Artikelilmiahs

Menampilkan 50.741-50.749 dari 50.749 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5074154148J0B023034Interdisiplinaritas Bahasa dan Industri: Studi Kasus Pembuatan Dokumen SOP Dwibahasa Indonesia-Mandarin di PT New MarchABSTRAK
Ketiadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) planning mingguan pada departemen Production Planning and Inventory Control (PPIC) di PT New March menyebabkan karyawan baru, baik lokal maupun asing asal Tiongkok, mengalami kesulitan dalam memahami dan mengendalikan target pekerjaan yang harus dicapai setiap minggunya. Permasalahan ini muncul akibat adanya kesenjangan bahasa antara karyawan lokal yang menggunakan bahasa Indonesia dan karyawan asing yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa komunikasi utama, sehingga diperlukan dokumen acuan kerja yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan dokumen SOP planning mingguan yang disusun secara dwibahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin, guna mempermudah karyawan baru dalam mencapai target kerja yang telah ditentukan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi metode jelajah internet, wawancara, dan studi pustaka. Dalam proses penyusunan padanan bahasa, digunakan metode penerjemahan komunikatif agar makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dapat dipahami secara mudah, sekaligus menyesuaikan struktur bahasa dan makna dengan konteks budaya kerja perusahaan. Pendekatan ini mencerminkan sifat interdisipliner antara kajian bahasa dan kebutuhan industri dalam dunia kerja nyata. Hasil dari kegiatan ini berupa dokumen SOP planning mingguan dwibahasa Indonesia-Mandarin dalam format cetak Excel yang diserahkan kepada departemen PPIC. Keberadaan dokumen ini diharapkan dapat membantu karyawan baru, baik lokal maupun asing, dalam memahami serta melaksanakan pekerjaan sesuai target mingguan, sehingga turut mendukung efektivitas operasional perusahaan secara berkelanjutan.
The absence of a Weekly Planning Standard Operating Procedure (SOP) in the Production Planning and Inventory Control (PPIC) Department at PT New March has caused newly recruited employees, both local staff and Chinese employees, to experience difficulties in understanding and managing the weekly work targets they are expected to achieve. This issue arises from the language gap between local employees, who use Indonesian, and Chinese employees, who use Mandarin as their primary language of communication. Therefore, a bilingual work reference document that can be understood by both parties is required. This study aims to produce a bilingual Weekly Planning SOP document in Indonesian and Mandarin to facilitate new employees in understanding and achieving the predetermined weekly work targets. The data were collected through internet research, interviews, and library research. In the translation process, the communicative translation method was employed to ensure that the meaning of the source language could be conveyed clearly and naturally in the target language while adapting the linguistic structure and meaning to the company's workplace culture. This approach reflects the interdisciplinary nature of language studies and industrial needs in the professional workplace. The outcome of this study is a bilingual Indonesian–Mandarin Weekly Planning SOP document in a printed Microsoft Excel format, which was submitted to the PPIC Department. The existence of this document is expected to assist both local and Chinese employees in understanding and carrying out their tasks according to the established weekly targets, thereby supporting the company's operational effectiveness on a sustainable basis.
5074254149H1E022032Evaluasi Kinerja Supplier Kayu Laban Menggunakan Best Worst Method dan TOPSIS (Studi Kasus: UD Karomah Indah Purbalingga)UD Karomah Indah adalah usaha produksi furnitur berbahan kayu di Purbalingga yang menggunakan kayu laban sebagai bahan baku utama dari empat supplier tetap. Perusahaan belum pernah melakukan evaluasi kinerja supplier secara berkala, sehingga sering muncul kendala kualitas bahan baku dan kapasitas pasokan yang tidak sesuai permintaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja supplier menggunakan metode Best Worst Method (BWM) untuk menentukan bobot tujuh kriteria dan empat belas sub kriteria, serta metode TOPSIS untuk menentukan peringkat supplier. Hasil BWM menunjukkan kriteria ketersediaan memiliki bobot tertinggi (0,3293), sedangkan hasil TOPSIS menunjukkan Supplier C menempati peringkat pertama dengan nilai preferensi 0,9724, diikuti Supplier A, Supplier B, dan Supplier D. Berdasarkan hasil tersebut, disusun usulan perbaikan bagi supplier berkinerja rendah dengan menjadikan Supplier C sebagai acuan pada sub kriteria prioritas. Hasil penelitian diharapkan membantu UD Karomah Indah menentukan prioritas pemesanan bahan baku dan menjaga hubungan kerja sama dengan supplier.UD Karomah Indah is a wood-based furniture production business located in Purbalingga that uses laban wood as its main raw material, supplied by four regular suppliers. The company has never conducted a periodic supplier performance evaluation, which has resulted in recurring issues related to raw material quality and supply capacity that fail to meet demand. This study aims to evaluate supplier performance using the Best Worst Method (BWM) to determine the weights of seven criteria and fourteen sub-criteria, and the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) to rank supplier performance. The BWM results show that the availability criterion obtained the highest weight (0.3293), while the TOPSIS results show that Supplier C ranked first with a preference value of 0.9664, followed by Supplier A, Supplier B, and Supplier D. Based on these results, improvement proposals were formulated for lower-performing suppliers, using Supplier C as a benchmark on priority sub-criteria. The findings are expected to help UD Karomah Indah determine raw material ordering priorities and maintain sustainable partnerships with its suppliers.
5074354020E1B022011CRIMINAL LIABILITY OF THE PROVIDER OF OPPORTUNITY OR MEANS IN THE CRIME FRAUDPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertanggungjawaban pidana terhadap pihak yang memberikan kesempatan atau sarana terjadinya tindak pidana penipuan, serta menganalisis dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara pada Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 196/Pid.B/2019/PN Dps. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yang bersifat preskriptif dengan memanfaatkan data sekunder melalui studi kepustakaan, yang kemudian dianalisis secara kualitatif normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggungjawaban pidana dapat dijatuhkan kepada profesi Notaris yang secara sadar mengabaikan prinsip kehati-hatian dengan memproses akta menggunakan dokumen tidak sah, sehingga memfasilitasi pelaku utama untuk melakukan penipuan. Terdakwa terbukti secara sah melanggar Pasal 378 jo. Pasal 56 ayat (2) KUHP karena tidak terdapat alasan pembenar maupun pemaaf, yang sekaligus mempertegas bahwa jabatan Notaris tidak kebal hukum dan tunduk pada asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dalam menjatuhkan vonis pidana penjara selama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan, Majelis Hakim melandaskan putusannya pada tiga pertimbangan utama. Pertimbangan tersebut meliputi terpenuhinya fakta hukum atas seluruh unsur pidana yang didakwakan, keutuhan pembuktian berdasarkan alat bukti yang sah (surat, keterangan saksi, ahli, dan terdakwa) sesuai Pasal 184 KUHAP, serta penilaian proporsional terhadap hal-hal yang memberatkan maupun meringankan terdakwa.This study investigates the criminal liability of individuals who facilitate or provide the means for fraudulent acts, alongside an analysis of the judicial reasoning in the Denpasar District Court Decision No. 196/Pid.B/2019/PN Dps. Employing a prescriptive normative juridical approach, this research utilizes secondary data gathered through library research and applies a qualitative normative analysis. The findings reveal that criminal sanctions can be applied to a Notary who intentionally disregards the precautionary principle by authenticating deeds based on invalid documents, thereby enabling the principal offender to commit fraud. The defendant was found legally guilty of violating Article 378 in conjunction with Article 56 paragraph (2) of the Indonesian Criminal Code (KUHP), as there were no justifying or mitigating circumstances. This affirms that the notarial profession lacks legal immunity and remains strictly subject to the principle of liability based on fault. In imposing a prison sentence of one year and four months, the Panel of Judges based its verdict on three primary considerations. These include the materialization of legal facts fulfilling all elements of the indicted crime, the comprehensiveness of valid evidence (documentary evidence, as well as testimonies from witnesses, experts, and the defendant) in accordance with Article 184 of the Criminal Procedure Code (KUHAP), and a balanced assessment of the aggravating and mitigating factors concerning the defendant.
5074454153H1E022067EVALUASI SUPPLIER BAHAN BAKU KEMASAN PLASTIK MENGGUNAKAN METODE BEST-WORST METHOD (BWM) DAN PROMETHEE PADA PT ABHIMATA EMAS JUARAIndustri plastik nasional tumbuh pesat, mendorong PT Abhimata Emas Juara sebagai produsen kemasan plastik untuk semakin memperhatikan pemilihan pemasok bahan baku biji plastik HDPE (High-Density Polyethylene). Selama ini perusahaan mengevaluasi pemasok berdasarkan kesesuaian spesifikasi produk, waktu pengiriman, kemudahan komunikasi, harga terendah dan layanan purna jual akan tetapi masih ditemui masalah seperti kontaminasi warna, keterlambatan pengiriman, kemasan rusak, dan minimum order quantity (MOQ) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemasok berdasarkan kriteria dan subkriteria yang memengaruhi kinerja pengadaan menggunakan Best-Worst Method (BWM) untuk bobot kriteria, serta PROMETHEE II untuk menentukan peringkat pemasok terbaik. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner terhadap enam pengambil keputusan pada bagian purchasing, finance, PPIC, QA/QC, RND, dan warehouse. Hasil BWM menunjukkan kriteria Quality memperoleh bobot tertinggi (0,351), diikuti Delivery, Communication, Assurance, dan Price, dengan subkriteria kesesuaian spesifikasi menjadi yang paling dominan (bobot global 0,179). Hasil PROMETHEE II menempatkan supplier AP pada peringkat pertama dengan net flow 0,569, diikuti GCM (-0,094) dan TIA (-0,475). Pemasok AP perlu memperbaiki kebijakan diskon agar lebih kompetitif dan membangun sistem penanganan kendala pengadaan yang lebih terstruktur, pemasok GCM perlu memperbaiki kebijakan potongan harga agar lebih kompetitif serta menambah opsi metode pembayaran, sedangkan pemasok TIA perlu memperbaiki sistem logistik agar ketepatan waktu pengiriman meningkat. Supplier AP direkomendasikan menjadi mitra strategis jangka panjang karena mendominasi secara konsisten pada sebagian besar kriteria penilaian.The national plastics industry is growing rapidly, prompting PT Abhimata Emas Juara, a manufacturer of plastic packaging, to pay even closer attention to the selection of suppliers for HDPE (High-Density Polyethylene) plastic resin. Until now, the company has evaluated suppliers based on product specification compliance, delivery time, ease of communication, lowest price, and after-sales service; however, issues such as color contamination, delivery delays, damaged packaging, and high minimum order quantities (MOQs) still persist. This study aims to evaluate suppliers based on criteria and sub-criteria that influence procurement performance using the Best-Worst Method (BWM) for criterion weighting and PROMETHEE II to determine the ranking of the best suppliers. Data were collected through interviews and questionnaires administered to six decision-makers in the purchasing, finance, PPIC, QA/QC, R&D, and warehouse departments. The BWM results show that the Quality criterion received the highest weight (0.351), followed by Delivery, Communication, Assurance, and Price, with the subcriterion of specification compliance being the most dominant (overall weight of 0.179). The PROMETHEE II results rank supplier AP first with a net flow of 0.569, followed by GCM (-0.094) and TIA (-0.475). Supplier AP needs to improve its discount policy to be more competitive and establish a more structured system for handling procurement issues; supplier GCM needs to improve its price discount policy to be more competitive and add payment method options; while supplier TIA needs to improve its logistics system to increase delivery timeliness. Supplier AP is recommended as a long-term strategic partner because it consistently dominates most of the evaluation criteria.
5074553992L1B022071 PENGARUH PEMBERIAN KONSORSIUM BAKTERI PROBIOTIK PADA PAKAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas budidaya bernilai ekonomis tinggi yang produktivitasnya sering terkendala oleh rendahnya efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Salah satu upaya untuk meningkatkan performa budidaya adalah melalui penambahan probiotik pada pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai dosis konsorsium bakteri probiotik terhadap Spesific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), Survival rate (SR), dan Protein efficiency ratio (PER) udang Vaname serta menentukan dosis terbaik. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P0 (0 ml/kg pakan), P1 (5 ml/kg pakan), P2 (10 ml/kg pakan), P3 (15 ml/kg pakan), dan P4 (20 ml/kg pakan). Probiotik yang digunakan merupakan konsorsium bakteri Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Bacillus pseudomycoides, Weisella confusa, dan Enterococcus hirae dengan kepadatan 10^⁸ CFU/ml. Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap SGR, FCR, dan PER, tetapi tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap SR. Perlakuan P1 menghasilkan nilai SGR tertinggi (7,39±0,16%), FCR terendah (0,63±0,05), dan PER tertinggi (4,40±0,32). Nilai SR tertinggi diperoleh pada P3 (94,00±2,00%). Vanamei shrimp are a high-value aquaculture commodity, but their productivity is often limited by low feed utilization efficiency and growth rates. Adding probiotics to feed is one approach to improving aquaculture performance. This study aimed to analyze the effects of various doses of probiotic bacterial consortia on the specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), survival rate (SR), and protein efficiency ratio (PER) of Vanamei shrimp, as well as to determine the optimal dose. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of five treatments and three replicates: P0 (0 ml/kg feed), P1 (5 ml/kg feed), P2 (10 ml/kg feed), P3 (15 ml/kg feed), and P4 (20 ml/kg feed). Probiotics used were a consortium of Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Bacillus pseudomycoides, Weisella confusa, and Enterococcus hirae with a density of 10⁸ CFU/ml. The grow-out period lasted 30 days. Results showed that probiotic supplementation had a significant effect (p<0.05) on SGR, FCR, and PER, but no significant effect (p>0.05) on SR, with treatment P1 is the optimal dosage.
5074654154B1A022193Pengaruh Penambahan Ampas Tahu dan Serbuk Tongkol Jagung terhadap Produktivitas Jamur Tiram Cokelat (Pleurotus cystidiosus)Jamur tiram cokelat (Pleurotus cystidiosus) merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi karena mengandung beragam manfaat dan dapat dibudi dayakan. Salah satu kendala budi daya jamur tiram cokelat adalah terbatasnya serbuk kayu sebagai bahan utama medium tanam (baglog), sehingga diperlukan bahan alternatif seperti ampas tahu dan serbuk tongkol jagung. Kedua bahan tersebut mengandung nutrisi yang dapat memengaruhi pertumbuhan jamur. Ampas tahu menyediakan protein dan karbohidrat, sedangkan tongkol jagung mengandung lignoselulosa yang mendukung pembentukan miselium dan tubuh buah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan tambahan dan konsentrasinya terhadap produktivitas jamur tiram cokelat (Pleurotus cystidiosus) serta mengetahui perlakuan yang terbaik dalam mendukung produktivitas jamur tiram cokelat.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan, lima ulangan dengan variasi konsentrasi kedua bahan tersebut. Variasi konsentrasi bahan meliputi P0 (kontrol), P1 (medium dasar + 10% ampas tahu), P2 (medium + 30% ampas tahu), P3 (medium + 10% serbuk tongkol jagung), P4 (medium + 30% serbuk tongkol jagung), P5 (medium + 10% ampas tahu + 10% serbuk tongkol jagung), dan P6 (medium + 30% ampas tahu + 30% serbuk tongkol jagung). Parameter utama penelitian ini yaitu nilai bobot basah dengan parameter pendukung yaitu laju pertumbuhan miselium, waktu kemunculan tubuh buah, diameter tudung, jumlah tubuh buah, biological eficiency ratio (BER), pH medium, suhu dan kelembapan kumbung. Parameter utama dianalisis ANOVA dan diuji lanjut dengan uji Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bobot basah tertinggi pada perlakuan P5 (80% medium dasar + 10% ampas tahu + 10% serbuk tongkol jagung) dengan berat mencapai 250,2 g. Uji statistik menunjukkan pada parameter bobot basah tubuh buah P5 tidak berbeda nyata dengan P1, namun berbeda nyata dengan P0, P2, P3, P4, dan P6. Berdasarkan uji statistik dan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penambahan ampas tahu dan serbuk tongkol jagung berpengaruh nyata terhadap produktivitas P. cystidiosus dan perlakuan P5 (80% medium dasar + 10% ampas tahu + 10% serbuk tongkol jagung) dan P1 (90% medium dasar + 10% ampas tahu) merupakan perlakuan terbaik dengan hasil akhir bobot basah P5 sebanyak 250,2 g dan bobot basah P1 sebanyak 193,4 g.
Brown oyster mushroom (Pleurotus cystidiosus) is a high-value commodity due to its numerous health benefits and its potential for commercial cultivation. One of the major constraints in cultivating brown oyster mushrooms is the limited availability of sawdust as the primary substrate for the growing medium (baglog). Therefore, alternative materials such as tofu dregs and corncob powder are needed. Both materials contain nutrients that can influence mushroom growth. Tofu dregs are rich in protein and carbohydrates, while corncob powder contains lignocellulosic compounds that support mycelial development and fruiting body formation. This study aimed to determine the effect of different supplementary materials and their concentrations on the productivity of brown oyster mushroom (Pleurotus cystidiosus) and to identify the most effective treatment for enhancing mushroom productivity.
This study employed a randomized block design (RBD) consisting of seven treatments and five replications with different concentrations of the supplementary materials. The treatments were P0 (control), P1 (basal medium + 10% tofu dregs), P2 (basal medium + 30% tofu dregs), P3 (basal medium + 10% corncob powder), P4 (basal medium + 30% corncob powder), P5 (basal medium + 10% tofu dregs + 10% corncob powder), and P6 (basal medium + 30% tofu dregs + 30% corncob powder). The primary parameter measured in this study was the fresh weight of the fruiting bodies, while the supporting parameters included mycelial growth rate, time to fruiting body emergence, cap diameter, number of fruiting bodies, biological efficiency ratio (BER), substrate pH, and the temperature and humidity of the mushroom hosue main parameter observed was fresh weight, while the supporting parameters included mycelial growth rate, time to fruiting body emergence, pileus diameter, number of fruiting bodies, biological efficiency ratio, medium pH, and the temperature and humidity of the mushroom house. The primary parameter was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA), followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT)The main parameter was analyzed using SPSS software, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT).
The results showed that the highest fresh weight was obtained in treatment P5 (80% basal medium + 10% tofu dregs + 10% corncob powder), reaching 250,2 g. Statistical analysis indicated that the fresh weight of fruiting bodies in treatment P5 was not significantly different from that of P1 but was significantly different from treatments P0, P2, P3, P4, and P6. Based on the statistical analysis and discussion, it can be concluded that the addition of tofu dregs and corncob powder significantly affected the productivity of Pleurotus cystidiosus. Treatments P5 (80% basal medium + 10% tofu dregs + 10% corncob powder) and P1 (90% basal medium + 10% tofu dregs) were identified as the best treatments, producing final fresh weights of 250,2 g and 193,4 g, respectively.
5074754155C1B022023PENGARUH KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA NON FISIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN MELALUI STRES KERJA SEBAGAI MEDIASI
(Studi pada Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu di Kota Purwokerto)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja karyawan melalui stres kerja sebagai variabel mediasi pada mahasiswa pekerja paruh waktu di sektor food and beverage (F&B) di Kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 mahasiswa pekerja paruh waktu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Selain itu, work-life balance dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kerja. Namun, stres kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan serta tidak mampu memediasi hubungan antara work-life balance maupun lingkungan kerja non fisik dengan kinerja karyawan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja mahasiswa pekerja paruh waktu lebih dipengaruhi secara langsung oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan akademik serta terciptanya lingkungan kerja non fisik yang kondusif dibandingkan melalui penurunan tingkat stres kerja. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian manajemen sumber daya manusia, khususnya mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja mahasiswa pekerja paruh waktu, serta menjadi masukan bagi organisasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung peningkatan kinerja karyawan.This study aims to examine the effect of work-life balance and the non-physical work environment on employee performance, with job stress serving as a mediating variable among part-time working students in the food and beverage (F&B) sector in Purwokerto. This research employed a quantitative approach using a survey method involving 100 part-time working students selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed through Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). The findings indicate that work-life balance and the non-physical work environment have a positive and significant effect on employee performance. In addition, both variables have a negative and significant effect on job stress. However, job stress does not have a significant effect on employee performance and is unable to mediate the relationship between work-life balance, the non-physical work environment, and employee performance. These findings suggest that the performance of part-time working students is more directly influenced by their ability to maintain a balance between academic and work responsibilities and by a supportive non-physical work environment than through the mediating role of job stress. This study contributes to the development of human resource management literature, particularly regarding the factors influencing the performance of part-time working students, and provides practical insights for organizations in creating a supportive work environment to enhance employee performance.
5074854156J0A023013Developing an English Storytelling Guide Video To Inform Foreign Tourist About Museum Sonobudoyo YogyakartaLaporan akhir ini disusun berdasarkan program magang yang dilaksanakan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta pada periode 19 Agustus 2025 hingga 19 Desember 2025. Selama magang, penulis bertugas sebagai pemandu wisata dengan tanggung jawab utama memandu pengunjung asing dan menyampaikan informasi tentang koleksi museum dalam bahasa Inggris. Selain itu, penulis juga menjalankan tugas sebagai gallery sitter dan membantu berbagai aktivitas operasional museum. Laporan ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan magang di Museum Sonobudoyo, menguraikan pengembangan video pemandu berbahasa Inggris sebagai bahan edukasi bagi pengunjung internasional, dan memaparkan kendala yang ditemui penulis selama proses pengembangan beserta solusi yang diterapkan.
Laporan ini menjelaskan pengembangan video tour guide berbahasa Inggris sebagai media edukasi bagi wisatawan mancanegara. Video dibuat menggunakan metode Three-Phase Production (3P), meliputi, pre-production, production dan pasca produksipost-production termasuk observasi, wawancara, dokumentasi. Konten dipilih berdasarkan koleksi populer dan pengalaman penulis dalam pemanduan.
Selama produksi, penulis menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu pengambilan, kondisi museum yang ramai, kebisingan, dan kesalahan tata bahasa. Kendala diatasi melalui pengelolaan waktu efektif, teknik one-take recording, fitur pengurangan kebisingan, dan konsultasi dengan pembimbing.
Melalui magang ini, penulis meningkatkan keterampilan komunikasi, kemampuan berbahasa Inggris, dan kepercayaan diri saat berinteraksi dengan wisatawan mancanegara. Video tour guide diharapkan dapat mendukung layanan museum, terutama saat pemandu berbahasa Inggris tidak tersedia, serta menjadi media edukasi dan promosi bagi pengunjung asing.

This final report was written based on the internship program conducted at Museum Sonobudoyo Yogyakarta from August, 19 2025 to December, 19 2025. During the internship, the writer was assigned as a tour guide, with the primary responsibility of guiding foreign visitors and providing information about the museum collections in English. In addition, the writer also worked as a gallery sitter and assisted various museum operational activities. This report aims to explain the implementation of the internship at Museum Sonobudoyo, describe the development of an English tour guide video as educational content for foreign visitors, and explain the challenges encountered by the writer during the development process along with the solutions applied.
The report describes the development of an English-language tour guide video as educational media for international tourists. The video was created using the Three-Phase Production (3P) method which consists of pre-production, production, and post-production, including observation, interview, documentation. Content was selected based on observations of popular collections and the writer's guiding experiences.
Several challenges were encountered during production including limited recording time, crowded museum conditions, background noise, and grammatical errors. These were overcome through effective time management, one-take recording techniques, noise reduction features, and consultations with the supervisor.
Through this internship, the writer improved communication skills, English proficiency, and confidence when interacting with international tourists. The resulting tour guide video is expected to support museum services, particularly when English-speaking guides are unavailable, and serve as educational and promotional media for foreign visitors.
5074954159E1A022175PENERAPAN KEADILAN RESTORATIF DALAM PENYELESAIAN PERKARA PIDANA TERHADAP KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
(Studi di Pengadilan Negeri Kuningan)
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan tindak pidana yang menimbulkan dampak fisik, psikis, dan sosial bagi korban. Perkembangan hukum pidana di Indonesia mendorong penyelesaian perkara KDRT tidak hanya melalui pendekatan pemidanaan, tetapi juga melalui keadilan restoratif yang berorientasi pada pemulihan korban dan hubungan para pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis penerapan keadilan restoratif serta faktor-faktor yang menghambat penerapannya dalam penyelesaian perkara pidana terhadap korban KDRT di Pengadilan Negeri Kuningan. Penelitian menggunakan metode yuridis empiris dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan hakim Pengadilan Negeri Kuningan, kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan keadilan restoratif berpedoman pada Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2024. Dalam Putusan Nomor 3/Pid.Sus/2025/PN Kuningan, keadilan restoratif tidak menghapus pertanggungjawaban pidana pelaku, melainkan menjadi dasar pertimbangan hakim dalam meringankan pidana berdasarkan adanya perdamaian, pemaafan korban, dan itikad baik pelaku. Faktor penghambat penerapannya meliputi keterbatasan pengaturan hukum, perlindungan korban yang belum optimal, ketimpangan posisi antara korban dan pelaku, belum meratanya pemahaman masyarakat dan aparat penegak hukum, serta faktor budaya dan keterbatasan sarana pendukung. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta sosialisasi kepada masyarakat agar penerapan keadilan restoratif dapat berjalan secara optimal dengan tetap menjamin perlindungan terhadap korban.
Kata Kunci : Keadilan Restoratif, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Domestic Violence is a criminal offense that has physical, psychological, and social impacts on victims. The development of criminal law in Indonesia has encouraged the resolution of domestic violence cases not only through a punitive approach but also through restorative justice, which emphasizes the restoration of victims and the relationships between the parties involved. This study aims to identify and analyze the implementation of restorative justice and the factors inhibiting its application in the resolution of criminal cases involving victims of domestic violence at the Kuningan District Court. This research employed an empirical juridical method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through library research and interviews with judges of the Kuningan District Court, then analyzed qualitatively and presented descriptively. The findings indicate that the implementation of restorative justice is guided by the Supreme Court Regulation of the Republic of Indonesia Number 1 of 2024. In Decision Number 3/Pid.Sus/2025/PN Kuningan, restorative justice did not eliminate the offender’s criminal liability but served as a basis for the judges in mitigating the sentence by considering the existence of reconciliation, the victim’s forgiveness, and the offender’s good faith. The factors inhibiting its implementation include limited legal regulations, inadequate victim protection, unequal bargaining positions between victims and offenders, the lack of public and law enforcement officers’ understanding, as well as cultural factors and limited supporting facilities. Therefore, strengthening legal regulations, enhancing the capacity of law enforcement officers, and increasing public awareness are necessary to ensure the effective implementation of restorative justice while safeguarding the rights and protection of victims.
Keywords : Restorative Justice, Domestic Violence, Victims of Domestic Violence.