Artikelilmiahs
Menampilkan 47.461-47.480 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47461 | 50864 | A1A021004 | KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PELAYANAN PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KABUPATEN CIAMIS (STUDI KASUS PASAR MANIS CIAMIS) | Pasar tradisional merupakan wadah utama bagi masyarakat dalam mendistribusikan produk lokal. Pasar tradisional juga memiliki fungsi sebagai perputaran ekonomi daerah karena uang dari masyarakat dapat beredar secara cepat. Perkembangan teknologi dan persaingan semakin ketat membuat pasar tradisional harus terus beradaptasi supaya tetap bertahan. Kondisi tersebut membuat pasar tradisional mulai tergeser dengan pasar modern dan platform digital. Hal tersebut membuat kepuasan konsumen penting dilakukan agar pasar tradisional tetap mampu bersaing. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mempelajari karakteristik konsumen Pasar Manis di Kabupaten Ciamis (2) menganalisis tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan Pasar Manis di Kabupaten Ciamis (3) mengetahui atribut apa saja yang menjadi prioritas utama dalam perbaikan kualitas pelayanan untuk meningkatkan kepuasan konsumen di Pasar Manis Ciamis. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Manis Ciamis (Pasar Subuh) yang berada di Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada bulan Juni sampai Juli 2025. Metode penelitian ini yaitu metode survei dengan sampel sebanyak 100 orang. Objek penelitian ini adalah kepuasan konsumen terhadap pelayanan pedagang di Pasar Manis (Pasar Subuh) Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling dengan metode purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah uji validitas, uji reliabilitas, analisis deskriptif, Customer Satisfaction Indeks (CSI), dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen Pasar Manis didominasi oleh perempuan, termasuk usia produktif (26-50 tahun), alamat domisili di Kecamatan Ciamis, pendidikan terakhir sarjana, status pernikahan sudah menikah, pekerjaan PNS, pendapatan per bulan ≤ Rp1.000.000 dan Rp1.000.001 – Rp2.000.000, frekuensi belanja per bulan jarang (1-10 kali), dan biaya yang dikeluarkan ≤ Rp1.000.000. Tingkat kepuasan konsumen memiliki nilai 76,34% sehingga masuk ke dalam kategori puas. Atribut yang berada pada prioritas utama atau kuadran I yaitu Pasar Manis bersih dan tidak becek, adanya toilet yang bersih, dan adanya tempat sampah yang memadai. | The traditional market is the main place for the community in distributing local products. Traditional markets also have a function as a regional economic turnover because money from the community can be circulating quickly. The development of technology and competition is getting tougher to make traditional markets must continue to adapt so that they will survive. These conditions make traditional markets began to be displaced by modern markets and digital platforms. This makes customer satisfaction important so that traditional markets are still able to compete. This study aims to (1) study the characteristics of a sweet market consumer in Ciamis Regency (2) Analyzing the level of customer satisfaction with the quality of sweet market services in Ciamis Regency (3) Knowing what attributes are the top priority in improving qualityServices to increase consumer satisfaction in the Ciamis Manis Market. This research was conducted at the Pasar Manis Ciamis (Pasar Subuh) located in Ciamis District, Ciamis Regency, West Java in June to July 2025. This research method is a survey method with a sample of 100 people. The object of this research is customer satisfaction with trader services in Pasar Manis (Pasar Subuh), Ciamis District, Ciamis Regency. The sampling method is carried out by non -probability sampling technique with the purposive sampling method. The data analysis used is the validity test, reliability test, descriptive analysis, customer satisfaction index (CSI), and importance performance analysis (IPA). The results showed that the characteristics of a sweet market consumer are dominated by women, including productive age (26-50 years), domicile address in Ciamis District, the latest education undergraduate, marriage status is married, civil servant work, income per month ≤ Rp1,000,000 and Rp1,000.001-Rp. 2,000,000, the frequency of spending per month is rare (1-10 times), and costs incurred ≤ Rp1,000,000. The level of customer satisfaction has a value of 76.34% so that it is included in the category of satisfaction. The attributes that are in the top priority or quadrant I are the Clean and Non -muddy Sweet Market, the presence of a clean toilet, and the existence of adequate trash bins. | |
| 47462 | 51262 | G1A022105 | Profil Mikrobiota Usus pada Anak Stunting dan Anak Gizi Normal di Kabupaten Banyumas dengan Pendekatan Metagenomik 16S rRNA | Latar Belakang: Stunting merupakan prioritas utama kesehatan global. Di Indonesia, stunting masih menjadi masalah yang kini semakin dikaitkan dengan disbiosis mikrobiota usus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil mikrobiota usus anak-anak stunting di Banyumas, Indonesia. Metode: Studi analitik observasional dengan rancangan cross-sectional dilakukan terhadap 30 anak (usia 2-5 tahun) di Desa Watuagung. Status gizi ditentukan melalui antropometri, sedangkan pola makan dipantau melalui kuesioner. Profil mikrobiota usus diidentifikasi dari sampel feses menggunakan pengurutan gen 16S rRNA V1-V9 berbasis Oxford Nanopore Technologies. Hasil: Anak stunting menunjukkan keanekaragaman (alpha diversity) dan kekayaan spesies (Richness) mikrobiota yang lebih rendah dibandingkan kelompok gizi normal, menandakan ekosistem usus yang lebih sederhana. Meskipun filum Bacillota mendominasi kedua kelompok (>96%), kelompok stunting memiliki proporsi ordo terkait Clostridia seperti Lachnospirales dan Eubacteriales yang lebih tinggi. Sebaliknya, bakteri protektif seperti Lactobacillus dan Agathobacter lebih melimpah pada kelompok gizi normal. Analisis fungsional PICRUST2 berbasis data KEGG menunjukkan peningkatan aktivitas metabolik mikroba pada jalur karbohidrat, asam amino, dan energi pada anak stunting. Hal ini konsisten dengan data diet yang menunjukkan asupan makronutrien dan mikronutrien yang signifikan lebih rendah pada kelompok stunting. Kesimpulan: Terjadi disbiosis fermentatif pada anak stunting di Banyumas, ditandai dengan aktivitas metabolik tinggi namun tidak efektif. Kondisi ini mengganggu penyerapan nutrisi dan pertumbuhan, sehingga diperlukan strategi intervensi yang mengintegrasikan perbaikan nutrisi sekaligus pemulihan mikrobiota usus. | Background: Stunting is a global health priority. In Indonesia, it remains a significant issue increasingly linked to gut microbiota dysbiosis. This study aims to analyze the gut microbiota profile of stunted children in Banyumas, Indonesia. Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design involving 30 children (aged 2–5 years) in Watuagung Village. Nutritional status was determined via anthropometry, while dietary patterns were monitored through questionnaires. Gut microbiota profiles were identified from fecal samples using 16S rRNA V1-V9 gene sequencing based on Oxford Nanopore Technologies. Results: Stunted children exhibited lower alpha diversity and species richness compared to the normal nutrition group, indicating a simpler gut ecosystem. Although the phylum Bacillota dominated both groups (>96%), the stunted group showed a higher proportion of Clostridia-related orders, such as Lachnospirales and Eubacteriales. Conversely, protective bacteria like Lactobacillus and Agathobacter were more abundant in children with normal nutrition. Functional analysis using PICRUST2 and KEGG pathways indicated increased microbial metabolic activity in stunted children, particularly in carbohydrate, amino acid, and energy metabolism pathways. These findings are consistent with dietary data showing significantly lower intake of macronutrients and micronutrients in the stunted group. Conclusion: This study identifies a distinct fermentative dysbiosis in stunted children in Banyumas, characterized by high but ineffective metabolic activity. This condition may impair nutrient absorption and growth, highlighting the need for targeted nutritional interventions that integrate dietary improvement with microbiota restoration. | |
| 47463 | 50866 | A1A021066 | Strategi Pengembangan Usaha Gula Kelapa Kristal Pada CV Permata Satria Kabupaten Banyumas | Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor agroindustri, salah satunya pada komoditas gula kelapa yang menjadi produk unggulan ekspor. CV Permata Satria di Kabupaten Banyumas merupakan perusahaan pengolah gula kelapa kristal berorientasi ekspor yang menghadapi berbagai tantangan, seperti fluktuasi pasokan bahan baku, perbedaan kualitas produk, minimnya promosi, dan sistem manajemen yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki CV Permata Satria, 2) mengidentifikasi faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi CV Permata Satria, 3) merumuskan strategi pengembangan usaha produk gula kelapa kristal yang tepat untuk CV Permata Satria. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode studi kasus merupakan salah satu metode penelitian yang mempunyai nilai penting baik secara akademis maupun praktis. Objek penelitian ini yaitu faktor-faktor internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi pengembangan usaha di CV Permata Satria. Penelitian ini dilaksanakan di CV Permata Satria yang berlokasi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada bulan September hingga Oktober 2025. Penelitian ini dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode purposive sampling dan sampling jenuh dengan total 28 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan observasi, wawancara dan penarikan kuesioner. Pendekatan analisis SWOT sebagai metode utama untuk merumuskan strategi pengembangan usaha gula kelapa kristal dan uji lanjutan menggunakan QSPM untuk menentukan strategi berdasarkan hasil analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV Permata Satria memiliki sepuluh faktor internal yang terdiri dari lima kekuatan dan lima kelemahan, serta sepuluh faktor eksternal yang meliputi lima peluang dan lima ancaman. Berdasarkan hasil analisis SWOT, diperoleh sepuluh alternatif strategi pengembangan yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan arah pengembangan usaha perusahaan. Melalui analisis QSPM, strategi prioritas yang terpilih yaitu mengoptimalkan kapasitas produksi dengan alat yang memadai untuk memenuhi potensi tingginya permintaan pasar gula kelapa kristal yang terus meningkat. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat daya saing perusahaan, serta mendukung keberlanjutan usaha gula kelapa kristal di Kabupaten Banyumas. | Indonesia, as an agricultural country, had significant potential for developing the agro-industrial sector, including coconut sugar as a leading export commodity. CV Permata Satria in Banyumas Regency was an export-oriented crystal coconut sugar processing company that faced various challenges, such as fluctuating raw material supply, inconsistent product quality, limited promotion, and a suboptimal management system. This study aimed to: (1) identify CV Permata Satria’s internal factors (strengths and weaknesses), (2) identify its external factors (opportunities and threats), and (3) formulate an appropriate strategy for developing the crystal coconut sugar product business. The research method used was a case study. Case studies were research methods that held significant academic and practical value. The object of this study was the internal and external factors that could influence business development at CV Permata Satria. This research was conducted at CV Permata Satria, located in Banyumas Regency, Central Java, from September to October 2025. The sampling techniques used were purposive sampling and saturated sampling, involving a total of 28 respondents. Data collection techniques included observation, interviews, and questionnaires. A SWOT analysis approach served as the primary method for formulating a development strategy for the crystal coconut sugar business, and further analysis using the QSPM (Quality of Service Performance Matrix) was applied to determine strategic priorities based on the SWOT results. The results indicated that CV Permata Satria had ten internal factors consisting of five strengths and five weaknesses, and ten external factors consisting of five opportunities and five threats. Based on the SWOT analysis, ten alternative development strategies were identified to serve as a basis for determining the company’s business development direction. Through the QSPM analysis, the selected priority strategy was optimizing production capacity with adequate equipment to meet the potentially high market demand for crystal coconut sugar, which continued to grow. This strategy was expected to improve production efficiency, strengthen the company’s competitiveness,and support the sustainability of the crystal coconut sugar business in Banyumas Regency. | |
| 47464 | 50867 | E1B021024 | ANALISIS PENGELOLAAN TAMBANG OLEH ORGANISASI KEMASYARAKATAN KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF TUJUAN HUKUM GUSTAV RADBRUCH | Pengelolaan tambang oleh organisasi kemasyarakatan keagamaan dalam perspektif tujuan hukum Gustav Radbruch merupakan fenomena yang komplek dan memerlukan kajian mendalam terkait kesesuaian antara praktik pengelolaan dengan hierarki perundang-undangan serta prinsip hukum yang adil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan hierarki perundang-undangan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan dengan tujuan hukum Gustav Radbruch, serta mengkonstruksi pemahaman tujuan hukum tersebut dalam konteks pengelolaan tambang. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normative dengan spesifikasi penelitian deskriptif, dengan sumber data sekunder dengan metode pengumpulan bahan hukum studi kepustakaan yang disajikan dalam bentuk teks naratif kemudian, dianalisis dengan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk menyesuaikan regulasi pengelolaan tambang melalui perubahan PP 96 Tahun 2021, PP 25 Tahun 2024, PP 39 Tahun 2025, serta revisi UU 3 Tahun 2020 menjadi UU 2 Tahun 2025. Perubahan ini secara normatif memberi kewenangan kepada ormas keagamaan untuk mengelola tambang melalui mekanisme WIUPK dengan sistem penawaran prioritas. Namun, aturan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan nilai keadilan, dan kemanfaatan sehingga perlu perbaikan regulasi dan tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, serta berkeadilan berkelanjutan. Kata Kunci: Pengelolaan Tambang, Organisasi Kemasyarakatan Keagamaan, Teori Tujuan Hukum. | The management of mining by religious community organizations from the perspective of Gustav Radbruch's theory of the purpose of law represents a complex phenomenon that requires a thorough study concerning the conformity between mining management practices and the hierarchy of legislation as well as principles of justice in law. This study aims to identify the relationship between the hierarchy of legislation governing mining management by religious community organizations and Gustav Radbruch’s theory of the purpose of law, as well as to construct an understanding of this legal purpose theory within the context of mining management. The research employs a qualitative normative juridical method with legislative and conceptual approaches, utilizing secondary data collected through a literature review. The results indicate discrepancies in the application of mining management regulations with the hierarchy of legislation and the principles of justice, legal certainty, and utility as emphasized in Radbruch’s theory. The mining management conducted by religious community organizations has not fully rooted itself in the value of legal justice, thus necessitating improvements in regulations and governance that are more transparent and accountable. These findings are important to encourage legal reforms for natural resource management that are more just and sustainable. Keywords: Mining management, Religious Community Organizations, Theory of the Purpose of Law. | |
| 47465 | 50838 | K1C019038 | Analisis Intensitas Cahaya Matahari yang Diserap Panel Surya | Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena letaknya di daerah tropis. Pemanfaatan energi surya melalui panel fotovoltaik (PV) dapat menjadi salah satu solusi penyediaan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas cahaya matahari dengan keluaran daya panel surya, serta menentukan waktu paling efektif dalam menghasilkan daya maksimum. Data primer diperoleh dari hasil pengukuran tegangan, arus, dan daya panel surya setiap satu jam pada pukul 08.00–14.00, sedangkan data sekunder berupa Global Horizontal Irradiance (GHI) diperoleh dari BMKG. Daya tertinggi tercatat sebesar 132,33 W pada pukul 09.00 di minggu ketiga dengan kondisi cuaca cerah, sedangkan daya terendah sebesar 32,50 W terjadi pada pukul 08.00 di minggu kedua dengan kondisi berawan. Waktu paling efektif dalam penyerapan cahaya matahari untuk menghasilkan daya maksimum adalah pada rentang pukul 09.00–11.00. Efisiensi panel surya yang digunakan diperoleh sebesar 20%. Perbandingan dengan data sekunder BMKG menunjukkan adanya selisih yang signifikan, yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca, suhu, serta kebersihan permukaan panel. | Indonesia has significant solar energy potential due to its tropical location. The utilization of solar energy through photovoltaic (PV) panels can serve as one of the solutions for renewable energy supply. This study aims to analyze the relationship between solar irradiance and the power output of solar panels, as well as to determine the most effective time to generate maximum power. Primary data were obtained from hourly measurements of voltage, current, and power of the solar panels between 08:00 and 14:00, while secondary data in the form of Global Horizontal Irradiance (GHI) were obtained from BMKG. The highest recorded power output was 132.33 W at 09:00 during the third week under clear weather conditions, while the lowest value of 32.50 W occurred at 08:00 during the second week under cloudy conditions. The most effective time for solar energy absorption to generate maximum power was between 09:00 and 11:00. The efficiency of the solar panel used was calculated at 20%. Comparison with BMKG’s data showed significant discrepancies, which were influenced by weather conditions, temperature, and the cleanliness of the panel surface. | |
| 47466 | 50868 | I1E020060 | EVALUASI PEMBINAAN PRESTASI ATLET PEKAN OLAHRAGA PROVINSI CABANG OLAHRAGA TAEKWONDO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2023 | Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pembinaan prestasi cabang olahraga Taekwondo di Kabupaten Banyumas menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Latar belakang penelitian ini didasari oleh penurunan prestasi atlet Taekwondo Banyumas pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2023, yang menurun dari tiga medali emas pada tahun 2018 menjadi satu medali emas pada tahun 2023. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap efektivitas program pembinaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pengurus, pelatih, dan atlet Taekwondo Banyumas. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif deskriptif dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pengurus, pelatih, serta atlet. Analisis dilakukan dengan membandingkan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembinaan. Hasil Penelitian: Hasil menunjukkan bahwa aspek context tergolong baik karena visi dan misi Pengkab TI Banyumas sejalan dengan tujuan pembinaan. Aspek input dan process dinilai cukup baik, meskipun masih terdapat kendala pada sarana, prasarana, dan koordinasi antar pihak. Aspek product menunjukkan capaian prestasi yang menurun, namun program pembinaan tetap berjalan dan pembinaan sistem berjenjang masih diterapkan. Kesimpulan: Program pembinaan prestasi Taekwondo di Kabupaten Banyumas telah berjalan dengan baik, namun belum optimal pada seluruh komponen CIPP. Diperlukan peningkatan koordinasi antar pihak terkait, perbaikan pendanaan yang lebih baik, serta program latihan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan prestasi atlet di masa mendatang. Kata Kunci: Banyumas, Evaluasi Pembinaan, Porprov, Taekwondo | Background: This study aims to evaluate the performance development program of the Taekwondo sport in Banyumas Regency using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. The background of this research stems from the decline in the achievements of Banyumas Taekwondo athletes in the 2023 Provincial Sports Week (Porprov), which decreased from three gold medals in 2018 to one gold medal in 2023. This condition indicates the need for an evaluation of the program’s effectiveness. The research employed a descriptive qualitative method, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation involving the management, coaches, and athletes of Banyumas Taekwondo. Research Method: This study employed a descriptive evaluative approach using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving administrators, coaches, and athletes. The analysis was conducted by assessing the alignment between planning, implementation, and the outcomes of the development program. Research Results: The findings indicate that the context aspect is categorized as good, as the vision and mission of the Banyumas Taekwondo management align with the objectives of the development program. The input and process aspects are considered adequate, although there are still obstacles related to facilities, infrastructure, and coordination among stakeholders. The product aspect shows a decline in performance achievements, suggesting the need for evaluation and improvements in the development system. Conclusion: The Taekwondo performance development program in Banyumas Regency has been implemented well; however, it has not been fully optimal across all CIPP components. Improvements are needed in stakeholder coordination, financial management, as well as in planning and sustaining training programs to enhance athlete performance in the future. Keywords: Banyumas, Development Evaluation, Porprov, Taekwondo | |
| 47467 | 50882 | F1F021041 | Analisis Intersectional Framing oleh Patriot Act with Hasan Minhaj: Komedi Sebagai Kontra-Narasi Retorika Anti-Imigran Trump Era Pertama (2018-2019) | Penelitian ini berupaya menginvestigasi bagaimana acara komedi politis Patriot Act with Hasan Minhaj membingkai isu imigrasi sebagai respon terhadap retorika anti imigran Donald Trump dalam masa presidensi pertamanya (2018-2019). Dengan menginkorporasikan kerangka teoritis berupa teori framing dan intersectionality, penelitian ini mendemonstrasikan bahwa Patriot Act melawan apa yang Trump definisikan sebagai sebuah permasalahan perihal imigrasi beserta solusi yang harus diambil terkaitnya. Penggambaran isu imigrasi oleh Patriot Act justru menggarisbawahi suara imigran, menantang bias rasis dan Islamophobic administrasi Trump, serta mendukung keterbukaan Amerika Serikat terhadap imigran dan pencari suaka melalui strategi diskursif dan lelucon yang melibatkan identitas Minhaj sebagai imigran generasi pertama dengan latar belakang Muslim dan India. Pembingkaian ulang isu imigrasi oleh Patriot Act maka menjadi sebuah resistansi intersectional terhadap narasi dominan anti-imigran milik Trump. | This research aims to investigate how the political comedy show Patriot Act with Hasan Minhaj framed the issue of immigration as a response to Donald Trump’s anti-immigrant rhetoric during his first presidency (2018-2019). Building upon theoretical frameworks such as framing theory and intersectionality, this research showcases Patriot Act countering what Trump had diagnosed as the problem of immigration and its suitable courses of action. Patriot Act’s portrayal of immigration instead highlights immigrants’ voices, challenges the Trump administration’s racist and Islamophobic bias, as well as champions for the United States to welcome immigrants and refugees by way of discursive strategies and jokes that incorporate Minhaj’s identity as a first-generation immigrant of Muslim and Indian-American background. Thus, the re-framing of immigration by Patriot Act serves as an intersectional resistance to the dominant anti-immigrant narrative of Trump. | |
| 47468 | 50869 | A1D020151 | Karakterisasi, Penilaian Kerusakan, dan Pola Penyebaran Penyakit Bercak Daun Antraknosa Pada Durian Bawor di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede | Penyakit bercak daun antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas durian Bawor karena menyebabkan bercak nekrosis dan gugurnya daun sehingga menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman. Penyakit bercak daun antraknosa semakin sering dijumpai di Desa Tanggeran, namun informasi ilmiah terkait karakteristik patogen, tingkat serangan, dan penyebaran penyakit masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi karakter morfologi patogen penyebab penyakit, 2) menilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan, 3) menganalisis pola penyebaran penyakit bercak daun antraknosa pada tanaman durian Bawor. Metode peneliian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui survei lapangan di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas dan indentifikasi di Laboratorium Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Tanaman durian yang terinfeksi diambil menggunakan purposive sampling pada lima kebun durian Bawor berumur 4–5 tahun dengan total 88 pohon sampel berdasarkan rumus Slovin. Identifikasi jamur dilakukan secara morfologis pada media Potato Dextrose Agar (PDA) melalui pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Uji patogenitas dilakukan secara in planta menggunakan postulat koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bercak daun yang ada lima lahana Desa Tanggeran merupakan bercak daun yang disebabkan oleh jamur C. gloeosporioides dengan bagian atas koloni berwarna putih dan bagian bawah berwarna keabu-abuan, konidia hialin tanpa sekat berbentuk silindiris, dan berukuran 9-16 × 2-4 µm. Kejadian penyakit mencapai 100 % pada seluruh lahan pengamatan dan intensitas penyakit dalam kategori sedang dengan rata-rata sebesar 37,4 %. Pola penyebaran penyakit membentuk pola seragam (uniform pattern), diduga dipengaruhi oleh keberadaan sumber inokulum tetap pada daun yang terinfeksi serta kondisi lingkungan lembap akibat curah hujan tinggi dan pengelolaan budidaya petani, khususnya keberadaan gulma dan tidak adanya pemangkasan dahan bawah. Hasil uji patogenitas menunjukkan gejala serupa dengan gejala lapangan sehingga memperkuat bahwa C. gloeosporioides merupakan penyebab utama bercak daun antraknosa di wilayah tersebut. | Anthracnose leaf spot disease caused by Colletotrichum gloeosporioides is one of the limiting factors for Bawor durian productivity because it causes necrotic spots and leaf fall, thus reducing the photosynthetic capacity of the plant. Anthracnose leaf spot disease is increasingly common in Tanggeran Village, but scientific information regarding the characteristics of the pathogen, the level of attack, and the spread of the disease is still limited. This study aims to 1) identify the morphological characteristics of the pathogen causing the disease, 2) assess the level of damage caused, 3) analyze the spread pattern of anthracnose leaf spot disease in Bawor durian plants. The research method uses a quantitative descriptive approach through a field survey in Tanggeran Village, Somagede District, Banyumas Regency and identification at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. Infected durian plants were taken using purposive sampling in five Bawor durian orchards aged 4–5 years with a total of 88 sample trees based on the Slovin formula. Fungal identification was performed morphologically on Potato Dextrose Agar (PDA) media through macroscopic and microscopic observations. Pathogenicity tests were conducted in planta using Koch's postulates. The results showed that the leaf spots in five fields in Tanggeran Village were caused by the fungus C. gloeosporioides, with white colonies on the top and grayish on the bottom. The hyaline conidia were cylindrical in shape and measured 9-16 × 2-4 µm. The disease incidence reached 100 % in all observation fields, and the disease intensity was in the moderate category with an average of 37,4 %. The disease spread pattern formed a uniform pattern, thought to be influenced by the presence of a permanent inoculum source on infected leaves, humid environmental conditions due to high rainfall, and farmer cultivation management, particularly the presence of weeds and the absence of pruning of lower branches. The results of the pathogenicity test showed symptoms similar to field symptoms, thus confirming that C. gloeosporioides is the main cause of anthracnose leaf spots in the area. | |
| 47469 | 50870 | I1E020052 | Survey Pembinaan Prestasi Atlet Pencak Silat Pada Perguruan Kilat Mas Kabupaten Karawang | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pembinaan prestasi atlet pencak silat pada Perguruan Kilat Mas Kabupaten Karawang melalui pendekatan studi survei. Pembinaan prestasi merupakan proses terencana, sistematis, dan berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan kemampuan atlet dalam mencapai prestasi optimal. Perguruan Kilat Mas sebagai salah satu perguruan aktif di Kabupaten Karawang memiliki peran penting dalam pembinaan atlet berprestasi di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pengurus perguruan, pelatih, atlet, serta orang tua atlet. Evaluasi konteks dilakukan untuk melihat latar belakang dan tujuan pembinaan. Evaluasi input menilai ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, serta dukungan pendanaan. Evaluasi proses menggambarkan pelaksanaan program latihan, metode kepelatihan, serta monitoring. Evaluasi produk menilai capaian prestasi atlet dalam dua tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan prestasi di Perguruan Kilat Mas telah berjalan cukup baik. Latar belakang pembinaan sesuai dengan kebutuhan organisasi, sarana prasarana memadai, serta pelatih memiliki kompetensi yang relevan. Program latihan tersusun teratur dan dilaksanakan secara konsisten. Atlet juga mampu meraih prestasi di berbagai kejuaraan tingkat daerah. Namun demikian, masih diperlukan peningkatan jumlah pelatih, variasi metode latihan, dan pemerataan kualitas pembinaan di seluruh cabang latihan. Kesimpulannya, pembinaan prestasi di Perguruan Kilat Mas berada dalam kategori baik, tetapi masih memerlukan penguatan pada aspek sumber daya manusia dan optimalisasi program latihan agar prestasi atlet dapat meningkat secara berkelanjutan. | This study aims to describe the achievement development system for Pencak Silat athletes at the Kilat Mas Martial Arts School in Karawang Regency using a survey approach. Achievement development is a planned, systematic, and continuous process intended to enhance athletes’ abilities in achieving optimal performance. Kilat Mas, as one of the active martial arts schools in Karawang, plays an important role in preparing and developing talented athletes at the regional level. This research employs a descriptive qualitative method using the CIPP evaluation model (Context, Input, Process, Product). Data were collected through observation, interviews, and documentation involving administrators, coaches, athletes, and parents. Context evaluation examines the background and objectives of athlete development. Input evaluation assesses human resources, training facilities, and funding support. Process evaluation reviews the implementation of training programs, coaching methods, and monitoring activities. Product evaluation focuses on athletes’ performance achievements over the past two years. The findings indicate that the achievement development activities at Kilat Mas have been running effectively. The background and objectives of the program align with organizational needs, facilities are adequate, and coaches possess relevant competencies. Training programs are well-structured and consistently implemented. Athletes have achieved various accomplishments in regional competitions. However, improvements are still needed in increasing the number of coaches, diversifying training methods, and ensuring equal quality of training across different branches. In conclusion, the athlete development program at Kilat Mas is categorized as good, yet requires improvement in human resources and optimization of training programs to ensure sustainable enhancement of athlete performance. | |
| 47470 | 50871 | A1A021057 | Willingness to Pay Pengunjung Terhadap Pengelolaan Eduwisata Menggala Ranch di Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas | Pariwisata merupakan sektor penting yang berperan besar terhadap perekonomian nasional karena mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Banyumas menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki potensi besar dalam sektor ini, salah satunya melalui pengembangan Eduwisata Menggala Ranch di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen. Menggala Ranch menawarkan konsep wisata edukasi berbasis peternakan dengan aktivitas interaktif, namun dalam perkembangannya mengalami penurunan jumlah pengunjung dan menghadapi sejumlah kendala seperti penurunan kualitas fasilitas serta kuantitas ternak. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan yang lebih efektif dan berkelanjutan agar wisata ini dapat mempertahankan daya tariknya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan mengetahui kesediaan membayar (Willingness to Pay) pengunjung, yang berperan penting dalam menentukan kebijakan harga tiket, prioritas revitalisasi, serta arah pengembangan destinasi wisata Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2025, dengan objek penelitian yaitu pengunjung objek wisata Menggala Ranch. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 100 responden. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data penelitian melalui metode wawancara, kuesioner, observasi dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, Contingent Valuation Method, dan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kesediaan membayar pengunjung objek wisata Menggala Ranch yaitu Rp.28.387,00 dengan presentase peningkatan yaitu sebesar 13,55% dari harga awal. Adapun Total kesediaan membayar pengunjung yang didapat yaitu sejumlah Rp.2.271.000,00. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar pengunjung objek wisata Menggala Ranch adalah faktor budaya dan juga faktor pribadi. | Tourism was an important sector that played a major role in the national economy because it contributed significantly to regional income, created jobs, and improved community welfare. Banyumas Regency was one of the regions in Central Java that had great potential in this sector, one of which was through the development of Menggala Ranch Edu-tourism in Tumiyang Village, Pekuncen District. Menggala Ranch offered an educational tourism concept based on livestock farming with interactive activities. However, in its development, it experienced a decline in visitor numbers and faced several obstacles, such as a decrease in the quality of facilities and the quantity of livestock. This condition indicated the need for a more effective and sustainable management strategy so that the tourism site could maintain its appeal. One approach that could be used was to determine visitors' willingness to pay (WTP), which played an important role in determining ticket pricing policies, revitalization priorities, and the direction of tourism destination development. The research method used in this study was the case study method. The study was conducted from June to September 2025, with the research object being visitors to the Menggala Ranch Tourist Attraction. The sample used in the study consisted of 100 respondents. The research sample was taken using the accidental sampling technique. Data collection was carried out through interviews, questionnaires, observations, and literature studies. The data analysis used descriptive analysis, the Contingent Valuation Method, and Multiple Linear Regression. The results of the study showed that the average willingness to pay of visitors to the Menggala Ranch Tourist Attraction was IDR 28,387.00, with an increase of 13.55% from the initial price. The total willingness to pay obtained from visitors was IDR 2,271,000.00. Multiple linear regression analysis showed that the factors influencing the willingness to pay of visitors to the Menggala Ranch Tourist Attraction were cultural and personal factors. | |
| 47471 | 50875 | A1A020080 | Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Buah Jeruk Siam (Citrus nobilis) di Kecamatan Karawang Barat | Meningkatnya jumlah produksi dan konsumsi buah jeruk siam baik nasional maupun di Kabupaten Karawang akibat dari meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sehat, memberikan tantangan persaingan dan peluang bisnis bagi para produsen. Produsen yang menghadapi kedua hal tersebut perlu memperhatikan konsumen terutama preferensi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakteristik konsumen, 2) mengetahui atribut yang paling dipertimbangkan dan, 3) mengetahui apakah terdapat perbedaan preferensi konsumen terhadap atribut buah jeruk siam (Citrus nobillis) di Kecamatan Karawang Barat. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survey di Kecamatan Karawang Barat dari bulan Desember 2024 - Januari 2025. Objek penelitian ini adalah preferensi konsumen buah jeruk siam, sedangkan subjek penelitian ini adalah konsumen Kecamatan Karawang Barat yang berusia minimal 17 tahun dan sudah pernah konsumsi buah jeruk siam minimal dua kali dalam satu bulan terakhir. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling sebanyak 100 responden. Atribut yang digunakan pada penelitian ini adalah harga, rasa, warna kulit, ukuran, tekstur, umur simpan dan aksesbilitas. Sampel yang diperoleh diuji dengan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji multiatribut Fishbein dan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen buah jeruk siam Kecamatan Karawang Barat sebagian besar berjenis kelamin perempuan, berusia 27 – 36 tahun, memiliki 1 hingga 3 orang anggota keluarga, berpendidikan akhir sebagai sarjana atau S1, bekerja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki pendapatan > Rp 5.000.000 perbulannya. Konsumen Kecamatan Karawang Barat memiliki sikap yang positif terhadap tiap atribut buah jeruk siam yang diteliti. Atribut buah jeruk siam yang menjadi bahan pertimbangan adalah rasa (19,13), harga (18,96), umur simpan (18,15), tekstur (17,85), ukuran (17,67), aksesibilitas (16,93) dan warna kulit (16,60). Preferensi antar konsumen terhadap atribut buah jeruk siam tidak sama atau terdapat perbedaan preferensi konsumen. Preferensi konsumen terhadap buah jeruk siam yaitu harga yang murah pada kisaran Rp 15.000–Rp 18.000/Kg, rasa yang asam manis, warna kulit kuning kehijauan, ukuran sedang pada kisaran 8-10 buah/Kg, tekstur lunak, umur simpan yang lama pada rentang waktu 6-7 hari dan aksesibilitas yang mudah didapatkan dengan jarak diantara 500 M - 1 Km dari tempat tinggal. | The increasing production and consumption of Siamese oranges both nationally and in Karawang Regency due to the increasing awareness of the Indonesian people of the importance of living a healthier daily life, presents a challenge of competition and business opportunities for producers. Producers who face both of these things need to pay attention to consumers, especially preferences. This study aims to 1) determine consumer characteristics, 2) determine the attributes that are most considered and, 3) determine the differences in consumer preferences for Siamese orange (Citrus nobillis) attributes in West Karawang District. This study was conducted using a survey method in West Karawang District from December 2024 - January 2025. The object of this study was the consumer preferences of Siamese oranges, while the subjects of this study were consumers in West Karawang District who were at least 17 years old and had consumed Siamese oranges at least twice in the past month. The sampling method used a purposive sampling method of 100 respondents. The attributes used in this study were price, taste, skin color, size, texture, shelf life and accessibility. The samples obtained were tested using validity test, reliability test, Fishbein multiattribute test and Chi Square test. The results of the research show that consumers of Siamese oranges in West Karawang District were mostly female, aged 27-36 years, had 1 to 3 family members, had a bachelor's degree or S1, worked as housewives and had an income of > Rp 5,000,000 per month. Consumers in West Karawang District had a positive attitude towards each attribute of Siamese oranges studied. The attributes of Siamese oranges that were considered were taste (19.13), price (18.96), shelf life (18.15), texture (17.85), size (17.67), accessibility (16.93) and skin color (16.60). Preferences between consumers towards Siamese orange attributes were not the same or there were differences in consumer preferences. Consumer preferences for Siamese oranges are cheap prices in the range of IDR 15,000–IDR 18,000/Kg, sweet and sour taste, greenish yellow skin color, medium size in the range of 8-10 fruits/Kg, soft texture, long shelf life in the range of 6-7 days and easy accessibility with a distance of between 500 M - 1 Km from the residence. | |
| 47472 | 50874 | F2D023010 | KAPASITAS NEGARA DALAM PENANGANAN NARKOBA DI TINGKAT LOKAL : STUDI KASUS DI BNN KABUPATEN PURBALINGGA | Kajian ini dilatarbelakangi oleh serangan multidimensi peredaran gelap narkoba yang menggerus fondasi keamanan manusia (human security) menuntut respons efektif dan aktif dari negara. Studi kasus di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Purbalingga ini menyoroti kesenjangan implementasi kebijakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Menggunakan kerangka teoretis keterbatasan kapasitas negara Francis Fukuyama, penelitian ini menguji disfungsi antara lingkup (scope) dan kekuatan (strength) institusi formal melalui kompilasi data capaian KIE, rehabilitasi, dan penegakan hukum oleh aparat penegak hukum lokal Penelitian ini menemukan adanya keterbatasan kapasitas negara lokal. Kapasitas reaktif (berupa penindakan, pelaksanaan Tim Asesmen Terpadu, dan valuasi kerugian ekonomi dari tindak pidana narkoba) serta kapasitas intelijen (berupa pemetaan 38 desa rawan narkoba kategori waspada) terbukti efektif. Namun, kapasitas proaktif mengalami disfungsi yang memperihatinkan yang termanifestasi sebagai lubang hitam administrasi publik di sektor rehabilitasi (mencakup gagal berlanjutnya 8 Puskesmas Pilot Project dan 22 Puskesmas capable tidak termobilisasi). Selain itu, muncul kesenjangan implementasi yang terlihat pada minimnya keterpaparan lingkup pencegahan (yaitu 57% siswa belum terjangkau KIE) dan lingkup program unggulan (11 Desa Bersinar) yang hanya mencapai 28,9% dari seluruh desa rawan narkoba kategori waspada. Temuan menariknya adalah keberlanjutan program justru sangat bergantung pada keaktifan institusi non-formal dan alokasi anggaran melalui otonomi positif Pemerintah Desa. Keterbatasan kapasitas negara lokal berpusat pada kegagalan koordinasi horizontal dan diskontinuitas kebijakan yang merusak strength birokrasi. Solusi strategis menuntut pergeseran fokus dari intervensi langsung menjadi transfer kapasitas kepada institusi formal dan non-formal lokal untuk menjamin keberlanjutan program P4GN. | This study is motivated by the multidimensional attack of illicit drug trafficking that erodes the foundation of human security, demanding an effective and active response from the state. This case study at the National Narcotics Agency (BNN) Purbalingga Regency highlights the implementation gap of the policy for the Prevention and Eradication of Drug Abuse and Illicit Trafficking (P4GN). Using Francis Fukuyama's theoretical framework of limited state capacity, this research examines the dysfunction between the scope and strength of formal institutions through the compilation of data on achievements in KIE (Communication, Information, and Education), rehabilitation, and law enforcement by local authorities. The study found limitations in local state capacity. Reactive capacity (in the form of enforcement, execution of the Integrated Assessment Team, and economic valuation of losses from drug crimes) and intelligence capacity (in the form of mapping 38 high-risk villages under the "alert" category) proved effective. However, proactive capacity showed alarming dysfunction, manifested as a public administration black hole in the rehabilitation sector (including the non-continuation of 8 Puskesmas Pilot Projects and the non-mobilization of 22 capable Puskesmas units). Furthermore, an implementation gap emerged in the limited exposure of the prevention scope (i.e., 57% of students were not reached by KIE) and the flagship program scope (11 Desa Bersinar only reached 28.9% of all high-risk villages in the alert category). A notable finding is that program sustainability heavily depends on the active role of non-formal institutions and budget allocation through the positive autonomy of Village Governments. The limitation of local state capacity centers on the failure of horizontal coordination and policy discontinuity that damages bureaucratic strength. Strategic solutions require a shift in focus from direct intervention to capacity transfer to local formal and non-formal institutions to ensure the sustainability of the P4GN program. | |
| 47473 | 50876 | A1F021054 | Optimasi Formula Tepung Ubi Jalar Ungu dan Tepung Terigu terhadap Karakteristik Egg roll Menggunakan Metode Simplex Lattice Design | Konsumsi tepung terigu yang terus meningkat di Indonesia menimbulkan peningkatan terhadap impor, sehingga diperlukan upaya substitusi dengan memanfaatkan sumber pangan lokal. Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu komoditas lokal yang berpotensi sebagai substitusi terigu, karena Indonesia merupakan penghasil ubi jalar keempat dunia sejak tahun 1968 (Departemen Pertanian, 2009). Salah satu inovasi pengembangannya adalah egg roll, yaitu produk bakery berbasis tepung dan telur yang diformulasikan dengan substitusi tepung ubi jalar ungu sebagai produk pangan lebih sehat karena kandungan antosianin. Penentuan optimasi proporsi tepung terigu dan tepung ubi jalar ungu menggunakan metode Simplex Lattice Design. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui jumLah proporsi yang optimal dari tepung terigu dan tepung ubi jalar ungu menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD). 2) Mengetahui karakteristik fisik, kimia dan sensori egg roll dari kombinasi perlakuan yang optimal. Penelitian dilaksanakan di Kawasan BRIN Subang dari bulan September 2024 sampai Desember 2024. Formula pembuatan egg roll terdiri dari tepung terigu, tepung telur, tepung ubi jalar ungu, air, gula pasir, margarin, susu skim, ovalet, dan bubuk vanili. Penentuan optimasi proporsi tepung ubi jalar ungu yang digunakan berkisar antara 30–40% dan tepung terigu 60%–70%, dihasilkan delapan kombinasi perlakuan yaitu E1 32,5%:67,5%, E2 35,5%:65%, E3 35%:65%, E4 30%:70%, E5 40%:60%, E6 30%:70%, E7 40%:60% dan E8 37,5%:62,5%. Variabel yang dioptimasi meliputi antosianin (mg/100 g), aktivitas antioksidan (%), hardness, fracturability, warna (L, a, b), dan overall sensori egg roll. Data hasil pengamatan dianalisis ragam pada software Design Expert versi 13 dengan metode Simple Lattice Design. Variabel yang dikarakterisasi untuk perlakuan optimal egg roll meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, karbohidrat, antosianin, aktivitas antioksidan, hardness, fracturability, dan sensori. Data sensori yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji Kruskal-Wallis, apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjut uji Mann-Whitney. Hasil optimasi menunjukkan bahwa formulasi optimum terdapat pada kombinasi 40% tepung ubi jalar ungu dan 60% tepung terigu dengan nilai desirability 0,902. Karakteristik kimia produk optimal meliputi kadar air 3,21±0,03%, lemak 15,78±2,83%, karbohidrat 72,81±1,5%, protein 6,72±0,99%, antosianin 11,88±0,07 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan 86,8±0,78%. Parameter warna adalah L* 45,15±2,1; a* 16,01±0,19; b* 5,31±0,76, dengan tekstur hardness 17,05±2,18 N dan fracturability 11,34±0,2 mm. Skor organoleptik menunjukkan warna ungu kecoklatan (3,67), aroma khas ubi jalar ungu (3,43), rasa khas ubi jalar ungu (3,37), tekstur renyah (4,0), dan tingkat penerimaan keseluruhan (4,23) dengan kriteria disukai oleh panelis. Hasil ini menunjukkan egg roll dengan substitusi 40% tepung ubi jalar ungu memiliki kualitas fisikokimia dan sensori yang baik sesuai dengan SNI 2973:2011, serta berpotensi sebagai produk pangan sehat yang mengandung antosianin. | The increasing consumption of wheat flour in Indonesia has led to a rise in imports, creating a need for substitution efforts by utilizing local food sources. Purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) is one of the local commodities with potential as a wheat flour substitute, as Indonesia has been the fourth-largest producer of sweet potatoes in the world since 1968 (Ministry of Agriculture, 2009). One innovative development is the egg roll, a bakery product based on flour and eggs, formulated with purple sweet potato flour as a substitute to create a healthier product due to its anthocyanin content. The optimization of the proportion of wheat flour and purple sweet potato flour was carried out using the Simplex Lattice Design (SLD) method. This study aimed to: (1) Determine the optimal proportion of wheat flour and purple sweet potato using the SLD method; and (2) characterize the physical, chemical, and sensory properties of egg rolls from the optimal treatment combination. The research was conducted at the BRIN Subang area from September to December 2024. The egg roll formulation consisted of wheat flour, egg powder, purple sweet potato flour, water, granulated sugar, margarine, skim milk, ovalet, and vanilla powder. The optimization of the purple sweet potato flour proportion ranged from 30–40%, and wheat flour from 60–70%, resulting in eight treatment combinations: E1 32,5%:67,5%, E2 35,5%:65%, E3 35%:65%, E4 30%:70%, E5 40%:60%, E6 30%:70%, E7 40%:60% and E8 37,5%:62,5%. The variables optimized included anthocyanin content (mg/100 g), antioxidant activity (%), hardness, fracturability, color (L*, a*, b*), and overall sensory evaluation of the egg roll. Observation data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) in Design Expert software version 13 with the Simple Lattice Design method. For the optimal treatment, the egg rolls were characterized for moisture content, ash content, fat content, protein content, carbohydrates, anthocyanin content, antioxidant activity, hardness, fracturability, and sensory attributes. Sensory data were analyzed using the Kruskal–Wallis test, and if significant differences were found, the Mann–Whitney test was applied. The optimization results indicated that the optimum formulation was 40% purple sweet potato flour and 60% wheat flour, with a desirability value of 0.902. The chemical characteristics of the optimal product included: moisture content 3.21±0.02%, fat 15.78±2.3%, carbohydrates 75.55±1.5%, protein 6.72±0.81%, anthocyanin 11.88±0.07 mg/100 g, and antioxidant activity 86.8±0.78%. The color parameters were L* 45.15±2.1, a* 16.01±0.19, b* 5.31±0.76, with texture measurements of hardness 17.05±2.18 N and fracturability 11.34±0.2 mm. The organoleptic scores indicated slightly brownish purple color (3.67), characteristic purple sweet potato aroma (3.43), characteristic flavor (3.37), crispy texture (4.0), and overall acceptance (4.23), categorized as liked by the panelists. These results indicate that egg rolls with 40% purple sweet potato flour substitution have good physicochemical and sensory quality according to SNI 2973:2011, and have potential as a healthy food product containing anthocyanins. | |
| 47474 | 50877 | C1G021015 | ANALYSIS OF THE IMPACT OF AGRICULTURAL LAND, CLIMATE CHANGE, AND RICE PRODUCTIVITY ON FOOD SECURITY IN BANTEN PROVINCE (2008-2023) | Ketahanan pangan telah menjadi isu strategis di Provinsi Banten seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap lahan pertanian akibat urbanisasi dan perubahan iklim yang berdampak pada produksi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan pertanian, perubahan iklim, dan produktivitas padi terhadap ketahanan pangan di delapan kabupaten/kota di Provinsi Banten selama periode 2008–2023. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pertanian berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan, sementara perubahan iklim berpengaruh negatif dan signifikan. Produktivitas padi memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap ketahanan pangan. Temuan ini menegaskan pentingnya melindungi lahan pertanian, menerapkan kebijakan adaptif terhadap perubahan iklim, serta meningkatkan efisiensi dan teknologi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan di Provinsi Banten secara berkelanjutan. | Food security has become a strategic issue in Banten Province in line with increasing pressure on agricultural land due to urbanization and climate change that has an impact on food production. This study aims to analyze the influence of agricultural land area, climate change, and paddy rice productivity on food security in eight districts/cities in Banten Province during the 2008–2023 period. This research method uses a quantitative approach with panel data regression analysis. The results of the study show that the agricultural land has a positive and significant effect on food security, while climate change has a negative and significant effect. The rice paddy productivity has a positive but not significant effect on food security. These findings affirm the importance of protecting agricultural land, implementing adaptive policies to climate change, and improving agricultural efficiency and technology to strengthen food security in Banten Province in a sustainable manner. | |
| 47475 | 50878 | F1A021093 | HUBUNGAN FREKUENSI MENONTON DRAMA KOREA DENGAN KUALITAS INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA FISIP 2023 | Mahasiswa merupakan kelompok yang aktif mengonsumsi media digital, termasuk Drama Korea, yang berpotensi memengaruhi pola interaksi sosial mereka. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan antara frekuensi menonton Drama Korea dan kualitas interaksi sosial mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 2023. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei eksplanatif dan teknik proporsional random sampling, melibatkan 162 responden. Frekuensi menonton diukur melalui jumlah episode, durasi, dan frekuensi menonton, sedangkan kualitas interaksi sosial mencakup frekuensi interaksi, kedalaman hubungan, dukungan akademik, serta partisipasi dalam organisasi. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa frekuensi menonton Drama Korea berada pada kategori rendah, demikian pula kualitas interaksi sosial. Uji Kendall’s Tau-b menghasilkan koefisien 0,021 dengan nilai signifikansi 0,727, menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara kedua variabel. Temuan ini mengindikasikan bahwa menonton Drama Korea berfungsi sebagai hiburan personal dan tidak berdampak langsung pada kualitas interaksi sosial mahasiswa. | Students are an active group of digital media consumers, including Korean dramas, which have the potential to influence their social interaction patterns. This study aims to explain the relationship between the frequency of watching Korean dramas and the quality of social interaction among FISIP Unsoed students of the 2023 cohort. This study used a quantitative method with an explanatory survey design and proportional random sampling technique, involving 162 respondents. The frequency of viewing was measured by the number of episodes, duration, and frequency of viewing, while the quality of social interaction included the frequency of interaction, depth of relationships, academic support, and participation in organizations. Descriptive analysis results showed that the frequency of watching Korean dramas was in the low category, as was the quality of social interaction. Kendall's Tau-b test produced a coefficient of 0.021 with a significance value of 0.727, indicating no significant relationship between the two variables. These findings indicate that watching Korean dramas serves as personal entertainment and does not directly impact the quality of students' social interactions. | |
| 47476 | 50880 | I1C021069 | Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Krim Body Scrub dari Ekstrak Buah Alpukat (Persea americana Mill) dengan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) | Penuaan dini kulit banyak dipicu oleh stres oksidatif akibat paparan radikal bebas, sehingga diperlukan bahan aktif dengan aktivitas antioksidan untuk membantu menetralisirnya. Buah alpukat diketahui kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi digunakan sebagai antioksidan alami dalam formulasi body scrub. Penelitian ini mengembangkan krim body scrub dengan variasi konsentrasi ekstrak buah alpukat, yaitu F0 (0%), F1 (0,15%), F2 (0,2%), dan F3 (0,25%). Setiap formula dievaluasi melalui uji organoleptik, tipe krim, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta uji stabilitas melalui cycling test. Seluruh formula menunjukkan mutu fisik yang sesuai dan stabil selama penyimpanan. Formula F3 dipilih untuk uji aktivitas antioksidan karena memiliki konsentrasi ekstrak tertinggi dan hasil evaluasi fisik terbaik. Pengujian dengan metode DPPH menghasilkan nilai IC50 sebesar 45,38 ppm, yang tergolong aktivitas antioksidan sangat kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak buah alpukat dalam sediaan krim body scrub memiliki kemampuan signifikan dalam menangkal radikal bebas dan berpotensi dikembangkan sebagai produk perawatan kulit yang efektif. | Premature skin aging is largely triggered by oxidative stress resulting from exposure to free radicals, thus requiring antioxidant agents capable of neutralizing these reactive molecules. Avocado fruit contains abundant phenolic and flavonoid compounds, which exhibit strong antioxidant properties and hold potential as natural active ingredients in body scrub formulations. This study developed a body scrub cream with varying concentrations of avocado extract, namely F0 (0%), F1 (0.15%), F2 (0.2%), and F3 (0.25%). Each formulation was evaluated for its physical characteristics, including organoleptic properties, cream type, pH, viscosity, spreadability, adhesiveness, as well as stability through a cycling test. All formulations met the required physical quality standards and demonstrated good stability during storage. The F3 formulation, which contained the highest concentration of extract, was selected for antioxidant activity testing due to its optimal physical performance. Antioxidant evaluation using the DPPH method produced an IC50 value of 45.38 ppm, indicating a very strong antioxidant activity. These findings confirm that avocado extract incorporated into a body scrub cream possesses significant free radical scavenging ability and has promising potential for development as an effective skincare preparation. | |
| 47477 | 50881 | I1C021085 | Formulasi dan Uji Aktivitas Masker Gel Peel-Off Ekstrak Kopi Robusta (Coffea Canephora) sebagai Antioksidan | Penggunaan bahan alami dalam perawatan kulit semakin diminati karena dianggap lebih aman dan ramah bagi kulit. Salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai antioksidan adalah kopi robusta (Coffea canephora), yang mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Kopi robusta khas Kabupaten Temanggung memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif kosmetik. Masker gel peel-off dipilih karena mudah digunakan, membentuk lapisan elastis, dan mudah dilepaskan setelah kering. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan serta mengevaluasi sifat fisik, stabilitas, dan aktivitas antioksidan masker gel peel-off ekstrak kopi robusta sebagai alternatif sediaan kosmetik berbahan alam. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental laboratorium dengan tiga formula konsentrasi ekstrak kopi robusta, yaitu 2%, 4%, dan 6%. Data uji sifat fisik dan stabilitas dianalisis secara deskriptif, sedangkan uji aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode one way ANOVA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan sediaan gel peel-off, dan Formula III dengan konsentrasi 6% merupakan formula terbaik berdasarkan uji sifat fisik, stabilitas, serta aktivitas antioksidan dengan nilai IC₅₀ sebesar 37,584 ± 0,849. Dengan demikian, masker gel peel-off yang mengandung 6% ekstrak kopi robusta berpotensi dikembangkan sebagai antioksidan alami untuk perawatan kulit wajah. | The use of natural ingredients in skincare products has gained increasing popularity due to their perceived safety and skin-friendly properties. One natural ingredient with significant antioxidant potential is robusta coffee (Coffea canephora), which contains flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins. Robusta coffee from Temanggung Regency exhibits strong antioxidant activity, making it a promising active compound for cosmetic formulations. A peel-off gel mask was chosen as the dosage form because it is easy to apply, forms an elastic film, and can be conveniently removed after drying. This study aimed to formulate and evaluate the physical characteristics, stability, and antioxidant activity of a peel-off gel mask containing robusta coffee extract as a natural-based cosmetic alternative. The research was an experimental quantitative laboratory study, formulating three different concentrations of robusta coffee extract: 2%, 4%, and 6%. Physical and stability properties were analyzed descriptively, while antioxidant activity was evaluated using the DPPH method and statistically analyzed with one- way ANOVA. The results showed that all formulations met the physical and stability requirements for peel-off gel masks, with Formula III (6% extract concentration) exhibiting the best overall performance, including an IC₅₀ value of 37.584 ± 0.849 ppm. In conclusion, the peel-off gel mask containing 6% robusta coffee extract demonstrates strong potential as a natural antioxidant alternative for facial skincare products. | |
| 47478 | 50883 | I1A020079 | Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pencegahan Keluarga Penderita Tuberkulosis di Kelurahan Purwokerto Lor Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas | Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Perilaku pencegahan dalam rumah tangga sangat penting untuk mengurangi risiko penularan, terutama pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan pada keluarga penderita tuberkulosis di Kelurahan Purwokerto Lor. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan total 60 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik (71,7%), namun perilaku pencegahan masih tergolong kurang (58,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan (p = 0,226). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan yang baik tidak selalu diikuti dengan perilaku pencegahan yang optimal, sehingga diperlukan edukasi dan pendampingan berkelanjutan bagi keluarga penderita tuberkulosis. | ||
| 47479 | 50892 | J0A022036 | Creating An Informational Booklet About Banyumas Regional Library | Laporan pelatihan kerja ini berjudul "Pembuatan Booklet Untuk Memberikan Informasi Tentang Perpustakaan Daerah Banyumas", kegiatan pelatihan kerja ini dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus - 27 Desember 2024 di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Banyumas. Pelatihan kerja ini berusaha mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan kerja membuat booklet untuk memberikan informasi tentang perpustakaan paerah banyumas dan untuk mengetahui kendala dan solusi untuk menarik minat pengunjung agar semakin banyak yang berkunjung ke perpustakaan daerah. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka dalam pelatihan kerja ini. Langkah awal dilakukan dengan observasi di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, meliputi penelusuran informasi melalui website serta pengamatan fasilitas, layanan, aktivitas pengunjung, dan promosi yang ada. Dalam proses penyusunan booklet ditemukan kendala seperti keterbatasan referensi, penyesuaian desain yang sudah tersedia dengan tema, serta pemilihan jenis kertas. Solusi yang dilakukan adalah mencari referensi tambahan dari internet serta rutin berkonsultasi dengan pembimbing agar isi dan desain booklet dapat maksimal dan sesuai tujuan. | This job training report is entitled "Creating an Infonnational Booklet About Banyumas Regional Library." The activities were carried out on August 26 - December 27, 2024, at Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Banyumas. This job training seeks to describe the implementation of job training, creating a booklet to provide information about the Banyumas Regional Library and to find out the obstacles and solutions to attract the interest of visitors, so that more and more people visit the Regional Library. The were collected using observation, interviews, and literature review methods in this job training. The first step was conducting an observation at the Regional Archives and Library Office, which included searching for information through the website as well as observing the facilities, services, visitor activities, and existing promotions. During the process of preparing the booklet, several challenges were encountered, such as limited references, adjusting the available design to the theme, and selecting the appropriate type of paper. The solutions were to seek additional references from the internet and to regularly consult with the supervisor so that the content and design of the booklet could be optimized and aligned with its objectives. | |
| 47480 | 50886 | I1C021086 | EVALUASI PENGGUNAAN DOSIS DAN EFEK SAMPING OBAT ANTIHIPERTENSI PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN | Penelitian observasional deskriptif prospektif ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian dosis antihipertensi berdasarkan PNPK Tata Laksana Hipertensi Dewasa 2021 dan mengidentifikasi Efek Samping Obat (ESO) pada 97 pasien rawat jalan di Puskesmas Purwokerto Selatan. Metodologi melibatkan purposive sampling, pengambilan data dari wawancara dan Kartu Prolanis, evaluasi kesesuaian dosis, identifikasi ESO dengan Algoritma Naranjo, dan pengujian hubungan dosis-penurunan tekanan darah menggunakan Paired T-test. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas pasien menggunakan regimen politerapi (60,82%) dan dosis antihipertensi secara umum (87,63%) telah sesuai dengan PNPK Tatalaksanan Hipertensi Dewasa Tahun 2021, meskipun 15,46% pasien mengalami ESO. Namun, analisis statistik Paired T-test menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05) tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien yang mendapatkan terapi hipertensi selama 1 bulan. | This prospective descriptive observational study aimed to evaluate the appropriateness of antihypertensive drug dosages based on the 2021 National Clinical Practice Guideline (PNPK) for the Management of Adult Hypertension and to identify Adverse Drug Events (ADEs) among 97 outpatients at Purwokerto Selatan Community Health Center (Puskesmas). The methodology involved purposive sampling, data collection through interviews and Prolanis Cards, evaluation of dosage appropriateness, identification of ADEs using the Naranjo Algorithm, and testing the relationship between dosage and blood pressure reduction using a Paired T-test. The results indicated that the majority of patients used a polytherapy regimen (60.82%) and the antihypertensive dosages (87.63%) generally complied with the 2021 PNPK, although 15.46% of patients experienced ADEs. However, the statistical analysis using the Paired T-test concluded that there was no significant difference (p > 0.05) in systolic and diastolic blood pressure in patients who received hypertension therapy for 1 month. |