Artikelilmiahs
Menampilkan 6.741-6.760 dari 48.871 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 6741 | 8037 | A1L008059 | PERTUMBUHAN STEK MELATI PUTIH (Jasminum sambac L.) PADA JENIS DAN VARIASI KOSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH AUKSIN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis zat pengatur tumbuh auksin pada perbanyakan stek melati, 2) pengaruh variasi kosentrasi zat pengatur tumbuh auksin pada perbanyakan stek melati, 3) bentuk interaksi antara jenis dan kosentrasi zat pengatur tumbuh auksin dalam meningkatkan pertumbuhan stek melati. Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan bulan Juli sampai September 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Faktor yang dicoba adalah jenis zat pengatur tumbuh auksin IBA dan IAA dan taraf kosentrasi zat pengatur tumbuh 0, 100, 200, 300 ppm. Analisis data menggunakan uji F, dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (UJGD) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IBA berpengaruh lebih baik dibandingkan dengan IAA. Pemberian IBA dan IAA dengan kosentrasi semakin meningkat sampai 300 ppm, jumlah tunas dan jumlah daun stek melati semakin meningkat. IBA dengan kosentrasi 300 ppm dipilih dalam perbanyakan melati putih dengan stek batang. | The research aims to 1) the kind of growth regulator auxin on stem cuttings of jasmine, 2) variance concentration of growth regulator auxin on stem cuttings of jasmine, 3) form of interaction between kind and concentration of growth regulator auxin in improving growth stem cuttings of jasmine. This research was conducted in a plastic house Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research was conducted from July until September 2013. The design used Randomized Completely Block Design (RCBD). The factor tested are the kind of growth regulator auxin IBA and IAA and concentration level of growth regulator 0, 100, 200, 300 ppm. Data were analyzed by F test, and if there are difference continued with Duncan Multiple Range Test (DMRT) at significance level of 5%. The result showed that the IBA effect is better compared to the IAA. Applications of IBA and IAA with increasing concentration until 300 ppm, number of sprouts and number of leaves the stem cuttings of jasmine were progressively increase. IBA with 300 ppm consentration was selected in white jasmine propagation with stem cuttings. | |
| 6742 | 8034 | C1J009035 | AN ANALYSIS ON FACTORS INFLUENCING PDRB OF INDUSTRIAL SECTOR IN PURBALINGGA REGENCY IN 1998 - 2012 | Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang mempengaruhi PDRB Sektor Industri Di Kabupaten Purbalingga Tahun 1998-2012”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB sektor industri dengan variabel inflasi, jumlah industri, jumlah tenaga kerja, dan kredit investasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari BPS Kabupaten Purbalingga. Hipotesis dari penelitian ini yaitu jumlah kredit investasi, jumlah industri dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap PDRB sektor industri, variabel jumlah tenaga kerja mempunyai pengaruh paling besar terhadap PDRB sektor industri, kontribusi PDRB sektor industri terhadap PDRB total cenderung meningkat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis linear berganda, uji asumsi klasik dan uji adjusted R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : variabel jumlah industri, jumlah tenaga kerja dan kredit investasi berpengaruh signifikan, jumlah tenaga kerja merupakan variabel paling berpengaruh, dan kontribusi PDRB sektor industri terhadap PDRB total Kabupaten Purbalingga cenderung meningkat.Implikasi dari penelitian ini Inflasi, jumlah industri, jumlah tenaga kerja, dan investasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB sektor industri di Purbalingga. Menstabilkan nilai inflasi dapat meningkatkan output dari industri. Banyaknya jumlah industri ikut berpengaruh dalam peningkatan perekonomian di Purbalingga karena semakin banyaknya tenaga kerja yang terserap dan mengurangi penganguran sehingga penduduk mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyaknya jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri di Kabupaten Purbalingga diharapkan mampu benar-benar menopang sektor industri. Tenaga kerja ini harus mempunyai kemampuan yang sesuai dengan apa yang diharapkan industri. Sehingga dapat selalu meningkatkan output sektor industri.Pemerintah Kabupaten Purbalingga diharapkan dapat selalu meningkatkan PDRB sektor industri melalui kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan tingkat inflasi, peningkatan jumlah industri dan jumlah tenaga kerja, serta peningkatan investasi. Pemerintah juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pada sektor lainnya. | This study , entitled " Analysis of Factors affecting GDP Industrial Sector In Purbalingga Year 1998-2012 " . This study aims to determine the factors affecting the industrial sector GDP inflation variable , the number of industries , total employment , and investment loans . This study uses quantitative analysis using secondary data from BPS Purbalingga . The hypothesis of this study is the amount of investment credit , the amount of industrial and labor significantly influence industrial sector GDP , a variable number of workers have the most impact on the industrial sector GDP , the GDP contribution of the industrial sector to the total GDP is likely to increase . The analytical method used is multiple linear analysis , the classical assumption test and test adjusted R. The results showed that a variable number of industries , employment and investment loans have a significant effect , the amount of labor is the most influential variable , and GDP contribution of industrial sector to GDP is likely to increase the total Purbalingga Regency. The Implications of Inflation, number of industry, number of manpower, and investment are factors influencing PDRB of the industrial sectors in Purbalingga. Stabilizing the inflation value can increase the output of industry. The huge number of industries which take part in the progress of the economy in Purbalingga is because there are more workers employed and decrease in the number of unemployment, so that people have earnings to meet their daily needs. The zero in on investment can open wider chances for better industries.The massive workers who work in the industrial sectors in Purbalingga Regency are expected to really hold up the industrial sector. The workers must have the ability consistent with what the industry expects in order to increase the output in the industrial sector.The government of Purbalingga Regency is expected to constantly increase PDRB of the industrial sectors through the government policies related to the inflation rate, the escalation of number of industries and the number of manpower, and the increase in inflation. The government is also expected to be able to increase the return of other sectors. | |
| 6743 | 7293 | F1F009027 | EXPLORING ENGLISH TEACHING FOR STUDENTS OF ARABIC AND ENGLISH DEVELOPMENT SKILLS (AEDS) PROGRAM IN AL- IKHSAN ISLAMIC BOARDING SCHOOL | Peneliti melakukan penelitian berjudul Exploring English Teaching for Students of Arabic and English Development Skills (AEDS) Program in Al- Ikhsan Islamic Boarding School. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan penjelasan yang rinci mengenai pengajaran bahasa Inggris di program AEDS di pondok pesantren Al- Ikhsan.Penelitian ini difoukuskan pada materi serta metode pengajaran bahasa Inggris di sebuah kursus bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini diambil dari enam kelas pada enam level di program AEDS.Peneliti mengumpulkan data dari wawancara, observasi dan dokumentasi.Setelah melakukan analisis, ada dua materi utama yamg diajarkan di program AEDS kepada para siswa. Dua materi tersebut adalah: pembelajaran grammar yang menitikberatkan pada pemahaman tata bahasa dan pembelajaran kosakata yang menitikberatkan pada pengembangan kosakata. Kemudian, dalam menyampaikan materi- materi bahasa Inggris, semua guru dalam program AEDS mengimplementasikan tiga metode pembelajaran bahasa Inggris; Grammar Translation Method dalam menyampaikan materi- materi bahasa inggris tentang pemahaman grammar, Audio Lingual Method dalam menyampaikan materi- materi bahasa inggris tentang pembelajaran kosakata, dan Suggestopaedia dalam pembelajaran kosakata yang dihubungkan dengan peningkatan kemampuan speaking siswa. Dan beberapa masalah di AEDS program : tidak ada kurikulum, silabus, buku panduan, hanya 2 keahlian speaking dan writing yang diajarkan oleh guru dan tidak adanya guru yang berlatar belakang lulusan bahasa inggris. Peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat kepada pembaca, khususnya kalangan mahasiswa yang tertarik dengan pengajaran bahasa inggris. | The researcher conducted the analysis entitled Exploring English Teaching for Students of Arabic and English Development Skills (AEDS) Program in Al- Ikhsan Islamic Boarding School. This aims to get an understanding and detailed explanation about the English teaching of AEDS program in Al- Ikhsan Islamic Boarding School. This research focused on the analysis of English teaching material and method in an English course. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The data of this research were taken from six classes of six levels in AEDS program. The researcher collected the data by interview, observation and documentation. After conducting the analysis, it showed most two English materials taught to the students. These English materials are: Grammar study which focused on grammar understanding and Vocabulary study which focused on vocabulary improvement. Then, in delivering the English materials, all teachers in AEDS program implemented three English teaching methods; Grammar Translation Method in delivering English materials for grammar understanding, Audio lingual method in delivering English materials for vocabulary study and Suggestopaedia in teaching vocabulary study related to the speaking skill improvement. And some problems in AEDS program are: no curriculum, syllabus, guidance book, only speaking skill and writing skill are taught by the teachers and no teachers who have English educational background. The researcher hopes that this research can be a valuable contribution to the readers, especially the students who are interested in English teaching. | |
| 6744 | 10934 | F1D010059 | Pemikiran Politik Jacques Derrida tentang ‘Différance’ dalam Diskursus Pascamodernisme | Artikel dari hasil penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui dan menjelaskan tentang ‘différance’ dalam perspektif pemikiran Jacques Derrida; 2) memahami dan mendeskripsikan pemikiran politik Jacques Derrida tentang ‘différance’ dalam diskursus pascamodernisme. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutika dalam kerangka perspektif pascastruktural dan paradigma konstruktivisme. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pemikiran Derrida tentang ‘différance’ menunjuk pada pencarian makna dalam filsafat dan pemikiran dapat terbuka oleh semua kemungkinan penafsiran dan bersifat tak terhingga karena ‘différance’ berusaha menunda sekaligus membedakan pemaknaan sebuah realitas di dalam teks. Hal ini terjadi karena ‘différance’ dalam diskursus pascamodernisme menyoroti proyek modernisme yang mematenkan makna dan tujuan atau disebut totaliterisme. Hal ini terjadi karena proyek modernisme tidak dapat menghindar dari ‘différance’. Alhasil, kontekstualisasi dari ‘différance’ dalam diskursus pascamodernisme menyentuh pada persoalan keprihatinan sosial, ideologi, dan pengalaman membaca teks oleh pembaca yang memproduksi pemarjinalan kemanusiaan, seperti dalam pergumulan oposisi biner antara demokrasi liberal dan komunisme, keadilan yang sebangun dengan hukum, pengampunan dan hak suaka bersyarat | Articles from the results of this study aims to: 1) identifying and explaining ‘différance’ in the perspective of Jacques Derrida’s thought; 2) understanding and describing the political thought of Jacques Derrida on ‘différance' in the discourse of postmodernism. Through the post-structural perspective and the paradigm of constructivism, this research uses a qualitative method with hermeneutics as its approach. Based on the approach, then the data collected in this research is analyzed by using the analysis technique of Gadamerian Hermeunetics. The results of this research reveals that the political thought of Jacques Derrida on 'différance' in the discourse of postmodernism has contributed greatly to the philosophical and political thought can be open to all of interpretation possibilities and have the characteristic of infinity because ‘différance’ tries to defer as well as differ the meaning of a reality in a text. In this case, 'différance' in the the discourse of postmodernism by highlighting the project of modernism patenting the meaning and the purpose, or what is so-called totalitarianism. This is because modernism cannot dodge ‘différance’. Finally, the contextualization of ‘différance’ in the discourse of postmodernism is up to the problem of social thoughtfulness, ideology, and the experience of reading text by the reader who continues to produce the marginalization of humanity, as in the encounter of binary opposition between liberal democracy and communism, justice and law, as well as forgiveness and the right of conditional asylum. | |
| 6745 | 8038 | A1G011004 | EFISIENSI PEMIJAHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gourami Lac) DI DESA BEJI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS | Pengembangan kawasan minapolitan di Jawa Tengah dilakukan dengan prinsip untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar. Pengembangan perekonomian yang berorientasi global dengan membangun keunggulan komparatif pada produk daerah, dan pengembangan usaha yang efektif, efisien dan berdaya saing. Usaha yang dikembangkan antara lain usaha pemijahan, pembenihan, pembesaran, pengolahan dan pembuatan pakan ikan. Pemijahan ikan gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng sudah berlangsung cukup lama, dan pada umumnya dilakukan dengan sistem “Monokultur Berpasangan” dan “Monokultur Umbaran”. Penelitian efisiensi pemijahan ikan gurami (Osphronemus gourami Lac) di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas bertujuan: 1) menghitung besarnya biaya produksi yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh pada usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” dan “Monokultur Umbaran”; 2) menghitung efisiensi usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” dan “Monokultur Umbaran”; 3) menghitung perbedaan pendapatan dan efisiensi yang diperoleh dalam usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” dan “Monokultur Umbaran”. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Pengambilan data dilaksanakan tanggal 4 Desember 2013 sampai 12 Januari 2014 di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Metode pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Jumlah sampel “Monokultur Berpasangan” sebanyak 24 orang, sedangkan “Monokultur Umbaran” sebanyak 6 orang. Metode analisis yang digunakan meliputi: biaya, penerimaan, pendapatan, efisiensi, dan uji beda pendapatan dan efisiensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk satu periode (40 hari) pada usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” sebesar Rp1.633.721,00 dan “Monokultur Umbaran” sebesar Rp1.032.672,00. Rata-rata pendapatan yang diperoleh pada usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” sebesar Rp1.389.883,00 dan “Monokultur Umbaran” sebesar Rp561.495,00. Nilai efisiensi (R/C ratio) pada usaha pemijahan ikan gurami sistem “Monokultur Berpasangan” sebesar 1,85 dan “Monokultur Umbaran” sebesar 1,54 artinya, usaha pemijahan ikan gurami baik sistem “Monokultur Berpasangan” maupun “Monokultur Umbaran” sangat baik untuk diusahakan karena memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari 1. Pemijahan sistem “Monokultur Berpasangan” lebih efisien daripada sistem “Monokultur Umbaran”. Tidak terdapat perbedaan pendapatan dan efisiensi usaha pemijahan ikan gurami pada sistem “Monokultur Berpasangan” dan “Monokultur Umbaran”. Kata kunci : Efisiensi, Pemijahan, Ikan Gurami | The development of minapolitan area in Central Java has been done to develop civilizatioan economic based on market mechanism. Economical development which has global orientation to build comparative superior in region product, and business development efectively, efisienly and competitive. Efforts has been done such as, spawing, seeding, nature, cultivate and produce the fish pallet. The spawing carp in Beji village, Kedungbanteng Sub District has been done long time ago, generally used “Monokultur Berpasangan” and “Monokultur Umbaran” system. The research about the Efficiency of Spawing Carp (Gourami osphronemus Lac) in Beji Village, Kedungbanteng Sub District, Banyumas District has aim: 1) to calculate about the amount of production budget and income that are gotten in the effort of spawing carp by system of “Monokultur Berpasangan” and “Monokultur Umbaran”; 2) to calculate efficiency the effort of spawing carp by system of “Monokultur Berpasangan” and “Monokultur Umbaran”. 3) to calculate the differences the income and efficiency that are gotten in the effort of spawing carp by system of “Monokultur Berpasangan” and “Monokultur Umbaran”. This research uses survey methode. Data was taken on 4th December 2013 until 12th January 2014 in Beji Village, Kedungbanteng Sub District, Banyumas District. Sample was taken by Stratified Random Sampling sum of sample from “Monokultur Berpasangan” are 24 people, mean while “Monokultur Umbaran” are 6 people. Analysis methode are consist of cost, intake, income, efficiency and differential income test and efficiency. The avarege of the production expance that are gotten one periode (40 days) in the effort of spawing carp by system “Monokultur Berpasangan” is Rp1.633.721,00 and “Monokultur Umbaran” is Rp1.032.672,00. The avarege of the income that are gotten in the effort of spawing carp by system “Monokultur Berpasangan” is Rp1.389.883,00 and “Monokultur Umbaran” is Rp561.495,00,00. The efficiency valete R/C ratio the effort of spawing carp by system “Monokultur Berpasangan” is 1,85 and “Monokultur Umbaran” is 1,54 that means, the effort of spawing carp good to be conducted because of the grater of R/C 1. R/C value in “Monokultur Berpasangan” is efficiency “Monokultur Umbaran” system. There is not differences both of income and efficiency effort of spawing carp in “Monokultur Berpasangan” and “Monokultur Umbaran” system. Keyword: Efficiency, Spawing, Carp | |
| 6746 | 8039 | A1L009105 | UJI POTENSI ISOLAT BAKTERI Pseudomonas fluorescens DALAM MENGENDALIKAN HAMA Helicoverpa armigera | Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui isolat bakteri P.fluorescens yang efektif untuk mengendalikan hama H. armigera, 2)Mengetahui potensi isolat bakteriP. fluorescens terhadap antipeletakan telur dan anti penetasan telur H. armigeradan 3) Mendapatkan instar larva H. armigera yang rentan terhadap perlakuan bakteri P. fluorescens. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian terdiri dari tiga percobaan. Percobaan pertama uji patogenitas bakteri, tahap kedua uji anti peletakan telur dan tahap ketiga uji anti penetasan telur. Rancangan percobaan untuk uji patogenitas bakteri dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, faktor pertama terdiri dari lima taraf (bakteri Pseudomonas P8, Pseudomonas P16, Pseudomonas P60, Profenofos dan kontrol) dan faktor kedua larva H. armigera instar 3 dan instar 4. Percobaan diulang 3 kali. Rancangan percobaan untuk uji anti peletakan telur dan anti penetasan telur dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan Pseudomonas P8, Pseudomonas P16, Pseudomonas P60, Profenofos dan Kontrol. Percobaan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri Pseudomonas P8, Pseudomonas P16 dan Pseudomonas P60 mampu menimbulkan mortalitas pada larva sebesar 28,3%, 26,7% dan 36,7%. Isolat Pseudomonas P60 mampu mengurangi tingkat konsumsi pakan larva sebesar 13,89%. Isolat Pseudomonas P8 dan Pseudomonas P60 mampu mengurangi umur larva sebesar 21,26% dan 19,93%. Dan Isolat bakteri Pseudomonas P8, Pseudomonas P16 dan Pseudomonas P60 tidak dapat menekan peletakan telur akan tetapi mampu mengurangi penetasan telur sebesar 30%, 48% dan 40%. | This study aims to : 1) Determine the P. fluorescens isolates were effective for controlling pests H. armigera , 2) Knowing the potential of P. fluorescens isolates against preventive laying eggs and preventive hatching eggs of H. armigera and 3) Getting instar larvae of H. armigera were susceptible to P. fluorescens bacteria treatment . This research was conducted at the Laboratory of Plant Protection , Faculty of Agriculture , University Jenderal Soedirman . The study consisted of three experiments . The first trial of bacterial pathogenicity test , the second phase of testing preventive laying eggs and third- stage trials of preventive hatching eggs . Experimental design to test the pathogenicity of bacteria with randomized block design (RBD) factorial , the first factor consists of five level ( PseudomonasP8, Pseudomonas P16 , Pseudomonas P60 , Profenofos insecticide and control ) and second factor H. armigera larvae instar 3 and 4 . The experiment was repeated 3 times . Experimental design to test the preventive laying eggs and preventive hatching eggs with randomized block design (RBD) with treatment of Pseudomonas P8 , Pseudomonas P16 , Pseudomonas P60 , Profenofos insecticide and Control . The experiment was repeated 5 times . The results showed that the isolates of Pseudomonas P8 , Pseudomonas 16 and Pseudomonas P60 were able to cause larval mortality at 28.3% , 26.7% and 36.7%. Pseudomonas P60 isolates were able to reduce the level of larvae feed intake of 13,89 % Pseudomonas isolates of Pseudomonas P8 and P60 were able to reduce the age of the larvae by 21,26% and 19,93% .Isolates of Pseudomonas P8 , P16 and Pseudomonas P60 can not suppress egg laying but can reduce egg hatching by 30 % , 48 % and 40 % | |
| 6747 | 7307 | G1D010008 | GAMBARAN PENYEMBUHAN LUKA DIABETIK YANG DIBERI GEL Nigella Sativa 10% PADA TIKUS YANG DIINDUKSI ALOKSAN | Latar Belakang: Nigella sativa(NS) telah banyak diteliti memiliki efek yang baik untuk penyembuhan berkaitan dengan senyawa aktif yang terdapat di dalam biji dan minyaknya. Terapi NS secara topikal diharapkan mampu meningkatkan proses penyembuhan luka diabetik yang tidak mengalami kemajuan pada fase inflamasi, sejak NS terbukti memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, dan antibakterial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyembuhan luka diabetik yang diberi gel NS 10%. Metode: Penenitian ini menggunakan animal true experiment. Tikus diabetes, yang diinduksi aloksan, dilukai dan diberikan perawatan dengan gel NS 10% dan gel NS 0% untuk kontrol, selama 3 hari. Penyembuhan luka diobservasi secara makroskopis hingga hari ke-3, dan tikus dikorbankan pada hari ke-3 untuk pemeriksaan histologi dengan pewarnaan Hematoxylin & Eosin (HE). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil: Pada hari ke-3, warna permukaaan dan ukuran luka kelompok gel NS 10% tampak sama dengan kontrol sementara kemerahan dan edema kelompok kontrol tampak lebih jelas dibanding kelompok gel NS 10%. data histologis menunjukkan sebaran infiltrasi sel-sel inflamasi pada kelompok gel NS 10% lebih sedikit dibanding kelompok gel NS 0%. Kesimpulan: Gel NS memiliki potensi dalam penyembuhan luka diabetik yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya respon inflamasi secara makroskopis dan mikroskopis pada kelompok gel NS 10% dibanding kontrol. | Background: Nigella sativa (NS) is well-known has a positive effect for healing related to its active constituent. Application of NS topically, is expected to insrease diabetic wound healing which becomes stuck in the inflammation stage, since NS has anti-inflammation, antioxidant, and antibacterial effect. Objective: This study was conducted to investigate characteristic of diabetic wound healing treated 10% NS gel. Methods: This study used animal true experiment. Alloxan-induced diabetic rats, was wounded and treated by 10% NS gel and 0% NS gel as the control group, for 3 days after wounding. Wound healing was macroscopically observed until day 3, and rats were sacrificed at day 3 to undertake a histological analysis via Haematoxylin & Eosin (HE) staining. Data were analyzed descriptively. Result: At day 3, there was no any different of wound colour and size in 10% NS gel group and control group, meanwhile redness and oedema was more obvious on control group rather than 10% NS gel. Histological data showed the distribution of infiltration of inflammation cells tend to be lower in 10% NS gel group than 0% NS gel group. Conclusion: NS gel has a good potential on diabetic wound healing, for it was macroscopically and histological showed by lower inflammation response in wound treated by 10% NS gel than wound treated by 0% NS gel. | |
| 6748 | 8042 | A1H010046 | KAJIAN KUALITAS KERUPUK BAWANG YANG DIGORENG MENGGUNAKAN MEDIA MINYAK DAN PASIR | Minyak goreng yang terserap akibat penggorengan kerupuk diduga dapat menimbulkan beberapa permasalahan terkait dengan faktor mutu, proses, kesehatan, dan sosial. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan penggorengan kerupuk bawang menggunakan pasir dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan kualitasnya jika dibandingkan menggunakan minyak. Penelitian ini menggunakan dua media penggorengan (minyak dan pasir) dan tiga suhu penggorengan (161-180oC, 181-200oC, 201-220oC). Variabel yang diukur meliputi kadar air dianalisis menggunakan persamaan Arrhenius, penyerapan minyak yang ditampilkan dalam grafik, volume pengembangan, tingkat kerenyahan, dan variabel sensori dianalisis menggunakan uji F dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil dari penelitian ini adalah konstanta laju penurunan kadar air untuk media minyak yaitu Km= 1,68 e(-1566,9/Tkelvin) sedangkan pasir yaitu Km= 1232,5e^(- 4936,4)/Tkelvin. Penyerapan minyak pada kerupuk bawang berkisar antara 27-62%. Analisis sidik ragam berpengaruh nyata terhadap volume pengembangan, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tegangan. Nilai maksimum pengembangan dicapai saat kerupuk digoreng menggunakan minyak pada suhu 201oC -220oC. Rataan nilai tegangan 0,141 N/mm2(sangat renyah). Penilaian panelis terhadap warna yaitu cerah (3,12). Penilaian paling baik yaitu penggorengan menggunakan minyak, untuk kerenyahan pada suhu 180-200oC dengan kriteria sangat renyah (4,25), sedangkan rasa dan kesukaan yaitu menggunakan minyak pada suhu 201-220oC dengan kriteria rasa sangat enak (4,15) dan sangat disukai (4,05). Biaya produksi kerupuk bawang yang digoreng menggunakan minyak Rp 25.421,00/kg sedangkan pasir Rp 15.293,00/kg. | Cooking oil is absorbed due to the frying crisply could pose some problems related to the quality factor, process, health, and social. Therefore, in this research carried the frying onion crisply using sand in order to determine differences in quality when compared to using oil. This research used two frying pan media (oil and sand) and three frying temperature (161-180oC, 181-200oC, 201-220°C). The variables measured include moisture content were analyzed using the Arrhenius equation, oil absorption are showed in graphic, the development volume, the level of crispness, and variable sensory are analyzed using the F test followed by DMRT. The results from this research is the rate constant for the decrease in water content of oil that Km = 1.68 e(-1566.9 / Tkelvin) while sand that Km= 1232.5e^(- 4936,4)/Tkelvin. Oil absorption on onion crisply is ranging from 27-62%. Analysis of variance significantly influenced the development volume, but not significantly influenced the stress. The maximum value is achieved when the crisply are fried using oil at a temperature of 220- 220oC. Crispness levels did not differ between treatments with an average value of stress is 0.141 N/mm2 (very crispy ). The average panelists assessment of the color is bright (3.125). The best assessment are fried using oil, to the crispness at a temperature of 180-200°C with a criteria is very crunchy (4.25), whereas taste and the hobby fried at a temperature of 201-220°C with a criteria is good taste (4.15 ) and so preferred (4.05). Production costs fried onion crisply using oil is Rp 25,421.00/kg, while the sand is Rp 15,293.00/kg. | |
| 6749 | 8040 | A1C009036 | STUDI KOMPARATIF FINANSIAL POLA TANAM MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI USAHATANI DURIAN DI KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS | Kecamatan Kemranjen merupakan daerah sentra penghasil buah durian di Kabupaten Banyumas. Pola tanam tanaman durian yang dikembangkan di Kecamatan Kemranjen yaitu monokultur, tumpangsari 1 dan tumpangsari 2. Keberagaman pola tanam membuat produktivitas durian belum optimal. Petani beranggapan durian sebagai salah satu hasil kebun, bukan sebagai tanaman utama. Pola tanam yang terbaik akan memberikan keragaman keuntungan yang dapat dikembangkan sebagai contoh. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui karakteristik petani durian berdasarkan pola tanam yang dibudidayakan (2) menganalisis perbedaan aspek finansial antara pola tanam monokultur dan tumpangsari pada usahatani durian. Penelitian ini dilakukan di Desa Pageralang, Alasmalang, dan Karangsalam di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas dengan metode penelitian dilakukan dengan metode survey dengan rancangan pengambilan sampel yaitu judgement samping. Berdasarkan kriteria-kriteria sebagai sumber data : (1) Petani yang memiliki lebih dari ≥ 10 pohon durian (2) Petani yang mempunyai pengalaman usahatani durian ≥ 5 tahun, didapat 34 responden petani. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode analisis data menggunakan deskriptif, analisis biaya dan pendapatan usahatani, uji beda annova,analisis kelayakan investasi dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) karakteristik petani durian dalam kelompok pertama menganggap tanaman durian sebagai tanaman investasi memiliki rata-rata jumlah pohon sebanyak 220 pohon, kelompok kedua melihat durian belum menjadi tanaman utama dikarenakan masih beragamnya tanaman yang dibudidayakan dengan rata-rata jumlah pohon yang dimiliki sebanyak 91 pohon, pendapatan diluar usahatani durian sebesar Rp148.286.666,70;. Kelompok ketiga melihat durian sebagai hasil kebun, rata-rata jumlah pohon yang dimiliki sebanyak 27 pohon dengan pendapatan diluar usahatani durian sebesar Rp116.206.669,00; kelompok kedua dan ketiga menggunakan pendapatan diluar usahatani durian bilamana tanaman durian tidak dalam musim panen (2) Usahatani durian dalam kelompok pertama layak secara finansial dengan nilai NPV sebesar Rp1.248.217.762,00; pada kelompok kedua nilai NPV sebesar Rp452.105.786,90; kelompok ketiga dengan nilai NPV sebesar Rp97.604.283,48; (3) Usahatani durian sensitif terhadap penurunan harga jual dan penurunan hasil produksi sebesar 25 dan 50 persen, tidak sensitif dengan kenaikan biaya pupuk sebesar 25 dan 50 persen. | Kemranjen district is an area durian fruit production centers in Banyumas. Durian crop The cropping patterns developed in the District Kemranjen are monoculture, intercropping 1 and intercropping 2. Diverse cropping pattern made of durian production is not optimal. Farmers think durian as one of the gardens , not as the main crop . The best cropping pattern will provide diversity gains which is developed as model. Therefore, the purpose of this research is (1) knowing the characteristics of durian farmers who cultivated by planting patterns (2) analyze the financial aspects of the differences between monoculture and intercropping in durian farm. The method of research was conducted using a survey with a sampling design that judgment aside. Based on the criteria as a source of data : (1) Farmers who have more than ≥ 10 durian trees (2) Farmers who have experience of durian farming ≥ 5 years , gained 34 respondent farmers. This study was conducted by survey in three villages are Pageralang, Alasmalang, and Karangsalam, Kemranjen district, Banyumas regency. The technique of collecting data through observation, interviews, and literature. Methods of data analysis using descriptive, analytical costs and farm income, different test Annova, investment feasibility analysis and sensitivity analysis. The results showed that (1) the characteristics of the first group of farmers in regard durian durian as plant investments had an average number of trees as much as 220 tress, the second group saw durian durian has not become a major crop due to the diversity of plants that still cultivated with the average number of trees have 91 trees, durian farm outside income of Rp148.286.666,70; The third group saw durian as a result from garden with the average number of trees have 27 trees, durian farm outside income of Rp116.206. 669,00; The second and third groups using outside revenue when farming durian is not in the harvest season (2) durian farm in the first group is financially feasible with NPV of Rp1,248,217,762 and the second group NPV of Rp452.105.786.90; The third group with a NPV of Rp97.604.283,48; Durian farming is sensitive to a decrease in selling prices and decreased production by 25 and 50 percent, are not sensitive to the increase in the cost of fertilizer by 25 and 50 percent. | |
| 6750 | 8041 | A1L008221 | PENGARUH PEMBERIAN BIOBAKTERISIDA DENGAN VARIASI WAKTU APLIKASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI IR 64 DI DATARAN MEDIUM | Padi (Oryza sativa) adalah komoditas tanaman pangan terpenting di Indonesia.Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas padi adalah dengan menggunakan pupuk hayati.Salah satu agensia hayati yang potensial adalah Bacillus subtilis, karena kemampuannya bertahan pada kondisi panas dan kekeringan, sehingga sesuai untuk aplikasi di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh waktu aplikasi Bacillus subtillis B1 terhadap tanaman padi IR64, (2) pengaruh pemberian biobakterisida terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi varietas IR 64. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Rumah Kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan di lahan dataran medium di Desa Kebumen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, mulai bulan April 2012 sampai dengan Agustus 2012.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan sebagai berikut:K: Kontrol (tanpa pemberian formula biobakterisida B. subtilis B1, A: pemberian biobakterisida B. Subtilis B1 pada 10 hari setelah tanam, B: pemberian biobakterisida B.subtilis B1 pada 20 hari setelah tanam, C: pemberian biobakterisida B. Subtilis B1 pada 30 hari setelah tanam. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang malai, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, bobot 1000 biji, bobot kering tanaman,bobot gabah per petak efektif, bobot gabah per rumpun dan jumlah malai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berbasis Bacillus subtilis tidak memberikan pengaruh terhadap komponen pertumbuhan dan komponen hasil. Waktu aplikasi Bacillus subtilis B1tidak berpengaruh terhadap komponen pertumbuhan dan komponen hasil. | Rice (Oryza sativa) is the most important food crop in Indonesia. One of the way to increase the rice productivity is application of biological fertilizer. One of the biological fertilizer is Bacillus subtillis. Due to its ability to survive in hot and dry conditions, so it is applicable in field. The aim of this research were to know (1)the effect of application time of Bacillus subtillis B1 on IR 64, (2) the influence of Biobactericide application on the growth and yield of IR 64. The research was conducted in the laborarory and green house belongs to pest and plant disease department, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman. The research in the field was carried out on the wet land rice Kebumen village (medium altitudes), Banyumas. Research was carried out for 4 months, from April to August 2012. The experimental design used was randomized completely block design (RCBD) factorial with 4 treatments and 6 replications as follow: K: control (without application of formula biobactericide B. subtillis B1), A: application of biobactericide B. subtillis B1 at 10 days after planting, B: application of biobactericide B. subtillis B1 at 20 days planting, C: application of biobactericide B. subtillis B1 at 30 days after planting. The observed variables were plant height, panicle length, number of leaves, number of tillers, number of productivetillers, weighs of 1000 seeds, dry weight of the plant, grain weight per effective plot, grain weight per hill and the number of panicle. The research showed that biological fertilizers applicaton based on Bacillus subtilis B1 did not effect the growth and yield components of IR 64. Application time of biological fertilizer based on Bacillus subtilis B1 did not influence the growth and yield components of IR 64. | |
| 6751 | 10158 | H1C010011 | PENGEMBANGAN APLIKASI PENCATATAN BAGI PENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN ACUAN NILAI GULA DARAH PUASA, 2 JAM DAN HbA1C BERBASIS ANDROID | Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Untuk mencegah diabetes mellitus, salah satu caranya adalah dengan melakukan diet gula. Untuk itu diperlukan monitoring terhadap pasien diabetes. Monitoring sering dilakukan dengan cara menjalankan puasa gula dan mencatat nilai gula darah menggunakan buku pencatatan. Tapi hal tersebut menimbulkan masalah baru apabila buku tersebut hilang. Banyak cara untuk melakukan pencatatan gula darah sebagai monitoring dari puasa gula darah. Salah satu cara yang digunakan adalah menggunakan android yang kini sedang menjadi trend baru di masyarakat. Salah satu cara pencatatan dengan android yaitu dengan cara membuat aplikasi monitoring gula di dalam android tersebut. Memang sudah ada aplikasi pencatatan gula darah di android, tetapi aplikasi tersebut tidak dibedakan mana jenis puasa atau diet yang dilakukan. Sehingga dibutuhkan sebuah aplikasi pencatatan yang mengacu pada jenis puasa dan memberikan keterangan sesuai dengan keadaan gula darah pengguna aplikasi tersebut. | Diabetes mellitus is one of the most dangerous diseases and we don’t have a cure. To prevent diabetes mellitus, one way is to go on a diet of sugar. So, It is necessary needed for the monitoring of diabetic patients. Monitoring is often done by means of fasting glucose and blood sugar values recorded using the recording book. But it raises a new problem if the book is lost. Many ways to record blood sugar as monitoring of fasting blood sugar. One way is to use a android that is now becoming a new trend in society . One way of recording with android is by making sugar monitoring applications in the android . Indeed there is a application in android in recording blood sugar, but that application does not differentiate between types of fasting or diet. So it takes a recording application which refers to the type of fasting and provide information in accordance with the state of the application user's blood sugar. | |
| 6752 | 10159 | H1C010054 | STUDI ANALISIS PENGARUH DEAD TIME PADA UNJUK KERJA NEUTRAL POINT SHORTED INVERTER EMPAT SAKLAR DENGAN KONTROL LEVEL SHIFTED CARRIER BASED SINUSOIDAL PWM | Neutral Point Shorted Inverter empat saklar merupakan salah satu jenis pengubahan sinyal pada inverter yang mengubah sinyal searah menjadi sinyal bolak-balik dengan gelombang keluarannya memiliki tiga kondisi yaitu kondisi positif, netral dan negatif. Untuk dapat menghasilkan gelombang, saklar-saklar pada inverter membutuhkan kendali masukan sebagai pengatur saat bekerja dan tidaknya saklar tesebut. Salah satu kendali tersebut adalah menggunakan kontrol Level Shifted Carrier Based Sinusoidal PWM yang merupakan suatu proses pemodulasi gelombang dengan melakukan penggeseran gelombang pada hasil gelombang PWM. Penggunaan dead time diperlukan untuk mencegah saklar-saklar pada inverter bekerja secara bersamaan yang dapat menimbulkan kerusakan. Pengaturan nilai dead time berpengaruh pada waktu jeda bekerjanya tiap saklar. Perubahan indeks modulasi berpengaruh pada lama bekerjanya saklar-saklar pada inverter. Perubahan frekuensi carrier berpengaruh pada seberapa banyak saklar bekerja pada satu periode. Adanya beban induktif membuat hasil keluaran memiliki spike atau duri pada sinyal keluaran karena adanya jeda waktu bekerjanya saklar. | Four switches neutral point shorted inverter is one type of inverter that changes direct current (DC) signal to alternating current (AC) signal with three conditions of output wave, that is positive, neutral and negative condition. To generate waves, switches on the inverter requires the control input to control ON or OFF condition of the switches. That control can using level shifted Carrier-Based Sinusoidal PWM which is wave modulation’s process by shifting the PWM wave on final wave results. Adding dead time is necessary to prevent the inverter switches work simultaneously which can cause damage on inverter. Setting value of dead time can effect on delay time of each switch to work. Changes in modulation index can affect to how long that switches workings on the inverter. Changes in carrier frequency can effect on how much the switch worked at one period. Inductive load makes spikes on the output signal because of the delay time while the operation of the switch. | |
| 6753 | 11979 | F1C011035 | Analisis Isi Adegan Kekerasan Dalam Serial Kartun Larva di Televisi | Penelitian ini berjudul Analisis Isi Adegan Kekerasan Dalam Serial Kartun “Larva” di Televisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kekerasan apa saja yang terdapat dalam serial kartun Larva dan jenis kekerasan apa yang dominan. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi kuantitatif deskriptif, atau yang biasa disebut analisis isi deskriptif. Subjek penelitian ini adalah dua season serial kartun Larva yang tayang di stasiun TV RCTI. Unit analisis yang dipakai adalah unit referensial, di mana peneliti meneliti adegan-adegan kekerasan yang terdapat dalam serial kartun Larva. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh di mana semua anggota populasi diteliti sebagai sampel. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Reliabilitas data menggunakan intercoder reliability di mana peneliti membandingkan hasil penelitian dengan hasil yang didapat oleh coder 2. Validitas data menggunakan validitas isi yaitu peneliti menanyakan pada ahli bagaimana pendapat mereka mengenai alat ukur yang dipakai, apakah sudah valid atau belum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serial kartun Larva memiliki cukup banyak adegan kekerasan di dalamnya. Dalam season 1 terdapat 291 adegan kekerasan yang terdiri dari kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan finansial dan kekerasan fungsional. Kekerasan fisik mendominasi sebanyak 243 adegan atau sekitar 83,50%. Dalam season 2 terdapat 166 adegan kekerasan yang terdiri dari kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan finansial dan kekerasan seksual. Kekerasan fisik mendominasi sebanyak 145 adegan atau sekitar 87,35% | The title of this research is Content Analysis of Violence Scenes in “Larva” Cartoon Series in Television. The purpose of this research is to find what kind of violence that are in the Larva cartoon series and what kind of violence that is dominant. This research is a descriptive quantitative content analysis or commonly saying as descriptive content analysis. The subject of this research is two seasons of Larva cartoon series which broadcasted in RCTI. Analysis unit that used is referential unit, where the researcher observed the scenes that are in the Larva cartoon series. Collecting data method that used is document research. Sampling method that used is census sampling where all the population is the sample. Data analysis that used is distribution frequency. Reliability that used is intercoder reliability where researcher compare two results between researcher itself and coder 2. Validity that used is content validity where researcher asked three experts about how their opinions are about the measuring instrument that is used in this research. The result of this research shows that Larva cartoon series had so much violence scenes in it. In the season 1 there are 291 violence scenes consist of physic violence, psychologic violence, functional violence and financial violence. Physic violence dominates with 243 scenes or about 83,50%. In the season 2 there are 166 violence scenes consist of physic violence, psychologic violence, financial violence and even sexual violence. Physic violence dominates with 145 scenes or about 83,75%. | |
| 6754 | 8043 | A1L008064 | PERTUMBUHAN STEK MELATI PUTIH (Jasminum sambac L.) PADA BERBAGAI JENIS ZAT PENGATUR TUMBUH DAN LAMA PERENDAMAN | Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi. Kebutuhan bibit melati yang makin meningkat memerlukan perbaikan teknik perbanyakan tanaman yang bersifat cepat dan berproduksi tinggi. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan melakukan teknik perbanyakan vegetatif terutama dengan stek batang. Stek melati dapat ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya dengan pemberian zat pengatur tumbuh (IAA dan IBA) dan lama perendaman. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui zat pengatur tumbuh yang terbaik terhadap pertumbuhan stek melati, 2) Mengetahui lama perendaman optimal terhadap pertumbuhan stek melati, 3) Mengetahui interaksi perlakuan terbaik antara pemberian zat pengatur tumbuh dengan lama perendaman terhadap pertumbuhan stek melati. Penelitian dilaksanakan di Screen House Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Grendeng, Purwokerto Utara, Banyumas pada bulan Maret sampai Mei 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba adalah jenis zat pengatur tumbuh (IAA dan IBA) dengan konsentrasi 300 ppm dan lama perendaman (30, 60, dan 90 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh (IAA dan IBA) mampu meningkatkan panjang tunas, luas daun, jumlah daun, jumlah akar, bobot basah akar, dan bobot kering akar terhadap pertumbuhan stek melati. Lama perendaman mampu meningkatkan panjang tunas, jumlah akar dan bobot basah akar. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat interaksi antara pemberian zat pengatur tumbuh dan lama perendaman. | Jasmine is one of high value commodities. The grains growing jasmine plant propagation techniques require repairs that are fast and high production. These needs can be met by vegetative propagation techniques primarily by stem cuttings. Jasmine cuttings can be enhanced with the provision of quality and quantity of plant growth regulators (IAA and IBA) and soaking time. This study aims to determine the best plant growth regulators on the growth of cuttings of jasmine, knowing the optimum soaking time on the growth of cuttings of jasmine, the best treatment of the interaction between the provision of plant growth regulators on the growth of the long soaking jasmine cuttings. The experiment was conducted at the Screen House Faculty of Agriculture, University of General Soedirman, Grendeng, North Purwokerto, Banyumas in March to May 2013. The design used was Randomized Complete (RAKL) with 2 factors and 3 replications. The factor is the type of plant growth regulators (IAA and IBA) with 300 ppm concentration and immersion time (30, 60, and 90 minutes). Variables are observed while growing shoots, shoot length, leaf area, leaf number, while growing root, root number, longest root length, fresh weight and dry weight of roots. 2 The results showed that administration of growth regulators (IAA and IBA) is able to increase the length of shoots, leaf area, number of leaves, number of roots, root fresh weight, and root dry weight on the growth of jasmine cuttings. Long immersion able to increase the length of shoots, number of roots and root fresh weight. The results show there is no interaction between the provision of plant growth regulators and soaking time | |
| 6755 | 10160 | B1J010057 | JENIS-JENIS PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CENDAWAN PADA TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) DI DESA KALIGIRI KECAMATAN SIRAMPOG KABUPATEN BREBES | Seledri (Apium graveolens L.) merupakan salah satu anggota dari familia Apiaceae yang banyak tumbuh serta ditemui di dataran tinggi terutama pada daerah yang berhawa sejuk dengan ketinggian diatas 900 mdpl. Tanaman seledri banyak dibudidayakan di Indonesia, salah satunya di Desa Kaligiri Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Seperti halnya tanaman sayuran yang lain, seledri merupakan salah satu tanaman sayuran yang rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh cendawan, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang disebabkan oleh cendawan agar dapat meningkatkan produksi seledri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan, jenis cendawan penyebab penyakit, penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang paling banyak muncul dan persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman seledri. Metode yang digunakan ialah survei dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Jenis-jenis penyakit yang ditemukan dideskripsikan sesuai dengan tanda dan gejala yang terlihat pada bagian tanaman dengan menggunakan buku “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia” dan “Ilmu Penyakit Tumbuhan ” dilanjutkan dengan menghitung persentase penyakitnya. Untuk mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit dideskripsikan menggunakan buku identifikasi “ Illustrated Genera of Imperfect Fungi ” dan “Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi”. Penelitian dilakukan di Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes dan Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Unsoed pada bulan Juli-Oktober 2014. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat dua penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman seledri di Desa Kaligiri Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes, yaitu penyakit bercak daun septoria dan penyakit bercak daun cercospora. Jenis cendawan yang diperoleh adalah Septoria sp. dan Cercospora sp. Penyakit cendawan yang paling banyak muncul adalah penyakit bercak daun cercospora. Persentase penyakit bercak daun septoria adalah sebesar 36% dan persentase penyakit bercak daun cercospora sebesar 50,14%. | Celery (Apium graveolens L.) is one of Apiaceae family that is commonly grown by farmers in Indonesia and also grown and found in the high lands, especially in cool temperate areas with an altitude above 900 mdpl. Celery plant widely cultivated in Indonesia, one of them in the Kaligiri Village Sirampog District Brebes Regency. Just like other plants, celery is the one of plant that susceptible to plant diseases caused by fungi, so that the necessary measures for the prevention and control of diseases caused by fungi in order to increase production of celery. This research aims to determine the types of diseases caused by fungi on celery, a disease caused by a fungus that the most appears and the percentage of disease caused by the fungus on celery plants. The method used was a survey with a sampling technique by simple random sampling. The types of diseases that are found described in accordance with the signs and symptoms that are visible on the plant by using the book "Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia" and “Ilmu Penyakit Tumbuhan”, and then calculate the percentage of the disease. Samples of the plants parts which were attacked by fungi pathogens were isolated and identified with the guidance of “Illustrated Genera of Imperfect Fungi“, and “Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi”. The research was conducted in the Kaligiri Village, Sirampog district, Brebes in July-October 2014. Research results obtained that there are two diseases caused by fungi on plant celery in the Kaligiri Village Sirampog District Brebes, namely Septoria leaf spot and Cercospora leaf spot. Septoria leaf spot disease by 36% and Cercospora leaf spot of 50.14%. | |
| 6756 | 10161 | B1J010078 | VARIASI MORFOLOGI POLEN PADA BEBERAPA ANGGOTA SUBFAMILIA PAPILIONOIDEAE | Subfamilia Papilionoideae memiliki sekitar 12.000 spesies. Variasi morfologi terjadi pada berbagai organ, termasuk pada morfologi polen. Polen dapat digunakan untuk identifikasi sekaligus menentukan hubungan kekerabatan tumbuhan karena pada polen terdapat exine yang mempunyai struktur dan ornamentasi yang khas dan dapat terawetkan, mengandung sporopolenin yang resisten terhadap bahan organik maupun asetolisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi morfologi polen serta mengetahui perbedaan morfologi polen dari 10 spesies anggota Subfamilia Papilionoideae. Penelitian dilakukan di Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada bulan Juni- September 2014. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel polen secara acak (random sampling). Preparat polen dibuat dengan metode asetolisis dan pewarnaan safranin 1%, untuk pengukuran digunakan mikrometer. Parameter pengamatan meliputi unit polen, bentuk polen berdasarkan indeks P/E, ukuran polen, tipe apertura, ornamentasi exine. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan variasi morfologi polen menunjukkan bahwa dari 10 spesies anggota Subfamilia Papilionoideae memiliki unit polen tunggal (monad), bentuk polen yaitu oblate spheroidal, prolate spheroidal dan subprolate.Ukuran polen terdiri dari ukuran besar (magnae) dan ukuran sedang (mediae). Polen yang diamati memiliki apertura yaitu triporate, tricolpate dan tricolporate. Ornamentasi exine berbentuk psilate, scabrate dan reticulate. Morfologi polen dari 10 spesies anggota Subfamilia Papilionoideae memiliki perbedaan pada karakteristik antar spesies yaitu pada bentuk polen, ukuran polen, apertura dan ornamentasi exinenya. | Subfamilia Papilionoideae has about 12,000 species. Morphological variations occur in various organs, including the pollen morphology. The pollen can be used for identification and determine phylogenetic relationship of plants as the pollen exine there that have a structure and ornamentation are typical and can be preserved, containing sporopolenin that resistant to organic materials and asetolisis. The purpose of this study were to determine morphology variation of pollen and to know the difference pollen morphology from 10 species of Subfamilia Papilionoideae members. The study was conducted in the Laboratory of Structure and Development Plant Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University Purwokerto, June- September 2014. The observation method was using a survey with pollen random sampling (random sampling). Preparation of pollen was made by acetolysis method and 1% safranin staining, micrometer were used to measure pollens. Observation parameters include units pollen, pollen shape based on P/E index, pollen size, aperture type, exine ornamentation. Descriptive analysis is used to analysis data. The observation showed that that the variation in pollen morphology of 10 species of Papilionoideae members have pollen unit (monad), pollen shape is oblate spheroidal, prolate spheroidal and subprolate. The size of pollen is composed of a large size (magnae) and medium (mediae). Pollen observed to had aperture triporate, tricolpate and tricolporate, shape of ornamentation exine is psilate, scabrate and reticulate. The pollen morphology of 10 species of Subfamilia Papilionoideae members have differences in characteristics between species are in the shape of pollen, pollen size, aperture and its ornamentation exine. | |
| 6757 | 11214 | A1C010117 | Preferensi Konsumen Terhadap Pembelian Buah Lokal Di Kota Purwokerto | Buah lokal mulai bersaing dengan buah impor. Konsumen lebih memilih buah impor dibandingkan buah lokal. Kualitas buah impor yang lebih baik dibandingkan buah lokal menjadi alasan konsumen lebih memilih buah impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli buah lokal di Kota Purwokerto (2) peringkat dari atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli buah lokal Kota Purwokerto, dan (3) preferensi konsumen terhadap buah-buahan lokal yang ada di Kota Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah survai. Sasaran penelitian adalah konsumen yang membeli buah lokal di pasar modern foodmart minimal satu kali pembelian dan konsumen berusia ≥ 17 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah Accidental sampling dengan jumlah sampel 68 orang. Analisis yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas, Analisis Cochran Q Test, dan analisis Conjoint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam pembelian buah lokal adalah rasa, kesegaran, dan kebersihan (2) peringkat atribut yang dipertimbangkan secara berturut-turut kebersihan 35,641, kesegaran 32,715, dan rasa 31,644 (3) preferensi konsumen terhadap atribut buah lokal rasa yang manis, kebersihan yang bersih (permukaan buah mulus tanpa kotoran dan lubang) dan kesegaran buah yang segar (tekstur buah keras dan warna cerah). | Local fruit began to compete with imported fruit. Consumers prefer imported fruit than local fruit. The quality of imported fruit is better than the local fruit is the reason consumers prefer imported fruit. This study aims to determine (1) the attributes that consumers consider the purchase of local fruit in Purwokerto City (2) ranking of the attributes that consumers consider the buy local fruit Purwokerto City, and (3) consumer preferences for local fruits in Purwokerto City. The method used was a survey. The target of this research is that consumers who buy local fruit in the modern market Foodmart at least one time purchase and consumers aged ≥ 17 years. The method used was accidental sampling with a sample of 68 people. The analytical method used is the validity and reliability test, Cochran Q test analysis and conjoint analysis. The results showed that (1) the attributes that consumers consider the purchase of a local fruit flavor, freshness, and hygiene (2) rank attributes considered in a row is the cleanliness of 35.641, 32.715 freshness and fruit flavors 31.644 (3) consumer preferences for attributes of sweet fruit taste the local level, fruit with clean hygiene (smooth fruit surface without dirt and holes) and the freshness of the fruit with fresh level (hard fruit texture and bright colors). | |
| 6758 | 11218 | A1C008077 | KAJIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP MOBILITAS PEKERJAAN PETANI DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS | Perkembangan suatu wilayah tidak terlepas dari pertumbuhan jumlah penduduk dan segala aktivitasnya untuk menopang hidup dan kehidupannya secara langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi permintaan penggunaan lahan. Sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas ini, trend alih fungsi lahan sawah produktif menjadi lahan bangunan sedang banyak terjadi. Hal ini dipastikan menimbulkan dampak lingkungan, seperti dampak sosial ekonomi pada pemilik lahan yang di alih fungsikan lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mobilitas pekerjaan dari petani bekas pemilik lahan yang di alih fungsikan, (2) dampak sosial ekonomi petani bekas pemilik lahan yang di alih fungsikan, (3) perbedaan pendapatan petani di area alih fungsi lahan dengan petani bekas pemilik lahan yang di alih fungsikan dengan pendapatan sebelum dan sesudah alih fungsi lahan. Penelitian ini dilakukan di Desa Wiradadi dan Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas mulai bulan Juni 2014 - November 2014. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dengan pengambilan sampel secara sensus. Sasaran penelitian adalah petani yang lahannya di alih fungsikan di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan teknik wawancara dengan menggunakan kuisioner. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, distribusi frekuensi data kualitatif, analisis biaya dan pendapatan dan uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa alih fungsi lahan pertanian mencakup 40.628 meter persegi lahan sawah yang berubah menjadi lahan terbangun untuk perumahan. Jumlah petani yang terkena dampak alih fungsi lahan ini adalah 26 orang petani. Dampak tersebut menyebabkan petani beralih profesi, hasil penelitian menunjukan bahwa 4 orang menjadi pedagang, 4 orang menjadi wiraswasta, 3 orang buruh tani, 3 orang ibu rumah tangga, 3 orang tidak bekerja dan 9 orang tetap berprofesi sebagai petani. Rata-rata pendapatan petani sebelum alih fungsi lahan adalah Rp 280.100,00 per bulan, sedangkan pendapatan rata-rata petani bekas pemilik lahan sesudah adanya alih fungsi lahan adalah sebesar Rp1.414.200,00 per bulan. Perubahan status sosial dapat dilihat dari tingkat kemiskinan. Berdasarkan pendapatan per kapita per bulan sebanyak 47,36 persen peningkatan dari petani miskin menjadi tidak miskin dan sebesar 28,57 persen dari golongan tidak mikin menjadi miskin jika dilihat dari pendapatan per kapita per bulan. | The development of an area can not be separated from the growth in population and their activities to sustain life and livelihood directly or indirectly affecting the demand for land use. As is the case in the Sub-district Sokaraja District Banyumas, the trend over the wetland function productively into building land are a lot going on. This certainly have environmental impacts, such as socio-economic impacts on The land owners over the land functioned. This study aims to determine (1) the mobility of the work of the farmers in the former land owners over functioned, (2) the sosio-economic of farmers in the former land owners over functioned, (3) differences in the income of farmers in the area over the land to the former peasants land owners in over functioned with earnings before and after land conversion. In research carried out in the Wiradadi village and Pamijen village Sokaraja District of Banyumas started in June 2014 - November 2014. The method used is the case method. The target of this research is that farmers whose lands are in charge functioned in Sokaraja. Data were collected by observation and interview techniques using questionnaires. The analytical method used is descriptive analysis, frequency distribution of qualitative data, the analysis of costs and revenues, and t test . The results showed that the conversion of agricultural land covers 40.628 square meters of wetland that turned into smaller plots for housing. Farmers affected by land conversion are 26 farmers. The impact caused farmers to switch professions, the results showed that 4 people become merchants, 4 people become self-employed, 3 farm workers, housewives 3 people , 3 people are not working and 9 people remain farmers. The average income of farmers before the land conversion is Rp 280.100,00 per mounth, while the average income of farmers after their former land owners over the land is Rp 1.414.200,00 per mounth. Changes in social status can be seen from the level of poverty. Based on per capita income per month as much as 34,61 percent increase from the poor become poorer farmers . | |
| 6759 | 11219 | C1A007127 | PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP GOA JATIJAJAR KABUPATEN KEBUMEN | Penelitian ini berjudul “PersepsiWisatawanTerhadapObjekWisata Goa JatijajarKabupatenKebumen”. Tujuanpenelitianiniadalahuntuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap pelayanan, sarana prasarana, tarif, dan keamanan di Objek Wisata Goa Jatijajar Kabupaten Kebumen, serta korelasi dari masing-masing variabel penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 dengan penentuan sampel secara accidental samplingyang dilakukansecaraacaksederhana, denganjumlahrespondensebanyal 165 orang. Penelitianinidilakukandenganmetodeanalisis data primer. Data diperolehlangsungdariresponden (wisatawanObjekWisata Goa Jatijajar) melaluipenyebarankuesioner. Metodeanalisis yang digunakanadalahtabulasidankorelasiproduct momentdengananalisis data menggunakan “SPPS for windows version 16”. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Ada perbedaan persepsi untuk masing-masing variabel, persepsi wisatawan terhadap pelayanan baik, persepsi wisatawan terhadap sarana prasarana cukup baik, persepsi wisatawan terhadap tarif baik, dan persepsi wisatawan terhadap keamanan baik (2) Adanya korelasi positif antara sarana prasarana dengan pelayanan yang sangat kuat (3) Adanya korelasi positif antara tarif dengan pelayanan yang sangat kuat. Pelayanan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah wisatawan di Objek Wisata Goa Jatijajar Kabupaten Kebumen (4) Adanya korelasi positif antara keamanan dengan pelayanan yang sangat kuat. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu, pemerintah daerah dalam hal ini sebagai pengelola objek wisata harus lebih meningkatkan kualitas pelayanannya lagi, pengelolaan tarif harus disesuaikan dengan pelayanan yang diberikan dan keuntungan yang diinginkan. Pemerintah dapat membangun wahana-wahana hiburan di tempat wisata agar objek wisata menjadi lebih menarik bagi wisatawan, sehinggga dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan wisatawan dapat menghabiskan lebih banyak waktu di objek wisata tersebut. Keamanan di objekwisataperluditingkatkanlagi, kaenakeamananakanmempengaruhiketenangandankenyamananwisatawanselamaberada di objekwisatatersebut. Kata kunci : Pelayanan, Sarana prasarana, Tarif, dan Keamanan | The tittle of this research is “Tourist Perception at JatijajarKebumen Regency”. The purpose of this research was to know tourist perception to service, infrastructure facilities, tariff, and security the effect of service factor, infrastructure facilities, tariff, and security at JatijajarKebumen Regency, and also correlation from each the research variable. This research was conducted in February 2013 with accidental sampling with total respondent is 165 people. This research has been done with primary data analysis method. Data obtained directly from respondents (tourist at Jatijajar) through questionnaire distributing. The analytical method used is tabulation and moment product correlation with “SPSS for windows version 16”. The results showed that (1) There are difference of perception for each variable, tourist perception to service is good, tourist perception to infrastructure facilities is good enough, tourist perception to tariff is good, and tourist perception to security is good (2) Existence of positive correlation between infrastructure facilities with service which very strong (3) Existence of positive correlation between tariff with service which very strong (4) Existence of positive correlation between security with service which very strong. The implications of the above conclusion, local government in this case as manager must more increase the service quality again. Rate management must be accustomed with services provided and the desired profit. Locl government can bulid vehicles of entertainment at the resorts for the more interesting attractions for tourist, so that can increase visitor total and tourist can spend more many times. Security at tourist attracsions need to be increased again, because security will affects the peace and comfort of tourists during their stay at these attractions. Keywords : Service, Infrastructure facilities, tariff, and security. | |
| 6760 | 8044 | A1L009017 | KARAKTER PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI GOGO YANG DITANAM DI LAHAN TADAH HUJAN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter pertumbuhan dan hasil varietas padi gogo potensi toleran kekeringan yang ditanam di lahan kering tadah hujan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Banjar Anyar Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas pada bulan April sampai September 2013. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok non faktorial. Faktor yang diuji yaitu karakter pertumbuhan tujuh varietas padi gogo dan karakter hasil tujuh variets padi gogo. Hasil penelitian pada karakter pertumbuhan dan hasil optimal ditunjukan oleh varietas Batutegi, berdasarkan variabel pengamatan bobot petak efektif (667,90 g), bobot petak potensial (132,25 g), panjang malai (23,15 cm), jumlah gabah isi (249,00 bulir) dan index panen (0,61). | Objective of this study was to know the characters of growth and yield of upland rice variety drought toleran potensial in dry land of rainfed area. This study has conducted in Banjar Anyar Village, Sub District of Sokaraja, Banyumas Regency at April to September 2013. Randomized Blok Design of non factorial by using seven of upland rice varieties was tested, The result showed that potensial plot of grain weight optimum characters of growth and yield gained by Batutegi according to effective plot of grain weight (667,90 g), potensial plot of grain weight (132,25 g), length of panicle per hill (23,15 cm), number of leaf per hill (249,00 grain), and harvest index (0,61) |