Artikel Ilmiah : E1A021202 a.n. FADHLINA DWIPAWESTRI

Kembali Update Delete

NIME1A021202
NamamhsFADHLINA DWIPAWESTRI
Judul ArtikelKEWENANGAN PERADILAN UMUM DALAM MENGADILI
GUGATAN CITIZEN LAWSUIT PADA PERKARA PERBUATAN
MELAWAN HUKUM OLEH PENGUASA AKIBAT GAGALNYA
PENGENDALIAN PEREDARAN PINJAMAN ONLINE
(Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor: 1206 K/Pdt/2024)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Perkembangan teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap bidang
keuangan, termasuk maraknya praktik pinjaman online yang sering kali
menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia seperti penyalahgunaan data pribadi
dan intimidasi dalam penagihan. Fenomena ini menimbulkan perdebatan hukum
mengenai tanggung jawab pemerintah dalam melakukan pengawasan serta
menentukan lembaga peradilan yang berwenang ketika terjadi pelanggaran oleh
penguasa. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan
pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan kasus. Sumber data yang
digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan,
kemudian dianalisis secara kualitatif dengan tujuan memberikan deskripsi
preskriptif terhadap kewenangan peradilan umum dalam mengadili gugatan
citizen lawsuit terhadap penguasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gugatan
citizen lawsuit terkait praktik pinjaman online memenuhi unsur perbuatan
melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata dan menjadi
kewenangan peradilan umum, bukan Peradilan Tata Usaha Negara, karena objek
gugatan tidak berupa tindakan administratif konkret. Mahkamah Agung dalam
Putusan Nomor 1206 K/Pdt/2024 menilai bahwa kelalaian pemerintah dalam
mengawasi pinjaman online merupakan bentuk perbuatan melawan hukum oleh
penguasa yang bersifat abstrak. Pertimbangan hakim juga didasarkan pada
yurisprudensi kasus Munir Cs, yang menegaskan peran pengadilan dalam
menjamin tanggung jawab negara meskipun norma hukum belum lengkap.
Pendekatan rechtsvinding yang digunakan hakim menunjukkan bahwa peradilan
memiliki fungsi penting sebagai pembentuk hukum untuk menegakkan keadilan
substantif di tengah kekosongan norma. Dengan demikian, putusan Mahkamah
Agung ini menegaskan perlunya penguatan regulasi dan tanggung jawab negara
dalam melindungi hak warga terhadap dampak negatif perkembangan teknologi
keuangan digital.
Abtrak (Bhs. Inggris)The rapid growth of digital technology has significantly influenced the financial
sector, including the rise of online lending practices that often lead to human
rights violations such as misuse of personal data and intimidation in debt
collection. This phenomenon raises a legal debate regarding the government’s
responsibility in exercising supervision and determining the competent court when
such violations involve state authorities. This research employs a normative
juridical method with conceptual, statutory, and case approaches. The data used
are secondary data obtained through literature study and analyzed qualitatively
to provide a prescriptive description of the general court’s authority in
adjudicating citizen lawsuit cases against the government. The results indicate
that the citizen lawsuit related to online lending fulfills the elements of an
unlawful act (onrechtmatige daad) as stipulated in Article 1365 of the Indonesian
Civil Code and thus falls under the jurisdiction of the general court rather than
the administrative court, since the object of the lawsuit does not constitute a
concrete administrative act. The Supreme Court, in Decision No. 1206
K/Pdt/2024, determined that the government’s negligence in supervising online
lending constitutes an abstract form of unlawful conduct by the authorities. The
judges’ consideration also referred to the Munir et al. case, which affirmed the
judiciary’s role in ensuring state accountability even in the absence of specific
legal provisions. The application of the rechtsvinding principle demonstrates the
judiciary’s essential function as a law-maker in realizing substantive justice
amidst legal uncertainty. Therefore, this decision emphasizes the need to
strengthen regulations and reinforce state responsibility in protecting citizens’
rights against the adverse impacts of technological developments in the financial
sector.
Kata kunciOnline Lending Regulation; Citizen Lawsuit; Unlawful Act.
Pembimbing 1Dr. Wasi Rahadi Bintoro, S.H., M.H.
Pembimbing 2Sanyoto, S.H., M.Hum
Pembimbing 3DESSI PERDANI YURIS PUSPITA SARI, S.H., M.H.
Tahun2025
Jumlah Halaman24
Tgl. Entri2025-11-19 10:56:31.61942
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.