Artikelilmiahs

Menampilkan 47.381-47.400 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4738150783K1B021079PENENTUAN ENERGI LAPLACE PADA GRAF TOTAL DIPERUMUM DARI RING BILANGAN BULAT MODULOEnergi graf adalah jumlah nilai mutlak dari semua nilai eigen matriks yang merepresentasikan graf tersebut. Energi graf yang dihitung berdasarkan matriks ketetanggaan, maka disebut energi ketetanggaan. Selain itu, energi graf juga dapat dihitung menggunakan matriks Laplace, yang hasilnya disebut energi Laplace. Energi Laplace didefinisikan sebagai jumlah nilai mutlak dari selisih antara setiap nilai eigen matriks Laplace dengan derajat rata-rata graf. Skripsi ini membahas energi Laplace pada graf total diperumum dari ring bilangan bulat modulo (GT_H (Z_2n)) untuk n≥2. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh LE(GT_H (Z_2n ))=4n-4Graph energy is defined as the sum of the absolute values of all eigenvalues of a matrix that represents the graph. When the graph energy is calculated using the adjacency matrix, it is referred to as adjacency energy. Alternatively, graph energy can also be computed using the Laplacian matrix, in which case it is called Laplacian energy. Laplacian energy is defined as the sum of the absolute values of the differences between each Laplacian eigenvalue and the average degree of the graph. This research discusses Laplacian energy of the generalized total graph of the ring of integers modulo (GT_H (Z_2n)), for n≥2. Based on the research findings, the following result are obtained LE(GT_H (Z_2n ))=4n-4
4738250781H1B021032Perancangan Embung Untuk Mendukung Ketersediaan Air Irigasi di Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang Kabupaten BanyumasPenelitian ini dilakukan untuk merencanakan pembangunan embung sebagai penyedia air irigasi di Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Daerah ini memiliki potensi pertanian yang luas, yaitu sekitar 84 hektar, namun sering mengalami kekurangan air pada musim kemarau. Pembangunan embung diharapkan dapat menjadi solusi penyimpanan air yang efektif dalam menunjang ketersediaan air bagi lahan pertanian, serta mengoptimalkan pemanfaatan air hujan dan aliran permukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kapasitas tampungan embung, neraca air tahunan, serta estimasi biaya pembangunan embung yang sesuai dengan kondisi daerah penelitian. Metode penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder, meliputi data curah hujan, data klimatologi, data debit andalan (Q₈₀), serta data kebutuhan air irigasi. Analisis curah hujan dilakukan untuk menentukan curah hujan rencana dan distribusinya, sedangkan debit andalan dihitung berdasarkan data debit sungai yang digunakan untuk suplai embung. Perhitungan kebutuhan air irigasi menggunakan metode neraca air dengan mempertimbangkan evapotranspirasi, curah hujan efektif, efisiensi irigasi, dan pola tanam petani di wilayah studi. Analisis neraca air dilakukan untuk mengetahui keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air sepanjang tahun serta menentukan volume tampungan optimal
embung. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan air irigasi rata-rata sebesar 7786,88 m³ per hari atau sekitar 2,452,866.85 m³ per tahun, dengan debit andalan tahunan sebesar 2,944,773.756 m³. Volume tampungan efektif embung yang direncanakan adalah 32,676.12 m³ dengan kedalaman air 6 meter dan tinggi jagaan 1 meter. Berdasarkan analisis neraca air, embung mampu menyediakan air dengan kondisi surplus tahunan sebesar +491,906.89m³. Estimasi biaya pembangunan embung mencapai Rp 14.972.184.891,57 yang mencakup pekerjaan tanah, spillway, lapisan geomembran, pipa inlet–outlet, serta pekerjaan akses dan pengawasan. Hasil ini menunjukkan bahwa perencanaan embung di Desa Banjarsari layak secara teknis dan ekonomis serta berpotensi meningkatkan ketersediaan air irigasi di wilayah tersebut. Kata kunci: Embung, irigasi, debit andalan, neraca air, curah hujan, kapasitas tampungan, efisiensi irigasi, Desa Banjarsari, Kabupaten Banyumas.
This study was conducted to design the construction of an embung (small reservoir) as an irrigation water supply facility in Banjarsari Village, Ajibarang SubDistrict, Banyumas Regency. The area has a wide agricultural potential of approximately 84 hectares but often experiences water shortages during the dry season. The construction of the embung is expected to serve as an effective water storage solution to support the availability of water for agricultural land, as well as to optimize the utilization of rainfall and surface runoff. The objective of this study is to determine the storage capacity of the embung, the annual water balance, and the estimated construction cost based on the conditions of the research area. The research method was carried out by collecting primary and secondary data, including rainfall data, climatological data, dependable discharge data (Q₈₀), and irrigation water demand data. Rainfall analysis was conducted to determine design rainfall and its distribution, while dependable discharge was calculated based on river discharge data used to supply the embung. Irrigation water demand was calculated using the water balance method by considering evapotranspiration, effective rainfall, irrigation efficiency, and the cropping pattern of farmers within the study area. Water balance analysis was conducted to identify the relationship between water availability and irrigation demand throughout the year and to determine the optimal storage volume required for the embung. The results of the analysis show that the average irrigation water demand is 7,786.88 m³ per day or approximately 2,452,866.85 m³ per year, with an annual dependable discharge of 2,944,773.756 m³. The planned effective storage volume of the embung is 32,676.12 m³ with a water depth of 6 meters and a freeboard of 1 meter. Based on the water balance analysis, the embung can supply water with an annual surplus of +491,906.89 m³. The estimated cost of construction reaches Rp 14,972,184,891.57, which includes earthworks, spillway construction, geomembrane lining, inlet–outlet pipes, as well as access and supervision works. These results indicate that the embung design in Banjarsari Village is technically and economically feasible and has the potential to improve irrigation water
availability in the area. Keywords: embung, irrigation, dependable discharge, water balance, rainfall, storage capacity, irrigation efficiency, Banjarsari Village, Banyumas
4738350782B1A020021DEGRADASI LIMBAH DEGREASING MENGGUNAKAN Aspergillus spp. TERIMOBILISASI ABU BOILER BAGASSE TEBU DENGAN VARIASI KONSENTRASILimbah degreasing merupakan hasil dari proses pembersihan minyak atau oli mesin menggunakan HCl dan mengandung senyawa berbahaya seperti polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) dan total petroleum hydrocarbon (TPH) yang bersifat karsinogenik. Salah satu metode pengolahan yang ramah lingkungan adalah bioremediasi menggunakan jamur. Penelitian ini memanfaatkan Aspergillus niger dan Aspergillus sp.3 untuk mendegradasi limbah degreasing. Aspergillus niger mampu menghasilkan enzim lignolitik, amilase, selulase, dan protease, sedangkan Aspergillus sp.3 memproduksi enzim lignolitik yang menguraikan lignin. Imobilisasi jamur dilakukan menggunakan abu boiler bagasse tebu (ABBT) yang mengandung lignoselulosa sehingga meningkatkan porositas dan mendukung pertumbuhan jamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dan efektivitas Aspergillus spp. terimobilisasi ABBT dalam mendegradasi limbah degreasing dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter utama yang diamati adalah persentase degradasi limbah, sedangkan parameter pendukung meliputi berat kering biomassa, pH, suhu, kadar DO, dan TDS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus spp. terimobilisasi ABBT mampu mendekolorisasi limbah degreasing. Perlakuan dengan konsentrasi limbah 100% memberikan hasil tertinggi, dengan persentase degradasi 88,46% oleh Aspergillus sp.3 terimobilisasi ABBT. Berat kering biomassa berkisar antara 3,37–10,04 g, pH 1,49–4,16, DO 2,12–9,20 mg/L, TDS 1203–4830 mg/L, dan suhu 28–30°C.Degreasing waste, generated from cleaning oil or grease from machinery using hydrochloric acid (HCl), contains recalcitrant compounds such as polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) and total petroleum hydrocarbons (TPH), which are carcinogenic and harmful to the environment. Bioremediation using fungi offers an environmentally friendly solution. This study utilized Aspergillus niger and Aspergillus sp.3 to degrade degreasing waste. Aspergillus niger produces ligninolytic, amylase, cellulase, and protease enzymes, while Aspergillus sp.3 produces ligninolytic enzymes that degrade lignin. Fungal degradation was enhanced using sugarcane bagasse boiler ash (ABBT) as an immobilization material, as it contains lignocellulose that increases substrate porosity and supports fungal growth. The research aimed to determine the effect and effectiveness of Aspergillus spp. immobilized on ABBT in degrading degreasing waste at various concentrations (25%, 50%, 75%, and 100%), using a Completely Randomized Design (CRD). The experiment began with fungal inoculum preparation, followed by immobilization on ABBT and subsequent degradation tests. The independent variables were fungal species and waste concentration, while the dependent variable was the degradation efficiency. Results showed that Aspergillus spp. immobilized on ABBT effectively decolorized and degraded degreasing waste. The highest degradation percentage (88.46%) was achieved by Aspergillus sp.3 immobilized on ABBT at 100% waste concentration. Supporting parameters included the dry weight of immobilized fungi (A. niger: 5.74–10.04 g; A. sp.3: 3.37–6.20 g), pH (1.49–4.16), dissolved oxygen (2.12–9.20 mg/L), total dissolved solids (1,203–4,830 mg/L), and temperature (28–30°C).
4738450785F1C021073ANALISIS MANAJEMEN PRODUKSI PROGRAM TALKSHOW KUPAS MISTIS DI TRANSVISION Keberhasilan Transvision sebagai salah satu penyedia televisi kabel terkemuka di Indonesia tidak lepas dari kiprah program unggulannya, Kupas Mistis, yang pada tahun 2024 berhasil meraih lebih dari enam juta penonton. Keberhasilan tersebut sangat berkaitan dengan penerapan manajemen produksi yang meliputi tahap perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan manajemen produksi dalam proses produksi program Kupas Mistis. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses produksi Kupas Mistis terdiri atas tiga tahap utama, yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi, yang diimplementasikan berdasarkan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Setiap tahap dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan dengan koordinasi antar unit produksi untuk menjamin kualitas konten dan teknis tayangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh aspek teknis. Faktor penting lainnya adalah kemampuan tim produksi dalam pengelolaan sumber daya, inovasi konsep, serta penyesuaian konten dengan kebutuhan dan karakteristik audiens. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menyatakan bahwa penerapan manajemen produksi yang terstruktur, kolaboratif, dan adaptif merupakan faktor kunci dalam menarik serta mempertahankan minat penonton Kupas Mistis di tengah persaingan yang semakin ketat dalam industri media.Keberhasilan Transvision sebagai salah satu penyedia televisi kabel terkemuka di Indonesia tidak lepas dari kiprah program unggulannya, Kupas Mistis, yang pada tahun 2024 berhasil meraih lebih dari enam juta penonton. Keberhasilan tersebut sangat berkaitan dengan penerapan manajemen produksi yang meliputi tahap perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan manajemen produksi dalam proses produksi program Kupas Mistis. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses produksi Kupas Mistis terdiri atas tiga tahap utama, yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi, yang diimplementasikan berdasarkan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Setiap tahap dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan dengan koordinasi antar unit produksi untuk menjamin kualitas konten dan teknis tayangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh aspek teknis. Faktor penting lainnya adalah kemampuan tim produksi dalam pengelolaan sumber daya, inovasi konsep, serta penyesuaian konten dengan kebutuhan dan karakteristik audiens. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menyatakan bahwa penerapan manajemen produksi yang terstruktur, kolaboratif, dan adaptif merupakan faktor kunci dalam menarik serta mempertahankan minat penonton Kupas Mistis di tengah persaingan yang semakin ketat dalam industri media.






Abstract
The success of Transvision as one of Indonesia’s leading cable television providers is inseparable from its flagship program, Kupas Mistis, which in 2024 attracted more than six million viewers. This achievement is closely linked to the implementation of production management encompassing planning, organizing, directing, and controlling. This study aims to describe and analyze the implementation of production management in the production process of Kupas Mistis. The approach employed is a descriptive qualitative method, involving data collection through interviews, observation, and documentation. The findings indicate that the production process of Kupas Mistis comprises three main stages: pre-production, production, and post-production, implemented according to the POAC principles (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Each stage is executed systematically and continuously, with coordination among production units to ensure content and technical quality of the broadcast. The research reveals that the program’s success is not determined solely by technical aspects. Equally important are the production team’s ability to manage resources, innovate concepts, and adapt content to the needs and characteristics of the audience. In conclusion, this study asserts that the application of production management that is structured, collaborative, and adaptive is a key factor in attracting and retaining the audience interest in Kupas Mistis amid increasingly intense competition in the media industry.
4738550786H1E021009OPTIMALISASI PROSES PEWARNAAN PADA PRODUKSI HAIR EXTENSION BLONDE 613 DENGAN METODE TAGUCHI
(Studi Kasus: UMKM Hair Extension Purbalingga)
UMKM Hair Extension di Purbalingga menghadapi masalah ketidakkonsistenan warna pada produksi hair extension Blonde 613. Proses pewarnaan masih dilakukan secara manual, sehingga hasil warna sering berbeda antar batch dan berdampak pada kualitas serta daya saing produk. Penelitian ini bertujuan memperbaiki proses pewarnaan dengan menentukan kombinasi parameter optimal menggunakan metode Taguchi agar hasil warna lebih seragam dan sesuai target kualitas. Desain eksperimen yang digunakan adalah orthogonal array Taguchi L4(2³) dengan tiga faktor utama, yaitu takaran bahan, suhu air, dan waktu perendaman. Analisis menggunakan Signal-to-Noise Ratio (S/N Ratio) dan ANOVA menunjukkan bahwa takaran bahan merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kualitas warna, diikuti oleh suhu air dan waktu perendaman. Kombinasi optimal menghasilkan rata-rata warna 5,05 yang mendekati target 5 (Nominal is the Best). Hasil penelitian membuktikan bahwa metode Taguchi efektif dalam meningkatkan konsistensi warna pada proses produksi hair extension Blonde 613 serta membantu UMKM meningkatkan efisiensi dan kualitas produknya.The Hair Extension SME in Purbalingga faces inconsistency in color quality during the production of Blonde 613 hair extensions. The dyeing process is still performed manually, causing color variations between batches that affect product quality and competitiveness in the market. This study aims to improve the dyeing process by determining the optimal combination of parameters using the Taguchi method to achieve consistent color results that meet quality standards. The experimental design applied the Taguchi orthogonal array L4(2³) with three main factors: chemical dosage, water temperature, and soaking time. Analysis using the Signal-to-Noise Ratio (S/N Ratio) and ANOVA revealed that chemical dosage had the most significant effect on color quality, followed by water temperature and soaking time. The optimal parameter setting produced an average color value of 5.05, which is very close to the target value of 5 (Nominal is the Best). The results demonstrate that the Taguchi method is effective in improving color consistency in the Blonde 613 hair extension production process and can help SMEs enhance process efficiency and product quality.
4738650787I1A019001Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kejadian Stunting pada Balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Cilongok 1 Kabupaten BanyumasStunting adalah masalah gizi kronis yang dihasilkan dari asupan nutrisi yang tidak memadai, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Di Puskesmas Cilongok I, prevalensi stunting tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat yang signifikan dan memerlukan perhatian serius karena dampak malnutrisi jangka menengah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif, case-control, yang dilakukan di Puskesmas Cilongok I. Sampel terdiri dari 108 responden, termasuk 54 kasus (anak stunting) dan 54 kontrol (anak tidak stunting), yang dipilih menggunakan cluster random sampling. Variabel yang dianalisis adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), penyakit infeksi, riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat pemberian makanan pendamping, praktik pengasuhan, pendapatan keluarga, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, dan stunting. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel serta dianalisis menggunakan metode univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor berhubungan signifikan dengan stunting, termasuk ASI eksklusif (OR = 23,983; 95% CI = 6,537–87,987), penyakit infeksi (OR = 7,418; 95% CI = 2,244–24,525), pemberian makanan pendamping (OR = 3,924; 95% CI = 1,123–13,706), dan pendapatan keluarga (OR = 0,168; 95% CI = 0,052–0,548).Stunting is a chronic nutritional problem resulting from inadequate nutrient
intake, particularly during the first 1,000 days of life. At Cilongok I Public Health
Center, the prevalence of stunting remains a significant public health concern
that requires serious attention due to the medium-term impacts of malnutrition.
This study employed a quantitative, case-control design conducted at Cilongok I
Public Health Center. The sample consisted of 108 respondents, including 54
cases (stunted children) and 54 controls (non-stunted children), selected using
cluster random sampling The variables analyzed were low birth weight (LBW)
history, infectious diseases, exclusive breastfeeding history, complementary
feeding history, parenting practices, family income, maternal education, maternal
knowledge, and stunting. Data were collected using validated and reliable
questionnaires and analyzed using univariate, bivariate (Chi-square test), and
multivariate (logistic regression) methods. The results indicated that several
factors were significantly associated with stunting, including exclusive
breastfeeding (OR = 23.983; 95% CI = 6.537–87.987), infectious diseases (OR =
7.418; 95% CI = 2.244–24.525), complementary feeding (OR = 3.924; 95% CI =
1.123–13.706), and family income (OR = 0.168; 95% CI = 0.052–0.548).
4738750788H1E021063From Value Innovation to Market Validation: Integrating Blue Ocean Strategy and Choice-Based Conjoint for Public Wi-Fi Business ModelsPURPOSE: Studi ini membahas tantangan krusial mengenai rendahnya keterjangkauan internet di negara berkembang dengan merancang dan memvalidasi secara empiris model bisnis berkelanjutan untuk layanan Wi-Fi publik, dengan tujuan mengidentifikasi inovasi nilai yang mampu menyelaraskan keberlanjutan finansial dan aksesibilitas pengguna sehingga dapat menjembatani kesenjangan digital dan mendorong transformasi digital yang inklusif di pasar negara berkembang. METHODOLOGY: Pendekatan hibrida dua tahap digunakan, mengintegrasikan desain konseptual dengan validasi pasar empiris. Pada tahap pertama, berbagai alat Blue Ocean Strategy (BOS)—termasuk Six Path Framework, Buyer Utility Map, Eliminate-Reduce-Raise-Create (ERRC) Grid, dan Strategy Canvas—diterapkan untuk mengidentifikasi peluang pasar baru dan merancang model Wi-Fi publik berbasis iklan dengan akses gratis; sedangkan pada tahap kedua, analisis Choice-Based Conjoint (CBC) yang melibatkan 47 responden pengguna Wi-Fi publik perkotaan dilakukan untuk mengkuantifikasi preferensi pasar dan memvalidasi atribut model yang diusulkan. FINDINGS: Hasil penelitian menunjukkan ketidaksesuaian signifikan antara asumsi strategis dan ekspektasi pasar, di mana “kecepatan jaringan” muncul sebagai atribut terpenting kedua (30,87%), sementara kecepatan 5 Mbps yang diusulkan dalam formulasi BOS ditolak dengan kuat (utilitas = –39,23). Simulasi pasar juga menunjukkan bahwa model berbasis iklan dengan kecepatan yang dioptimalkan menjadi 10 Mbps memperoleh preferensi dominan (71,84%), yang menegaskan kelayakan konfigurasi “ad-supported 10 Mbps” sebagai solusi yang hemat biaya dan berorientasi pada pengguna. IMPLICATIONS for theory and practice: Studi ini memperluas kerangka Blue Ocean Strategy dengan mengintegrasikan alat desain strategis kualitatif dengan validasi pasar kuantitatif melalui CBC, menunjukkan bagaimana pengujian empiris dapat menyempurnakan proposisi nilai strategis dan mengoreksi asumsi inovasi, serta menyediakan cetak biru tervalidasi bagi operator telekomunikasi dan pembuat kebijakan untuk merancang sistem Wi-Fi publik yang berkelanjutan dan ramah pengguna. ORIGINALITY AND VALUE: Studi ini melampaui diskusi konseptual dengan menawarkan kerangka integrasi BOS–CBC berbasis data yang tervalidasi untuk inovasi nilai di pasar negara berkembang, menggabungkan kreativitas strategis dan ketelitian empiris, serta memberikan jalur metodologis baru dalam pengembangan model bisnis digital yang berkelanjutan dan inklusif.PURPOSE: This study addresses the critical challenge of low internet affordability in developing countries by designing and empirically validating a sustainable business model for public Wi-Fi services. The research seeks to identify a value innovation that reconciles financial sustainability with user accessibility, thereby contributing to efforts that bridge the digital divide and promote inclusive digital transformation in emerging markets. METHODOLOGY: A two-stage hybrid framework is employed, integrating conceptual design with empirical market validation. In the first stage, multiple Blue Ocean Strategy (BOS) tools—including the Six Path Framework, Buyer Utility Map, Eliminate-Reduce-Raise-Create (ERRC) Grid, and Strategy Canvas—are systematically applied to identify new market opportunities and design an ad-supported, free-access public Wi-Fi model. In the second stage, a Choice-Based Conjoint (CBC) analysis involving 47 respondents from urban public Wi-Fi users is conducted to quantify market preferences and validate the proposed model’s attributes. FINDINGS: The results reveal a significant misalignment between strategic assumptions and market expectations. “Network speed” emerged as the second most important attribute (30.87% importance), while the 5 Mbps speed proposed in the BOS formulation was strongly rejected (utility = –39.23). Market simulations indicate that an ad-supported model with an optimized speed of 10 Mbps achieves dominant user preference (71.84%), confirming the feasibility of an “ad-supported 10 Mbps” configuration as both cost-effective and user-centered. IMPLICATIONS for theory and practice: The study extends the Blue Ocean Strategy framework by integrating qualitative strategic design tools with quantitative market validation through CBC. Theoretically, it demonstrates how empirical testing can refine strategic value propositions and correct innovation assumptions. Practically, it provides a validated blueprint for telecom operators and policymakers to design financially sustainable and user-friendly public Wi-Fi systems. ORIGINALITY AND VALUE: This study moves beyond conceptual discussions by offering a validated, data-driven BOS–CBC integration framework for value innovation in emerging markets. By combining strategic creativity with empirical rigor, it contributes a novel methodological pathway for developing sustainable and inclusive digital business models
4738850789K1B021023Penyelesaian Traveling Salesman Problem Menggunakan Metode Simple Hill Climbing Dalam Menentukan Rute Terpendek Distribusi Barang ElektronikPenelitian ini membahas tentang penyelesaian Traveling Salesman Problem (TSP) dalam menentukan rute terpendek distribusi barang elektronik menggunakan metode Simple Hill Climbing pada CV Enesia, Purwokerto, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa daftar pelanggan yang diperoleh langsung dari CV Enesia Purwokerto. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data jarak antarwilayah pelanggan menggunakan Google Maps, melakukan clustering data pelanggan menggunakan metode K-Means Clustering dan Multidimensional Scaling (MDS), transformasi data ke dalam bentuk graf lengkap berbobot, serta penyelesaian masalah TSP menggunakan algoritma Simple Hill Climbing yang diimplementasikan dengan bantuan software Scilab versi 2025.1.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Simple Hill Climbing mampu menghasilkan rute distribusi dengan jarak total yang efisien dan akurat. Setiap wilayah menghasilkan jarak optimal yang berbeda-beda sesuai dengan persebaran simpul pelanggan.This study discusses the solution of the Traveling Salesman Problem (TSP) in determining the shortest distribution route for electronic goods using the Simple Hill Climbing method at CV Enesia, Purwokerto, Central Java. The study was conducted using secondary data in the form of a customer list obtained directly from CV Enesia Purwokerto. The research stages included collecting data on distances between customer locations using Google Maps, clustering customer data using the K-Means Clustering method with Multidimensional Scaling (MDS), transforming the data into a complete weighted graph, and solving the TSP problem using the Simple Hill Climbing algorithm implemented with Scilab software version 2025.1.0. The results show that the Simple Hill Climbing method is capable of producing distribution routes with efficient and accurate total distances. Each region produces different optimal distances depending on the distribution of customer nodes.
4738950793F1F021069Peran Elemen Kebudayaan Amerika Serikat Terhadap Internasionalisasi Starbucks dan Transformasi Gaya Hidup Konsumsi Kopi di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran elemen kebudayaan Amerika Serikat, terhadap proses internasionalisasi Starbucks di Indonesia. Dengan menggunakan teori Global Culture Flows dari Arjun Appadurai (1996), penelitian ini mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya seperti individualisme, konsumerisme, dan estetika gaya hidup modern menjadi fondasi ideologis yang mendukung ekspansi Starbucks sebagai perusahaan multinasional di pasar Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data kualitatif Miles dan Huberman dan studi literatur dari berbagai sumber sekunder seperti laporan korporat, jurnal akademik, dan artikel media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen budaya Amerika berfungsi sebagai aset strategis yang memengaruhi strategi internasionalisasi Starbucks, baik dalam bentuk adaptasi produk, desain gerai, maupun strategi pemasaran. Starbucks berhasil mengintegrasikan nilai-nilai individualistik melalui personalisasi layanan, menyebarkan ideologi konsumerisme melalui citra merek premium, dan menanamkan estetika modern melalui konsep third place. Dampaknya, Starbucks tidak hanya sukses sebagai entitas bisnis global, tetapi juga menjadi agen penyebaran elemen budaya yang berperan dalam mentransformasi gaya hidup konsumsi kopi di Indonesia. Budaya minum kopi bergeser dari aktivitas komunal tradisional menuju gaya hidup modern yang berorientasi pada ekspresi diri dan status sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa proses internasionalisasi tidak sekadar bersifat ekonomi, tetapi juga merupakan proses kultural yang mengonstruksi ulang identitas dan praktik sosial di negara tujuan.This research aims to analyze the role of American cultural elements in the internationalization process of Starbucks in Indonesia. Using Arjun Appadurai’s Global Culture Flows theory (1996), this study examines how cultural values such as individualism, consumerism, and modern lifestyle aesthetics serve as ideological foundations that support Starbucks’ expansion as a multinational corporation in the Indonesian market. This research employs a descriptive qualitative method with Miles and Huberman’s qualitative data analysis technique and a literature study from various secondary sources, including corporate reports, academic journals, and media articles. The findings show that American cultural elements function as strategic assets influencing Starbucks’ internationalization strategy through product adaptation, store design, and marketing approaches. Starbucks has successfully integrated individualistic values through personalized services, spread the ideology of consumerism through its premium brand image, and embedded modern aesthetics through the third place concept. As a result, Starbucks has not only succeeded as a global business entity but also become an agent of cultural diffusion that contributes to transforming coffee consumption lifestyles in Indonesia. The coffee-drinking culture has shifted from a traditional communal activity to a modern lifestyle oriented toward self-expression and social status. This research emphasizes that internationalization is not merely an economic process but also a cultural process that reconstructs identity and social practices within the host country.
4739050353H1C021040ANALISIS PERBANDINGAN KUALITAS BATUBARA DI FRONT PENAMBANGAN DAN STOCKPILE PADA PT. SURVEYOR CARBON CONSULTING INDONESIA (SCCI) DAERAH KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMURPenelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan membandingkan kualitas batubara pada dua lokasi berbeda, yaitu di front penambangan (PIT) dan stockpile (ROM) pada wilayah kerja PT. Surveyor Carbon Consulting Indonesia (SCCI), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memastikan bahwa kualitas batubara yang ditambang tetap konsisten selama proses penanganan hingga penyimpanan, karena perubahan kualitas dapat berdampak langsung pada nilai ekonomi dan kelayakan jual batubara. Kajian teoritis mencakup konsep dasar tentang genesa batubara, klasifikasi dan peringkat batubara berdasarkan analisis proksimat (total moisture, ash content, inherent moisture, calorific value), serta penerapan metode statistik regresi linier sederhana untuk mengkaji hubungan antar parameter kualitas. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis laboratorium berdasarkan standar ASTM dengan pendekatan proksimat, serta regresi statistik untuk mengetahui korelasi parameter kualitas. Pengambilan sampel dilakukan di tiga seam berbeda pada lokasi PIT dan ROM, disertai tahapan preparasi dan analisis laboratorium yang ketat untuk mendapatkan data valid dan representatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nilai calorific value dan kenaikan nilai total moisture serta ash content pada sampel ROM dibandingkan dengan PIT. Perubahan ini terjadi karena faktor lingkungan, proses handling, dan waktu penyimpanan. Dari hasil analisis statistik, diperoleh hubungan negatif antara kadar ash dan moisture terhadap nilai kalor. Seam SHD 1, SHD 2, dan SHD 3 menunjukkan tren penurunan kualitas di ROM. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perubahan kualitas batubara antara lokasi penambangan dan stockpile, khususnya pada parameter calorific value, ash content, dan total moisture. Oleh karena itu, pengawasan kualitas dan pengelolaan stockpile yang baik menjadi kunci untuk menjaga mutu batubara.This study aims to analyze and compare the coal quality between the mining front (PIT) and the stockpile (ROM) at PT. Surveyor Carbon Consulting Indonesia (SCCI), located in Kutai Kartanegara, East Kalimantan Province. The research is driven by the necessity to ensure that coal maintains its quality throughout the handling and storage processes, as any degradation can significantly affect its commercial value and compliance with market requirements. The theoretical foundation encompasses coal formation, classification, and ranking based on proximate analysis—namely total moisture, inherent moisture, ash content, and calorific value—as well as the use of statistical methods, particularly simple linear regression, to explore correlations among these parameters. The methodology includes standard laboratory analysis in accordance with ASTM procedures. Coal samples were collected from three different seams (SHD 1, SHD 2, and SHD 3) at both PIT and ROM locations. Each sample underwent preparation and proximate testing to assess the changes in coal quality during the transition from mining to stockpiling. Results show a consistent decline in calorific value, accompanied by increases in moisture and ash content in ROM samples compared to those from PIT. These quality variations are primarily influenced by environmental exposure, handling conditions, and particle size distribution. Statistical analysis indicates a negative correlation between ash and moisture content with calorific value. Among the seams, SHD 1 demonstrated the lowest coal quality. In conclusion, the study confirms that coal quality undergoes measurable deterioration during handling and storage. Continuous monitoring and proper stockpile management are essential to maintaining coal quality within acceptable industry standards.
4739150794E1A020241PENANGGULANGAN KEJAHATAN KLITIH DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (STUDI KASUS DI KEPOLISIAN RESOR BANTUL)Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu mendapat perlindungan sesuai Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun, perkembangan zaman memicu munculnya kenakalan remaja, salah satunya aksi klitih di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis implementasi serta hambatan dalam penanggulangan kejahatan klitih di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kepolisian Resor Bantul. Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis sosiologis. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis. Lokasi penelitian di Kepolisian Resor Bantul, dengan informan penelitian yaitu anggota Kepolisian Resor Bantul. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumenter. Metode penentuan informan melalui purposive sampling. Metode pengolahan data yang digunakan adalah reduksi data, kategorisasi data dan verifikasi data. Metode penyajian data dalam teks naratif dan tabel. Metode analisis data yang digunakan adalah kualitatif dan metode content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Bantul untuk menanggulangi kejahatan klitih melalui upaya pre-emtif, preventif, represif dan kuratif. Terdapat beberapa faktor penghambat bagi Kepolisian Resor Bantul dalam menanggulangi kejahatan klitih, yang meliputi komponen struktur, substantif, dan kultural. Saran yang diberikan yaitu, meningkatkan kapasitas personel kepolisian serta kendaraan dinas Kepolisian Resor Bantul, serta memberikan program pendidikan karakter dan pemahaman hukum baik di sekolah, masyarakat serta keluarga.Children as the nation’s next generation need to receive protection in accordance with Law No. 35 of 2014 concerning Child Protection in order to grow and develop properly. However, the development of the times has led to the emergence of juvenile delinquency, one example being klitih acts in Yogyakarta. This study aims to identify and analyze the implementation and obstacles in addressing klitih crimes in the Special Region of Yogyakarta, particularly at the Bantul Resort Police. The research method used is a juridical-sociological approach, with a descriptive-analytical research specification. The research location is at the Bantul Resort Police, with research informants being members of the Bantul Resort Police. The data sources consist of primary and secondary data, collected through interviews, literature studies, and document studies. The informants were determined using the purposive sampling method. Data processing methods include data reduction, data categorization, and data verification. The data are presented in narrative text and tables, and analyzed using qualitative and content analysis methods. The results of the study show that the efforts made by the Bantul Resort Police to address klitih crimes are carried out through pre-emptive, preventive, repressive adan curative measures. There are several inhibiting factors for the Bantul Resort Police in combating klitih crimes, which include structural, substantive, and cultural components. The suggestions provided are to increase the capacity of police personnel and official vehicles at the Bantul Resort Police, as well as to implement character education and legal awareness programs in schools, communities, and families.
4739250795F2C023002Ekologi di Era Digital: Kampanye Lingkungan Melalui InstagramABSTRAK
Kabupaten Wonosobo merupakan wilayah pegunungan dengan potensi alam dan pariwisata yang tinggi, namun menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah, yang disebabkan oleh masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki kesadaran ekologis yang kuat dan keterbatasan fasilitas pengolahan menyebabkan sebagian besar sampah belum tertangani secara optimal. Di tengah kondisi tersebut, komunitas Dieng Bersih hadir sebagai inisiatif masyarakat yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan kampanye kebersihan khususnya di wilayah Dieng. Komunitas Dieng Bersih menjalankan berbagai program seperti edukasi lingkungan, clean-up rutin, dan bank sampah untuk mendorong partisipasi masyarakat serta menumbuhkan kesadaran ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya komunitas Dieng Bersih dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui kampanye lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi utama yang dikembangkan komunitas mencakup pendekatan edukatif, partisipatif, kolaboratif, digital dan kultural, yang saling terintegrasi dalam sistem kampanye lingkungan berkelanjutan. Komunitas Dieng Bersih dalam pelaksanaan kampanye lingkungan menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan. Untuk itu, penelitian ini berupaya merumuskan strategi Eco-Collaboration sebagai pendekatan integratif yang mengoptimalkan kolaborasi antar komunitas, pemangku kebijakan, lembaga pendidikan, dan masyarakat guna memperkuat efektivitas kampanye lingkungan serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan khususnya di wilayah Dieng.
ABSTRACT
Wonosobo Regency is a mountainous region with significant natural and tourism po-tential faces serious challenges in waste management. These challenges arise from the community’s limited ecological awareness and inadequate and the lack of ade-quate waste-processing fasilities has resulted in inefficient waste management. Amid these conditions, the Dieng Bersih Community emerged as a grassroots initiative fo-cusing on environmental management and cleanliness campaigns, particularly in the Dieng area. The community implements various programs such as environmental ed-ucation, regular clean-up activities, and waste bank initiatives to encourage public participation and foster ecological awareness.
This study aims to analyze the Dieng Bersih Community’s efforts to achieve sustaina-ble development through environmental campaigns. Using a qualitative case study approach, data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings reveal that the community’s main strategies encompass educational, participatory, collaborative, digital, and cultural approaches, which are integrated into a sustainable environmental campaign system. The Dieng Bersih Community fac-es several challenges and obstacles in implementing these campaigns. Therefore, this study formulates an Eco-Collaboration Strategy as an integrative approach to opti-mize collaboration among communities, policymakers, educational institutions, and the public to strengthen the effectiveness of environmental campaigns and realize sustainable development, particularly in the Dieng region.
Keywords: Dieng Bersih Community, Environmental Campaign, Sustainable Devel-opment, Eco-Collaboration Strategy.
4739350796E1A021210REKOMENDASI LITMAS TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA SECARA BERULANG OLEH ANAK DALAM PUTUSAN NO. 2/PID.SUS-ANAK/2024/PN PWTPenyalahgunaan narkotika oleh anak di Indonesia merupakan masalah sosial yang semakin serius. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses perumusan rekomendasi penelitian kemasyarakatan oleh Pembimbing Kemasyarakatan terhadap anak pelaku penyalahgunaan narkotika berulang, serta mengkaji respon Penuntut Umum dan Hakim terhadap rekomendasi tersebut. Metode yang digunakan adalah hukum sosio-legal dengan pendekatan sosiologi hukum, berbasis data primer dan sekunder melalui wawancara dengan Bapas, Jaksa, dan Hakim serta studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumusan rekomendasi Litmas terhadap anak pelaku penyalahgunaan narkotika berulang tidak hanya berpijak pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, tetapi juga pada peraturan teknis seperti Permenkumham Nomor 33 Tahun 2016 dan Standar Litmas Anak 2016. Namun, dalam Putusan No. 2/PID.SUS-ANAK/2024/PN PWT, rekomendasi Litmas hanya didasarkan pada UU SPPA. Penuntut Umum dan Hakim tidak sepenuhnya mengikuti rekomendasi tersebut karena dinilai belum mencerminkan kebutuhan korektif bagi anak yang telah dua kali melakukan penyalahgunaan narkotika dan sebelumnya menjalani rehabilitasi mandiri, sehingga dianggap perlu kombinasi pidana penjara dan rehabilitasi sosial. Penelitian merekomendasikan agar Bapas menggunakan seluruh ketentuan yang relevan dalam penyusunan Litmas dan diperlukan penegasan makna “mempertimbangkan” laporan Litmas dalam Pasal 60 ayat (4) UU SPPA demi kepentingan terbaik bagi anak dan sinergi antar penegak hukum.The abuse of narcotics among children in Indonesia has become an increasingly serious social problem. This study aims to analyze the process of formulating social inquiry recommendations by Community Advisors for children who repeatedly commit narcotics abuse, and to examine the responses of Public Prosecutors and Judges to those recommendations. The research employs a socio-legal method with a sociology of law approach, drawing on primary and secondary data obtained through interviews with officers from the Correctional Center (Bapas), Prosecutors, and Judges, as well as document studies. The findings indicate that the formulation of social inquiry (Litmas) recommendations for children who repeatedly abuse narcotics is not limited to the provisions of Law No. 11 of 2012 on the Juvenile Criminal Justice System, but also refers to technical regulations such as Minister of Law and Human Rights Regulation No. 33 of 2016 and the 2016 Child Litmas Standards. However, in Decision No. 2/PID.SUS-ANAK/2024/PN PWT, the Litmas recommendation was based solely on the Juvenile Criminal Justice Law. The Public Prosecutor and the Judge did not fully adhere to the recommendation because it was deemed insufficient to reflect the corrective needs of a child who had twice committed narcotics abuse and had previously undergone self-rehabilitation, thus necessitating a combination of imprisonment and social rehabilitation. This study recommends that the Correctional Center incorporate all relevant regulations when preparing Litmas recommendations. It also highlights the need for clearer interpretation of the term “to consider” the Litmas report as stipulated in Article 60(4) of the Juvenile Criminal Justice Law, to ensure alignment with the best interests of the child and reinforce synergy among law enforcement actors in the Juvenile Criminal Justice System.
4739450797F2C023028The Meaning of Myths in Javanese Culture in Indonesian Horror FilmsFilm horor sering kali menjadi medium untuk menyampaikan informasi dan menggambarkan kisah-kisah yang berakar pada tradisi lisan dan mitos lokal, khususnya yang bersumber dari mitologi Jawa. Pembuat film menciptakan karya dengan tujuan menghibur sekaligus menyampaikan makna yang tersembunyi di dalamnya. Penelitian ini mengeksplorasi pentingnya penggunaan mitos dalam film horor Indonesia, dengan mempertanyakan apakah hal tersebut mencerminkan upaya pelestarian warisan budaya, menghidupkan kembali tradisi lisan, serta memberikan identitas Indonesia yang khas dalam sinema global.

Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna mitos dalam penciptaan mitos, budaya Jawa, dan film. Film horor Indonesia menawarkan wawasan baru mengenai bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk hiburan visual. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya film sebagai wadah untuk memperkuat identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan makna mitos Jawa dalam film horor Indonesia dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data melibatkan kajian pustaka. Penelitian ini berusaha menggali data melalui buku, karya ilmiah, dan artikel jurnal yang relevan dengan topik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mitos Jawa dalam film horor Indonesia tidak hanya bertujuan menciptakan ketegangan atau rasa takut, tetapi juga untuk menyampaikan pesan budaya yang terkandung dalam mitologi tersebut. Mitos Jawa berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan dan memperkenalkan nilai, kepercayaan, dan tradisi masyarakat Jawa kepada penonton, khususnya generasi muda.
Horror films often serve as a medium to convey information and depict stories rooted in oral traditions and local myths, particularly drawing from Javanese mythology. Filmmakers create films with the aim of entertaining while conveying underlying meanings. This study explores the significance of using myths in Indonesian horror films, questioning whether it reflects the preservation of cultural heritage, revives oral traditions, and provides a distinct Indonesian identity in global cinema. The study contributes to a deeper understanding of the meaning of myths in the creation of myth, javanese culture, film. Indonesian horror films and offers new insights into how cultural heritage can be translated into visual entertainment. Additionally, the research highlights the importance of films as a platform for strengthening cultural identity. This study aims to describe the meaning of Javanese myths in Indonesian horror films using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques involve literature reviews. The research aims to explore data through books, scholarly works, and relevant journal articles on the topic. The findings indicate that the use of Javanese myths in Indonesian horror films is not only intended to create tension or fear but also to convey cultural messages embedded in those mythologies. Javanese myths serve as a means to preserve and introduce the values, beliefs, and traditions of the Javanese society to the audience, especially the younger generation.
4739550798A0A022018NILAI TAMBAH PRODUKSI TEPUNG MOCAF DI KOPERASI SIDA SUGIH NUSANTARA KECAMATAN PURWANEGARA KABUPATEN BANJARNEGARAKoperasi Sida Sugih Nusantara merupakan koperasi yang bergerak di simpanan tabungan serta produsen dari produk Super Mocaf. Super Mocaf merupakan produk utama dari koperasi ini dengan bahan baku berupa singkong. Singkong yang diambil merupakan hasil panen dari masyarakat lokal diberbagai daerah khususnya Banjarnegara. Produk Super Mocaf memiliki beberapa keunggulan yang membawa manfaat bagi kesehatan masyarakat khususnya yang menghindari olahan makanan dengan kandungan gluten. Koperasi Sida Sugih Nusantara memiliki visi dan misi membangun usaha yang dapat berdampak positif bagi produk dan masyarakat lokal. Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan di Koperasi Sida Sugih Nusantara yaitu: 1) mengetahui proses produksi tepung mocaf dan 2) mengetahui nilai tambah dari produksi tepung mocaf.
Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan di Koperasi Sida Sugih Nusantara yang beralamat di Dukuh Panggang RT 02 RW 05, Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan dilakukan selama 4 bulan (120 hari), dimulai dari 17 September sampai 3 Januari 2024. Metode pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan yang digunakan adalah partisipasi aktif atau partisipasi langsung, metode partisipasi aktif dilakukan dengan cara turun langsung ke lapangan yang melibatkan diri untuk aktif mengikuti kegiatan di Koperasi Sida Sugih Nusantara.
Kegiatan yang dilakukan selama Praktik Kerja Lapangan diantaranya mengikuti proses produksi tepung mocaf, membuat produk turunan dari tepung mocaf, mengemas tepung mocaf, dan memasarkan tepung mocaf. Proses produksi tepung mocaf dimulai dengan perendaman singkong, pencucian dan pemotongan singkong, fermentasi singkong, pengurangan kadar air singkong, penjemuran singkong, penggilingan atau penepungan, dan pengemasan tepung mocaf. Nilai tambah (value added) adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan, ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Nilai tambah yang dihasilkan dari produksi tepung mocaf yaitu Rp 1.450 per kg.
Sida Sugih Nusantara Cooperative is a cooperative engaged in savings and deposits as well as the production of Super Mocaf products. Super Mocaf is the cooperative's main product, made from cassava. The cassava used is sourced from local communities in various regions, particularly Banjarnegara. Super Mocaf products have several advantages that benefit the health of the community, especially those who avoid processed foods containing gluten. Sida Sugih Nusantara Cooperative has a vision and mission to build a business that can have a positive impact on local products and communities. The objectives of the Field Work Practice at Sida Sugih Nusantara Cooperative are: 1) to learn about the mocaf flour production process and 2) to learn about the added value of mocaf flour production.
The Field Work Practice was carried out at the Sida Sugih Nusantara Cooperative, located at Dukuh Panggang RT 02 RW 05, Gumiwang Village, Purwanegara District, Banjarnegara Regency. The Field Work Practice was conducted over a period of 4 months (120 days), starting from September 17 to January 3, 2024. The method used for the Field Work Practice was active participation or direct participation, which involved going directly to the field and actively participating in activities at the Sida Sugih Nusantara Cooperative.
The activities carried out during the Field Work Practice included observing the mocaf flour production process, making derivative products from mocaf flour, packaging mocaf flour, and marketing mocaf flour. The mocaf flour production process begins with soaking cassava, washing and cutting cassava, fermenting cassava, reducing the water content of cassava, drying cassava, grinding or milling, and packaging mocaf flour. Value added is the increase in the value of a commodity due to processing, transportation, or storage in a production process. The added value generated from mocaf flour production is IDR 1,450 per kg.
4739650654G1A020068HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN INDEKS MASA TUBUH TERHADAP
KADAR HBA1C PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI
KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN
BANYUMAS
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN INDEKS MASA TUBUH TERHADAP KADAR HBA1C PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN
BANYUMAS
ABSTRAK
Latar Belakang: Puskesmas di Indonesia berperan penting dalam mempromosikan kesehatan masyarakat, termasuk pengendalian gula darah pada pasien diabetes melitus melalui pola hidup sehat seperti aktivitas fisik rutin, diet seimbang, dan pengelolaan berat badan. Penting untuk mengkaji pengaruh aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap kontrol glikemik yang diukur melalui HbA1c. Tujuan: Mengetahui hubungan aktivitas fisik dan indeks massa tubuhterhadap kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Kecamatan Sumbang Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 75 penderita DM tipe II di Kecamatan Sumbang periode Januari 2024 yang dipilih menggunakan consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner IPAQ, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square 2x2 dan uji Fisher untuk perbedaan antarvariabel. Analisis data pada taraf 0,05.
Hasil: Sebanyak 74,7% pasien DMT2 memiliki kadar HbA1c ≥7%, responden dengan IMT overweight hingga obese, 25,0% memiliki HbA1c <7%, sementara 75,0% memiliki HbA1c ≥7% (p=1,000). Kelompok dengan aktivitas fisik rendah, 15,1% responden memiliki HbA1c <7%, sementara 84,9% memiliki HbA1c ≥7% (p=0,004).
Kesimpulan: Aktivitas fisik berhubungan dengan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Kecamatan Sumbang Banyumas.
Kata kunci: aktivitas fisik, diabetes melitus tipe 2, indeks massa tubuh, HbA1c
THE RELATIONSHIP BETWEEN PHYSICAL ACTIVITY AND BODY MASS INDEX ON HBA1C LEVELS IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS IN SUMBANG SUBDISTRICT, BANYUMAS REGENCY.
ABSTRACT
Background: Community health centers (Puskesmas) in Indonesia play an important role in promoting public health, including blood sugar control for diabetes mellitus patients through healthy lifestyles such as regular physical activity, balanced diets, and weight management. It is crucial to study the impact of physical activity and body mass index on glycemic control, as measured by HbA1c levels.
Objective: To determine the relationship between physical activity and body mass index (BMI) on HbA1c levels in type 2 diabetes mellitus patients in Sumbang Subdistrict, Banyumas.
Methods: This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 75 type 2 diabetes mellitus patients in Sumbang Subdistrict during January 2024, selected using consecutive sampling. Data were collected through the IPAQ questionnaire, physical examinations, and laboratory tests, and then analyzed using the 2x2 Chi-square test and Fisher's exact test to assess differences between variables. Data analysis was conducted at a significance level of 0.05.
Results: A total of 74.7% of type 2 diabetes mellitus (T2DM) patients had HbA1c levels ≥7%. Among respondents with overweight to obese BMI, 25.0% had HbA1c levels <7%, while 75.0% had HbA1c levels ≥7% (p=1.000). In the group with low physical activity, 15.1% of respondents had HbA1c levels <7%, while 84.9% had HbA1c levels ≥7% (p=0.004).
Conclusion: Physical activity is associated with HbA1c levels in type 2 diabetes mellitus patients in Sumbang Subdistrict, Banyumas.
Keywords: body mass index, HbA1c, physical activity, type 2 diabetes melitus
4739750729E1A021043Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Penganiayaan dan Pencabulan Di Panti Asuhan Darussalam An’nur Tangerang (Studi kasus di Polres Tangerang Kota)Perlindungan hukum merupakan setiap hak yang diberikan kepada subjek hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan. Korban sebagai individu atau kelompok yang dirugikan terkadang tidak mendapat hak nya secara penuh, hal ini di karenakan hukum pidana lebih banyak memberikan perlindungan hukum kepada pelaku viktimisasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana perlindungan yang diberikan oleh Polres Tangerang Kota kepada korban dan apa yang menjadi kendala Polres Tangerang Kota dalam pemberian perlindungan hukum kepada korban. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis dengan melakukan penelitian langsung di lokasi penelitian melakukan wawancara dengan Ipda Mahfud selaku Kasubnit Unit PPA Polres Tangerang Kota. Spesifikasi penelitian deskriptif analitis dengan data primer dan sekunder serta sumber bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum yang diberikan oleh Polres Tangerang Kota meliputi pendampingan dan pemulihan, layanan konseling, layangan psikolog, dan safe house. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan reformasi hukum yang adil, responsif gender, dan berbasis hak asasi manusia untuk menjamin keadilan dan pencegahan kekerasan seksual secara menyeluruh.Legal protection is every right granted to legal subjects based on statutory regulations. Victims, as individuals or groups who suffer harm, sometimes do not receive their rights fully, as criminal law more often provides legal protection to the perpetrators of victimization. This research aims to examine the protection provided by the Tangerang City Police Resort to victims and the obstacles faced by the Tangerang City Police Resort in providing legal protection to victims. This research uses a juridical sociological research method by conducting direct research at the research location and interviewing Ipda Mahfud as the Head of the PPA Unit Sub-Unit of the Tangerang City Police Resort. The research specification is descriptive analytical, using primary and secondary data as well as primary and secondary legal material sources. The results of this research show that the legal protection provided by the Tangerang City Police Resort includes accompaniment and recovery, counseling services, psychological services, and safe houses. This research is expected to provide fair, gender-responsive, and human rights-based legal reform to ensure justice and comprehensive prevention of sexual violence.
4739850872F1B021096Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas Dalam Upaya Penghapusan Kemiskinan EkstremKemiskinan ekstrem merupakan tantangan serius dalam pembangunan daerah. Kabupaten Banyumas berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem dari 6,83% (2020) menjadi 1,02% (2024), namun belum mencapai target nasional 0%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem berdasarkan teori Manajemen Strategi Fred R. David, yang meliputi formulasi, implementasi, dan evaluasi strategi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap informan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemerintah daerah telah sejalan dengan visi-misi pembangunan daerah dan kebijakan nasional melalui program pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, dan perbaikan layanan dasar. Namun, masih terdapat kendala dalam koordinasi lintas sektor dan sinkronisasi data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pemerintah daerah berjalan efektif namun perlu penguatan dalam aspek koordinasi, integrasi kebijakan, dan keberlanjutan program.

Extreme poverty is a serious challenge in regional development. Banyumas Regency has successfully reduced the extreme poverty rate from 6.83% (2020) to 1.02% (2024), yet it has not achieved the national target of 0%. This study aims to analyze the strategies of the Banyumas Regency Government in eradicating extreme poverty based on Fred R. David’s Strategic Management theory, which includes strategy formulation, implementation, and evaluation. The research employs a qualitative method with data collected through interviews, observations, and documentation involving informants from various related Regional Apparatus Organizations (OPD). The results show that the local government’s strategies align with the regional development vision and mission as well as national policies through programs aimed at reducing expenditure burdens, increasing income, and improving basic services. However, challenges remain in cross-sectoral coordination and data synchronization. This study concludes that the local government’s strategies have been effective but require strengthening in aspects of coordination, policy integration, and program sustainability.

4739951237C1G021006DETERMINANTS OF CONSUMPTION BEHAVIOUR
ON THE USAGE OF SHOPEE PAYLATER AMONG FEB STUDENT
AT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Penelitian ini membahas faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa
dalam menggunakan Shopee PayLater. Layanan ini banyak digunakan karena praktis
dan fleksibel, tetapi jika tidak dikontrol dapat menyebabkan perilaku konsumtif dan
masalah keuangan. Penelitian dilakukan pada 100 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Jenderal Soedirman dengan metode analisis regresi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa literasi keuangan, gaya hidup, pengendalian diri, dan uang saku
secara bersama-sama memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa. Gaya hidup menjadi
faktor paling berpengaruh, di mana mahasiswa yang mengikuti tren cenderung lebih
boros. Pengendalian diri berpengaruh negatif, artinya semakin rendah pengendalian diri,
semakin tinggi pengeluaran. Uang saku berpengaruh positif karena mahasiswa dengan
uang saku lebih besar cenderung lebih sering berbelanja. Sementara itu, literasi
keuangan tidak berpengaruh signifikan dalam menekan perilaku konsumtif.
Kesimpulannya, perilaku konsumsi mahasiswa lebih dipengaruhi oleh gaya hidup,
pengendalian diri, dan kondisi keuangan dibandingkan dengan pengetahuan keuangan
saja.
This study explores what influences students spending behavior when using Shopee
PayLater, a paylater service that is popular because it is easy and flexible. However, excessive use
can lead to overspending and financial problems, as shown by Indonesia’s rising non-performing
loan rate of 9.7% in 2023. The study surveyed 100 students from the Faculty of Economics and
Business at Universitas Jenderal Soedirman using quantitative regression analysis.The results show
that financial literacy, lifestyle, self-control, and allowance together affect students consumption
behavior, explaining 60% of the variation. Financial literacy does not significantly reduce impulsive
buying. Lifestyle is the strongest factor, with trend-following and pleasure-seeking students
spending more. Self-control has a negative effect, meaning weaker self-control leads to higher
spending. Allowance has a positive effect, as students with more pocket money tend to spend
more using Shopee PayLater. In conclusion, students spending behavior is influenced more by
lifestyle, social pressure, self-control, and income than by financial knowledge alone. The findings
suggest the need for better financial management awareness among students and stronger
financial education programs at universities.
4740050800E2A023002Enforcing Political Neutrality among Contract-Based Government Employees (PPPK) in Local Elections: A Case Study of Purbalingga RegencyPenegakan asas netralitas politik terhadap Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menghadirkan tantangan hukum dan kelembagaan yang kompleks dalam kerangka tata kelola pemerintahan daerah di Indonesia. Studi ini menganalisis dimensi hukum, konstitusional, dan budaya dari pelaksanaan netralitas politik PPPK dalam konteks pemilihan kepala daerah, dengan fokus pada kasus di Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu yuridis sosiologis, dengan menggabungkan pendekatan normatif, konseptual, dan empiris untuk mengevaluasi efektivitas peraturan yang berlaku, khususnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023, serta aplikasinya dalam praktik administrasi daerah. Data diperoleh melalui survei, wawancara, dan laporan lapangan untuk menilai kapasitas institusional lembaga seperti BKD, KASN, dan Panwaslu, serta peran masyarakat sipil dalam pengawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara norma hukum dan praktik administratif bersumber pada ambiguitas regulasi, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan rendahnya internalisasi netralitas sebagai etika profesi. Ketidakpastian hukum terkait status ganda PPPK sebagai aparatur negara sekaligus warga negara dengan hak konstitusional memperumit proses penegakan. Penegakan asas netralitas memerlukan penguatan sistem hukum yang terintegrasi, pendidikan hukum preventif, serta pembentukan budaya hukum yang partisipatif agar tercipta layanan publik yang adil, akuntabel, dan demokratis, khususnya pada masa pemilu.The enforcement of political neutrality among contract-based government employees (PPPK) presents complex legal and institutional challenges within Indonesia’s decentralized administrative system. This study critically examines the legal, constitutional, and cultural dimensions of PPPK neutrality during regional elections, with a particular focus on the case of Purbalingga Regency. Using a socio legal methodology, the research combines doctrinal, normative, and empirical approaches to assess the effectiveness of existing legal instruments, primarily Law Number 20 of 2023, and their practical application in local governance settings. The analysis draws on interviews, survey data, and field observations to evaluate the institutional capacity of civil service bodies such as BKD, KASN, and Panwaslu, as well as the role of civil society in oversight. The findings reveal significant enforcement gaps caused by regulatory ambiguity, overlapping institutional mandates, and limited internalization of neutrality as a professional ethic. Although neutrality is legally required, its implementation is constrained by legal uncertainty related to PPPK’s dual identity as both public officials and holders of constitutional rights. The study argues that enforcement must move beyond formal legal provisions to include cultural legitimacy, institutional coordination, and adaptation to digital era challenges. Drawing on the legal doctrine of proportionality and the concept of law as a living institution, the study recommends regulatory reform, structured ethical training, and participatory monitoring mechanisms to promote accountability and safeguard democratic integrity within the civil service.