Home
Login.
Artikelilmiahs
9857
Update
SITI NURLATIPAH
NIM
Judul Artikel
SISTEM AEROPONIK DENGAN PENDINGINAN DAERAH PERAKARAN UNTUK PRODUKSI TANAMAN KAILAN (Brassica oleraceae var. alboglabra) DI DATARAN RENDAH
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kailan (Brassica oleraceae var. alboglabra) adalah salah satu sayuran daun yang berasal dari Cina. Kailan memiliki nilai ekonomi serta kandungan gizi yang tinggi seperti Vitamin A, Vitamin C, Ca dan Fe yang bermanfaat bagi kesehatan. Permintaan kailan yang tinggi belum sebanding dengan produksinya. Produksi kailan mengalami penurunan dari 287,30 Kw/Ha di tahun 2005 menjadi 253,70 Kw/Ha di tahun 2006. Penurunan produksi disebabkan penurunan luas lahan dari 5.897 Ha di tahun 2005 menjadi 5.461 Ha di tahun 2006. Sayuran daun di Indonesia umumnya diproduksi di dataran tinggi. Penanaman sayuran di dataran tinggi yang tidak memperhatikan konservasi lahan menjadi penyebab erosi yang tinggi. Perluasan penanaman kailan ke dataran rendah merupakan salah satu alternatif untuk membantu peningkatan produksi kailan dan mengatasi masalah erosi lahan. Penanaman kailan di dataran rendah menghadapi kendala yaitu suhu udara yang tinggi. Suhu udara yang tinggi menyebabkan respirasi dan transpirasi meningkat, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi rendah. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan sistem aeroponik dan pendinginan daerah perakaran di dalam greenhouse. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan suhu larutan nutrisi yang sesuai untuk produksi kailan melalui sistem aeroponik dengan pendinginan daerah perakaran di dataran rendah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian dan di Greenhouse Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai Juni 2014. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan suhu yaitu suhu larutan nutrisi 15oC, 20oC dan kontrol. Pengulangan dilakukan sebanyak tiga kali untuk setiap perlakuan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilanjutkan dengan analisis Least Significance Difference (LSD) α=5%. Pengukuran yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot basah tanaman dengan akar (g) dan LAI (Leaf Area Index). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan daerah perakaran memberikan hasil yang berbeda dibandingkan tanpa pendinginan. Pendinginan daerah perakaran pada suhu 15oC menghasilkan kailan terbaik berdasarkan ratarata tinggi tanaman (20,33 cm), jumlah daun (10,08 helai), bobot basah tanaman dengan akar (68,24 g), dan Leaf Area Index (10,68). Pendinginan daerah perakaran dengan suhu 20oC memberikan pengaruh yang sama dengan suhu 15oC pada tinggi tanaman dan jumlah daun dan berbeda pada bobot basah dengan akar dan Leaf Area Index. Tanaman kailan dengan suhu kontrol memberikan hasil terendah pada semua variabel pertumbuhan
Abtrak (Bhs. Inggris)
Chinese broccoli (Brassica oleraceae var. alboglabra) is a leafy vegetable form China. Chinese broccoli has high economic value and high nutrient such as vitamin A, vitamin C, Ca and Fe that beneficial for health. Chinese broccoli demand have not equal to production yet. Chinese broccoli production decreased from 287,30 Kw/Ha in 2005 became 253,70 Kw/Ha in 2006. The decline in production was due to a decrease in land area of 5,897 Ha in 2005 to 5,461 Ha in 2006. In Indonesia, leafy vegetables are generally produced in highland. Intensive cultivation of such vegetables in highland is succeptable to land and environment degradation. Expansion of cultivating Chinese broccoli to lowland is an prospective alternative for increasing the production as well as reducing erosion problem. Cultivating Chinese broccoli in lowland have problem with high air temperature. High air temperature can increase respiration and transpiration, so plant growth and production will be low. Aeroponic and root zone cooling is expected to be an alternatif solution to overcome the above production. This study is aimed to get an appropriate temperature nutrient solution for Chinese broccoli using aeroponic system and root zone cooling in lowland. This study was carried out in Agriculture Technology Laboratory and Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This study started in May until June 2014. This study used three temperature conditions, namely are 15°C, 20°C and control. All treatments were replicated three times. This study used Complete Random Design (CRD) continued with the analysis of the Least Significance Difference (LSD) α=5%. Plant height (cm), amount of leaf (piece), fresh plant mass with root (g) and Leaf Area Index were measured. Result of this study showed that root zone cooling give different result from the control. Root zone cooling at 15°C gives the best chinese broccoli with average plant height of 20.33 cm, amount of leaves of 10.8 pieces, fresh weight plant with the roots of 68,24 g and Leaf Are Index of 10,63. Root zone cooling at 20°C gives similar effect with that at 15°C at plant height and amount of leaf and difference at fresh plant mass and Leaf Area Index. Control temperature shows the lowest result for all measured variables
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save