Artikelilmiahs

Menampilkan 46.961-46.980 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4696150348A1A018039PENGARUH BAURAN PROMOSI TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG PADA WISATA ALAM HUTAN PINUS LIMPAKUWUS KECAMATAN SUMBANGHutan Pinus Limpakuwus merupakan objek wisata yang terletak di Kawasan Wisata Baturaden yang terletak di lokasi strategis di bawah kaki Gunung Slamet sehingga memiliki keasrian dan keindahan alam yang cocok sebagai objek wisata berbagai kalangan. Daya tarik dan promosi yang ditawarkan membuat grafik pengunjung meningkat setiap tahun nya membuat penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang karakteristik dan bagaimana pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengunjung dan pengaruh bauran promosi terhadap keputusan berkunjung.
Penelitian ini mengkaji pengaruh elemen bauran promosi terhadap keputusan berkunjung wisatawan ke Hutan Pinus Limpakuwus, dengan pendekatan kuantitatif dan metode Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM-PLS), penelitian ini melibatkan 100 responden yang dipilih secara purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Yamane. Variabel bebas meliputi penjualan personal, periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan pemasaran langsung; sedangkan variabel terikat adalah keputusan berkunjung.
Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah pengunjung perempuan lebih dominan 74% dari pengunjung laki-laki yang memiliki rata-rata 18-25 tahun dan berprofesi sebagai pelajar/mahasiswa. Rata-rata pendapatan pengunjung berada pada tingkat Rp.2.000.001 – Rp.6.000.000. Domisili para pengunjung wisata mayoritas berasl dari luar Banyumas. Analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa variabel periklanan, promosi penjualan, dan pemasaran langsung berpengaruh signifikan positif terhadap keputusan berkunjung, sedangkan penjualan personal dan hubungan masyarakat tidak berpengaruh signifikan. Penelitian ini merekomendasikan strategi promosi berbasis digital dan visual seperti media sosial dan website untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Penemuan ini diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi pengelola wisata dan kontribusi akademik dalam pengembangan teori pemasaran pariwisata berbasis bauran promosi.
Hutan Pinus Limpakuwus was a tourist destination located within the Baturaden Tourism Area, strategically positioned at the foot of Mount Slamet. Its pristine and scenic natural environment made it an appealing site for visitors from various demographic groups. The attractiveness of the destination, coupled with its promotional efforts, contributed to a consistent increase in the number of visitors each year. This trend motivated the researcher to further investigate visitor characteristics and the influence of the promotional mix on visit decisions.
This research examined the influence of promotional mix elements on tourists’ visit decisions to Limpakuwus Pine Forest using a quantitative approach and the Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS) method. A total of 100 respondents were selected through purposive sampling, with the sample size determined using Yamane’s formula. The independent variables included personal selling, advertising, sales promotion, public relations, and direct marketing, while the dependent variable was the visit decision.
The findings revealed that female visitors dominated at 74%, with the majority aged between 18 and 25 years and primarily students. Most visitors reported a monthly income between IDR 2,000,001 and IDR 6,000,000, and a large proportion of them resided outside the Banyumas region. The SEM-PLS analysis indicated that advertising, sales promotion, and direct marketing had a significant and positive influence on visit decisions, whereas personal selling and public relations did not show a significant effect. This study recommended the implementation of digital and visual-based promotional strategies, such as social media and websites, to enhance tourist engagement. These findings were expected to serve as a practical reference for tourism managers and contribute academically to the development of tourism marketing theory based on the promotional mix.
4696250349A1G022017ANALISIS KELAYAKAN USAHA TANI KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI
DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN
PURBALINGGA
Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, merupakan salah satu sentra kentang di
Kabupaten Purbalingga dengan produktivitas rata-rata 20,07 ton/ha, lebih tinggi dibanding
Provinsi Jawa Tengah sebesar 17,31 ton/ha. Namun, produktivitas masih dipengaruhi faktor
luas lahan, pengetahuan petani, curah hujan, tenaga kerja, modal, manajemen, serta bibit
bersertifikat yang mahal. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik petani, biaya,
penerimaan, pendapatan, serta kelayakan usahatani kentang melalui analisis R/C ratio dan
Break Even Point (BEP). Penelitian dilakukan pada Februari–Mei 2025 menggunakan
metode survei dengan 38 responden yang ditentukan melalui rumus Slovin (taraf kesalahan
15%). Analisis meliputi biaya, penerimaan, pendapatan, R/C ratio, dan BEP. Biaya ratarata usahatani kentang Rp20.531.028 per luas lahan garapan, penerimaan Rp66.807.692,
dan pendapatan bersih Rp46.276.664. BEP produksi sebesar 70,42 kg, BEP penerimaan
Rp633.816,08, dan BEP harga Rp438.308,37/kg pada luas lahan rata-rata 0,12 ha. Nilai
R/C ratio sebesar 3,35 (>1), sehingga usahatani kentang layak dan menguntungkan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa usahatani kentang di Desa Kutabawa layak untuk
diusahakan karena mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan yang
signifikan bagi petani. Keberlanjutan usahatani kentang di wilayah ini berpotensi terus
dikembangkan melalui peningkatan akses terhadap bibit berkualitas serta efisiensi
penggunaan input produksi.
Kutabawa Village, Karangreja District, is one of the potato production centers in
Purbalingga Regency, with an average productivity of 20.07 tons/ha, which is higher than
the average productivity in Central Java Province of 17.31 tons/ha. However, productivity
is still influenced by factors such as land area, farmers’ knowledge, rainfall, labor, capital,
farm management, and the high cost of certified seed. This study aims to identify the
characteristics of potato farmers, costs, revenues, incomes, and the feasibility of potato
farming through the analysis of the R/C ratio and Break-Even Point (BEP). The research
was conducted from February to May 2025 using a survey method with 38 respondents
determined by the Slovin formula at a 15% error margin. Analyses included farm cost,
revenue, income, R/C ratio, and BEP. The average farming cost was IDR 20,531,028 per
cultivated area, with revenue of IDR 66,807,692 and net income of IDR 46,276,664. The
BEP for production was 70.42 kg, BEP for revenue was IDR 633,816.08, and BEP for price
was IDR 438,308.37/kg, with an average land area of 0.12 ha. The R/C ratio value of 3.35
(>1) indicates that potato farming is feasible and profitable. The results show that potato
farming in Kutabawa Village is not only able to cover production costs but also provides
significant profits for farmers. The sustainability of potato farming in this area has strong
potential to be further developed through improved access to quality seed and more efficient
use of production inputs.
4696349958A1C021079PENGARUH VARIASI TEKANAN DAN KONSENTRASI PEREKAT
TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG SEKAM PADI
Sekam padi sebagai limbah pertanian melimpah berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif
ramah lingkungan melalui pembuatan briket arang, meskipun bentuk fisik dan sifat pembakarannya kurang
efisien sehingga perlu pengolahan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi tekanan
pemadatan dan konsentrasi perekat terhadap kualitas briket arang sekam padi yang diukur melalui kadar air,
kadar abu, dan nilai kalor dengan rancangan faktorial dua faktor, masing-masing tiga taraf perlakuan. Hasil
penelitian menunjukkan variasi tekanan pemadatan menghasilkan kadar air 5,30%–7,70% dan kadar abu
5,80%–7,70%, sedangkan variasi konsentrasi perekat menghasilkan kadar air 5,30%–7,70% dan kadar abu
5,80%–7,70%, seluruhnya memenuhi standar mutu SNI 01-6235-2000 (kadar air ≤ 8% dan kadar abu ≤ 8%).
Kombinasi tekanan tinggi dan perekat rendah memberikan kadar air (5,30%–6,50%) serta kadar abu (5,80%–
7,07%) lebih rendah, juga sesuai standar SNI. Berdasarkan studi literatur, tekanan tinggi cenderung
meningkatkan nilai kalor, sedangkan perekat tinggi menurunkannya, sehingga kombinasi tekanan tinggi dan
perekat rendah berpotensi menghasilkan briket arang sekam padi dengan mutu terbaik.
Rice husk, an abundant agricultural waste, has the potential to be utilized as an eco-friendly alternative fuel
through charcoal briquette production, although its physical form and inefficient combustion properties require
further processing. This study aims to analyze the effect of varying compaction pressure and binder
concentration on the quality of rice husk charcoal briquettes, measured by moisture content, ash content, and
calorific value, using a factorial design with two factors, each consisting of three treatment levels. The results
showed that variations in compaction pressure produced moisture content ranging from 5.30% to 7.70% and ash
content from 5.80% to 7.70%, while variations in binder concentration produced moisture content from 5.30%
to 7.70% and ash content from 5.80% to 7.70%, all of which met the Indonesian National Standard (SNI 01-
6235-2000) requirements (moisture ≤ 8% and ash ≤ 8%). The combination of high pressure and low binder
concentration resulted in lower moisture (5.30%–6.50%) and ash content (5.80%–7.07%), also within the SNI
standard. Based on literature studies, high pressure tends to increase calorific value, while high binder
concentration tends to decrease it, indicating that the combination of high pressure and low binder concentration
has the potential to produce rice husk charcoal briquettes of the best quality.
4696450350L1C021042Hubungan Kondisi Tutupan Karang Keras Hidup dengan Kelimpahan Ikan Karang Chaetodontidae di Pulau Tabuhan, BanyuwangiPulan Tabuhan, Banyuwangi memiliki ekosistem terumbu karung yang baik dan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekowisata, seperti snorkeling dan diving. Selain itu, wilayah ini menjadi lokasi penangkapan ikan tradisional dan pengambilan ikan hias laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi tutupan karang keras hidup, kelimpahan ikan karang Chaetodontidae serta hubungan kondisi tutupan karang keras hidup dengan kelimpahan ikan karang Chaetodontidae. Metode yang digunakan adalah metode survei di tiga lokasi dengan kondisi berbeda. Pengambilan data tutupan karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) sedangkan pengambilan data ikan famili Chaetodontidae menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). Hubungan kondisi tutupan karang keras hidup dengan kelimpahan ikan Chaetodontidae dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tutupan karang di Pulau Tabuhan, Banyuwangi termasuk kedalam kondisi sedang (49,11%) Genus karang yang paling banyak ditemukan adalah Porites, Kelimpahan ikan karang Chaetodontidae berkisar antara 0,080-0,216 ind/m². Spesies ikan Chaetodontidae yang paling banyak ditemukan adalah Chaetodon klenii. Hasil korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang tinggi antara kondisi tutupan karang dengan kelimpahan ikan Chaetodontidae dengan nilai r-0,999, Semakin baik kondisi tutupan karang di Pulau Tabuhan, maka semakin tinggi kelimpahan ikan Chaetodontidae. Upaya konservasi ekosistem terumbu karang harus menjadi prioritas utama supaya kelestarian ikan Chaetodontidae
terjaga.
Tabuhan Island, Banyuwangi has a well-preserved coral reef ecosystem that is utilized for various ecotourism activities such as snorkeling and diving. In addition, the area also served as a site for traditional fishing and the collection of ornamental reef fish. The aim of this study were to determine the condition of live hard coral cover, the abundance of Chaetodontidae reef fish, and the relationship between live hard coral cover and the abundance of Chaetodontidae reef fish. The research employed a survey method at three locations with different conditions. Data on coral cover were collected using the Underwater Photo Transect (UPT) method, while data on Chaetodontidae fish were carried out using the Underwater Visual Census (UVC) method. The relationship between live hard coral cover and the abundance of Chaetodontidae were analyzed using Pearson correlation. The results showed that the coral cover condition in Tabuhan Island was categorized as moderate, with a percentage of 49,11%, Porites was the most commonly genus found in the location. The abundance of Chaetodontidae reef fish ranged from 0.080 ind/m² to 0.216 ind/m². The most frequently observed species was Chaetodon klenii. Pearson correlation analysis indicated a strong positive relationship between coral cover condition and the abundance of Chaetodontidae, with a correlation coefficient of r-0,999. The better the coral cover condition in Tabuhan Island, the higher the abundance of Chaetodontidae fish. Coral reef ecosystem conservation efforts should be a top priority to ensure the sustainability of Chaetodontidae populations.
4696550084L1B020034PENGARUH PEMBERIAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP INDEKS HEPATOSOMATIK (IHS) DAN INDEKS VISCEROSOMATIK (IVS) BENIH IKAN GABUS (Channa striata) Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan air tawar bernilai ekonomis tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Salah satu upaya peningkatan produktivitas adalah penggunaan hormon pertumbuhan rekombinan growth hormone (rGH) melalui metode perendaman yang bekerja secara osmoregulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rGH terhadap indeks viscerosomatik (IVS), indeks hepatosomatik (IHS), dan pertumbuhan berat mutlak benih ikan gabus. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu P0 (kontrol), P1 (2 mg/L), P2 (2,5 mg/L), dan P3 (3 mg/L). Hasil penelitian menunjukkan nilai IHS berturut-turut sebesar 0,84% (P0), 1,09% (P1), 1,17% (P2), dan 1,39% (P3). Perlakuan P3 memberikan nilai IHS tertinggi dan berbeda nyata dibanding kontrol. Nilai IVS berkisar antara 2,97–3,66% dan tidak berbeda nyata antar perlakuan (p>0,05), diduga akibat simpangan baku tinggi. Pertumbuhan berat mutlak tertinggi terdapat pada P3 (4,68%) diikuti P2 (4,22%), P1 (4,06%), dan P0 (2,48%). Parameter kualitas air selama penelitian berada pada kisaran optimal, dengan suhu 28,3–28,6°C, pH 6,4–7,6, dan DO 3,5–4,4 ppm. Kesimpulan penelitian ini adalah perendaman rGH dengan dosis 3 mg/L memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan benih ikan gabus, khususnya pada nilai IHS dan pertumbuhan berat mutlak.The snakehead fish (Channa striata) is a freshwater fish with high economic value and increasing market demand. One effort to increase productivity is the use of recombinant growth hormone (rGH) through a soaking method that works through osmoregulation. This study aims to determine the effect of rGH administration on the viscerosomatic index (VSI), hepatosomatic index (HSI), and absolute weight gain of snakehead fish fry. The method used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replications: P0 (control), P1 (2 mg/L), P2 (2.5 mg/L), and P3 (3 mg/L). The results showed IHS values of 0.84% (P0), 1.09% (P1), 1.17% (P2), and 1.39% (P3), respectively. Treatment P3 yielded the highest IHS value and was significantly different from the control. IVS values ranged from 2.97–3.66% and were not significantly different between treatments (p>0.05), likely due to high standard deviation. The highest absolute weight gain was observed in P3 (4.68%), followed by P2 (4.22%), P1 (4.06%), and P0 (2.48%). Water quality parameters during the study were within the optimal range, with temperature 28.3–28.6°C, pH 6.4–7.6, and DO 3.5–4.4 ppm. The conclusion of this study is that immersion in rGH at a dose of 3 mg/L yields the best results for the growth of snakehead fish larvae, particularly in terms of IHS values and absolute weight gain.
4696650351B1A021069Kajian Struktur Komunitas dan Kesehatan Mangrove di Segara Anakan Cilacap dan Pasir Mendit Kulon ProgoEkosistem mangrove adalah ekosistem yang berada di daerah pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan terlindungi oleh gelombang. Ekosistem mangrove memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi fisik, ekologis, dan ekonomis yang sangat berharga bagi manusia, namun kini mengalami degradasi signifikan akibat aktivitas manusia. Penurunan luas hutan mangrove terlihat di kawasan Segara Anakan Cilacap dan Pasir Mendit Kulon Progo. Aktivitas manusia seperti kegiatan penanaman mangrove, pertambakan, pemukiman, tempat wisata, dan lain-lain mampu merubah kondisi ekosistem mangrove yang ada pada suatu area baik dari segi luasan dan kondisi struktur komunitas mangrove yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, penting dilakukannya penelitian mengenai struktur komunitas dan kesehatan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan struktur komunitas mangrove di Segara Anakan dan Pasir Mendit, serta menganalisis tingkat kesehatan mangrove di kedua kawasan tersebut, yang diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang berguna bagi pelestarian ekosistem mangrove.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penentuan lokasi titik penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Titik sampel penelitian yaitu terdiri dari empat stasiun pada masing-masing lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan metode plot transek yang dibuat pada setiap stasiun penelitian. Parameter utama yang diamati meliputi spesies mangrove, diameter pohon, tinggi pohon, jumlah anakan dan pancang, serta tutupan kanopi. Parameter pendukung meliputi jumlah sampah, jumlah tebangan dan nilai parameter lingkungan seperti suhu, pH, salinitas dan jenis substrat. Data struktur komunitas mangrove pada kedua lokasi penelitian dihitung untuk mengetahui frekuensi relatif, kerapatan relatif, dominansi relatif, indeks nilai penting, dan keanekaragaman spesies. Data struktur komunitas mangrove pada stasiun penelitian Segara Anakan Cilacap dan Pasir Mendit Kulon Progo dianalisis menggunakan uji analisis Bray-Curtis untuk mengetahui kesamaan vegetasi yang ada pada kedua lokasi. Analisis data indeks kesehatan mangrove meliputi perhitungan kerapatan pohon dan persentase tutupan kanopi. Penilaian untuk menentukan tingkat kerapatan mangrove dan tutupan kanopi merujuk pada Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove, yang didasarkan pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004.
Hasil penelitian menunjukkan komunitas mangrove Segara Anakan ditemukan 15 spesies tumbuhan mangrove, dengan Aegiceras corniculatum sebagai spesies yang dominan (INP 82,3%) dan keanekaragaman spesies tergolong sedang (H' 1,08–1,88). Komunitas mangrove Pasir Mendit ditemukan 9 spesies, dengan Rhizophora mucronata sebagai dominan (INP 184%) dan keanekaragaman tergolong rendah hingga sedang (H' 0,27–1,69). Komposisi spesies komunitas mangrove Segara Anakan berbeda 79,9% dengan yang ada di Pasir Mendit. Tingkat kesehatan mangrove di Segara Anakan tergolong rusak (kerapatan 500 ind/ha; tutupan kanopi 48,2%), sedangkan di Pasir Mendit tergolong baik (kerapatan 2.763 ind/ha; tutupan kanopi 73,9%).
Mangrove ecosystems are coastal ecosystems influenced by tidal fluctuations and protected from waves. Mangrove ecosystems serve several vital functions (physical, ecological, and economic) that are highly valuable to humans. However, they are now experiencing significant degradation due to human activities. A decline in mangrove forest area is evident in the Segara Anakan Cilacap and Pasir Mendit Kulon Progo regions. Human activities such as mangrove planting, aquaculture, settlements, tourist attractions, and others can alter the condition of mangrove ecosystems in a given area, both in terms of area and the structural condition of the mangrove community within it. Therefore, it is important to conduct research on the structure of the mangrove community and its health. This study aims to analyse and compare the structure of mangrove communities in Segara Anakan and Pasir Mendit, as well as analyse the health status of mangroves in both areas, which is expected to provide useful information for the conservation of mangrove ecosystems.
The research method used is the survey method. The determination of research locations uses purposive sampling techniques. The research sample points consisted of four stations at each research location. Data collection was conducted using the transect plot method at each research station. The main parameters observed included mangrove species, tree diameter, tree height, number of seedlings and saplings, and canopy cover. Supporting parameters included the amount of rubbish, the number of felled trees, and environmental parameters such as temperature, pH, salinity, and substrate type. Mangrove community structure data at both research locations were calculated to determine relative frequency, relative density, relative dominance, importance value index, and species diversity. Mangrove community structure data at Segara Anakan Cilacap and Pasir Mendit Kulon Progo research stations were analysed using the Bray-Curtis analysis test to determine the similarity of vegetation between the two locations. Mangrove health index data analysis included calculations of tree density and canopy cover percentage. Assessments to determine mangrove density and canopy cover levels referred to the Standard Criteria and Guidelines for Determining Mangrove Damage, based on Minister of Environment Decision No. 201 of 2004.
According to the study's results, there were 15 different species of mangroves in Segara Anakan, with Aegiceras corniculatum being the most predominant (INP 82.3%) and with a moderate level of species diversity (H' 1.08–1.88). Nine species were identified in Pasir Mendit, with Rhizophora mucronata being the most common (INP 184%), while the species diversity was categorized as low to moderate (H' 0.27–1.69). At 79.9%, the species composition of the mangrove communities in Segara Anakan and Pasir Mendit differs significantly. In Pasir Mendit, the mangrove condition is rated as good (density 2,763 ind/ha; canopy cover 73.9%), whereas in Segara Anakan, it is rated as degraded (density 500 ind/ha; canopy cover 48.2%).
4696750352L1A020068Sebaran Total Dissolved Solid di Segara Anakan, Cilacap Laguna Segara Anakan (LSA) merupakan kawasan mangrove terbesar di Pulau Jawa yang terletak di Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dan muara dari sungai – sungai. Sungai yang ada bermuara pada laguna Segara Anakan membawa berbagai macam limbah yang mengandung material padatan baik berupa zat organik dan anorganik. Keberadaannya dapat diukur dengan pengukuran Total Disolved Solid (TDS). Hasil pengukuran konsentrasi TDS di Segara Anakan masih dibawah ambang batas baku mutu. Sedangkan sebaran TDS dibagian timur lebih bervariasi dikarenakan adanya aktifitas antropogenik dan industri.
Laguna Segara Anakan (LSA) is the largest mangrove area on the island of Java, located in the sub-district of Kampung Laut, Cilacap Regency, Central Java and the estuary of the rivers. The existing river empties into the Segara Anakan lagoon carrying a variety of wastes containing solid materials in the form of both organic and inorganic substances. Its presence can be measured by measuring Total Dissolved Solid (TDS). The results of measuring the concentration of TDS in Segara Anakan are still below the threshold quality standards. While the distribution of TDS in the east is more varied due to the presence of anthropogenic and industrial activities.
4696850365C1B021058DAMPAK IMPLEMENTASI PERMENDAG NO. 8 TAHUN 2024 TERHADAP
PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL (ROE, CR, DER) PADA HARGA SAHAM
SUBSEKTOR TEKSTIL DAN GARMEN DI BEI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi Permendag No. 8 Tahun 2024 terhadap pengaruh faktor fundamental keuangan profitabilitas (ROE), likuiditas (CR), dan solvabilitas (DER) pada harga saham perusahaan subsektor tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan menggunakan pendekatan asosiatif kuantitatif dan metode event study, data dikumpulkan dari emiten yang memenuhi kriteria tertentu melalui purposive sampling. Analisis regresi linear berganda dan pengujian hipotesis diterapkan untuk membandingkan periode sebelum dan sesudah kebijakan berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum kebijakan, profitabilitas dan likuiditas berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham, sedangkan solvabilitas tidak signifikan. sesudah implementasi kebijakan, terjadi pergeseran dimana profitabilitas kehilangan signifikansinya, likuiditas tetap berpengaruh positif dengan koefisien yang lebih tinggi, dan solvabilitas tetap tidak signifikan. This study aims to analyse the impact of the implementation of Ministry of Trade Regulation No. 8 of 2024 on the influence of fundamental financial factors of profitability (ROE), liquidity (CR), and solvency (DER) on the stock prices of companies in the textile and garment sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). Using a quantitative associative approach and event study method, data was collected from issuers meeting specific criteria through purposive sampling. Multiple linear regression analysis and hypothesis testing were applied to compare the periods before and after the policy took effect. The results of the study indicate that prior to the policy, profitability and liquidity had a significant positive impact on stock prices, while solvency was not significant. After the policy was implemented, a shift occurred where profitability lost its significance, liquidity remained positively influential with a higher coefficient, and solvency remained insignificant.
4696950354J1E020009APPLYING WORDWALL.NET TO IMPROVE THE STUDENT’ READING COMPREHENSION OF PROCEDURE TEXTABSTRAK
Penelitian ini bertujuan meneliti penggunaan Wordwall.net sebagai media pembelajaran digital untuk meningkatkan pemahaman teks prosedur siswa kelas X MAN 1 Kebumen tahun ajaran 2023–2024. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-eksperimen, penelitian ini melibatkan dua kelas yang dipilih melalui purposive sampling, yaitu X4 sebagai kelompok eksperimen dan X3 sebagai kelompok kontrol. Data diperoleh melalui pre-test, post-test, observasi, dan angket, kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan Wordwall.net efektif meningkatkan pemahaman membaca siswa, terlihat dari partisipasi aktif saat belajar, peningkatan skor rata-rata post-test 77,63 pada kelompok eksperimen dibanding 68,60 pada kelompok kontrol dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05), serta persepsi positif siswa di mana 84,4% menyatakan “sangat setuju” atau “setuju.” Dengan demikian, Wordwall.net direkomendasikan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman membaca teks prosedur.
KATA KUNCI: KUASI-EKSPERIMEN, MEDIA DIGITAL, PEMAHAMAN MEMBACA, TEKS PROSEDUR, WORDWALL.NET
ABSTRACT
This research investigates the use of Wordwall.net as a digital learning tool to improve tenth-grade students’ comprehension of procedure texts at MAN 1 Kebumen in the 2023–2024 academic year. Using a quantitative approach with a quasi-experimental method, two classes were selected through purposive sampling: X4 as the experimental group and X3 as the control group. Data were collected through pre-tests, post-tests, classroom observation, and questionnaires, then analyzed using SPSS to test statistical significance. The findings show that Wordwall.net effectively enhanced reading comprehension, as seen in students’ active participation in understanding texts, translating vocabulary, and presenting work. Test results revealed a significant improvement, with the experimental group achieving a mean post-test score of 77.63 compared to 68.60 in the control group (p = 0.000 < 0.05). Additionally, 84.4% of students expressed positive perceptions, agreeing that Wordwall.net increased their motivation to learn. Thus, Wordwall.net is recommended to support reading comprehension, particularly in procedure texts.
KEYWORDS: DIGITAL MEDIA, PROCEDURE TEXT, QUASI-EXPERIMENTAL, READING COMPREHENSION, WORDWALL.NET
4697050355A1F021050Karakteristik Minuman Probiotik Kecombrang dengan Konsentrasi Penambahan Bakteri Asam LaktatRINGKASAN
Minuman probiotik merupakan salah satu jenis pangan fungsional, karena manfaatnya terhadap kesehatan pencernaan dan sistem imun. Pada umumnya minuman probiotik berbahan dasar susu, namun tidak semua orang dapat mengonsumsinya karena adanya intoleran laktosa. Oleh karena itu diperlukan inovasi pemanfaatan bahan lokal non-susu, salah satunya kecombrang (Etlingera elatior). Minuman probiotik kecombrang merupakan minuman fungsional yang difermentasi oleh bakteri asam laktat seperti Lactobacillus casei dengan penambahan ekstrak bunga kecombrang yang memiliki senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenol, antosianin dan tanin yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan BAL terhadap karakteristik fisik, kimia, mikrobiologi dan sensoris minuman probiotik kecombrang 2) mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap karakteristik fisikokimia, mikrobiologi dan sensori minuman probiotik kecombrang, dan 3) menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara variasi konsentrasi penambahan BAL dan lama fermentasi untuk meningkatkan mutu fisikokimia, mikrobiologi dan sensori minuman probiotik kecombrang.
Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi penambahan bakteri asam laktat (1, 3, 5%) dan lama fermentasi (24, 36, 48 jam). Berdasarkan rancangan perlakuan diperoleh 9 kombinasi perlakuan, dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Analisis yang dilakukan meliputi analisis nilai pH, total padatan terlarut, viskositas, total fenol, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat, dan sensoris. Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95%, apabila terdapat pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Data sensoris yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji Friedman. Perlakuan terbaik menggunakan indeks efektivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi penambahan bakteri asam laktat 1, 3 dan 5% pada minuman probiotik kecombrang berpengaruh terhadap pH dan viskositas, semakin basar konsentrasi bakteri asam laktat maka nilai pH dan viskositas semakin menurun. Lama fermentasi 24, 36 dan 48 jam pada minuman probiotik kecombrang berpengaruh terhadap pH dan viskositas, semakin lama fermentasi yang dilakukan maka nilai pH akan menurun de viskositas akan meningkat. Kombinasi perlakuan terbaik yaitu perlakuan penambahan konsentrasi BAL 1% dengan lama fermentasi 36 jam, yang menghasilkan pH 4,09, total padatan terlarut 12 ºBrix, viskositas 3,66 cP, total fenol 3,35, antioksidan 3,462 ppm, total BAL 7,80 log CFU/mL, sifat sensori yang meliputi warna 5,63 (sedikit merah cerah), homogenitas 4,7 (netral), aroma 7,4 (sangat harum), rasa kecombrang 6,8 (terasa), tingkat keasaman 3 (sedikit tidak asam), tingkat kemanisan 7,9 (sangat manis) serta kesukaan 6,53 (suka).
SUMMARY
Probiotic beverages are a type of functional food due to their benefits for digestive health and the immune system. Generally, probiotic beverages are dairy-based; however, not everyone can consume them due to lactose intolerance. Therefore, innovation in utilizing non-dairy local ingredients is necessary, one of which is torch ginger (Etlingera elatior). Torch ginger probiotic beverage is a functional drink fermented by lactic acid bacteria, such as Lactobacillus casei, with the addition of torch ginger flower extract containing bioactive compounds such as flavonoids, phenols, anthocyanins, and tannins, which are known to possess antioxidant and antimicrobial activities. This study aimed to: (1) determine the effect of varying lactic acid bacteria concentrations on the physical, chemical, microbiological, and sensory characteristics of torch ginger probiotic beverage; (2) determine the effect of fermentation duration on the physicochemical, microbiological, and sensory characteristics of torch ginger probiotic beverage; and (3) identify the optimal combination of lactic acid bacteria concentration and fermentation duration to improve the physicochemical, microbiological, and sensory quality of torch ginger probiotic beverage.
The research employed a Completely Randomized Design (CRD) with two factors: lactic acid bacteria concentration (1, 3, and 5%) and fermentation duration (24, 36, and 48 hours). The experimental design yielded nine treatment combinations, each repeated three times, resulting in 27 experimental units. Analyses included pH, total soluble solids, viscosity, total phenols, antioxidant activity, total lactic acid bacteria count, and sensory evaluation. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a 95% confidence level, and significant differences were further tested using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Sensory data were analyzed using the Friedman test, and the best treatment was determined using the effectiveness index.
The results showed that lactic acid bacteria concentrations of 1, 3, and 5% significantly affected pH and viscosity, with higher concentrations resulting in lower pH and viscosity values. Fermentation durations of 24, 36, and 48 hours significantly affected pH and viscosity, where longer fermentation times decreased pH but increased viscosity. The best treatment was the addition of 1% lactic acid bacteria with a fermentation duration of 36 hours, producing a pH of 4.09, total soluble solids of 12 ºBrix, viscosity of 3.66 cP, total phenols of 3.35, antioxidant activity of 3.462 ppm, lactic acid bacteria count of 7.80 log CFU/mL, and sensory attributes including color (5.63; slightly bright red), homogeneity (4.7; neutral), aroma (5.4; slightly fragrant), torch ginger flavor (5.04; slightly perceived), acidity (3; slightly not sour), sweetness (7.9; very sweet), and overall liking (6.53; like).
4697150356H1C021060ANALISIS HUBUNGAN ANTARA TEMPERATUR BATUBARA DAN KUALITAS BATUBARA TERHADAP NILAI KALORI (GAR) PADA DAERAH KUTAI KALIMANTAN TIMUR PT. SURVEYOR CARBON CONSULTING INDONESIA (SCCI)Penelitian ini menganalisis hubungan antara temperatur dan kualitas batubara terhadap nilai kalor (Gross As Received atau GAR) pada batubara di daerah Kutai, Kalimantan Timur, PT. Surveyor Carbon Consulting Indonesia (SCCI), dengan fokus pada fenomena swabakar. Metodologi penelitian meliputi studi pustaka, pengumpulan data primer (pengambilan sampel batubara di PIT dan ROM sesuai ASTM D4596; pengukuran temperatur stockpile dengan thermocouple) dan sekunder (peta geologi). Pengolahan data melibatkan preparasi sampel (reduksi ukuran dengan double roll crusher, CMD, hammer mill, RSD; pengeringan di drying shed; penghalusan dengan Raymond mill sesuai ASTM D2013, D4749). Selanjutnya, analisis laboratorium dilakukan untuk kualitas batubara (proksimat: TM, IM, Ash, VM, FC; total sulfur dengan LECO S832; nilai kalor dengan Parr 6200 Calorimeter, sesuai standar ASTM terkait). Analisis statistika menggunakan regresi, scatter plot, koefisien determinasi, dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan batubara terklasifikasi lignite A hingga sub bituminous C (ASTM D388) dengan nilai kalor GAR sekitar 3000-an cal/gr. Meskipun temperatur umum wajar, beberapa titik melebihi batas kritis 45 °C, mengindikasikan potensi swabakar. Ditemukan hubungan timbal balik signifikan antara temperatur batubara, kualitas batubara (kadar air), dan nilai kalor. Kenaikan temperatur memicu penguapan kadar air, meningkatkan nilai kalor. Hubungan ini dijelaskan melalui konsep segitiga swabakar, dipengaruhi juga oleh handling material dan durasi penyimpanan.This study analyzes the relationship between coal temperature and coal quality with calorific value (Gross As Received or GAR) for coal in the Kutai area, East Kalimantan, managed by PT. Surveyor Carbon Consulting Indonesia (SCCI), focusing on the phenomenon of spontaneous combustion. The research methodology encompasses literature review, data collection (primary data: coal sampling at PIT and ROM according to ASTM D4596; stockpile temperature measurement with a thermocouple) and secondary data (geological maps). Data processing involves sample preparation (size reduction using a double roll crusher, CMD, hammer mill, RSD; drying in a drying shed; further pulverization with a Raymond mill according to ASTM D2013, D4749). Subsequently, laboratory analysis is conducted for coal quality (proximate analysis: TM, IM, Ash, VM, FC; total sulfur with LECO S832; calorific value with Parr 6200 Calorimeter, all according to relevant ASTM standards). Statistical analysis employs regression, scatter plots, coefficient of determination, and Pearson correlation. Research results indicate that the coal is classified as lignite A to sub bituminous C (ASTM D388) with an average GAR calorific value of approximately 3000 cal/gr. Although general temperatures are within reasonable limits, some measurement points exceeded the critical threshold of 45 °C, suggesting a potential for spontaneous combustion. A significant reciprocal relationship was found between coal temperature, coal quality (moisture content), and calorific value. Increased temperature triggers moisture evaporation, which in turn increases calorific value. This relationship is explained through the fire triangle concept, also influenced by material handling and storage duration.
4697250359A1F021049EFEK ANTIDIABETIK VARIASI PEMANIS YOGHURT SUSU JAGUNG DENGAN BUBUK KULIT BUAH NAGA MERAH PADA TIKUS PERCOBAANDiabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis tidak menular yang terus meningkat secara global termasuk di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan dan terapi yang potensial adalah melalui pola makan sehat seperti konsumsi yoghurt yang terbukti memiliki efek protektif terhadap diabetes tipe 2. Fortifikasi yoghurt dengan bahan pangan fungsional seperti spirulina, isolat protein kedelai (IPK), dan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) kaya antioksidan dan senyawa bioaktif mampu menurunkan kadar glukosa. Namun, yoghurt umumnya mengandung gula tambahan yang berisiko meningkatkan kadar glukosa darah, sehingga penggunaan pemanis alami dengan indeks glikemik rendah seperti stevia dan gula kelapa dapat menjadi solusi alternatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi komponen bioaktif, karakteristik fisikokimia, mikrobiologi, sensori, dan efek antidiabetik variasi pemanis yoghurt susu jagung dengan bubuk kulit buah naga sebagai alternatif pangan fungsional untuk terapi diabetes tipe 2.
Penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap penelitian. Penelitian tahap pertama menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan faktor variasi pemanis. Penelitian tahap kedua merupakan percobaan in vivo dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 6 kelompok perlakuan. Variabel pengukuran penelitian tahap pertama yaitu uji komponen bioaktif (inhibisi DPPH, kadar flavonoid, dan total fenol), karakteristik fisikokimia (proksimat, total energi, dan kadar gula pereduksi), mikrobiologi, dan sensori. Variabel pengukuran penelitian tahap kedua yaitu uji kadar gula darah puasa, malondialdehid (MDA), hemoglobin (Hb), dan berat badan tikus.
Hasil analisis menunjukkan variasi pemanis dan bubuk kulit buah naga (H. polyrhizus) pada yoghurt susu jagung berpengaruh signifikan terhadap kadar flavonoid, total fenol, kadar air, total energi, kadar gula pereduksi, intensitas warna coklat, dan kekentalan. Analisis sensori menunjukkan semua perlakuan menunjukkan tingkat kesukaan keseluruhan yang rendah. Variasi pemanis yoghurt susu jagung dengan bubuk kulit buah naga (H. polyrhizus) memiliki efek antidiabetik terhadap tikus diabetes tipe 2. Yoghurt BP2 dan BP3 dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan malondialdehid (MDA) serta meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) dan berat badan yang sebanding dengan metformin dan lebih baik dibandingkan yoghurt komersial.
Type 2 diabetes mellitus is a chronic non-communicable disease that continues to increase globally, including in Indonesia. One potential preventive and therapeutic approach is through a healthy diet, such as consuming yogurt, which has been shown to have a protective effect against type 2 diabetes. Fortifying yogurt with functional food ingredients like spirulina, soy protein isolate (SPI), and red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus), which are rich in antioxidants and bioactive compounds, can help lower blood glucose levels. However, yogurt typically contains added sugar, which poses a risk of increasing blood glucose levels. Therefore, the use of natural sweeteners with a low glycemic index, such as stevia and coconut sugar, could serve as an alternative solution. This study was conducted to evaluate the bioactive components, physicochemical characteristics, microbiology, sensory properties, and antidiabetic effects of corn milk yogurt with added variations of sweeteners and dragon fruit peel powder as an alternative functional food for type 2 diabetes therapy.
The study was conducted in two stages. The first stage used a non-factorial completely randomized design (CRD) with sweetener variation as the factor. The second stage was an in vivo experiment using a randomized block design (RBD) consisting of six treatment groups. The measurement variables in the first phase of the study were bioactive component tests (DPPH inhibition, flavonoid content, and total phenol content), physicochemical characteristics (proximate analysis, total energy, and reducing sugar content), microbiology, and sensory evaluation. The measurement variables in the second phase of the study were fasting blood sugar levels, malondialdehyde (MDA), hemoglobin (Hb), and body weight of the rats.
The results of the analysis showed that the variation in sweeteners and dragon fruit peel powder (H. polyrhizus) in corn milk yogurt had a significant effect on flavonoid content, total phenols, moisture content, total energy, reducing sugar content, brown color intensity, and viscosity. Sensory analysis showed that all treatments had low overall acceptability. Variations in sweetener in corn milk yogurt with dragon fruit peel powder (H. polyrhizus) have an antidiabetic effect on type 2 diabetic rats. Yogurt BP2 and BP3 can reduce fasting blood sugar levels and malondialdehyde (MDA) levels while increasing hemoglobin (Hb) levels and body weight, comparable to metformin and better than commercial yogurt.
4697350360L1B021087Prevalensi dan Intensitas pada Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) dalam Sistem Polikultur dengan Pola Pemuasaan yang BerbedaPemuasaan terlalu lama dapat menyebabkan stress pada ikan, sehingga menurunkan daya tahan tubuh dan membuat ikan lebih rentan terhadap infeksi parasit. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui prevalensi dan intensitas ektoparasit serta pengaruh pemuasaan dengan pola pemuasaan yang berbeda terhadap ektoparasit pada ikan nilem (Osteochilus vittatus) yang dipelihara dalam sistem polikultur. Penelitian dilakukan selama 40 hari dengan perlakuan berbeda, yaitu P1 (Dipuasakan 1 hari, Senin), P1 (Dipuasakan 2 hari, Senin dan Kamis) dan P3 (Dipuasakan 3 hari, Senin, Rabu serta Jumat). Pemeriksaan ektoparasit dilakukan pada mukus dan insang menggunakan mikroskop. Hasil identifikasi menunjukkan keberadaan jenis ektoparasit, antara lain Monogenea sp., Trichodina sp., Oodinium sp., dan Ichthyophthirius multifiliis. Prevalensi tertinggi ditemukan pada Trichodina sp. yaitu sebesar 50%, sedangkan intensitas infeksi tertinggi pada mukus juga ditemukan pada Trichodina sp. yaitu 5,00 ind/ekor. Data analisis statistik menunjukkan intensitas Trichodina sp. pada mukus meningkat seiring lama pemuasaan (P1 = 1,80±0,45a; P2 = 2,75±0,45b; P3 = 5,00±0,71c) yang dimana intensitas pada mukus ada beda nyata terhadap perlakuan, sedangkan intensitas pada insang tidak berbeda signifikan antar perlakuan (P1 = 3,00±1,00a; P2 = 3,00±0a; P3 = 4,40±2,63a). Prevalensi ektoparasit berada pada rentang 10 - 50%, dengan kategori intensitas rendah hingga sedang. Parameter kualitas air dalam batas standarProlonged fasting can cause stress in fish, thus reducing their immune system and making them more susceptible to parasitic infections. The purpose of this study was to determine the prevalence and intensity of ectoparasites and the effect of fasting with different fasting patterns on ectoparasites in Bonylip barb (Osteochilus vittatus) reared in a polyculture system. The study was conducted for 40 days with different treatments, namely P1 (Fasting for 1 day, Monday), P1 (Fasting for 2 days, Monday and Thursday) and P3 (Fasting for 3 days, Monday, Wednesday and Friday). Ectoparasite examination was carried out on mucus and gills using a microscope. The identification results showed the presence of ectoparasites, including Monogenea sp., Trichodina sp., Oodinium sp., and Ichthyophthirius multifiliis. The highest prevalence was found in Trichodina sp., which was 50%, while the highest infection intensity in mucus was also found in Trichodina sp. which is 5.00 ind/tail. Statistical analysis data shows that the intensity of Trichodina sp. in mucus increases with the duration of fasting (P1 = 1.80 ± 0.45a; P2 = 2.75 ± 0.45b; P3 = 5.00 ± 0.71c) where the intensity in mucus is significantly different for each treatment, while the intensity in the gills does not differ significantly between treatments (P1 = 3.00 ± 1.00a; P2 = 3.00 ± 0a; P3 = 4.40 ± 2.63a). The prevalence of ectoparasites is in the range of 10 - 50%, with low to moderate intensity categories. Water quality parameters are within standard limits so they are not a major factor in parasite transmission. Ectoparasite transmission is thought to be more influenced by direct interactions between fish in polyculture systems. The results of the study concluded that the fasting pattern affected the level of ectoparasite infestation in mucus, but had no significant effect on the gills
4697450361K1A021042IDENTIFIKASI PEPTIDA BIOAKTIF ANTIMIKROBA
DARI KASEIN SUSU KAMBING SAANEN (Capra aegagrus)
YANG DIHIDROLISIS DENGAN ENZIM TRIPSIN
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang banyak menyebabkan kematian di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh
mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Pengobatan penyakit infeksi ini dapat
dilakukan menggunakan antibiotik sebagai agen antimikroba. Namun, mikroba patogen
memiliki mekanisme resistensi terhadap antibiotik konvensional melalui mutasi genetik
dan transfer gen resisten sehingga menyebabkan resistensi antimikroba. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan adalah eksplorasi antimikroba yang lebih aman dari sumber protein
seperti peptida bioaktif antimikroba atau Antimicrobial Peptides (AMPs). Peptida
bioaktif dapat dihasilkan dari hidrolisis kasein susu kambing Saanen (Capra aegagrus)
menggunakan enzim tripsin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan
memfraksinasi peptida bioaktif kasein susu kambing Saanen, mengetahui aktivitas
antimikroba fraksi peptida, serta mengidentifikasi fraksi peptida aktif sebagai
antimikroba menggunakan LC-HRMS. Tahapan penelitian ini yaitu isolasi kasein susu
kambing Saanen, hidrolisis kasein, fraksinasi dengan SPE SCX dan PEP, uji aktivitas
antimikroba, penentuan nilai MIC serta identifikasi fraksi peptida aktif dengan LC-
HRMS. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa derajat hidrolisis kasein
tertinggi diperoleh pada hidrolisis dengan rasio enzim:substrat 1:40 yaitu sebesar 80,29%.
Hasil uji aktivitas antimikroba menunjukkan fraksi F6 mampu menghambat pertumbuhan
E. coli, S. aureus, dan C. albicans dengan zona hambat paling tinggi berturut-turut sebesar
8,93; 4,04; dan 4,41 mm. Fraksi dengan aktivitas tertinggi mengandung 5 sekuens peptida
yaitu NMAIHPR, VLPNTVPAK, EVPNENLLR, HPINHQGLSPEVPNENLLR, dan
VLPVPQK.
Infectious diseases are one of the leading causes of death worldwide, including in
Indonesia. Infectious diseases can be caused by microorganisms such as bacteria and
fungi. The treatment of infectious diseases can be carried out using antibiotics as
antimicrobial agents. However, pathogenic microbes have resistance mechanisms
against conventional antibiotics through genetic mutation and the transfer of resistant
genes, leading to antimicrobial resistance. One approach that can be taken is the
exploration of safer antimicrobials from protein sources, such as antimicrobial bioactive
peptides or Antimicrobial Peptides (AMPs). Bioactive peptides can be produced from the
hydrolysis of Saanen goat milk casein (Capra aegagrus) using trypsin enzyme. The
objective of this study is to isolate and fractionate bioactive peptides from Saanen goat
milk casein, determine the antimicrobial activity of peptide fractions, and identify active
peptide fractions as antimicrobials using LC-HRMS. The research steps included the
isolation of Saanen goat milk casein, casein hydrolysis, fractionation using SPE SCX and
PEP, antimicrobial activity testing, determination of MIC values, and identification of
active peptide fractions using LC-HRMS. Based on this study, it can be seen that the
highest degree of casein hydrolysis was obtained in hydrolysis with an enzyme:substrate
ratio of 1:40, which was 80.29%. The antimicrobial activity test results showed that
fraction F6 was able to inhibit the growth of E. coli, S. aureus, and C. albicans, with the
highest inhibition zones of 8.93, 4.04, and 4.41 mm, respectively. The fraction with the
highest activity contains five peptide sequences: NMAIHPR, VLPNTVPAK,
EVPNENLLR, HPINHQGLSPEVPNENLLR, and VLPVPQK.
4697550362A1G023006ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK DENGAN METODE FULL COSTING DALAM PENETAPAN HARGA JUAL PADA UMKM LATOPIA KEYSHA KELURAHAN DEBONG TENGAH KECAMATAN TEGAL SELATAN KOTA TEGALUMKM Latopia Keysha merupakan salah satu UMKM di Kelurahan Debong Tengah, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. Produk yang dipasarkan oleh UMKM Latopia Keysha yaitu kue latopia dengan 13 varian rasa. UMKM Latopia Keysha dalam menetapkan harga jual hanya berdasarkan perkiraan dan harga jual pasaran. Hal ini dilatarbelakangi karena UMKM Latopia Keysha belum melakukan pembukuan usaha secara tersturtur dan sistematis, sehingga biaya-biaya dalam perhitungan harga pokok produksi sulit untuk diklasifikasikan. Padahal perhitungan harga pokok produksi adalah faktor pertimbangan suatu usaha dalam menentukan harga jual. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan perhitungan harga pokok produksi dalam penentapan harga jual UMKM Latopia Keysha. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui perhitungan harga pokok produksi dengan metode full costing menggunakan perhitungan biaya bersama (joint cost) pada UMKM Latopia Keysha; 2) Mengetahui perhitungan harga jual dengan menggunakan metode cost plus pricing; 3) Mengetahui perhitungan laba rugi pada UMKM Latopia Keysha.
Metode penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus digunakan untuk mengetahui lebih dalam mengenai permasalahan di UMKM Latopia Keysha terkait dengan penelitian yang akan diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian berjenis kuantitatif deskriptif. Lokasi penelitian berada di UMKM Latopia Keysha. Objek penelitian yang diteliti yaitu 13 varian rasa latopia, meliputi varian kacang hijau, coklat, buah, susu, gula aren, nanas, bawang, strawberry, keju, durian, coklat mete, coklat almond dan black forest. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari UMKM Latopia Keysha memalui kuisioner. Data sekunder diperoleh dari pihak lain seperti jurnal. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead tetap, biaya overhead variabel, jumlah produk, biaya produksi, biaya non produksi, penerimaan dan keuntungan. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan kuantitatif. Kuantitatif digunakan untuk menghitung besaran biaya bersama (joint cost), harga pokok produksi, harga jual, dan laporan laba rugi. Sedangkan, analisis deskriptif digunakan untuk profil usaha UMKM Latopia Keysha.
Hasil penelitian menujukkan bahwa UMKM Latopia Keysha belum melakukan perhitungan harga pokok produksi sebagai penetapan dalam harga jual. Perhitungan biaya bersama (joint cost) menghasilkan total biaya bersama 13 varian rasa sebesar Rp140.380.181,00. Berdasarkan hal tersebut, diperoleh hasil perhitungan total harga pokok produksi dengan metode full costing sebesar Rp 221.811.909,00. Penetapan harga jual UMKM Latopia Keysha menginginkan laba yang dihasilkan sebanyak 50% untuk setiap varian latopia. Sehingga diperoleh harga jual terbesar ada pada varian coklat mete sebesar Rp3.620,00 dan harga jual terendah ada pada varian buah sebesar Rp2.007,00. Laba yang diperoleh UMKM Latopia Keysha selama bula Juni-Juli 2025 yaitu Rp141.756.591,00 dengan presentase sebesar 38,91%.
Latopia Keysha SME is one of the SMEs in Debong Tengah Village, Tegal Selatan Subdistrict, Tegal City. The products marketed by Latopia Keysha SME are Latopia cakes with 13 flavor variants. Latopia Keysha SME sets its selling prices based solely on estimates and market prices. This is because Latopia Keysha SME has not yet implemented structured and systematic business accounting, making it difficult to classify costs in the calculation of production cost. However, the calculation of production cost is a key consideration for a business in determining selling prices. Based on this issue, the calculation of production cost was conducted in setting the selling price for Latopia Keysha SME. This study aims to: 1) Determine the calculation of production cost using the full costing method with joint cost calculations at Latopia Keysha SMEs; 2) Determine the calculation of selling price using the cost plus pricing method; 3) Determine the calculation of profit and loss at Latopia Keysha SMEs.
The research method used was a case study approach. Case studies were used to gain a deeper understanding of the issues at Latopia Keysha MSMEs related to the research being studied. This research is a descriptive quantitative study. The research location is at Latopia Keysha SME. The research objects include 13 Latopia flavor variants, including green bean, chocolate, fruit, milk, palm sugar, pineapple, onion, strawberry, cheese, durian, chocolate mete, chocolate almond and black forest. The data used are primary and secondary data. Primary data were obtained directly from Latopia Keysha SME through questionnaires. Secondary data were obtained from other sources such as journals. The variables used in this study are raw material costs, direct labor costs, fixed overhead costs, variable overhead costs, product quantity, production costs, non-production costs, revenue, and profit. The data analysis used in this study is descriptive and quantitative analysis. Quantitative analysis is used to calculate joint costs, production costs, selling prices, and profit and loss statements. Meanwhile, descriptive analysis is used to profile the Latopia Keysha SME business.
The research results show that Latopia Keysha MSMEs have not calculated the cost of production as a basis for determining the selling price. The joint cost calculation resulted in a total joint cost of Rp140,380,181.00 for 13 flavor variants. Based on this, the total cost of production was calculated using the full costing method to be Rp221,811,909.00. In setting the selling price, Latopia Keysha SMEs aim for a profit margin of 50% for each Latopia variant. As a result, the highest selling price is for the chocolate-almond variant at Rp3,620.00, and the lowest selling price is for the fruit variant at Rp2,007.00. The profit earned by Latopia Keysha SME during June-July 2025 was Rp 141,756,591.00, representing a percentage of 38,91%.
4697650372A1D021145PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN VARIETAS TERHADAP KARAKTER AGRONOMI TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)Budidaya padi di Indonesia menghadapi tantangan berupa kondisi lingkungan, khususnya perbedaan ketinggian tempat, yang memengaruhi karakter agronomi dan hasil panen. Perbedaan ini seringkali menyebabkan ketidaksesuaian antara potensi genetik varietas dengan performanya di lapangan, sehingga menimbulkan kesenjangan antara hasil potensial dan hasil nyata. Beberapa varietas mengalami penurunan hasil di lingkungan yang kurang mendukung, menunjukkan bahwa pemilihan varietas perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi tumbuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan varietas terhadap karakter agronomi dan hasil tanaman padi serta mengetahui karakter agronomi yang mendukung hasil tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Universitas Jenderal Soedirman serta lahan sawah di Banjarnegara (1.050 m dpl) dan Wonosobo (700 m dpl). Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. Terdapat 2 faktor yang digunakan, yaitu varietas dan ketinggian tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat dan varietas menyebabkan perbedaan persentase gabah isi per malai, bobot 1000 butir, umur panen, bobot gabah kering panen, dan bobot gabah kering giling. Jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, jumlah gabah total, dan persentase gabah isi merupakan karakter agronomi yang mendukung hasil tanaman padi.Rice cultivation in Indonesia faces challenges from environmental conditions, particularly differences in altitude, which affect agronomic traits and crop yield. These differences often cause a mismatch between a variety's genetic potential and its field performance, leading to a gap between potential and actual yield. Several varieties experience a decline in yield in less supportive environments, indicating that variety selection must be adapted to the specific growing location. This research aims to determine the effect of altitude and variety on the agronomic traits and yield of rice plants, as well as to identify which agronomic traits support high rice yields. The study was carried out at the Agronomy and Horticulture Laboratory of Jenderal Soedirman University and on paddy fields in Banjarnegara (1,049 m above sea level) and Wonosobo (700 m above sea level). The experimental design used was a factorial Randomized Block Design with three replications. The two factors were variety and altitude. The research findings indicate that altitude and variety caused differences in filled grain percentage per panicle, 1000-grain weight, harvest age, harvested dry grain weight, and milled dry grain weight. Total tiller number, productive tiller number, total grain number, and filled grain percentage were identified as agronomic traits that support rice plant yield.
4697750373A1F021074Analisis Tingkat Kepentingan dan Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Serabi Mix Max Spesial Varian Oncom Ayam PurwokertoSerabi Mix Max Spesial merupakan usaha kuliner khas Bandung yang berdiri
sejak tahun 2012 di Purwokerto. Varian serabi asin dengan topping oncom ayam
dan tambahan mayones merupakan menu andalan Serabi Mix Max Spesial yang
populer di kalangan konsumen. Varian ini menjadi favorit karena perpaduan rasa
gurih dari oncom ayam dan creamy dari mayones, menjadikan serabi ini berbeda
dari serabi manis pada umumnya, serta masih jarang ditemukan di wilayah
Purwokerto. Pandemi COVID-19 menyebabkan Serabi Mix Max Spesial
mengalami penurunan penjualan yang signifikan hingga saat ini dan pelaku usaha
belum pernah melakukan perbaikan terhadap produknya. Evaluasi terhadap
persepsi konsumen mengenai tingkat kepuasan dan kepentingan konsumen perlu
dilakukan untuk mengetahui atribut apa yang perlu diperbaiki serta merancang
strategi pengembangan usaha.
Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan
kepentingan konsumen serta perbaikan produk dengan melakukan survei
menggunakan instrumen survei berupa kuesioner, observasi, serta studi pustaka.
Data yang didapat kemudian akan dianalisis menggunakan metode Customer
Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA) dan diagram
fishbone.
Berdasarkan hasil analisis CSI, diketahui bahwa tingkat kepuasan konsumen
berada pada kategori “sangat puas” dengan skor indeks sebesar 83,85%.
Selanjutnya hasil analisis IPA terdapat 6 atribut yang perlu diperbaiki yaitu rasa asin
pada serabi, tekstur lembut pada oncom, tekstur lembut pada suwiran ayam,
kecukupan jumlah suwiran ayam pada topping, pemberian saus sambal dalam
kemasan sachet dan adanya promosi melalui media online. Kemudian dirumuskan
strategi perbaikan untuk atribut tersebut dengan penerapan SOP modifikasi adonan
parsial yaitu dengan tetap menggunakan satu adonan dasar namun perlu
penambahan bahan perasa asin kaldu bubuk non-MSG hanya pada porsi yang
digunakan untuk varian asin agar menghasilkan rasa yang lebih kaya dan gurih,
penyusunan SOP untuk memastikan waktu dan teknik memasak standar sehingga
menghasilkan tekstur oncom dan suwiran ayam yang lembut, penyusunan SOP
takaran suwiran yang jelas serta penerapan ukuran standar untuk menjaga
konsistensi, penyusunan SOP pelayanan penyajian dengen ketentuan pemberian
saus hanya jika diminta oleh konsumen untuk meningkatkan kenyamanan
konsumen dan penetapan penanggung jawab khusus yang bertugas memantau dan
menjalankan kegiatan promosi secara konsisten serta menjadi penghubung antara
digital marketer dan tim internar agar promosi terus berjalan.
Serabi Mix Max Spesial is a Bandung specialty culinary business established
in Purwokerto in 2012. The signature savory serabi topped with chicken oncom and
mayonnaise is Serabi Mix Max Spesial's signature dish, a popular choice among
consumers. This variant is a favorite due to the savory combination of chicken
oncom and creamy mayonnaise, distinguishing it from the typical sweet serabi, and
is still rare in the Purwokerto area. The COVID-19 pandemic has caused Serabi
Mix Max Spesial to experience a significant decline in sales, and the business has
yet to make any product improvements. An evaluation of consumer perceptions
regarding satisfaction and importance is necessary to identify attributes that need
improvement and to develop a business development strategy.
The research methods used to determine customer satisfaction and
importance, as well as product improvements, include a survey using
questionnaires, observation, and literature review. The data obtained will then be
analyzed using the Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance
Analysis (IPA), and a fishbone diagram.
Based on the results of the CSI analysis, it is known that the level of consumer
satisfaction is in the "very satisfied" category with an index score of 83.85%.
Furthermore, the results of the IPA analysis there are 6 attributes that need to be
improved, namely the salty taste of serabi, the soft texture of oncom, the soft texture
of shredded chicken, the adequacy of the amount of shredded chicken on the
topping, the provision of chili sauce in sachet packaging and the existence of
promotions through online media. Then, an improvement strategy was formulated
for these attributes by implementing a partial dough modification SOP, namely by
continuing to use one basic dough but adding salty flavoring ingredients of nonMSG powdered broth only in the portion used for the salty variant to produce a
richer and savory taste, preparing SOPs to ensure standard cooking times and
techniques so that the texture of oncom and shredded chicken is soft, preparing
SOPs for shredded chicken measurements is clear and implementing standard sizes
to maintain consistency, preparing SOPs for serving services with provisions for
providing sauce only if requested by consumers to increase consumer comfort and
appointing a special person in charge who is tasked with monitoring and carrying
out promotional activities consistently and being a liaison between digital
marketers and the internal team so that promotions continue to run.
4697849990H1C021002PEMODELAN AIRTANAH MENGGUNAKAN METODE BEDA HINGGA PADA TAMBANG BATUBARA PT SEBUKU SEJAKA COAL, DESA BEKAMBIT, KECAMATAN PULAU LAUT TIMUR, KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATANPada penambangan batubara, air memiliki pengaruh yang signifikan. Baik air permukaan maupun airtanah yang terdapat di area tambang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menghambat proses dan produksi tambang. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukannya kajian mengenai hidrogeologi sebagai acuan untuk mengelola airtanah yang berada pada sekitar lokasi tambang. Daerah penelitian ini berada pada Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan yang merupakan salah satu unit pertambangan PT. Sebuku Sejaka Coal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi, hidrologi dan hidrogeologi daerah penelitian, mengetahui arah aliran airtanah dan mengetahui hubungan keberadaan air tanah terhadap aktivitas penambangan di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui kondisi geologi berupa studi literatur dan observasi lapangan, untuk kondisi hidrologi menggunakan pengolahan data curah hujan berdasarkan metode distribusi gumbel, untuk menghitung nilai evapotranspirasi menggunakan metode thornthwaite berdasarkan data temperatur bulanan tahun 2024, dan untuk pemodelan airtanah menggunakan metode beda hingga (finite difference method). Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi empat satuan yaitu satuan perbukitan bergelombang lemah denudasional (D1), satuan tubuh sungai (F1), satuan rawa (F2) dan satuan antropogenik (A1). Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan data geologi bawah permukaan terdiri dari beberapa satuan yaitu satuan batupasir bagian dari formasi keramaian, satuan batulempung sisipan batubara bagian dari formasi keramaian dan satuan endapan aluvial. Struktur geologi yang berkembang yaitu sesar naik. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapati nilai rata-rata curah hujan maksimum sebesar 737.6 mm/tahun dan rata-rata curah hujan maksimum harian adalah 125.58 mm yang dihitung berdasarkan pengamatan curah hujan di daerah penelitian pada tahun 2020-2024. Nilai run off di daerah penelitian didapatkan nilai DTH 1 = 37,71 mm/jam, DTH 2 = 8,38 mm/jam. Berdasarkan data temperatur daerah penelitian pada tahun 2024, didapati nilai evapotranspirasi yaitu 0,14 mm/jam. Nilai recharge di daerah penelitian didapatkan DTH 1 = 4,06 mm/jam, DTH 2 = 33,39 mm/jam. Lapisan akuifer yang terdapat di lapangan merupakan lapisan akuifer bebas. Pola aliran airtanah pada daerah selatan penelitian bergerak memasuki lubang tambang, Sedangkan pada utara tambang, arah aliran bergerak menuju ke arah sungai bekambit dan terus mengarah ke bagian utara daerah penelitian. Berdasarkan hasil analisis pemodelan airtanah menggunakan metode beda hingga, didapati kontur tertinggi muka air tanah yaitu 2 mdpl dan kontur terendah muka airtanah yaitu -60 mdpl yang berada pada lokasi penambangan.In coal mining, water has a significant influence. Both surface water and groundwater in the mining area, if not managed properly, can hinder the mining process and production. Based on this, it is necessary to conduct a study of hydrogeology as a reference for managing groundwater around the mine site. This research area is located in the East Laut Island District, Kotabaru Regency, South Kalimantan, which is one of the mining units of PT Sebuku Sejaka Coal. This research aims to determine the geological, hydrological and hydrogeological conditions of the research area, determine the direction of groundwater flow and determine the relationship of groundwater presence to mining activities in the research area. The research method used to determine geological conditions is in the form of literature studies and field observations, for hydrological conditions using rainfall data processing based on the gumbel distribution method, to calculate evapotranspiration values using the thornthwaite method based on monthly temperature data in 2024, and for groundwater modeling using the finite difference method. The geomorphology of the study area is divided into four units, namely denudational weak undulating hills unit (D1), river body unit (F1), swamp unit (F2) and anthropogenic unit (A1). The stratigraphy of the study area based on subsurface geological data consists of several units, namely sandstone units part of the kera aian formation, coal-inserted mudstone units part of the tanjung formation and alluvial deposits units. The developed geological structure is a rising fault. Based on the analysis conducted, the average value of maximum rainfall is 737.6 mm/year and the average daily maximum rainfall is 125.58 mm which is calculated based on rainfall observations in the study area in 2020-2024. The run off value in the study area is obtained the value of catchment area 1 = 37.71 mm / hour, catchment area 2 = 8.38 mm / hour. Based on the temperature data of the study area in 2024, the evapotranspiration value is 0.14 mm/hour. The recharge value in the study area is obtained catchment area 1 = 4.06 mm/hour, catchment area 2 = 33.39 mm/hour. The aquifer layer found in the field is a free aquifer layer. The groundwater flow pattern in the southern area of the study moves into the mine pit, while in the north of the mine, the flow direction moves towards the bekambit river and continues to the northern part of the study area. Based on the results of groundwater modeling analysis using the finite difference method, the highest contour of the groundwater level is 2 above sea level and the lowest contour of the groundwater level is -60 above sea level located at the mining site.
4697950363K1A021057ISOLASI DAN UJI TOKSISITAS SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK n-HEKSANA RIMPANG KENCUR HITAM (Kaempferia parviflora Wall.)Kencur hitam (Kaempferia parviflora) merupakan tanaman yang memiliki potensi
sebagai bahan obat. Bagian rimpang tanaman ini biasa digunakan oleh masyarakat
untuk memelihara kesehatan serta menjaga kebugaran. Penelitian ini bertujuan
untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa bioaktif ekstrak n-heksana
rimpang kencur hitam serta menguji toksisitasnya terhadap Artemia salina Leach
melalui metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) untuk mengetahui efek
kerusakan yang diakibatkan. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi dengan cara
maserasi serbuk rimpang kencur hitam menggunakan pelarut n-heksana dihasilkan
padatan berwarna kuning-jingga, kemudian fraksinasi melalui kromatografi cair
vakum (KCV) menghasilkan 5 fraksi gabungan. Pemisahan lebih lanjut terhadap
fraksi aktif melalui metode kromatografi sentrifugal (kromatotron) menghasilkan 5
isolat gabungan. Isolat aktif (IG2 dan IG5) kemudian diidentifikasi menggunakan
Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS). Isolat IG2 berupa minyak
berwarna jingga diduga mengandung senyawa utama 4,5,7-tris(1,1-dimetiletil)-3,4-
dihidro-1,4-epoksinaftalen-1(2H)-metanol yang memiliki puncak spektrum massa
utama pada m/z 57, sedangkan isolat IG5 berupa padatan berwarna jingga diduga
mengandung senyawa utama 5-hidroksi-3,7-dimetoksiflavon yang memiliki
puncak spektrum massa utama pada m/z 297. Uji toksisitas dilakukan terhadap
ekstrak, fraksi, dan isolat. Hasil uji diperoleh nilai LC50 dari ekstrak n-heksana,
fraksi FG1, FG2, FG3, isolat IG2, dan IG5 berturut-turut sebesar 89,227; 107,175;
51,646; 8,371; 13,587 dan 37,914 µg/mL.
Black galingale rhizome (Kaempferia parviflora) is a plant that has potential as a
medicinal ingredient. The rhizome of this plant is commonly used to maintain
health and fitness. This study aims to isolate and identify the bioactive compounds
of n-hexane extract of black galingale rhizome and test its toxicity against Artemia
salina Leach using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method to determine
the damaging effects caused. The research stages include extraction by maceration
of black galangal rhizome powder using n-hexane solvent to produce a yellow-
orange solid, then fractionation through vacuum liquid chromatography (VLC)
produces 5 combined fractions. Further separation of the active fraction through the
centrifugal chromatography method (chromatotron) produces 5 combined isolates.
The active isolates (IG2 and IG5) are then identified using Gas Chromatography
Mass Spectrometry (GC-MS). Isolate IG2 in the form of orange oil is suspected to
contain 1,4-Epoxynaphthalene-1(2H)-methanol, 4,5,7-tris(1,1-dimethylethyl)-3,4-
dihydro as the main compound with the main mass spectrum peak at m/z 57, while
isolate IG5 in the form of orange solid is suspected 5-hydroxy-3,7-
dimethoxyflavone as the main compound with the main mass spectrum peak at m/z
297. Toxicity tests were carried out on extracts, fractions, and isolates. The test
results obtained LC50 values from n-hexane extract, fractions FG1, FG2, FG3,
isolate IG2, and IG5 were 89.227; 107.175; 51.646; 8.371; 13.587 and 37.914
µg/mL, respectively.
4698050364B1B021006Survival Of Diopatra claparedii In Plumbum (Pb) Contaminated MediaIndustri kilang minyak Pertamina di Sungai Donan berpotensi menjadi sumber pencemaran logam berat di lingkunan perairan, terutama Plumbum (Pb), logam berat non-esensial yang sifatnya akumulatif dan toksik. Konsentrasi Pb yang tinggi akibat aktivitas industri tersebut menurunkan kualitas perairan dan merusak ekosistem. Dampak dari tingginya konsentrasi Pb di lingkungan perairan dapat dilihat dari kelangsungan hidup organisme yang terpapar. Diopatra claparedii adalah species Polychaeta estuari di Sungai Donan yang memiliki kemampuan mengakumulasi logam karena paparan yang berkepanjangan pada perairan tercemar. Tujuan dari penelitian adalah untuk membandingkan kesintasan D. claparedii pada konsentrasi berbeda di media yang terkontaminasi Pb dan mendapatkan konsentrasi Pb yang mempengaruhi kelangsungan hidup D. claparedii. Manfaat penelitian adalah memberikan informasi ilmiah mengenai kesintasan D. claparedii dalam media yang terkontaminasi Pb.
Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam tingkat perlakuan Pb (0.30 (Kontrol); 0.84; 1.38; 1.92; 2.45; 3.00 mg/L) dan empat pengulangan, sehingga menghasilkan total 24 unit percobaan. Variabel bebas dalam penelitian adalah perlakuan Pb pada media dan faktor lingkungan. Parameter yang diamati adalah tingkat perlakuan Pb sebesar 0 (Kontrol); 20; 40; 60; 80; dan 100%, sedangkan untuk faktor lingkungan adalah salinitas, pH, dan suhu air. Variabel terikat dalam penelitian adalah kesintasan D. claparedii terpapar media terkontaminasi Pb dan konsentrasi residu Pb. Parameter yang diukur adalah jumlah D. claparedii yang bertahan hidup dan mati selama tujuh hari, serta konsentrasi residu Pb di air dan sedimen sebelum dan sesudah paparan Pb. D. claparedii dipaparkan pada perlakuan Pb selama tujuh hari. Konsentrasi Pb di air dan sedimen dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Jumlah individu yang bertahan hidup dalam konsentrasi Pb yang berbeda di air dan sedimen sebelum dan sesudah paparan dianalisis menggunakan one-way Permutational Multivariate Analysis of Variance. Adapun, korelasi Pb di air dan sedimen dengan kelangsungan hidup individu dianalisis menggunakan Pearson (r) dan regresi Ordinary Least Square. Konsentrasi Pb yang mempengaruhi kelangsungan hidup D. claparedii dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan D. claparedii mengalami penurunan yang signifikan dari 100% menjadi 40% seiring dengan meningkatnya konsentrasi Pb dalam media yang terkontaminasi. Hasil analisis one-way PERMANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa masing-masing tingkat perlakuan Pb memiliki efek yang berbeda secara signifikan. Sebagian besar perlakuan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05), namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara konsentrasi Pb 0,30 dan 0,84 mg/L; 1,38 dan 1,92 mg/L; serta 1,92 dan 2,45 mg/L (p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa konsentrasi Pb ≥ 0,84 mg/L secara signifikan memengaruhi kelangsungan hidup D. claparedii hingga mencapai 40%
The Pertamina oil refinery industry located near the Donan River has the potential to become a source of heavy metal pollution in the aquatic environment, particularly Plumbum (Pb), a non-essential heavy metal that has accumulative and toxic properties. The high concentration of Pb resulting from these industrial activities reduces water quality and damages the ecosystem. The impact of high Pb concentrations in the aquatic environment can be observed from the survival of exposed organisms. Diopatra claparedii is an estuarine Polychaeta species found in the Donan River that has the ability to accumulate metals due to prolonged exposure to contaminated waters. The objectives of this research are to compare the survival of D. claparedii in different concentrations of Pb contaminated media and to obtain the concentration of Pb that affected the D. claparedii survival. The advantage of this research is to provide scientific information regarding the survival of D. claparedii in Pb contaminated media.
This experimental research was conducted in the laboratory using a Complete Random Design (CRD) with six levels of Pb treatment (0.30 (Control); 0.84; 1.38; 1.92; 2.45; 3.00 mg/L) and four replications, resulting in a total of 24 experimental units. The independent variables in this research were the Pb treatment in the media and the environmental factors. The parameters were Pb treatment levels of 0 (Control); 20; 40; 60; 80; and 100%, as for environmental factors, they were salinity, pH, and water temperature. The dependent variables were the survival of D. claparedii exposed to Pb contaminated media and the Pb residual concentration. The parameters were the number of D. claparedii that survived and experienced mortality for seven days, as well as the Pb residual concentration in water and sediment before and after Pb exposure. D. claparedii was exposed to Pb treatments for seven days. Pb concentrations in water and sediment were analyzed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). The number of survive individuals in difference Pb concentrations of water and sediment before and after exposure was analyzed using one-way Permutational Multivariate Analysis of Variance. As for, the correlation of Pb in water and sediment with individual survival was analyzed using Pearson (r) and Ordinary Least Square regression. The Pb concentration that affected D. claparedii survival was descriptively analyzed.
The results indicate that the survival of D. claparedii significantly declined from 100 to 40% as the Pb concentration in the contaminated media increased. The result of PERMANOVA analysis showed that significant difference among Pb treatments, indicating that each Pb treatment had a significantly different effect. Most treatments showed significant differences (p < 0.05), but there were no significant differences between Pb 0.30 and 0.84 mg/L; 1.38 and 1.92 mg/L; as well as 1.92 and 2.45 mg/L (p > 0.05). These findings suggest that Pb concentrations of ≥ 0.84 mg/L significantly affect the survival of D. claparedii to 40%.