Artikelilmiahs
Menampilkan 47.361-47.380 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47361 | 50762 | C1H022033 | The Effect of Non Performing Loan and Funding Structure on Net Stable Funding Ratio: The Mediating Role of Liquidity Coverage Ratio | Penelitian ini menganalisis pengaruh Non-Performing Loan dan struktur pendanaan terhadap Net Stable Funding Ratio dengan Liquidity Coverage Ratio sebagai variabel mediasi pada bank konvensional di Indonesia periode 2019–2024. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model regresi data panel Fixed Effect Model (FEM) dan uji Sobel. Sampel terdiri dari lima bank dengan total aset terbesar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan CIMB Niaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Non-Performing Loan berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap Net Stable Funding Ratio, Liquidity Coverage Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap Net Stable Funding Ratio, serta Non-Performing Loan berpengaruh negatif signifikan terhadap Liquidity Coverage Ratio. Selain itu, Liquidity Coverage Ratio terbukti memediasi secara penuh pengaruh Non-Performing Loan terhadap Net Stable Funding Ratio, sedangkan struktur pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Net Stable Funding Ratio. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan likuiditas jangka pendek melalui Liquidity Coverage Ratio berperan penting dalam menjaga stabilitas pendanaan jangka panjang perbankan. | This study analyzes the effect of Non-Performing Loans and funding structure on the Net Stable Funding Ratio with the Liquidity Coverage Ratio as a mediating variable in conventional banks in Indonesia for the period 2019-2024. The research method uses a quantitative approach with a Fixed Effect Model (FEM) panel data regression model and Sobel test. The sample consists of five banks with the largest total assets in Indonesia, namely Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, and CIMB Niaga. The results show that Non-Performing Loan has a negative but insignificant effect on Net Stable Funding Ratio, Liquidity Coverage Ratio has a positive and significant effect on Net Stable Funding Ratio, and Non-Performing Loan has a significant negative effect on Liquidty Coverage Ratio. In addition, Liquidity Coverage Ratio was found to fully mediate the effect of Non-Performing Loan on Net Stable Funding Ratio, while funding structure had no significant effect on Net Stable Funding Ratio. These findings confirm that short-term liquidity management through Liquidity Coverage Ratio plays an important role in maintaining the stability of long-term banking funding. | |
| 47362 | 50763 | F1D021071 | Partisipasi Masyarakat Dalam Revisi RTRW Cilacap: Studi Kasus Penetapan Kawasan Industri di Dusun Winong | Artikel ini menganalisis partisipasi masyarakat dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cilacap yang menetapkan Dusun Winong sebagai Kawasan Peruntukan Industri (KPI) untuk mendukung PLTU Karangkandri. Fenomena ini mencerminkan partisipasi semu (tokenistic participation), di mana warga hanya dilibatkan secara prosedural tanpa pengaruh nyata terhadap keputusan. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumen resmi dan laporan organisasi masyarakat sipil. Analisis dengan kerangka Ladder of Citizen Participation Arnstein (1969) menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat hanya berada pada tingkatan consultation dan placation. Minimnya partisipasi bermakna berdampak pada delegitimasi kebijakan, resistensi sosial, penurunan kepercayaan publik, serta masalah sosial-ekologis berupa hilangnya lahan, penurunan kualitas lingkungan, dan perpindahan paksa. Penelitian ini menegaskan bahwa partisipasi substantif merupakan indikator penting kualitas demokrasi lokal. Oleh karena itu, perencanaan tata ruang perlu dirancang dengan mekanisme partisipasi publik yang lebih inklusif, deliberatif, dan akuntabel. | This article analyzes community participation in the revision of the Cilacap Regency Spatial Plan (RTRW), which designates Winong Hamlet as an Industrial Zone (KPI) to support the Karangkandri coal-fired power plant. This phenomenon reflects tokenistic participation, in which residents are only involved procedurally without any real influence on decisions. Using a qualitative approach and case study method, data was collected through in-depth interviews, observations, and studies of official documents and civil society organization reports. Analysis using Arnstein's Ladder of Citizen Participation (1969) framework shows that community involvement is only at the consultation and placation levels. The lack of meaningful participation has resulted in policy delegitimization, social resistance, decreased public trust, and socio-ecological problems such as land loss, environmental degradation, and forced displacement. This study confirms that substantive participation is an important indicator of the quality of local democracy. Therefore, spatial planning needs to be designed with more inclusive, deliberative, and accountable public participation mechanisms. | |
| 47363 | 50765 | C3A021002 | EKSPLORASI MEDIASI PERILAKU KERJA TRANSFORMATIF (TRANSFORMATIVE WORK BEHAVIOR) PADA PENGARUH KAPABILITAS DINAMIS, KOMITMEN, ORGANISASIONAL, BERBAGI PENGETAHUAN TERHADAP KINERJA UKM | Penelitian ini mengkaji mengenai cara untuk meningkatkan kinerja UKM di lingkungan yang dinamis seperti saat recovery pasca pandemik melalui pendekatan human resource strategy berupa keunggulan kompetitif dan socio-emotional. Bertujuan untuk menguji pengaruh variabel Kapabilitas dinamis, Komitmen organisasional, dan Berbagi pengetahuan terhadap Kinerja UKM. dimediasi oleh Transformative work behavior/TWB (Perilaku kerja transformatif). Metode kuantitatif melibatkan 286 pelaku UKM Digital Kreatif di wilayah Bandung sebagai responden penelitian. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis Structural Equation modelling (SEM) AMOS. Ditemukan bahwa kapabilitas dinamis, komitmen organisasional, dan berbagi pengetahuan berpengaruh positif terhadap perilaku kerja transformatif dan perilaku kerja transformatif mampu memediasi hubungan antara kapabilitas dinamis, komitmen organisasional, dan berbagi pengetahuan. dengan kinerja UKM. Secara parsial, perilaku kerja transformatif, kapabilitas dinamis berpengaruh langsung secara positif terhadap kinerja UKM. Namun demikian, komitmen organisasional, berbagi pengetahuan tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja UKM. TWB merupakan bentuk aktualisasi dari self-regulated behavior sesuai perspektif agen aktif teori Bandura, dan menjadi prediktor utama kinerja UKM digital kreatif. | This research looks at how a human resource strategy approach might give SMEs competitive and socioemotional benefits to help them perform better in a dynamic context, such the post-pandemic recovery. Examines how knowledge sharing, organizational commitment, and dynamic capability variables affect the performance of SMEs. Mediated by TWB (transformative work behavior). 286 Creative Digital SMEs in the Bandung region participated in the study using the quantitative approach. Following that, AMOS Structural Equation modeling (SEM) analysis techniques were used to examine the acquired data. It was discovered that knowledge sharing, organizational commitment, and dynamic capability all enhance transformative work behavior, and that transformative work behavior can mediate the relationship between SME performance and these factors. SME performance is positively impacted, in part, by dynamic capability and transformative work behavior. However, SME performance is not directly impacted by organizatioanl commitment or knowledge sharing. TWB is a key predictor of creative digital SME performance and, from the active agent standpoint of Bandura's theory, is an actualized kind of self-regulated behavior. | |
| 47364 | 50766 | F1D022025 | Collaborative Governnance dalam Penyelesaian Konflik Pengelolaan Wisata Hutan Mangrove di Desa Ayah Kabupaten Kebumen | Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses munculnya konflik dalam pengelolaan wisata Hutan Mangrove Desa Ayah dan memahami collaborative governance sebagai mekanisme konsensus. Penelitian ini penting dilakukan karena konflik perebutan sumber daya dalam pengelolaan objek wisata dapat menghambat aktivitas pariwisata, sehingga kolaborasi diperlukan sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kebumen dengan menggunakan dua teori. Pertama, teori konflik dan konsensus menurut Maswardi Rauf; Kedua, teori collaborative governance menurut Ansell dan Gash. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik dalam pengelolaan wisata Hutan Mangrove di Desa Ayah terjadi karena distribusi sumber daya ekonomi yang tidak merata. Sumber daya tersebut merujuk pada pendapatan/income dari kegiatan wisata di Hutan Mangrove Desa Ayah. Ketidakmerataan disebabkan karena sumber daya tersebut hanya dinikmati oleh satu kelompok masyarakat yaitu KTH Pansela. Collaborative governance menjadi mekanisme konsensus dalam pengelolaan wisata Hutan Mangrove di Desa Ayah. Hal ini terlihat dengan ditetapkannya kawasan Hutan Mangrove di Desa Ayah menjadi bagian dari forum kolaborasi KEE LBM Provinsi Jawa Tengah. Dalam konteks pengelolaan objek wisata, forum tersebut mendorong terciptanya distribusi sumber daya ekonomi yang merata. Pemerataan tersebut bergantung pada kontribusi dan keterlibatan aktif dari pihak yang terlibat. Sehingga, pihak yang tidak berkontribusi dan terlibat secara aktif tidak dapat menikmati sumber daya ekonomi atau dalam hal ini keuntungan dari pengelolaan objek wisata. | Abstract: The purpose of this study is to describe the process of conflict emergence in the management of the Ayah Village Mangrove Forest tourism and to understand collaborative governance as a consensus mechanism. This research is important because conflicts over resources in the management of tourist attractions can hinder tourism activities, so collaboration is needed as a conflict resolution mechanism. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach. This research was conducted in Kebumen Regency using two theories. First, the theory of conflict and consensus according to Maswardi Rauf; Second, the theory of collaborative governance according to Ansell and Gash. The results of this study indicate that conflict in the management of the Ayah Village Mangrove Forest tourism occurs due to the unequal distribution of economic resources. These resources refer to income from tourism activities in the Ayah Village Mangrove Forest. This inequality is caused by these resources only being enjoyed by one community group, namely the Pansela KTH. Collaborative governance is a consensus mechanism in the management of the Ayah Village Mangrove Forest tourism. This is evident in the determination of the Ayah Village Mangrove Forest area as part of the KEE LBM collaboration forum of Central Java Province. In the context of tourism object management, the forum encourages the creation of an equitable distribution of economic resources. This equitable distribution depends on the contributions and active involvement of all parties involved. Therefore, those who do not contribute and actively participate cannot enjoy the economic resources, or in this case, the benefits of managing a tourist attraction. | |
| 47365 | 50764 | D1B023010 | Perbandingan Performa Produksi Ayam Petelur Strain Lohmann Brown pada Sistem Pemeliharaan dengan Ketinggian Lokasi Berbeda | Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa produksi ayam petelur strain Lohmann Brown pada dua lokasi budidaya dengan kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu Kandang X di dataran tinggi (±620 mdpl) dan Kandang Y di dataran rendah (±145 mdpl). Pengamatan dilakukan pada fase produksi umur 25–35 minggu dengan menilai indikator kinerja Hen Day Production (HDP), Feed Conversion Ratio (FCR), dan mortalitas untuk menggambarkan tingkat produktivitas, efisiensi pemanfaatan pakan, dan kondisi kesehatan flock. Data diperoleh melalui pencatatan produksi harian dan observasi langsung sistem pemeliharaan, kemudian dianalisis menggunakan uji t dua sampel independen (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kandang X memiliki HDP lebih tinggi (94,67 ± 1,88) dan FCR lebih efisien (2,06 ± 0,07) dibandingkan Kandang Y (90,67 ± 0,90 dan 2,37 ± 0,45), dengan perbedaan signifikan (p < 0,01). Sementara itu, tingkat mortalitas antara kedua peternakan relatif rendah dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik (p = 0,054), menunjukkan bahwa perbedaan performa produksi bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan, tetapi terutama oleh kondisi lingkungan termal. Dengan demikian, ketinggian lokasi dan suhu lingkungan berperan penting dalam menentukan efisiensi produksi ayam petelur. | This study aims to compare the production performance of Lohmann Brown laying hens at two farming locations with different environmental conditions, namely Kandang X in the highlands (±620 metres above sea level) and Kandang Y in the lowlands (±145 metres above sea level). Observations were made during the 25–35 week production phase by assessing the performance indicators of Hen Day Production (HDP), Feed Conversion Ratio (FCR), and mortality to describe the level of productivity, feed utilisation efficiency, and flock health. Data were obtained through daily production records and direct observation of the maintenance system, then analysed using an independent two-sample t-test (α = 0.05). The results showed that Kandang X had a higher HDP (94.67 ± 1.88) and a more efficient FCR (2.06 ± 0.07) than Kandang Y (90.67 ± 0.90 and 2.37 ± 0.45), with a significant difference (p < 0.01). Meanwhile, the mortality rate between the two farms was relatively low and did not show a statistically significant difference (p = 0.054), indicating that the difference in production performance was not caused by health problems, but mainly by thermal environmental conditions. Thus, location altitude and environmental temperature play an important role in determining the production efficiency of laying hens. | |
| 47366 | 50767 | C2C023080 | The Role of Environmental, Social and Governance (ESG) Practices and Corporate Social Responsibility (CSR) on Employee Behavior in Energy Companies | Penelitian ini mengeksplorasi peran kompleks praktik Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dalam membentuk perilaku karyawan di sektor energi. Melalui pendekatan tinjauan pustaka sistematis terhadap penelitian yang mencakup periode 2017-2025, studi ini mengidentifikasi dinamika multidimensi yang memengaruhi motivasi, keterlibatan, dan kinerja karyawan melalui inisiatif keberlanjutan. Temuan utama menunjukkan bahwa dimensi lingkungan berkorelasi positif dengan motivasi intrinsik karyawan, terutama pada generasi muda yang menunjukkan respons lebih tinggi terhadap inisiatif keberlanjutan. Aspek sosial ESG memainkan peran penting dalam membangun keterhubungan emosional antara karyawan dan organisasi, sementara praktik tata kelola yang transparan meningkatkan kepercayaan, mendorong perilaku inovatif, dan memperkuat perilaku kewarganegaraan organisasi. Penelitian ini menunjukkan variasi signifikan dalam implementasi dan dampak ESG di berbagai subsektor energi, yang menggarisbawahi perlunya pendekatan kontekstual yang terintegrasi. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi autentik antara praktik ESG dan CSR tidak hanya meningkatkan kinerja keuangan dan keunggulan kompetitif, tetapi juga secara fundamental mentransformasi ekosistem kerja melalui penciptaan lingkungan yang lebih bermakna, berkelanjutan, dan kompetitif. Implikasi strategisnya menunjukkan bahwa ESG semakin menjadi penentu utama dalam membentuk perilaku karyawan di sektor energi, yang menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan holistik yang menyelaraskan kepentingan bisnis, karyawan, dan lingkungan untuk menciptakan nilai bersama yang berkelanjutan. | This research explores the complex role of Environmental, Social and Governance (ESG) and Corporate Social Responsibility (CSR) practices in shaping employee behavior in the energy sector. Through a systematic literature review approach of research spanning 2017-2025, the study identifies the multidimensional dynamics through which sustainability initiatives influence employee motivation, engagement and performance. Key findings show that environmental dimensions are positively correlated with employees' intrinsic motivation, especially in the younger generation who show higher responsiveness to sustainability initiatives. Social aspects of ESG play a significant role in building emotional connectedness between employees and the organization, while transparent governance practices increase trust, encourage innovative behavior, and strengthen organizational citizenship behavior. The research shows significant variations in ESG implementation and impact across different energy subsectors, underscoring the need for an integrated contextual approach. The study concludes that the authentic integration of ESG and CSR practices not only improves financial performance and competitive advantage, but also fundamentally transforms the work ecosystem through the creation of a more meaningful, sustainable and competitive environment. The strategic implications suggest that ESG is increasingly becoming a key determinant in shaping employee behavior in the energy sector, emphasizing the importance of adopting a holistic approach that harmonizes business, employee, and environmental interests to create sustainable shared value. | |
| 47367 | 50768 | E1A021165 | IMPLEMENTASI HUKUM BIMBINGAN PERKAWINAN OLEH KANTOR URUSAN AGAMA DALAM PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (Studi di KUA Kecamatan Cipeundeuy) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi hukum serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap bimbingan perkawinan (Bimwin) oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cipeundeuy dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah yuridis empiris dengan metode pendekatan penelitian kualitatif dan metode pendekatan analisis yuridis sosiologis. Penelitian ini berlokasi di KUA Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat dengan informan yang terlibat sebanyak 5 (lima) orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi bimbingan perkawinan oleh KUA dalam peningkatan kesejahteraan keluarga telah terlaksana dengan optimal. Hal ini dibuktikan dengan 5 (lima) parameter: optimalnya implementasi pendaftaran peserta; belum optimalnya implementasi tata cara pelaksanaan; optimalnya implementasi surat keterangan; optimalnya implementasi remedial; optimalnya implementasi catatan bimbingan perkawinan. Terdapat faktor pendukung dan penghambat yang berpengaruh terhadap implementasi hukum bimbingan perkawinan oleh KUA dalam peningkatan kesejahteraan keluarga di KUA Kecamatan Cipeundeuy. Faktor Pendukung meliputi tersedianya aturan yang jelas; profesionalitias dan komitmen fasilitator; kesiapan administrasi dan manajemen KUA; ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai; antusiasme dan partisipasi aktif peserta selama kegiatan bimwin; penerapan metode penyampaian materi yang kontekstual dan komunikatif; pengelolaan data dan pencatatatan yang tertib dan terdokumentasi; materi bimwin yang relevean dengan kebutuhan rumah tangga modern; dukungan lingkungan sosial budaya yang mulai terbuka terhadap edukasi pra-nikah; kesadaran peserta terhadap pentingnya keluarga Sakinah sebagai tujuan hukum perkawinan; koordinasi yang baik antar pegawai kua dan lembaga terkait dalam pelaksanaan kegiatan. Faktor penghambat meliputi, keterbatasan jumlah fasilitator bersertifikat di KUA Kecamatan Cipeundeuy; dana yang disediakan dari Kementerian Agama tidak sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan bimwin selama 2 (dua) hari. | This study aims to analyze the implementation of law and the factors that influence marriage counseling (Bimwin) conducted by the Office of Religious Affairs (KUA) in Cipeundeuy Subdistrict in improving family welfare. The type of legal research used is empirical juridical with a qualitative research approach and a socio-legal analytical method. This research was conducted at the KUA of Cipeundeuy Subdistrict, West Bandung Regency, involving 5 (five) informants. The results show that the implementation of marriage counseling by the KUA in improving family welfare has been carried out optimally. This is evidenced by 5 (five) parameters: the optimal implementation of participant registration; the implementation of procedural conduct, which has not yet reached its optimal potential; the optimal implementation of certification; the optimal implementation of remedial sessions; and the optimal implementation of marriage counseling records. There are supporting and inhibiting factors that affect the legal implementation of marriage counseling by the KUA in improving family welfare at the KUA of Cipeundeuy Subdistrict. Supporting factors include the availability of clear regulations; professionalism and commitment of the facilitators; readiness of KUA administration and management; the availability of adequate facilities and infrastructure; enthusiasm and active participation of participants during the Bimwin activities; application of methods for delivering material that are contextual and communicative; orderly and well-documented data management and record-keeping; Bimwin material that is relevant to the needs of modern households; support from a socio-cultural environment that is becoming more open to pre-marital education; participants’ awareness of the importance of a Sakinah (harmonious) family as the aim of marriage law; and good coordination among KUA staff and related institutions in carrying out activities. Inhibiting factors include the limited number of certified facilitators at the KUA of Cipeundeuy Subdistrict, and the funds provided by the Ministry of Religious Affairs do not match the needs for conducting Bimwin over 2 (two) days. | |
| 47368 | 50769 | G4A023007 | Perbedaan Hemodinamik Pasien yang Dilakukan ERACS dan Non ERACS pada Tindakan Seksio Sesarea di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo | Latar belakang: Peningkatan persalinan seksio sesarea mengharuskan adanya peningkatan pelayanan perioperatif yaitu dengan metode ERACS. Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) merupakan managemen perioperatif untuk mempercepat pemulihan pasien. Metode ini mulai dikembangkan di beberapa rumah sakit tetapi studi terkait ERACS masih sedikit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hemodinamik pada pasien yang dilakukan ERACS dan Non ERACS pada tindakan seksio sesarea di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 2 kelompok yaitu pasien yang dilakukan ERACS dan Non ERACS dengan masing-masing sebanyak 43 pasien. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling dan menggunakan data rekam medis. Data dianalisis menggunakan independent t-test. Hasil: Terdapat perbedaan tekanan darah sistolik (p = 0,000), tekanan darah diastolik (p = 0,02) dan tekanan arteri rata-rata (p = 0,004) yang signifikan pada tahap intraoperatif pasien yang dilakukan ERACS dan Non ERACS pada tindakan seksio sesarea (p <0,05). Tidak terdapat perbedaan denyut nadi pada intraoperatif (p = 0,24) pada pasien yang dilakukan ERACS dan Non ERACS pada tindakan seksio sesarea. Kesimpulan: Metode Non ERACS memiliki risiko lebih tinggi kejadian hipotensi dan bradikardia dibandingkan dengan metode ERACS. | Background: An increase cesarean section requires an improvement in perioperative care, the ERACS method. Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) is perioperative management to accelerate patient recovery.This method has started to develop in several hospitals but studies related to ERACS are quite yet. Objective: This study aimed to determine the differences in hemodynamics in patients performed by ERACS and Non ERACS during cesarean section at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Methods: Observational study with a cross-sectional design. The sample consisted of 2 groups, namely patients who underwent ERACS and Non ERACS with 43 patients each. Samples were taken with consecutive sampling techniques and using medical record data. The data were analyzed using an independent t-test. Results: There was a significant difference in systolic blood pressure (p = 0.000), diastolic blood pressure (p = 0.02) and mean arterial pressure (p = 0.004) in the intraoperative phase of patients performed by ERACS and Non ERACS in cesarean section (p < 0.05). There was no difference in heart rate in intraoperative (p = 0.24) in patients performed by ERACS and Non ERACS for cesarean section. Conclusion: Non ERACS method has a higher risk of developing hypotension and bradycardia than the ERACS method. | |
| 47369 | 50670 | D1A021164 | PENGARUH BANGSA SAPI LOKAL YANG DIBERI PAKAN SAMA TERHADAP KECEPATAN MAKAN DAN RASIO KONSUMSI HIJAUAN DAN KONSENTRAT | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bangsa sapi lokal terhadap kecepatan makan konsentrat serta rasio konsumsi hijauan dan konsentrat pada pemberian pakan berupa jerami padi dan konsentrat. Kegiatan penelitian berlangsung selama tiga minggu di UD. Sapi Amanah, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Materi penelitian terdiri atas 16 ekor sapi lokal jantan yang berasal dari empat bangsa, yaitu sapi Bali Flores (BF), sapi Madura Flores (MF), sapi Peranakan Ongole (PO), dan sapi Madura (MM), masing-masing sebanyak empat ekor. Bobot hidup awal rata-rata dari setiap bangsa sapi berturut-turut adalah 388,25 ± 26,8 kg (BF), 343,75 ± 16,52 kg (MF), 340,25 ± 9,29 kg (PO), dan 280,5 ± 5 kg (MM). Pakan yang diberikan berupa konsentrat sebanyak 2,5% dari bobot hidup, sedangkan jerami padi disediakan secara ad libitum terkontrol. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat bangsa sapi sebagai perlakuan. Variabel yang diamati meliputi tingkah laku makan, khususnya kecepatan makan pagi dan sore hari serta rasio konsumsi hijauan dan konsentrat. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan bangsa sapi tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap kecepatan makan pada pagi dan sore hari, namun berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap konsumsi hijauan dan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap konsumsi konsentrat. Uji Lanjut menggunakan uji DMRT pada rasio konsumsi hijauan dan konsentrat menunjukkan bahwa sapi Bali memiliki konsumsi hijauan dan konsentrat tertinggi (3,80 ± 0,21 kg) dan (4,95 ± 0,65 kg) dibandingkan sapi PO, sapi Madura Flores, dan Sapi Madura. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kecepatan makan konsentrat antar bangsa sapi lokal, akan tetapi terdapat perbedaan konsumsi hijauan dan konsentrat antar bangsa sapi lokal di Indonesia. | This study aimed to determine the effect of different local cattle breeds on concentrate eating rate and the forage-to-concentrate intake ratio when fed rice straw and concentrate. The study was conducted for three weeks at UD. Sapi Amanah, Karanggintung Village, Sumbang Sub-district, Banyumas District. The research materials consisted of 16 local male cattle from four breeds, namely Bali Flores (BF), Madura Flores (MF), Peranakan Ongole (PO), and Madura (MM), with four animals from each breed. The initial average body weights of each breed were 388.25 ± 26.8 kg (BF), 343.75 ± 16.52 kg (MF), 340.25 ± 9.29 kg (PO), and 280.5 ± 5.0 kg (MM). The feed consisted of concentrate at 2.5% of body weight, while rice straw was provided ad libitum under controlled conditions. The experiment used a completely randomized design (CRD) with four cattle breeds as treatments. The observed variables included feeding behavior, particularly morning and afternoon concentrate eating rate and the forage-to-concentrate intake ratio. The results showed that cattle breed had no significant effect (P > 0.05) on eating rate in the morning and afternoon, but had a highly significant effect (P < 0.01) on forage intake and a significant effect (P < 0.05) on concentrate intake. Further analysis using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) on the forage-to-concentrate intake ratio indicated that Bali cattle had the highest forage (3.80 ± 0.21 kg) and concentrate intake (4.95 ± 0.65 kg) compared to PO cattle, Madura Flores cattle, and Madura cattle. In conclusion, there was no significant difference in concentrate eating rate among local cattle breeds; however, there were differences in forage and concentrate intake among Indonesia’s local cattle breeds. | |
| 47370 | 50772 | L1B020032 | PENGARUH PENAMBAHAN RECOMBINANT EPINEPHELUS LANCEOLATUS GROWTH HORMONE PADA PAKAN DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN GABUS (Channa striata) | Ikan gabus (Channa striata) merupakan komoditas budidaya air tawar yang prospektif, tetapi menghadapi kendala pertumbuhan yang cenderung lambat. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah melalui aplikasi recombinant epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH) pada pakan untuk memacu laju pertumbuhan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dosis rElGH (0, 1, 3, dan 5 mg/kg pakan) dengan tiga kali ulangan selama 35 hari pemeliharaan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, setiap pagi dan sore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rElGH berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan rasio konversi pakan (FCR). Namun, pemberian rElGH tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan dengan nilai berkisar antara 80 – 93 %. Perlakuan dosis 5 mg/kg pakan memberikan hasil terbaik dengan nilai SGR tertinggi sebesar 2,33%, pertambahan berat mutlak 3,5 g, dan nilai FCR terendah sebesar 1,33. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penambahan hormon rElGH pada pakan dengan dosis 5 mg/kg merupakan perlakuan optimal untuk memacu pertumbuhan benih ikan gabus (Channa striata). | Snakehead fish (Channa striata) is a prospective freshwater aquaculture commodity, yet it faces the constraint of a relatively slow growth rate. One effort to overcome this problem is through the application of recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH) in feed to accelerate growth. This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD), consisting of four rElGH dosage treatments (0, 1, 3, and 5 mg/kg of feed), each with three replications over a 35-day rearing period. Feeding is carried out twice a day, every morning and evening. The results showed that the administration of rElGH had a significant effect (P<0.05) on absolute weight gain, specific growth rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR). However, the provision of rElGH has no real effect on survival rate with values ranging from 80-93 %. The 5 mg/kg feed dosage treatment yielded the best results, with the highest SGR of 2.33%, an absolute weight gain of 3.5 g, and the lowest FCR of 1.33. Therefore, it can be concluded that the addition of rElGH to the feed at a dosage of 5 mg/kg is the optimal treatment to promote the growth of snakehead fish (Channa striata) juveniles. | |
| 47371 | 50774 | K1C019063 | RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR KECEPATAN DAN ARAH ANGIN MENGGUNAKAN DINAMO DC DAN RANGKAIAN PEMBAGI TEGANGAN | Angin merupakan pergerakan udara secara horizontal yang sejajar dengan permukaan bumi . Angin mempunyai nilai kecepatan dan arah yang menyebabkan adanya perbedaan tekanan udara. Kecepatan dan arah angin sangat berpengaruh terhadap aktivitas manusia seperti penerbangan pesawat dan para nelayan pencari ikan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk membuat sebuah perangkat yang dapat mengukur kecepatan dan arah angin. Alat ini memanfaatkan dinamo DC sebagai sensor untuk mengukur kecepatan, dan juga menggunakan rangkaian pembagi tegangan sebagai sensor untuk mengukur arah angin. Metode yang digunakan mencangkup perancangan perangkat keras yang terdiri dari baling-baling berupa mangkuk bola yang dikoneksikan dengan dinamo DC untuk mengukur kecepatan angin, serta suatu rangkaian pembagi tegangan yang menggunakan delapan buah resistor sebesar 1 kilo ohm yang disusun secara seri sebagai penunjuk arah angin. Perancangan perangkat lunak pada penelitian ini menggunakan Arduino IDE yang berfungsi untuk membaca, mengolah dan menampilkan hasil pengukuran pada LCD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat pengukur kecepatan angin memperoleh nilai rata-rata sebesar 5% dan akurasi 95%, dengan standar deviasi 0,05 dan presisi 2%. Ini menunjukkan bahwa alat tersebut cukup tepat dan konsisten dalam mengukur kecepatan angin. Diameter mangkuk baling-baling sebesar 5 cm menunjukkan tingkat sensitivitas tertinggi dalam pengukuran kecepatan angin. Alat penunjuk arah angin juga dapat menentukan delapan arah angin dengan mengidentifikasi tegangan pada masing-masing resistor. | Wind is the horizontal movement of air parallel to the earth's surface. Wind has both speed and direction, which result in differences in air pressure. Wind speed and direction significantly affect human activities such as aircraft flight and fishermen's operations. This study aims to develop a device capable of measuring wind speed and direction. The device utilizes a DC dynamo as a sensor to measure wind speed and employs a voltage divider circuit as a sensor to measure wind direction. The method includes hardware design consisting of a propeller made from bowl-shaped cups connected to the DC dynamo to measure wind speed, and a voltage divider circuit using eight 1-kilo ohm resistors connected in series to indicate wind direction. The software design uses Arduino IDE to read, process, and display the measurement results on an LCD. The results show that the wind speed measurement device has an average error value of 5% with an accuracy of 95%, a standard deviation of 0.05, and a precision of 2%. This indicates that the device is sufficiently accurate and consistent in measuring wind speed. The propeller cup diameter of 5 cm shows the highest sensitivity in measuring wind speed. The wind direction indicator can also determine eight cardinal directions by identifying the voltage on each resistor. | |
| 47372 | 50773 | H1C021049 | Karakterisasi dan Estimasi Sumberdaya Timah Aluvial pada Daerah Kemingking, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung | Pulau Bangka merupakan produsen terbesar timah aluvial di Indonesia, namun eksplorasi masih didominasi metode konvensional sehingga pemahaman mengenai distribusi dan geometri endapan kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan distribusi kasiterit dan asosiasi mineralnya, membangun model endapan, serta menghitung estimasi sumberdaya guna mendukung strategi penambangan yang lebih selektif dan efisien. Data berasal dari 56 lubang bor, dengan empat lubang bor terpilih mewakili kondisi hulu–hilir untuk analisis butir. Analisis petrografi mengidentifikasi mineral berat dominan—kasiterit, zirkon, ilmenit, dan monasit—yang umumnya berbutir subangular hingga subrounded, menandakan transportasi jauh dari sumber. Grain Counting Analysis menunjukkan dominasi fraksi sangat halus, dengan 56,9% berada pada ukuran 88 µm, sedangkan nilai ZTR rata-rata 52,16% mengindikasikan kematangan sedimen yang tinggi. K-Means Clustering mengelompokkan endapan menjadi tiga zona utama: zona tonase tinggi, zona mineral ikutan, dan zona energi rendah, dengan pola mengikuti aliran sungai. Pemodelan geologi dan estimasi sumberdaya menggunakan Inverse Distance Weighting menunjukkan endapan membentuk tubuh aluvial menyerupai aliran dasar sungai, terutama di wilayah hilir yang menjadi fokus akumulasi kasiterit. Estimasi sumberdaya menghasilkan tonase kasiterit sebesar 790,47 ton (terukur), 464,28 ton (tertunjuk), dan 107,15 ton (tereka). | Bangka Island is one of Indonesia’s largest producers of alluvial tin, yet exploration activities remain largely conventional, resulting in limited understanding of mineral distribution and deposit geometry. This study aims to determine the distribution of cassiterite and its associated minerals, develop a geological model of the deposit, and estimate mineral resources to support a more selective and efficient mining strategy. The dataset consists of 56 drillholes, with four representative holes selected to characterize upstream–downstream variations in grain size. Petrographic analysis identifies cassiterite, zircon, ilmenite, and monazite as dominant heavy minerals, typically subangular to subrounded, indicating long transport distances from the source. Grain Counting Analysis shows that 56.9% of grains fall within the very fine size fraction (88 µm), while the average ZTR value of 52.16% suggests a high degree of sediment maturity. K-Means Clustering groups the deposit into three principal zones: high-tonnage zones, accessory-mineral–rich zones, and low-energy zones, following the modern drainage pattern. Geological modeling and resource estimation using Inverse Distance Weighting reveal that the deposit forms an alluvial body resembling a paleo-channel morphology, with cassiterite concentrations increasing toward the downstream area. The resource estimation yields 790.47 tons of measured cassiterite, 464.28 tons indicated, and 107.15 tons inferred. | |
| 47373 | 50775 | A1A021035 | ANALISIS KOMPARATIF EFISIENSI PRODUKSI MINAPADI PROTANI SALIBU DAN PADI KONVENSIONAL (STUDI KASUS DI DESA PANEMBANGAN KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS) | Smart Fisheries Village (SFV) merupakan program Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bertujuan membangun desa berbasis perikanan secara terpadu dengan mengoptimalkan potensi lokal, teknologi, dan inovasi. Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas menjadi salah satu lokasi percontohan SFV dengan penerapan sistem integrasi budidaya padi dan ikan dalam satu lahan sawah. Penerapan sistem minapadi menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya produksi seperti pakan ikan, tenaga kerja, dan pengelolaan lahan. Hal ini memunculkan inovasi yang dapat diterapkan dalam sistem minapadi berupa teknologi budidaya padi salibu. Analisis efisiensi produksi penting dilakukan untuk menilai sejauh mana input dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menghasilkan output. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komparasi tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis antara usahatani minapadi protani salibu dan padi konvensional di kawasan Technopark Smart Fisheries Village (SFV) Minapadi Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh melalui metode wawancara dan observasi menggunakan kuesioner dengan penentuan informan menggunakan teknik snowball sampling dan data sekunder diperoleh melalui studi literatur. Variabel produksi minapadi protani salibu meliputi produksi padi, produksi ikan, luas lahan, benih padi, pupuk Urea, pupuk NPK, pestisida, tenaga kerja, benih ikan, dan pakan ikan. Sedangkan, variabel produksi padi konvensional meliputi produksi padi, luas lahan, benih padi, pupuk Urea, pupuk NPK, pestisida, dan tenaga kerja. Analisis data menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan tabulasi data. Hasil penelitian menunjukan rata-rata tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis usahatani minapadi protani salibu keseluruhan sebesar 1,000. Hal ini menunjukan minapadi protani salibu telah mampu memanfaatkan seluruh input produksi dan biaya secara optimal. Efisiensi produksi petani padi konvensional menunjukan rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,938, efisiensi alokatif sebesar 0,874, dan efisiensi ekonomis sebesar 0,822. Hal ini menunjukan bahwa terdapat penggunaan input dan biaya yang belum optimal serta masih dimungkinkan untuk dilakukan peningkatan efisiensi untuk mencapai kondisi optimal. Perbedaan tingkat efisiensi produksi menunjukan bahwa usahatani minapadi protani salibu lebih efisien secara teknis, alokatif, dan ekonomis dibandingkan usahatani padi konvensional. | Smart Fisheries Village (SFV) is a program of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries that aims to develop integrated fisheries-based villages by optimizing local potential, technology, and innovation. Panembangan Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency, is one of the SFV pilot locations, implementing an integrated rice and fish farming system on a single rice field. The implementation of the minapadi system faces challenges such as rising production costs, including fish feed, labor, and land management. This has led to innovations that can be applied in the minapadi system, such as the technology of salibu rice cultivation. Production efficiency analysis is important to assess how effectively inputs can be utilized to produce outputs. This study aims to determine the comparison of technical, allocative, and economic efficiency levels between minapadi protani salibu farming and conventional rice farming in the Technopark Smart Fisheries Village (SFV) Minapadi area of Panembangan Village, Cilongok Sub-district, Banyumas Regency. The research method used descriptive analysis with a case study approach. Primary data was obtained through interviews and observations using questionnaires, with informants determined using snowball sampling techniques, while secondary data was obtained through literature studies. The variables for minapadi protani salibu production include rice production, fish production, land area, rice seeds, urea fertilizer, NPK fertilizer, pesticides, labor, fish seeds, and fish feed. Meanwhile, the variables for conventional rice production include rice production, land area, rice seeds, urea fertilizer, NPK fertilizer, pesticides, and labor. Data analysis was conducted using the Data Envelopment Analysis (DEA) method and data tabulation. The research results showed an average technical, allocative, and economic efficiency level of 1.000 for the overall production of integrated rice-fish farming. This indicates that integrated rice-fish farming has been able to utilize all production inputs and costs optimally. The production efficiency of conventional rice farmers shows an average technical, allocative, and economic efficiency of 0.938, 0.874, and 0.822, respectively. This indicates that there is still room for improvement in the use of inputs and costs to achieve optimal conditions. The differences in production efficiency levels indicate that the minapadi protani salibu farming system is more efficient in terms of technical, allocative, and economic efficiency compared to conventional rice farming. | |
| 47374 | 50777 | H1C021045 | GEOLOGI DAN POTENSI SUMBER DAYA PASIR DAN BATU, DAERAH CIKALAHANG, KECAMATAN DUKUPUNTANG, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT | Pasir dan batu merupakan sumber daya mineral penting yang berperan sebagai bahan baku utama dalam pembangunan infrastruktur. Seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan di Indonesia, permintaan terhadap pasir dan batu juga mengalami peningkatan. Kegiatan penambangan menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu lokasi penambangan pasir dan batu berada di wilayah Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Analisis Potensi Sumber daya pasir dan batu dilakukan guna mengetahui potensi sumber daya pada wilayah daerah penelitian mulai dari segi estimasi, kondisi sumber daya, hingga potensi ekonomi sumber daya. Pada perhitungan estimasi sumber daya pasir dan batu, perhitungan dilakukan menggunakan metode cross section dan metode contour dengan bantuan software minescape 5.7 dan arcgis 10.8. Daerah penelitian secara geologi terdiri atas aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, dan sejarah geologi. Geomorfologi wilayah ini mencakup lima (5) satuan bentuk lahan, yaitu Satuan Perbukitan Intrusi Cikalahang, Satuan Punggungan Aliran Lahar Ciremai, Satuan Kipas Aliran Lava Ciremai, Satuan Kerucut Gunungapi Ciremai, dan Satuan Dataran Aliran Piroklastik Ciremai. Stratigrafi disusun oleh Satuan Breksi Laharik dan Satuan Lava Andesit yang berumur Pleistosen. Struktur geologi mayor tidak ditemukan, namun terdapat pola kelurusan bukit dan lembah berarah barat daya–timur laut. Sejarah geologi dimulai dari aktivitas intrusi magma pada Miosen Akhir, diikuti pengendapan Formasi Kaliwangu, dan diakhiri oleh pembentukan produk vulkanik Gunungapi Ciremai pada kala Kuarter. Material pasir dan batu di lokasi penelitian merupakan hasil erupsi Gunungapi Ciremai. Pasir berasal dari matriks breksi laharik berupa vitric tuff, dengan ukuran butir sedang hingga kasar, sedangkan batu berupa fragmen andesit dari breksi laharik. Berdasarkan perhitungan potensi sumber daya menggunakan metode penampang melintang (cross section), total volume pasir dan batu setelah dikurangi lapisan penutup (overburden) adalah 1.304.751,60 m^3, dengan rasio pasir 73% dan batu 27%. Metode kontur menghasilkan estimasi volume sebesar 1.320.405,71 m³. Selisih kedua metode sebesar 15.654,11 m^3 dengan tingkat kesalahan relatif 1,18%. Hasil ini diharapkan menjadi dasar perencanaan pengelolaan sumber daya pasir dan batu secara berkelanjutan di wilayah Cikalahang, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. | Sand and gravel are important mineral resources that serve as primary raw materials for infrastructure development. As infrastructure demand in Indonesia continues to increase, the need for sand and gravel has also grown. Mining activities are one of the efforts undertaken to meet this demand. One of the sand and gravel mining locations is in Cikalahang, Dukupuntang District, Cirebon Regency, West Java. An analysis of the sand and gravel resource potential was conducted to determine the estimated quantity, resource conditions, and economic potential of the materials in the study area. Resource estimation was carried out using the cross section and contour methods with the aid of Minescape 5.7 and ArcGIS 10.8 software. Geologically, the study area includes aspects of geomorphology, stratigraphy, geological structure, and geological history. The geomorphological units identified in the area consist of Intrusive Hills Unit Cikalahang, Lahar Flow Ridge Unit Ciremai, Lava Flow Fan Unit Ciremai, Volcanic Cone Unit Ciremai, and Pyroclastic Flow Plain Unit Ciremai. Stratigraphy is composed of Laharik Breccia Unit and Andesite Lava Unit, both dated to the Pleistocene epoch. No major geological structures were found, but the area exhibits a predominant southwest–northeast lineation pattern of hills and valleys. The geological history began with magma intrusion during the Late Miocene, followed by the deposition of the Kaliwangu Formation, and culminated in the formation of volcanic products from Mount Ciremai during the Quaternary period. The sand and gravel materials in the study area are products of Mount Ciremai’s volcanic activity. The sand originates from the matrix of laharic breccia in the form of vitric tuff, with medium to coarse grain sizes, while the gravel consists of andesitic fragments derived from breccia deposits. Based on resource estimation using the cross section method, the total volume of sand and gravel after deducting the overburden is 1.304.751,60 m^3 with a composition ratio of 73% sand and 27% gravel. The contour method yields an estimated volume of 1.320.405,71 m³. The difference between the two methods is 15.654,11 m^3 with a relative error rate of 1.18%. These findings are expected to serve as a basis for sustainable planning and management of sand and gravel resources in the Cikalahang area, Dukupuntang District, Cirebon Regency. | |
| 47375 | 50776 | E1A021192 | Tanggung Jawab Hukum Ortotis Prostetis Sebagai Tenaga Kesehatan Dalam Pelayanan Ortotik Prostetik | Penelitian ini bertujuan untuk menemukan sinkronisasi pengaturan dan mengetahui bentuk tanggung jawab hukum ortotis prostetis sebagai tenaga kesehatan dalam pelayanan ortotik prostetik sebagaimana diatur dalam peraturan perundang- undangan. Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, metode pendekatan analitis, metode pendekatan konseptual. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Pengolahan data dilakukan dengan reduksi, klasifikasi, dan display, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan model analisis isi dan analisis perbandingan. Data disajikan dalam teks naratif yang disusun secara sistematis, logis, dan rasional. Hasil penelitian menunjukkan pengaturan mengenai tanggung jawab hukum ortotis prostetis sebagai tenaga kesehatan dalam pelayanan ortotik prostetik telah menunjukkan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Artinya peraturan yang lebih rendah telah didasarkan pada peraturan yang lebih tinggi dan peraturan tersebut tidak saling bertentangan dalam kedudukan yang sederajat. Kemudian bentuk tanggung jawab hukum ortotis prostetis sebagai tenaga kesehatan dalam pelayanan ortotik prostetik pada struktur peraturan perundang-undangan Indonesia terbagi menjadi tanggung jawab hukum secara pidana sebagaimana tercantum dalam Pasal 308 ayat (1) dan Pasal 440 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang tentang Kesehatan, tanggung jawab hukum secara perdata sebagaimana tercantum dalam Pasal 308 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan tanggung jawab hukum secara administrasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 22 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Ortotis Prostetis, Pasal 500, Pasal 736, dan Pasal 752 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dan Pasal 283, Pasal 313 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. | This research aims to find the synchronization of arrangements and find out the form of legal responsibility of orthotist and prosthetists as health service provider in orthotic and prosthetic services. The type of legal research used is normative juridical with a statutory approach method, analytical approach method, conceptual approach method. The data source used is secondary data. Data collection is done by literature study. Data processing is done by reduction, classification, and display then the legal materials obtained are analyzed qualitatively with a content analysis model and comparative analysis. The data is presented in the form of narrative descriptions arranged systematically, logically, and rationally. The results of the study show that the regulation regarding the legal responsibility of hospitals in medical waste management has shown the level of vertical and horizontal synchronization. This means that lower regulations have been based on higher regulations and these regulations do not contradict each other in an equal position. Then the form of legal responsibility of orthotist and prosthetic as helath service provider in orthotic and prosthetic services in the structure of Indonesian legislation is divided into criminal legal responsibility as stated in Article 308 and Article 440 of Law Number 17 of 2023 concerning heath, civil legal responsibility as stated in Article 308 paragraph (2) of Law Number 17 of 2023 concerning health and administrative legal responsibility as stated in article 24 of the regulation of the Minister of Health Number 22 of 2013 concerning the implementation of orthotic prosthetic work and practice, Article 500, Article 736, and Article 752 of government regulation number 28 of 2024 concerning the implementing regulation of law number 17 of 2023 concerning health, and article 283, article 313 of law number 17 of 2023 concerning health. | |
| 47376 | 48228 | L1A021034 | ANALISIS KELIMPAHAN MIKROPLASTIK PADA SEDIMEN VEGETASI RIPARIAN SUNGAI LOGAWA, BANYUMAS, JAWA TENGAH | Permasalahan lingkungan sungai contohnya yang terjadi pada Sungai Logawa adalah sampah plastik, yang dapat berubah menjadi kepingan kecil berukuran <5 mm yang biasa disebut dengan mikroplastik. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelimpahan mikroplastik pada sedimen vegetasi riparian di Sungai Logawa, Banyumas, Jawa Tengah. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel sedimen dan vegetasi riparian pada 12 stasiun dengan karakteristik berbeda, ekstraksi mikroplastik dari sedimen menggunakan larutan NaCl jenuh, identifikasi visual berdasarkan kriteria morfologi, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik pada sedimen berkisar antara 220-450 partikel/kg. Ditemukan 4 tipe mikroplastik pada lokasi penelitian yaitu, fiber, fragment, pellets, film. Warna yang paling dominan ditemukan yaitu warna hitam (42,0%), diikuti oleh putih (26,6%) dan biru (13,1%). | River environmental issues, such as those observed in the Logawa River, include plastic waste that can degrade into small particles <5 mm known as microplastics. This study aims to analyze the abundance of microplastics in riparian vegetation sediments along the Logawa River, Banyumas, Central Java. The research methods involved sediment and riparian vegetation sampling at 12 stations with varying characteristics, extraction of microplastic from sediment using saturated NaCl solution, visual identification based on morphological criteria, and descriptive analysis. The results showed microplastic concentrations in sediments ranging from 220 to 220–450 particles/kg. Four types of microplastics were identified: fiber, fragment, pellets, and film. The most dominant color was black (42.0%), followed by white (26.6%) and blue (13.1%). | |
| 47377 | 50865 | F1D022009 | Politik Kekuasaan atas Tubuh Perempuan: Hegemoni Imperialis Jepang terhadap Pembentukan Jugun Ianfu pada Novel Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer | Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan bagaimana hegemoni Imperialis Jepang terhadap pembentukan sistem Jugun Ianfu direpresentasikan dalam novel Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, serta menjelaskan bagaimana praktik tersebut merefleksikan politik kekuasaan atas tubuh perempuan. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutika dalam bingkai teori politik tubuh Michel Foucault, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik eksploitasi perempuan dalam novel tersebut bukan sekadar bentuk kekerasan fisik, melainkan manifestasi dari sistem kekuasaan yang hegemonik dan terselubung. Tubuh perempuan dijadikan alat negara melalui proses dehumanisasi, penghapusan identitas, serta pembungkaman suara. Dalam narasi novel, tubuh perempuan tidak lagi dimiliki oleh dirinya sendiri, melainkan diatur sepenuhnya oleh militer sebagai bagian dari strategi perang. Hal tersebut mencerminkan bagaimana kekuasaan Imperialis menjadikan tubuh sebagai wilayah politik, dan novel ini menjadi ruang untuk mengungkap sekaligus melawan praktik kekuasaan yang menormalisasi penindasan atas tubuh perempuan. | This research article aims to understand and describe how the hegemony of the Japanese Imperial forces in the formation of the Jugun Ianfu system is represented in Pramoedya Ananta Toer’s novel Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, as well as to explain how this practice reflects the politics of power over women’s bodies. Using a qualitative method and a hermeneutic approach framed by Michel Foucault’s theory of the politics of the body, the findings of this study show that the exploitation of women in the novel is not merely a form of physical violence, but rather a manifestation of a hegemonic and covert system of power. Women’s bodies are turned into instruments of the state through processes of dehumanization, erasure of identity, and the silencing of their voices. Within the narrative, women’s bodies are no longer owned by themselves, but are fully regulated by the military as part of its war strategy. This illustrates how imperial power renders the body a political domain, and the novel becomes a space that exposes and simultaneously resists, the normalization of oppression over women’s bodies. | |
| 47378 | 50778 | H1C021025 | Geologi dan Analisis Kestabilan Lereng Tambang Galian C Menggunakan Metode Klasifikasi Massa Batuan Daerah Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur | Daerah Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur berada di antara Gunung Wilis dan Gunung Klotok yang tersusun oleh material vulkanik Kuarter dan memiliki potensi Galian C, namun kegiatan penambangan masih dalam tahap perencanaan sehingga diperlukan kajian geologi serta analisis kestabilan lereng untuk menjamin keamanan tambang. Penelitian dilakukan melalui pemetaan geologi serta metode klasifikasi massa batuan berupa Rock Mass Rating (RMR) dan Slope Mass Rating (SMR) guna menilai kualitas massa batuan dan jenjang. Secara geomorfologi, daerah penelitian termasuk dalam bentuk asal gunungapi dengan tiga satuan bentuk lahan menurut Van Zuidam (1989), yaitu Satuan Lereng Kaki Gunungapi Wilis, Satuan Kerucut Gunungapi Klotok, Satuan Aliran Lava Klotok dan Satuan Dataran Fluvio Vulkanik Wilis Klotok. Sedangkan satuan geologi daerah penelitian terdiri atas Satuan Lava Andesit, Breksi Piroklastik, dan Breksi Laharik yang menunjukkan lingkungan gunungapi transisi proksimal–medial. Analisis geologi teknik melalui data set diskontinuitas dan stereografis menunjukkan potensi longsoran terbesar berupa oblique toppling sebesar 36,02%. Hasil klasifikasi massa batuan menunjukkan nilai RMR sebesar 71 (kelas II, kategori baik menurut Bieniawski, 1989) dan nilai SMR sebesar 67,5 (kelas baik menurut Romana, 1985), sehingga lereng relatif stabil meskipun masih terdapat potensi longsoran pada beberapa blok. Arah ekskavasi yang direkomendasikan adalah N80°E dengan rata-rata potensi longsoran 0,84%, sedangkan arah N270°E tidak disarankan karena memiliki potensi longsoran hingga 24%. Analisis faktor keamanan (FK) lereng aktual bernilai 0,489 yang termasuk kondisi tidak aman, sehingga diperlukan perancangan jenjang dengan kemiringan 35° yang menghasilkan FK=1,259 dan menunjukkan kondisi lereng yang aman untuk aktivitas penambangan. | The Manyaran area, located in Banyakan District, Kediri Regency, East Java, lies between Mount Wilis and Mount Klotok and is composed of Quaternary volcanic materials with potential for C-Quarry mining. However, since mining operations are still in the planning stage, geological studies and slope stability analyses are required to ensure mining safety. The research was conducted through geological mapping and rock mass classification using the Rock Mass Rating (RMR) and Slope Mass Rating (SMR) methods to evaluate rock mass quality and bench stability. Geomorphologically, the study area is part of a volcanic landform with four geomorphic units according to Van Zuidam (1989), namely the Wilis Volcanic Footslope Unit, the Klotok Volcanic Cone Unit, the Klotok Lava Flow Unit, and the Wilis–Klotok Fluvio-volcanic Plain Unit. The geological units consist of Andesite Lava, Pyroclastic Breccia, and Laharic Breccia, indicating a volcanic environment transitioning from proximal to medial. Engineering geological analysis based on discontinuity data and kinematic assessment shows that the dominant failure potential is oblique toppling, reaching 36,02%. Rock mass classification results indicate an RMR value of 71 (Class II – Good, according to Bieniawski, 1989) and an SMR value of 67.5 (Good class according to Romana, 1985), suggesting that the slope is relatively stable, although localized failure may still occur. Recommended reinforcement measures include the construction of toe ditches, installation of wire-mesh nets, and the application of local or systematic rock bolting. The recommended excavation direction is N85°E, with an average failure potential of only 0.59%, whereas the N270°E direction is not advised due to its significantly higher failure potential of up to 24%. The actual slope Factor of Safety (FoS) of 0.489 indicates an unsafe condition; therefore, a re-design with a bench slope angle of 35° was proposed, producing an FoS of 1.259 and ensuring a safe condition for mining activities. | |
| 47379 | 50779 | J1B021060 | Representasi feminisme dalam novel "Buku Besar Peminum Kopi" karya Andrea Hirata | penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi feminisme yang terdapat dalam novel Buku Besar Peminum Kopi karya Andrea Hirata. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme. Pengumpulan data dilakukan dengan metode baca, simak dan catat. Fokus utama dalam penelitian ini adalah menunjukkan adanya unsur feminisme dalam novel Buku Besar Peminum Kopi karya Andrea Hirata sebagai proyeksi budaya patriarki yang melekat dalam masyarakat. | This research aims to analyze the representation of feminism contained in the novel Buku Besar Peminum Kopi by Andrea hirata. This research uses descriptive qualitative method with feminism approach. Data collection is done by reading, listening and recording methods. The main focus of this research is to show the existence of feminism elements in the novel Buku Besar Peminum Kopi by Andrea Hirata as a projection of patriarchal culture inherent in society. | |
| 47380 | 50780 | K1B021058 | Analisis Faktor yang Mempengaruhi Angka Harapan Hidup di Provinsi Jawa Tengah Menggunakan Spatial Autoregressive Model dan Spatial Durbin Model | Angka harapan hidup merupakan indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Angka ini mencerminkan rata-rata usia hidup penduduk sejak lahir dalam tahun waktu tertentu. Provinsi Jawa Tengah memiliki nilai angka harapan hidup yang cenderung naik. Namun demikian, terdapat ketimpangan angka harapan hidup antar kabupaten dan kota. Hal ini mengindikasikan adanya autokorelasi spasial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi angka harapan hidup pada tahun 2020-2024. Model yang digunakan adalah Spatial Autoregressive Model (SAR) dan Spatial Durbin Model (SDM). Data yang digunakan untuk mendukung kedua model adalah data panel. Variabel independen yang digunakan meliputi presentase kemiskinan, PDRB per kapita, rata-rata lama sekolah, akses sanitasi layak dan air minum layak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat autokorelasi spasial positif yang siginifikan pada model berdasarkan uji moran’s l. Selanjutnya, nilai AIC SAR lebih kecil dibandingkan SDM, sehingga model terbaik yang terpilih adalah SAR. Selain itu, faktor yang berpengaruh signifikan adalah presentase kemiskinan dan PDRB per kapita. Hal ini berarti kondisi spasial antar wilayah saling berpengaruh dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. | Life expectancy is an indicator used to measure the level of welfare of a community in a given region. This figure reflects the average lifespan of residents from birth within a certain period of time. Central Java Province has a life expectancy rate that tends to increase. However, there are disparities in life expectancy between districts and cities. This indicates the existence of spatial autocorrelation. This study aims to analyze the factors that influence life expectancy in 2020-2024. The models used are the Spatial Autoregressive Model (SAR) and the Spatial Durbin Model (SDM). The data used to support both models is panel data. The independent variables used include the poverty rate, GRDP per capita, average length of schooling, access to proper sanitation, and access to proper drinking water. The results of this study indicate that there is significant positive spatial autocorrelation in the model based on Moran's L test. Furthermore, the AIC value of SAR is smaller than that of SDM, so the best model selected is SAR. In addition, the factors that have a significant effect are poverty rate and GRDP per capita. This means that spatial conditions between regions influence each other in improving the quality of life of the community. |