Artikelilmiahs

Menampilkan 48.541-48.560 dari 48.724 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4854151951F1A022112Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Kemampuan Problem Solving dengan Tingkat Stres Akademik MahasiswaPenelitian ini bertujuan menjelaskan mengenai hubungan dukungan sosial teman sebaya dan kemampuan problem solving dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa. Metode yang digunakan berupa kuantitatif survei dengan sasaran yaitu mahasiswa FISIP Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2024. Total sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 268 mahasiswa yang ditentukan menggunakan teknik Proportionate random sampling. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa uji korelasi tau kendall pada variabel dukungan sosial teman sebaya yaitu sebesar -0,21 dengan nilai signifikansi sebesar 0,00. Serta, uji korelasi tau kendall pada variabel kemampuan problem solving yaitu didapatkan sebesar -0,13 dengan nilai signifikansi sebesar 0,03. Berdasarkan hasil analisis yang didapatkan, menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial teman sebaya dan kemampuan problem solving dengan tingkat stres akademik mahasiswa. Dukungan sosial secara optimal yang didapatkan mahasiswa dari teman sebaya mampu memberikan perasaan dihargai, diterima, meningkatkan motivasi, dan kepercayaan diri saat berada di lingkungan sosial, serta kemampuan problem solving atau pemecahan masalah mampu membantu mahasiswa dalam memahami dan mengambil keputusan terhadap berbagai masalah akademik dengan cara yang lebih tepat. Nilai korelasi yang didapatkan pada penelitian ini adalah cenderung rendah, sehingga penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya dan kemampuan problem solving bukanlah faktor utama dalam mengurangi stres akademik pada mahasiswa. Oleh karena itu, terdapat faktor lain yang lebih kuat dalam menentukan stres akademik pada mahasiswa, salah satunya faktor efikasi diri.This study aims to explain the relationship between peer social support and problem-solving skills with academic stress levels among students. The method used is a quantitative survey targeting students of the Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University, class of 2024. The total sample in this study was 268 students, determined using the proportionate random sampling technique. The results of the study revealed that the Kendall's tau correlation test on the peer social support variable was -0.21 with a significance value of 0.00. Meanwhile, the Kendall's tau correlation test on the problem-solving ability variable was -0.13 with a significance value of 0.03. Based on the analysis results obtained, there is a negative relationship between peer social support and problem-solving ability with the level of academic stress among students. Optimal social support received by students from their peers can provide them with a sense of appreciation and acceptance, increase their motivation and self-confidence in social settings, and improve their problem-solving skills, which can help them understand and make decisions about various academic issues in a more appropriate manner. The correlation values obtained in this study tended to be low, indicating that peer social support and problem-solving skills are not the main factors in reducing.
4854251953I1B022082PENGARUH TERAPI POSITIVE SELF-TALK DAN TERAPI GROUNDING TERHADAP SKOR KECEMASAN PADA MAHASISWA S1 KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Latar Belakang: Kecemasan merupakan respons emosional terhadap stres yang ditandai oleh perasaan tegang, pikiran khawatir berulang, serta perubahan fisiologis seperti peningkatan tekanan darah dan denyut jantung. Terapi positive self-talk dan terapi grounding adalah terapi non-farmakologi yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi positive self-talk dan terapi grounding terhadap tingkat kecemasan pada mahasiswa S1 Keperawatan tingkat akhir.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif true experimental dengan rancangan Two Group Pre-test-Post-test with control group design ini melibatkan 90 mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir Universitas Jenderal Soedirman yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner HARS yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test dan Mann u Whitney.
Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan yang signifikan pada kelompok intervensi (p < 0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang bermakna. Selanjutnya, uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan skor kecemasan post-test yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p < 0,05), dengan tingkat kecemasan kelompok intervensi lebih rendah. Disimpulkan bahwa kombinasi terapi positive self-talk dan grounding efektif dalam menurunkan kecemasan mahasiswa keperawatan tingkat akhir.
Kesimpulan: Terapi positive self-talk dan terapi grounding dapat menurunkan kecemasan pada mahasiswa keperawatan secara signifikan, sehingga terapi ini direkomendasikan untuk diterapkan oleh mahasiswa. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kecemasan dapat diturunkan menggunakan terapi non-farmakologis guna menjaga kestabilan psikologis pada mahasiswa.
Background: Anxiety is an emotional response to stress characterized by feelings of tension, recurring worry, and physiological changes such as increased blood pressure and heart rate. Positive self-talk therapy and grounding therapy are non-pharmacological interventions that can be used to reduce anxiety. This study aimed to examine the effect of positive self-talk therapy and grounding therapy on anxiety levels among final-year undergraduate nursing students.
Methods: This study employed a quantitative true experimental design using a two-group pre-test–post-test control group design. A total of 90 final-year undergraduate nursing students at Jenderal Soedirman University were selected using simple random sampling. Anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), which has been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and the Mann–Whitney U Test.
Results: The Wilcoxon test showed a significant reduction in anxiety scores in the intervention group (p < 0.05), while no significant change was found in the control group. Furthermore, the Mann–Whitney U test demonstrated a significant difference in post-test anxiety scores between the intervention and control groups (p < 0.05), with lower anxiety levels observed in the intervention group. These findings indicate that the combination of positive self-talk and grounding therapy is effective in reducing anxiety among final-year nursing students.
Conclusion: Positive self-talk therapy and grounding therapy significantly reduced anxiety levels among nursing students. Therefore, these therapies are recommended to be implemented by students. This finding confirms that anxiety can be reduced through non-pharmacological interventions to maintain psychological stability in nursing students.
4854351943F1D022079KONSISTENSI IDEOLOGI PARTAI REPUBLIK DALAM TRANSFORMASI KEBIJAKAN EKONOMI AMERIKA SERIKAT PADA PERIODE PERTAMA KEPEMIMPINAN DONALD TRUMP TAHUN 2017 - 2021Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsistensi ideologi Partai Republik (GOP) dari era awal kelahirannya hingga periode pertama kepemimpinan Donald Trump serta bagaimana konsistensi ideologi ini menjadi faktor utama pendorong adopsi kebijakan proteksionisme pada era Trump. Secara historis, kebijakan ekonomi GOP sering dianggap mengalami perubahan radikal dari proteksionisme era Lincoln menuju globalisme pasar bebas era Reagan, hingga kembali ke nasionalisme populis era Trump. Fenomena ini penting diteliti untuk membuktikan bahwa perubahan tersebut bukanlah pergeseran ideologi, melainkan adaptasi strategi ekonomi terhadap dinamika global. Dengan menggunakan kerangka Political Trilemma of the World Economy dari Dani Rodrik, penelitian ini membedah bagaimana Trump melakukan reposisi prioritas nasional untuk memulihkan kedaulatan nasional dan politik demokratis yang sempat terabaikan akibat integrasi ekonomi global yang terlalu dalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan teknik process tracing untuk melacak kesinambungan konsistensi ideologi dan transformasi kebijakan ekonomi Partai Republik (GOP). Penelitian ini menyimpulkan dua hal utama. Pertama, ideologi Partai Republik (GOP) menunjukkan konsistensi yang utuh pada prinsip nasionalisme ekonomi, era pasar bebas Reagan-Bush sejatinya hanyalah adaptasi taktis, sementara era Trump merupakan reaktivasi dari akar asli GOP pada abad ke-19. Kedua, konsistensi ideologi ini terbukti menjadi faktor pendorong utama dalam adopsi kebijakan proteksionis pada era Trump. Hal ini termanifestasi secara nyata melalui kebijakan proteksionis seperti pembatalan Trans-Pacific Partnership (TPP), penerapan tarif impor, dan renegosiasi North America Free Trade Agreement (NAFTA) menjadi United States-Mexico-Canada Agreement. This study aims to describe the ideological consistency of the Republican Party (GOP) from its inception to the first term of Donald Trump's presidency and how this ideological consistency became a major factor driving the adoption of protectionist policies during the Trump era. Historically, the GOP's economic policies are often considered to have undergone a radical shift from Lincoln-era protectionism to Reagan-era free-market globalism, and then back to Trump-era populist nationalism. This phenomenon is important to examine to prove that the change was not an ideological shift, but rather an adaptation of economic strategy to global dynamics. Using Dani Rodrik's Political Trilemma of the World Economy framework, this study examines how Trump repositioned national priorities to restore national sovereignty and democratic politics that had been neglected due to excessively deep global economic integration. This study uses qualitative methods and process tracing techniques to trace the continuity of ideological consistency and the transformation of the Republican Party's economic policies. This study concludes two main points. First, the Republican Party's (GOP) ideology demonstrates complete consistency in the principle of economic nationalism; the Reagan-Bush free-market era was merely a tactical adaptation, while the Trump era represents a reactivation of the GOP's original 19th-century roots. Second, this ideological consistency has proven to be a major driving factor in the adoption of protectionist policies during the Trump era. This is clearly manifested through protectionist policies such as the cancellation of the Trans-Pacific Partnership (TPP), the imposition of import tariffs, and the renegotiation of the North American Free Trade Agreement (NAFTA) into the United States-Mexico-Canada Agreement.
4854451945F1A022026Hubungan Budaya Sekolah dengan Tingkat Kedisiplinan Siswa SMA dan SMK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat kedisiplinan antara siswa SMA dan SMK. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, sementara analisis data dilakukan melalui uji statistik Chi Kuadrat. Hasil pengujian menunjukkan nilai Chi Kuadrat sebesar 6,897 dengan nilai signifikansi (p value) sebesar 0,009 yang lebih kecil dari 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, sehingga terdapat perbedaan tingkat kedisiplinan yang signifikan antara siswa SMA dan SMK. Selain itu, hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik budaya sekolah pada kedua jenis lembaga pendidikan tersebut. Budaya sekolah di SMK cenderung lebih terstruktur dan menekankan pembentukan disiplin kerja sebagai persiapan siswa memasuki dunia industri, sedangkan budaya sekolah di SMA lebih berorientasi pada penguatan aspek akademik dan persiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.This study aims to analyze the relationship between school culture and students’ levels of discipline at the senior high school (SMA) and vocational high school (SMK) levels. The research employs a quantitative approach using a survey method, and the data are analyzed through the Chi-square statistical test. The test results indicate a Chi-square value of 6.897 with a significance level (p-value) of 0.009, which is lower than 0.05. These findings support the research hypothesis and confirm a significant relationship between school culture and students’ disciplinary levels. In addition, the study reveals differences in the characteristics of school culture across the two types of educational institutions. School culture in vocational high schools tends to be more structured and emphasizes the development of work discipline as preparation for students entering the industrial workforce. In contrast, school culture in senior high schools is more oriented toward strengthening academic competencies and preparing students for higher education.
4854551947F1B022064Implementasi Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di Indonesia yang tercermin dari Indeks Persepsi Korupsi 2024 dengan skor 37 dari 100 menunjukkan perlunya penguatan reformasi birokrasi melalui pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP Unsoed) merupakan fakultas pertama di Unsoed yang mengimplementasikan Zona Integritas sejak tahun 2021, namun belum memperoleh predikat WBK secara resmi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Zona Integritas menuju WBK di FISIP Unsoed menggunakan teori implementasi kebijakan Ripley dan Franklin. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling melibatkan ketua Zona Integritas, tim Zona Integritas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan metode interaktif Miles dan Huberman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek Compliance (kepatuhan), implementor telah menunjukkan kepatuhan terhadap nilai-nilai Zona Integritas dengan penurunan praktik gratifikasi hingga 95% dan penerapan SOP pelayanan, meskipun pemahaman terhadap prosedur dan standar belum merata. Pada aspek What’s Happening (apa yang terjadi), implementasi melibatkan banyak aktor dengan koordinasi yang masih perlu ditingkatkan, dukungan anggaran terbatas, infrastruktur memadai namun perlu optimalisasi, serta sosialisasi yang belum menjangkau seluruh lapisan sivitas akademika. Kesimpulan: Implementasi Zona Integritas di FISIP Unsoed telah menunjukkan progres positif meskipun masih terdapat tantangan dalam pemerataan pemahaman, koordinasi antar aktor, keterbatasan anggaran, dan jangkauan sosialisasi yang perlu diperbaiki untuk mencapai predikat WBK.Background: The rise of Corruption, Collusion, and Nepotism (KKN) practices in Indonesia, as reflected in the 2024 Corruption Perception Index with a score of 37 out of 100, shows the need to strengthen bureaucratic reform through the development of Integrity Zones (ZI) towards Corruption-Free Areas (WBK). The Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Jenderal Soedirman (FISIP Unsoed) is the first faculty at Unsoed to implement the Integrity Zone since 2021, but has not received the WBK title officially. Objective: This study aims to describe the implementation of the Integrity Zone towards WBK at FISIP Unsoed using the theory of policy implementation of Ripley and Franklin. Methods: This study used a descriptive qualitative method with purposive sampling techniques involving the head of the Integrity Zone, the Integrity Zone team, lecturers, education staff, and students. Data was collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using Miles and Huberman's interactive methods. Results: The results of the study show that in the Compliance aspect, the implementer has shown compliance with the values of the Integrity Zone by reducing gratuity practices by up to 95% and implementing service SOPs, even though the understanding of procedures and standards is not even. In the What's Happening aspect, the implementation involves many actors with coordination that still needs to be improved, limited budget support, adequate infrastructure but needs optimization, and socialization that has not reached all levels of the academic community. Conclusion: The implementation of the Integrity Zone at FISIP Unsoed has shown positive progress even though there are still challenges in equitable understanding, coordination between actors, budget limitations, and the reach of socialization that need to be improved to achieve the WBK predicate.
4854651948F1A022113Hubungan Keaktifan Organisasi dan Fear Of Missing Out (FOMO) dengan Tingkat Stres Akademik MahasiswaPenelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keaktifan organisasi dan Fear of Missing Out (FOMO) dengan tingkat stres akademik mahasiswa FISIP Unsoed. Stres akademik menjadi salah satu persoalan yang kerap dialami mahasiswa sebagai dampak dari tingginya tuntutan akademik maupun non akademik selama masa perkuliahan. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini berjumlah 843 mahasiswa FISIP Unsoed abgkatan 2023 dan 2024 yang sedang aktif berorganisasi di kampus, dan di dapatkan sampel sebanyak 264 responden yang telah ditentukan melalui teknik sampling proportionate random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Tau Kendall dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kekatifan organisasi dengan stres akademik, dengan koefisien korelasi sebesar 0,148 dan nilai signifikansi sebesar 0,011. Selain itu, FOMO juga terbukti memiliki hubungan positif dan signifikan dengan stres akademik, dengan koefisien korelasi sebesar 0,219 dan nilai signifikasinsi sebesar 0,000. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi Tingkat keaktifan organisasi dan FOMO yang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula Tingkat stres akademik yang dialami. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mampu mengatur waktu secara efektif, menyeimbangkan beberapa peran yang dijalankan, serta dapat mengelola tekanan sosial agar proses akademik dapat berlangsung secara optimal.This study aims to examine the relationship between organizational activity and Fear of Missing Out (FOMO) with the academic stress levels of FISIP Unsoed students. Academic stress is one of the problems often experienced by students as a result of high academic and non-academic demands during their studies. This study uses a survey method with a quantitative approach. The population of this study consisted of 843 FISIP Unsoed students from the 2023 and 2024 cohorts who were actively involved in campus organizations, and a sample of 264 respondents was obtained using proportionate random sampling. The research data was collected through questionnaires and analyzed using Kendall's Tau correlation test with the help of the SPSS program. The results of this study indicate a positive and significant relationship between organizational activity and academic stress, with a correlation coefficient of 0.148 and a significance value of 0.011. In addition, FOMO was also found to have a positive and significant relationship with academic stress, with a correlation coefficient of 0.219 and a significance value of 0.000. These findings indicate that the higher the level of organizational involvement and FOMO among students, the higher their academic stress levels. Therefore, students need to be able to manage their time effectively, balance their various roles, and manage social pressures so that the academic process can run optimally.
4854751949F1B022003Pengaruh Kualitas Layanan Mobile Banking Livin' by Mandiri Terhadap Kepuasan Nasabah Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu Purwokerto Unsoed Perkembangan teknologi digital mendorong Bank Mandiri untuk berinovasi dalam
meningkatkan kualitas layanan berbasis digital, salah satunya melalui Livin’ by Mandiri
sebagai inovasi layanan perbankan digital. Namun, tingkat adopsi yang belum optimal
menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kualitas layanan aplikasi tersebut, karena
kondisi ini berpotensi mempengaruhi tingkat kepuasan nasabah. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh kualitas layanan Mobile Banking Livin’ by Mandiri
terhadap kepuasan nasabah Bank Mandiri Kantor Cabang Purwokerto Unsoed.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui
kuesioner kepada 97 responden. Data dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas,
uji korelasi, serta uji regresi ordinal. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas
layanan digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan baik
secara simultan maupun parsial, dengan kualitas layanan mempu mempengaruhi sebesar
56.5% terhadap tingkat kepuasan nasabah. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas
layanan merupakan faktor penting dalam membentuk kepuasan nasabah.
The development of digital technology has encouraged Bank Mandiri to innovate in
improving the quality of digital-based services, one of which is through Livin' by
Mandiri as an innovation in digital banking services. However, the suboptimal adoption
rate indicates the need to evaluate the quality of the application's services, as this
condition has the potential to affect customer satisfaction levels. This study aims to
determine the effect of the quality of Livin' by Mandiri Mobile Banking services on
customer satisfaction at Bank Mandiri's Purwokerto Unsoed Branch Office. This study
uses a quantitative method with data collection through questionnaires administered to
97 respondents. The data were analyzed using validity and reliability tests, correlation
tests, and ordinal regression tests. The results showed that digital service quality had a
positive and significant effect on customer satisfaction, both simultaneously and
partially, with service quality influencing 56.5% of customer satisfaction levels. These
findings confirm that service quality is an important factor in shaping customer
satisfaction.
4854851950I2A024006EVALUASI TERHADAP KETRAMPILAN DASAR KADER MENGGUNAKAN BUKU KIA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANYUMAS KABUPATEN BANYUMASAbstrak
EVALUASI TERHADAP KETRAMPILAN DASAR KADER MENGGUNAKAN BUKU KIA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS
Latar belakang : Puskesmas Banyumas, Kabupaten Banyumas di wilayah kerjanya stunting masih merupakan masalah kesehatan yang signifikan. Kader posyandu yang telah dibekali keterampilan dasar menggunakan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk mengurangi stunting. Namun, hasil dari program pencegahan stunting masih belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bagaimana kader menggunakan buku KIA untuk mencegah stunting di wilayah kerja Puskesmas Banyumas.
Metodologi : Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada kegiatan posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), wawancara mendalam dengan kader posyandu, kelompok sasaran, bidan desa, dan petugas promosi kesehatan Puskesmas Banyumas. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengurangi, menyajikan, dan menarik kesimpulan berdasarkan temuan lapangan.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi terhadap implementasi ketrampilan dasar kader menggunakan buku KIA dalam upaya pencegahan stunting dengan model George Edward III. Identifikasi pola komunikasi sudah baik. Katagori konten yang mencakup ketrampilan dasar kader bagian ibu dan balita masih perlu ditingkatkan lagi kemapuan kader dalam menyampaikan isi pesan. Identifikasi sumber daya manusia diposyandu terdiri dari kader yang sangat beragam pengalaman dan kemampuannya, kolaborasi pelatihan dan pembinaan rutin, sumber daya anggaran PMT balita stunting, alokasi pembelian buku KIA kader, insentif kader yang masih perlu ditingkatkan, sarana dan prasarana posyandu telah memadai. Identifikasi sikap pelaksana, kader mempunyai semangat dan motivasi yang baik. Hasil penelitian juga menunjukan kuatnya motivasi kader dan masyarakat untuk aktif di posyandu, semangat membantu, senang bersosialisasi. Identifikasi birokrat respon positif dukungan birokrat untuk posyandu dan pencegahan stunting terwujud melalui edukasi dari berbagai pihak. Penilaian birokrat posyandu dilakukan melalui assessment kader, evaluasi pelaporan dan data kunjungan, pemantauan oleh puskesmas yang melibatkan monev rutin dan pelaporan.
Kesimpulan : Studi ini menemukan dalam evaluasi penerapan ketrampilan dasar kader menggunakan buku KIA, dalam hal komunikasi kader maka konten/ pesan masih perlu ditingkatkan dengan pelatihan,evaluasi secara berkesinambungan, sumber daya yang perlu ditingkatkan adalah insentif, pengadaan buku KIA untuk pegangan kader, pelatihan, Kerjasama lintas sektor masih perlu ditingkatkan antara pemerintah desa, puskesmas, PKK, PLKB untuk integrasi dan kolaborasi evaluasi ketrampilan dasar kader dalam upaya pencegahan stunting.
Kata kunci : Implementasi keterampilan dasar, Puskesmas Banyumas, kader posyandu, buku KIA, pencegahan stunting
Abstract
EVALUATION OF CADRE BASIC SKILLS IN USING KIA BOOKS IN STUNTING PREVENTION EFFORTS IN THE WORKING AREA OF BANYUMAS PUBLIC HEALTH CENTER, BANYUMAS REGENCY
Background : Banyumas Community Health Center (Puskesmas), Banyumas Regency, stunting remains a significant health problem. Integrated service post (Posyandu) cadres, equipped with basic skills, use the Maternal and Child Health (KIA) handbook to reduce stunting. However, the results of the stunting prevention program are still suboptimal. The purpose of this study was to evaluate how cadres use the KIA handbook to prevent stunting in the Banyumas Community Health Center's work area.
Methods : Data were collected through direct observation of Integrated Primary Service (ILP) Posyandu activities, in-depth interviews with Posyandu cadres, target groups, village midwives, and health promotion officers from the Banyumas Community Health Center. This research was conducted qualitatively using a case study approach. Data analysis was conducted thematically by reducing, presenting, and drawing conclusions based on field findings.
Results : The results of the study indicate that the evaluation of the implementation of basic skills of cadres using the KIA book in stunting prevention efforts with the George Edward III model. Identification of communication patterns is good. The content category that includes basic skills of cadres for mothers and toddlers still needs to be improved in the ability of cadres in conveying the message. Identification of human resources in the integrated health post (posyandu) consists of cadres with very diverse experiences and abilities, collaboration in routine training and coaching, budget resources for PMT for stunted toddlers, allocation of KIA book purchases for cadres, cadre incentives that still need to be improved, and adequate posyandu facilities and infrastructure. Identification of the attitude of implementers, cadres have good enthusiasm and motivation. The results also show the strong motivation of cadres and the community to be active in the posyandu, the spirit of helping, and enjoy socializing. Identification of bureaucrats' positive response to bureaucratic support for posyandu and stunting prevention is realized through education from various parties. The assessment of posyandu bureaucrats is carried out through cadre assessments, evaluation of reporting and visit data, monitoring by the health center involving routine monitoring and evaluation and reporting.
Conclusion : This study found that in the evaluation of the implementation of basic skills of cadres using KIA books, in terms of cadre communication, the content/message still needs to be improved with training, continuous evaluation, resources that need to be improved are incentives, procurement of KIA books for cadre guides, training, cross-sector cooperation still needs to be improved between village governments, health centers, PKK, PLKB for integration and collaboration in evaluating basic skills of cadres in efforts to prevent stunting.
Keywords : Implementation of basic skills, Banyumas Health Center, integrated health post cadres, KIA books, stunting.
4854951952F1B022013Proses Advokasi Kebijakan Publik "Tuntutan 17+8" melalui Platform Media Sosial InstagramAdvokasi kebijakan publik berbasis media sosial semakin berkembang sebagai bentuk partisipasi warga negara dalam merespons kebijakan publik yang dianggap tidak adil. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis proses advokasi kebijakan publik “Tuntutan 17+8” melalui platform media sosial Instagram dengan menggunakan kerangka advokasi Scott dan Maryman serta perspektif Administrasi Publik melalui paradigma New Public Service. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa analisis konten Instagram, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa advokasi “Tuntutan 17+8” efektif pada tahap critical awareness dan action dalam membangun kesadaran publik dan mobilisasi aksi kolektif. Namun demikian, tahap building relationship belum terinstitusionalisasi secara kuat, sementara tahap policy priorities shift dan controlling belum berjalan optimal. Advokasi cenderung berhenti pada tekanan simbolik dan diskursus publik tanpa mampu mendorong perubahan prioritas kebijakan dan pengawasan kebijakan yang berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa advokasi kebijakan digital memerlukan strategi jangka panjang, penguatan organisasi, dan integrasi dengan mekanisme kelembagaan agar mampu berkontribusi pada perubahan kebijakan yang substantifSocial media-based public policy advocacy has increasingly developed as a form of citizen participation in responding to public policies perceived as unjust. This article aims to analyze the advocacy process of the “17+8 Demands” public policy movement through the Instagram platform using Scott and Maryman’s advocacy framework and the New Public Service paradigm within Public Administration. This study employs a qualitative approach, utilizing Instagram content analysis, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. The findings indicate that the “17+8 Demands” advocacy was effective at the awareness and action stages in building public awareness and mobilizing collective action. However, the relationship stage was not strongly institutionalized, while the policy priorities shift and controlling stages did not function optimally. Advocacy tended to remain at the level of symbolic pressure and public discourse without successfully driving shifts in policy priorities or sustained policy oversight. These findings suggest that digital policy advocacy requires long-term strategies, organizational strengthening, and integration with institutional mechanisms to contribute to substantive policy change.
4855051954F1A021064Transisi Kepemudaan dalam Pilihan Karier: Studi Musisi Do it Yourself di Kota PurwokertoPemilihan karier pemuda di Indonesia tidak berlangsung secara otonom, melainkan melalui proses negosiasi dengan lingkungan sosial, terutama keluarga yang masih memandang pekerjaan formal sebagai indikator stabilitas dan keberhasilan. Kompleksitas ini semakin terlihat ketika pemuda memilih jalur karier nonkonvensional seperti musi do-it-yourself (DIY), yang menawarkan otonomi dan kreativitas namun dbarengin dengan ketidakpastian ekonomi. Artikel ini menganalisis proses transisi pemuda musisi DIY di Purwokerto menuju dunia kerja, negosiasi pilihan karier dengan keluarga, serta strategi adaptif yang dikembangkan untuk bertahan di tengah hambatan struktural dan budaya kerja formal. Penelitian ini menggunakan metode kualitati deskripti dengan pendekatan studi kasus dan kerangka teori generasi sosisal dari Karl Mannheim. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi participant as observer terhadap musisi DIY berusia 20-24 tahun yang masih menempuh pendidikan tinggi, infroman yang telah melewati fase transisi, serta orang tua informan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber. Temuan menunjukkan bahwa transisi pemuda DIY berlangsung melalui negosiasi antara aspirasi kreatif, tuntutan keluarga, dan keterbatasan ekosistem musik lokal, direspons melalui strategi adaptif yang memadukan kerja kreatif, kerja berupah, dan jejaring kolektif.Career choice among Indonesian youth does not occur autonomously but is shaped through negotiation with the surrounding social environment, particularly families that continue to regard formal employment as the primary marker of stability and success. This complexity becomes more pronounced when young people pursue non-conventional career paths such as do-it-yourself (DIY) music, which offers creative autonomy yet is marked by economic uncertainty. This article examines how DIY musicians in Purwokerto navigate their transition into the labour market, negotiate career choices with their families, and develop adaptive strategies to ope with structural constraints and dominant formal-work norms. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach and informed by Karl Mannheim’s theory of social generations, data were collected through in-depth interviews and participant-as-observer, observations involving DIY musicians aged 20-24 who are still enrolled in higher education, additional informants who have completed the transition phase, and parents of the main informants. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model with source triangulation. The finding reveal that DIY youth transitions involve ongoing negotiation between creative aspirations, familial expectations, and limitations within the local music ecosystem, addressed through adaptive strategies combining creative labour, paid work, and collective networks.
4855151955I2A022003Pengaruh Sanitasi Lingkungan Rumah, Karakteristik Individu, dan Dukungan Keluarga Terhadap Kejadian Tuberkulosis
di Wilayah Pesisir Pantai Kabupaten Cilacap
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan di wilayah pesisir yang memiliki karakteristik lingkungan dan sosial ekonomi yang khas. Kabupaten Cilacap merupakan salah satu daerah pesisir dengan jumlah kasus TBC yang relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sanitasi lingkungan rumah, karakteristik individu, dan dukungan keluarga terhadap kejadian TBC di wilayah pesisir Kabupaten Cilacap.
Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan kasus kontrol. Populasi kasus adalah seluruh responden yang terkonfirmasi TBC bakteriologis selama bulan September – Desember 2025. Sampel penelitian diambil dengan total sampling sebanyak 164 penderita TBC dan 164 tetangga penderita sehingga didapatkan rasio 1:1. Variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status merokok, riwayat kontak dengan pasien TBC, dukungan keluarga, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, ventilasi, dan pencahayaan. Variabel dependen adalah kejadian TBC di wilayah pesisir. Data penelitian berupa data sekunder (SITB, TB-16, SKUDR) dan data primer (kuesioner penelitian). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil analisis menunjukkan variabel yang mempengaruhi kejadian TBC adalah pencahayaan (p value 0,000; OR = 7,690), status merokok (p value 0,000; OR = 3,531) dan ventilasi rumah (p value 0,000; OR = 3,314). Variabel yang tidak berpengaruh adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, riwayat kontak dengan pasien TBC, dukungan keluarga, suhu, kelembaban, dan kepadatan hunian.
Penelitian menunjukkan risiko TBC di wilayah pesisir yaitu pencahayaan, ventilasi, dan status merokok. Upaya pencegahan TBC perlu difokuskan pada perbaikan ventilasi rumah, pencahayaan dan pengendalian perilaku merokok.

Tuberculosis (TB) remains a public health problem in coastal areas that have distinctive environmental and socioeconomic characteristics. Cilacap Regency is one of the coastal regions with a relatively high number of TB cases. This study aimed to analyze the effects of household environmental sanitation, individual characteristics, and family support on the incidence of TB in the coastal area of Cilacap Regency.
This study used an analytical observational design with a case–control approach. The case population consisted of all respondents with bacteriologically confirmed tuberculosis (TB) during September–December 2025. The study sample was obtained using total sampling, involving 164 TB patients and 164 neighbors of the patients, resulting in a 1:1 ratio. The independent variables included age, sex, education, occupation, smoking status, history of contact with TB patients, family support, temperature, humidity, occupancy density, ventilation, and lighting. The dependent variable was the incidence of tuberculosis in coastal areas. The research data consists of secondary data (SITB, TB-16, SKUDR) and primary data (research questionnaire). Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression.
The results of the analysis showed that the variables influencing the incidence of tuberculosis were lighting (p-value 0.000; OR =7.690), smoking status (p-value 0.000; OR = 3.531), and home ventilation (p-value 0.000; OR = 3.314). Variables that were not associated with tuberculosis incidence included age, sex, education, occupation, history of contact with TB patients, family support, temperature, humidity, occupancy density, and housing crowding.
The study shows that the risk factors for tuberculosis in coastal areas are lighting, ventilation, and smoking status. Tuberculosis prevention efforts need to focus on improving home ventilation and lighting, as well as controlling smoking behavior.


4855251963J1D022018Fenomena Neologisme dalam Konten TikTok Tahun 2025Neologisme berfungsi sebagai sarana pembaruan kosakata yang muncul akibat perkembangan sosial, budaya, dan teknologi, khususnya dalam komunikasi digital. Media sosial TikTok menjadi salah satu ruang yang produktif dalam melahirkan neologisme karena tingginya intensitas interaksi, kreativitas pengguna, serta penyebaran bahasa yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan jenis neologisme yang digunakan oleh penutur bahasa Indonesia pada media sosial TikTok tahun 2025, meliputi neologisme morfosemantis, morfologi, semantis, dan pinjaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif karena menghasilkan data berupa satuan bahasa tertulis. Penelitian ini mendeskripsikan bentuk neologisme, proses pembentukannya, serta perubahan makna yang terjadi dalam konteks penggunaan di media sosial TikTok. Data penelitian berupa kata dan frasa yang mengandung neologisme yang digunakan oleh pengguna TikTok. Data tersebut dikumpulkan melalui teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dengan menyimak konten unggahan yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan, reduksi, klasifikasi berdasarkan jenis neologisme, analisis data, dan penarikan simpulan. Teknik analisis data menggunakan triangulasi teori, yaitu dengan membandingkan hasil temuan data dengan teori neologisme dan pembentukan kata. Jumlah keseluruhan data neologisme yang ditemukan sebanyak 43 data, terdiri atas 4 data neologisme morfosemantis, 14 data neologisme morfologi, 5 data neologisme semantis, dan 20 data neologisme pinjaman. Neologisme pinjaman merupakan yang paling dominan, menunjukkan kuatnya pengaruh globalisasi dan bahasa asing terhadap kosakata bahasa Indonesia di ruang digital. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian linguistik dan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya mengenai neologisme dalam komunikasi digital.Neologisms serve as a means of vocabulary renewal that arises as a result of social, cultural, and technological developments, particularly in digital communication. The social media platform TikTok has become a productive space for the creation of neologisms due to the high intensity of interaction, user creativity, and rapid language dissemination. This study aims to describe the forms and types of neologisms used by Indonesian speakers on TikTok in 2025, including morphosemantic, morphological, semantic, and loan neologisms. This study uses a qualitative method with a descriptive approach because it produces data in the form of written language units. This study describes the forms of neologisms, their formation processes, and the changes in meaning that occur in the context of their use on TikTok social media. The research data consists of words and phrases containing neologisms used by TikTok users. The data was collected through the free conversation observation technique (SBLC) by listening to relevant uploaded content. Data analysis was carried out through the stages of collection, reduction, classification based on the type of neologism, data analysis, and conclusion drawing. The data analysis technique used theory triangulation, which is comparing the data findings with the theory of neologism and word formation. The total number of neologisms found was 43, consisting of 4 morphosemantic neologisms, 14 morphological neologisms, 5 semantic neologisms, and 20 loan neologisms. Loan neologisms were the most dominant, indicating the strong influence of globalization and foreign languages on Indonesian vocabulary in the digital space. The results of this study are expected to enrich linguistic studies and serve as a reference for future researchers on neologisms in digital communication.
4855351956F2A024008Pentingnya Etika Publik, Akuntabilitas Publik Dalam Strategi Perencanaan Penggelolaan Kawasan Pelabuhan PenyebranganAbstrak
Dalam pengelolaan kawasan pelabuhan penyebrangan, etika publik
dan akuntabilitas menjadi elemen krusial dalam strategi perencanaan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran etika publik dalam
menciptakan transparansi dan kepercayaan masyarakat terhadap
pengelolaan sumber daya. Selain itu, akuntabilitas publik diharapkan
dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan mendukung
keputusan yang berorientasi pada kesejahteraan umum. Dengan
pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi praktik-
praktik terbaik dalam implementasi etika dan akuntabilitas, serta
tantangan yang dihadapi dalam konteks pengelolaan kawasan
pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-
prinsip etika dan akuntabilitas tidak hanya meningkatkan kinerja
pengelolaan, tetapi juga memperkuat legitimasi dan responsivitas
pemerintah dalam menghadapi dinamika sosial. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi pengelola
kawasan pelabuhan dalam merumuskan kebijakan yang lebih inklusif
dan berkelanjutan.
Kata Kunci : Akuntabilitas Publik
Etika Public
Staregi Perencanaan
Abstract
In the management of ferry port areas, public ethics and accountability are crucial elements in planning strategies. This study aims to analyze the role of public ethics in creating transparency and public trust in resource management. In addition, public accountability is expected to enhance community participation and support decisions oriented toward the public welfare. Using a descriptive-qualitative approach, this research explores best practices in the implementation of ethics and accountability, as well as the challenges faced in the context of port area management. The results indicate that the application of ethical principles and accountability not only improves management performance but also strengthens government legitimacy and responsiveness in addressing social dynamics. This study is expected to provide strategic recommendations for port area managers in formulating more inclusive and sustainable policies.

Keywords: Public Accountability; Public Ethics; Planning Strategy
4855451959E1A019309PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI IMPOR GULA (Studi Putusan Nomor 34/Pid.Sus-TPK/2025/PN Jkt.Pst.)
Tindak Pidana Korupsi merupakan sebuah fenomena pelanggaran hukum yang berulang kali terjadi dengan nilai yang fantastis. Kasus korupsi impor gula yang menjerat mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menimbulkan permasalahan yuridis mengenai pertimbangan hakim dalam menentukan unsur melawan hukum dan akibat hukum yang timbul dari putusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam menentukan unsur melawan hukum serta akibat hukum yang timbul atas putusan tindak pidana korupsi impor gula pada kasus Tom Lembong. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan terdiri atas data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majelis hakim dalam menentukan unsur melawan hukum mengadopsi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 yang menafsirkan unsur melawan hukum secara formil, yaitu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Terdakwa terbukti melanggar Keputusan Menperindag Nomor 527/MPP/Kep/09/2004, Permendag Nomor 117/M-DAG/PER/12/2015, Undang-Undang Perdagangan, dan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 karena menerbitkan persetujuan impor tanpa rapat koordinasi dan rekomendasi Kementerian Perindustrian. Namun, analisis menunjukkan perbuatan lebih tepat dikategorikan sebagai penyalahgunaan kewenangan dalam Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor. Akibat hukum putusan mencakup pidana penjara 4 tahun 6 bulan dan denda Rp750 juta, yang menimbulkan kerancuan pembedaan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor. Diperlukan kejelasan batasan unsur melawan hukum dan penyalahgunaan kewenangan, serta pedoman Mahkamah Agung untuk menciptakan kepastian hukum dalam pemberantasan korupsi.Corruption is a recurring legal violation involving enormous sums of money. The sugar import corruption case involving former Trade Minister Thomas Trikasih Lembong raises legal questions regarding judges’ considerations in determining unlawful elements and legal consequences arising from the verdict. This study aims to determine the legal considerations of judges in determining the elements of unlawfulness and the legal consequences arising from the verdict in the sugar import corruption case involving Tom Lembong. This study employs a normative legal method with a descriptive analytical research specification. The data used were secondary data obtained through a literature review. The results of the study show that in determining the unlawful elements, the panel of judges adopted Constitutional Court Decision Number 003/PUU-IV/2006, which interprets unlawful elements formally, namely as contrary to laws and regulations. The defendant was proven to have violated the Decree of the Minister of Trade and Industry Number 527/MPP/Kep/09/2004, Minister of Trade Regulation Number 117/M-DAG/PER/12/2015, the Trade Law, and Presidential Regulation Number 71 of 2015 by issuing an import permit without a coordination meeting and recommendation from the Ministry of Industry. However, an analysis shows that the act is more accurately categorized as abuse of authority under Article 3 of the Corruption Eradication Law. The legal consequences of the verdict include a prison sentence of 4 years and 6 months and a fine of Rp750 million, which causes confusion in distinguishing between Article 2 and Article 3 of the Corruption Eradication Law. Clarity is needed regarding the boundaries between unlawful acts and abuse of authority, as well as guidelines from the Supreme Court to create legal certainty in the eradication of corruption.
4855551958F1D022031Analisis Ekonomi Politik Dedolarisasi Terhadap Hegemoni Amerika Serikat di ASEAN melalui Penggunaan Mata Uang LokalDominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama dalam sistem keuangan internasional telah lama menjadi fondasi hegemoni ekonomi AS. Namun, meningkatnya volatilitas global, penggunaan sanksi finansial, dan ketergantungan struktural terhadap dolar mendorong negara-negara untuk mencari alternatif mekanisme transaksi lintas batas. Di kawasan Asia Tenggara, respons tersebut tercermin melalui pengembangan skema Local Currency Settlement (LCS) oleh negara-negara ASEAN. Artikel ini menganalisis dedolarisasi melalui penggunaan mata uang lokal di ASEAN sebagai bentuk penyesuaian strategis terhadap dominasi dolar AS dengan menggunakan kerangka Political Economy Analysis (PEA). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan terhadap dokumen kebijakan, laporan statistik internasional, dan literatur akademik pada periode 2018–2026. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi PEA: (1)foundational features yang mengkaji posisi struktural dolar dalam perdagangan ASEAN; (2)rules of the game yang membahas perubahan kelembagaan melalui mekanisme LCS; (3) stakeholders and power yang menelaah peran aktor dan dinamika kekuasaan dalam proses dedolarisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa LCS berfungsi sebagai mekanisme institusional yang secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap dolar tanpa menantang hegemoni AS secara langsung. Dedolarisasi di ASEAN bersifat gradual dan mencerminkan strategi soft balancing yang bertujuan memperluas otonomi moneter regional sambil mempertahankan stabilitas sistem keuangan. Studi ini berkontribusi pada kajian ekonomi politik internasional dengan menunjukkan bahwa dedolarisasi di ASEAN lebih tepat dipahami sebagai proses penyesuaian struktural daripada pergeseran hegemoni global secara drastisThe dominance of the United States (US) dollar as the primary currency in the international financial system has long served as a foundation of US economic hegemony. However, rising global volatility, the increased use of financial sanctions, and structural dependence on the dollar have encouraged states to explore alternative cross-border transaction mechanisms. In Southeast Asia, this response has materialised through the development of the Local Currency Settlement (LCS) framework within ASEAN. This article examines dedollarisation through the use of local currencies in ASEAN as a strategic adjustment to US dollar dominance using a Political Economy Analysis (PEA) framework. Employing a qualitative descriptive method based on library research, this study analyses policy documents, international statistical reports, and academic literature from 2018 to 2026. The analysis is structured around three PEA dimensions: foundational features, which assess the structural position of the dollar in ASEAN trade; rules of the game, which examine institutional changes introduced by the LCS mechanism; and stakeholders and power, which explore actor dynamics and power relations in the dedollarisation process. The findings indicate that LCS functions as an institutional mechanism that gradually reduces reliance on the US dollar without directly challenging US hegemony. Dedollarisation in ASEAN is incremental in nature and reflects a soft balancing strategy aimed at expanding regional monetary autonomy while preserving financial stability. This study contributes to the international political economy literature by demonstrating that ASEAN’s dedollarisation represents a form of structural adjustment rather than a radical shift in the global monetary order.
4855651961F1B022011IMPLEMENTASI PROGRAM PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN SERTIFIKAT TANAH DI KABUPATEN BANYUMAS (Hambatan dan PermasalahanMeningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kepastian hukum atas tanah dan kualitas pelayanan publik mendorong pentingnya Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sebagai bentuk pelayanan publik di bidang pertanahan. Pelaksanaan PTSL di Kabupaten Banyumas melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari Kantor Pertanahan, tim perangkat desa/kelurahan, hingga masyarakat, dengan memanfaatkan digitalisasi (e-PTSL, GIS) untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi PTSL menggunakan kerangka Van Meter & Van Horn dan menilai keberhasilan program melalui prinsip-prinsip Asian Development Bank (ADB) yang mencakup Transparasi, Akuntabilitas, Prediktabilitas, dan Partisipasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar dan tujuan kebijakan PTSL telah ditetapkan dengan jelas, sumber daya dan teknologi mendukung pelaksanaan, dan komunikasi antar stakeholder berjalan cukup baik. Namun, hambatan seperti keterbatasan SDM, partisipasi masyarakat yang belum merata, pengawasan lapangan terbatas, serta konflik kepemilikan tanah masih terjadi. Analisis prinsip ADB menunjukkan bahwa keberhasilan PTSL dipengaruhi oleh partisipasi aktif masyarakat, digitalisasi administrasi, dan koordinasi antar stakeholder, sementara hambatan menghambat efektivitas implementasi program. Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan PTSL sudah cukup efektif, namun perlu perbaikan berkelanjutan dalam keterlibatan masyarakat dan pengawasan lapangan agar keberhasilan program lebih optimal.

The increasing public demand for legal certainty over land and quality public services has driven the importance of the Complete Systematic Land Registration Program (PTSL) as a form of public service in the land sector. The implementation of PTSL in Banyumas Regency involves various stakeholders, from the Land Office and village/sub-district apparatus teams to the community, utilizing digitalization (e-PTSL, GIS) to increase transparency, accountability, and efficiency. This study aims to analyze the implementation of PTSL using the Van Meter & Van Horn framework and assess the program's success through the Asian Development Bank's (ADB) principles of Transparency, Accountability, Predictability, and Participation. The study used a qualitative approach with observation, interviews, and documentation methods. The results show that the standards and objectives of the PTSL policy have been clearly defined, resources and technology support implementation, and communication between stakeholders is quite good. However, obstacles such as limited human resources, uneven community participation, limited field supervision, and land ownership conflicts still occur. Analysis of the ADB principles shows that the success of PTSL is influenced by active community participation, administrative digitalization, and coordination between stakeholders, while obstacles hamper the effectiveness of program implementation. Overall, the study concluded that the PTSL implementation has been quite effective, but ongoing improvements in community engagement and field supervision are needed to optimize the program's success.
4855751964I1A022031Evaluasi Program Integrasi Layanan Primer di Puskesmas Kebasen Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Kebijakan ILP ditetapkan melalui KMK/HK.01.07/MENKES/2015/2023 tentang Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer. Puskesmas Kebasen memiliki capaian rendah pada pelayanan diabetes dan AKB tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan input, proses, dan output pada program ILP di Puskesmas Kebasen dengan evaluasi pendekatan sistem.

Metodologi: Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kebasen pada bulan November-Desember 2026 dengan penentuan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling, didapatkan satu informan utama dan tiga informan pendukung. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan aplikasi OpenCode 4.02.

Hasil Penelitian: Implementasi ILP di Puskesmas Kebasen telah mengadopsi pendekatan siklus hidup secara bertahap di puskesmas, pustu dan posyandu, namun demikian masih terdapat hambatan. Hambatan utama meliputi distribusi kompetensi kader yang tidak merata, sarana, prasarana, tempat terbatas, sumber pendanaan belum mencukupi kebutuhan, serta topografi wilayah yang tidak rata menjadi penghalang dalam menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan. Pencatatan dan pelaporan masih double antara manual dan aplikasi digital.

Kesimpulan: Program ILP di Puskesmas Kebasen telah mengalami perkembangan yang positif, namun demikian masih menghadapi kendala dan hambatan. Penguatan pada sarana, infrastruktur tempat, pelatihan dan pemberdayaan kader, menggait lintas sektor serta penguatan komitmen lintas jejaring memperkuat layanan primer di Puskesmas Kebasen. Diperlukan penguatan kompetensi kader dan dukungan lintas sektor yang berkelanjutan agar ILP berjalan secara optimal.

Kata kunci: Evaluasi, Puskesmas, Program ILP

Background: The ILP policy was established through Decree No. KMK/HK.01.07/MENKES/2015/2023 concerning the Integration of Primary Health Care Services. Community Health Center Kebasen has reported low performance in diabetes services and a high infant mortality rate (IMR). This study aimed to evaluate the availability of inputs, processes, and outputs of the ILP program at Puskesmas Kebasen using a systems approach.

Methodology: This study was conducted at Community Health Center Kebasen from November to December 2026. Participants were selected using purposive sampling, resulting in one key informant and three supporting informants. Data were analyzed using thematic analysis with OpenCode version 4.02.

Results: The implementation of the ILP program at Community Health Center Kebasen has gradually adopted a life-cycle approach across the primary health center, auxiliary health centers (pustu), and integrated service posts (posyandu). However, several challenges remain. The main barriers include the uneven distribution of cadre competencies, limited facilities and infrastructure, inadequate space, insufficient funding, and uneven geographical topography, which hinders access to health care services. Recording and reporting systems are still conducted in duplicate, both manually and through digital applications.

Conclusion: The ILP program at Community Health Center Kebasen has shown positive progress; however, it continues to face several challenges. Strengthening facilities and infrastructure, enhancing cadre training and empowerment, fostering cross-sector collaboration, and reinforcing commitment across service networks are essential to strengthening primary health care services. Continuous improvement of cadre competencies and sustained cross-sector support are required to ensure the optimal implementation of the ILP program.

Keywords:, Evaluation, Community Health Center, ILP Program
4855851962I1A022067Determinan Loyalitas Pengunjung dalam Pemanfaatan Layanan Pada Klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat Tahun 2025Latar Belakang: Angka kunjungan lama Klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat tahun 2025 menunjukkan adanya fluktuasi jumlah kunjungan. Laporan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) menunjukkan penurunan kinerja pelayanan publik. Selain itu, terdapat keluhan pengunjung terkait waktu tunggu pelayanan yang mencapai sekitar 3 jam, lamanya proses pelayanan dan pemeriksaan, serta sikap petugas yang dinilai kurang ramah dan kurang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas pengunjung dalam pemanfaatan layanan pada klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dianalisis secara univariat, kemudian dilanjutkan analisis bivariat dengan uji chi-square, selanjutnya data diuji secara multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda. Data dianalisis secara analitik menggunakan Software Statistical Product and Service Solutions (SPSS)

Hasil Penelitian: Terdapat 2 variabel yang berhubungan dengan loyalitas pengunjung klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat yaitu persepsi nilai (p-value = 0,017) dan kepuasan (p-value = 0,042). Terdapat pengaruh antara variabel persepsi nilai (p-value = 0,019) dan loyalitas pengunjung klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat dengan nilai OR sebesar 2,703. Variabel kualitas layanan, kepercayaan, dan kepuasan tidak berpengaruh dalam penelitian ini.

Kesimpulan: Terdapat satu variabel yang memengaruhi loyalitas pengunjung klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat, yaitu variabel persepsi nilai (p-value = 0,019) dengan nilai OR sebesar 2,703. Pengunjung yang memiliki persepsi nilai baik 2,703 kali lebih loyal dalam memanfaatkan layanan pada klaster 3 Puskesmas Purwokerto Barat. Puskesmas disarankan untuk memperbaiki sistem antrean dan manajemen waktu, meningkatkan komunikasi pelayanan, serta menyederhanakan standar operasional pelayanan dan alur pelayanan.

Kata Kunci : Loyalitas, Puskesmas, Pemanfaatan Layanan
Background: The number of repeat visits to Cluster 3 of Purwokerto Barat Community Health Center (CHC) in 2025 showed fluctuations in visitor attendance. The Community Satisfaction Survey (CSS) report indicated a decline in public service performance, from 84.55 in the second semester of 2024 to 83.38 in the first semester of 2025. In addition, visitors reported complaints related to long waiting times of approximately three hours, lengthy service and examination processes, and staff attitudes perceived as less friendly and less professional. This study aimed to identify the factors influencing visitor loyalty in utilizing services at Cluster 3 of Purwokerto Barat Community Health Center.

Methodology: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data were analyzed using univariate analysis, followed by bivariate analysis using the chi-square test, and subsequently multivariate analysis using multiple logistic regression. Data analysis was conducted analytically using the Statistical Product and Service Solutions (SPSS) software.

Research Results: There were two variables associated with visitor loyalty at Cluster 3 Community Health Center (CHC) Purwokerto Barat, namely perceived value (p-value = 0.017) and satisfaction (p-value = 0.042). A significant effect was found between perceived value (p-value = 0.019) and visitor loyalty at Cluster 3 Puskesmas Purwokerto Barat, with an odds ratio (OR) of 2.703. Meanwhile, service quality, trust, and satisfaction did not show a significant effect in this study.

Conclusion: There was one variable that influenced visitor loyalty at Cluster 3 Community Health Center (CHC) Purwokerto Barat, namely perceived value (p-value = 0.019) with an odds ratio (OR) of 2.703. Visitors with a good perceived value were 2.703 times more likely to be loyal in utilizing services at Cluster 3 Puskesmas Purwokerto Barat. Community Health Center is advised to improve the queuing system and time management, enhance service communication, and simplify standard operating procedures and service flow.

Keywords: Loyalty, Community Health Center, Service Utilization
4855951975F1A022084HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN MAHASISWA FISIP UNSOEDKemandirian merupakan bekal mahasiswa untuk menghadapi tantangan dan rintangan selama perkuliahan. Namun, fenomena di lapangan menunjukkan tingkat kemandirian mahasiswa masih tergolong rendah hingga sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian mahasiswa FISIP Unsoed. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan jumlah sempel sebesar 275 mahasiswa angkatan 2024 yang ditentukan menggunakan rumus slovin dengan taraf kesalahan sebesar 5%. Data didapatkan melalui hasil kuesioner dan wawancara kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square, Contingency Coefficient, tabel distribusi frekuensi, dan tabel silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang banyak digunakan oleh orang tua mahasiswa adalah adalah pola asuh demokratis. Tingkat kemandirian mahasiswa tergolong tinggi terlihat dari beberapa hal seperti; kemampuan mengambil keputusan, kemampuan mengatasi masalah, manajemen waktu, dan tanggung jawab. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian mahasiswa FISIP Unsoed. Hipotesis pada penelitian ini yang berbunyi “terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kemandirian mahasiswa FISIP Unsoed” diterima. Namun nilai contingency coefficient termasuk ke dalam kategori lemah. Independence is a prerequisite for students to face challenges and obstacles during their studies. However, observations in the field show that the level of independence among students is still low to moderate. This study aims to determine the relationship between parenting styles and the level of independence among students at the Faculty of Social and Political Sciences, University of Jenderal Soedirman. The method used was a survey method with a sample size of 275 students from the 2024 batch, determined using the Slovin formula with a margin of error of 5%. The data was obtained through questionnaires and interviews and then analyzed using the Chi Square test, Contingency Coefficient, frequency distribution table, and cross table. The results showed that the most common parenting style used by the students' parents was democratic parenting. The students' level of independence was relatively high, as seen in several aspects, such as decision-making skills, problem-solving skills, time management, and responsibility. The results of the study show that there is a significant relationship between parenting styles and the level of independence of FISIP Unsoed students. The hypothesis in this study, which states that “there is a significant relationship between parenting styles and the level of independence of FISIP Unsoed students,” is accepted. However, the contingency coefficient value is classified as weak.
4856051965J1D021036Pelanggaran Prinsip Kesantunan dalam Interaksi Edukatif di Kelas V MI Pelita Insani MandirajaPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dan faktor-faktor penyebab pelanggaran kesantunan berbahasa dalam interaksi edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data berupa tuturan pendidik dan peserta didik dalam interaksi edukatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik SBLC, teknik rekam, dan teknik catat. Adapun teknik analisis data menggunakan teknik PUP dan hubung banding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk pelanggaran prinsip kesantunan yang terjadi dalam interaksi edukatif di kelas V MI Pelita Insani Mandiraja meliputi maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati, (2) faktor pelanggaran kesantunan yang terjadi dalam interaksi edukatif di kelas V MI Pelita Insani Mandiraja meliputi faktor kritik langsung, dorongan emosi, protektif terhadap pendapat pribadi, kesengajaan menuduh, dan kesengajaan memojokkan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa warga madrasah harus dibekali pengetahuan kesantunan dan faktor yang mempengaruhinya. Madrasah juga harus menyusun kebijakan, program, dan strategi pembinaan lebih mendalam mengenai kesantunan.This research aims to describe forms of violations of politeness principles and the factors that cause violations of language politeness in educational interactions. This research uses a qualitative descriptive approach. The data source is the speech of teachers and students in educational interactions. Data collection techniques use SBLC techniques, recording techniques and note-taking techniques. Data analysis techniques use PUP and comparison techniques. The results of the research show that (1) forms of violations of the principles of politeness that occur in educational interactions in class V MI Pelita Insani Mandiraja include the tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, and sympathy maxim, (2) factors of violations of politeness that occur in educational interactions in class V of MI Pelita Insani Mandiraja include factors of direct criticism, emotional encouragement, self-protection. opinionated, deliberately accused, and deliberately cornered. This finding means that madrasah residents must be equipped with knowledge about manners and the factors that influence them. Madrasas must also develop policies, programs and strategies for developing more in depth regarding politeness.