Artikelilmiahs
Menampilkan 48.521-48.540 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 48521 | 51929 | I1A022065 | EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM RENCANA PEMBAYARAN BERTAHAP (REHAB) DALAM MENINGKATKAN STATUS KEPESERTAAN AKTIF BPJS KESEHATAN DI KANTOR CABANG PURWOKERTO | ABSTRAK EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM RENCANA PEMBAYARAN BERTAHAP (REHAB) DALAM MENINGKATKAN STATUS KEPESERTAAN AKTIF BPJS KESEHATAN DI KANTOR CABANG PURWOKERTO Cynthia Dwi Syahnour Naffastsati, Arih Diyaning Intiasari, Nabela Putri Yanuari Latar Belakang: Peserta BPJS berstatus tidak aktif sebanyak 20,4% per Maret 2024. BPJS berupaya memberikan solusi terhadap peserta dalam melunasi tunggakan iuran melalui program REHAB. Pada tahun 2024, ditemukan banyak peserta REHAB yang belum menuntaskan skema cicilan sehingga kepesertaan non aktif sebanyak 60% dari total peserta terdaftar. Hingga kini banyak peserta mandiri non aktif yang belum memanfaatkan program di BPJS Kantor Cabang Purwokerto. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program REHAB dalam meningkatkan status kepesertaan BPJS Kesehatan di Kantor Cabang Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dengan wawancara mendalam melibatkan 3 informan peserta REHAB, 2 informan petugas BPJS KC Purwokerto dan 2 peserta mandiri non aktif yang mengetahui REHAB. Hasil Penelitian: Aspek konteks menunjukkan permasalahan peserta non aktif disebabkan perpindahan kerja, rendahnya ATP dan WTP, pandemi. Peserta memanfaatkan REHAB bertujuan meringankan pembayaran tunggakan dan mendapatkan status aktif kepesertaan. Aspek input prosedur pendaftaran dan pembayaran diketahui peserta melalui Mobile JKN atau Kantor BPJS. Peserta terkendala dalam pemasangan aplikasi karena sinyal dan perangkat tidak mendukung. Aspek proses yaitu telah dilakukan upaya penyebaran informasi, namun rendahnya ATP menghambat peserta mengikuti program dan ketiadaan sistem reminder untuk mendorong kepatuhan membayarkan angsuran REHAB. Aspek produk yaitu capaian kepesertaan REHAB meningkat, namun baru 48,85% dari total pendaftar yang melunasi angsuran dan belum adanya data kolektibilitas yang hanya mengakumulasi iuran kolektibilitas REHAB. Kesimpulan: Program perlu pengoptimalan terkait ketiadaan sistem reminder dengan menunjuk petugas untuk mengingatkan peserta membayarkan angsuran REHAB dan menyediakan data kolektibilitas iuran dari program REHAB agar kontribusi program bisa terukur. Kata Kunci: REHAB, Evaluasi, Tunggakan | ABSTRACT EVALUATION OF STAGED PAYMENT PLAN (REHAB) PROGRAM IMPLEMENTATION IN IMPROVING ACTIVE BPJS KESEHATAN PARTICIPANT STATUS AT THE BPJS KESEHATAN PURWOKERTO BRANCH OFFICE Cynthia Dwi Syahnour Naffastsati, Arih Diyaning Intiasari, Nabela Putri Yanuari Background: As of March 2024, 20.4% of BPJS participants were inactive. BPJS provides solutions for participants to settle overdue premiums through the REHAB program. In 2024, many REHAB participants failed to complete their installment schemes, resulting in 60% of registered participants remaining inactive. To date, many independent inactive participants have not utilized the program at the BPJS Purwokerto Branch Office. This study aims to evaluate the implementation of the REHAB program in improving BPJS Kesehatan participant status at the Purwokerto Branch Office. Methods: This study employs a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews involving 3 REHAB participants, 2 informants from BPJS Purwokerto Branch Office staff, and 2 independent inactive participants who were aware of REHAB program. Results: The context aspect shows inactive participant issues stem from job changes, low ATP and WTP, the pandemic. Participants use REHAB to ease overdue payments and regain active status. The input aspect indicates that registration and payment procedures are known to participants via Mobile JKN or BPJS office. Participants face challenges installing the app due to poor signals and unsupported devices. The process aspects effective information dissemination, but low ATP hinders participation, there’s no reminder system to encourage installment compliance. The product aspect shows increasing REHAB participation achievements, but only 48.85% of registrants complete installments, with no specific data on REHAB premium collectibility. Conclusion: The program requires optimization, including assigning staff as reminders for installment payments and providing specific REHAB premium collectibility data to measure the program's contribution Keywords: REHAB, Evaluation, Arrears | |
| 48522 | 51930 | I1E022026 | Analisis Korelasi Tingkat Kecemasan dengan Performa Atlet Wushu Taolu pada Babak Kualifikasi PORPROV Jawa Tengah 2026 | Latar belakang: Tingkat kecemasan dapat mempengaruhi performa atlet, khususnya dalam olahraga seperti wushu taolu yang menuntut konsentrasi, ketepatan teknik, dan kestabilan emosi. Babak Kualifikasi PORPROV Wushu Taolu Jawa Tengah XVII/2026 merupakan ajang kompetitif dengan tekanan tinggi karena menentukan kelolosan atlet ke tahap selanjutnya, sehingga berpotensi meningkatkan kecemasan sebelum bertanding. Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan performa apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk membahas korelasi antara kecemasan dan performa atlet wushu taolu pada kompetisi tingkat provinsi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deksriptif dengan metode korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 49 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Kecemasan diukur menggunakan CSAI-2R dan performa berdasarkan skor juri. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman Rank dibantu aplikasi SPSS versi 30. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan atlet pada kategori rendah 10%, sedang 76%, dan tinggi 14%. Sementara itu, performa atlet berada pada kategori rendah 11%, sedang 56%, dan tinggi 33%. Uji korelasi Spearman Rank menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,642 dengan signifikansi p < 0,001, yang menunjukkan hubungan kuat antara tingkat kecemasan dengan performa atlet wushu taolu. Kesimpulan: Terdapat korelasi signifikan antara tingkat kecemasan dan performa atlet wushu taolu. Hubungan ini bersifat positif, yang berarti peningkatan kecemasan diikuti peningkatan performa dalam pertandingan. | Background: Anxiety levels can affect athletic performance, especially in sports such as wushu taolu, which require concentration, technical precision, and emotional stability. The Central Java XVII/2026 PORPROV Wushu Taolu Qualification Round is a highly competitive event with high pressure because it determines which athletes will advance to the next stage, thus potentially increasing anxiety before competing. These conditions can lead to decreased performance if not managed properly. This study was conducted to examine the correlation between anxiety and the performance of wushu taolu athletes at the provincial level competition. Research Methods: This study used a descriptive quantitative method with a correlational approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 49 respondents selected through purposive sampling. Anxiety was measured using CSAI-2R and performance based on judges' scores. Data analysis was performed using Spearman Rank nonparametric correlation test assisted by SPSS version 30 application. Research Results: The results showed that the anxiety level of athletes was low at 10%, moderate at 76%, and high at 14%. Meanwhile, the athletes' performance was in the low category (11%), medium category (56%), and high category (33%). The Spearman Rank correlation test produced a correlation coefficient value of 0.642 with a significance of p < 0.001, which indicates a strong relationship between anxiety levels and the performance of wushu taolu athletes. Conclusion: There is a significant correlation between anxiety levels and the performance of taolu wushu athletes. This relationship is positive, meaning that increased anxiety is followed by improved performance in competition. | |
| 48523 | 51893 | I1A022014 | Faktor-Faktor yang Memengaruhi Loyalitas Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) BPJS Kesehatan di Kabupaten Banyumas | Latar Belakang: Data BPJS Kesehatan Kabupaten Banyumas menunjukkan terdapat 106.709 (47,36%) peserta PBPU berstatus non aktif pada tahun 2025. Hasil studi pendahuluan menunjukkan status non aktif peserta PBPU tidak memunculkan keinginan untuk berpindah ke asuransi lainnya. Fenomena ini mengindikasikan bahwa loyalitas dapat ditinjau dari keinginan untuk bertahan dan menggunakan kembali. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brand image BPJS Kesehatan, kepuasan, kepercayaan, dan komitmen terhadap loyalitas peserta PBPU di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah peserta PBPU non aktif di 2 Kecamatan, sedangkan sampel penelitian ini terdiri atas peserta PBPU non aktif di 6 desa/kelurahan terpilih. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 96 yang diambil menggunakan metode stratified random sampling. Data yang berdistribusi normal diuji menggunakan chi square dan dilanjutkan uji regresi logistik. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan brand image BPJS Kesehatan (p value = 0,000), kepuasan (p value = 0,001), kepercayaan (p value = 0,001), dan komitmen (p value = 0,000) dengan loyalitas peserta PBPU BPJS Kesehatan. Lebih lanjut, hasil analisis menunjukkan Brand image BPJS Kesehatan (p value = 0,045) dan komitmen (p value = 0,004) berpengaruh signifikan terhadap loyalitas peserta PBPU BPJS Kesehatan. Brand image BPJS Kesehatan memengaruhi loyalitas peserta PBPU sebesar 3,1 kali, sedangkan komitmen memberikan pengaruh sebesar 5,461 kali terhadap loyalitas peserta PBPU. Kesimpulan: Brand image BPJS Kesehatan dan Komitmen merupakan faktor yang berpengaruh terhadap loyalitas peserta PBPU BPJS Kesehatan di Kabupaten Banyumas. Oleh karena itu, BPJS Kesehatan diharapkan selalu menjaga kualitas dan konsistensi layanan, meningkatkan kemudahan akses informasi Program JKN, serta rutin memberikan edukasi pentingnya status kepesertaan JKN aktif. | Background: BPJS Kesehatan data for Banyumas Regency reveals 106.709 (47,36%) inactive non-wage receipent worker participants in 2025. Preliminary study results indicate that the inactive status of non-wage receipent participants do not prompt a desire to switch to other insurance providers. This phenomenon suggest that loyalty can be assessed based on the desire to remain and reuse the service. Therefore, this study aims to determine the effect of brand image of BPJS Kesehatan, satisfaction, trust, and commitment on the loyalty of non-salaried workers participants in Banyumas Regency. Method: This research method is quantitative with a cross-sectional approach. The research population consist of inactive non-wage receipent worker participants in six selected village/subdistricts. The research sample size is 96, which was obtained using stratified random sampling. Normally distributed data were tested using chi-square and followed by logistic regression testing. Result: This study found significant bivariate relationship between brand image of BPJS Kesehatan (p value = 0,000), satisfaction (p value = 0,001), trust (p value = 0,001), and commitment (p value = 0,000) with the loyalty of non-wage receipent worker participants. Multivariat logistic regression further revealed that brand image of BPJS Kesehatan (p value = 0,045) and commitment (p value = 0,004) significantly predict loyalty. Specifically, comitment increases the odds of loyalty by 5,461 times (OR = 5,461), while brand image of BPJS Kesehatan boost it by 3,1 times (OR = 3,1). Conclusion: brand image of BPJS Kesehatan and commitment significantly influence non-wage receipent worker participants loyalty in Banyumas Regency. To strengthen these, BPJS Kesehatan should maintain consistent service quality, improve access to information about the JKN Program, and regularly provide education on the importance of active JKN membership status. | |
| 48524 | 51931 | H1D021065 | ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMA FIREBASE FIRESTORE DAN SUPABASE POSTGRESQL APLIKASI INVENTARIS MENGGUNAKAN FLUTTER BERBASIS MOBILE | Keterbatasan sistem inventaris yang belum mendukung akses mobile, pencatatan data secara real-time, serta pengelolaan aset berbasis gambar menyebabkan proses pendataan aset IT menjadi tidak efisien dan rentan terhadap kesalahan serta keterlambatan informasi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya akurasi data inventaris dan terhambatnya pengambilan keputusan operasional, sehingga diperlukan pengembangan aplikasi inventaris berbasis mobile dengan dukungan teknologi basis data backend yang andal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan performa Firebase Firestore dan Supabase PostgreSQL pada aplikasi inventaris aset IT berbasis mobile yang dikembangkan menggunakan framework Flutter. Penelitian dilakukan di lingkungan PT Combiphar Padalarang dengan pendekatan pengembangan prototyping. Pengujian performa dilakukan menggunakan metode performance testing dengan bantuan tools K6 Studio. Parameter yang digunakan dalam pengujian meliputi throughput, response time, read latency, dan write latency. Data hasil pengujian dianalisis menggunakan uji statistik independent sample t-test untuk mengetahui adanya perbedaan performa yang signifikan antara kedua basis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Supabase PostgreSQL memiliki performa yang lebih baik dan lebih konsisten dibandingkan Firebase Firestore pada parameter response time, throughput, dan read latency, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik. Sementara itu, pada parameter write latency, kedua basis data menunjukkan performa yang relatif setara dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil pengujian dan analisis yang dilakukan, Supabase PostgreSQL dinilai lebih optimal digunakan sebagai basis data backend pada aplikasi inventaris berbasis mobile menggunakan Flutter, khususnya pada lingkungan PT Combiphar Padalarang yang membutuhkan akses data cepat, stabil, dan mampu menangani beban permintaan yang tinggi. | The limitations of inventory systems that do not yet support mobile access, real-time data recording, and image-based asset management cause the IT asset data collection process to be inefficient and prone to errors and information delays. These conditions result in low inventory data accuracy and hindered operational decision-making, necessitating the development of a mobile-based inventory application with reliable backend database technology support. This study aims to analyse and compare the performance of Firebase Firestore and Supabase PostgreSQL in mobile-based IT asset inventory applications developed using the Flutter framework. The research was conducted at PT Combiphar Padalarang using a prototyping development approach. Performance testing was carried out using the performance testing method with the help of K6 Studio tools. The parameters used in the testing included throughput, response time, read latency, and write latency. The test data was analysed using an independent sample t-test to determine whether there were significant differences in performance between the two databases. The results showed that Supabase PostgreSQL had better and more consistent performance than Firebase Firestore in terms of response time, throughput, and read latency, with statistically significant differences. Meanwhile, in terms of write latency, both databases showed relatively equivalent performance with no significant differences. Based on the test results and analysis, Supabase PostgreSQL is considered more optimal for use as a backend database in mobile-based inventory applications using Flutter, especially in the PT Combiphar Padalarang environment, which requires fast, stable data access and the ability to handle high demand loads.. | |
| 48525 | 51855 | E1A020015 | KESADARAN HUKUM JURU PARKIR TERHADAP PEMBERIAN BUKTI PEMBAYARAN PARKIR (Studi di Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas) | Juru parkir adalah orang yang mengatur kendaraan yang masuk dan keluar ruang parkir dan mengumpulkan biaya parkir serta memberikan bukti pembayaran parkir kepada pengguna parkir. Bukti pembayaran parkir merupakan komponen penting yang wajib diberikan oleh juru parkir kepada pengguna parkir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum juru parkir terhadap pemberian bukti pembayaran parkir serta pengaruh faktor kedisiplinan, motivasi, serta sarana dan prasarana terhadap kesadaran hukum juru parkir terhadap pemberian bukti pembayaran parkir di Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas.Penelitian ini analisis yuridisis empiris dengan pendekatan kuantitatif serta spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas dengan responden sebanyak 45 juru parkir di Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas. Pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Jenis dan sumber data meliputi data primer dan sekunder yang diperoleh dengan metode angket, kepustakaan, dan dokumenter. Pengolahan data dengan menggunakan metode editing, coding, dan tabulasi serta dianalisis dengan teks naratif, distribusi frekuensi analisis, tabel silang analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum juru parkir terhadap pemberian bukti pembayaran parkir adalah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan 4 (empat) indikator meliputi sedangnya tingkat pengetahuan hukum juru parkir terhadap aturan pemberian bukti pembayaran parkir, tingginya tingkat pemahaman hukum juru parkir terhadap aturan pemberian bukti pembayaran parkir, banyaknya sikap hukum juru parkir yang setuju terhadap aturan pemberian bukti pembayaran parkir, dan banyaknya perilaku hukum juru parkir yang sesuai terhadap aturan pemberian bukti pembayaran parkir. Faktor kedisiplinan, motivasi dan sarana prasarana berpengaruh terhadap tingkat kesadaran hukum juru parkir dalam pemberian bukti pembayaran parkir. Artinya ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh positif terhadap tingginya tingkat kesadaran hukum juru parkir dalam pemberian bukti pembayaran parkir. | Parking attendants are individuals responsible for managing vehicles entering and exiting parking areas, collecting parking fees, and providing proof of payment to parking users. Proof of parking payment constitutes an essential component that must be provided by parking attendants to users. This study aims to determine the level of legal awareness among parking attendants regarding the provision of proof of parking payment, as well as to examine the influence of disciplinary factors, motivation, and facilities and infrastructure on their legal awareness in providing such proof in North Purwokerto Subdistrict, Banyumas Regency. This research employs an empirical juridical analysis with a quantitative approach and a descriptive research specification. The study was conducted in North Purwokerto Subdistrict, Banyumas Regency, involving 45 parking attendants as respondents. The sampling technique used was simple random sampling. The types and sources of data consisted of primary and secondary data obtained through questionnaires, literature review, and documentation methods. Data processing was carried out through editing, coding, and tabulation, and subsequently analyzed using narrative text analysis, frequency distribution analysis, and cross-tabulation analysis. The results of the study indicate that the level of legal awareness among parking attendants regarding the provision of proof of parking payment is high. This finding is supported by four indicators: a moderate level of legal knowledge among parking attendants concerning the provision of proof of payment; a high level of legal understanding; a substantial number of positive legal attitudes agreeing with the provision of proof of payment; and a significant degree of legal behavior in compliance with the regulations governing the issuance of proof of payment. Furthermore, disciplinary factors, motivation, and facilities and infrastructure significantly influence the level of legal awareness among parking attendants in providing proof of parking payment. In other words, these three factors have a positive effect on the high level of legal awareness demonstrated by parking attendants in issuing proof of parking payment. | |
| 48526 | 51932 | J1C021041 | Mekubari, Kikubari, Kokorokubari sebagai Konsep Omotenashi pada Klub Golf Kokura Country Club Fukuoka Jepang | Penelitian ini membahas penerapan konsep omotenashi melalui tiga sikap utama, yaitu mekubari (pengamatan), kikubari (inisiatif), dan kokorokubari (empati), pada klub golf Kokura Country Club di Prefektur Fukuoka, Jepang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum ditemukannya kajian mengenai implementasi omotenashi dalam bidang olahraga, khususnya golf, walaupun industri golf di Jepang memiliki keterkaitan erat dengan budaya pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan penerapan ketiga sikap tersebut dalam praktik pelayanan pramugolf. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi mendalam dan wawancara terstruktur. Sumber data terdiri atas tiga orang pramugolf dan satu orang master caddy yang aktif bekerja di Kokura Country Club, serta pengalaman partisipatif peneliti sebagai pramugolf selama periode Januari 2024 hingga Januari 2025. Data dianalisis melalui proses penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekubari diterapkan melalui pengamatan menyeluruh terhadap kondisi tamu dan lingkungan lapangan, kikubari diwujudkan dalam tindakan inisiatif tanpa menunggu instruksi, seperti menyiapkan perlengkapan dan memberikan saran permainan, sedangkan kokorokubari tercermin dari perhatian tulus terhadap kenyamanan, keselamatan, dan kondisi emosional tamu. Ketiga sikap tersebut saling berkaitan dan membentuk sistem pelayanan yang konsisten, detail, dan berorientasi pada pengalaman tamu. Penelitian ini memperluas kajian omotenashi ke ranah olahraga serta memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan pelayanan berbasis budaya Jepang. | This study examines the implementation of the concept of omotenashi through three fundamental attitudes: mekubari (attentive observation), kikubari (initiative), and kokorokubari (empathy) at Kokura Country Club in Fukuoka Prefecture, Japan. This research is motivated by the limited academic discussion on the application of omotenashi within the field of sports, particularly golf, despite the strong connection between the Japanese golf industry and service culture. The purpose of this study is to describe how these three attitudes are practiced in caddy service. This research employs a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth observation and structured interviews. The primary sources consist of three caddies and one master caddy actively working at Kokura Country Club, as well as the researcher’s participatory experience as a caddy from January 2024 to January 2025. The data were analyzed through presentation and conclusion drawing. The findings reveal that mekubari is manifested through comprehensive observation of both guests and the course environment; kikubari is expressed through proactive actions taken without waiting for instructions, such as preparing equipment and providing game-related advice; and kokorokubari is reflected in sincere concern for guests’ comfort, safety, and emotional condition. These three attitudes are interconnected and collectively form a consistent, detailoriented service system focused on enhancing the guest experience. This study expands the scope of omotenashi research into the sports sector and provides both theoretical and practical contributions to the development of Japanese culture-based service. | |
| 48527 | 51933 | H1D022006 | IMPLEMENTASI LSTM UNTUK PREDIKSI KONSUMSI KALORI HARIA BERDASARKAN DATA NERACA BAHAN MAKANAN KEMENTERIAN PERTANIAN | Ketahanan pangan merupakan isu kritis bagi Indonesia yang menempati peringkat ke-69 dari 113 negara pada Global Food Security Index 2022. Metode prediksi konvensional seperti regresi linear dan penghalusan eksponensial tunggal memiliki akurasi terbatas dengan MAPE 15-20% serta tidak mampu menangkap pola temporal konsumsi pangan yang dipengaruhi oleh faktor musiman, krisis ekonomi, dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model machine learning untuk memprediksi konsumsi kalori per kapita berdasarkan data Neraca Bahan Makanan Indonesia dengan target akurasi MAPE di bawah 10%. Penelitian menggunakan metodologi CRISP-DM meliputi tahapan Business Understanding, Data Understanding, Data Preparation, Modeling, Evaluation, dan Deployment. Data NBM periode 1993-2024 sebanyak 48.696 baris mencakup 112 komoditas diolah menjadi 39 fitur prediktif. Empat model dikembangkan yaitu LSTM, XGBoost, HuberRegressor, dan LSTM Enhanced Ensemble dengan bobot optimal 90:5:5. Hasil evaluasi menunjukkan LSTM Enhanced Ensemble mencapai performa terbaik dengan MAE 773,21 ton, RMSE 1.815,99 ton, MAPE 3,72%, dan R² 0,9898. Model ini melampaui target penelitian dan menjelaskan 98,98% variasi konsumsi kalori. Model diintegrasikan ke dalam sistem informasi berbasis web menggunakan arsitektur microservices dengan Laravel 11, FastAPI, dan Docker. | Food security is a critical issue for Indonesia, ranking 69th out of 113 countries in the Global Food Security Index 2022. Conventional prediction methods such as linear regression and single exponential smoothing have limited accuracy with MAPE of 15-20% and are unable to capture temporal patterns of food consumption influenced by seasonal factors, economic crises, and climate change. This study aims to develop a machine learning model to predict per capita calorie consumption based on Indonesia's Food Balance Sheet data with a target accuracy of MAPE below 10%. The research uses the CRISP-DM methodology covering Business Understanding, Data Understanding, Data Preparation, Modeling, Evaluation, and Deployment stages. Food Balance Sheet data from 1993-2024 comprising 48,696 rows covering 112 commodities were processed into 39 predictive features. Four models were developed: LSTM, XGBoost, HuberRegressor, and LSTM Enhanced Ensemble with optimal weights of 90:5:5. Evaluation results show that LSTM Enhanced Ensemble achieved the best performance with MAE of 773.21 thousand tons, RMSE of 1,815.99 thousand tons, MAPE of 3.72%, and R² of 0.9898. This model exceeded the research target and explained 98.98% of calorie consumption variation. The model was integrated into a web-based information system using microservices architecture with Laravel 11, FastAPI, and Docker. | |
| 48528 | 51934 | I1A022112 | Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Pegawai di Puskesmas Sokaraja 1 | Latar Belakang: Puskesmas Sokaraja 1 memiliki komposisi profesi yang beragam, namun masih menghadapi kekurangan tenaga akibat faktor meninggal dunia, mutasi, dan pensiun. Perencanaan kebutuhan SDM dilakukan melalui aplikasi Renbut, tetapi keterbatasan dalam pemenuhan formasi menyebabkan beban kerja meningkat dan berdampak pada produktivitas pelayanan, seperti penurunan jumlah pasien yang dapat dilayani. Selain itu, kinerja pegawai juga dipengaruhi oleh aspek pendapatan, motivasi kerja, kepemimpinan, dan beban kerja. Secara umum, kinerja Puskesmas Sokaraja 1 berada pada kategori sedang, dengan kinerja manajemen yang baik namun kinerja pelayanan belum sepenuhnya memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai di Puskesmas Sokaraja 1. Jenis Penelitian: Kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional dan teknik total sampling. Populasi seluruh pegawai di Puskesmas Sokaraja 1 sebanyak 55 orang dengan sampel 55 orang. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji spearman’s rank correlation dan pearson correlation test. Hasil Penelitian: Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa variabel yang berhubungan yaitu motivasi (p=0,000), kepemimpinan (p=0,001), dan beban kerja (p=0,002) sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu pendapatan (p=0,097) Simpulan: Terdapat hubungan antara variabel motivasi, kepemimpinan, dan beban kerja terhadap kinerja pegawai di Puskesmas Sokaraja 1 Kata Kunci: Kinerja pegawai, Motivasi, Kepemimpinan, dan Beban Kerja | Background: Puskesmas Sokaraja 1 has a diverse professional workforce, however it continues to experience staff shortages due to factors such as death, transfer, and retirement. Human resource needs planning is conducted using the Renbut application, nevertheless limitations in staffing fulfillment have led to increased workloads and reduced service productivity, including a decline in the number of patients served. In addition, employee performance is influenced by income, work motivation, leadership, and workload. Overall, the performance of Puskesmas Sokaraja 1 is categorized as moderate, with good management performance, while healthcare service performance has not fully met the Minimum Service Standards (MSS). Therefore, this study aims to analyze the factors associated with employee performance at Puskesmas Sokaraja 1. Methode: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach and total sampling technique. The population consisted of all 55 employees at Puskesmas Sokaraja 1, with a sample size of 55 respondents. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, including Spearman’s rank correlation and Pearson correlation tests. Results: Bivariate analysis showed that motivation (p= 0.000), leadership (p= 0.001), and workload (p= 0.002) were significantly associated with employee performance, while income was not significantly associated with employee performance (p= 0.097). Conclusion: There is a significant relationship between motivation, leadership, and workload and employee performance at Puskesmas Sokaraja 1. Keyword: Employee performance, motivation, leadership, workload | |
| 48529 | 51935 | I2B024008 | Pengembangan Alat Low Level Laser Therapy Berbasis Sensor Pengukur Luka Otomatis (LASTHERA MODIFIED) Dalam Penyembuhan Luka Ulkus Kaki Diabetes Mellitus | Latar Belakang: Diabetes mellitus sering menimbulkan komplikasi berupa ulkus kaki diabetes yang sulit disembuhkan, sehingga meningkatkan risiko amputasi serta menurunkan kualitas hidup. Low level laser therapy berpotensi mempercepat penyembuhan melalui penurunan inflamasi dan stimulasi regenerasi jaringan, tetapi alat yang tersedia umumnya belum dilengkapi dudukan ergonomis, pengatur waktu, suhu, jarak antara alat dan luka serta sensor pengukur luka otomatis. Karena itu, pengembangan LASTHERA MODIFIED diperlukan untuk mendukung terapi dan evaluasi penyembuhan ulkus kaki diabetes secara lebih akurat, efisien, dan aman. Metode: Penelitian ini menerapkan metode Research and Development (R&D) dengan tahapan prototyping. Uji validitas dilakukan menggunakan Content Validity Index (CVI) sedangkan uji reliabilitas menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Kelayakan alat dinilai menggunakan kuesioner USE, dan uji pada kelompok kecil dianalisis menggunakan Mann whitney test. Hasil: Uji validitas dengan nilai mean I-CVI 0,95, sedangkan uji reliabilitas ICC dengan hasil 0,932. Kelayakan alat dinilai menggunakan kuesioner USE, dan uji pada kelompok kecil dianalisis menggunakan mann whitney test. Uji kelayakan menggunakan USE dengan hasil 94,95% yang menunjukkan bahwa alat memenuhi kriteria usability. Pada uji kelompok kecil, hasil analisis menunjukkan p-value 0,000 (<0,05), yang menandakan terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai pre-test dan post-test dengan perbaikan hasil penyembuhan luka setelah intervensi. Kesimpulan: LASTHERA MODIFIED menunjukkan hasil uji validitas pakar valid dan reliabel, serta berada pada kategori sangat layak, sehingga dinilai sesuai untuk digunakan memenuhi kebutuhan pengguna. Pada uji kelompok kecil, penggunaan LASTHERA MODIFIED juga terbukti mendukung percepatan proses penyembuhan luka. Kata Kunci: Low level laser therapy, penyembuhan luka, Perawatan luka, Ulkus kaki DM | Background: Diabetes mellitus often leads to complications such as diabetic foot ulcers that are difficult to heal, increasing the risk of amputation and reducing quality of life. Low level laser therapy may accelerate wound healing by reducing inflammation and stimulating tissue regeneration; however, most available devices lack an ergonomic stand, timer, temperature control, adjustable distance between the device and the wound, and an automatic wound-measurement sensor. Therefore, the development of LASTHERA MODIFIED is needed to support more accurate, efficient, and safe therapy and evaluation of diabetic foot ulcer healing. Methods: This study employed a Research and Development (R&D) approach with a prototyping stage. Validity testing was conducted using the Content Validity Index (CVI), while reliability was assessed using the Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Device feasibility was evaluated using the USE questionnaire, and small-group testing was analyzed using the Mann–Whitney test. Results: The validity test showed a Mean I-CVI value of 0.95, while the reliability test yielded an ICC value of 0.932. Feasibility assessment using the USE questionnaire resulted in a score of 94.95%, indicating that the device met usability criteria. In the small-group test, the analysis showed a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a statistically significant difference between pre-test and post-test scores, with improved wound healing outcomes after the intervention. Conclusion: LASTHERA MODIFIED demonstrated valid and reliable expert evaluation results and was categorized as highly feasible, indicating its suitability for meeting user needs. In small-group testing, the use of LASTHERA MODIFIED was also shown to support accelerated wound healing. Keywords: Diabetic foot ulcer, Low level laser therapy, Wound care, Wound healing | |
| 48530 | 51936 | J1C020036 | KONSEP IKIGAI TOKOH KIYO PADA DRAMA THE MAKANAI: COOKING FOR THE MAIKO HOUSE | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep ikigai dalam penentuan karier dan pencapaian kondisi flourishing pada tokoh Kiyo dalam drama The Makanai: Cooking for the Maiko House. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi adegan dan studi pustaka terkait teori Ikigai Ken Mogi serta teori flourishing PERMA Martin Seligman. Analisis difokuskan pada penerapan lima pilar Ikigai yaitu Chiisaku Hajimeru Koto, Jibun Kara no Kaihō, Chōwa to Jizoku Kanōsei, Chiisa na Yorokobi, dan Ima Koko ni Iru Koto serta keterkaitannya dengan pemilihan karier dan kondisi Flourishing tokoh Kiyo.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pilar-pilar Ikigai membantu Kiyo mengenali minat dan potensinya sehingga menemukan karier yang selaras sebagai makanai-san. Keselarasan antara Ikigai dan karier yang dijalaninya berkontribusi terhadap tercapainya kondisi Flourishing, tercermin dari keterlibatan mendalam (engagement), makna dan pencapaian (meaning dan accomplishment), hubungan sosial yang harmonis (relationships), serta pengalaman emosi positif (positive emotion). Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui penerapan Ikigai, tokoh Kiyo mampu menemukan karier yang selaras dengan dirinya sekaligus mencapai kondisi Flourishing | This study aims to analyze the application of the concept of ikigai in career determination and the achievement of a flourishing condition in the character Kiyo in the drama The Makanai: Cooking for the Maiko House. The research employs a descriptive qualitative approach, with data collection techniques consisting of scene documentation and a literature review related to Ken Mogi’s Ikigai theory and Martin Seligman’s PERMA theory of flourishing. The analysis focuses on the implementation of the five pillars of Ikigai—Chiisaku Hajimeru Koto, Jibun Kara no Kaihō, Chōwa to Jizoku Kanōsei, Chiisa na Yorokobi, and Ima Koko ni Iru Koto—and their relationship to career choice and Kiyo’s flourishing condition. The findings indicate that the application of the Ikigai pillars enables Kiyo to recognize her interests and potential, leading her to discover a career aligned with herself as a makanai-san. The alignment between Ikigai and her chosen career contributes to the attainment of a flourishing condition, reflected in deep engagement, meaning and accomplishment, harmonious social relationships, and the experience of positive emotions. Therefore, this study concludes that through the application of Ikigai, Kiyo is able to find a career aligned with her authentic self while simultaneously achieving a flourishing condition. | |
| 48531 | 51937 | I2B024033 | Efektivitas media pembelajaran dengan virtual reality non imersive ventilator laboratory (VentLab VR) terhadap pengetahuan, motivasi belajar, dan self-efficacy Mahasiswa | ABSTRAK EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN VIRTUAL REALITY NON IMERSIVE VENTILATOR LABORATORY (VENTLAB) TERHADAP PENGETAHUAN, MOTIVASI BELAJAR, DAN SELF-EFFICACY MAHASISWA Yohanes Wahyu Nugroho1, Desiyani Nani2, Arif Setyo Upoyo3 Latar belakang: Ventilator mekanik merupakan alat medis kompleks yang penting dalam keperawatan kritis, namun pembelajaran ventilator di perguruan tinggi kesehatan masih didominasi metode konvensional berupa ceramah dan buku saku tanpa praktik langsung. Keterbatasan alat, biaya tinggi, serta minimnya pengalaman praktik menyebabkan rendahnya pengetahuan, motivasi belajar, dan self-efficacy mahasiswa. Virtual Reality Non Imersive Ventilator Laboratory (VentLab VR) dikembangkan sebagai media pembelajaran inovatif untuk memberikan pengalaman belajar yang Imersive, interaktif, dan aman. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh VentLab VR terhadap penegtahuan, motivasi belajar dan Self-efficacy Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Desain evaluasi efektivitas menggunakan quasi-experimental dengan pretest–posttest control group design. Sampel terdiri dari 50 responden mahasiswa keperawatan yang dibagi menjadi kelompok intervensi (VR VentLab + buku saku) dan kelompok kontrol (buku saku). Instrumen penelitian meliputi kuesioner pengetahuan, motivasi belajar, dan self-efficacy yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji paired sample t test, uji independent t-test dan effect size. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan yang signifikan pada pengetahuan, motivasi belajar, dan self-efficacy dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Hasil uji effect size menunjukkan bahwa intervensi VR VentLab memberikan efek sedang pada pengetahuan (d = 0,2031) serta efek besar pada motivasi belajar (d = 1,8587) dan self-efficacy (d = 1,2352) dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan: Media pembelajaran berbasis VR VentLab efektif meningkatkan pengetahuan, motivasi belajar, dan self-efficacy mahasiswa dalam memahami ventilator mekanik, sehingga berpotensi menjadi alternatif pembelajaran inovatif pada pendidikan keperawatan kritis. Kata Kunci: motivasi belajar, pengetahuan, self-efficacy, ventilator, virtual-reality. 1Mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 2Departemen Pasca Sarjana Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | ABSTRACT THE EFFECTIVENESS OF LEARNING MEDIA WITH VIRTUAL REALITY NON IMERSIVE VENTILATOR LABORATORY (VENTLAB) ON STUDENT KNOWLEDGE, LEARNING MOTIVATION, AND SELF-EFFICACY Background: Mechanical ventilators are complex medical devices that are important in critical nursing, but ventilator learning in health colleges is still dominated by conventional methods in the form of lectures and handbook without hands-on practice. Limited tools, high costs, and lack of practical experience cause low knowledge, learning motivation, and self-efficacy of students. Virtual Reality (VR) Ventilator Laboratory (VentLab) based on 360° video was developed as an innovative learning medium to provide an immersive, interactive, and safe learning experience. Objective: This study is to determine the effect of VentLab VR on knowledge, learning motivation and self-efficacy. Methods: This study uses a Research and Development (R&D) approach with the ADDIE model. The effectiveness evaluation design used quasi-experimental with a pretest–posttest control group design. The sample consisted of 50 nursing student respondents who were divided into an intervention group (VR VentLab + handbook) and a control group (handbook). The research instruments include questionnaires of knowledge, learning motivation, and self-efficacy that have been tested for validity and reliability. Data analysis used paired sample t test, independent t-test and effect size test. Results: The results showed that the intervention group experienced a significant improvement in knowledge, learning motivation, and self-efficacy compared to the control group (p < 0.001). The results of the effect size test showed that the VR VentLab intervention had a moderate effect on knowledge (d = 0.2031) and a large effect on learning motivation (d = 1.8587) and self-efficacy (d = 1.2352) compared to the control group. Conclusion: VentLab's VR-based learning media is effective in increasing students' knowledge, learning motivation, and self-efficacy in understanding mechanical ventilators, so that it has the potential to be an innovative learning alternative to critical nursing education. Keywords: knowledge, learning-motivation, self-efficacy, ventilator, virtual-reality non-imersive. 1Student of the Postgraduate Study Program of the Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University 2Department of Postgraduate Nursing Sciences, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University | |
| 48532 | 51944 | F1A022014 | AKU BAHAGIA TINGGAL DI PANTI: Studi Mengenai Pengalaman Sosial Lansia di Panti Wredha Sahita Mulya | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman sosial lansia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Validasi data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sosial lansia terdiri dari: proses adaptasi, interaksi sosial, dan rekonstruksi makna panti. Proses adaptasi lansia di panti dipengaruhi oleh berbagai latar belakang keluarga, kondisi kesehatan, dan keterlibatan lansia dalam pengambilan keputusan. Adaptasi berlangsung melalui penyesuaian terhadap aturan dan aktivitas panti yang mendorong interaksi sosial. Lansia berinteraksi di panti melalui kegiatan berbagi cerita dengan teman seusianya, mereka menjalankan hobinya, dan pendampingan perawat serta suster biara di panti juga semakin meningkatkan kemampuan komunikatif lansia. Interaksi lansia dengan keluarga juga masih tetap terjaga melalui dukungan intrumental dan emosional yang diberikan. Dengan demikian, rekonstruksi makna panti terjadi seiring pengalaman sosial lansia selama tinggal di panti. Panti yang awalnya dianggap sebagai simbol penelantaraan, kini menjadi ruang kehidupan yang aman, bermakna, dan mendukung kebahagiaan. | This study aims to describe the social experiences of older adults. This study uses a descriptive qualitative method. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validation was performed using source triangulation. The results show that the social experiences of the elderly consist of: the adaptation process, social interaction, and the reconstruction of the meaning of the nursing home. The adaptation process of the elderly in nursing homes is influenced by various family backgrounds, health conditions, and the involvement of the elderly in decision-making. Adaptation takes place through adjustment to the rules and activities of the nursing home that encourage social interaction. The elderly interact in nursing homes through activities such as sharing stories with their peers, pursuing their hobbies, and the assistance of nurses and nuns in the nursing home also further improves the communicative abilities of the elderly. The elderly's interaction with their families is also maintained through the instrumental and emotional support provided. Thus, the reconstruction of the meaning of the nursing home occurs along with the social experiences of the elderly during their stay at the nursing home. Nursing homes, which were initially considered a symbol of neglect, have now become a safe, meaningful, and supportive space for happiness. | |
| 48533 | 51938 | J1E020049 | CODE-SWITCHING IN RITUELI DAELI YOUTUBE CHANNEL (A Descriptive Qualitative Research of an Informal Teaching Process in YouTube) | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis alih kode, pola bahasa, serta bagaimana alih kode oleh Ritueli Daeli dalam video pembelajaran bahasa Inggris di YouTube. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis isi kualitatif, dengan data dianalisis berdasarkan teori alih kode Poplack (1980) serta analisis pola bahasa yang ditinjau dari arah peralihan bahasa dalam tuturan. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga jenis alih kode, yaitu tag switching, intra-sentential switching, dan inter-sentential switching, dengan intra-sentential switching sebagai jenis yang paling dominan. Dominasi ini menunjukkan bahwa unsur bahasa Inggris sering disisipkan ke dalam kalimat berbahasa Indonesia untuk menjelaskan konsep tata bahasa, memberikan contoh, dan menekankan poin-poin penting. Inter-sentential switching berfungsi sebagai alat pedagogis untuk memperkuat pemahaman melalui penjelasan ulang dan klarifikasi, sementara tag switching muncul paling jarang dan berfungsi sebagai penanda interaksional. Berdasarkan pola bahasa, ditemukan lima pola alih kode, yaitu Indonesian–English, Indonesian–English–Indonesian, English–Indonesian, English–Indonesian–English, dan English–French, dengan pola Indonesian–English–Indonesian sebagai pola yang paling dominan yang mencerminkan strategi scaffolding, di mana bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar utama sementara bahasa Inggris diperkenalkan sebagai bahasa sasaran. Selain itu, alih kode juga digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dengan menjaga perhatian, menciptakan suasana belajar yang lebih akrab, dan mengurangi tingkat formalitas. Respons audiens mendukung efektivitas strategi ini melalui komentar yang menekankan kejelasan penjelasan dan apresiasi terhadap gaya mengajar. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa alih kode dalam video YouTube tersebut bersifat terencana, bermotivasi pedagogis, dan efektif dalam mendukung pemahaman serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris secara informal di lingkungan digital. | This study investigates the types of code-switching, language patterns, and how code-switching is used in teaching by Ritueli Daeli in English learning videos on YouTube. Employing a descriptive qualitative approach with qualitative content analysis, the data were analyzed based on Poplack’s (1980) theory of code-switching and analysis of language patterns derived from the direction of language alternation within utterances. The findings reveal three types of code-switching: tag-switching, intra-sentential switching, and inter-sentential switching, with intra-sentential switching being the most dominant. This dominance indicates frequent integration of English elements into Indonesian sentences to explain grammatical concepts, provide examples, and emphasize key points. Inter-sentential switching functions as a pedagogical tool to reinforce comprehension through restatement and clarification, while tag switching appears least frequently and serves interactional purposes. five language patterns were identified: Indonesia-English, Indonesian-English-Indonesian, English-Indonesian, English-Indonesian-English, and English-French, with the Indonesian-English-Indonesian being the most dominant, reflecting scaffolding strategy in which Indonesian serves as the main instructions; language while English is introduced as the target language. In addition, code-switching is used as a strategy to engage students by maintaining attention, creating a familiar learning atmosphere, and reducing formality during instruction. Audience responses further support the effectiveness of this strategy, as learners frequently expressed clarity of understanding and positive perceptions of the teaching style. Overall, the study concludes that code-switching in these YouTube videos is purposeful, pedagogically motivated, and effective in supporting both comprehension and student engagement in informal digital English learning. | |
| 48534 | 49299 | C1A021017 | Determinan Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah | Nilai IPM di Jawa Tengah selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, IPM Jawa Tengah masih menempati urutan kedua terendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kemiskinan, PDRB per kapita, morbiditas, jaminan kesehatan dan pendidikan tinggi terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Penelitian ini menggunakan data dari 35 kabupaten kota di Jawa Tengah tahun 2021-2023. Dengan metode regresi data panel yang diaplikasikan melalui Eviews 12 dan menggunakan model Fixed Effect Model (FEM). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemiskinan dan morbiditas berpengaruh negatif signifikan terhadap IPM, sedangkan PDRB per kapita, jaminan kesehatan, dan penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi berpengaruh positif signifikan terhadap IPM di Jawa Tengah. PDRB per kapita memiliki pengaruh paling dominan terhadap IPM di Jawa Tengah. Implikasi dari penelitian ini adalah pemerintah diharapkan dapat mendorong peningkatan pembangunan daerah dan meningkatkan program-program bantuan kepada seluruh sektor yang berkaitan dengan masyarakat. | The value of HDI in Central Java has always increased every year, but compared to other provinces in Java Island, it still has the second lowest HDI. The purpose of this study is to analyze the effect of poverty, GRDP per capita, morbidity rate, health insurance and tertiary education on the Human Development Index. This study uses data from 35 districts and cities in Central Java for 2021-2023. With the panel data regression method applied through Eviews 12 and using the Fixed Effect Model (FEM) model. The results of this study indicate that poverty and morbidity have a significant negative effect on HDI, while GRDP per capita, health insurance, and the population who completed tertiary education have a significant positive effect on HDI in Central Java. GRDP per capita has the most dominant influence on HDI in Central Java. The implication of this research is that the government is expected to encourage the improvement of regional development and increase aid assistance programs to all sectors related to the society. | |
| 48535 | 51940 | B1A022039 | Prevalensi Soil-Transmitted Helminths (STH) pada Sayur Lalapan di Pasar Modern Purwokerto | Pasar modern merupakan tempat berbelanja yang lebih nyaman dan efisien dengan konsep self-service. Banyak orang memilih membeli sayuran di pasar modern karena berkaitan dengan kenyamanan, kualitas, dan fasilitas yang lengkap. Purwokerto memiliki dua pasar modern besar yang menjual berbagai sayuran antara lain sayur lalapan. Sayur-sayuran yang dimakan mentah sebagai lalapan, memiliki risiko tinggi terkontaminasi Soil-Transmitted Helminths (STH). Jenis sayur yang biasa dijadikan lalapan antara lain kubis (Brassica oleracea L.), kemangi (Ocimum basilicum), selada (Lactuca sativa), dan kacang panjang (Vigna unguiculata L.). Cacing STH merupakan nematoda usus yang membutuhkan tanah untuk siklus hidupnya dan mengkontaminasi manusia melalui makanan seperti lalapan. Pada lalapan, telur cacing akan melekat pada sayuran, sehingga apabila dikonsumsi manusia dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive yaitu mengambil jenis sayur lalapan dengan kriteria tertentu. Sampel berupa sayur lalapan yang berpotensi terkontaminasi STH yaitu kubis, kemangi, selada, dan kacang panjang. Sampel diambil tiga helai terluar dan tiga helai terdalam untuk kubis dan selada, tiga cabang untuk kemangi, serta tiga helai kacang panjang. Pengambilan sampel dilakukan pada kedua pasar modern, seminggu sekali pada setiap jenis sayur selama satu bulan. Jumlah sampel sayur lalapan yang diamati dari dua pasar modern adalah 128 sampel menggunakan metode apung. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif, diindentifikasi mengacu referensi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telur STH, dan prevalensi dihitung berdasarkan rasio banyaknya sayur lalapan yang terkontaminasi telur STH dibandingkan dengan jumlah seluruh sayur lalapan yang diperiksa. Hasil penelitian ditemukan tiga jenis telur STH, yaitu telur Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, dan Trichuris trichiura dengan prevalensi telur A. lumbricoides 14,06%, A. duodenale 1,56%, dan T. trichiura 5,46% dengan total prevalensi 21,08%. Prevalensi tinggi ditemukan pada kubis yaitu 31,24%, kedua selada 24,99%, ketiga kemangi 18,75% dan terendah pada kacang panjang 12,5%. | Modern markets are more convenient and efficient shopping places with a self-service concept. Many people choose to buy vegetables at modern markets because of their convenience, quality, and complete facilities. Purwokerto has two large modern markets that sell various vegetables, including fresh vegetables. Vegetables that are eaten raw as lalapan have a high risk of being contaminated with Soil-Transmitted Helminths (STH). Types of vegetables commonly used as lalapan include cabbage (Brassica oleracea L.), basil (Ocimum basilicum), lettuce (Lactuca sativa), and long beans (Vigna unguiculata L.). STH worms are intestinal nematodes that require soil for their life cycle and contaminate humans through foods such as lalapan. In lalapan, worm eggs attach to vegetables, so when consumed by humans, they can cause infection. The research method used was a survey with purposive sampling technique, which involved selecting certain types of vegetables based on specific criteria. The samples were vegetables that had the potential to be contaminated with STH, namely cabbage, basil, lettuce, and long beans. Three outer leaves and three inner leaves were taken from the cabbage and lettuce, three branches from the basil, and three leaves from the long beans. Sampling was carried out at both modern markets once a week for each type of vegetable for one month. The number of raw vegetable samples observed from two modern markets was 128 samples using the floating method. The data obtained was analyzed using descriptive analysis, identified with reference to the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) STH eggs, and the prevalence was calculated based on the ratio of raw vegetables contaminated with STH eggs compared to the total number of raw vegetables examined. The study found three types of STH eggs, namely Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, and Trichuris trichiura eggs with a prevalence of A. lumbricoides eggs at 14.06%, A. duodenale at 1.56%, and T. trichiura at 5.46% with a total prevalence of 21.08%. High prevalence was found in cabbage at 31.24%, followed by lettuce at 24.99%, basil at 18.75%, and the lowest in long beans at 12.5%. | |
| 48536 | 51960 | C1G022001 | THE EFFECT OF MEAN YEARS OF SCHOOLING, DISTRICT/CITY, MINIMUM WAGE, AND GRDP PER CAPITA ON LIFE EXPECTANCY IN EAST JAVA PROVINCE | Harapan hidup merupakan indikator fundamental pembangunan manusia yang mencerminkan kesehatan dan kesejahteraan keseluruhan suatu populasi. Meskipun pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, harapan hidup di Provinsi Jawa Timur tetap lebih rendah dibandingkan beberapa provinsi lain di Pulau Jawa, yang menunjukkan kesenjangan antara kinerja ekonomi dan hasil kesehatan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rata-rata tahun pendidikan, upah minimum kabupaten/kota, dan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita terhadap harapan hidup di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur selama periode 2020–2024. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel yang diolah dalam EViews 13, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan lembaga pemerintah terkait, menerapkan prosedur pemilihan model dan uji asumsi klasik untuk memastikan hasil estimasi yang kuat dan andal. Temuan menunjukkan bahwa rata-rata tahun pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harapan hidup, sementara upah minimum distrik/kota dan PDB per kapita tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan secara statistik, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk secara substansial meningkatkan kesehatan penduduk tanpa meningkatkan kualitas modal manusia. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya memprioritaskan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pendidikan, memperluas akses ke pendidikan, mengurangi kesenjangan regional, dan memperkuat literasi kesehatan, sambil melengkapi kebijakan ekonomi dan upah dengan intervensi sosial dan kesehatan yang inklusif untuk memastikan bahwa hasil pembangunan secara efektif diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih panjang dan lebih sehat. Kata kunci: Harapan Hidup, Rata-rata Tahun Pendidikan, Upah Minimum Distrik/Kota, PDB per Kapita | Life expectancy is a fundamental indicator of human development that reflects the overall health and welfare of a population. Despite sustained economic growth, life expectancy in East Java Province remains lower than in several other provinces on Java Island, indicating a gap between economic performance and health outcomes. This study aims to analyze the influence of mean years of schooling, district/city minimum wage, and Gross Regional Domestic Product (GRDP) per capita on life expectancy across districts and cities in East Java Province during the 2020–2024 period. Using a quantitative approach with panel data regression analysis processed in EViews 13, this research employs secondary data obtained from Statistics Indonesia and relevant government institutions, applying model selection procedures and classical assumption tests to ensure robust and reliable estimation results. The findings reveal that mean years of schooling has a positive and significant effect on life expectancy, while district/city minimum wage and GRDP per capita do not show a statistically significant direct effect, suggesting that economic growth alone is insufficient to substantially improve population health without enhancing human capital quality. These results underscore the importance of prioritizing education-oriented development policies, expanding access to schooling, reducing regional disparities, and strengthening health literacy, while complementing economic and wage policies with inclusive social and health interventions to ensure that development outcomes are effectively translated into longer and healthier lives. Keywords: Life Expectancy, Mean Years of Schooling, District/City Minimum Wage, GRDP per Capita | |
| 48537 | 51942 | I2A024003 | DETERMINAN KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DI WILAYAH PERDESAAN KABUPATEN CILACAP | Latar belakang: Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal, terutama di wilayah perdesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Di Kabupaten Cilacap, kondisi ini masih berkontribusi terhadap tingginya angka kematian maternal. Salah satu tantangan utama dalam pengendalian hipertensi kehamilan adalah tingginya ketidakpatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Ketidakpatuhan tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor individu, sosial, dan sistem layanan kesehatan yang belum teridentifikasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menentukan determinan yang paling berhubungan dengan ketidakpatuhan minum obat antihipertensi pada ibu hamil dengan hipertensi di wilayah perdesaan Kabupaten Cilacap. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 310 ibu hamil dengan hipertensi. Variabel yang diteliti meliputi usia kehamilan, urutan kehamilan, pengetahuan, sikap terhadap pengobatan, penyakit penyerta, riwayat hipertensi, akses layanan kesehatan, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, motivasi pribadi, efek samping obat dan kecemasan, serta ketidakpatuhan minum obat. Ketidakpatuhan diukur menggunakan MMAS-8 yang dimodifikasi, sedangkan variabel lainnya menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan dengan uji univariat, chi-square, dan regresi logistik multivariat. Hasil: Hasil bivariat memperlihatkan bahwa variabel pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan motivasi pribadi memiliki hubungan dengan ketidakpatuhan minum obat hipertensi pada ibu hamil.Sedangkan berdasarkan uji multivariat terdapat dua variabel yang mempengaruhi secara signifikan terhadap ketidakpatuhan minum obat pada ibu hamil diantaranya variabel motivasi pribadi yang kurang terhadap pengobatan dan sikap yang tidak mendukung terhadap pengobatan. Kesimpulan: Peningkatan motivasi pribadi dan penguatan sikap positif melalui komunikasi edukatif berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan terapi antihipertensi pada ibu hamil di wilayah perdesaan. | Background: Hypertensive disorders in pregnancy remain a leading cause of maternal morbidity and mortality, particularly in rural areas with limited access to health services. In Cilacap Regency, this condition continues to contribute substantially to maternal deaths. Non-adherence to antihypertensive medication among pregnant women poses a major challenge in controlling the disease. This behavior is presumed to be influenced by individual, social, and health system–related factors that have not been comprehensively identified. This study aimed to determine the determinants most strongly associated with non-adherence to antihypertensive medication among pregnant women with hypertension in rural areas of Cilacap Regency. Methods: A quantitative study with a cross-sectional design was conducted among 310 pregnant women with hypertension. The variables examined included gestational age, pregnancy order, knowledge, attitudes toward treatment, comorbidities, history of hypertension, access to healthcare services, family support, healthcare provider support, personal motivation, medication side effects, anxiety, and medication non-adherence. Non-adherence was measured using a modified Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), while the other variables were assessed using structured questionnaires. Data were analyzed using univariate analysis, chi-square tests, and multivariate logistic regression. Results: The bivariate analysis showed that the variables of knowledge, attitude, family support, and personal motivation were associated with non-adherence to antihypertensive medication among pregnant women. Meanwhile, based on multivariate analysis, two variables were found to have a significant influence on medication non-adherence among pregnant women, namely low personal motivation toward treatment and negative attitudes toward treatment. Conclusion:Enhancing personal motivation and strengthening positive attitudes through educational communication play an important role in improving adherence to antihypertensive therapy among pregnant women in rural areas. | |
| 48538 | 51946 | F1A022051 | Hubungan Jenis Kelamin dan Persepsi Mengenai Kesuksesan dengan Kedisiplinan Siswa SMA | Kedisiplinan menjadi faktor yang krusial untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Untuk menanamkan kedisiplinan, sekolah menjadi salah satu tempat yang dapat menanamkan nilai-nilai kedisiplinan. Namun, tingkat keberhasilan belajar siswa di Indonesia tergolong rendah. Artinya, tingkat kedisiplinan siswa di Indonesia masih menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Kasus kriminalisasi guru menjadi salah satu hambatan penanaman nilai kedisiplinan kepada siswa. Kasus kriminalisasi guru dapat membuat hubungan guru dengan siswa kurang baik. Selain itu, ada faktor lain yang dapat memengaruhi kedisiplinan siswa di sekolah. Penelitian ini berjudul Hubungan Jenis Kelamin dan Persepsi Mengenai Kesuksesan dengan Kedisiplinan Siswa SMA. Penelitian ini menggunakan tiga hipotesis di antaranya, siswa perempuan memiliki tingkat kedisiplinan lebih tinggi daripada siswa laki-laki, terdapat hubungan positif antara persepsi mengenai kesuksesan dengan kedisiplinan siswa SMA dan terdapat hubungan antara jenis kelamin dan persepsi mengenai kesuksesan dengan kedisiplinan siswa SMA. Metode penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik analisis pengambilan sampel proportionate random sampling. Sumber data berasal dari kuesioner, wawancara, artikel jurnal terkait dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan korelasi Tau Kendall, Chi Kuadrat, tabel silang dan tabel DF. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih disiplin daripada laki-laki. Hal ini sesuai dengan hasil Chi Square sebesar 0.000. Perbedaan kedisiplinan terjadi karena ada konstruksi sosial yang menimbulkan stereotip masyarakat mengenai perempuan dan laki-laki berbeda. Selain itu, persepsi mengenai kesuksesan memiliki hubungan dengan kedisiplinan siswa. Berdasarkan korelasi Tau Kendall, hubungan persepsi mengenai kesuksesan dengan kedisiplinan sebesar 0.120 dan signifikansi 0.006. Hubungan tersebut menandakan bahwa semakin positif persepsi mengenai kesuksesan yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula tingkat kedisiplinan mereka. | Discipline is acrucial factor in determining student learning success. Schools are one of the places that can instill values of discipline. However, the level of student learning success in Indonesia is relatively low. This means that the level of student discipline in Indonesia is still an issue that needs attention. The criminalization of teachers is one of the obstacles to instilling values of discipline in students. The criminalization of teachers can damage the relationship between teachers and students. In addition, there are other factors that can affect student discipline in schools. This thesis is entitled The Relationship between Gender and Perceptions of Success with Discipline of High School Students. This study uses three hypotheses, including that female students have a higher level of discipline than male students, there is a positive relationship between perceptions of success and the discipline of high school students, and there is a relationship between gender and perceptions of success with the discipline of high school students. This study uses a survey method with a proportionate random sampling technique. The data sources are questionnaires, Data sources came from questionnaires, interviews, related journal articles, and documentation. Data processing techniques used Kendall's Tau correlation, Chi-Square, cross tables, and DF tables. The results of this study indicate that female students are more disciplined than male students. This is consistent with the Chi-Square result of 0.000. Differences in discipline occur because there are social constructs that give rise to different societal stereotypes about women and men. In addition, perceptions of success are related to student discipline. Based on Kendall's Tau correlation, the relationship between perceptions of success and discipline is 0.120 with a significance of 0.006. This relationship indicates that the more positive the perception of success held by students, the higher their level of discipline. | |
| 48539 | 51941 | I1E019058 | HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN VO2MAX PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB) KALKER KECAMATAN BUMIAYU | Latar Belakang: Sepak bola merupakan olahraga yang menuntut kapasitas kebugaran kardiorespirasi tinggi, terutama pada fase pembinaan usia muda. Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai indikator status gizi diduga memiliki hubungan dengan Volume Oksigen Maksimal (VO₂max) yang merupakan parameter utama kebugaran aerobik. Penelitian mengenai hubungan kedua variabel pada siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) tingkat lokal di wilayah non-metropolitan masih terbatas. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 49 siswa laki-laki SSB Kalker rentang usia 9–16 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran IMT dilakukan menggunakan timbangan digital dan stadiometer, kemudian dihitung menggunakan WHO AnthroPlus. Pengukuran VO₂max dilakukan menggunakan Multistage Fitness Test (MFT). Analisis data diawali dengan uji normalitas Shapiro-Wilk untuk menentukan distribusi data. Hasil uji normalitas menunjukkan data IMT tidak berdistribusi normal (p < 0,05) sementara data VO₂max berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga analisis korelasi menggunakan uji non-parametrik Rank Spearman dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil Penelitian: Distribusi status gizi berdasarkan IMT menunjukkan 26 responden (53,06%) kategori gizi normal, 19 responden (38,78%) gizi buruk, 3 responden (6,12%) gizi kurang, dan 1 responden (2,04%) obesitas. Tingkat VO₂max menunjukkan 25 responden (51,02%) kategori sedang, 18 responden (36,73%) kategori kurang, dan 6 responden (12,25%) kategori baik. Uji korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan negatif signifikan antara IMT dengan VO₂max (r = -0,358; p = 0,011 < 0,05) dengan kekuatan hubungan kategori sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara IMT dengan VO₂max pada siswa SSB Kalker Kecamatan Bumiayu. Peningkatan IMT cenderung diikuti oleh penurunan nilai VO₂max. Pemantauan status gizi dan program latihan kardiorespirasi yang terstruktur perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan kebugaran aerobik siswa SSB. | Background: Football demands high cardiorespiratory fitness capacity, particularly during youth development phases. Body Mass Index (BMI) as a nutritional status indicator is hypothesized to have a relationship with Maximum Oxygen Volume (VO₂max). Research on the relationship between these variables in local Football School students in non-metropolitan areas remains limited. Objective: To determine BMI distribution, VO₂max levels, and the relationship between BMI and VO₂max in SSB Kalker Bumiayu District students. Methods: Quantitative correlational study with cross-sectional approach involving 49 male students of SSB Kalker aged 9–16 years. BMI measurements used WHO AnthroPlus. VO₂max measurements used Multistage Fitness Test (MFT). Analysis used Spearman Rank test (α = 0.05). Results: Nutritional status showed 53.06% normal nutrition, 38.78% severely thin, 6.12% thin, and 2.04% obese. VO₂max levels indicated 51.02% moderate category, 36.73% poor, and 12.25% good. There was a significant negative relationship between BMI and VO₂max (r = -0.358; p = 0.011). Conclusion: An increase in BMI tends to be followed by a decrease in VO₂max values. Monitoring nutritional status and structured cardiorespiratory training programs need to be enhanced to optimize aerobic fitness of football school students. | |
| 48540 | 51939 | F1B018068 | Penerapan Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Pada Pendaftaran Online Pasien di Unit Teknis Pelaksana Daerah Puskesmas Banjarnegara I | Transformasi digital pada layanan kesehatan mendorong pendaftaran pasien secara online di fasilitas pelayanan primer. Penelitian ini menganalisis penerapan digitalisasi pendaftaran online pasien di UPTD Puskesmas Banjarnegara I menggunakan kerangka pengembangan e-government yang meliputi support, capacity, dan value. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan aspek support terlihat dari dukungan pimpinan, koordinasi internal, dan sosialisasi, namun pemanfaatan oleh masyarakat masih terbatas. Pada aspek capacity, kesiapan SDM dan fasilitas teknologi cukup adaptif, tetapi masih terdapat gangguan jaringan serta kebutuhan penguatan kompetensi petugas. Pada aspek value, digitalisasi meningkatkan efisiensi administrasi dan memudahkan akses layanan, namun dampaknya belum maksimal karena banyak pasien masih memilih pendaftaran manual. Penggunaan pendaftaran online meningkat dari 0% (2023) menjadi 13,5% (2024) dan 20,0% (hingga Agustus 2025). Secara umum, penerapannya belum optimal, tetapi tprogresif secara perlahan. | Digital transformation in health services has encouraged online patient registration at primary healthcare facilities. This study analyzes online registration digitalization at UPTD Puskesmas Banjarnegara I using an E-government framework of support, capacity, and value. A descriptive qualitative in study case approach was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings show that support appears in leadership commitment, internal coordination, and socialization, yet community uptake remains limited. For capacity, staff readiness and IT facilities are fairly adaptive, but network disruptions and competency gaps still occur. For value, online registration improves administrative efficiency and access, but the impact is not fully realized because many patients still register manually. Usage rose from 0% (2023) to 13.5% (2024) and 20.0% (to Aug 2025). Overall, not yet optimal. |