Artikelilmiahs
Menampilkan 46.841-46.860 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 46841 | 50242 | L1C021062 | Karakteristik Sedimen dan Profil Vertikal Logam Pb Pada Ekosistem Mangrove Kandang Panjang Kota Pekalongan | Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menyerap logam berat, salah satunya Pb yang berasal dari aktivitas antropogenik di Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sedimen, profil vertikal logam Pb, serta hubungan Pb dengan variabel fisika-kimia sedimen di ekosistem Mangrove Kandang Panjang Kota Pekalongan. Penelitian dilakukan pada dua stasiun dengan pembagian kedalaman sedimen 0–20, 20–40, 40–60, 60–80, dan 80–100 cm, menggunakan metode purposive sampling. Variabel yang diamati meliputi fraksi sedimen, bahan organik, pH tanah, dan logam Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi fraksi halus dengan kategori lempung berdebu. Kandungan bahan organik berkisar 0,32–2,50% dengan rata-rata tergolong rendah (1,0–2,0%), sedangkan nilai pH tabah berkisar antara 6,1–7,5. Kandungan Pb tertinggi (28,56 mg/kg) ditemukan pada stasiun 2 di kedalaman 20–40 cm, dan terendah (6,58 mg/kg) pada stasiun 1 di kedalaman 80–100 cm. Analisis Pearson menunjukkan korelasi positif antara Pb dengan bahan organik dan fraksi debu, serta korelasi negatif dengan pH dan kedalaman. Faktor kontaminasi (CF) menunjukan bahwa sedimen mangrove di Kandang Panjang telah terkontaminasi Pb dengan kategori rendah dan indeks goeakumulasi (Igeo) mengindikasikan kondisi sedimen yang tidak tercemar. Hal ini menunjukkan bahwa sedimen mangrove mampu mengakumulasi Pb, namun belum menunjukkan indikasi pencemaran yang signifikan. | Mangrove ecosystems play an important role in absorbing heavy metals, including lead (Pb) derived from anthropogenic activities in Pekalongan. This study aims to analyze sediment characteristics, vertical profiles of Pb, and its relationship with sediment physicochemical variables in the Mangrove Ecosystem of Kandang Panjang, Pekalongan City. Sampling was carried out at two stations with depths of 0–20, 20–40, 40–60, 60–80, and 80–100 cm using purposive sampling. Observed variables included sediment fractions, organic matter, soil pH, and Pb concentration. The results showed that the sediment was dominated by fine fractions, categorized as silty clay. Organic matter content ranged from 0.32–2.50%, with an average classified as low (1.0–2.0%), while pH values ranged from 6.1 to 7.5. The highest Pb concentration (28.56 mg/kg) was found at station 2 at a depth of 20–40 cm, and the lowest (6.58 mg/kg) at station 1 at a depth of 80–100 cm. Pearson’s correlation showed a positive relationship between Pb and both organic matter and silt fractions, and a negative correlation with pH and depth. The contamination factor (CF) indicated that the sediment was slightly contaminated, while the geoaccumulation index (Igeo) indicated an uncontaminated condition. This suggests that mangrove sediments have the ability to accumulate Pb, but have not yet shown significant pollution. | |
| 46842 | 50240 | A1D021123 | Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Biochar dan Ecoenzyme Terhadap Morfologi Tanaman Kopi (Coffea canephora) | Tanaman kopi merupakan jenis tanaman perkebunan yang bersal dari Benua Afrika. Salah satu permasalahan budidaya kopi adalah penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan sehingga tanah menjadi tidak subur. Penggunaan pupuk organik dan serta pembenah tanah dapat memperbaiki tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil terbaik dari penggunaan biochar dan ecoenzyme untuk morfologi tanaman kopi. Faktor yang akan dicoba dalam penelitian ini yaitu: tanpa biochar (B0), 200 g biochar (B1), 300 g biochar (B2). Faktor dua ecoenzyme yang terdiri dari tanpa ecoenzyme (E1), 50 ml/L ecoenzyme (E1), 100 ml/L ecoenzyme (E2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemberian biochar berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm). Faktor pemberian ecoenzyme berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun (helai). Terdapat interaksi antara kombinasi perlakuan biochar dengan ecoenzyme pada variabel tinggi tanaman. | Coffee plants are a type of plantation crop originating from the African continent. One of the problems of coffee cultivation is the excessive use of inorganic fertilizers so that the soil becomes infertile. The use of organic fertilizers and soil conditioners can improve the soil. This study aims to obtain the best results from the use of biochar and ecoenzyme for the morphology of coffee plants. The factors that will be tried in this study are: without biochar (B0), 200 g biochar (B1), 300 g biochar (B2). The two ecoenzyme factors consisting of without ecoenzyme (E1), 50 ml/L ecoenzyme (E1), 100 ml/L ecoenzyme (E2). The results showed that the biochar administration factor had a significant effect on the increase in plant height (cm) and stem diameter (cm). The ecoenzyme administration factor had a significant effect on the variables of the number of leaves (strands), There is an interaction between the combination of biochar treatment and ecoenzyme on plant height variables. | |
| 46843 | 50243 | A1F021051 | KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI SOSIS ANALOG BERBASIS JAMUR TIRAM DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG UBI JALAR MADU | Sosis merupakan jenis pangan yang banyak dikonsumsi dan memiliki kandungan lemak tinggi. Kandungan lemak pada sosis hewani akan berdampak pada munculnya masalah kesehatan seperti jantung koroner sehingga perlu adanya alternatif yang menyediakan sosis rendah lemak. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan yaitu dengan menggantikan daging menggunakan jamur tiram dan menambahkan tepung ubi jalar madu sebagai bahan pengisi yang diharapkan dapat meningkatkan kandungan gizi pada sosis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung ubi jalar madu var. Bima Pasru dan tapioka dalam tepung komposit terhadap karakteristik fisikokimia sosis analog, mengetahui pengaruh proporsi jamur tiram dan tepung komposit terhadap karakteristik fisikokimia sosis analog, mengetahui adanya interaksi antara perlakuan proporsi tepung ubi jalar madu var. Bima Pasru-tapioka dalam tepung komposit dan proporsi jamur tiram-tepung komposit terhadap karakteristik fisikokimia sosis analog, mengetahui pengaruh kombinasi antara perlakuan proporsi tepung ubi jalar madu var. Bima Pasru-tapioka dalam tepung komposit terhadap karakteristik sensori sosis analog, serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara perlakuan proporsi tepung ubi jalar madu var. Bima Pasru-tapioka dalam tepung komposit dan proporsi jamur tiram-tepung komposit didasarkan pada aspek karakteristik kimia dan sensori sosis analog. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 9 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Faktor pertama yaitu proporsi tepung ubi jalar madu var.Bima Pasru dan tapioka dalam tepung komposit (K) 1:3, 1:1, 3:1, Faktor kedua yaitu proporsi jamur tiram dan tepung komposit (M) 30%:70%, 40%:60%, 50%:50%. Variabel yang diamati pada penelitian ini terdiri dari variabel kimia, fisik, dan sensori. Variabel kimia mencakup kadar air, abu, lemak, protein total, serat pangan, dan beta-karoten. Variabel fisik mencakup hardness, cohesiveness, gumminess, chewiness, dan springiness, sedangkan variabel sensori mencakup warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan. Data hasil pengamatan variabel kimia dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5% dan di uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) atau uji Games-howell. Variabel fisik dianalisis menggunakan Kruskal Wallis, apabila data normal dan homogen dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji DMRT. Mutu sensori dianalisis menggunakan uji friedman dan di uji lanjut LSD apabila berpengaruh nyata. Penentuan kombinasi perlakuan terbaik dilakukan menggunakan uji indeks efektivitas De Garmo. Hasil penelitian menunjukkan semakin banyak proporsi jamur tiram dapat menurunkan kadar air dan meningkatkan kadar abu, sedangkan semakin banyak proporsi tepung ubi jalar madu var. Bima Pasru dalam tepung komposit dapat meningkatkan kadar lemak, beta-karoten, dan menurunkan nilai springiness. Kombinasi kedua perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan sehingga dapat diterima. Sosis analog dengan perlakuan proporsi tepung ubi jalar madu var.Bima Pasru (3)-tapioka (1) dan proporsi jamur tiram (50%)-tepung komposit (50%) (K3M3) adalah perlakuan terbaik dengan karakteristik seperti kadar air 53,69%, kadar abu 2,13%, lemak 3,66%, kadar protein 4,91%, kadar beta-karoten 38,43 µg/g, serat pangan 1,98%, skor warna 4 (cokelat kekuningan) dan 5,02 (sedikit suka), skor aroma 5,02 (sedikit kuat khas sosis) dan 5,02 (sedikit suka), skor rasa 4,83 (sedikit umami) dan 5,63 (suka), skor tekstur 4,6 (sedikit kenyal) dan 5,48 (sedikit suka), serta skor kesukaan keseluruhan 5,53 (suka). | Sausage is a type of food that is widely consumed and has a high fat content. The fat content in animal sausages will have an impact on the emergence of health problems such as coronary heart disease, so there is a need for alternatives that provide low-fat sausages. One innovation that can be developed is by replacing meat with oyster mushrooms and adding honey sweet potato flour as a filling material that is expected to increase the nutritional content of the sausage. The research aims to determine the effect of the proportion of honey sweet potato flour var. Bima Pasru and tapioca in composite flour on the physicochemical characteristics of analog sausages, determine the effect of the proportion of oyster mushrooms and composite flour on the physicochemical characteristics of analog sausages, determine the interaction between the treatment of the proportion of honey sweet potato flour var. Bima Pasru-tapioca in composite flour and the proportion of oyster mushroom-composite flour on the physicochemical characteristics of analog sausage, determine the effect of the combination between the treatment of the proportion of sweet potato flour var. Bima Pasru-tapioca in composite flour on the sensory characteristics of analog sausage, and determine the best treatment combination between the treatment of the proportion of sweet potato flour var. Bima Pasru-tapioca in composite flour and the proportion of oyster mushroom-composite flour based on the aspects of chemical and sensory characteristics of analog sausage. The research used an experimental method with a Randomized Group Design (RAK) consisting of 9 treatment combinations and 3 replications, resulting in 27 experimental units. The first factor is the proportion of honey sweet potato flour var.Bima Pasru and tapioca in composite flour (K) 1:3, 1:1, 3:1, The second factor was the proportion of oyster mushroom and composite flour (M) 30%:70%, 40%:60%, 50%:50%. The variables observed in this study consisted of chemical, physical, and sensory variables. Chemical variables included moisture content, ash, fat, total protein, dietary fiber, and beta-carotene. Physical variables included hardness, cohesiveness, gumminess, chewiness, and springiness, while sensory variables included color, aroma, taste, texture, and overall liking. Data from observations of chemical variables were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with a significance level of 5% and further tested by DMRT (Duncan Multiple Range Test) or Games-howell test. Physical variables were analyzed using Kruskal Wallis, if normal and homogeneous data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and DMRT test. Sensory quality was analyzed using Friedman test and LSD further test if significant. Determination of the best treatment combination was done using the De Garmo effectiveness index test. The results showed that the higher proportion of oyster mushroom can reduce moisture content and increase ash content, while the higher proportion of honey sweet potato flour var. Bima Pasru in composite flour can increase fat content, beta-carotene, and decrease springiness value. The combination of the two treatments had a significant effect on color, aroma, taste, texture, and overall acceptability. Analog sausage with the treatment of proportion of honey sweet potato flour var.Bima Pasru (3)-tapioca (1) and proportion of oyster mushroom (50%)-composite flour (50%) (K3M3) was the best treatment with characteristics such as moisture content of 53,69%, ash content of 2,13%, fat 3,66%, protein content of 4,91%, beta-carotene content of 38, 43 µg/g, dietary fiber 1,98%, color score 4 (yellowish brown) and 5,02 (slightly liked), aroma score 5,02 (slightly strong typical of sausage) and 5,02 (slightly liked), taste score 4,83 (slightly umami) and 5,63 (liked), texture score 4,6 (slightly chewy) and 5,48 (slightly liked), and overall liking score 5,53 (liked). | |
| 46844 | 50219 | E1A018029 | PERMOHONAN PEMBATALAN PERKAWINAN KARENA DILAKSANAKAN DENGAN PAKSAAN ORANG TUA CALON ISTRI (Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Pengadilan Agama Jepara Nomor 235/Pdt.G/2024/PA.Jepr) | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu syarat pernikahan di KUA, hasil pemeriksaan medis menunjukkan Calon suami positif mengidap Penyakit HEPATITIS B Suatu penyakit yang resiko penularannya sangat tinggi, mengetahui calon suami menderita penyakit HEPATISI B calon istri menyampaikan penolokan kepada orang tua nya untuk membatalkan proses pernikahannya, karna adanya paksaan dari kedua orang tuanya untuk menjaga nama baik keluarganya pernikahan tetap dilangsungkan dengan penuh keterpaksaan, setelah menikah terjadi pertengkaran antara istri dan suami dikarenakan istri takut tertular penyakit Hepatisis B yang diderita suami, melalui renungan dan berbagai pertimbangan tentang masa depannya istri memutuskan untuk membatalkan perkawinan yang telah terjadi karena, istri merasa pernikahannya tidak dilaksanakan atas dasar kehendaknya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam perkara permohonan pembatalan perkawinan serta mengalisis akibat hukum permohonan pembatalan perkawinan karena dilaksanakan dengan paksaan orang tua calon istri pada Penetapan Pengadilan Agama Jepara Nomor 235/Pdt.G/2024/Pa.Jepr. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian Preskriptif, menggunakan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Sumber data yang digunakan merupakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan, diolah serta dianalisis menggunakan metode normatif kualitatatif disajikan dalam bentuk teks naratif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Hakim mengabulkan pembatalan perkawinan dalam Penetapan Pengadilan Agama Jepara Nomor 235/Pdt.G/2024/PA.Jepr perkawinan dilakukan atas dasar keterpaksaan didasarkan pada pertimbangan hukum hakim yang melanggar ketentuan Pasal 6 Ayat (1) tentang persyaratan perkawinan, Pasal 26 dan 27 ayat (1) Tentang alasan Pembatalan Perkawinan dan Pasal 22 tentang alasan pembatalan perkawinan Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo pasal 72 Ayat 1 dan pasal 73 huruf (b) kompilasi hukum islam. Akibat hukum yang timbul dari pembatalan perkawinan adalah bahwa perkawinan antara Istri dan suami dianggap tidak pernah ada, sesuai dengan Pasal 28 Ayat 1 dan 2 Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang akibat hukum pembatalan perkawinan jo Pasal 75 Kompilasi Hukum Islam. | This sesearch is motivated by the health examination required as one of the conditions for marriage at the Office of Religious Affairs (KUA). The medical results showed that the prospective husband tested positive for Hepatitis B, a disease with a very high risk of transmission. Aware of this, the prospective wife expressed her objection to her parents and asked to cancel the marriage. However, due to pressure from her parents to preserve the family’s reputation, the marriage was carried out under coercion. After the wedding, conflicts arose between husband and wife because the wife feared contracting Hepatitis B from her husband. Upon reflection and consideration of her future, the wife decided to annul the marriage because it had not been conducted based on her own free will. The purpose of this study is to examine the judge’s legal considerations in cases of marriage annulment and to analyze the legal consequences of annulment when a marriage is conducted under parental coercion, as reflected in the Decision of the Religious Court of Jepara Number 235/Pdt.G/2024/PA.Jepr. This study applies a normative statute approach with prescriptive research specifications, using statutory, case approach, and conceptual approaches. The data consist of secondary legal sources, both primary and secondary materials, collected through library research, processed, and analyzed using a qualitative normative method, and presented in narrative form. Based on the findings and analysis, it can be concluded that the judge granted the annulment of the marriage in the Decision of the Religious Court of Jepara Number 235/Pdt.G/2024/PA.Jepr on the grounds that the marriage was conducted under coercion, thus violating Article 6 paragraph (1) regarding the requirements of marriage, Articles 26 and 27 paragraph (1) concerning the grounds for annulment, and Article 22 concerning the filing of annulment under Law Number 1 of 1974 in conjunction with Article 72 paragraph (1) and Article 73 letter (b) of the Compilation of Islamic Law. The legal consequence of the annulment is that the marriage between the wife and husband is deemed never to have existed, in accordance with Article 28 paragraphs (1) and (2) of Law Number 1 of 1974 on the legal consequences of annulled marriages in conjunction with Article 75 of the Compilation of Islamic Law. | |
| 46845 | 50244 | L1B021063 | Jumlah Total Dan Karakteristik Bakteri Pada Usus Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Dalam Kasus Kematian Massal Di Sistem Budidaya Intensif | Usus pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) memiliki keberagaman bakteri yang sangat melimpah, terdiri dari bakteri patogen dan non-patogen. Bakteri patogen bersifat opurtunistik atau dapat melemahkan kesehatan udang hingga mengalami kematian massal. Sehingga, diperlukan penelitian atau analisis terhadap jumlah total dan karakteristik bakteri pada udang yang menyebabkan terjadinya kematian massal dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah total dan mengamati karakteristik bakteri berdasarkan morfologi dan uji biokimia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatf dengan pengambilan sampelnya menggunakan purposive random sampling. Jumlah total bakteri berkisar antara 5,17422 x 105 CFU/gr hingga 1049,4 x 105 CFU/gr yang tergolong melampaui ambang batas yaitu sebesar 5 x 105 CFU/gr. Karakteristik morfologi koloni bakteri didominasi oleh bakteri yang berbentuk circular, elevasi flat, tepian entire, berwarna putih pada media TSA dan berwarna hijau pada media TCBS. Sedangkan berdasarkan uji biokimia, didominasi oleh bakteri yang memiliki sifat gram positif, katalase positif, oksidase positif, uji aktivitas protease positif, glukosa negatif, sukrosa postif, dan laktosa negatif. | The intestines of vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) possess a highly diverse bacterial composition, consisting of both pathogenic and non-pathogenic bacteria. Pathogenic bacteria are opportunistic and can compromise shrimp health, potentially leading to mass mortality. Therefore, research or analysis is necessary to assess the total number and characteristics of bacteria in shrimp that cause such mass mortality in this study. This research aims to quantify the total number of bacteria and observe their characteristics based on morphology and biochemical tests. The study employs a quantitative method with sampling conducted using purposive random sampling. The total bacterial count ranges from 5.17422 x 10^5 CFU/g to 1049.4 x 10^5 CFU/g, which exceeds the threshold limit of 5 x 10^5 CFU/g. The morphological characteristics of the bacterial colonies are dominated by bacteria that have a circular shape, flat elevation, entire edges, white color on TSA media, and green color on TCBS media. Meanwhile, based on biochemical tests, they are dominated by bacteria that exhibit gram-positive properties, are catalase positive, oxidase positive, show positive protease activity, are glucose negative, sucrose positive, and lactose negative.. | |
| 46846 | 50246 | C1H018040 | ANALYSIS OF THE EFFECT OF BRAND EXPERIENCE, BRAND SATISFACTION, AND BRAND TRUST ON BRAND LOYALTY: A STUDY OF VESPA PIAGGIO CONSUMERS IN PURWOKERTO | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh brand experience, brand satisfaction, dan brand trust terhadap brand loyalty pada Vespa Piaggio. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya popularitas Vespa meskipun banyak merek kendaraan roda dua pesaing. Loyalitas pengguna Vespa tetap kuat karena adanya keterikatan emosional, pengalaman merek yang unik, dan basis komunitas yang solid. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan dari 96 responden yang merupakan pengguna Vespa Piaggio dan anggota aktif komunitas Vespa di Purwokerto. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) melalui perangkat lunak AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand experience berpengaruh positif signifikan terhadap brand satisfaction dan brand trust. Selanjutnya, brand satisfaction dan brand trust berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty. Penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa brand trust dan brand satisfaction memediasi hubungan antara brand experience dan brand loyalty. Temuan ini menegaskan pentingnya memberikan pengalaman merek yang konsisten dan memuaskan untuk membangun loyalitas konsumen jangka panjang. Implikasi penelitian ini mencakup aspek manajerial dan teoretis. Dari sisi manajerial, perusahaan, khususnya di sektor otomotif, perlu memprioritaskan peningkatan pengalaman pelanggan melalui kualitas produk yang unggul, keterlibatan aktif komunitas, dan layanan purna jual yang andal, karena penguatan kepuasan dan kepercayaan dapat meningkatkan loyalitas bahkan di pasar yang kompetitif. Dari sisi teoretis, penelitian ini mendukung dan memperluas temuan sebelumnya dalam perilaku konsumen dan manajemen merek dengan menegaskan peran mediasi kepuasan dan kepercayaan merek antara pengalaman merek dan loyalitas, sehingga memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan melalui bukti empiris dari segmen konsumen berbasis komunitas tertentu. | This study investigates the effect of brand experience, brand satisfaction, and brand trust on brand loyalty among Vespa Piaggio consumers in Purwokerto, Indonesia. Despite the presence of many competing motorcycle brands, Vespa continues to attract strong consumer loyalty, supported by emotional attachment, distinctive brand experiences, and vibrant community networks. Using a quantitative survey method, data were collected from 96 Vespa Piaggio users who are active members of Vespa communities. The analysis employed Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS software. The findings reveal that brand experience significantly and positively influences both brand satisfaction and brand trust. In turn, brand satisfaction and brand trust have a strong positive effect on brand loyalty. Furthermore, the study confirms that satisfaction and trust mediate the relationship between brand experience and loyalty, underscoring their crucial roles in shaping long-term consumer commitment. The results contribute theoretically by reinforcing and extending prior research on consumer behavior and brand management, highlighting the mediating role of satisfaction and trust. From a managerial perspective, the study suggests that companies, especially in the automotive industry, can strengthen customer loyalty by enhancing brand experiences through high product quality, active community engagement, and reliable after-sales services. These efforts can sustain consumer loyalty even in highly competitive markets. | |
| 46847 | 50248 | L1B021075 | Isolasi dan Identifikasi Bakteri Amilolitik pada Saluran Pencernaan Ikan Bawal Putih (Pampus argenteus) | Ikan bawal putih (Pampus argenteus) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi sehingga ikan bawal putih berpotensi tinggi untuk dibudidayakan. Saluran pencernaan ikan mengandung bakteri yang berperan dalam proses pencernaan, salah satunya adalah bakteri amilolitik yang menghasilkan enzim amilase untuk menghidrolisis pati. Penelitian mengenai bakteri amilolitik pada saluran pencernaan ikan bawal putih (Pampus argenteus) belum dilakukan, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui peranannya dalam proses pencernaan ikan bawal putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan aktivitas bakteri amilolitik, serta menduga spesies dari bakteri tersebut yang terdapat pada saluran pencernaan ikan bawal putih (Pampus argenteus). Metode yang dilakukan adalah observasi dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pada saluran pencernaan ikan bawal putih (Pampus argenteus) sebesar 2,2 x 10⁷ CFU/gr. Terdapat bakteri amilolitik pada saluran pencernaan ikan bawal putih (Pampus argenteus) yang berasal dari TPI Ujung Batu, Jepara yang ditandai dengan adanya zona bening yang terbentuk di sekitar koloni dan memiliki nilai indeks aktifitas sedang yaitu sebesar 1,3. Berdasarkan hasil identifikasi karakteristik bakteri amilolitik dengan uji biokimia yang telah dilakukan, spesies bakteri amilolitik yang ditemukan diduga adalah Bacillus megaterium. | White pomfret (Pampus argenteus) is a high-economic-value fishery commodity, making it a promising candidate for aquaculture development. The digestive tract of fish contains bacteria that play a role in the digestive process, one of which is amylolytic bacteria that produce the enzyme amylase to hydrolyze starch. Research on amylolytic bacteria in the digestive tract of silver pomfret (Pampus argenteus) has not yet been conducted, thus it is necessary to carry out a study to understand their role in the digestive process of this species. This study aims to determine the presence and activity of amylolytic bacteria, as well as to identify the potential species of these bacteria found in the digestive tract of silver pomfret (Pampus argenteus). The method used was observational, with samples collected using purposive random sampling techniques. The results showed that the total bacterial count in the digestive tract of silver pomfret (Pampus argenteus) was 2.2 × 10⁷ CFU/g. Amylolytic bacteria were found in the digestive tract of silver pomfret (Pampus argenteus) obtained from TPI Ujung Batu, Jepara, as indicated by the clear zones formed around the bacterial colonies, with a moderate activity index value of 1.3. Based on the identification of bacterial characteristics through biochemical tests, the amylolytic bacterial species found is presumed to be Bacillus megaterium. | |
| 46848 | 50249 | F1C021015 | Tugas Akhir Penciptaan Karya Produksi Buku Fotografi Jurnalistik "Jejak Adat Unggahan Bonokeling" | Salah satu kebudayaan unik yang masih eksis sejak ratusan tahun berlangsung di Kabupaten Banyumas yaitu Unggahan Bonokeling. Tradisi yang bermula dari kepercayaan kejawen ini digelar setiap tahun dalam hari Jumat terakhir menjelang datangnya bulan Ramadan. Anak cucu Kyai Bonokeling berbondong-bondong menuju Makam Kyai Bonokeling untuk memanjatkan doa dan menyucikan diri. Namun, dalam perjalanannya, tradisi yang sudah melewati beberapa generasi berbeda pun diguncang permasalahan terkait kemurnian nilai dari suatu tradisi. Perkembangan teknologi membuat nilai itu terkikis. Misalnya saat laku lampah (jalan kaki dari daerah asal menuju Makam Kyai Bonokeling). Mereka meyakini setiap langkah merupakan bentuk perjuangan dan pengabdian. Akan tetapi, ditemukan pula beberapa warga yang menggunakan kendaraan untuk menempuh jarak dengan instan. Produksi buku fotografi junalistik “Jejak Adat Unggahan Bonokeling” yang dilakukan pada tahun 2025 ini bertujuan untuk menampilkan realitas yang terjadi dalam perjalanan sebuah tradisi di tengah Gen-Z. Dokumentasi yang ditampilkan mengungkap visual kehidupan masyarakat tradisional di zaman modern. Karya ini menyangkut aspek sosial dengan memperlihatkan arti hidup bagi penganut kepercayaan Bonokeling, menyinggung aspek budaya yang harus dilestarikan bersama, hingga pelajaran tentang kerukunan dan gotong royong dengan bukti dokumentasi kehangatan. Bentuk karya yang dibuat adalah buku fotografi jurnalistik dengan pendekatan dokumenter, yang mengungkap alur cerita dibumbui narasi penguat makna. Metode penciptaan karya ini adalah kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara narasumber, dan menggali perspektif dari berbagai pihak melalui dokumen studi yang sudah ada. Peran penulis dalam penciptaan karya ini adalah sebagai jurnalis foto yang bertanggung jawab mendapatkan dokumentasi dan narasi sebagai sumber data penguat buku fotografi. Output yang dihasilkan berupa buku fotografi jurnalistik dengan menaruh harapan buku foto ini berguna bagi pelestarian tradisi Unggahan Bonokeling serta memberi semangat baru bagi warga Bonokeling untuk merasa bangga dengan tradisi yang mampu bertahan di tengah derasnya arus globalisasi. | One of the unique cultural traditions that has existed for hundreds of years in Banyumas Regency is the Unggahan Bonokeling. This tradition, rooted in Kejawen beliefs, is held annually on the last Friday before the arrival of Ramadan. The descendants of Kyai Bonokeling gather at his grave to offer prayers and purify themselves. However, over time, the tradition—passed down through several generations—has faced challenges concerning the preservation of its core values. Technological advancements have contributed to the erosion of these values. For example, during laku lampah (the ritual walk from the participants’ hometowns to Kyai Bonokeling’s grave), each step is believed to represent devotion and dedication. Yet, some participants have chosen to travel by vehicle, bypassing the symbolic significance of the journey. The production of the photojournalistic book Jejak Adat Unggahan Bonokeling in 2025 aims to present the reality of this tradition’s journey amidst Generation Z. The documentation captures the visual life of a traditional community in a modern era. This work addresses social aspects by portraying the meaning of life for Bonokeling believers, touches on cultural aspects that must be preserved collectively, and offers lessons on harmony and communal cooperation through warm and intimate depictions. The project takes the form of a photojournalistic book with a documentary approach, telling the story with visual narratives enhanced by meaningful captions. The creation process employs qualitative methods, including observation, interviews with key informants, and analysis of existing documents from various perspectives. The author’s role is that of a photojournalist responsible for obtaining both visual documentation and narrative material as supporting data for the book. The final output—a photojournalistic book—is expected to contribute to the preservation of the Unggahan Bonokeling tradition and to inspire pride among the Bonokeling community for maintaining their heritage amidst the currents of globalization. | |
| 46849 | 50247 | H1B021063 | Studi Parametrik Metode Perkuatan Steel Wire Rope (SWR) Pada Daerah Momen Positif Balok Beton Bertulang Tampang T Akibat Pembebanan Monotonik | Kerusakan dari beton bertulang dapat disebabkan oleh alih fungsi bangunan sehingga terjadi penambahan beban, kerusakan yang disebabkan bencana alam, dan perencanaan desain dan metode kerja yang kurang baik. Kerusakan struktur dapat menyebabkan keruntuhan suatu bangunan. Salah satu upaya pencegahan kerusakan adalah dengan melakukan perkuatan struktur untuk memperkuat elemen struktur lama yang sudah tidak memenuhi persyaratan, salah satunya yaitu dengan memperkuat daerah momen positif menggunakan steel wire rope. Perkuatan struktur dengan steel wire rope diharapkan dapat meningkatkan kinerja struktural dari balok beton bertulang tampang T. Penelitian ini bertujuan untuk mengembakan penelitian eksperimental yang telah dilakukan dengan studi paramterik untuk mengetahui pengaruh variasi perlakuan pada benda uji yaitu diameter steel wire rope, mutu layer mortar, dan kuat tekan beton dengan pendekatan elemen hingga menggunakan software ATENA. Hasil yang dibandingkan adalah perilaku lentur balok yaitu kapasitas beban lentur, daktilitas, kekakuan, penyerapan energi, dan pola keretakan pada balok. Penelitian ini menggunakan 10 benda uji yaitu BK (balok tanpa perkuatan), BP (balok dengan perkuatan SWR), BP 2D8 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 8 mm), BP-2D12 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 12 mm), BP 35 (Balok perkuatan dengan mutu layer mortar 35 MPa), BP-65 (Balok perkuatan dengan mutu layer mortar 65 MPa), BK-17,5 (Balok tanpa perkuatan dengan kuat tekan beton 17,5 MPa), BK-60 (Balok tanpa perkuatan dengan kuat tekan 60 MPa), BP-17,5 (Balok perkuatan dengan kuat tekan 17,5 MPa), dan BP-60 (Balok perkuatan dengan kuat tekan 60 MPa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perlakuan pada benda uji dapat meningkatkan kapasitas beban lentur, daktilitas ultimit, kekakuan awal, dan penyerapan energi tetapi mengalami penurunan daktilitas failure. Pola keretakan yang terjadi secara umum adalah kombinasi retak lentur geser. Pada variasi diameter SWR, penggunaan material SWR berdampak paling signifikan pada peningkatan kapasitas beban lenturnya hingga 90,31% pada benda uji BP-2D12. | Reinforced concrete structures may experience damage due to changes in building function that result in increased loads, natural disasters, or deficiencies in design planning and construction methods. Such structural damage can ultimately lead to building collapse. One preventive measure is structural strengthening, aimed at improving the performance of existing structural elements that no longer meet serviceability or safety requirements. In this study, strengthening is applied to the positive moment region of T-section reinforced concrete beams using steel wire ropes (SWR). The application of SWR is expected to enhance the overall flexural performance of the beams. This research extends previous experimental work by conducting a parametric study to investigate the effects of varying three key parameters: SWR diameter, mortar layer compressive strength, and concrete compressive strength. A finite element modeling approach was employed using ATENA software. The parameters evaluated include flexural load capacity, ductility, stiffness, energy absorption, and crack patterns. Ten beam specimens were examined: BK (unstrengthened beam), BP (beam strengthened with SWR), BP-2D8 (beam with SWR diameter of 8 mm), BP-2D12 (beam with SWR diameter of 12 mm), BP-35 (beam with mortar layer strength of 35 MPa), BP-65 (beam with mortar layer strength of 65 MPa), BK-17.5 (unstrengthened beam with 17.5 MPa concrete), BK-60 (unstrengthened beam with 60 MPa concrete), BP-17.5 (strengthened beam with 17.5 MPa concrete), and BP-60 (strengthened beam with 60 MPa concrete). The results indicate that variations in these parameters can increase flexural load capacity, ultimate ductility, initial stiffness, and energy absorption, while causing a reduction in failure ductility. The predominant cracking mode observed was a combination of flexural and shear cracks. Among the parameter variations, SWR diameter exhibited the most significant effect on flexural capacity, with the BP-2D12 specimen achieving up to a 90.31% increase compared to the unstrengthened beam | |
| 46850 | 50250 | E1A018173 | TANGGUNG JAWAB PENGELOLA TEMPAT WISATA ATAS KECELAKAAN WISATAWAN AKIBAT TIDAK TERPENUHINYA STANDAR KEAMANAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor 3/Pid.Sus/2024/PN Bms) | Kecelakaan di wahana wisata jembatan kaca The Geong, Banyumas, yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, mengungkapkan lemahnya penerapan standar keselamatan dalam sektor pariwisata. Peristiwa tersebut menjadi dasar penting untuk menelaah tanggung jawab hukum pengelola tempat wisata terhadap wisatawan sebagai konsumen. Tujuan penelitian untuk menganalisis bentuk tanggung jawab hukum pengelola tempat wisata atas kecelakaan akibat tidak terpenuhinya standar keamanan serta menelaah bentuk perlindungan hukum terhadap wisatawan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor 3/Pid.Sus/2024/PN Bms. Metode pendekatan yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa studi kepustakaan yang disajikan dalam bentuk teks naratif serta menggunakan metode analisis data normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab mutlak melekat kepada pengelola jembatan kaca The Geong karena telah terbukti melanggar Pasal 8 huruf a Undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu melakukan kelalaian serius tidak memenuhi standar keamanan terhadap pembuatan dan pengoprasian wahana wisata jembatan kaca sehingga menimbulkan korban jiwa dan korban luka pada konsumen. Perlindungan hukum repesif telah di berikan terhadap wistawan sebagai konsumen dalam menjamin hak-hak konsumen dalam sektor pariwisata sesuai dengan Pasal 4 huruf a Undang-Undang Perlindungan Konsumen. | The fatal accident at the glass bridge attraction “The Geong” in Banyumas, which resulted in the death and injury of several tourists, highlights the failure to implement adequate safety standards in the tourism sector. This incident raises critical legal questions regarding the liability of tourism operators for the safety of tourists as consumers. The purpose of this research is to analyze the legal responsibility of tourism site operators for accidents resulting from non-compliance with safety standards,and to examine the legal protection afforded to tourists as consumers based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumner Protection in District Court Decision Number 3/Pid.Sus/2024/PN Bms. The research use a normative juridical approach method with descriprive analytical research specifications. The data sources used consist od secodary data. The data collection method involves a literature study presented in narrative text form and empolys qualitative normative data analysis method. The result of the research indicate that strict liability attached with the management of The Geong glass bridge, as it has been proven to violated Consumer Protection Law Article 8 letter a by committing serious negligence in failling to meet safety standards in the costuction and operation of the glass bridge tourist attractons, resulting in fatalities and injuuries to consumers. Repressive legal protection has been provided to tourists as consumers to guaranntee consumer right in the tourism sector in accordance with Consumer Protection Law Article 4 letter a. | |
| 46851 | 50251 | L1C021074 | Analisis Kesehatan Mangrove dan Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Ekosistem Mangrove Kandang Panjang, Pekalongan | Wilayah Kandang Panjang, Pekalongan memiliki aktivitas antropogenik tinggi akibat pembuangan limbah rumah tangga, industri ikan asin, dan tambak, sehingga diduga dapat memengaruhi ekosistem mangrove dan biota yang hidup didalamnya seperti makrozoobenthos. Kerapatan mangrove dan struktur komunitas makrozoobenthos dapat dijadikan indikator kesehatan mangrove di suatu ekosistem. Tujuan penelian ini untuk mengetahui kerapatan jenis mangrove, mengetahui struktur komunitas makrozoobenthos, mengetahui parameter fisika-kimia, mengetahui hubungan kerapatan jenis mangrove dan struktur komunitas makrozoobenthos. Parameter yang diamati meliputi kerapatan jenis, kerapatan relatif mangrove, struktur makrozoobenthos dan parameter fisika-kimia perairan, serta menganalisis hubungan kerapatan mangrove dengan struktur komunitas makrozoobenthos. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei di 3 stasiun penelitian dengan karakteristik berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan mangrove berkisar antara 1.500 – 4.200 ind/ha dalam kategori (sedang – sangat padat) dengan spesies yang ditemukan adalah Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Parameter fisika-kimia perairan seperti suhu, salinitas, pH berada pada kisaran baku mutu optimal, sedangkan DO belum optimal. Nilai indeks kelimpahan berkisar antara 4.89 – 21.56 ind/m², keanekaragaman 1.01 – 1.32 (sedang), keseragaman 0.64 – 0.95 (tinggi), dan dominansi 0,28 – 0,46 (rendah). Analisis regresi kerapatan mangrove memiliki nilai korelasi sangat lemah (r = 0.1260) dengan keanekaragaman makrozoobenthos; korelasi kuat (r = -0.7411) dengan kelimpahan makrozoobenthos; korelasi sedang (r = 0.4760) dengan keseragaman makrozoobenthos; korelasi sangat lemah (r = -0,1489) dengan dominansi makrozoobenthos. | The Kandang Panjang area in Pekalongan has high anthropogenic activity due to the disposal of household waste, salted fish industry, and fish ponds, which is suspected to affect the mangrove ecosystem and the biota living within it, such as macrozoobenthos. Mangrove density and macrozoobenthos community structure can be used as indicators of mangrove health in an ecosystem. The objectives of this study are to determine mangrove species density, understand the structure of the macrozoobenthos community, assess physical-chemical parameters, and investigate the relationship between mangrove species density and the structure of the macrozoobenthos community. The parameters observed include species density, relative mangrove density, macrozoobenthos structure, and water physical-chemical parameters, as well as analyzing the relationship between mangrove density and macrozoobenthos community structure. The research method used was a survey method at three research stations with different characteristics. The results showed that mangrove density ranged from 1,500 to 4,200 individuals per hectare (moderate to very dense), with the species identified as Avicennia marina and Rhizophora mucronata. Physical-chemical parameters of the water, such as temperature, salinity, and pH, are within the optimal quality range, while DO is not yet optimal. The macrozoobenthos diversity index value is in the moderate category (1.01–1.32), abundance ranges from 4.89 to 21.56 ind/m², evenness from 0.64 to 0.95 (high), and dominance from 0.28 to 0.46 (low). Regression analysis of mangrove density showed a very weak correlation (r = 0.126) with macrozoobenthos diversity; a strong correlation (r = -0.741) with macrozoobenthos abundance; a moderate correlation (r = 0.476) with macrozoobenthos evenness; very weak correlation (r = -0.148) with macrozoobenthos dominance. | |
| 46852 | 50252 | L1C021095 | Pengaruh Interaksi Wisatawan Terhadap Perilaku Hiu Paus di Perairan Teluk Saleh Nusa Tenggara Barat | Perairan Teluk Saleh merupakan salah satu lokasi ekowisata Hiu Paus (Rhincodon typus) yang berlangsung sepanjang tahun. Tingginya interaksi wisatawan dengan Hiu Paus berpotensi memengaruhi perilaku biologis Hiu Paus, terutama jika terjadi pelanggaran kode etik ekowisata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perilaku alami dan respon Hiu Paus terhadap perilaku wisatawan serta menilai efektivitas penerapan kode etik ekowisata di Teluk Saleh. Metode penelitian menggunakan observasi langsung pada Bulan April dan Juni yang mewakili periode kunjungan tinggi dan rendah. Data perilaku wisatawan dikategorikan berdasarkan tingkat kepatuhan terhadap kode etik, sedangkan respon Hiu Paus diamati untuk mengidentifikasi perubahan perilaku akibat stimulus yang diberikan wisatawan. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan membandingkan persentase pelanggaran dan respon antarperiode pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Bulan April dengan periode kunjungan tinggi terjadi peningkatan jumlah pelanggaran, terutama perilaku mendekat dan menyentuh tubuh Hiu Paus. Respon yang dominan adalah perubahan arah berenang, gerakan menghindar, dan penurunan durasi interaksi, yang mengindikasikan adanya gangguan terhadap perilaku alami Hiu Paus. Efektivitas kode etik dinilai belum optimal, terutama pada periode kunjungan tinggi. Penelitian ini merekomendasikan pembatasan jumlah wisatawan, peningkatan edukasi, dan pengawasan ketat sebagai upaya mendukung pengelolaan ekowisata Hiu Paus yang berkelanjutan. | The waters of Teluk Saleh are a year-round location for ecotourism with whale sharks (Rhincodon typus). The high intensity of tourist–whale shark interactions has the potential to affect the biological behavior of the sharks, especially when the ecotourism code of conduct is violated. This study examines the natural behavior of whale sharks and their responses to tourists, as well as the effectiveness of implementing the ecotourism code of conduct in Teluk Saleh. Direct observations were conducted in April and June, representing high and low visitation periods, respectively. Data on tourist behavior were categorized based on compliance with the code of conduct, and whale shark responses were observed to identify behavioral changes caused by tourist stimuli. A quantitative analysis was conducted by comparing the percentage of violations and responses between observation periods. Results showed that the number of violations increased during the high visitation period in April, particularly behaviors such as approaching too closely and touching the whale shark’s body. The dominant responses were changes in swimming direction, avoidance movements, and reduced interaction duration, indicating disruptions to the whale sharks’ natural behavior. The code of conduct's effectiveness was deemed suboptimal, particularly during peak visitation periods. This study recommends limiting tourist numbers, increasing educational efforts, and implementing stricter monitoring to support the sustainable management of whale shark ecotourism. | |
| 46853 | 50253 | L1C021035 | Aplikasi Machine Learning Untuk Peningkatan Akurasi Batimetri Dari Citra Satelit | Pemetaan batimetri merupakan aspek penting dalam pengelolaan sumber daya kelautan. Metode In-situ seperti survei sonar memiliki keterbatasan dalam hal biaya dan cakupan area, sehingga pendekatan alternatif melalui penginderaan jauh berbasis citra satelit menjadi solusi yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi estimasi batimetri menggunakan algoritma machine learning, yaitu Random Forest (RF) dan Support Vector Machine (SVM), berbasis citra Sentinel-2A. Lokasi penelitian berada di perairan Kepulauan Obi, Halmahera Selatan. Hasil prediksi kedalaman kemudian divalidasi menggunakan data in-situ dan diuji menggunakan metrik MAE, RMSE, dan R². Hasil menunjukkan bahwa algoritma Random Forest memberikan akurasi terbaik dengan nilai MAE 1.1704, RMSE 1.5976, dan R² sebesar 0.8092. Algoritma SVM juga menunjukkan performa yang baik namun masih berada di bawah RF. Dibandingkan dengan algoritma Lyzenga, metode machine learning terbukti lebih unggul dalam menangkap hubungan non-linear antara nilai reflektansi dan kedalaman perairan. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi citra satelit dengan machine learning mampu meningkatkan kualitas pemetaan batimetri secara signifikan dan efisien. | Bathymetric mapping is crucial for the management of marine resources. In–situ methods such as sonar surveys face limitations in cost and area coverage, making satellite remote sensing a more efficient alternative. This study aims to improve the accuracy of bathymetry estimation using machine learning algorithms, namely Random Forest (RF) and Support Vector Machine (SVM), based on Sentinel-2A satellite imagery. The study was conducted in the waters of Obi Islands, South Halmahera. Predicted depths were validated using in-situ measurements and evaluated using MAE, RMSE, and R² metrics. The results showed that the Random Forest algorithm achieved the highest accuracy with MAE of 1.1704, RMSE of 1.5976, and R² of 0.8092. While SVM also performed well, its accuracy was slightly lower than RF. Compared to the Lyzenga algorithm, machine learning methods proved more effective in capturing non-linear relationships between reflectance values and water depth. This study demonstrates that the integration of satellite imagery with machine learning significantly enhances the efficiency and accuracy of bathymetric mapping. | |
| 46854 | 50499 | C1B021100 | ANALISIS RISIKO RANTAI PASOK NOPIA MINO DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRACEABILITY (Studi Pada UMKM Kampoeng Nopia Mino Desa Pekunden Kecamatan Banyumas) | Penelitian ini membahas tentang masalah manajemen risiko dalam rantai pasok UMKM Nopia Mino, sebuah usaha yang bergerak sebagai pembuat kue nopia mino, yang berlokasi di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. UMKM ini menghadapi tantangan signifikan dalam risiko Ketidaksesuaian bahan baku, Kecacatan bahan baku dari petani, risiko Keterlambatan pengiriman, risiko yang tidak termitigasi, seperti kualitas bahan baku yang tidak sesuai, fluktuasi harga pasar, dan gangguan selama proses produksi, telah menyebabkan penurunan efisiensi operasioanal serta kepercayaan mitra bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko utama yang terjadi dalam rantai pasok UMKM Kapulaga, menghitung nilai risiko terbesar, dan merumuskan strategi mitigasi risiko untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan operasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian menggunakan pendekatan Supply Chain Operations Reference (SCOR) untuk pemetaan proses rantai pasok, diikuti dengan analisis risiko menggunakan metode House of Risk (HOR). Metode ini menggabungkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan House of Quality (HOQ) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memprioritaskan risiko berdasarkan tingkat keparahan dan probabilitasnya. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pemilik UMKM, dan kuisioner terkait identifikasi risiko. | This research discusses the problem of risk management in the supply chain of MSME Nopia Mino, a business that operates as a Nopia Mino cake maker, which is located in Pekunden Village, Banyumas District, Banyumas Regency. These MSMEs face significant challenges in the risk of unsuitability of raw materials, defects in raw materials from farmers, the risk of late delivery, risks that are not mitigated, such as inappropriate quality of raw materials, market price pressures, and disruptions during the production process, which have caused a decrease in operational efficiency and business partner trust. This research aims to identify the main risks that occur in the Cardamom MSME supply chain, calculate the largest risk values, and develop risk mitigation strategies to increase efficiency and stop operations. To achieve this goal, the research uses the Supply Chain Operations Referee (SCOR) approach to map the supply chain process, followed by risk analysis using the House of Risk (HOR) method. This method combines Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) with House of Quality (HOQ) to identify, initiate, and prioritize risks based on their severity and probability. Data was collected through direct observation, in-depth interviews with MSME owners, and questionnaires related to risk identification. | |
| 46855 | 50804 | J1D021052 | Komparasi Disfemia dalam Komentar Warganet di Media Sosial Periode Januari-Maret 2024 | Penelitian ini mengkaji komparasi penggunaan disfemia dalam komentar warganet pada unggahan berita pemilihan presiden tahun 2024 di akun Instagram dan TikTok @kompascom selama periode Januari–Maret 2024. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik. Data penelitian berupa komentar yang mengandung disfemia pada unggahan mengenai kampanye, debat, dan hasil pemungutan suara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disfemia muncul dalam bentuk kata, frasa, dan ungkapan dengan nilai rasa menyeramkan, menakutkan, mengerikan, menjijikan, dan menguatkan. Komentar di Instagram cenderung lebih frontal, sedangkan komentar di TikTok lebih santai namun tetap memuat makna disfemia. Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan disfemia tidak hanya sebagai ekspresi emosi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika komunikasi digital yang dipengaruhi karakteristik masing-masing platform. | This study examines the comparison of dysphemism use in netizens’ comments on Instagram and TikTok posts by @kompascom related to the 2024 presidential election during January–March 2024. The research employs a qualitative descriptive method with a semantic approach. The data consist of comments containing dysphemism found in posts about campaigns, debates, and vote-count results. The Hindings show that dysphemism appears in the form of words, phrases, and expressions, with affective values such as frightening, terrifying, horrifying, disgusting, and strengthening. Comments on Instagram tend to be more frontal, while comments on TikTok appear more relaxed though still containing dysphemistic meaning. This study reveals that dysphemism functions not only as emotional expression but also as part of digital communication dynamics shaped by each platform’s characteristics. | |
| 46856 | 50254 | H1A021012 | MODIFIKASI DAN OPTIMASI ALAT ELEKTROKIMIA SPCE PORTABEL UNTUK PENGUKURAN ELEKTROKIMIA | Potentiostat adalah alat yang digunakan dalam pengukuran elektrokimia untuk mengontrol potensi listrik yang diterapkan pada elektroda kerja dan mengukur arus yang terjadi akibat reaksi kimia yang terjadi pada elektroda. Akan tetapi keterbatasan dari teknologi ini adalah potentiostat konvensional berukuran besar dan mahal. Serta ketergantungan potentiostat konvensional pada komputer untuk beroperasi membatasi aplikasinya di lapangan atau di luar laboratorium. Penelitian ini menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan sebuah potensiostat portabel yang dapat bekerja seperti alat potensiostat standar dengan harga yang lebih terjangkau dan desain yang lebih ringkas dibandingkan alat potentiostat standar. Potentiostat dibuat menggunakan PCB yang mengintegrasikan mikrokontroller ESP32 dan rangkaian analog pendukung. Desain alat fokus pada dimensi yang ringkas, dan tetap menjaga kualitas sinyal yang dihasilkan. Inovasi utama terletak pada kemampuannya mentransmisikan data secara nirkabel melalui Wi-Fi, sehingga meningkatkan fleksibilitas, mobilitas dan kemudahan penggunaan di berbagai lokasi. Data dapat diakses melalui perangkat seperti smartphone, tablet dan laptop selama perangkat berada dalam jaringan yang sama menggunakan Website yang diakses secara lokal. Siklik voltametri merupakan salah satu teknik elektrokimia untuk mempelajari reaksi redoks dengan memindai tegangan maju dan mundur pada elektroda dan mengamati respons arusnya. Dalam penelitian ini menggunakan larutan kalium ferisianida K₃[Fe(CN)₆] sebagai elektroda kerja karena sifat redoksnya yang stabil dan terdefinisi dengan baik serta sering dijadikan standar dalam kalibrasi potensiostat. Dalam operasionalnya, potensiostat dirancang untuk melakukan pengukuran siklik voltametri. Sistem memungkinkan pengaturan parameter eksperimen, pemantauan data secara real-time, serta visualisasi hasil voltammogram dalam antarmuka website. | A potentiostat is an electrochemical instrument that controls the potential while measuring the current produced by chemical reaction in electrode. However, the limitations of this technologies are conventional potentiostats are typically large and expensive. Their reliance on computers for operations also limits their applicability in fieldwork or outside laboratory environments. This research addresses those challenges by developing a portable potentiostat that functions similarly to standard laboratory-grade instruments, but with a more compact desifn and significantly lower cost. The potentiostat is build on a custom-designed printed circuit board (PCB) that integrates an ESP32 microcontroller with the necessary analogue circuitry. The design prioritises compact dimensions while maintaining signal integrity and minimising electronic noise. The key innovation lies in its ability to transmit data wirelessly via Wi-Fi, which enhances flexibility, mobility, and ease of use in various settings. Data can be accessed through smartphones, tablets, or laptops, provided they are connected to the same local network, via a web-based user interface. Cyclic Voltammetry is employed as the core electrochemical technique, enabling the study of redox reactions by scanning the electrode with forward and reverse voltages and observing the corresponding current responses. In this study, potassium ferricyanide (K₃[Fe(CN)₆]) is used as the test solution due to its well-defined and stable redox properties, making it a common standard for potentiostat calibration. During operation, the potentiostat is designed to perform cyclic voltammetry measurements. The system allows users to configure experiment parameters, monitor data in real time, and visualise the resulting voltammogram through a web-based interface that is intuitive and user-friendly. | |
| 46857 | 50118 | A1D021191 | Pengaruh Aplikasi Pupuk Kandang Kambing berbasis Bioaktivator Alami dan Dosis Pupuk N, P, K terhadap Panjang Tanaman Semangka | Dalam budidaya semangka, penggunaan pupuk anorganik seperti N, P, K menjadi praktik umum, namun ketergantungan yang tinggi dapat menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi pupuk kandang kambing yang telah difermentasi menggunakan bioaktivator, pengaruh pemberian pupuk N, P, K, dan kombinasi terbaik antara keduanya secara spesifik terhadap panjang tanaman semangka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang kambing dengan bioaktivator tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap panjang tanaman. Sebaliknya, perlakuan dosis pupuk N, P, K secara konsisten meningkatkan panjang tanaman secara sangat nyata, di mana pemberian N, P, K dosis 100% secara konsisten memberikan hasil tertinggi untuk karakter pertumbuhan vegetatif ini. Tidak ditemukan adanya interaksi yang signifikan antara perlakuan pupuk kandang kambing fermentasi dan dosis N, P, K terhadap panjang tanaman semangka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang memengaruhi panjang tanaman semangka dalam penelitian ini adalah dosis pupuk N, P, K. | In watermelon cultivation, the use of inorganic fertilizers such as N, P, and K is a common practice; however, high dependency can degrade soil quality in the long term. This research aimed to determine the effect of applying goat manure fermented with a bioactivator, the effect of N, P, and K fertilizer application, and the best combination of both specifically on the plant length of watermelon. The results showed that the application of goat manure with a bioactivator did not have a significant effect on plant length. Conversely, the N, P, and K fertilizer dosage treatments consistently and very significantly increased plant length, with the 100% N, P, and K dosage consistently yielding the highest results for this vegetative growth character. No significant interaction was found between the fermented goat manure treatment and the N, P, and K dosage concerning watermelon plant length. Thus, it can be concluded that the main factor influencing watermelon plant length in this study was the dosage of N, P, and K fertilizer. | |
| 46858 | 50266 | L1A021029 | Pengaruh Pemberian Daun Ketapang Terhadap Warna Ikan Cupang (Betta Splendens) Jantan Strain Halfmoon | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pemberian Daun Ketapang Terhadap Warna Ikan Cupang (Betta Splendens) Jantan Strain Halfmoon”. Ikan cupang strain halfmoon adalah salah satu ikan hias yang memiliki bentuk sirip lebar menyerupai setengah lingkaran dan warna tubuh yang indah. Warna cerah pada ikan cupang menjadi penentu nilai estetika dan harga jual. Daun ketapang (Terminalia catappa) diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi meningkatkan intensitas warna ikan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian daun ketapang terhadap warna ikan cupang (Betta Splendens) jantan tipe Halfmoon. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Desember 2024 – Januari 2025 di Laboratorium Organisme Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian ini menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa pemberian daun ketapang dengan dosis 1 (1 g/L), 2 (1.5 g/L), 3 (2 g/L), 4 (kontrol) berpengaruh signifikan terhadap warna biru (p<0,05), namun tidak signifikan terhadap warna merah dan hijau. Dosis 2 g/L memberikan hasil optimal dalam mempertahankan dan memperkuat kepadatan warna biru, sekaligus menstabilkan ketiga komponen warna (R, G, B). Kesimpulannya, daun ketapang efektif meningkatkan kecerahan warna biru ikan cupang Halfmoon jantan dengan dosis optimal 2 g/L. | This research is entitled “The Effect of Giving Ketapang Leaves to the Color of Halfmoon Strain Male Cupang Fish (Betta Splendens)”. Halfmoon strain cupang fish is one of the ornamental fish that has a wide fin shape resembling a semicircle and beautiful body color. The bright color of the hickey determines the aesthetic value and selling price. Ketapang leaves (Terminalia catappa) are known to contain bioactive compounds that have the potential to increase the intensity of fish color. This study aims to determine the effect of ketapang leaves on the color of Halfmoon type male hickey (Betta Splendens). Sampling was conducted in December 2024 - January 2025 at the Aquatic Organism Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, Universitas Jenderal Soedirman. This research method uses RAL with 4 treatments and 3 replicates, and analyzed descriptively quantitatively. The results showed that the application of ketapang leaves with doses of 1 (1 g/L), 2 (1.5 g/L), 3 (2 g/L), 4 (control) had a significant effect on blue color (p<0.05), but not significant on red and green colors. The dose of 2 g/L gave optimal results in maintaining and strengthening the intensity of blue color, while stabilizing the three color components (R, G, B). In conclusion, ketapang leaves are effective. in increasing the brightness of the blue color of male Halfmoon limpets with an optimal dose of 2 g/L. | |
| 46859 | 50256 | A1D021053 | STABILITAS KARAKTER AGRONOMI DAN RENDEMEN BERAS DELAPAN VARIETAS PADI (Oryza sativa) DI TIGA KETINGGIAN TEMPAT BERBEDA | Padi merupakan tanaman pangan penting di Indonesia. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Permintaan terhadap beras meningkat seiring bertambahnya penduduk di Indonesia. pemerintah melakukan impor beras untuk membantu menjaga cadangan beras sehingga pemerintah dapat mengintervensi pasar untuk mencegah lonjakan harga dan melindungi konsumen yang rentan, serta untuk memenuhi keinginan masyarakat akan jenis beras khusus yang belum dapat di produksi di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi adalah dengan meningkatkan rendemen beras. Lokasi budidaya padi dapat mempengaruhi rendemen beras, sehingga dengan menanam varietas yang tepat pada ketinggian tertentu dapat meningkatkan produktivitas hasil. Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh informasi karakter agronomi pada tiga lokasi berbeda, Mengkaji rendemen beras pada tiga lokasi berbeda, dan Mengkaji stabilitas rendemen beras varietas pada tiga lokasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua (2) faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah Ketinggian tempat yang terdiri atas 3 tingkat ketinggian tempat dan faktor kedua terdiri dari 8 varietas. Jumlah perlakuan 24 kombinasi perlakuan, sehingga didapatkan total percobaan sebanyak 72 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara varietas dan ketinggian tempat pada beberapa karakter agronomi, hal itu mengindikasikan bahwa karakter tersebut tidak stabil pada tiga ketinggian tempat berbeda. Tidak terdapat interaksi pada karakter agronomi umur panen dan gabah total per malai, mengindikasikan bahwa karakter tersebut stabil pada tiga ketinggian tempat berbeda. Rendemen beras M70D dan Ciherang tidak stabil pada ketinggian tempat, sedangkan rendemen beras Rojolele stabil, hal itu mengindikasikan interaksi antara varietas dan ketinggian tempat terhadap rendemen beras. Rendemen beras varietas M70D dan Ciherang dapat disebut varietas spesifik lokasi untuk variabel rendemen beras, sedangkan varietas rojolele, stabil pada ketinggian tempat untuk variabel rendemen beras. Varietas Rojolele memiliki stabilitas rendemen yang stabil, varietas M70D adaptif pada dataran rendah dan, dan varietas Ciherang adaptif pada dataran tinggi. | Rice is an important food crop in Indonesia. The majority of the Indonesian population consumes rice as a staple food. The demand for rice increases along with the growing population in Indonesia. The government imports rice to help maintain rice reserves so that it can intervene in the market to prevent price spikes and protect vulnerable consumers, as well as to meet the public’s demand for special types of rice that cannot yet be produced domestically. One effort to increase production is by improving rice milling recovery (rice yield after processing). The cultivation location affects the rice milling recovery, so planting the right varieties at certain altitudes can improve productivity. This study aims to obtain agronomic characteristic information at three different locations, to analyze rice milling recovery at three different locations, and to assess the stability of rice milling recovery of varieties across three different locations. This research uses a Randomized Block Design (RBD) with two factors and three replications. The first factor is altitude, consisting of 3 levels, and the second factor consists of 8 varieties. There are 24 treatment combinations, resulting in a total of 72 experimental units. The results showed an interaction between varieties and altitude on several agronomic traits, indicating that these traits are not stable across the three different altitudes. There was no interaction found for the agronomic traits of harvest age and total grains per panicle, indicating these traits are stable across the three altitudes. Rice milling recovery of M70D and Ciherang varieties was not stable across altitudes, whereas the recovery of Rojolele was stable. This indicates an interaction between variety and altitude on rice milling recovery. The M70D and Ciherang varieties can be considered location-specific varieties for the rice milling recovery variable, while the Rojolele variety is stable across altitudes for the rice milling recovery variable. The Rojolele variety has stable recovery stability, M70D is adaptive to lowlands, and Ciherang is adaptive to highlands. | |
| 46860 | 50255 | A1D021012 | Pengaruh Kombinasi Media Tanam dan Pupuk Hayati pada Karakter Fisiologi dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) | Sistem budidaya melon terus berkembang sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan mengatasi kelemahan sistem konvensional. Meskipun sistem budidaya hidroponik berdaya hasil tinggi, namun besarnya investasi menjadikannya masalah tersendiri. Budidaya dalam polybag dapat menjadi alternatif dalam produksi melon. Namun demikian diperlukan komposisi dan input yang tepat untuk mencapai sistem budidaya yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi media tanam dan konsentrasi pupuk hayati terhadap pertumbuhan fisiologis dan hasil tanaman melon. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2024 hingga Februari 2025 di Screenhouse BBP Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah dan beberapa laboratorium di Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor: media tanam (M1: tanah (70%), kompos kotoran hewan kambing (10%), arang sekam (20%), M2: tanah (60%), kompos kotoran hewan kambing (20%), arang sekam (20%), M3: tanah (40%), kompos kotoran hewan kambing (40%), arang sekam (20%)) dan konsentrasi pupuk hayati (P1: 0 mL/L, P2: 10 mL/L, P3: 20 mL/L) dengan 3 ulangan. Variabel yang diamati meliputi indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, kandungan klorofil, umur berbunga, diameter dan berat buah, indeks panen, serta kadar kemanisan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk hayati meningkatkan Laju Pertumbuhan Tanaman. Pada dosis 20 mL/L pupuk hayati, LPT mencapai 8,42 g/m²/hari. Peningkatan presentase pupuk dalam media tanam berpengaruh meningkatkan kadar kemanisan buah melon, kemanisan terbaik dicapai pada komposisi media 40% pupuk kandang mencapai 13,44 oBrix. Tidak ditemukan interaksi antara media tanam dan pupuk hayati terhadap variabel yang diamati. | Melon cultivation systems continue to evolve in an effort to increase productivity and overcome the weaknesses of conventional systems. Although high-yield hydroponic cultivation systems are effective, the large investment required poses a problem. Cultivation in polybags can be an alternative for melon production. However, the right composition and inputs are needed to achieve an efficient cultivation system. This study aims to investigate the effects of combinations of growing media and organic fertilizer concentrations on the physiological growth and yield of melon plants. The research was conducted from October 2024 to February 2025 at the Screenhouse of the Provincial Agriculture Office of Central Java and several laboratories at Jenderal Soedirman University. The experimental design used was a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors: growing medium (M1: soil (70%), goat manure compost (10%), rice husk charcoal (20%); M2: soil (60%), goat manure compost (20%), charcoal husk (20%), M3: soil (40%), goat manure compost (40%), charcoal husk (20%)), and biofertilizer concentration (P1: 0 mL/L, P2: 10 mL/L, P3: 20 mL/L) with three replications. The variables observed included leaf area index, plant growth rate, chlorophyll content, flowering age, fruit diameter and weight, harvest index, and fruit sweetness level. The research results showed that biofertilizer increased the plant growth rate. At a dose of 20 mL/L of biofertilizer, the plant growth rate reached 8.42 g/m²/day. Increasing the percentage of fertilizer in the growing medium significantly increased the sweetness of melon fruit, with the highest sweetness achieved at a medium composition of 40% manure fertilizer, reaching 13.44 oBrix. No interaction was found between the growing medium and biofertilizer on the observed variables. |