Artikelilmiahs
Menampilkan 50.821-50.838 dari 50.838 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50821 | 54235 | I1D022100 | FORMULASI COOKIES BEBAS GLUTEN BERBASIS TEPUNG KACANG MERAH DAN LABU KUNING DENGAN PENAMBAHAN TEMPE SEBAGAI ALTERNATIF SNACK PENDERITA AUTISME: SERAT, PROTEIN DAN HEDONIK | Latar Belakang: Gangguan Spektrum Autisme (ASD) sering dikaitkan dengan gangguan pencernaan, yang menyebabkan beberapa individu mengadopsi diet bebas gluten dan bebas kasein (GFCF). Mengembangkan camilan bebas gluten dan bebas kasein yang bergizi merupakan alternatif potensial. Tepung kacang merah dan tepung labu merupakan bahan bebas gluten yang kaya nutrisi, sedangkan tempe berpotensi meningkatkan kandungan protein. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh proporsi tepung kacang merah dan tepung labu serta penambahan tempe terhadap kandungan serat kasar, protein total, dan nilai hedonik kue bebas gluten. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan blok acak dua faktor, dengan proporsi tepung kacang merah dan tepung labu (60:40%, 50:50%, 40:60%) dan penambahan tempe (15%, 25%, dan 35%). Data dianalisis menggunakan ANOVA, DMRT, Rasio Friedman (FRT), dan Rasio Wilcoxon (FRT). Formula terbaik ditentukan menggunakan indeks efektivitas. Hasil: Proporsi tepung secara signifikan memengaruhi protein total, serat kasar, dan semua parameter hedonik. Penambahan tempe memengaruhi tekstur, rasa, dan kinerja keseluruhan, tetapi tidak memengaruhi protein total, serat kasar, warna, dan aroma. Interaksi perlakuan memengaruhi semua parameter hedonik, tetapi tidak memengaruhi protein total dan serat kasar. Kesimpulan: Formula terbaik adalah rasio 60:40 antara tepung kacang merah dan tepung labu dengan tambahan 25% tempe, mengandung 11,76% serat kasar dan 10,55% protein total. Mengonsumsi lima potong tempe per hari berpotensi memenuhi sekitar 10% kebutuhan protein anak-anak dengan autisme. | Backgound: Autism Spectrum Disorder (ASD) is often associated with digestive disorders, leading some individuals to adopt a gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Developing nutritious gluten-free and casein-free snacks is a potential alternative. Red bean flour and pumpkin flour are nutrient-rich gluten-free ingredients, while tempeh has the potential to increase protein content. This study aimed to analyze the effect of the proportion of red bean flour and pumpkin flour and the addition of tempeh on the crude fiber content, total protein, and hedonic value of gluten-free cookies. Methods: This experimental study used a two-factorial randomized block design, with the proportion of red bean flour and pumpkin flour (60:40%, 50:50%, 40:60%) and the addition of tempeh (15%, 25%, and 35%). Data were analyzed using ANOVA, DMRT, Friedman's Ratio (FRT), and Wilcoxon's Ratio (FRT). The best formula was determined using the effectiveness index. Results: The proportion of flour significantly affected total protein, crude fiber, and all hedonic parameters. The addition of tempeh affected texture, taste, and overall performance, but not total protein, crude fiber, color, and aroma. The treatment interaction affected all hedonic parameters, but not total protein and crude fiber. Conclusion: The best formula is a 60:40 ratio of red bean flour and pumpkin flour with 25% tempeh added, containing 11.76% crude fiber and 10.55% total protein. Consuming five tempeh pieces per day has the potential to meet approximately 10% of the protein needs of children with autism. | |
| 50822 | 53303 | L1C022018 | IDENTIFIKASI MOLEKULER DAN PROFIL SENYAWA BIOAKTIF RUMPUT LAUT Halymenia sp. DARI TELUK EKAS, NUSA TENGGARA BARAT | Halymenia sp. merupakan rumput laut merah yang memiliki potensi senyawa bioaktif dan berpotensial diterapkan dalam berbagai industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara molekuler dan menunjukkan profil senyawa bioaktif Halymenia sp. dari Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat. Identifikasi molekuler Halymenia sp. menggunakan metode DNA Barcoding gen ribulose-1,5-biphosphate carboxylase/oxygenase large subunit (rbcL) dan sanger sequencing. Profil senyawa bioaktif diperoleh dari metode ekstraksi maserasi bertingkat dan MAE serta analisis metabolomik berbasis liquid chromatography high resolution mass spectrometry (LC-HRMS) dan pendekatan jaringan molekuler. Seluruh spektrum spektrometri massa dari ekstrak Halymenia sp. dikonversi menjadi file .mzXML menggunakan MSConvert, diunggah ke Global Natural Products Social (GNPS), dan divisualisasi menggunakan Cytoscape 3.9.1. Berdasarkan hasil penelitian, identifikasi morfologi dan anatomi serta identifikasi molekuler memiliki hasil yang selaras, yakni memiliki hubungan kekerabatan dengan Halymenia durvillei sebesar 98,38%. Profil senyawa bioaktif yang diperoleh antara lain cholecalciferol (m/z 385,376 [M+H]), 7-dehydrocholesterol (m/z 387,322 [M+H]), pheophorbide A (m/z 593,269 [M+H]), dan pyropheophorbide A (m/z 535,263 [M+H]). Kesimpulannya, melalui keberhasilan identifikasi spesies dan senyawa bioaktif ini, diharapkan dapat diaplikasikan dalam pemanfaatan terapan atau penelitian lanjutan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. | Halymenia sp. is a red seaweed that has potentials for bioactive compounds and potential to be applied in various industries. This study aimed to molecularly identify and profile the bioactive compounds of Halymenia sp. from Ekas Bay, West Nusa Tenggara. Molecular identification used DNA barcoding of ribulose-1,5-biphosphate carboxylase/oxygenase large subunit (rbcL) and sanger sequencing. Meanwhile, bioactive profiling was performed using sequential maceration, microwave-assisted extraction (MAE), liquid chromatography high resolution mass spectrometry (LC-HRMS)-based on metabolomics, and molecular networking. Raw mass spectrometry data were converted to .mzXML files via MSConvert, processed on the GNPS platform, and visualized using Cytoscape 3.9.1. Based on the results of the study, morphological and anatomical identification and molecular identification have consistent results, namely having a similarity with Halymenia durvillei of 98.38%. The metabolomic profiles obtained included cholecalciferol (m/z 385,376 [M+H]), 7-dehydrocholesterol (m/z 387,322 [M+H]), pheophorbide A (m/z 593,269 [M+H]), and pyropheophorbide A (m/z 535,263 [M+H. In conclusion, through the successful identification of these bioactive species and compounds, it is hoped that they can be applied or further research to obtain more accurate results. | |
| 50823 | 54231 | F1F019075 | Rivalitas Keamanan Maritim China-Jepang Atas Kepulauam Senkaku/Diaoyu Dalam Perspektif Realisme Ofensif (2020-225) | Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa rivalitas keamanan maritim antara China dan Jepang di Laut China Timur, khususnya terkait sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu, mengalami eskalasi intensif selama periode 2020–2025, meskipun kedua negara mempertahankan tingkat interdependensi ekonomi yang tinggi. Fenomena ini menjadi menarik untuk diteliti karena secara teoritis, interdependensi ekonomi yang erat seharusnya mengurangi insentif negara untuk terlibat dalam konflik keamanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatif dengan teknik pengumpulan data studi kepustakaan (library research), yang bersumber dari dokumen resmi pemerintah, jurnal ilmiah, dan buku akademik. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan perspektif Real-isme Ofensif dari John J. Mearsheimer sebagai kerangka teori utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eskalasi rivalitas keamanan maritim China-Jepang dipengaruhi oleh perubahan distribusi kekuatan regional akibat kebangkitan China, yang memunculkan kekhawatiran strategis Jepang dan mendorong terjadinya security competition yang berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertimbangan keamanan, distribusi kekuatan, dan kepentingan strategis memiliki prioritas lebih besar dibandingkan keuntungan ekonomi dari kerja sama bilateral, sehingga interdependensi ekonomi yang tinggi tidak serta-merta mampu meredam rivalitas keamanan antara kedua negara. | This study aims to explain why the maritime security rivalry between China and Japan in the East China Sea, particularly concerning the Senkaku/Diaoyu Islands dispute, experienced intensive escalation during the 2020–2025 period despite both countries maintaining a high level of economic interdependence. This phenomenon is significant to examine because, theoretically, close economic interdependence should reduce a state's incentive to engage in security conflict. This research employs an explanatory qualitative method with library research as the data collection technique, drawing on official government documents, international research institution reports, academic journals, and books. Data analysis follows the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing, using John J. Mearsheimer's Offensive Realism as the primary theoretical framework. The findings indicate that the escalation of the China-Japan maritime security rivalry is driven by shifts in regional power distribution resulting from China's rise, which have generated strategic concerns in Japan and fueled continuous security competition. This study concludes that security considerations, power distribution, and strategic interests take precedence over the economic benefits of bilateral cooperation, meaning that high economic interdependence does not automatically mitigate security rivalry between the two states. | |
| 50824 | 54232 | L1C022022 | Analisis Stok Karbon Biomassa dan Sedimen Lamun serta Keterkaitannya dengan Kondisi Lingkungan Perairan di Pulau Panjang, Jepara | Ekosistem lamun di Pulau Panjang, Jepara berpotensi menyimpan karbon biru dalam jumlah besar melalui biomassa dan sedimen lamun. Tingginya aktivitas wisata dan berbagai tekanan antropogenik berpotensi memengaruhi kemampuan lamun dalam menyimpan karbon pada biomassa maupun sedimen. Penelitian ini bertujuan menganalisis stok karbon biomassa dan sedimen lamun serta keterkaitannya dengan kondisi lingkungan perairan di Pulau Panjang, Jepara. Pengambilan data dilakukan secara random sampling. Analisis kandungan karbon biomassa dan sedimen dilakukan dengan metode Loss on Ignition (LOI), sedangkan keterkaitan stok karbon dengan kondisi lingkungan dianalisis menggunakan analisi multivariat Canonical Correspondence Analysis (CCA) dan Canonical Discriminant Analysis (CDA). Hasil penelitian menunjukkan Pulau Panjang memiliki empat spesies lamun, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, dan Cymodocea rotundata, dengan nilai kerapatan berkisar 10,85 ± 7,79 hingga 37,44 ± 2,02 ind/m² dan persentase tutupan sebesar 60,56–74,83% yang termasuk kategori sehat. Rata-rata stok karbon biomassa lamun sebesar 1,31 Mg C/ha, sedangkan rata-rata stok karbon sedimen sebesar 103,51 Mg C/ha yang menunjukkan bahwa sebagian besar karbon tersimpan pada sedimen. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kerapatan lamun, tutupan lamun, salinitas, pH sedimen, suhu, dan karakteristik sedimen merupakan faktor utama yang memengaruhi variasi stok karbon sedimen, sedangkan DO, TDS, ORP, dan EC memberikan pengaruh yang relatif lebih rendah. | The seagrass ecosystem in Panjang Island, Jepara, has considerable potential to store large amounts of blue carbon in seagrass biomass and sediments. Increasing tourism activities and various anthropogenic pressures may affect the capacity of seagrass ecosystems to sequester and store carbon. This study aimed to analyze carbon stocks in seagrass biomass and sediments and to examine their relationship with environmental conditions in the waters of Pulau Panjang, Jepara. Data were collected using a purposive sampling method with random quadrat placement. Carbon content in seagrass biomass and sediments was analyzed using the Loss on Ignition (LOI) method, while the relationship between carbon stocks and environmental variables was assessed using Canonical Correspondence Analysis (CCA) and Canonical Discriminant Analysis (CDA). The results showed that four seagrass species were identified in Pulau Panjang, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, and Cymodocea rotundata, with seagrass density ranging from 10.85 ± 7.79 to 37.44 ± 2.02 shoots m⁻² and seagrass cover ranging from 60.56% to 74.83%, indicating a healthy seagrass ecosystem. The average carbon stock in seagrass biomass was 1.31 Mg C ha⁻¹, whereas the average sediment carbon stock reached 103.51 Mg C ha⁻¹, indicating that most carbon was stored in the sediment. The multivariate analyses revealed that seagrass density, seagrass cover, salinity, sediment pH, temperature, and sediment characteristics were more strongly associated with variations in sediment carbon stocks, whereas dissolved oxygen (DO), total dissolved solids (TDS), oxidation-reduction potential (ORP), and electrical conductivity (EC) showed weaker associations | |
| 50825 | 54236 | L1C021066 | Optimasi Aktivitas Antimikroba dari Isolat Bakteri Simbion Nudibranch dengan Pendekatan OSMAC (One Strain Many Compounds) Terhadap Infeksi Oportunistik pada Kulit | Infeksi kulit merupakan permasalahan kesehatan umum pada negara beriklim tropis seperti Indonesia. Penggunaan antibiotik berulang dalam penanganan infeksi kulit meningkatkan resistensi mikroorganisme patogen, sehingga diperlukan pencarian sumber antimikroba baru yang efektif dan berkelanjutan. Bakteri simbion nudibranch diketahui mampu menghasilkan berbagai metabolit sekunder bioaktif. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi molekular bakteri simbion nudibranch dengan metabolit sekunder potensial antimikroba melalui pendekatan OSMAC. Metode penelitian adalah eksperimen laboratorium kualitatif dengan pengendalian faktor eksternal, menguji pengaruh media dan lingkungan pertumbuhan terhadap metabolisme sekunder yang dihasilkan oleh bakteri simbion nudibranch. Bakteri teridentifikasi sebagai Alcaligenes faecalis strain AGS3, Bacilluss flexus strain NM25, dan Geobacillus stearothermophilus strain NB3-8. Hasil uji OSMAC dengan metode kertas cakram menunjukkan aktivitas dari ekstrak media pertumbuhan cair. Hasil menunjukkan potensi bakteri simbion nudibranch sebagai sumber antimikroba baru terhadap patogen penyebab infeksi kulit. | Skin infections are a common health problem in tropical countries such as Indonesia. The repeated use of antibiotics to treat skin infections increases the resistance of pathogenic microorganisms, making it necessary to search for new, effective, and sustainable sources of antimicrobials. Symbiotic bacteria in nudibranchs are known to produce various bioactive secondary metabolites. This study aims to identify the molecular profile of symbiotic nudibranch bacteria with potential antimicrobial secondary metabolites using the OSMAC approach. A qualitative laboratory experiment with controlled external factors was applied in this research, specifically to test the effects of the growth medium and environment on the secondary metabolites produced by nudibranch symbiotic bacteria. The bacteria were identified as Alcaligenes faecalis strain AGS3, Bacillus flexus strain NM25, and Geobacillus stearothermophilus strain NB3-8. The results of OSMAC using the disk diffusion method showed activity from liquid growth medium extract. The results indicate the potential of nudibranch symbiotic bacteria as a new source of antimicrobials against pathogens that cause skin infections | |
| 50826 | 54237 | F1C022027 | STUDI FENOMENOLOGI: PEMAKNAAN MAHASISWA FISIP UNSOED TERHADAP FENOMENA TONE DEAF DALAM KONTEKS SOSIAL-POLITIK | Penelitian ini bertujuan menganalisis pemaknaan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman terhadap fenomena tone deaf dalam konteks sosial-politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pendekatan fenomenologi dengan Teori Interaksi Simbolik dan Teori Spiral of Silence sebagai lensa analisis pendukung. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang dipilih menggunakan teknik purposive dan snowball sampling, terdiri atas mahasiswa aktivis dan nonaktivis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tone deaf tidak dimaknai mahasiswa FISIP Unsoed sebagai ketidakpedulian atau apatisme, melainkan sebagai kondisi ketika seseorang mengetahui suatu isu tetapi responsnya dipandang tidak sesuai dengan situasi yang berlangsung. Pemaknaan ini dipengaruhi oleh latar belakang organisasi, tekanan akademik, kondisi ekonomi, ketidakpastian karier, dinamika sosial-politik, serta perkembangan media digital yang membentuk cara mahasiswa mengekspresikan kepeduliannya. Esensinya, tone deaf merupakan pengalaman menyeimbangkan tuntutan untuk bersikap kritis dengan kebutuhan pribadi di tengah tekanan sosial-politik dan budaya digital, sehingga dipahami sebagai makna sosial yang dinamis dan terus dinegosiasikan mahasiswa melalui interaksi dan interpretasi atas realitasnya. | This research aims to analyze the interpretation of the tone deaf phenomenon in a socio-political context among students of the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Jenderal Soedirman. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach, utilizing Symbolic Interactionism Theory and the Spiral of Silence Theory as supporting analytical lenses. Data were obtained through in-depth interviews with seven informants selected using purposive and snowball sampling techniques, consisting of activist and non-activist students. The results of the study indicate that tone deaf is not interpreted by FISIP Unsoed students as indifference or apathy, but rather as a condition where an individual is aware of an issue yet their response is perceived as inconsistent with the ongoing situation. This interpretation is influenced by organizational background, academic pressure, economic conditions, career uncertainty, socio-political dynamics, and the development of digital media that shape how students express their concern. In essence, tone deaf represents the experience of balancing the demand to remain critical with personal needs amidst socio-political pressure and digital culture, thus being understood as a dynamic social meaning continuously negotiated by students through interaction and interpretation of their reality. | |
| 50827 | 54240 | L1A022076 | Aspek Reproduksi Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah | Penelitian ini berjudul “Aspek Reproduksi Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) di hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah”. Ikan tawes merupakan ikan spesies asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai ikan konsumsi dan sumber protein hewani. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rasio kelamin, indeks gonado somatik (IGS), indeks hepato somatik (IHS), dan indeks visceral somatik (IVS) ikan tawes di hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan November–Desember 2025 di hilir Sungai Serayu, tepatnya pada stasiun Gambarsari dan Kebasen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kelamin ikan tawes berada dalam kondisi ideal dengan perbandingan 1:1,2. IGS ikan jantan berkisar 8,63-9,11% dan ikan betina 9,93-9,88%, IHS ikan jantan berkisar 0,90-0,97% dan ikan betina 1,67-1,76%, sedangkan IVS ikan jantan berkisar 3,27-3,59% dan ikan betina 3,67-3,78%. Kesimpulan dari penelitian ini, ikan tawes di hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen sudah matang gonad. | This study is entitled “Reproductive Aspects of the Tawes Fish (Barbonymus gonionotus) in the Downstream Serayu River, Kebasen Subdistrict, Banyumas Regency, Central Java”. Tawes fish is a spesies native to Indonesia that holds high economic value as a food fish and a source of animal protein. The purpose of this study was to analyse the sex ratio, gonadosomatic index (GSI), hepatosomatic index (HSI), viscerosomatic index (VSI) of tawes fish in the Downstream Serayu River, Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java. This study used survey methods with purposive sampling. The data were analysed descriptively and quantitatively. Sampling was carried out in November-Desember 2025 in the downstream Serayu River at Gambarsari and Kebasen stations. The results showed that the sex ratio of tawes fish was in an ideal condition with a ratio of 1:1,2. IGS for male fish ranged from 8,63-9,11% and for female fish 9,93-9,88%. IHS for male fish ranged from 0,90-0,97% and for female fish 1,67-1,76%, whilst IVS for male fish ranged 3,27-3,59% and for female fish 3,67-3,78%. The conclusion of this study is that tawes fish in downstream Serayu River, Kebasen District have reached gonadal maturity. | |
| 50828 | 54241 | H1B022107 | Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Daerah Irigasi Slinga Kabupaten Purbalingga | Penelitian ini mengevaluasi kinerja jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Slinga Kiri, Kabupaten Purbalingga, yang mengandalkan Sungai Klawing melalui Bendung Slinga. Dengan luas rancangan operasional 435,90 Ha dan luas terairi aktual 411,93 Ha, serta pola tanam Padi–Padi–Padi berdasarkan Keputusan Bupati Purbalingga Nomor 600/324 Tahun 2025, evaluasi ini penting mengingat kesenjangan antara luas rencana dan luas yang terlayani. Metodologi meliputi perhitungan hujan andalan (R80) dengan Metode Basic Year, debit andalan (Q80) Sungai Klawing menggunakan Metode Weibull, evapotranspirasi potensial (ET₀) dengan Metode Hargreaves-Samani, kebutuhan air penyiapan lahan (Ir) dengan Metode Van de Goor dan Zijlstra, kebutuhan air bersih di sawah (NFR), kebutuhan air di bangunan pengambilan (DR), serta Neraca Air yang membandingkan debit andalan Q80 terhadap total kebutuhan air di intake (Qk). Efisiensi diukur dari debit saluran primer, sementara efektivitas dihitung berdasarkan Indeks Areal (IA). Hasil menunjukkan Q80 Sungai Klawing berkisar 239,48 l/dt (Oktober II) hingga 2.588,45 l/dt (Desember II). NFR tertinggi 6,72 mm/hari pada Agustus I dengan DR = 1,20 l/dt/ha. Dari 24 periode setengah bulanan, 6 periode mengalami defisit dengan defisit terbesar −0,22 m³/dt pada Agustus I. Efisiensi saluran primer 90% (memenuhi standar KP-01), dan efektivitas irigasi (IA) 94,50% (kategori sangat baik menurut KP-03). | — This study evaluates the performance of the Slinga Kiri Irrigation Area (DI) network in Purbalingga Regency, which relies on the Klawing River via Bendung Slinga. With an operational design area of 435.90 Ha, an actual irrigated area of 411.93 Ha, and a Paddy–Paddy–Paddy cropping pattern based on Purbalingga Regent Decree No. 600/324 of 2025, this evaluation is crucial given the gap between the planned and served areas. Methodology includes R80 dependable rainfall using the Basic Year Method, Q80 dependable discharge of the Klawing River using the Weibull Method, ET₀ using the Hargreaves-Samani method, land preparation water requirements (Ir) using the Van de Goor and Zijlstra method, NFR, DR, and water balance analysis comparing Q80 against total intake demand (Qk). Efficiency is measured from primary canal discharge, while effectiveness is calculated using the Area Index (IA). Results show Q80 ranges from 239.48 l/s (October II) to 2,588.45 l/s (December II). The highest NFR was 6.72 mm/day in August I with DR = 1.20 l/s/ha. Of 24 semi-monthly periods, 6 experienced deficit with the largest deficit of −0.22 m³/s in August I. Primary canal efficiency reached 90% (KP-01 standard), and irrigation effectiveness (IA) was 94.50% (KP-03). | |
| 50829 | 53903 | E1B022006 | ANALYSIS OF JUDGE'S LEGAL CONSIDERATIONS AGAINST THE PERPETRATORS CRIMINAL ACTS OF PHARMACEUTICAL PRACTICE WITHOUT MEETS SAFETY STANDARDS (Study of District Court Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr) | Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang pelaksanaannya di bidang kefarmasian menuntut keahlian dan kewenangan khusus guna menjamin keselamatan konsumen. Praktik distribusi sediaan farmasi oleh pihak tanpa kompetensi hukum merupakan kejahatan yang mengancam ketahanan kesehatan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim (ratio decidendi) serta akibat hukum terhadap pelaku tindak pidana praktik kefarmasian yang tidak memenuhi standar keamanan, difokuskan pada Putusan Nomor 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim telah mencerminkan penalaran yudisial yang progresif dalam menerapkan Pasal 435 UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Hakim menafsirkan ketiadaan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan izin edar bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan perbuatan melawan hukum materiil yang menggugurkan jaminan keamanan produk farmasi. Pembuktian ini juga ditopang secara mutlak oleh alat bukti ilmiah (scientific evidence) berupa uji laboratorium forensik. Akibat hukum yang ditanggung terdakwa adalah pidana penjara selama 2 tahun 3 bulan serta perampasan barang bukti obat keras. Penjatuhan sanksi tersebut dinilai berhasil mengharmonisasikan tiga pilar teori tujuan hukum Gustav Radbruch, yaitu kepastian hukum melalui penerapan sanksi yang tegas, kemanfaatan hukum untuk memutus rantai peredaran obat berbahaya di kalangan generasi muda, serta keadilan proporsional yang mengalkulasi latar belakang sosiologis dan sikap kooperatif terdakwa. | Health is a human right whose implementation in the pharmaceutical field requires specific expertise and authority to ensure consumer safety. The practice of distributing pharmaceutical preparations by parties without legal competence is a crime that threatens public health security. This study aims to analyze the judge's legal consideration (ratio decidendi) and the legal consequences for the perpetrator of a criminal act of pharmaceutical practice that does not meet safety standards, focusing on Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. This research employs a normative juridical research method with a statute approach and a case approach. The results indicate that the judge's consideration reflects progressive judicial reasoning in applying Article 435 of Law Number 17 of 2023 concerning Health. The judge interprets the absence of a Pharmacist Practice License (SIPA) and distribution license not merely as an administrative violation, but as a material unlawful act that nullifies the safety guarantees of pharmaceutical products. This evidentiary process is also absolutely supported by scientific evidence in the form of forensic laboratory tests. The legal consequence borne by the defendant is imprisonment for 2 years and 3 months, as well as the confiscation of evidence in the form of hard drugs. The imposition of these sanctions is considered successful in harmonizing the three pillars of Gustav Radbruch's theory of legal objectives, namely legal certainty through the application of strict sanctions, legal utility to break the distribution chain of dangerous drugs among the younger generation, and proportional justice that takes into account the sociological background and the cooperative attitude of the defendant. | |
| 50830 | 54242 | F1C022010 | ANALISIS PRAKTIK KOMUNIKASI CARE CENTER MANDIRI SEKURITAS JAKARTA DALAM MEMPERBAIKI KUALITAS LAYANAN | Industri sekuritas merupakan sektor keuangan yang memiliki bidang investasi (efek) seperti saham, obligasi, dan reksa dana. Salah satu perusahaan sekuritas di Indonesia adalah Mandiri Sekuritas Jakarta. Awal permasalahan pada perusahaan, karena terjadinya peningkatan nasabah sebanyak 130% pada 2025. Hal ini menjadi salah satu faktor di pelayanan perusahaan menjadi kurang efektif, seperti keterlambatan respon, kurang solutif, dan keluhan penggunaan jasa perusahaan semakin meningkat. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi yang diterapkan oleh Care Center PT Mandiri Sekuritas Jakarta dalam memberikan pelayanan kepada para nasabah. Dapat dilihat pada penelitian ini yang dilatarbelakangi sebuah pelayanan komunikasi yang efektif untuk memberikan kepuasan kepada nasabah yang memiliki kendala atau permasalahan saat menggunakan jasa perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan paradigma konstruktivisme. Data yang ditemukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas Head of Care Center, Team Care Center, dan tiga nasabah PT Mandiri Sekuritas Jakarta. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menjelaskan praktik komunikasi Care Center telah menerapkan komunikasi dua arah saat memberikan informasi, mendengarkan permasalahan yang dihadapi nasabah, dan dapat menyesuaikan cara berkomunikasi dengan profil nasabah tertentu. Praktik yang digunakan didukung melalui penerapan prinsip 6A Pelayanan Prima, yaitu attitude, attention, action, ability, appearance, dan accountability. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala saat keterlambatan respon karena proses koordinasi dengan divisi internal, keterbatasan sistem, dan perbedaan pandangan antara nasabah dengan perusahaan. Untuk menghadapi hambatan tersebut Mandiri Sekuritas memiliki upaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan, seperti Care Center secara rutin melakukan evaluasi berdasarkan umpan balik nasabah. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor kepuasan melalui website perusahaan. Dengan demikian, praktik komunikasi yang diterapkan telah mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada nasabah, meskipun masih diperlukan perbaikan pada proses koordinasi dan kecepatan penanganan keluhan. | The securities industry is a financial sector that provides investment products, including stocks, bonds, and mutual funds. One of the securities companies in Indonesia is PT Mandiri Sekuritas Jakarta. The initial issue faced by the company was the 130% increase in the number of customers in 2025. This growth became one of the factors affecting the effectiveness of the company's customer service, resulting in delayed responses, less effective problem-solving, and an increase in customer complaints regarding the company's services. This study aims to analyze the communication practices implemented by the Care Center of PT Mandiri Sekuritas Jakarta in providing services to its customers. The research is motivated by the importance of effective communication in achieving customer satisfaction, particularly for customers experiencing problems while using the company's services. This study employed a qualitative method with a descriptive approach under the constructivist paradigm. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The research informants consisted of the Head of the Care Center, a Care Center staff member, and three customers of PT Mandiri Sekuritas Jakarta. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was ensured using source and technique triangulation. The findings indicate that the Care Center has implemented two-way communication by providing information, listening to customers' concerns, and adapting its communication style to the characteristics of individual customers. The communication practices are supported by the implementation of the 6A Excellent Service principles, namely attitude, attention, action, ability, appearance, and accountability. However, several challenges remain, including delayed responses due to coordination with internal divisions, system limitations, and differences in perspectives between customers and the company. To address these challenges, PT Mandiri Sekuritas regularly evaluates its services based on customer feedback. The evaluation results show an improvement in customer satisfaction scores on the company's website. Therefore, the communication practices implemented by the Care Center have contributed to improving service quality, although further improvements are still needed in internal coordination and the speed of complaint resolution. | |
| 50831 | 54245 | C1C019053 | Peranan Modal Intelektual, Kemampuan Membayar Jangka Pendek, dan Keberadaan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan secara empiris peranan Modal Intelektual (Value Added Intellectual Coefficient / VAIC™), Likuiditas multidimensi, dan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan yang diproksikan melalui Return on Assets (ROA), dengan mengintegrasikan Ukuran Perusahaan (Firm Size) sebagai variabel kontrol pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode pengamatan pasca-pandemi tahun 2022 sampai dengan 2024. Urgensi penelitian ini dilandasi oleh dinamika pergeseran paradigma akuntansi dari berbasis tradisional (physical/labor-based) menuju pengelolaan berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), serta kebutuhan restrukturisasi modal kerja operasional pasca-pandemi akibat volatilitas rantai pasok global dan inflasi logistik. Kebaharuan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi multiteori komprehensif yaitu Resource-Based View (RBV), perluasan Liquidity Trade-off Theory dalam menjelaskan transformasi peran aset likuid pada era pemulihan ekonomi, dan Agency Theory. Populasi penelitian ini mencakup 228 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria penyaringan laporan keuangan auditan berdenominasi Rupiah dan non-delisting secara konsisten, diperoleh sampel sebanyak 125 perusahaan dengan total 375 unit pengamatan (125 perusahaan × 3 tahun). Guna mengantisipasi keberadaan data ekstrem tanpa mengorbankan jumlah observasi (N = 375), penelitian ini mengimplementasikan teknik penanganan outlier berupa Winsorizing (persentase penyesuaian 0,00% hingga 2,67%). Variabel Modal Intelektual diproksikan melalui model VAIC™ yang terdiri atas VACA, VAHU, dan STVA. Variabel Likuiditas diukur secara multidimensi meliputi Current Ratio, Cash Ratio, dan Days Sales of Inventory (DSI). Variabel Komite Audit diakomodasi melalui sistem scoring indeks efektivitas tata kelola (skala 0–4) berbasis Peraturan OJK No. 55/POJK.04/2015. Pengujian hipotesis dan pemodelan struktural dilakukan dengan pendekatan Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4 melalui prosedur resampling bootstrapping 5.000 sub-sampel pada tingkat signifikansi alpha = 5% (one-tailed). Hasil evaluasi model pengukuran (outer model) menunjukkan seluruh indikator valid dan bebas dari masalah multikolinearitas (Outer VIF < 5,0). Pada evaluasi model struktural (inner model), diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R²) sebesar 0,395 (R² Adjusted = 0,388), yang mengindikasikan bahwa sebesar 39,5% variansi Kinerja Keuangan (ROA) perusahaan manufaktur dapat dijelaskan oleh kombinasi Modal Intelektual, Likuiditas, Komite Audit, dan Ukuran Perusahaan, sedangkan sisanya 60,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Nilai Q² Predict sebesar 0,399 (Q² > 0) membuktikan bahwa model memiliki kapasitas prediktif yang sangat kuat. Berdasarkan pengujian hipotesis, diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Modal Intelektual (VAIC™) terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan / ROA (β = 0,513; T-statistic = 8,734; p-value = 0,000) serta memberikan dampak kontribusi praktis berskala besar (f² = 0,355). Temuan ini mengonfirmasi preseden Resource-Based View (RBV), di mana pilar efisiensi modal manusia (VAHU dengan outer loading 0,913) menjadi kontributor paling dominan dalam memicu inovasi operasional, menekan pemborosan, dan mendongkrak profitabilitas total aset. (2) Likuiditas terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan / ROA (β = 0,229; T-statistic = 5,606; p-value = 0,000) dengan dampak efek sedang (f² = 0,085). Meskipun meruntuhkan dugaan awal pada Hipotesis Kedua (H2) yang memprediksikan arah hubungan negatif, temuan ini secara kuat melahirkan sintesis kebaharuan (novelty) terkait perluasan Liquidity Trade-off Theory pada periode pemulihan pasca-pandemi (2022–2024). Penahanan aset likuid (didorong oleh Cash Ratio dengan outer loading 0,793 dan DSI dengan outer loading 0,634) bertransformasi dari sekadar aset pasif yang memikul biaya kesempatan (cost of carry) menjadi operational safety buffer (penyangga keselamatan operasional) yang strategis untuk meredam dampak disrupsi rantai pasok dan mengamankan potongan harga tunai pemasok. (3) Komite Audit terbukti tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan / ROA (β = -0,011; T-statistic = 0,298; p-value = 0,383) dan tidak memiliki dampak fungsional langsung (f² = 0,000), sehingga Hipotesis Ketiga (H3) ditolak. Dalam perspektif Agency Theory, hasil ini mengisyaratkan bahwa implementasi tata kelola komite audit pada emiten manufaktur di Indonesia masih cenderung bersifat pemenuhan kewajiban regulasi formal belaka (formalistic compliance) yang berfokus pada pengawasan administratif laporan keuangan, namun tidak berintervensi langsung dalam keputusan strategis operasional pemicu pendapatan. (4) Ukuran Perusahaan (Firm Size) sebagai variabel kontrol terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA (β = 0,084; T-statistic = 1,855; p-value = 0,032), yang secara efektif menetralisir bias heterogenitas skala modal antar sampel. Implikasi teoritis dari penelitian ini memperkokoh preseden RBV serta memperluas jangkauan Liquidity Trade-off Theory, di mana pada kondisi ekonomi bergejolak, manfaat marjinal pemeliharaan likuiditas sebagai penyangga operasional terbukti jauh melampaui biaya marjinalnya. Implikasi praktis bagi manajemen perusahaan manufaktur adalah perlunya mentransformasi orientasi bisnis menuju pengelolaan berbasis pengetahuan (knowledge-based) dengan memprioritaskan investasi modal manusia (VAHU) serta menerapkan kebijakan modal kerja yang fleksibel dengan mempertahankan tingkat likuiditas optimal. Bagi investor, disarankan untuk mengevaluasi efisiensi aset tak berwujud melalui indikator VAIC™ dan menilai ketersediaan kas sebagai indikator ketahanan entitas. Bagi regulator (OJK dan BEI), dianjurkan untuk mengevaluasi efektivitas regulasi POJK No. 55/POJK.04/2015 agar penataan komite audit tidak sekadar berfokus pada pemenuhan syarat administratif kuantitatif, melainkan mendorong peran pengawasan yang lebih substantif pada mitigasi risiko operasional. | This study is titled "The Role of Intellectual Capital, Ability to Pay Short-Term Obligations, and Existence of Audit Committee on Corporate Financial Performance". The main problem underlying this research is the paradigm shift in business accounting from traditional labor-intensive approaches to a knowledge-based economy, along with the post-pandemic business environment uncertainties during the 2022 to 2024 period. The manufacturing sector faced global supply chain disruptions, raw material price volatility, and logistics inflation, which required efficient operational working capital management and substantive corporate governance alignment. Furthermore, inconsistent empirical findings regarding the effectiveness of intellectual capital, liquidity policies, and audit committee roles created a research gap that urgently needed re-examination. Based on these problems, the objective of this study is to analyze and empirically prove the influence of Intellectual Capital, Liquidity, and Audit Committee on the Financial Performance of manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2022–2024 period, integrating Firm Size as a control variable. The research methodology employs a quantitative approach with a causal associative design. The study population consists of all 228 manufacturing companies listed on the IDX during 2022–2024. The sampling technique utilized purposive sampling with criteria including companies consistently publishing IDR-denominated audited financial statements and avoiding delisting, resulting in a sample of 125 companies with a total of 375 observation units over the 3-year observation period. To resolve extreme data outliers without reducing observation count, a Winsorizing procedure was implemented (0.00% to 2.67% adjustment). Financial Performance as the dependent variable was proxied by Return on Assets (ROA). Intellectual Capital as an independent variable was proxied through the Value Added Intellectual Coefficient (VAIC^TM), comprising human capital efficiency, structural capital efficiency, and capital employed efficiency. Liquidity was measured multidimensionally using Current Ratio, Cash Ratio, and Days Sales of Inventory (DSI). The Audit Committee variable was measured using a governance effectiveness scoring index (0–4 scale) based on size, independence, financial expertise, and meeting frequency criteria. The control variable, Firm Size, was measured via the natural logarithm of total assets. Data analysis was conducted using Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM) via SmartPLS 4 software with a 5,000-subsample bootstrapping resampling procedure at a 5% significance level (one-tailed). Outer model evaluation results confirmed that all research indicators were valid and free from multicollinearity (Outer VIF less than 5.0). In the inner model evaluation, a coefficient of determination (R^2) of 0.395 indicated that 39.5% of the variance in Financial Performance (ROA) could be explained by Intellectual Capital, Liquidity, Audit Committee, and Firm Size, while the remaining 60.5% was explained by factors outside the model. A Q^2 " Predict" value of 0.399 proved that the research model possessed strong predictive capacity. Specific hypothesis testing results showed that: (1) Intellectual Capital had a positive and significant effect on Financial Performance (path coefficient = 0.513; T-statistic = 8.734; P-value = 0.000) with a large practical effect size (f^2=0.355), where human capital efficiency served as the most dominant contributor in driving asset profitability. (2) Liquidity had a positive and significant effect on Financial Performance (path coefficient = 0.229; T-statistic = 5.606; P-value = 0.000) with a moderate effect size (f^2=0.085). This finding rejected the initial assumption of a negative relationship and generated a novelty that holding liquid assets post-pandemic transformed from passive assets bearing opportunity costs into a strategic operational safety buffer mitigating supply chain disruptions. (3) Audit Committee had no effect on Financial Performance (path coefficient = -0.011; T-statistic = 0.298; P-value = 0.383) and had no direct functional impact (f^2=0.000), indicating that the audit committee monitoring function in manufacturing issuers was still largely driven by mere formal administrative compliance with governance regulations. (4) Firm Size as a control variable had a positive and significant effect on ROA (path coefficient = 0.084; T-statistic = 1.855; P-value = 0.032), effectively neutralizing potential biases caused by asset scale heterogeneity across entities. The implications of these findings are divided into theoretical and practical implications. Theoretically, this study reinforces the Resource-Based View regarding the importance of intangible assets in creating competitive advantage, and extends the Liquidity Trade-off Theory by proving that under high environmental uncertainty, the marginal benefit of holding liquidity as an operational safety buffer far outweighs its marginal cost. Additionally, it offers a critical evaluation of Agency Theory regarding governance formalisms. Practically, corporate management in manufacturing is advised to transform business strategies toward knowledge-based management by prioritizing human capital development budgets and adopting flexible working capital policies that maintain optimal liquidity levels to ensure manufacturing continuity. For investors and market analysts, it is recommended to shift evaluation focus from tangible assets alone toward evaluating intellectual capital efficiency and cash adequacy before making investment decisions. For regulators, the study provides insights to evaluate audit committee regulations so that corporate governance oversight moves beyond quantitative administrative criteria toward substantive operational risk management. | |
| 50832 | 54243 | L1B022085 | Uji Patogenisitas dan Identifikasi Molekuler Berdasarkan Gen 16S rDNA Aeromonas sp. Yang Menginfeksi Ikan Bawal (Colossoma macropomum) Dari Kabupaten Banjarnegara | Ikan bawal (Colossoma macropomum) merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi di Indonesia. Namun, produktivitas budidayanya sering terkendala oleh infeksi bakteri patogen, salah satunya Aeromonas sp. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi isolat Aeromonas sp. yang menginfeksi ikan bawal berdasarkan gen 16S rDNA serta mengetahui tingkat patogenisitasnya. Sampel ikan sakit diambil dari Kabupaten Banjarnegara, kemudian dilakukan pengamatan gejala klinis, isolasi bakteri dari organ hati dan ginjal, uji postulat koch, ekstraksi DNA, analisis BLAST dan filogenetik, serta uji patogenisitas. Hasil identifikasi molekuler terhadap satu isolat kuning menunjukkan tingkat kemiripan sekuens 100% dengan A. hydrophila, A. aquatica, A. veronii, dan A. sobria, sehingga diidentifikasi sebagai Aeromonas sp. Infeksi Aeromonas sp. menyebabkan gejala klinis berupa nekrosis pada area injeksi, sirip geripis, kerusakan insang, perubahan warna mata, bercak merah pada operkulum, dan abdominal dropsy. Isolat Aeromonas sp. bersifat patogen terhadap ikan bawal dengan mortalitas 100% pada konsentrasi 9,1 × 10^7 dan 9,1 × 10^6 CFU/mL, serta 67% pada konsentrasi 9,1 × 10^5 CFU/mL. Nilai RWK berturut-turut sebesar 1,17; 1,67; dan 1,50 hari, sedangkan LD_50 tidak dapat ditentukan karena seluruh konsentrasi yang diuji menghasilkan mortalitas lebih dari 50%. | The tambaqui (Colossoma macropomum) is one of the freshwater aquaculture commodities with significant economic value in Indonesia. However, its aquaculture productivity is often hampered by infections from pathogenic bacteria, one of which is Aeromonas sp. This study aimed to identify Aeromonas sp. isolates infecting tambaqui based on the 16S rDNA gene and to determine their pathogenicity. Samples of diseased fish were collected from Banjarnegara Regency, followed by observation of clinical symptoms, bacterial isolation from the liver and kidneys, Koch’s postulates testing, DNA extraction, BLAST and phylogenetic analysis, and pathogenicity testing. Molecular identification of one yellow isolate showed 100% sequence similarity with A. hydrophila, A. aquatica, A. veronii, and A. sobria, and it was therefore identified as Aeromonas sp. Aeromonas sp. infection causes clinical symptoms such as necrosis at the injection site, frayed fins, gill damage, eye discoloration, red spots on the operculum, and abdominal dropsy. The Aeromonas sp. isolate was pathogenic to tambaqui, causing 100% mortality at concentrations of 9,1 × 10^7 and 9,1 × 10^6 CFU/mL, and 67% mortality at a concentration of 9,1 × 10^5 CFU/mL. The MTD values were 1.17, 1.67, and 1.50 days, respectively, while the LD_50 could not be determined because all tested concentrations resulted in mortality rates exceeding 50%. | |
| 50833 | 54246 | L1B022079 | Pemberian Azolla microphylla Segar untuk Ikan Nila (Oreochromis niloticus) terhadap Indeks Hepatosomatik (IHS) dan Viscerosomatik (IVS) | Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas ikan air tawar yang banyak dikembangkan di Indonesia, namun ketergantungannya terhadap pelet komersil yang mencapai 60-70% dari keseluruhan biaya total. Azolla microphylla berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif karena memiliki kandungan nutrient yang cukup baik serta mudah dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi A. microphylla segar terhadap indeks hepatosomatik (IHS) dan indeks viscerosomatik (IVS) ikan nila. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P1 (100% pelet komersil), P2 (75% pelet + 25% A. microphylla), P3 (50% pelet + 50% A. microphylla) dan P4 (25% pelet + 75% A. microphylla). Ikan diuji selama 30 hari dalam Recirculating Aquaculture System (RAS). Data IHS dan IVS dianalisis menggunakan ANOVA oneway dilanjutkan uji BNT, yang menunjukkan bahwa A. microphylla hingga persentase 75% tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai IHS maupun IVS pada ikan nila. Hasil ini mengindikasikan bahwa ketersediaan energi dari pakan pada setiap perlakuan telah mencukupi kebutuhan ikan, sehingga tidak terjadi gangguan pada cadangan energi di hati maupun organ visceral. Dengan demikian A. microphylla segar berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan substitusi pakan alternatif bagi ikan nila tanpa mengganggu kondisi fisiologis hati dan viscera. | Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish species widely cultivated in Indonesia, however its reliance on commercial pellets accounts for 60–70% of total production costs. Azolla microphylla has the potential as an alternative feed ingredient due to its high nutrient content and ease of cultivation. This study aimed to determine the effect of substituting fresh A. microphylla on the hepatosomatic index (HSI) and viscerosomatic index (VSI) of Nile tilapia. The experiment used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replicates: P1 (100% commercial pellets), P2 (75% pellets + 25% A. microphylla), P3 (50% pellets + 50% A. microphylla), and P4 (25% pellets + 75% A. microphylla). The tilapia were tested for 30 days in a Recirculating Aquaculture System (RAS). HSI and VSI data were analyzed using one-way ANOVA. Results showed that A. microphylla, even at a 75%, did not significantly affect (P>0,05) on the HSI or VSI values in tilapia. This indicates that feed energy availability in each treatment was sufficient to meet fish requirements, there was no disruption to energy reserves in liver or visceral organs. Thus, fresh A. microphylla has the potential as an alternative feed substitute for tilapia without disrupting the physiological condition of the liver and viscera. | |
| 50834 | 54247 | H1B020063 | PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH PERDESAAN DI DUSUN 2, DESA KRACAK, KECAMATAN AJIBARANG, KABUPATEN BANYUMAS MENGGUNAKAN PROGRAM WATERNET | Penyediaan air bersih di daerah pedesaan masih menjadi sebuah tantangan, terutama pada wilayah dengan kondisi geografis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merencakan sistem penyediaan air bersih di Dusun 2, Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, menggunakan program WaterNet untuk memastikan distribusi air yang efisien dan berkelanjutan. Metode penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui analisis proyeksi jumlah penduduk menggunakan metode aritmatik, perhitungan kebutuhan air domestik dan non-domestik, serta penyusunan pola kebutuhan air jam-jaman selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan pemodelan jaringan distribusi dan simulasi hidraulik menggunakan Waternet dengan metode extended period simulation untuk mengevaluasi parameter tekanan, debit, dan kehilangan energi pada jaringan perpipaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebutuhan air bersih untuk 90 kepala keluarga (232 jiwa) pada tahun 2031 diproyeksikan sebesar 30,288〖 m〗^3/hari (0,3506liter/detik). Sistem dirancang dengan memanfaatkan sumber air dari sumur bor yang dialirkan ke reservoir berkapasitas 12m^3 (dimensi 2×2×3m) menggunakan pompa, kemudian didistribusikan secara gravitasi melalu pipa HDPE sepanjang 1.709,37m. Simulasi WaterNet mengonfirmasi bahwa jaringan pipa memenuhi kriteria hidraulik dengan tekanan dan kecepatan aliran yang optimal, meskipun diperlukan pompa tambahan untuk dua node dengan elevasi tinggi. Kelebihan debit sumber air memungkinkan perluasan layanan di masa depan. Penelitian ini merekomendasikan pemeliharaan rutin dan pengelolaan partisipatif untuk keberlanjutan sistem. | The provision of clean water in rural areas remains a challenge, particularly in regions with complex geographical conditions. This study aims to plan a clean water supply system in Dusun 2, Kracak Village, Ajibarang District, Banyumas Regency, using the WaterNet program to ensure efficient and sustainable water distribution. The research employed a quantitative approach through population projection analysis using the arithmetic method, calculation of domestic and non-domestic water demand, and preparation of a 24-hour hourly water demand pattern. Furthermore, the distribution network was modeled and hydraulically simulated using Waternet with the extended period simulation method to evaluate pressure, discharge, and headloss parameters within the pipeline network. The research results indicate that the clean water demand for 90 households (232 people) in 2031 is projected to be 30.288 m³/day (0.3506 liters/second). The system is designed by utilizing a water source from a borehole, which is pumped into a 12 m³ capacity reservoir (dimensions 2 x 2 x 3 m), and then distributed by gravity through a 1,709.37 m long HDPE pipe. The WaterNet simulation confirms that the pipeline network meets the hydraulic criteria with optimal pressure and flow velocity, although an additional pump is required for two nodes with high elevations. The surplus in water source discharge allows for future service expansion. This study recommends routine maintenance and participatory management for the sustainability of the system. | |
| 50835 | 54248 | B1B022006 | Acid Mine Drainage, Enzyme Activity, Manganese Peroxidase, Metal Stress, Trichoderma sp. | Coal mine acid mine drainage (AMD) adalah masalah lingkungan yang ditandai dengan pH rendah, konsentrasi sulfat tinggi, dan peningkatan kadar logam berat terlarut yang dapat berdampak buruk pada ekosistem. Trichoderma sp. dikenal karena kemampuannya untuk mentoleransi lingkungan asam dan terkontaminasi logam melalui berbagai mekanisme fisiologis, termasuk produksi enzim ekstraseluler. Namun, informasi mengenai aktivitas mangan peroksidase (MnP) pada Trichoderma sp. di bawah tekanan AMD tambang batubara masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai konsentrasi AMD tambang batubara terhadap aktivitas MnP pada Trichoderma sp. dan untuk menentukan pola aktivitas MnP pada peningkatan konsentrasi AMD tambang batubara. Desain Acak Lengkap (CRD) digunakan dengan konsentrasi AMD tambang batubara sebagai faktor perlakuan. Kultur Trichoderma sp. dipaparkan pada berbagai konsentrasi AMD tambang batubara, dan aktivitas MnP ditentukan secara spektrofotometri pada 610 nm menggunakan uji fenol merah. Biomassa jamur dan pH setelah inkubasi dievaluasi sebagai parameter pendukung. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah diikuti dengan uji post hoc yang sesuai pada tingkat kepercayaan 95%. Pengamatan morfologi mengkonfirmasi identitas Trichoderma sp., sementara karakterisasi AMD tambang batubara awal menunjukkan adanya ion Cu²⁺, Zn²⁺, Fe²⁺/Fe³⁺, Mn²⁺, dan sulfat. Konsentrasi AMD tambang batubara memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas MnP (p < 0,001). Aktivitas MnP menurun dari 7,661 U/mL pada perlakuan AMD tambang batubara 0% menjadi 2,162 U/mL pada perlakuan 100%, menunjukkan pola penurunan yang konsisten dengan meningkatnya konsentrasi AMD tambang batubara. Biomassa jamur dan pH akhir setelah inkubasi juga menunjukkan tren penurunan, memberikan bukti tambahan tentang respons fisiologis Trichoderma sp. di bawah tekanan AMD tambang batubara. Perlakuan kontrol mengkonfirmasi bahwa aktivitas MnP yang terdeteksi sebagian besar berasal dari Trichoderma sp. yang aktif secara biologis. alih-alih dari proses non-biologis. Secara keseluruhan, peningkatan konsentrasi AMD tambang batubara secara signifikan menghambat aktivitas MnP dari Trichoderma sp., sementara biomassa jamur dan pH akhir setelah inkubasi mendukung interpretasi bahwa AMD tambang batubara memberikan tekanan fisiologis pada jamur. | Coal mine acid mine drainage (AMD) is an environmental problem characterized by low pH, high sulfate concentrations, and elevated levels of dissolved heavy metals that can adversely affect ecosystems. Trichoderma sp. is known for its ability to tolerate acidic and metal-contaminated environments through various physiological mechanisms, including extracellular enzyme production. However, information regarding manganese peroxidase (MnP) activity in Trichoderma sp. under coal mine AMD stress remains limited. Therefore, this study aimed to evaluate the effect of different concentrations of coal mine AMD on MnP activity in Trichoderma sp. and to determine the pattern of MnP activity across increasing coal mine AMD concentrations. A Completely Randomized Design (CRD) was employed with coal mine AMD concentration as the treatment factor. Trichoderma sp. cultures were exposed to different coal mine AMD concentrations, and MnP activity was determined spectrophotometrically at 610 nm using the phenol red assay. Fungal biomass and pH after incubation were evaluated as supporting parameters. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by the appropriate post hoc test at a 95% confidence level. Morphological observations confirmed the identity of Trichoderma sp., while preliminary coal mine AMD characterization indicated the presence of Cu²⁺, Zn²⁺, Fe²⁺/Fe³⁺, Mn²⁺, and sulfate ions. Coal mine AMD concentration had a significant effect on MnP activity (p < 0.001). MnP activity decreased from 7.661 U/mL in the 0% coal mine AMD treatment to 2.162 U/mL in the 100% treatment, demonstrating a consistent decreasing pattern with increasing coal mine AMD concentration. Fungal biomass and the final pH after incubation also exhibited decreasing trends, providing additional evidence of the physiological response of Trichoderma sp. under coal mine AMD stress. Control treatments confirmed that the detected MnP activity originated predominantly from biologically active Trichoderma sp. rather than from non-biological processes. Overall, increasing coal mine AMD concentration significantly inhibited the MnP activity of Trichoderma sp., while fungal biomass and the final pH after incubation supported the interpretation that coal mine AMD imposed physiological stress on the fungus. | |
| 50836 | 54249 | D1A022067 | Exploring Farmers’ Intentions and Behavior in Forage Preservation: A Theory of Planned Behavior Approach in Banjarnegara Highland, Indonesia | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat dan perilaku peternak ruminansia kecil dalam penggunaan silase di Kabupaten Banjarnegara, serta menganalisis peran niat sebagai mediator menggunakan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara dengan melibatkan 145 responden yang dipilih menggunakan metode purposive sampling dari total 154 peternak yang berhasil diperoleh. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner terstruktur berskala Likert empat tingkat, kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4.0. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa seluruh variabel TPB berada pada kategori positif, dengan faktor pendorong didominasi kategori tinggi (68,28%) dan faktor penghambat didominasi kategori sedang (62,76%), di mana tiga hambatan utama yang teridentifikasi adalah keterbatasan waktu akibat peran ganda sebagai petani, rendahnya akses modal dan sarana prasarana, serta tingkat pendidikan formal yang rendah. Hasil evaluasi model pengukuran menunjukkan bahwa seluruh indikator memenuhi kriteria validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas yang dipersyaratkan. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat (β = 0,524; p < 0,001) dan persepsi kontrol perilaku berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat (β = 0,274; p = 0,011), sedangkan norma subjektif tidak berpengaruh signifikan terhadap niat (β = 0,129; p = 0,281). Norma subjektif menjadi satu-satunya variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku aktual penggunaan silase (β = 0,583; p < 0,001), sementara sikap, niat, dan persepsi kontrol perilaku tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku. Seluruh jalur mediasi melalui niat tidak signifikan, mengkonfirmasi adanya intention-behavior gap yang disebabkan oleh hambatan situasional. Nilai R² niat sebesar 0,717 dan perilaku sebesar 0,730 menunjukkan kemampuan model yang kuat dalam menjelaskan variabel endogen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan norma kelompok dan fasilitasi teknis merupakan strategi intervensi yang lebih efektif dibandingkan pendekatan persuasif individual dalam mendorong adopsi teknologi silase di kalangan peternak ruminansia kecil di Kabupaten Banjarnegara. | This study aimed to analyze the influence of attitude, subjective norm, and perceived behavioral control on the intention and behavior of small ruminant farmers in silage use in Banjarnegara Regency, as well as to examine the mediating role of intention using the Theory of Planned Behavior (TPB) framework. The study was conducted in Pagentan and Pejawaran Districts, Banjarnegara Regency, involving 145 respondents selected through purposive sampling from a total population of 154 farmers. Data were collected through field observations and structured questionnaires using a four-point Likert scale and analyzed using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS 4.0 software. Descriptive analysis results indicated that all TPB variables were in a positive category, with enabling factors predominantly in the high category (68.28%) and inhibiting factors in the moderate category (62.76%). Measurement model evaluation results showed that all indicators met the required validity and reliability criteria. Hypothesis testing results indicated that attitude had a positive and significant effect on intention (β = 0.524; p < 0.001) and perceived behavioral control had a positive and significant effect on intention (β = 0.274; p = 0.011), while subjective norm did not significantly influence intention (β = 0.129; p = 0.281). Subjective norm emerged as the only variable with a positive and significant direct effect on actual behavior (β = 0.583; p < 0.001), while attitude, intention, and perceived behavioral control did not significantly influence behavior. All mediation pathways through intention were non-significant, indicating the existence of an intention-behavior gap caused by situational barriers including time constraints, limited access to capital and infrastructure, and the low formal education level of farmers. The R² values of intention (0.717) and behavior (0.730) demonstrated the model's strong explanatory power for endogenous variables. This study concluded that strengthening group norms and providing technical facilitation are more effective intervention strategies than individual persuasive approaches in promoting silage technology adoption among small ruminant farmers in Banjarnegara Regency. | |
| 50837 | 54250 | A1C022035 | PREFERENSI KONSUMEN PADA COFFEE SHOP STARBUCK DI KOTA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN METODE KONJOIN ANALISIS | Perkembangan industri kopi di Indonesia telah mendorong pertumbuhan coffee shop modern, termasuk Starbucks. Perubahan perilaku konsumen menyebabkan keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh harga dan kualitas produk, tetapi juga oleh berbagai atribut yang membentuk pengalaman konsumsi. Penelitian mengenai preferensi konsumen Starbucks menggunakan analisis konjoin masih relatif terbatas, khususnya di Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosiodemografis dan perilaku konsumsi konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta, mengidentifikasi kombinasi atribut yang paling disukai konsumen, serta menentukan atribut yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dalam memengaruhi preferensi konsumen. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis konjoin. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 100 konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden, sedangkan analisis konjoin dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu penentuan atribut dan level, penyusunan kartu stimulus (stimuli) menggunakan desain ortogonal, pemberian peringkat (ranking) oleh responden terhadap setiap kombinasi atribut, pengolahan data menggunakan SPSS versi 25 untuk memperoleh nilai utilitas (utility estimate) dan tingkat kepentingan relatif (importance value), serta pengujian validitas, reliabilitas, dan akurasi model menggunakan Pearson's R dan Kendall's Tau. Atribut yang dianalisis meliputi harga, rasa, aroma, asal kopi, roasting, varian, kandungan gula, kemasan, penyajian, fasilitas, dan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta didominasi oleh perempuan (62%), Generasi Z (73%), berdomisili di Yogyakarta (76%), berpendidikan D3/S1 (48%), bekerja di sektor swasta (42%), memiliki pendapatan Rp2.100.000–Rp3.000.000 per bulan (27%), dan belum menikah (71%). Berdasarkan analisis konjoin, atribut pelayanan merupakan atribut yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi (importance value 17,049) dengan level yang paling disukai berupa pelayanan yang memuaskan (utility estimate 0,267). Atribut penting berikutnya adalah kandungan gula (11,886) dengan preferensi pada level sedikit gula (0,036), fasilitas (10,765) dengan fasilitas lengkap (0,051), rasa (9,979) dengan rasa seimbang (0,043), dan penyajian (9,520) dengan penyajian cold (0,054). Sementara itu, atribut asal kopi, aroma, dan roasting memiliki tingkat kepentingan relatif paling rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen Starbucks lebih mengutamakan kualitas pelayanan dan pengalaman konsumsi dibandingkan atribut produk semata dalam menentukan preferensi terhadap coffee shop Starbucks di Kota Yogyakarta | The growth of Indonesia's coffee industry has encouraged the expansion of modern coffee shops, including Starbucks. Consumer purchasing decisions are influenced not only by price and product quality but also by various attributes that shape the overall consumption experience. Studies examining Starbucks consumer preferences using conjoint analysis remain limited, particularly in Yogyakarta City. Therefore, this study aims to analyze the sociodemographic characteristics and consumption behavior of Starbucks consumers in Yogyakarta, identify the most preferred combination of product attributes, and determine the most influential attributes affecting consumer preferences. This study employed a descriptive quantitative approach using conjoint analysis. Data were collected through questionnaires distributed to 100 Starbucks consumers in Yogyakarta selected using purposive sampling. Descriptive analysis was conducted to describe respondents' characteristics, while conjoint analysis was carried out through several stages, including determining the attributes and their levels, generating orthogonal stimulus profiles, asking respondents to rank each profile, processing the data using SPSS version 25 to estimate utility values and relative importance values, and evaluating the validity, reliability, and predictive accuracy of the model using Pearson's R and Kendall's Tau. The evaluated attributes included price, taste, aroma, coffee origin, roasting, variety, sugar content, packaging, serving method, facilities, and service. The results indicate that Starbucks consumers in Yogyakarta are predominantly female (62%), belong to Generation Z (73%), reside in Yogyakarta (76%), hold diploma or bachelor's degrees (48%), work in the private sector (42%), earn monthly incomes of Rp2,100,000–Rp3,000,000 (27%), and are unmarried (71%). The conjoint analysis revealed that service was the most influential attribute (importance value = 17.049), with satisfactory service showing the highest utility estimate (0.267). Other important attributes were sugar content (11.886), with a preference for less sugar (0.036); facilities (10.765), with complete facilities (0.051); taste (9.979), with balanced flavor (0.043); and serving method (9.520), with cold beverages (0.054). Meanwhile, coffee origin, aroma, and roasting were the least influential attributes. These findings indicate that Starbucks consumers prioritize service quality and consumption experience over product attributes alone when choosing Starbucks coffee shops in Yogyakarta | |
| 50838 | 54251 | C2A024014 | Mandiri Atau Bergantung? Analisis Desentralisasi Fiskal dan Belanja Daerah di Kabupaten Kuningan | Pelaksanaan otonomi daerah menuntut Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kemandirian keuangan guna mengurangi ketergantungan terhadap dana transfer dari Pemerintah Pusat. Penelitian ini menganalisis tingkat kemandirian keuangan daerah serta keterkaitan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, belanja modal, dan belanja operasi di Kabupaten Kuningan dalam kurun waktu 2004–2020. Penelitian menggunakan data sekunder yang dianalisis dengan pendekatan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) dan metode Regresi Linier Berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata DDF Kabupaten Kuningan sebesar 8,31 persen yang termasuk dalam kategori Sangat Kurang, sehingga mengindikasikan rendahnya tingkat kemandirian keuangan daerah. Temuan empiris menunjukkan bahwa PAD tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal, namun berpengaruh positif terhadap belanja operasi. Sementara itu, dana perimbangan berpengaruh signifikan dan positif terhadap belanja modal maupun belanja operasi. Hasil penelitian ini menegaskan tingginya ketergantungan fiskal Kabupaten Kuningan terhadap dana transfer dari Pemerintah Pusat serta menunjukkan bahwa pengelolaan belanja daerah masih didominasi oleh belanja operasi dibandingkan belanja modal. | The implementation of regional autonomy requires Local Governments to strengthen their financial independence in order to reduce their reliance on transfer funds from the Central Government. This study analyzes the level of regional financial independence and examines the relationship between Local Own-Source Revenue, intergovernmental transfer funds, capital expenditure, and operating expenditure in Kuningan Regency during the 2004–2020 period. The study employs secondary data, which are analyzed using the Fiscal Decentralization Degree approach and Multiple Linear Regression analysis. The findings reveal that the average Fiscal Decentralization Degree of Kuningan Regency is 8.31%, which falls into the Very Low category, indicating a low level of regional financial independence. The empirical results show that Local Own-Source Revenue has no significant effect on capital expenditure but has a positive effect on operating expenditure. Meanwhile, intergovernmental transfer funds have a significant and positive effect on both capital expenditure and operating expenditure. These findings confirm Kuningan Regency’s high fiscal dependence on transfer funds from the Central Government and indicate that regional expenditure management remains predominantly focused on operating expenditure rather than capital expenditure. |