Artikelilmiahs

Menampilkan 46.921-46.940 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4692150311A1C020047Analisis Karakteristik Pengeringan Jamur Kuping (Auricularia auricular) Menggunakan Alat Pengering Tenaga SuryaJamur kuping (Auricularia auricula) merupakan jenis jamur yang bisa dikonsumsi oleh manusia. Jamur kuping akan mudah rusak jika tidak dikeringkan karena kadar air yang sangat tinggi, sekitar 89,1%. Pengeringan jamur kuping dengan sinar matahari langsung memiliki kelemahan yaitu tergantung cuaca, membutuhkan tempat yang luas, rentan terkontaminasi, dan waktu yang lama. Pengeringan menggunakan alat pengering tenaga surya dapat menghemat energi, menghemat waktu, meningkatkan kualitas produk, lebih efisien, dan dapat melindungi produk dari kotoran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik pengeringan jamur kuping menggunakan alat pengering tenaga surya, serta menentukan efisiensi pengeringan jamur kuping menggunakan alat pengering tenaga surya.
Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada Oktober – Desember 2024. Alat pengering tenaga surya langsung tipe aktif yang digunakan memiliki dimensi 300 x 200 x 150 cm. Penelitian dilakukan dengan percobaan mengeringkan jamur kuping sebanyak 1000 gram. Variabel yang diukur pada penelitian meliputi intensitas cahaya matahari, kecepatan aliran udara, daya panel surya, suhu, kelembapan relatif, kadar air, laju pengeringan, lama pengeringan dan efisiensi pengeringan. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Independent Sample T-Test.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik jamur kuping memiliki kadar air awal sebesar 89,03%bb. Kadar air akhir jamur kuping rata-rata pengeringan dengan alat pengering tenaga surya adalah 6,26%bb; dan 6,68%bk sedangkan pada pengeringan matahari langsung adalah sebesar 8,35%bb; dan 9,11%bk. Laju pengeringan rata-rata pengeringan dengan alat pengering tenaga surya dan matahari langsung adalah 10,39%bk/jam dan 7,91%bk/jam. Efisiensi pengeringan rata-rata pada pengeringan jamur kuping dengan alat pengering tenaga surya adalah 22,20%.
Wood ear mushrooms (Auricularia auricula) are a type of mushroom that is edible for humans. Wood ear mushrooms are prone to spoilage if not dried due to their high moisture content, approximately 89.1%. Drying wood ear mushrooms using direct sunlight has several drawbacks, including dependence on weather conditions, requiring a large area, susceptibility to contamination, and a lengthy process. Drying using a solar dryer can save energy, save time, improve product quality, be more efficient, and protect the product from contamination. The objective of this study is to understand the characteristics of drying wood ear mushrooms using a solar dryer, as well as to determine the efficiency of drying wood ear mushrooms using a solar dryer.
The study was conducted at the Yogyakarta Center for Training and Empowerment of Rural Communities, Underdeveloped Areas, and Transmigration. The study was carried out from October to December 2024. The active-type direct solar dryer used had dimensions of 300 x 200 x 150 cm. The study was conducted by drying 1,000 grams of wood ear mushrooms. The variables measured in the study included solar light intensity, airflow velocity, solar panel power, temperature, relative humidity, moisture content, drying rate, drying time, and drying efficiency. Data collection was conducted three times. Data analysis was performed using the Independent Sample T-Test statistical test.
The results of the study indicate that the initial moisture content of wood ear mushrooms is 89.03%wb. The final moisture content of wood ear mushrooms dried using a solar dryer averages 6.26%wb and 6.68%db, while those dried under direct sunlight average 8.35%wb and 9.11%db. The average drying rate for drying using a solar dryer and direct sunlight is 10.39% db/hour and 7.91% db/hour, respectively. The average drying efficiency for drying wood ear mushrooms using a solar dryer is 22.20%.
4692250312B1A021037Kemampuan Isolat Fungi Rizosfer Tanaman Damar (Agathis dammara) sebagai Agensia Biokontrol Penyakit Layu Fusarium Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.)Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu produk hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi penting di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2024, produksi cabai merah keriting di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2023. Salah satu OPT yang menyebabkan turunnya produksi cabai adalah patogen tular tanah. Fusarium merupakan jenis jamur patogen tular tanah yang sering menyerang tanaman cabai. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme antagonis yang banyak terdapat pada tanah rizosfer. Tanah rizosfer tanaman damar (Agathis dammara) mengandung populasi mikroorganisme yang lebih banyak dibandingkan dengan tanah di luar rizosfer. Salah satu jenis mikroba yang terdapat dalam populasi tanah rizosfer adalah jamur yang berpotensi menjadi agen biokontrol terhadap patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat fungi rizosfer sebagai biokontrol dalam menekan patogen penyebab layu Fusarium, mengetahui pengaruh isolat fungi rizosfer dalam menghambat patogen penyebab layu Fusarium pada tanaman cabai, dan mengetahui isolat fungi rizosfer yang paling efektif dalam menekan penyakit layu Fusarium.
Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan. Tahapan pertama yaitu skrining potensi antagonisme terhadap Fusarium secara in vitro menggunakan uji dual culture dan dianalisis secara deskriptif. Pada tahapan kedua penelitian ini yaitu: sembilan isolat hasil skrining yang memiliki potensi terbaik dilanjutkan dalam uji in plantae pada tanaman cabai, dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95%, jika hasil menyatakan signifikan maka diuji lebih lanjut dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT).
Hasil uji antagonisme dengan metode dual culture menunjukkan bahwa isolat Aspergillus sp. (14B3) memiliki kemampuan tertinggi dalam menghambat pertumbuhan Fusarium sp. yaitu sebesar 81,11% dibandingkan dengan isolat lainnya. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) pada uji in planta menunjukkan bahwa perlakuan cendawan antagonis berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan pada tanaman cabai, kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT. Perlakuan dengan nilai intensitas serangan gejala Fusarium sp. terendah adalah FA2 dan FA7 dengan persentase intensitas penyakit sebesar 16,67% dan 25%.
Chili (Capsicum annuum L.) is one of the horticultural products that has important economic value in Indonesia. According to data from the Central Bureau of Statistics in 2024, curly red chili production in Central Java Province has decreased compared to 2023. One of the pests that cause the decline in chili production is soil-borne pathogens. Fusarium is a type of soil-borne pathogenic fungus that often attacks chili plants. Biological control can be done by utilizing antagonistic microorganisms that are widely found in rhizosphere soil. Rhizosphere soil of damar plants (Agathis dammara) contains a larger population of microorganisms than the soil outside the rhizosphere. One type of microbe found in the rhizosphere soil population is a fungus that has the potential to become a biocontrol agent against pathogens. This study aims to determine the potential of rhizosphere fungal isolates as biocontrol in suppressing the pathogen that causes Fusarium wilt, determine the effect of rhizosphere fungal isolates in inhibiting the pathogen that causes Fusarium wilt in chili plants, and determine the most effective rhizosphere fungal isolates in suppressing Fusarium wilt disease.
This research was conducted in two stages. The first stage is screening the potential of antagonism against Fusarium in vitro using dual culture test and analyzed descriptively. In the second stage of this research, namely: nine isolates of screening results that have the best potential are continued in the in plantae test on chili plants, with experimental methods using a Completely Randomized Design (CRD) with 3 replicates. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at the 95% confidence level, if the results stated significant then further tested using the Duncan Multiple Range Test (DMRT) test.
The ability to inhibit the growth of the pathogen Fusarium sp. based on the antagonism test with the dual culture method shows the isolate Aspergillus sp. (I4B3) has the best inhibition value. The results of the Analysis of Variance (ANOVA) of the in plantae test showed that the treatment of antagonistic fungi had a significant effect on the intensity of the attack on chili plants, then continued with the DMRT further test. The treatment with the lowest Fusarium sp. symptomatic attack intensity value is FA2 and FA7 with a percentage of disease attack intensity of 16.67% and 25%.
4692350313K1C020034Desain Ulang Shielding Ruang Radioterapi Cobalt-60 untuk Ruang Radioterapi LINAC 6 dan 10 MV dengan Metode Monte CarloRadioterapi modern kini telah beralih dari pemakaian sumber radioaktif Cobalt-60
ke perangkat Linear Accelerator (LINAC) berkat kemampuannya untuk
memproduksi sinar-X berenergi tinggi dan profil radiasi yang lebih akurat. RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS) berencana mengubah fungsi ruang Cobalt-60
menjadi ruang LINAC karena terbatasnya lahan. Akan tetapi, LINAC memiliki
sifat energi yang lebih tinggi evaluasi ulang desain pelindung perlu dilakukan untuk
menjamin keselamatan radiasi. Penelitian ini menerapkan metode simulasi Monte
Carlo melalui perangkat lunak MCNPX untuk memodelkan transportasi foton serta
menilai fluks dan spektrum energi dari LINAC 6 MV dan 10 MV di area dalam dan
luar ruang radioterapi. Hasil menunjukkan bahwa spektrum energi LINAC lebih
tinggi dibanding Cobalt-60, namun terjadi penurunan fluks radiasi yang sangat
signifikan hingga 99,33–100%, dengan dosis radiasi di luar ruangan sebesar
1,1747×10⁻¹³ Sv/g per partikel, jauh di bawah batas yang ditentukan oleh
BAPETEN. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa , untuk perlindungan
radiasi, ruangan Cobalt-60 tetap aman dipakai untuk LINAC tanpa perlu
perlindungan tambahan. Meskipun demikian, dimensi ruang yang tersedia belum
sesuai dengan standar minimal yang diatur dalam Permenkes No. 40 Tahun 2022,
sehingga perlu adanya pertimbangan struktur tambahan.
Kata kunci: radioterapi, LINAC, Cobalt-60, shielding, Monte Carlo, MCNPX
Modern radiotherapy has now shifted from using the radioactive source Cobalt-60
to Linear Accelerator (LINAC) devices due to their ability to produce high-energy
X-rays and more accurate radiation profiles. Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional
General Hospital plans to convert the Cobalt-60 room into a LINAC room due to
limited space. However, because LINACs have higher energy and the ability to
produce neutrons, a reevaluation of the shielding design needs to be conducted to
ensure radiation safety. This study applies the Monte Carlo simulation method
using MCNPX software to model photon transport and assess the flux and energy
spectrum of 6 MV and 10 MV LINACs both inside and outside the radiotherapy
room. The results show that the energy spectrum of the LINAC is higher than that
of Cobalt-60, but there is a very significant decrease in radiation flux, up to 99.33–
100%, with an outdoor radiation dose of 1.1747×10⁻¹³ Sv/g per particle, far below
the limit set by BAPETEN. In other words, for radiation protection, the Cobalt-60
room remains safe for LINAC without the need for additional shielding.
Nevertheless, the available space dimension does not yet meet the minimum
standards set forth in Permenkes No. 40 of 2022, so additional structural
considerations are needed.
Keywords: radiotherapy, LINAC, Cobalt-60, shielding, Monte Carlo, MCNPX
4692450314B1A021019Uji Potensi Isolat Fungi Rizosfer sebagai Agensia Biokontrol Penyakit Antraknosa pada Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)Produksi cabai merah keriting (Capsicum annum L.) masih tergolong rendah akibat serangan hama dan penyakit, salah satunya antraknosa yang disebabkan oleh fungi Colletotrichum spp. Penyakit ini dapat menurunkan hasil panen hingga lebih dari 50%. Pengendalian dengan menggunakan fungisida sintetis memiliki kelemahan seperti risiko kesehatan, resistensi patogen, dan biaya tinggi. Oleh karena itu, penggunaan fungi rizosfer sebagai agensia hayati menjadi alternatif yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari beberapa isolat fungi rizosfer sebagai agensia biokontrol terhadap penyebab penyakit antraknosa yang diuji in vitro, mengetahui pengaruh isolat fungi rizosfer terhadap penghambatan penyakit antraknosa yang diuji in plantae, mengetahui isolat fungi rizosfer yang paling efektif dalam menekan penyakit antraknosa pada tanaman cabai.
Penelitian dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama dilakukan untuk memperoleh isolat fungi yang berpotensi melalui uji dual culture, kemudian dipilih beberapa isolat fungi yang memiliki daya hambat tertinggi. Variabel bebas yaitu isolat fungi rizosfer yang berbeda. Variabel terikat yaitu daya penghambatan pertumbuhan patogen. Parameter yaitu diameter koloni patogen pada cawan Petri kontrol dan pada cawan Petri perlakuan. Tahap kedua, isolat terpilih selanjutnya diuji antagonismenya dengan metode in plantae menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulanganVariabel bebas berupa isolat fungi rizosfer hasil skrining, variabel terikat berupa intensitas serangan. Parameter utama yaitu jumlah bercak daun yang disebabkan oleh penyakit antraknosa, parameter pendukung yang diukur berupa periode inkubasi, tinggi tanaman, jumlah daun, dan rata-rata luas daun
Hasil penelitian tahap pertama yaitu uji antagonisme fungi antagonis terhadap fungi patogen Colletotrichum sp. efektif menghambat pertumbuhan patogen Colletotrichum sp. secara in vitro dengan persentase penghambatan lebih dari 60%. Persentase tertinggi terdapat pada perlakuan I5A2 (Trichoderma sp.5) yaitu sebesar 76,39%. Hasil uji penelitian tahap kedua menunjukkan fungi antagonis mampu menekan intensitas serangan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Isolat rizosfer paling efektif adalah I5A1 (Trichoderma sp.4) dapat menekan gejala penyakit antraknosa hingga 95,93%.
The production of curly red chili peppers (Capsicum annum L.) is still relatively low due to pest and disease attacks, one of which is anthracnose caused by the fungus Colletotrichum spp. This disease can reduce crop yields by more than 50%. Control using synthetic fungicides has drawbacks such as health risks, pathogen resistance, and high costs. Therefore, the use of rhizosphere fungi as biological agents is an effective, economical, and environmentally friendly alternative. This study aims to determine the potential of several rhizosphere fungal isolates as biocontrol agents against anthracnose pathogens tested in vitro, to assess the effect of rhizosphere fungal isolates on inhibiting anthracnose disease tested in plantae, and to identify the most effective rhizosphere fungal isolates in suppressing anthracnose disease in chili plants.
The research was conducted in two stages. The first stage involved obtaining potential fungal isolates through dual culture testing, followed by selecting several isolates with the highest inhibitory activity. The independent variable was different rhizosphere fungal isolates. The dependent variable was the inhibitory activity against pathogen growth. The parameters were the diameter of pathogen colonies on control Petri dishes and on treated Petri dishes. In the second stage, the selected isolates were further tested for their antagonism using the in plantae method with a Completely Randomized Design (CRD) and three replications. The independent variable was the rhizosphere fungal isolates obtained from screening, and the dependent variable was the intensity of infection. The main parameter was the number of leaf spots caused by anthracnose disease, and the supporting parameters measured were the incubation period, plant height, number of leaves, and average leaf area.
The results of the first stage of research, namely the antagonism test of antagonistic fungi against the pathogenic fungus Colletotrichum sp., effectively inhibited the growth of the pathogen Colletotrichum sp. in vitro with an inhibition percentage of more than 60%. The highest percentage was found in treatment I5A2 (Trichoderma sp.5), which was 76.39%. The results of the second phase of the study showed that antagonistic fungi were able to suppress the intensity of anthracnose disease in chili plants. The most effective rhizosphere isolate was I5A1 (Trichoderma sp.4), which could suppress anthracnose disease symptoms by up to 95.93%.
4692550315A1G021007Analisis Daya Saing Karet Indonesia di Pasar InternasionalKaret menjadi salah satu komoditas perkebunan yang banyak dibutuhkan untuk banyak sektor industri, seperti ban kendaraan, alas kaki, sabuk penggerak mesin, pipa karet dan lain sebagainya. Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang menjadi penyumbang devisa terbesar negara setelah olahan kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Indonesia menempati urutan kedua sebagai produsen dan pengekspor karet di pasar internasional. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui kondisi daya saing karet Indonesia di pasar internasional, 2) mengetahui tingkat daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) karet Indonesia.
Penelitian ini dilaksanakan Maret sampai Agustus 2024. Objek penelitian ini adalah karet Indonesia dengan kode HS 400122 untuk Rubber in Smoked Sheets (RSS) dan HS 400121 untuk Technically Specified Natural Rubber (TNSR). Variabel dalam penelitian ini adalah nila ekspor karet Indonesia, total nilai ekspor Indonesia, nilai ekspor dunia komoditas karet, total ekspor dunia, nilai impor komoditas karet Indonesia, jumlah eksportir karet di Pasar Internasional, Revealed Comparative Advantage (RCA), dan Export Product Dynamic (EPD).
Hasil penelitian menunjukkan karet Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil rata-rata nilai RCA sebesar 32,25 persen, dimana nilai rata-rata RCA karet Indonesia pada periode tahun 2015 sampai 2024 bernilai lebih dari 1. Keunggulan kompetitif karet Indonesia berada di posisi Lost Opportunity di pasar internasional, artinya karet Indonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif karena pasar ekspor karet dipasar internasional bergerak secara dinamis tetapi Indonesia tidak memanfaatkannya sehingga pangsa pasar ekspor karet Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan yang bernilai negatif.
Rubber is one of the plantation commodities that is widely needed for many industrial sectors, such as vehicle tires, footwear, machine drive belts, rubber pipes, and others. Rubber is one of the plantation commodities that contributes significantly to the country's foreign exchange earnings, second only to palm oil or Crude Palm Oil (CPO). Indonesia ranks second as a producer and exporter of rubber in the international market. This study aims to 1) determine the competitiveness of Indonesian rubber in the international market, and 2) determine the level of competitiveness (competitive and comparative advantage) of Indonesian rubber.
This study was conducted from June 14 to August 8, 2024. The object of this study is Indonesian rubber with HS codes 400122 for Rubber in Smoked Sheets (RSS) and HS 400121 for Technically Specified Natural Rubber (TNSR). The variables in this study are Indonesian rubber export value, total Indonesian export value, world rubber commodity export value, total world exports, Indonesian rubber commodity import value, number of rubber exporters in the international market, Revealed Comparative Advantage (RCA), and Export Product Dynamic (EPD).
The results show that Indonesian rubber has a strong comparative advantage. This is evidenced by the average RCA value of 32.25 percent, where the average RCA value of Indonesian rubber from 2015 to 2024 is more than 1. However, the competitive advantage of Indonesian rubber is in the Lost Opportunity position in the international market, meaning that Indonesian rubber does not have a competitive advantage because the rubber export market in the international market is dynamic, but Indonesia does not take advantage of it, resulting in a decline in the growth of Indonesian rubber export market share with a negative value.
4692650316A1G021003Posisi Daya Saing Ekspor Biji Pala (Myristica fragrans) di Pasar Non TradisionalPala (Myristica fragrans) merupakan komodoitas ekspor unggulan Indonesia yang memiliki nilai historis di kancah internasional. Biji pala diekspor dalam bentuk utuh dan ditumbuk atau bubuk. Kualitas pala Indonesia dinilai rendah karena besarnya kandungan aflatoksin akibat teknik pascapanen yang belum memadai sehingga berakibat pada penolakan di negara tujuan dan berpengaruh pada rendahnya harga jual pala di pasar Internasional (Indahwaty et al., 2023). Pasar ekspor Indonesia terbagi menjadi dua kelompok yaitu pasar tradisional dan pasar non tradisional. Kondisi perdagangan yang menurun di pasar tradisonal menuntut Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar dengan merambah ke pasar non tradisional atau pasar potensial. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) mengetahui adanya keunggulan komparatif 2) mengetahui adanya keunggulan kompetitif, dan 3) mengetahui posisi daya saing biji pala utuh maupun produk pala bubuk Indonesia di pasar non tradisional.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif-deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa nilai ekspor komoditas biji pala dengan kode HS 090811 untuk komoditas biji pala utuh dan biji pala bubuk dengan kode HS 090812 serta total nilai ekspor Indonesia di pasar non tradisional dengan data time series dari tahun 2013-2022. Tujuan pasar non tradisional untuk biji pala utuh adalah Vietnam, UEA, Rusia, Pakistan dan Thailand. Tujuan pasar produk pala bubuk terdiri dari Belgia, Brasil, India Prancis dan Spanyol. Pengambilan data dilakukan melalui badan internasional Trade Map dan UN Comtrade. Analisis data menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk mengetahui adanya keunggulan komparatif, Export Competitiveness Index (ECI) untuk mengetahui adanya keunggulan kompetitif dan metode Export Product Dynamic (EPD) untuk mengetahui posisi daya saing dari biji pala utuh dan produk pala bubuk di pasar non tradisional.
Hasil perhitungan RCA diketahui bahwa di pasar non tradisional, komoditas biji pala utuh dan pala bubuk memiliki keunggulan komparatif. Kemudian hasil perhitungan ECI menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif untuk komoditas biji pala utuh dan produk pala bubuk kecuali di pasar Spanyol. Hasil perhitungan EPD menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi Rising Star untuk komoditas biji pala utuh, sedangkan produk pala bubuk asal Indonesia yang menempati posisi Rising Star hanya di pasar India. Kemudian, pasar Belgia menempati posisi Lost Opportunity, pasar Brasil menempati posisi Falling Star, sedangkan Prancis dan Spanyol menempati posisi Retreat. Indonesia dapat memperluas dan memfokuskan ekspor di pasar yang memiliki keunggulan kompetitif dengan posisi Rising Star. Ekspor komoditas biji pala utuh dapat difokuskan ke negara Vietnam, Uni Emirat Arab, Rusia, Pakistan dan Thailand. Ekspor produk pala bubuk dapat difokuskan pada negara India. Namun perlu adanya perbaikan dari berbagai sisi agar Indonesia tetap memiliki daya saing di pasar non tradisional.
Nutmeg (Myristica fragrans) is a major Indonesian export commodity that has historical value in the international market. Nutmeg is exported in whole and ground form. The quality of Indonesian nutmeg is considered low due to aflatoxin contamination caused by inadequate post-harvest techniques, which causes rejection in destination countries and has an impact on the low selling price of nutmeg in the international market (Indahwaty et al., 2023). Indonesia's export markets are divided into two groups, namely traditional markets and non-traditional markets. The declining trade conditions in traditional markets require Indonesia to expand its market reach by reaching non-traditional markets or potential markets. The purpose of this study is 1) to find out the comparative advantage, 2) to find out the competitive advantage, and 3) to find out the competitiveness position of Indonesian whole nutmeg and ground nutmeg products in non-traditional markets.
This research is quantitative-descriptive. The study uses secondary data in the form of export values of nutmeg commodities categorized by HS code: 090811 for whole nutmeg and 090812 for ground nutmeg. The data also include the total value of Indonesia’s exports to non-traditional markets, with time-series data from 2013 to 2022. The target markets for whole nutmeg are Vietnam, UAE, Russia, Pakistan, and Thailand. The target markets for ground nutmeg are Belgium, Brazil, India, France, and Spain. Data are collected from the international platforms Trade Map and UN Comtrade. The study uses the Revealed Comparative Advantage (RCA) method to analyse the data and determine comparative advantage. The Export Competitiveness Index (ECI) determines competitive advantage, and the Export Product Dynamic (EPD) method determines the competitive position of whole nutmeg and ground nutmeg products in non-traditional markets.
The results of the RCA calculation show that whole nutmeg and ground nutmeg products have a comparative advantage in non-traditional markets. The ECI calculation results then show that Indonesia has a competitive advantage for whole nutmeg and ground nutmeg products, except in the Spanish market. The results of the EPD calculation show that Indonesia has a Rising Star position for whole nutmeg products, while nutmeg powder products only have a Rising Star position in the Indian market. Then, the Belgian market is in the Lost Opportunity position, the Brazilian market is in the Falling Star position, while the French and Spanish markets are in the Retreat position. Indonesia can expand and focus its export markets to non-traditional markets that have competitive advantages and market positions in the Rising Star condition. Whole nutmeg commodities can focus on exporting to Vietnam, United Arab Emirates, Russia, Pakistan, and Thailand. Meanwhile, ground nutmeg products can focus on India. However, improvements are necessary from various sides so that Indonesia has competitiveness in non-traditional markets.
4692750317K1A021043KAJIAN KINETIKA DAN TERMODINAMIKA ADSORPSI ZAT WARNA MALACHITE GREEN MENGGUNAKAN MAGNETIT TERLAPISI SILIKA DARI ABU LAYANGMalachite green (MG) merupakan zat warna yang banyak digunakan di industri tekstil dan berbahaya apabila masuk ke dalam perairan, sehingga perlu adanya teknik pemisahan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan, salah satunya yaitu metode adsorpsi. Adsorpsi malachite green (MG) dilakukan menggunakan Fe3O4@SiO2. Silika diekstrak dari limbah abu layang menggunakan metode sol-gel. Hasil sintesis Fe3O4@SiO2 berupa padatan hitam dan dapat ditarik menggunakan magnet. Karakteristik dari Fe3O4@SiO2 dianalisis menggunakan FTIR, SEM-EDX, XRD, TEM, BET, dan VSM. Berdasarkan karakterisasi, adsorben memiliki ukuran partikel rata-rata 170 nm, luas permukaan spesifik 35,7939 m2/g, rentang ukuran pori 2–5 nm tergolong dalam mesopori dan sifat superparamagnetik. Adsorpsi MG pada Fe3O4@SiO2 menunjukkan kinetika pseudo orde kedua dan energi aktivasi (Ea) adalah 37,30 kJ/mol. Studi termodinamika memberikan nilai positif pada entalpi (ΔH°) dan entropi (ΔS°), dan nilai negatif pada perubahan energi bebas (ΔG°), menunjukkan proses endotermis dan spontan. Persen adsorpsi mencapai 88% setelah 3 kali siklus menunjukkan bahwa adsorben memiliki kemampuan pengggunaan ulang yang baik.

Malachite green (MG) is a dye that is widely used in the textile industry and is dangerous when entering the waters, so it is necessary to have a separation technique to reduce the negative impact caused, one of which is the adsorption method. The adsorption of malachite green (MG) was carried out using Fe3O4@SiO2. Silica was extracted from fly ash waste using the sol-gel method. The synthesized Fe3O4@SiO2 is a black solid and can be attracted using a magnet. The characteristics of Fe3O4@SiO2 were analyzed using FTIR, SEM-EDX, XRD, TEM, BET, and VSM. Based on the characterization, the adsorbent was found to have an average particle size of about 170 nm, a specific surface area of 35,7939 m2/g, a pore size range of 2–5 nm belonging to mesopores and superparamagnetic properties. The adsorption of MG on Fe3O4@SiO2 showed second order pseudo kinetics and the activation energy (Ea) was 37,30 kJ/mol. Thermodynamic studies gave positive values in enthalpy (ΔH°) and entropy (ΔS°), and negative values in free energy change (ΔG°), indicating an endothermic and spontaneous process. Percent adsorption reached 88% after 3 cycles indicating that the adsorbent has good reusability.

4692850318L1A020035KERAGAAN PERIKANAN TANGKAP DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) KARANGSONG KABUPATEN INDRAMAYUPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan potensi pengembangan perikanan tangkap di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong, Kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan mencakup survei, wawancara, observasi langsung, dan analisis data sekunder tahun 2016-2023. Hasil menunjukkan bahwa produksi dan nilai hasil tangkapan mengalami fluktuasi, dengan Tongkol, Manyung, Tenggiri, dan Kakap Merah sebagai komoditas dominan. Kapal kecil (≤5 GT) mendominasi struktur armada pada awal periode, namun menunjukkan penurunan signifikan, sementara kapal besar (≥30 GT) relatif stabil. Mayoritas RTP berada pada usia produktif dengan rata-rata pendapatan bersih 165 juta rupiah per trip per kapal. Potensi pengembangan diarahkan pada empat komoditas utama berdasarkan kontribusi jumlah dan nilai produksi, yaitu Tongkol, Manyung, Tenggiri, dan Kakap Merah. Secara keseluruhan, keragaan perikanan tangkap di TPI Karangsong mencerminkan dinamika usaha yang masih berpeluang dikembangkan melalui pengelolaan berbasis keberlanjutan dan peningkatan daya saing komoditas utama.This study aims to assess the performance and development potential of capture fisheries at the Fish Auction Place (TPI) Karangsong, Indramayu Regency. The research employed surveys, interviews, direct observation, and secondary data analysis from 2016 to 2023. Results indicate fluctuations in both fish production and value, with Tongkol, Manyung, Tenggiri, and Red Snapper as the leading commodities. Small vessels (≤5 GT) initially dominated the fleet structure but declined significantly over time, while large vessels (≥30 GT) remained relatively stable. Most fisherman were in productive age groups with an average net income of 165 million rupiah per fishing trip. Development potential focuses on four key commodities, Tongkol, Manyung, Tenggiri, and Red Snapper based on their substantial contributions in volume and value. Overall, the performance of capture fisheries at TPI Karangsong reflects a business dynamic that still has potential to be developed through sustainability-based management and the enhancement of competitiveness of key commodities.
4692950321K1A021006ADSORPSI ZAT WARNA TARTRAZIN MENGGUNAKAN
HIDROTALSIT Ni/Al TERINTERKALASI POLIOKSOMETALAT
K4[α-SiW12O40]
Pengolahan limbah zat warna tartrazin perlu dilakukan karena zat warna
tartrazin dapat mencemari lingkungan serta memiliki dampak buruk bagi kesehatan makhluk hidup. Salah satu metode pengolahan limbah zat warna adalah adsorpsi. Hidrotalsit merupakan salah satu material yang cukup umum digunakan sebagai adsorben yang memiliki efektifitas baik dalam mengadsorpsi zat warna sintetik. Struktur hidrotalsit yang dimodifikasi dengan suatu interkalan mampu meningkatkan kapasitas adsorpsinya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan adsorpsi zat warna tartrazin menggunakan hidrotalsit Ni/Al terinterkalasi polioksometalat K4[SiW12O40] dengan beberapa parameter uji yang meliputi pH, waktu kontak, dan konsentrasi adsorbat. Selain itu dipelajari juga model kinetika dan isoterm adsorpsinya. Sintesis hidrotalsit dilakukan menggunakan metode kopresipitasi yang dilanjutkan dengan proses hidrotermal pada suhu 100oC selama 15 jam pada rasio 3:1 (Ni:Al) menghasilkan Ni/Al-NO3. Interkalasi senyawa polioksometalat K4[SiW12O40] terhadap Ni/Al-NO3 dilakukan dengan metode pertukaran ion pada rasio 1:1 menghasilkan Ni/Al-[α-SiW12O40]. Hasil sintesis dikarakterisai menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), dan Scanning Electron Microscopy - Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDX). Kondisi optimum adsorpsi tartrazin oleh hidrotalsit Ni/Al-[α-SiW12O40] diperoleh pada pH 3, waktu kontak 90 menit, serta konsentrasi adsorbat 10 mg/L. Kinetika adsorpsi yang dihasilkan mengikuti model kinetika pseudo orde dua dengan nilai R2 sebesar 0,9997; konstanta laju adsorpsi sebesar 0,9368 g/mg.menit; dan nilai qe sebesar 22,0264 mg/g. Isoterm adsorpsi yang dihasilkan mengikuti model Isoterm Langmuir dengan nilai R2 sebesar 0,9974; KL sebesar 3,4758 L/mg; dan Qmaks sebesar 68,4931 mg/g.
The treatment of tartrazine dye waste is necessary because tartrazine can
cause harms for the environment as well as to the living organisms. One of the
methode of the tartrazine dye treatment is trough adsorption process. Hydrotalcite
material is commonly used as an adsorbent of synthetic dye due to its effectiveness in adsorption process. The structure of hydrotalcite modified with an intercalant can enhance its adsorption capacity. This study aims to investigate the adsorption of tartrazine dye using Ni/Al hydrotalcite intercalated with polyoxometalate K4[SiW12O40], with experimental parameters including pH, contact time, and adsorbate concentration. Additionally, the kinetic model and adsorption isotherm are studied. The synthesis of hydrotalcite pristine was performed using the coprecipitation method followed by a hydrothermal process at 100°C for 15 hours with a 3:1 (Ni:Al) ratio, yielding Ni/Al-NO3. The intercalation of the polyoxometalate compound K4[SiW12O40] and Ni/Al-NO3 was performed using the ion exchange method at a 1:1 ratio, resulting in Ni/Al-[α-SiW12O4]). The synthesis results were characterized using Fourier Transform Infrared (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), and Scanning Electron Microscopy - Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDX). The optimal conditions for tartrazine adsorption by
Ni/Al-[α-SiW12O40] hydrotalcite were obtained at pH 3, contact time of 90 minutes, and adsorbate concentration of 10 mg/L. The adsorption kinetics followed the pseudo-second-order kinetic model with an R² value of 0.9997; an adsorption rate constant of 0.9368 g/mg·min; and a qe value of 22.0264 mg/g. The adsorption
isotherm followed the Langmuir isotherm model with an R² value of 0.9974; a KL
value of 3.4758 L/mg; and a Qmax value of 68.4931 mg/g.
4693050320F2B023002Digitalisasi Pendidikan di Indonesia: Studi Penggunaan Moodle
Elsmansa di SMAN 1 Purbalingga Jawa Tengah
Permasalahan utama yang dihadapi adalah keberlanjutan penggunaan Moodle
Elsmansa pasca pandemi Covid-19 di SMAN 1 Purbalingga, terutama terkait adaptasi
teknologi dan kendala teknis. Pandemi tersebut mempercepat adopsi pembelajaran berbasis
digital, termasuk melalui sistem pembelajaran digital menggunakan platform e-learning.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberlanjutan penggunaan platform e-learning
ini dalam pembelajaran. Upaya ini dilakukan untuk memahami kendala dan keberhasilan
integrasi Moodle Elsmansa sebagai bagian dari transformasi digital pendidikan. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode pengumpulan data melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Moodle
Elsmansa menjadi platform yang menunjang kemudahan pembelajaran berbasis digital yang
relevan hingga saat ini.
The main problem faced is the desire to use Moodle Elsmansa after the Covid-19
pandemic at SMAN 1 Purbalingga, especially related to technology adaptation and technical
constraints. The pandemic accelerated the implementation of digital-based learning, including
through a digital learning system using an e-learning platform. This study aims to explore the
use of this e-learning platform in learning. This effort was made to overcome the obstacles and
the success of the integration of Moodle Elsmansa as part of the digital education transformation.
The research method used is a qualitative method. Data collection methods through observation,
interviews and documentation. The results of the study show that Moodle Elsmansa is a platform
that supports the convenience of digital-based learning that is relevant to date.
4693150326L1C021070PRODUKSI UDANG KROSOK
Metapenaeus ensis (De Haan,1844) BERDASARKAN MUSIM HASIL TANGKAPAN PERIKANAN ARAD DARI TAHUN
2016-2024 DI PERAIRAN TELUK PENYU CILACAP
Perairan Teluk Penyu, Cilacap merupakan salah satu wilayah produktif dalam WPPNRI 573 yang memiliki potensi tinggi terhadap komoditas udang krosok (Metapenaeus ensis). Dinamika oseanografi musiman seperti temperatur, salinitas, dan arus laut berpengaruh penting terhadap distribusi dan produktivitas udang di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produksi, perbandingan, dan perbedaan produksi udang krosok berdasarkan musim penangkapan (musim Penghujan, Kemarau, Peralihan 1, dan Peralihan 2) periode 2016–2024. Data sekunder diperoleh dari logbook di PPI Tegal Katilayu dan PPI Menganti Kisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi terjadi pada musim Peralihan 2 yaitu 979.224 kg, diikuti musim Kemarau (279.438 kg), musim Penghujan (270.400 kg), dan terendah pada musim Peralihan 1 (119.933 kg). Perbandingan antara musim Peralihan 2 dengan musim lainnya secara berturut adalah 816% lebih tinggi dari Peralihan 1, 350% lebih tinggi dari Kemarau, dan 352% lebih tinggi dari Penghujan. Perbedaan signifikan hanya diperoleh antara musim Peralihan 1 dan Peralihan 2, sedangkan perbandingan antara Peralihan 2 dengan musim Kemarau maupun musim Penghujan tidak berbeda secara signifikan. Musim Peralihan 2 diidentifikasi sebagai periode paling optimal untuk memproduksi udang krosok.Teluk Penyu waters in Cilacap are one of the productive fishing grounds within Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 573, with high potential for the croaker shrimp (Metapenaeus ensis). Seasonal oceanographic dynamics, such as temperature, salinity, and ocean currents, play an important role in determining the distribution and productivity of shrimp in this area. This study aims to analyze the production, comparison, and differences in croaker shrimp yields based on fishing seasons (Rainy Season, Dry Season, Transitional Season 1, and Transitional Season 2) during the 2016–2024 period. Secondary data were obtained from fishing logbooks at Tegal Katilayu Fishing Port and Menganti Kisik Fishing Port. The results showed that the highest production occurred in Transitional Season 2, reaching 979,224 kg, followed by the Dry Season (279,438 kg), the Rainy Season (270,400 kg), and the lowest in Transitional Season 1 (119,933 kg). Comparisons between Transitional Season II and other seasons revealed that production was 816% higher than Transitional Season I, 350% higher than the Dry Season, and 352% higher than the Rainy Season. Significant differences were only found between Transitional Season 1 and Transitional Season 2, while comparisons between Transitional Season 2 and both the Dry and Rainy Seasons showed no statistically significant differences. Transitional Season 2 is identified as the most optimal period for croaker shrimp production.
4693250322E1A018286PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KARYAWAN HARIAN LEPAS PADA PLASMA INDUSTRI BULU MATA DI CV EYELASHES PLATFORM MAKER PURBALINGGAKabupaten Purbalingga memiliki potensi besar dalam industri kerajinan, khususnya pada sektor produksi rambut dan bulu mata palsu yang telah ditetapkan sebagai produk unggulan daerah berdasarkan Keputusan Bupati Purbalingga Nomor 500/30 Tahun 2004. Perkembangan industri ini didukung oleh ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja lokal, serta iklim usaha yang kondusif. Pemerintah daerah turut mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui pembentukan klaster industri rumahan yang melibatkan masyarakat secara langsung, salah satunya adalah CV Eyelashes Platform Maker yang berlokasi di Kelurahan Purbalingga Kulon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk perlindungan hukum bagi pekerja harian lepas pada perusahaan tersebut serta menilai kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan di Indonesia.
Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif kualitatif dengan data primer berupa peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dan data sekunder yang diperoleh dari informasi dengan pihak perusahaan dan pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum belum sepenuhnya optimal akibat beberapa kendala, antara lain perjanjian kerja yang masih dilakukan secara lisan, belum adanya jaminan sosial secara menyeluruh, serta terbatasnya pengawasan dari instansi terkait. Upaya yang telah dilakukan perusahaan meliputi penyediaan perlengkapan keselamatan kerja dasar, pendaftaran sebagian pekerja pada program jaminan sosial, serta penyelesaian perselisihan secara informal. Rekomendasi penelitian ini mencakup penyusunan perjanjian kerja tertulis yang jelas, perluasan jaminan sosial, dan peningkatan pengawasan pemerintah daerah demi menjamin terpenuhinya hak-hak pekerja harian lepas..
Purbalingga Regency has significant potential in the handicraft industry, particularly in the production of hair and false eyelashes, which has been designated as a leading regional product under Purbalingga Regent Decree Number 500/30 of 2004. The development of this industry is supported by the availability of natural resources, local labor, and a conducive business climate. The local government also promotes the strengthening of the people's economy through the establishment of home industry clusters involving direct community participation, one of which is CV Eyelashes Platform Maker, located in Purbalingga Kulon Village. This study aims to examine the forms of legal protection for daily freelance workers in the company and assess their compliance with Indonesian labor laws and regulations.
The research employs a normative qualitative legal method, using primary data in the form of labor laws and regulations and secondary data obtained from information provided by the company and workers. The findings reveal that legal protection has not been fully optimized due to several obstacles, including verbal employment agreements, the absence of comprehensive social security coverage, and limited supervision from relevant authorities. The company's efforts include providing basic occupational safety equipment, registering some workers in social security programs, and resolving disputes informally. Recommendations include drafting clear written employment agreements, expanding social security coverage, and enhancing local government oversight to ensure the fulfillment of the rights of daily freelance workers.
4693350324K1C021075Pengaruh Aktivasi KOH Terhadap Struktur Dan Luas Permukaan Karbon Aktif Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Radar Absorbing MaterialPesatnya kemajuan teknologi saat ini mendorong berbagai inovasi di berbagai bidang, salah satunya yaitu teknologi radar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aktivasi KOH terhadap sifat karbon aktif yang berasal dari tempurung kelapa sebagai bahan baku Radar Absorbing Material (RAM). Proses penelitian meliputi tahap persiapan, sintesis karbon aktif melalui karbonisasi dan aktivasi kimia, pembuatan RAM, deposisi pada media uji, serta karakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Field Emission Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray (FESEM-EDS), Surface Area Analyzer (SAA-BET), dan Vector Network Analyzer (VNA). Aktivasi KOH memberikan dampak signifikan terhadap karakteristik karbon aktif tempurung kelapa. Hasil karakterisasi XRD menunjukan struktur amorf dengan pergeran puncak ke 2θ yang lebih kecil, menandakan peningkatan ketidakteraturan stuktur. Morfologi FESEM memperlihatkan lembaran kusut (wrinkle), sementara EDS mengkonfirmasi peningkatan kandungan karbon dan hilangnya unsur pengotor. Uji SAA-BET menunjukan aktivasi KOH menghasilkan pori yang lebih kecil 2,920 nm dan luas permukaan yang lebih besar 71,80m^2/g dibandingkan sampel tanpa aktivasi. Karbon aktif hasil aktivasi KOH menunjukan kinerja unggul sebagai RAM, pengujian VNA menunjukan nilai reflection loss mencapai -35,81 dB pada frekuensi 9,84 GHz. Temuan ini menegaskan bahwa karbon aktif tempurung kelapa hasil aktivasi KOH memiliki potensi besar sebagai material penyerapan gelombang mikro yang ramah lingkungan, ekonomis, dan kompetitif untuk teknologi stealth.The rapid advancement of technology today has driven innovation in varous fields, one of which is radar technology. This study aims to examine the effect of KOH activation on the properties of activated carbon derived from cocounet shells as a raw material for Radar absorbing material (RAM). The research process include the prepation stage, syntesis of activated carbon through carbonisation and chrmical activation, RAM prodution, deposition on the test medium and characterisation using X-Ray Diffraction (XRD), Field Emission Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray (FESEM-EDS), Surface Area Analyzer (SAA-BET), dan Vector Network Analyzer (VNA). KOH activation significantly impacts the characteristic off coconut shel activated carbon. XRD characterisation result show an amorphous stucture with a shift in the 2θ peak to a smaller value, indicating increased stuctural irregulaty. FESEM morphology reveals wrinkled sheets, while EDS confirms increased carbon content and the removal of impurities. SAA-BET testing showed that KOH activation produced smaller pores 2.920 nm and a larger surface area 71,80m^2/g comparedd to the non-activated sampel. The activated coconut shell carbon exhibited superior perfomance as a RAM, with VNA testing showing a reflection Loss -35,81 dB at a frequency 9,84GHz. These findings confirm that activated coconut shell carbon produced via KOH activation has significant potensial as an environmentally friendly, economical, and competitive microwave absorption material for stealth technology.
4693450323L1A021061REPRODUKSI SPESIES IKAN NILEM (Osteochilus vittatus, Valenciennes 1842) SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN DI WADUK P.B. SOEDIRMAN, KABUPATEN BANJARNEGARAPenelitian ini berjudul Reproduksi Spesies Ikan Nilem (Osteochilus vittatus, Valenciennes 1842) sebagai Dasar Pengelolaan di Waduk PB Soedirman, Kabupaten Banjarnegara. Ikan nilem merupakan spesies asli dengan populasi relatif rendah sehingga kajian aspek reproduksinya penting untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks gonadosomatik (IGS), fekunditas, dan diameter telur ikan nilem. Penelitian dilaksanakan pada Januari – Mei 2025 menggunakan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan rasio kelamin tidak seimbang (1:1,04). TKG betina didominasi stadium IV, sedangkan jantan lebih banyak pada stadium II – III. Nilai IGS jantan 5 – 18% dan betina 7 – 28%. Fekunditas betina berkisar 1.093 – 6.310 butir dengan diameter telur 0,74 – 1,81 mm. This study is titled Reproduction of the Nilem Fish Species (Osteochilus vittatus, Valenciennes 1842) as a Basis for Management in the PB Soedirman Reservoir, Banjarnegara. The nilem fish is a native species with a relatively low population, so studying its reproductive aspects is important to support sustainable fisheries management. The objectives of this study were to analyzed the sex ratio, gonadal maturity level (GML), gonadosomatic index (GSI), fecundity, and egg diameter of Nilem fish. The study was conducted from January to May 2025 using purposive sampling. Data analyzed was performed descriptively and using the Chi-Square test. The results of the study showed an unbalanced sex ratio (1:1,04). Female GML was dominated by stage IV, while males were more prevalent in stages II – III. Male GSI values ranged from 5 – 18%, and female GSI values from 7 – 28%. Female fecundity ranged from 1,093 to 6,310 eggs with an egg diameter of 0.74 – 1.81 mm.
4693550327K1A021014“Pengaruh
Fermentasi Terhadap Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Biologis Susu
Kedelai Glycine max (L.) Merr.)
Fermentasi asam laktat sudah banyak dilakukan pada berbagai macam produk
untuk meningkatkan nilai fungsional melalui peningkatakn manfaat kesehatan
seperti aktivitas antioksidan dan antibakteri produk makanan yang dapat
memerpanjang masa simpan. Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan salah
satu senis kacang tingggi protein yang banyak diolah sebagai susu kedelai di
Indonesia. Mempertimbangkan sifat susu kedelai yang masih mengandung
senyawa bioaktif dengan bioavailabilitas rendah maka perlu dilakukan pengolahan
dengan proses fermentasi untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan manfaat
kesehatan susu kedelai. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh
fermentasi terhadap kandungan senyawa bioaktof dan aktivitas biologis susu
kedelai. Uji kandungan senyawa bioaktif yang dilakukan meliputi kadar total
fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan kadar total flavonoid
menggunakan metode alumunium klorida (AlCl3). Uji aktivitas biologis meliputi
aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil)
dan ABTS (2,2’-azino-bis (3- etilbenzotiazolin)-6-asam sulfonat), serta aktivitas
antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menggunakan
metode mikrodilusi. Susu kedelai yang difermentasi dengan Lactobacillus gasseri,
Lactobacillus salivarius, dan kombinasinya menunjukkan peningkatan kadar
senyawa bioaktif dan aktivitas biologis dibandingkan dengan susu kedelai tanpa
fermentasi, meskipun terjadi penurunan pada beberapa perlakuan. Fermentasi
menggunakan kombinasi kedua bakteri menunjukan aktivitas tertinggi pada kadar
total fenolik dan flavonoid serta aktivitas antioksidan dan antibakteri baik terhadap
Escherichia coli maupun Staphylococcus aureus. Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya potensi pengembangan minuman fungsional berbasis susu kedelai yang
difermentasi.
Lactic acid fermentation has been commonly applied to various food products
to enhance their functional value by increasing health benefits such as antioxidant
and antibacterial activities, which can also prolong shelf life. Soybean (Glycine max
(L.) Merr.) is a high-protein legume commonly processed into soy milk in Indonesia.
Considering that soy milk still contains bioactive compounds with low
bioavailability, fermentation is necessary to improve its nutritional content and
health benefits. This study aimed to determine the effect of fermentation on the
content of bioactive compounds and the biological activities of soy milk. Analysis
of bioactive compounds included the determination of total phenolic content using
the Folin-Ciocalteu method and total flavonoid content using the aluminum
chloride (AlCl₃) method. Biological activities were assessed through antioxidant
activity using DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) and ABTS (2,2′-azino-bis(3-
ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)) methods, as well as antibacterial activity
against Escherichia coli and Staphylococcus aureus using the microdilution method.
Soy milk fermented with Lactobacillus gasseri, Lactobacillus salivarius, and their
combination showed an increase in bioactive compounds and biological activities
compared to non-fermented soy milk, although some treatments showed a decrease.
Fermentation using a combination of both bacteria demonstrated the highest
activity in terms of total phenolic and flavonoid contents, as well as antioxidant and
antibacterial activities against both Escherichia coli and Staphylococcus aureus.
These findings indicate the potential for developing a functional beverage based on
fermented soy milk.
4693650325E1A021074PENOLAKAN SITA JAMINAN KARENA MASUKNYA PIHAK
KETIGA SEBAGAI PEMEGANG HAK TANGGUNGAN
DALAM SENGKETA WANPRESTASI
(Studi Putusan Nomor 10/Pdt.G/2024/PN Skb)
Sita Jaminan bertujuan menjamin pengeksekusian Putusan, namun objek yang dimohonkan sita jaminan ternyata telah melekat hak tanggungan. Sita jaminan akan terbentur kepentingan pemegang hak tanggungan dalam penjaminan pelunasan utang. Sengketa wanprestasi Nomor 10/Pdt.G/2024/PN Skb antara PT Farmsco Feed Indonesia sebagai Penggugat Asal/Tergugat Intervensi I, Muhammad Rusdi sebagai Tergugat Asal/Tergugat Intervensi II, serta Bank BCA/Penggugat Intervensi sebagai pemegang hak tanggungan yang mengajukan Intervensi jenis tussenkomst untuk menolak sita jaminan yang dimohonkan Penggugat Asal terhadap harta Tergugat Asal. Penelitian bertujuan menganalisis pertimbangan hukum Majelis Hakim dalam mengabulkan intervensi Bank BCA, serta upaya hukum bagi Penggugat Asal akibat ditolaknya sita jaminan. Jenis penelitian yuridis normatif. Metode pendekatan undang-undang, konseptual, kasus. Spesifikasi penelitian preskriptif dengan data sekunder dari studi kepustakaan. Penyajian data teks naratif dengan analisis normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Majelis Hakim keliru menyamakan sita jaminan dalam petitum provisi dengan petitum pokok padahal objek berbeda, Majelis Hakim keliru tidak mempertimbangkan syarat Tussenkomst “kepentingannya terganggu” yang tidak dipenuhi Bank BCA karena tidak ada Putusan Sela yang mengabulkan sita jaminan. Penolakan sita jaminan oleh Bank BCA seharusnya dengan Derden Verzet. Penggugat Asal dapat Banding, Kasasi, dan Peninjauan kembali atas dasar kekeliruan Majelis Hakim. Eksekusi dapat dimohonkan saat Putusan sudah incracht dengan amar penghukuman sejumlah uang.Conservatory attachment aims to secure the Plaintiff’s right to executing a judgment. The object requested for attachment is already encumbered with mortgage right. The Plaintiff’s interest collides with the mortgage holder who requires security for debt repayment. Civil Case No. 10/Pdt.G/2024/PN Skb a breach of contract between PT Farmsco Feed Indonesia as Original Plaintiff/Intervening Defendant I and Muhammad Rusdi as Original Defendant/Intervening Defendant II. Bank BCA, as the mortgage holder, submitted a tussenkomst intervention opposing the requested attachment. This study examines the court’s legal reasoning in granting the intervention and evaluates legal remedies available to the plaintiff following the rejection of attachment. The research adopts a normative juridical method, employing statutory, conceptual, and case approaches, with prescriptive specification. Secondary legal materials were collected through literature study, presented narratively, and analyzed qualitatively. The findings indicate that court erred by granting Bank BCA’s intervention without establishing the required element of disturbed legal interest. In the absence of interlocutory order granting attachment, Bank BCA’s legal standing was insufficient, and its proper remedy should have been derden verzet. For the plaintiff, available remedies include appeal, cassation, and judicial review, in addition to seeking enforcement of any final judgment ordering payment of the outstanding debt.
4693750329I1D021001Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang ASI Eksklusif, serta Persepsi Ibu tentang Fasilitas Ruang ASI dengan Pemberian Ruang ASI pada Ibu Bekerja di Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Pemberian ASI Eksklusif sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, tak mudah bagi ibu bekerja dalam menjalani peran ganda untuk menyusui bayinya. Penyebab rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja adalah waktu cuti hamil dan melahirkan yang relatif singkat, kesibukan kerja, dan ketersediaan ruang ASI di tempat kerja Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang ASI Eksklusif, serta persepsi ibu tentang fasilitas ruang ASI pada ibu bekerja di Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 32 ibu bekerja di Universitas Jenderal Soedirman dilibatkan sebagai responden menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai pengetahuan, sikap, persepsi ibu tentang fasilitas ruang ASI, dan pemberian ASI Eksklusif. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.
Hasil Penelitian: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ASI Eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif (p= 0,555), tidak terdapat hubungan antara sikap ASI Eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif (p= 0,703), dan tidak terdapat hubungan antara persepsi ibu tentang fasilitas ruang ASI dengan pemberian ASI Eksklusif (p= 0,555).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ASI Eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif, tidak terdapat hubungan antara sikap ASI Eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif, dan tidak terdapat hubungan antara persepsi ibu tentang fasilitas ruang ASI dengan pemberian ASI Eksklusif.
Background: Exclusive breastfeeding is very beneficial for the growth and development of children. However, it is not easy for working mothers to fulfill their dual role of breastfeeding their babies. The low rates of exclusive breastfeeding among working mothers are attributed to relatively short maternity leave periods, work-related busyness, and the availability of breastfeeding facilities at the workplace. This study aims to investigate the relationship between knowledge and attitudes toward exclusive breastfeeding, as well as mothers' perceptions of breastfeeding facilities, among working mothers at Jenderal Soedirman University.
Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 32 working mothers at Jenderal Soedirman University were involved as respondents using total sampling technique. Data were collected through questionnaires to assess knowledge, attitudes, availability of breastfeeding rooms, and exclusive breastfeeding. Data analysis was performed using the Chi-square test to identify relationships between variables.
Research Results: There was no relationship between knowledge of exclusive breastfeeding and exclusive breastfeeding (p= 0.555), no relationship between attitudes toward exclusive breastfeeding and exclusive breastfeeding (p= 0.703), and no relationship between mothers' perceptions of breastfeeding facilities and exclusive breastfeeding (p= 0.555).
Conclusion: There is no relationship between knowledge of exclusive breastfeeding and exclusive breastfeeding, no relationship between attitudes toward exclusive breastfeeding and exclusive breastfeeding, and no relationship between mothers' perceptions of breastfeeding facilities and exclusive breastfeeding.
4693850330I1D021069HUBUNGAN USIA, TINGKAT KECUKUPAN PROTEIN, RISIKO KURANG ENERGI KRONIK (KEK), DAN KEPATUHAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH (TTD) DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
(Studi pada Puskesmas Purwokerto Selatan)
Latar Belakang: Anemia pada kehamilan menjadi perhatian serius karena penyebab utama perdarahan yang berkontribusi paling tinggi terhadap kematian ibu hamil. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai 27,7%. Angka ini lebih tinggi di Jawa Tengah, dengan 41,8% ibu hamil mengalami anemia. Secara lebih spesifik, di Kabupaten Banyumas, data Profil Kesehatan tahun 2023 menunjukkan bahwa proporsi ibu hamil anemia di Purwokerto Selatan adalah 15,9%, mencakup sekitar 248 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, tingkat kecukupan protein, risiko kurang energi kronik (KEK), dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) dengan kejadian anemia pada ibu hamil (Studi Pada Puskesmas Purwokerto Selatan).

Metodologi: Pendekatan cross sectional dilakukan dengan melibatkan 66 ibu hamil di Puskesmas Purwokerto Selatan. Sampel ditentukan dengan menggunakan accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa pengisian formulir, wawancara sq-ffq, pengukuran lingkar lengan atas, dan pengukuran kadar hemoglobin. Variabel dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan kemaknaan 5%.

Hasil Penelitian: Sebesar 51,5% ibu hamil mengalami anemia. Sebagian besar ibu hamil memiliki usia tidak berisiko (77,3%), memiliki tingkat kecukupan protein kurang (72,7%), tidak berisiko kurang energi kronik (69,7%) dan mayoritas ibu hamil patuh dalam mengkonsumsi tablet tambah darah (81,8%). Hubungan usia ibu (p=0,454), tingkat kecukupan protein (p=0,688), risiko kurang energi kronik (p=0,363) dan kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah (p=0,002).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) dengan kejadian anemia, namun tidak terdapat hubungan antara usia ibu, risiko kuramg energi kronik (KEK) dan tingkat kecukupan protein dengan kejadian anemia.

Kata Kunci: usia, risiko kurang energi kronik (KEK), tingkat kecukupan protein, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD), anemia.

Background: Pregnancy-related anemia is a serious concern, as it is a leading cause of hemorrhage and a significant contributor to maternal mortality. According to the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia reached 27.7%. This figure is even higher in Central Java, where 41.8% of pregnant women suffer from anemia. More specifically, in Banyumas Regency, 2023 Health Profile data shows that the proportion of anemic pregnant women in South Purwokerto was 15.9%, accounting for approximately 248 cases. This study aims to determine the relationship between age, protein intake level, risk of chronic energy deficiency (CED), and compliance with iron folic acid (IFA) with the incidence of anemia in pregnant women (A study at the South Purwokerto Community Health Center).
Methods: A cross-sectional approach was conducted involving 66 pregnant women at Puskesmas Purwokerto Selatan. The sample was determined using accidental sampling. Instruments used included questionnaire completion, SQ-FFQ interviews, mid-upper arm circumference measurements, and hemoglobin level measurements. Variables were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 5%.
Results: The results indicated that 51.5% of pregnant women experienced anemia. The majority of respondents were of non-risky age and had a non-risky chronic energy deficiency status. Most respondents showed good adherence to iron tablet consumption, although the majority also had inadequate protein intake. Bivariate analysis revealed a significant association between adherence to iron tablet (IT) consumption and the incidence of anemia (p=0.002). However, no significant association was found between maternal age and anemia (p=0.454), risk of chronic energy deficiency and anemia (p=0.363), or protein adequacy level and anemia (p=0.688).
Conslusion: There is a relationship between compliance with iron folic acid (IFA) and the incidence of anemia, but no relationship was found between maternal age, risk of chronic energy deficiency (CED), and level of protein adequacy with the incidence of anemia.
Keywords: Age, Chronic Energy Deficiency (CED) Risk, Protein Adequacy Level, Iron Folic Acid (IFA), Anemia
4693950331K1C021056IDENTIFIKASI STRUKTUR BATUAN DAERAH PROSPEK HIDROKARBON CEKUNGAN BANYUMAS DI KECAMATAN KAIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS MENGGUNAKAN METODE MAGNETIKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur geologi Cekungan Banyumas di Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas dan meninjau potensi keberadaan petroleum system Cekungan Banyumas menggunakan metode magnetik. Data metode magnetik yang digunakan diperoleh dari akuisisi lapangan menggunakan metode looping dan alat berupa PPM GSM-10 dengan luas wilayah penelitian sebesar 4 x 2 km serta jumlah titik pengukuran sebanyak 200 titik. Hasil akuisisi yang diperoleh kemudian dikoreksi hinggga mendapatkan data anomali magnetik. Data anomali magnetik kemudian dijadikan dasar dalam pembuatan model 2D struktur batuan yang ada dibawah permukaan menggunakan metode pemodelan kedepan (forward modelling) dengan bantuan software Oasis Montaj. Model 2D dibuat disepanjang 4 lintasan sayatan yang sudah ditentukan dengan nilai error model terkecil yang diperoleh sebesar 0,23%. Setelah dimodelkan, struktur batuan kemudian diinterpretasi berdasarkan nilai suseptibilitas batuan. Hasil pemodelan dan interpretasi berdasarkan nilai suseptibilitas adalah adanya struktur Aluvium dan beberapa anggota formasi Tapak seperti batugamping, batupasir, batulempung, dan breksi andesit dibawah permukaan daerah penelitian. Hasil tersebut kemudian dikaitkan dengan tinjauan mengenai petroleum system Cekungan Banyumas.This research aims to investigate the subsurface geological structure of the Banyumas Basin in Kalibagor District, Banyumas Regency, using the magnetic method and to correlate it with the presence of a petroleum system in the Banyumas Basin. The study was conducted through direct measurements using the looping method with a PPM GSM-10 instrument, covering a research area of 4 x 2 km with 200 measurement points. The measurement results, in the form of magnetic anomalies, were then used as a basis for creating a 2D subsurface rock structure model. This was achieved using the forward modeling method with the aid of Oasis Montaj software. The 2D models were constructed along four predefined cross-sections, with the smallest model error obtained being 0,23%. After modeling, the rock structures were interpreted based on their susceptibility values. The modeling and interpretation results, based on susceptibility values, indicate the presence of Alluvium structures and several members of the Tapak formation, such as limestone, sandstone, claystone, and andesite breccia, beneath the surface of the research area. These findings are then correlated with the petroleum system of the Banyumas Basin.
4694050332J1A021004
FIGURATIVE LANGUAGE IN TECHNOLOGY ADVERTISING: A STUDY OF SAMSUNG CAMPAIGNS
Bahasa kiasan adalah penggunaan unsur-unsur linguistik non-literal untuk menyampaikan makna kompleks secara imajinatif. Dalam konteks periklanan, khususnya iklan video Samsung, bahasa kiasan memperkuat pesan melalui ungkapan figuratif yang secara kreatif membandingkan atau mengilustrasikan. Strategi bahasa ini memungkinkan penyajian fitur-fitur teknologi menjadi lebih menarik, emosional, dan berkesan bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis bahasa kiasan yang digunakan dalam iklan video Samsung yang diunggah ke YouTube. Objek penelitian ini adalah ujaran, kata, kalimat, atau frasa dalam iklan video yang mengandung unsur bahasa kiasan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik. Data dikumpulkan dari delapan iklan video Samsung, dengan fokus pada ungkapan yang mengandung bahasa kiasan, dengan total 35 data yang dikumpulkan melalui observasi dan transkripsi. Data dianalisis dengan cara mengidentifikasi dan mengkategorikan bahasa kiasan dalam iklan, kemudian mengkajinya menggunakan kerangka teori dari Perrine (2018) yang mencakup jenis dan fungsinya. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan: hiperbola, metafora, personifikasi, simile, metonimi, dan paradoks. Dari keenam jenis tersebut, hiperbola adalah yang paling umum digunakan. Selain itu, fungsi gaya bahasa kiasan yang paling sering ditemukan adalah increase emotional intensity, diikuti oleh imaginative pleasure, dan beberapa fungsi lain seperti bringing additional imagery dan saying in brief compass.Figurative language uses non-literal linguistic elements to convey complex meanings imaginatively. In advertising, specifically Samsung's video advertisements, figurative language strengthens the message through figurative expressions that creatively compare or illustrate. This language strategy allows the presentation of technological features to be more engaging, emotional, and memorable for consumers. This study aims to determine the types of figurative language used in Samsung video advertisements uploaded to YouTube. The objects of this study are utterances, words, sentences, or phrases in video advertisements that contain elements of figurative language. The research method used is descriptive qualitative with a semantic approach. Data were collected from eight Samsung video advertisements, focusing on expressions containing figurative language, with 35 data points collected through observation and transcription. The data were analysed by identifying and categorizing figurative language in the advertisements, then interpreting them through Perrine’s (2018) framework, which outlines their types and functions. This study's final results indicate that six types of figurative language are used: hyperbole, metaphor, personification, simile, metonymy, and paradox. Of the six types, hyperbole is the most commonly used. In addition, figurative language's most frequently found function is increasing emotional intensity, followed by imaginative pleasure, and several other functions such as bringing additional imagery and saying in brief compass.