Artikelilmiahs
Menampilkan 47.401-47.420 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47401 | 50802 | L1A021044 | Bioassessment menggunakan Makroinvertebrata sebagai Penentu Kualitas Air di Sungai Logawa, Banyumas, Jawa Tengah | Makroinvertebrata merupakan bioindikator penting untuk menilai kondisi ekologis sungai. Penurunan kualitas air Sungai Logawa akibat aktivitas antropogenik berpotensi memengaruhi komunitas makroinvertebrata. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi kualitas air Sungai Logawa berdasarkan indikator biologis makroinvertebrata serta menganalisis korelasi antara parameter fisik-kimiawi dengan tingkat pencemaran menggunakan Family Biotic Index (FBI). Penelitian dilakukan pada delapan stasiun di bagian hulu dan tengah Sungai Logawa pada Juli–September 2024. Parameter yang diukur meliputi suhu, oksigen terlarut (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Hasil penelitian menemukan 22 famili makroinvertebrata dari tujuh ordo yang didominasi Ephemeroptera, Trichoptera, dan Plecoptera. Nilai FBI di hulu sebesar 3,1 dan di tengah 3,5 menunjukkan kualitas air sangat baik dengan pencemaran organik rendah. Parameter suhu, DO, dan BOD memenuhi baku mutu, sedangkan COD mendekati batas kelas III. Korelasi menunjukkan hubungan lemah dengan suhu, DO, dan BOD, serta hubungan sedang dengan COD. Secara keseluruhan, Sungai Logawa berada dalam kondisi ekologis baik. | Macroinvertebrates are important bioindicators for assessing the ecological condition of rivers. The decline in water quality of the Logawa River due to anthropogenic activities has the potential to affect macroinvertebrate communities. This study aimed to evaluate the water quality of the Logawa River based on macroinvertebrate biological indicators and to analyze the correlation between physicochemical parameters and pollution levels using the Family 1 Biotic Index (FBI). The research was conducted at eight stations representing the upstream and middle sections of the river from July to September 2024. Measured parameters included temperature, dissolved oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), and Chemical Oxygen Demand (COD). A total of 22 macroinvertebrate families from seven orders were recorded, dominated by Ephemeroptera, Trichoptera, and Plecoptera. FBI values of 3.1 (upstream) and 3.5 (middle) indicated very good water quality with low organic pollution. Temperature, DO, and BOD met the quality standards, while COD approached the Class III threshold. Correlation analysis showed weak relationships of FBI with temperature, DO, and BOD, and a moderate relationship with COD. Overall, the Logawa River remains in good ecological condition. | |
| 47402 | 50801 | L1B021069 | Pengaruh Ekstrak Anggur Laut (Caulerpa racemosa) Terhadap Infeksi Aeromonas hydrophila Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) | Budidaya ikan mas secara intensif tidak selalu berjalan optimal karena adanya risiko serangan penyakit, salah satunya Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Upaya pengendalian penyakit tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan alami yang mengandung senyawa antibakteri, seperti anggur laut (Caulerpa racemosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak anggur laut serta menentukan dosis paling efektif terhadap ikan mas yang terinfeksi Aeromonas hydrophila. Metode penelitian eksperimental diterapkan dengan tiga perlakuan yang tiap perlakuannya diisi oleh 10 ekor ikan, yaitu kontrol tanpa ekstrak, perendaman dosis 15 mg/L, dan 25 mg/L ekstrak selama 4 jam. Setelah masa pemeliharaan 14 hari, hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ekstrak anggur laut mampu meningkatkan sintasan, mengurangi gejala klinis, serta memperbaiki respons imun melalui diferensial leukosit. Dosis 15 mg/L memberikan hasil paling optimal pada penelitian ini. Kondisi seluruh kualitas air berada pada kisaran normal selama pemeliharaan dengan kisaran suhu 24,90-29,90˚C, pH 7,63-8,77, dan DO 5,2-5,6 mg/L. | Intensive carp farming does not always work optimally due to the risk of disease outbreaks, one of which is Motile Aeromonas Septicemia (MAS) caused by the Aeromonas hydrophila. Efforts to control this disease can be done through the use of natural materials containing antibacterial compounds, such as sea grapes (Caulerpa racemosa). This study aims to determine the effect of sea grapes extract and the most effective dosage for carp infected with Aeromonas hydrophila. An experimental research method was applied with three treatments, each consisting of 10 fish, namely a control without extract, immersion in 15 mg/L and 25 mg/L of extract for 4 hours. After a 14-day maintenance period, the result showed that sea grapes extract immersion increased survival, reduce clinical symptoms, and improve immune response through leukocyte differential. The 15 mg/L dose provided the most optimal results in this study. All water quality conditions were within the normal range during maintenance, with a temperature range of 24,90-29,90˚C, pH 7,63-8,77, and DO 5,2-5, mg/L. | |
| 47403 | 50803 | L1B021057 | Inventarisasi Ektoparasit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara dengan Padat Tebar Pada Kolam Akuaponik | Padat tebar memengaruhi tingkat infeksi ektoparasit ikan. Akuaponik dapat menjaga kualitas air dan memanfaatkan limbah pakan secara efisien sehingga menekan perkembangan ektoparasit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis ektoparasit serta nilai prevalensi, intensitas, dan dominansi pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dengan padat tebar berbeda dalam sistem akuaponik. Metode penelitian ini menerapkan metode eksperimental menggunakan dua perlakuan padat tebar yaitu 30 dan 50 ekor/m3 dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Jenis ektoparasit yang ditemukan adalah Trichodina sp. dan Monogenea. Nilai prevalensi ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 5-50% dan 20-70%. Nilai intensitas ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 1-1,5 ind/ekor dan 1,4-1,8 ind/ekor, yang termasuk dalam kategori low. Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar ikan tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas ektoparasit. Trichodina sp. merupakan ektoparasit paling dominan dengan nilai 100% pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 76,92% pada 50 ekor/m3. Kualitas air pada kolam penelitian masih dalam kisaran standar baku mutu yaitu suhu 25,4-25,7°C, pH 7,1-7,3, dan DO 5,1-5,4 mg/L. Padat tebar 50 ekor/m³ aman diterapkan dalam budidaya ikan nila akuaponik. | Stocking density affects the level of ectoparasite infection in fish. Aquaponics can maintain water quality and utilize feed waste efficiently, thereby suppressing the development of ectoparasites. The purpose of this study was to identify the types of ectoparasites as well as the prevalence, intensity, and dominance values in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) reared at different stocking densities in an aquaponic system. This research employed an experimental method with two stocking density treatments, namely 30 and 50 fish/m³, and the sampling technique used was simple random sampling. The types of ectoparasites found were Trichodina sp. and Monogenea. The prevalence values of Trichodina sp. and Monogenea at stocking densities of 30 fish/m³ and 50 fish/m³ ranged from 5–50% and 20–70%, respectively. The intensity values of Trichodina sp. and Monogenea at stocking densities of 30 fish/m³ and 50 fish/m³ ranged from 1–1.5 ind/fish and 1.4–1.8 ind/fish, respectively, which are categorized as low. The Mann-Whitney analysis showed that differences in fish stocking density had no significant effect on ectoparasite intensity. Trichodina sp. was the most dominant ectoparasite, with dominance values of 100% at 30 fish/m³ and 76.92% at 50 fish/m³. The water quality in the research tanks was still within the standard threshold range, with temperatures of 25.4–25.7°C, pH levels of 7.1–7.3, and DO levels of 5.1–5.4 mg/L. A stocking density of 50 fish/m³ is considered safe for Nile tilapia aquaponic cultivation. | |
| 47404 | 50805 | E1A021138 | PERBANDINGAN PENGATURAN HUKUM DALAM PENYELESAIAN DIVERSI BERDASARKAN PRINSIP RESTORATIVE JUSTICE DI INDO NESIA DAN KANADA | Indonesia dan Kanada merupakan negara yang menerapkan diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), keduanya memiliki persamaan dan perbedaan da lam ketentuan diversi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan dan perbedaan serta persamaan penyelesaian diversi di Indonesia dan Kanada. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pen dekatan perundang-undangan serta pendekatan perbandingan dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dik umpulkan dengan metode studi kepustakaan kemudian diolah menggunakan metode display data dan kategorisasi data yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan tabel. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan hukum diversi di Indonesia, diatur da lam berbagai peraturan seperti UU SPPA, PP No. 65 Tahun 2015, PERMA No. 4 Tahun 2014, dan PERJA-006 Tahun 2015. Sementara itu, di Kanada regulasi terkait tercantum pada Youth Criminal Justice Act 2002. Hasil penelitian juga menunjuk kan terdapat persamaan dan perbedaan sistem diversi di Indonesia dan Kanada pada aspek pengertian, tujuan, prinsip, syarat-syarat, pihak-pihak yang terlibat, serta prosedur pelaksanaan diversi. | Indonesia and Canada are countries that implement diversion in their Juvenile Criminal Justice Systems, both having similarities and differences in their diversion provisions. This research aims to examine the regulation and differences as well as similarities in diversion resolution between Indonesia and Canada. The research method used is normative juridical with a statutory approach and comparative ap proach with descriptive analytical research specifications. The data used is second ary data collected through literature study methods and processed using data dis play methods and data categorization presented in narrative text and tabular form. The analysis in this research was conducted using normative qualitative methods. The research results show that the legal regulation of diversion in Indonesia is gov erned by various regulations such as the JCJS Law, Child Protection Law, Govern ment Regulation No. 65 of 2015, Supreme Court Regulation No. 4 of 2014, and Attorney General Regulation-006 of 2015. Meanwhile, in Canada, the related reg ulation is stipulated in the Youth Criminal Justice Act 2002. The research results also show that there are similarities and differences in the diversion systems of In donesia and Canada in aspects of definition, objectives, principles, requirements, parties involved, and diversion implementation procedures. | |
| 47405 | 50806 | J1D019041 | Studi Kasus Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Drama pada Siswa Kelas XI-9 SMA Negeri 1 Ajibarang | Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan secara rinci: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi drama di kelas XI-9 SMA Negeri 1 Ajibarang. Hasil penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan tiga aspek: (1) perencanaan, yang diwujudkan dalam modul ajar yang dirancang berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) Fase F dan strategi diferensiasi yang komprehensif; (2) pelaksanaan, yang dilakukan secara bertahap dalam delapan pertemuan terstruktur menggunakan media dan aktivitas yang beragam, mulai dari eksplorasi mandiri hingga diskusi kelompok dengan puncak rangkaian pembelajaran berupa proyek akhir pertunjukan drama; dan (3) penilaian, yang menggunakan kombinasi asesmen formatif dan sumatif. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berhasil diimplementasikan secara efektif. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan nilai siswa yang mayoritas berada pada interval 80%-100% dan berada dalam kriteria tuntas yang sekaligus mengindikasikan tercapainya Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Selain itu, hal tersebut membuktikan efektivitas penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam mengakomodasi keberagaman siswa dan meningkatkan hasil belajar mereka. | This study was conducted with the aim of describing and explaining in detail: the planning, implementation, and assessment of differentiated learning in Indonesian language lessons on drama in class XI-9 at SMA Negeri 1 Ajibarang. The results of this study describe and explain three aspects: (1) planning, wich is manifested in teaching modules designed based on Phase F Learning Outcomes and comprehensive differentiation strategies; (2) implementation, which was carried out in stages in eight structured meetings using various media and activities, ranging from independent exploration to group discussions, with culmination of the learning series being a final drama performance project; and (3) assessment, which used a combination of formative and summative assessments. Overall, the results of this study show that the application of differentiated learning was successfully implemented effectively. This is evidenced by the majority of students scores being in the 80%-100% range and meeting the completion criteria, which also indicates the achievement of the Learning Objective Achievement Criteria (KKTP). In addition, this proves the effectiveness of differentiated learning in accommodating student diversity and improving their learning outcomes. | |
| 47406 | 50807 | F1F020033 | PENGARUH DIASPORA KOREA SELATAN DALAM DIPLOMASI BUDAYA KOREA SELATAN-JEPANG: PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS (2018-2023) | Penelitian ini berangkat dari hubungan bilateral Korea Selatan dan Jepang yang menunjukkan dinamika kompleks pada dekade terakhir karena adanya isu sejarah dan identitas nasional. Dalam hal ini, diaspora Korea Selatan di Jepang memiliki posisi strategis sebagai aktor non-negara yang berperan sebagai bridge builder hubungan kedua negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat proses pembentukan identitas diaspora Korea Selatan yang tinggal “diantara” Korea Selatan dan Jepang dalam mempengaruhi diplomasi budaya Korea Selatan dan Jepang, dengan fokus pada periode 2018-2023. Dengan menggunakan perspektif konstruktivisme, penelitian ini menelaah bagaimana identitas diaspora terbentuk melalui pengalaman sejarah, interaksi sosial, serta dinamika politik domestik dan bilateral, lalu bagaimana identitas tersebut bertransformasi menjadi praktik diplomasi budaya yang berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas yang dimiliki oleh diaspora Korea Selatan di Jepang dapat mempengaruhi diplomasi budaya Korea Selatan di Jepang melalui bantuan organisasi, seperti Mindan. Pengaruh diaspora Korea Selatan di Jepang memperlihatkan bahwa aktor non-negara dengan identitas hibridia dapat menjadi katalis penting dalam membangun jembatan dan memperbaiki hubungan bilateral Korea Selatan-Jepang. | This research begins with the complex dynamics of bilateral relations between South Korea and Japan over the past decade, driven by issues of history and national identity. In this context, the South Korean diaspora in Japan holds a strategic position as a non-state actor acting as a bridge builder in relations between the two countries. The purpose of this research is to examine the identity formation process of the South Korean diaspora living "between" South Korea and Japan, and how it influences cultural diplomacy between South Korea and Japan, focusing on the period 2018-2023. Using a constructivist perspective, this research examines how diaspora identity is formed through historical experiences, social interactions, and domestic and bilateral political dynamics, and how this identity transforms into influential cultural diplomacy practices. The results show that the identities held by the South Korean diaspora in Japan can influence South Korean cultural diplomacy in Japan through the assistance of organizations such as Mindan. The influence of the South Korean diaspora in Japan demonstrates that non-state actors with hybrid identities can be important catalysts in building bridges and improving bilateral relations between South Korea and Japan. | |
| 47407 | 50809 | A1A020092 | Faktor yang Memengaruhi Loyalitas Pelanggan Media Tanam di BMS Shafana Nursery Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas | Tanaman hortikultura, khususnya tanaman hias, memiliki prospek menjanjikan karena memberikan nilai ekonomi tinggi, mendukung kesejahteraan petani, serta permintaannya terus meningkat baik di dalam negeri maupun ekspor. Tanaman hias memiliki peluang usaha yang potensial dalam pengembangan ekonomi kreatif. Upaya untuk mengoptimalkan usaha ini diperlukan pengelolaan agribisnis dari hulu hingga hilir, inovasi budidaya, serta pemilihan media tanam yang tepat, karena media tanam berperan penting dalam menunjang pertumbuhan, kesuburan, dan kualitas estetika tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi karakteristik pelanggan media tanam di BMS Shafana Nursery Kabupaten Banyumas, 2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas pelanggan media tanam di BMS Shafana Nursery Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan di BMS Shafana Nursery dan rumah-rumah pelanggan yang berada di wilayah Kabupaten Banyumas pada bulan Mei hingga Juni 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan teknik sensus pada pengambilan sampel. Sampel yang digunakan sebanyak 60 yang kemudian di analisis dengan metode analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik konsumen yang dimiliki oleh BMS Shafana Nursery didominasi oleh konsumen dengan jenis kelamin laki laki, berumur pada kisaran 25 sampai 35 tahun, berdomisili di Kecamatan Baturraden, berpendidikan terakhir SMA, memiliki pekerjaaan wiraswasta/wirausaha, dan pendapatan atau uang saku per bulannya antara Rp1.000.000 sampai Rp3.000.000. Hasil penelitian juga secara simultan variabel kualitas produk, harga, kualitas pelayanan, lokasi, promosi, dan tren berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Secara parsial variabel yang berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan adalah kualitas produk, kualitas pelayanan, dan tren. Sedangkan variabel harga, lokasi, dan promosi tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap loyalitas pelanggan. | Horticultural crops, especially ornamental plants, have promising prospects because they provide high economic value, support farmers' welfare, and demand for them continues to increase both domestically and for export. Data from the Ministry of Agriculture for 2024 shows that ornamental plant production reached 811.72 million stems in 2023, making it a potential business opportunity in the development of the creative economy. Efforts to optimize this business require agribusiness management from upstream to downstream, cultivation innovations, and the selection of appropriate planting media, as planting media play an important role in supporting the growth, fertility, and aesthetic quality of ornamental plants. This study aims to: 1) identify the characteristics of growing medium customers at BMS Shafana Nursery in Banyumas Regency, 2) analyze the factors that influence the loyalty of growing medium customers at BMS Shafana Nursery in Banyumas Regency. This research was conducted at BMS Shafana Nursery and customers' homes in Banyumas Regency from May to June 2025. The research method used was a survey method using a census technique for sampling. A sample of 60 was used and analyzed using descriptive analysis, multiple linear regression analysis, and hypothesis testing. The results of the study show that the consumer characteristics of BMS Shafana Nursery are dominated by male consumers, aged between 25 and 35 years old, residing in Baturraden District, with a high school education, self employed/entrepreneurs, and have a monthly income or allowance between IDR 1,000,000 and IDR 3,000,000. The results also show that the variables of product quality, price, service quality, location, promotion, and trends simultaneously have a significant effect on customer loyalty. Partially, the variables that influence customer loyalty are product quality, service quality, and trends. Meanwhile, the variables of price, location, and promotion do not have a significant partial effect on customer loyalty. | |
| 47408 | 50771 | L1B021038 | PERBANDINGAN CEMARAN BAKTERI DAN KEBERADAAN Salmonella spp. PADA IKAN LELE (Clarias sp.) DARI SISTEM BUDIDAYA KOLAM TANAH DAN KOLAM TERPAL DI CIREBON | Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas air tawar penting di Indonesia, khususnya di Cirebon yang dikenal sebagai sentra utama budidaya ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat cemaran bakteri dan mendeteksi keberadaan Salmonella spp. pada ikan lele yang dibudidayakan di kolam tanah dan kolam terpal di wilayah Cirebon. Penelitian dilakukan dengan metode observasi melalui pengujian Total Plate Count (TPC) dan deteksi Salmonella spp. pada ikan lele dari kedua sistem budidaya. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada 20–28 Oktober 2025 di wilayah budidaya ikan lele Kota Cirebon dan sekitarnya, dengan pengambilan sampel secara purposive sampling dari dua pembudidaya yang mewakili sistem budidaya berbeda. Hasil pengujian menunjukkan nilai TPC ikan dari kolam tanah sebesar 2,6 × 10⁶ CFU/g dan kolam terpal sebesar 3,0 × 10⁶ CFU/g. Hasil identifikasi biokimia memperlihatkan bahwa isolat dari kolam tanah positif urease, sedangkan dari kolam terpal negatif urease namun positif indole. Dengan demikian, isolat yang diperoleh bukan Salmonella spp., melainkan diduga bakteri lain dari famili Enterobacteriaceae. Secara keseluruhan, tidak ditemukan Salmonella spp. pada sampel ikan lele, namun tingginya nilai TPC menunjukkan adanya kontaminasi mikroba umum yang dapat menurunkan mutu hasil budidaya. | Catfish (Clarias sp.) is one of the important freshwater commodities in Indonesia, especially in Cirebon, which is known as the main center for catfish farming. This study aims to analyze the level of bacterial contamination and detect the presence of Salmonella spp. in catfish farmed in earthen ponds and tarpaulin ponds in the Cirebon area. The study was conducted using observation methods through Total Plate Count (TPC) testing and detection of Salmonella spp. in catfish from both farming systems. The research was carried out from October 20 to 28, 2025, in the catfish farming area of Cirebon City and its surroundings, with samples taken using purposive sampling from two farmers representing different farming systems. The test results showed that the TPC value of fish from earthen ponds was 2.6 × 10⁶ CFU/g and from tarpaulin ponds was 3.0 × 10⁶ CFU/g. Biochemical identification results showed that isolates from earthen ponds were urease-positive, while those from tarpaulin ponds were urease-negative but indole-positive. Thus, the isolates obtained were not Salmonella spp., but were suspected to be other bacteria from the Enterobacteriaceae family. Overall, Salmonella spp. was not found in the catfish samples, but the high TPC value indicated the presence of general microbial contamination that could reduce the quality of the aquaculture products. | |
| 47409 | 50811 | F2D023001 | Rezim Indeks Desa Membangun sebagai Media Politik Pengaturan Pembangunan di Kebumen | ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerapan Indeks Desa Membangun (IDM) sebagai instrumen pengukur pembangunan desa di Kabupaten Kebumen berdasarkan Permendesa PDTT Nomor 2 Tahun 2016. Studi ini menyoroti bagaimana IDM, yang dirancang sebagai standar nasional yang seragam, diterapkan pada desa-desa dengan karakteristik sosial budaya dan kebutuhan pembangunan yang sangat beragam. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan IDM sering kali mengabaikan kondisi unik di tiap desa, khususnya dalam hal kebutuhan layanan publik yang tidak selalu menjadi kewenangan desa. Hal ini mengakibatkan hambatan dalam perencanaan kegiatan pembangunan dan alokasi sumber daya yang kurang berdampak sesuai dengan prioritas lokal. Lebih jauh, penelitian ini juga mengungkap bagaimana IDM berfungsi sebagai mekanisme governmentality yang mengatur dan membatasi kebebasan desa dalam mengambil keputusan pembangunan. Mekanisme ini memaksa desa untuk mengikuti agenda pembangunan yang bersifat sentralistik, sehingga ruang otonomi desa menjadi terbatas. Dengan demikian, penerapan IDM di Kabupaten Kebumen mencerminkan ketegangan antara standar nasional yang seragam dengan realitas sosial politik desa yang kompleks dan beragam. Kata kunci: Indeks Desa Membangun, Governmentality, Pembangunan Desa. | ABSTRACT This research examines the implementation of the Indeks Desa Membangun (IDM) as an instrument to measure village development in Kebumen Regency based on Permendesa PDTT Nomor 2 Tahun 2016. The study highlights how the IDM, designed as a uniform national standard, is applied to villages with highly diverse socio-cultural characteristics and development needs. The analysis shows that the application of the IDM often neglects the unique conditions of each village, especially regarding public service needs that are not always within the village's authority. This leads to obstacles in planning development activities and results in resource allocation that does not effectively address local priorities. Furthermore, this study reveals how the IDM functions as a mechanism of governmentality that regulates and restricts village autonomy in making development decisions. This mechanism forces villages to follow a centralistic development agenda, thereby limiting their autonomy space. Thus, the implementation of the IDM in Kebumen Regency reflects the tension between a uniform national standard and the complex, diverse socio-political realities of villages. Keywords: Indeks Desa Membangun, Governmentality, Village Development. | |
| 47410 | 50813 | I2A023015 | Model Dukungan Orang Tua dalam Peningkatan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di Kabupaten Cilacap | Latar belakang: Remaja putri memiliki risiko tinggi mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi, menstruasi, dan pola makan yang kurang seimbang. WHO (2020) mencatat kenaikan kasus anemia global dari 1,42 menjadi 1,74 miliar, sementara prevalensi di Indonesia meningkat menjadi 32% dan di Jawa Tengah mencapai 57,7%. Di wilayah kerja Puskesmas Kawunganten, prevalensi anemia remaja putri sebesar 19,8% (2024). Program konsumsi tablet tambah darah (TTD) masih terkendala rendahnya kepatuhan remaja, dan hanya 19,2% yang memperoleh dukungan orang tua, padahal dukungan keluarga berperan penting dalam perilaku kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 8 informan kunci, 5 informan utama, dan 5 informan pendukung. Analisis data dilakukan dengan ATLAS.ti 9.0.3.1 melalui proses coding, kategorisasi, dan tematisasi dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil: Kepatuhan remaja dipengaruhi oleh faktor internal seperti pemahaman, pengalaman emosional, dan motivasi, serta faktor eksternal berupa dukungan orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan. Dukungan orang tua mencakup lima bentuk emosional, instrumental, informasional, penghargaan, dan spiritual yang saling melengkapi dalam membangun motivasi dan keyakinan remaja. Sekolah membentuk kebiasaan melalui kegiatan minum TTD bersama dan pengawasan guru, sedangkan tenaga kesehatan memperkuat pemahaman melalui edukasi, klarifikasi efek samping, dan pendampingan. Kesimpulan: Kepatuhan remaja putri terhadap TTD terbentuk melalui interaksi persepsi, pengalaman emosional, serta dukungan keluarga dan sekolah. Dukungan orang tua menjadi pondasi penting dalam membentuk motivasi dan rasa aman remaja. Model dukungan yang dirumuskan menunjukkan bahwa kepatuhan merupakan hasil sinergi antara keluarga sebagai pemberi motivasi, sekolah sebagai pembentuk kebiasaan, dan tenaga kesehatan sebagai penguat keyakinan melalui edukasi dan pendampingan yang menenangkan. Sinergi ini menciptakan ekosistem yang mendukung kepatuhan secara berkelanjutan. | Background: Adolescent girls are at high risk of anemia due to increased iron requirements, menstruation, and an unbalanced diet. WHO (2020) reported a global increase in anemia cases from 1.42 to 1.74 billion, while prevalence in Indonesia rose to 32% and in Central Java reached 57.7%. In the Kawunganten Public Health Center working area, the prevalence of anemia among adolescent girls was 19.8% (2024). The iron tablet (TTD) consumption program is still hindered by low adolescent compliance, and only 19.2% receive parental support, although family support plays an important role in health behavior. Methods: This study used a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews, focus group discussions, observations, and documentation. The informants consisted of 8 key informants, 5 principal informants, and 5 supporting informants. Data analysis was conducted using ATLAS.ti 9.0.3.1 through coding, categorization, and thematization processes with source and method triangulation. Results: Adolescent adherence is influenced by internal factors such as understanding, emotional experience, and motivation, as well as external factors in the form of support from parents, school, and healthcare providers. Parental support includes five forms emotional, instrumental, informational, appraisal, and spiritual which complement each other in building adolescents' motivation and confidence. School shapes habits through joint iron-folic acid (IFA) supplement consumption activities and teacher supervision, while healthcare providers reinforce understanding through education, clarification of side effects, and guidance. Conclusion: Adolescent girls' adherence to IFA supplements is formed through the interaction of perception, emotional experience, and support from family and school. Parental support is an important foundation in shaping adolescents' motivation and sense of security. The formulated support model shows that compliance is the result of synergy between the family as a source of motivation, the school as a habit shaper, and healthcare professionals as confidence boosters through education and reassuring guidance. This synergy creates an ecosystem that supports sustained compliance. | |
| 47411 | 50808 | L1A021049 | Survival Rate Ikan Cupang (Betta splendens) Jantan Strain Serit Dengan Ekstrak Daun Ketapang Berbeda Dosis | Penelitian ini berjudul “Survival Rate Ikan Cupang (Betta splendens) Jantan Strain Serit dengan Ekstrak Daun Ketapang Berbeda Dosis”. Ikan cupang strain serit adalah salah satu jenis ikan yang memiliki daya tarik yang khas. Salah satu ancaman yang dihadapi adalah adanya penyakit. Bahan alami yang berpotensi sebagai bahan antibakteri, antiparasit dan antijamur adalah daun ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui survival rate ikan cupang (Betta splendens) jantan strain serit pada media yang diberi dosis daun ketapang yang berbeda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2025 – Februari 2025 di Laboratorium Organisme Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian ini menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis ketapang bubuk dengan perlakuan A (1 g/L), B (1,5 g/L), C (2 g/L), D (kontrol) didapatkan survival rate 100% di semua perlakuan, didukung oleh kualitas air yang tetap stabil selama pemeliharaan. | This study is entitled "Survival Rate of Male Betta Fish (Betta splendens) Serit Strain with Different Doses of Ketapang Leaf Extract". Serit strain betta fish is a type of fish that has a unique attraction. One of the threats faced is the presence of disease. Natural ingredients that have the potential as antibacterial, antiparasitic and antifungal materials are ketapang leaves. This study aims to determine the survival rate of male betta fish (Betta splendens) Serit strain in media given different doses of ketapang leaves. This research was conducted in January 2025 - February 2025 at the Aquatic Organisms Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Jenderal Soedirman University. This research method uses RAL with 4 treatments in triplicates, and is analyzed descriptively. The results of the study showed that the administration of powdered ketapang doses with treatments A (1 g/L), B (1.5 g/L), C (2 g/L), D (control) obtained a survival rate of 100% in all treatments, supported by water quality that remained stable during maintenance. | |
| 47412 | 50814 | C1A019017 | Keterkaitan Spasial Ekonomi Berdasarkan Sektor Unggulan pada Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015-2024 | Penelitian ini menganalisis sektor unggulan dan keterkaitan spasial ekonomi yang terdapat pada kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan sektor unggulan dan keterkaitan spasial berdasarkan sektor unggulan antara periode sebelum pandemi dan setelah pandemi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data PDRB ADHK 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama tahun 2015 hingga tahun 2024 dan data spasial berupa peta administratif kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Data berasal dari publikasi BPS dan Badan Informasi Geospasial. Alat analisis yang digunakan dalam skripsi ini yaitu Location Quotient (LQ), uji chi-square (χ^2), dan autokorelasi spasial berupa indeks moran global dan indeks moran lokal (LISA). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa; (1) tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada lima sektor unggulan yang paling dominan antara periode sebelum dan setelah pandemi, (2) tidak terdapat perbedaan keterkaitan spasial ekonomi pada lima sektor unggulan yang paling dominan antara periode sebelum dan setelah pandemi. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu pemerintah daerah dapat melakukan upaya untuk memprioritaskan anggaran, investasi pada lima sektor unggulan yang terbukti bertahan pada kondisi guncangan ekonomi dan merancang kebijakan dengan memasukkan agenda diversifikasi sektoral yang bertujuan menciptakan sektor unggulan yang lebih banyak di berbagai daerah, sehingga struktur ekonomi regional tidak hanya stabil tetapi juga adaptif terhadap guncangan. Pemerintah daerah dapat melakukan upaya untuk memprioritaskan pembangunan dan peningkatan infrastruktur penghubung antar kabupaten/kota untuk mengurangi biaya transaksi dan waktu tempuh, sehingga meningkatkan interaksi spasial dan mendorong klaster baru. | This research analyzes leading sectors and spatial economic linkages in districts/cities in Central Java Province. The purpose of this research is to analyze differences in leading sectors and spatial linkages based on leading sectors between the periods before and after the pandemic. The research method used in this study is quantitative research. The data used in this study is secondary data in the form of GRDP data for 35 districts/cities in Central Java Province from 2015-2024 and spatial data in the form of administrative maps of districts/cities in Central Java Province. The data came from publications by BPS and Badan Informasi Geospasial. The analytical tools used in this research were the Location Quotient (LQ), chi-square test (χ^2), and spatial autocorrelation in the form of global Moran's index and local Moran's index (LISA). Based on the results of research and data analysis, it shows that: (1) there is no significant difference in the five most dominant leading sectors between the periods before and after the pandemic, (2) there is no difference in economic spatial correlation in the five most dominant leading sectors between the periods before and after the pandemic. The implication of the above conclusion is that local governments can make efforts to prioritize budgets and investments in five leading sectors that have proven to be resilient in times of economic shocks and design policies that include a sectoral diversification agenda aimed at creating more leading sectors in various regions, so that the regional economic structure is not only stable but also adaptive to shocks. Local governments can make efforts to prioritize the development and improvement of infrastructure connecting districts/cities to reduce transaction costs and travel time, thereby increasing spatial interaction and encouraging new clusters. | |
| 47413 | 50815 | F2C023019 | Analisis Program Kampanye #SayNoToStyrofoam pada Pengurangan Sampah Plastik di Jakarta | Menurut United Nation Environment Programme (UNEP), Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, dengan Jakarta sebagai salah satu kota dengan tingkat produksi sampah plastik yang tinggi, termasuk styrofoam. Styrofoam, sebagai salah satu jenis plastik yang sulit terurai, menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan. Kampanye #SayNoToStyrofoam oleh The Antheia Project hadir sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya Generasi Z, tentang bahaya styrofoam dan mendorong perubahan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kampanye tersebut serta kendala yang dihadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan kunci (Co-Founder dan anggota The Antheia Project), serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye #SayNoToStyrofoam diimplementasikan melalui berbagai kegiatan seperti Beach Clean Up, Educational Camp, dan Antheia Chapters, dengan memanfaatkan media sosial untuk penyebaran pesan. Model kampanye komponensial yang digunakan mencakup sumber, pesan, saluran, penerima, efek, dan umpan balik. Kendala utama yang dihadapi meliputi minimnya kesadaran masyarakat, keterbatasan sumber daya, dan tantangan dalam kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Namun, kampanye ini berhasil menciptakan dampak positif melalui edukasi dan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kolaborasi multipihak, pemanfaatan teknologi, dan advokasi kebijakan untuk memperluas dampak kampanye. | Based on data by United Nation Environment Programme (UNEP), Indonesia is one of the largest contributors to plastic waste in the world, with Jakarta being one of the cities with high plastic waste production, including styrofoam. Styrofoam, as a type of non-biodegradable plastic, poses serious threats to the environment and human health. The #SayNoToStyrofoam campaign by The Antheia Project aims to raise awareness, particularly among Generation Z, about the dangers of styrofoam and encourage behavioral change. This study analyses the implementation of the campaign and the challenges faced. The research employs a qualitative method with a descriptive case study approach. Data was collected through observation, in-depth interviews with key informants (Co-Founder and members of The Antheia Project), and documentation. The findings reveal that the #SayNoToStyrofoam campaign is implemented through various activities such as Beach Clean Up, Educational Camp, and Antheia Chapters, utilizing social media for message dissemination. The campaign follows a componential model, encompassing source, message, channel, receiver, effect, and feedback. Key challenges include low public awareness, limited resources, and difficulties in stakeholder collaboration. However, the campaign has successfully created a positive impact through education and active community participation. The study recommends strengthening multi-stakeholder collaboration, leveraging technology, and advocating for policy changes to expand the campaign's impact. | |
| 47414 | 50817 | H1B021087 | PERANCANGAN SISTEM PERPIPAAN UNTUK PENYEDIAAN AIR IRIGASI DENGAN SIMULASI WATERNET DI DESA BANJARSARI, KALITAPEN, DAN KALIWANGI, KECAMATAN AJIBARANG, KABUPATEN BANYUMAS | Peningkatan efisiensi sistem irigasi adalah faktor kunci dalam mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Penelitian ini berfokus pada Desa Banjarsari, Kalitapen, dan Kaliwangi, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, yang menghadapi tantangan distribusi air irigasi akibat keterbatasan infrastruktur perpipaan. Sistem perpipaan yang tidak optimal menyebabkan kehilangan energi dan distribusi air yang tidak merata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi sistem perpipaan irigasi berbasis gravitasi yang efisien menggunakan simulasi perangkat lunak WaterNet. Metode yang digunakan meliputi survei hidrologi dan topografi, pemodelan jaringan, dan analisis hidraulik komprehensif. Hasil perhitungan kebutuhan air irigasi berdasarkan standar KP-01 dan metode evapotranspirasi Thornthwaite menunjukkan debit maksimum yang diperlukan sebesar 253,551 l/detik pada bulan Juni. Simulasi WaterNet menghasilkan performa hidraulik optimal dengan head loss rata-rata 0,17–1,5 m per segmen, kecepatan aliran 0,6–1,875 m/s, dan tekanan antara 3,65–77,11 mH₂O. Parameter ini memenuhi standar SNI 8153:2015. Inovasi desain sistem gravitasi ini berhasil mengurangi kehilangan energi dan meningkatkan produktivitas lahan seluas 198 ha. | Improving the efficiency of irrigation systems is a key factor in supporting food security and sustainable water resource management. This study focuses on Banjarsari, Kalitapen, and Kaliwangi Villages, Ajibarang Sub-district, Banyumas Regency, which face challenges in irrigation water distribution due to limited pipeline infrastructure. Suboptimal piping systems result in energy losses and uneven water distribution. Therefore, this study aims to design and evaluate an efficient gravity-based irrigation pipeline system using the WaterNet simulation software. The methodology involves hydrological and topographical surveys, network modeling, and comprehensive hydraulic analysis. Irrigation water needs calculation, based on the KP-01 standard and the Thornthwaite evapotranspiration method, yields a maximum required discharge of 253,551 l/s in June. WaterNet simulation demonstrated optimal hydraulic performance with an average head loss of 0.17–1.5 m per segment, flow velocity of 0.6–1.875 m/s, and pressure ranging from 3.65–77.11 mH₂O. These parameters comply with SNI 8153:2015 standards. The innovation of this gravity-based design successfully reduces energy losses and enhances productivity on 198 ha of farmland. | |
| 47415 | 50818 | A1D021031 | Pengaruh Konsentrasi dan Interval Penyemprotan KNO3 terhadap Pertumbuhan dan Hasil Melon pada Hidroponik Dutch Bucket | Produksi melon di Indonesia mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir mencapai 115.176 ton pada tahun 2021-2023. Hal ini disebabkan oleh penurunan produktivitas akibat teknik budidaya yang belum optimal. Pemberian KNO3 dengan konsentrasi dan interval yang tepat serta budidaya hidroponik dutch bucket dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil melon. Penelitian dilakukan di screenhouse Desa Pasir Kulon, Karanglewas, Banyumas pada bulan Mei hingga Agustus 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi KNO3 7,5 g/L dengan interval aplikasi setiap 12 hari sekali merupakan interaksi terbaik antara perlakuan konsentrasi KNO3 dengan interval penyemprotan terhadap bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot buah (1.396 g), dan bobot kering buah. | Melon production in Indonesia has decreased over the last three years, reaching 115,176 tons in the 2021−2023 period. This is caused by a decline in productivity due to sub-optimal cultivation techniques. The application of KNO3 at the appropriate concentration and interval, along with dutch bucket hydroponic cultivation, can be a solution to increase melon growth and yield. This research was conducted in a sreenhouse in Pasir Kulon Village, Karanglewas, Banyumas, from May to August 2025. The results show that a KNO3 concentration of 7.5 g/L with an application interval of every 12 days is the best interaction between the KNO3 fertilizer concentration treatment and the application interval on shoot fresh weight, shoot dry weight, root dry weight, fruit weight (1,396g), and fruit dry weight. | |
| 47416 | 50819 | F1C021065 | STRATEGI BRANDING SEKOLAH UNTUK MEMBANGUN CITRA POSITIF: STUDI KASUS PADA SMK SWAGAYA 1 PURWOKERTO | Branding sekolah merupakan proses strategis yang dilakukan lembaga pendidikan untuk membangun citra positif di mata masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi branding yang diterapkan SMK Swagaya 1 Purwokerto dalam upaya membentuk citra positif sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi branding dilakukan melalui dua aspek utama, yaitu branding fisik dan branding nonfisik. Branding fisik ditunjukkan melalui kebersihan lingkungan sekolah, konsistensi identitas visual, serta penataan fasilitas ruang praktik. Sementara itu, branding nonfisik diwujudkan melalui penanaman nilai kedisiplinan, religiusitas, serta komunikasi terbuka kepada publik melalui media digital seperti Instagram, YouTube, dan website sekolah. Faktor pendukung strategi branding meliputi kepemimpinan kepala sekolah, budaya religius, partisipasi guru dan siswa, serta fasilitas pembelajaran. Faktor penghambatnya adalah keterbatasan anggaran, kerusakan fasilitas praktik tertentu, dan tingginya persaingan antar sekolah. Secara keseluruhan, strategi branding tersebut mampu membangun citra positif SMK Swagaya 1 Purwokerto sebagai sekolah yang bersih, religius, disiplin, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. | School branding is a strategic effort carried out by educational institutions to build a positive image in the eyes of the public. This study aims to identify the branding strategies implemented by SMK Swagaya 1 Purwokerto in establishing a positive school image. This research employs a descriptive qualitative method with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that the branding strategy consists of two main aspects: physical branding and non-physical branding. Physical branding is reflected in the cleanliness of the school environment, the consistency of visual identity, and the proper arrangement of practical learning facilities. Meanwhile, non-physical branding is implemented through the cultivation of discipline, religious values, and transparent communication through digital media platforms such as Instagram, YouTube, and the school’s website. Supporting factors of the branding strategy include the leadership of the school principal, a strong religious culture, participation of teachers and students, and adequate learning facilities. Inhibiting factors consist of limited funding, damaged practical equipment, and strong competition among schools. Overall, the branding strategies have successfully contributed to forming a positive image of SMK Swagaya 1 Purwokerto as a clean, religious, disciplined, and technologically adaptive school. | |
| 47417 | 50820 | L1A021025 | Aspek Reproduksi Ikan Kadalan (Homaloptera ocellata) di Hulu Sungai Elo, Magelang | Sungai Elo merupakan habitat ikan kadalan (Homaloptera ocellata) yang berstatus rentan dan masih minim kajian mengenai aspek reproduksinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis tentang aspek reproduksi ikan kadalan (Homaloptera ocellata) diantaranya rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks gonadosomatik, fekunditas dan diameter telur yang ditangkap di hulu Sungai Elo Magelang. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan 3 stasiun, data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan statistik. Sampel yang diperoleh selama penelitian sebanyak 108 individu ikan yang terdiri dari 82 ikan jantan dan 26 ikan betina. Rasio kelamin 1:0,32 dan hasil uji chi-square (16,4 > 5,99) menunjukkan rasio tersebut tidak seimbang. TKG ikan didominasi oleh TKG II, sedangkan TKG III dan IV ditemukan dalam jumlah terbatas. IGS tertinggi jantan berada pada selang ukuran panjang 10,1–10,8 cm dengan nilai 2,59% dan betina pada selang ukuran panjang 11,3–12,0 cm dengan nilai 19,32. Fekunditas berkisar 1.182–16.961 butir dan diameter telur 1,10–11,69 mm. | The Elo River serves as the habitat of the vulnerable lizardfish Homaloptera ocellata, a species with limited information regarding its reproductive biology. This study aims to analyze key reproductive aspects of Homaloptera ocellata, including sex ratio, gonad maturity level, gonadosomatic index, fecundity, and egg diameter of specimens collected from the upper Elo River in Magelang. Sampling was carried out from June to August 2025 at three stations, and the data obtained were analyzed using descriptive and statistical methods. A total of 108 individuals were collected, consisting of 82 males and 26 females. The sex ratio of 1:0.32, supported by the chi-square test (16.4 > 5.99), indicated imbalance. Gonad maturity was dominated by stage II, while stages III and IV were limited. The highest GSI for males occurred at 10.1–10.8 cm and for females at 11.3–12.0 cm. Fecundity ranged from 1,182–16,961 eggs, with egg diameters of 1.10–11.69 mm. | |
| 47418 | 50821 | A1D021063 | Pengaruh Ragam Jenis Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) dan Aplikasi Biochar Tongkol Jagung Termodifikasi terhadap Jumlah Daun | Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan komoditas pangan penting di wilayah tropis yang memiliki potensi tinggi untuk mendukung ketahanan pangan. Pertumbuhan vegetatif seperti jumlah daun berperan penting dalam menentukan kapasitas fotosintesis dan hasil umbi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ragam jenis ubi jalar dan aplikasi biochar tongkol jagung termodifikasi terhadap jumlah daun. Penelitian dilaksanakan di Banyumas, Jawa Tengah, dari September 2024 hingga Agustus 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis ubi jalar (ubi kuning, ubi ungu, dan ubi putih) dan perlakuan biochar (biochar, biochar + pupuk organik cair/POC, dan biochar + Azolla). Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah jumlah daun pada 8 dan 12 minggu setelah tanam (MST). Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah daun yang dihasilkan antara jenis ubi jalar memiliki nilai yang seragam. Demikian pula, aplikasi biochar termodifikasi belum mampu meningkatkan jumlah daun | Sweet potato (Ipomoea batatas L.) is an important food crop in tropical regions with high potential to support food security. Vegetative growth parameters such as leaf number play a crucial role in determining photosynthetic capacity and tuber yield. This study aimed to determine the effects of different sweet potato varieties and the application of modified corn cob biochar on leaf number. The research was conducted in Banyumas, Central Java, from September 2024 to August 2025 using a factorial randomized block design (RBD) with two factors: sweet potato varieties (yellow, purple, and white) and biochar treatments (biochar, biochar + liquid organic fertilizer/POC, and biochar + Azolla). Each treatment combination was replicated three times, resulting in 27 experimental units. The observed variable was leaf number at 8 and 12 weeks after planting (WAP). The results showed that leaf number among the sweet potato varieties was statistically similar. Likewise, the application of modified biochar did not significantly increase leaf number at either observation period. | |
| 47419 | 50822 | A1D021079 | Pengaruh Pupuk Organik dan Biochar Plus terhadap Lebar Bukaan Stomata dan Total Padatan Terlarut pada Tanaman Ubi Jalar Ungu | Permintaan ubi jalar terus meningkat sulit dipenuhi karena produksi masih terbatas akibat penurunan luas lahan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik, mengetahui pengaruh aplikasi biochar plus, dan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik dan biochar plus terhadap lebar bukaan dan Total Padatan Terlarut tanaman ubi jalar ungu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Waktu penelitian dimulai pada September 2024 hingga Agustus 2025. Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas dua faktor kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan pupuk organik (P), yaitu P0 = tanpa pupuk organik; P1 = pupuk organik sapi; P2 = pupuk organik kambing. Faktor kedua adalah perlakuan biochar (B), yaitu B1 = biochar; B2 = biochar plus POC; B3 = biochar plus azolla. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk organik dan biochar plus belum mampu meningkatkan variabel lebar bukaan stomata dan Total Padatan Terlarut ubi jalar ungu. | The demand for sweet potatoes continues to increase and is difficult to meet because production is still limited due to a decrease in land area. Therefore, efforts are needed to overcome this problem. This study aims to determine the effect of organic fertilizer application, determine the effect of biochar plus application, and determine the effect of organic fertilizer and biochar plus application on the width of the opening and Total Dissolved Solids of purple sweet potato plants. This study was conducted in Bobosan Village, North Purwokerto District, Banyumas Regency, and the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture. The study period was from September 2024 to August 2025. A factorial randomized block design (RAK) consisting of two treatment combinations was used. The first factor was organic fertilizer treatment (P), namely P0 = no organic fertilizer; P1 = cow manure; P2 = goat manure. The second factor was biochar treatment (B), namely B1 = biochar; B2 = biochar plus POC; B3 = biochar plus azolla. The data obtained were analyzed using the F test, and if there were significant differences, they were followed up with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the application of organic fertilizer and biochar plus was not yet able to increase the variables of stomatal aperture width and total dissolved solids in purple sweet potatoes. | |
| 47420 | 50824 | F2C023003 | Employees’ Responses to Corporate Culture Reinforcement Communication by BRI Culture Agents: A Case Study at BRI Purwokerto Branch | Penelitian ini mengkaji respons karyawan terhadap komunikasi penguatan budaya perusahaan yang dilakukan oleh Agen Budaya di Kantor Cabang Purwokerto Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai bagian dari upaya BRI untuk menginternalisasi nilai-nilai intinya, AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif), Agen Budaya memainkan peran strategis dalam memfasilitasi komunikasi dan menanamkan nilai-nilai budaya di seluruh level organisasi. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara langsung dan triangulasi untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai persepsi dan pengalaman karyawan terkait komunikasi budaya. Temuan penelitian mengungkapkan tiga perspektif dominan tentang budaya perusahaan: sebagai rutinitas operasional, sebagai nilai-nilai normatif yang membimbing perilaku, dan sebagai instrumen strategis yang mendukung visi organisasi. Karyawan menunjukkan tingkat pemahaman yang beragam terhadap nilai-nilai AKHLAK, mulai dari pemahaman yang komprehensif dan kontekstual hingga kesadaran umum. Keteladanan muncul sebagai metode komunikasi yang paling efektif, didukung oleh program terstruktur seperti Culture Activation Program (CAP) dan saluran multimodal yang menggabungkan interaksi formal dan informal. Hasil positif mencakup peningkatan kesadaran, perbaikan disiplin, dan penyelarasan perilaku secara bertahap dengan nilai-nilai perusahaan, yang mengindikasikan internalisasi budaya yang berhasil meskipun bersifat inkremental. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi hambatan struktural dan psikososial, termasuk kendala beban kerja yang dihadapi Agen Budaya, frekuensi interaksi yang terbatas, latar belakang karyawan yang beragam, dan kesenjangan informasi. Rekomendasi dari karyawan menekankan pada intensifikasi interaksi, penguatan komunikasi berjenjang di seluruh unit, peningkatan dialog dua arah dan partisipatif, serta integrasi penguatan budaya dengan sistem pelatihan dan penghargaan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti capaian dan tantangan dalam penguatan budaya organisasi di Kantor Cabang BRI Purwokerto, menggarisbawahi pentingnya strategi komunikasi yang sistematis, konsisten, dan adaptif dalam mempertahankan transformasi budaya. | This study examines employees’ responses to corporate culture reinforcement communication conducted by Culture Agents at the Purwokerto Branch of Bank Rakyat Indonesia (BRI). As part of BRI’s effort to internalize its core values, AKHLAK (Amanah, Competence, Harmony, Loyalty, Adaptability, and Collaboration), Culture Agents play a strategic role in facilitating communication and embedding cultural values across organizational levels. Employing a descriptive case study approach, data were collected through direct interviews and triangulation to provide a comprehensive understanding of employees’ perceptions and experiences regarding cultural communication. The findings reveal three dominant perspectives on corporate culture: as operational routines, as normative values guiding behaviors, and as strategic instruments supporting organizational vision. Employees demonstrated varying levels of comprehension of the AKHLAK values, ranging from comprehensive and contextual to general awareness. Role modeling emerged as the most effective communication method, supported by structured programs such as the Culture Activation Program (CAP) and multimodal channels combining formal and informal interactions. Positive outcomes included increased awareness, improved discipline, and gradual behavioral alignment with corporate values, indicating successful though incremental cultural internalization. However, the study also identified structural and psychosocial barriers, including workload constraints faced by Culture Agents, limited interaction frequency, diverse employee backgrounds, and information gaps. Recommendations from employees emphasized intensifying interactions, strengthening cascade communication across units, fostering two-way and participatory dialogue, and integrating cultural reinforcement with training and reward systems. Overall, this study highlights both achievements and challenges in organizational culture reinforcement at BRI Purwokerto Branch, underscoring the importance of systematic, consistent, and adaptive communication strategies in sustaining cultural transformation. |