangkan laba menurut perusahaan adalah sebesar Rp4.986,51 per-kilogram. Laba yang ditetapkan perusahaan tidak berbeda nyata dengan harga pokok produksi berdasarkan variable costing.
2
Abstract
UD “Cukup Sari” is a manufactured agroindustry who produced marning based of corn. The process of production is very simple, and need cost of production to determine price. This research finding out difference cost of production according UD "Cukup Sari" with variable costing method, then difference operational profit base on UD "Cukup Sari" with variable costing method.
The research method used case study of corn marning efforts "Cukup Sari" in Bobotsari, Purbalingga region. The t-test is used to analysis difference means of gold manufactured cost and net income. Base on the results showed the average actual cost of goods manufactured on the corn marning Rp9.121,90 per kg while according to the variable costing method of Rp7.607,03 per kg.
Actual cost of goods manufactured has no different with based on the variable costing method. Actual net profit of corn marning Rp4.797,58 kg but on the variable costing method Rp4.986,51 per kg. Its meaning actual net profit has no different with based on the variable costing method.
679311713G1B009085ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA PADA IBU BURUH MIGRAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ADIPALA II KABUPATEN CILACAPMasalah gizi masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat salah satunya di Kabupaten Cilacap. Kabupaten Cilacap termasuk pengirim TKI terbanyak ke-4 dari 25 kabupaten di Indonesia, dengan jumlah laki-laki sebanyak 2.637 orang (33,95%) dan 5.131 orang (66,05%) merupakan perempuan. Pengaruh yang terjadi dengan status gizi balita oleh ibu yang bekerja sebagai buruh migrant yaitu berkaitan dengan pola asuh, sehingga berpengaruh terhadap pemberian makan yang berakibat pada status gizi balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita pada ibu buruh migran di Wilayah kerja Puskesmas Adipala II Kabupaten Cilacap. Jenis penelitian yang digunakan adalah Cross-Sectional. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariate dengan uji chi square dan regresi logistic ganda. Berdasarkan uji multivariat, diketahui bahwa penyakit infeksi (p=0,005) dan pola asuh (p=0,027) berhubungan secara bersama-sama dengan status gizi balita, sedangkan tingkat konsumsi energi (p=0,216), tingkat konsumsi protein (p=0,223), penyakit infeksi (p=0,004, pendidikan (p=0,390), pengetahuan (p=0,992), dan pengeluaran pangan (p=0,204) tidak berhubungan secara bersama-sama dengan status gizi balita. Upaya perbaikan status gizi dapat mencegah terkena penyakit infeksi dan peningkatan pola asuh yang diberikan harus lebih diperhatikan seperti cara pemberian makan, pemilihan makanan, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang dapat berpengaruh secara langsung terhadap status gizi balita.Nutrition problem is still a major public health problem in Cilacap. Cilacap is one of regency which was sent TKI 4th highest of the 25 districts in Indonesia, the number of men as much as 2,637 people (33.95%) and 5,131 people (66.05%) are women. The effect of that occur with infant nutritional status by the mother who worked as a migrant worker is related to parenting, and therefore contributes to feeding resulting in nutritional status of toodler. This study aims to determine the factors associated with maternal nutritional status of toodler of migrant workers in the working area of Puskesmas Adipala II Cilacap. This type of research is a cross-sectional. Analysis of data using univariate, bivariate and multivariate chi-square test and multiple logistic regression. Based on multivariate analysis, it is known that infectious diseases (p=0,005) the pattern of care (p=0,027) associated jointly with the nutritional status of children, while the level of energy consumption (p=0,216), the level of protein consumption (p=0,223), education (p=0,390), knowledge (p=0,992), and food expenditure (p=0,204) was not associated together with the nutritional status of toodler. Efforts to improve parenting should be given more attention as a way feeding, food selection, and utilization of health services which can be directly affects the nutritional status of toodler.
67948058A1L009078PENGARUH PENGURANGAN KONSENTRASI PUPUK AB MIX
DAN PEMBERIAN URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAYAM MERAH (Alternanthera amoena Voss.) SECARA HIDROPONIK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pengaruh pengurangan konsentrasi pupuk AB Mix dan konsentrasi urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dengan ketinggian 110 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Nopember sampai dengan Desember 2013, menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba adalah urin sapi terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa pemberian, 25ml/l dan 50ml/l, sedangkan penguranan konsentrasi pupuk AB Mix yaitu 6ml/l, 4ml/l dan 2ml/l. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), volume akar (ml), bobot segar tanaman (g), bobot segar akar (g) dan bobot kering tanaman (g) dan bobot kering akar (g). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam. Apabila keragaman antar perlakuan nyata, maka dilanjutkan dengan DMRT dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian urin sapi sampai konsentrasi 50ml/l belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah. Pengurangan konsentrasi pupuk AB Mix sampai 2ml/l menurunkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, volume akar, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman dan bobot kering akar tanaman bayam merah. Tidak terdapat interaksi antara pemberian urin sapi dengan pengurangan konsentrasi pupuk AB Mix pada pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah.This research aims are to find out: Effect of concentration reduction in AB Mix fertilizers and cow’s urine concentration for the growth and yield of red spinach by hydroponic. The research had been conducted in the screen house of Faculty of Agricultures, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto at 110 meters above sea level, since November up to December 2013, by using randomized complete block design (RCBD) used 9 combination treatments and replay as much as 3 times.factors. Factors tried were the cow’s urine concentration consistsed of three levels, without gift (S0), 25 ml/l (S1) and 50 ml/l (S2), while concentration reduction of AB Mix fertilizers given by 6ml/l (P1), 4ml/l (P2) and 2ml/l (P3). The variables measured were plant height (cm), number of leaves (strands), leaf area (cm2), root volume(ml), plant fresh weight (g),root fresh weight (g), plant dry weight (g) and root dry weight (g). Data obtained are analyzed by analysis of variance to determine the effect of treatment on the diversity of observed variables. If the variance among treatments is significant, then followed by DMRT at 5 % error rate. The result showed giving of cow’s urine to 50ml/l wasn’t able increase the growth and yield of red spinach. Concentration reduction of AB Mix fertilizers to 2ml/l reduce plant heigh, number of leaves, leaf area, root volume, plant fresh weight, plant dry weight and root dry weight of red spinach. There is no interaction between the treatment of cow’s urine concentration and concentration reduction of AB Mix fertilizers to the growth and yield of red spinach.
67958059A1L009062PENGARUH PENAMBAHAN VERTISOL DAN PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAYAM MERAH (Althernantera amoena Voss.) PADA MEDIA PASIR PANTAI Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui komposisi media antara vertisol dengan pasir pantai yang baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah, (2) mengetahui dosis pupuk urea yang baik pada pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah yang ditanam pada media pasir pantai, (3) mengetahui pengaruh interaksi antara vertisol dengan dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah yang ditanam pada media pasir pantai. Rancangan percobaan yang disusun dengan pola faktorial menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah penambahan vertisol terdiri dari tiga taraf, yaitu 25, 50 dan 75%. Faktor kedua adalah dosis pupuk urea yang terdiri dari tiga taraf yaitu 110, 130 dan 150 kg urea/ha. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, bobot segar akar, bobot kering akar, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F, yang dilanjutkan dengan Rentang Ganda Duncan (RGD) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk dengan dosis 150kg urea/ha dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam merah khususnya panjang akar, bobot akar segar, dan bobot kering tanaman. Penambahan vertisol sampai 75% belum memberikan pengaruh berbeda terhadap semua variabel yang diamati. Tidak terjadi interaksi perlakuan antara penambahan vertisol dan pemberian pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam merah.This research was aimed to: ( 1 ) know better composition between vertisol and sandy soil on the growth and yield of red spinach, ( 2 ) know the effect of urea fertilizer dose on the growth and yield of red spinach plant in the sandy soil, ( 3 ) know the influence of the addition of soil interaction vertisol as soil conditioner with urea fertilizer on the growth and yield of red spinach plant in the sandy soil . The experiment used a complete randomized block design (CRBD) with two factors and replicated three times. The first factor was dose addition of vertisol which consisted of 3 levels: 25 , 50 and 75 %. The second one was doses of urea fertilizer consisting of 3 levels: 110, 130 and 150kg/ha. The variables measured were plant height, number of leaves , leaf area , root length , root fresh weight , root dry weight , plant fresh weight and plant dry weight. The data were analyzed by using F test, when significant then continued by using DMRT (Duncan Multiple Range Test) of 5%. The results of research showed that a dose of 150kg/ha urea fertilizer increasde plant growth , especially root length , root fresh weight and plant dry weight. Vertisol addition until 75 % did not give different effect yet to all observed variables . There was no interaction between the treatments and the addition of vertisol and urea fertilizer on the growth and yield of red spinach.
67968060C1C010041Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kesadaran Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Menjalankan Kegiatan UsahaPenelitian ini merupakan penelitian survei pada wajib pajak orang pribadi yang menjalankan kegiatan usaha di Kabupaten Purworejo. Penelitian ini mengambil judul: “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kesadaran Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang Menjalankan Kegiatan Usaha”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan pemahaman perpajakan, kualitas pelayanan fikus, dan persepsi wajib pajak atas efektifitas sistem perpajakan terhadap kesadaran membayar pajak.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simpel random sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 98 responden yang ditentukan menggunakan rumus slovin.
Berdasarkan hasil pengujian, variabel pengetahuan dan pemahaman perpajakan dan persepsi wajib pajak atas efektifitas sistem perpajakan berpengaruh secara parsial terhadap kesadaran membayar pajak, sedangkan variabel kualitas pelayanan fikus tidak berpengaruh terhadap kesadaran membayar pajak. Persepsi wajib pajak atas efektifitas sistem perpajakan merupakan variabel yang paling dominan dalam meningkatkan kesadaran membayar pajak.
This research is a survey on individual taxpayers who doing business activities that registered at KPP Pratama Purworejo. The research was tittled “The Factors that effect awareness of tax paying of an individual taxpayer who doing business activities”.
The purpose of this study was to examines the influence knowledge and understanding of taxation, service quality, and taxpayer perception of the effectiveness of the taxation system on the awareness to pay taxes of an individual taxpayer who doing business activities.
Sampling techniques in the study was simple random sampling. To better represent the researchers took a sample of 98 respondents with Slovin formula calculations
Based of the result of the test, the independent variable in this study knowledge and understanding of the taxation and taxpayer perception of the effectiveness of the taxation system had a significant influence on the awareness to pay taxes. Then service quality variable not influence on theawareness to pay taxes.Taxpayer perception of the effectiveness of the taxation system is the most dominant variable influencing on on theawareness to pay taxes.
679710171H1C009026RANCANG BANGUN INFANT INCUBATOR DENGAN SISTEM PENGENDALI SUHU DAN KELEMBABAN BERBASIS KONTROL PID (PROPORTIONAL-INTEGRAL-DERIVATIVE) MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8Sekitar 80 persen angka kematian bayi di Jawa Tengah disebabkan karena bayi prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Sehingga bayi prematur membutuhkan penanganan khusus, yaitu menggunakan infant incubator. Inkubator merupakan suatu tempat atau tabung yang dijaga suhu di dalamnya hampir menyerupai kondisi di dalam rahim ibu. Pemakaian infant incubatorini berguna agar bayi prematur tersebut tidak mengalami kehilangan panas tubuh.Infant incubator yang dirancang menggunakan sensor suhu dan kelembaban DHT11 yang diintegrasikan dengan aktuator pemanas (heater) dan kipas sebagai pendingin/penstabil suhu. Mikrokontroler ATMega8 digunakan sebagai pengolah data dari sensor dan diteruskan ke aktuator. Infant incubatorjuga dilengkapi kendali PID dan pengendali tegangan AC agar pengaturan tingkat suhu dalam ruang inkubator sesuai dengan yang dibutuhkan bayi. Selain itu, dilengkapi pula alarm sebagai indikator overheat temperaturedan indikator berat bayi ideal. Dengan kebutuhan suhu bayi prematur antara 34-37°C dan kelembaban antara 50-80%, diperoleh setting parameter PID, yaitu Kp = 2, Ki = 1, Kd = 1. Dan pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa integrasi sensor DHT 11, heater, kipas serta alarm bekerja dengan baik ketika sistem digunakan. Dengan menggunakan kendali PID, kondisi steady state sistem diperoleh dalam waktu 510 detik untuk set point suhu 34°C dan 480 detik untuk set point suhu 37°C, dengan rata-rata error sebesar 2,753% (34°C) dan 4,199% (37°C).About 80 percent of the infant mortality rate in Central Java due to premature babies. Premature babies are babies born with a gestational age of less than and equal to 37 weeks with a birth weight less than 2500 grams. So that premature babies require special handling, are using infant incubator. Incubator is a place or a tube that kept the temperature at which almost resembles the conditions in the mother's womb. Use of infant incubator is useful for premature babies are not experiencing loss of body heat.Infant incubator designed using DHT11 temperature and humidity sensors that are integrated with the actuator heater and a cooling fan/temperature stabilizer. Microcontroller ATMega8 used as processing data from sensors and transmitted to the actuator. Infant incubator also features PID control and AC voltage controllers that control the temperature level in the incubator space according to your baby needs. In addition, also equipped as an indicator of overheating temperature alarm and indicator of ideal weight infants. With the needs of premature infants between 34-37°C temperature and humidity between 50-80%, obtained by setting the PID parameters, ie Kp = 2, Ki = 1, Kd = 1. And tests have shown that the integration of sensors DHT 11, heater, fan and alarm works well when the system is used. By using the PID control, the system steady state is obtained within 510 seconds to the set point temperature 34°C and 480 seconds for set point 37°C, with an average error of 2.753% (34°C) and 4.199% (37°C).
679810172H1D010005ANALISIS PENGARUH REDUKSI WAKTU TERHADAP BIAYA PELAKSANAAN PROYEK DENGAN PENGEMBANGAN METODE FAST-TRACK
(Studi Kasus Pembangunan Dermaga Badan koordinasi keamanan laut Republik Indonesia, Ambon, Prov. Maluku)
Dalam sebuah pelaksanaan konstruksi di indonesia, sering terjadi berbagai permasalahan yang mengakibatkan sebuah proyek mengalami keterlambatan dalam penyelesaiannya dan menjadikan biaya pelaksanaan cendrung membengkak. Hingga saat ini cara yang banyak dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan trade-off antara waktu dan biaya. Dengan cara tersebut, umumnya percepatan waktu penyelesaian dapat dilakukan, tetapi pembengkakan biaya pembangunan tidak terelakkan. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan cara percepatan waktu pelaksanaan agar dapat dicapai sesuai rencana, tetapi biaya pembangunan tidak melebihi biaya perencanaan. Metode yang digunakan merupakan pengembangan metode fast-track pada aktifitas dilintasan kritis dengan modifikasi penjadwalan model PDM, dan untuk studi kasusnya adalah pada pembangunan dermaga Bakorkamla RI dikota Ambon, Maluku.
Metode fast-track dilakukan dengan mengubah hubungan antar aktiftas-aktifitas pada lintasan kritis dalam durasi normal yang awalnya finish to start menjadi start to start sehingga durasi pengurangan dan biaya pelaksanaan yang dihasilkan lebih optimal. Kemudian hasil ini dibandingkan dengan penambahan jumlah pekerja dan peralatan serta penambahan jam kerja pekerja dan peralatan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengembangan metode fast-track memberikan penghematan durasi sebanyak 47 hari (28,83%) dari durasi normal aktualnya (163 hari) dan penghematan biaya sebesar Rp. 251.964.387,27 (2,62%) dari biaya konstruksinya sebesar Rp. 9.612.173.335. Penambahan jumlah pekerja dan peralatan dapat menghemat durasi sebanyak 46 hari (28,22%) dari durasi normal dengan penghematan biaya sebesar Rp. 246.603.442,86 (2,57%) dari biaya total. Penambahan jam kerja pekerja dan peralatan dapat menghemat durasi sebanyak 17 hari (10,43%) dari durasi normal aktual dengan penghematan biaya sebesar Rp. 60.806.398,00 (0,63%) dari biaya konstruksi.
In construction phase in Indonesia, there are some problems which often happen causing a project go through lateness of finishing and increasing of construction cost. Until now, the most common way to overcome those problems is by doing trade-off between time and cost. By that way, generally time acceleration can be held, but the increasing of cost is inevitable. Therefore, in this research, writer use time acceleration , so that holding can be done as the plan, but holding cost isn’t more than planning cost. The fast-track method is developed using modified relational of some critical activities in PDM network diagram, and the case study is on dock construction Bakorkamla RI, Ambon, Maluku.
Fast-track method is held by changing correlation between activities on critical path in normal duration which first “finish to start’ become ‘start to start’ so that we can produce reduction of duration and holding cost that are more optimal.
The result prove that the Fast-Track Development Method give advantage including decrease of duration for 47 days (28,83%) from the actual duration (163 days) and reduce of cost construction Rp. 251.964.387,27 (2,62 %) from the actual construction cost Rp. 9.612.173.335. The addition of worker and tools can decrease of duration 46 days (28,22 %) from normal duration with cost construction reduce Rp. 246.603.4442,86 (2,57 %) from normal duration and cost construction reduce Rp. 60.806.398,00 (0,63 %) form construction cost.
67998061C1A008126PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN ANTAR KECAMATAN DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2002-2011Penelitian ini berjudul “Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan Antar Kecamatan di Kabupaten Banyumas Tahun 2002-2011”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan di Kabupaten Banyumas tahun 2002-2011. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder, menggunakan data PDRB atas dasar harga konstan 2000, Pertumbuhan Ekonomi, dan Jumlah Penduduk tahun 2002-2011. Data diperoleh dari BPS Kabupaten Banyumas serta Pemerintah Daerah. Model analisis yang digunakan adalah analisis Tipologi Klassen, perhitungan Indeks Williamson, analisis Korelasi Produk Momen dari Pearson, analisis Trend dan Granger Causality Test.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis Tipologi Klassen, sebagian besar (55,55 persen) kecamatan di Kabupaten Banyumas masuk kedalam kuadran IV atau daerah relatif tertinggal. Berdasarkan Analisis Trend menunjukkan bahwa trend pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyumas Tahun 2002-2011 menunjukan trend yang menaik, demikian pula dengan trend ketimpangan pendapatan menunjukan trend yang menaik. Ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan di Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis Indeks Williamson termasuk dalam ketimpangan tinggi dengan rata-rata Indeks Williamson sebesar 0,55. Diketahui bahwa selama periode penelitian di Kabupaten Banyumas, Indeks Williamson mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan terdapat hubungan positif tinggi (0,722) antara pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan di Kabupaten Banyumas.
Implikasi dari penelitian ini adalah meningkatkan koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Banyumas dan masyarakat untuk lebih gencar mensosialisasikan kesadaran keluarga berencana guna mengurangi beban ketergantungan penduduk, sehingga pendapatan per kapita kecamatan di kuadran IV bisa naik dan melakukan spesialisasi kegiatan ekonomi sesuai dengan potensi daerahnya. Peningkatan infrastruktur untuk pengembangan perekonomian lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan atau penambahan sarana pendidikan. Dengan nilai Indeks Williamson yang tinggi, diharapkan agar konsentrasi kegiatan ekonomi di Kabupaten Banyumas tidak hanya terpusat di kecamatan dengan PDRB tinggi. Masyarakat dapat meningkatkan pendapatan melalui investasi dengan dana kredit mikro, serta perpidahan arus produksi yang lancar guna meningkatkan pertumbuhan di daerah yang masih tertinggal.
This research entitled “Economic Growth and Inter Sub-Regency Income Disparity in Banyumas Regency Year 2002-2011”. The aim of this research is to find out the correlation between economic growth and inter sub-regency income disparity in Banyumas Regency year 2002-2011. This research is analysis of secondary data, using GRDP Based on constant price 200, Economic growth, and total population year 2002-2011. Data obtained from SCA of Banyumas Regency and also the Local Government. Analysis model used is Klassen Typoly, Williamson Index Calculation, Product Moment Correlation Analysis by Pearson, Trend analysis and Granger Casuality Test.
Based on the calculation of Klassen Typology analysis, most (55,55 percent) of the sub regency in Banyumas Regency included in quadrant IV or low growth and low income area. Based on trend analysis shows that economic growth trend in Banyumas Regency year 2002-2011 shows increasing trend, as well as the income disparity trend shows incrasing trend. Inter sub-regency icome disparity in Banyumas Regency considered in high disparity with the average of Williamson Index by 0,55. Known that during the research period in Banyumas Regency, Williamson Index affected economic growth and there was positive correlation (0,722) between economic growth and inter sub regency income disparity in Banyumas Regency.
The implication of this research is to increase the coordination between Banyumas Regency Government and the people to be more aggressive in socializing Family Planning in order to decrease population dependence burden, thus per capita income of sub regency in quadrant 4 can increase and conduct economy activity specialization according to the area potential. Infrastructure advancement in order to develope local economy and increasing human resources quality through improvement or addition of education facility. With the high number of Williamson Index, expected that concentration of economy in Banyumas Regency activity not only centralized in sub regency with high GRDP. People can increase their income through investment from micro credit fund, and also continuity of production factor in order to increase growth in relatively underdeveloped area.
680010173B1J010152DIVERSITAS TERITIP INTERTIDAL DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNGPenelitian dengan judul “Diversitas Teritip Intertidal Di Kepulauan Bangka Belitung“ bertujuan untuk mengetahui diversitas teritip intertidal dan mendeskripsikan karakteristik morfologi teritip intertidal di Kepulauan Bangka Belitung. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan November 2013 di; (1) Pulau Kepayang; (2) Jembatan kecil di Tanjung Tinggi; (3) Pantai Burung Mandi; (4) Dermaga Restoran Fega Manggar; (5) Pantai Cina; (6) Pantai Punai; (7) Pantai Belinyu; (8) Dermaga Tanjung Kliyan; (9) Pelabuhan Perikanan Muntok; (10) Pantai Tanjung Kliyan; (11) Pantai Rebo; dan (12) Pelabuhan Perikanan Sungailiat. Metode penelitian ini adalah survey dan pengambilan sampel dilakukan di beberapa pantai Kepulauan Bangka Belitung dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Pada penelitian ini ditemukan 17 spesies yang tersusun dalam 6 genera dan 3 familia, antara lain: Amphibalanus amphitrite; Amphibalanus reticulatus; Amphibalanus thailandicus; Amphibalanus sp.1; Amphibalanus sp.2; Amphibalanus sp.3; Amphibalanus sp.4; Fistulobalanus rhizophorae; Fistulobalanus sp.1; Fistulobalanus sp.2; Fistulobalanus sp. 3; Caudoeuraphia caudata; Chthamalus moro; Microeuraphia withersi; Microeuraphia sp.; Tetraclita kuroshioensis; dan Tetraclita squamosa. Deskripsi karakteristik morfologi teritip intertidal dan penentuan identitas spesies dipaparkan dalam hasil penelitian dan kemudian dibandingkan dengan referensi baik deskripsi asli paratype maupun synonym.The study entitled "Diversity of Intertidal Barnacles in Bangka Belitung Islands" aims to determine the diversity of intertidal barnacles and to describe the morphological characteristics of each barnacle species found in Bangka Belitung Islands. This research is a survey and sample was collected in November 2013 implementing purposive sampling technique from several locations including; (1) Pulau Kepayang shore; (2) Columns of a small bridge in the Tanjung Tinggi; (3) Burung Mandi shore; (4) Jetty pier of Fega Restaurant in Manggar; (5) Pantai China shore; (6) Pantai Punai shore; (7) Belinyu Port; (8) Pier in the Tanjung Kliyan; (9) Fishery Port in Muntok; (10) Tanjung Kliyan shore; (11) Pantai Rebo shore; and (12) Fishery Port in Sungailiat. This study found 17 species comprise of 6 genera and 3 families, among others: Amphibalanus amphitrite; Amphibalanus reticulatus; Amphibalanus thailandicus; Amphibalanus sp.1; Amphibalanus sp.2; Amphibalanus sp.3; Amphibalanus sp.4; Fistulobalanus rhizophorae; Fistulobalanus sp.1; Fistulobalanus sp.2; Fistulobalanus sp. 3; Caudoeuraphia caudata; Chthamalus moro; Microeuraphia withersi; Microeuraphia sp .; Tetraclita kuroshioensis; and Tetraclita squamosa. Detailed morphological characteristics are described and original description of holotype, paratypes and synonyms comparison also provided.