Artikel Ilmiah : A1H010013 a.n. SITI NURLATIPAH

Kembali Update Delete

NIMA1H010013
NamamhsSITI NURLATIPAH
Judul ArtikelSISTEM AEROPONIK DENGAN PENDINGINAN DAERAH
PERAKARAN UNTUK PRODUKSI TANAMAN KAILAN
(Brassica oleraceae var. alboglabra) DI DATARAN RENDAH
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kailan (Brassica oleraceae var. alboglabra) adalah salah satu sayuran daun
yang berasal dari Cina. Kailan memiliki nilai ekonomi serta kandungan gizi yang
tinggi seperti Vitamin A, Vitamin C, Ca dan Fe yang bermanfaat bagi kesehatan.
Permintaan kailan yang tinggi belum sebanding dengan produksinya. Produksi
kailan mengalami penurunan dari 287,30 Kw/Ha di tahun 2005 menjadi 253,70
Kw/Ha di tahun 2006. Penurunan produksi disebabkan penurunan luas lahan dari
5.897 Ha di tahun 2005 menjadi 5.461 Ha di tahun 2006. Sayuran daun di
Indonesia umumnya diproduksi di dataran tinggi. Penanaman sayuran di dataran
tinggi yang tidak memperhatikan konservasi lahan menjadi penyebab erosi yang
tinggi. Perluasan penanaman kailan ke dataran rendah merupakan salah satu
alternatif untuk membantu peningkatan produksi kailan dan mengatasi masalah
erosi lahan. Penanaman kailan di dataran rendah menghadapi kendala yaitu suhu
udara yang tinggi. Suhu udara yang tinggi menyebabkan respirasi dan transpirasi
meningkat, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi rendah. Usaha yang
dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan sistem
aeroponik dan pendinginan daerah perakaran di dalam greenhouse. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendapatkan suhu larutan nutrisi yang sesuai untuk
produksi kailan melalui sistem aeroponik dengan pendinginan daerah perakaran di
dataran rendah.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian dan di
Greenhouse Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal
Soedirman. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai Juni 2014. Penelitian ini
menggunakan tiga perlakuan suhu yaitu suhu larutan nutrisi 15oC, 20oC dan
kontrol. Pengulangan dilakukan sebanyak tiga kali untuk setiap perlakuan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilanjutkan dengan
analisis Least Significance Difference (LSD) α=5%. Pengukuran yang diamati
yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot basah tanaman dengan akar
(g) dan LAI (Leaf Area Index).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan daerah perakaran
memberikan hasil yang berbeda dibandingkan tanpa pendinginan. Pendinginan
daerah perakaran pada suhu 15oC menghasilkan kailan terbaik berdasarkan ratarata
tinggi tanaman (20,33 cm), jumlah daun (10,08 helai), bobot basah tanaman
dengan akar (68,24 g), dan Leaf Area Index (10,68). Pendinginan daerah
perakaran dengan suhu 20oC memberikan pengaruh yang sama dengan suhu 15oC
pada tinggi tanaman dan jumlah daun dan berbeda pada bobot basah dengan akar
dan Leaf Area Index. Tanaman kailan dengan suhu kontrol memberikan hasil
terendah pada semua variabel pertumbuhan
Abtrak (Bhs. Inggris)Chinese broccoli (Brassica oleraceae var. alboglabra) is a leafy vegetable
form China. Chinese broccoli has high economic value and high nutrient such as
vitamin A, vitamin C, Ca and Fe that beneficial for health. Chinese broccoli
demand have not equal to production yet. Chinese broccoli production decreased
from 287,30 Kw/Ha in 2005 became 253,70 Kw/Ha in 2006. The decline in
production was due to a decrease in land area of 5,897 Ha in 2005 to 5,461 Ha in
2006. In Indonesia, leafy vegetables are generally produced in highland. Intensive
cultivation of such vegetables in highland is succeptable to land and environment
degradation. Expansion of cultivating Chinese broccoli to lowland is an
prospective alternative for increasing the production as well as reducing erosion
problem. Cultivating Chinese broccoli in lowland have problem with high air
temperature. High air temperature can increase respiration and transpiration, so
plant growth and production will be low. Aeroponic and root zone cooling is
expected to be an alternatif solution to overcome the above production. This study
is aimed to get an appropriate temperature nutrient solution for Chinese broccoli
using aeroponic system and root zone cooling in lowland.
This study was carried out in Agriculture Technology Laboratory and
Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This
study started in May until June 2014. This study used three temperature
conditions, namely are 15°C, 20°C and control. All treatments were replicated
three times. This study used Complete Random Design (CRD) continued with the
analysis of the Least Significance Difference (LSD) α=5%. Plant height (cm),
amount of leaf (piece), fresh plant mass with root (g) and Leaf Area Index were
measured.
Result of this study showed that root zone cooling give different result from
the control. Root zone cooling at 15°C gives the best chinese broccoli with
average plant height of 20.33 cm, amount of leaves of 10.8 pieces, fresh weight
plant with the roots of 68,24 g and Leaf Are Index of 10,63. Root zone cooling at
20°C gives similar effect with that at 15°C at plant height and amount of leaf and
difference at fresh plant mass and Leaf Area Index. Control temperature shows
the lowest result for all measured variables
Kata kunciKailan, aeroponik, pendinginan daerah perakaran, larutan nutrisi
Pembimbing 1Dr. Eni Sumarni, S.TP., M.Si
Pembimbing 2Krissandi Wijaya, S.TP., M.Agr., Ph.D.
Pembimbing 3
Tahun2014
Jumlah Halaman47
Tgl. Entri2014-11-14 15:48:02.429507
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.