Artikelilmiahs

Menampilkan 47.321-47.340 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4732150733D1A021094PENAKSIRAN REPITABILITAS DAN KEMAMPUAN PRODUKSI KARAKTERISTIK REPRODUKSI DOMBA GARUT
DI UPTD-BPPTDK MARGAWATI GAR
Penelitian bertujuan untuk menaksir nilai repitabilitas dan kemampuan produksi melalui nilai Most Probable Producing Ability (MPPA) karakteristik litter size dan lambing interval pada domba Garut . Penelitian dilaksanakan di UPTD-BPPTDK Margawati Garut. Materi penelitian yaitu catatan data induk domba Garut di UPTD-BPPTDK Margawati Garut dari tahun 2018 – 2023. Sampel terdiri dari 65 ekor induk yang memiliki catatan lengkap mengenai jumlah anak sekelahiran dan tanggal beranak dari paritas satu hingga empat. Data dianalisis secara deskriptif statistik serta dilakukan penaksiran nilai repitabilitas menggunakan metode analisis variansi (ANAVA) dan penaksiran nilai Most Probable Producing Ability (MPPA). Hasil analisis menunjukkan bahwa rataan litter size paritas pertama 1,74±0,67 ekor, kedua 1,75±0,75, ketiga 1,75±0,73 ekor, dan keempat 1,57±0,68 ekor. Rataan lambing interval domba Garut interval pertama adalah 304,55±34,89 hari, kedua 325,55±69,97 hari, dan ketiga 317,07±47,37 hari. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa nilai repitabilitas litter size termasuk kategori sedang (0,236±0,051) dan lambing interval kategori rendah (0,015±0,072). Nilai MPPA terbaik untuk karakteristik litter size adalah sebesar 2,1 ekor dengan tag individu 15 066, sedangkan nilai MPPA terbaik untuk karakteristik lambing interval adalah individu dengan tag 15 04 244 yaitu sebesar 326,84 hari.The study aimed to estimate the repeatability and production capacity through the Most Probable Producing Ability (MPPA) value of litter size and lambing interval characteristics in Garut sheep. The study was conducted at the Margawati Garut UPTD-BPPTDK. The research material consisted of data records of Garut ewes at the Margawati Garut UPTD-BPPTDK from 2018 to 2023. The sample consisted of 65 ewes with complete records of the number of lambs per litter and lambing dates from parity one to four. The data were analyzed descriptively and statistically, and the repeatability value was estimated using analysis of variance (ANOVA) and the Most Probable Producing Ability (MPPA) value estimation. The results of the analysis showed that the average litter size for the first parity was 1.74±0.67 lambs, the second was 1.75±0.75, the third was 1.75±0.73 lambs, and the fourth was 1.57±0.68 lambs. The average lambing interval for Garut sheep in the first interval was 304.55±34.89 days, the second was 325.55±69.97 days, and the third was 317.07±47.37 days. Based on the study, it was concluded that the repeatability value of litter size was in the moderate category (0.236±0.051) and the lambing interval was in the low category (0.015±0.072). The best MPPA value for litter size characteristics was 2.1 lambs with individual tag 15 066, while the best MPPA value for lambing interval characteristics was 326.84 days with individual tag 15 04 244.
4732250749D1A020001Sineresis, DIA, dan Whey Bebas Yoghurt Susu Kambing dengan Penambahan Jahe MerahPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) terhadap kualitas fisik yoghurt berbahan dasar susu kambing, khususnya pada parameter sineresis, daya ikat air, dan whey bebas. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan konsentrasi ekstrak jahe merah (0%, 2%, 4%, dan 6%) dan lima ulangan. Proses pembuatan yoghurt diawali dengan pasteurisasi susu kambing pada suhu 80 °C selama 15 menit, penambahan ekstrak jahe merah sesuai perlakuan, penurunan suhu hingga 40 °C, dan fermentasi selama 6 jam menggunakan starter bakteri asam laktat. Hasil analisis variansi (ANAVA) menunjukkan bahwa penambahan ekstrak jahe merah tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai sineresis, daya ikat air, maupun whey bebas pada yoghurt susu kambing. Rataan nilai sineresis yang diperoleh sebesar 41,97%, daya ikat air 58,19%, dan whey bebas 65,69%. Hasil pengaruh tidak nyata ini diduga karena proses pemanasan pada pembuatan ekstrak jahe merah (80 °C selama 15 menit) yang menonaktifkan enzim protease (zingibain) dan menurunkan aktivitas senyawa bioaktif seperti gingerol dan shogaol, sehingga tidak mampu meningkatkan kekuatan struktur gel yoghurt.This study aimed to determine the effect of adding red ginger extract (Zingiber officinale var. rubrum) on the physical quality of goat milk-based yogurt, particularly in terms of syneresis, water holding capacity, and free whey. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with four levels of red ginger extract (0%, 2%, 4%, and 6%) and five replications. The yogurt was produced by pasteurizing goat milk at 80 °C for 15 minutes, adding red ginger extract according to the treatments, cooling to 40 °C, and fermenting for 6 hours using lactic acid bacteria starter cultures.Analysis of variance (ANOVA) showed that the addition of red ginger extract had no significant effect (P>0.05) on the syneresis, water holding capacity, or free whey of goat milk yogurt. The average values obtained were 41.97% for syneresis, 58.19% for water holding capacity, and 65.69% for free whey. The lack of significant effect is presumed to be due to the heating process (80 °C for 15 minutes) during red ginger extract preparation, which inactivated protease enzymes (zingibain) and reduced the activity of bioactive compounds such as gingerol and shogaol, thus failing to strengthen the yogurt gel structure.
4732350719I1B021064Pengaruh Terapi Murottal Al Qur'an Terhadap Skor Insomnia Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo PurwokertoPenderita diabetes mellitus tipe II sering mengalami gangguan tidur seperti insomnia akibat kondisi fisik dan psikologis yang tidak stabil. Penggunaan teknik non farmakologi memberikan dampak yang cukup berarti dalam penurunan insomnia pada orang yang mengalami diabetes mellitus tipe II. Salah satu teknik non farmakologi yang umum digunakan yaitu Terapi murottal Al Qur’an. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi murottal Al Qur’an terhadap skor insomnia penderita diabetes mellitus tipe II. Metode penelitian ini adalah pra eksperimen dengan one group pre-post test design. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling sebanyak 47 responden. Data diambil dengan menggunakan pengukuran insomnia menggunakan instrumen severity index. Hasil penelitian sebelum intervensi memiliki nilai median skor 11, skor terkecil 7 dan skor terbesar 21 dan sesudah intervensi yaitu nilai median skor 5, skor terkecil 0, dan skor terbesar 14 dengan p value 0.001<0.05 dapat disimpulkan pemberian terapi murottal Al Qur’an memiliki potensi menurunkan insomnia pada penderita diabetes mellitus tipe II. Oleh karena itu, terapi murottal Al-Quran ini bisa dijadikan terapi pendamping untuk mengatasi insomnia. Patients with type II diabetes mellitus often experience sleep disturbances such as insomnia due to unstable physical and psychological conditions. The use of non-pharmacological techniques has a significant impact on reducing insomnia among individuals with type II diabetes mellitus. One commonly used non-pharmacological method is Murottal Al-Qur’an therapy. This study aims to determine the effect of Murottal Al-Qur’an therapy on insomnia scores in patients with type II diabetes mellitus. The research method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test design. The sample consisted of 47 respondents. Data were collected using the Insomnia Severity Index instrument. The results showed that before the intervention, the median insomnia score was 11, with a minimum score of 7 and a maximum score of 21. After the intervention, the median score decreased to 5, with a minimum score of 0 and a maximum score of 14. The p-value obtained was 0.001 (<0.05), indicating a significant difference. It can be concluded that Murottal Al-Qur’an therapy has the potential to reduce insomnia in patients with type II diabetes mellitus. Therefore, Murottal Al-Qur’an therapy can be considered as a complementary therapy to help alleviate insomnia symptoms.
4732450712F1C021063Strategi Komunikasi Pemasaran Digital Salam Pengelolaan Branding Bengkel Kenny Yudha (KY) ModifiedABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi komunikasi pemasaran digital dalam pengelolaan branding Bengkel KY Modified sebagai salah satu Usaha Kecil Menengah di bidang otomotif. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena pergeseran perilaku konsumen ke arah digital dalam mencari informasi dan melakukan transaksi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pemilik dan karyawan bengkel, serta dokumentasi dari aktivitas bengkel. Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran digital KY Modified berfokus pada pemanfaatan media sosial dan e-commerce sebagai sarana utama promosi dan transaksi. Tiktok digunakan untuk memperluas jangkauan melalui konten video pemasangan akseesoris, Instagram berfungsi sebagai etalase digital, sementara Shopee dan Tokopedia menjadi kanal transaksi yang aman dan membangun kepercayaan melalui sistem ulasan. Kehadiran bengkel fisik menjadi penegas kredibilitas dari aktivitas digital yang telah dibangun. Strategi ini mencerminkan penerapan Integrated Marketing Communication (IMC) dengan menjaga konsistensi pesan lintas platform dan memperkuat citra merek.

ABSTRACT
This study aims to describe the digital marketing communication strategy in brand management at Bengkel KY Modified, a small and medium-sized enterprise in the motorcycle modification sector. The background of this research is based on the shifting consumer behavior that increasingly relies on digital media for product information and purchasing decisions. This research employs a qualitative descriptive method. Data were collected through observation, in-depth interviews with the owner and employees, and documentation of the workshop’s digital activities. The data were analyzed using the interactive analysis model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that KY Modified’s digital marketing communication strategy focuses on the use of social media and e-commerce as the main channels for promotion and transactions. TikTok is used to expand reach through video content featuring accessory installation, Instagram serves as a digital showcase, while Shopee and Tokopedia act as secure transactional platforms that build trust through customer reviews. The existence of a physical workshop further strengthens the credibility built through online platforms. This strategy reflects the application of Integrated Marketing Communication (IMC) by maintaining message consistency across platforms and reinforcing the brand image through integrated digital and physical interactions.
4732550604L1B021082IMPLEMENTASI MODEL COMPUTER VISION BERBASIS DEEP LEARNING UNTUK DETEKSI DAN PENGHITUNGAN BENUR UDANG VANNAMEI PADA KONDISI PADAT DAN PENCAHAYAAN VARIATIFBudidaya udang di Indonesia menghadapi tantangan dalam proses pembenihan, terutama pada penghitungan benih udang (benur) yang masih dilakukan secara manual. Metode ini memakan waktu, rentan kesalahan, dan dapat menyebabkan stres pada benur. Penelitian ini bertujuan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi model deep learning berbasis algoritma YOLOv8 untuk deteksi dan penghitungan benur secara otomatis, terutama pada kondisi padat dan pencahayaan bervariasi. Model YOLOv8 nano dilatih selama 200 epoch dan diintegrasikan ke dalam aplikasi web menggunakan Streamlit. Evaluasi performa menggunakan metrik precision, recall, dan mean Average Precision (mAP). Hasil menunjukkan konvergensi optimal dengan penurunan loss yang konsisten. Model mencapai precision 0.88, recall 0.83, mAP50 sebesar 0.87, dan mAP50-95 sebesar 0.50. Pada pengujian berbagai kondisi, akurasi penghitungan tetap tinggi: ~100% untuk 100 ekor dan di atas 90.8% pada 600 ekor. Model terbukti efektif dan andal dalam otomatisasi penghitungan benur. Aplikasi yang dikembangkan menjadi solusi praktis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam budidaya udang, serta mengurangi risiko stres akibat penanganan manual. Temuan ini menunjukkan potensi besar teknologi computer vision dalam mendukung akuakultur modern di Indonesia.Shrimp farming in Indonesia faces challenges during the hatchery phase, particularly in counting shrimp larvae (PL), which is still performed manually. This method is time-consuming, prone to human error, and can cause stress to the larvae. This study aims to design, implement, and evaluate a deep learning model based on the YOLOv8 algorithm for automatic detection and counting of shrimp larvae, especially under dense and varied lighting conditions. The YOLOv8 nano model was trained over 200 epochs and integrated into a web application using the Streamlit framework. Model performance was evaluated using precision, recall, and mean Average Precision (mAP) metrics. The results showed optimal convergence with consistently decreasing loss values. The model achieved a precision of 0.88, recall of 0.83, mAP50 of 0.87, and mAP50-95 of 0.50. In various test conditions, counting accuracy remained high: ~100% for 100 larvae and above 90.8% for 600 larvae. The model proved to be effective and reliable in automating larvae counting. The developed application offers a practical solution to improve efficiency and accuracy in shrimp farming while reducing stress risks caused by manual handling. These findings demonstrate the significant potential of computer vision technology in supporting modern aquaculture practices in Indonesia.
4732650727D1A021189PENGARUH BANGSA SAPI LOKAL PADA PEMBERIAN PAKAN YANG SAMA TERHADAP
KECERNAAN PROTEIN DAN SERAT KASAR
Penelitian berjudul “Pengaruh Bangsa Sapi Lokal pada Pemberian Pakan yang Sama
Terhadap Kecernaan Protein dan Serat Kasar” dilakukan dengan bertujuan mengkaji
pengaruh bangsa sapi lokal terhadap kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar
pada kondisi pakan dan lingkungan yang sama. Penelitian secara eksperimental
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 16 ekor sapi lokal jantan yang terdiri
dari sapi Bali Flores (R1), Madura Flores (R2), Peranakan Ongol (R3), dan sapi Madura (R4)
masing-masing 4 ekor dan keempat jenis bangsa sapi tersebut sebagai perlakuan. Jerami
padi diberikan secara adlibitum dan konsentrat diberikan sebanyak 2 kali sehari dengan
imbangan 70:30. Peubah yang diukur yaitu kecernaan protein kasar dan kecernaan serat
kasar. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh sangat nyata
terhadap kecernaan serat kasar (P<0,01), namun tidak berpengaruh pada kecernaan
protein kasar (P>0,05). Rataan kecernaan serat kasar bangsa sapi lokal R1: 73.18 ± 5.5%, R2:
51.64 ± 11.09%, R3 : 40.68 ± 14.78%, dan R4 : 56.46 ± 6.2% (P<0,01), sedangkan rataan
kecernaan protein kasar bangsa sapi lokal R1 : 67.38 ± 10.7%, R2 : 80.39 ± 3,01%, R3 : 75.33
± 6.2%, R4 : 70.37 ± 1.4% (P>0,05). Uji lanjut menggunakan uji DMRT menunjukkan bangsa
sapi bali flores memiliki presentase nilai kecernaan serat kasar tertinggi diantara bangsa
sapi lokal lainya yaitu sebesar (73.18%) yang berbeda sangat nyata (P<0,01) dibandingkan
sapi Madura Flores (51,64%), sapi Peranakan Onggole (40,68%) dan sapi Madura (56,46%).
The study entitled “The Effect of Local Cattle Breeds on the Same Feed on Protein and
Crude Fiber Digestibility” was conducted with the aim of examining the influence of local
cattle breeds on crude protein digestibility and crude fiber digestibility under the same feed
and environmental conditions. The study was experimentally conducted using a Completely
Randomized Design (CRD) with 16 male local cattle, consisting of Bali Flores cattle (R1),
Madura Flores (R2), Peranakan Ongol (R3), and Madura cattle (R4), with 4 animals each,
and these four cattle breeds as treatments. Rice straw was provided ad libitum and
concentrate was given twice daily in a 70:30 ratio. The variables measured were crude
protein digestibility and crude fiber digestibility. The results of the variance analysis showed
that cattle breed had a highly significant effect on crude fiber digestibility (P<0.01), but had
no effect on crude protein digestibility (P>0.05). The average crude fiber digestibility of local
cattle breeds was R1: 73.18 ± 5.5%, R2: 51.64 ± 11.09%, R3: 40.68 ± 14.78%, and R4: 56.46
± 6.2% (P<0.01), while the average crude protein digestibility of local cattle breeds was R1:
67.38 ± 10.7%, R2: 80.39 ± 3.01%, R3: 75.33 ± 6.2%, R4: 70.37 ± 1.4% (P>0.05). Further
testing using the DMRT test showed that the Bali Flores cattle breed had the highest
percentage of crude fiber digestibility among other local cattle breeds, at 73.18%, which
was significantly different (P<0.01) compared to Madura Flores cattle (51.64%), Peranakan
Onggole cattle (40.68%), and Madura cattle (56.46%).
4732750721J1B021033PENGGAMBARAN TUBUH DALAM NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYUPenelitian ini mengkaji novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu melalui pendekatan fisiologi sastra yang menitikberatkan pada penggambaran tubuh dan seksualitas dalam karya sastra. Pendekatan fisiologi menurut Endraswara terbagi menjadi beberapa bentuk seperti seksofisiologi, falosentrisme, libidinal fisiologi dan biofisiologi. Dengan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menelaah penggambaran tubuh perempuan dan laki-laki dalam tokoh pada novel. Fokus utama analisis terletak pada dua hasil utama: seksofisiologi dan biofisiologi.
Pendekatan ini menguraikan mengenai hubungan antara penggambaran tubuh dan pengaruh penggambaran tubuh terhadap seksualitas yang terjadi dalam novel. Ditemukan bahwa penggambaran tubuh mempengaruhi seksualitas dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Seksofisiologi sastra mengungkap tubuh sebagai aspek utama dalam seksualitas yang berakibat pada munculnya hasrat seksual serta penyimpangan seksual berupa pedofilia dan eksibisionis. Biofisiologi menjelaskan peran tubuh yang indah terhadap dorongan seksualitas dalam karya sastra yang berakibat pada komodifikasi seksual dan stereotip tubuh ideal.
This study examines the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu through the literary physiology approach, with a focus on the depiction of the body and sexuality in literary works. According to Endraswara, the physiology approach is divided into several forms, such as sexophysiology, phallocentrism, libidinal physiology, and biophysiology. Employing a qualitative descriptive method, this research analyzes the depiction of female and male bodies in the novel's characters. The primary analytical focus lies on two main outcomes: sexophysiology and biophysiology. This approach elucidates the relationship between body depiction and its influence on the sexuality manifested in the novel. It was found that body depiction influences sexuality in Djenar Maesa Ayu's novel Nayla. Literary sexophysiology reveals the body as a primary aspect in sexuality, resulting in the emergence of sexual desire as well as sexual deviations such as pedophilia and exhibitionism. Biophysiology explains the role of the beautiful body in driving sexuality in literary works, leading to sexual commodification, stereotypes of the ideal body and libidinal aspects.
4732850722D1A021012PENGARUH PENAMBAHAN CAIRAN FERMENTATION BROTH DALAM PAKAN DOMBA TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING (KBK) DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK (KBO) SECARA IN VITROPenelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Cairan Fermentation Broth dalam Pakan Domba terhadap Kecernaan Bahan Kering (KBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KBO) secara In Vitro” dilakukan dengan tujuan mengetahui interaksi antara jerami padi dan cairan fermentation broth, mengetahui pengaruh penggunaan jerami padi dan jerami padi amoniasi dan mengetahui pengaruh penggunaan cairan fermentation broth dalam meningkatkan KBK dan KBO secara in vitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan pola faktorial 2x3 dengan rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan yang diuji adalah ransum JP (jerami padi 30% + konsentrat 70%) dan JPA (jerami padi amoniasi 30% + konsentrat 70%) sebagai faktor utama dan faktor kedua dosis fermentation broth 0, 150, dan 300 µL dan sebagai kelompok adalah sumber inokulum (cairan rumen). Materi yang digunakan yaitu jerami padi, jerami padi amoniasi, konsentrat, cairan fermentation broth, dan bahan kimia untuk percobaan in vitro. Percobaan in vitro berdasarkan metode dua tahap (Tilley and Terry, 1963). Peubah respon yang diamati meliputi kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut BNJ (Tukey HSD). Hasil menunjukkan bahwa interaksi penambahan cairan fermentation broth dan jenis jerami padi tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Penggunaan jerami padi amoniasi mampu meningkatkan KBK dan KBO secara signifikan (P<0,01) dibanding jerami padi dan penggunaan cairan fermentation broth pada dosis (0, 150, 300 µL) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Rata-rata KBK dan KBO untuk perlakuan jerami padi dengan dosis fermentation broth yang berbeda adalah berkisar 38,91-39,20% dan 48,46-48,72% sedangkan untuk perlakuan jerami padi amoniasi adalah berkisar 39,69-39,90% dan 49,97-50,43%.The research entitled “The Effect of Adding Fermentation Broth Liquid in Sheep Feed on Dry Matter Digestibility (DDI) and Organic Matter Digestibility (OIC) In Vitro” was conducted with the aim of knowing the interaction between rice straw and fermentation broth liquid, knowing the effect of using rice straw and ammoniated rice straw and knowing the effect of using fermentation broth liquid in increasing DDI and OIC in vitro. The research was conducted experimentally using a 2x3 factorial pattern with a randomized block design (RAK). The treatments tested were JP (30% rice straw + 70% concentrate) and JPA (30% ammoniated rice straw + 70% concentrate) rations as the main factor and the second factor was the fermentation broth dose of 0, 150, and 300 µL and as a group was the inoculum source (rumen fluid). The materials used were rice straw, ammoniated rice straw, concentrate, fermentation broth liquid, and chemicals for in vitro experiments. The in vitro experiment was based on a two-stage method (Tilley and Terry, 1963). The observed response variables included dry matter digestibility and organic matter digestibility. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Tukey's HSD (Level 1) test. The results showed that the interaction between the addition of fermentation broth and the type of rice straw had no significant effect (P>0.05). The use of ammoniated rice straw significantly increased the CBC and OBO (CBO) compared to rice straw, and the use of fermentation broth at doses (0, 150, and 300 µL) had no significant effect (P>0.05) on dry matter and organic matter digestibility. The average CBC and CBO for rice straw treatments with different fermentation broth dosages ranged from 38.91% to 39.20% and 48.46% to 48.72%, respectively, while for the ammoniated rice straw treatment, they ranged from 39.69% to 39.90% and 49.97% to 50.43%.
4732950724D1A021157HUBUNGAN KADAR GARAM MINERAL DAN NILAI PH SUSU DENGAN KEJADIAN MASTITIS SUBKLINIS PADA KAMBING SAPERATujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan kadar garam mineral, dan nilai pH susu dengan kejadian mastitis subklinis pada kambing sapera. Materi penelitian yang digunakan adalah 30 sampel susu yang terdiri dari 15 sampel dari Siliwangi Farm dan 15 sampel dari Gaza Farm dengan pengujian California Mastitis Test (CMT) dan juga uji Lactoscan. Kejadian mastitis subklinis di Siliwangi Farm yakni total 15 ekor positif, sedangkan Gaza Farm terdapat 9 ekor positif. Kadar mineral di Siliwangi Farm memiliki nilai median, maksimum, minimum, dan standar deviasi (0,59%;0,62%;0,54%:0,022%) sedangkan Gaza Farm menunjukkan hasil (0,58%;0,62%;0,52%;0,054%). Nilai pH di Siliwangi Farm memiliki nilai median, maksimum, minimum, dan standar deviasi (6,31;6,74;6,16;0,176), sedangkan Gaza Farm menunjukkan hasil (6,76;6,83;6,63;0,054). Hasil uji-T menunjukkan bahwa kadar mineral antara Siliwangi Farm dan Gaza Farm berbeda tidak nyata (P>0.05) dengan kadar mineral Siliwangi Farm dan Gaza Farm memiliki nilai sebesar (0.586±0.306%;0.575±0.294%). Berdasarkan analisis uji-T Siliwangi Farm dan Gaza Farm menunjukkan angka (6.373±0.303;6.744±0.706) dimana terdapat perbedaan yang sangat signifikan (P<0.05). Kejadian mastitis tidak memiliki pengaruh dan tidak berhubungan dengan kadar mineral (Y = 0,584 – 0,0046x; R2 = 0,0056; R = 0,075), sedangkan kejadian mastitis berhubungan signifikan dengan penurunan nilai pH susu (Y = 6.7883 − 0.2873x; R2 = 0,2628; R = 0,512). The purpose of this study was to analyze the content of mineral salts and the pH value of milk with the incidence of subclinical mastitis in sapera goats. The research material used was 30 milk samples consisting of 15 samples from Siliwangi Farm and 15 samples from Gaza Farm with California Mastitis Test (CMT) and Lactoscan tests. The incidence of subclinical mastitis in Siliwangi Farm was a total of 15 positive goats, while Gaza Farm had 9 positive goats. Mineral levels in Siliwangi Farm had median, maximum, minimum, and standard deviation values (0.59%; 0.62%; 0.54%: 0.022%), while Gaza Farm showed results (0.58%; 0.62%; 0.52%; 0.054%). The pH value at Siliwangi Farm has a median, maximum, minimum, and standard deviation value (6.31; 6.74; 6.16; 0.176), while Gaza Farm shows results (6.76; 6.83; 6.63; 0.054). The T-test results show that the mineral content between Siliwangi Farm and Gaza Farm is not significantly different (P>0.05) with the mineral content of Siliwangi Farm and Gaza Farm having a value of (0.586±0.306%; 0.575±0.294%). Based on the T-test analysis of Siliwangi Farm and Gaza Farm, the numbers (6.373±0.303; 6.744±0.706) where there is a very significant difference (P<0.05). The incidence of mastitis had no influence and was not related to mineral levels (Y = 0.584 – 0.0046x; R2 = 0.0056; R = 0.075), while the incidence of mastitis was significantly related to a decrease in milk pH value (Y = 6.7883 − 0.2873x; R2 = 0.2628; R = 0.512).
4733050726K1A021050SINTESIS C-SINAMALKALIKS[4]RESORSINARENA OKTASINAMAT SEBAGAI BAHAN AKTIF TABIR SURYAABSTRAK
Paparan radiasi UV dari sinar matahari terhadap kulit dapat menyebabkan kerutan, eritema, penuaan, bahkan kanker kulit. Salah satu upaya untuk melindungi kulit dari paparan radiasi UV tersebut dengan menggunakan tabir surya. Senyawa yang berpotensi menjadi tabir surya adalah senyawa golongan kaliksarenaa. Kaliksarenaa adalah senyawa makrosiklik dengan beberapa variasi unit fenol yang berikatan dengan jembatan metin. Penelitian bertujuan untuk mensintesis dan menguji aktivitas senyawa C-sinamalkaliks[4]resorsinarena oktasinamat (CSKROS) sebagai tabir surya. Senyawa CSKROS disintesis dalam dua tahap reaksi yaitu melalui reaksi subtitusi elektrofilik antara sinamaldehida dan resorsinol dengan HCl sebagai katalis dan etanol sebagai pelarut lalu dilanjutkan dengan sinamoilasi senyawa C-sinamalkaliks[4]resorsinarena (CSKR) dengan piridina sebagai pelarut dan katalis. Senyawa hasil sintesis dikarakterisasi melalui kromatografi lapis tipis (KLT), uji kelarutan, uji titik leleh, dan spektroskopi FTIR. Uji aktivitas tabir surya dilakukan melalui uji serapan UV dan uji fotostabilitas menggunakan spektrofotometer UV Vis. Senyawa CSKROS diperoleh dalam bentuk padatan berwarna ungu tua dengan rendemen 97,79%, titik leleh 250 °C terdekomposisi, dan sedikit larut dalam DMSO. Spektrum FTIR menunjukkan adanya serapan tajam pada 1689,64 cm-1 mengindikasikan gugus karbonil (C=O) ester serta serapan pada 1072,42 cm-1 yang mengindikasikan gugus C-O ester. Senyawa CSKROS memiliki λmaks pada 271 nm (daerah UVC) dan pada λ 302 nm (daerah UVB), koefisien serapan molar sebesar 86.379 M-1 cm-1, nilai SPF sebesar 6,24 dengan proteksi ekstra, nilai %TE sebesar 52,63%, nilai %TP sebesar 78,84% dan fotostabilitas yang relatif rendah.
Exposure to UV radiation from sunlight on the skin can cause wrinkles, erythema, aging, and even skin cancer. One way to protect the skin from UV radiation exposure is by using sunscreen. Compound that has the potential to be a sunscreen is the calixarene group of compounds. Calixarene is a macrocyclic compound with several variations of phenol units bonded with methine bridges. Study aims to synthesize and test the activity of the compound C-cinnamalcalix[4]resorcinarene octacinnamate (CSKROS) as a sunscreen. The CSKROS compound was synthesized in two reaction stages, namely through an electrophilic substitution reaction between cinnamaldehyde and resorcinol with HCl as a catalyst and ethanol as a solvent, then continued with cinnamoylation of the C-cinnamalcalix[4]resorcinarene (CSKR) compound with pyridine as a solvent and catalyst. The synthesized compounds were characterized by thin layer chromatography (TLC), solubility tests, melting point tests, and FTIR spectroscopy. The sunscreen activity test was carried out through UV absorption tests and photostability tests using a UV Vis spectrophotometer. The CSKROS compound was obtained in the form of a dark purple solid with a yield of 97,79%, a melting point of 250 °C decomposition, and slightly soluble in DMSO. The FTIR spectrum showed a sharp absorption at 1689,64 cm-1 indicating a carbonyl group (C=O) ester and absorption at 1072,42 cm-1 indicating a C-O ester group. The CSKROS compound has a λmax at 271 nm (UVC region) and at λ 302 nm (UVB region), a molar absorption coefficient of 86.379 M-1 cm-1, SPF value of 6,24 with extra protection, %TE value of 52,63%, %TP value of 78,84% and relatively low photostability.
4733150790D3A022003KARAKTERISASI PRODUKSI, KUALITAS TELUR DAN POLIMORFISME GEN GnRH SERTA MODEL MATEMATIKA PRODUKSI TELUR AYAM LOKAL DAN KOMERSIALTujuan penelitian adalah menganalisis karakteristik produksi dan kualitas telur, menganalisis polimorfisme gen GnRH, menganalisis asosiasi single nucleotide polymorphism (SNP) pada gen GnRH dengan produksi dan kualitas telur dan mengembangkan model matematika yang akurat untuk memprediksi kurva produksi telur pada ayam lokal (Sentul) dan komersial (Hy-Line Brown). Penelitian menggunakan 100 ekor ayam lokal (Sentul) dan 100 ekor ayam komersial (Hy-Line Brown). Ayam dipelihara hingga umur 80 minggu dalam kandang closed house. Materi penelitian meliputi telur, catatan produksi, dan sampel darah untuk analisis DNA. Variabel yang diamati adalah bobot telur, kekuatan kerabang, warna kuning telur, (Alig et al., 2023)(Alig et al., 2023)bot kuning telur, bobot putih telur, haugh unit dan bobot kerabang. Analisis molekuler menggunakan teknik PCR dan sekuensing DNA untuk mengidentifikasi polimorfisme gen GnRH. Single nucleotide polymorphism (SNP) yang teridentifikasi kemudian dianalisis asosiasinya dengan produksi dan kualitas telur. Data produksi telur hingga umur 80 minggu digunakan untuk membuat model matematika menggunakan fungsi Gamma Wood, kuadratik, kubik, dan kuartik. Kecermatan model matematika diuji dengan adjust R2, Mean Absolut Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE), Akaike Information Criterion (AIC) dan Bayesian Information Creterion (BIC).
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan ayam komersial (Hy-Line Brown) lebih unggul dalam hampir semua parameter produksi dan kualitas telur dibandingkan ayam lokal (Sentul). Hasil analisis polimorfisme gen GnRH menunjukkan perbedaan antara kedua jenis ayam. Ayam Hy-Line Brown bersifat monomorfik, artinya tidak ditemukan variasi genetik (polimorfisme) pada semua individu yang diuji. Ayam Sentul bersifat polimorfik, dengan ditemukannya tiga Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yaitu g.2416 C>G, g.2424 T>C, dan g.2425 A>G. Setiap SNP memperlihatkan dua varian genotipik yang berbeda, yaitu: 1) SNP g.2416 C>G menghasilkan genotipe heterozigot CG dan homozigot CC, 2) SNP g.2424 T>C teridentifikasi hanya dalam bentuk homozigot, yaitu TT dan CC, sedangkan 3) SNP g.2425 A>G menghasilkan genotipe homozigot AA dan homozigot GG. Analisis asosiasi produksi dan kualitas telur pada ayam Hy-Line Brown tidak dapat dilakukan karena bersifat monomorfik. Analisis asosiasi produksi dan kualitas telur pada ayam Sentul menunjukkan bahwa setiap SNP memiliki pengaruh spesifik: SNP g.2416 C>G: berasosiasi signifikan dengan produksi telur dan ketebalan kerabang (P<0,05). Alel C cenderung memberikan efek positif pada kedua sifat tersebut. SNP g.2424 T>C: berasosiasi sangat signifikan dengan bobot putih telur, bobot kerabang, dan ketebalan kerabang (P<0,01). Alel T unggul dalam meningkatkan kualitas fisik kerabang. SNP g.2425 A>G: berasosiasi signifikan terhadap produksi telur (P<0,01) dan bobot kuning telur (P<0,05). Uji kesesuaian menggunakan metode MAE, RSME, AIC dan BIC menunjukkan bahwa model kuartik yang terbaik dan paling akurat untuk memprediksi produksi telur pada ayam Sentul dan Hy-Line Brown.
Kesimpulan 1) ayam komersial (Hy-Line Brown) lebih unggul dalam produksi dan kualitas telur dibandingkan ayam lokal (Sentul); 2) Gen GnRH pada ayam Sentul bersifat polimorfik, sedangkan pada ayam Hy-Line Brown bersifat monomorfik; 3) Terdapat asosiasi antara Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) g.2416 C>G, g.2424 T>C, dan g.2425 A>G dengan produksi dan kualitas telur pada ayam lokal (Sentul). SNP g.2416 C>G berasosiasi dengan produksi telur dan ketebalan kerabang. SNP g.2424 T>C berasosiasi dengan bobot putih telur, bobot kerabang, dan ketebalan kerabang. SNP g.2425 A>G berasosiasi dengan produksi telur dan bobot kuning telur. ; 4) model matematika kuartik merupakan model yang paling akurat untuk memprediksi kurva produksi telur pada ayam lokal (Sentul) dan komersial (Hy-Line Brown).
The objectives of this research were to analyze egg production and quality characteristics, analyze GnRH gene polymorphisms, analyze the association of single nucleotide polymorphisms (SNPs) in the GnRH gene with egg production and quality, and develop an accurate mathematical model to predict egg production curves in local (Sentul) and commercial (Hy-Line Brown) chickens. The study used 100 local chickens (Sentul) and 100 commercial chickens (Hy-Line Brown). The chickens were raised until 80 weeks of age in a closed house. The research materials included eggs, production records, and blood samples for DNA analysis. The variables observed were egg weight, shell strength, yolk color, yolk volume, egg white weight, Haugh unit, and shell weight. Molecular analysis used PCR and DNA sequencing techniques to identify GnRH gene polymorphisms. The identified single nucleotide polymorphisms (SNPs) were then analyzed for their association with egg production and quality. Egg production data up to 80 weeks of age were used to create a mathematical model using Wood's Gamma, quadratic, cubic, and quartic functions. The accuracy of the mathematical model was tested by adjusting R2, Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE), Akaike Information Criterion (AIC), and Bayesian Information Criterion (BIC).
Based on the research results, commercial chickens (Hy-Line Brown) are superior in almost all parameters of egg production and quality compared to local chickens (Sentul). The results of the GnRH gene polymorphism analysis show differences between the two types of chickens. Hy-Line Brown chickens are monomorphic, meaning that no genetic variations (polymorphisms) were found in all individuals tested. Sentul chickens are polymorphic, with the discovery of three Single Nucleotide Polymorphisms (SNPs), namely g.2416 C>G, g.2424 T>C, and g.2425 A>G. Each SNP shows two different genotypic variants, namely: 1) SNP g.2416 C>G produces heterozygous CG and homozygous CC genotypes, 2) SNP g.2424 T>C is identified only in homozygous forms, namely TT and CC, while 3) SNP g.2425 A>G produces homozygous AA and homozygous GG genotypes. Analysis of the association between egg production and quality in Hy-Line Brown chickens cannot be carried out because they are monomorphic. Association analysis of egg production and quality in Sentul chickens showed that each SNP has a specific effect: SNP g.2416 C>G: significantly associated with egg production and shell thickness (P<0.05). The C allele tends to have a positive effect on both traits. SNP g.2424 T>C: highly significantly associated with egg white weight, shell weight, and shell thickness (P<0.01). The T allele is superior in improving the physical quality of the shell. SNP g.2425 A>G: significantly associated with egg production (P<0.01) and yolk weight (P<0.05). The goodness-of-fit test using the MAE, RSME, AIC and BIC methods showed that the quartic model was the best and most accurate for predicting egg production in Sentul and Hy-Line Brown chickens.
Conclusion 1) Commercial chickens (Hy-Line Brown) are superior in egg production and quality compared to local chickens (Sentul); 2) GnRH gene in Sentul chickens is polymorphic, while in Hy-Line Brown chickens it is monomorphic; 3) There is an association between Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) g.2416 C>G, g.2424 T>C, and g.2425 A>G with egg production and quality in local chickens (Sentul). SNP g.2416 C>G is associated with egg production and shell thickness. SNP g.2424 T>C is associated with egg white weight, shell weight, and shell thickness. SNP g.2425 A>G is associated with egg production and yolk weight. ; 4) Quartic mathematical model is the most accurate model to predict egg production curves in local chickens (Sentul) and commercial chickens (Hy-Line Brown).
4733250728H1B021016Pemodelan Numerik Penanganan Longsor Akibat Beban Hujan dengan Perkuatan VetiverTanah longsor akibat hujan merupakan salah satu bencana geoteknik yang sering
terjadi di Indonesia, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Kabupaten
Purbalingga. Upaya mitigasi non-struktural melalui vegetasi, khususnya vetiver
(Chrysopogon zizanioides), dinilai efektif karena mampu memperkuat lereng secara
hidrologis dan mekanis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penanaman
vetiver terhadap perubahan tekanan air pori dan faktor keamanan lereng selama hujan
ekstrem dengan kala ulang 200 tahun. Metode yang digunakan adalah pemodelan
numerik berbasis GeoStudio melalui tahapan SEEP/W dan SLOPE/W. Data curah hujan
diperoleh dari hidrologi.net dan diolah menjadi kurva IDF, sedangkan parameter tanah
dan tambahan kohesi akar (Cr) dihitung dari nilai Root Area Ratio (RAR) hasil studi
terdahulu. Hasil simulasi menunjukkan bahwa vetiver menurunkan peningkatan tekanan
air pori sebesar 1–11% dibandingkan tanah tanpa vegetasi, serta meningkatkan safety
factor dari 0,98 menjadi 4,1 pada umur 6 bulan, atau naik sekitar 419,7%. Hubungan
tekanan air pori dan safety factor bersifat berbanding terbalik, di mana sistem perakaran
vetiver mampu menahan penurunan kestabilan lereng. Dengan demikian, vegetasi
vetiver terbukti efektif sebagai solusi mitigasi non-struktural ramah lingkungan terhadap
longsor akibat hujan.
Rainfall-induced landslides are among the most frequent geotechnical disasters
in Indonesia, particularly in regions with high rainfall such as Purbalingga Regency.
Non-structural mitigation using vegetation, especially vetiver (Chrysopogon
zizanioides), is considered effective due to its hydrological and mechanical
reinforcement mechanisms. This study aims to analyze the effect of vetiver planting on
changes in pore-water pressure and slope safety factor during extreme rainfall with a
200-year return period. Numerical modeling was conducted using GeoStudio through
SEEP/W and SLOPE/W analyses. Rainfall data were obtained from hydrologi.net and
processed into Intensity–Duration–Frequency (IDF) curves, while soil parameters and
root cohesion (Cr) were derived from Root Area Ratio (RAR) values reported in
previous studies. The simulation results show that vetiver reduced the increase in pore
water pressure by 1–11% compared to bare soil and enhanced the slope safety factor
from 0.98 to 4.1 at six months of growth, indicating an improvement of approximately
419.7%. A negative correlation was observed between pore-water pressure and the
safety factor, confirming that the vetiver root system effectively limits slope instability.
Thus, vetiver vegetation is proven to be an environmentally friendly and reliable non
structural mitigation strategy against rainfall-induced landslides.
4733350732J1C021051PENGARUH AKTIVITAS SENI KALIGRAFI JEPANG (SHODOU) TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIANShodou, atau seni kaligrafi Jepang, merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang memiliki nilai budaya, estetika, dan spiritual yang tinggi. Berasal dari Tiongkok dan berkembang seiring masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad ke-8, shodou telah menjadi bagian penting dari pendidikan dan kehidupan masyarakat Jepang. Lebih dari sekadar keterampilan menulis, shodou melibatkan kesadaran penuh, ketekunan, dan refleksi diri dalam setiap goresannya, sehingga kerap dianggap sebagai bentuk meditasi aktif. Dalam perspektif psikologi, kegiatan seni seperti shodou diyakini dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian individu. Berdasarkan teori The Big Five Personality, aktivitas ini berpotensi menurunkan dimensi Neuroticism dan meningkatkan dimensi Conscientiousness. Namun, masih terbatasnya penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan antara praktik shodou dan perkembangan kepribadian mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh aktivitas shodou terhadap perkembangan kepribadian pelakunya dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui penyebaran kuesioner serta observasi proses penciptaan karya seni kaligrafi pada pelaku shodou, baik pemula maupun berpengalaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan total responden berjumlah lima orang menggunakan kuesioner berupa proses aktivitas dan pertanyaan berdasarkan tabel The Big Five Personality. Shodou mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kepribadian perilaku.Shodou, Japanese calligraphy, or shodou, is a traditional art form that holds significant cultural, aesthetic, and spiritual value. Originating from China and developing alongside the introduction of Buddhism to Japan in the 8th century, shodou has become an integral part of Japanese education and daily life. More than just a skill of writing, shodou embodies mindfulness, perseverance, and self-reflection in every brushstroke, often regarded as a form of active meditation. From a psychological perspective, artistic activities such as shodou are believed to influence an individual’s personality development. Based on the Big Five Personality Theory, this activity has the potential to decrease the dimension of Neuroticism while enhancing Conscientiousness. However, there remains a limited number of studies that specifically examine the relationship between shodou practice and personality development, which serves as the motivation for conducting this research. This study aims to explore the influence of shodou activities on the personality development of its practitioners through a qualitative approach involving questionnaires and observation of the creative process of calligraphy artworks among both novice and experienced shodou practitioners. The research employs a descriptive qualitative method, with a total of five respondents who answered questionnaires focusing on activity processes and questions derived from the Big Five Personality framework. The findings indicate that shodou has a significant impact on behavioral and personality development.
4733450730J0A021011Producing An English Booklet To Promote Puppet Museum In Banyumas Laporan ini disusun setelah menyelesaikan praktik kerja di UPTD purwomas, Dinas Pemuda, Olahraga, kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar Banyumas) dari tanggal 1 Agustus- 31 Oktober 2023. Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk menjelaskan proses pelaksanaan praktik kerja dan mempromosikan serta mengenalkan Museum wayang Banyumas dalam media booklet dua bahasa. Pembuatan booklet dua bahasa (Indonesia -Inggris) dipilih untuk memfasilitasi promosi tidak hanya untuk wisatawan lokal namun untuk wisatawan mancanegara. Metode yang digunakan dalam pembuatan booklet adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.
Booklet juga dibuat dalam versi digitalnya agar dapat diakses di mana saja daa kapan saja (fleksibel) melalui tautan dan kode QR.
This report was compiled after completing an internship at the Purwomas Technical Implementation Unit, Youth, Sports, Culture and Tourism Agency (Disporabudpar Banyumas) from August 1 to October 31, 2023. The purpose of this report is to explain the internship process and to promote and introduce the Banyumas Puppet Museum in a bilingual booklet. The creation of a bilingual booklet (Indonesian-English) was chosen to facilitate promotion not only for local tourists but also for foreign tourists. The methods used in the creation of the booklet were interviews, observation, and documentation.The booklet was also created in a digital version so that it can be accessed anywhere and anytime (flexibly) via a link and QR code.
4733550734D1A020051PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PUPUK TERHADAP PRODUKSI KERING DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK RUMPUT PAKCHONG DEFOLIASI KETIGA PADA LAHAN REKLAMASI TAMBANG KAPURPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pemberian pupuk kandang dan NPK terhadap produksi kering dan kandungan bahan organik rumput pakchong yang ditanam pada lahan kapur pascatambang. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah rumput Pakchong (Pennisetum purpureum cv Thailand), pupuk kandang dari feses sapi, pupuk NPK, dan tanah kapur pascatambang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 4 dengan 3 kelompok. Faktor pertama adalah level Pupuk kandang (K) yang terdiri dari 0; 5; 10 ton/defoliasi/ha. Faktor kedua adalah level Pupuk NPK (N) yang terdiri dari 0; 100; 200; 300 kg/defoliasi/ha. Penelitian dilakukan di lahan kapur pascatambang PT. Sinar Tambang Arthalestari Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Tiap unit ditanam di lahan berukuran 3 x 4 m dengan jarak tanam 0,75 x 1 m. Hasil analisis variansi menunjukkan tidak ada interaksi antara pupuk kandang dan NPK (P>0,05) terhadap bahan kering dan bahan organik. Hasil perlakuan pemberian pupuk kandang 10 ton/ha menghasilkan produksi bahan kering paling tinggi (P<0,01). Perlakuan pemberian NPK 300 kg/ha menghasilkan produksi bahan kering paling tinggi (P<0,01). Perlakuan pemberian pupuk kandang 10 ton/ha menghasilkan kandungan bahan organik paling tinggi (P<0,01). Perlakuan pemberian NPK 200 kg/ha menghasilkan kandungan bahan organik paling tinggi (P<0,01). Kesimpulan penelitian ini adalah perlakuan pemberian pupuk kandang 10 ton/ha dan pupuk NPK 300 kg/ha menghasilkan produksi bahan kering yang optimal serta pemberian pupuk kandang 10 ton/ha dan pupuk NPK 200 kg/ha menghasilkan kandungan bahan organik yang optimal.This study aims to determine the effect of the combination of manure and NPK fertilizer on dry production and organic matter content of pakchong grass planted on post-mining limestone land. The materials used in the study were Pakchong grass (Pennisetum purpureum cv Thailand), manure from cow feces, NPK fertilizer, and post-mining limestone soil. The method used in the study was an experimental method with a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a factorial pattern of 3 x 4 with 3 groups. The first factor was the level of Manure (K) consisting of 0; 5; 10 tons/defoliation/ha. The second factor was the level of NPK Fertilizer (N) consisting of 0; 100; 200; 300 kg/defoliation/ha. The study was conducted on post-mining limestone land of PT. Sinar Tambang Arthalestari, Ajibarang District, Banyumas Regency. Each unit was planted on a 3 x 4 m plot with a spacing of 0.75 x 1 m. The results of the analysis of variance showed no interaction between manure and NPK (P>0.05) on dry matter and organic material. The results of the treatment of 10 tons/ha of manure resulted in the highest dry matter production (P<0.01). The treatment of 300 kg/ha of NPK resulted in the highest dry matter production (P<0.01). The treatment of 10 tons/ha of manure resulted in the highest organic material (P<0.01). The treatment of 200 kg/ha of NPK resulted in the highest organic material (P<0.01). The conclusion of this study is that the treatment of 10 tons/ha of manure and 300 kg/ha of NPK fertilizer resulted in optimal dry matter production and the application of 10 tons/ha of manure and 200 kg/ha of NPK fertilizer resulted in optimal organic material.
4733650736H1E021064ANALISIS MITIGASI RISIKO RANTAI PASOK AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) MENGGUNAKAN METODE HOUSE OF RISK (HOR) DAN FUZZY LOGIC DI PT. XYZPT. XYZ merupakan perusahaan distribusi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menghadapi berbagai potensi risiko dalam rantai pasoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas rantai pasok, menganalisis prioritas risiko, serta merumuskan strategi mitigasi guna meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Metode yang digunakan meliputi Supply Chain Operation Reference (SCOR) untuk pemetaan aktivitas rantai pasok, House of Risk (HOR) untuk penentuan prioritas agen risiko, serta Fuzzy Logic untuk mengatasi perbedaan penilaian antar responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 22 kejadian risiko dan 27 penyebab risiko yang teridentifikasi. Berdasarkan analisis HOR Fase 1 dan Fuzzy Logic, diperoleh 3 agen risiko prioritas yang kemudian digunakan dalam perancangan strategi mitigasi pada HOR Fase 2. Dari hasil tersebut diusulkan 10 strategi mitigasi risiko yang disusun berdasarkan tingkat prioritas untuk mendukung efektivitas pengelolaan rantai pasok PT. XYZ.PT. XYZ is a bottled water distribution company that faces various potential risks in its supply chain. This study aims to identify supply chain activities, analyze risk priorities, and formulate mitigation strategies to minimize the impact of risks. The methods used include Supply Chain Operation Reference (SCOR) for mapping supply chain activities, House of Risk (HOR) for determining risk agent priorities, and Fuzzy Logic to address differences in assessment between respondents. The results of the study show that there are 22 risk events and 27 risk causes identified. Based on the HOR Phase 1 and Fuzzy Logic analyses, 3 priority risk agents were obtained, which were then used in the design of mitigation strategies in HOR Phase 2. From these results, 10 risk mitigation strategies were proposed, arranged based on priority level to support the effectiveness of PT. XYZ's supply chain management.
4733750737C1A019006Analisis Efisiensi Teknis Terhadap Fkator-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Genteng di Kabupatan Majalengka Tahun 2023 (Studi Kasus: Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka)
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil produksi genteng dan menganasilis efisiensi baik secara teknis terhadap hasil produksi genteng. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuisioner. Metode pengambilan sampel menggunakan sampel random sampling. Objek penelitian ini yaitu di Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Populasi dalampenelitian ini adalah semua pemilik usaha produksi genteng di Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Jumlah sampel yang didapat yaitu 59 responden. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda dan SFA (Stochastic Frontier Analysis) menggunakan Frontier 4.1C. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) variabel bahan baku, modal, tenaga kerja, lama usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil produksi genteng di Kecamatan Jatiwangi, 2) variabel Tingkat Pendidikan berpengaruh negative terhadap hasil produksi genteng Kecamatan Jatiwangi. 3) nilai efisiensi teknis sebesar 0,99 maka dapat dikatakan bahwa industry genteng di Kecamatan Jatiwangi sudah efisien dalam penggunaan faktorfaktor produksi tersebut.

The purpose of this study is to analyze the factors that affect the results of tile production and analyze the efficiency both technically on tile production. This type of research is quantitative research using primary data obtained through interviews and questionnaires. The sampling method uses random sampling. The object of this research is in Jatiwangi District, Majalengka Regency. The population in this study is all tile production business owners in Jatiwangi District, Majalengka Regency. The number of samples obtained was 59 respondents. The analysis techniques used are multiple linear regression analysis and SFA (Stochastic Frontier Analysis) using Frontier 4.1C. The results of this study show that: 1) the variables of raw materials, capital, labor, length of business have a positive and significant effect on the results of tile production in Jatiwangi District, 2) the variable of Education Level has a negative effect on the results of tile production in Jatiwangi District. 3) Technical efficiency value of 0.99 then it can be said that the tile industry in Jatiwangi District is efficient in using these production factors.
Keywords: Raw Material, Capital, Labor, Length of Business, Education Level
4733850738E1B021002JURIDICAL REVIEW ON ILLEGAL FISHING LAW ENFORCEMENT
IN THE EXCLUSIVE ECONOMIC ZONE
UNDER INTERNATIONAL LAW AND INDONESIAN LAW
(Study on the Arrest of the Russian Flagship Run Zeng 03
By Indonesian Authorities in 2024)
TINJAUAN YURIDIS PENEGAKAN HUKUM PENCURIAN IKAN
DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF
BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM INDONESIA
(Studi tentang Penangkapan Kapal Berbendera Rusia Run Zeng 03
oleh Otoritas Indonesia pada 2024)
Oleh:
FARISSA DIANDRASURI
E1B021002
ABSTRAK
Sebagai salah satu wilayah ZEE Indonesia yang kaya akan ikan, Laut
Arafuru mengundang aktivitas pencurian ikan yang merugikan negara dan
nelayan, sehingga penegakan hukum perikanan penting untuk menjamin
keberlanjutan ikan. Peristiwa ini misalnya terjadi pada kasus penangkapan ikan di
Laut Arafuru oleh kapal berbendera Rusia, milik China Run Zeng 03 pada 2024
yang melakukan penangkapan ikan tanpa izin dari otoritas Indonesia dan
menggunakan alat tangkap terlarang di Laut Arafuru berdasarkan peraturan
Indonesia dan hukum internasional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan
tindakan pencurian ikan di ZEE dalam hukum internasional dan hukum Indonesia
dan penerapan sanksi terhadap tindakan pencurian ikan oleh Kapal Run Zeng 03
di Laut Arafuru oleh otoritas Indonesia. Tipe penelitian adalah yuridis normatif
dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan analisis. Data dalam
penelitian ini berasal dari data sekunder yang disajikan dalam bentuk teks naratif
dan dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penegakan hukum di ZEE
berdasarkan hukum internasional terdapat dalam Pasal 73 KHL 1982, IPOA-IUU
Fishing 2001, RPOA- IUU Fishing 2007 dan Agreement on Port State Measures to
Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (PSMA)
2009. Hukum nasional yang mengatur pencurian ikan dapat ditemukan di Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor
31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Penerapan sanksi terhadap Wang Zengjun
sebagai nahkoda kapal Run Zeng 03 yang melakukan pencurian ikan di Laut
Arafuru, berupa hukuman penjara lima tahun dan denda dua miliar rupiah. Bahwa
dalam kasus ini Rusia sebagai negara bendera kapal Run Zeng 03 memiliki
kewajiban untuk mengawasi proses hukum atas awak kapal yang ditahan, namun
tidak dilakukan berdasarkan Pasal 94 Ayat 1 KHL 1982.
Kata Kunci: penegakan hukum perikanan, pencurian ikan, pengaturan hukum
JURIDICAL REVIEW ON ILLEGAL FISHING LAW ENFORCEMENT
IN THE EXCLUSIVE ECONOMIC ZONE
UNDER INTERNATIONAL LAW AND INDONESIAN LAW
(Study on the Arrest of the Russian Flagship Run Zeng 03 By Indonesian
Authorities in 2024)
By:
FARISSA DIANDRASURI
E1B021002
ABSTRACT
As one of Indonesia's EEZ areas which is rich in fish, the Arafuru Sea has
invites illegal fishing activities that are detrimental to the state and fishermen,
making fisheries law enforcement important to ensure the sustainability of fish in
the sea. This happened, for example, in the case of fishing in the Arafura Sea by
Russian flagship, owned by China Run Zeng 03, in 2024, which was fishing without
a permit from the Indonesian authorities and using prohibited fishing gear in the
Arafuru Sea based on Indonesian regulation and International Law.
This study aims to analyze the framework governing illegal fishing activities
in the Exclusive Economic Zone (EEZ) under international law and Indonesian law,
as well as the application of sanctions against the illegal fishing activities of the
Run Zeng 03 vessel in the Arafuru Sea by the Indonesian authorities. The research
type is normative legal with a statute approach, a case study approach, and an
analytical approach. The data in this study comes from secondary data presented in
narrative form and analyzed using qualitative normative methods.
Based on the results of the study and discussion, the regulation of legal
enforcement in the EEZ under international law is regulated in The 1982 UNCLOS
Article 73, The 2001 IPOA-IUU Fishing, The 2007 RPOA - IUU Fishing and The
2009 Agreement on Port State Measures to Prevent, Deter and Eliminate Illegal,
Unreported and Unregulated Fishing (PSMA), National law governing illegal
fishing can be found in regulated Act Number 45 of 2009 on Amendments to Act
Number 31 of 2004 on Fisheries. The imposition of sanctions on Wang Zengjun as
the captain of the vessel Run Zeng 03 for engaging in illegal fishing in the Arafuru
Sea, in the form of a five year prison sentence and a fine of two billion rupiah. That
in this case, Russia as the flag state of the Run Zeng 03, has an obligation to monitor
the legal proceedings against the detained crew members, but not carried out based
on Article 94 Paragraph 1 of the 1982 UNCLOS.
Keywords: fisheries law enforcement, illegal fishing, legal regulations
4733950739H1E021075ANALISIS KUALITAS PELAYANAN KONSUMEN MENGGUNAKAN METODE SERVQUAL dan QFD
(STUDI KASUS COFFEE SHOP FORESTHREE RAWALUMBU)
Perkembangan pesat bisnis cafe menuntut inovasi berkelanjutan dan fokus pada kepuasan konsumen sebagai kunci utama daya tarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut kepuasan konsumen yang menjadi prioritas utama dan menentukan respons teknis yang krusial sebagai target perbaikan pada cafe foresthree. Metode yang digunakan adalah integrasi Servqual untuk penilaian kualitas layanan, dan Quality Function Deployment (QFD) untuk merumuskan usulan perbaikan. Hasil analisis dengan SERVQUAL menunjukkan bahwa atribut yang menjadi prioritas utama untuk peningkatan adalah Kondisi fasilitas toilet dan tempat ibadah (Musholla),Tersedianya fasilitas internet (wifi) yang memadai,Tersedianya fasilitas sumber listrik yang memadai,Tempat parkir yang memadai,Memiliki interior dan dekorasi yang menarik,Kemampuan karyawan dalam menjawab pertanyaan pelanggan dan penguasaan menu,Pelayanan yang tetap tepat waktu meski keadaan cafe ramai,Tempat parkit yang aman,Cafe memberikan rasa aman dan nyaman saat berada di cafe,Staff melayani konsumen dengan bersungguh-sungguh,Sikap staff yang sopan dan ramah kepada pelanggan. Berdasarkan pengolahan data menggunakan QFD, respons teknis yang harus menjadi target utama perbaikan meliputi Membuat standar oprasional prosedur pelayanan terhadap konsumen, Mengdakan Pelatihan komunikasi dan etika karyawan secara rutin, dan Menambah kecepatan internet (wifi) dan juga sumber listrik yang mudah di jangkau oleh konsumen. Usulan perbaikan ini diharapkan dapat menjadi panduan strategis bagi cafe ForesthreeThe rapid development of the café business demands continuous innovation and a focus on consumer satisfaction as the main key to appeal. This study aims to identify the attributes of consumer satisfaction that are the top priority and determine crucial technical responses as a target for improvement in café foresthree. The methods used are Servqual integration for service quality assessment, and Quality Function Deployment (QFD) to formulate improvement proposals. The results of the analysis with SERVQUAL show that the attributes that are the main priority for improvement are the condition of toilet facilities and places of worship (Musholla), The availability of adequate internet facilities (wifi), The availability of adequate electricity source facilities, Adequate parking lots, Have attractive interiors and decorations, Ability of employees to answer customer questions and master the menu, Service that remains on time even when the café is crowded, Safe parakeet place, Cafe provides a sense of security and comfort when in the café, Staff serves consumers earnestly, Polite and friendly staff attitude to customers. Based on data processing using QFD, technical responses that must be the main target of improvement include making operational standards for service procedures to consumers, conducting regular employee communication and ethics training, and increasing internet speed (wifi) and also electricity sources that are easily accessible by consumers. This proposed improvement is expected to be a strategic guide for café Foresthree to effectively improve customer satisfaction
4734050740C1A020084EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN DESA WISATA MELALUI PENDEKATAN SOCIAL RETURN ON INVESTMENT (SROI)
(STUDI KASUS PADA DESA WISATA PEKUNDEN, BANYUMAS)
Pengembangan desa wisata menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pemanfaatan potensi lokal. Namun, evaluasi program desa wisata selama ini lebih banyak menekankan aspek administratif, sementara dampak ekonominya jarang diukur secara kuantitatif. Keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dan pengelola dalam menciptakan nilai ekonomi yang nyata. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan evaluasi yang komprehensif untuk menilai sejauh mana program pengembangan desa wisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pengembangan Desa Wisata Pekunden, Banyumas, dengan menggunakan metode Social Return on Investment (SROI). Secara khusus, penelitian ini berusaha menjawab dua pertanyaan: (1) bagaimana kondisi program pengembangan desa wisata di Desa Pekunden, dan (2) bagaimana hasil evaluasi program tersebut jika dihitung melalui pendekatan SROI. Penelitian menggunakan desain mixed-method, yakni kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, dengan fokus utama pada pengukuran manfaat ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan Desa Wisata Pekunden periode 2022–2024 menghasilkan rasio SROI sebesar 1,39. Artinya, setiap Rp 1 yang diinvestasikan dalam program memberikan manfaat ekonomi sebesar Rp 1,39. Manfaat terbesar berasal dari peningkatan omzet UMKM dan aktivitas destinasi wisata, disusul oleh peningkatan keterampilan tenaga kerja, penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan homestay, serta tambahan Pendapatan Asli Desa (PAD). Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa nilai SROI tetap stabil dalam skenario optimis maupun pesimis.
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa program pengembangan Desa Wisata Pekunden layak secara ekonomi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hasil ini menguatkan pentingnya pendekatan berbasis komunitas (community-based tourism) dalam pengelolaan desa wisata, serta menegaskan peran evaluasi berbasis SROI sebagai alat ukur yang objektif dan terukur dalam menilai efektivitas program pembangunan desa. Penelitian ini juga menyarankan agar ke depan analisis SROI diperluas dengan memasukkan dimensi sosial, budaya, dan lingkungan, serta memperpanjang horizon evaluasi agar manfaat jangka panjang dapat teridentifikasi secara lebih komprehensif.

The development of tourist villages is one of the strategies to improve the welfare of rural communities through the utilization of local potential. However, evaluations of tourist village programs have thus far emphasized administrative aspects, while their economic impacts are rarely measured quantitatively. The success of a tourist village is not only determined by the availability of facilities and infrastructure but also by the community's and managers' ability to generate tangible economic value. Therefore, a comprehensive evaluation approach is needed to assess the extent to which tourist village development programs provide real benefits to the community.
This study aims to evaluate the development program of Pekunden Tourist Village, Banyumas, using the Social Return on Investment (SROI) method. Specifically, it seeks to answer two questions: (1) what is the condition of the tourist village development program in Pekunden, and (2) what are the evaluation results of the program when calculated through the SROI approach? The study employs a mixed-method design, combining quantitative and qualitative methods, with the primary focus on measuring economic benefits.
The results show that the Pekunden Tourist Village development program for the period 2022–2024 generated an SROI ratio of 1.39. This means that every Rp 1 invested in the program produced an economic benefit of Rp 1.39. The largest benefits came from increased turnover of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) and tourist destination activities, followed by improved workforce skills, new job creation, higher homestay income, and additional Village Original Revenue (PAD). Sensitivity analysis confirmed that the SROI value remained stable under both optimistic and pessimistic scenarios.
The study concludes that the Pekunden Tourist Village development program is economically viable and has a positive impact on the community. These findings reinforce the importance of the community-based tourism approach in managing tourist villages and highlight the role of SROI-based evaluation as an objective and measurable tool for assessing the effectiveness of village development programs. The study also recommends that future SROI analyses be expanded to include social, cultural, and environmental dimensions, as well as a longer evaluation horizon, to capture long-term benefits more comprehensively.