Artikelilmiahs

Menampilkan 46.581-46.600 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4658149972A1C021054PENGARUH PERBEDAAN TEKANAN ANGIN RODA TRAKTOR RODA DUA TERHADAP TINGKAT PEMADATAN TANAH PADA KEDALAMAN 0 – 50 CMPengolahan tanah menggunakan traktor roda 2 dapat meningkatkan efisiensi kerja, namun juga dapat menyebabkan pemadatan tanah yang berdampak buruk pada sifat fisik tanah dan pertumbuhan tanaman. Tekanan angin pada roda traktor roda 2 dapat memengaruhi tingkat pemadatan, porositas, dan kadar air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan tekanan angin roda traktor roda dua terhadap pemadatan tanah pada kedalaman 0 – 50 cm pada saat 12 dengan 6 dan 0 bulan pengamatan.Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Kecamatan Sokaraja, Laboratorium Terpadu 1 IAB, dan Laboratorium Tanah BPSIP Yogyakarta. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor/perlakuan dan satu kontrol sebagai pembanding. Perlakuan yang diberikan yaitu 4 tingkat tekanan angin roda traktor roda 2: tanpa perlintasan traktor (T0), 7 psi (T7), 10 psi (T10), dan 12 psi (T12). Sampel tanah tidak terganggu diambil pada kedalaman 0 – 10, 10 –20, 20 – 30, 30 – 40, dan 40 – 50 cm. Variabel sifat fisik tanah yang diukur yaitu konduktivitas hidrolik jenuh, dry bulk density, wet bulk density, porositas tanah, dan kadar air tanah. Analisis data menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5% dan analisis regresi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tekanan angin roda traktor roda 2 menghasilkan peningkatan nilai dry bulk density, serta penurunan nilai porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh. Sementara itu, peningkatan kedalaman tanah menghasilkan penurunan nilai dry bulk density, serta peningkatan nilai porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh. Apabila dibandingkan terhadap data 6 dan 0 bulan pengamatan setelah perlintasan traktor, data 12 bulan pengamatan menunjukkan bahwa nilai dry bulk density mengalami peningkatan, sedangkan nilai porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh mengalami penurunan.Soil cultivation using two-wheel tractors can increase work efficiency, but it can also cause soil compaction, which has a negative impact on soil physical properties and plant growth. The air pressure on the wheels of two-wheel tractors can affect the level of compaction, porosity, and soil moisture content. This study aims to examine the effect of differences in the air pressure of two-wheel tractors on soil compaction at a depth of 0–50 cm at 12, 6, and 0 months of observation.The research was conducted on agricultural land belonging to the Agricultural Machinery Service Business (UPJA) in Sokaraja District, Integrated Laboratory 1 IAB, and the Soil Laboratory of BPSIP Yogyakarta. The study employed a Completely Randomized 3Design (CRD) with one factor/treatment and one control as a comparison. The treatments applied were four levels of tractor tire pressure for a two-wheel tractor: no tractor passage (T0), 7 psi (T7), 10 psi (T10), and 12 psi (T12). Undisturbed soil samples were collected at depths of 0–10, 10–20, 20–30, 30–40, and 40–50 cm. The physical properties of the soil measured included saturated hydraulic conductivity, dry bulk density, wet bulk density, soil porosity, and soil moisture content. Data analysis was performed using Analysis of Variance (ANOVA) with post-hoc tests using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at 5% and regression analysis.The results of the study indicate that an increase in wind pressure on the wheels of a two-wheeled tractor results in an increase in dry bulk density, as well as a decrease in porosity, moisture content, and saturated hydraulic conductivity. Meanwhile, an increase in soil depth results in a decrease in dry bulk density, as well as an increase in porosity, moisture content, and saturated hydraulic conductivity. When compared to data from 6 and 0 months of observation after tractor passage, data from 12 months of observation show that dry bulk density values increase, while porosity, moisture content, and saturated hydraulic conductivity values decrease.
4658249973J1D021006Tipologi Kepribadian Tokoh Utama dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho (Kajian Psikologi Sastra)Karya sastra menampilkan tokoh rekaan sebagai pelaku cerita, kepribadiannya membuat cerita lebih hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tipologi kepribadian tokoh utama dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho; (2) faktor penentu kepribadian tokoh utama dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dengan metode simak dan teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap (SBLC), teknik catat serta teknik dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif Miles dan Huberman. Validitas data dengan triangulasi teori. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk tipologi kepribadian tokoh utama dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho dominan sebagai tipe manusia ekonomi. Faktor penentu kepribadian tokoh utama dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho didominasi oleh faktor penerimaan sosial.Literary works present fictional characters as the actors in the story, their personalities make the story more alive. This study aims to describe (1) the form of personality typology of the main character in the film Agak Laen by Muhadkly Acho; (2) the determining factors of the personality of the main character in the film Agak Laen by Muhadkly Acho. The form of this research is descriptive qualitative. The data collection method uses the listening method and advanced techniques in the form of free listening with conversation (SBLC), note-taking techniques and documentation techniques. The data analysis technique uses interactive analysis of Miles and Huberman. Data validity is with theory triangulation. Based on the results of the study, the form of personality typology of the main character in the film Agak Laen by Muhadkly Acho is dominant as an economic human type. The determining factor of the personality of the main character in the film Agak Laen by Muhadkly Acho is dominated by social acceptance factors.
4658349974L1C021054Analisis Korelasi Jenis Dan Prevalensi Penyakit Pada Karang Massive Dengan Tutupan Karang Di Pulau Tabuhan, Kabupaten BanyuwangiTingginya pengaruh antropogenik mengakibatkan penurunan kondisi perairan di Pulau Tabuhan, Kabupaten Banyuwangi, menyebabkan stres pada karang sehingga dapat meningkatkan kerentanannya terhadap infeksi patogen penyebab penyakit karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit pada karang massive, prevalensi penyakit pada karang massive, persentase tutupan karang, dan korelasi antara prevalensi penyakit pada karang massive dan persentase tutupan karang di Pulau Tabuhan, Kabupaten Banyuwangi. Pengambilan data penyakit karang menggunakan metode Belt Transect, sementara tutupan karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dilakukan di 3 stasiun penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dan statistik menggunakan metode korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukan Terdapat 10 jenis penyakit karang yang ditemukan, yaitu Atramentous Necrosis, Ulcerative White Spots, White Syndromes, Aggressive Overgrowth, Bleaching, Drupella, Fish Bites, Pigmentation Response, Tube Former dan Trematodiasis. Penyakit ditemukan menginfeksi 5 genus karang, yaitu Favites, Montastrea, Oulophyllia, Platygyra dan Porites. Prevalensi penyakit di Stasiun 1 sebesar 40%, Stasiun 2 sebesar 15,63%, dan Stasiun 3 sebesar 25,58%, dikategorikan tinggi. Persentase tutupan karang di stasiun 1 sebesar 23,28% kategori buruk, stasiun 2 sebesar 53,58% kategori bagus, dan stasiun 3 sebesar 70,47% kategori bagus. Korelasi antara prevalensi penyakit pada karang massive dan persentase tutupan karang memiliki nilai korelasi -0,71 menandakan korelasi negatif dengan kategori kuat. penemuan ini menunjukkan bahwa tingginya nilai prevalensi penyakit merupakan ancaman serius yang berpengaruh terhadap rendahnya tutupan karang, sehingga diperlukan upaya pengelolaan untuk mengurangi dampak penyakit pada karang massive di Pulau Tabuhan.The high level of anthropogenic influence has resulted in a decline in water quality in Tabuhan Island, Banyuwangi Regency, causing stress on corals and increasing their susceptibility to infection by pathogens that cause coral disease. This study aims to determine the types of diseases in massive corals, the disease prevelance in massive corals, the percentage of coral cover, and the correlation between disease prevelance in massive corals and the percentage of coral cover on Tabuhan Island, Banyuwangi Regency. Coral disease data was collected using the Belt Transect method, while coral cover data was collected using the Underwater Photo Transect (UPT) method at three research stations. Data analysis was conducted using descriptive comparative and statistical methods, including Pearson's correlation analysis. The results of the study revealed 10 types of coral diseases, namely Atramentous Necrosis, Ulcerative White Spots, White Syndromes, Aggressive Overgrowth, Bleaching, Drupella, Fish Bites, Pigmentation Response, Tube Former, and Trematodiasis. Coral disease was found to infect five coral genera, namely Favites, Montastrea, Oulophyllia, Platygyra, and Porites. Coral disease prevelance was 40% at Station 1, 15.63% at Station 2, and 25.58% at Station 3, categorized as high. The percentage of coral cover was 23,28% (poor category) at station 1, 53.58% (good category) at station 2, and 70.47% (good category) at station 3. The correlation between desease prevalence in massive corals and the percentage of coral cover had a correlation value of -0.71, indicating a strong negative correlation. This finding shows that the high prevalence value of disease is a serious threat that affects the low coral cover, so management efforts are needed to reduce the impact of disease on massive corals on Tabuhan Island.
4658449975A1D021068DNA BARCODING TANAMAN Alocasia cuprea K.Koch AKSESI KALIMANTAN UTARA BERDASARKAN MARKA INTERGENIC SPACER DAERAH trnL-trnF dan psbA-trnHDNA barcoding merupakan metode identifikasi tumbuhan yang cepat, akurat, dan efisien. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengkarakterisasi Alocasia cuprea berdasarkan marker trnL-trnF dan psbA-trnH. Sampel dikumpulkan dari Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara. DNA diekstraksi dengan metode CTAB, diamplifikasi menggunakan primer trnL-trnF dan psbA-trnH, divisualisasi melalui elektroforesis, dan diurutkan dengan metode Sanger. Analisis dilakukan menggunakan BLAST, MultAlin, dan pohon filogeni metode Maximum Likelihood (MEGA 12). Amplifikasi berhasil dengan ukuran fragmen 400 bp (trnL-trnF) dan 700 bp (psbA-trnH). Hasil BLAST trnL-trnF menunjukkan dua sampel identik 100% dan satu sampel 99,75% dengan referensi A. cuprea, sedangkan psbA-trnH menunjukkan kesesuaian 93,84% dengan A. odora. Penyejajaran trnL-trnF menunjukkan variasi intra dan interspesifik, sedangkan psbA-trnH menunjukkan variasi interspesifik yang tinggi. Pohon filogeni trnL-trnF mengelompokkan sampel dalam satu cabang dengan A. cuprea, sementara psbA-trnH memisahkannya dari referensi. Jarak genetik terkecil pada psbA-trnH adalah 0,034. Penelitian ini diharapkan memperkaya data genetik A. cuprea serta mendukung konservasi dan pemuliaan berbasis genetik.DNA barcoding is a rapid, accurate, and efficient method for plant identification. This study aimed to identify and characterize Alocasia cuprea using the trnL-trnF and psbA-trnH regions. Samples were collected from Tanjung Selor District, North Kalimantan. DNA was extracted using the CTAB method, amplified with trnL-trnF and psbA-trnH primers, visualized through electrophoresis, and sequenced using the Sanger method. Analysis was conducted through BLAST, MultAlin alignment, and phylogenetic tree reconstruction using the Maximum Likelihood method (MEGA 12). Successful amplification yielded fragment sizes of 400 bp (trnL-trnF) and 700 bp (psbA-trnH). BLAST results for trnL-trnF showed two samples with 100% similarity and one with 99.75% to A. cuprea reference, while psbA-trnH showed 93.84% similarity to A. odora. The trnL-trnF alignment revealed intra- and interspecific variation, while psbA-trnH showed high interspecific variation. The trnL-trnF phylogenetic tree grouped samples with A. cuprea, while psbA-trnH separated them from the reference. The closest genetic distance in psbA-trnH was 0.034. This study is expected to enrich the genetic data of A. cuprea and support conservation and breeding efforts based on genetic information.
4658549977L1C021002Profil Mikroplastik Berdasarkan Kedalaman Pada Sedimen di Kawasan Mangrove Kandang Panjang, PekalonganMikroplastik merupakan salah satu bentuk pencemaran yang signifikan di lingkungan pesisir dan estuari, termasuk ekosistem mangrove yang memiliki kemampuan menjebak partikel-partikel kecil seperti mikroplastik. Penelitian ini betujuan untuk menganalisis karakteristik, jenis polimer, dan kelimpahan mikroplastik pada variasi kedalaman sedimen di Ekosistem Mangrove Kandang Panjang, Pekalongan. Pengambilan sampel dilakukan pada 9 plot dimana setiap plot memiliki 3 kedalaman sedimen (0–20 cm, 20–40 cm, dan 40–60 cm). Penentuan plot dilakukan menggunakan metode random sampling. Analisis mikroplastik dilakukan secara visual menggunakan mikroskop stereo serta identifikasi polimer menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk mikroplastik yang dominan adalah fragmen (57%) dan fiber (42%), dengan warna dominan hitam dan hijau. Jenis polimer yang teridentifikasi mencakup Poly (Vinyl Stearate), Polyethylene, dan variannya. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada kedalaman 0–20 cm sebesar 613 partikel/kg berat sedimen kering dan menurun seiring bertambahnya kedalamakibat an. Hal ini diduga akibat waktu dekomposisi partikel yang relatif baru di lokasi tersebut, sehingga distribusi secara vertikal belum terjadi secara signifikan. Penelitian ini menegaskan bahwa Kawasan Ekosistem Kendang Panjang, Pekalongan sudah tercemar mikroplastik hingga kedalaman sedimen 60 cm. Hal ini menunjukkan perlunya upaya pengelolaan limbah yang lebih efektif.Microplastics are a significant form of pollution in coastal and estuary environments, including mangrove ecosystems that have the ability to trap small particles such as microplastics. This study aims to analyze the characteristics, polymer types, and abundance of microplastics at varying sediment depths in the Kandang Panjang Mangrove Ecosystem, Pekalongan. Sampling was conducted in 9 plots where each plot had three sediment depths (0-20 cm, 20-40 cm, and 40-60 cm). Plot determination was done using random sampling method. Microplastic analysis was conducted visually using a stereo microscope and polymer identification using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). The results showed that the dominant forms of microplastics were fragments (57%) and fibers (42%), with dominant colors of black and green. Polymer types identified include Poly (Vinyl Stearate), Polyethylene, and its variants. The highest abundance was found at 0-20 cm depth of 613 particles/kg dry sediment weight and decreased with increasing depth due to the decomposition time of particles that tend to be new in that location, vertical distribution has not yet occurred significantly. Spearman correlation test results showed a negative relationship r = -0.493, p < 0.01) where the higher the depth level, the abundance of microplastics obtained will decrease. This study confirms that the Kendang Panjang Ecosystem Area, Pekalongan is contaminated with microplastics up to 60 cm sediment depth and suggests the need for management efforts.
4658649978A1C021052RESPON PERTUMBUHAN CAISIM DENGAN BERBAGAI JENIS MEDIA TANAM DAN KETINGGIAN MUKA AIR PADA SISTEM FERTIGASI OTOMATIS NIRDAYA (FONi)Minimnya ketersediaan lahan di Indonesia menjadi salah satu penghambat karena adanya konversi lahan menjadi bangunan baik industri maupun non-industri. Masalah lahan yang terbatas ini menciptakan tantangan bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian. Budidaya menggunakan teknologi Fertigasi Otomatis Nirdaya (FONi) menjadi salah satu langkah yang dapat diambil dalam upaya memanfaatkan lahan pekarangan yang terbatas. FONi adalah teknologi yang mirip dengan hidroponik, namun FONi menggunakan media tanam seperti tanah, arang sekam, dan bahan lainnya yang dimasukkan ke dalam polybag dan ditempatkan dalam pot saling terhubung. Sistem ini memungkinkan proses pengairan dan pemberian nutrisi secara bersamaan tanpa memerlukan aliran listrik, dengan media tanam yang menyerap larutan secara kapiler untuk mengisi pori-pori pada media tanam. FONi merupakan teknologi tepat guna yang mampu memberikan solusi praktis untuk budidaya sayuran daun, buah, dan bunga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis media tanam dan ketinggian muka air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim (Brassica rapa var. Parachinensis) pada sistem fertigasi otomatis nirdaya (FONi). Penelitian dilakukan di lahan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yaitu ketinggian muka air (5 cm dan 10 cm) dan media tanam (tanah 100%, kompos 100%, kompos 75% hi+ arang sekam 25%, kompos 75% + cocopeat 25%, serta kompos 50% + arang sekam 25% + cocopeat 25%). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata dari interaksi ketinggian muka air dan media tanam terhadap panjang akar, bobot segar akar, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, dry bulk density, porositas, dan kadar air media tanam. Perlakuan terbaik diperoleh pada kombinasi ketinggian muka air 5 cm dengan media tanam kompos 75% dan cocopeat 25% (A2M3), yang menghasilkan pertumbuhan dan hasil caisim tertinggi secara konsisten pada hampir seluruh parameter. Kombinasi kompos 75% dan cocopeat 25% mampu menyediakan kelembapan dan aerasi optimal di zona perakaran, serta mendukung pembentukan biomassa tanaman secara efisien. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan ketinggian muka air dan pemilihan media tanam yang tepat sangat penting dalam budidaya sayuran menggunakan sistem FONi.
The lack of land availability in Indonesia is one of the obstacles due to the conversion of land into buildings, both industrial and non-industrial. This limited land problem creates challenges for the community in carrying out agricultural activities. Cultivation using Nirdaya Automatic Fertigation system (FONi) technology is one of the steps that can be taken in an effort to utilize limited yard land. FONi is a technology similar to hydroponics, but FONi uses growing media such as soil, charcoal, husks, and other materials that are put into polybags and placed in interconnected pots. This system allows for simultaneous irrigation and nutrient delivery without the need for electricity, with the planting medium absorbing the solution capillary to fill the pores in the planting medium. FONi is an appropriate technology that is able to provide practical solutions for the cultivation of leafy vegetables, fruits, and flowers.
This study aims to determine the influence of various types of planting media and water level on the growth and yield of caisim plants (Brassica rapa var. Parachinensis) on a Nirdaya Automatic Fertigation system (FONi). The research was carried out on the land of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University using a Group Random Design (RAK), namely water level (5 cm and 10 cm) and planting medium (soil 100%, 100% compost, 75% compost + 25% husk charcoal, 75% compost + 25% cocopeat, and 50% compost + 25% husk charcoal + 25% cocopeat). The data was analyzed using the ANOVA 5% test and continued with the DMRT test. The results showed that there was a real influence of the interaction of water level and planting medium on root length, root fresh weight, canopy fresh weight, canopy dry weight, dry bulk density, porosity, and moisture content of the planting media. The best treatment was obtained in a combination of a water level of 5 cm with 75% compost and 25% cocopeat (A2M3) planting media, which resulted in consistently highest growth and caisim yields in almost all parameters. Combination 75% compost and 25% cocopeat is able to provide optimal moisture and aeration in the root zone, as well as support the efficient formation of plant biomass. This study shows that water level regulation and the selection of appropriate planting media are very important in vegetable cultivation using the FONi system.
4658749979L1C021061ANALISIS LANDSCAPE MANGROVE BERDASARKAN
FRAKSI SEDIMEN DI KAWASAN MANGROVE TRITIH
KULON, CILACAP
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Landscape mangrove berdasarkan
fraksi sedimen di Kawasan Ekowisata Tritih Kulon, Cilacap. Fokus utama
penelitian mencakup tiga aspek, yaitu: analisis tingkat kerapatan vegetasi
mangrove, identifikasi jenis fraksi sedimen yang terdapat pada masing-masing
stasiun, serta visualisasi zonasi Landscape mangrove berdasarkan distribusi
sedimen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025 dengan menggunakan
metode transek plot untuk pengambilan data vegetasi, serta metode pengayakan
dan pemipetan untuk menentukan jenis fraksi sedimen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa spesies Rhizophora mucronata memiliki kerapatan paling
tinggi, yaitu sekitar 1.295 individu per hektar, menunjukkan kondisi
pertumbuhan yang baik. Sebaliknya, Bruguiera gymnorrhiza dan Nypa fruticans
memiliki kerapatan rendah dan hanya ditemukan di beberapa stasiun.
Berdasarkan hasil analisis sedimen, ditemukan bahwa fraksi debu mendominasi
komposisi sedimen dengan persentase antara 69–79% di seluruh lokasi
pengambilan sampel, diikuti oleh fraksi pasir dan liat. Visualisasi Landscape
menunjukkan pola zonasi vegetasi dari arah laut ke daratan, di mana R.
mucronata mendominasi bagian tengah, B. gymnorrhiza berada di zona transisi,
dan N. fruticans ditemukan di bagian belakang. Zona tengah yang lebih stabil
diduga menjadi faktor utama tingginya kerapatan vegetasi, sedangkan zona
depan dan belakang lebih dipengaruhi oleh pasang surut dan aktivitas manusia.
This study aims to analyze the mangrove landscape based on sediment fractions
in the Tritih Kulon Ecotourism Area, Cilacap. The research focuses on assessing
mangrove vegetation density, identifying sediment fractions, and visualizing
mangrove zonation in relation to sediment characteristics. The study was
conducted in June 2025 using field surveys and laboratory analysis. Results show
that Rhizophora mucronata had the highest average density at approximately 1,295
individuals per hectare, indicating favorable growing conditions. In contrast,
Bruguiera gymnorrhiza and Nypa fruticans had low densities and were only present
at several stations. Sediment analysis revealed a dominance of silt fractions, with
percentages ranging from 69% to 79% across all sampling stations, while sand
and clay were present in smaller proportions. The mangrove zonation pattern
from seaward to landward areas shows R. mucronata dominating the middle
zones, followed by B. gymnorrhiza in transitional zones and N. fruticans further
inland. The high density in the middle zone suggests more stable environmental
conditions, while the front and back zones are more influenced by tidal dynamics
and anthropogenic activities. These findings provide a spatial understanding of
mangrove distribution in relation to sediment composition, which is essential for
sustainable management and conservation planning.
4658849980L1C021045HUBUNGAN NITRAT DAN FOSFAT AIR TERHADAP
KELIMPAHAN MOLUSKA DI KAWASAN EDUKASI
MANGROVE DEMANG GEDI KABUPATEN PURWOREJO
Kawasan Edukasi Mangrove Demang Gedi di Purworejo merupakan ekosistem
yang subur dan berpotensi menghasilkan nutrien melimpah bagi biota perairan.
Topografi dan aktivitas manusia seperti tambak, pertanian, serta pemukiman
menjadi sumber utama masuknya nitrat (NO₃⁻) dan fosfat (PO₄³⁻). Nutrien ini
dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai produsen primer, sehingga
meningkatkan produktivitas perairan dan mempengaruhi kelimpahan biota
seperti moluska. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi nitrat dan
fosfat, kelimpahan moluska, serta hubungan keduanya. Metode yang digunakan
adalah survei lapangan dengan pendekatan kuantitatif dan analisis statistik
ekologi. Analisis sampel fosfat mengacu pada SNI 6989.31:2021 dan nitrat
menggunakan metode IK-DR900.1/LABLI-KBM. Hasil penelitian menunjukkan
konsentrasi nitrat 0,71–2,56 mg/L dan fosfat 0,16–0,77 mg/L, dengan
kelimpahan moluska 32–112 ind/m². Korelasi antara moluska dan nitrat sebesar
r = -0,229 dan dengan fosfat r = -0,139, menunjukkan hubungan negatif lemah,
serta adanya faktor lain yang turut mempengaruhi kelimpahan moluska seperti
salinitas, DO, dan suhu.
Mangrove Education Area of Demang Gedi in Purworejo is recognized as a fertile
ecosystem with the potential to generate abundant nutrients for aquatic biota. The
topography and human activities such as aquaculture, agriculture, and settlement are
identified as the main sources of nitrate (NO₃⁻) and phosphate (PO₄³⁻) inputs. These
nutrients are utilized by phytoplankton as primary producers, thereby increasing water
productivity and influencing the abundance of biota such as mollusks. This study was
conducted to determine the concentrations of nitrate and phosphate, the abundance of
mollusks, and their relationship. A field survey method with a quantitative approach and
ecological statistical analysis was applied. Phosphate analysis was carried out based on
SNI 6989.31:2021, while nitrate was analyzed using the IK-DR900.1/LABLI-KBM
method. The results showed that nitrate concentrations ranged from 0.71 to 2.56 mg/L
and phosphate from 0.16 to 0.77 mg/L, with mollusk abundance ranging from 32 to 112
ind/m². The correlation between mollusks and nitrate was obtained at r = -0.229 and with
phosphate at r = -0.139, indicating a weak negative relationship. Other factors such as
salinity, DO, and temperature were also considered to influence mollusk abundance.
4658949981L1A021082POPULASI LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) DI
WADUK SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN
Penelitian ini mengkaji populasi lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) di
Waduk Sempor, Kabupaten Kebumen, untuk memahami aspek biologis dan
ekologisnya sebagai spesies invasif. Tujuan dari penelitian ini meliputi analisis
kelimpahan, sebaran ukuran, rasio kelamin, hubungan panjang-berat, dan faktor
kondisi lobster. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Juni,
September, dan Desember 2024) di delapan stasiun dengan metode random
sampling menggunakan bubu model payung. Hasil menunjukkan kelimpahan
tertinggi terjadi pada bulan Juni (0,96 ekor/bubu/jam), yang diduga terkait
dengan musim pemijahan. Distribusi ukuran menunjukkan dominasi betina
pada rentang panjang 9,6–11,2 cm dan berat 22,1–36,4 g. Rasio kelamin tidak
seimbang (1:0,98), dengan jumlah jantan sedikit lebih banyak. Hubungan
panjang dan berat menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif (nilai b
jantan = 2,32; betina = 1,90), yang berarti pertambahan panjang lebih cepat
dibanding berat. Nilai faktor kondisi (Kn) >1 mengindikasikan kondisi fisiologis
lobster yang baik. Kualitas air seperti suhu (28–31°C) dan pH (6–8,58) turut
memengaruhi distribusi populasi. Hasil penelitian ini memberikan landasan
ilmiah untuk pengelolaan dan pengendalian lobster air tawar secara
berkelanjutan di Waduk Sempor.
This study investigates the population of freshwater lobster (Cherax
quadricarinatus) in Sempor Reservoir, Kebumen Regency, to understand its
biological and ecological characteristics as an invasive species. The research aims
to analyze abundance, size distribution, sex ratio, length-weight relationship,
and condition factor of the lobsters. Sampling was conducted over three times
(June, September, and December 2024) at eight stations using random sampling
methods with umbrella-type traps. Results showed the highest abundance
occurred in June (0,98 tail/trap/hour), presumably due to the spawning season.
Size distribution revealed that females dominated in the 9.6–11.2 cm length range
and 22.1–36.4 g weight class. The sex ratio was unbalanced (1:0.98), with slightly
more males. The length-weight relationship indicated negative allometric growth
(b value: males = 2.32; females = 1.90), suggesting that length increased faster
than weight. The condition factor (Kn > 1) indicated good physiological status of
the lobsters. Water quality parameters such as temperature (28–31°C) and pH (6
8.58) also influenced population distribution. This study provides a scientific
basis for the sustainable management and control of freshwater lobsters in
Sempor Reservoir.
4659049984L1C020084Analisis Kualitas Perairan dan Biokonsentrasi Kadmium (Cd) Pada
Kerang Hijau (Perna Viridis) di Wilayah Segara Anakan Bagian Timur,
Cilacap
Segara Anakan Bagian Timur, Cilacap terletak di selatan Pulau Jawa antara Provinsi Jawa Barat dengan Jawa
Tengah. Banyaknya aktivitas manusia dan aktivitas industri di sekitaran daerah Segara Anakan Bagian Timur
dapat berdampak pada peningkatan limbah yang masuk ke parairan. Salah satu limbah yang berbahaya yaitu
kadmium (Cd). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas perairan di Segara Anakan Bagian Timur,
tingkat kontaminasi Cd, biokonsentrasi kerang hijau (P.viridis) terhadap Cd, serta zonasi perairan berdasarkan
kualitas air dan kandungan Cd. Analisis logam Cd dilakukan dengan Atomic Absorbption Spectometry (AAS).
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kandungan logam Cd pada perairan memiliki nilai kisaran 0,0019
0,0027 mg.kg-1 dan termasuk dalam kategori tercemar sedang. Kandungan logam Cd pada P. viridis memiliki
nilai kisaran 0,0052-0,0507 mg.kg-1 dan termasuk dalam kategori akumulasi rendah. Analisis klaster
memunjukkan dua kelompok stasiun berdasarkan kualitas air dan kandungan Cd. Klaster 1 berada di wilayah
industri dan alur pelayaran dengan karakteristik DO rendah, logam berat dan nutrien tinggi, yang menandakan
tekanan pencemaran sedang hingga tinggi. Klaster 2 terletak di wilayah muara dan dermaga, dengan DO tinggi,
pH basa, dan polutan lebih rendah, mencerminkan kondisi perairan yang lebih alami dan mendukung kehidupan
biota. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antropogenik dapat memengaruhi kualitas perairan dan kerang hijau
(P.viridis) di Segara Anakan Bagian Timur, Cilacap.
The eastern part of Segara Anakan, located in Cilacap, lies on the southern coast of Java Island between the
provinces of West Java and Central Java. Extensive human and industrial activities in the vicinity of eastern
Segara Anakan have the potential to increase the discharge of waste into the aquatic environment. One of the
hazardous pollutants is cadmium (Cd). This study aims to analyze the water quality of eastern Segara Anakan,
assess the level of Cd contamination, determine the bioaccumulation capacity of the green mussel (Perna
viridis) for Cd, and classify aquatic zones based on water quality and Cd concentrations. Cadmium analysis was
performed using Atomic Absorption Spectrometry (AAS). The results indicate that Cd concentrations in the
water ranged from 0.0019 to 0.0027 mg.kg-1, categorized as moderately polluted. Cd concentrations in P. viridis
ranged from 0.0052 to 0.0507 mg/kg, falling into the low accumulation category. Cluster analysis identified two
station groups based on water quality and Cd content. Cluster 1, located in industrial areas and navigation
channels, was characterized by low dissolved oxygen, high heavy metal concentrations, and elevated nutrient
levels, indicating moderate to high pollution pressure. Cluster 2, situated in estuarine and dock areas, exhibited
high dissolved oxygen, alkaline pH, and lower pollutant levels, reflecting more natural water conditions
supportive of aquatic life. These findings suggest that anthropogenic activities can influence water quality and
the condition of green mussels (P. viridis) in the eastern part of Segara Anakan, Cilacap.
4659149985L1C021040Analisis Cadangan Karbon pada Ekosistem Mangrove Kandang Panjang, Pekalongan Pesatnya pertumbuhan sektor industri di berbagai negara serta beragamnya aktivitas manusia berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Salah satu upaya untuk menurunkan emisi karbon adalah dengan menyerap dan menyimpan emisi dari atmosfer melalui pemanfaatan ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan mangrove dan kualitas perairan; cadangan karbon biomassa dan sedimen; profil vertikal karbon, serta hubungan antara kerapatan dengan cadangan karbon biomassa dan sedimen di ekosistem mangrove Kandang Panjang, Pekalongan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dan metode pengambilan sampel yaitu random sampling pada 9 stasiun dengan 3 lapisan kedalaman atas (5-10 cm), tengah (20-25 cm), dan bawah (35-40 cm). Kandungan karbon organik diukur dengan metode Loss on Ignition. Hasil penelitian menunjukan kerapatan di ekosistem mangrove Kandang Panjang menunjukan kategori sedang hingga sangat rapat. Cadangan karbon total pada biomassa dan sedimen berturut turut 177,37 ton C/ha (9,85 ± 7,20 ton C/ha) dan 55,38 ton C/ha (6,15 ± 1,87 ton C/ha). Rata-rata kandungan karbon organik sedimen pada lapisan atas sebesar 1,25%, lapisan tengah 0,96%C, dan lapisan bawah sebesar 1,07%. Kerapatan mangrove memiliki nilai korelasi sedang (r=-0,550) dengan karbon Above Ground Biomass (AGB); (r=-0, 521) dengan karbon Below Ground Biomass (BGB); dan (r=-0,389) dengan karbon sedimen.The rapid growth of the industrial sector in various countries and diverse human activities contribute to the increase in greenhouse gas emissions, particularly carbon dioxide (CO2), in the atmosphere. One effort to reduce carbon emissions is by absorbing and storing emissions from the atmosphere through the utilization of mangrove ecosystems. This study aimed to determine the mangrove density and water quality; carbon stocks in biomass and sediment; vertical carbon profile; and the relationship between mangrove density and carbon stocks in biomass and sediment in the Kandang Panjang mangrove ecosystem, Pekalongan. The research employed a survey method, with random sampling at 9 stations and 3 sediment depth layers: surface (5–10 cm), middle (20–25 cm), and bottom (35–40 cm). Organic carbon content was measured using the Loss on Ignition (LOI) method. The results showed that the mangrove density in the Kandang Panjang ecosystem ranged from moderate to very dense. The total carbon stock in biomass and sediment was 177.37 tons C/ha (9.85 ± 7.20 tons C/ha) and 55.38 tons C/ha (6.15 ± 1.87 tons C/ha), respectively. The average organic carbon content in the sediment was 1.25% in the surface layer, 0.96% in the middle layer, and 1.07% in the bottom layer. Mangrove density showed a moderate negative correlation with Above Ground Biomass (AGB) carbon (r = -0.550), Below Ground Biomass (BGB) carbon (r = -0.521), and sediment carbon (r = -0.389).
4659249986F2B022010Tradisi dan Teknologi: Adaptasi Resiprositas Sosial dalam Undangan DigitalAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif generasi Z dalam memaknai resiprositas pada tradisi kondangan Kuningan di era digital. Fenomena ini penting dikaji sejak kemunculan undangan digital yang merubah pola-pola konvensional di tradisi kondangan Kuningan. Hal tersebut menjadi dinamika tersendiri dalam menjalankan hubungan resiprositas generasi Z. Teori yang digunakan dalam menganalisis hasil penelitian adalah teori pemberian yang diprakarsai Marcel Mauss. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melaui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling. Proses dimulai dengan satu informan kunci yang kemudian merekomendasikan informan lain, sehingga terbentuk jaringan responden secara bertahap. Fokus utama seleksi informan adalah individu dari Generasi Z yang telah terlibat langsung dalam praktik resiprositas pada tradisi kondangan, dengan kriteria telah memiliki pengalaman sebagai pemberi maupun penerima. Dari sepuluh individu yang diwawancarai, hanya empat informan yang memenuhi kriteria selektif, yakni kesesuaian usia, pengalaman empirik, serta pemahaman terhadap konteks tradisi yang diteliti. Teknik analisis data dengan menggunakan skema analisis Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukan bahwa undangan digital semakin masif khususnya di kalangan generasi Z. Timbulnya undangan digital merubah pola resiprositas pada tradisi kondangan Kuningan jadi lebih bersifat investasi dan transaksional.
Kata Kunci: Resiprositas, tradisi kondangan, generasi Z, undangan digital.
Abstract
This research aims to analyze the perspective of generation Z in interpreting reciprocity in the Kuningan kondangan tradition in the digital era. This phenomenon is important to study since the emergence of digital invitations has changed conventional patterns in the Kuningan condangan tradition. It becomes its own dynamics in carrying out generation Z's reciprocity relationship. The theory used in analyzing the research results is the theory of giving initiated by Marcel Mauss. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. The selection of informants in this study used the snowball sampling method. The process starts with one key informant who then recommends other informants, thus forming a network of respondents gradually. The main focus of informant selection is individuals from Generation Z who have been directly involved in the practice of reciprocity in the kondangan tradition, with the criteria of having experience as a giver or receiver. Of the ten individuals interviewed, only four informants met the selective criteria, namely age suitability, empirical experience, and understanding of the context of the tradition under study. The data analysis technique uses the Miles, Huberman, and Saldana analysis scheme. The results showed that digital invitations are increasingly massive, especially among generation Z. The emergence of digital invitations changed the pattern of reciprocity in the Kuningan kondangan tradition to be more investment and transactional.
Keywords: Reciprocity, kondangan tradition, generation Z, digital invitation.
4659349976K1C020052Rancang Bangun Prototipe Sistem Otomatisasi Jembatan Timbang dengan Sensor Load Cell Berbasis IoTSebagai salah satu prasarana yang mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi barang, jalan perlu dijaga dari kerusakan akibat beban berlebih. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membangun sebuah jembatan timbang. Akan tetapi, jembatan timbang yang ada dinilai masih kurang efektif dan memiliki risiko kargo yang tinggi. Maka dari itu, melalui penelitian ini, peneliti merancang dan membangun prototipe jembatan timbang dengan sensor Load Cell yang dilengkapi dengan sistem otomatisasi berbasis IoT menggunakan aplikasi mobile Blynk IoT untuk meminimalkan risiko kargo serta meningkatkan efektivitas. Otomatisasi pada prototipe ini berupa sistem peringatan ketika terjadi kelebihan muatan dalam bentuk notifikasi pada aplikasi mobile Blynk IoT, serta peringatan visual berupa indikator LED. Selain itu, prototipe ini juga dapat mencatat dan merekam hasil pengukuran secara real-time pada Google Spreadsheet. Adapun penelitian ini dilakukan dalam enam tahapan, yaitu tahap persiapan, pengujian respons sensor Load Cell, perancangan program dan perangkat keras prototipe, perancangan dan perangkaian prototipe sistem, pengujian prototipe sistem, serta analisis data hasil pengujian prototipe sistem. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, prototipe sistem otomatisasi jembatan timbang dengan sensor Load Cell berbasis IoT telah berhasil dibangun dan dapat berjalan dengan baik dengan akurasi sebesar 97% dan waktu respons 0,87 sekon. Selain itu, prototipe ini juga telah berhasil melakukan peringatan otomatis berupa notifikasi dan indikator LED ketika terjadi kelebihan muatan, serta berhasil merekam data secara real-time tanpa adanya intervensi petugas.
Kata Kunci: Jembatan Timbang, Sensor Load Cell, Internet of Things, Blynk.
Roads represent a critical component of infrastructure, supporting community mobility and the distribution of goods. Ensuring the maintenance of these roads is paramount. The construction of a weighbridge is a viable method to achieve this objective. However, extant weighbridges are considered ineffective and pose significant risks to cargo. Consequently, the researchers developed a weighbridge prototype equipped with load cell sensors and an Internet of Things (IoT)-based automation system using the Blynk IoT mobile application. This system was designed to minimize cargo risks and enhance effectiveness. The automation in this prototype incorporates a warning system in the event of an overload, manifesting as notifications on the Blynk IoT mobile application and supplementary visual warnings via LED indicators. Furthermore, the prototype has the capacity to record and log measurement results in real-time on Google Spreadsheets. The research was methodically executed in six stages: initial preparation, assessment of the load cell sensor's responsiveness, design of the program and hardware for the prototype, assembly of the prototype system, testing of the prototype system, and data analysis from the prototype system testing. The research conducted has yielded the successful construction and operation of an IoT-based load cell sensor automated weighbridge system prototype, exhibiting an accuracy of 97% and a response time of 0.87 seconds. Furthermore, the prototype has effectively implemented automatic alerts in the form of notifications and LED indicators when overloading occurs. It has also successfully recorded data in real time without any intervention from personnel.
Keyword: Weighbridges, Load Cell Sensor, Internet of Things (IoT), Blynk.
4659450003A1D021156Respon Fisiologis Tanaman Jagung Manis Terhadap Berbagai Dosis P dan Kasgot yang Diperkaya Bicohar, Legum, dan Zeolit di Tanah UltisolJagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan salah satu komoditas pangan yang penting bagi perekonomian Indonesia. Lahan kering yaitu tanah ultisol berpotensi sebagai tempat budidaya meskipun memiliki kandungan bahan organik rendah, kejenuhan Al tinggi, pH masam, dan unsur P rendah. Pemanfaatan kasgot dan pupuk P menjadi solusi potensial dalam meningkatkan produktivitas jagung manis di tanah ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimum pupuk P dan kasgot yang diperkaya biochar, zeolit, dan legum untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis di tanah ultisol. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama meliputi P0 = kontrol (tanpa aplikasi P), P1 = 25 kg ha-1 P2O5, P2 = 50 kg ha-1 P2O5, P3 = 75 kg ha-1 P2O5. Faktor kedua meliputi K0 = control (tanpa kasgot), K1 = 10 ton ha-1, K2 = 20 ton ha-1, K3 = 30 ton ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi aplikasi P dan kasgot. Aplikasi kasgot berpengaruh terhadap luas daun, panjang akar total, bobot kering tanaman, laju asimilasi bersih, laju pertubuhan relatif, bobot daun khas, rasio tajuk akar, klorofil b, serapan P, dan panjang serta bobot tongkol berkelobot. Aplikasi P berpengaruh pada luas daun, klorofil b dan total, serta panjang akar total. Dosis optimum kasgot untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis di tanah ultisol sebesar 20,36 ton/ha-1.Sweet corn (Zea mays saccharata Sturt.) is one of the important food commodities for the Indonesian economy. Dry land, namely ultisol soil, has the potential as a cultivation site despite its low organic matter content, high Al saturation, acidic pH, and low P content. The use of maggot frass and phosphorus fertilizer is a potential solution to enhance sweet corn productivity in Ultisol soils. This study were aimed to determine the optimal doses of phosphorus fertilizer and maggot frass enriched with biochar, zeolite, and legumes to improve the growth and yield of sweet corn plants in Ultisol soils. The study used a Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors and three replications. The first factor included P0 = control (no P application), P1 = 25 kg ha-1 P₂O₅, P2 = 50 kg ha-1 P₂O₅, P3 = 75 kg ha-1 P₂O₅. The second factor includes K0 = control (without maggot frass), K1 = 10 tons ha-1, K2 = 20 tons ha-1, K3 = 30 tons ha-1. The results of the study indicate that there is no interaction between P and maggot frass. Maggot frass affects leaf area, total root length, dry plant weight, net assimilation rate, relative growth rate, specific leaf weight, crown-to-root ratio, chlorophyll b, P uptake, and cob length and weight. P application affected leaf area, chlorophyll b and total chlorophyll, and total root length. The optimal dose to enhance growth and yield of sweet corn in ultisol soil was 20.36 tons ha-1.
4659549987A1D021168Aplikasi Multiplexing PCR Berbasis Marka SSR untuk Seleksi Karakter Kandungan Antosianin dan Aromatik pada Tanaman PadiPadi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Varietas padi dengan karakteristik aromatik dan kandungan antosianin kian diminati sebab nilai ekonomi dan manfaat kesehatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan teknologi multiplex PCR berbasis penanda SSR sebagai metode seleksi molekuler untuk mendeteksi sifat aromatik dan antosianin secara simultan, serta menganalisis kesesuaian hasil molekuler dengan fenotipe tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Jenderal Soedirman selama Juli 2024–Mei 2025 menggunakan 8 genotipe padi dengan kombinasi sifat berbeda. DNA padi diekstraksi dengan menggunakan metode CTAB, kemudian diuji kualitas dan kuantitasnya sebelum dilakukan amplifikasi menggunakan PCR tunggal dan multipleks dengan penanda RM336 (antosianin) dan RM515 (aromatik). Hasil amplifikasi dianalisis berdasarkan ukuran pita dan dibandingkan dengan karakter fenotipik masing-masing genotipe. Teknik PCR multipleks terbukti mampu mendeteksi dua sifat genetik sekaligus dalam satu reaksi. Analisis data biner menggunakan metode UPGMA menunjukkan pola pengelompokan yang selaras dengan fenotipe, seperti Pandan Wangi dan Basmati Pakistan dalam klaster aromatik non-antosiani, serta Galur 1 dan 2 dalam kelompok berpigmen. Genotipe Jeliteng menempati posisi unik sebagai satu-satunya yang memiliki kedua sifat. Hasil ini menegaskan efektivitas multiplex PCR sebagai alat seleksi dan analisis kekerabatan molekuler pada tanaman padi.Rice (Oryza sativa L.) is a strategic commodity in maintaining national food security. Varieties with aromatic characteristics and anthocyanin content are increasingly in demand due to their economic value and health benefits. This study aims to test the application of SSR marker-based multiplex PCR technology as a molecular selection method to detect aromatic and anthocyanin traits simultaneously, and to analyze the suitability of molecular results with rice plant phenotypes. The study was conducted at Jenderal Soedirman University from July 2024–May 2025 using eight rice genotypes with different trait combinations. DNA was extracted using the CTAB method, then tested for quality and quantity before amplification using single and multiplex PCR with RM336 (anthocyanin) and RM515 (aromatic) markers. The amplification results were analyzed based on band size and compared with the phenotypic characteristics of each genotype. The multiplex PCR technique was proven to be able to detect two genetic traits simultaneously in a single reaction. Binary data analysis using the UPGMA method showed clustering patterns consistent with phenotypes, with Pandan Wangi and Pakistani Basmati in the non-anthocyanin aromatic cluster, and Lines 1 and 2 in the pigmented cluster. The Jeliteng genotype holds a unique position as the only one possessing both traits. These results confirm the effectiveness of multiplex PCR as a selection tool and molecular relationship analysis in rice plants.
4659649991K1B018012MODEL MATEMATIKA YANG DIMODIFIKASI UNTUK PENYEBARAN WORD OF
MOUTH DENGAN PENGARUH BRAND COMMUNITY
Pada penelitian ini akan dikonstruksi model SICPN yang dimodifikasi
untuk penyebaran word of mouth dengan pengaruh brand community. Pada model
tersebut populasi dibagi menjadi lima subpopulasi, yaitu suspectible (subpopulasi
individu yang merupakan calon pembeli potensial atau sebagai target pasar), infected
(subpopulasi individu yang membeli produk), community (subpopulasi individu yang
menjadi anggota komunitas), positive (subpopulasi individu anggota komunitas yang
memberikan komentar positif), dan negative (subpopulasi individu anggota komunitas
yang memberikan komentar negatif). Penyelesaian model dicari secara kualitatif
dengan menganalisis perilaku model di sekitar titik kesetimbangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa model hanya mempunyai satu titik kesetimbangan dan titik
tersebut bersifat stabil asimtotis.
In this research, the modified SICPN model will be constructed for the
spread word of mouth which is influenced by the brand community. Population in this
model is divided into five sub-populations, namely susceptible (sub-population of
individuals being potential buyers or market targets), infected (sub-population of
individuals who buying products), community (sub-population of individuals being
members of the community), positive (sub-population of members community members
giving positive comments), and negative (the subpopulation of members of the
community giving negative comments). The solution of the model is given qualitatively
by analyzing the behavior of the model around the equilibrium point. The result shows
that there is only one equilibrium point and this point is asymptotically stable.
4659749988L1A021011Karakteristik Kualitas Air Berdasarkan Parameter Fisika dan Kimia Air di Segara Anakan Timur Kabupaten CilacapSegara Anakan Timur merupakan kawasan estuari yang mengalami tekanan dari aktivitas antropogenik. Kualitas air di kawasan ini dipengaruhi oleh parameter fisika kimia yang dapat memengaruhi ketersediaan nutrien utama, yaitu nitrat (NO₃⁻) dan fosfat (PO₄³⁻), yang berperan penting dalam produktivitas primer perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik parameter fisika dan kimia air serta hubungannya dengan konsentrasi nitrat (NO₃⁻) dan fosfat (PO₄³⁻). Penelitian dilaksanakan pada Desember 2024 di tujuh stasiun pengamatan menggunakan metode purposive sampling. Parameter yang diukur meliputi suhu, TDS, pH, salinitas, nitrat, dan fosfat, dengan analisis data secara deskriptif dan uji korelasi Pearson. Hasil pengukuran menunjukkan kisaran suhu 30-42°C, TDS 7925–9999 mg/L, pH 6,96-7,44, salinitas 6-11 ppt, nitrat 0,0039-0,0049 mg/L, dan fosfat 0,126-0,345 mg/L. Uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa suhu berkorelasi negatif terhadap nitrat (-0,480; selang kepercayaan 72,5%) dan fosfat (-0,643; 88,1%) yang mengindikasikan bahwa kenaikan suhu mempercepat proses denitrifikasi sehingga nitrat berkurang, serta meningkatkan presipitasi fosfat yang menurunkan konsentrasi fosfat terlarut. pH berkorelasi positif terhadap nitrat (0,350; 55,8%) dan negatif terhadap fosfat (-0,512; 76%). TDS dan salinitas memiliki korelasi sangat lemah terhadap kedua nutrien (selang kepercayaan < 20%). Penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengelola kawasan untuk menetapkan kebijakan pengendalian aktivitas antropogenik dan pemantauan rutin kualitas air di Segara Anakan Timur sesuai kondisi ekologis lokal.


Segara Anakan Timur is an estuary area that is under pressure from anthropogenic activities. Water quality in this area is influenced by physical-chemical parameters that can affect the availability of key nutrients, namely nitrate (NO₃⁻) and phosphate (PO₄³⁻), which play an important role in the primary productivity of aquatic environments. This study aims to analyze the characteristics of physical and chemical water parameters and their relationship with nitrate (NO₃⁻) and phosphate (PO₄³⁻) concentrations. The study was conducted in December 2024 at seven observation stations using purposive sampling. The measured parameters included temperature, TDS, pH, salinity, nitrate, and phosphate, with data analyzed descriptively and using Pearson correlation tests. Measurement results showed temperature ranges of 30-42°C, TDS 7925-9999 mg/L, pH 6.96-7.44, salinity 6-11 ppt, nitrate 0.0039-0.0049 mg/L, and phosphate 0.126-0.345 mg/L. The Pearson correlation test showed that temperature was negatively correlated with nitrate (-0.480; confidence interval 72.5%) and phosphate (-0.643; 88.1%), indicating that an increase in temperature accelerates the denitrification process, thereby reducing nitrate levels, and increases phosphate precipitation, which lowers dissolved phosphate concentrations. pH was positively correlated with nitrate (0.350; 55.8%) and negatively correlated with phosphate (-0.512; 76%). TDS and salinity had very weak correlations with both nutrients (confidence interval < 20%). This study provides a scientific basis for area managers to establish policies for controlling anthropogenic activities and routine monitoring of water quality in Segara Anakan Timur in accordance with local ecological conditions.
4659849992H1C021054ANALISIS PREDIKSI NILAI PEAK PARTICLE ACCELERATION (PPA) BERDASARKAN SCALED DISTANCE (SD) DAN PENGARUH GETARAN PELEDAKAN TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA TAMBANG BATUBARA TERBUKA PT. SEBUKU SEJAKA COAL, KALIMANTAN SELATAN.PT. SSC adalah perusahaan pertambangan batubara di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui berapa nilai maksimum getaran yang diizinkan supaya tidak beresiko terhadap lereng dan menentukan maksimum bahan peledak serta jarak peledakan serta desain LOM (Life of Mine) yang sudah ada akan dianalisis kemudian dibuatkan rekomendasi geometri yang lebih optimal. Kajian kondisi geologi dilakukan observasi lapangan, metode analisis kestabilan lereng menggunakan kesetimbangan batas Morgenstern-Price, dan untuk analisis prediksi getaran menggunakan regresi linear. Low wall memiliki geometri kemiringan yang bergradasi melandai dari 17° hingga 10°, FK pada kondisi statis dan jenuh bernilai 4,05 dan secara dinamis 0,02g bernilai 2,549, rata-rata penurunan FK sebanyak 5,28% per kenaikan seismic load sebanyak 0,025g. High Wall memiliki sudut tiap jenjang 60°, tinggi 10m dan lebar 6m dengan ramp 25m serta total kemiringan 37°. FK High Wall pada kondisi statis adalah 1,653 dan pada dinamis 0,02g mendapat 1,249, rata-rata penurunan FK sebanyak 3,230% per kenaikan seismic load 0,025g. Lereng rekomendasi memiliki sudut per lereng tunggal 60°, tinggi 10m kecuali pada seam K setinggi 11,7m, lebar jenjang 5 meter dan ramp 20m, dengan kemiringan keseluruhan 39°. FK lereng rekomendasi pada dinamis 0,02g adalah 1,206. Lereng akan aman dengan getaran seismik <0,02g dengan peledak per jeda ledak maksimum 40kg dalam jarak 100 meter, dan maksimum 190kg pada jarak 200 meter, dengan jarak kelipatan 100 berikutnya lereng diprediksi akan tetap stabil hingga bahan peledak 200kg/jeda ledakPT. SSC is a coal mining company operating in Kotabaru Regency, South Kalimantan. This study was conducted to determine the maximum permissible vibration value to minimize risks to slopes, establish the maximum explosive charge and blasting distance, and analyze the existing Life of Mine (LOM) design to provide recommendations for a more optimal slope geometry. Geological conditions were assessed through field observations, slope stability analysis using the Morgenstern-Price limit equilibrium method, and vibration prediction analysis employing linear regression The low wall has a gradually flattening slope angle ranging from 17° to 10°, with a static safety factor (SF) of 4.05 and a dynamic SF of 2.549 under 0.02g seismic load, showing an average SF reduction of 5.28% per 0.025g increase in seismic load. The high wall has a bench angle of 60°, a height of 10m, a width of 6m, a ramp width of 25m, and an overall slope angle of 37°. The static SF of the high wall is 1.653, decreasing to 1.249 under 0.02g dynamic load, with an average SF reduction of 3.230% per 0.025g increase in seismic load. The recommended slope design features a single bench angle of 60°, a bench height of 10m (except for seam K at 11.7m), a bench width of 5m, a ramp width of 20m, and an overall slope angle of 39°. The dynamic SF of the recommended slope under 0.02g seismic load is 1.206. The slope is predicted to remain stable under seismic vibrations below 0.02g, with a maximum explosive charge of 40kg per delay at 100m distance and 190kg at 200m distance. Beyond this, the slope is expected to remain stable for charges up to 200kg per delay at increments of 100m.
4659949993H1C019045GEOLOGI DAERAH PETAHUNAN DAN SEKITARNYA KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAHPenelitian geologi dilakukan di daerah Petahunan dan sekitarnya, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Secara geomorfologi, wilayah ini terbagi menjadi empat satuan utama, yaitu Satuan Punggungan Aliran Lahar Pekuncen, Satuan Lembah Homoklin Cibangkong, Satuan Punggungan Homoklin Kedungurang, dan Satuan Lembah Sinklin Kali Arus. Pola aliran sungai yang berkembang didominasi oleh pola trellis, mencerminkan kontrol struktur geologi dan litologi terhadap arah aliran. Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas tiga satuan batuan, yaitu batupasir dan breksi basalt, serta perselingan batupasir dan batulempung. Sejarah geologi daerah ini dimulai pada Miosen Akhir (zona Blow N16–N18), ditandai oleh pengendapan batupasir karbonatan di lingkungan neritik luar hingga batial atas. Pada saat yang sama, aktivitas vulkanisme intensif menghasilkan breksi vulkaniklastik akibat longsoran tubuh gunung api, yang menjari secara lateral ke dalam batupasir Setelah fase vulkanisme mereda, terjadi transgresi laut yang menyebabkan pengendapan satuan perselingan batupasir dan batulempung pada zona N17–N19 di lingkungan laut dalam. Pada kala Pliosen–Plistosen, aktivitas tektonik kembali meningkat, menghasilkan deformasi berupa sesar naik dan pembentukan sinklin yang memengaruhi konfigurasi struktur geologi dan penyebaran litologi di wilayah ini.A geological study was conducted in the Petahunan area and its surroundings, located in Pekuncen District, Banyumas Regency, Central Java Province. Geomorphologically, the area is divided into four main geomorphological units: the Pekuncen Lahar Flow Ridge Unit, the Cibangkong Homocline Valley Unit, the Kedungurang Homocline Ridge Unit, and the Kali Arus Syncline Valley Unit. The drainage pattern is predominantly trellis, indicating a strong influence of geological structures and lithology on river flow orientation. The stratigraphy of the study area consists of three main rock units: sandstone, basalt breccia, and interbedded sandstone and claystone. The geological history of the area began in the Late Miocene (Blow Zone N16–N18), marked by the deposition of carbonate sandstone in outer neritic to upper bathyal environments. During the same period, intense volcanic activity produced volcaniclastic breccia as a result of volcanic edifice collapse, which interfingered laterally with the sandstone deposits. Following the decline of volcanic activity, a marine transgression occurred, leading to the deposition of interbedded sandstone and claystone within zones N17–N19 in a deep marine environment. In the Pliocene–Pleistocene, renewed tectonic activity caused deformation in the form of thrust faults and the formation of synclines, which influenced the structural configuration and lithological distribution of the study area.
4660049994F1A021009Praktik Self-Reward di Kalangan Mahasiswi FISIP UnsoedSelf-reward menjadi fenomena yang dilakukan di kalangan mahasiswa, salah satunya pada mahasiswi FISIP Unsoed. Self-reward merupakan cara mencintai diri sendiri dengan memberi penghargaan, mengapresiasi, memberi hadiah dan menghargai usaha serta pencapaian yang telah terlewati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan praktik self-reward di kalangan mahasiswi FISIP Unsoed. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik purposive sampling digunakan sebagai teknik penentuan informan dengan jumlah 7 orang mahasiswi FISIP Unsoed. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna self-reward di kalangan mahasiswi adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri atas pencapaian yang telah terlewati. Kemudian, praktik Self-reward di kalangan mahasiswi lebih sering melakukan pembelian makanan. Selain itu, praktik self-reward juga dilakukan secara online terutama di Instagram. Instagram sebagai media aktualisasi dan ekspresi diri ketika mahasiswi melakukan self-reward. Mahasiswi mempunyai kontrol dan batasan yang baik dalam mempraktikkan self-reward. Self-reward has become a widespread phenomenon among students, including female students of FISIP Unsoed. Self-reward is a way of self-love by giving rewards, appreciation, giving gifts, and appreciating efforts and achievements that have been passed. This study aims to describe the meaning and practice of self-reward among female students of FISIP Unsoed. This study uses a descriptive qualitative method. Data collection methods include observation, interviews, and documentation. A purposive sampling technique was used to determine informants with a total of 7 female students of FISIP Unsoed. The results of this study indicate that the meaning of self-reward among female students is as a form of appreciation for oneself for past achievements. Then, the practice of self-reward among female students is more often to buy food. In addition, the practice of self-reward is also carried out online, especially on Instagram. Instagram is a medium for self-actualization and self-expression when female students do self-reward. Female students have good control and boundaries in practicing self-reward.