Artikelilmiahs

Menampilkan 50.781-50.791 dari 50.791 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5078154191F1B022075SENTIMEN PUBLIK DALAM MEDIA SOSIAL PADA PROSES FORMULASI
KEBIJAKAN PUBLIK DI INDONESIA
(Studi Kasus Penolakan Kebijakan Tunjangan Perumahan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Instagram )
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen publik terhadap kebijakan tunjangan perumahan anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Instagram serta menjelaskan peran sentimen publik
dalam proses formulasi kebijakan publik. Penelitian dilatarbelakangi oleh munculnya penolakan publik terhadap
kebijakan tunjangan perumahan DPR RI yang berkembang secara masif di media sosial. Penelitian menggunakan
metode Mixed Methods Sequential Explanatory dengan analisis sentimen menggunakan model IndoBERT pada
6.645 komentar Instagram dan analisis kualitatif menggunakan Hermeneutika Gadamer. Analisis penelitian
didukung oleh Model Sistem Politik David Easton untuk memahami hubungan antara sentimen publik dan proses
kebijakan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen negatif mendominasi respons masyarakat sebesar
66,9%, diikuti sentimen netral sebesar 24,2% dan sentimen positif sebesar 8,9%. Dominasi sentimen negatif
menunjukkan tingginya penolakan masyarakat terhadap kebijakan tersebut. Berdasarkan Model Sistem Politik
David Easton, sentimen publik dapat dipahami sebagai bentuk input politik berupa tuntutan masyarakat yang
masuk ke dalam sistem politik dan memberikan tekanan terhadap proses formulasi kebijakan. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa media sosial menjadi sumber masukan politik yang dapat memengaruhi proses kebijakan
publik. Kontribusi penelitian ini terletak pada integrasi analisis sentimen, Hermeneutika Gadamer, dan Model
Sistem Politik David Easton dalam menjelaskan hubungan antara opini publik digital dan formulasi kebijakan
publik di Indonesia.
This study aims to analyze public sentiment toward the housing allowance policy for members of the House of Representatives of the Republic of Indonesia (DPR RI) on Instagram and to explain the role of public sentiment in the public policy formulation process. The study was motivated by widespread public opposition to the DPR RI housing allowance policy, which rapidly developed across social media platforms. A Mixed Methods Sequential Explanatory design was employed, combining sentiment analysis using the IndoBERT model on 6,645 Instagram comments with qualitative analysis based on Gadamerian Hermeneutics. The analysis was further supported by David Easton's Political System Model to examine the relationship between public sentiment and the public policy formulation process. The findings reveal that negative sentiment dominated public responses, accounting for 66.9% of all comments, followed by neutral sentiment at 24.2% and positive sentiment at 8.9%. The predominance of negative sentiment indicates a high level of public opposition to the policy. From the perspective of David Easton's Political System Model, public sentiment can be understood as a form of political input in the form of public demands that enter the political system and exert pressure on the policy formulation process. This study concludes that social media serves as a significant source of political input capable of influencing the public policy process. The study's contribution lies in integrating sentiment analysis, Gadamerian Hermeneutics, and David Easton's Political System Model to explain the relationship between digital public opinion and public policy formulation in Indonesia.
5078254192J0A023008CREATING ENGLISH DOCUMENTARY VIDEOS ABOUT ACTIVITIES AND HISTORY OF RADIO REPUBLIK INDONESIA PURWOKERTOProgram praktik kerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto yang dilaksanakan selama tiga bulan, mulai dari 4 Agustus hingga 31 Oktober 2025, memberikan pengalaman langsung kepada penulis dalam bidang penyiaran dan produksi media digital. Selama kegiatan magang, penulis terlibat dalam berbagai aktivitas di Divisi Pemberitaan dan Penyiaran, termasuk penulisan berita, peliputan lapangan, serta pembuatan konten promosi untuk program siaran.
Sebagai proyek akhir praktik kerja, penulis menghasilkan tiga video dokumenter berbahasa Inggris mengenai kegiatan dan sejarah RRI Purwokerto. Video-video tersebut membahas program siaran dan aktivitas harian, kegiatan off-air serta kolaborasi komunitas, serta sejarah dan kontribusi sosial RRI Purwokerto. Proyek ini bertujuan untuk memperkenalkan RRI Purwokerto kepada audiens yang lebih luas, khususnya audiens internasional, melalui penyajian informasi yang menarik dan mudah dipahami.
Selama pelaksanaan proyek, penulis menerapkan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data yang relevan. Proses produksi dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu pre-production, production, dan post-production, yang meliputi pengembangan konsep, penulisan naskah, pembuatan storyboard, pengambilan video, pembuatan voice-over, serta editing. Meskipun penulis menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan dokumentasi sejarah dan koordinasi publikasi, hambatan tersebut berhasil diatasi melalui pengumpulan data tambahan serta komunikasi yang efektif dengan pihak terkait.
The internship program at Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto, which was conducted over three months from August 4 to October 31, 2025, provided the writer with direct experience in broadcasting and digital media production. During the internship, the writer was involved in various activities in the News and Broadcasting Division, including news writing, field coverage, and the creation of promotional content for broadcasting programs.
As the final project of the internship, the writer produced three English documentary videos about the activities and history of RRI Purwokerto. These videos covered broadcasting programs and daily activities, off-air events and community collaborations, as well as the history and social contribution of RRI Purwokerto. This project aimed at introducing RRI Purwokerto to a wider audience, especially international viewers, by presenting engaging and accessible information.
Throughout the project, the writer applied observation, interview, and documentation methods to collect relevant data. The production process was carried out through three main stages pre-production, production, and post production, which included concept development, scriptwriting, storyboard creation, video recording, voice-over production, and editing. Although the writer encountered several challenges, such as limited historical documentation and publication coordination, these obstacles were successfully addressed through additional data collection and effective communication with the related parties.
5078354193C1H022028THE EFFECT OF WORK STRESS ON TURNOVER INTENTION WITH JOB BURNOUT AS A MEDIATING VARIABEL IN SALES EMPLOYEE AT HONDA MOTOR KOMPO PURBALINGGA DEALERPenelitian ini mengkaji pengaruh stres kerja terhadap niat berhenti kerja dengan kelelahan kerja sebagai variabel mediasi di antara karyawan penjualan di Dealer Honda Motor Kompo Purbalingga. Karyawan penjualan dituntut untuk mencapai target penjualan yang tinggi, bekerja dengan jam kerja fleksibel, dan terus berinteraksi dengan pelanggan, sehingga rentan terhadap stres kerja dan kelelahan kerja. Dengan berpedoman pada Teori Tuntutan-Sumber Daya Kerja (Job Demands–Resources/JD-R), penelitian ini mengusulkan bahwa tuntutan kerja yang berlebihan meningkatkan stres kerja, yang kemudian menyebabkan kelelahan kerja dan pada akhirnya memengaruhi niat berhenti kerja karyawan. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan menggunakan data survei yang dikumpulkan dari 40 karyawan penjualan yang dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS 4.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kelelahan kerja, kelelahan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat berhenti kerja, dan kelelahan kerja secara signifikan memediasi hubungan antara stres kerja dan niat berhenti kerja. Namun, pengaruh langsung stres kerja terhadap niat berhenti kerja tidak signifikan. Temuan ini menyoroti peran penting kelelahan kerja sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan stres kerja dengan niat karyawan untuk meninggalkan organisasi. Hasil ini diharapkan dapat memberikan implikasi praktis bagi para manajer dalam mengembangkan strategi untuk mengurangi kelelahan kerja karyawan dan meningkatkan retensi tenaga kerja, khususnya di industri penjualan otomotif.This study examines the effect of work stress on turnover intention with job burnout as a mediating variable among sales employees at Honda Motor Kompo Purbalingga Dealer. Sales employees are required to achieve demanding sales targets, work flexible hours, and continuously interact with customers, making them vulnerable to work stress and burnout. Guided by the Job Demands–Resources (JD-R) Theory, this study proposes that excessive work demands increase work stress, which subsequently leads to job burnout and ultimately influences employees' turnover intention. A quantitative approach was employed using survey data collected from 40 sales employees selected through purposive sampling. The data were analyzed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4.1. The findings indicate that work stress has a positive and significant effect on job burnout, job burnout has a positive and significant effect on turnover intention, and job burnout significantly mediates the relationship between work stress and turnover intention. However, the direct effect of work stress on turnover intention is not significant. These findings highlight the important role of job burnout as a psychological mechanism linking work stress to employees' intention to leave the organization. The results are expected to provide practical implications for managers in developing strategies to reduce employee burnout and improve workforce retention, particularly in the automotive sales industry.
5078454194K1A022075Kinetika Dan Isoterm Asam Humat Termodifikasi Selulosa Untuk Adsorpsi Zat Warna Malachite Green Limbah zat warna malachite green (MG) merupakan salah satu pencemar yang sulit terdegradasi dan berpotensi membahayakan lingkungan. Adsorpsi menggunakan adsorben berbasis bahan alam menjadi salah satu metode yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengisolasi asam humat dari tanah gambut Rawa Pening, ambarawa memodifikasinya dengan α-selulosa melalui metode kopresipitasi menggunakan ion Ca²+ dan Fe3+, serta mengevaluasi karakteristik dan kemampuan adsorpsinya terhadap malachite green. Karakterisasi dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Studi adsorpsi meliputi variasi komposisi adsorben, pH, waktu kontak, dan konsentrasi awal larutan, sedangkan analisis kinetika dan isoterm dilakukan menggunakan model Pseudo First Order (PFO), Pseudo Second Order (PSO), Langmuir, dan Freundlich. Asam humat hasil isolasi memiliki rendemen 4,8%, keasaman total 680 cmol/kg, gugus karboksilat 150 cmol/kg, dan gugus hidroksil fenolat 530 cmol/kg. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada komposisi asam humat/ α-selulosa 1:0,5 dan pH 7 dengan efisiensi adsorpsi 89,7072% serta kapasitas adsorpsi 22,5152 mg/g. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika Pseudo Second Order (R2 = 0,99887) dan isoterm Freundlich (R² = 0,9867), dan energi adsorpsi sebesar -6,07 kJ/mol yang menunjukkan interaksi adsorpsi cenderung berlangsung secara spontan dengan adsorpsi fisisorpsi pada permukaan heterogen. Komposit asam humat termodifikasi α-selulosa berpotensi sebagai adsorben ramah lingkungan untuk menghilangkan malachite green dari larutan.Malachite green (MG) is a synthetic dye that poses environmental risks due to its persistence and toxicity. Adsorption using natural-based adsorbents is considered an effective and environmentally friendly treatment method. This study aimed to isolate humic acid from Rawa Pening peat soil, modify it with α-cellulose through a coprecipitation method using Ca²⁺ and Fe³⁺ ions, and evaluate its characteristics and adsorption performance toward malachite green. The adsorbent was characterized using Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy and Scanning Electron Microscopy (SEM). Adsorption experiments were conducted by varying the adsorbent composition, solution pH, contact time, and initial dye concentration, while the adsorption kinetics and isotherms were analyzed using the Pseudo-First-Order (PFO), Pseudo-Second-Order (PSO), Langmuir, and Freundlich models. The isolated humic acid showed a yield of 4.8%, total acidity of 680 cmol/kg, carboxyl group content of 150 cmol/kg, and phenolic hydroxyl group content of 530 cmol/kg. The optimum adsorption conditions were obtained at a humic acid/α-cellulose ratio of 1:0.5 and pH 7, achieving an adsorption efficiency of 89.7072% and an adsorption capacity of 22.5152 mg/g. The adsorption process followed the Pseudo-Second-Order kinetic model (R² = 0.99887), and the Freundlich isotherm model (R² = 0.9867), and an adsoption energy of -6,04 kJ/mol, indicating that the adsorpption process tends to occur spontaneusly through physisorption on a heterogeneous surface. The α-cellulose-modified humic acid composite has potential as an environmentally friendly adsorbent for removing malachite green from aqueous solutions.
5078554195F1B022043Internalisasi Nilai Budaya Organisasi di Kantor Pertanahan Kabupaten BanjarnegaraBerdasarkan data Indeks Reformasi Birokrasi terlihat adanya peningkatan capaian reformasi birokrasi setiap tahunnya yang menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan di Indonesia. Dengan adanya reformasi birokrasi akan memberikan pengaruh dan dampak yang positif terhadap pelayanan publik. Keberhasilan organisasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik salah satunya tercermin dari kesesuaian antara nilai-nilai budaya organisasi dan praktik kerja sehari-hari. Nilai-nilai budaya organisasi yang dijunjung pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara yaitu nilai Melayani, Profesional, dan Terpercaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan internalisasi nilai budaya organisasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara dan menganalisis faktor penghambatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai budaya organisasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara telah berlangsung, namun belum sepenuhnya terinternalisasi secara optimal sebagai budaya kerja yang kuat pada seluruh pegawai.
Kata Kunci: Budaya Kerja Pegawai, Internalisasi, Nilai Budaya Organisasi
Based on the Bureaucratic Reform Index data, there is an increase in the achievements of bureaucratic reform every year, which shows the government's commitment to improving governance in Indonesia. The existence of bureaucratic reform will have a positive influence and impact on public services. The success of an organization in providing public services is reflected in the compatibility between organizational cultural values and daily work practices. The organizational cultural values upheld by employees of the Banjarnegara Regency Land Office are the values of Service, Professionalism, and Trustworthiness. This study aims to describe the internalization of organizational cultural values at the Banjarnegara Regency Land Office and to analyze the inhibiting factors. The research method used is descriptive qualitative. The study concludes that the internalization of organizational cultural values at the Banjarnegara Regency Land Office has taken place; however, these values have not yet been fully and optimally internalized as a strong work culture among all employees.
Keywoard: Employee Work Culture, Internalization, Organizational Cultural Values
5078654196F1F022019Sekuritisasi Isu Overpopulasi Spesies Kuda Nil Terhadap Ancaman Keamanan Lingkungan di Kolombia (2020-2023)Overpopulasi spesies Kuda Nil (Hippopotamus amphibius) di Kolombia menimbulkan ancaman terhadap keamanan lingkungan, biodiversitas asli, ekosistem, dan masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses sekuritisasi isu overpopulasi Kuda Nil sebagai sebagai respons kebijakan keamanan lingkungan Pemerintah Kolombia pada periode 2020-2023. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik studi kepustakaan dan data tracing. Analisis menggunakan teori sekuritisasi Buzan, Waever, dan de Wilde melalui identifikasi pada aktor sekuritisasi, ancaman eksistensial, objek rujukan, tindak tutur, audiens, dan penerapan kebijakan di luar aturan politik normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Kolombia, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan (Minambiente), melakukan upaya pembentukan ancaman terhadap overpopulasi spesies Kuda Nil sebagai ancaman keamanan lingkungan melalui Resolución No. 0346 de 2022. Kebijakan pengendalian kemudian dilakukan melalui sterilisasi, relokasi, dan euthanasia. Meskipun memperoleh legitimasi, proses sekuritisasi masih mengalami penolakan dari sebagian kelompok masyarakat dan organisasi perlindungan satwa. Dengan demikian, sekuritisasi isu overpopulasi spesies Kuda Nil berhasil pada tingkat institusional, tetapi masih menghadapi dinamika penerimaan di tingkat sosial.The overpopulation of the hippopotamus (Hippopotamus amphibius) in Colombia poses a threat to environmental security, native biodiversity, ecosystems and local communities. This study aims to analyse the process of securitization of the issue of hippopotamus overpopulation as a response to the Colombian Government’s environmental security policies during the period 2020–2023. This study employs a descriptive qualitative method using literature review and data tracing techniques. The analysis utilises the securitisation theory of Buzan, Waever and de Wilde by identifying the securitizing actors, existential threat, referent object, speech act, audience, and the extraordinary measures. The research findings indicate that the Colombian Government, specifically the Ministry of the Environment and Sustainable Development (Minambiente), has sought to frame the overpopulation of the hippopotamus as an environmental security threat through Resolución No. 0346 de 2022. Control measures were subsequently implemented through sterilisation, relocation and euthanasia. Although it has gained legitimacy, the securitization process still faces opposition from certain sections of society and animal welfare organisations. Thus, the securitization of the issue of hippopotamus overpopulation has been successful at the institutional level, but still faces challenges regarding acceptance at the social level.
5078754197E2A022053Perlindungan Hukum Bagi Pejuang Lingkungan Melalui Mekanisme Anti Slapp Terhadap Penegakan Hukum Pidana Lingkungan
Partisipasi pejuang lingkungan dalam melindungi lingkungan hidup telah dijamin secara konstitusional. Namun, dalam realitas pejuang lingkungan justru menghadapi kriminalisasi melalui SLAPP yang digunakan untuk membungkam partisipasi masyarakat. Konflik yang sejatinya bermula dari adanya protes (partisipasi publik) terhadap kerusakan/pencemaran lingkungan dialihkan menjadi tindak pidana biasa. Oleh karena itu diperlukan instrumen hukum yang memberikan perlindungan hukum secara preventif yang berpihak terhadap pejuang lingkungan dalam mempertahankan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan dianalisis secara kualitatif. Sumber data diperoleh dari peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta putusan- putusan pengadilan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Anti SLAPP belum berjalan efektif akibat adanya disfungsi secara substansi, struktur dan budaya sehingga belum mampu memberikan perlindungan hukum terhadap pejuang lingkungan. Tesis ini merekomendasikan agar dilakukan rekonstruksi terhadap ketentuan Pasal 24 ayat (2) KUHAP yang memberikan landasan hukum kepada penyidik kepolisian untuk menghentikan penyidikan jika terdapat indikasi SLAPP agar pejuang lingkungan terlindung dari upaya kriminalisasi saat memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Tesis ini juga merekomendasikan agar Anti SLAPP dikualifikasikan sebagai alasan pembenar.The participation of environmental activists in protecting the environment is constitutionally guaranteed. However, in reality, environmental activists face criminalization through SLAPPs, which are utilized to silence public participation. Conflicts that fundamentally originate from protests (public participation) against environmental damage or pollution are diverted into ordinary criminal offenses. Therefore, legal instruments are required to provide preventive legal protection that favors environmental activists in maintaining a good and healthy environment. This research employs a normative juridical approach analyzed qualitatively. Data sources were obtained from statutory regulations, legal doctrines, and relevant court decisions. The results of the study indicate that the implementation of Anti-SLAPP has not run effectively due to dysfunctions in substance, structure, and culture, thus failing to provide adequate legal protection for environmental activists. This thesis recommends the reconstruction of the provisions of Article 24 paragraph (2) of the Criminal Procedure Code (KUHAP) to provide a legal basis for investigating officers to terminate investigations if there are indications of a SLAPP, thereby protecting environmental activists from criminalization efforts while striving for a good and healthy environment. This thesis also recommends that Anti-SLAPP be qualified as a justification defense.
5078854200P2H024013EVALUASI EFEKTIVITAS DAN STRATEGI
PEMBERDAYAAN PROGRAM KEMITRAAN DI
PERUSAHAAN EKSPOR GULA SEMUT
DI CV. HUGO INOVASI KABUPATEN BANYUM
Pengembangan agroindustri gula semut sebagai komoditas ekspor yang
mampu meningkatkan nilai tambah kelapa dan kesejahteraan pengrajin. CV. Hugo
Inovasi sebagai perusahaan eksportir gula semut organik telah membangun
program kemitraan dengan 416 pengrajin di Kabupaten Banyumas melalui
pendampingan, pelatihan, penerapan standar mutu, serta jaminan pemasaran.
Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai permasalahan mutu
yang menyebabkan produk mengalami reject di pasar ekspor, seperti adanya
kandungan sulfit, pencampuran gula pasir, kontaminasi gluten, dan logam.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas program kemitraan dan
pemberdayaan masih perlu dievaluasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan
untuk Mengevaluasi efektivitas program pemberdayaan kemitraan CV. Hugo
Inovasi menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) dan
Merumuskan strategi pemberdayaan yang tepat guna mendukung keberlanjutan
usaha gula semut ekspor melalui analisis SWOT dan QSPM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum program kemitraan CV. Hugo
Inovasi telah berjalan efektif. Evaluasi CIPP memperlihatkan bahwa aspek
Process memperoleh nilai efektivitas tertinggi karena perusahaan secara konsisten
melaksanakan pendampingan, pembinaan, pengawasan mutu, serta penerapan
Internal Control System (ICS). Meskipun demikian, pada aspek Product masih
ditemukan kendala berupa produk reject akibat kontaminasi sulfit, gula pasir,
gluten, dan logam sehingga menunjukkan bahwa implementasi standar mutu oleh
sebagian pengrajin belum sepenuhnya konsisten. Analisis SWOT menunjukkan
bahwa perusahaan memiliki kekuatan berupa sertifikasi organik, sistem kemitraan
yang kuat, jaringan ekspor, dan pendampingan kepada mitra. Peluang utama
berasal dari meningkatnya permintaan gula semut organik di pasar internasional,
sedangkan ancaman berasal dari persaingan pasar ekspor, perubahan standar
keamanan pangan, perubahan iklim, dan fluktuasi harga bahan baku. Berdasarkan
analisis QSPM, strategi prioritas yang direkomendasikan adalah memperkuat
sistem pemberdayaan melalui peningkatan pelatihan Good Manufacturing
Practices (GMP), sanitasi, keamanan pangan, penguatan Internal Control System
(ICS), peningkatan pengawasan mutu, serta peningkatan kepatuhan terhadap SOP
produksi sehingga kualitas gula semut memenuhi standar ekspor secara
berkelanjutan.
The development of coconut sugar agroindustry as an export commodity has
significant potential to increase the added value of coconut products and improve
the welfare of producers. CV. Hugo Inovasi, an exporter of organic coconut
sugar, has established a partnership program involving 416 producers in
Banyumas Regency through technical assistance, training, quality standard
implementation, and market guarantees. However, the program continues to face
quality-related issues that result in export product rejection, including sulfite
residues, adulteration with cane sugar, gluten contamination, and metal
contamination. These challenges indicate that the effectiveness of the partnership
and empowerment program requires comprehensive evaluation. This study aims
to evaluate the effectiveness of the partnership empowerment program
implemented by CV. Hugo Inovasi using the CIPP (Context, Input, Process,
Product) evaluation model and to formulate appropriate empowerment strategies
to support the sustainability of organic coconut sugar exports through SWOT and
QSPM analyses.
The findings indicate that, overall, the partnership program has been effectively
implemented. The CIPP evaluation shows that the Process component achieved
the highest effectiveness score due to the company's consistent implementation of
mentoring, capacity building, quality supervision, and the Internal Control System
(ICS). Nevertheless, the Product component still faces challenges, as export
products continue to be rejected because of sulfite residues, cane sugar
adulteration, gluten contamination, and metal contamination. This suggests that
quality standards have not yet been consistently implemented by all partner
producers. The SWOT analysis reveals that the company's main strengths include
organic certification, a well-established partnership system, an extensive export
network, and continuous technical assistance for producers. The major
opportunity is the growing international demand for organic coconut sugar, while
the main threats include increasing competition in the export market, stricter food
safety regulations, climate change, and fluctuations in raw material prices. Based
on the QSPM analysis, the priority strategy is to strengthen the empowerment
program through enhanced Good Manufacturing Practices (GMP) training,
sanitation and food safety improvement, reinforcement of the Internal Control
System (ICS), strengthened quality control, and greater compliance with Standard
Operating Procedures (SOPs) to ensure sustainable compliance with export
quality standards.
5078953641D1A022182Pengaruh Perbedaan Umur Ayam Niaga Petelur Hy-Line Brown
terhadap Egg Mass dan Efisiensi Penggunaan Pakan di Hanan Farm
Purbalingga
Umur ayam niaga petelur menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi performa produksi, termasuk egg mass dan efisiensi penggunaan
pakan (EPP). Perbedaan umur ayam dapat menyebabkan perubahan kemampuan
produksi telur dan pemanfaatan pakan sehingga berpengaruh terhadap efisiensi
produksi. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai pengaruh umur ayam niaga
petelur terhadap egg mass dan EPP.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan umur ayam
niaga petelur Hy-Line Brown terhadap egg mass dan efisiensi penggunaan pakan
(EPP) sehingga dapat diperoleh informasi mengenai umur yang menghasilkan
performa produksi terbaik di Hanan Farm.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2025 di Hanan Farm,
yang berlokasi di Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten
Purbalingga, Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah 10.871 ekor ayam niaga
petelur strain Hy-Line Brown. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan empat perlakuan umur, yaitu 24 minggu (P1), 52 minggu (P2), 65
minggu (P3), dan 87 minggu (P4), serta tujuh ulangan. Parameter yang diamati
meliputi Egg Mass dan efisiensi penggunaan pakan (EPP). Data dianalisis
menggunakan analisis variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata
Jujur (BNJ).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan umur ayam niaga petelur
berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap egg mass dan EPP. Nilai egg mass
tertinggi diperoleh pada P2 (52 minggu) sebesar 59,14 g/ekor/hari, namun tidak
berbeda nyata dengan P3 (65 minggu) sebesar 56,61 g/ekor/hari. Nilai EPP tertinggi
juga diperoleh pada P2 sebesar 48,57%, sedangkan nilai terendah diperoleh pada P1
sebesar 41,98%.
Perbedaan umur ayam niaga petelur Hy-Line Brown berpengaruh
terhadap egg mass dan efisiensi penggunaan pakan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa umur 52 minggu memberikan performa produksi terbaik sehingga
informasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusanmanajemen pemeliharaan untuk meningkatkan efisiensi produksi pada usaha ayam niaga petelur.
The age of commercial laying hens is one of the factors influencing
production performance, including egg mass and feed efficiency (EPP). Differences
in hen age can lead to changes in egg production and feed utilization, thus affecting
production efficiency. Therefore, a study is needed to examine the effect of laying
hen age on egg mass and EPP.
This study aimed to examine the effect of Hy-Line Brown laying hens'
age on egg mass and feed efficiency (EPP) to determine the age at which the best
production performance is achieved at Hanan Farm.
This study was conducted on October 23, 2025, at Hanan Farm, located in
Pengadegan Village, Pengadegan District, Purbalingga Regency, Central Java. The
sample used was 10,871 Hy-Line Brown commercial laying hens. The study used a
Randomized Block Design (RBD) with four age 24 weeks (P1), 52 weeks
(P2), 65 weeks (P3), and 87 weeks (P4), with seven replications. Observed parameters
included egg mass and feed utilization efficiency (EPP). Data were analyzed using
analysis of variance (ANOVA) followed by an Honestly Significant Difference (HSD)
test.
The study showed that differences in the age of laying hens had a highly
significant effect (P<0.01) on egg mass and EPP. The highest egg mass value was
obtained in P2 (52 weeks) at 59.14 g/bird/day, but was not significantly different
from P3 (65 weeks) at 56.61 g/bird/day. The highest EPP value was also obtained
in P2 at 48.57%, while the lowest value was obtained in P1 at 41.98%.
Differences in the age of Hy-Line Brown laying hens affected egg mass
and feed utilization efficiency. The results of the study indicate that 52 weeks of age
provides the best production performance, so this information can be used as a basis
for making management decisions to improve production efficiency in laying hen
farming.
5079054201J0A023028Translating Website News Articles of the Banyumas Regency Communication and Information Office from Indonesian into EnglishLaporan proyek akhir ini disusun berdasarkan magang yang dilakukan di Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyumas pada tanggal 25 Agustus hingga 25 November 2025. Tujuan dari laporan magang ini adalah untuk menjelaskan proses penerjemahan, menerjemahkan berita dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, serta menguraikan masalah yang dihadapi dan solusi yang diterapkan selama proses penerjemahan.
Selama magang di Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyumas, penulis menggunakan tiga metode: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Terdapat beberapa tantangan dalam proses penerjemahan situs web berita tersebut, seperti mempertahankan nuansa budaya Banyumas dalam liputan berita terutama terkait ungkapan lokal, istilah tradisional, dan gaya komunikasi yang khas serta menemukan padanan yang tepat untuk istilah-istilah tertentu sambil tetap menjaga keakuratan, kesesuaian, dan keterbacaan, tanpa mengubah makna asli dari bahasa sumber.
Semua tantangan ini dapat diatasi dengan memberikan panduan serta menyertakan catatan singkat dalam tanda kurung atau penjelasan singkat untuk memberikan konteks budaya. Hasil dari proyek ini adalah enam artikel berita dalam bahasa Inggris. Situs-situs web ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber informasi mengenai layanan dan kebijakan pemerintah daerah, sehingga mudah dipahami oleh wisatawan mancanegara dan membuat mereka merasa lebih percaya diri, nyaman, serta tertarik untuk berkunjung. Produk-produk ini telah dipublikasikan di situs web Dinas Komunikasi dan Informasi Banyumas.


This final project report is based on an internship conducted at the Banyumas Regency Communication and Information Office from August 25 to November 25, 2025. The purposes of this job training report are to explain the translation process, to translate news from Indonesian into English, and to describe the problems encountered and the solutions applied during the translation.
During the implementation job training in Banyumas Regency Communication and Information Office, the writer employed three methods there are observation, interviews, and documentation. There were several challenges in the process of translating the news website, such as preserving the cultural nuances of Banyumas in the news coverage particularly regarding local expressions, traditional terms, and distinctive communication styles and finding appropriate equivalents for certain terms while maintaining accuracy,acceptability and readability, without altering the original meaning of the source language.
All of these challenges can be addressed by providing guidance and including brief notes in parentheses or short explanations to provide cultural context. The outcome of this project were six website news in English. These websites are expected to serve as a source of information about local government services and policies, making them easily understandable to international tourists so that they feel more confident, comfortable, and interested in visiting. These products were published on the Banyumas Communication and Information Office website.

5079154202K1A022030KAJIAN POTENSI PEWARNA ALAMI PADA ROTAN DARI DAUN KETAPANG DAN AKAR MENGKUDU Penggunaan pewarna sintetis pada industri kerajinan rotan masih banyak diterapkan
karena mampu menghasilkan warna yang beragam dan stabil. Namun, limbah yang
dihasilkan berpotensi mencemari lingkungan sehingga diperlukan alternatif
pewarna alami yang lebih ramah lingkungan, salah satunya berasal dari daun
ketapang (Terminalia catappa) dan akar mengkudu (Morinda citrifolia). Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak daun ketapang dan akar mengkudu
sebagai pewarna alami, mengkarakterisasi ekstrak, mengaplikasikannya pada
proses pewarnaan rotan, serta mengevaluasi efektivitasnya.
Penelitian meliputi ekstraksi bahan baku, karakterisasi ekstrak, identifikasi dan
analisis profil senyawa, aplikasi pewarnaan pada rotan, serta pengujian ketahanan
luntur terhadap pencucian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ekstraksi
menghasilkan 7,0 L ekstrak daun ketapang dan 7,8 L ekstrak akar mengkudu
dengan massa jenis masing-masing 1,0085 g/mL dan 1,0016 g/mL, serta tidak
berbeda nyata berdasarkan uji statistik (Sig. > 0,05). Ekstrak daun ketapang
berwarna cokelat kekuningan dengan panjang gelombang maksimum 455 nm pada
pengenceran ekstrak:akuades (1:10), sedangkan ekstrak akar mengkudu berwarna
cokelat kehitaman dengan panjang gelombang maksimum 415 nm pada
pengenceran ekstrak:akuades (1,5:10). Analisis Gas Chromatography–Mass
Spectrometry (GC-MS) dan Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan
bahwa kedua ekstrak memiliki profil senyawa yang berbeda. Aplikasi ekstrak pada
rotan menghasilkan variasi warna sesuai jenis ekstrak dan mordan, dengan
aluminium triformat menghasilkan warna yang lebih gelap dan ketahanan luntur
terhadap pencucian yang lebih baik dibandingkan tawas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ketapang dan akar mengkudu
berpotensi sebagai pewarna alami yang ramah lingkungan dan dapat menjadi
alternatif pengganti pewarna sintetis pada proses pewarnaan rotan.
Synthetic dyes are still widely used in the rattan handicraft industry because they
produce a wide range of stable colors. However, the wastewater generated from
their use may cause environmental pollution. Therefore, environmentally friendly
natural dyes are needed as alternatives, including those derived from ketapang
(Terminalia catappa) leaves and noni (Morinda citrifolia) roots. Nevertheless, the
characteristics of these extracts and their effectiveness as natural dyes for rattan
have not been fully investigated. This study aimed to evaluate the potential of
ketapang leaf and noni root extracts as natural dyes, characterize the extracts,
apply them to the rattan dyeing process, and assess their effectiveness.
The research involved extraction, extract characterization, compound
identification, compound profile analysis, application of the extracts to rattan, and
washing fastness testing. The extraction process produced 7.0 L of ketapang leaf
extract and 7.8 L of noni root extract, with densities of 1.0085 g/mL and 1.0016
g/mL, respectively, showing no significant difference (Sig. > 0.05). The ketapang
leaf extract was yellowish-brown with a maximum absorption wavelength of 455
nm at an extract-to-distilled water dilution ratio of 1:10, whereas the noni root
extract was dark brown with a maximum absorption wavelength of 415 nm at a
dilution ratio of 1,5:10. Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS) and
Principal Component Analysis (PCA) revealed distinct compound profiles between
the extracts. Application of the extracts to rattan produced different color shades
depending on the extract and mordant used. Aluminium triformate mordant
produced darker colors and better washing fastness than alum mordant.
The findings demonstrate that ketapang leaf and noni root extracts have promising
potential as environmentally friendly natural dyes and can serve as alternatives to
synthetic dyes for rattan dyeing.