Artikelilmiahs

Menampilkan 48.501-48.520 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4850151911C1I020015The Role Of Technology Utilization As Moderating Factor Between Human Resources Competencies And Financial Management Of MSMEs In North PurwokertoPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh literasi keuangan, pendidikan, dan pengalaman usaha terhadap pengelolaan keuangan UMKM di Kecamatan Purwokerto Utara. Selain itu, penelitian ini juga menguji peran pemanfaatan teknologi sebagai variabel moderasi dalam memperkuat hubungan antara kompetensi sumber daya manusia dan pengelolaan keuangan UMKM. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Resource-Based View (RBV) dan teori kompetensi sebagai landasan teoritis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada pemilik UMKM di Purwokerto Utara. Populasi penelitian berjumlah 2.654 UMKM, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling. Jumlah responden yang dianalisis sebanyak 70 UMKM. Teknik analisis data yang digunakan meliputi uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, Moderated Regression Analysis (MRA), uji hipotesis (uji t dan uji F), serta uji koefisien determinasi (R²).This study aims to examine and analyze the effect of financial literacy, education, and business experience on the financial management of MSMEs in North Purwokerto District. Furthermore, this study investigates the role of technology utilization as a moderating variable in strengthening the relationship between human resource competencies and MSME financial management. This research is grounded in the Resource-Based View (RBV) theory and competency theory as the theoretical foundation. The data used in this study are primary data obtained through questionnaire distribution to MSME owners in North Purwokerto. The population consists of 2,654 MSMEs, and the sampling technique employed is convenience sampling. The data analysis techniques include validity and reliability tests, classical assumption tests, multiple linear regression analysis, Moderated Regression Analysis (MRA), hypothesis testing (t-test and f-test), and coefficient of determination (R²). The results of this study indicate that: (1) financial literacy has a positive effect on MSME financial management; (2) education does not have a positive effect on MSME financial management; (3) business experience has a positive effect on MSME financial management; (4) technology utilization does not moderate the relationship between business experience and financial management; (5) technology utilization does not moderate the relationship between education and financial management; and (6) technology utilization does not moderate the relationship between financial literacy and financial management.
4850251912I1E019062Pengaruh Latihan Menggunakan Media Kursi Terhadap Peningkatan Kemampuan Passing Bawah Siswa Ektrakurikuler SMP Negeri 4 PurwokertoLatar Belakang: Teknik passing bawah merupakan salah satu keterampilan dasar yang penting dalam permainan bola voli. Namun, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai teknik ini karena postur tubuh dan koordinasi yang kurang tepat. Oleh karena itu, diperlukan inovasi latihan menggunakan media sederhana seperti kursi untuk membantu memperbaiki posisi tubuh dan meningkatkan kemampuan passing bawah.
Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 24 siswa ekstrakurikuler bola voli SMP Negeri 4 Banyumas yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang mendapat latihan menggunakan media kursi dan kelompok kontrol yang berlatih tanpa media bantu. Data diperoleh melalui tes kemampuan passing bawah sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji t.
Hasil Penelitian : Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh signifikan latihan menggunakan media kursi terhadap peningkatan kemampuan passing bawah (Sig. 0,000 < 0,05).
Kesimpulan : Latihan passing bawah menggunakan media kursi terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan passing bawah siswa ekstrakurikuler bola voli SMP Negeri 4 Banyumas.
Background: The underhand pass (passing bawah) is one of the essential basic skills in volleyball. However, many students still face difficulties mastering this technique due to improper posture and coordination. Therefore, training innovations using simple media, such as chairs, are needed to help correct body positioning and improve underhand passing ability.Research Methodology: This study employed an experimental method with a pretest-posttest control group design. The subjects were 24 students from the volleyball extracurricular program at SMP Negeri 4 Banyumas, divided into two groups: an experimental group that received training using chair media and a control group that practiced without auxiliary media. Data were collected through underhand pass ability tests before and after the treatment, then analyzed using the t-test.Results: The analysis results indicated a significant effect of training using chair media on the improvement of underhand passing ability ($Sig. 0.000 < 0.05$).Conclusion: Underhand pass training using chair media is proven to have a significant impact on improving the underhand passing skills of volleyball extracurricular students at SMP Negeri 4 Banyumas.
4850351913I1C022060Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri In Vitro Fermentasi Kombucha Daun Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff)Daun ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan dan antibakteri. Fermentasi kombucha diketahui mampu meningkatkan aktivitas bioaktif berbagai bahan tanaman, namun kajian pada daun ungu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh fermentasi kombucha daun ungu terhadap aktivitas antioksidan dan antibakterinya. Simplisia daun ungu direbus untuk memperoleh rebusan daun ungu, kemudian difermentasi menjadi kombucha. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH dengan penentuan nilai IC₅₀, sedangkan aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Analisis statistik dilakukan menggunakan R Studio pada tingkat kepercayaan 95%, dengan uji paired t-test untuk data berdistribusi normal dan uji Wilcoxon signed-rank untuk data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi kombucha secara signifikan meningkatkan aktivitas antioksidan, ditandai dengan penurunan nilai IC₅₀ dari 0,58 ± 0,05% (b/v) menjadi 0,45 ± 0,03% (b/v) (p < 0,05). Aktivitas antibakteri juga meningkat terhadap E. coli dan S. aureus, dengan diameter zona hambat bertambah dari 1,17 ± 0,46 mm menjadi 3,08 ± 0,85 mm pada E. coli serta dari 0,69 ± 0,08 mm menjadi 1,72 ± 0,95 mm pada S. aureus, namun peningkatan yang signifikan secara statistik hanya terjadi pada E. coli (p < 0,05). Sebaliknya, tidak ditemukan aktivitas antibakteri terhadap B. cereus. Purple leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griff) contain bioactive compounds such as anthocyanins, tannins, and saponins that have potential as antioxidants and antibacterials. Kombucha fermentation is known to increase the bioactive activity of various plant materials, but studies on purple leaves are still limited. This study aims to evaluate the effect of purple leaf kombucha fermentation on its antioxidant and antibacterial activities. Purple leaf simplisia was boiled to obtain purple leaf decoction, which was then fermented into kombucha. Antioxidant activity was tested using the DPPH method with IC₅₀ value determination, while antibacterial activity was tested using the disc diffusion method against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, and Bacillus cereus. Statistical analysis was performed using R Studio at a 95% confidence level, with a paired t-test for normally distributed data and a Wilcoxon signed-rank test for non-normally distributed data. The results showed that kombucha fermentation significantly increased antioxidant activity, as indicated by a decrease in the IC₅₀ value from 0.58 ± 0,05% (w/v) to 0.45 ± 0,03% (w/v) (p < 0.05). Antibacterial activity also increased against E. coli and S. aureus, with the inhibition zone diameter increasing from 1.17 ± 0.46 mm to 3.08 ± 0.85 mm in E. coli and from 0.69 ± 0.08 mm to 1.72 ± 0.95 mm in S. aureus. but statistically significant increases were only observed in E. coli (p < 0.05). Conversely, no antibacterial activity was found against B. cereus.
4850451915E1A022005KOMPARASI PENERAPAN KONSEP TINDAKAN FAKTUAL DALAM PERADILAN TATA USAHA NEGARA
(Studi Putusan PTUN Semarang Nomor 68/G/TF/2022/PTUN.SMG dan Putusan PTUN Kendari Nomor 89/G/TF/2022/PTUN.KDI)
Perluasan kewenangan setelah berlakunya Undang-Undang Administrasi Pemerintahan yang mencangkup Onrechtmatige Overheidsdaad berkaitan dengan tindakan faktual dalam Pasal 87 huruf a yang tidak diikuti definisi lebih lanjut dapat menjadi indikasi lemahnya aturan terkait dengan tindakan faktual yang mana hal tersebut berdampak pada penerapan tindakan faktual dalam lingkup Peradilan Tata Usaha Negara sebagai contoh putusan nomor 68/G/TF/2022/PTUN.SMG dan putusan nomor 89/G/TF/2022/PTUN.KDI. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis maksud tindakan faktual sebagai objek perluasan kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara serta melakukan komparasi penerapan konsep tindakan faktual dalam kedua putusan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, pendekatan konseptual, dan pendekatan komparatif. Tindakan faktual sebagai bagian dari perluasan kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara merupakan perbuatan nyata yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pejabat pemerintahan dalam menjalankan tugasnya merupakan bagian dari kewenangan Peratun diperkuat oleh PERMA Nomor 2 Tahun 2019, hasil Komparasi perbedaan penerapan konsep tindakan faktual terletak pada ratio decidendi hakim dalam menentukan alat uji terhadap Putusan Nomor 68/G/TF/2022/PTUN.SMG dan Putusan Nomor 89/G/TF/2022/PTUN.KDI dipengaruhi oleh kelengkapan aturan. Sebaiknya Mahkamah Agung memperkuat pedoman kriteria serta tata cara penilaian terhadap tindakan faktual, hakim dalam menggunakan batu uji sebaiknya dituangkan secara transparan dalam Putusan agar dapat dipahami secara jelas.The expansion of authority after the enactment of the Administrative Government Law covering Onrechtmatige Overheidsdaad (Unlawful Government Acts) related to factual actions in Article 87 letter a, which is not followed by a further definition, may be an indication of weak regulations related to factual actions, which has an impact on the application of factual actions within the scope of the Administrative Court, for example, decision number 68/G/ TF/2022/PTUN.SMG and decision number 89/G/TF/2022/PTUN.KDI. Based on these conditions, this study aims to analyze the meaning of factual actions as the object of the expansion of the authority of the Administrative Court and to compare the application of the concept of factual actions in the two decisions. This research is normative legal research using a legislative approach, a case approach, a conceptual approach, and a comparative approach. Factual actions as part of the expansion of the authority of the Administrative Court are real actions taken or not taken by government officials in carrying out their duties, which are part of the authority of the Administrative Court, as reinforced by PERMA Number 2 of 2019. The results of the comparison of the differences in the application of the concept of factual actions lie in the ratio decidendi of the judges in determining the test instruments for Decision Number 68/G/TF/2022/PTUN.SMG and Decision Number 89/G/TF/2022/PTUN.KDI, which are influenced by the completeness of the rules. It is recommended that the Supreme Court strengthen the criteria guidelines and procedures.
4850551914E1A022089TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENERAPAN DARK PATTERN DALAM PERJANJIAN ASURANSI DIGITAL PADA TRANSAKSI E-COMMERCEPertumbuhan pesat e-commerce di Indonesia mendorong integrasi berbagai layanan tambahan, termasuk asuransi digital dalam proses transaksi e-commerce yang sering kali menerapkan dark pattern, yakni desain antarmuka manipulatif yang mengarahkan konsumen pada keputusan yang tidak sepenuhnya rasional. Penelitian bertujuan untuk menganalisis praktik penerapan dark pattern dalam perjanjian asuransi digital di Indonesia dan implikasinya terhadap pemenuhan syarat sah perjanjian, serta bentuk perlindungan hukum bagi konsumen atas penerapan dark pattern.
Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data bersumber pada data sekunder berupa bahan hukum yang diperolah melalui studi kepustakaan. Pengolahan data mencakup reduksi dan klasifikasi data, yang kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan dark pattern oleh sejumlah platform e-commerce dalam penawaran produk asuransi digital melalui mekanisme pre-ticked consent dan sneak into basket, mengakibatkan cacat kehendak karena persetujuan lahir dari kehendak yang tidak bebas, sehingga perjanjian berpotensi dapat dibatalkan. Praktik dark pattern melanggar syarat sah perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan hak konsumen atas informasi yang benar sesuai Undang-Undang Perlindungan Konsumen, serta dapat dikategorikan sebagai klausula baku yang dilarang. Perlindungan hukum terhadap praktik dark pattern mencakup sarana preventif melalui regulasi spesifik, pengawasan proaktif oleh lembaga negara, serta literasi dan edukasi sebagai bentuk pemberdayaan konsumen. Perlindungan secara represif dilakukan melalui mekanisme tuntutan ganti rugi. Penelitian menyarankan perlunya regulasi khusus mengenai dark pattern, pengawasan digital proaktif melalui audit antarmuka secara berkala, serta peningkatan literasi digital bagi masyarakat.
The rapid growth of e-commerce in Indonesia has encouraged the integration of various additional services, including digital insurance in e-commerce transactions, which often apply dark patterns, namely manipulative interface designs that lead consumers to make decisions that are not entirely rational. This study aims to analyze the practice of applying dark patterns in digital insurance agreements in Indonesia, its implications for the fulfillment of valid agreement requirements, and the form of legal protection for consumers regarding the application of dark patterns.
The research used a normative juridical method with descriptive analytical specifications. The data was sourced from secondary data in the form of legal materials obtained through literature studies. Data processing included data reduction and classification, which was then presented in the form of narrative text.
The analysis shows that a number of e-commerce platforms use dark patterns in offering digital insurance products through pre-ticked consent and sneak into basket mechanisms, resulting in defective consent because the consent is not freely given, thus potentially rendering the agreement voidable. The practice of dark patterns violates the valid requirements of agreements in Article 1320 of the KUHPerdata and consumers' rights to accurate information in accordance with the Consumer Protection Law, and can be categorized as prohibited standard clauses. Legal protection against dark pattern practices includes preventive measures through specific regulations, proactive supervision by state institutions, and literacy and education as a form of consumer empowerment. Repressive protection is carried out through compensation claim mechanisms. This study suggests the need for specific regulations on dark patterns, proactive digital supervision through periodic interface audits, and increased digital literacy for the public.
4850651916J1D022037Pemetaan Pembelajaran Bahasa Indonesia: Kesiapan Guru Merencanakan Pembelajaran Drama di Kelas XI SMA Negeri di Purbalingga Drama menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena berperan dalam mengembangkan keterampilan berbahasa siswa di kelas XI. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini terletak pada waktu yang terbatas dan materi drama cukup kompleks membuat guru kesulitan memahami tujuan dari pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di Kelas XI SMA negeri di Purbalingga dalam merencanakan pembelajaran drama. Bentuk penelitian ini adalah campuran (mixed methods). Data dalam penelitian ini berupa data angket persepsi guru dan dokumentasi perencanaan pembelajaran drama. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik angket, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan sequential explanatory. Hasil angket menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam merencanakan pembelajaran drama di angka 98%. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa guru Bahasa Indonesia yang mengajar di Kelas XI SMA negeri di Purbalingga sangat siap secara persepsi administratif. Namun, masih memerlukan penguatan dalam perencanaan pembelajaran drama khususnya di bagian lembar kerja peserta didik agar selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Drama is an important part of learning process because it plays a role in developing students' language skills in Grade XI. The problem underlying this study is the limited time and the complexity of the drama materials, which makes it difficult for teachers to understand the objectives of learning. This study aims to describe the readiness of Indonesian language teachers who teach in Grade XI at public High Schools in Purbalingga in planning drama lessons. This research is a mixed-methods study. The data in this study consists of teacher perception questionnaires and documentation of drama lesson plans. The data collection techniques used in this study are questionnaires, interviews, and documentation. The data analysis in this study uses sequential explanatory analysis. The questionnaire results show that teachers' readiness in planning drama lessons is at 98%. Based on this description, it can be concluded that Indonesian language teachers teaching in Grade XI of public High Schools in Purbalingga are very ready in terms of administrative perception. However, there is still a need to strengthen drama lesson planning, particularly in terms of student worksheets, to ensure alignment with the principles of the Merdeka Curriculum.

4850751917F1A022024Kisah Para Perempuan Disabilitas Di Dunia Kerja (Analisis Fenomenologi Pada Anggota Komunitas Difalitera Surakarta)
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengalaman perempuan penyandang disabilitas netra dalam mengakses dan menjalani dunia kerja dengan menyoroti tantangan, hambatan, serta strategi bertahan yang mereka lakukan. Latar belakang penelitian didasarkan pada realitas diskriminasi berlapis akibat persilangan identitas gender dan disabilitas yang berdampak pada keterbatasan peluang kerja, minimnya akomodasi layak, serta kuatnya stigma sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan terdiri dari dua perempuan disabilitas netra anggota komunitas difabel di Surakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan disabilitas menghadapi hambatan multidimensional berupa keterbatasan peluang kerja, rendahnya pemahaman perusahaan, hambatan teknis visual, stigma sosial, dan tekanan psikologis di tengah dukungan struktural yang belum optimal. Untuk menghadapinya, mereka mengembangkan strategi adaptif melalui peningkatan keterampilan, penyesuaian kerja, ketahanan psikologis, serta dukungan komunitas. Temuan ini menegaskan pentingnya agensi individu dan kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan sistem ketenagakerjaan inklusif dan berkeadilan.
This study aims to examine the lived experiences of women with visual impairments in accessing and participating in the world of work, with a focus on the challenges, barriers, and survival strategies they employ. The background of the research is grounded in the reality of layered discrimination resulting from the intersection of gender and disability identities, which affects limited employment opportunities, the lack of reasonable accommodation, and persistent social stigma. The research adopts a qualitative approach using a phenomenological method. The informants consist of two visually impaired women who are members of a disability community in Surakarta. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that women with disabilities face multidimensional barriers, including limited job opportunities, low levels of employer awareness, visual technical constraints, social stigma, and psychological pressure amid insufficient structural support. To cope with these conditions, they develop adaptive strategies through skill enhancement, work adjustment, psychological resilience, and community support. These findings underscore the importance of individual agency and cross-sector collaboration in realizing an inclusive and equitable employment system.
4850851918I2B024009Pengembangan Buku Panduan SIAGA (Sistem Informasi Ambulans dan Gawat Darurat) Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Petugas Ambulans Desa Dalam Menghadapi Kondisi Gawat Darurat Di Wilayah PedesaanLatar Belakang: Belum tersedianya bahan ajar atau pedoman teknis yang mengatur secara khusus mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh petugas ambulans desa. Hal ini mengakibatkan adanya kesenjangan dalam pelaksanaan pemberian layanan kegawatdaruratan diwilayah pedesaan baik dari segi pengetahuan, sikap, keterampilan, maupun kesiapsiagaan petugas dalam menangani kondisi gawat darurat yang terjadi disekitarnya.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode pengembangan Research and Development (R&D). Pengembangan buku panduan SIAGA dilakukan dengan mengadaptasi model ADDIE sebagai dasar pengembangan, yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap pengembangan dilakukan validasi buku panduan oleh para ahli serta uji akseptabilitas kepada pengguna. Tahap implementasi dilakukan dengan penerapan buku panduan SIAGA kepada 30 orang petugas ambulans desa menggunakan desain pre-experimental one group pretest–posttest. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner pengetahuan dan sikap. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil: Buku yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang tinggi dan layak digunakan melalui uji akseptabilitas pengguna dengan nilai rata-rata 82,37% (sangat layak). Berdasarkan pengukuran, menunjukan adanya peningkatan yang signifikan, di mana kategori “cukup” pada aspek pengetahuan maupun sikap bergeser menjadi kategori “baik” setelah diberikan intervensi. Hasil uji statistik pada variabel pengetahuan menunjukkan nilai p value < 0.001 dan effect size (r) = 0,86 (besar) dan pada variabel sikap menunjukan nilai p value < 0.001 dan effect size (r) = 0,87 (besar).
Kesimpulan: Buku panduan SIAGA dinyatakan layak serta mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap pada petugas ambulans desa dalam menghadapi kondisi gawat darurat di wilayah pedesaan.
Background: There is currently no standardized teaching material or technical guideline that specifically regulates the competencies required for village ambulance officers. This condition results in disparities in the delivery of emergency services in rural areas, particularly in terms of knowledge, attitudes, skills, and preparedness of officers in handling emergency situations within their communities.
Methods: This study employed a Research and Development (R&D) approach. The development of the SIAGA guidebook was based on an adaptation of the ADDIE model, which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. During the development stage, the guidebook was validated by experts and tested for user acceptability. The implementation stage involved applying the SIAGA guidebook to 30 village ambulance officers using a preexperimental one-group pretest–posttest design. The instruments used included knowledge and attitude questionnaires. Data were analyzed using the Wilcoxon test.
Results: The developed guidebook demonstrated a high level of validity and was deemed feasible for use based on the user acceptability test, with an average score of 82.37% (very feasible). The measurements indicated a significant improvement, in which the “moderate” category in both knowledge and attitude shifted to the “good” category after the intervention. Statistical analysis showed that the knowledge variable had a p-value < 0.001 with a large effect size (r = 0,86), while the attitude variable also showed a p-value < 0.001 with a large effect size (r = 0,87).
Conclusion: The SIAGA guidebook is feasible for use and effective in improving the knowledge and attitudes of village ambulance officers in managing emergency conditions in rural areas
4850951919C1G021022THE ROLE OF INFRASTRUCTURE IN MODERATING THE DETERMINANTS OF RICE PRODUCTION IN INDONESIA Penelitian ini berjudul “The Role of Infrastructure in Moderating The Determinants of Rice Production” yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas panen, tenaga kerja pertanian, microcredit, dan nilai tukar petani terhadap produksi padi, serta menguji peran infrastruktur sebagai variabel moderasi dalam memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel pada 26 provinsi di Indonesia selama periode 2020–2024.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas panen berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi, yang menegaskan bahwa ketersediaan lahan masih menjadi faktor utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Tenaga kerja pertanian juga memberikan pengaruh positif terhadap produksi padi, mencerminkan pentingnya peran sumber daya manusia dalam mendukung kegiatan budidaya. Microcredit menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, yang mengindikasikan bahwa akses pembiayaan mampu membantu petani dalam memperoleh sarana produksi, mengadopsi teknologi, serta meningkatkan hasil produksi. Sementara itu, nilai tukar petani berpengaruh positif namun tidak signifikan, yang menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan relatif petani belum secara langsung mendorong peningkatan produksi padi.
Hasil pengujian moderasi menunjukkan bahwa infrastruktur tidak mampu memoderasi hubungan antara luas panen, tenaga kerja pertanian, microcredit, dan nilai tukar petani terhadap produksi padi. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun infrastruktur memiliki peran penting dalam mendukung sektor pertanian, keberadaannya belum cukup kuat untuk memperkuat pengaruh faktor-faktor produksi tersebut selama periode penelitian. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh ketimpangan pembangunan infrastruktur antar wilayah, keterbatasan akses di beberapa daerah, serta belum optimalnya pemanfaatan infrastruktur dalam proses produksi pertanian.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan dan perlindungan luas panen, penguatan akses pembiayaan bagi petani, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan faktor utama dalam mendorong peningkatan produksi padi di Indonesia. Meskipun infrastruktur memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian jangka panjang, perannya sebagai variabel moderasi belum optimal, sehingga diperlukan pembangunan infrastruktur yang lebih merata dan tepat sasaran. Implikasi kebijakan yang dapat dilakukan antara lain memperkuat perlindungan lahan pertanian, memperluas akses microcredit bagi petani, meningkatkan kualitas tenaga kerja pertanian, serta mengembangkan infrastruktur yang secara langsung mendukung kegiatan produksi seperti jaringan irigasi, sarana transportasi, dan fasilitas pascapanen guna mencapai peningkatan produksi padi yang berkelanjutan.
This research, entitled “The Role of Infrastructure in Moderating The Determinants of Rice Production” aims to analyze the influence of harvested area, agricultural labor, microcredit, and farmers’ terms of trade on rice production, as well as to examine the role of infrastructure as a moderating variable in strengthening or weakening these relationships. The study employs a quantitative approach using panel data regression analysis across 26 provinces in Indonesia over the period 2020–2024.
The findings indicate that harvested area has a positive and significant effect on rice production, confirming that land availability remains the primary determinant in increasing production capacity. Agricultural labor also shows a positive contribution, reflecting the continued importance of human resources in supporting farming activities. Microcredit demonstrates a positive and significant effect, indicating that access to financial support enables farmers to obtain inputs, adopt better technology, and improve production outcomes. Meanwhile, farmers’ terms of trade show a positive but insignificant effect, suggesting that improvements in price conditions and purchasing power have not directly translated into higher production levels.
The moderating test results reveal that infrastructure does not significantly moderate the relationship between harvested area, agricultural labor, microcredit, and farmers’ terms of trade on rice production. This indicates that although infrastructure development is important for agricultural activities, its role has not been strong enough to enhance the effectiveness of these production factors during the observed period. This condition may be influenced by unequal infrastructure distribution, limited accessibility in certain regions, and the fact that infrastructure benefits are not yet fully integrated into the production process.
The study concludes that expanding and maintaining harvested area, strengthening access to agricultural financing, and improving labor productivity remain key strategies for increasing rice production in Indonesia. Although infrastructure is essential for long-term agricultural development, its moderating role has not been optimal, highlighting the need for more targeted and equitable infrastructure development. Policy implications include strengthening agricultural land protection, expanding access to microcredit for farmers, improving the quality and skills of agricultural labor, and enhancing infrastructure development that directly supports production activities, such as irrigation systems, transportation networks, and post-harvest facilities, to ensure sustainable growth in national rice production.
4851051921J1D022006Nomina Deverbal dan Nomina Deadjektival dalam Buku Bicara itu Ada Seninya Karya Oh Su HyangPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap kaidah-kaidah pembentukan kata sebagai bagian dari kajian morfologi bahasa Indonesia, khususnya mengenai nomina deverbal dan nomina deadjektival. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk nomina deverbal dan nomina deadjektival serta makna afiks pembentuk nomina deverbal dan nomina deadjektival dalam buku Bicara itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan metode padan intralingual. Data penelitian ini berupa kata dan kalimat dalam buku Bicara itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang yang dianalisis berdasarkan teori Kridalaksana (2010). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik lanjutan, berupa teknik catat. Teknik keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi teori yaitu teori utama Kridalaksana (2010) dan teori pembanding Chaer (2014) serta teori lainnya yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nomina deverbal dan nomina deadjektival dalam buku Bicara itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang terbentuk melalui proses afiksasi derivatif dengan kecenderungan penggunaan afiks tertentu. Nomina deverbal paling banyak dibentuk melalui sufiksasi, sedangkan nomina deadjektival dominan dibentuk melalui konfiksasi. Makna gramatikal yang dihasilkan dari proses tersebut menunjukkan perubahan kelas kata dari verba dan adjektiva menjadi nomina yang menyatakan konsep tindakan maupun sifat secara lebih abstrak. Secara keseluruhan, proses afiksasi tersebut berperan penting dalam memperkaya kosakata nomina serta mendukung penyampaian gagasan komunikasi secara efektif dan sistematis.This study was motivated by the importance of understanding word formation rules as part of Indonesian morphological studies, particularly deverbal and deadjectival nouns. The objectives of this study are to identify the forms of deverbal and deadjectival nouns and to analyze the meanings of the affixes forming those nouns in the book entitled Bicara itu Ada Seninya by Oh Su Hyang. This study employs a qualitative descriptive approach and the intralingual matching method. The research data consists of words and sentences taken from the book of Bicara itu Ada Seninya by Oh Su Hyang which are analyzed based on Kridalaksana’s (2010) theory. The data were collected using the observation method with note-taking as the advanced technique. To ensure validity, this study applies theoretical triangulation, namely Kridalaksana’s (2010) theory as the main framework and Chaer’s (2014) comparative theory, along with other relevant theories. The results showed that deverbal nouns and deadjectival nouns in Oh Su Hyang's book Bicara itu Ada Seninya were formed through a process of derivational affixation with a tendency to use certain affixes. Deverbal nouns are mostly formed through suffixation, while deadjectival nouns are predominantly formed through confixation. The grammatical meaning resulting from these processes indicates a change in word class from verbs and adjectives to nouns that express more abstract concepts of action and property. Overall, these affixation processes play an important role in enriching the vocabulary of nouns and supporting the effective and systematic communication of ideas.
4851151922J0A022048Translation of Profile Menu of Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten BanyumasLaporan tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan praktik kerja industri yang dilaksanakan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas pada tanggal 26 Agustus – 27 Desember 2024. Kegiatan praktik kerja ini berfokus pada penerjemahan menu profil situs web Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan praktik kerja, proses serta Teknik penerjemahan menu profil situs web, serta hambatan dan solusi yang dihadapi selama proses penerjemahan.
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini meliputi observation, interview, and hands-on practice. Hasil dari kegiatan praktik kerja ini berupa produk terjemahan yang melalui tujuh (7) tahapan dan menggunakan tujuh (7) teknik penerjemahan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi: tuning, analysis, understanding, terminology, restructuring, checking, and discussion. Adapun tujuh (7) teknik penerjemahan yang digunakan antara lain amplification, borrowing, literal translation, modulation, transposition, particularization, and equivalent. Selain itu penerjemahan situs web menghadapi tantangan bahasa formal pemerintahan, keterbatasan kosakata, singkatan yang tidak dikenal, dan tuntutan alur kalimat yang alami. Kendala tersebut diatasi melalui bimbingan pembimbing, penggunaan alat terjemahan yang cermat, dan revisi manual menyeluruh.
Singkatnya, penerjemahan bukan sekadar memindahkan pesan dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa). Penerjemahan merupakan proses yang kompleks dan berbagai Teknik yang digunakan. Selain itu terdapat tantangan yang harus dihadapi dan solusi yang harus di temukan agar hasil terjemahan menjadi jelas dan optimal.
This final project report based on industrial job training conducted at Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas from August 26 to December 27, 2024. The job training involved translating the profile menu of the website of Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas from Indonesian into English. The purposes of this job training report were to explaining the implementation of job training in Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, explaining the translation process and techniques of the profile menu website of Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, explaining the obstacles and the solutions when doing the translation process.
In preparing this report, the method used are observation, interview, and hands-on practice. The result of this job training is a translation product that went through seven (7) process and seven (7) translation techniques. The stages were tuning, analysis, understanding, terminology, restructuring, checking, and discussion. Seven (7) translation techniques were amplification, borrowing, literal translation, modulation, transposition, particularization, and equivalent. Additionally, translating the website was presented challenges due to formal government-style language, limited vocabulary, unfamiliar abbreviations, and the need for natural sentence flow. These issues were resolved through supervisors’ guidance, careful use of translation tools, and thorough manual revision.
In summary, translation is not merely of transferring a message from the source language (SL) to the target language (TL). Rather, it is a complex process and various techniques used in translation. Moreover, there are challenges that must be faced and solutions that must be found so that the final translation becomes clear and perfect.
4851251923J0A022081Creating Promotional Videos for Kumon HOS NotosuwiryoLaporan akhir ini disusun berdasarkan pelaksanaan kegiatan job training mulai dari 28 Oktober 2024 hingga 28 Februari 2025. Tujuan utama dari laporan ini adalah untuk menjelaskan secara menyeluruh pelaksanaan job training, kegiatan pembuatan video promosi, serta menemukan solusi terhadap hambatan kegiatan magang di Kumon HOS Notosuwiryo. Produk yang dihasilkan berupa video promosi dengan subtitle Bahasa Inggris yang bertujuan untuk memperkenalkan seluruh lingkungan Kumon HOS Notosuwiryo.
Dalam proses penyusunan laporan ini, digunakan dua metode utama, yaitu observasi dan dokumentasi. Observasi dilakukan sebelum kegiatan praktik dimulai dan selama kegiatan berlangsung, sedangkan dokumentasi dilakukan selama kegiatan praktik berlangsung. Kedua metode ini digunakan untuk mendukung kegiatan utama, yaitu pembuatan video promosi dalam bentuk digital dan disajikan dalam dua bahasa.
Terdapat tiga tahap dalam proses pembuatan video promosi, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Dalam proses tersebut terdapat beberapa kendala seperti, keterbatasan kemampuan untuk mengedit, menunggu saat yang tepat untuk mengambil gambar, membutuhkan tempat sunyi untuk merekam suara, namun semuanya dapat diatasi. Hasil akhir berupa video promosi yang dapat diakses dan akan dipublikasikan melalui Instagram Kumon HOS Notosuwiryo. Video promosi ini diharapkan dapat memperkenalkan dan menarik perhatian masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai Kumon.
This final report is prepared based on the implementation of a job training from October 28, 2024 to Februari 28, 2025. The main purpose of this report is to thoroughly describe the implementation of the job training, promotional videos activities, and to find out solutions to the internship activities in the Kumon HOS Notosuwriyo. The products are promotional videos with English subtitle that are chosen to promoting all environtment about Kumon HOS Notosuwiryo.
Process of preparing this report, two main methods were used, namely observation and documentation. Observations were conducted both before the practical activity began and during the activity, while documentation were carried out during the practical activity. These two approaches were used to support the main activity, namely the preparation of promotional videos in digital form and presented in two languages.
There are three stages in the process of creating promotional videos, namely pre-production, production, and post-production. There were some obstacles faced in this process such as, limited editing skills, wait for the right moment when recording, need quite place to record the voice over, but they can be overcome. The final result of this promotional videos that can be accessed, and will be placed on Instagram Kumon HOS Notosuwiryo. The promotional video is expected to promote and attract public attention to get information about Kumon.
4851342141L1A019052SKENARIO OPTIMALISASI PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA NILA SALIN DI DESA TUNGGULSARI KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI Penelitian ini berjudul Skenario Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Usaha Nila Salin di Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati. Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) merupakan ikan nila yang diadaptasi dan budidayakan di air payau. Ikan ini mempunyai keunggulan pertumbuhannya cepat, mudah dikembangbiakkan, mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Ikan ini dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik di perairan bersalinitas hingga 20 ppt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pendapatan pembudidaya ikan nila salin dan mengetahui strategi pengoptimalan pendapatan pembudidaya ikan nila salin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode pada penelitian yaitu metode survey melalui wawancara dan observasi. Survey dilakukan melalui obeservasi dan wawancara langsung berpedoman pada kuisioner yang diberikan kepada responden kunci untuk mendapatkan data dan informasi yang valid sesuai fakta di lapangan. Dari metode tersebut didapat hasil bahwa yang mempengaruhi keuntungan pembudidaya Ikan Nila Salin di lokasi penelitian dibagi menjadi tiga yaitu; hasil produksi, biaya investasi, dan biaya produksi, ketiga bagian ini juga memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi nya masing-masing. Selanjutnya didapat scenario yang dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya yaitu dengan memangkas biaya produksi dengan pakan alternatif dan menambah biaya produksi dengan menjalankan sistem budidaya polikultur ikan nila salin dengan udang vaname.This research is titled Optimization Scenario to Increase the Income of Saline Tilapia Farmers in Tunggulsari Village, Tayu Subdistrict, Pati Regency. Saline Tilapia (Oreochromis niloticus) is a tilapia fish adapted and cultivated in brackish water. This fish has the advantage of fast growth, easy breeding, easy adaptation to the environment. This fish can grow and reproduce well in salinity waters up to 20 ppt. This study aims to determine the factors that affect the income of saline tilapia farmers and determine the strategy of optimizing the income of saline tilapia farmers. The research used a quantitative approach. The method in the research is the survey method through interviews and observations. The survey was conducted through direct observation and interviews guided by questionnaires given to key respondents to obtain valid data and information according to facts in the field. From this method, it was found that the factors affecting the profit of salted tilapia farmers in the research location were divided into three, namely; production yield, investment costs, and production costs, these three parts also have their own influencing factors. Furthermore, a scenario that can increase the income of farmers is obtained by cutting production costs with alternative feed and increasing production costs by running a polyculture system of saline tilapia with vaname shrimp.
4851451910K1B022049IMPLEMENTASI ALGORITMA RANDOM FOREST UNTUK KLASIFIKASI TUMOR PAYUDARA BERDASARKAN DATA KLINIS PASIEN
Tumor payudara merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami perempuan dan berpotensi berkembang menjadi kanker akibat rendahnya deteksi dini, sehingga diperlukan metode yang mampu mengklasifikasikan tumor payudara secara akurat berdasarkan data klinis pasien. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan algoritma Random Forest untuk mengklasifikasikan tumor payudara menjadi dua kelas, yaitu jinak dan ganas, serta mengevaluasi performa model yang dihasilkan. Data yang digunakan merupakan data rekam medis pasien tumor payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tahapan penelitian meliputi analisis deskriptif, preprocessing data, pembagian data latih dan uji dengan beberapa rasio, hyperparameter tuning, serta klasifikasi menggunakan Random Forest. Evaluasi dilakukan menggunakan confusion matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Random Forest memberikan performa yang sangat baik dengan akurasi tertinggi sebesar 97,2% pada rasio 80:20, serta 97% dan 96% pada rasio 75:25 dan 70:30. Nilai presisi dan recall yang tinggi menunjukkan efektivitas model dalam membedakan tumor payudara jinak dan ganas. Breast tumors are one of the health problems commonly experienced by women and have the potential to develop into cancer due to the low rate of early detection. Therefore, a method capable of accurately classifying breast tumors based on patients’ clinical data is needed. This study aims to implement the Random Forest algorithm to classify breast tumors into two categories, benign and malignant, and to evaluate the performance of the resulting model. The data used in this study consist of medical records of breast tumor patients from RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. The research stages include descriptive analysis, data preprocessing, splitting the dataset into training and testing sets with several ratios, hyperparameter tuning, and classification using the Random Forest algorithm. Model evaluation was conducted using a confusion matrix. The results show that the Random Forest algorithm achieved excellent performance, with the highest accuracy of 97.2% at the 80:20 split ratio, and accuracies of 97% and 96% at the 75:25 and 70:30 ratios, respectively. High precision and recall values indicate that the model is effective in distinguishing between benign and malignant breast tumors.
4851551924F1C021080ANALISIS STRATEGI CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT MELALUI EVENT EKSKLUSIF MINI GATHERING USER MIDDLE-HIGH OPPO EXPERIENCE STORE RITAMALL PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Customer Relationship Management (CRM) melalui event eksklusif Mini Gathering User Middle-High di OPPO Experience Store Ritamall Purwokerto. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan fokus pada implementasi CRM dari perspektif penyelenggara internal. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tiga informan utama, yaitu Sales Manager, Head Store, dan Trainer Area OPPO Experience Store Ritamall Purwokerto, serta didukung dokumentasi dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa event Mini Gathering menjadi bentuk penerapan strategi CRM yang berfokus pada pembangunan pengalaman pelanggan (customer experience) yang eksklusif dan personal. Pihak penyelenggara menekankan pendekatan emosional, interaksi langsung, dan suasana akrab untuk menciptakan kedekatan dengan pelanggan. Selain itu, tindak lanjut pasca-event menjadi langkah penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Strategi CRM yang diterapkan mencakup pengelolaan data pelanggan, penawaran layanan premium, serta konsistensi citra merek dalam setiap kegiatan. Kesimpulannya, event Mini Gathering berperan sebagai sarana efektif dalam memperkuat hubungan jangka panjang antara pelanggan dan brand, sekaligus memperkokoh citra OPPO sebagai merek premium di Purwokerto.This study aims to analyze the Customer Relationship Management (CRM) strategy through the exclusive Mini Gathering User Middle-High event at the OPPO Experience Store Ritamall Purwokerto. The research uses a qualitative descriptive approach focusing on the internal organizers’ perspective in implementing CRM. Data were collected through in-depth interviews with three key informants: the Sales Manager, Head Store, and Trainer Area, supported by documentation and a Focus Group Discussion (FGD). The results show that the Mini Gathering event serves as a CRM strategy emphasizing exclusive and personalized customer experiences. The organizers highlight emotional engagement, direct interaction, and a warm atmosphere to strengthen customer relations. Post-event follow-up is also crucial in maintaining customer loyalty. The CRM strategy includes managing customer data, offering premium services, and maintaining brand consistency. In conclusion, the Mini Gathering functions as an effective tool to enhance long-term relationships and reinforce OPPO’s image as a premium brand in Purwokerto.
4851651925F1C021076REPRESENTASI BEAUTY INFLUENCER DAN CITRA MEREK SKINTIFIC DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MASKER MUGWORT CLAY STICK PADA MAHASISWA FISIP UNSOEDPenelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana representasi influencer kecantikan dan citra merek Skintific membentuk keputusan pembelian produk Mugwort Acne Clay Stick pada mahasiswa FISIP Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan empat informan yang merupakan pengguna aktif skincare dan pernah membeli produk Skintific. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi media sosial, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer berperan dalam membangun ketertarikan awal melalui komunikasi yang autentik, visual menarik, dan kredibilitas yang konsisten. Citra merek Skintific dipersepsi sebagai ilmiah, estetik, inovatif, dan terpercaya sehingga memperkuat keyakinan konsumen. Representasi influencer dan citra merek saling melengkapi: influencer menciptakan awareness dan minat, sementara citra merek menguatkan keputusan akhir melalui kualitas produk dan pengalaman penggunaan. Keputusan pembelian mahasiswa dipengaruhi tidak hanya oleh fungsi produk, tetapi juga oleh aspek simbolik dan representasional di media digital.This study aims to analyze how beauty influencer representation and Skintific’s brand image shape purchasing decisions for the Mugwort Acne Clay Stick among students of the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Jenderal Soedirman. The research employed a descriptive qualitative approach involving four informants who are active skincare users and have purchased Skintific products. Data were collected through in-depth interviews, documentation, and social media observation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that beauty influencers play a significant role in generating initial interest through authentic communication styles, appealing visuals, and consistent credibility. Skintific’s brand image is perceived as scientific, aesthetic, innovative, and trustworthy, strengthening consumer confidence. Influencer representation and brand image complement each other: influencers create awareness and attraction, while the brand image reinforces final purchasing decisions through product quality and user experience. Students’ purchasing decisions are influenced not only by product functionality but also by symbolic and representational aspects constructed through digital media.
4851751920J0B022040Pengembangan Buklet Berbahasa Mandarin sebagai Media Informasi Wisata di Candi Prambanan Candi Prambanan merupakan salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan berbahasa Mandarin. Namun, ketersediaan media informasi sejarah dan arsitektur dalam bahasa Mandarin di kawasan tersebut masih terbatas. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara potensi peningkatan kunjungan wisatawan Tiongkok dan kesiapan layanan informasi berbasis bahasa di destinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan booklet berbahasa Mandarin sebagai media informasi wisata di Candi Prambanan. Penelitian menggunakan metode pengembangan (Research and Development) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi wisatawan. Proses pengembangan dilakukan melalui tahap analisis, transfer padanan, dan restrukturisasi dengan menerapkan metode penerjemahan komunikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan booklet berbahasa Mandarin mampu menghasilkan media informasi yang adaptif secara linguistik dan relevan secara budaya. Booklet memuat informasi sejarah, arsitektur, dan simbol religius Candi Prambanan yang disusun dengan memperhatikan kesepadanan makna dan keterbacaan dalam bahasa sasaran. Penelitian ini menegaskan bahwa penerjemahan merupakan bagian strategis dalam pengelolaan destinasi wisata budaya untuk meningkatkan aksesibilitas informasi bagi wisatawan internasional.Prambanan Temple is one of the leading cultural tourism destinations in the Special Region of Yogyakarta, attracting a significant number of international visitors, including Mandarin-speaking tourists. However, the availability of historical and architectural information in Mandarin at the site remains limited. This condition creates a gap between the growing potential of Chinese tourist arrivals and the readiness of language-based information services at the destination. This study aims to develop a Mandarin-language booklet as a tourism information medium at Prambanan Temple. The research employed a Research and Development approach with a descriptive qualitative design. Data were collected through observation, interviews, and documentation to identify the information needs of visitors. The development process consisted of analysis, equivalence transfer, and restructuring stages by applying the communicative translation method. The findings indicate that the developed Mandarin-language booklet provides linguistically adaptive and culturally relevant tourism information. The booklet contains historical, architectural, and religious symbolic elements of Prambanan Temple, structured to ensure semantic equivalence and readability in the target language. This study highlights that translation plays a strategic role in destination management by enhancing information accessibility for international tourists in cultural tourism settings.
4851851926F1D022013Ketimpangan Atas Akses dalam Pengelolaan Pertambangan Batuan Basalt di Desa Pengadegan, Kecamatan Wangon, Kabupaten BanyumasSektor pertambangan merupakan isu yang sensitif, karena terdapat nilai
ekonomis yang hadir sebagai arena kekuasaan yang akan menentukan
siapa yang memiliki akses dan manfaat atas sumber daya tersebut. Aktor
yang memiliki akses ini bertanggung jawab menjaga lingkungan dari
dampak pertambangan, oleh karena itu, adanya kerusakan lingkungan
menandakan kegagalan mekanisme pengelolaan pertambangan.
Penelitian ini mengggunakan Teori Akses dari Ribot dan Peluso, yang
didukung dengan konsep Keadilan Lingkungan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menganalisis bagaimana pengelolaan pertambangan batuan
basalt di Desa Pengadegan, Kabupaten Banyumas, dengan fokus pada
bagaimana distribusi akses dan manfaat pertambangan. Metode penelitian
yang digunakan adalah kualitatif dan pendekatan studi kasus, dengan
mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukan bahwa PT SUI memiliki akses dominan
berbasis hak hukum legal sesuai dengan Pasal 35 UU No. 3 Tahun 2020
dan bebrbagai sekumpulan kekuatas untuk mengendalikan sumber daya,
sementara akses masyarakat terbatas pada pekerjaan dan jaringan sosial.
Ketimpangan akses ini menghasilkan distribusi manfaat yang timpang, di
mana keuntungan ekonomi terpusat pada PT SUI dan elit lokal,
sedangkan masyarakat hanya menerima kompensasi minimal dan
menanggung dampak lingkungan seperti kerusakan jalan dan rumah,
banjir, serta pergeseran tanah. Ketidakadilan ini diperparah oleh lemahya
transparansi, minimnya partisipasi, dan pelanggaran komitmen CSR.
Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa pengelolaan pertambangan
batuan basalt tidak memenuhi prinsip keadilan lingkungan, ketimpangan
mekanisme akses juga dapat memicu kerusakan lingkungan dan
menyingkirkan masyarakat dari hak atas ruang hidup yang aman dan
berkelanjutan. Maka dari itu, diperlukan pemantauan dan pengawasan
dari pemerintah terhadap pengelolaan pertambangan.
The mining sector is a sensitive issue, as economic values present a power arena that determines who has access to and benefits from these resources. Actors with such access are responsible for protecting the environment from mining impacts; therefore, environmental damage indicates a failure in mining management mechanisms. This research employs the Theory of Access by Ribot and Peluso, supported by the concept of Environmental Justice. The objective of this research is to analyze the management of basalt rock mining in Pengadegan Village, Banyumas Regency, with a focus on how the distribution of access and mining benefits occurs. The research method used is qualitative with a case study approach, collecting data through interviews, observations, and document analysis. The results indicate that PT SUI has dominant access based on legal rights in accordance with Article 35 of Law No. 3 of 2020, as well as various powers to control resources, while community access is limited to employment and social networks. This access inequality produces unequal benefit distribution, where economic profits are concentrated to PT SUI and local elites, while communities only receive minimal compensation and bear environmental impacts such as road and house damage, floods, and land shifting. This injustice is exacerbated by weak transparency, minimal participation, and violations of CSR commitments. The conclusion shows that basalt rock mining management does not meet environmental justice principles; unequal access mechanisms can also trigger environmental damage and exclude communities from the right to a safe and sustainable living space. Therefore, monitoring and supervision from the government over mining management is necessary.
4851951719L1B022039Profil Asam Amino dan Profil Proksimat Nanoenkapsulasi Hidrolisat Peptida Tuna (Thunnus sp.) dengan Bahan Matriks yang BerbedaPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bahan dinding yang berbeda terhadap profil asam amino dan komposisi proksimat dari nanokapsul hidrolisat peptida viscera tuna (Thunnus sp.) untuk penggunaan potensial sebagai bahan pakan ikan fungsional. Hidrolisat protein ikan yang berasal dari visceraL dienkapsulasi secara nano menggunakan maltodextrin saja (perlakuan A) atau kombinasi maltodextrin–protein whey (perbandingan 3:1, perlakuan B). Nanoemulsi disiapkan dalam kondisi homogenisasi terkontrol dan dikonversi menjadi bubuk melalui pengeringan semprot. Asam amino diukur dengan HPLC setelah hidrolisis asam dan derivatisasi OPA, sementara komposisi proksimat (kelembaban, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar) ditentukan menggunakan metode gravimetri standar dan Kjeldahl. Kedua sistem dinding menghasilkan nanokapsul yang mengandung 14 asam amino terdeteksi. Nanokapsul yang diformulasikan dengan dinding maltodekstrin–whey (B) umumnya menunjukkan konsentrasi asam amino total yang lebih tinggi dibandingkan yang dihasilkan dengan maltodekstrin saja (A), dengan asam glutamat, asam aspartat, treonin, arginin, leusin, lisin, dan isoleusin sebagai asam amino dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa protein whey dalam matriks dinding meningkatkan retensi peptida dan asam amino selama nanoemulsifikasi dan pengeringan semprot. Analisis proksimat menunjukkan perbedaan yang jelas antara sistem dinding: nanokapsul maltodekstrin (A) memiliki kandungan protein kasar yang lebih tinggi, sedangkan nanokapsul maltodekstrin–whey (B) ditandai dengan kandungan air yang lebih rendah dan abu yang lebih tinggi, menunjukkan dehidrasi yang lebih baik dan fraksi mineral yang lebih besar. Kandungan lipid kasar dan serat kasar secara umum sebanding antara perlakuan. Secara keseluruhan, pilihan bahan dinding secara signifikan mempengaruhi kualitas nutrisi nanokapsul hidrolisat peptida viscera tuna. Sistem maltodekstrin–whey lebih cocok ketika tujuan adalah memaksimalkan retensi asam amino dan mengurangi kelembaban untuk meningkatkan stabilitas penyimpanan dan kontribusi mineral, sementara maltodekstrin saja mungkin lebih disukai ketika konsentrasi protein kasar per satuan massa yang lebih tinggi diinginkan. Nanokapsul ini menunjukkan karakteristik menjanjikan untuk digunakan sebagai sumber protein fungsional dalam pakan akuakultur bernilai tinggi, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut in vivo terkait kemudahan pencernaan, kinerja pertumbuhan, dan respons kesehatan pada spesies target.This study aimed to evaluate the effect of different wall materials on the amino acid profile and proximate composition of tuna (Thunnus sp.) viscera peptide hydrolysate nanocapsules for potential use as functional aquafeed ingredients. Viscera-derived fish protein hydrolysate was nanoencapsulated using either maltodextrin alone (treatment A) or a maltodextrin–whey protein combination (3:1, treatment B). Nanoemulsions were prepared under controlled homogenization conditions and converted into powders by spray drying. Amino acids were quantified by HPLC after acid hydrolysis and OPA derivatization, while proximate composition (moisture, ash, crude protein, crude lipid, and crude fiber) was determined using standard gravimetric and Kjeldahl methods. Both wall systems produced nanocapsules containing 14 detectable amino acids. Nanocapsules formulated with the maltodextrin–whey wall (B) generally showed higher total amino acid concentrations than those produced with maltodextrin alone (A), with glutamic acid, aspartic acid, threonine, arginine, leucine, lysine, and isoleucine as the predominant amino acids. These findings suggest that whey protein in the wall matrix improves the retention of peptides and amino acids during nanoemulsification and spray drying. Proximate analysis revealed clear differences between wall systems: maltodextrin nanocapsules (A) had higher crude protein content, whereas the maltodextrin–whey nanocapsules (B) were characterized by lower moisture and higher ash, indicating improved dehydration and a greater mineral fraction. Crude lipid and crude fiber contents were broadly comparable between treatments. Overall, the choice of wall material markedly influenced the nutritional quality of tuna viscera peptide hydrolysate nanocapsules. The maltodextrin–whey system is more suitable when the objective is to maximize amino acid retention and reduce moisture to enhance storage stability and mineral contribution, while maltodextrin alone may be preferred when higher crude protein concentration per unit mass is desired. These nanocapsules show promising characteristics for incorporation as functional protein sources in high-value aquaculture feeds, warranting further in vivo evaluation of digestibility, growth performance, and health responses in target species.
4852051928B1A022195Pengaruh Sukrosa dan BAP pada Perbanyakan Tunas Mikro Pisang Kepok Kuning dalam Kultur In VitroPisang (Musa sp.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pisang kepok kuning (Musa acuminata × balbisiana, ABB Group) merupakan salah satu jenis pisang yang banyak diminati. Namun, potensi besar pisang kepok kuning belum terwujud dikarenakan terkendala oleh terbatasnya bibit unggul yang sehat, seragam, dan berkualitas. Teknik kultur in vitro diperlukan untuk menghasilkan bibit tanaman yang berkualitas, seragam, bebas patogen, serta dapat menghasilkan bibit dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Komponen utama yang berperan penting untuk mendukung pertumbuhan eksplan adalah sumber karbon dan zat pengatur tumbuh. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1). Mengevaluasi pengaruh interaksi antara sukrosa dan BAP pada perbanyakan tunas mikro pisang kepok kuning dalam kultur in vitro; 2) Menentukan konsentrasi sukrosa dan BAP terbaik untuk memacu pembentukan tunas mikro pisang kepok kuning dalam kultur in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor yang dicobakan adalah sukrosa dengan 3 taraf konsentrasi (20 g/L; 30 g/L; dan 40 g/L) dan BAP dengan 4 taraf konsentrasi (2 mg/L; 4 mg/L; 6 mg/L; dan 8 mg/L). Setiap kombinasi perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi sukrosa dan BAP. Variabel terikat yang diamati adalah pertumbuhan tunas mikro pisang kepok kuning. Parameter yang diukur meliputi jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, dan jumlah akar. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pada probabilitas 5%, dan jika perlakuan memberikan pengaruh nyata, analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada probabilitas 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan akar pada tunas mikro pisang kepok kuning dalam kultur in vitro dipengaruhi oleh interaksi sukrosa dan BAP yang diberikan. Media MS yang disuplementasi dengan 20 g/L sukrosa dan 8 mg/L BAP dapat memacu pembentukan akar pada tunas mikro pisang kepok kuning.
Bananas (Musa sp.) are among the horticultural commodities of high economic value. Among the various varieties, the kepok kuning banana (Musa acuminata × balbisiana, ABB Group) is among the most popular. However, the great potential of kepok kuning bananas has not been realised due to the limited availability of healthy, uniform, and high-quality seeds. In vitro culture techniques are needed to produce high-quality, uniform, pathogen-free seeds that can be propagated in large quantities in a relatively short time. The main components of plant in vitro culture that support explant growth are carbon sources and growth regulators. Therefore, this study was conducted with the following objectives: 1) To evaluate the effect of the interaction between sucrose and BAP on the propagation of kepok kuning banana micro-shoots in in vitro culture. 2) To determine the optimal concentration of sucrose and BAP to stimulate the formation of kepok kuning banana micro-shoots in in vitro culture.
This study was conducted experimentally using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial treatment pattern. The factors tested were sucrose at three concentrations (20 g/L, 30 g/L, and 40 g/L) and BAP at four concentrations (2 mg/L, 4 mg/L, 6 mg/L, and 8 mg/L). Each treatment combination was replicated three times, yielding 36 experimental units. The independent variables tested were sucrose and BAP concentrations. The dependent variable observed was the growth of kepok kuning banana microshoots. The parameters measured included the number of shoots, shoot length, number of leaves, and number of roots. The data were analysed using analysis of variance (ANOVA) at 5% probability, followed by Duncan's multiple range test at 5% probability. The results showed that root formation of kepok kuning microshoots in in vitro culture was controlled by the interaction between applied sucrose and BAP. MS medium supplemented with 20 g/L sucrose and 8 mg/L BAP produced the best rooting of kepok kuning microshoots.