Artikelilmiahs
Menampilkan 46.821-46.840 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 46821 | 50218 | F1F021043 | Gender, Interseksionalitas, dan Konflik Bersenjata: Studi Kasus Genocidal Rape pada Perempuan Etnis Tigray di Ethiopia (2020-2022) | Penelitian ini mengkaji bagaimana konflik bersenjata di Ethiopia pada 2020–2022 memengaruhi pembentukan dan perubahan identitas interseksional perempuan etnis Tigray sebagai penduduk di zona konflik yang mengalami diskriminasi berlapis berdasarkan etnis, gender, dan politik. Teori identitas kolektif digunakan untuk memahami bagaimana identitas-identitas perempuan Tigray dibentuk, dipertahankan, atau diubah dalam konteks konflik, sementara teori militerisme poskolonial digunakan untuk menganalisis bagaimana warisan kekuasaan kolonial dan struktur militer negara mempengaruhi relasi kekuasaan serta praktik kekerasan terhadap kelompok ini. Melalui analisis konten media berita internasional, laporan organisasi hak asasi manusia, dokumen PBB, dan kajian akademik terkait konflik di Ethiopia, penelitian ini menemukan bahwa konflik bersenjata telah mengubah posisi sosial-politik perempuan Tigray, yang sebelumnya memiliki pengaruh politik di Ethiopia menjadi korban diskriminasi berlapis dalam bentuk genocidal rape yang digunakan sebagai strategi perang. Oleh karena itu, perubahan identitas kolektif perempuan Tigray di masa konflik tidak hanya mencerminkan kerentanan akibat perang, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekerasan berbasis gender menjadi instrumen militerisme yang menargetkan kehancuran struktur sosial, politik, dan budaya komunitas Tigray secara keseluruhan. | This study examines how the armed conflict in Ethiopia in 2020–2022 influenced the formation and transformation of the intersectional identities of Tigrayan women as residents of a conflict zone who experienced multiple layers of discrimination based on ethnicity, gender, and politics. Collective identity theory is used to understand how the identities of Tigrayan women are formed, maintained, or transformed in the context of conflict, while postcolonial militarism theory is employed to analyze how the legacy of colonial power and the state’s military structures influence power relations and practices of violence against this group. Through an analysis of international news media content, human rights organization reports, UN documents, and academic studies related to the conflict in Ethiopia, this research finds that armed conflict has transformed the socio-political position of Tigrayan women. who previously held political influence in Ethiopia into victims of layered discrimination in the form of genocidal rape used as a war strategy. Therefore, the transformation of Tigrayan women’s collective identity during the conflict not only reflects vulnerability stemming from war but also demonstrates how gender-based violence has become a tool of militarism targeting the destruction of the social, political, and cultural structures of the Tigrayan community as a whole. | |
| 46822 | 50224 | C1B021084 | PENGARUH KOMPENSASI DAN LINGKUNGAN KERJA FISIK TERHADAP TURNOVER INTENTION DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompensasi dan lingkungan kerja fisik terhadap turnover intention, dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif pada 46 karyawan CV Kreasi Mandiri di Purwokerto, Jawa Tengah, yang dipilih menggunakan rumus Slovin dari populasi 52 karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Google Form dengan skala Likert 1–5, kemudian dianalisis menggunakan SPSS untuk menguji pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja dan turnover intention, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kepuasan kerja. Sebaliknya, lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja maupun turnover intention, dan kepuasan kerja tidak memediasi hubungan tersebut. Kepuasan kerja secara langsung memiliki pengaruh signifikan terhadap turnover intention. Temuan ini menekankan pentingnya kebijakan kompensasi yang adil, konsisten, dan tepat waktu sebagai faktor kunci dalam menekan niat karyawan untuk keluar. Meskipun perbaikan fasilitas fisik tidak berdampak langsung terhadap retensi, hal tersebut tetap perlu dilakukan untuk mendukung kenyamanan kerja. Penelitian ini memperkuat teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory) yang menyatakan bahwa imbalan yang dianggap sepadan akan meningkatkan kepuasan kerja dan menurunkan turnover intention. | This research aims to examine the effect of compensation and physical work environment on turnover intention, with job satisfaction as a mediating variable. The study employed a quantitative approach with 46 employees of CV Kreasi Mandiri in Purwokerto, Central Java, selected using Slovin’s formula from a population of 52 employees. Data were collected through a Google Form questionnaire using a 5-point Likert scale, and analyzed with SPSS to test both direct and indirect effects among variables. The results show that compensation has a significant effect on job satisfaction and turnover intention, both directly and indirectly through job satisfaction. Conversely, the physical work environment has no significant effect on either job satisfaction or turnover intention, and job satisfaction does not mediate this relationship. Job satisfaction itself has a significant direct effect on turnover intention. These findings highlight the importance of fair, consistent, and timely compensation policies as a key factor in reducing employees’ intention to leave. Although improvements in physical facilities do not directly impact retention, they remain necessary to support workplace comfort. This research strengthens the Social Exchange Theory, which posits that rewards perceived as equitable will enhance job satisfaction and decrease turnover intention. | |
| 46823 | 50220 | H1A021062 | PERANCANGAN DAN ANALISIS PLTS OFF-GRID TIGA FASE 29KWP UNTUK IMPLEMENTASI MESIN REVERSE OSMOSIS | Penelitian ini dilakukan untuk melakukan perancangan dan analisis sistem pembangkit listrik tenaga surya tiga fase 29 kWp untuk implementasi mesin reverse osmosis. Masalah utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah kebutuhan daya listrik untuk mesin tiga fase reverse osmosis untuk kebutuhan air bersih. Lokasi untuk instalasi mesin ini berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Oleh karena itu, sistem panel surya off-grid ini dirancang untuk memberikan pasokan daya dari sinar matahari untuk mesin reverse osmosis tiga fase 29 kWp. Pendekatan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data beban harian, kondisi geografis lokasi, perhitungan manual spesifikasi komponen utama sistem panel surya off-grid seperti panel surya, baterai LiFePO4 , inverter, dan perangkat proteksi. Selanjutnya dilakukan pemodelan dan simulasi sistem menggunakan perangkat lunak PVsyst dan ETAP. Simulasi yang dilakukan bertujuan untuk melakukan analisis performa sistem yang dirancang seperti total listrik yang dihasilkan, losses, dan analisis load flow sistem AC/DC sistem panel surya off-grid. Perancangan sistem PLTS off-grid 29 kWp yang dilakukan memperlihatkan kemampuan penyediaan energi listrik yang sesuai dengan kebutuhan beban tiga fase. Integrasi baterai LiFePO4 48 V 100 Ah dalam jumlah yang memadai memungkinkan kontinuitas operasi ketika suplai energi matahari tidak tersedia. Simulasi PVsyst menunjukkan performa tahunan solar fraction mencapai 99,84%, E_Avail sebesar 44.846 kWh, E_User 17.036 sebesar kWh, dan E_Miss sebesar 28,11 kWh. Simulasi ETAP untuk analisis load flow sistem AC/DC memperlihatkan distribusi daya yang seimbang antar fase. Dengan demikian, rancangan ini menggambarkan potensi penerapan PLTS off-grid sebagai sumber energi mandiri untuk mendukung kebutuhan operasional peralatan yang memerlukan suplai listrik berkesinambungan. | This research was conducted to design and analyze a 29 kWp three-phase solar power generation system for the implementation of a reverse osmosis machine. The primary problem underlying this research was the electrical power requirement for the three-phase reverse osmosis machine to meet clean water needs. The installation location for this machine is in a 3T (Underdeveloped, Frontier, and Outermost) area. Therefore, this off-grid solar panel system was designed to provide solar power for the 29 kWp three-phase reverse osmosis machine. The research approach involved collecting daily load data, geographic location data, and manually calculating the specifications of the main components of the off-grid solar panel system, such as solar panels, LiFePO4 batteries, inverters, and protection devices. Next, system modeling and simulation were performed using PVsyst and ETAP software. The simulations aimed to analyze the system's performance, including total electricity generation, losses, and load flow analysis for the AC/DC off-grid solar panel system. The design of a 29 kWp off-grid solar power plant system demonstrates the ability to supply electrical energy that meets the needs of three-phase loads. The integration of a sufficient number of 48 V 100 Ah LiFePO4 batteries allows for continuous operation when solar energy supply is unavailable. PVsyst simulations show annual solar fraction performance reaching 99.84%, E_Avail of 44,846 kWh, E_User of 17,036 kWh, and E_Miss of 28.11 kWh. ETAP simulations for AC/DC system load flow analysis show a balanced power distribution between phases. Thus, this design illustrates the potential application of off-grid solar power plants as an independent energy source to support the operational needs of equipment that requires a continuous electricity supply. | |
| 46824 | 50221 | C1A021089 | ANALISIS PENGARUH POTENSI EKONOMI SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) 5 PROVINSI DI PULAU JAWA | Sektor pariwisata di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, memiliki potensi ekonomi yang besar dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, kontribusi sektor priwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Pulau Jawa masih relatif rendah, menyebabkan ketergantungan pada dana transfer dari pemerintah pusat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh jumlah destinasi wisata, PDRB per kapita, jumlah akomodasi wisata dan panjang jalan 5 Provinsi di Pulau Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan data sekunder. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel dengan periode tahun 2013 – 2023 dengan model terbaik yang terpilih, yaitu fixed effect model. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara bersama – sama variabel jumlah destinasi wisata, PDRB per kapita, akomodasi wisata dan panjang jalan berpengaruh signifikan terhadap variabel pendapatan asli daerah. Secara parsial variabel akomodasi wisata dan panjang jalan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Namun, variabel jumlah destinasi wisata dan PDRB per kapita tidak berpengaruh signfiikan terhadap pendapatan asli daerah. Implikasi dalam penelitian ini adalah Kebijakan harus diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas standar layanan akomodasi yang ada, memprioritaskan pembangunan, pemeliharaan, dan peningkatan kualitas jaringan jalan, standarisasi kualitas layanan dan fasilitas akomodasi, sehingga mendorong wisatawan untuk kembali dan berbelanja lebih banyak. | The tourism sector in Indonesia, particularly on the island of Java, has significant economic potential and contributes greatly to **Regional Original Revenue (PAD)**. However, the contribution of the tourism sector to PAD in Java is still relatively low, causing a dependency on transfer funds from the central government. The purpose of this study is to analyze the influence of the **number of tourist destinations**, **per capita GRDP**, **number of tourist accommodations**, and **road length** in 5 provinces on the island of Java. This research is a quantitative descriptive study that uses secondary data. The analysis in this study uses a panel data regression with a period from 2013 to 2023, with the best model selected being the **fixed-effect model**. The results of this study show that the variables of the number of tourist destinations, per capita GRDP, tourist accommodations, and road length together have a significant effect on the regional original revenue variable. Partially, the variables of **tourist accommodations** and **road length** have a significant effect on regional original revenue. However, the variables of the **number of tourist destinations** and **per capita GRDP** do not have a significant effect on regional original revenue. The implications of this study are that policy should be directed toward encouraging an increase in the quality of existing accommodation service standards, prioritizing the construction, maintenance, and improvement of the road network, and standardizing the quality of accommodation services and facilities, thereby encouraging tourists to return and spend more. | |
| 46825 | 50223 | H1A021077 | PERANCANGAN SISTEM IOT MONITORING PENGAMBILAN SAMPAH DENGAN METODE GEOFENCING DI CV. BANK SAMPAH INDUK PERWIRA | CV. Bank Sampah Induk Perwira di Purbalingga mengalami kendala dalam pemantauan dan pencatatan data pengambilan sampah, seperti waktu pengambilan, durasi, volume sampah, serta lokasi kendaraan pengangkut secara real-time. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan sistem berbasis teknologi yang mampu memantau dan mencatat data pengambilan sampah secara otomatis dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem Internet of Things (IoT) berbasis geofencing guna memantau aktivitas pengambilan sampah secara real-time. Perancangan sistem meliputi analisis kebutuhan, desain sistem, pembuatan prototipe, pengujian, dan evaluasi. Sistem ini dikembangkan berdasarkan empat lapisan arsitektur IoT, yaitu perception layer, network layer, middleware layer, dan application layer. Empat lapisan arsitektur IoT tersebut mencakup sensor ultrasonik untuk mengukur volume sampah, modul GPS untuk pelacakan lokasi, komunikasi data menggunakan GPRS dan MQTT, algoritma sistem berdasarkan geofencing menggunakan NodeRED, serta integrasi dengan dashboard berbasis web sebagai antarmuka pengguna. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sistem yang sesuai dengan rancangan yang dibuat dan mampu beroperasi sesuai fungsinya dalam mendukung pencatatan serta pemantauan pengambilan sampah di CV. Bank Sampah Induk Perwira. | CV. Bank Sampah Induk Perwira in Purbalingga is experiencing difficulties in monitoring and recording waste collection data, such as collection time, duration, waste volume, and the location of collection vehicles in real-time. To address this issue, a technology-based system is needed that can automatically and accurately monitor and record waste collection data. This research aims to design and build a geofencing-based Internet of Things (IoT) system to monitor waste collection activities in real-time. The system design includes needs analysis, system design, prototype creation, testing, and evaluation. This system is developed based on four layers of IoT architecture, namely the perception layer, network layer, middleware layer, and application layer. The four layers of the IoT architecture include ultrasonic sensors to measure waste volume, GPS modules for location tracking, data communication using GPRS and MQTT, system algorithms based on geofencing using NodeRED, and integration with a web-based dashboard as the user interface. The results of this research are expected to produce a system that aligns with the designed plan and is capable of operating according to its function in supporting the recording and monitoring of waste collection at CV. Bank Sampah Induk Perwira. | |
| 46826 | 50222 | A1A021079 | ANALISIS KOMPARASI PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH VARIETAS PROTANI DENGAN NON PROTANI PADA KELOMPOK TANI TIRTO MARGO MULYO, DESA BOJANEGARA, KECAMATAN PADAMARA, KABUPATEN PURBALINGGA | Kelompok Tani Tirto Margo Mulyo merupakan salah satu kelompok tani yang berada di Desa Bojanegara, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Kelompok tani tersebut menjadi salah satu kelompok yang melakukan budidaya Varietas Unggul Baru (VUB) Padi Inpago Protani Unsoed. VUB ini dikembangkan oleh tim Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman melalui persilangan varietas G39 dan Ciherang, dengan keunggulan kandungan protein lebih tinggi, ketahanan terhadap penyakit blas, dan tanaman pendek yang tahan rebah. Produktivitas padi Protani rata-rata 6 ton/ha, lebih tinggi dibanding varietas non Protani sebesar 5 ton/ha, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan bertujuan untuk menegetahui budidaya padi Protani dan mengetahui apakah adanya perbedaan pendapatan yang signifikan anatara varietas Penelitian menggunakan metode survei, wawacara secara langsung kepada petani untuk mengumpulkan data petani yang mengusahakan padi varietas Protani dan Non Protani. Lokasi penelitian dipilih secara purposive berdasarkan kriteria petani yang menanam kedua varietas tersebut, dengan sampel sebanyak 46 petani. Variabel yang diukur meliputi biaya tetap, biaya variabel, biaya tenaga kerja, biaya total, jumlah produksi, harga jual produk, penerimaan, serta pendapatan usahatani untuk kedua varietas, dan dikategorikan berdasarkan status petani pemilik lahan dan petani penggarap. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk menggambarkan karakteristik petani dan pola budidaya protani dan analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung dan membandingkan pendapatan usahatani padi varietas Protani dan Non Protani. Perhitungan meliputi analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani. Untuk mengetahui perbedaan pendapatan antara kedua varietas padi, digunakan Uji Independent Sample T-test. Kelompok Tani Tirto Margo Mulyo mayoritas petani kecil hingga menengah, berusia lanjut, berpendidikan dasar, dan telah berpengalaman dalam usahatani selama 21–40 tahun. Mayoritas lahan milik sendiri dan menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor pertanian. Budidaya padi varietas Inpago Unsoed Protani dan varietas Non Protani dilakukan dengan tahapan dan teknik yang serupa, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen dan pascapanen. Perbedaan utama terletak pada jenis benih yang digunakan. Varietas Protani memberikan perbedaan signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani pada kategori petani sebagai pemilik lahan. Petani penggarap tidak terdapat perbedaan signifikan antara pendapatan usahatani varietas Protani dengan Non Protani | The Tirto Margo Mulyo Farmers’ Group is one of the farmer groups located in Bojanegara Village, Padamara Sub-district, Purbalingga Regency. This group is among those cultivating the New Superior Variety (Varietas Unggul Baru, VUB) of rice, Inpago Protani Unsoed. This VUB was developed by the Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman through the crossbreeding of the G39 and Ciherang varieties. It possesses advantages such as higher protein content, resistance to blast disease, and a shorter plant height, making it more resistant to lodging. The average productivity of Protani rice reaches 6 tons/ha, which is higher than the non-Protani variety at 5 tons/ha, thereby offering the potential to increase farmers’ income.This research aimed to investigate the cultivation practices of Protani rice and to determine whether there is a significant difference in income between Protani and non-Protani rice varieties within the Tirto Margo Mulyo Farmers’ Group. The study employed a survey method, involving direct interviews with farmers cultivating Protani and non-Protani rice varieties. The research location was purposively selected based on the criterion that farmers cultivated both varieties, with a sample size of 46 farmers. The variables measured included fixed costs, variable costs, labor costs, total costs, production volume, selling price, revenue, and farming income for both varieties, categorized by the status of farmers as landowners and tenant farmers. Descriptive qualitative analysis was used to describe the characteristics of the farmers and the cultivation patterns of Protani rice, while quantitative analysis was applied to calculate and compare the farming income between Protani and non-Protani rice varieties. The calculations included cost analysis, revenue analysis, and income analysis. To determine income differences between the two varieties, an Independent Sample T-test was performed. The Tirto Margo Mulyo Farmers’ Group consists mostly of small to medium scale farmers, predominantly elderly, with primary education backgrounds, and farming experience ranging from 21 to 40 years. Most farmers own their land and rely entirely on agriculture for their livelihoods. The cultivation of Inpago Unsoed Protani and non-Protani varieties follows similar stages and techniques, from land preparation, planting, and maintenance to harvesting and post-harvest handling. The main difference lies in the type of seed used. The Protani variety showed a significant positive effect on farmers’ income for landowners. However, among tenant farmers, no significant difference was found in farming income between the Protani and non-Protani varieties. | |
| 46827 | 50225 | H1A021084 | ANALISIS SENTIMEN ULASAN PRODUK E-COMMERCE MENGGUNAKAN MODEL LONG SHORT TERM MEMORY | Penelitian ini membandingkan kinerja model Recurrent Neural Network (RNN) dan Long Short-Term Memory (LSTM) dalam mengklasifikasikan sentimen ulasan produk e-commerce (positif, negatif, netral) menggunakan dataset publik “171k Product Review with Sentiment” dari Kaggle. Setelah tahap pra-pemrosesan teks (pembersihan simbol, angka, stopwords, penanganan data kosong) dan penyeimbangan kelas dengan SMOTE, data diubah melalui tokenization dan padding sebelum dilatih pada kedua model. Hasil evaluasi menunjukkan LSTM unggul dengan akurasi 85% dibandingkan RNN 84%, terutama dalam menangani kelas minoritas (netral) dengan precision lebih tinggi dan ketahanan lebih baik terhadap overfitting, sehingga dinilai lebih efektif untuk analisis sentimen ulasan produk e-commerce. | This literature compares the performance of the Recurrent Neural Network (RNN) and Long Short-Term Memory (LSTM) models in classifying product review sentiments on e-commerce platforms (positive, negative, neutral) using the public dataset “171k Product Review with Sentiment” from Kaggle. After the text preprocessing stage (removal of symbols, numbers, and stopwords, as well as handling missing data) and class balancing using SMOTE, the data was transformed through tokenization and padding before being trained on both models. The evaluation results show that LSTM outperforms RNN with an accuracy of 85% compared to RNN’s 84%, particularly in handling minority classes (neutral) with higher precision and better resistance to overfitting, making it more effective for sentiment analysis of e-commerce product reviews. | |
| 46828 | 50226 | F2D023003 | Perempuan Dan Industrialisasi : Peran Perempuan dalam Kawasan Industri Brebes | ABSTRAK Dalam tradisi masyarakat traditional memposisikan perempuan sebagai klas kedua, tapi posisi ini dengan seiring indutrialisasi mampu mengubah budaya tersebut berbalik arah. Indutrialisasi di kabupaten Brebes dalam prakteknya penyerapan tenaga kerja mayoritas perempuan, sehingga perempuan bisa dikatakan sebagai kelompok mayoritas mengisi kawasan industry Brebes. Hal ini tentunya akan mengubah tatanan masyarakat patriaki menjadi lebih egaliter, tetapi perubahan itu tidak dapat diterima masyarakat secara umum khususnya pada lingkup keluarga. Sehingga terjadi gesekan dalam sebuah keluarga menimbulkan banyak konflik dari KDRT, Perselingkuhan dll. Puncaknya adalah angka perceraian yang tinggi di kabupaten Brebes. Kata Kunci : KIB, Perempuan, Konflik | ABSTRACT Traditional societies traditionally positioned women as second-class citizens, but this position, coupled with industrialization, has reversed this cultural trend. Industrialization in Brebes Regency has resulted in the majority of women being employed, making women the majority group in the Brebes industrial area. This would undoubtedly transform the patriarchal society into a more egalitarian one, but this change is not universally accepted, particularly within the family. This leads to friction within families, leading to numerous conflicts, including domestic violence, infidelity, and other issues. This culminates in a high divorce rate in Brebes Regency. Keywords :KIB, Women, Conflict | |
| 46829 | 50227 | B1A020057 | UPAYA MEMACU PEMBENTUKAN PLANTLET Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce MELALUI MANIPULASI MEDIA DAN PENAMBAHAN IBA | Kantong semar [Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce] menarik perhatian karena keunikan kantong dan potensinya sebagai tanaman hias, tetapi menghadapi ancaman seperti kerusakan habitat dan perburuan ilegal dan berstatus “Least Concern” dalam IUCN Red List, serta dilindungi melalui UU No. 5/1990 dan Permen LHK No. 106/2018. Perdagangan spesies Nepenthes, khususnya N. mirabilis di tingkat internasional berfokus pada tanaman yang dibudidayakan secara modern. Kultur in vitro dapat menghasilkan tanaman baru secara cepat dalam waktu singkat, dan memiliki sifat identik dengan induknya. Salah satu aspek penting dalam kultur in vitro adalah pembentukan plantlet (rooting). Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara formulasi media dan konsentrasi IBA pada pembentukan plantlet N. mirabilis secara in vitro, dan menentukan formulasi media dan konsentrasi IBA terbaik untuk memacu pembentukan plantlet N. mirabilis secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur in Vitro Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman selama 6 bulan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah formulasi media yang terdiri atas empat taraf yaitu Full-Strength MS (M1), 3/4-Strength MS (M2), 2/4-Strength MS (M3), dan 1/4-Strength MS (M4). Faktor kedua adalah konsentrasi IBA yang terdiri atas empat taraf yaitu 0 μM (I0), 5 μM (I1), 10 μM (I2), dan 15 μM (I3), sehingga menghasilkan 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah formulasi media dan konsentrasi IBA. Variabel terikat yang diamati adalah pembentukan plantlet N. mirabilis, dengan parameter yang diukur meliputi jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan jangkauan akar. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara formulasi media dan konsentrasi IBA berpengaruh terhadap panjang tunas N. mirabilis, sementara jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan jangkauan akar dipengaruhi oleh faktor mandiri formulasi media dan/atau konsentrasi IBA yang digunakan. Media 2/4-Strength MS dengan penambahan 5 μM IBA merupakan media terbaik untuk memacu pembentukan plantlet pada N. mirabilis dalam kultur in vitro. | The pitcher plant [Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce] attracts attention due to its unique pitcher and potential as an ornamental plant. However, it faces threats such as habitat destruction and illegal harvesting, thus currently categorized as “Least Concern” in the IUCN Red List, which is also protected under Indonesian Law No. 5/1990 and Ministry of Environment and Forestry Decree No. 106/2018. The international trade of Nepenthes spesies, particularly N. mirabilis has been focused on plant produced by modern cultivation approaches. Plant in vitro culture is a modern propagation technique capable of producing new plants more rapidly with identical genetic characteristics with its parental plant. One key aspect in in vitro culture is the formation of plantlets (rooting). This study aimed to investigate the interaction effects between media formulations IBA concentrations on N. mirabilis in vitro plantlet formation, and to determine the best media formulation and IBA concentration to speed up N. mirabilis plantlet formation in in vitro culture. This research has been conducted at the Plant In Vitro Culture Laboratory of the Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University, for a duration of six months. The study has been carried out experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) on a two-factor factorial treatment pattern. The first factor was media formulations, consisting of Full-Strength MS (M1), 3/4-Strength MS (M2), 2/4-Strength MS (M3), and 1/4-Strength MS (M4). The second factor was IBA concentrations, consisting of four levels: 0 µM (I0), 5 µM (I1), 10 µM (I2), and 15 µM (I3), resulting in 16 treatment combinations. Each treatment combination was repeated three times, yielding a total of 48 experimental units. The independent variables tried were the media formulations and IBA concentrations, while the dependent variable observed was the formation of N. mirabilis plantlets, with the parameters measured including number of shoots, shoot length, number of leaves, number of roots, root length, and root spread per explant. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at significance levels of 5% and 1%, followed by Duncan’s Multiple Range Test at a 5% error rate. The research results showed that the interaction between media formulation and IBA concentration significantly affected shoot length of N. mirabilis, meanwhile, the number of leaves and roots, root length, and root spread were controlled by media formulation and/or IBA concentration. The best medium for inducing plantlet formation of N. mirabilis in in vitro culture was 2/4-Strength MS medium supplemented with 5 µM IBA. | |
| 46830 | 50229 | H1A021065 | ANALISIS PENGARUH ARUS CHARGING PADA PERFORMA DAN PREDIKSI UMUR PAKAI BATERAI JENIS LIFEPO4 DALAM SISTEM PLTS OFF-GRID 4 KWP | Krisis energi fosil dan meningkatnya kesadaran terhadap dampak lingkungan telah mendorong pengembangan energi terbarukan, salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid. Dalam sistem ini, baterai berperan penting sebagai media penyimpanan energi listrik untuk menjamin kontinuitas pasokan, terutama saat tidak ada sinar matahari. Baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄) dipilih karena memiliki karakteristik efisiensi tinggi, kestabilan termal, serta umur pakai yang panjang dibanding jenis baterai lainnya. Penelitian ini membahas pemanfaatan baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄) dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid, dengan fokus pada analisis performa dan prediksi umur baterai berdasarkan pengaruh arus pengisian. Dua pola pengisian diuji melalui pemantauan parameter arus pengisian, arus pengosongan, State of Charge (SoC), efisiensi, dan energi hilang. Hasil menunjukkan bahwa pola charging 0,5C memiliki SoC akhir rata-rata lebih rendah (92%) dibanding pola Charging 0,3C (95%), namun efisiensinya sedikit lebih tinggi 78,15% dibanding 75,54%. Kehilangan energi juga lebih kecil pada pola charging 0,5C sebesar 259 Wh dibanding pola charging 0,3C 297 Wh. Penurunan efisiensi terjadi saat SoC mendekati penuh akibat meningkatnya resistansi internal baterai. Estimasi umur pakai baterai menunjukkan pola charging 0,5C dapat bertahan selama 13,6 tahun, sedangkan pola charging 0,3C selama 13,9 tahun | The fossil fuel crisis and growing awareness of environmental impacts have driven the development of renewable energy, including through off-grid solar power plants (PLTS). In this system, batteries play a crucial role as energy storage media to ensure uninterrupted power supply, especially during periods without sunlight. Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄) batteries are chosen due to their high efficiency, thermal stability, and longer lifespan compared to other battery types. This study examines the use of Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄) batteries in off-grid solar power plant (SPP) systems, focusing on performance analysis and battery lifespan prediction based on the influence of charging current. Two charging patterns were tested through monitoring parameters such as charging current, discharging current, State of Charge (SoC), efficiency, and energy loss. The results show that the 0.5C charging pattern has a lower average final SoC (92%) compared to the 0.3C charging pattern (95%), but its efficiency is slightly higher at 78.15% compared to 75.54%. Energy loss was also smaller in the 0.5C charging pattern at 259 Wh compared to the 0.3C charging pattern at 297 Wh. Efficiency decreased as SoC approached full charge due to increased internal battery resistance. Battery lifespan estimates showed that the 0.5C charging pattern could last for 13.6 years, while the 0.3C charging pattern could last for 13.9 years. | |
| 46831 | 50230 | E1B018032 | CONTESTED DIVORCE DUE TO DISPUTE AND PHYSICAL ABUSE (Judicial Review of Religious Court Decision Number: 1253/Pdt.G/2021/PA.Sby | Perkawinan untuk selamanya namun terkadang dalam suatu perkawinan terjadi perceraian, hal ini menarik dalam kasus no 1253/Pdt.G/2021/PA.Sby terjadi perceraian karena tergugat dalam hal ini suami melakukan kekerasan fisik, mempunyai wanita idaman lain, mengonsumsi minuman keras, dan tidak dapat memenuhi ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan cerai gugat karena kekerasan fisik dan akibat hukum dalam cerai gugat berkaitan dengan hak asuh anak sebagaimana dalam Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor: 1253/Pdt.G/2021/PA.Sby. Metode Pendekatan dalam penelitian ini yaitu yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif dengan mengacu pada data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder, metode pengumpulan data yang digunakan dengan cara studi kepustakaan, dalam menyajikan penelitian ini penulis menyajikan dalam bentuk teks naratif, dan metode analisis yang digunakan ialah normatif kualitatif. Sehingga diperoleh hasil penelitian bahwa Majelis Hakim mengabulkan gugatan dengan berdasar pada Pasal 39 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Perkawinan jo. Pasal 19 huruf (f) PP No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam tentang alasan perceraian karena perselisihan terus menerus. Seharusnya Majelis Hakim dapat menambahkan Pasal 116 huruf (g) Kompilasi Hukum Islam sebagai dasar pertimbangan hukum karena Tergugat dalam hal ini suami telah melanggar sighat taklik talak di bagian tidak memberikan nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya, dan menyakiti badan/jasmani istri. Selain itu, Akibat Hukum dari diputusnya cerai gugat yang menimpa para pihak yang berarti Penggugat selaku ibu kandung dari anak berusia 15 (lima belas) bulan mendapatkan hak asuh anak secara penuh dan membebankan Tergugat dalam hal ini Suami membayar biaya hadhanah sesuai dengan kebutuhan anak seusia anak Penggugat dan Tergugat, yaitu sejumlah Rp.3.000.000,00 (tiga juta rupiah), perbulan hingga anak tersebut dewasa. | Marriage is meant to last forever but sometimes divorce occurs within a mariage, this is interesting in case no. 1253/Pdt.G/2021/PA. Sby where divorce occured because the defendant as husband in this case committed physical violence, had a mistress, consumed alcohol, and unable to provide the family financial needs. This study aims to analyze the judge's legal considerations of the judge in granting a divorce due to physical abuse and the legal consequences of divorce related to child custody as stated in the Surabaya Religious Court Decision Number: 1253/Pdt.G/2021/PA.Sby. The research methodology employed a normative statue approach with prescriptive research specification, utilizing secondary data consisting of primary and secondary legal materials. The data collection method involved literature review, and the research was presented in narrative text form. The analysis method used was normative qualitative. The research findings indicate that the Panel of Judges granted the petition based on Article 39 paragraph (1) and (2) of the Marriage Law in conjunction with Article 19 letter (f) of Government Regulation No. 9 of 1975 in conjunction with Article 116 letter (f) of the Compilation of Islamic Law regarding the grounds for divorce due to ongoing disputes. The judges should have added Article 116 letter (g) of the Compilation of Islamic Law as a legal basis for consideration, as the defendant, in this case the husband, had violated the divorce decree by failing to provide the required maintenance for three months and causing physical harm to his wife. Additionally, the legal consequences of the divorce decree affecting the parties mean that the Plaintiff, as the biological mother of a child aged 15 (fifteen) months, obtains full custody of the child and imposes on the Defendant, in this case the husband, the obligation to pay hadanah costs in accordance with the needs of a child of the same age as the Plaintiff and Defendant's child, amounting to Rp.3,000,000.00 (three million rupiah) per month until the child reaches adulthood. | |
| 46832 | 50231 | L1B021089 | HUBUNGAN MORTALITAS UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DENGAN KELIMPAHAN BLUE-GREEN ALGAE PADA TAMBAK INTENSIF DI CILACAP | Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) secara intensif memiliki potensi produksi tinggi, namun rentan terhadap penurunan kualitas air yang memicu kematian massal. Salah satu faktor utama adalah blooming Blue-Green Algae (BGA) atau Cyanobacteria, seperti Microcystis, Oscillatoria, dan Anabaena, yang berpotensi menghasilkan racun microcystin dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kelimpahan BGA di atas ambang batas berisiko tinggi terhadap organisme budidaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kelimpahan BGA dan tingkat mortalitas udang vaname pada sistem tambak intensif. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2024–Februari 2025 di kolam B2 dan B4 dengan luas 1.000 m² dengan padat tebar 131 ekor/m² di Koperasi Hurang Jaya Makmur, Cilacap. Data dikumpulkan melalui pengambilan sampel air dua kali seminggu, BGA diamati secara mikroskopis (40x), dan dianalisis menggunakan regresi linear dengan parameter pendukung kualitas air, yaitu Total Organic Matter (TOM), kecerahan, dan pH. Hasil menunjukkan puncak kelimpahan BGA mencapai 190.000 sel/mL (B2) dan 250.000 sel/mL (B4) yang bertepatan dengan lonjakan mortalitas udang, masing-masing 531 dan 370 ekor. Analisis regresi menunjukkan hubungan positif dengan nilai R² sebesar 0,546 (B2) dan 0,5688 (B4). Temuan ini menegaskan bahwa dominasi BGA berkontribusi signifikan terhadap kematian udang, sehingga pemantauan kualitas air dan pengendalian Cyanobacteria sangat penting dalam manajemen tambak intensif. | Intensive cultivation of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) offers high production potential but is highly vulnerable to water quality deterioration, which may lead to mass mortality. One of the major challenges is the blooming of Blue-Green Algae (BGA) or Cyanobacteria, such as Microcystis, Oscillatoria, and Anabaena, which are capable of producing toxins like microcystin and disrupting pond ecosystems. Previous studies have highlighted that BGA abundance above the threshold poses serious risks to cultured organisms. This study aimed to determine the relationship between BGA abundance and shrimp mortality in an intensive aquaculture system. The research was conducted from December 2024 to February 2025 in ponds B2 and B4, each 1,000 m² with a stocking density of 131 shrimp/m², located at Koperasi Hurang Jaya Makmur, Cilacap. Water samples were collected twice weekly, observed microscopically (40x), and analyzed using linear regression along with supporting water quality parameters, namely Total Organic Matter (TOM), transparency, and pH. Results showed peak BGA abundance of 190,000 cells/mL (B2) and 250,000 cells/mL (B4), coinciding with shrimp mortality peaks of 531 and 370 individuals, respectively. Regression analysis revealed a positive relationship, with R² values of 0.546 (B2) and 0.5688 (B4). These findings confirm that BGA dominance significantly contributes to shrimp mortality, emphasizing the importance of water quality monitoring and Cyanobacteria control in intensive pond management. | |
| 46833 | 50233 | A1D021210 | TANGGAP MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS VARIETAS PADI IR64 TERHADAP EMPAT PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA | Intensifikasi pertanian dilakukan dengan penerapan budidaya minapadi yang mampu menciptakan simbiosis mutualisme. Kesehatan tanaman dan ikan pada budidaya minapadi dapat terdukung oleh penggunaan insektisida nabati yang ramah lingkungan. Inovasi insektisida nabati berbahan aktif ekstrak minyak cengkeh dan minyak serai wangi hasil riset salah satu penelitian BRIN diaplikasikan pada paket teknologi budidaya minapadi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tanggap varietas padi IR64 terhadap paket teknologi budidaya. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dilakukan di Desa Bentarsari, Kecamatan Salem, Brebes. Faktor yang dicoba yaitu empat paket budidaya yaitu, budidaya padi sawah non-minapadi, budidaya minapadi tanpa insektisida, budidaya minapadi aplikasi insektisida sintetis, budidaya minapadi aplikasi insektisida nabati dengan delapan kali ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologis (tinggi tanaman, jumlah anakan, tingkat kehijauan warna daun, jumlah anakan produktif, umur berbunga dan panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, gabah isi per malai, bobot 1000 biji, bobot gabah per rumpun, bobot gabah per petak) dan karakter fisiologis (laju tinggi tanaman, nilai dan kandungan klorofil daun). Data dianalisis menggunakan uji F pada taraf 5% dan jika berbeda nyata dilakukan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Karakter morfologis IR64 yang dipengaruhi oleh paket teknologi budidaya yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, bobot gabah per rumpun, dan bobot gabah per petak. Karakter fisiologis IR64 yang dipengaruhi oleh paket teknologi budidaya yaitu kandungan klorofil daun. Paket budidaya minapadi dengan aplikasi insektisida nabati dapat menyamai hasil (bobot gabah per petak) IR64 pada minapadi dengan insektisida sintetis, serta lebih tinggi dari minapadi tanpa aplikasi insektisida. | Agricultural intensification is carried out by implementing minapadi cultivation which is able to create mutualistic symbiosis. Health plants and fish in minapadi cultivation can be supported by the use of environmentally friendly botanical insectiside. Innovation of botanical insecticides with active ingredients of clove extract and citronella oils from one of BRIN’s researcher has been applied to the minapadi cultivation technology package. The study was conducted to determine the response of the IR64 rice variety to the cultivation technology package. The study was conducted using an experimental method arranged based on a Randomized Block Design (RAK) conducted in Bentarsari Village, Salem District, Brebes. The factors tested were four cultivation packages are of non-minapadi rice cultivation, minapadi cultivation without insecticides, minapadi cultivation with synthetic insecticide application, minapadi cultivation with botanical insecticide application with eight replications. Observations were made on morphological characters (plant height, number of tillers, greenness level of leaf color, number of productive tillers, flowering and harvest age, panicle length, number of grains per panicle, filled grains per panicle, weight of 1000 seeds, weight of grains per clump, weight of grains per plot) and physiological characters (plant height rate, value and content of leaf chlorophyll). Data were analyzed using the F test at the 5% level and if significantly different, further Duncan's Multiple Range Test (DMRT) test was carried out. The morphological characteristics of IR64 influenced by the cultivation technology package are plant height, number of productive tillers, grain weight per clump, and grain weight per plot. The physiological characteristics of IR64 influenced by the cultivation technology package are leaf chlorophyll content. The minapadi cultivation package with the application of botanical insecticides can match the results (grain weight per plot) of IR64 on minapadi with synthetic insecticides, and higher than minapadi without insecticide application. | |
| 46834 | 50234 | L1C021073 | Aktivitas Antibakteri dari Bakteri Asosiasi Tunikata di Perairan Tulamben, Bali | Resistensi antibiotik telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, sehingga eksplorasi terhadap sumber senyawa antimikroba menjadi aspek yang krusial dalam pengembangan terapi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Salah satu sumber bioaktif yang menjanjikan berasal dari kekayaan hayati laut Indonesia yaitu kelompok tunikata, organisme laut yang berperan sebagai inang bagi bakteri penghasil senyawa antibakteri potensial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri asosiasi tunikata terhadap bakteri patogen yang resisten terhadap antibiotik. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan etil asetat, lalu diuji aktivitasnya terhadap empat bakteri patogen resisten: Methicillin- resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Extended-Spectrum β-Lactamase (ESBL), Bacillus subtilis, dan Salmonella typhi menggunakan metode difusi kertas cakram. Hasil penelitian menunjukkan seluruh isolat (11 isolat) memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji, dengan isolat RI.NA.151 yang menunjukkan potensi antibakteri paling stabil terhadap seluruh bakteri MDR. Temuan ini menunjukkan bahwa bakteri asosiasi tunikata berpotensi sebagai sumber senyawa antibakteri baru dalam menghadapi resistensi antibiotik. Kata kunci : Bakteri asosiasi tunikata, antibakteri, Multi Drug Resistance, 16S rRNA | Antibiotic resistance has become a serious global health threat, making the exploration of antimicrobial sources crucial for developing more effective and sustainable therapies. One promising source of bioactive compounds is Indonesia’s marine biodiversity, particularly tunicates, which serve as hosts for bacteria producing potential antibacterial metabolites. This study aimed to analyze the antibacterial activity of tunicate-associated bacteria against antibiotic- resistant pathogens. Extracts were obtained using maceration with ethyl acetate and tested against four resistant pathogenic bacteria: Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Extended-Spectrum β-Lactamase (ESBL)-producing bacteria, Bacillus subtilis, and Salmonella typhi, using the disc diffusion method. Results showed that all isolates (11 isolates) exhibited inhibitory activity, with isolate RI.NA.151 displaying the most stable antibacterial potential against all MDR bacteria tested. These findings suggest that tunicate-associated bacteria may serve as a promising source of novel antibacterial agents to combat antibiotic resistance. Key words : Tunicates-associated bacteria, Antibacterial, Multi Drug Resistance, 16S rRNA | |
| 46835 | 50235 | F1B018054 | Analisis Peran Stakeholder Dengan Konsep Quadruplehelix Dalam Pengembangan Desa Wisata Cikakak Kecamatan Wangon | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Stakeholder dengan konsep Quadruplehelix dalam pengembangan desa wisata Cikakak. Konsep Quadruple Helix yang melibatkan empat pemangku kepentingan utama yaitu pemerintah, masyarakat, bisnis, dan akademisi dapat menjadi kerangka strategis dalam pengembangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya pembagian peran yang cukup jelas dalam pengembangan Desa Wisata Cikakak, yaitu pemerintah desa sebagai regulator dan fasilitator, BUMDes sebagai penggerak bisnis melalui manajemen pariwisata dan peningkatan kualitas SDM, Pokdarwis mewakili masyarakat sebagai pelaku wisata yang berlandaskan nilai sapta pesona, serta akademisi melalui aktivitas ilmiah. Secara keseluruhan, kolaborasi antar pihak telah menunjukkan hasil yang positif, namun diperlukan penguatan koordinasi, kesinambungan program, dan konsistensi pelaksanaan agar Desa Wisata Cikakak dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih merata bagi seluruh lapisan masyarakat. | This study aims to examine the role of stakeholders within the Quadruple Helix concept in the development of Cikakak Tourism Village. The Quadruple Helix concept, which involves four key stakeholders government, community, business, and academia serves as a strategic framework for its development. The research employs a descriptive qualitative method with data collected through interviews, observations, and documentation, while informants were selected using purposive sampling. The findings indicate a clear division of roles in the development of Cikakak Tourism Village: the village government acts as regulator and facilitator, BUMDes serves as a business driver through tourism management and human resource development, Pokdarwis represents the community as tourism actors guided by the values of Sapta Pesona, and academics contribute through scientific activities. Overall, collaboration among stakeholders has produced positive outcomes; however, stronger coordination, program continuity, and consistent implementation are required to ensure that Cikakak Tourism Village develops sustainably and delivers more equitable benefits to all members of the community. | |
| 46836 | 50237 | A1A020090 | Efisiensi Produksi Usahatani Jagung Di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas | Efisiensi produksi jagung menjadi kunci ketahanan pangan nasional, namun petani jagung Indonesia menghadapi penurunan produktivitas dan alokasi sumber daya yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usahatani jagung di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis. Metode penelitian menggunakan pendekatan survei kuantitatif terhadap 50 petani jagung yang dipilih melalui simple random sampling dari tiga desa dengan produksi jagung tertinggi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, observasi langsung, dan studi pustaka pada periode Mei-Juni 2025. Analisis menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglass yang diestimasi menggunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE) dalam software Frontier 4.1. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi teknis rata-rata mencapai 0,890 dengan 90% petani berada pada kategori efisien (0,81-1,00), mengindikasikan potensi peningkatan produksi 11% tanpa penambahan input. Efisiensi ekonomis rata-rata 1,590 menunjukkan biaya produksi 59% lebih tinggi dari biaya minimum optimal, sedangkan efisiensi alokatif mencapai 1,817 yang mengindikasikan kombinasi input 81,7% lebih mahal dari kombinasi optimal. Seluruh input produksi (lahan, benih, pupuk NPK, pestisida, dan tenaga kerja) berpengaruh signifikan terhadap produksi jagung pada tingkat kepercayaan 99%. Benih dan pestisida memberikan kontribusi positif tertinggi dengan koefisien masing-masing 0,5589 dan 0,7206. Tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap inefisiensi teknis (α = 5%) dengan koefisien -0,6990, mengonfirmasi bahwa peningkatan pendidikan petani dapat menurunkan inefisiensi melalui adopsi teknologi pertanian yang lebih baik. Temuan ini merekomendasikan prioritas program peningkatan pendidikan, optimalisasi alokasi input melalui penyuluhan, dan fasilitasi akses terhadap lahan produktif serta peralatan pertanian modern untuk mencapai efisiensi usahatani jagung yang berkelanjutan. | Maize production efficiency is crucial for national food security, yet Indonesian maize farmers face declining productivity and suboptimal resource allocation. This study aims to analyze the technical, allocative, and economic efficiency of maize farming in Kembaran Subdistrict, Banyumas Regency, and identify factors affecting technical inefficiency. The research employed a quantitative survey method involving 50 maize farmers selected through simple random sampling from three villages with the highest maize production. Data were collected through structured interviews, direct observation, and literature review during May-June 2025. The analysis utilized Stochastic Frontier Analysis (SFA) with Cobb-Douglas production function estimated using Maximum Likelihood Estimation (MLE) in Frontier 4.1 software. Results indicate that technical efficiency averaged 0.890, with 90% of farmers achieving efficient levels (0.81-1.00), suggesting potential for 11% production increase without additional inputs. Economic efficiency averaged 1.590, indicating production costs 59% higher than optimal minimum costs, while allocative efficiency reached 1.817, showing input combinations 81.7% more expensive than optimal. All production inputs (land, seeds, NPK fertilizer, pesticides, and labor) significantly influenced maize production at 99% confidence level. Seeds and pesticides demonstrated the highest positive contributions with coefficients of 0.5589 and 0.7206, respectively. Education level significantly affected technical inefficiency (α = 5%) with a coefficient of -0.6990, confirming that higher farmer education reduces inefficiency through improved agricultural technology adoption. The findings suggest prioritizing educational enhancement programs, optimizing input allocation through extension services, and facilitating access to productive land and modern agricultural equipment to achieve sustainable maize farming efficiency. | |
| 46837 | 50238 | F1B018081 | Adopsi Teknologi Cloud Computing Pada Pelayanan Publik Di Mal Pelayanan Publik Kabupaten Banyumas | Penelitian ini mengkaji adopsi cloud computing dalam pelayanan publik di MPP Banyumas sebagai bagian dari implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Indonesia. Cloud computing menjadi solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur TI lokal dan geografis, dengan dukungan kebijakan nasional seperti Perpres 95/2018 dan PP 71/2019 serta inisiatif seperti SiCantik Cloud dan Pusat Data Nasional (PDN). MPP merupakan tempat pelayanan terintegrasi yang menyediakan layanan perizinan dan non-perizinan untuk pemerintah daerah dan masyarakat, menawarkan kemudahan akses, efisiensi, dan inovasi layanan digital. Namun, masih ditemukan kendala seperti format data yang belum seragam dan sebagian besar layanan yang belum terintegrasi cloud, khususnya di sistem lama seperti SIPANJIMAS. | This study examines the adoption of cloud computing in public services at the Banyumas Public Service Mall (MPP) as part of the implementation of the Electronic-Based Government System (SPBE) in Indonesia. Cloud computing serves as a strategic solution to overcome local and geographical IT infrastructure limitations, supported by national policies such as Presidential Regulation No. 95/2018 and Government Regulation No. 71/2019, as well as initiatives like SiCantik Cloud and the National Data Center (PDN). MPP functions as an integrated service center providing licensing and non-licensing services for local governments and the public, offering ease of access, efficiency, and digital service innovation. However, challenges remain, such as non-standardized data formats and the limited integration of services into the cloud, particularly in legacy systems like SIPANJIMAS. | |
| 46838 | 50236 | A1D018192 | KERAGAMAN DAN KORELASI ANTAR KARAKTER AGRONOMIK PADI POPULASI F3 PERSILANGAN INPAGO UNSOED 1 DENGAN KOSHIHIKARI DAN RESIPROKALNYA | Perakitan varietas padi guna mendapatkan jenis padi seperti beras Jepang telah dilakukan melalui persilangan Inpago Unsoed 1 dan Koshihikari dilanjutkan dengan seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui keragaman genotipik dan fenotipik karakter agronomik padi F3 hasil persilangan Inpago Unsoed 1 dan Koshihikari beserta resiprokalnya, 2) Mempelajari keeratan hubungan antar karakter agronomik, dan 3) Mendapatkan galur-galur terpilih dengan karakter agronomik terbaik untuk disertakan pada seleksi berikutnya. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan dasar rancangan perlakuan Augmented Design. Perlakuan yang diuji adalah 12 famili padi populasi F3 yang terdiri atas 6 famili padi populasi F3 persilangan Inpago Unsoed 1 x Koshihikari, 6 famili padi populasi F3 persilangan Koshihikari x Inpago Unsoed 1, dan 2 varietas kontrol yaitu Inpago Unsoed 1 dan Koshihikari. Variabel yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot gabah per malai, bobot gabah per rumpun, bobot 100 biji, panjang gabah, dan lebar gabah. Data pengamatan dianalisis dengan analisis ragam, nilai duga heritabilitas, dan korelasi antar karakter. Hasil penelitian menunjukkan keragaman genotipik dan fenotipik yang tinggi terutama pada jumlah anakan produktif, bobot 100 gabah, bobot gabah per malai, dan bobot gabah per rumpun. Nilai heritabilitas tinggi untuk keseluruhan karakter agronomik. Korelasi antar karakter menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif berhubungan sangat erat dengan bobot gabah per rumpun dan bobot gabah per malai berhubungan cukup erat dengan bobot gabah per rumpun, menunjukkan karakter tersebut dapat digunakan sebagai indikator seleksi untuk daya hasil tinggi pada generasi selanjutnya. Terdapat 4 famili terpilih untuk seleksi lebih lanjut dengan performa agronomik unggul pada jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan bobot gabah per rumpun didukung heritabilitas tinggi | Rice varietal development aimed at producing cultivars similar to Japanese rice was conducted through the hybridization of Inpago Unsoed 1 and Koshihikari, followed by selection. This study aimed to 1) determine the genotypic and phenotypic variability of agronomic traits in F3 rice populations derived from the crosses between Inpago Unsoed 1 and Koshihikari, including reciprocal crosses, 2) analyze the correlation between agronomic traits, and 3) identify selected lines with superior agronomic performance for subsequent selection stages. The experimental design employed was a Randomized Complete Block Design (RCBD) based on an Augmented Design framework. Treatments consisted of 12 F3 rice families, comprising 6 families from the cross of Inpago Unsoed 1 × Koshihikari, 6 from the reciprocal cross of Koshihikari × Inpago Unsoed 1, and 2 control varieties: Inpago Unsoed 1 and Koshihikari. Observed variables included plant height, number of productive tillers, days to maturity, panicle length, number of grains per panicle, grain weight per panicle, grain weight per clump, 100- grain weight, grain length, and grain width. The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), heritability estimates, and correlation analysis. The study revealed high genotypic and phenotypic variability, especially for number of productive tillers, 100-grain weight, grain weight per panicle, and grain weight per hill. Heritability estimates were high for all agronomic traits. Correlation analysis showed that number of productive tillers was very strongly associated with grain weight per hill, while grain weight per panicle was moderately associated with grain weight per hill, indicating that these traits can serve as selection criteria for high-yield potential in subsequent generations. Four F3 families exhibiting superior performance in productive tiller number, panicle length, grains per panicle, and grain weight per hill, backed by high heritability, were identified for further selection. | |
| 46839 | 50239 | A1F021047 | Pengaruh Penambahan Bubuk Kecombrang Terhadap Kualitas Produk Olahan Daging Khas Minangkabau | Masakan etnis dapat didefinisikan sebagai masakan dari suatu kelompok yang diwariskan secara turun temurun dan dapat diterima secara budaya dan sosial oleh konsumen di luar kelompok etnisnya. Masakan etnis Minangkabau atau biasa disebut Makanan Padang merupakan makanan populer di kalangan masyarakat. Beberapa makanan terkenal dari etnis ini adalah rendang sapi, gulai ikan, dan ayam balado. Dalam membuat Masakan Padang, terdapat komponen penting yang ada dalam hampir semua hidangan, yaitu daging. Daging yang digunakan dalam masakan ini beragam, seperti sapi, ayam, atau ikan. Daging dan olahannya dapat dengan mudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kontaminasi mikroba, aktivitas enzim di dalam daging (lipase dan protease), reaksi kimiawi berupa pencoklatan dan oksidasi, dan perubahan secara fisik. Maka untuk mencegah terjadinya kerusakan dan menjaga kualitas produk diperlukan penambahan pengawet alami agar kualitas produk dapat dipertahankan, seperti bubuk kecombrang yang dikenal sebagai antimikroba. Pengaruh bubuk kecombrang terhadap fisikokimia, mikroba, serta sensori Masakan Padang belum banyak diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk kecombrang terhadap kualitas masakan dari etnis Minangkabau. Penelitian ini menggunakan bubuk kecombrang dengan penambahan konsentrasi 0, 0,25, 0,5, 0,75, dan 1%. Analisis fisikokimia yang digunakan adalah kadar air dan pH. Analisis mikroba dilakukan menggunakan angka lempeng total dan analisis sensori dilakukan dengan uji hedonik. Pengujian sensori dilakukan oleh 6 panelis standar menggunakan metode hedonik dengan skala 1-9 (amat sangat tidak suka-amat sangat suka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubuk kecombrang memberikan pengaruh (p<0,05) terhadap nilai pH, kadar air, serta angka lempeng total ketiga menu (rendang sapi, gulai ikan, dan ayam balado). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata pada produk rendang sapi (aroma dan rasa), gulai ikan (warna, aroma, dan rasa) serta ayam balado (rasa). Hasil pengujian indeks efektivitas menunjukkan bahwa produk terbaik diperoleh pada konsentrasi penambahan bubuk kecombrang 0,25% pada produk rendang sapi, gulai ikan, dan ayam balado. Perlakuan rendang sapi terbaik memiliki kadar air sebesar 36,67%, kadar abu 3,51%, kadar protein 31,94%, kadar lemak 22,51%, dan kadar karbohidrat 5,37%. Perlakuan gulai ikan terbaik memiliki kadar air 45,95%, kadar abu 5,66%, kadar protein 22,25%, kadar lemak 21,71%, dan kadar karbohidrat 4,41%. Perlakuan ayam balado terbaik memiliki kadar air 60,41%, kadar abu 3,55%, kadar protein 16,09%, kadar lemak 17,16%, dan kadar karbohidrat 2,78%. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan bubuk kecombrang dapat secara optimal meningkatkan kualitas mikrobiologis, fisikokimia, dan sensoris masakan khas Minangkabau. | Ethnic cuisine can be define as cuisine from a particular group that has been pass down from generation to generation and is culturally and socially acceptable to consumers outside of that ethnic group. Minangkabau ethnic cuisine, commonly known as Padang cuisine, is popular among the general public. Some well-known dishes from this ethnic group include beef rendang, fish curry, and balado chicken. In preparing Padang cuisine, there is an important component found in almost all dishes: meat. The meat use in this cuisine varies, such as beef, chicken, or fish. Meat and its byproducts can easily spoil caused by several factors, such as microbial contamination, enzymatic activity within the meat (lipase and protease), chemical reactions such as browning and oxidation, and physical changes. Therefore, to prevent spoilage and maintain product quality, the addition of natural preservatives is necessary to preserve product quality, such as torch ginger powder, which is known for its antimicrobial properties. The effects of torch ginger powder on the physicochemical, microbial, and sensory properties of Padang cuisine have not been extensively studied. This research was conducted to investigate the effects of adding torch ginger powder on the quality of Minangkabau ethnic cuisine. This study used torch ginger powder with addition concentrations of 0%, 0.25, 0.5, 0.75, and 1%. The physicochemical analysis used was moisture content and pH. Microbial analysis was conducted using total plate count, while sensory analysis was performed using a hedonic test. Sensory testing was conducted by six standard panelists using the hedonic method with a scale of 1–9 (very dislike–very like). The results showed that the addition of torch ginger powder had a significant effect (p<0.05) on the pH, moisture content, and total plate count of the three dishes (beef rendang, fish curry, and balado chicken). The hedonic test results showed different responses across the three menus. Significant effects were observed in beef rendang (aroma and taste), fish curry (color, aroma, and taste), and spicy chicken (taste). The results of the effectiveness index test showed that the best products were obtained at a concentration of 0.25% torch ginger powder added to beef rendang, fish curry, and balado chicken. Compared to the control treatment, the treatment with torch ginger powder addition had lower moisture content, while ash content, protein content, fat content, and carbohydrate content were higher. The best beef rendang treatment had a moisture content of 36.67%, ash content of 3.51%, protein content of 31.94%, fat content of 22.51%, and carbohydrate content of 5.37%. The best fish curry treatment had a moisture content of 45.95%, ash content of 5.66%, protein content of 22.25%, fat content of 21.71%, and carbohydrate content of 4.41%. The best balado chicken treatment had a moisture content of 60.41%, ash content of 22.25%, protein content of 31.94%, fat content of 22.51%, and carbohydrate content of 5.37%. Overall, this study shows that the addition of torch ginger powder can optimally improve the microbiogical, physicochemical, and sensory qualities of Minangkabau cuisine. | |
| 46840 | 50241 | A1D021110 | ISOLASI DAN KARAKTERISASI Pseudomonas fluorescens ENDOFIT AKAR PUTRI MALU (Mimosa invisa Mart. ex Colla) DATARAN MENENGAH TERHADAP ANTRAKNOSA BUAH CABAI RAWIT PASCAPANEN | Antraknosa akibat Colletotrichum sp. merupakan penyakit penting pada buah cabai rawit (Capsicum frutescens L.) yang menurunkan mutu dan daya simpan hasil panen. Penggunaan agensia hayati seperti Pseudomonas fluorescens endofit menjadi alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengkarakterisasi P. fluorescens endofit dari akar putri malu (Mimosa invisa Mart. ex Colla) asal dataran menengah serta mengevaluasi potensinya dalam mengendalikan antraknosa pada buah cabai rawit pascapanen dan sebagai Plant Growth Promoting Endophyte (PGPE). Sebanyak 11 isolat diperoleh (PFE 11, PFE 12, PFE 14, PFE 15, PFE 21, PFE 23, PFE 24, PFE 31, PFE 34, PFE 35, PFE 36) dari tiga lokasi di Banyumas dan Purbalingga, dikarakterisasi secara morfologi, mikroskopis, dan biokimia. Uji antagonis dilakukan terhadap jamur (Colletotrichum sp., Rhizoctonia solani, dan Fusarium oxysporum) serta terhadap bakteri (Ralstonia solanacearum dan Xanthomonas oryzae) secara in vitro dengan perlakuan kontrol dan 11 isolat yang diperoleh dan variabel yang diamati adalah besarnya daya hambat jamur dan diameter zona bening. Uji PGPE pada benih cabai rawit dengan perlakuan kontrol dan 11 isolat yang diperoleh dan variabel yang diamati adalah panjang kecambah, bobot segar kecambah, dan bobot segar akar. Tiga isolat terbaik (PFE 15, PFE 21, PFE 31) diuji lebih lanjut menggunakan metode detach fruit dengan variabel masa inkubasi, luas serangan, indeks sampah. Hasil uji antagonis menunjukkan daya hambat pertumbuhan patogen sebesar 16–75%. Hasil uji PGPE menunjukkan promosi minimal (penurunan > 80%) hingga tidak berbeda nyata dengan kontrol. Isolat PFE 15 menunjukkan hasil pertumbuhan kecambah yang mendekati kontrol. Pada uji detach fruit, ketiga isolat mampu menekan luas serangan hingga 13% dan menurunkan indeks kerusakan buah sebesar 15% dibandingkan dengan kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa P. fluorescens endofit asal akar putri malu dataran menengah berpotensi sebagai agensia hayati terhadap antraknosa cabai rawit pascapanen dan berkontribusi dalam pengembangan biofungisida untuk pertanian yang berkelanjutan. | Anthracnose caused by Colletotrichum sp. is an important disease in bird’s eye chili that reduces the quality and shelf life of the harvest. The use of biological agents such as Pseudomonas fluorescens endophytes is an environmentally friendly alternative for control. This study aims to isolate and characterize endophytic P. fluorescens from the roots of sensitive-creeping plants from midland regions and evaluate its potential in controlling anthracnose on post-harvest chili peppers and as a Plant Growth Promoting Endophyte (PGPE). A total of 11 isolates were obtained (PFE 11, PFE 12, PFE 14, PFE 15, PFE 21, PFE 23, PFE 24, PFE 31, PFE 34, PFE 35, PFE 36) from three locations in Banyumas and Purbalingga, characterized morphologically, microscopically, and biochemically. Antagonistic tests were conducted against fungi (Colletotrichum sp., Rhizoctonia solani, and Fusarium oxysporum) and bacteria (Ralstonia solanacearum and Xanthomonas oryzae) in vitro with control treatments and the 11 isolates obtained. The variables observed were the extent of fungal inhibition and the diameter of the clear zone. PGPE testing was conducted on chili pepper seeds with control treatment and 11 isolates obtained, and the variables observed were seedling length, fresh weight of seedlings, and fresh weight of roots. The three best isolates (PFE 15, PFE 21, PFE 31) were further tested using the detach fruit method with the variables incubation period, attack area, and waste index. The antagonistic test results showed a growth inhibition rate of 16–75%. The PGPE test results showed minimal promotion (reduction > 80%) to no significant difference from the control. Isolate PFE 15 showed seedling growth results close to the control. In the detach fruit test, the three isolates were able to suppress the attack area by up to 13% and reduce the fruit damage index by 15% compared to the control. This study indicates that endophytic P. fluorescens from the roots of medium-altitude sensitive plants has potential as a biological agent against post-harvest bird’s eye chili anthracnose and contributes to the development of biofungicides for sustainable agriculture. |