Artikelilmiahs
Menampilkan 47.421-47.440 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47421 | 50825 | F2C023001 | Empowerment Communication and the Dynamics of Inmate Self-Transformation at the Purwokerto Narcotics Penitentiary | Tingginya angka residivisme, khususnya di kalangan narapidana kasus narkotika, tetap menjadi salah satu tantangan utama dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIB Purwokerto menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah narapidana residivis dari tahun 2021 hingga 2024, mencapai 55,4% pada tahun 2024. Situasi ini mengindikasikan perlunya pengkajian ulang terhadap efektivitas program rehabilitasi dan pemberdayaan, terutama terkait kualitas komunikasi yang terbangun antara petugas pemasyarakatan dan narapidana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komunikasi pemberdayaan dan kontribusinya terhadap transformasi diri narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIB Purwokerto. Pendekatan kualitatif digunakan dengan purposive sampling untuk memilih informan, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa komunikasi pemberdayaan memainkan peran krusial dalam menumbuhkan motivasi internal, meningkatkan kesadaran diri, dan mendorong perubahan perilaku di kalangan narapidana. Komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh petugas melalui pendekatan empatik, dialog terbuka, dan bimbingan intensif terbukti efektif dalam membentuk perkembangan kepribadian, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat kesiapan narapidana untuk reintegrasi sosial. Namun demikian, tantangan muncul karena lembaga pemasyarakatan ini juga berfungsi sebagai fasilitas rujukan bagi narapidana bermasalah yang dipindahkan dari institusi lain, sehingga memerlukan strategi komunikasi yang lebih adaptif dan personal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi diri narapidana tidak hanya dipengaruhi oleh program rehabilitasi, tetapi juga, dan yang lebih penting, oleh kualitas komunikasi pemberdayaan yang diimplementasikan secara konsisten dan manusiawi. | The high rate of recidivism, particularly among drug-related inmates, remains one of the major challenges within the Indonesian correctional system. Narkotika Class IIB Prison in Purwokerto has shown a significant increase in recidivist inmates from 2021 to 2024, reaching 55.4% in 2024. This situation indicates the need to reassess the effectiveness of rehabilitation and empowerment programs, especially regarding the quality of communication established between correctional officers and inmates. This study aims to analyze the process of empowerment communication and its contribution to inmates’ self-transformation at Narkotika Class IIB Prison in Purwokerto. A qualitative approach was employed with purposive sampling to select informants, and data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that empowerment communication plays a crucial role in fostering internal motivation, enhancing self-awareness, and encouraging behavioral change among inmates. Interpersonal communication conducted by officers through empathetic approaches, open dialogue, and intensive guidancenwas found to be effective in shaping personality development, improving skills, and strengthening inmates’ readiness for social reintegration. However, challenges arise as the prison also serves as a referral facility for problematic inmates transferred from other institutions, requiring communication strategies that are more adaptive and personalized. This study concludes that inmates’ self-transformation is influenced not only by rehabilitation programs but also, and more importantly, by the quality of empowerment communication implemented consistently and humanely. | |
| 47422 | 50826 | H1B021084 | SIMULASI RAIN ON GRID (SYARAT BATAS INPUT HUJAN) PERMODELAN GENANGAN BANJIR DI DAS KLAWING | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja model HEC-RAS 2D dalam memprediksi luasan genangan banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dengan menggunakan metode Rain on Grid sebagai syarat batas input hujan. Simulasi dilakukan dengan memanfaatkan data Digital Elevation Model (DEM) beresolusi tinggi, data curah hujan harian dari tahun 2007 hingga 2021, serta data tata guna lahan dan jenis tanah untuk menghitung nilai Curve Number (CN) dalam perhitungan hujan efektif. Pemodelan hidrologi awal dilakukan menggunakan software HEC-HMS untuk delineasi DAS dan perhitungan hidrograf, sementara analisis genangan dilakukan dengan HEC-RAS 6.6 berbasis 2D, dengan mempertimbangkan dua skenario hujan: hujan jam-jaman efektif dan hujan jam-jaman metode Alternating Block Method (ABM) untuk berbagai kala ulang (5, 10, 25, 50, dan 100 tahun), serta kejadian banjir tahun 2020. Analisis hidrologi melibatkan pengisian data hujan yang hilang menggunakan metode Inversed Square Distance, perhitungan curah hujan wilayah dengan metode Polygon Thiessen, dan analisis frekuensi distribusi hujan menggunakan distribusi Log Pearson III yang terpilih berdasarkan uji Chi-Square dan Smirnov-Kolmogorov. Intensitas hujan dihitung menggunakan metode Mononobe, kemudian dikonversi menjadi hujan jam-jaman dengan metode ABM. Hujan efektif dihitung menggunakan metode SCS berdasarkan nilai CN yang diperoleh dari kombinasi tata guna lahan dan jenis tanah, dengan bantuan software QGIS. Data hujan jam-jaman untuk kejadian banjir 2020 diperoleh melalui kalibrasi data lapangan dengan data satelit PERSIANN, kemudian diolah menggunakan metode Polygon Thiessen untuk mendapatkan nilai rata-rata. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model HEC-RAS mampu menggambarkan pola penyebaran genangan secara spasial dengan baik, terutama di sepanjang alur Sungai Klawing dan daerah dataran rendah di sekitarnya. Luasan genangan meningkat seiring dengan kenaikan kala ulang hujan, dengan lokasi paling rentan terletak di Kecamatan Kemangkon dan Kaligondang. Simulasi menggunakan hujan jam-jaman total menghasilkan pola genangan yang lebih terdistribusi dibandingkan hujan efektif, menunjukkan sensitivitas model terhadap bentuk hujan rencana. Studi ini memberikan informasi penting bagi perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana banjir di wilayah DAS Klawing, serta menegaskan efektivitas integrasi HEC-HMS dan HEC-RAS dalam pemodelan banjir berbasis 2D. | This study aims to analyze the performance of the HEC-RAS 2D model in predicting flood inundation extents in the Klawing River Basin (DAS Klawing), Purbalingga Regency, Central Java, using the Rain on Grid method as the rainfall boundary condition. The simulation was conducted using high-resolution Digital Elevation Model (DEM) data, daily rainfall data from 2007 to 2021, as well as land use and soil type data to calculate Curve Number (CN) values for effective rainfall estimation. Initial hydrological modeling was performed using HEC-HMS software for watershed delineation and hydrograph generation, while inundation analysis was conducted using HEC-RAS 6.6 with a 2D approach, considering two rainfall scenarios: effective hourly rainfall and hourly rainfall generated using the Alternating Block Method (ABM) for various return periods (5, 10, 25, 50, and 100 years), along with the 2020 flood event. Hydrological analysis included filling missing rainfall data using the Inversed Square Distance method, calculating areal rainfall using the Thiessen Polygon method, and performing rainfall frequency analysis with the Log Pearson Type III distribution selected based on Chi-Square and Smirnov-Kolmogorov tests. Rainfall intensity was determined using the Mononobe method and converted into hourly rainfall using the ABM approach. Effective rainfall was calculated using the SCS method based on CN values derived from the combination of land use and soil type data, processed in QGIS software. Hourly rainfall data for the 2020 flood event were calibrated using field observations and PERSIANN satellite data, then processed with the Thiessen Polygon method to obtain average rainfall values. The simulation results indicate that the HEC-RAS model effectively represents the spatial distribution of flood inundation, particularly along the Klawing River channel and surrounding lowland areas. The inundation extent increases with higher rainfall return periods, with the most vulnerable locations found in the districts of Kemangkon and Kaligondang. Simulations using total hourly rainfall produced a more distributed inundation pattern compared to effective rainfall, demonstrating the model’s sensitivity to rainfall input patterns. This study provides essential information for spatial planning and flood disaster mitigation in the Klawing River Basin and emphasizes the effectiveness of integrating HEC-HMS and HEC-RAS for 2D-based flood modeling. | |
| 47423 | 50827 | H1B021071 | PENGGUNAAN DATA HUJAN SATELIT UNTUK SIMULASI RAIN ON GRID DI DAS KLAWING | Penelitian ini membahas penerapan data hujan satelit untuk simulasi Rain on Grid di Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi genangan banjir dengan memanfaatkan data curah hujan dari satelit PERSIANN yang diperoleh melalui CHRS Data Portal, serta data topografi dari DEMNAS. Simulasi dilakukan dengan pendekatan Rain on Grid, yang memungkinkan representasi langsung intensitas hujan dan infiltrasi sebagai kondisi batas pada seluruh domain komputasi, sehingga menghasilkan pemodelan aliran permukaan dan kedalaman genangan yang lebih akurat. Analisis hidrologi dilakukan terlebih dahulu untuk menentukan hujan rencana berdasarkan data curah hujan harian dari tahun 2007 hingga 2021. Distribusi frekuensi Log Pearson III dipilih sebagai metode terbaik setelah melalui uji Chi-Square dan Smirnov-Kolmogorov, kemudian digunakan untuk menghitung intensitas hujan dengan metode Mononobe. Hujan jam-jaman dibentuk menggunakan Alternating Block Method (ABM) dan hujan efektif dihitung berdasarkan nilai Curve Number (CN) yang diperoleh dari analisis tata guna lahan dan jenis tanah menggunakan QGIS. Data hujan satelit juga dikoreksi menggunakan metode regresi dan distribusi mapping untuk meningkatkan akurasi sebelum digunakan dalam simulasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode Rain on Grid mampu menggambarkan sebaran genangan banjir secara spasial dengan baik, terutama pada kala ulang 5 hingga 100 tahun. Area yang paling rentan terdampak banjir teridentifikasi berada di sepanjang bantaran Sungai Klawing, khususnya di Kecamatan Kemangkon dan Kaligondang. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi data hujan satelit dengan model hidrologi dan hidraulik berbasis 2D sangat efektif untuk pemetaan risiko banjir di wilayah dengan keterbatasan data pengamatan lapangan, serta dapat menjadi acuan dalam perencanaan mitigasi dan pengelolaan sumber daya air. | This study discusses the application of satellite rainfall data for Rain on Grid simulation in the Klawing Watershed (DAS Klawing), Purbalingga Regency, Central Java, using HEC-RAS 2D software. The study aims to analyze flood inundation potential by utilizing rainfall data from the PERSIANN satellite obtained through the CHRS Data Portal, along with topographic data from DEMNAS. The simulation uses the Rain on Grid approach, which allows direct representation of rainfall intensity and infiltration as boundary conditions over the entire computational domain, resulting in more accurate surface flow and inundation depth modeling. Hydrological analysis is conducted first to determine design rainfall based on daily rainfall data from 2007 to 2021. The Log Pearson III frequency distribution is selected as the best method after Chi-Square and Smirnov-Kolmogorov tests, then used to calculate rainfall intensity with the Mononobe method. Hourly rainfall patterns are generated using the Alternating Block Method (ABM), and effective rainfall is calculated based on the Curve Number (CN) derived from land use and soil type analysis using QGIS. Satellite rainfall data are also corrected using regression and distribution mapping methods to improve accuracy before being applied in the simulation. The simulation results show that the Rain on Grid method effectively describes the spatial distribution of flood inundation, especially for return periods between 5 and 100 years. The areas most vulnerable to flooding are identified along the banks of the Klawing River, particularly in the districts of Kemangkon and Kaligondang. This study demonstrates that integrating satellite rainfall data with 2D-based hydrological and hydraulic models is highly effective for flood risk mapping in areas with limited field observation data, and it can serve as a reference for flood mitigation planning and water resource management. | |
| 47424 | 50828 | A1D021109 | Pemberian Formula Pupuk NPK-SR Grade K dan Takaran Asam Humat Terhadap Sifat Kimia Tanah Saat Panen, Serapan K dan Hasil Padi Sawah | Petani saat ini tidak terbiasa dengan pupuk organik, tetapi berfokus pada penggunaan pupuk anorganik yang dosisnya semakin lama cenderung meningkat. Pupuk NPK-SR (slow release) merupakan pupuk NPK dengan mekanisme pelepasan unsur hara secara lambat, pemberian pupuk NPK-SR bisa menjadi solusi penggunaan pupuk anorganik yang lebih baik, pemberian asam humat dapat membenahi sifat kimia, fisik, serta biologi tanah yang biasanya tidak cukup menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 2 faktor, yaitu pupuk majemuk NPK-SR pada perbedaan grade K (5 aras) dan asam humat (4 aras). Variabel yang diamati meliputi sifat kimia tanah saat panen, serapan K oleh jaringan tanaman, dan hasil padi sawah. Kombinasi perlakuan pupuk NPK-SR pada berbagai grade K dan takaran asam humat dengan kode K3A1 (pupuk NPK-SR 8,09-15 13 dan asam humat setara 100 kg/ha) memiliki potensi dalam memperbaiki sifat kimia tanah, serapan K oleh jaringan tanaman, dan hasil padi sawah. | Farmers nowadays are not common to use organic fertilizers, but focus on the use of anorganic fertilizers, the dosage of which tends to increase over time. NPK-SR (Slow Release) fertilizer is an NPK fertilizer with a slow nutrient release mechanism. The use of NPK-SR fertilizer can be a better alternative to inorganic fertilizers. The application of humic acid can improve the chemical, physical, and biological condition of the soil, which are not fertile to plant growth. The study used Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors, NPK-SR fertilizer at different K grades (5 levels) and humic acid (4 levels). The variables observed included soil chemical properties at har vest time, K absorption by plant tissue, and rice yield. Combination of NPK-SR fertilizer treatment at various K grades and humic acid doses with the code K3A1 (NPK-SR ferti lizer 8,09-15-13 and humic acid equivalent to 100 kg/ha) potentially improving soil chemical properties, K absorption by plant tissue, and rice yield. | |
| 47425 | 50829 | J1C021025 | The Construction of Female Beauty in Frontliner Positions in the World of Work at Hotel Suimeikan Japan | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relasi standar kecantikan terhadap pengalaman kerja profesional perempuan, serta dampaknya terhadap relasi sosial dan kondisi psikologis staf frontliner di industri perhotelan Jepang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data melalui kuesioner (Google Form), dan dianalisis menggunakan perspektif kencantikan dari Nomi Wolf. Hasil penelitian menunjukan bahwa konstruksi kecantikan di lingkungan kerja tidak hanya sebagai simbol profesionalitas, tetapi juga sebagai bentuk kontrol sosial terhadap tubuh perempuan. Standar penampilan seperti penggunaan riasan, seragam, dan perilaku visual ideal menciptakan beban fisik, psikologis, dan ekonomi bagi karyawan perempuan. Meskipun aturan tersebut dianggap penting untuk menjaga citra perusahaan, nilai kerja perempuan seringkali di reduksi hanya pada aspek penampilan. Penelitian ini mengidentifikasikan empat temuan utama, yaitu kecantikan sebagai syarat profesionalitas, beban fisik dan psikologis, negosiasi dan adaptasi terhadap tuntutan institusional, dan refleksi-harapan. Secara keseluruhan penelitian ini menyimpulkan bahwa standar kecantikan di industru perhotelan Jepang berfungsi sebagai instrumen sosial-budaya yang membentuk pengalaman kerja perempuan dan memperkuat hierarki gender dalam struktur professional. | This study aims to determine the relationship between beauty standards and women's professional work experiences, as well as their impact on the social relations and psychological well-being of frontline staff in the Japanese hospitality industry. This study is a descriptive qualitative study, data collection through questionnaires (Google Form), and analyzed using Nomi Wolf's beauty perspective. The results show that the construction of beauty in the workplace is not only a symbol of professionalism, but also a form of social control over women's bodies. Appearance standards such as the use of makeup, uniforms, and ideal visual behavior create physical, psychological, and economic burdens for female employees. Although these rules are considered important for maintaining the company's image, the value of women's work is often reduced only to the aspect of appearance. This study identified four main findings: beauty as a requirement for professionalism, physical and psychological burdens, negotiation and adaptation to institutional demands, and reflection-hope. Overall, this study concludes that beauty standards in the Japanese hospitality industry function as a socio-cultural instrument that shapes women's work experiences and reinforces gender hierarchies within the professional structure. | |
| 47426 | 50830 | H1B021055 | ANALISIS DEBIT SEDIMEN LAYANG DI LAGUNA SEGARA ANAKAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP | Laguna Segara Anakan yang terletak di Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap mengalami pendangkalan dan penyusutan akibat penumpukan sedimen secara ekstrem. Hal ini disebabkan karena Laguna Segara Anakan merupakan hilir dari berbagai sungai yang di antaranya Sungai Citanduy dan Sungai Cibeureum yang termasuk lokasi penelitian skirpsi ini, juga ada sungai lainnya seperti Sungai Cikonde, Sungai Cimeneng, dan lain-lain. Selain itu, yang menyebabkan sedimentasi ekstrem adalah faktor erosi tanah pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di atasnya terkhusus DAS Citanduy akibat tata guna lahan yang kurang tepat, seperti pembukaan lahan pertanian secara masif dan pola tanam yang salah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah konsentrasi dan debit sedimen layang di daerah Laguna Segara Anakan dengan pengambilan data sampel empiris pada 9 titik lokasi yang terbagi pada Sungai Citanduy, Sungai Cibeureum, dan muara/Pelataran Agung. Sebelum dilakukan analisis perhitungan, maka perlu dilakukan pengujian hidrometer dan gravimetri di Laboratorium Mekanika Tanah untuk mengetahui konsentrasi dan gradasi butiran sedimen layang. Metode yang dilakukan dalam analisis data terdiri atas Metode Sesaat atau USBR (United States Buerau Reclamation), Metode Lane & Kalinskie, dan Metode Einstein. Hasil penelitian menunjukkan rerata nilai konsentrasi sedimen dari sampel lapangan yang telah diambil adalah 0,64 g/l pada Sungai Citanduy, 0,58 g/l pada Sungai Cibeureum, dan 0,74 g/l pada muara atau Pelataran Agung. Nilai debit sedimen layang yang dihasilkan dari analisis 3 metode tersebut memiliki perbedaan pada hasil yang ditujukan. Metode USBR menghasilkan nilai 18039,95 ton/tahun, Metode Lane & Kalinskie menghasilkan nilai 66284,14 ton/tahun, dan Metode Einstein menghasilkan nilai 654,04 ton/tahun. | The Segara Anakan Lagoon, located in Kampung Laut District, Cilacap Regency, has experienced severe shallowing and shrinkage due to excessive sediment accumulation. This condition occurs because the lagoon serves as the downstream area of several major rivers, including the Citanduy River and the Cibeureum River, which are the main research sites of this study, as well as other rivers such as the Cikonde and Cimeneng Rivers. Furthermore, the extreme sedimentation is caused by soil erosion in the upper watershed areas, particularly in the Citanduy Watershed, due to improper land use practices such as massive agricultural land clearing and inappropriate cropping patterns. This study aims to analyze the concentration and discharge of suspended sediment in the Segara Anakan Lagoon area through empirical sampling at nine observation points located along the Citanduy River, Cibeureum River, and the estuary (Pelataran Agung). Prior to the analysis, hydrometer and gravimetric tests were conducted at the Soil Mechanics Laboratory to determine the concentration and particle gradation of the suspended sediment. The data analysis methods applied in this study included the Instantaneous or USBR (United States Bureau of Reclamation) Method, the Lane & Kalinske Method, and the Einstein Method. The results show that the average suspended sediment concentration from the field samples was 0.64 g/l in the Citanduy River, 0.58 g/l in the Cibeureum River, and 0.74 g/l in the estuary or Pelataran Agung. The calculated suspended sediment discharge varied among the three methods, with 18,039.95 tons/year using the USBR Method, 66,284.14 tons/year using the Lane & Kalinske Method, and 654.04 tons/year using the Einstein Method. These differences indicate variation in the analytical approaches, where the Lane & Kalinske Method produced the highest discharge value and is considered the most representative under the hydrological conditions of the Segara Anakan Lagoon. | |
| 47427 | 50816 | L1B019050 | Analisis Morfometrik, Truss Morfometrik, dan Meristik Ikan Chub Makarel (Scomber japonicus) dari Perairan Amakusa, Kumamoto, Jepang | Penelitian ini berjudul analisis karakter morfometrik, truss morfometrik, dan meristik ikan Chub Makarel (Scomber japonicus) yang berasal dari perairan Amakusa, Kumamoto, Jepang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui variasi bentuk tubuh dan karakter biologis yang dapat menjadi dasar identifikasi populasi serta pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) terhadap 10 ekor ikan yang diperoleh dari kolam keramba jaring apung di perairan Amakusa. Pengukuran morfometrik dan truss morfometrik dilakukan menggunakan aplikasi Image-J, sedangkan karakter meristik diamati secara visual. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan parameter rata-rata, standar deviasi, dan koefisien variasi (CV). Hasil menunjukkan nilai koefisien variasi morfometrik rendah (<5%), menandakan populasi yang homogen dengan pertumbuhan tubuh proporsional (r² = 0,9552). Analisis truss morfometrik juga memperlihatkan bentuk tubuh seragam dengan variasi kecil pada segmen D14 dan D17. Karakter meristik (DF1: IX–X; DF2: XI–XII; PD: 5; PV: 5; AF: 12) sesuai dengan karakter diagnostik S. japonicus global. Secara keseluruhan, populasi S. japonicus di Amakusa bersifat stabil dan homogen secara morfologi, mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan perairan yang relatif konstan. | This study is entitled Analysis of Morphometric Characters, Morphometric Truss, and Meristics of Chub Mackerel (Scomber japonicus) from Amakusa Waters, Kumamoto, Japan. The study was conducted to determine variations in body shape and biological characters that can be the basis for population identification and sustainable management of fish resources. Sampling was carried out randomly (random sampling) of 10 fish obtained from floating net cage ponds in Amakusa Waters. Morphometric and Morphometric Truss measurements were carried out using the Image-J application, while meristic characters were observed visually. The data obtained were analyzed descriptively using the average parameter, standard deviation, and coefficient of variation (CV). The results showed a low morphometric coefficient of variation (<5%), indicating a homogeneous population with proportional body growth (r² = 0.9552). Morphometric truss analysis also showed a uniform body shape with small variations in segments D14 and D17. Meristic characters (DF1: IX–X; DF2: XI–XII; PD: 5; PV: 5; AF: 12) correspond to the global diagnostic characters of S. japonicus. Overall, the S. japonicus population in Amakusa is stabel and morphologically homogeneous, reflecting adaptation to a relatively constant aquatic environment. | |
| 47428 | 50831 | I2A023003 | EVALUASI PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI PUSKESMAS KAWUNGANTEN KABUPATEN CILACAP | EVALUASI PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI PUSKESMAS KAWUNGANTEN KABUPATEN CILACAP 1Syahla Rizki Alifiya, 2Arih Diyaning Intiasari, 3Eri Wahyuningsih ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas Kawunganten merupakan puskesmas yang sudah menjalankan PKPR dengan berbagai kegiatan-kegiatan PKPR yang dilakukan didalam maupun luar gedung. Ditemukan beberapa permasalahan kesehatan reproduksi seperti jumlah kematian ibu hamil usia remaja, kematian neonatal akibat BBLR dan anemia remaja. Tujuan Penelitian: Mengevaluasi program PKPR dalam upaya peningkatan kesehatan reproduksi di Puskesmas Kawunganten Kabupaten Cilacap berdasarkan model CIPP dengan fokus pada aspek input. Metode: Desain penelitian kualitatif dengan model evaluasi CIPP. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data menggunakan komputerisasi. Hasil: Tim PKPR lintas sektor sudah terbentuk dan mengikuti pelatihan mengenai kesehatan remaja namun jumlah pelaksana kegiatan PKPR masih terbatas. Berbagai layanan sudah dapat diakses oleh remaja termasuk konseling, penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan di puskesmas, sekolah dan masyarakat dan seluruhnya sudah dapat dilakukan pendaftaran secara online, namun belum memiliki sarana prasarana yang lengakap seperti ketersediaan ruangan ramah remaja. Kerjasama lintas sektor sudah dilakukan seperti dengan sekolah, perangkat desa, orang tua hingga masyarakat namun belum seluruhnya dapat menarik remaja untuk memiliki minat berkunjung terutama ke posyandu remaja. Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara rutin dan berkala namun ada beberapa kegiatan yang belum tercatat dengan baik karena keterbatasan sumber daya dan sarana yang dimiliki. Kesimpulan: Program PKPR sudah berjalan dengan beberapa ketersediaan input yang sudah terpenuhi namun belum maksimal. Hal tersebut perlu segera diperbaiki untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap remaja. | EVALUATION OF THE ADOLESCENT HEALTH CARE PROGRAM (PKPR) IN EFFORTS TO IMPROVE ADOLESCENT REPRODUCTIVE HEALTH AT THE KAWUNGANTEN COMMUNITY HEALTH CENTER IN CILACAP REGENCY 1Syahla Rizki Alifiya, 2Arih Diyaning Intiasari, 3Eri Wahyuningsih ABSTRACT Background: Puskesmas Kawunganten is a health center that has implemented PKPR with various PKPR activities carried out both inside and outside the building. Several reproductive health problems were found, such as the number of deaths among pregnant teenagers, neonatal deaths due to low birth weight, and anemia among teenagers. Research Objective: Evaluating the PKPR program in efforts to improve reproductive health at the Kawunganten Community Health Center in Cilacap Regency based on the CIPP model with a focus on input aspects. Method: Qualitative research design using the CIPP evaluation model. Data collection techniques using in-depth interviews and documentation. Data analysis using computerization. Results: The cross-sector PKPR team has been formed and has undergone training on adolescent health, but the number of PKPR activity implementers is still limited. Various services are already accessible to adolescents, including counseling, health education, and health checks at health centers, schools, and communities, and all of these can be registered online. However, there is still a lack of adequate infrastructure, such as the availability of youth-friendly rooms. Cross-sectoral cooperation has been carried out with schools, village officials, parents, and the community, but it has not been able to attract adolescents to visit, especially the adolescent health posts. Recording and reporting are carried out regularly and periodically, but some activities have not been properly recorded due to limited resources and facilities. Conclusion: The PKPR program has been running with some of the inputs already fulfilled, but not yet optimally. This needs to be addressed immediately to improve health services for adolescents. | |
| 47429 | 50832 | E1A021221 | PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PEMABUK DALAM KECELAKAAN LALU LINTAS (Studi Putusan: Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap dan Nomor: 156K/Pid/2024) | Kecelakaan lalu lintas merupakan peristiwa tidak diduga di jalan raya yang dapat mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. Penyebab utama kecelakaan lalu lintas adalah human error, yang salah satunya adalah pengemudi mabuk. Penelitian ini bertujuan membahas penerapan Pasal 310 dan Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan pertimbangan hukum hakim dalam mengkonstruksikan keadaan mabuk dalam dua perkara kecelakaan lalu lintas, yaitu Putusan Pengadilan Negeri Jayapura Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap dan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 156K/Pid/2024. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam menilai hubungan antara kesadaran pelaku dan akibat perbuatannya, yang berdampak pada perbedaan penerapan pasal dan penjatuhan sanksi pidana. Pada Putusan Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap keadaan mabuk dikualifikasikan sebagai bentuk kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) sehingga diterapkan Pasal 311, sementara dalam Putusan MA Nomor 156K/Pid/2024 dianggap sebagai kelalaian (culpa lata) oleh karena itu diterapkan Pasal 310. Dengan demikian penelitian ini menekankan pentingnya standar yang lebih konsisten dalam mengkonstruksikan keadaan mabuk dalam perkara pidana lalu lintas guna menjamin kepastian dalam menilai pertanggungjawaban pidana oleh pengemudi mabuk. | Traffic accidents are unexpected incidents on public roads that may result in human casualties or property loss. The main causes of traffic accidents is human error, including driving under the influence of alcohol. This study aims to examine the application of Articles 310 and 311 of Law Number 22 of 2009 concerning Road Traffic and Transportation, and the legal considerations of judges in constructing the concept of intoxication in two traffic accident cases: the Decision of the Jayapura District Court Number: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap and the Supreme Court Decision Number: 156K/Pid/2024. This research is based on normative legal research using a statute approach, case approach, and conceptual approach. The study found that differences in the assessment of the relationship between the perpetrator's awareness and the consequences of their actions, which leads to disparities in the application of the articles and the imposition of criminal sanctions. In Case Number: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap, the court construed the defendant's intoxication as a form of intent (dolus eventualis), thereby applying Article 311. Conversely, in Supreme Court Decision Number 156K/Pid/2024, the court categorized the conduct as gross negligence (culpa lata), leading to the application of Article 310. Therefore, this study highlights the need for more consistent standards in construing intoxication in traffic crime cases to ensure legal certainty and fairness in assessing criminal liability for drunk drivers. | |
| 47430 | 50833 | G1A020101 | Hubungan Status Gizi Dengan Angka Kejadian Anemia Pada Pasien Anak Rawat Inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Tahun 2023 | Latar belakang : Anemia adalah suatu keadaan yang terjadi karena berkurangnya jumlah sel eritrosit yang ada didalam tubuh. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi anemia paling tinggi di Indonesia terdapat pada remaja dengan angka sebesar 32% dan anak usia 5-14 tahun dengan prevalensi 26,8%. Data dari WHO terkait prevalensi anemia di dunia mencapai 39,8% pada anak usia 6-59 bulan atau setara dengan 269 juta anak menderita anemia dengan prevalensi anemia balita tertinggi berada di kawasan Afrika. Tujuan : Mengetahui Hubungan Status gizi dan kejadian anemia pada pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Margono Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Metode :Jenis penelitian ini adalah metode analitik korelasi dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan retroprospektif. Populasi penelitian ini adalah pasien anak rawat inap yang terdiagnosis anemia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Pasien anemia berusia 1-17 tahun dengan data identitas dan hasil pemeriksaan laboratorium lengkap di inklusi sebagai subjek penelitian. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman pada taraf signifikansi 0,05. Hasil : Analisis terhadap 120 Pasien Anemia menunjukan mayoritas pasien adalah perempuan sejumlah 66 (55.0%) dan usia 12-17 tahun sejumlah 48 (40.0%). Rata rata pasien mengalami anemia sedang 80.8% dan status gizi baik rata rata 35.8%.Koefisien korelasi antara status gizi dan kejadian anemia sebesar -0,074 (p=0,424). Kesimpulan : Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara Status gizi dengan kejadian anemia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. | Background: Anemia is a medical condition characterized by a lack of blood number or lack of erythrocytes in the body. According to the data from RISKESDAS in 2018, the highest prevalence of anemia in indonesia is found in adolescents by 32% and in children aged 5 -14 years with 26.8%. According to data from World Health Organization (WHO) indicate that the global prevalence of anemia among children aged 6-59 months is 39.8%, equating to 269 million children affected with the highest prevalence observed in the african region. Objective: To determine the relationship between Nutritional Status and Anemia Incidence in hospitalized children patients of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Methods: This study is an analytical correlation design with a cross-sectional approach and a retrospective perspective. The study population comprises pediatric inpatients diagnosed with anemia in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. The inclusion criteria are children aged 1-17 years with complete identity data and laboratory test results. Sampling conducted using purposive sampling. exclusion criteria include patients with comorbidities. Data analysis performed using Spearman’s correlation test at a significance level of 0.05. Results: Analysis of 120 anemia patients revealed that the majority were female 66 patients (55%) and aged 12-17 years 48 patients (40.0%). The average severity of anemia was moderate (80.8%) and the average nutritional status was good (35.8%). The Spreaman correlation coefficient between nutritional status and the incidence of anemia was -0.074 (p=0.424). Conclusion: There is no significant correlation between nutritional status and the incidence of anemia in pediatric patient at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. | |
| 47431 | 50840 | B1A021116 | DEKOLORISASI LIMBAH BATIK INDIGOSOL MENGGUNAKAN Aspergillus sp. 3 DI DALAM BIOREAKTOR DOUBLE FILTER DENGAN VARIASI WAKTU INKUBASI | Industri batik menunjukkan perkembangan yang pesat sebagai pusat batik tradisional, namun disisi lain menghasilkan limbah cair dari sisa zat warma indigosol pada produksi kain batik. Limbah Indigosol sulit terdegradasi sehingga berpotensi mencemari lingkungan perairan. Upaya pengolahan limbah cair batik melalui dekolorisasi sebagai tahap awal proses degradasi menggunakan Aspergillus sp.3 telah diujikan dengan kapasitas yang lebih besar menggunakan bioreaktor acrylic ring sparger, namun alat tersebut kurang efektif karena seringkali tersumbat oleh miselium jamur sehingga tidak dapat digunakan untuk dekolorisasi limbah batik secara berkelanjutan. Penelitian ini merancang alat khusus berupa bioreaktor double filter yang melibatkan dua tahap penyaringan, yaitu filter pertama menggabungkan metode fisika-kimia menggunakan metode Multi Soil Layering dan filter kedua menerapkan metode biologi menggunakan jamur Aspergillus sp.3. Efektivitas jamur dalam mendekolorisasi limbah batik pada filter kedua dipengaruhi oleh waktu inkubasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Parameter utama yang diukur adalah persentase dekolorisasi limbah batik, sedangkan parameter pendukungnya yaitu berat kering miselium, nilai pH, dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus sp.3 pada bioreaktor double filter mampu mendekolorisasi limbah batik indigosol pada waktu inkubasi 5 hari dengan persentase dekolorisasi sebesar 93,09%. | The batik industry shows rapid development as a center for traditional batik, but on the other hand produces liquid waste from the remaining indigosol dye in batik cloth production. Indigosol waste is difficult to degrade so it has the potential to pollute the aquatic environment. Efforts to treat batik liquid waste through decolorization as the initial stage of the degradation process using Aspergillus sp.3 have been tested with a larger capacity using an acrylic ring sparger bioreactor, but the tool is less effective because it is often clogged by fungal mycelium so it cannot be used for sustainable decolorization of batik waste. This study designed a special tool in the form of a double filter bioreactor that involves two stages of filtration, namely the first filter combines physicochemical methods using the Multi Soil Layering method and the second filter applies a biological method using the fungus Aspergillus sp.3. The effectiveness of the fungus in decolorizing batik waste in the second filter is influenced by the incubation time. The study was conducted at the Mycology and Phytopathology Laboratory, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University using a Randomized Block Design (RAK). The main parameter measured was the percentage of batik waste decolorization, while the supporting parameters were mycelial dry weight, pH value, and temperature. The results showed that Aspergillus sp.3 in a double filter bioreactor was able to decolorize indigosol batik waste after a 5-day incubation period with a decolorization percentage of 93.09%. | |
| 47432 | 50842 | H1E019027 | PENDEKATAN LEAN SERVICE UNTUK MENGURANGI WASTE LAYANAN CUCI MOBIL ( STUDI KASUS AJS CARWASH PURWOKERTO ) | Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemborosan (waste) yang terjadi pada proses pencucian kendaraan di AJS Carwash menggunakan pendekatan lean service. Metode penelitian dilakukan dengan time study sebanyak lima kali percobaan, yang kemudian dipetakan menggunakan Value Stream Mapping (VSM) untuk mengetahui aktivitas bernilai tambah (VA), tidak bernilai tambah tetapi perlu (NNVA), serta tidak bernilai tambah (NVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total cycle time sebesar 3207 detik, terdapat waste sebesar 333 detik (10,38%). Waste yang dominan muncul di antaranya adalah penggunaan slang dan water jet yang dipakai bergantian untuk motor, pengulangan lap eksterior–interior, multitasking kendaraan, hingga idle time akibat pegawai mengobrol. Setelah dilakukan analisis akar masalah menggunakan fishbone diagram dan five whys analysis, dirancang perbaikan berupa penerapan single-piece flow, penambahan SOP mikro, serta penyediaan alat kerja sesuai ergonomi. Implementasi simulasi perbaikan menunjukkan penurunan cycle time menjadi 2416 detik atau setara penghematan 791 detik (24,66%). Hasil ini membuktikan bahwa penerapan lean service dapat meningkatkan efisiensi waktu proses di layanan jasa pencucian kendaraan. | Article This study aims to identify waste in the vehicle washing process at AJS Carwash using the lean service approach. The research was conducted through a time study with five trials, then mapped using Value Stream Mapping (VSM) to classify activities into value-added (VA), necessary but non-value-added (NNVA), and non-value-added (NVA). The results show that from a total cycle time of 3207 seconds, there was 333 seconds (10.38%) of waste. Dominant wastes included the shared use of hoses and water jets for both cars and motorcycles, repeated wiping between exterior and interior, multitasking across vehicles, and idle time due to chatting. Root cause analysis using fishbone diagram and five whys identified solutions such as implementing single-piece flow, adding micro SOPs, and providing ergonomically placed tools. Simulation of the proposed improvements reduced the cycle time to 2416 seconds, saving 791 seconds (24.66%). This indicates that lean service implementation can improve process efficiency in vehicle washing services. | |
| 47433 | 50698 | C1A021024 | ANALISIS PERTUMBUHAN SEKTOR KONSTRUKSI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KALIMANTAN TIMUR (TAHUN 2018 – 2023) | Penelitian ini dirancang dengan tujuan mengetahui pengaruh PDRB sektor konstruksi, Indeks Pembangunan Manusia, Penanaman Modal Asing, dan Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka. Teori yang digunakan adalah Teori Pembangunan Ekonomi, Teori Dualisme, dan Teori Investasi. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari tahun 2018 – 2023 dengan data yang bersifat time series dan juga cross section. Data kemudian diolah menggunakan software EViews 12. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa: (1) PDRB Sektor Konstruksi berpengaruh negatif terhadap TPT, (2) IPM berpengaruh positif terhadap TPT, (3) PMA berpengaruh positif terhadap TPT, (4) PMDN berpengaruh negatif terhadap TPT. | This research was designed to determine the influence of the construction sector's GRDP, Human Development Index, Foreign Direct Investment, and Domestic Direct Investment on the Open Unemployment Rate. The theories used are Economic Development Theory, Dualism Theory, and Investment Theory. This study uses secondary data from 2018–2023 with both time series and cross-sectional data. The data was then processed using software EViews 12. The results of this study state that: (1) Construction Sector GRDP has a negative effect on the TPT, (2) Human Development Index has a positive effect on the TPT, (3) Foreign Direct Investment has a positive effect on the TPT, (4) Domestic Direct Investment has a negative effect on the TPT. | |
| 47434 | 50834 | E1A021195 | TANGGUNG JAWAB HUKUM TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP KESELAMATAN PASIEN DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN | Pemenuhan hak atas kesehatan tidak terlepas dari terpenuhinya akses pasien terhadap obat yang aman, bermutu, dan sesuai standar pelayanan. Berbagai kasus di fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan kefarmasian belum sepenuhnya menjamin keselamatan pasien. Salah satu peristiwa yang terjadi yaitu kasus pelayanan obat oleh petugas kebersihan di RSUD Mayjen H.M. Ryacudu Kotabumi tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sinkronisasi pengaturan dan mengetahui bentuk tanggung jawab tenaga kefarmasian terhadap keselamatan pasien dalam pelayanan kefarmasian. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, analitis, dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai tanggung jawab tenaga kefarmasian terhadap keselamatan pasien dalam pelayanan kefarmasian telah menunjukan taraf sinkronisasi. Hal ini dibuktikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak saling bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan peraturan yang sederajat. Bentuk tanggung jawab hukum tenaga kefarmasian meliputi tanggung jawab hukum administrasi yang termuat dalam Pasal 283 dan Pasal 313 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Pasal 736 dan Pasal 752 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Pasal 23 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan No. 889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 31 Tahun 2016, Pasal 12 Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, dan Pasal Pasal 12 Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek; tanggung jawab hukum perdata berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Pasal 308 Ayat (2) Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan; tanggung jawab hukum pidana dilakukan berdasarkan Pasal 308 ayat (1), Pasal 435, Pasal 440 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. | The fulfillment of the right to health is inherently linked to patients' access to safe, quality, and standardized medicines. Various incidents in healthcare facilities indicate that pharmaceutical services have not fully ensured patient safety. One such event was the case of medication services being provided by a cleaning staff member at Mayjen H.M. Ryacudu Regional General Hospital in Kotabumi in 2024. This research aims to determine the regulatory synchronization and identify the forms of legal liability of pharmaceutical personnel for patient safety in accessing medicine. This study employs a normative juridical method with legislative, analytical, and conceptual approaches. The results show that the regulations concerning the liability of pharmaceutical personnel for patient safety in accessing medicine have achieved a level of synchronization. This is evidenced by the fact that lower-level regulations do not conflict with higher-level or equivalent regulations. The forms of legal liability for pharmaceutical personnel include: administrative liability as contained in Article 283 and Article 313 of Law Number 17 of 2023 concerning Health, Article 736 and Article 752 of Government Regulation Number 28 of 2024 on the Implementation Regulation of Law Number 17 of 2023 concerning Health, Article 23 paragraph (1) of the Regulation of the Minister of Health Number 889/Menkes/Per/V/2011 concerning Registration, Practice Permit, and Work Permit for Pharmaceutical Personnel as amended by Regulation of the Minister of Health Number 31 of 2016, Article 12 of the Regulation of the Minister of Health Number 72 of 2016 concerning Standards for Pharmaceutical Services in Hospitals, and Article 12 of the Regulation of the Minister of Health Number 73 of 2016 concerning Standards for Pharmaceutical Services in Pharmacies; civil liability based on Article 1365 of the Civil Code and Article 308 Paragraph (2) of Law Number 17 of 2023 concerning Health; and criminal liability based on Article 308 paragraph (1), Article 435, and Article 440 of Law Number 17 of 2023 concerning Health. | |
| 47435 | 50835 | E1A021202 | KEWENANGAN PERADILAN UMUM DALAM MENGADILI GUGATAN CITIZEN LAWSUIT PADA PERKARA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH PENGUASA AKIBAT GAGALNYA PENGENDALIAN PEREDARAN PINJAMAN ONLINE (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor: 1206 K/Pdt/2024) | Perkembangan teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap bidang keuangan, termasuk maraknya praktik pinjaman online yang sering kali menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia seperti penyalahgunaan data pribadi dan intimidasi dalam penagihan. Fenomena ini menimbulkan perdebatan hukum mengenai tanggung jawab pemerintah dalam melakukan pengawasan serta menentukan lembaga peradilan yang berwenang ketika terjadi pelanggaran oleh penguasa. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan kasus. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan tujuan memberikan deskripsi preskriptif terhadap kewenangan peradilan umum dalam mengadili gugatan citizen lawsuit terhadap penguasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gugatan citizen lawsuit terkait praktik pinjaman online memenuhi unsur perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata dan menjadi kewenangan peradilan umum, bukan Peradilan Tata Usaha Negara, karena objek gugatan tidak berupa tindakan administratif konkret. Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 1206 K/Pdt/2024 menilai bahwa kelalaian pemerintah dalam mengawasi pinjaman online merupakan bentuk perbuatan melawan hukum oleh penguasa yang bersifat abstrak. Pertimbangan hakim juga didasarkan pada yurisprudensi kasus Munir Cs, yang menegaskan peran pengadilan dalam menjamin tanggung jawab negara meskipun norma hukum belum lengkap. Pendekatan rechtsvinding yang digunakan hakim menunjukkan bahwa peradilan memiliki fungsi penting sebagai pembentuk hukum untuk menegakkan keadilan substantif di tengah kekosongan norma. Dengan demikian, putusan Mahkamah Agung ini menegaskan perlunya penguatan regulasi dan tanggung jawab negara dalam melindungi hak warga terhadap dampak negatif perkembangan teknologi keuangan digital. | The rapid growth of digital technology has significantly influenced the financial sector, including the rise of online lending practices that often lead to human rights violations such as misuse of personal data and intimidation in debt collection. This phenomenon raises a legal debate regarding the government’s responsibility in exercising supervision and determining the competent court when such violations involve state authorities. This research employs a normative juridical method with conceptual, statutory, and case approaches. The data used are secondary data obtained through literature study and analyzed qualitatively to provide a prescriptive description of the general court’s authority in adjudicating citizen lawsuit cases against the government. The results indicate that the citizen lawsuit related to online lending fulfills the elements of an unlawful act (onrechtmatige daad) as stipulated in Article 1365 of the Indonesian Civil Code and thus falls under the jurisdiction of the general court rather than the administrative court, since the object of the lawsuit does not constitute a concrete administrative act. The Supreme Court, in Decision No. 1206 K/Pdt/2024, determined that the government’s negligence in supervising online lending constitutes an abstract form of unlawful conduct by the authorities. The judges’ consideration also referred to the Munir et al. case, which affirmed the judiciary’s role in ensuring state accountability even in the absence of specific legal provisions. The application of the rechtsvinding principle demonstrates the judiciary’s essential function as a law-maker in realizing substantive justice amidst legal uncertainty. Therefore, this decision emphasizes the need to strengthen regulations and reinforce state responsibility in protecting citizens’ rights against the adverse impacts of technological developments in the financial sector. | |
| 47436 | 50836 | F1F021012 | Hambatan Paradiplomasi Negara Bagian dalam Sistem Federal: Studi Kasus Kerja Sama Belt and Road Initiative (BRI) antara Victoria dan China (2018-2020) | Pada tahun 2018, Pemerintah Negara Bagian Victoria menjalin kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) dengan China sebagai upaya mempercepat pembangunan infrastruktur dan memperluas akses ekonomi internasional. Sebuah perjanjian baru juga dibentuk pada 2019 untuk mengakomodir kerjasama lanjutan. Langkah ini menimbulkan respons berbeda karena dilakukan dalam sistem federal Australia yang menempatkan persepsi kewenangan hubungan luar negeri pada Pemerintah Federal Australia. Ketegangan meningkat ketika pada tahun 2020. Pemerintah Federal membatalkan kedua perjanjian tersebut melalui Australia’s Foreign Relations (State and Territory Arrangements) Act 2020, sehingga memunculkan perdebatan mengenai batas kewenangan negara bagian dalam melaksanakan paradiplomasi. Situasi ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara kepentingan negara bagian dan orientasi kebijakan luar negeri nasional yang semakin terpusat serta sensitif terhadap pengaruh China. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis hambatan paradiplomasi Victoria dalam kerja sama BRI dengan menggunakan konsep paradiplomasi Kuznetsov, meliputi aspek dasar hukum, motif ekonomi, kelembagaan, konsekuensi terhadap kebijakan nasional, dan pola koordinasi federal–state. | In 2018, the Government of the State of Victoria entered into a Belt and Road Initiative (BRI) cooperation agreement with China as an effort to accelerate infrastructure development and expand international economic access. A new agreement was also established in 2019 to accommodate further cooperation. This step generated varied responses because it was undertaken within Australia’s federal system, which places the perceived authority over foreign affairs in the hands of the Australian Federal Government. Tensions escalated when, in 2020, the Federal Government cancelled both agreements through Australia’s Foreign Relations (State and Territory Arrangements) Act 2020, thereby raising debates regarding the limits of state authority in conducting paradiplomacy. This situation illustrates a misalignment between the economic interests of the state and the increasingly centralized and China-sensitive orientation of national foreign policy. Therefore, this study analyzes the constraints on Victoria’s paradiplomacy in the BRI cooperation using the concept of paradiplomacy and Kuznetsov’s analytical framework, covering the legal basis, economic motives, institutionalization, consequences for national policy, and the pattern of federal–state coordination. | |
| 47437 | 50839 | B1A021115 | POTENSI Aspergillus sp. 3 DALAM MENDEKOLORISASI LIMBAH ZAT WARNA BATIK INDIGOSOL, NAPHTOL, DAN PROCION MENGGUNAKAN BIOREAKTOR DOUBLE FILTER | Peningkatan industri batik tidak hanya memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya, tetapi juga menghasilkan limbah cair yang mengandung zat warna. Zat warna sintetis seperti indigosol, naphtol, dan procion bersifat sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu metode pengolahan limbah yang ramah lingkungan adalah dekolorisasi menggunakan jamur Aspergillus sp. 3. Jamur ini terbukti mampu menurunkan kadar zat warna Indigosol Purple hingga 60,015%. Untuk meningkatkan efisiensi proses tersebut, dikembangkan bioreaktor double filter yang menggabungkan metode fisika, kimia, dan biologi. Alat ini terdiri dari dua filter yaitu berupa Multi Soil Layering (MSL) dan bioreaktor acrylic sparger dengan penambahan Aspergillus sp. 3. Pengaruh jenis zat warna terhadap proses dekolorisasi diuji dengan enam perlakuan menggunakan tiga jenis limbah batik (indigosol, naphtol, dan procion). Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Parameter utama yang diukur adalah persentase dekolorisasi limbah batik, sedangkan parameter pendukungnya yaitu berat kering miselium, nilai pH, dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus sp. 3 mampu mendekolorisasi limbah zat warna batik indigosol, naphtol, dan procion dengan persentase dekolorisasi berkisar antara 84,800%-90,854%. Jenis limbah zat warna batik yang menunjukkan tingkat dekolorisasi tertinggi adalah indigosol dengan persentase dekolorisasi sebesar 90,854%. | The growth of the batik industry not only has a positive impact on economic growth and cultural preservation, but it also produces liquid waste containing dyes. Synthetic dyes such as indigosol, naphtol, and procion are particularly resistant to degradation and pose significant risk of environmental pollution. One environmentally friendly waste treatment method is decolorization using the fungus Aspergillus sp. 3. This fungus has been proven to be able to reduce the concentration of Indigosol Purple dye by up to 60.015%. To enhance the efficiency of the process, a double filter bioreactor was developed that integrates physical, chemical, and biological treatment mechanism. This system consists of two filtering stages, namely through Multi Soil Layering (MSL) and an acrylic sparger bioreactor containing Aspergillus sp. 3. The effect of dye type on the decolorization process was tested with six treatments using three types of batik waste (indigosol, naphtol, and procion). The research was conducted at the Mycology and Phytopathology Laboratory of the Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University using a Randomized Block Design (RBD). The main parameter measured was the percentage of batik wastewater decolorization, while the supporting parameters were the dry weight of mycelium, pH value, and temperature. The results showed that Aspergillus sp. 3 was able to decolorize indigosol, naphtol, and procion batik dye wastewater, with decolorization percentages ranging from 84.800% to 90.854%. The type of batik dye wastewater that showed the highest decolorization level was indigosol, with a decolorization percentage of 90.854%. | |
| 47438 | 50841 | A1A021073 | Analisis Tingkat Kepuasan Petani Gula Semut Sebagai Mitra Pada PT Berkat Petani Indonesia Di Kabupaten Banyumas | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran kemitraan dalam meningkatkan kesejahteraan petani gula semut, khususnya di tengah tantangan seperti fluktuasi harga, keterbatasan akses pasar, dan rendahnya nilai tambah yang diterima petani. PT Berkat Petani Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang menjalankan pola kemitraan langsung dengan petani di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui bentuk pelaksanaan kemitraan antara petani gula semut dengan PT Berkat Petani Indonesia, (2) Mengetahui tingkat kepentingan dan kepuasan petani terhadap pola kemitraan dengan PT Berkat Petani Indonesia, (3) Mengetahui rencana perbaikan terhadap pola kemitraan dengan PT Berkat Petani Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara terhadap 83 petani mitra. Data dianalisis menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengukur kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan terhadap tujuh atribut kemitraan, yaitu hubungan kemitraan, harga dan pembayaran, hubungan dengan perusahaan, fasilitas saprodi, bimbingan teknis, proses produksi dan pemasaran, serta kesejahteraan. Instrumen yang digunakan diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan kualitas data yang dikumpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kemitraan antara petani dan PT Berkat Petani Indonesia telah berjalan dalam pola yang cukup sistematis dan terstruktur dengan menjalankan bentuk kemitraan inti-plasma sebagai penyedia sarana produksi, pelatihan teknis, dan akses pasar kepada petani. (2) Berdasarkan hasil analisis Importance Performance Analysis (IPA), atribut yang menjadi prioritas utama perbaikan (kuadran I) adalah ketidakseimbangan hak dan kewajiban, kesesuaian harga beli gula semut dengan harapan petani, adanya insentif bonus bagi petani, kecukupan bantuan sarana produksi, terbatasnya akses informasi pasar, jaminan kesejahteraan petani. (3) Penelitian ini memberikan rencana perbaikan dengan meningkatkan ketepatan waktu dalam penyaluran sarana produksi, menyusun sistem penetapan harga yang lebih transparan dan adil, menyediakan informasi pasar dan permintaan secara rutin dan terbuka dan memperluas jaminan kesejahteraan petani seperti asuransi dan kontrak kerja yang berkelanjutan. | This study was motivated by the importance of partnerships in improving the welfare of palm sugar farmers, especially amid challenges such as price fluctuations, limited market access, and low added value received by farmers. PT Berkat Petani Indonesia is one of the companies that implements a direct partnership model with farmers in Banyumas and Purbalingga Regencies. The objectives of this study are to (1) determine the form of partnership between palm sugar farmers and PT Berkat Petani Indonesia, (2) determine the level of importance and satisfaction of farmers with the partnership model with PT Berkat Petani Indonesia, and (3) determine plans to improve the partnership model with PT Berkat Petani Indonesia. This research employs a case study approach with data collected through questionnaires and interviews with 83 partner farmers. The data were analyzed using the Importance Performance Analysis (IPA) method to evaluate the gap between perceived importance and performance across seven key partnership attributes: partnership relations, pricing and payment systems, relationship with the company, production input facilities (saprodi), technical guidance, production and marketing processes, and farmer welfare. The research instruments were tested for validity and reliability to ensure data quality. The results of the study show that: (1) The partnership between farmers and PT Berkat Petani Indonesia has been running in a fairly systematic and structured manner by implementing a core-plasma partnership model as a provider of production facilities, technical training, and market access to farmers. (2) Based on the results of the Importance Performance Analysis (IPA), the attributes that are the main priorities for improvement (quadrant I) are the imbalance of rights and obligations, the suitability of the purchase price of palm sugar with farmers' expectations, the existence of bonus incentives for farmers, the adequacy of production facilities assistance, limited access to market information, and guarantees for farmers' welfare. (3) This study provides an improvement plan by increasing the timeliness of production facility distribution, developing a more transparent and fair pricing system, providing regular and open market and demand information, and expanding farmer welfare guarantees such as insurance and sustainable employment contracts. | |
| 47439 | 50837 | A1D021106 | Uji Tiga Jamur Endofit sebagai Pengimbas Ketahanan Tanaman Pisang Terhadap Penyakit Layu Fusarium | Pisang merupakan komoditas hortikultura utama yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun produktivitasnya terhambat oleh penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc). Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pengimbasan tiga jamur endofit (Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Gliocladium sp.) terhadap ketahanan fisiologis dan biokimia pisang Kepok dan Cavendish. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktorial dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, intensitas penyakit, AUDPC, serta kandungan klorofil, karbohidrat, gula, fenol, tanin, peroksidase, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga endofit mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap Foc. Aspergillus sp. dan Penicillium sp. meningkatkan kandungan klorofil, sedangkan Penicillium sp. dan Gliocladium sp. meningkatkan karbohidrat dan gula. Peningkatan fenol, tanin, peroksidase, dan saponin juga mengindikasikan respons biokimia yang lebih kuat. Hasil ini menunjukkan potensi endofit sebagai agens hayati dalam pengendalian layu Fusarium. | Banana is a major horticultural commodity with high economic value, yet its productivity is constrained by Fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc). This study aimed to examine the effect of inducing resistance using three endophytic fungi (Aspergillus sp., Penicillium sp., and Gliocladium sp.) on the physiological and biochemical resistance of Kepok and Cavendish bananas. The research employed a two-factor Completely Randomized Design with five treatments and five replications. The observed parameters included plant growth, disease intensity, AUDPC, and the levels of chlorophyll, carbohydrates, sugars, phenols, tannins, peroxidase, and saponins. The results showed that all three endophytic fungi were able to enhance the resistance of banana plants against Foc. Aspergillus sp. and Penicillium sp. increased chlorophyll content, while Penicillium sp. and Gliocladium sp. increased carbohydrate and sugar levels. Increases in phenols, tannins, peroxidase, and saponins also indicated a stronger biochemical defense response. These findings demonstrate the potential of endophytic fungi as biological control agents for managing Fusarium wilt | |
| 47440 | 50843 | L1C021077 | STRUKTUR KOMUNITAS IKAN HIAS KARANG (ORNAMENTAL FISH) DI PULAU MENJANGAN KECIL KARIMUNJAWA JEPARA | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas ikan hias karang serta hubungan antara kelimpahannya dengan parameter fisika-kimia perairan di Pulau Menjangan Kecil, Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Pengambilan data dilakukan di tiga stasiun penelitian menggunakan metode underwater visual census pada kedalaman 5–10 meter. Parameter kualitas air yang diamati meliputi kecerahan, salinitas, suhu, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 25 spesies ikan hias karang yang tergolong ke dalam 6 famili dengan total 654 individu. Struktur komunitas ikan hias karang menunjukkan nilai kelimpahan berkisar antara 0,436–1,028 ind./m² dengan indeks keanekaragaman sedang (H’ = 1,492), keseragaman rendah (E = 0,465), dan dominansi tinggi (D = 1). Kondisi fisika-kimia perairan masih berada dalam kisaran optimal untuk kehidupan ikan hias karang, yaitu suhu 29–31°C, salinitas 32–33 ppt, pH 7, dan kecerahan 4–5 meter. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa suhu memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap kelimpahan ikan hias karang (r = 0,908), sedangkan kecerahan dan salinitas menunjukkan hubungan sedang dan negatif. Stabilitas pH menunjukkan kondisi perairan yang seimbang dan mendukung kehidupan biota karang. Secara keseluruhan, hasil penelitian mengindikasikan bahwa kelimpahan ikan hias karang di Pulau Menjangan Kecil dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan, khususnya suhu dan kecerahan, serta faktor ekologis lain seperti ketersediaan habitat dan kompetisi biologis. Disarankan dilakukan penelitian lanjutan mengenai hubungan antara tutupan karang dan struktur komunitas ikan hias karang untuk mendukung pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan di kawasan wisata bahari Karimunjawa. | This study aims to analyze the structure of ornamental coral fish communities and the relationship between their abundance and the physico-chemical parameters of seawater in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa Archipelago, Jepara. Data were collected at three observation stations using the underwater visual census method at depths of 5–10 meters. Water quality parameters observed included brightness, salinity, temperature, and pH. The results showed 25 species of ornamental coral fish belonging to six families, with a total of 654 individuals recorded. The community structure indicated abundance values ranging from 0.436–1.028 ind./m², a moderate diversity index (H’ = 1.492), low evenness (E = 0.465), and high dominance (D = 1). The physicochemical parameters of the waters were within the optimal range for ornamental reef fish, with temperatures of 29–31°C, salinity levels of 32–33 ppt, pH 7, and brightness between 4–5 meters. Pearson correlation analysis revealed that temperature had a strong positive correlation with fish abundance (r = 0.908), while brightness and salinity showed moderate negative relationships. Stable pH conditions indicated balanced environmental conditions suitable for coral reef organisms. Overall, the findings suggest that the abundance of ornamental coral fish in Menjangan Kecil Island is influenced by environmental factors particularly temperature and brightness as well as ecological factors such as habitat availability and interspecies competition. Further research on the relationship between coral cover and ornamental fish community structure is recommended to support sustainable coral reef ecosystem management in the Karimunjawa marine tourism area. |