Artikelilmiahs

Menampilkan 47.481-47.500 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4748150884A1D021074Kajian Pemberian Pupuk NPK-SR Grade K Dan Senyawa Humat terhadap Sifat Kimia Tanah, Serapan Hara N, dan Hasil Padi Sawah Pada Tanah Inceptisol

Tanah Inceptisol merupakan salah satu jenis tanah yang banyak digunakan untuk budidaya padi, namun kandungan haranya rendah. Agar lebih optimal dan mengurangi kerusakan tanah akibat pupuk berlebih, tanah diberi pupuk NPK SR (Slow Release) yang melepaskan unsur hara secara perlahan-lahan. Senyawa humat merupakan hasil dekomposisi bahan organik yang kompleks dan mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas tanah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 2 faktor, yaitu pupuk majemuk NPK-SR pada perbedaan grade K (5 aras) dan asam humat (4 aras). Variabel yang diamati meliputi sifat kimia tanah, serapan hara N, dan hasil padi sawah. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan K3A3 (8-15-13 dengan bahan perekat 6% dan asam humat setara 300 kg/ha) merupakan perlakuan yang berpotensi dan direkomendasikan diantara perlakuan yang lain. Inceptisol soil is a type of soil widely used for rice cultivation, but its nutrient content is low. To optimize and reduce soil damage due to excessive fertilizer, the soil is given NPK SR (Slow Release) fertilizer which releases nutrients slowly. Humic compounds are the result of complex organic material decomposition and have an important role in improving soil quality. The study used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors, namely NPK-SR compound fertilizer at different K grades (5 levels) and humic acid (4 levels). The variables observed included soil chemical properties, N nutrient uptake, and rice yield. The results of the study showed that the K3A3 treatment (8-15-13 with 6% adhesive and humic acid equivalent to 300 kg/ha) was a potential and recommended treatment among other treatments.
4748250891I1C021080EVALUASI PENGGUNAAN DOSIS DAN EFEK SAMPING ANTIDIABETES ORAL PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS PURWOKERTO SELATANPenelitian observasional deskriptif prospektif ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian dosis dan pemantauan efek samping obat (ESO) antidiabetes oral pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Purwokerto Selatan, berdasarkan pedoman PERKENI 2021. Hasil menunjukkan bahwa regimen didominasi oleh terapi kombinasi dua obat (55,95%) dan seluruh terapi yang diberikan telah 100% sesuai dengan dosis dan frekuensi harian PERKENI 2021. Meskipun demikian, ditemukan 27,38% pasien mengalami ESO, dengan total 74 kejadian potensial, dan efek samping yang paling banyak dilaporkan adalah gangguan muskuloskeletal (29,7%), yang dikaitkan dengan penggunaan metformin dan glimepirid. Tindak lanjut terhadap ESO yang dilaporkan hanya mencapai 56,52%, menunjukkan perlunya peningkatan dalam manajemen dan pemantauan efek samping obat meskipun kepatuhan dosis sudah sangat baik.This prospective descriptive observational study aimed to evaluate the suitability of oral antidiabetic drug (OAD) dosing and the monitoring of Adverse Drug Reactions (ADRs) among Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) patients at Purwokerto Selatan Primary Health Center, based on the PERKENI 2021 guidelines. The results showed that the therapy regimen was dominated by two-drug combination therapy (55.95%), and critically, all OAD use was 100% compliant with the minimum, maximum, and daily frequency doses set by PERKENI 2021. However, 27.38% of patients reported experiencing ADRs, totaling 74 potential events, with the most frequently reported side effect being musculoskeletal disorders (29.7%), attributed to the use of metformin and glimepiride. Only 56.52% of reported ADRs were followed up, highlighting an area for improvement in ADR management and monitoring, despite the high level of adherence to dosing guidelines.
4748350859F1A021044STRATEGI PEMUDA DALAM MEMPERKENALKAN WISATA PERKOTAAN BANYUMAS MELALUI WALKING TOUR: STUDI FENOMENOLOGI PADA KOMUNITAS MLAMPAH SARENGPenelitian ini berfokus mengkaji strategi yang diterapkan oleh komunitas Mlampah Sareng dalam upaya memperkenalkan potensi perkotaan Banyumas melalui kegiatan walking tour. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdirinya Mlampah Sareng dilatarbelakangi oleh rasa penasaran dan ketertarikan dari sekelompok pemuda terhadap potensi wisata di perkotaan Banyumas. Adapun strategi yang diterapkan oleh Mlampah Sareng diantaranya penciptaan visual branding, promosi melalui media sosial dan pembuatan suvenir, membangun kolaborasi, dan eksplorasi ide serta inovasi program kegiatan. Selama berdiri, Mlampah Sareng memiliki peluang berupa kegiatan yang variatif namun tetap bermuatan potensi lokal, branding sosial media yang baik, dan kesempatan berkolaborasi bersama pemerintah. Adapun kendala yang dihadapi oleh Mlampah Sareng yaitu sumber daya manusia yang mulai berkurang, kendala teknis dan komunikasi dengan peserta, dan menurunnya minat peserta kegiatan di Banyumas. Melalui kegiatan walking tour tersebut, Mlampah Sareng dapat berkontribusi menciptakan alternatif metode berwisata di Banyumas.community in an effort to introduce the urban potential of Banyumas through walking tour activities. Using qualitative methods with a phenomenological approach, this study utilized in-depth interviews, observation, and documentation as data collection methods. The results showed that the establishment of Mlampah Sareng was motivated by the curiosity and concern of a group of young people about the tourism potential in Banyumas urban areas. The strategies implemented included creating visual branding, promotion through social media and souvenir making, building collaborations, and exploring ideas and innovations in activity programs. During its existence, Mlampah Sareng had opportunities in the form of varied activities that still contained local potential, good social media branding, and opportunities to collaborate with the government. The obstacles faced by Mlampah Sareng were decreasing human resources, technical and communication problems with participants, and declining interest in activities in Banyumas. Through these walking tours, Mlampah Sareng can contribute to creating alternative methods of tourism in Banyumas.
4748450898F1F021010Keberhasilan Diaspora Korea Selatan Mindan dalam Mobilisasi Praktik Budaya Lintas Batas Korean Wave di Jepang (2022-2024)Hubungan dinamis antara Korea Selatan dan Jepang yang kerap diwarnai isu historis telah menjadikannya salah satu kawasan dengan tingkat ketegangan diplomatik yang fluktuatif di Asia Timur. Namun, momentum politik terkait dilantiknya Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol pada 2022 membuka ruang kolaborasi baru bagi kedua negara. Perubahan situasi ini tidak hanya berdampak pada hubungan politik, tetapi juga mendorong pertukaran nilai dan budaya yang lebih intensif. Jepang menempati posisi tiga besar dengan jumlah diaspora Korea Selatan terbanyak secara global, sehingga memungkinkan diaspora Korea Selatan berperan sebagai aktor transnasional tetap aktif meskipun menghadapi stereotip anti-Korea yang berakar pada ketegangan historis kedua negara. Penelitian ini menggunakan konsep cultural flows oleh Arjun Appadurai yang terdiri dari ethnoscapes, ideoscapes, mediascapes, technoscapes, dan financescapes dalam melihat suatu fenomena global yang digerakkan oleh aktor diaspora. Oleh karena itu, temuan penelitian ini akan menunjukkan bahwa keberhasilan diaspora Korea Selatan Mindan dipengaruhi oleh posisi strategisnya sebagai diaspora aktif. Mindan
mampu memanfaatkan arus budaya global tersebut untuk memperkuat citra positif identitas budaya Korea Selatan melalui fenomena Korean Wave di Jepang.
The dynamic relationship between South Korea and Japan is frequently shaped by unresolved historical issues, positioning both countries within a region marked by fluctuating diplomatic tensions in East Asia. Despite these challenges, the inauguration of South Korean President Yoon Suk Yeol in 2022 created new political momentum, reopening opportunities for collaboration. This shift has influenced not only political relations, but also encouraged a more active exchange of cultural values between the two societies. Japan ranks among the top three countries with the largest South Korean diaspora population worldwide. This allows the Korean diaspora to function as a transnational actor, remaining active despite persistent anti-Korean Wave stereotypes rooted in historical disputes between the two nations. This research employs Arjun Appadurai’s concept of cultural flows (ethnoscapes, ideoscapes, mediascapes, technoscapes and financescapes) to examine global cultural dynamics driven by diaspora actors. The findings suggest that the success of the South Korean diaspora organisation Mindan is due to its strategic position as an active diaspora community. Mindan effectively harnesses global cultural flows to strengthen South Korea's positive cultural identity through the diffusion of the Korean Wave in Japan.
4748550906I1C020068FORMULASI SABUN CAIR MINYAK ATSIRI KULIT
KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) SEBAGAI
ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus epidermidis
Penyakit kulit akibat bakteri seperti Staphylococcus epidermidis masih epidermids sering dijumpai di Indonesia. Salah satu upaya pencegahannya adalah dengan penggunaan sabun antibakteri. Minyak atsiri kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa aktif sinamaldehid yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sabun cair dengan variasi konsentrasi minyak atsiri kayu manis serta mengevaluasi sifat fisik, stabilitas, dan aktivitas antibakterinya terhadap S. epidermidis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga variasi konsentrasi minyak atsiri kayu manis, yaitu 0,5%, 1%, dan 2%. Evaluasi dilakukan terhadap parameter organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, tinggi busa, serta stabilitas fisik (freeze-thaw). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran terhadap Staphylococcus epidermidis, menggunakan sabun cair Dettol sebagai kontrol positif. Peningkatan konsentrasi minyak atsiri kayu manis memengaruhi warna, aroma, kekentalan, dan kestabilan sediaan. Formula F2 dan F3 memenuhi kriteria pH, viskositas, dan kestabilan busa sesuai dengan standar SNI. Hasil uji antibakteri menunjukkan diameter zona hambat sebesar 12,0 mm (kontrol positif), 21,5 mm (F0), 22,0 mm (F1), 25,2 mm (F2), dan 29,5 mm (F3). Formula F2 dan F3 dikategorikan memiliki daya hambat antibakteri sangat kuat. Variasi konsentrasi minyak atsiri kayu manis berpengaruh terhadap sifat fisik dan aktivitas antibakteri sabun cair. Formula F3 dengan konsentrasi 2% menunjukkan hasil terbaik dengan zona hambat terbesar terhadap Staphylococcus epidermidis.

Skin infections caused by bacteria such as Staphylococcus epidermidis are still
‎common in Indonesia. One preventive approach is using antibacterial soap. Cinnamon
‎essential oil (Cinnamomum burmannii) contains cinnamaldehyde, an active compound with
‎natural antibacterial potential. This study aimed to formulate liquid soap with varying
‎concentrations of cinnamon essential oil and to evaluate its physical properties, stability, and
‎antibacterial activity against S. epidermidis.
‎Methodology: This experimental study used three concentrations of cinnamon essential oil:
‎0.5%, 1%, and 2%. The formulations were evaluated for organoleptic properties,
‎homogeneity, pH, viscosity, spreadability, foam height, and physical stability using the
‎freeze-thaw method. Antibacterial activity was tested by the well diffusion method against
‎Staphylococcus epidermidis, using Dettol liquid soap as a positive control. Increasing concentrations of cinnamon essential oil affected the color, aroma,
‎viscosity, and stability of the formulations. Formulas F2 and F3 met the pH, viscosity, and
‎foam stability requirements according to SNI standards. The antibacterial activity test
‎showed inhibition zones of 12.0 mm (positive control), 21.5 mm (F0), 22.0 mm (F1), 25.2
‎mm (F2), and 29.5 mm (F3). Formulas F2 and F3 exhibited very strong antibacterial activity.
The variation in cinnamon essential oil concentration influenced the physical
‎properties and antibacterial activity of the liquid soap. Formula F3 (2%) provided the best
‎result with the largest inhibition zone against Staphylococcus epidermidis.
4748650897F1D021055EKONOMI POLITIK IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG PERPARKIRAN DI KABUPATEN BANYUMAS Sistem perparkiran di Kabupaten Banyumas menghadapi persoalan kompleks seperti maraknya parkir liar, ketidaksesuaian tarif dengan regulasi, serta kebocoran retribusi yang menyebabkan pendapatan daerah tidak mencapai target.Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan perparkiran dalam perspektif ekonomi politik dengan menyoroti distribusi sumber daya, kepentingan aktor, serta kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi dengan pemilihan informan secara purposive sampling. Teori kelembagaan Douglas Cecil North digunakan untuk memahami dinamika institusi formal dan informal dalam penyelenggaraan perparkiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikasi dan pelaksanaan kebijakan belum optimal akibat lemahnya pengawasan, perbedaan kepentingan antar aktor, serta praktik informal seperti ketidakpatuhan juru parkir dalam penyetoran retribusi. Masyarakat juga mengalami beban tarif yang tidak sesuai aturan, sementara pemerintah daerah menghadapi keterbatasan sumber daya dalam pengawasan.Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan kebijakan perparkiran di Banyumas sangat dipengaruhi oleh kapasitas kelembagaan, transparansi ekonomi, serta legitimasi politik. Reformasi tata kelola, peningkatan pengawasan, dan perbaikan mekanisme kerja sama diperlukan untuk memaksimalkan potensi PAD dari sektor perparkiran.The parking system in Banyumas Regency faces complex problems such as rampant illegal parking, tariffs that do not comply with regulations, and leakage of retribution, which causes regional income to fall short of targets. This study aims to analyze the implementation of parking policies from a political economy perspective by highlighting the distribution of resources, the interests of actors, and their contribution to Regional Original Income. The method used is descriptive qualitative through in-depth interviews, field observations, and documentation studies with purposive sampling of informants. Douglas Cecil North's institutional theory is used to understand the dynamics of formal and informal institutions in parking management. The results show that the implications and implementation of the policy are not yet optimal due to weak supervision, differences in interests among actors, and informal practices such as non-compliance by parking attendants in paying fees. The community also experiences tariff burdens that are not in accordance with regulations, while local governments face resource constraints in supervision. This study concludes that the success of parking policies in Banyumas is greatly influenced by institutional capacity, economic transparency, and political legitimacy. Governance reform, increased supervision, and improved cooperation mechanisms are needed to maximize the potential of local revenue from the parking sector.
4748750887L1A021072PENGARUH LOKASI PENJUALAN TERHADAP HARGA IKAN DI E-COMMERCE, PASAR TRADISIONAL, TPI DAN SUPERMARKET KABUPATEN CILACAPPenelitian ini berjudul analisis pengaruh lokasi penjualan terhadap harga ikan di Kabupaten Cilacap. Harga ikan bervariasi antar lokasi karena perbedaan distribusi, biaya operasional, dan penanganan produk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lokasi penjualan terhadap harga ikan bandeng, tongkol, dan kembung. Metode penelitian menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner pada 10 pedagang dan 10 konsumen. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan harga yang signifikan antar lokasi dengan nilai F 13,96 dan p < 0,001. Harga terendah ada di TPI dan tertinggi ada di supermarket serta e-commerce. Konsumen memilih lokasi berdasarkan kualitas dan kenyamanan.This study examines the influence of sales location on fish prices in Cilacap Regency. Fish prices vary across locations because of differences in distribution, operational costs, and product handling. The purpose of this research is to identify how sales location affects the prices of milkfish, tuna, and mackerel. The research methods include observation, interviews, and questionnaires involving 10 sellers and 10 consumers. The results show significant price differences across locations with an F value of 13.96 and p < 0.001. The lowest prices are found at the Fish Auction Place and the highest prices at supermarkets and e commerce. Consumers choose locations based on quality and convenience.
4748850888A1A021005FAKTOR YANG MEMENGARUHI PARTISIPASI PASAR LELANG DAN KESEJAHTERAAN PETANI CABAI RAWIT DI KECAMATAN NGOMBOL KABUPATEN PURWOREJOPetani cabai rawit di Kecamatan Ngombol menghadapi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraannya, terkait dengan akses pasar yang terbatas dan
fluktuasi harga jual. Partisipasi dalam pasar lelang dianggap sebagai salah satu
solusi potensial untuk memperoleh harga yang lebih baik dan meningkatkan
penerimaan serta kesejahteraan mereka. Meskipun demikian, tidak semua petani
aktif mengikuti pasar lelang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh partisipasi petani cabai
rawit dalam pasar lelang terhadap tingkat kesejahteraannya di Kecamatan Ngombol,
Kabupaten Purworejo. Data dikumpulkan dari 93 petani melalui kuesioner,
wawancara, dan studi mendalam. Dengan sejumlah 48 petani yang mengikuti pasar
lelang dan 45 yang tidak. Metode penelitian ini menggunakan analisis statistik
deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik responden serta model dua tahap
Heckman untuk mengetahui factor-faktor yang memengaruhi partisipasi terhadap
kesejahteraan. Pada tahap pertama uji Heckman, dilakukan uji probit untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi petani cabai rawit
dalam pasar lelang. Sedangkan pada tahap kedua, regresi OLS digunakan untuk
mengetahui faktor partisipasi terhadap kesejahteraan petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani cabai rawit yang berpartisipasi
dalam pasar lelang memiliki karakteristik rata-rata usia 52 tahun (usia produktif),
pendidikan tingkat SMA, luas lahan kurang dari 0,5 hektar, lahan milik pribadi,
harga jual cabai antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, dengan
penerimaan usahatani lebih dari Rp8.000.000 dan pengeluaran antara Rp2.000.000
sampai Rp9.000.000. Mekanisme pasar lelang berlangsung setiap Hari Senin
sampai Sabtu malam dengan sistem tertutup. Proses dimulai dengan petani
menyetorkan cabainya, kemudian pembeli besar melakukan penawaran melalui
WhatsApp, sampai cabai rawit diambil langsung di pasar lelang oleh pembeli. Hasil
analisis Heckman artinya 𝐻0 ditolak sedangkan 𝐻1 diterima. Faktor-faktor yang
memengaruhi partisipasi petani adalah usia, tingkat pendidikan, jarak ke pasar, dan
harga jual cabai rawit. Usia, pendidikan, dan harga jual berpengaruh positif
terhadap partisipasi, sedangkan jarak ke pasar berpengaruh negatif. Selain itu,
faktor yang signifikan memengaruhi kesejahteraan petani meliputi tingkat
pendidikan, jumlah anggota keluarga, status kepemilikan lahan, dan total
penerimaan.
Chili pepper farmers in Ngombol District face challenges in improving their
welfare due to limited market access and fluctuating selling prices. Participation in
auction markets is considered a potential solution to obtain better prices and
improve their income and welfare. However, not all farmers actively participate in
auction markets.
This study aims to determine the effect of chili pepper farmer participation in
auction markets on their welfare in Ngombol District, Purworejo Regency. Data
were collected from 93 farmers through questionnaires, interviews, and in-depth
studies. Forty-eight farmers participated in auction markets and 45 did not. This
research method used descriptive statistical analysis to identify respondent
characteristics and a two-stage Heckman model to identify factors influencing
participation and welfare. In the first stage, a probit Heckman test was conducted
to identify factors influencing chili pepper farmer participation in auction markets.
In the second stage, OLS regression was used to determine the impact of
participation on farmer welfare.
The results of the study indicate that cayenne pepper farmers who participated
in the auction market have the characteristics of an average age of 52 years
(productive age), high school education, land area less than 0.5 hectares, privately
owned land, chili selling price between Rp50,000 to Rp60,000 per kilogram, with
farm income of more than Rp8,000,000 and expenses between Rp2,000,000 to
Rp9,000,000. The auction market mechanism takes place every Monday to Saturday
night with a closed system. The process begins with farmers depositing their chilies,
then large buyers make offers via WhatsApp, until the cayenne peppers are taken
directly at the auction market by buyers. The results of the Heckman analysis mean
that H_0 is rejected while H_1 is accepted. Factors that influence farmer
participation are age, education level, distance to the market, and the selling price
of cayenne pepper. Age, education, and selling price have a positive effect on
participation, while distance to the market has a negative effect. In addition,
significant factors influencing farmer welfare include education level, number of
family members, land ownership status, and total income.
4748950890F1F021016Kebijakan Unorthodox Era Pemerintahan Erdogan Dalam Menghadapi Inflasi Turki Tahun 2021-2023Inflasi Turki pada tahun 2021-2023, menimbulkan ketidakstabilan kondisi ekonomi, sosial hingga politik. Pemerintahan Erdogan berupaya merespon krisis ekonomi melalui kebijakan unorthodox atau pemangkasan suku bunga. Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan dan sorotan para ekonom hingga dunia internasional, karena pemangkasan suku bunga saat terjadi inflasi jarang diterapkan oleh suatu negara karena sangat beresiko. Dinamika penerapan kebijakan ini tentu tidak terlepas dari peran Erdogan untuk tetap menerapkan kebijakan yang berbeda dengan kebijakan moneter konvensional dibantu oleh lembaga yang berwenang terkait kebijakan ekonomi yaitu TCMB (Turkiye Cumhuriyet Markaz Bankasi) atau bank sentral Turki. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis alasan dibalik penerapan kebijakan unorthodox untuk menghadapi inflasi Turki tahun 2021-2023 dengan menggunakan teori populisme neoliberal yang mencakup narasi populis dan kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah selama ketidakstabilan ekonomi, sosial, dan politik di tahun tersebut.Turkey’s inflation in 2021-2023 caused economic, social, and political instability. The Erdogan administration attempted to respond to the economic crisis trough unorthodox policies or interest rate cuts. This policy raised questions and attracted attention from economist and the international community, as interest rate cuts during inflation are rarely implemented by countries due to the high risk involved. The dynamics of this policy implementation are inseperable from Erdogan’s role in continuing to implement policies that differ from conventional monetery policies, assisted by the instituion responsible for economic policy, TCMB (Turkiye Cumhuriyet Markaz Bankasi) or the Turkish Central Bank. Therefore, this study analyzes the reasons behind the implementation of unorthodox policies to deal with inflation in Turkey 2021-2023 using the theory of neoliberal populism, which includes populist narratives and economic policies implemented by the government during economic, social, and political instability in those years.
4749050889A1C021030Pengaruh Perbedaan Electrical Conductivity (EC) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kubis (Brassica Oleracea L.) secara Floating Hydroponic System (FHS) di Dataran RendahKubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak di budidayakan masyarakat Indonesia serta memiliki banyak kandungan gizi. Budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik memerlukan pengaturan jumlah komposisi larutan nutrisi secara tepat karena nilai EC (electrical conductivity) berperan penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman. Kesesuaian nilai EC yang optimal tidak hanya menentukan produktivitas, tetapi juga mempengaruhi kualitas produk sayuran yang dihasilkan secara hidroponik. Tujuan dari penelitian ini 1) mempelajari nilai electrical conductivity (EC) yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kubis pada floating hydroponic system (FHS) di dataran rendah dan 2) mempelajari pertumbuhan dan hasil varietas kubis pada floating hydroponic system (FHS) di dataran rendah.
Penelitian dilaksanakan di greenhouse tipe piggy back, Experimental Farm (Kebun Percobaan), Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman bulan April 2025 sampai dengan Juli 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan menggunakan 2 faktor yaitu nilai EC (Electrical Conductivity) (E) dan varietas kubis (K). Variabel yang diamati dalam penelitian ini mencakup pengamatan nilai EC larutan nutrisi, pH larutan nutrisi, suhu udara, kelembaban relatif, intensitas cahaya matahari, tinggi tanaman, panjang akar, jumlah daun, diameter krop dan berat segar krop kubis. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA (Analysis of Variance) pada taraf 5% dan uji lanjut DMRT (Duncan’ Multiple Range Test) dengan taraf kesalahan 5 %.
Hal pengamatan iklim mikro tercatat bahwa kondisi rata-rata di dalam greenhouse lebih rendah dibandingkan di luar greenhouse. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan nilai EC berpengaruh sangat nyata terhadap variabel tinggi tanaman, panjang akar, jumlah daun dan diameter krop tanaman kubis. Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman kubis. Nilai EC 2.5 mS/cm merupakan tingkat kepekatan larutan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kubis di dataran rendah pada floating hydroponic system dan varietas Sumgreen F1 merupakan varietas tanaman kubis dataran rendah yang sesuai untuk dibudidayakan pada floating hydroponic system.
Cabbage (Brassica oleracea L.) is a horticultural commodity with high economic value, widely cultivated in Indonesia, and boasts a rich nutritional content. Hydroponic cultivation requires precise nutrient solution composition because electrical conductivity (EC) plays a crucial role in plant growth and yield. Optimal EC values not only determine productivity but also influence the quality of hydroponically produced vegetables. The objectives of this study were: 1) to determine the optimal electrical conductivity (EC) values for cabbage growth and yield in a floating hydroponic system (FHS) in the lowlands, and 2) to study the growth and yield of cabbage varieties in a floating hydroponic system (FHS) in the lowlands.
The study was conducted in a piggyback greenhouse at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from April 2025 to July 2025. A completely randomized design (CRD) was used, with two factors: electrical conductivity (E) and cabbage variety (K). The variables observed in this study included the EC value of the nutrient solution, the pH of the nutrient solution, air temperature, relative humidity, sunlight intensity, plant height, root length, number of leaves, head diameter, and fresh weight of cabbage heads. Data analysis was performed using ANOVA (Analysis of Variance) at the 5% level and further using the Duncan's Multiple Range Test (DMRT) with a 5% margin of error.
Microclimate observations revealed that the average temperature inside the greenhouse was lower than outside the greenhouse. Analysis of variance (ANOVA) results showed that the EC value treatment significantly affected plant height, root length, number of leaves, and head diameter of cabbage plants. Variety treatment significantly affected plant height and leaf number. An EC value of 2.5 mS/cm is the optimal nutrient solution concentration for cabbage growth and yield in lowland areas using a floating hydroponic system, and the Sumgreen F1 variety is a lowland cabbage variety suitable for cultivation in a floating hydroponic system.
4749150894A1D021203Pemberian Pupuk Organik dan Biochar Plus Terhadap Kerapatan Stomata Ubi Jalar Putih (Ipomoea batatas L.)Selama lima tahun terakhir, produksi dan luas panen ubi jalar berfluktuasi sehingga diperlukan penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan produktivitas. Pemanfaatan limbah organik seperti kotoran sapi, kotoran kambing, tongkol jagung, dan azolla sebagai pupuk maupun biochar menjadi salah satu Solusi memperbaiki permasalahan tersebut sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik, mengetahui pengaruh aplikasi biochar plus, dan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik dan biochar plus terhadap kerapatan stomata ubi jalar putih. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Waktu penelitian dimulai pada September 2024 hingga Agustus 2025. Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas dua faktor kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan pupuk organik (O), yaitu O0 = tanpa pupuk organik; O1 = pupuk organik sapi; O2 = pupuk organik kambing. Faktor kedua adalah perlakuan biochar (B), yaitu B1 = biochar; B2 = biochar plus POC air leri; B3 = biochar plus azolla. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk organik belum mampu meningkatkan kerapatan stomata tanaman ubi jalar putihOver the past five years, sweet potato production and harvest area have fluctuated, requiring the application of appropriate cultivation technologies to increase productivity. The use of organic waste such as cow manure, goat manure, corn cobs, and azolla as fertilizer and biochar is one solution to this problem while also reducing environmental pollution. This study aims to determine the effect of organic fertilizer application, the effect of biochar plus application, and the effect of organic fertilizer and biochar plus application on the stomatal density of white sweet potatoes. This study was conducted in Bobosan Village, North Purwokerto District, Banyumas Regency, and the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture. The research period was from September 2024 to August 2025. A factorial randomized block design (RAK) consisting of two treatment combinations was used. The first factor was organic fertilizer treatment (O), namely O0 = no organic fertilizer; O1 = cow manure; O2 = goat manure. The second factor is biochar treatment (B), namely B1 = biochar; B2 = biochar plus POC water leachate; B3 = biochar plus azolla. The data obtained were analyzed using the F test and if there were significant differences, they were followed up with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the application of organic fertilizer was not able to increase the stomatal density of white sweet potato plants
4749250810A1A020076Strategi Pengembangan Usaha Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) di Tiram Lestari, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas Jamur tiram adalah jamur yang mudah dibudidayakan, sehingga banyak usaha yang mengembangkan budidaya ini, termasuk Tiram Lestari. Semakin banyaknya pesaing yang sejenis mengharuskan Tiram Lestari untuk memperbaiki usaha agar dapat bersaing di pasaran. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui gambaran model usaha jamur tiram di Tiram Lestari menggunakan business model canvas (BMC), 2) merumuskan alternatif strategi pengembangan yang tepat dan dapat diterapkan di Tiram Lestari, 3) menentukan prioritas strategi pengembangan jamur tiram yang sesuai untuk mengembangkan Tiram Lestari.
Penelitian dilaksanakan di Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober hingga November 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus dan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan metode purposive sampling sebanyak 25 orang. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan business model canvas (BMC), SWOT dan QSPM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Customer segment Tiram Lestari ditujukan untuk segala kalangan masyarakat di wilayah daerah Nusadadi Sumpiuh dan sekitarnya yang gemar mengonsumsi jamur. Value Propositions yang dimiliki yaitu harga terjangkau, kualitas baik, dan harga terjangkau. Channel yang dimiliki berupa penjualan langsung di perusahaan, media sosial (whatsapp), dan word of mouth. Customer Relationship berupa personal assistance, dedicated personal assistance. Revenue Streams hanya berasal dari keuntungan penjualan produk. Key Resources terdiri dari tempat produksi, sumber daya manusia, dan modal. Key Activities dengan melakukan produksi jamur tiram dan pemasaran. Key Partnership dalam menjalankan bisnis bermitra dengan pemasok serbuk kayu, dan pesaing lain. Cost Structure terdiri dari biaya operasional dan gaji karyawan. Alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh Tiram Lestari yaitu penetrasi pasar guna mempertahankan pangsa pasar dan mengembangkan produk yang mampu menghasilkan tujuh alternatif strategi sebagai sarana untuk mengoptimalkan promosi dan mempertahankan kualitas produk. Prioritas alternatif strategi usaha yang layak dipertimbangkan dalam melakukan pengembangan usaha jamur tiram yaitu dengan melakukan perluasan pasar dan promosi menggunakan internet untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tetapi diikuti dengan pengembangan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan.
Oyster mushrooms are easy to cultivate, which is why many businesses, including Tiram Lestari, are developing this cultivation strategy. The increasing number of competitors requires Tiram Lestari to improve its business to remain competitive in the market. This study aims to: 1) describe the oyster mushroom business model at Tiram Lestari using the Business Model Canvas (BMC); 2) formulate appropriate alternative development strategies that can be implemented at Tiram Lestari; and 3) determine the priority oyster mushroom development strategies appropriate for Tiram Lestari's growth.
The study was conducted in Nusadadi Village, Sumpiuh District, Banyumas Regency, from October to November 2024. The research method used was a case study and a qualitative descriptive approach. The informants were selected using purposive sampling, with 25 participants. Data analysis used the Business Model Canvas (BMC), SWOT Analysis, and QSPM.
The results of the study show that the Tiram Lestari customer segment is aimed at all communities in the Nusadadi Sumpiuh area and its surroundings who enjoy consuming mushrooms. Its value propositions are affordable prices, good quality, and affordable prices. Its channels include direct sales at the company, social media (WhatsApp), and word of mouth. Customer relationships take the form of personal assistance and dedicated personal assistance. Revenue Streams come solely from product sales profits. Key Resources consist of production facilities, human resources, and capital. Key Activities include oyster mushroom production and marketing. Key Partnerships in running the business involve partnerships with wood powder suppliers and other competitors. The Cost Structure consists of operational costs and employee salaries. Alternative strategies that can be implemented by Tiram Lestari are market penetration to maintain market share and develop products that can generate seven alternative strategies as a means to optimize promotion and maintain product quality. The priority alternative business strategies that should be considered in developing the oyster mushroom business are market expansion and promotion using the internet to reach a wider range of consumers, followed by the development of the company's technology.
4749350895A1A021021Model Theory of Planned Behavior dalam Prediksi Niat Konsumen untuk Membeli Buah Segar dengan Moderasi Kesadaran Pola Makan SehatKonsumsi buah segar di Indonesia masih rendah, yaitu rata-rata 145,57 gram per kapita per hari, jauh di bawah rekomendasi WHO sebesar 400 gram. Rendahnya konsumsi buah segar perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Meskipun konsumsi buah segar di Purwokerto masih rendah, tingginya angka status gizi normal menunjukkan adanya kesadaran pola makan sehat di masyarakat melalui gaya hidup sehat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat pembelian buah segar, serta menguji peran kesadaran pola makan sehat sebagai variabel moderasi dan mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi niat.
Penelitian ini dilakukan di 16 lokasi, meliputi supermarket dan kios buah di Purwokerto, yang dipilih secara purposive berdasarkan variasi jenis penjual, aksesibilitas tinggi, serta keberlangsungan usaha minimal dua tahun. Sebanyak 168 responden ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria berusia18-65 tahun dan telah membeli buah segar minimal dua kali dalam tiga bulan terakhir, sementara pengambilan sampel di lapangan dilakukan secara accidental sampling. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation
Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS) menggunakan software SmartPLS 4.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruk Theory of Planned Behavior (sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku) berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian buah segar. Kesadaran pola makan sehat terbukti memoderasi secara positif hubungan antara sikap dan niat pembelian, namun tidak memoderasi hubungan norma subjektif maupun persepsi kontrol perilaku terhadap niat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh kesadaran pola makan sehat bersifat selektif hanya pada aspek evaluatif pribadi, bukan pada faktor sosial atau situasional. Norma subjektif muncul sebagai faktor paling dominan yang membentuk niat pembelian buah segar.
Fresh fruit consumption in Indonesia remains low, averaging 145.57 grams per capita per day, far below the WHO recommendation of 400 grams. This low
consumption level warrants serious attention due to its potential negative impact on public health. Although fresh fruit consumption in Purwokerto is still below the recommended level, the high proportion of individuals with normal nutritional status indicates an increasing awareness of healthy eating habits through a healthy lifestyle. This study aims to analyze the influence of attitude, subjective norm, and
perceived behavioral control on the intention to purchase fresh fruit, as well as to examine the moderating role of health-consciousness and identify the main factors influencing purchase intention.
The research was conducted at 16 locations, including supermarkets and fruit stalls in Purwokerto, purposively selected based on variations in vendor types, high accessibility, and at least two years of business continuity. A total of 168 respondents were determined through purposive sampling with criteria of being18–65 years old and having purchased fresh fruit at least twice in the past three months, while field data collection employed accidental sampling. Data were analyzed using the Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) method with SmartPLS 4.0 software.
The findings reveal that the Theory of Planned Behavior constructs attitude, subjective norm, and perceived behavioral control positively and significantly influence the intention to purchase fresh fruit. Health-consciousness was found to positively moderate the relationship between attitude and purchase intention but did not moderate the relationship between subjective norm or perceived behavioral control and intention. These results suggest that the effect of health-consciousness
is selective, operating mainly through personal evaluative aspects rather than social or situational factors. Subjective norm emerged as the most dominant factor shaping consumers’ purchase intentions for fresh fruit.
4749450896F1D021053POLITIK KETAHANAN PANGAN DI PEDESAAN ANALISIS ACTOR NETWORK THEORY DALAM KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN DI DESA GUNUNGLURAH, CILONGOKPenelitian ini menganalisis dinamika kebijakan ketahanan pangan di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas dengan menggunakan pendekatan Actor Network Theory (ANT). Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana aktor manusia dan non-manusia berinteraksi dalam proses perumusan hingga implementasi kebijakan ketahanan pangan di tingkat lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ketahanan pangan di Desa Gununglurah mengalami transformasi dari pola bantuan langsung dan pembangunan infrastruktur menuju pola usaha produktif berbasis BUMDes “Berkah Mulia”. Pemerintah desa berperan sebagai aktor dominan dalam perumusan dan pengalokasian dana desa sebesar 20% untuk ketahanan pangan, sementara BUMDes menjadi aktor strategis dalam pelaksanaan teknis melalui unit usaha pertanian dan peternakan. Masyarakat berperan ganda sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat program. Faktor non-manusia seperti regulasi (Kepmendesa PDTT No. 3 Tahun 2025), dana desa, dan lahan turut berperan penting sebagai penggerak jaringan kebijakan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan ketahanan pangan lokal sangat dipengaruhi oleh kolaborasi antaraktor manusia dan non-manusia dalam jaringan yang stabil dan berkelanjutan.This study analyzes the dynamics of food security policy in Gununglurah Village, Cilongok District, Banyumas Regency, using the Actor Network Theory (ANT) approach. The focus of the study is directed at how human and non-human actors interact in the formulation and implementation of food security policy at the local level. This study employed qualitative methods with case studies, through in-depth interviews, observation, and documentation. The results indicate that food security policy in Gununglurah Village has undergone a transformation from a direct assistance and infrastructure development model to a productive business model based on the Village-Owned Enterprise (BUMDes) "Berkah Mulia." The village government plays a dominant role in the formulation and allocation of 20% of village funds for food security, while the BUMDes plays a strategic role in technical implementation through agricultural and livestock business units. The community plays a dual role as both program actors and beneficiaries. Non-human factors such as regulations (Ministerial Decree of the Minister of Villages, Disadvantaged Regions, and Transmigration No. 3 of 2025), village funds, and land also play a crucial role as drivers of network policy. This study confirms that the success of local food security is greatly influenced by collaboration between humans and non-humans within a stable and sustainable network.
4749550901A1C021016Model Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Caisim pada Sistem Fertigasi Otomatis Nirdaya (FONi) dengan Ketinggian Air Berbeda Model pertumbuhan dan perkembangan tanaman memiliki peran penting dalam memahami interaksi kompleks antara faktor lingkungan dan proses internal tanaman secara kuantitatif. Model dapat memprediksi laju akumulasi biomassa dan respon tanaman terhadap perubahan kondisi lingkungan, sehingga menjadi alat strategis dalam perencanaan dan optimalisasi sistem budidaya. Terbatasnya lahan dan air akibat urbanisasi, yang menuntut efisiensi tinggi dalam produksi pangan. Dalam konteks tersebut, sistem Fertigasi Otomatis Nirdaya (FONi) hadir sebagai solusi inovatif pertanian perkotaan (urban farming) yang memungkinkan budidaya tanaman di area sempit dengan pengelolaan air dan nutrisi secara otomatis dan efisien. Penerapan model pada sistem FONi menjadi sangat relevan karena dapat menyimulasikan dan memprediksi produktivitas tanaman berdasarkan variasi kondisi lingkungan dan pengaturan air. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model untuk menduga biomassa tanaman caisim yang ditanam di berbagai komposisi media tanam pada sistem Fertigasi Otomatis Nirdaya (FONi) dengan ketinggian air 5 cm dan 10 cm. Kalibrasi dan validasi model dilakukan berdasarkan nilai light use efficiency (LUE) selama proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman caisim.
Model pada penelitian ini terdiri atas sub model pertumbuhan, sub model perkembangan, dan sub model neraca air. Ketiga sub model tersebut saling berkaitan dalam menentukan biomassa yang dihasilkan tanaman. Sub model pertumbuhan membutuhkan skala perkembangan tanaman (s) dari sub model perkembangan dan nilai faktor ketersediaan air (fw) dari sub model neraca air. Nilai s menentukan proporsi alokasi biomassa total ke setiap organ tanaman, sedangkan nilai fw menentukan biomassa aktual. Skala Penelitian dilaksanakan di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada Bulan Februari hingga Mei 2025. Data yang dikumpulkan yaitu data cuaca harian di sekitar area penelitian (radiasi matahari, suhu, hujan, kelembaban, dan kecepatan angin), irigasi, drainase, radiasi tajuk atas dan bawah tanaman, berat kering organ tanaman (akar, batang, dan daun).
Pada penelitian ini, model berhasil dikalibrasi dengan rentang LUE fase awal 0,22–0,37 g MJ⁻¹, sedangkan pada fase akhir meningkat menjadi 0,87–3,74 g MJ⁻¹. Grafik hasil simulasi model mengikuti tren yang serupa dengan hasil observasi dengan nilai koefisien determinasi (R2) mendekati 1. Galat pada model ini yaitu 36,09% (biomassa akar), 24,32% (biomassa batang), dan 26,89% (biomassa daun). Meskipun demikian, model tetap dapat merepresentasikan tren pertumbuhan dan akumulasi biomassa tanaman secara relevan terhadap data observasi.
Plant growth and development models play a crucial role in quantitatively understanding the complex interactions between environmental factors and internal plant processes. Models can predict the rate of biomass accumulation and plant responses to changing environmental conditions, thus becoming a strategic tool in planning and optimizing cultivation systems. Limited land and water resources due to urbanization demand high efficiency in food production. In this context, the Powerless Automated Fertigation (FONi) system presents itself as an innovative urban farming solution that enables crop cultivation in limited areas with automated and efficient water and nutrient management. The application of the model to the FONi system is highly relevant because it can simulate and predict crop productivity based on variations in environmental conditions and water management. This study aims to apply the model to estimate the biomass of Chinese cabbage (caisim) grown in various planting media compositions in the Powerless Automated Fertigation (FONi) system with water levels of 5 cm and 10 cm. Model calibration and validation were carried out based on light use efficiency (LUE) values during the growth and development of Chinese cabbage (caisim) plants.
The model in this study consists of a growth sub-model, a development sub-model, and a water balance sub-model. These three sub-models are interconnected in determining the biomass produced by plants. The growth sub-model requires a plant development scale (s) from the development sub-model and a water availability factor (fw) from the water balance sub-model. The s value determines the proportion of total biomass allocated to each plant organ, while the fw value determines the actual biomass. The study was conducted at the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from February to May 2025. Data collected included daily weather data around the study area (solar radiation, temperature, rainfall, humidity, and wind speed), irrigation, drainage, upper and lower canopy radiation, and dry weight of plant organs (roots, stems, and leaves).
In this study, the model was successfully calibrated with a LUE range of 0,22–0,37 g MJ⁻¹ in the initial phase, while it increased to 0,87–3,74 g MJ⁻¹ in the final phase. The model simulation results graph follows a similar trend to the observed results with a coefficient of determination (R2) value approaching 1. The model error is 36,09% (root biomass), 24,32% (stem biomass), and 26,89% (leaf biomass). Nevertheless, the model can still represent the growth trend and accumulation of plant biomass relevant to the observed data.
4749650902A1A021075Tingkat Kepuasan petani Terhadap Padi Inpago Unsoed Protani di Kelompok Tani Tirta Marga Mulyo Desa Bojanegra Kecamatan Padamara Kabupaten PurbalinggaPadi Inpago Unsoed Protani merupakan teknologi hasil pemuliaan padi yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan padi pada umumnya. Kelompok Tani Tirta marga Mulyo, telah mengadopsi Padi Inpago Protani sebagai varietas unggul yang digunakan dalam aktivitas bertani, penggunaan Padi Inpago Unsoed Protani tentunya harus terus dilakukan evaluasi dan perbaikan dari pengembang varietas agar penggunaannya lebih maksimal, namun penggunaan ini belum diketahui tingkat kepuasannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tingkat kepentingan petani Kelompok Tani Tirto Marga Mulyo terhadap Padi Inpago Unsoed Protani, (2) Mengetahui tingkat kepuasan petani Kelompok Tani Tirto Marga Mulyo terhadap Padi Inpago Unsoed Protani, (3) Mengetahui langkah perbaikan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan keberlanjutan penggunaan varietas Padi Inpago Unsoed Protani oleh petani Kelompok Tani Tirto Marga Mulyo.
Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2025 di Desa Bojanegara, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, dengan anggota Kelompok Tani Tirta Marga Mulyo sebagai fokus penelitian ini, dengan total sampel 46 anggota Kelompok. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) dengan menggunakan aplikasi R Studio.
Hasil Penelitian menunjukan (1) tingkat kepentingan petani terhadap penggunaan Padi Inpago Unsoed Protani memiliki rata-rata sebesar 4,39, dengan atribut yang berada di atas rata-rata tingkat kepentingan berdasarkan diagram analisis IPA meliputi hasil produksi, optimalisasi input, umur tanaman, hasil anakan, respon terhadap pupuk, kualitas gabah, kualitas benih, kegagalan panen rendah, ketahanan hama dan penyakit, ketahanan rebah, daya tahan terhadap perubahan iklim, penyimpanan, kemudahan budidaya, harga jual, penampilan gabah, warna beras, bentuk beras, dan rasa nasi. (2) tingkat kepuasan petani terhadap Padi Inpago Unsoed Protani memiliki rata-rata sebesar 4,05, dengan atribut di atas rata-rata tingkat kepuasan berdasarkan hasil diagram analisis IPA meliputi optimalisasi input, hasil anakan, respon terhadap pupuk, kualitas benih, kegagalan panen rendah, ketahanan hama dan penyakit, ketahanan rebah, daya tahan terhadap perubahan iklim, penyimpanan, kemudahan budidaya, bentuk beras, rasa nasi, tekstur nasi, dan aroma nasi. (3) hasil analisis Importance Performance Analysis terdapat enam atribut prioritas perbaikan, yaitu harga jual, penampilan gabah, warna beras, umur tanaman, kualitas gabah, dan hasil produksi. Upaya perbaikan difokuskan pada peningkatan harga jual melalui kebijakan harga gabah dan akses pasar; peningkatan kualitas dan penampilan gabah lewat pelatihan pascapanen serta penggunaan alat modern; perbaikan warna beras melalui pengeringan, penyosohan, dan inovasi varietas; pengaturan umur tanaman melalui budidaya efisien; serta peningkatan hasil produksi lewat sarana, teknologi, dan pendampingan penyuluh. Sinergi antara petani, penyuluh, pemerintah, dan pengembang varietas menjadi kunci peningkatan mutu, produktivitas, dan kepuasan petani secara berkelanjutan.
Inpago Protani rice is a technological innovation resulting from the breeding of a new superior rice variety that offers greater advantages compared to conventional rice. The Tirta Marga Mulyo Farmers Group has adopted Inpago Protani as the primary variety in their farming activities. However, its utilization requires continuous evaluation and improvement by breeders to optimize performance, while the level of farmer satisfaction with its use has not yet been fully understood. This study aims to (1) assess the level of importance of Inpago Protani rice attributes as perceived by the farmers of the Tirta Marga Mulyo Farmers Group, (2) evaluate their level of satisfaction, and (3) identify improvement strategies to enhance the performance and sustainability of Inpago Protani adoption.
The study employed a survey method and was conducted in April–May 2025 in Bojanegara Village, Padamara Sub-district, Purbalingga Regency, with a sample of 46 farmer members of the Tirta Marga Mulyo Farmers Group. Data analysis was carried out using descriptive statistics and the Importance Performance Analysis (IPA) approach with the support of R Studio software.
The research results show that (1) the importance level of farmers toward the use of Inpago Unsoed Protani rice variety has an average score of 4.39, with attributes above the average based on the IPA analysis diagram including yield, input optimization, plant age, number of tillers, fertilizer response, grain quality, seed quality, low crop failure, pest and disease resistance, lodging resistance, climate adaptability, storage, ease of cultivation, selling price, grain appearance, rice color, rice shape, and rice taste. (2) The satisfaction level of farmers with Inpago Unsoed Protani rice has an average score of 4.05, with attributes above the average including input optimization, number of tillers, fertilizer response, seed quality, low crop failure, pest and disease resistance, lodging resistance, climate adaptability, storage, ease of cultivation, rice shape, rice taste, rice texture, and aroma. (3) The Importance Performance Analysis (IPA) identified six priority attributes for improvement: selling price, grain appearance, rice color, plant age, grain quality, and yield. Improvement efforts should focus on increasing the selling price through fair pricing policies and market access; enhancing grain quality and appearance through post-harvest training and modern equipment; improving rice color through better drying, milling, and varietal innovation; optimizing plant age through efficient cultivation practices; and increasing yield through improved facilities, technology, and agricultural extension support. Collaboration among farmers, extension agents, government, and variety developers is essential to enhance quality, productivity, and farmer satisfaction sustainably.
4749750903A1A019103Tingkat Kepuasan Petani Padi Perlakuan Organik Terhadap Kualitas Pelayanan Penyuluhan Pertanian Desa Lemberang Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.Usahatani padi dengan perlakuan organik adalah sistem budidaya yang menggunakan metode dan input organik tanpa bahan kimia sintesis, namun belum tersertifikasi atau masih dalam masa transisi menuju organik penuh. Masa transisi menghadirkan tantangan teknis, ekonomi, dan kelembagaan. Oleh karena itu, peran penyuluh pertanian sangat krusial sebagai pendamping dan penghubung petani dengan sumber daya, seperti bahan baku organik dan informasi pasar. Kepuasan petani terhadap proses transisi bergantung pada sejauh mana penyuluh memenuhi kebutuhan teknis, informasi, dan akses tersebut. Penelitian ini bertujuan: (1) mengukur tingkat kepuasan petani padi terhadap kualitas layanan penyuluh dalam pendampingan padi organik; (2) menilai tingkat kepentingan atribut layanan; dan (3) merumuskan langkah perbaikan atribut layanan penyuluh di Desa Lemberang, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
Metode yang digunakan adalah studi kasus kuantitatif dengan sensus 16 petani pengguna perlakuan organik. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner Likert (dimensi service quality), didukung observasi dan studi pustaka. Validitas indikator berkisar 0,506–0,828 dan reliabilitas tinggi dengan nilai Cronbach’s alpha tingkat kepentingan sebesar 0,923 dan tingkat kepuasan sebesar 0,911. Analisis utama meliputi Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance Performance Analysis (IPA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan petani terhadap kinerja penyuluh pertanian termasuk kategori puas dengan nilai Customer Satisfaction Index (CSI) sebesar 76,75%. Atribut yang paling berpengaruh terhadap kepuasan petani ialah kejelasan komunikasi, keramahan, serta kecepatan tanggapan penyuluh terhadap kebutuhan di lapangan. Sementara itu, beberapa atribut yang perlu diperbaiki meliputi konsistensi hubungan jangka panjang antara penyuluh dan petani, ketepatan informasi, kepatuhan terhadap standar penyuluhan organik, serta ketersediaan sarana dan penampilan profesional penyuluh. Berdasarkan analisis Importance Performance Analysis (IPA), langkah-langkah perbaikan yang disarankan mencakup: (1) peningkatan pemantauan pasca-penyuluhan melalui kunjungan berkala; (2) pelatihan lanjutan bagi penyuluh terkait pertanian organik dan komunikasi partisipatif; (3) penyediaan media dan fasilitas pendukung yang memadai; (4) penguatan kerja sama dengan lembaga pertanian dan kelompok tani; serta (5) penerapan mekanisme umpan balik dua arah antara petani dan penyuluh. Pelaksanaan langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat kepercayaan petani terhadap penyuluh, serta mendorong keberlanjutan praktik padi organik di Desa Lemberang hingga mencapai kategori sangat puas.
Rice farming that employs organic treatments is a cultivation system based on organic methods and inputs without synthetic chemicals; however, it has not yet been certified or remains in transition toward fully organic status. The transition period poses technical, economic, and institutional challenges. Consequently, agricultural extension agents play a crucial role as facilitators and intermediaries linking farmers to necessary resources, such as organic inputs and market information. Farmers’ satisfaction with the transition process depends on the extent to which extension agents meet these technical, informational, and access needs. This study therefore aims to (1) measure farmers’ satisfaction with the quality of extension services during organic rice production assistance, (2) assess the importance of service attributes, and (3) formulate improvement measures for extension service attributes in Desa Lemberang, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
The study employed a quantitative case-study design with a census of 16 farmers practicing organic treatments. Primary data were collected using Likert-scale questionnaires based on service-quality dimensions and were complemented by observations and literature review. Indicator validity coefficients ranged from 0.506 to 0.828, and instrument reliability was high (Cronbach’s alpha = 0.923 for importance and 0.911 for satisfaction). The main analyses comprised the Customer Satisfaction Index (CSI) to calculate aggregated satisfaction and Importance–Performance Analysis (IPA) to map service attributes into priority quadrants for improvement.
The results indicate that farmers’ satisfaction with the performance of agricultural extension officers was satisfied, with a Customer Satisfaction Index (CSI) score of 76.75%. The most influential factors contributing to satisfaction were clear communication, friendliness, and the officers’ responsiveness to farmers’ needs. Conversely, attributes requiring improvement include the consistency of long-term relationships, accuracy of information, compliance with organic extension standards, and adequacy of facilities and staff professionalism. Based on the Importance Performance Analysis (IPA), the recommended improvements comprise: (1) strengthening post-extension monitoring through periodic visits; (2) providing advanced training on organic farming and participatory communication; (3) improving supporting media and extension facilities; (4) enhancing collaboration with agricultural institutions and farmer groups; and (5) developing a two-way feedback mechanism between farmers and extension officers. These efforts are expected to enhance service quality, build farmers’ trust, and promote the long-term sustainability of organic rice farming in Lemberang Village, ultimately raising satisfaction to the very satisfied level.
4749850907B1A021103Keragaman Spesies Mamalia dan Aves serta Pemanfaatannya dalam Etnozoologi Masyarakat Kecamatan BaturradenKecamatan Baturraden merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, terutama pada kelompok Mamalia dan Aves yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Hewan-hewan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti konsumsi, peliharaan, perdagangan, serta kegiatan sosial dan budaya. Informasi ilmiah mengenai jenis serta nilai pemanfaatan hewan-hewan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Mamalia dan Aves yang dimanfaatkan serta mengetahui nilai pemanfaatannya dalam konteks etnozoologi masyarakat Baturraden. Penelitian dilakukan di empat desa, yaitu Ketenger, Rempoah, Karangsalam Lor, dan Kebumen, dengan metode observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi.
Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling dan snowball sampling, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Perhitungan dilakukan menggunakan Spesies Use Value (SUV), Family Use Value (FUV), Fidelity Level (FL), serta indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 30 spesies hewan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Baturraden, terdiri atas 21 spesies aves dan 9 spesies Mamalia. Kelompok Aves didominasi oleh famili Phasianidae, sedangkan kelompok Mamalia didominasi oleh famili Bovidae. Sebagian besar spesies tergolong Least Concern (LC), sementara beberapa berstatus Near Threatened (NT) dan Endangered (EN).
Nilai SUV tertinggi terdapat pada spesies dengan family Phasianidae dan family Bovidae yang memiliki arti penting secara ekonomi dan sosial. Nilai FUV tertinggi juga ditunjukkan oleh famili Phasianidae dan Bovidae, sedangkan nilai FL tertinggi ditemukan pada spesies yang digunakan secara konsisten untuk konsumsi dan kegiatan budaya. Nilai indeks keragaman yaitu sedang atau stabil. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Baturraden memiliki pengetahuan lokal yang kuat dalam memanfaatkan fauna secara berkelanjutan yang menandakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan upaya konservasi, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
Baturraden Subdistrict is an area with high biodiversity, especially in the Mammal and Aves that play an important role in the lives of the community. These animals are used for various purposes such as consumption, pets, trade, and social and cultural activities. However, scientific information on the types and value of the use of these animals is still limited. This study aims to identify the species of Mammals and Aves that are utilized and to determine their value in the context of the ethnozoology of the Baturraden community. The study was conducted in four villages, namely Ketenger, Rempoah, Karangsalam Lor, and Kebumen, using observation, semi-structured interviews, and documentation methods.
Respondents were selected using purposive sampling and snowball sampling,
while data analysis was conducted using quantitative and qualitative descriptive methods. Calculations were performed using Species Use Value (SUV), Family Use Value (FUV), Fidelity Level (FL), and the Shannon-Wiener diversity index (H’). The results of the study showed that there were 30 animal species utilized by the community of Baturraden District, consisting of 21 species of Aves and 9 species of Mammals. Aves was dominated by the Phasianidae family, while the Mammal was dominated by the Bovidae family. Most species were classified as Least Concern (LC), while some were classified as Near Threatened (NT) and Endangered (EN).
The highest SUV values were found in species belonging to the Phasianidae and Bovidae families, which are economically and socially important. The highest FUV value is also shown by the Phasianidae and Bovidae families, while the highest FL value is found in species that are consistently used for consumption and cultural activities. The diversity index value is categorized as moderate or stable. These results indicate that the Baturraden community has strong local knowledge in utilizing fauna sustainably, which signifies a balance between human needs and conservation efforts, reflecting the local wisdom of the community in preserving biodiversity.
4749950908F1C020045IMPLEMENTASI FUNGSI KEHUMASAN DALAM LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI UPAYA MENJAGA EKSISTENSI LEMBAGAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi fungsi kehumasan dijalankan dalam Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) sebagai upaya menjaga eksistensi lembaganya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan memilih pihak-pihak yang menjalankan fungsi komunikasi dan kehumasan dalam LPPSLH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun LPPSLH tidak memiliki divisi kehumasan secara struktural, fungsi kehumasan tetap berjalan melalui peran lintas bidang. Fungsi kehumasan dalam LPPSLH dijalankan untuk mendukung aktivitas advokasi, membangun hubungan dengan mitra strategis, menyampaikan program kepada publik, serta membentuk citra positif lembaga. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori Excellence dari James E. Grunig, yang menekankan pentingnya public relations sebagai fungsi manajerial dalam suatu organisasi. LPPSLH menunjukkan penerapan tiga komponen utama dalam teori tersebut, yaitu knowledge core, shared expectation, dan participative culture. Ketiga komponen tersebut berkontribusi pada upaya menjaga keberlanjutan dan eksistensi organisasi. Kendala utama yang dihadapi LPPSLH adalah keterbatasan SDM profesional di bidang komunikasi dan ketiadaan struktur formal kehumasan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fungsi kehumasan yang adaptif dan strategis dapat tetap dijalankan, meskipun dalam keterbatasan, selama organisasi memiliki budaya kerja yang partisipatif dan kesadaran akan pentingnya komunikasi publikThis study aims to examine how the functions of public relations are implemented within the Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) as an effort to maintain the organization’s existence. This research employs a qualitative approach, and uses a descriptive method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Informants were selected using purposive sampling, targeting individuals responsible for communication and public relations functions within LPPSLH.The results show that although LPPSLH does not have a formally established public relations division, PR functions are still carried out across various organizational roles. Public relations at LPPSLH serve to support advocacy activities, build relationships with strategic partners, communicate program to the public, and establish a positive organizational image. The study applies James E. Grunig’s Excellence Theory, which emphasizes the importance of public relations as a managerial function in an organization. LPPSLH demonstrates the application of three key components of the theory: knowledge core, shared expectation, and participative culture. These elements contribute to the sustainability and ongoing relevance of the organization. The main challenges faced by LPPSLH include limited human resources with professional communications expertise and the absence of a formal PR structure. This research concludes that adaptive and strategic public relations functions can still be effectively implemented despite organizational limitations, as long as there is a participatory work culture and awareness of the importance of public communication
4750050911F1A021015STRATEGI ADAPTASI MAHASISWA PERANTAU FISIP UNSOED MELALUI PEMANFAATAN KONTEN KULINER TIKTOKMahasiswa perantau yang menempuh pendidikan di luar daerah asal menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang memiliki budaya dan cita rasa makanan berbeda. Kuliner Banyumas yang cenderung manis sering kali berbeda dengan cita rasa makanan daerah asal mahasiswa yang memiliki rasa pedas, asin, atau gurih, sehingga menimbulkan adanya proses adaptasi. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok, sebagai sarana adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi adaptasi mahasiswa perantau dalam menghadapi perbedaan cita rasa kuliner Banyumas melalui pemanfaatan konten kuliner TikTok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan Mahasiswa perantau FISIP Unsoed melalui proses adaptasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, yang pertama pola konsumsi yang dipengaruhi oleh kebiasaan dan cita rasa makanan dari daerah asal, kedua mahasiswa perantau menggunakan TikTok sebagai sarana untuk mencari rekomendasi kuliner yang sesuai dengan selera asal sekaligus menyesuaikan dengan cita rasa lokal Banyumas. Ketiga, mahasiswa perantau belajar menerima perbedaan cita rasa serta menyesuaikan preferensi mereka secara bertahap melalui pemanfaatan konten kuliner di media sosial TikTok. Students who study away from their hometowns face the challenge of adapting to a new environmentwith a different culture and food tastes. Banyumas cuisine, whichtends to be sweet, is often different from the food tastes of the students' hometowns, which tend to be spicy, salty, or savory, thus requiringa process of adaptation. To overcome this, students utilize social media, especially TikTok, as a means of adaptation. This studyaims to describe the adaptation strategies of migrant students infacing the differences in Banyumas culinary tastes through the use of TikTok culinary content. This study uses a qualitative method with data collectionthrough observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this studyshow that FISIP Unsoed migrant students go through an adaptation process inadjusting to their new environment. First, their consumption patternsare influenced by the habits and tastes of food from their hometowns. Second,migrant students use TikTok as a means to find culinary recommendationsthat suit their original tastes while adjusting to the local tastesof Banyumas. Third, migrant students learn to accept differences in taste and gradually adjust their preferences through the use of culinary content on the social media platform TikTok.