Artikelilmiahs
Menampilkan 46.741-46.760 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 46741 | 50116 | A1A021095 | ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PADA PT WAHANA INTI MAKMUR TBK (NASI) DAN PT BUYUNG POETRA SEMBADA TBK (HOKI) TAHUN 2022-2024 | Perubahan harga beras dan fluktuasi produksi di Indonesia berdampak terhadap stabilitas keuangan terutama perusahaan beras yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi finansial serta kelayakan investasi saham pada dua perusahaan beras yaitu PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menggunakan metode Piotroski F-score. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi finansial PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI). Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada investor dalam menilai kelayakan investasi berdasarkan aspek fundamental perusahaan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahun 2021 hingga 2024. Metode Piotroski F-score digunakan untuk menilai sembilan indikator keuangan yang mencerminkan profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan efisiensi operasional, antara lain Return on Assets (ROA), ΔROA, arus kas operasional (CFO), accrual, Δleverage, Δlikuiditas, Δekuitas, Δgross profit margin, dan Δtotal asset turnover. Kelayakan investasi dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu low performance, grey area, dan high performance berdasarkan total skor. Penelitian juga membandingkan hasil F-score dengan harga saham sebagai verifikasi terhadap performa aktual di pasar modal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laporan keuangan PT Wahana Inti Makmur Tbk dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk sedang berada pada kondisi yang tidak cukup baik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) memperoleh skor Piotroski F-score sebesar empat pada tahun 2022, lima pada tahun 2023, dan menurun menjadi dua pada tahun 2024. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan performa keuangan dan meningkatnya risiko investasi. Hal ini juga dialami oleh PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) yang menunjukkan tren memburuk dengan skor tujuh pada tahun 2022 menjadi dua pada tahun 2023, dan hanya satu pada tahun 2024. Penurunan skor ini sejalan dengan kondisi kerugian perusahaan selama dua tahun terakhir. Berdasarkan analisis Piotroski F-score, kedua perusahaan berada dalam tren penurunan. PT Wahana Inti Makmur Tbk dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk menunjukkan kelayakan investasi yang rendah dan berada pada kondisi “low performance” sehingga investor disarankan untuk menghindari kedua saham perusahaan tersebut untuk dijadikan portofolio investasi sebelum adanya perbaikan nyata dalam performa fundamental perusahaan. | Rice price changes and production fluctuations in Indonesia impact financial stability, especially for rice companies listed on the Indonesia Stock Exchange. This research aims to analyze the financial condition and investment feasibility of two rice companies, PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) and PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), using the Piotroski F-score method. The study also intends to assess the financial condition of these companies and provide information to investors for evaluating investment feasibility based on fundamental aspects. The research employed a quantitative descriptive method, utilizing secondary data from financial reports spanning 2021 to 2024. The Piotroski F-score method was applied to assess nine financial indicators reflecting profitability, liquidity, solvency, and operational efficiency, including Return on Assets (ROA), ΔROA, operating cash flow (CFO), accrual, Δleverage, Δliquidity, Δequity, Δgross profit margin, and Δtotal asset turnover. Investment feasibility was categorized into three groups: low performance, grey area, and high performance, based on the total score. The study also compared the F-score results with stock price trends to verify actual market performance. The research findings indicate that both PT Wahana Inti Makmur Tbk and PT Buyung Poetra Sembada Tbk are currently in an unfavorable condition based on their financial reports. PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) obtained a Piotroski F-score of four in 2022, five in 2023, and decreased to two in 2024, signaling a decline in financial performance and increased investment risk. Similarly, PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) showed a deteriorating trend with an F-score of seven in 2022, dropping to two in 2023, and only one in 2024. This decline aligns with the company's losses over the past two years. Based on the Piotroski F-score analysis, both companies are in a downward trend and exhibit low investment feasibility, falling into the "low performance" category. Therefore, investors are advised to avoid including shares of both companies in their investment portfolios until there is a tangible improvement in their fundamental performance. | |
| 46742 | 50145 | A1A021038 | Analisis Efisiensi Usahatani Padi di Wilayah Bendungan Gerak Serayu Kabupaten Banyumas | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentignya subsektor tanaman pangan, khususnya padi untuk mendukung ketahanan pangan nasional Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani padi; mengukur tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis pada usahatani padi di Wilayah Bendungan Gerak Serayu Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan di Desa Gambarsari (Kecamatan Kebasen) dan Desa Tambaknegara (Kecamatan Rawalo) dengan metode snowball sampling terhadap 43 responden petani padi. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data meliputi analisis biaya-pendapatan, uji asumsi klasik, dan pengukuran efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas berbentuk logaritma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani padi sebesar Rp4.814.691 per usaha atau Rp29.222.843 per hektar per musim tanam. Nilai rata-rata efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis masing-masing sebesar 0,77, 0,753, dan 0,566. Faktor umur dan status lahan berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis, sedangkan pendidikan, pengalaman, dan keanggotaan kelompok tani berpengaruh negatif. Disarankan agar petani meningkatkan efisiensi penggunaan input dan pemerintah memberikan pelatihan teknis berkelanjutan. | This research is motivated by the importance of the food crops subsector, particularly rice, in supporting national food security. This study aims to analyze the costs, revenue, and income of rice farming; measure the levels of technical, allocative, and economic efficiency; and identify the factors influencing technical inefficiency in rice farming in the Gerak Serayu Dam area, Banyumas Regency. The research was conducted in Gambarsari Village (Kebasen Subdistrict) and Tambaknegara Village (Rawalo Subdistrict) using a snowball sampling method with 43 rice farmer respondents. Primary data were collected through questionnaires and interviews, while secondary data were obtained from relevant institutions. Data analysis included cost–income analysis, classical assumption tests, and measurement of technical, allocative, and economic efficiency using the Stochastic Frontier Analysis (SFA) method with a Cobb-Douglas production function in logarithmic form. The results showed that the average rice farming income was IDR 4,814,691 per farm or IDR 29,222,843 per hectare per planting season. The average technical, allocative, and economic efficiency values were 0.77, 0.753, and 0.566, respectively. Age and land ownership status had a positive effect on technical inefficiency, while education, farming experience, and membership in farmer groups had negative effects. It is recommended that farmers improve input use efficiency and that the government provide continuous technical training. | |
| 46743 | 49531 | A1D021212 | UJI EFEKTIVITAS JAMUR ENTOMOPATOGEN Fusarium oxysporum DALAM MENGENDALIKAN HAMA PENGGEREK TONGKOL JAGUNG (Helicoverpa armigera) | Helicoverpa armigera (Hubner) merupakan hama utama yang menyerang tanaman jagung dengan menggerek tongkol jagung. Potensi kehilangan hasil panen jagung yang disebabkan oleh hama tersebut mencapai 40%, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan hingga 69,3% pada tongkol jagung. Pengendalian H. armigera umumnya masih menggunakan insektisida kimia sintetis yang dapat berdampak negatif. Oleh sebab itu, perlu adanya alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian H. armigera dengan menggunakan jamur entomopatogen Fusarium oxysporum, karena terdapat beberapa jamur yang memiliki jangkauan inang yang luas dan menyerang secara spesifik pada beberapa ordo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kerapatan konidia F. oxysporum, metode aplikasi jamur F. oxysporum, serta interaksi antara kerapatan konidia dan metode aplikasi jamur F. oxysporum terhadap mortalitas, aktivitas makan, dan perkembangan larva H. armigera. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2024, di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan menggunakan percobaan faktorial Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu kerapatan konidia yang terdiri dari 4 taraf, kontrol (K0), suspensi F. oxysporum kerapatan 106 konidia/mL (K1), 107 konidia/mL (K2), 108 konidia/mL (K3), dan faktor kedua yaitu metode aplikasi yang terdiri dari 2 taraf, penyemprotan larva (A1) dan pencelupan pakan (A2). Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA pada taraf 5%. Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu mortalitas larva H. armigera, aktivitas makan larva H. armigera, persentase pembentukan pupa H. armigera, dan persentase pembentukan imago H. armigera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur entomopatogen F. oxysporum menyebabkan mortalitas larva H. armigera sebesar 45%, penurunan konsumsi pakan larva sebesar 29,74%, persentase pembentukan pupa H. armigera sebesar 53,33%, dan persentase pembentukan imago H. armigera sebesar 75,83% pada kerapatan 108 konidia/mL sebagai hasil terbaik. Perlakuan metode aplikasi F. oxysporum yang paling efektif yaitu metode aplikasi pencelupan pakan yang dapat menyebabkan mortalitas larva H. armigera sebesar 30,83%, rerata konsumsi pakan larva sebesar 2,02 gram, serta persentase pembentukan pupa H. armigera sebesar 67,50%. Interaksi kerapatan 108 konidia/mL dan metode aplikasi pencelupan pakan memperoleh hasil terbaik dengan menyebabkan mortalitas larva H. armigera sebesar 46,67%, dan penurunan konsumsi pakan sebesar 30,69%. | Helicoverpa armigera (Hubner) is a major pest that attacks corn plants by boring into corn cobs. The potential loss of corn yield caused by this pest reaches 40%, and can even cause damage of up to 69.3% to corn cobs. Control of H. armigera typically still relies on synthetic chemical insecticides, which can have negative impacts. Therefore, there is a need for environmentally friendly control alternatives. One such alternative for controlling H. armigera involves the use of the entomopathogenic fungus Fusarium oxysporum, as there are several fungi that have a wide host range and specifically attack certain orders.. This study aims to determine the effect of F. oxysporum conidia density, the application method of F. oxysporum fungus, and the interaction between conidia density and the application method of F. oxysporum fungus on mortality, feeding activity, and larval development of H. armigera. The study was conducted from August to December 2024 at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The study was conducted experimentally using a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors and three replications. The first factor was conidia density, consisting of four levels: control (K0), F. oxysporum suspension at 10⁶ conidia/mL (K1), 10⁷ conidia/mL (K2), 10⁸ conidia/mL (K3), and the second factor was the application method, consisting of 2 levels: larval spraying (A1) and feed dipping (A2). The data obtained from the study were analyzed using ANOVA at the 5% level. If there were differences between treatments, the analysis was continued with the Duncan Multiple Range Test (DMRT). The variables observed in this study were H. armigera larva mortality, H. armigera larva feeding activity, H. armigera pupa formation percentage, and H. armigera imago formation percentage. The results of the study showed that the entomopathogenic fungus F. oxysporum caused 45% mortality of H. armigera larvae, a 29.74% decrease in larval feed consumption, a 53.33% pupation rate of H. armigera, and a 75.83% percentage of H. armigera imago formation at a density of 108 conidia/mL as the best result. The most effective application method for F. oxysporum was the feed dipping method, which caused a 30.83% mortality rate in H. armigera larvae, an average larval feed consumption of 2.02 grams, and a 67.50% pupation rate in H. armigera. The interaction between a density of 108 conidia/mL and the feed dipping application method yielded the best results, causing a mortality rate of 46.67% in H. armigera larvae, and a decrease in feed consumption of 30.69%. | |
| 46744 | 50153 | A1F021038 | Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Es Krim Ubi Jalar Madu dengan Variasi Proporsi Ubi dan Susu Fullcream | Es krim merupakan olahan campuran susu yang dibuat melalui pembekuan dan pengadukan. Seiring perkembangan di bidang pangan, umbi-umbian dapat ditambahkan pada es krim sehingga memengaruhi variabel sensori. Jenis umbi yang dapat digunakan pada es krim adalah ubi jalar dengan kandungan pati yang tinggi, kaya akan vitamin, pektin, dan mineral. Ubi jalar yang potensial ditambahkan pada es krim adalah ubi jalar madu Pasrujambe dengan warna kuning cerah dan memiliki rasa manis. Dalam pembuatan es krim, bahan lemak seperti susu fullcream berpengaruh terhadap overrun, laju leleh, hardness, dan organoleptik. Namun, penggunaan bahan lemak berupa susu fullcream akan menghasilkan es krim dengan kadar lemak yang tinggi. Dalam upaya untuk mengembangkan es krim dengan kadar lemak yang lebih rendah, maka dilakukan upaya mengganti sebagian susu fullcream dengan susu skim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proporsi penambahan ubi terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori, mengetahui pengaruh dan proporsi susu fullcream dan susu skim terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori, dan untuk mengetahui kombinasi perlakuan terbaik antara proporsi ubi dan proporsi susu fullcream dan susu skim. Pada penelitian ini, digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor yang diuji adalah perlakuan variasi penambahan ubi terhadap total susu yang digunakan (25%, 50%, dan 75%) dan proporsi antara susu fullcream dan susu skim (25 mL : 75 mL, 50 mL : 50 mL, dan 75 mL : 25 mL). Variabel karakteristik fisik yang diamati meliputi overrun, total padatan, dan densitas; karakter kimia yang diamati meliputi kadar lemak, kadar beta karoten, dan kadar gula total; karakteristik sensori yang diamati meliputi warna, flavor, aroma, tekstur, rasa, dan kesukaan. Hasil pengujian karakteristik fisikokimia jika normal dan homogen dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjut dengan DMRT jika berpengaruh nyata; jika normal namun tidak homogen dianalisis menggunakan ANOVA Welch dan dilanjut dengan Games Howell jika berpengaruh nyata; dan jika tidak normal dianalisis menggunakan Kruskal wallis dan dilanjut dengan Mann Whitney jika berpengaruh nyata. Hasil pengujian karakteristik sensori dianalisis menggunakan uji Friedman dan dilanjut dengan uji Wilcoxon jika berpengaruh nyata. Penentuan perlakuan terbaik dilakukan dengan uji Indeks Efektivitas De garmo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan ubi tidak berpengaruh pada parameter fisikokimia, namun penambahan proporsi susu fullcream dan susu skim berpengaruh nyata terhadap kadar lemak dan kadar beta karoten. Kombinasi perlakuan yang dihasilkan antara penambahan ubi dan penambahan proporsi susu fullcream dan susu skim berpengaruh nyata terhadap kadar lemak dan kadar beta karoten es krim yang dihasilkan. Dari segi sensori, penambahan ubi dan proporsi penambahan proporsi susu fullcream dan susu skim berpengaruh sangat nyata terhadap warna, flavor, aroma, tekstur, dan kesukaan. Kombinasi perlakuan terbaik yang didapat adalah U1S2 (penambahan ubi 25 g dan proporsi susu fullcream dan susu skim 50 mL : 50 mL) dengan nilai overrun 41,82%; total padatan 63,343%; densitas 0,852 g/mL; kadar lemak 5,470%; kadar beta karoten 4,484 µg /100 g; dan kadar gula total 34,389% yang sudah memenuhi nilai SNI No. 01-3713-2018. Dari kombinasi perlakuan tersebut, didapat nilai sensori putih agak krem (5,97); flavor enak (5,07); aroma khas es krim (5,17); tekstur lembut (5,03); rasa manis (5,30); dan kesukaan suka (5,10). | Ice cream is a processed mixture of milk made through freezing and churning. Along with developments in food sector, tubers can be added to ice cream, thereby affecting sensory variables. One type of tuber that can be used is sweet potato, which contains high starch and rich vitamins, pectin, and minerals. A potential sweet potato that can added to ice cream is Pasrujambe honey sweet potato, which has yellow color and sweet taste. In ice cream production, fat-based ingredients such as full cream milk influence overrun, melting rate, hardness, and organoleptic properties. However, using full cream milk makes the ice cream high in fat. To develop ice cream with lower fat content, an attempt was made to substitute part of the full cream milk with skim milk. This study aims to determine the effect of sweet potato proportion on physicochemical and sensory characteristics, to examine the influence and proportion of full cream milk and skim milk on physicochemical and sensory characteristics, and to identify the best treatment combination between sweet potato proportion and the proportions of full cream and skim milk. A Randomized Block Design (RBD) was used with two factors: the variation in sweet potato addition to the total milk used (25%, 50%, and 75%), and the proportion of full-cream milk to skim milk solution (25 mL : 75 mL, 50 mL : 50 mL, and 75 mL : 25 mL). The observed physical parameters included overrun, total solids, and density; the chemical parameters included fat content, beta-carotene content, and total sugar content; and the sensory attributes assessed were color, flavor, aroma, texture, taste, and overall liking. Data from physicochemical analyses that normal and homogeneous were analyzed using ANOVA, followed by DMRT if significant; normal but non-homogeneous data were analyzed with Welch ANOVA and continued with Games-Howell if significant; and non-normal data were analyzed using Kruskal-Wallis followed by Mann-Whitney if significant. Sensory analysis data were evaluated using the Friedman test and followed by Wilcoxon test if significant. The best treatment combination was determined using De garmo’s Effectiveness Index test. The results showed that the addition of sweet potato did not affect the physicochemical parameters, but the proportion of full-cream milk and skim milk solution significantly influenced fat content and beta-carotene levels. The combination of sweet potato and full-cream/skim milk proportions significantly affected the fat and beta-carotene content of the resulting ice cream. From the sensory perspective, both sweet potato addition and the proportion of full-cream and skim milk significantly influenced color, flavor, aroma, texture, and overall liking. The best treatment combination was U1S2 (25 g sweet potato and 50 mL : 50 mL full-cream milk to skim milk ratio) with an overrun value of 41.82%; total solids 63.343%; density 0.852 g/mL; fat content 5.470%; beta-carotene content 4.484 µg/100 g; and total sugar 34.389%, which met the SNI No. 01-3713-2018 standard. Sensory scores of this combination were off-white color (5.97); pleasant flavor (5.07); typical ice cream aroma (5.17); smooth texture (5.03); sweet taste (5.30); and overall liking (5.10). | |
| 46745 | 50154 | A1F021034 | Pengaruh Substitusi Tepung Ubi Jalar Madu dan Penambahan Isolat Protein Kedelai Terhadap Karakteristik Sosis Nabati | Sosis nabati merupakan salah satu variasi sosis dengan bahan utama protein nabati seperti jamur tiram. Sosis nabati muncul dari permasalahan sosis daging yang mengandung kolesterol yang tinggi serta serat yang rendah. Sosis nabati juga mengalami pengembangan bahan baku pembuatan untuk meningkatkan nilai kimia, fisik, dan sensorisnya. Salah satu pengembangannya adalah dengan mensubstitusi bahan pengisi berupa tepung ubi jalar madu terhadap tepung tapioka dan melakukan penambahan isolat protein kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh substitusi tepung ubi jalar madu terhadap karakteristik sosis nabati. 2) mengetahui pengaruh penambahan isolat protein kedelai terhadap karakteristik sosis nabati. 3) mengetahui kombinasi perlakuan terbaik antara proporsi substitusi tepung ubi jalar madu dan penambahan isolat protein kedelai dalam meningkatkan karakteristik sosis nabati. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) di Laboratorium Pengolahan serta Laboratorium Pangan dan Gizi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2024 hingga Juni 2025. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan formula bahan serta cara pembuatan sosis nabati untuk kemudian dipilih dalam penelitian utama. Pada penelitian utama formulasi sosis nabati dibuat dengan perlakuan substitusi tepung ubi jalar madu terhadap tepung tapioka dalam tiga rasio yakni 1:3 (K1); 1:1 (K2); dan 3:1 (K3) serta penambahan isolat proein kedelai sebesar 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3) untuk selanjutnya dianalisis sifat fisik, kimia, serta sensorisnya. Pada proses analisis fisikokimia, sebanyak 9 sampel dilakukan analisis duplo dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Sementara itu, analisis sensoris dilakukan uji hedonik dan uji mutu hedonik oleh 20 orang panelis terlatih. Kemudian, dilakukan analisis statistik menggunakan uji ANOVA, ANOVA Welch, dan Kruskal Wallis dengan tingkat kepercayaan 95% untuk karakteristik kimia dan fisik serta uji Friedman untuk karakteristik sensoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan substitusi tepung ubi jalar madu terhadap tepung tapioka berpengaruh nyata terhadap kadar beta karoten dan tekstur adhesiveness. Sementara itu, penambahan isolat protein kedelai berpengaruh nyata terhadap kadar protein. Adapun interaksi kedua perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar air, tekstur stringiness, serta atribut sensoris pada uji mutu hedonik (warna, rasa, dan tekstur) maupun uji hedonik (warna, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan). Hasil uji indeks efektivitas menunjukkan perlakuan terbaik adalah K2P3 dengan kadar air 53,74%; kadar abu 1,36%; kadar lemak 2,69%; kadar protein 4,76%; aktivitas antioksidan 32,83%; kadar beta karoten 34,74 µg/100g, dan serat pangan total 2,03%. Sementara itu, nilai fisik tekstur kombinasi perlakuan ini di antaranya hardness 107,29 N; gumminess 25,72 N; chewiness 19,89 N; springiness 0,76; stringiness 0,69 mm; cohesiveness 0,24; dan adhesiveness 11,27 Nmm. Sosis nabati K2P3 berwarna cokelat kekuningan, rasa sedikit gurih, aroma sedikit khas sosis, tekstur sedikit kompak dan kenyal serta kesukaan keseluruhan netral. | Vegetarian sausage is a variaton of sausage made from plant based protein as the main ingredient such as oyster mushroom. Vegetarian sausage comes from the issues of meat sausages that contain high cholestrol and low fiber. The development comes from the changes of the raw materials in production to enhance their chemical, physical, and sensory values. One of the development is by substituing the filler of tapioca flour with honey sweet potato flour and adding the isolated soy protein. This research aims to 1) determine the effect of honey sweet potato flour substitution on the characteristics of vegetarian sausage. 2) determine the effect of adding the isolated soy protein on the characteristics of vegetarian sausage. 3) find the best treatment combination between the proportion of honey sweet potato flour substitution and the addition of the isolated soy protein in improving the characteristics of vegetarian sausage. This research was conducted by using a Randomized Block Design method in the Laboratory of Processing and Laboratory of Food and Nutrition, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto from September 2024 to June 2025. Preliminary research was conducted to determine the formula for ingredients and methods for making vegetarian sausage, which would then be selected for the main research. In the main reserach, the formulation of vegetable sausage were made with the treatment of substituing honey sweet potato flour for tapioca flour in three ratios which are 1:3 (K1); 1:1 (K2); 3:1 (K3) and the addition of isolated soy protein at 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3) to be analyzed for chemical, physical, and sensory properties. In the physicochemical analysis process, the 9 samples was duplicated analysis with three repetition. Meanwhile, sensory analysis was conducted using hedonic test and hedonic quality test by 20 trained panelists. Subsequently, statistical analysis was carried out using ANOVA, Welch ANOVA, and Kruskal Wallis tests at a confidence level of 95% for chemical and physical properties also the Friedman test was used for sensory properties. The research results show that treatment of substituing sweet potato flour with tapioca flour has a significant effect on the beta carotene content and the texture of adhesiveness. Meanwhile, the addition of isolated soy protein significantly affects the protein content. Furthermore, the interaction of both treatment has a significant effect on moisture content, texture of stringiness, as well as sensory atributes in the hedonic quality test (color, taste, and texture) and the hedonic test (color, taste, texture, and overall preference). The effectiveness index results show that the best treatment is K3P3 with a moisture content of 53,74%; ash content of 1,36%; fat content of 2.69%; protein content of 4,76%; antioxidant activity of 32,83%; beta-carotene content of 34,74 µg/100g, and total dietary fiber of 2,03%. Meanwhile, the physical texture values of this combination treatment include hardness 107,29 N; gumminess 25,72 N; chewiness 19,89 N; springiness 0,76; stringiness 0,69 mm; cohesiveness 0,24; and adhesiveness 11,27 Nmm. K2P3 sausage also has brownish-yellow color, has a slightly savory taste, a slightly distinctive sausage aroma, a slightly compact and chewy texture, and an overall neutral preference. | |
| 46746 | 50146 | A1D021100 | PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI APLIKASI METABOLIT SEKUNDER JAMUR ENTOMOPATOGEN Lecanicillium saksenae TERHADAP HAMA PUTIH PALSU (Cnaphalocrocis medinalis L.) PADA PADI | Padi merupakan tanaman pokok sebagai sumber makanan utama di Indonesia. Namun, produksinya terus menurun, salah satunya akibat serangan hama berupa putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis). Hama putih palsu merusak daun padi, terutama saat tanaman pada masa vegetatif, sehingga menurunkan produktifitas tanaman padi. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu dilakukan menggunakan agen hayati, misalnya jamur Lecanicillium saksenae. Jamur ini diduga dapat mengendalikan hama, salah satunya dengan hasil metabolit sekundernya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu intensitas kerusakan tanaman, populasi hama putih palsu, indeks keragaman dan dominansi musuh alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) konsentrasi metabolit sekunder jamur entomopatogen L. saksenae 30% tidak berpengaruh terhadap intensitas kerusakan, populasi hama putih palsu dan musuh alami; 2) frekuensi aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen L. saksenae 1 minggu sekali tidak berpengaruh terhadap intensitas kerusakan, populasi hama putih palsu dan musuh alami; 3) tidak ada interaksi antara konsentrasi dan frekuensi aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen L. saksenae, sehingga tidak berpengaruh terhadap intensitas kerusakan, populasi hama putih palsu, maupun tingkat keanekaragaman dan dominansi musuh alami. | Rice is a staple crop as the main source of food in Indonesia. However, its production continues to decline, one of which is due to pest attacks in the form of rice leaf folder moth (Cnaphalocrocis medinalis). Rice leaf folder moth damage rice leaves, especially when the plant is in the vegetative period, thus reducing the productivity of rice plants. Integrated Pest Management (IPM) needs to be carried out using biological agents, such as the fungus Lecanicillium saksenae. This fungus is thought to be able to control pests, one of which is with the results of its secondary metabolites. This research used a Randomized Block Design (RBD) with 2 factors and 3 replications. The variables observed in this study were the intensity of plant damage, rice leaf folder moth population, diversity index and dominance of natural enemies. The results showed that: 1) the concentration of secondary metabolites of the entomopathogenic fungus L. saksenae 30% has no effect on the intensity of damage, the population of ice leaf folder moth and natural enemies; 2) the frequency of application of secondary metabolites of the entomopathogenic fungus L. saksenae once a week has no effect on the intensity of damage, the population of ice leaf folder moth and natural enemies; 3) there is no interaction between the concentration and frequency of application of secondary metabolites of the entomopathogenic fungus L. saksenae, so that it does not affect the intensity of damage, the population of ice leaf folder moth, nor the level of diversity and dominance of natural enemies. | |
| 46747 | 50147 | L1C021069 | Analisis Karakteristik Pantai terhadap Sebaran Sampah Makro dan Meso Plastik di Pantai Wisata Menganti dan Blendung Jawa Tengah | Sampah plastik merupakan semua material yang berbentuk padatan, berupa produk dari kegiatan manusia yang berada di wilayah perairan laut dan pantai. Pantai merupakan destinasi wisata yang terancam pencemaran akibat sampah laut. Timbunan sampah dapat merusak ekosistem perairan dan memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik pantai terhadap akumulasi sampah plastik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan transek garis sepanjang 100 m dengan analisis data yang dilakukan secara deskriptif. Parameter oseanografi yang dianalisis meliputi kecepatan arus, arah angin, pasang surut, kemiringan pantai, serta fraksi sedimen. Hasil menunjukkan bahwa Pantai Menganti memiliki arus laut yang lebih kuat (rata-rata 0,5–1 m/s) dan kemiringan pantai yang lebih curam dibandingkan Pantai Blendung. Sampah plastik yang paling dominan ditemukan pada kedua lokasi adalah wadah makanan (PL 06), sedotan (PL 04), dan tutup botol (PL 01). Pantai dengan karakteristik landai dan arus lambat cenderung mengakumulasi lebih banyak sampah plastik, baik dari aktivitas wisatawan maupun limpasan dari darat. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik fisik pantai memengaruhi distribusi sampah plastik di wilayah pesisir. | Plastic waste consists of all solid materials derived from human activities found in marine and coastal waters. Beaches are popular tourist destinations that are threatened by pollution due to marine debris. Accumulation of waste can damage aquatic ecosystems and have adverse effects on the health of nearby communities. This study aims to analyze the relationship between beach characteristics and plastic waste accumulation. The method used in this study is purposive sampling with a 100-meter line transect, and data analysis is conducted descriptively. The oceanographic parameters analyzed include current velocity, wind direction, tides, beach slope, and sediment fraction. The results show that Menganti Beach has stronger ocean currents (averaging 0.5–1 m/s) and a steeper beach slope compared to Blendung Beach. The most dominant plastic waste found at both locations includes food containers (PL 06), straws (PL 04), and bottle caps (PL 01). Beaches with gentle slopes and slow currents tend to accumulate more plastic waste, both from tourist activities and land-based runoff. This study demonstrates that physical characteristics of beaches influence the distribution of plastic waste in coastal areas. | |
| 46748 | 50148 | L1B021093 | Prevalensi dan Intensitas Ektoparasit Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) dengan Padat Tebar yang Berbeda dalam Sistem Budikdamber | Pemeliharaan ikan dengan kepadatan yang lebih tinggi dalam ruang terbatas dapat meningkatkan potensi terjadinya infeksi parasit pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ektoparasit dan pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap nilai prevalensi dan intensitas ektoparasit ikan lele dumbo yang dipelihara dengan sistem budikdamber. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan RAL. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah 30 ekor ikan lele dumbo. Penelitian ini ditemukan dua jenis ektoparasit yaitu Trichodina sp. dan Monogenea. Penelitian ini dilakukan selama 40 hari menggunakan sistem budikdamber dengan perbedaan padat tebar, padat tebar pada penelitian ini yaitu, 30, 40, dan 50 ikan/70L. Penelitian ini menghasilkan prevalensi Trichodina sp. pada ketiga perlakuan dalam kategori umumnya (20-40%), sedangkan prevalensi Monogenea pada perlakuan pertama tergolong kategori sering (10%), pada perlakuan kedua tergolong hampir tidak pernah (0%), dan pada perlakuan ketiga tergolong kategori umumnya (30%). Perbedaan padat tebar penelitian ini tidak berpengaruh nyata terhadap nilai intensitas total ektoparasit dan Trichodina sp. namun berpengaruh terhadap nilai intensitas Monogenea pada ikan lele dumbo. Intensitas total ektoparasit (1,25-2 ind/ekor), intensitas Trichodina sp. (1,25-2 ind/ekor), dan intensitas Monogenea (0-2 ind/ekor) pada penelitian ini masih tergolong dalam kategori sangat rendah-rendah. Kata kunci: Ektoparasit, budikdamber, prevalensi, intensitas. | Keeping fish at higher densities in confined spaces can increase the potential for parasitic infections in fish. This study aims to determine the types of ectoparasites and the effect of different stocking densities on the prevalence and intensity of ectoparasites in dumbo catfish cultivated using a bucket aquaculture system. The method used in this study was an experimental method with RAL. Sampling in this study used simple random sampling with a total of 30 dumbo catfish. The study identified two types of ectoparasites: Trichodina sp. and Monogenea. The study was conducted over 40 days using a bucket aquaculture system with varying population densities, namely 30, 40, and 50 fish/70 L. This study found that the prevalence of Trichodina sp. in all three treatments was in the common category (20-40%), while the prevalence of Monogenea in the first treatment was in the frequent category (10%), in the second treatment was in the almost never category (0%), and in the third treatment was in the common category (30%). The differences in stock density in this study did not significantly affect the total intensity of external parasites and Trichodina sp., but did affect the intensity of Monogenea in dumbo catfish. The total intensity of external parasites (1.25–2 ind/fish), the intensity of Trichodina sp. (1.25–2 ind/fish), and the intensity of Monogenea (0–2 ind/fish) in this study were still classified as very low to low. | |
| 46749 | 50149 | J1B021047 | Representasi Kemiskinan dalam Novel Thank You Salma Karya Erisca Febriani (Kajian Sosiologi Sastra) | Penelitian ini membahas tentang kemiskinan yang akan direpresentasikan melalui tokoh Zanna berdasarkan teori kemiskinan Chambers (1983) yang terdiri dari lima dimensi, yakni (1) kemiskinan material, (2) kelemahan jasmani, (3) isolasi, (4) kerentanan, dan (5) ketidakberdayaan. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kondisi ekonomi seseorang juga berdampak pada keadilan hukum yang akan diterima. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik membaca cermat dengan sumber utama berupa novel Thank You Salma karya Erisca Febriani, dan sumber pendukung berupa buku, jurnal, dan tugas akhir. Setelah melakukan analisis, terdapat dua dimensi kemiskinan yang terlihat dengan jelas direpresentasikan oleh tokoh Zanna, yakni kerentanan dan ketidakberdayaan. | This research discusses poverty that will be represented through the character of Zanna based on the poverty theory of Chambers (1983) which consists of five dimensions, namely (1) material poverty, (2) physical weakness, (3) isolation, (4) vulnerability, and (5) helplessness. This research aims to show that a person's economic condition also has an impact on legal justice that will be accepted. This research uses a qualitative descriptive method with a literary sociology approach. Data analysis in this study uses careful reading techniques with the main source in the form of the novel Thank You Salma by Erisca Febriani, and supporting sources in the form of books, journals, and final assignments. After conducting an analysis, there are two dimensions of poverty that are clearly represented by Zanna's figure, namely vulnerability and helplessness. | |
| 46750 | 50150 | E1B018052 | DISSENTING OPINION IN THE VERDICT OF A CRIMINAL ASSAULT CASE (Case Study of Decision Number 59/Pid.B/2021/PN Lbh) | Penelitian ini membahas fenomena Dissenting Opinion dalam putusan perkara pidana penganiayaan yang mengakibatkan kematian pada Putusan Nomor 59/Pid.B/2021/PN Lbh. Perkara tersebut melibatkan Terdakwa Sunario Sumitro alias Rio yang didakwa melakukan penganiayaan terhadap Bastia Arba hingga korban meninggal dunia. Permasalahan penelitian difokuskan pada dasar pertimbangan hakim mayoritas dan hakim minoritas (dissenting opinion) dalam penjatuhan pidana. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan analitis, serta bersumber dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim mayoritas berpendapat unsur kesengajaan untuk membunuh, sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHP, tidak terpenuhi. Mayoritas Hakim menyimpulkan bahwa tindakan terdakwa dimotivasi oleh nafsu untuk melakukan hubungan seksual dengan korban, yang hanya bertujuan untuk melumpuhkan daripada membunuh. Akibatnya, terdakwa dinyatakan bersalah berdasarkan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penyerangan yang mengakibatkan kematian. Sebaliknya, hakim yang berbeda pendapat berpendapat bahwa pukulan berulang kali terdakwa dengan tongkat kayu ke bagian vital korban (kepala, leher, dagu) menunjukkan kesadaran akan kemungkinan menyebabkan kematian (dolus eventualis). Oleh karena itu, tindakan tersebut seharusnya diklasifikasikan sebagai pembunuhan berdasarkan Pasal 338 KUHP. | This study examines the phenomenon of dissenting opinion in a criminal court decision on assault resulting in death, as reflected in Decision No. 59/Pid.B/2021/PN Lbh. The case involves the defendant, Sunario Sumitro alias Rio, accused of committing an assault on Bastia Arba, resulting in the victim’s death. The research focuses on the legal reasoning of both the majority and minority judges in imposing the sentence. This study employs a normative juridical approach, using statutory and analytical methods, with data derived from primary, secondary, and tertiary legal materials. The findings show that the majority of judges considered that the element of intent to kill, as stipulated in Article 338 KUHP, was not fulfilled. The Majority of Judge concluded that the defendant’s actions were motivated by lust to have sexual intercourse with the victim, aiming merely to incapacitate rather than to kill. Consequently, the defendant was found guilty under Article 351 paragraph (3) KUHP concerning assault resulting in death. Conversely, the dissenting judge argued that the defendant’s repeated blows with a wooden stick to the victim’s vital parts (head, neck, chin) indicated awareness of the likelihood of causing death (dolus eventualis). Therefore, the act should have been classified as murder under Article 338 KUHP. | |
| 46751 | 50152 | J0B022015 | DOKUMEN PANDUAN DASAR DESAIN PRODUK BIDANG ENGINEERING SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DI PT WANHO INDUSTRIES INDONESIA BAGI TENAGA KERJA LOKAL SUBDIVISI PROJECT ENGINEERING | Penelitian ini membahas tentang peran dan fungsi dokumen panduan dasar desain produk bidang engineering dari bahasa Mandarin ke dalam bahasa Indonesia di PT Wanho Industries Indonesia. PT Wanho Industries Indonesia merupakan sebuah perusahaan Penanam Modal Asing (PMA) yang berkolaborasi dengan Wanho Holding Inc. Asal Tiongkok. PT Wanho Industries Indonesia berlokasi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah dan mulai beroperasi sejak tahun 2019. Perusahaan ini memiliki karyawan lokal dan juga karyawan dari Tiongkok sebagai tenaga ahli. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kendala komunikasi bagi karyawan teknisi lokal lokal subdivisi project engineering bidang engineering berbahasa Indonesia. Hal ini dapat menghambat proses pembuatan desain produk bidang engineering di PT Wanho Industries Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah media komunikasi apa yang bisa mengatasi kendala komunikasi terutama bagi karyawan teknisi lokal lokal dalam proses desain produk, peran dan fungsi dokumen panduan dasar desain produk bidang engineering berbahasa Indonesia bagi PT Wanho Industries Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam proses penerjemahannya, peneliti menggunakan metode penerjemahan komunikatif karena menekankan kejelasan, ketepatan makna, dan kesesuaian konteks budaya serta kebutuhan pembaca. Metode pengumpulan data melalui jelajah internet, wawancara, studi pustaka, dan observasi. Hasil penelitian ini berupa dokumen panduan dasar desain produk bidang engineering berbahasa Indonesia dalam bentuk cetak. Dokumen panduan ini diharapkan dapat membantu mengatasi kendala komunikasi dalam proses desain produk untuk meningkatkan efektivitas kerja karyawan teknisi lokal subdivisi project engineering bidang engineering di PT Wanho Industries Indonesia. | This research discusses the role and function of basic product design guidelines in the field of engineering, translated from Mandarin into Indonesian at PT Wanho Industries Indonesia. PT Wanho Industries Indonesia is Foreign Direct Investment (FDI) company collaborating with Wanho Holding Inc., a Chinese-based company. PT Wanho Industries Indonesia is located in Batang Regency, Central Jawa, and has been operational since 2019. The company employs both local staff and Chinese experts. The background of this research is the communication barriers faced by local technical staff in the engineering project engineering subdivision who speak Indonesian. This can hinder the product design process in the engineering field at PT Wanho Industries Indonesia. The objectives of this research are to identify the communication medium that can overcome communication barriers, especially for local technical staff in the product design process, in Indonesian for PT Wanho Industries Indonesia. This research uses a descriptive qualitative method. In the translation process, the researcher uses a communicative translation method because it emphasizes clarity, accuracy of meaning, and cultural context suitability as well as reader needs. Data collection methods included internet research, interviews, literature review, and observation. The research are in the form of a basic product design guide document in the field of engineering in Indonesian, available in printed form. This guide document is expected to help overcome communication barriers in the product design process, thereby enhancing the work efficiency of the technical staff in the project engineering division at PT Wanho Industries Indonesia. | |
| 46752 | 50151 | J1D021046 | Analisis Wacana Kritis Pada Teks Pidato Presiden Prabowo Subianto Pascapelantikan Presiden Tahun 2024 | Penelitian ini dilakukan karena adanya makna-makna tersirat dalam wacana pidato pertama Prabowo Subianto pascapelantikan Presiden tahun 2024 yang perlu diungkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripstikan bentuk struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah video dan transkrip pidato pertama Prabowo Subianto pascapelantikan Presiden tahun 2024. Data dalam penelitian ini yaitu penggalan tuturan Prabowo Subianto dalam pidato. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu metode simak dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Data yang ditemukan dianalisis dengan menggunakan analisis wacana kritis model van Dijk yang terdiri atas tiga wujud yaitu struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 104 data struktur teks dengan rincian 5 data makrostruktur, 8 data suprastruktur, dan 91 data mikrostruktur. Dimensi kognisi sosial menunjukkan cara Prabowo Subianto dalam membangun dan menyampaikan gagasan serta ideologi dalam pidato. Konteks sosial menunjukkan adanya praktik kekuasaan dan akses memengaruhi wacana Prabowo Subianto dalam pidatonya. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pidato pertama Prabowo Subianto pascapelantikan Presiden tahun 2024 bukan hanya digunakan sebagai acara seremonial, tetapi digunakan untuk memengaruhi masyarakat terkait dengan arah pemerintahan Prabowo Subianto. | This study was conducted due to the implicit meanings in Prabowo Subianto’s first speech after the 2024 presidential inauguration that need to be analyzed. The purpose of this study is to describe the text structure, social cognition, and social context using Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis model. This research is qualitative in nature. The data sources for this study are the video and transcript of Prabowo Subianto's first speech following the 2024 presidential inauguration. The data in this study consist of excerpts from Prabowo Subianto's speech. The data collection method used in this study is the observation method with the advanced technique of free-flowing conversation observation (SBLC) and note-taking technique. The data found were analyzed using van Dijk's critical discourse analysis model, which consists of three dimensions: text structure, social cognition, and social context. The results of the study show that there are 104 text structure data, with details of 5 macrostructure data, 8 suprastructure data, and 91 microstructure data. The social cognition dimension shows how Prabowo Subianto constructs and conveys ideas and ideology in his speech. The social context dimension reveals the presence of power practices and access influencing Prabowo Subianto's discourse in his speech. Therefore, this study demonstrates that Prabowo Subianto's first speech following the 2024 presidential inauguration was not merely a ceremonial event, but was used to influence the public regarding the direction of Prabowo Subianto's administration. | |
| 46753 | 50155 | A1D020081 | Pengaruh Bakteri Pelarut Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pegagan Pada Tanah Ultisol | Permintaan tanaman pegagan di Indonesia terus meningkat, namun produksinya belum mampu mencukupi kebutuhan industri. Tanah Ultisol memiliki potensi yang luas untuk dijadikan lahan budidaya, tetapi rendahnya ketersediaan fosfat menjadi masalah utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian isolat bakteri pelarut fosfat (BPF), yaitu S3, N15, dan N19, baik secara tunggal maupun kombinasi. Bakteri tersebut akan diberikan ke media tanah ultisol untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pegagan di tanah Ultisol. Penelitian dilaksakanan pada bulan Juli 2024 hingga Oktober 2024 di screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan (blok). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang dan bobot akar, bobot tajuk, bobot segar dan kering tanaman, serta kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P5 (Isolat S3 & N19) memberikan pengaruh terbaik terhadap sebagian besar variabel seperti bobot segar dan kering tanaman, bobot akar, serta bobot tajuk. Nilai tertinggi ditemukan pada tinggi tanaman (12.4 cm), jumlah daun (30 helai), luas daun (32.9 cm²), panjang akar (9.8 cm), bobot tajuk segar (4.5 g), bobot akar segar (1.15 g), bobot tanaman segar (5.8 g), bobot tajuk kering (0.39 g), bobot akar kering (0.15 g), bobot tanaman kering (0.53 g), dan jumlah stolon (5 stolon per tanaman). Sementara itu, nilai tertinggi variabel kandungan klorofil diperoleh perlakuan P7 (kombinasi S3, N15, dan N19), yaitu sekitar 0.91 mg/L. Perlakuan tunggal dan kontrol menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan perlakuan kombinasi. Penggunaan kombinasi isolat bakteri pelarut fosfat pada penelitian ini cukup efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman pegagan pada tanah Ultisol. Bakteri pelarut fosfat mampu melarutkan fosfat agar tersedia dan diserap oleh tanaman. Pemberian agen hayati pada tanah marginal dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan subur. | The demand for Centella asiatica (pegagan) in Indonesia continues to rise, yet its production remains insufficient to meet industrial needs. Ultisol soil has great potential as a growing medium, but its low phosphate availability poses a major constraint. This study aimed to determine the effects of applying three phosphate-solubilizing bacteria (PSB) isolates—S3, N15, and N19—either individually or in combination, on the growth and yield of pegagan grown in Ultisol soil. The research was conducted from July to October 2024 in a screenhouse at the Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, using a Completely Randomized Design (CRD) with 9 treatments and 3 replications (blocks). Observed variables included plant height, number of leaves, leaf area, root length and weight, shoot weight, fresh and dry plant biomass, and chlorophyll content. The results of the study showed that treatment P5 (a combination of isolates S3 and N19) gave the best results for most observed variables, including fresh and dry plant weight, root weight, and shoot weight. The highest values were recorded for plant height (12.4 cm), number of leaves (30 leaves), leaf area (32.9 cm²), root length (9.8 cm), fresh shoot weight (4.5 g), fresh root weight (1.15 g), total fresh weight (5.8 g), dry shoot weight (0.39 g), dry root weight (0.15 g), total dry weight (0.53 g), and number of stolons (5 stolons per plant). Meanwhile, the highest chlorophyll content was observed in treatment P7 (a combination of isolates S3, N15, and N19), with a value of approximately 0.91 mg/L. Single-isolate treatments and control plots produced lower results compared to the combination treatments. The use of phosphate-solubilizing bacterial isolate combinations in this study proved effective in enhancing the growth and yield of Centella asiatica in Ultisol soil. These bacteria were able to solubilize bound phosphate, making it available for plant uptake. The application of such bio-agents on marginal soils may offer a sustainable solution to the limitations of fertile land. | |
| 46754 | 50049 | A1A020072 | PENERAPAN METODE EPQ DALAM OPTIMALISASI PERSEDIAAN COCOPEAT DI PT VISI ARLION INTERNASIONAL KOTA CIREBON | PT Visi Arlion Internasional merupakan perusahaan pengolah produk turunan kelapa yang menghadapi permasalahan keterlambatan produksi, pengiriman, dan ketidakpastian persediaan akibat sistem make to order. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan persediaan serta menghitung jumlah produksi dan biaya persediaan optimal menggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ). Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan jumlah produksi optimal sebesar 178,8 cbm, maksimum persediaan 16,44 cbm, serta total biaya persediaan Rp35,81 miliar per tahun, lebih rendah dibanding biaya aktual Rp82,39 miliar per tahun. Penerapan EPQ mampu menghemat biaya sebesar Rp46,58 miliar per tahun dan meningkatkan efisiensi serta ketepatan pengiriman. | PT Visi Arlion Internasional is a coconut derivative processing company that faces problems of production delays, delivery delays, and inventory uncertainty due to its make-to-order system. This study aims to analyze inventory management and calculate the optimal production quantity and inventory cost using the Economic Production Quantity (EPQ) method. The research employed a case study with a descriptive quantitative approach through interviews, observations, documentation, and relevant secondary data. The results show that the optimal production quantity is 178.8 cbm, the maximum inventory is 16.44 cbm, and the total inventory cost is IDR 35.81 billion per year, which is lower than the company’s actual cost of IDR 82.39 billion per year. The application of the EPQ method can save IDR 46.58 billion annually and improve both efficiency and delivery accuracy. | |
| 46755 | 50156 | A1F021053 | Karakteristik Fisikokimia dan Sensoris Crackers Tersubstitusi Tepung Bekatul dan Mocaf dengan Variasi Bahan Pengembang | Bekatul merupakan salah satu hasil samping dari penggilingan padi yang lebih sering digunakan sebagai pakan ternak, padahal kandungan gizinya dapat dimanfaatkan untuk pangan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan gizi harian. Pemanfaatan bekatul dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi tepung bekatul sebagai bahan pensubstitusi tepung terigu pada produk bakery, salah satunya adalah crackers. Crackers tidak memerlukan pengembangan tinggi, tetapi salah satu mutu sensorisnya ditentukan oleh kerenyahan produk yang berkaitan dengan penggunaan bahan pengembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi konsentrasi tepung bekatul serta jenis pengembang terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris crackers tersubstitusi tepung bekatul dan mocaf, mengetahui proporsi tepung yang tepat pada produk crackers, dan mengetahui penerimaan produk oleh panelis terhadap crackers tersubstitusi tepung bekatul dan mocaf. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Pangan dan Laboratorium Pangan Gizi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan November 2024 – Maret 2025. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua ulangan yang terdiri dari faktor konsentrasi tepung (B), yaitu B1 = 60% tepung bekatul : 40% tepung terigu ; B2 = 60% tepung bekatul : 30% tepung terigu : 10% tepung mocaf ; B3 = 60% tepung bekatul : 20% tepung terigu : 20% tepung mocaf ; B4 = 60% tepung bekatul : 10% tepung terigu : 30% tepung mocaf ; B5 = 100% tepung bekatul serta faktor variasi bahan pengembang (S), yaitu S1 = baking powder dan S2 = sodium acid pyrophosphate. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan diuji lanjut Duncan jika berpengaruh nyata. Variabel pengujian penelitian ini terdiri dari spread ratio, baking loss, warna L*, parameter warna a*, warna b*, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan pengujian sensoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung bekatul pada konsentrasi berbeda akan berpengaruh pada variabel pengujian. Semakin tinggi penggunaan tepung bekatul pada crackers akan menurunkan nilai spread ratio, warna L*, dan sensoris, tetapi akan meningkatkan nilai baking loss, warna a*, warna b*, dan kadar air crackers. Penggunaan baking powder sebagai bahan pengembang juga berperan dalam meningkatkan nilai spread ratio crackers. Selain itu, proporsi tepung bekatul yang tepat ada pada formulasi B1S1 dan B1S2 yang memiliki nilai sensoris terbaik dari panelis. Tingkat kesukaan panelis terhadap crackers ditinjau dari atribut warna, aroma, rasa, tekstur, aftertaste, dan kesukaan keseluruhan menghasilkan penilaian terbaik pada crackers formulasi B1S1 dan B1S2. | Rice bran is one of the by-products of rice milling which is more often used as animal feed, even though its nutritional content can be used for functional food that can meet daily nutritional needs. The use of rice bran can be done by processing it into rice bran flour as a substitute for wheat flour in bakery products, one of which is crackers. Crackers do not require high development, but one of their sensory qualities is determined by the crispness of the product in relation to the use of developing materials. This study aims to determine the effect of the use of variations in the concentration of rice bran flour and the type of developer on the physicochemical and sensory characteristics of rice bran flour substituted crackers and mocaf, determine the right proportion of flour in cracker products, and determine product acceptance by panelists of rice bran flour substituted crackers and mocaf. The research was carried out at the Food Processing Laboratory and the Food Nutrition Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University in November 2024 – March 2025. This study used a complete random design (RAL) with two replicates consisting of a flour concentration factor (B), namely B1 = 60% bran flour: 40% wheat flour; B2 = 60% bran flour : 30% wheat flour : 10% mocaf flour ; B3 = 60% bran flour : 20% wheat flour : 20% mocaf flour ; B4 = 60% bran flour : 10% wheat flour : 30% mocaf flour ; B5 = 100% bran flour and the variation factor of the developer ingredient (S), namely S1 = baking powder and S2 = sodium acid pyrophosphate. The data produced was analyzed using ANOVA at a 95% confidence level and tested further by Duncan if it had a real effect. The test variables of this study consisted of spread ratio, baking loss, color L*, color parameter a*, color b*, moisture content, ash content, protein content, fat content, and sensory testing. The results showed that the use of rice bran flour at different concentrations would affect the test variables. The higher the use of rice bran flour in crackers will decrease the spread ratio, L* color, and sensory values, but will increase the baking loss, a* color, b* color, and moisture content of crackers. The use of baking powder as a developer ingredient also plays a role in increasing the spread ratio value of crackers. In addition, the right proportion of rice bran flour is in the formulations B1S1 and B1S2 which have the best sensory value from the panelists. The level of panelists' preference for crackers was reviewed from the attributes of color, aroma, taste, texture, aftertaste, and overall likability resulting in the best rating on the B1S1 and B1S2 formulation crackers. | |
| 46756 | 50158 | C2C023032 | PERAN KREDIBILITAS MIKRO INFLUENCER DALAM PEMASARAN DIGITAL:KEPERCAYAAN, KEAHLIAN, DAN DAYA TARIK TERHADAP NIAT BELI DIMEDIASI OLEH EMOTIONAL ATTACHMENT | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kredibilitas mikro-influencer( daya tarik (attractiveness), kepercayaan (trustworthiness), dan keahlian (expertise)) terhadap niat beli konsumen, dengan emotional attachment sebagai variabel mediasi. Data dikumpulkan dari 370 pengguna TikTok yang mengikuti mikro-influencer @galdielocks. Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan AMOS 29.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga dimensi kredibilitas berpengaruh positif signifikan terhadap emotional attachment dan niat beli. Selain itu, emotional attachment juga terbukti memediasi hubungan antara daya tarik, kepercayaan, dan keahlian dengan niat beli. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis pada pengembangan source credibility theory dalam konteks pemasaran digital berbasis mikro-influencer, serta implikasi praktis bagi pemasar dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif. | This study aims to examine the influence of micro-influencer credibility—comprising attractiveness, trustworthiness, and expertise—on consumers’ purchase intention, with emotional attachment as a mediating variable. Data were collected from 370 TikTok users who follow the micro-influencer @galdielocks. The analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS 29.0. The findings reveal that all three dimensions of credibility have a significant positive effect on both emotional attachment and purchase intention. Moreover, emotional attachment was found to mediate the relationship between attractiveness, trustworthiness, and expertise with purchase intention. These results contribute theoretically to the development of source credibility theory in the context of micro-influencer-based digital marketing and provide practical implications for marketers in designing more effective communication strategies. | |
| 46757 | 50159 | F2B021009 | Strategi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dalam Pengembangan Desa Wisata di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas | Peningkatan jumlah desa wisata di Indonesia dari 1.302 pada 2014 menjadi 4.719 pada 2023 menunjukkan perkembangan signifikan pariwisata berbasis masyarakat. Namun, hanya 284 desa berstatus maju dan 23 berstatus mandiri, mengindikasikan masih terbatasnya desa wisata yang berhasil naik klasifikasi. Desa Cikakak merupakan desa pertama di Kabupaten Banyumas berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor /556/166/Tahun 2020. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan Desa Cikakak. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap sepuluh informan purposif dari unsur pengelola desa wisata, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan dinas terkait, serta didukung dokumentasi. Analisis dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan delapan strategi pemberdayaan berhasil membawa Desa Cikakak meraih status desa wisata maju. Namun, strategi tersebut belum mampu membangun mekanisme jangka panjang yang menjamin kemandirian, memperluas partisipasi masyarakat secara merata, serta memastikan keberlanjutan dalam pengelolaan desa wisata. | The increase in the number of tourist villages in Indonesia from 1,302 in 2014 to 4,719 in 2023 demonstrates the significant development of community-based tourism. However, only 284 villages are classified as advanced and 23 as independent, indicating the limited success of villages in achieving higher classifications. Cikakak Village is the first in Banyumas Regency to be designated as an advanced tourist village under Banyumas Regent Decree No. /556/166/2020. This study aims to analyze community empowerment strategies in the development of Cikakak Village. A qualitative method with a case study approach was employed. Primary data were obtained through in-depth interviews and participatory observation with ten purposively selected informants, including tourism managers, village government officials, community leaders, traditional leaders, and related agencies, supported by documentation. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The findings reveal eight empowerment strategies that enabled Cikakak Village to achieve advanced status, yet they remain insufficient to establish long-term mechanisms that ensure independence, equitable community participation, and sustainable village tourism management. | |
| 46758 | 50157 | A1C020052 | PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI IRIGASI TETES OTOMATIS TERHADAP EFISIENSI IRIGASI DAN PERTUMBUHAN TANAMAN PADI GOGO | Padi gogo merupakan tanaman pangan alternatif yang cocok dibudidayakan di lahan marginal karena toleransinya terhadap cekaman air. Namun, agar pertumbuhannya optimal, dibutuhkan sistem irigasi yang efisien dan adaptif terhadap kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan frekuensi irigasi tetes otomatis terhadap efisiensi irigasi dan pertumbuhan dua varietas padi gogo. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, yaitu frekuensi irigasi (1x, 2x, 3x per hari) dan varietas padi gogo (Situ Bagendit dan Inpago Unsoed Protani) yang ditanam pada media polibag. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi, berat kering, jumlah anakan, malai) serta efisiensi sistem (debit, efisiensi aplikasi, dan keseragaman emiter). Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi irigasi satu kali sehari (A1) menghasilkan berat kering tertinggi (134,73 g) dan nilai efisiensi aplikasi tertinggi (92,23%), disertai keseragaman distribusi air di atas 90%. Varietas Inpago Unsoed Protani memperlihatkan performa pertumbuhan lebih unggul dibandingkan Situ Bagendit, terutama pada berat kering dan jumlah anakan. Namun, tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara frekuensi irigasi dan varietas terhadap variabel hasil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem irigasi tetes otomatis frekuensi 1x/hari efektif dalam menunjang efisiensi air dan pertumbuhan vegetatif padi gogo di lahan marginal. | Upland rice (padi gogo) is an alternative food crop well-suited for cultivation on marginal land due to its tolerance to water stress. However, to achieve optimal growth, an efficient and environmentally adaptive irrigation system is required. This study aims to analyze the effect of different frequencies of automated drip irrigation on irrigation efficiency and the growth of two upland rice varieties. The research employed a two-factor Completely Randomized Design (CRD), with irrigation frequency (once, twice, and three times per day) and upland rice variety (Situ Bagendit and Inpago Unsoed Protani) as factors. The rice was cultivated in polibag media. Observed parameters included plant growth (height, dry weight, number of tillers, panicles) and system efficiency (flow rate, application efficiency, and emitter uniformity). Results showed that irrigation once per day (A1) produced the highest dry weight (134.73 g) and the highest application efficiency (92.23%), along with water distribution uniformity above 90%. The Inpago Unsoed Protani variety demonstrated superior vegetative growth compared to Situ Bagendit, particularly in dry weight and tiller number. However, there was no significant interaction effect between irrigation frequency and variety on crop yield variables. This study concludes that an automated drip irrigation system with once-daily frequency is effective in supporting water efficiency and vegetative growth of upland rice on marginal land. | |
| 46759 | 50161 | L1C021065 | Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Machine Learning Berbasis Citra Landsat Di Banten | Penelitian ini mengkaji penggunaan machine learning berbsasis citra landsat dalam analisis perubahan garis pantai di Banten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai di wilayah pesisir Provinsi Banten selama periode 2009–2024. Metode yang digunakan adalah pengolahan citra satelit Landsat dengan algoritma Random Forest untuk klasifikasi daratan dan perairan. Proses dilakukan melalui pra-pemrosesan, klasifikasi, dan uji akurasi menggunakan Confusion Matrix dan Kappa Coefficient. Hasil klasifikasi Ramdom forest menunjukkan Overall Accuracy sebesar 99,9986%, menandakan model sangat andal. Analisis perubahan garis pantai dilakukan menggunakan metode Distance to Nearest Hub pada platform QGIS dengan luasan abrasi dan akresi tahun 2009-2024 sebesar 51,44 km2 dan 22,91 km2. Faktor penyebab meliputi arus laut, gelombang, reklamasi, dan alih fungsi lahan pesisir. | This research examined the use of machine learning based on Landsat imagery in analyzing shoreline changes in Banten. The study aimed to analyze shoreline changes in the coastal areas of Banten Province during the period 2009–2024. The method used was the processing of Landsat satellite imagery with the Random Forest algorithm for land and water classification. The process was carried out through preprocessing, classification, and accuracy assessment using the Confusion Matrix and Kappa Coefficient. The Random Forest classification results showed an Overall Accuracy of 99.9986%, indicating that the model was highly reliable. The analysis of shoreline changes was conducted using the Distance to Nearest Hub method on the QGIS platform, with abrasion and accretion areas from 2009 to 2024 amounting to 51.44 km² and 22.91 km², respectively. The driving factors included ocean currents, waves, reclamation, and coastal land-use changes. | |
| 46760 | 50162 | B1A021130 | Kajian Mikroplastik Pada Tiram Bakau (Saccostrea cucullata) Di Perairan Mangrove Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta | Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran pada rentang 1-5 mm yang berasal dari degradasi plastik dan telah menjadi salah satu polutan lingkungan. Dan merupakan ancaman bagi biota laut. Mangrove yang memiliki fungsi sebagai area penampung sedimen dan polutan, termasuk mikroplastik dapat mengancam fungsi ekosistem dan spesies yang bergantung padanya. Mikroplastik yang terakumulasi dalam tiram tidak hanya mempengaruhi kesehatan tiram itu sendiri tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan manusia yang mengkonsumsi tiram tersebut melalui konsumsi langsung. Tujuan penelitian adalah membandingkan karakteristik fisik (tipe, warna, ukuran), karakteristik kimia (jenis polimer) dan kelimpahan (jumlah partikel) mikroplastik pada tiram bakau, sedimen dan perairan dan mendeskripsikan morfometri serta menganalisa hubungan antara bobot tiram bakau dengan kelimpahan mikroplastik yang terdapat di perairan mangrove Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi penelitian adalah perairan mangrove Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengambilan sampel tiram bakau, sedimen dan air menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan perbedaan pasang surut air laut sebanyak empat stasiun. Kelimpahan mikroplastik dihitung dalam satuan partikel/g berat sampel. Karakteristik mikroplastik diamati menggunakan uji mikroskop serta uji Fourier Transform Infra Red (FTIR). Data karakteristik fisik (tipe, warna, dan ukuran), karakteristik kimia (jenis polimer), dengan analisis deskriptif komparatif. Untuk membandingkan kelimpahan mikroplastik pada semua objek penelitian dianalisis dengan uji signifikansi Kruskal-Wallis, untuk membandingkan lebih dari dua kelompok kelimpahan tiram bakau, sedimen, dan air dengan jumlah sampel uji 34. Uji Mann-Whitney untuk membandingkan yang terdapat pada tiram bakau dan sedimen, tiram bakau dan air, serta sedimen dan air. Hubungan bobot tiram bakau dengan kelimpahan dianalisis dengan korelasi linier. Hasil menunjukkan tipe mikroplastik banyak ditemukan pada tiram bakau dan air adalah fragmen (42,53% dan 45,92%), dan pada sedimen adalah fiber (44,33%). Warna coklat banyak ditemukan pada tiram bakau dan sedimen (46,8% dan 41,2%), dan pada air adalah warna biru (37,8%). Ukuran mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah 0,1-0,5 mm. Jenis polimer paling banyak ditemukan adalah PE dan PP. Kelimpahan rata-rata yang ditemukan pada tiram bakau (65,83 partikel/g), sedimen (0,24 partikel/g), dan air (0,98 partikel/L). Kelimpahan mikroplastik paling banyak ditemukan pada tiram bakau dengan perbedaan antara tiram bakau, sedimen, dan air. Tiram bakau di perairan mangrove Kulon Progo memiliki rata-rata panjang 46,13 mm, lebar 30,68 mm, tebal cangkang 13,09 mm, dan bobot 9,17 g. Kelimpahan mikroplastik meningkat seiring dengan bertambahnya bobot tiram bakau. | Microplastics are plastic particles ranging in size from 1-5 mm, originating from the degradation of larger plastic debris, and have become one of the major environmental pollutants. They pose a threat to marine organisms. Mangrove ecosystems, which function as natural traps for sediments and pollutants including microplastics are at risk of ecological disruption, potentially affecting the species that depend on them. Microplastics accumulated in oysters not only impact the health of the oysters themselves but may also pose risks to human health through direct consumption. The aim of this study is to compare the physical characteristics (type, color, size), chemical characteristics (polymer type), and abundance (number of particles) of microplastics in mangrove oysters, sediment, and water, as well as to describe the morphometry and analyze the relationship between the weight of mangrove oysters and the abundance of microplastics in the mangrove waters of Kulon Progo, Special Region of Yogyakarta. The study site is located in the mangrove waters of Kulon Progo, Special Region of Yogyakarta. Sampling of mangrove oysters, sediment, and water was conducted using purposive sampling based on tidal differences across four stations. The abundance of microplastics was measured in units of particles per gram of sample weight. Microplastic characteristics were observed using microscopic analysis and Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). The physical characteristics (type, color, and size) and chemical characteristics (polymer type) of microplastics were analyzed using descriptive comparative analysis. To compare the abundance of microplastics across all research objects, the Kruskal-Wallis significance test was used to assess differences among more than two groups—mangrove oysters, sediment, and water—with a total of 34 test samples. The Mann-Whitney test was used for pairwise comparisons between mangrove oysters and sediment, mangrove oysters and water, as well as sediment and water. The relationship between the weight of mangrove oysters and microplastic abundance was analyzed using linear correlation. The results showed that the most abundant type of microplastic in mangrove oysters and water was fragments (42,53% and 45,92%), while in sediment, fibers were the most abundant (44,33%). Brown was the most abundant color in mangrove oysters and sediment (46,8% and 41,2%), whereas blue was the most abundant color in water samples (37.8%). The most abundant microplastic size was 0,1–0,5 mm. The polymer types most abundant identified were PE and PP. The average abundance of microplastics was found to be 65,83 particles/g in mangrove oysters, 0,24 particles/g in sediment, and 0,98 particles/L in waterMangrove oysters exhibited a higher abundance of microplastics relative to sediment and water samples. Mangrove oysters in the Kulon Progo mangrove waters had an average shell length of 46,13 mm, width of 30,68 mm, thickness of 13,09 mm, and weight of 9,17 g. The abundance of microplastics increased with the weight of the mangrove oysters. |