Artikelilmiahs

Menampilkan 46.761-46.780 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4676150163A1F020012Pengaruh Penambahan Stabilizer Terhadap Karakteristik Mutu Gula Kelapa Cair dari Gula Cetak dan Gula "Brondol"Gula kelapa cair merupakan hasil olahan nira kelapa yang memiliki karakteristik berwarna jernih kecoklatan, berasa manis dan kental. Pembuatan gula kelapa cair umumnya menggunakan nira kelapa. Namun, mutu nira kelapa dipengaruhi oleh cuaca dan dianggap cepat rusak karena mudah terkontaminasi oleh ragi liar sehingga bahan baku tersebut tidak dapat dikendalikan. Alternatif bahan baku pengganti nira berupa gula cetak dan gula “brondol”. Gula cetak yang digunakan adalah gula kelapa cetak grade “B”, ditandai dengan tekstur agak lunak, berwarna coklat tua hingga kehitaman, aroma sedikit khas gula kelapa dan harganya terjangkau. Kombinasi kedua jenis gula tersebut menjadi salah satu upaya pemanfaatan yang menghasilkan produk pangan bernilai jual tinggi. Akan tetapi, gula kelapa cair memiliki permasalahan yaitu mutunya tidak stabil yang ditandai dengan viskositasnya tidak homogen atau viskositas rendah (< 500 mP.a.S) dan terbentuk kristalisasi selama penyimpanan. Untuk meminimalkan permasalahan tersebut, salah satu upaya yang digunakan yaitu dengan penambahan stabilizer. Penambahan stabilizer berfungsi untuk meningkatkan viskositas dan stabilitas. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi stabilizer terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori gula kelapa cair; 2) Mengetahui jenis dan konsentrasi stabilizer yang menghasilkan gula kelapa cair dengan viskositas yang stabil dan mutu yang memenuhi SNI gula sukrosa cair (No. 8779:2019).
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non-Faktorial dengan 9 formula (Maltodekstrin 1, 2, 3% ; Gum arab 1, 2, 3% dan CMC 0,15; 0,3; 0,45%). Variabel fisik meliputi viskositas, total padatan terlarut dan total padatan tidak terlarut. Sedangkan variabel kimia berupa kadar air, kadar abu, kadar gula reduksi, kadar gula total, kadar sukrosa, aktivitas air (aw) dan pH serta variabel sensori berupa rasa manis, aroma, warna, kekentalan, aftertaste (burn test) dan kesukaan keseluruhan (overall) menggunakan uji skoring. Analisis data fisikokimia menggunakan uji ANOVA (α = 5%) dan uji lanjut DMRT (α = 5%). Sedangkan analisis data sensori menggunakan uji kruskal wallis dan uji lanjut mann whitney (α = 5%). Variabel fisikokimia dan sensori perlakuan terbaik dibandingkan dengan gula kelapa cair (berdasarkan referensi).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis dan konsentrasi stabilizer berpengaruh terhadap kadar air, pH, kadar sukrosa, kadar gula total, total padatan terlarut, total padatan tidak terlarut, viskositas dan kadar abu, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar gula reduksi, aktivitas air (aw), rasa manis, aroma, warna, aftertaste dan kesukaan keseluruhan produk gula kelapa cair yang dihasilkan. Berdasarkan uji indeks efektivitas, CMC konsentrasi 0,3% menghasilkan mutu gula kelapa cair terbaik dengan karakteristik viskositas stabil (653,33 mP.a.S), pH 5,45 dan kadar sukrosa 65,67% yang memenuhi SNI gula sukrosa cair (No. 8779:2019).
Liquid coconut sugar is a processed coconut sap that has the characteristics of a clear brownish color, sweet and thick taste. The manufacture of liquid coconut sugar generally uses coconut sap. However, the quality of coconut sap is affected by the weather and is considered to spoil quickly because it is easily contaminated by wild yeast so that the raw material cannot be controlled. Alternative raw materials to replace sap are molded sugar and "brondol" sugar. The molded sugar used is grade "B" molded coconut sugar, characterized by a slightly soft texture, dark brown to blackish color, a slightly distinctive aroma of coconut sugar and an affordable price. The combination of these two types of sugar is one of the utilization efforts that produce high-value food products. However, liquid coconut sugar has problems, namely unstable quality characterized by non-homogeneous or low viscosity (<500 mP.a.S) and crystallization during storage. To minimize these problems, one effort used is the addition of a stabilizer. The addition of a stabilizer serves to increase viscosity and stability. The objectives of this study are 1) To knowing the effect of the type and concentration of stabilizer on the physicochemical and sensory characteristics of liquid coconut sugar; 2) To knowing the type and concentration of stabilizer that produces liquid coconut sugar with stable viscosity and quality that meets SNI for liquid sucrose sugar (No. 8779:2019).
This study used a non-factorial randomized block design (RBD) with 9 formulas (Maltodextrin 1, 2, 3%; Gum Arabic 1, 2, 3%, and CMC 0,15, 0,3; 0,45%). Physical variables included viscosity, total dissolved solids, and total insoluble solids. Chemical variables included water content, ash content, reducing sugar content, total sugar content, sucrose content, water activity (aw), and pH. Sensory variables included sweetness, aroma, color, viscosity, aftertaste (burn test), and overall preference using a scoring test. Physicochemical data were analyzed using ANOVA (α = 5%) and DMRT (α = 5%). Meanwhile, sensory data analysis used the Kruskal-Wallis test and the Mann-Whitney test (α = 5%). The physicochemical and sensory variables of the best treatment were compared to liquid coconut sugar (based on the reference).
The results showed that the treatment of stabilizer type and concentration affected the water content, pH, sucrose content, total sugar content, total soluble solids, total insoluble solids, viscosity and ash content, but did not affect the reducing sugar content, water activity (aw), sweetness, aroma, color, aftertaste and overall liking of the liquid coconut sugar product produced. Based on the “indeks efektivitas” test, CMC concentration of 0,3% produced the best quality of liquid coconut sugar with stable viscosity characteristics (653.33 mP.a.S), pH 5.45 and sucrose content of 65.67% which met the SNI for liquid sucrose sugar (No. 8779:2019).
4676250165L1B021012AKTIVITAS BAKTERI AMILOLITIK SALURAN PENCERNAAN IKAN
NILEM (Osteochilus sp.) YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUBTITUSI
TEPUNG DAUN UBI JALAR TERFERMENTASI
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh substitusi pakan menggunakan tepung daun ubi jalar (Ipomoea batatas) terfermentasi (TDUJT) terhadap kelimpahan dan aktivitas bakteri amilolitik dalam saluran pencernaan ikan nilem (Osteochilus sp.). Ikan dipelihara selama 45 hari mengunakan metode ekperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 4 perlakuan persentase substitusi tepung ikan oleh tepung daun ubi jalar terfermentasi masing-masing sebesar 0%, 25%, 50%, dan 75%. Dan 3 ulangan, dengan pengambilan sampel usus dilakukan pada hari ke-25, 35, dan 45. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi pakan tidak memberikan pengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap kelimpahan bakteri, proporsi bakteri berdasarkan karakter Gram, dan proporsi bakteri amilolitik. Namun, memberikan pengaruh signifikan (p > 0,05) pada indeks aktivitas bakteri amilolitik. Peningkatan persentase substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi cenderung meningkatkan proporsi dan indeks aktivitas bakteri amilolitik. Dengan nilai tertinggi pada persentase 75% substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun ubi jalar terfermentasi dalam pakan berpotensi meningkatkan aktivitas bakteri amilolitik yang berperan dalam proses pencernaan karbohidrat dan pemanfaatan nutrien pada budidaya ikan nilem.
This study aims to examine the effect of feed substitution using fermented sweet potato leaf meal (Ipomoea batatas) (FSPLM) on the abundance and activity of amylolytic bacteria in the digestive tract of Nilem fish (Osteochilus sp.). Fish were reared for 45 days using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 4 treatments of fish meal substitution percentage by fermented sweet potato leaf meal of 0%, 25%, 50%, and 75%, respectively. And 3 replications, with intestinal sampling carried out on days 25, 35, and 45. The results showed that feed substitution did not have a significant effect (p <0.05) on bacterial abundance, the proportion of bacteria based on Gram characters, and the proportion of amylolytic bacteria. However, it had a significant effect (p > 0.05) on the amylolytic bacterial activity index. Increasing the percentage of fermented sweet potato leaf flour substitution tends to increase the proportion and activity index of amylolytic bacteria, with the highest value at 75% fermented sweet potato leaf flour substitution. These findings suggest that the use of fermented sweet potato leaf flour in feed has the potential to increase the activity of amylolytic bacteria, which play a role in carbohydrate digestion and nutrient utilization in Nilem fish farming.
4676350167J1C020010Maskulinitas Karakter Sagiri dalam Manga JigokurakuPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis proses rekonstruksi maskulinitas karakter Sagiri dalam manga Jigokuraku karya Yuji Kaku melalui perspektif maskulinitas hegemonik Connell dan nilai-nilai bushido Inazo Nitobe. Data penelitian berupa potongan dialog dan adegan-adegan dari manga Jigokuraku volume 1, 2, 5, dan 13, yang diperoleh melalui teknik observasi dan kajian pustaka, yang kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan konsep maskulinitas hegemonik Connel (2005) dan nilai-nilai bushido Inazo Nitobe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Sagiri merekonstruksi bentuk maskulinitasnya melalui proses internalisasi nilai-nilai bushido serta negosiasi terhadap konsep maskulinitas hegemonik Connell (2005) yang umumnya identik dengan kekerasan dan dominasi, menjadi maskulinitas alternatif yang menekankan integritas moral, empati, dan keberanian. Dengan demikian, meskipun Sagiri seorang wanita, ia tetap dapat merepresentasikan bentuk maskulinitas alternatif yang lebih cair dan reflektif sehingga memperoleh legitimasi sosial dan budaya, serta membuka ruang bagi wanita untuk menjadi subjek aktif dalam struktur gender yang dominan, melalui strategi rekonstruksi nilai-nilai tradisional.This research is a descriptive qualitative study that aims to analyze the process of reconstructing masculinity in the character Sagiri from Yuji Kaku’s manga Jigokuraku through the perspective of Connell’s hegemonic masculinity and Inazo Nitobe’s Bushido values. The research data consist of dialogues and scenes from volumes 1, 2, 5, and 13 of Jigokuraku, obtained through observation and literature review, and analyzed using a descriptive qualitative approach based on Connell’s (2005) concept of hegemonic masculinity and Nitobe’s Bushido values. The results show that Sagiri reconstructs her form of masculinity through the internalization of Bushido values and negotiation with Connell’s (2005) concept of hegemonic masculinity, which is generally associated with violence and domination, into an alternative masculinity that emphasizes moral integrity, empathy, and courage. Thus, although Sagiri is a woman, she can represent an alternative form of masculinity that is more fluid and reflective, thereby gaining social and cultural legitimacy while opening space for women to become active subjects within dominant gender structures through the strategy of reconstructing traditional values.
4676450079F1F021006Upaya Resistensi Konstruktif Filipina terhadap Klaim Sepihak Cina Melalui Aksi-Aksi Simbolik di Laut Cina Selatan (2016-2024) Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi resistensi konstruktif yang dijalankan oleh Filipina terhadap klaim sepihak Republik Rakyat Cina di Laut Cina Selatan, dengan fokus khusus pada periode 2016–2024. Berangkat dari ketidakseimbangan kekuatan antara kedua negara, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Filipina menghindari jalur konfrontatif dan justru menempuh serangkaian tindakan hukum, simbolik, dan institusional yang bersifat kumulatif untuk memperkuat klaim kedaulatannya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis wacana politik dan kerangka teori resistensi konstruktif (constructive resistance). Hasil temuan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan seperti penerbitan peta administrasi nasional, pengesahan legislasi maritim, protes diplomatik berulang, serta penguatan aliansi normatif berhasil menegaskan legitimasi Filipina di panggung internasional. Resistensi ini tidak hanya bersifat simbolik, namun telah membentuk arsitektur hukum dan narasi tandingan yang semakin diakui oleh komunitas global, sekaligus membatasi ruang gerak diplomatik Cina. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi non-konfrontatif yang dijalankan secara konsisten dan terstruktur memiliki kapasitas untuk menciptakan dampak geopolitik yang signifikan tanpa eskalasi militer.This study analyzes the constructive resistance strategy employed by the Philippines against the unilateral maritime claims of the People’s Republic of China in the South China Sea during the period 2016–2024. Given the asymmetry of power between the two countries, the research explores how the Philippines refrained from direct confrontation and instead pursued a series of legal, symbolic, and institutional measures to reinforce its sovereign claims. Using a qualitative approach with political discourse analysis and the theoretical framework of constructive resistance, the study finds that actions such as the issuance of a national administrative map, the enactment of maritime legislation, repeated diplomatic protests, and the strengthening of normative alliances have significantly bolstered the Philippines' legitimacy on the global stage. This form of resistance, though non-confrontational, has gradually contributed to the establishment of a legal architecture and counter-narrative that increasingly constrains China’s diplomatic maneuverability. The study concludes that a consistent and structured non-confrontational approach can generate substantial geopolitical impact without triggering military escalation.
4676550164F1C021033PERAN CREATIVE DIRECTOR PADA KAMPANYE
KEHUMASAN “REMAJA BANYUMAS SEHAT DIABETES
MINGGAT”
Peningkatan kasus Diabetes Melitus (DM) di Kabupaten Banyumas,
termasuk di kalangan remaja, menjadi persoalan kesehatan yang
perlu segera ditangani melalui pendekatan preventif yang
menyeluruh. Tugas Akhir Penciptaan Karya ini disusun oleh
mahasiswa Peminatan Public Relations, Program Studi Ilmu
Komunikasi, Universitas Jenderal Soedirman, dengan tujuan
merancang serta melaksanakan kampanye kehumasan bertajuk
"Remaja Banyumas Sehat, Diabetes Minggat". Kampanye ini
ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja
Banyumas mengenai DM serta pentingnya menerapkan pola hidup
sehat sejak dini. Pelaksanaan kampanye menggunakan metode
hybrid secara luring dan daring. Kampanye daring dilakukan dengan
media sosial Instagram @healthyyouth.bms yang berisikan konten
edukatif dengan engagement rate sebesar 24,97% dinilai
menggunakan tools Social Blade. Kampanye luring dilakukan melalui
penyelenggaraan seminar kesehatan dan pemeriksaan gula darah
gratis di SMAN 2 Purwokerto dengan hasil menunjukkan adanya
peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, yang terlihat dari
rata-rata skor Pre Test sebesar 6,4 menjadi 8,2 pada Post Test,
dengan 65,4% partisipan menunjukkan peningkatan pengetahuan.
Kegiatan luring berhasil melibatkan siswa perwakilan dari 12 SMA
dan menyaring gula darah 99 siswa. Keberhasilan kampanye turut
didukung oleh kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyumas dan eksposur di dua media massa. Peran seorang
creative director dalam kampanye ini sangat penting untuk
menerjemahkan tujuan kampanye menjadi konsep kreatif yang
menarik dan konsisten. Creative director bertanggung jawab
mengarahkan aspek visual dan narasi, mulai dari penciptaan nama
kampanye yang catchy "Remaja Banyumas Sehat, Diabetes
Minggat", pengembangan desain konten edukatif di Instagram,
hingga materi promosi untuk seminar agar semua elemen selaras
dan efektif dalam berkomunikasi dengan target audiens remaja.
The rising cases of Diabetes Mellitus (DM) in Banyumas Regency,
including among teenagers, have become a health issue that
requires immediate attention through a comprehensive preventive
approach. This Final Creative Project was developed by students
from the Public Relations specialization of the Communication
Science Study Program at Jenderal Soedirman University, with the
aim of designing and implementing a public relations campaign titled
" Remaja Banyumas Sehat, Diabetes Minggat." This campaign is
intended to increase the knowledge and awareness of teenagers in
Banyumas regarding DM and the importance of adopting a healthy
lifestyle from an early age. The campaign was implemented using a
hybrid method, combining offline and online activities. The online
campaign was conducted on the social media platform Instagram via
the account @healthyyouth.bms, which featured educational content
and achieved an engagement rate of 24.97%, as measured by the
Social Buzz tool. The offline campaign was carried out through a
health seminar and free blood sugar screenings at SMAN 2
Purwokerto. The results showed a significant increase in participants'
understanding, as the average score rose from 6.4 on the Pre-Test
to 8.2 on the Post-Test, with 65.4% of participants demonstrating
improved knowledge. The offline event successfully involved student
representatives from 12 high schools and screened 99 students for
blood sugar. The campaign's success was also supported by
collaboration with the Banyumas Regency Health Office and
exposure in two mass media outlets. The role of a creative director
in this campaign was crucial for translating the campaign's objectives
into an engaging and consistent creative concept. The creative
director was responsible for directing the visual and narrative
aspects, from creating the catchy campaign name "Remaja
Banyumas Sehat, Diabetes Minggat", to developing the design of
educational content on Instagram and promotional materials for the
seminar, ensuring all elements were aligned and effective in
communicating with the teenage target audience.
4676650160F1F021032#KpopersPorBoric: Contentious Politics dalam Aktivisme Penggemar K-Pop di Cile pada Pemilihan Umum Cile 2021
Dalam beberapa tahun terakhir, penggemar K-Pop atau yang lebih dikenal sebagai K-Popers tidak hanya terlibat dalam aktivitas hiburan dan budaya populer, tetapi juga menunjukkan keterlibatan aktif dalam berbagai bentuk aktivisme sosial dan politik. Penelitian ini mengkaji bagaimana perkembangan komunitas K-Popers di Cile kini bertransformasi menjadi kelompok yang lebih kompleks dan memiliki tujuan politis. K-Popers di Cile membentuk identitas baru dengan nama kpopersporboric demi wujudkan tujuan politisnya. Tujuan utama dari kpopersporboric adalah mendorong perubahan sosial dan politik di Cile melalui dukungan terhadap Gabriel Boric yang dinilai merupakan kandidat yang progresif, serta melawan ketidaksetaraan dan konservatisme ekstrem yang muncul dalam lanskap politik Cile. Untuk melihat strategi yang dilakukan kpopersporboric untuk mencapai tujuannya, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik terhadap konten-konten yang dipublikasikan oleh akun X @kpopersporboric. Melalui analisis ini, peneliti mengkaji jenis-jenis pesan yang disampaikan, strategi komunikasi yang digunakan, serta nilai-nilai politis yang diangkat oleh komunitas tersebut.
In recent years, fans of K-Pop, commonly known as K-Popers, have not only engaged in entertainment and popular culture activities but have also demonstrated active involvement in various forms of social and political activism. This study examines how the K-Popers community in Chile has transformed into a more complex group with explicit political goals. Chilean K-Popers have formed a new identity under the name kpopersporboric as a means of advancing their political objectives. The primary aim of kpopersporboric is to promote social and political change in Chile by supporting Gabriel Boric, a candidate considered to represent progressive values, as well as to oppose inequality and the rise of extreme conservatism in the Chilean political landscape. To explore the strategies employed by kpopersporboric in achieving these goals, this study adopts a qualitative approach using thematic analysis of content published by the X account @kpopersporboric. Through this analysis, the research investigates the types of messages conveyed, the communication strategies utilized, and the political values promoted by the community.
4676750170C2C023053Taking Charge Behavior sebagai Respon terhadap Kepemimpinan Paternalistik: Prespektif Dimensi Authotarian, Benevolent dan Morality dengan mediasi Psychological Capital Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh paternalistic leadership (authoritarian, benevolent, dan moral) terhadap taking charge behavior dengan mempertimbangkan peran mediasi psychological capital. Data diperoleh melalui survei terhadap 127 pegawai Kementerian Agama dan KUA di Kabupaten Pemalang dan dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan authoritarian leadership berpengaruh negatif signifikan, sementara moral leadership berpengaruh positif signifikan terhadap taking charge behavior. Benevolent leadership tidak berpengaruh langsung, namun psychological capital terbukti memediasi hubungan ketiga dimensi kepemimpinan dengan taking charge behavior. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan dapat memengaruhi perilaku proaktif pegawai melalui kondisi psikologis internal. Secara praktis, organisasi perlu memperkuat psychological capital melalui program pengembangan yang membangun kepercayaan diri, optimisme, harapan, dan resiliensi, sehingga tercipta lingkungan kerja yang mendorong perubahan dan keterlibatan aktif di sektor publik.This study aims to examine the effect of paternalistic leadership (authoritarian, benevolent, and moral) on taking charge behavior, with psychological capital as a mediating variable. Data were collected through a survey of 127 employees of the Ministry of Religious Affairs and local Religious Affairs Offices (KUA) in Pemalang Regency and analyzed using SEM-PLS. The results reveal that authoritarian leadership has a significant negative effect, while moral leadership has a significant positive effect on taking charge behavior. Benevolent leadership shows no direct effect; however, psychological capital is proven to mediate the relationships between all three leadership dimensions and taking charge behavior. These findings highlight that leadership influences employees’ proactive behavior through their internal psychological states. Practically, organizations should strengthen psychological capital by implementing development programs that foster self-efficacy, optimism, hope, and resilience, thereby creating a work environment that encourages change and active engagement in the public sector.
4676850171C2C023017PERAN EMOTIONAL INTELLIGENCE DALAM MEMODERASI PENGARUH WORKPLACE
OSTRACISM TERHADAP COUNTERPRODUCTIVE WORK BEHAVIOR MELALUI EMOTIONAL
EXHAUSTION
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh workplace ostracism terhadap Counterproductive Work Behavior (CWB) dengan mempertimbangkan emotional exhaustion sebagai variabel mediasi dan emotional intelligence (EI) sebagai variabel moderasi. Studi ini dilakukan pada karyawan Koperasi Multi Pihak di
Indonesia, yang memiliki struktur sosial kolektif dan kompleksitas interaksi antaranggota yang tinggi. Menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM-PLS), data dikumpulkan dari 122 responden melalui kuesioner yang telah divalidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa workplace ostracism berpengaruh positif dan signifikan terhadap emotional exhaustion dan Counterproductive
Work Behavior. Emotional exhaustion juga terbukti secara signifikan memediasi hubungan antara workplace ostracism dan CWB. Namun, peran moderasi emotional intelligence tidak terbukti signifikan, yang mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional tidak mampu meredam pengaruh negatif pengucilan sosial terhadap perilaku kerja negatif dalam konteks ini. Implikasi praktis dari temuan ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, menyediakan dukungan emosional, serta mencegah praktik ostracism di dalam organisasi koperatif.
This study aims to analyze the effect of workplace ostracism on Counterproductive Work Behavior (CWB), considering emotional exhaustion as a mediating variable and emotional intelligence (EI) as a moderating variable. The study was conducted on employees of Multi-Stakeholder Cooperatives in Indonesia, which have a collective social structure and high complexity of member interactions. Using a quantitative method and a Structural Equation Modeling approach (SEM-PLS), data were collected from 122 respondents through validated questionnaires. The findings indicate that workplace ostracism has a positive and significant effect on emotional exhaustion and Counterproductive Work Behavior. Emotional exhaustion was also found to significantly mediate the relationship between workplace ostracism and CWB. However, the moderating role of emotional intelligence was not proven significant, suggesting that emotional intelligence is not sufficient to buffer the negative impact of social exclusion on negative work behaviors in this context. The practical implications of these findings emphasize the importance of creating an inclusive work environment, providing emotional support, and preventing ostracism practices within cooperative organizations.
4676950173A1D021172PERTAMBAHAN TINGGI PLANLET ANGGREK Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale TAHAP AKLIMATISASI PADA BERBAGAI KONSENTRASI VITAMIN B1 DAN PUPUK DAUNAnggrek merupakan tanaman hias yang termasuk ke dalam famili Orchidaceae yang menarik perhatian konsumen. Potensi ekonomi anggrek sebagai salah satu komoditas hortikultura telah dimanfaatkan dan dikembangkan oleh banyak negara termasuk Indonesia. Meningkatnya permintaan anggrek tidak sebanding dengan produksinya yang semakin tahun semakin menurun. Perbanyakan melalui metode kultur in vitro dilakukan untuk peningkatan kuantitas seperti jumlah anakan dapat diperbanyak dalam waktu yang relatif lebih singkat. Aklimatisasi anggrek merupakan tahap akhir dari kultur jaringan yang bertujuan untuk mengkondisikan bibit terhadap lingkungan yang sebelumnya hidup secara in vitro agar selanjutnya dapat hidup di lingkungan luar. Vitamin B1 merupakan vitamin yang esensial untuk hampir semua kultur in vitro dan dapat digunakan sebagai zat anti stress pada tanaman akibat dari perpindahan tanaman ke media tanam yang baru. Pemberian pupuk daun pada tanaman memberikan nutrisi untuk tanaman dengan cepat dan dapat diserap untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi vitamin B1 dan pupuk daun yang paling sesuai untuk pertambahan tinggi anggrek Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale tahap aklimatisasi serta mendapatkan kombinasi perlakuan yang paling sesuai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan pemberian vitamin B1 (V) yang terdiri atas 4 taraf, sebagai berikut: V0 = 0 ml/l; V1 =1,5 ml/l; V2 = 3 ml/l; dan V3 = 4,5 ml/l. Faktor kedua yaitu perlakuan pupuk daun (P). Konsentrasi pupuk daun yang digunakan terdiri atas: P0 = 0 g/l; P1 = 2 g/l; dan P2 = 4 g/l. Berdasarkan kedua faktor tersebut, didapat kombinasi perlakuan sebanyak 12 unit perlakuan dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa pemberian konsentrasi vitamin B1 yang optimal untuk pertambahan tinggi planlet anggrek Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale tahap aklimatisasi adalah konsentrasi 3 ml/l yang menunjukkan pertambahan tinggi tanaman sebesar 3,38 cm, namun belum memberikan pengaruh signifikan. Pemberian pupuk daun yang optimal untuk pertumbuhan tinggi planlet anggrek Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale tahap aklimatisasi yaitu konsentrasi 2 g/l memberikan pengaruh yang signifikan pada tinggi tanaman sebesar 3,65 cm. Kombinasi perlakuan yang optimal untuk pertumbuhan tinggi planlet anggrek Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale tahap aklimatisasi yaitu Vitamin B1 1,5 ml/l dengan pupuk daun 2 g/l.Orchids are ornamental plants belonging to the Orchidaceae family that attract consumer attention. The economic potential of orchids as a horticultural commodity has been utilized and developed by many countries, including Indonesia. The increasing demand for orchids is not matched by production, which has been declining year after year. Propagation through in vitro culture methods is carried out to increase quantity, such as the number of seedlings, which can be multiplied in a relatively shorter time. Orchid acclimatization is the final stage of tissue culture aimed at conditioning the seedlings to the environment they previously lived in in vitro so that they can subsequently thrive in an external environment. Vitamin B1 is an essential vitamin for almost all in vitro cultures and can be used as an anti-stress agent for plants due to the transfer of plants to a new growing medium. Leaf fertilizer application provides nutrients to plants quickly and can be absorbed for plant growth and development. The research aims to determine the most suitable concentration of vitamin B1 and foliar fertilizer for the height growth of Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale orchids during the acclimatization stage, as well as to determine the most suitable combination of treatments. This research used a factorial randomized block design consisting of two factors. The first factor is the application of vitamin B1 (V), which consists of four levels: V0 = 0 ml/l; V1 = 1.5 ml/l; V2 = 3 ml/l; and V3 = 4.5 ml/l. The second factor is the application of foliar fertilizer (P). The leaf fertilizer concentrations used were: P0 = 0 g/l; P1 = 2 g/l; and P2 = 4 g/l. Based on these two factors, 12 units of treatment were obtained with 3 replications. The results of the research indicate that the optimal concentration of vitamin B1 for the height increase of Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale orchid planlets during the acclimatization stage is 3 ml/l, which shows a plant height increase of 3.38 cm, but does not yet have a significant effect. The optimal application of foliar fertilizer for the height growth of Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale orchid planlets during the acclimatization stage was a concentration of 2 g/l, which had a significant effect on plant height, increasing it by 3.65 cm. The optimal treatment combination for the height growth of Dendrobium stratiotes x Dendrobium lineale orchid planlets during the acclimatization stage is Vitamin B1 at 1.5 ml/l combined with foliar fertilizer at 2 g/l.
4677050182F1B021082PENGARUH KEPEMIMPINAN - MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI
DI PERUMDAM TIRTA SATRIA
KABUPATEN BANYUMAS
Kinerja pegawai berperan penting dalam menentukan kemampuan organisasi publik memberikan layanan optimal. Penelitian ini dilakukan di Perumdam Tirta Satria Kabupaten Banyumas yang menghadapi masalah keterlambatan, ketidakhadiran, rendahnya kualitas kerja, motivasi kurang, dan kepemimpinan yang belum sepenuhnya mengatasi kendala tersebut. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Pegawai, baik parsial maupun simultan. Metode kuantitatif digunakan dengan data dari kuesioner, observasi, dan wawancara. Analisis menggunakan SPSS 29 dengan korelasi Kendall’s τb, koefisien konkordansi Kendall W, dan regresi ordinal. Hasil menunjukkan Kepemimpinan berpengaruh signifikan (Chi-Square = 119,564; sig. 0,001), sedangkan Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja tidak. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh substansial (Chi-Square = 121,447; sig. 0,001). Disimpulkan perlunya kepemimpinan partisipatif, penghargaan prestasi, dan lingkungan kerja yang mendukung.Employee performance plays an important role in determining the ability of public organizations to provide optimal services. This research was conducted at Perumdam Tirta Satria, Banyumas Regency, which faces problems of delays, absenteeism, low work quality, lack of motivation, and leadership that has not fully overcome these obstacles. The purpose of this research is to analyze the influence of Leadership, Work Motivation, and Work Environment on Employee Performance, both partially and simultaneously. Quantitative methods were used with data from questionnaires, observations, and interviews. Analysis used SPSS 29 with Kendall's τb correlation, Kendall W concordance coefficient, and ordinal regression. The results showed that Leadership had a significant effect (Chi-Square = 119.564; sig. 0.001), while Work Motivation and Work Environment did not. Simultaneously, the three variables had a substantial effect (Chi-Square = 121.447; sig. 0.001). It was concluded that participative leadership, achievement awards, and a supportive work environment were needed.
4677150169A1C021075UJI KINERJA DAN OPTIMASI DESAIN ALAT PEMASAK MI SHIRATAKI PADA LINI PENGOLAHAN UMBI PORANG (Amorphohallus muelleri blume) Prototipe alat pemasak mi shirataki yang digunakan di Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN masih belum mampu mencapai waktu pemasakan yang optimal. Laju aliran air yang terlalu tinggi menyebabkan waktu kontak antara mi dan air panas (waktu tinggal) menjadi singkat, sehingga mi tidak matang sempurna dan kadar air melebihi standar mutu. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menguji kinerja prototipe alat pemasak mi shirataki PRTTG-BRIN; dan 2) Melakukan optimasi desain prototipe untuk pengembangan alat selanjutnya dengan fokus pada perbaikan waktu pemasakan. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan melalui dua tahap, yaitu uji kinerja prototipe dan optimasi desain. Uji kinerja dilakukan pengambilan data aktual: 1) laju aliran air, 2) waktu tinggal, 3) kadar air, 4) elongasi, 5) pH air, 6) konsumsi energi, dan 7) kapasitas produksi. Optimasi desain meliputi: 1) analisis data, 2) perencanaan desain, 3) pembuatan sketsa, pemilihan material, pemodelan prototipe, serta simulasi menggunakan perangkat 4) lunak solidworks yang mencakup flow simulation, analisis tegangan, dan safety factor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe awal memiliki laju aliran rata-rata 0,03855 m/s dengan waktu tinggal 52,8 detik, jauh di bawah target waktu 5 menit. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penggunaan pipa belok sepanjang 12.071 mm menghasilkan laju aliran 0,030 m/s dengan waktu tinggal 402,4 detik, mendekati target yang diinginkan. Simulasi tegangan pada lima alternatif desain rangka menunjukkan bahwa rangka berukuran 2150 x 632 x 472 mm dengan material hollow stainless steel 316 profil 40 x 60 mm memiliki kinerja struktur yang baik, selaras dengan dimensi bak pemasak, serta faktor keamanan di atas 2. Desain ini dinilai mampu meningkatkan kinerja alat, menjamin kekuatan struktur, dan mendukung proses pemasakan mi shirataki secara lebih optimal.
The prototype of the shirataki noodle cooking machine used at the Center for Appropriate Technology Research (PRTTG) BRIN has not yet achieved the optimal cooking time. The excessively high water flow rate reduces the contact time between the noodles and hot water (residence time), resulting in undercooked noodles and moisture content exceeding quality standards. This study aims to: (1) evaluate the performance of the PRTTG-BRIN shirataki noodle cooking prototype; and (2) optimize the prototype design for future development, focusing on improving cooking time. The research was conducted over six months in two stages: performance testing and design optimization. The performance test involved collecting actual data on: (1) water flow rate, (2) residence time, (3) moisture content, (4) elongation, (5) water pH, (6) energy consumption, and (7) production capacity. The design optimization stage included: (1) data analysis, (2) design planning, (3) sketching, (4) material selection, (5) prototype modeling, and (6) simulation using SolidWorks software, which covered flow simulation, stress analysis, and safety factor assessment.
The results showed that the initial prototype had an average water flow rate of 0.03855 m/s with a residence time of 52.8 seconds, far below the target of 5 minutes. Simulation results indicated that using a bent pipe with a length of 12,071 mm produced a water flow rate of 0.030 m/s and a residence time of 402.4 seconds, approaching the desired target. Stress analysis on five alternative frame designs revealed that a frame measuring 2150 × 632 × 472 mm, made of hollow stainless steel 316 with a 40 × 60 mm profile, provided good structural performance, matched the dimensions of the cooking tank, and had a safety factor above 2. This design is considered capable of enhancing the machine’s performance, ensuring structural integrity, and supporting the shirataki noodle cooking process more effectively.
4677250168F1C021066PERAN ACTIVATION CAMPAIGN PADA KAMPANYE KEHUMASAN
“REMAJA BANYUMAS SEHAT DIABETES MINGGAT”
Kampanye kehumasan "Remaja Banyumas Sehat, Diabetes
Minggat" dilatarbelakangi oleh meningkatnya prevalensi diabetes
tipe 2 pada usia remaja di wilayah Banyumas, yang sering kali
diakibatkan oleh gaya hidup tidak sehat. Penyakit ini secara
tradisional diasosiasikan dengan populasi dewasa, namun pola
konsumsi makanan tinggi gula dan kurangnya aktivitas fisik di
kalangan remaja telah menjadikannya ancaman serius. Menanggapi
isu ini, diperlukan pendekatan komunikasi yang efektif dan persuasif
untuk mengubah perilaku target audiens. Oleh karena itu, tugas akhir
penciptaan karya ini berfokus pada peran strategis activation
campaign sebagai metode utama untuk mencapai tujuan kampanye.
Peran activation campaign dalam meningkatkan kesadaran,
pengetahuan, dan perubahan perilaku pada remaja Banyumas
terkait pencegahan diabetes. Activation campaign dipilih sebagai
metode karena pendekatan interaktif dan partisipatifnya yang
mampu menarik perhatian audiens remaja.
Hasil dari pelaksanaan activation campaign ini menunjukkan bahwa
aktivasi berupa seminar di SMAN 2 Purwokerto. Melalui kegiatan
brainstorming, koordinasi dengan Dinas Kesehatan Banyumas,
hingga persiapan teknis, kampanye mampu menyampaikan pesan
kunci secara langsung dan interaktif. Keterlibatan langsung
narasumber, sponsor, dan audiens menciptakan pengalaman yang
lebih personal dan mendalam, sehingga pesan kampanye lebih
mudah diterima dan diingat. Aktivitas ini berhasil menarik minat dan
partisipasi aktif dari audiens, yang terlihat dari sesi tanya jawab dan
feedback positif. Kesimpulan dari tugas akhir ini adalah bahwa activation campaign
memainkan peran krusial dalam keberhasilan kampanye kehumasan
"Remaja Banyumas Sehat, Diabetes Minggat." Pendekatan ini tidak
hanya berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan informasi,
tetapi juga sebagai penggerak untuk membangun interaksi dua arah dan
mendorong partisipasi aktif.
The public relations campaign "Healthy Banyumas Teens, Diabetes
Away" was motivated by the increasing prevalence of type 2 diabetes
among adolescents in the Banyumas region, often caused by
unhealthy lifestyles. While this disease is traditionally associated with
adults, high-sugar diets and lack of physical activity among
adolescents have made it a serious threat. Addressing this issue
requires an effective and persuasive communication approach to
change the behavior of the target audience. Therefore, this final
project focuses on the strategic role of an activation campaign as the
primary method for achieving the campaign's objectives. The
activation campaign's role in increasing awareness, knowledge, and
behavioral change among Banyumas adolescents regarding
diabetes prevention. An activation campaign was chosen as the
method due to its interactive and participatory approach, which is
effective in engaging the adolescent audience.
The results of this activation campaign demonstrated that the
activation took the form of a seminar at SMAN 2 Purwokerto. Through
brainstorming, coordination with the Banyumas Health Office, and
technical preparation, the campaign successfully delivered key
messages directly and interactively. The direct involvement of
speakers, sponsors, and audiences created a more personal and
immersive experience, making the campaign message more easily
accepted and remembered. This activity successfully attracted
interest and active participation from the audience, as evidenced by
the question-and-answer session and positive feedback.
The conclusion of this final project is that the activation campaign
played a crucial role in the success of the public relations campaign
"Healthy Banyumas Teens, Diabetes Away." This approach served
not only as a tool for disseminating information but also as a catalyst
for building two-way interaction and encouraging active participation.
4677350181A1D021103Potensi Daun Sirih sebagai Moluskisida Nabati untuk Mengendalikan Keong Mas (Pomacea Canaliculata) pada Tanaman Padi (Oryza Sativa)Keong mas (Pomacea canaliculata) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama ini berdampak negatif terhadap lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun sirih terhadap mortalitas keong mas, mengetahui konsentrasi efektif ekstrak daun sirih terhadap keong mas, mengetahui efektivitas ekstrak daun sirih dalam menekan kerusakan tanaman padi akibat keong mas, serta mengetahui fitotoksisitas ekstrak daun sirih terhadap tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dengan empat tahap pengujian, yaitu uji potensi ekstrak daun sirih terhadap mortalitas keong mas, uji ekstrak daun sirih terhadap mortalitas keong mas, uji kemampuan ekstrak daun sirih untuk menekan intensitas serangan keong mas, dan uji fitotoksisitas ekstrak daun sirih pada tanaman padi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan beberapa perlakuan konsentrasi ekstrak daun sirih. Parameter yang diamati meliputi mortalitas keong mas, intensitas serangan keong mas terhadap tanaman padi, serta gejala fitotoksisitas pada tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mampu menyebabkan mortalitas pada keong mas. Ekstrak daun sirih 44,05% merupakan konsentrasi efektif yang mampu menyebabkan mortalitas sebesar 75% pada keong mas. Ekstrak daun sirih konsentrasi 18,95%, 30,74%, dan 43,39% mampu menekan intensitas serangan keong mas hingga 100%, dan setara dengan pestisida kimia. Ekstrak daun sirih tidak menyebabkan fitotoksik pada tanaman padi.Golden apple snail (Pomacea canaliculata) is one of the major pests of rice crops. The use of chemical pesticides to control this pest has negative impacts on the environment, thus necessitating environmentally friendly alternatives. This study aimed to determine the potential of betel leaf (Piper betle) extract on the mortality of golden apple snails, identify the effective concentration of the extract, evaluate its effectiveness in suppressing rice plant damage caused by the pest, and assess the phytotoxic of the extract on rice plants. The research was conducted in a screen house at the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, using four stages of testing: preliminary test of betel leaf extract on snail mortality, test on snail mortality using varying extract concentrations, test on the extract's ability to suppress snail attack intensity, and phytotoxicity test on rice plants. The experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with several concentration treatments of betel leaf extract. The observed parameters included snail mortality, intensity of snail attack on rice plants, and phytotoxic symptoms on rice. The results showed that betel leaf extract was able to caused mortality in golden apple snails. The extract at 44.05% was identified as the effective concentration, causing 75% mortality. Applications at 18.95%, 30.74%, and 43.39% were able to suppress snail attack intensity by up to 100%, and comparable to that of chemical pesticides. Betel leaf extract did not cause phytotoxic effects on rice plants.
4677450183L1B021067Kelimpahan dan Tipe Bakteri pada Usus Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara pada Sistem Akuaponik dengan Padat Tebar yang BerbedaBudidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam sistem akuaponik semakin berkembang sebagai solusi budidaya yang ramah lingkungan. Padat tebar ikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan dan produktivitas ikan, termasuk komposisi bakteri usus yang berperan penting dalam pencernaan dan kekebalan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap kelimpahan dan tipe bakteri usus ikan nila yang dipelihara pada sistem akuaponik. Dua perlakuan padat tebar yang digunakan yaitu 30 dan 50 ikan/m3 diterapkan pada dua kolam tanah tertutup yang dilengkapi sistem resirkulasi akuaponik. Pengambilan sampel dilakukan setelah periode pemeliharaan 40 hari untuk mengukur jumlah total bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC) dan mengidentifikasi tipe bakteri berdasarkan morfologi koloni serta sifat Gram. Analisis statistik menggunakan Uji-T dilakukan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bakteri antara dua perlakuan. Hasil menunjukkan kelimpahan bakteri usus pada padat tebar 30 ikan/m3 lebih rendah dibandingkan padat tebar 50 ikan/m3, dengan perbedaan signifikan (P < 0,05). Hasil pengamatan tipe bakteri berdasarkan morfologi koloni dan sifat Gram pada padat tebar 30 ikan/m3 menunjukkan keragaman dengan 6 tipe bakteri, sedangkan pada padat tebar 50 ikan/m3 didapat hasil yang lebih seragam dengan 5 tipe bakteri. Pada hasil uji Gram seluruh isolat bakteri yang didapat bersifat Gram negatif.Tilapia (Oreochromis niloticus) cultivation in aquaponic system is increasingly recognized as an environmentally friendly aquaculture system. Stocking density is a key factor affecting fish health and productivity, including the composition of intestinal bacteria that play vital roles in digestion and immunity. This research aimed to investigate the affect of different stocking densities on the abundance and types of intestinal bacteria in tilapia reared in an aquaponic system. Two stocking densities, 30 and 50 fish/m3 were applied in closed earthen ponds equipped with aquaponic recirculation systems. Sampling was conducted after a 40-day rearing period to measure total bacterial counts using the Total Plate Count (TPC) method and identify bacterial types based on colony morphology and Gram properties. Statistical analysis using a T-Test was performed to compare bacterial abundance between treatments. Results showed that bacterial abundance in intestines of fish stocked at 30 fish/m3 was significantly lower than those stocked at 50 fish/m3 (P < 0,05). The observation of bacterial types based on colony morphology and Gram properties at 30 fish/m3 showed diversity with 6 bacterial types, whereas at 50 fish/m3 a more uniform result was obtained with 5 bacterial types. Gram properties indicated all bacterial isolates were Gram negative.
4677550172F1F019020Evaluasi Implementasi Prinsip UNWTO dalam Strategi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Pemulihan Pariwisata Internasional Selama Pandemi COVID-19 Penelitian ini membahas dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta serta strategi pemulihan yang ditempuh oleh pemerintah daerah. Pandemi menyebabkan penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, yang berdampak pada keberlangsungan usaha pariwisata, penurunan pendapatan masyarakat, serta gangguan pada aspek sosial dan ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data diperoleh melalui studi literatur, dokumen resmi, serta data statistik dari Dinas Pariwisata. Analisis dilakukan dengan pendekatan SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sektor pariwisata selama pandemi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pandemi membawa dampak negatif signifikan, pemerintah daerah menerapkan sejumlah strategi pemulihan, antara lain penerapan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability), program promosi pariwisata seperti Jogjavaganza, serta revitalisasi destinasi wisata berbasis keberlanjutan. Strategi tersebut sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan menurut UNWTO, khususnya pada aspek keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan daya saing destinasi
This research examines the impact of the Covid-19 pandemic on the tourism sector in the Special Region of Yogyakarta and the recovery strategies implemented by the local government. The pandemic caused a drastic decline in international and domestic tourist arrivals, which disrupted tourism businesses, reduced community income, and affected social and economic aspects. This study employs a descriptive qualitative method, with data collected through literature review, official documents, and statistical reports from the Yogyakarta Tourism Office. The analysis applies a SWOT framework to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of the tourism sector during the pandemic. The findings reveal that despite the severe negative impacts, the local government adopted several recovery strategies, including the implementation of CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) protocols, tourism promotion programs such as Jogjavaganza, and the revitalization of sustainable tourism destinations. These strategies are aligned with UNWTO principles of sustainable tourism, particularly in terms of environmental sustainability, community empowerment, and enhancing destination competitiveness.

4677650174H1B020053IDENTIFIKASI FAKTOR STRATEGIS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENAWAR PROYEK OLEH KONTRAKTOR KECIL MELALUI E-PROCUREMENTVariasi paket pekerjaan di dalam e-procurement menjadi pilihan bagi kontraktor untuk mengikuti lelang atau pengadaan yang tersedia. Namun seiring dengan banyaknya variasi paket pekerjaan dan juga semakin meningkatnya tingkat persaingan yang ada, hal tersebut mengakibatkan tidak semua paket pekerjaan menjadi menarik bagi kontraktor. Perbedaan ketertarikan kontraktor menyebabkan perbedaan strategi bagi tiap-tiap kontraktor, terutama strategi dalam memberikan penawaran terhadap proyek konstruksi. Maka dari itu, dalam mengikuti e-procurement diperlukan pertimbangan yang dapat mendorong kontraktor kecil untuk dapat memberikan keputusan menawar atau tidak menewar. Penelitian ini berfokus pada mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kontraktor dalam pengambilan keputusan untuk menawar atau tidak menawar dalam mengikuti e-procurement. Selain itu, penelitian ini juga Membuat peringkat pengaruh tiap-tiap faktor terhadap pengambilan keputusan menawar atau tidak menawar oleh kontraktor kecil dalam mengikuti e-procurement termasuk menganalisis faktor yang paling dominan di antara faktor-faktor tersebut. Melalui kuesioner sebagai alat pengumpulan data, penelitian ini melibatkan 35 responden yang merupakan kontraktor kecil yang berasal dari wilayah eks-Karesidenan Banyumas (Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap). Analisis menggunakan metode RII. Hasil penelitian menunjukkan analisis RII (Relative Importance Index) memberikan peringkat terhadap besaran pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap keputusan penawaran. Dari penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa sertifikasi tenaga ahli, ukuran proyek, riwayat pembayaran klien di proyek sebelumnya, keuntungan proyek, dan reputasi klien menjadi faktor-faktor yang paling dominan dalam memberikan pengaruh terhadap keputusan menawar atau tidak menawar.The variation of work packages in e-procurement provides contractors with options to participate in available tenders or procurements. However, as the number of work package variations increases along with the growing level of competition, not all work packages become attractive to contractors. Differences in contractor interest lead to different strategies for each contractor, especially strategies in submitting bids for construction projects. Therefore, in participating in e-procurement, it is necessary to consider factors that can encourage small contractors to make a decision whether to bid or not to bid. This study specifically focuses on identifying the factors that influence contractors in making the decision to bid or not to bid in e-procurement. In addition, this study also ranks the influence of each factor on the decision-making process of small contractors to bid or not to bid in e-procurement, including an analysis of the most dominant factor among them. Using questionnaires as a data collection tool, the study involved 35 respondents who are small contractors from the former Banyumas Residency area (Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, and Cilacap Regencies). The questionnaire data was analyzed using RII method. The results show The Relative Importance Index (RII) analysis provided a ranking of the degree of influence each factor had on the bidding decision. From this study, it was found that expert certification, project size, the client's payment history on previous projects, project profitability, and client reputation are the most dominant factors influencing the decision to bid or not to bid.
4677750175J0A022008Creating an English Promotional Video for Baturraden Botanical GardenLaporan kerja praktik ini didasarkan pada program magang selama empat bulan yang dilaksanakan di Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, mulai dari 19 Agustus hingga 19 November 2024. Tujuan utama dari program ini adalah untuk membuat konten digital berbahasa Inggris guna mendukung promosi pariwisata Banyumas, dengan fokus khusus pada Kebun Raya Baturraden yang dikelola langsung oleh Dinporabudpar Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman wisatawan mancanegara terhadap destinasi tersebut. Selama masa magang, penulis menggunakan tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode observasi dilakukan untuk meninjau daya tarik wisata yang ada di Kabupaten Banyumas dengan tujuan mempromosikannya kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi terkait pariwisata di Banyumas, khususnya tentang Kebun Raya Baturraden. Sementara itu, dokumentasi mencakup pengambilan foto dan video untuk keperluan pembuatan konten digital, serta pengumpulan informasi pendukung lainnya. Proses pembuatan konten dibagi menjadi tiga tahap: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasil akhir dari kerja praktik ini berupa satu konten digital yang diunggah ke akun Instagram @pariwisata_banyumas. Selama menjalani kerja praktik, penulis menghadapi beberapa kendala, seperti cuaca buruk saat pengambilan video dan kesulitan untuk mewawancarai kepala pengelola Kebun Raya Baturraden. Hambatan tersebut berhasil diatasi dengan mencari solusi alternatif, salah satunya melalui komunikasi dengan tim BLUD Pariwisata Baturraden dan melakukan wawancara secara daring.
This job training report is based on a four-month internship program conducted at the Department of Youth, Sports, Culture, and Tourism of Banyumas Regency, which took place from August 19 to November 19, 2024. The primary objective of the program was to create English-language digital content to support tourism promotion in Banyumas, with a special focus on the Baturraden Botanical Garden, a destination managed directly by Dinporabudpar Banyumas. The goal of this initiative was to enhance international tourists' understanding of the destination. Throughout the internship, the author employed three main methods: observation, interviews, and documentation. Observation was used to assess existing tourist attractions in Banyumas with the intent of promoting them to both domestic and international audiences. Interviews were conducted to gather information about tourism in Banyumas, particularly regarding the Baturraden Botanical Garden. Documentation included taking photos and recording videos for content development, along with collecting other relevant materials. The content creation process was carried out in three stages: pre-production, production, and post-production. The final outcome of this job training was a digital promotional video, which was uploaded to the Instagram account @pariwisata_banyumas. During the training period, the author encountered several challenges, such as unfavorable weather conditions during video shoots and difficulties in interviewing the head manager of the Baturraden Botanical Garden. These obstacles were addressed by seeking alternatives, including contacting the BLUD Pariwisata Baturraden team and conducting interviews online.
4677850176F1C021061PERAN MANAJER KAMPANYE PADA KAMPANYE KEHUMASAN “REMAJA BANYUMAS SEHAT DIABETES MINGGAT”Meningkatnya prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Kabupaten Banyumas, termasuk pada segmen remaja, merupakan isu kesehatan mendesak yang menuntut intervensi preventif komprehensif. Project Tugas Akhir Penciptaan Jenderal Soedirman ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan kampanye kehumasan "Remaja Banyumas Sehat Diabetes Minggat" guna meningkatkan kesadaran dan pengetahuan remaja Banyumas tentang DM dan pentingnya pola hidup sehat. Dalam penciptaan karya ini, manajer kampanye berperan sentral dalam merancang strategi, mengoordinasikan tim, dan mengawal pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode yang digunakan adalah pendekatan hybrid (luring dan daring). Aktivitas daring melalui pengelolaan akun Instagram @healthyyouth.bms yang memproduksi konten edukatif dan memperoleh engagement rate 24%. Hasil kampanye luring yang dilaksanakan di SMA 2 Purwokerto menunjukkan efektivitas signifikan dalam transfer of knowledge, dibuktikan dengan peningkatan skor rata-rata Pre Test (6.4) menjadi Post Test (8.2), di mana 65.4% partisipan mengalami peningkatan pengetahuan. Kegiatan luring berhasil menjangkau perwakilan 12 SMA dan melakukan skrining pada 99 siswa, didukung kolaborasi erat dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas serta mendapatkan eksposur media di 2 media massa. Outcome kampanye ini adalah peningkatan kesadaran awal dan potensi remaja sebagai agen perubahan, serta model kampanye yang prospektif untuk replikasi. Meskipun menghadapi kendala non-teknis seperti manajemen waktu acara, kampanye ini berhasil mencapai tujuan edukasi dan membangun fondasi untuk inisiatif kesehatan remaja di masa depan.The increasing prevalence of Diabetes Mellitus (DM) in Banyumas Regency, including among adolescents, is a pressing health issue that demands comprehensive preventive intervention. This final creative project at Jenderal Soedirman University aims to design and implement the "Healthy Banyumas Youth, Diabetes Be Gone" public relations campaign to increase awareness and knowledge among Banyumas adolescents about DM and the importance of a healthy lifestyle. In this creative work, the campaign manager plays a central role in designing strategies, coordinating the team, and overseeing the implementation of all activities to achieve the set objectives. The method used is a hybrid approach (offline and online). Online activities, through the management of the Instagram account @healthyyouth.bms, produced educational content and achieved a 24% engagement rate. The results of the offline campaign, held at SMAN 2 Purwokerto, demonstrated significant effectiveness in knowledge transfer, evidenced by an increase in the average score from a Pre-Test (6.4) to a Post-Test (8.2), with 65.4% of participants experiencing an increase in knowledge. The offline activities successfully reached representatives from 12 high schools and screened 99 students, supported by close collaboration with the Banyumas Regency Health Office and gaining media exposure in 2 mass media outlets. The outcome of this campaign is an initial increase in awareness, the cultivation of adolescents' potential as agents of change, and a prospective model for future replication. Despite facing non-technical constraints such as event time management, the campaign successfully achieved its educational goals and built a foundation for future youth health initiative.
4677949821A1D021118ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN POTENSI Bacillus sp. ASAL RIZOSFER
PUTRI MALU DATARAN RENDAH SEBAGAI PENGENDALI HAYATI
PENYAKIT ANTRAKNOSA BUAH CABAI RAWIT
Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama tanaman cabai yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp., serta menyebabkan penurunan produksi hingga mencapai 45-60%. Pengendalian hayati dengan penggunaan agensia hayati salah satunya adalah Bacillus sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi Bacillus sp. asal rizosfer tumbuhan putri malu dataran rendah, mengetahui kemampuannya dalam menekan pertumbuhan beberapa mikroba patogen secara in vitro, mengetahui potensi Bacillus sp. sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, dan menentukan isolat terbaik yang mampu menekan
penyakit antraknosa pada buah cabai secara in vivo. Bakteri diisolasi dan dikarakterisasi secara makroskopis, mikroskopis, uji biokimia, dan uji hipersensitif. Pengujian kemampuan Bacillus sp. terhadap Colletotrichum capsici, Fusarium sp., Rhizoctonia sp., Xanthomonas oryzae, dan Ralstonia solanacearum secara in vitro menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 15 perlakuan sebanyak 2 ulangan. Variabel yang diamati, daya hambat pertumbuhan patogen dan ada tidaknya kerusakan miselium pada jamur patogen. Pengujian kemampuan Bacillus sp. sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dilakukan dengan benih mentimun menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 15 perlakuan. Variabel
yang diamati, kecepatan tumbuh benih, panjang akar, bobot segar akar, dan bobot segar kecambah. Pengujian kemampuan Bacillus sp. dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada buah cabai rawit secara in vivo menggunakan RAK dengan 4 perlakuan diantaranya kontrol air steril, fungisida, Bacillus RR 2.4, dan Bacillus RR 3.1. Variabel yang diamati, masa inkubasi, luas serangan, penghambatan luas serangan, dan indeks sampah. Data penelitian hasil isolasi dan karakterisasi dianalisis secara deskriptif dan data pengujian kemampuan Bacillus sp. dianalisis dengan ANOVA 5% dan dilakukan uji lanjut DMRT 5% apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan. Sebanyak 14 isolat Bacillus sp. berhasil diisolasi dengan karakter yang beragam, yaitu bentuk sel batang, bakteri gram positif, katalase dan oksidase positif, dan memiliki struktur endospora. Terdapat 2 isolat terpilih yang memiliki daya hambat ≥ 50% pada uji antagonis secara in vitro, yaitu RR 2.1 dan RR 3.4 isolat Bacillus sp. mampu meningkatkan panjang akar (84,8%), bobot segar akar (52,9%), dan bobot segar kecambah (16,67%). Bacillus sp. RR 2.1 mampu menunda masa inkubasi serta menekan penyakit antraknosa pada buah cabai rawit sebesar 69,35%.
Anthracnose was the primary affecting chili pepper, caused by the Colletotrichum sp. fungal pathogen, leading to a production decline of 45-60%. One of the biological control agents using biological agent is Bacillus sp. This study aims to isolate and characterize Bacillus sp. from the rhizosphere of lowland in Mimosa pudica plants, investigate the ability to inhibit the growth of several microbial plant pathogens in vitro, found the potential microbes as a plant growth promoting rhizobacteria (PGPR), and identify the best isolate that potential against anthracnose disease in chili pepper in vivo. Bacteria were isolated and
characterized macroscopically, microscopically, biochemical tests, and hypersensitivity tests. Testing the ability of Bacillus sp. against Colletotrichum capsici, Fusarium sp., Rhizoctonia sp., Xanthomonas oryzae, and Ralstonia solanacearum in vitro using CRD (Completely Randomized Design) with fifteen treatments and repeated two times. The variables were observed including the inhibiton of pathogens and the presence or absence of mycelium damage in pathogenic fungi. Testing the ability of Bacillus sp. as plant growth
promoters with cucumber seeds using RBD (Randomized Block Design) with fifteen treatments. The variables were observed including seed growth rate, root length, fresh root weight, and fresh sprout weight. Testing the ability of Bacillus sp. to control anthracnose disease in chili pepper in vivo using RBD with four treatmens, including sterile water control, fungicide, Bacillus RR 2.1, and Bacillus RR 3.4. The variables were observed including incubation period, area of attack, inhibition rate, and waste index. The research data from isolation and characterization were analyzed descriptively and research data from testing
the ability of Bacillus using ANOVA (α=0.05) and following by DMRT (α=0.05) to determine significant differences. Research results showed that 14 isolates of Bacillus sp. were successfully isolated with various characteristics, had rod-shaped cells (bacilli), Gram positive bacteria, positive catalase and oxidase, and had an endosphere structure. There were 2 selected isolates that had ≥ 50% inhibition in the in vitro antagonist test, namely RR 2.1 and RR 3.4. Bacillus sp. able to increase root length (84.8%), fresh root weight (52.9%), and fresh sprout weight (16.67%). Bacillus RR 2.1 has proven to be extending the incubation period and reducing the symptoms of anthracnose disease in chili pepper by 69.35%.
4678050177B1A018052Keanekaragaman dan Profil Vegetasi Di Universitas Jenderal SoedirmanRencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR) Kawasan Perkotaan Purwokerto Tahun 2014-2034 menetapkan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sebagai pusat pelayanan pendidikan. Oleh karena itu, Unsoed memerlukan ruang terbuka hijau untuk menunjang aktivitas. Beragamnya vegetasi pada ruang terbuka hijau memacu serangkaian penelitian, namun belum ada penelitian mengenai keanekaragaman vegetasi dan profil vegetasi di Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan penyusun vegetasi serta profil vegetasi di Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan metode kuadrat yang ditentukan secara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan variabel terikat berupa keanekaragaman tumbuhan dengan parameter spesies tumbuhan dan jumlah individu serta profil vegetasi dengan variabel tinggi pohon, tinggi bebas cabang, dan lebar tajuk. Variabel bebas berupa faktor lingkungan dengan parameter pH tanah, kelembapan tanah, suhu tanah, suhu udara, dan kelembapan udara. Data keanekaragaman tumbuhan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman indeks nilai penting, indeks eveness, dan Shannon-Wienner. Data profil habitat di analisis secara deskriptif.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tumbuhan sebanyak 669 individu yang terdiri dari 59 spesies. Tumbuhan yang didapatkan dapat dikelompokkan ke dalam 39 famili, 26 spesies tumbuhan bawah dan 33 spesies pohon. Pohon yang paling banyak dijumpai adalah glodokan tiang (Monoon longifolium) dengan indeks nilai penting 18,43% dan dapat ditemukan di tiga lokasi. Adapun spesies pohon yang paling jarang ditemukan adalah Elaeis guinensis dan Cocos nucifera dengan indeks nilai penting 5% dan 2,35%. Tumbuhan bawah yang paling banyak dijumpai Axonopus compressus atau rumput gajah mini dengan indeks nilai penting 152,32% dan dapat ditemukan di sebelas lokasi penelitian.
Profil vegetasi menunjukkan tinggi pohon di empat belas lokasi penelitian bervariasi pada kisaran 5-30 meter. Pohon terendah yang ditemukan adalah manggis (Garcinia mangostana) di Fakultas Pertanian dengan tinggi 5 meter. Pohon tertinggi ditemukan di LPPM yaitu kedoya (Didymocheton gaudichaudianus) dengan tinggi 30 meter.
The Detailed Spatial Plan (RDTR) for the Purwokerto Urban Area for the period 2014–2034 designates Jenderal Soedirman University (Unsoed) as an educational service center. Consequently, Unsoed requires green open spaces to support its activities. The diversity of vegetation within these green open spaces has stimulated various studies; however, no research has yet been conducted on the diversity and profile of vegetation at Jenderal Soedirman University. This study aims to examine the diversity of plant species constituting the vegetation and to describe the vegetation profile at Jenderal Soedirman University.
The research was conducted at Jenderal Soedirman University, Purwokerto, using a quadrat method determined through purposive sampling. The dependent variables consisted of plant diversity—with parameters including plant species and the number of individuals—and vegetation profile—with parameters including tree height, height to the first branch, and crown width. The independent variables comprised environmental factors, with parameters including soil pH, soil moisture, soil temperature, air temperature, and air humidity. Plant diversity data were analyzed using diversity indices, including the Importance Value Index, Evenness Index, and Shannon–Wiener Index. Habitat profile data were analyzed descriptively.
The results of the study recorded a total of 669 individual plants belonging to 59 species. These species were classified into 39 families, comprising 26 species of understory plants and 33 species of trees. The most frequently encountered tree species was Monoon longifolium (glodokan tiang), with an Importance Value Index of 18.43%, found in three locations. In contrast, the least frequently encountered tree species were Elaeis guineensis and Cocos nucifera, with Importance Value Indices of 5% and 2.35%, respectively. The most abundant understory species was Axonopus compressus (dwarf carpet grass), with an Importance Value Index of 152.32%, recorded in eleven research locations.
The vegetation profile revealed that tree heights in the fourteen research locations ranged from 5 to 30 meters. The shortest tree recorded was Garcinia mangostana (mangosteen) in the Faculty of Agriculture area, with a height of 5 meters. The tallest tree was Didymocheton gaudichaudianus (kedoya), found at the Institute for Research and Community Service (LPPM), with a height of 30 meters.