Artikelilmiahs

Menampilkan 6.881-6.900 dari 48.874 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
688111229H1F010027Geologi dan Karakteristik Sistem Panasbumi Daerah Gudang dan Sekitarnya Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan Kepulauan Bangka BelitungDaerah penelitian terletak di Desa Gudang, Kec. Simpang Rimba, Kab. Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Secara geografis terletak pada koordinat UTM zona 48S 9712000 mN - 9718000 mN dan 604000 mE - 611000 mE dengan total luas daerah penelitian sebesar 42 km² (7 km x 6 km). Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi di permukaan, identifikasi jenis manifestasi, identifikasi kandungan kimia air dan tanah, menentukan temperatur reservoir, dan membuat model sistem panas bumi. Litologi daerah penelitian terdiri dari batupasir, intrusi granit dan endapan aluvial. Struktur daerah penelitian dikontrol oleh sesar normal berarah barat laut – tenggara. Manifestasi pada sistem panas bumi Daerah Gudang berupa mata air panas (APP 1 dan APP 2), keduanya memiliki tipe air klorida (Cl). Anomali kimia tanah terdapat disekitar manifestasi, ditentukan berdasarkan distribusi anomali dari temperatur lubang tanah, pH tanah, kandungan gas CO2 udara tanah, dan Hg tanah. Sistem panas bumi Daerah Gudang merupakan sistem burial atau sedimentary basin system. Panas ditransfer dari sumber panas ke reservoir yang berupa batupasir Formasi Tanjung Genting dan mempunyai temperatur reservoir berkisar antara 137 – 157 °C menggunakan metode geotermometer Na-K (Fournier, 1979 dan Giggenbach, 1988), terletak pada kedalaman 850 – 1050 meter (Hochstein dan Sudarman, 2008). Sumber panas berasal dari tekanan dan pembebanan sedimen, serta peningkatan temperatur bawah permukaan (gradien geotermal). Fluida panas bumi naik ke permukaan melalui rekahan yaitu sesar normal, kemudian muncul sebagai manifestasi panas bumi.The study area located in the Gudang District, Simpang Rimba Subdistrict, South Bangka Regency, Bangka Belitung Islands. Geografically at coordinates UTM zona 48S 9712000 mN - 9718000 mN and 604000 mE - 611000 mE with a total area 42 km² (7 km x 6 km). The study was conducted to determine geological conditions at the surface, identification of manifestation type, identification of the chemical contens of water and soil, determine reservoir temperature, and make models of geothermal system. Lithology in the study area consist of sandstone, intrusion of granite and alluvial. The structure in study area is controlled by normal fault trending northwest – southeast. Manifestation of geothermal system in the Gudang area and its surrounding is hot springs (APP 1 and APP 2). Both the hot springs have a water type chloride (Cl). Soil chemical anomalies are around manifestation, determine based on the distribution of temperature anomalies of soil pit, soil pH, CO2 content of soil air, and soil Hg. Geothermal system in the Gudang area is burial system or sedimentary basin system. The heat transferred from heat source to reservoir is sandstone Tanjung Genting Formation and have a temperature ranging from 137 – 157 °C using geothermometer methode Na – K (Fournier, 1979 and Giggenbach, 1988) at the depth 850 – 1050 meter (Hochstein and Sudarman, 2008). The heat source is derived from pressure and sediment load, and increased subsurface temperature (geothermal gradient). Geothermal fluids rises to the surface through fracture is normal fault, and turn up as geothermal manifestation.
68828100F1B009092EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN POTENSI KESEJAHTERAAN SOSIAL MASYARAKAT (P2KSM) DI KECAMATAN BAGELEN DAN KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJOPenelitian Evaluasi Program Pemberdayaan Potensi Kesejahteraan Sosial Masyarakat (P2KSM) Di Kecamatan Bagelen dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo menggunakan metode pendekatan survey. Dengan jumlah responden 91. Metode analisis dengan menggunakan distribusi frekuensi, korelasi kendall tau, dan konkordansi kendall w. Hasil penelitian ini menunjukan Program P2KSM sudah cukup baik, karena keterlibatan dalam program P2KSM menghasilkan intended impact dan unintended impact. Intended impact yang dicapai berupa peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun unintended impact ternyata yang dihasilkan hanya kesenjangan sosial dan tidak menghasilkan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan program, akan tetapi nasabah program P2KSM yang merasa diuntungkan oleh adanya program P2KSM masih bergantung adanya program. Hal tersebut dapat di buktikan bahwa nasabah P2KSM masih berharap adanya program di desa dan keberlanjutan program. Ketergantungan terhadap bantuan program dapat menyebabkan kesenjangan sosial berupa kecemburuan sosial dan sikap iri. Sedangkan nasabah program P2KSM yang merasa tidak diuntungkan oleh adanya program, mereka tidak bergantung lagi oleh program P2KSM.




Reseach evaluation of the empowerment program of social prosperity potentiality of society (P2KSM) in Bagelen sub district and Purworejo sub district Purworejo district in the method approach of survey. Total of respondent in this research is 91. The method of analysis uses the frequency distribution, correlation of kendall tau, and concordance of kendall w. The result of research show there is the. program of P2KSM has became pretty good, because the involvement in the program of P2KSM produces the intended impact and unintended impact. Intended impact is achieved bu increasing the income and welfare of the comunity But Unintended Impact that has been produced it gives the discrepancy of social and it does not produce the dependency of society to the program assistance, but from the cilent of P2KSM program who feel advantaged of the P2KSM program still relies with the program. It can be proven that the customer of P2KSM still hoping the program in the village and sustainable program. Dependence on assistance programs can lead to social inequality in the form of social jealousy and envious. While cilent P2KSM programs that feel disadvantaged by the program, they no longer rely P2KSM program.



68838101P2EA12015KUALIFIKASI TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DAN PENERAPANNYA DALAM PRAKTIK DI PENGADILAN NEGERI KEBUMENMOCH. ICHWANUDIN, Program StudiIlmu Hukum, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Kualifikasi Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan penerapannya dalam praktik di PengadilanNegeriKebumen, Komisi Pembimbing Ketua Dr. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum., Anggota Dr. Budiyono, S.H., M.Hum.
Penelitian ini bertujuan mengetahui untuk menganalisis kualifikas tindak pidana narkotika dalam Undang-undangNomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan untuk meneliti penerapan kualifikasi tindak pidana penyalahgunaan narkotika dalam praktik Pengadilan dan Penulis mengambil kasus tindak pidana narkotika yang telah diputuskan oleh Hakim serta telah berkekuatan hukum tetap yaitu Putusan No.34/Pid.sus/2012/PN.Kbm. dan Putusan No. 59/Pid.Sus/2013/PN.kbm. di Pengadilan Negeri Kebumen.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap pokok permasalahan yang diajukan dalam tesis ini, maka dapat disimpulkan bahwa Kualifikasi tindak pidana narkotika dalam Undang-undangNomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dapat dibedakan yaitu : Kepemilikan, Produsen, Penjual/ Perantara/ pengedar, Kejahatan Transito, Perbuatan Pemberian, Pecandu/ penyalahguna, kejahatanPrekursor, kejahatan Korporasi narkotika, Sengaja tidak melaporkan adanya Tindak Pidana Narkotika, Percobaan atau permufakatan jahat tindak pidana narkotika, Penyertaan tindak pidana narkotika, Kewajiban Pelaporan Pecandu, Pengurus Industri Farmasi tidak melaksanakan Kewajiban pelaporan, Pencucian Uang Tindak Pidana Narkotika, Menghalangi proses hukum, Nakhodaataukaptenpenerbangtidakmelaporkanpengangkutannarkotika, Penyidik pegawai negeri sipil dan Penyidik Kepolisian Negara melalaikan Kewajiban Penyitaan, Kepala kejaksaan negeri tidak menetapkan status barang sitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika, Petugas laboratorium yang memalsukan hasil pengujian, Saksi yang member keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika, Residivis Tindak Pidana Narkotika, dan Penyalahgunaan narkotika bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Pada Putusan No. 34 /Pid.sus/2012/PN.Kbm. Hakim menerapkan kualifikasi tindak Pidana ”Penyalahguna Narkotika” sebagaimana Pasal 127 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dasar pertimbangannya adalah tujuan terdakwa mendapatkan narkotika jenis shabu seberat 1 (satu) gram untuk dikonsumsi dirinya sendiri bersama teman-temannya, dan Hakim dalam pertimbangannya mendasarkan pula adanya Surat Uji Laboratorium yang menyatakan bahwa urine terdakwa positif mengandung METAMFETAMINA terdaftar dalam Golongan I (satu) Nomor urut 61, sebagaimana ditentukan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomo 4 Tahun 2010, tertanggal 7 April 2010 bahwa untuk menentukan apakah seseorang tersebut penyalahguna narkotika antara lain, yaitu apabila pada saat ditangkap ditemukan barang bukti pemakaian 1 (satu) hari dengan perincian antara lain pada kelompok metamphetamine (shabu) seberat 1 (satu) gram serta adanya surat uji laboratorium positif menggunakan narkotika berdasarkan permintaan penyidik. Bahwa seharusnya berdasarkan Pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Hakim dapat menerapkan kualifikasi tindak pidana “Perantara” oleh karena terdakwa telah menjualkan narkotika jenis shabu seberat 1 (satu) gram milik orang lain meskipun tujuannya ingin mendapatkan shabu tersebut secara cuma-cuma untuk dikonsumsi sendiri. Sedangkan pada Putusan No. 59/Pid.Sus/2013/PN.kbm.Hakim menerapkan kualifikasi tindak Pidana “Kepemilikan Narkotika” sebagaimana Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dasar pertimbangannya adalah terdakwa saat ditangkap pihak kepolisian membawa dan menguasai 3 (tiga) paket shabu seberat 0, 857 gram yang rencananya akan dijual. Bahwa seharusnya berdasarkan Pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Hakim dapat menerapkan kualifikasi tindak pidana “Perantara” oleh karena terdakwa mendapatkan shabu seluruhnya sebanyak 5 (lima) paket dari pelaku lain, kemudian pelaku tersebut meminta kepada terdakwa untuk mengirimkan shabu-shabu tersebut kepada seseorang sebanyak 2 (dua) paket dan sisanya masih ada 3 (tiga) paket sabu-sabu yang masih berada ditangan terdakwa yang rencananya akan dijual.
MOCH .ICHWANUDIN, Legal Studies Program, Graduate Program, University General Sudirman, Qualification Crime Narcotics Abuse in Law No. 35 of 2009 on Narcotics and its application in practice in the District Court Kebumen, the counselors committee the chief Dr. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum., member Dr. Budiyono, S.H., M.Hum. .
This study aims to determine qualification for analyzing narcotic crime in Act No. 35 of 2009 on narcotics and to examine the application of the qualifying crime of drug abuse in the practice of the Court and the author takes narcotics criminal cases that have been decided by the judge as well as a permanent legal force Decision No.34/Pid.sus/2012/PN.Kbmand Decision No.59/Pid.Sus/2013/PN.kbm. The District Court Kebumen
Based on the results of research and discussion on the subject problems proposed in this thesis , it can be concluded that the narcotic crime Qualification in Law No. 35 of 2009 on Narcotics can be divided into several namely : Ownership, Manufacturer, Seller / Distributor / dealer, crime Transito, deeds Giving, Addicts / abuse, crime Precursor, Corporate narcotics crimes , intentionally did not report any crime narcotics, experiments or the crime of conspiracy narcotics, narcotic crime Investments, reporting obligations Addict, Pharmaceutical Industry Board does not implement reporting obligations, Money Laundering narcotics Crime, Obstructing legal process, skipper or captain pilots did not report the transport of narcotics, investigators civil servants and State Police Investigator neglects obligation Foreclosure, head of the district attorney does not determine the status of the goods confiscated narcotics and narcotics Precursor , officers falsified laboratory test results witness who gives false information in the examination of criminal cases narcotics and narcotics Precursor, recidivist narcotics crime and Abuse of narcotics not in the interests of health services and the development of science.
In Decision No. 34 / Pid.sus/2012/PN.Kbm. Criminal acts qualified judges apply " Narcotics abusers " as Article 127 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics , the basic consideration is the purpose of the defendant narcotics types of meth weighing one (1) gram of consumed himself with his friends , and the Judge in consideration Similarly basing the letter of Laboratory Tests stating that urine tested positive for methamphetamine defendants listed in Category I ( a ) serial number 61 , as specified in the Circular of the Supreme Court Nomo 4 of 2010 , dated 7 April 2010 that the person to determine whether drug abusers among other things , that if at the time of his arrest found evidence the use of 1 ( one ) day , comprising , among others, in the group of methamphetamine ( shabu ) weighing one (1) gram as well as the letter of the laboratory test positive for narcotics investigator upon request . That should have been based on Article 114 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics judge can apply the qualifying crime of " Intermediate" because the defendant had narcotics trade off kind of shabu weighing one (1) gram of property of others even though the purpose is to obtain methamphetamine for free for their own consumption . While in Decision No. . 59/Pid.Sus/2013/PN.kbm . Criminal acts qualified judges apply "Possession of Narcotics " as Article 112 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics , the basic consideration is when the defendant was arrested by the police and brought to master three (3 ) packages of methamphetamine weighing 0 , 857 grams which is scheduled to be sold . That should have been based on Article 114 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics judge can apply the qualifying crime of " Intermediate" because the defendant meth full 5 (five ) packets from other perpetrators , the perpetrators then ask the defendant to deliver methamphetamine to someone as much as two (2 ) packets and the rest are still there are 3 ( three ) package methamphetamine is still in the hands of the defendant is scheduled to be sold.
68848102F1B009079IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA PURBAYASA KECAMATAN TONJONG KABUPATEN BREBESKesehatan dan pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, namun faktanya tidak semua manusia dapat mengakses kesehatan dan pendidikan yang memadai karena keterbatasasn ekonomi. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program yang memberikan bantuan tunai kepada Keluarga Sangat Miskin (KSM). Sebagai imbalannya KSM diwajibkan memenuhi persyaratan terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia, yaitu pendidikan dan kesehatan. Penelitian Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Purbayasa Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Purbayasa Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, sasaran penelitian adalah masyarakat penerima progran, pendamping PKH, kepala desa dan pegawai kantor pos. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi. Sumber data menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Validitas menggunakan Tringulasi Sumber. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif Milles and Huberman. Berdasarkan hasil penelitian, impelementasi Program Keluarga Harapan (PKH) dilihat dari organisasi pelaksana, perencanaan program, pelaksanaan program dan evaluasi program secara keseluruhan sudah baik. Program Keluarga Harapan (PKH) mampu memberikan manfaat bagi masyarakat penerima program bantuan untuk mengakses kesehatan dan pendidikan yag lebih baik. Namun dengan tidak adanya pertanggungjawaban pengelolaan dana bantuan dari masing-masing KSM, dana bantuan yang diberikan tidak sepenuhnya untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan.

Health and education are the fundamental needs for human, but in fact it is not all people can access the appropriate health and education because the economic limitation. Hope full Family Program (PKH) is the program that gives the cash assistance to Very Poor Family (KSM). As the feedback KSM is obligated to fulfill the connected requirement with the efforts for increasing the human resource quality that is the education and health. The Research of the Implementation of Hope full Family Program (PKH) in the Village of Purbayasa, in the Sub district of Tonjong, in Regency of Brebes aims to evaluate the implementation of Hope full Family Program (PKH) in the Village of Purbayasa, in Sub district of Tonjong, Regency of Brebes. Method in this research uses the method of descriptive qualitative research, the target of research is the society as the program acceptor, PKH counselor, head of village and post office employees. Method of data collection uses the depth interview, documentation and observation. Source of data uses the source of primary data and source of secondary data. Validity uses the source Triangulation Method Based on the research result, implementation Hope full Family Program (PKH) is seen from the implementer organization, planning program, program implementation and program evaluation entirely are in good condition. Hope full Family Program (PKH) can gives the benefit for the society as the receptor of assistance program to access the better health and education. But without any the responsibility for aid fund management from each KSM, aid fund that has been given it is not entirely to fulfill the needs of health and education.
68858103B1J008163EFISIENSI PROTEIN DAN FAKTOR KONDISI IKAN GURAMI (Osprhonemus gouramy Lac.) YANG MEMPEROLEH PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN DAN ENERGI YANG BERBEDA.
Ikan Gurami (Osprhonemus gouramy Lac.) termasuk ikan karnivora pada stadia benih, sedangkan setelah dewasa berubah menjadi ikan omnivora dan pertumbuhannya lambat, namun ikan ini banyak dibudidayakan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pakan ikan adalah kadar protein, adanya keseimbangan yang tepat antara energi dan protein pakan. Berdasarkan hal tersebut maka akan dilakukan kajian fisiologi tentang efisiensi protein dan faktor kondisi pada ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) yang memperoleh pakan dengan kandungan protein dan energi yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efisiensi protein dan faktor kondisi pada ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) yang memperoleh pakan dengan kandungan protein dan energi yang berbeda. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan dasar RAL, dengan pola faktorial 2x4 Faktor pertama adalah kelompok berat tubuh yaitu ikan dengan berat tubuh 25-35 gram/ekor (I1) dan 70-90 gram/ekor (I2). Faktor kedua adalah pakan berbentuk pelet dengan rasio kadar protein dan energi sebagai berikut : (P1) 35 %/3,5 kkal, (P2) 35 %/2,8 kkal, (P3) 27 %/2,7 kkal dan (P4) 27 %/2,2 kkal dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian didapatkan nilai efisiensi protein sebesar 32.12±15.02-56.35±11.63 (I1) dan 33.53±6.94-45.64±5.98 (I2). Perbedaan berat tubuh dan jenis pakan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap efisiensi protein. Nilai faktor kondisi pada I1(ikan dengan berat 34.08±3.86g) adalah 1,29-1,68 sedangkan I2 (ikan dengan berat 76.52±4.26g) adalah 1,59-1,83). Bahwa nilai faktor kondisi I1 (ikan dengan berat 34.08±3.86g) dan I2 (ikan dengan berat 76.52±4.26g) pertumbuhannya adalah allometrik yang artinya pertambahan panjang lebih cepat daripada berat tubuh.Fish carp (Osprhonemus gouramy Lac.) Including carnivorous fish seed in stadia, while as adults turn into omnivores and slow-growing fish, but the fish is widely cultivated. Factors to consider in fish feed is the protein content, the presence of the right balance between energy and protein feed. Under these conditions, will examine the efficiency of protein and physiology of the condition factor of carp ( Osphronemus gouramy Lac.) That diets containing different protein and energy. The purpose of this study was to determine the efficiency of protein and the condition factor of carp (Osphronemus gouramy Lac.) That diets containing different protein and energy. The method of research was carried out experimentally using RAL basic design, with a 2x4 factorial first factor is body weight groups ie fish with body weight of 25-35 g / fish ( I1 ) and 70-90 g / fish ( I2 ) . The second factor is the form of pellets with a feed ratio of protein and energy levels as follows : ( P1 ) 35 % / 3.5 kcal, ( P2 ) 35 % / 2.8 kcal, ( P3 ) 27 % / 2.7 kcal and ( P4 ) 27 % / 2.2 kcal with repeat 3 times. The results showed the efficiency of the protein by 32.12 ± 15.02-56.35 ± 11.63 ( I1 ) and 33.53 ± 6.94-45.64 ± 5.98 ( I2 ). Differences body weight and the type of feed had no effect ( P > 0.05 ) on the efficiency of the protein . Conditions on the value factor of 1.67 I1 ( P1 ); 1.66 ( P2 ); 1.68 ( P3 ) and 1:29 ( 1:29 ) while on treatment I2 1.83 ( P1 ); 1.63 ( P2 ); 1.61 ( P3 ) and 1.59 ( P4 ) . That the value of I1 condition factor ( fish with a weight of 34.08 ± 3.86g ) and I2 ( fish with a weight of 76.52 ± 4.26g ) is allometric growth , which means the length faster than the body weight .
68868104C1A010042FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIMPANGAN PENDAPATAN DI KOTA CIREBON DAN KABUPATEN CIREBON TAHUN 2003 SAMPAI DENGAN 2012Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon berusaha meminimalisir ketimpangan pendapatan yang terjadi di masing-masing wilayah. Ketimpangan pendapatan dapat disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi, aglomerasi, tingkat pengagguran, dan sarana kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon pada tahun 2003-2012, untuk mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi, aglomerasi, tingkat pengangguran, dan sarana kesehatan secara bersama-sama dan secara parsial berpengaruh terhadap ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon tahun 2003-2012, untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon tahun 2003-2012.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif melalui studi kepustakaan (library research) yang didukung analisis kuantitatif dengan menggunakan data time series tahun 2003-2012. Hasil penelitian ini Ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon pada tahun 2003-2012 memiliki angka yang kecil karena cenderung mendekati 0, namun ketimpangan pendapatan di Kabupaten Cirebon pada tahun 2003-2012 memiliki angka yang besar karena cenderung mendekati 1. Variabel pertumbuhan ekonomi, aglomerasi, tingkat pengangguran dan sarana kesehatan secara bersama-sama dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon tahun 2003-2012 namun secara parsial variabel aglomerasi yang memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan di Kabupaten Cirebon tahun 2003-2012. Variabel sarana kesehatan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap ketimpangan pendapatan baik di Kota Cirebon maupun Kabupaten Cirebon tahun 2003-2012.
Implikasi dari penelitian ini untuk mengurangi tingkat ketimpangan pendapatan di Kabupaten Cirebon, pemerintah daerah dapat menerapkan kebijakan-kebijakan seperti meningkatkan pertumbuhan pendapatan perkapita masyarakat dengan menekan laju pertumbuhan penduduknya, mengurangi kesenjangan antara kota dengan desa. Dalam upaya mengurangi ketimpangan pendapatan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon Dinas Kesehatan sebaiknya memperhatikan perkembangan sarana kesehatan yang ada di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, karena variabel sarana kesehatan yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya ketimpangan pendapatan. Upaya yang dapat dilakukan adalah (1) penambahan fasilitas kesehatan. (2) Penyediaan pelayanan kesehatan gratis. (3) Pengadaan obat generik. (4) Penambahan jumlah tenaga medis. (5) Melakukan penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat.
Cirebon city and Cirebon regency try to minimize the income inequality that occurs in their area. The Income inequality can be caused by economic growth , agglomeration , unemployment , and healthcare facilities . The purpose of this research are to determine the income inequality in Cirebon city and Cirebon regency in 2003 to 2012 , to determine whether economic growth , agglomeration , unemployment , and healthcare facilities collectively and partially affect the income inequality in Cirebon city and Cirebon regency in 2003 to 2012 , to determine which variables that are the most influential to income inequality in Cirebon city and Cirebon regency in 2003 to 2012
The method used in this research is descriptive analysis method through literature study (library research) that is supported by quantitative analysis using time series data from 2003 to 2012 . The result of this study are the income inequality in Cirebon city in 2003 to 2012 showing small numbers which tends to be close to 0, but the income inequality in Cirebon regency in 2003 to 2012 showing big number which tends to 1. The variables of economic growth , agglomeration , unemployment and healthcare facilities collectively and partially positive and significant affect to the income inequality in Cirebon city and Cirebon regency in 2003 to 2012, but agglomeration has partially negative and significant affect to the income inequality in Cirebon regency in 2003 to 2012. Healthcare facilities variable is the most influential variable to the income inequality in both Cirebon city and Cirebon regency in 2003 to 2012 .
The implications of this study is to reduce the income inequality level in Cirebon regency. Local government can implement policies such as increasing per capita income growth of society by pushing the population growth and minimizing the gap between city and village. To reduce income inequality in Cirebon city and Cirebon regency government healthcare department should pay attention to the development of healthcare facilities in both region because healthcare facilities variable is the most influential to rising the income inequality. The steps to do are (1) increasing the healthcare facilities, (2) providing free healthcare service, (3) providing generic drugs, (4) Increasing the number of medical manpower (5) socializing the importance to be hygiene and to have health lifestyle.
688710194B1J010039HUBUNGAN KERAPATAN BUNGA DENGAN KERAGAMAN LEBAH LIAR DI LAHAN PERTANAMAN HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI GUNUNG TUGEL BANYUMASKeberadaan serangga polinator berkaitan dengan keberadaan bunga, karena bunga sebagai produsen serbuk sari dan nektar. Kuantitas serbuksari dan nektar berpotensi menentukan keanekaragaman serangga yang mengunjungi bunga tersebut. Tanaman yang memiliki kerapatan bunga yang tinggi akan berpotensi meningkatkan kunjungan serangga polinator baik dalam keragaman maupun jumlahnya. Hal ini dikarenakan adanya daya tarik serbuk sari dan nektar yang terdapat didalam bunga tesebut. Bagi serangga, serbuksari digunakan sebagai sumber protein untuk perkembangan, sedangkan nektar sebagai sumber gula yang sangat dibutuhkan untuk tenaga. Kunjungan serangga polinator akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kerapatan bunga. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerapatan bunga dengan keragaman lebah liar dan untuk mengetahui kerapatan bunga yang paling tinggi dikunjungi oleh lebah liar. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 4 perlakuan yaitu P1: Tanaman dengan kerapatan 100, P2: Tanaman dengan kerapatan 200, P3: Tanaman dengan kerapatan 300, P4: Tanaman dengan kerapatan 400. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pengambilan data serangga dilakukan 3 kali ulangan dengan interval waktu 1 minggu. Data yang didapat akan dihitung keragamannya menggunakan Indeks Keragaman Shannon-Wiener dan dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan kerapatan bunga mempengaruhi jumlah spesies lebah liar dan kelimpahannya untuk berkunjung dan kerapatan bunga yang lebih tinggi memberikan daya tarik kepada lebah liar yang lebih tinggi pulaThe presence of insect pollinators associated with the presence of flowers, because flowers as pollen and nectar producers. The quantity of pollen and nectar potentially determine the diversity of insects that visit the flowers. Plants that have a high density of interest will potentially increase insect pollinators visit both in diversity and quantity. This is due to the attraction of the pollen and nectar of flower contained in the proficiency level. For insects, pollen was used as a source of protein for growth, while the nectar as a source of sugar that is needed for energy. The visit of the insect pollinators will continue to increase along with the increasing density of interest. The purpose of the proposed study was to determine the relationship between flower density and diversity of wild bees to find the highest density of flowers visited by wild bees. The study was conducted using an experimental method completely randomized design (CRD). There are 4 treatment, P1 : Plants with a density of 100, P2 : Plants with a density of 200, P3 : Plants with a density of 300, P4 : Plants with a density of 400. Each treatment was repeated 3 times. Data collection was performed 3 times repetition insect with a time interval of 1 week. The data obtained will be calculated using the diversity, Shannon - Wiener diversity index and analyzed using analysis of variance ( ANOVA ). The results showed that density flower affects the number of wild bee species and their abundance and density flower of higher interest given the attractiveness to wild bees of higher
68888105H1E010002RANCANG BANGUN SISTEM EKOLOKASI PORTABEL BER-OUTPUT GETARAN SEBAGAI ALAT BANTU JALAN PENYANDANG TUNANETRA DENGAN MEMANFAATKAN GELOMBANG ULTRASONIK DAN SENSOR HC-SR04 Rancang bangun sistem ekolokasi portabel ber-output getaran telah dilakukan. Sistem ekolokasi portabel yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, sensor ultrasonik HC-SR04, serta motor dc ini dirancang sebagai alat bantu jalan penyandang tunanetra. Dalam perancangannya, tegangan keluaran sensor ultrasonik terlebih dahulu diakuisisi untuk memperoleh karakteristik statiknya. Kemudian dibuat program untuk mengatur mikrokontroler agar memberi isyarat pada motor dc untuk bergetar, ketika jarak antara sensor dan objek kurang dari atau sama dengan 200 cm. Sistem ekolokasi yang telah dirancang, diuji untuk memperoleh karakteristik dinamiknya. Karakteristik statik dan dinamik sensor yang diperoleh adalah akurasi rata-rata sebesar 96,67 %, error rata-rata 3,33 %, sensitivitas 4,3522 mV/cm dan waktu respon sebesar 1,19 detik. Sistem ekolokasi portabel dapat bergetar ketika jarak antara sensor dan objek kurang dari atau sama dengan 200 cm.A portable echolocation system with vibration output has been designed. The portable echolocation system utilizing ultrasonic waves, HC-SR04 ultrasonic sensor, and a dc motor was designed as travel aid for blind people. In designing the system, the ultrasonic sensor output voltage data was acquired prior to obtaining its static characteristics. Then a program was written to microcontroller in control the dc motor to vibrate when the distance between the sensor and the object is less than or equal to 200 cm. Echolocation system that has been designed was tested to obtain its dynamic characteristic. Static and dynamic characteristics of the ultrasonic sensor are accuracy of 96,67 %, error of 3,33 %, sensitivity of 4,3522 mV/cm and response time of 1,19 seconds. The portable echolocation system can vibrate when the distance between the sensor and the object is less than or equal to 200 cm.
688910195F1C010026hubungan kegiatan employee relations dengan motivasi kerja pada karyawan bank mandiri business banking purwokertoSkripsi ini berjudul Hubungan Kegiatan Employee Relations Dengan Motivasi Kerja Pada Karyawan Bank Mandiri Business Banking Purwokerto. Pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara kegiatan employee relations dengan motivasi kerja karyawan bank mandiri business banking Purwokerto.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pemilihan informan random sampling. Penelitian ini menggunakan Korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan kegiatan employee relations dengan motivasi kerja karyawan bank mandiri business banking Purwokerto. Berdasarkan hasil perhitungan statistik, diperoleh koefisien korelasi (r-hitung) sebesar 0,143 pada taraf signifikansi 5% (α=0,05) dengan jumlah responden 30.
Koefisien regresi sebesar 0,270 tersebut dapat dimaknai bahwa diantara variabel employee relations dengan motivasi kerja karyawan terdapat hubungan yang sangat positif, dan signifikan. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah, kegiatan employee relations secara langsung maupun tidak langsung memiliki hubungan dengan karyawan bank mandiri business banking dalam membentuk motivasi kerja dirinya.

This research titled Relation between Employee Relations Activity and Work Motivation in Mandiri Business Banking Purwokerto. The main problem in this research is to understand the relation between employee relations activity Work Motivation in Mandiri Business Banking Purwokerto.
The method used in this research was survey method with technique of random sampling informant selection technique. The research use product moment correlation to find out the correlation between Employee Relations activity and Work Motivation in Mandiri Business Banking Purwokerto. Based on the statistical calculation, the coefficient correlation (r-calculus)is 0,143 in the significant level of 5% (α=0,05) from 30 respondents.
The correlation regretion of 0,270 means that there is very positive and significant relation between Employee Relations activity with Work Motivation in Mandiri Business Banking Purwokerto. The conclusion is Employee Relations activity directly or indirectly have a relation with the Employee of Mandiri Business Banking Bank by establishing their self-work motivation.
689010196F1C010044Hubungan Kepuasan dengan Loyalitas Pelanggan (Studi Korelasi Kepuasan dengan Loyalitas Pelanggan Kereta Api Eksekutif di PT KAI (PERSERO) DAOP V PuwokertoAbstrak

PT KAI (PERSERO) merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pelayanan transportasi darat yang telah lama berdiri di Indonesia. Penelitian ini menyoroti tentang apakah kepuasan pelanggan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan terhadap kereta api, khususnya kereta api eksekutif di PT KAI (PERSERO) khususnya di DAOP V Purwokerto. Sejak tahun 2012 lalu terjadi banyak perubahan pada sistem layanan diseluruh daerah operasional PT KAI (PERSERO) termasuk di DAOP V Purwokerto. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan maksud mengetahui ada-tidaknya hubungan antara kepuasan yang dirasakan pelanggan dengan loyalitas pelanggan dalam menggunakan jasa layanan kereta api eksekutif di DAOP V Purwokerto.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pemilihan informan simple random sampling. Penelitian ini menggunakan korelasi Pearson’s Product Moment untuk mengetahui hubungan antara kepuasan dengan loyalitas pelanggan kereta api (studi korelasional antara hubungan kepuasan dengan loyalitas pelanggan kereta api eksekutif di PT KAI (PERSERO) DAOP V Purwokerto). Berdasarkan perhitungan statistik, diperolah koefisien korelasi (rhitung) sebesar 0,227 pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05 ) dan tingkat kepercayaan 95% dengan jumlah responden 100 orang.
Koefisien korelasi yang ditemukan sebesar 0,227 tersebut dimaknai bahwa variabel kepuasan dengan loyalitas pelanggan kereta apieksekutif di DAOP V Purwokerto memiliki hubungan yang cukup positif dan signifikan. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah, kepuasan memiliki hubungan yang baik secara langsung maupun tidak langsung dengan loyalitas pelanggan pengguna jasa kereta api eksekutif di stasiun Purwokerto.

Kata kunci: Kepuasan, Loyalitas Pelanggan
Abstract
PT KAI (PERSERO) is a State-Owned Enterprise (SOE) which is engaged in the inland transportation services that have long stood in Indonesia. This study highlights the impact of whether the customer satisfaction affect on customer loyalty towards the train, especially executives railroad at PT KAI (PERSERO), especially in DAOP V Purwokerto. Since 2012 there were many changes in the service system throughout the operational area of PT KAI (PERSERO) including DAOP V Purwokerto. For this reason this study was conducted with the intention of knowing whether or not there is a relationship between perceived customer satisfaction to the customer loyalty in the use of executive rail services at DAOP V Purwokerto.
The method used in this study is survey method with informant selection techniques by simple random sampling. This study used Pearson's Product Moment to determine the correlation between satisfaction and railway customer loyalty (correlational studies of the relationship between customer satisfaction and loyalty executive railway at PT KAI (PERSERO) DAOP V Purwokerto). Based on statistical calculations, the correlation coefficient obtained (rhitung) of 0.227 at a significance level of 5% (α = 0.05) and 95% confidence level with a number of respondents to 100 people.
Correlation coefficient of 0.227 is found to be understood that the variable satisfaction with customer loyalty executive railroad in DAOP V Purwokerto is positive and significant. The conclusion that can be drawn from this study is that satisfaction has a good relationship directly or indirectly with a customer loyalty of railroad service users in Purwokerto station.



Keywords: Satisfaction, Customer Loyalty
689110937G1D011039Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kemampuan Perawatan Diri pada Pasien Gangguan Jiwa
Latar Belakang: Pasien gangguan jiwa mengalami penurunan fungsional termasuk kemampuan perawatan diri. Perawatan diri merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk memenuhi dan mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan perawatan diri pasien gangguan jiwa adalah dukungan keluarga.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap kemampuan perawatan diri pada pasien gangguan jiwa.
Metode: Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih dengan purposive sampling sejumlah 24 responden. Pengambilan data menggunakan instrumen kuesioner. Analisis data univariat ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji statistik Spearman.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 40-65 tahun (62,5%), tingkat pendidikan adalah SD (62,5%), responden terbanyak tidak bekerja (37,5%), berpenghasilan kurang dari UMR Banyumas (75%), dan lama merawat pasien lebih dari 2 tahun (83,3%). Gambaran dukungan keluarga terbesar adalah kurang (87,5%), sedangkan kemampuan perawatan diri pasien mayoritas adalah mandiri (95,8%). Analisis uji Spearman diperoleh nilai r -0,402 dan p value 0,051.
Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi yang bermakna antara dukungan keluarga terhadap kemampuan perawatan diri pasien gangguan jiwa.

Kata Kunci: dukungan keluarga, gangguan jiwa, perawatan diri.
Background: Mental disorder patients decreased functional including the ability to self-caring. Self-caring is an activity that is carried out by someone to full fill their life, health, and welfare. Family support is one of the factors that affect the ability of self-care patient with mental disorders.
Objective: To determine the relation between family support and self-caring ability for patients with mental disorders.
Methods: This study used quantitative method with cross sectional approach. Selected samples with purposive sampling a number of 24 respondents. Collecting data with questionnaire, univariate analysis which shown in the frequency distribution, and bivariate analysis using Spearman statistical test.
Result:The results showed that the majority of respondents aged 40-65 were (62.5%), elementary school graduate (62.5%), respondents who did not have a job (37.5%) respondent who earn less than the regional minimum wage of Banyumas (75%), and duration of care for patients more than 2 years (83.3%). Overview largest family support is less (87.5%), while the majority of patients self-caring ability were (95.8%). Spearman test analysis obtain the value of r -0.402 and p value 0.051.
Conclusion: There were no relation between family support and self-caring ability of mental disorder patients.

Keywords: family support, mental disorder, self-care.
68928106F1G010017MOBILITAS SOSIAL TOKOH UTAMA DALAM
NOVEL SURAT DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA
Penelitian ini berjudul “Mobilitas Sosial Tokoh Utama dalam Novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara”. Latar belakang dalam penelitian ini adalah mobilitas sosial tokoh Dahlan yang mengalami perubahan status sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mobilitas sosial tokoh utama yaitu Dahlan dalam novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara dan keterjalinan antarunsur yang meliputi alur, penokohan dan latar dalam novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara. Manfaat dalam penelitian ini yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Manfaat penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menjadi referensi penelitian selanjutnya serta menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti atau pembaca. Adapun manfaat teoritis penelitian ini diharapkan pembaca mampu mengembangkan keilmuan sastra khususnya tentang mobilitas sosial dalam karya sastra.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Fokus penelitian ini yaitu mobilitas sosial tokoh utama dalam novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara. Teknik pengumpulan data yaitu membaca, mencatat dan mengklasifikasikan data yang sesui dengan rumusan masalah. Teknik analisis data yaitu mereduksi data yang tidak relevan dengan fokus penelitian. Menganalisis dan mendeskripsikan data yang sesuai dengan rumusan masalah serta menyimpulkan hasil analisis.
Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh gambaran mobilitas sosial tokoh Dahlan sebagai tokoh utama. Perjalanan tokoh Dahlan dibagi menjadi dua bagian yaitu perubahan status sosial dan peningkatan status sosial. Perubahan status Dahlan terjadi ketika Dahlan pergi ke Samarinda dengan tujuan untuk mengubah hidupnya agar menjadi lebih baik. Di Samarinda Dahlan bekerja sebagai kuli tinta (wartawan). Dengan Kerja keras dan do’a, akhirnya Dahlan dapat bekerja dengan baik. Peningkatan status sosial terjadi ketika Dahlan diutus atau dipindahtugaskan menjadi kepala biro majalah Tempo di Surabaya.
This research is entitled “Mobilitas Sosial Tokoh Utama dalam Novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara”. The background of this research is the social mobility of the main character named Dahlan who experiences the change of social status. This research has a purpose to describe the social mobility of the main character named Dahlan in a novel entitled Surat Dahlan by Khrisna Pabichara and how the intrinsic elements of the novel, namely, plot, characterization, and setting are tied in. there are two kinds of significances in this research: practical and theoretical significances. The practical significance is about this research that can be reference for other researches, and can increase the knowledge of researches and readers. Besides, the theoretical significance is mainly about the readers who may develop their literature knowledge, especially the social mobility in literature works.
This research uses descriptive qualitative method. The main focus of the research is social mobility of the main character in a novel entitled Surat Dahlan by Khrisna Pabichara. The method of data collection is by reading, noting, and classifying data, which are suitable, to answer the research question. The technique of data analysis is done by reducing irrelevant data which are not needed. Furthermore, analyzing and describing data are also conducted. Finally drawing conclusion is the last step of the technique.
Based on the research, the description of the social mobility experienced by the main character is obtained. The social mobility of Dahlan, the main character of the novel, is divided into two, such as, the changes of the social status and the increase of the social status. The change of Dahlan’s social status happens when he goes to Samarinda to make his life better. In Samarinda, Dahlan works as journalist. Because of his work and pray, finally, Dahlan can work well. The increase of Dahlan’s social status can be seen when Dahlan works as the head of bureau in Tempo magazine in Surabaya.
68938107E1A010130Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Perkosaan Dalam Proses Persidangan Di Pengadilan Negeri PurwokertoTindak pidana perkosaan merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap perempuan yang merupakan salah satu akibat dari kerentanan posisi perempuan (Biologically Week Victim). Menjadi suatu permasalahan ketika peraturan perundang-undangan lebih banyak memperhatikan kepentingan tersangka / terdakwa. Sehingga perlu upaya lebih dalam mengoptimalkan pelaksanaan perlindungan hukum korban tindak pidana perkosaan, khususnya perlindungan hukum pada saat proses persidangan.
Permasalahan dan tujuan penelitian yang diambil antara lain: (a) mengetahui bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum korban tindak pidana perkosaan dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto, (b) mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam upaya pelaksanaan perlindungan hukum korban tindak pidana perkosaan di Pengadilan Negeri Purwokerto.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan studi hukum yang dipelajari dan diteliti sebagai suatu studi mengenai law in action. Mempelajari dan meneliti hubungan timbal balik antara hukum dengan lembaga-lembaga sosial yang lain, studi terhadap hukum sebagai law in action merupakan studi ilmu sosial yang non doktrinal dan bersifat empiris.
Penelitian mengahasilkan kesimuplan: (a) Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perkosaan pada proses persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto pada dasarnya belum dilaksanakan secara optimal dikarenakan masih banyaknya hak-hak korban yang belum terpenuhi, seperti hak mendapatkan restitusi dan kompensasi. (b) Hambatan-hambatan yang muncul dalam melaksanakan perlindungan hukum bagi korban tindak pidana perkosaan dipengaruhi oleh faktor penegak hukumnya sendiri dan faktor sarana fasilitas pendukung.
Rape is one form of hardness crime to woman who is example of susceptance position of the woman (Biologically Weak Victim). Become a problem when regulations more concerns to the offenders. So it needs more effort in optimize implementation protection the victim crime of rape, particulary legal protection in trial process.
The problems and purpose of research taken by inter alia: (a) knows how implementation legal protection the victim crime of rape in trial process on the Pengadilan Negeri Purwokerto, (b) knows obstacle facing in a bid legal protection the victim crime of rape in trial process on the Pengadilan Negeri Purwokerto.
In this research, writer applies law study divided to become 2 (two) study branch, firstly law can be studied and checked as a study about law indium books, and second is law studied checked and as a study about law indium action. Studies and checks interrelationship between laws with other social institutes, study to law as law indium action is social science study which non doktrinal and haves the character of empiric.
Research findings conclusion: (a) legal protection the victim crime of rape in trial process on the Pengadilan Negeri Purwokerto not yet implemented optimally, because many of rights of the victims who haven’t met, like the right to restitusion and compensation. (b) obstacle that emerge in execute protection the victim crime of rape affected by law enforcement factor and infrastructure facility support.
68948109C1A010041Analisis Persepsi Nasabah terhadap Prinsip Perbankan Syariah (Studi Kasus Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap)Penelitian ini berjudul Analisis Persepsi Nasabah terhadap Prinsip Perbankan Syariah (Kasus Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi prinsip syariah pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap, akseptabilitas nasabah terhadap prinsip syariah yang diterapkan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, kemudian untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, kepercayaan, kepuasan nasabah terhadap persepsi nasabah.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2013. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode survei terhadap nasabah Bank Pembiyaan Rakyat Syariah (BPRS) di Kabupaten Cilacap. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan analisis jalur yang terdapat satu variabel terikat yaitu persepsi nasabah dan tiga variabel bebas yaitu pengetahuan nasabah, kepercayaan nasabah dan kepuasan nasabah. Sampel pada penelitian ini berjumlah 57 responden yang merupakan nasabah BPRS di Kabupaten Cilacap.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap sudah menerapkan prinsip syariah pada setiap operasionalnya berdasarkan pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang operasional perbankan syariah. Sebagian besar nasabah setuju bahwa Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap sudah menerapkan prinsip syariah pada operasionalnya. Terdapat pengaruh yang positif varibel bebasnya terhadap variabel bebasnya, semakin baik pengetahuan nasabah, kepercayaan nasabah, dan kepuasan nasabah akan semakin baik persepsi nasabah terhadap prinsip yang diterapkan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Kabupaten Cilacap.
The tittle of this research is an analysis of client perception towards principle of sharia banking (study case of Bank Pembiayaan Rakyat Syariah in Cilacap Regency). The aim of this research are to analysis the implementation of sharia principle in Bank Pembiayaan Rakyat Syariah in Cilacap Regency, to measure client acceptability towards sharia principle which is implemented by Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, furthermore to analysis influence of knowledge, trust, and satisfaction of the banking client t0 the client perception.
Time range of this research was in April to May 2013. The method of this research is survey method towards the client of Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) in Cilacap Regency. It was used descriptive statistics and path analysis, which included to a dependent variable (the banking client perception) and three independent variables (knowledge; trust of client and client satisfaction). Sample of this research amounted 57 respondents, who are BPRS’s client in Cilacap Regency.
The output of this research shows Bank Pembiayaan Rakyat Syariah in Cilacap Regency has implemented sharia principle on its operational. That Majelis Ulama Indonesia (MUI) Fatawa about operational of sharia banking. Most of the client agreed that Bank Pembiayaan Rakyat Syariah in Cilacap Regency has implemented it on their operational. All of independent variables show positive influence to dependent variable. It means more knowledge of the client, trust, and satisfaction will impact to better perception of the client towards principle which is implemented by Bank Pembiayaan Rakyat Syariah in Cilacap Regency.
68958094E1A010009PERANAN POLISI TERHADAP TERTIB LALU LINTAS DALAM BERKENDARA DI JALAN KAWASAN WISATA BATURRADENJalan kawasan wisata Baturraden adalah jalan utama menuju tempat wisata Baturraden dan banyak dilalui kendaraan bermotor. Mengingat kawasan tersebut adalah kawasan wisata maka tertib lalu lintas dalam berkendara sangat penting ditegakkan oleh polisi di kawasan tersebut. Tingkat kecelakaan yang tinggi mendorong adanya peran polisi lalu lintas dalam membina tertib lalu lintas di kawasan tersebut. Adapun fokus dalam penelitian ini adalah peran polisi lalu lintas dalam membina masyarakat tentang tertib lalu lintas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkapakan peranan polisi lalu lintas (Polantas) dalam membina masyarakat terhadap tertib lalu lintas dalam berkendara di jalan kawasan wisata Baturraden. Hasil penelitian ini menjelaskan peran polisi lalu lintas (Polantas) beserta faktor pendorong dan penghambat dalam membina masyarakat di jalan kawasan wisata Baturraden. Peran Polantas Baturraden dalam membina masyarakat terhadap tertib lalu lintas dalam berkendara di jalan kawasan wisata Baturraden dilakukan dengan upaya preventif dan represif. Faktor yang mendorong peran polantas dalam melaksanakan tertib lalu lintas di jalan kawasan wisata Baturraden adalah adanya motivasi yang tinggi dari anggota masyarakat guna menciptakan keamanan dan ketertiban lalu lintas. Faktor penghambat peran Polantas adalah jumlah personil yang terbatas, sarana dan prasarana, faktor anggaran dan faktor masyarakat.


The road of area in Baturraden tourism is main road to Baturraden tourism place and many vehicles passed around. To consider that area is a tourism place so traffic rules in driving or riding are prominently uphold by police in that area.The high level of traffic accident stimulates the role of traffic police in governing traffic rules in that area. As, the focus of this research is about the traffic polices’ roles in fostering civilian toward the traffic rules. The purpose of this research is to express the role of traffic police (Polantas, an Indonesian abbreviation from traffic police) in fostering the civilian concerning the traffic rules in driving or riding around Baturaden tourism area. The result of this research describes about the role of traffic police (Polantas) along stimulant and obstacle factors in fostering the civilian in the road of Baturraden tourism area. The role of Baturraden traffic police in fostering people toward traffic rules in driving or riding on the road around Baturraden area implemented with the preventive and reparative effort. The factor that stimulates the role of traffic police in implementing the traffic rules on the road around Baturadentourism area is the high motivation from the members of civilian in order to create security and regularity in traffic. The obstacle factors from traffic police is the amount of limited police personnel, facility and infrastructure, budget factor, and civilian factor.



68968110D1E010153PENGUNAAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya) DALAM RANSUM TERHADAP KADAR LEMAK DAN KOLESTEROL DAGING AYAM KAMPUNGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi tepung daun pepaya (Carica papaya) dalam pakan ayam kampung terhadap kadar lemak dan kolesterol daging dan mengetahui level optimum suplementasi tepung daun pepaya (Carica papaya) dalam pakan ayam kampung terhadap kadar lemak dan kolesterol daging. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 28 November 2013 sampai tanggal 10 Januari 2014. Pemeliharaan dilaksanakan di Seloarum Farm, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode metode eksperimental in vivo dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan terdiri dari : Ransum basal tanpa penambahan tepung daun pepaya (R0), R0 + 2% tepung daun pepaya (R1), R0 + 4% tepung daun pepaya (R2), R0 + 6% tepung daun pepaya (R3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Peubah yang diukur terdiri atas lemak dan kolesterol daging ayam kampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan tepung daun pepaya dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar lemak daging dan tidak berpengaruh terhadap kolesterol daging ayam kampung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung daun pepaya sebesar 4,5% mampu menurunkan kadar lemak daging sebesar 29,4% dan penggunaan sampai level 6% memberikan kadar kolesterol yang relatif sama.This research was aimed to determine the effect of papaya leaf meal (Carica papaya) supplementation in chicken feed on fat content and cholesterol of meat and to determine the optimum level of supplementation of papaya leaf meal(Carica papaya) in chicken feed on fat content and cholesterol of meat. This experiment was conducted from 28 of November 2013 until 10 of January 2014. The maintenance wost carried out in Seloarum Farm , District of Sokaraja, Banyumas. The method used in this research was in vivo experimental method using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments consisted of : basal diet without the addition of papaya leaf meal (R0), R0 + 2 % papaya leaf meal (R1), R0 + 4 % papaya leaf meal (R2), R0 + 6 % papaya leaf meal (R3). Each treatment was repeated 5 times. The Variables measured were fat and cholesterol contents of kampung chicken meat. The results showed that the effect of the use of papaya leaf meal in the ration was highly significant (P <0.01) on fat content of meat and had no effect on cholesterol of kampung chicken meat. The conclusion of this study is, the use of papaya leaf meal of 4.5% can reduces the fat content of meat of 29.4% and the use of up to a level of 6% give relatively similar levels of cholesterol.
689711656C1K011013Analysis on Component Risk Based Bank Rating Method (RBBR) to Financial Performance in Indonesian Commercial BanksPenelitian ini berjudul : “Analisa Komponen Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) Terhadap Kinerja Keuangan Pada Bank Umum di Indonesia”.
Hipotesis yang diajukan risiko kredit berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan, risiko pasar berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, risiko likuiditas berpengaruh positif terhadap risiko sistematis, good corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, earning berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan modal berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian empiris untuk mengukur pengaruh pengaruh risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, good corporate governance, earning dan modal terhadap kinerja keuangan pada bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Populasi yang diteliti adalah bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Untuk menentukan sampel digunakan tehnik purposive sampling yang didasarkan pada beberapa kriteria. Hasil purposive sampling diperoleh 24 perusahaan sebagai sampel, dengan kriteria yang harus dipenuhi adalah bank yang terdaftar di IDX berturut-turut dari 2013 sampai 2013. selanjutnya data yang sudah diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh kesimpulan risiko kredit berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan, risiko pasar tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, risiko likuiditas berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan, good corporate governance tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, earning berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan dan modal berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan.
Berdasarkan hasil penelitian, ada empat variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap risiko sistematis yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, earning dan modal. Dikarenakan kinerja keuangan sangat berperan penting dalam menilai kesehatan bank, penting untuk publik menganalisa kinerja keuangan suatu bank dengan melihat pergerakan empat variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
This research entitle: “Analysis on Component of Risk Based Bank Rating Method (RBBR) to Financial Performance in Indonesian Commercial Bank”.
Hypothesis in this research are credit risk have a negative influence on financial performance, market risk has positive influence on financial performance, liquidity risk has a positive influence on financial performance, good corporate governance has positive influence on financial performance, earning has positive influence on financial performance and capital has a positive influence on financial performance. This research was an empirical research based on observed and measured phenomena of the effect credit risk, market risk, liquidity risk, good corporate governance, earning and capital on financial performance in Indonesian Stock Exchange (IDX).
The population of the research was commercial bank listed in the Indonesian Stock Exchange during 2011-2013. This research used purposive sampling method by selecting samples from population with certain criteria. There is obtained 11 companies that used as the final sample of this research, with required criteria should be fulfilled are the enterprises were listed on the IDX successively from 2011 until 2013. Multiple regression analysis is used to data analysis.
The research conclusion are Credit risk has negative influence significant on financial performance, market risk does not has any influence on financial performance, liquidity risk has positive significant influence on financial performance, good corporate governance does not has any influence on financial performance, earning has positive significant influence on financial performance, and capital has positive influence on financial performance.
Based on the result of this research, there are four variables that have significant relationship with financial performance i.e. credit risk, liquidity risk, earning and capital. Meanwhile, two variables that did not have any significant relationship with financial performance are market risk and good corporate governance. Therefore, public should pay attention to the movement of the four variables that have significant effect on finanical performance. Because financial performance has main role in measuring bank soundness.
689810197B1J010035PREFERENSI LEBAH LIAR TERHADAP WARNA BUNGA TANAMAN DI HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI GUNUNG TUGEL BANYUMAS
Keberadaan serangga penyerbuk pada suatu habitat dikaitkan dengan faktor penarik primer dan sekunder dari tumbuhan berbunga yang ada di habitat tersebut. Faktor penarik primer bagi serangga penyerbuk antara lain morfologi bunga, warna bunga, polen dan nektar sedangkan faktor penarik sekundernya adalah aroma bunga. Lebah sangat mengandalkan orientasi visual sebelum memutuskan tumbuhan mana yang harus didekati. Warna bunga yang mencolok akan mengundang lebah untuk mengunjunginya sebab warna merupakan atraktan yang paling penting bagi serangga ini. Warna bunga dianggap sebagai sinyal penunjuk lokasi keberadaan sumber pakan bagi lebah. Selain untuk menunjukan lokasi pakan, sinyal tersebut juga sangat penting untuk membedakan jenis pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi lebah liar terhadap warna bunga dan mengetahui keragaman lebah liar pada berbagai warna bunga. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive pada petak lahan tanaman berbunga ungu, kuning, putih dan merah. Pengambilan lebah dilakukan sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan periode pengambilan selama 3 minggu. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif, ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mengetahui preferensi lebah liar tersebut. Keragaman lebah liar dihitung dengan indeks Shannon-Wiener menggunakan software BioDiversity Pro. Hasil penelitian didapatkan 6 spesies lebah liar yaitu Xylocopa latipes, X. confusa, Megachile sp., M. centuncularis, Lasioglossum malachurum, dan Amegilla cingulata. Preferensi lebah terhadap warna bunga di Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel Banyumas yaitu pada bunga berwarna ungu dilihat dari frekuensi kunjungannya sebanyak 56 individu (44%) sedangkan keragaman lebah yang paling tinggi terdapat pada bunga berwarna kuning ditunjukan dengan banyaknya jumlah spesies yang berkunjung yaitu 4 spesies lebah sebanyak 45 individu (37%). Keragaman lebah pada berbagai warna bunga di HPKGT tergolong rendah dengan nilai indeks Shannon-Wiener berkisar antara 0.000 - 0.480.The existence of insect pollinators associated by primary and secondary attractan factors of flowering plants in their habitats. Primary attractan factors for insect pollinators are morphology, color, pollen, and nectar, therefore secondary attractan factor is flower’s scent. Bees do rely on visual orientation before deciding which flowers should be approached. Eye catching color of flower will attracts bee for coming because this is the most important. Flower’s color considered as location guide signal where the food source is, and it is also important to differentiate of food type. This research aimed to know preference wild type bee to flower’s color, and to know diversity of wild type bee to flower’s color. This research used survey method by purposive sample retrieval at areas that consist of purple, yellow, white, and red flowering plants. At sampling, there are three times per a week for three weeks. Data analyzed descriptively showed at table and graph form to know preference of wild type bee. Diversity wild type bee calculated using Shannon-Wiener Index by BioDiversity Pro software. Research resulted six species of wild type bee, they are Xylocopa latipes, X. confusa, Megachile sp., M. centuncularis, Lasioglossum malachurum, and Amegilla cingulata. Preference of wild type bee to flower’s color at Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel Banyumas is Purple flower observed by frequency visiting 56 individuals (44%), therefore the highest diversity wild type bee at yellow flower observed by number of species visiting 45 individuals ( 37%). The diversity wild type bee at flower’s color in HPKGT classified lower with Shannon-Wiener Index values ranged between 0,000 – 0,480.
689910198B1J010041KERAGAMAN LEBAH LIAR PADA TUMBUHAN BAWAH
DI HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI
GUNUNG TUGEL BANYUMAS
Lebah liar, baik sosial maupun soliter mengumpulkan serbuk sari dan nektar sebagai sumber protein dan karbohidrat. Lebah liar dalam pencarian pakan mengunjungi banyak bunga tumbuhan bawah dengan tipe yang sama dalam satu kali perjalanan, oleh karena itu keberadaaan lebah liar bergantung kepada keragaman dan populasi tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah adalah vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan dan vegetasi semak belukar. Perbedaan bentuk bunga, ukuran dan warna bunga tumbuhan bawah mempengaruhi ketertarikan penyerbuk. Bagi lebah liar, tumbuhan bawah berfungsi sebagai sumber pakan berupa bunga, perlindungan dari predator, tempat bersarang, dan menstabilkan suhu lingkungan. Penurunan keragaman tumbuhan bawah akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas sumber pakan sehingga akan menyebabkan terjadinya penurun populasi lebah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman dan dominansi lebah liar pada tumbuhan bawah di bawah tegakan Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel, serta spesies tumbuhan bawah apa saja yang dikunjungi oleh lebah liar. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive sampling. Variabel yang diamati adalah keragaman lebah liar dan tumbuhan bawah. Kekayaan spesies lebah liar pada tumbuhan bawah di Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel Banyumas tergolong rendah dan tidak ada spesies yang mendominasi. Tumbuhan bawah yang banyak dikunjungi oleh lebah liar adalah Eupatorium odoratum, Tridax procumbens, Wollastonia biflora, dan Centrosema pubescens dengan preferensi yang paling tinggi adalah famili Asteraceae.Wild bees, both social and solitary collect pollen and nectar as a source of protein and carbohydrates. Wild bees approach same type of flowers when searching for food in a single trip. The existence of wild bee depends on diversity and population of cover crops. Cover crops serves a food source, protection from predators, nesting, and stabilize the environment’s temperature. Loss of cover crops diversity will cause a decrease in quality and quantity of food resources that would affect in decreasing population of bees. The aims of this study were to determine the diversity and dominance of wild bees in the cover crops under stands of Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel Banyumas. This research used survey method with purposive sampling technique. The result obtained seven species of wild bees were found under stands of Hutan Pendidikan Konservasi Gunung Tugel Banyumas. Cover crops which were visited by a large amount of wild bees were Eupatorium odoratum, Tridax procumbens, Wollastonia biflora, and Centrosema pubescens.
690010199B1J009111Struktur dan Komposisi Tumbuhan Paku Terrestrial di Beberapa Tipe Vegetasi Hutan Lereng Selatan Gunung SlametTumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan tumbuhan yang dapat hidup diberbagai habitat (kosmopolit). Kelimpahan dan persebaran tumbuhan paku sangat tinggi terutama di daerah hutan hujan tropis. Persebaran tumbuhan paku juga sangat dipengaruhi oleh vegetasi yang menjadi habitatnya. Kawasan hutan Gunung Slamet merupakan kawasan hutan hujan tropis pegunungan yang memiliki vegetasi yang berbeda-beda. Terdapatnya beberapa tipe vegetasi di hutan Gunung Slamet ini yang mendorong perlunya dilakukan penelitian tentang struktur dan komposisi tumbuhan paku terrestrial di beberapa tipe vegetasi tersebut.
Pengamatan struktur dan komposisi tumbuhan paku dilakukan di bawah tegakan pinus, damar, dan heterogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi tumbuhan paku terrestrial di beberapa tipe vegetasi yang berbeda, mengetahui jenis tumbuhan paku terrestrial yang mendominasi pada masing-masing tipe vegetasi, dan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan kesamaan jenis tumbuhan paku di lereng selatan Gunung Slamet. Metode yang digunakan ialah Metode Survei dengan cara pengambilan sampel menggunakan Metode Kuadrat yang diletakkan secara acak terpilih (Metode Purposive Sampling). Pada setiap tipe vegetasi dibuat 20 petak dengan ukuran 2 m x 2 m.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis tumbuhan paku terrestrial yang ditemukan di vegetasi pinus, damar, dan heterogen ada 31 jenis yang termasuk dalam 16 famili, 29 jenis paku herba dan 2 jenis paku pohon. Jenis tumbuhan paku terrestrial yang mendominasi di vegetasi pinus, damar, dan heterogen masing-masing secara berturut-turut yaitu Nephrolepis bisserata, Selaginella ornata, dan S. willdenowii. Indeks kesamaan komunitas antara vegetasi hutan pinus dan damar senilai 39,39% (tidak mirip), vegetasi pinus dan heterogen senilai 20,41% (tidak mirip), vegetasi damar dan heterogen senilai 52,41% (tidak mirip). Indeks keanekaragaman tumbuhan paku terrestrial pada vegetasi hutan pinus, damar, dan heterogen masing-masing secara berturut-turut adalah rendah dengan nilai 0,75, rendah dengan nilai 0,95, dan sedang dengan nilai 1,32.
Ferns (Pteridophyta) is a plant that can live anywhere (cosmopolitan). Abundance and distribution of ferns are very high, especially in the area of tropical rain forest. Distribution of ferns are also influenced by the type of vegetation as the habitat. Mount Slamet forest area is an area of mountainous tropical rain forest have different vegetation types. The presence of several types of forest vegetation on Mount Slamet need for research on the structure and composition of terrestrial ferns in several different vegetation types.
Observation of the structure and composition of ferns conducted under pine forest stands, forest resin, and a heterogeneous forest. The purpose of this study was to determine the structure and composition of terrestrial ferns in several different vegetation types, determine which species of terrestrial ferns dominate in each vegetation type, and to determine the species diversity and similarity of ferns on the southern slope of Mount Slamet. The method used is the method by way of sampling surveys using Squares Method placed randomly selected (purposive sampling method. In every type of vegetation, made 20 plots with size 2 m x 2 m.
The results of research showed that the number of species of ferns found in terrestrial vegetation of pine, resin, and heterogeneous forest included 31 species belonging to 16 families, 29 species of herbaceous ferns and 2 types of tree ferns. Types of ferns that dominated the terrestrial vegetation of pine, resin, and heterogeneous each successive namely Nephrolepis bisserata, S. ornata, and Selaginella willdenowii. Community similarity index between forest vegetation of pine and resin valued at 39.39% (not similar), vegetation of pine and heterogeneous worth 20.41% (not similar), vegetation of resin and heterogeneous valued at 52.41% (not similar). Diversity index terrestrial ferns on the forest vegetation of pine, resin, and heterogeneous each respectively lower the value is 0.75, lower the value is 0.95, and quite high with the value is 1.32.