Artikelilmiahs
Menampilkan 44.721-44.740 dari 48.759 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 44721 | 48086 | I1C021002 | ANALISIS GC-MS EKSTRAK ETANOLIK DAN FRAKSI-FRAKSI KULIT KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) SERTA AKTIVITASNYA SEBAGAI INHIBITOR ENZIM α-GLUKOSIDASE | Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang prevalensinya terus meningkat. Salah satu pendekatan untuk tindakan preventif terjadinya DM dapat dilakukan menggunakan bahan alam. Kayu manis (Cinnamomum burmannii) memiliki kandungan senyawa-senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antidiabetes. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol dan fraksi-fraksi C. burmannii, serta untuk mengetahui aktivitas penghambatanya terhadap enzim α-glukosidase. Metodelogi: Penelitian diawali dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi, dilanjutkan fraksinasi dengan metode partisi padat cair, identifikasi senyawa GC-MS menggunakan instrumen Method Screening Daun Splitless dengan detektor mass spectrometry (MS) yang dioprasikan menggunakan mode ionisasi electron impact (EI), dan uji aktivitas inhibisi enzim α-glukosidase secara enzimatis. Hasil: Analisis kandungan senyawa C. burmannii menggunakan GC-MS terdeteksi bahwa senyawa dengan persen area tertinggi pada ekstrak etanol adalah (Z)-3- Phenylacrylaldehyde (48,69%), fraksi n-heksan adalah (Z)-3-Phenylacrylaldehyde (30,77%), fraksi kloroform adalah 2-Propenoic acid, 3 (2-hydroxyphenyl) (34,48%), fraksi etil asetat adalah 2-Propenoic acid, 3-(2-hydroxyphenyl) (34,20%), dan pada fraksi etanol adalah (Z)-3-Phenylacrylaldehyde (20,41%). Persentase inhibisi terhadap enzim α-glukosidase dengan konsentrasi 500 ppm, 250 ppm, dan 125 ppm pada ekstrak etanol yaitu sebesar 66,50%, 65,79%, dan 58,63%; fraksi n-heksan yaitu 67,73%, 67,54%, dan 65,82%; fraksi kloroform yaitu 80,49%, 75,83%, dan 70,83%; fraksi etil asetat yaitu 66,99%, 65,64%, dan 63,39%; dan fraksi etanol yaitu 28,46%, 27,94%, dan 19,24%. Kesimpulan: Kandungan senyawa dengan persen area tertinggi pada ekstrak etanol dan fraksifraksi C. burmanii adalah senyawa (Z)-3-Phenylacrylaldehyde dan 2-Propenoic acid, 3-(2hydroxyphenyl). Pada uji aktivitas enzim α-glukosidase, ekstrak dan fraksi-fraksi C. burmannii menunjukan adanya aktivitas inhibisi terhadap enzim α-glukosidase terkecuali pada fraksi etanol. | Background: Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease with a continuously increasing prevalence. Treatment for DM using synthetic drugs has several drawbacks, such as lower therapeutic effectiveness, greater side effects, and higher costs. One of approaches to finding alternative treatments is through the use of natural products. Cinnamon (Cinnamomum burmannii) is a plant known for its antidiabetic activity. It has been empirically used and studied for its potential antidiabetic properties. This study aims to identify the compounds present in the ethanolic extract and fractions of C. burmannii and to determine whether these extracts and fractions exhibit inhibitory activity against the α-glucosidase enzyme. Methodology: The research began with an extraction using the maceration method, followed by fractionation using the liquid-solid partition method. The compound content was identified by using GC-MS, and α-glucosidase enzyme inhibition activity was tested by using an enzymatic approach. Results: The analysis of C. burmannii compund using GC-MS showed that the highest percentage area compounds in the ethanolic extract: (Z)-3-Phenylacrylaldehyde (48.69%); in the n-hexane fraction: (Z)-3-Phenylacrylaldehyde (30.77%); in the chloroform fraction: 2-Propenoic acid, 3-(2 hydroxyphenyl) (34.48%); in the ethyl acetate fraction: 2-Propenoic acid, 3-(2-hydroxyphenyl) (34.20%); and in the ethanol fraction: (Z)-3-Phenylacrylaldehyde (20.41%). The percentage of α glucosidase enzyme inhibition for the ethanolic extract at concentrations of 500 ppm, 250 ppm, and 125 ppm was 66.503%, 65.793%, and 58.633%, respectively. For the n-hexane fraction at the same concentrations, the inhibition percentages were 67.730%, 67.540%, and 65.827%. For the chloroform fraction, the inhibition percentages were 80.490%, 75.836%, and 70.836%. For the ethyl acetate fraction, the inhibition percentages were 66.993%, 65.648%, and 63.390%. However, for the ethanol fraction, the inhibition percentages were 28.466%, 27.947%, and 19.244%. | |
| 44722 | 48087 | C1G021014 | ECONOMIC VALUATION OF PURWOKERTO TERATAI TOWER: A TRAVEL COST METHOD (TCM) APPROACH | Pembangunan daerah dengan memanfaatkan potensi yang ada merupakan salah upaya pemerintah dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kabupaten Banyumas memiliki potensi wisata alam yang potensial, oleh karena itu pemerintah melakukan berbagai pembangunan terkait pengembangan pada sektor wisata. Salah satu pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan Menara Teratai, pembangunan ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata namun juga sebagai area Ruang Terbuka Hijau (RTH). Strategi ini memiliki potensi ganda dalam meningkatkan pendapatan daerah dan menciptakan keseimbangan pembangunan dengan memadukan aspek ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya nilai valuasi ekonomi pada Menara Teratai serta menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan pada Menara Teratai Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan biaya perjalanan (Travel Cost Method). Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 responden dengan kriteria; 1) Memiliki umur minimal 17 tahun, 2) Sedang melakukan kunjungan ke Menara Teratai saat dilakukan wawancara, dan 3) Pernah melakukan kunjungan ke objek substitusi yaitu Taman Andhang Pangrenan. Penelitian ini menggunakan variabel Biaya Perjalanan, Pendapatan, Tingkat Pendidikan, Fasilitas, Substitusi Wisata, dan Jumlah Rombongan sebagai variabel independen dan Jumlah Kunjungan sebagai variabel dependen. Hasil perhitungan menunjukkan besarnya total biaya perjalanan pengunjung pada objek Menara Teratai Purwokerto sebesar Rp 14.208.000 dengan nilai rata-rata biaya perjalanan pengunjung sebesar Rp 142.080. besarnya nilai ekonomi Menara Teratai Purwokerto sebesar Rp 2.313.971.712.000/Tahun. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji Independen Sample t-test diperoleh faktor yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan adalah Pendapatan, Tingkat Pendidikan, Fasilitas, dan Jumlah Rombongan. Sedangkan variabel Biaya Perjalanan dan Substitusi Wisata tidak berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke Menara Teratai Purwokerto. Keterbatasan ada pada keterbatasan signifikan dalam hal jumlah data yang relatif kecil yang berpotensi membatasi representasi populasi yang lebih luas dan kekuatan statistik analisis, serta dalam hal keterbatasan waktu penelitian, yang dapat menghambat eksplorasi fenomena secara mendalam dan komprehensif, terutama dalam menangkap dinamika atau perubahan yang terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama. | The development of regions by utilizing existing potential is one of the government's efforts to increase local revenue. Banyumas Regency has significant natural tourism potential; therefore, the government is undertaking various developments related to the tourism sector. One of the developments is the construction of the Teratai Tower, which not only serves as a tourist attraction but also as a Green Open Space (GOS). This strategy has dual potential in enhancing regional income and creating a balance in development by integrating economic and environmental aspects. This research aims to calculate the economic valuation of Purwokerto Teratai Tower and analyze the economic factors influencing the number of visits to Purwokerto Teratai Tower. This study employs the Travel Cost Method (TCM) approach. The population in this research consists of 100 respondents with the following criteria: 1) A minimum age of 17 years, 2) Currently visiting the Teratai Tower at the time of the interview, and 3) Having previously visited a substitute object, namely Andhang Pangrenan Park. This study utilizes the variables of Travel Cost, Income, Education Level, Facilities, Tourist Substitutes, and Number of Group as independent variables, and Number of Visits as the dependent variable. The calculation results indicate that the total cost of visitors' trips to the Purwokerto Teratai Tower amounts to Rp 14,208,000, with an average trip cost per visitor of Rp 142,080. The economic value of Purwokerto Teratai Tower is Rp 2,313,971,712,000 per year. Based on the analysis using the Independent Sample t-test, the factors influencing the number of visits are income, education level, facilities, and number of groups. Meanwhile, the variables of travel costs and tourism substitution do not affect the number of tourist visits to the Teratai Tower. The limitations of this research terms of the relatively small amount of data that has the potential to limit representation of the wider population and the statistical power of the analysis, as well as in terms of limited research time, which may hinder the exploration of the phenomenon in depth and comprehensively, especially in capturing the dynamics or changes that occur over a longer period of time. | |
| 44723 | 48122 | I1D021014 | HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI HEME, NON HEME, DAN POLA MENSTRUASI DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI | Latar Belakang : Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami anemia. Prevalensi anemia di Indonesia mengalami peningkatan 18,4% pada tahun 2018. Anemia pada remaja mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitasnya, serta berdampak panjang saat kehamilan dan kelahiran. Anemia defisiensi besi pada remaja dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya asupan zat besi dan menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan makanan sumber zat besi heme dan non heme serta pola menstruasi dengan kejadian anemia defisiensi besi pada remaja putri di SMA Negeri 1 Purwokerto. Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan desain penelitian cross sectional pada 81 remaja putri kelas X di SMA Negeri 1 Purwokerto. Sampel diambil menggunakan metode purposive sampling. Variabel yang diteliti yaitu asupan makanan sumber zat besi heme dan non heme, pola menstruasi dan kejadian anemia defisiensi besi. Pengambilan data menggunakan formulir skrinning responden, kuesioner karakteristik responden, pola menstruasi, SQ-FFQ, dan alat hemoglobinometer digital Sejoy. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Sebanyak 50,6% responden memiliki asupan zat besi heme dan non heme yang kurang, 70,4% responden memiliki pola menstruasi normal. Terdapat 22% responden mengalami anemia. Tidak terdapat hubungan antara asupan makanan sumber zat besi heme dengan kejadian anemia defisiensi besi (p=0,635). Tidak terdapat hubungan antara asupan makanan sumber zat besi non heme dengan kejadian anemia defisiensi besi (p=0,953). Tidak terdapat hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian anemia defisiensi besi (p=0,119). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara asupan makanan sumber zat besi heme, non heme dan pola menstruasi dengan kejadian anemia defisiensi besi | Background : Adolescents are an age group risk of anemia. Prevalence anemia in Indonesia increased 18,4% in 2018. Anemia in adolescent girls affects their growth and productivity, and has long term effect on pregnancy and childbirth. Iron deficiency anemia in adolescents possible due to various factor, including iron intake and menstruation. This study aims to determine association between heme and non-heme iron intake and menstrual patterns with the incidence of iron deficiency anemia in adolescent girls of SMA Negeri 1 Purwokerto. Methods : This study was an observational analytic study using a cross-sectional on 81 adolescent girls class X SMA Negeri 1 Purwokerto. The sample was selected by purposive sampling. The variables in this study were heme and non-heme iron intake, menstrual patterns, and the incidence of iron deficiency anemia. Data were collected using a respondent screening form, respondent characteristics, menstrual patterns questionnaire, SQ-FFQ, and Sejoy digital hemoglobinometer. Data were analyzed using Chi-Square test. Results : The research showed 50,6% respondents had insufficient heme and non-heme iron intake, 70,4% respondents had normal menstrual patterns, and 22% respondents had anemia. There was no association between heme iron intake with the incidence of iron deficiency anemia (p=0,635). There was no association between non-heme iron intake with the incidence of iron deficiency anemia (p=0,953). There was no association between menstrual patterns with the incidence of iron deficiency anemia (p=0,119). Conclusion : There was no association between heme and non-heme iron intake and menstrual patterns with the incidence of iron deficiency anemia. | |
| 44724 | 48123 | D1A021037 | PENGARUH PENAMBAHAN RUMPUT LAUT (GRACILARIA SP.) PADA PAKAN BASAL KAMBING YANG MENGANDUNG CHROMIUM TERHADAP KONSUMSI SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi tepung rumput laut (Gracilaria sp.) dan mineral Chromium (Cr) organik dalam pakan kambing terhadap konsumsi serat kasar (SK) dan protein kasar (PK). Penelitian dilaksanakan di Melon Farm, Jl. Gunung Tugel, Gg. Melon, Desa Karangklesem, Kec. Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, selama 4 bulan, dimulai dari bulan Maret hingga Juni 2024. Materi penelitian yang digunakan adalah kambing Jawarandu jantan umur 1 tahun dengan bobot badan 25,422,41 kg. Pakan perlakuan terdiri atas tepung rumput laut (Gracilaria sp.) dan Chromium (Cr) organik. Pakan basal yang diberikan sebanyak 4% (dalam bahan kering) yang terdiri atas 30% hijauan (rumput lapang) dan 70% konsentrat (pollard, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak, DDGS, tepung jagung, garam krosok, mineral mix, CaCO3) serta air minum Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Uji T (Test T). Perlakuan yang diujicobakan yaitu R0: Pakan basal + 1,5 ppm mineral Chromium (Cr) organik; R1: R0 + 2% tepung rumput laut (Gracilaria sp.). Perlakuan diulang sebanyak 9 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap konsumsi serat kasar (g/ekor/hari) dengan rataan R0 = 143,47 ± 31,88 dan R1 = 137,58 ± 25,51. Perlakuan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap konsumsi protein kasar (g/ekor/hari) dengan rataan R0 = 115,52 ± 18,41 dan R1 = 136,17 ± 22,73. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplementasi 2% tepung rumput laut (Gracilaria sp.) dalam pakan basal kambing yang mengandung Chromium (Cr) organik 1,5 ppm mempengaruhi konsumsi protein kasar, tetapi tidak mempengaruhi konsumsi serat kasar. | This study aimed to examine the effect of supplementation with seaweed meal (Gracilaria sp.) and organic Chromium (Cr) mineral in goat feed on crude fiber (CF) and crude protein (CP) intake. The research was conducted at Melon Farm, Jl. Gunung Tugel, Gg. Melon, Karangklesem Village, South Purwokerto District, Banyumas Regency. Laboratory analyses were carried out at the Animal Feed Science Laboratory, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, over a period of four months from March to June 2024. The experimental animals used were male Jawarandu goats aged 1 year with an average body weight of 25.42 ± 2.41 kg. The treatment feed consisted of seaweed meal (Gracilaria sp.) and organic Chromium (Cr). The basal feed was given at 4% of body weight (on a dry matter basis) and consisted of 30% forage (field grass) and 70% concentrate (pollard, soybean meal, coconut meal, rice bran, DDGS, corn meal, coarse salt, mineral mix, and CaCO₃), along with ad libitum drinking water. The study used an experimental method with a t-test. The treatments tested were: R0: Basal feed + 1.5 ppm organic Chromium (Cr), R1: R0 + 2% seaweed meal (Gracilaria sp.). Each treatment was replicated 9 times. The results showed that the treatment had no significant effect (P > 0.05) on crude fiber intake (g/head/day), with mean values of R0 = 143.47 ± 31.88 and R1 = 137.58 ± 25.51. The treatment had a significant effect (P < 0.05) on crude protein intake (g/head/day), with mean values of R0 = 115.52 ± 18.41 and R1 = 136.17 ± 22.73. From these result, it can be concluded that the supplementation of 2% seaweed meal (Gracilaria sp.) in the basal diet of goats containing 1.5 ppm of organic Chromium (Cr) affects crude protein intake but does not affect crude fiber intake. | |
| 44725 | 48089 | I1E021015 | Kontribusi Keseimbangan Dinamis, Kelincahan, dan Waktu Reaksi Terhadap Kemampuan Dribbling Pada Siswa Ekstrakurikuler Futsal SMA N 1 Baturraden. | KONTRIBUSI KESEIMBANGAN DINAMIS, KELINCAHAN, DAN WAKTU REAKSI TERHADAP KEMAMPUAN DRIBBLING PADA SISWA EKSTRAKURIKULER FUTSAL SMA N 1 BATURRADEN Dendi Saputra1, Rifqi Festiawan2, Yudhi Teguh Pambudi3 Latar Belakang: Teknik dasar futsal dapat digolongkan menjadi berbagai macam teknik dasar, salah satunya adalah teknik dribbling. Berdasarkan wawancara pada pelatih ekstrakurikuler futsal SMA N 1 Baturraden bahwasanya siswa yang mengikuti ekstrakurikuler saat melakukan dribbling bola masih sering lepas dan saat melakukan serangan balik siswa lambat dalam melakukan dribbling. Hal ini terindikasi kurangnya kemampuan teknik dasar yang mereka kuasai terbukti saat melakukan dribbling justru sering lepas. Sehingga peneliti membatasi penelitian apakah terdapat kontribusi antara keseimbangan dinamis, kelincahan, dan waktu reaksi terhadap kemampuan dribbling. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi adalah siswa ekstrakurikuler futsal SMA N 1 Baturraden yang berjumlah 31 siswa. Pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive sampling yang sebanyak 24 siswa. Analisis data penelitian ini menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah pearson correlation, uji korelasi ganda, uji regresi linear, dan uji regresi berganda. Hasil Penelitian: Terdapat kontribusi yang signifikan antara keseimbangan dinamis dengan kemampuan dribbling futsal sebesar 22,1%. Terdapat kontribusi yang signifikan antara kelincahan dengan kemampuan dribbling futsal sebesar 35,8%. Terdapat kontribusi yang signifikan antara waktu reaksi dengan kemampuan dribbling futsal sebesar 42,1%. Keseimbangan dinamis, kelincahan, dan waktu reaksi secara bersama sama memberikan kontribusi terhadap kemampuan dribbling futsal sebesar 64,3%. Kesimpulan: Keseimbangan dinamis, kelincahan, dan waktu reaksi berkontribusi dalam menunjang kemampuan dribbling futsal. Kata Kunci: Dribbling futsal, keseimbangan dinamis, kelincahan, waktu reaksi. | THE CONTRIBUTION OF DYNAMIC BALANCE, AGILITY, AND REACTION TIME TO DRIBBLING ABILITY IN STUDENTS OF THE FUTSAL EXTRACURRICULAR PROGRAM AT SMA N 1 BATURRADEN Dendi Saputra1, Rifqi Festiawan2, Yudhi Teguh Pambudi3 Background: Based on interviews with the futsal extracurricular coach at SMA N 1 Baturraden, it was found that students participating in the extracurricular program often struggle to maintain control of the ball while dribbling and are slow during counter-attacks. This indicates a lack of foundational technical skills, as evidenced by their frequent loss of control while dribbling. Therefore, the researcher aims to investigate whether there is a contribution from dynamic balance, agility, and reaction time to dribbling ability. Methodology: This research uses a quantitative method with a correlational approach. The population consists of 31 students from the futsal extracurricular program at SMA N 1 Baturraden. The sampling technique employed is purposive sampling, involving 24 students. Data analysis for this study includes prerequisite tests and hypothesis tests. The hypothesis tests used are Pearson correlation, multiple correlation tests, linear regression, and multiple regression tests. Research Results: There is a significant contribution between dynamic balance and futsal dribbling ability of 22.1%. There is a significant contribution between agility and futsal dribbling ability of 35.8%. There is a significant contribution between reaction time and futsal dribbling ability of 42.1%. Together, dynamic balance, agility, and reaction time contribute to futsal dribbling ability by 64.3%. Conclusion: Dynamic balance, agility, and reaction time contribute to enhancing dribbling skills in futsal. Keywords: Futsal dribbling, dynamic balance, agility, reaction time. | |
| 44726 | 48090 | I1E021050 | HUBUNGAN KONDISI FISIK, ANTROPOMETRI, DAN KECERDASAN KOGNITIF TERHADAP KETERAMPILAN SMASH SALTO SEPAK TAKRAW PADA ATLET PUTRA KARESIDENAN BANYUMAS | ABSTRAK HUBUNGAN KONDISI FISIK, ANTROPOMETRI, DAN KECERDASAN KOGNITIF TERHADAP KETERAMPILAN SMASH SALTO SEPAK TAKRAW PADA ATLET PUTRA KARESIDENAN BANYUMAS Afri Nur Faozi1, Rohman Hidayat2, Didik Rilastiyo Budi3 Latar Belakang: Olahraga termasuk sepak takraw, berperan penting dalam perkembangan fisik, mental, dan spiritual. Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan otot tungkai, antropometri, dan kecerdasan kognitif mempengaruhi kemampuan smash salto. Solusi yang diusulkan adalah pendekatan pelatihan yang menyeluruh, yang mencakup teknik, kekuatan fisik, antropometri, dan kecerdasan kognitif untuk meningkatkan prestasi atlet. Metodologi: Penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara power otot tungkai, kelincahan, koordinasi mata kaki, berat badan, panjang tungkai, dan kecerdasan kognitif dengan kemampuan smash salto pada atlet sepak takraw di Karesidenan Banyumas. Menggunakan desain korelasional, penelitian ini dilakukan pada Januari-Februari 2025 di Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga, dengan 15 atlet putra yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan antara lain tes Vertical Jump, Illinois Agility Run Test, Soccer Wall Voley, timbangan berat badan, meteran, Digit Span Test, dan drill smash salto. Penelitian ini bertujuan memberikan kontribusi pada pengembangan latihan yang lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan smash salto. Hasil Penelitian: Penelitian ini menganalisis hubungan antara kondisi fisik, antropometri, dan kecerdasan kognitif dengan keterampilan smash salto pada atlet sepak takraw putra di Karesidenan Banyumas. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beberapa variabel, seperti power otot tungkai (p=0,006), kelincahan (p=0,042), koordinasi mata-kaki (p=0,038), berat badan (p=0,035), panjang tungkai (p=0,000), dan kecerdasan kognitif (p=0,007) dengan keterampilan smash salto. Secara keseluruhan, semua variabel berkontribusi signifikan terhadap keterampilan smash salto (p=0,003). Temuan ini menegaskan pentingnya faktor fisik dan kognitif dalam meningkatkan keterampilan smash salto. Kesimpulan: Terdapat Hubungan antara Kondisi Fisik, Antropometri, Dan Kecerdasan Kognitif Terhadap Keterampilan Smash Salto Sepak Takaraw Pada Atlet Putra Karesidenan Banyumas Kata Kunci: Sepak Takraw, Smaash Salto, Kondisi Fisik, Antropometri, Kecerdasan Kognitif | ABSTRACT The Relationship Between Physical Condition, Anthropometry, And Cognitive Intelligence On Smash Salto Skill In Male Sepak Takraw Athletes In The Banyumas Residency Afri Nur Faozi1, Rohman Hidayat2, Didik Rilastiyo Budi3 Background: Sports including sepak takraw, play an important role in physical, mental, and spiritual development. Research shows that leg muscle strength, anthropometry, and cognitive intelligence affect the ability to execute a smash salto. The proposed solution is a comprehensive training approach that includes technique, physical strength, anthropometry, and cognitive intelligence to enhance athlete performance. Research Methodology: This study aims to identify the relationship between leg muscle power, agility, ankle coordination, body weight, leg length, and cognitive intelligence with the ability to perform a smash salto in sepak takraw athletes in the Banyumas Residency. Using a correlational design, this research was conducted in January-February 2025 in Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, and Purbalingga, with 15 male athletes selected through purposive sampling. The instruments used include the Vertical Jump test, Illinois Agility Run Test, Soccer Wall Voley, body weight scale, measuring tape, Digit Span Test, and smash salto drill. This study aims to contribute to the development of more effective training methods to improve smash salto skills. Research Results: his study analyzes the relationship between physical condition, anthropometry, and cognitive intelligence with the smash salto skill in male sepak takraw athletes in the Banyumas Residency. The results show a significant relationship between several variables, such as leg muscle power (p=0.006), agility (p=0.042), ankle coordination (p=0.038), body weight (p=0.035), leg length (p=0.000), and cognitive intelligence (p=0.007) with the smash salto skill. Overall, all variables significantly contribute to the smash salto skill (p=0.003). These findings emphasize the importance of both physical and cognitive factors in improving the smash salto skill. Conclusion: There is a relationship between physical condition, anthropometry, and cognitive intelligence with the smash salto skill in male sepak takraw athletes in the Banyumas Residency. Keywords: Sepak Takraw, Smash Salto, Physical Condition, Anthropometry, Cognitive Intelligence | |
| 44727 | 48091 | I1C021008 | Skrining Fitokimia Ekstrak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Dan Aktivitasnya Pada β-Glukosidase | Kulit kayu manis telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional serta berpotensi dikembangkan untuk pencegahan diabetes melitus. Kandungan senyawa kimia pada kulit kayu manis (C. burmannii) menyebabkan efek farmakologis terhadap diabetes berupa aktivitas teraupetik, terutama dalam penghambatan enzim glukosidase. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa dalam ekstrak kulit kayu manis (C burmannii) dan aktivitasnya melalui penghambatan enzimatis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan ekstraksi, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas enzim β-glukosidase. Skrining fitokimia dilakukan dengan metode reaksi warna menggunakan reagen tertentu, seperti HCl + serbuk Mg (flavonoid); FeCl3 3% dan 1% (fenol dan tanin); lieberman-burchard (steroid dan terpenoid); HCl 2N (saponin); dan Dragendrof (alkaloid). Skrining Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilakukan menggunakan fase diam (silika gel GF254), fase gerak n-heksan:etil asetat (9:1) dan kloroform:methanol (2:8), serta penampak noda menggunakan reagen sitroborat (flavonoid); FeCl3 (fenol); lieberman-burchard (steroid dan terpenoid); anisaldehid-asam sulfat (saponin); FeCl3 5% (tanin); dan Dragendrof (alkaloid). Aktivitas β-glukosidase dilakukan menggunakan kit Micro β-glukosidase Activity Assay (Abbkine). Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kualitatif, kemudian dilakukan perhitungan % inhibisi untuk mengetahui besar penghambatan enzim β-glukosidase serta perhitungan IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu manis (C. burmannii) mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol, steroid, terpenoid, dan tanin. Aktivitas inhibisi enzim β-glukosidase berdasarkan kit Micro β-glukosidase Activity Assay (Abbkine) pada konsentrasi 500, 250, 125, 62,5 dan 31,25 ppm, memiliki daya hambat sebesar 60,06%, 51,94%, 44,61%, 44,28%, dan 41,25% secara berturut-turut dengan nilai IC50 sebesar 233, 32 ppm. | Cinnamon bark has long been utilized in traditional medicine and shows potential for development in the prevention of diabetes melitus. The chemical compounds contained in cinnamon bark (C. burmannii) exhibit pharmacological effects on diabetes through therapeutic activities, particularly in the inhibition of the glucosidase enzyme. This study was conducted to identify the classes of compounds present in cinnamon bark extract (C. burmannii) and their activities through enzymatic inhibition. The research was conducted experimentally, involving the stages of extraction, phytochemical screening, and β-glucosidase enzyme activity analysis. Phytochemical screening was carried out using color reaction methods with specific reagents, such as HCl with Mg powder (flavonoids); 3% and 1% FeCl3 (phenols and tannins); Liebermann-Burchard reagent (steroids and terpenoids); 2N HCl (saponins); and Dragendorff reagent (alkaloids). Thin Layer Chromatography (TLC) screening was performed using a stationary phase (silica gel GF254), mobile phases of n-hexane:ethyl acetate (9:1) and chloroform:methanol (2:8), and visualization reagents such as citroborate reagent (flavonoids); FeCl3 (phenols); Liebermann-Burchard reagent (steroids and terpenoids); anisaldehyde-sulfuric acid (saponins); 5% FeCl3 (tannins); and Dragendorff reagent (alkaloids). β-glucosidase activity was analyzed using the Micro β-glucosidase Activity Assay Kit (Abbkine). The data obtained were analyzed descriptively and qualitatively, followed by the calculation of % inhibition to determine the degree of β-glucosidase enzyme inhibition and the IC50 value. The results showed that cinnamon bark extract (C. burmannii) contains flavonoid, phenol, steroid, terpenoid, and tannin compounds. The inhibition activity of the β-glucosidase enzyme based on the Micro β-glucosidase Activity Assay kit (Abbkine) at concentrations of 500, 250, 125, 62.5 and 31.25 ppm, had an inhibitory power of 60.06%, 51.94%, 44.61%, 44.28%, and 41.25% respectively with an IC50 value of 233.32 ppm. | |
| 44728 | 48092 | H1D020023 | Pengembangan Aplikasi Sistem Informasi Data UMKM dan BUM Desa Berbasis Website Menggunakan Laravel | UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dan BUM Desa (Badan Usaha Milik Desa) memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Sebagai sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi, pengelolaan data UMKM dan BUM Desa yang efektif sangatlah krusial untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan usaha ini. Namun, inventarisasi data UMKM dan BUM Desa masih menghadapi masalah utama yakni integrasi system yang buruk serta penggunaan sumber daya yang berlebih dalam menjalankan fungsinya. Hal ini sering kali menyebabkan informasi yang tidak akurat atau sulit diakses, yang pada akhirnya mengurangi kualitas dan kuantitas bantuan dari pemerintah. Dengan kemajuan teknologi informasi, pengembangan sistem informasi berbasis web menjadi solusi inovatif untuk mengatasi tantangan ini. Sistem berbasis web menawarkan kemudahan dalam mengelola, menyimpan, dan mendistribusikan data dengan cara yang lebih terstruktur, transparan, dan efisien. Dalam penelitian ini, dikembangkan sistem informasi berbasis web dengan menggunakan framework Laravel, yang dirancang untuk mendukung inventarisasi data UMKM dan BUM Desa. Sistem ini berfungsi sebagai solusi efektif untuk menyediakan data yang terintegrasi, memfasilitasi pengelolaan informasi dan efisiensi sumber daya. | UMKM (Micro, Small, and Medium Businesses) and BUM Desa (Village-Owned Enterprises) play a crucial role in driving economic growth, creating job opportunities, and improving the welfare of local communities. As sectors that form the backbone of the economy, the effective management of UMKM and BUM Desa data is critical to support the development and sustainability of these enterprises. However, the data collection process for UMKM and BUM Desa often faces various challenges, such as separated systems and inefficient process. These issues frequently result in inaccurate or inaccessible information, which in turn reduces the quality and quantity of assistance provided. With the advancement of information technology, the development of a web-based information system has become an innovative solution to address these challenges. A web-based system offers ease in managing, storing, and disseminating data in a more structured, transparent, and efficient manner. This study, a web-based information system was developed using the Laravel framework, designed to support the inventory of UMKM and BUM Desa data. This system serves as an effective solution to provide integrated data, facilitate information management, and support resource efficiency through its process. | |
| 44729 | 48093 | I1D021004 | Pengaruh Yogurt Kecambah Kacang Tanah Jahe Serai terhadap Gula Darah dan Lemak Viseral Penderita DMT-2 | Obesitas meningkatkan asam lemak bebas yang berdampak pada peningkatan risiko diabetes melitus tipe-2 (DMT-2). Penumpukan asam lemak bebas yang berlebih dari simpanan lemak viseral menyebabkan resistensi insulin, yang berujung pada kondisi hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian yogurt kecambah kacang tanah plus ekstrak jahe dan serai (Yo-canserah) terhadap kadar gula darah dan lemak viseral penderita DMT-2 dengan obesitas. Penelitian ini menggunakan metode true experimental pre-post test control group design. Responden penelitian adalah wanita DMT-2 berusia 40-70 tahun dengan IMT ≥25, kadar gula darah puasa ≥126 mg/dL, dan lemak viseral >9 di Desa Purwosari. Responden penelitian berjumlah 20 orang yaitu 10 kelompok Yo-canserah dan 10 kelompok plasebo. Pemberian yogurt sebanyak 200 mL/hari dilakukan setiap pagi selama 2 bulan dari jam 06.00-08.00 WIB. Kadar gula darah puasa dan lemak viseral diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan easy touch GCU dan BIA Karada Scan Omron. Food recall 24 jam dilakukan sebanyak 4 kali. Analisis data pada varibel kadar gula darah diuji menggunakan paired t-test. Sementara itu, pada variabel lemak viseral diuji menggunakan paired t-test dan Wilcoxon (p0,05), Yo-canserah efektif menurunkan kadar gula darah puasa sebesar 49,09% dari 224,78 mg/dL menjadi 114,44 mg/dL (p=0,044) dan lemak viseral sebesar 46,42% dari 11,61 menjadi 6,22 (p=0,011 Konsumsi Yo-canserah dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan lemak viseral, sehingga yogurt ini bermanfaat mencegah komplikasi DMT-2. | Obesity increases free fatty acids which have an impact on increasing the risk of type 2 diabetes mellitus (2DM). Excessive accumulation of free fatty acids from visceral fat stores causes insulin resistance, which leads to hyperglycemia (increased blood sugar levels). This research aimed to determine the effect of giving peanut sprout yogurt plus ginger and lemongrass extract (Yo canserah) on blood sugar and visceral fat levels in obese T2DM sufferers. This research used true experimental pre-post test control group design. Research respondents were DMT-2 women aged 40-70 years with a BMI ≥25, fasting blood sugar levels ≥126 mg/dL, and visceral fat >9 in Purwosari Village. There were 20 research respondents, namely 10 groups Yo-canserah and 10 placebo groups. Respondents consumed 200 mL of yogurt/day every morning for 2 months from 06.00-08.00 WIB. Fasting blood sugar and visceral fat levels were measured before and after the intervention easy touch GCU and BIA Karada Scan Omron. Food recall 24 hours was carried out 4 times. Data analysis on blood sugar level variables was tested using paired t-test. Meanwhile, the visceral fat variable was tested using paired t-test and Wilcoxon (p0.05), Yo-canserah effectively reduced fasting blood sugar levels by 49.09% from 224.78 mg/dL to 114.44 mg/dL (p=0.044) and visceral fat by 46,42% from 11.61 to 6.22 (p=0.011). Consumption Yo-canserah may reduce fasting blood sugar levels and visceral fat, thus this yogurt is useful for preventing DMT-2 complications. | |
| 44730 | 48094 | E1A021034 | TANGGUNG JAWAB AHLI WARIS ATAS PEMBAYARAN UANG PENGGANTI KORUPSI SEBAGAI UPAYA PEMULIHAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA (Studi Putusan Nomor 47/Pdt.G/2023/PN Nab) | Pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sering kali terhambat karena pelaku telah meninggal dunia. Pihak yang dirugikan dapat melakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya untuk memulihkan kerugian keuangan Negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan gugatan ganti rugi pada Putusan Nomor 47/Pdt.G/2023/PN Nab serta tanggung jawab ahli waris setelah dikabulkannya gugatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual dan kasus dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis dari sumber data sekunder dengan metode analisis normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Majelis hakim mengabulkan gugatan ganti rugi atas perbuatan melawan hukum pewaris karena telah memenuhi seluruh unsur dalam Pasal 1365 KUHPerdata sebagai dasar menuntut ganti rugi atas perbuatan melawan hukum yaitu ada perbuatan melawan hukum, ada kesalahan, ada kerugian, ada hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian. Tanggung jawab ahli waris atas pembayaran uang pengganti korupsi dalam upaya pemulihan kerugian keuangan negara harus sesuai Pasal 830 dan Pasal 833 ayat (1) KUHPerdata. Ahli waris memperoleh hak dan kewajiban pewaris termasuk membayar uang pengganti sejumlah Rp2.153.796.475,- akibat korupsi yang dilakukan pewaris. | The recovery of state losses due to corruption crimes, particularly in cases where the perpetrator has passed away. The aggrieved party may initiate a civil suit against the heirs to recover the financial losses sustained by the state. This study aims to analyze the legal considerations of judges in granting compensation claims in Decision Number 47/Pdt.G/2023/PN Nab and the responsibilities of heirs after the granting of the lawsuit. This research employs a multifaceted approach, encompassing normative juridical methods, statutory analysis, conceptual exploration, and case studies. It utilizes prescriptive analytical research specifications from secondary data sources, complemented by qualitative normative analysis methods. The results of the study indicated that the panel of judges ruled in favor of the compensation claim for the heirs' unlawful act, as it met all the requirements outlined in Article 1365 of the Civil Code. This article serves as the legal basis for claiming compensation for unlawful acts, stating that an unlawful act must be present, there must be fault, there must be loss, and there is a causal relationship between the unlawful act and the loss. The responsibility of the heirs for the payment of compensation for corruption in an effort to recover state financial losses must be in accordance with Article 830 and Article 833 paragraph (1) of the Civil Code. The heirs obtain the rights and obligations of the testator including paying compensation in the amount of Rp2,153,796,475, - due to corruption committed by the testator. | |
| 44731 | 48095 | E1A021101 | TANGGUNG GUGAT PERUSAHAAN ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN OLEH KARYAWANNYA (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor 156/PDT/2023/PT.PLG) | Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya kelalaian dari karyawan sebagai supir yang memutar balik di jalan tol secara tiba sehingga menyebabkan kecelakaan yang lalu lintas dan menimbulkan kerugian bagi Para Penggugat/Terbanding yang mengalami cacat permanen dan kehilangan istrinya yang meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pertimbangan hakim dalam mengkualifisir perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti kerugian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan melakukan pengkajian terhadap data sekunder dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis. Data yang diperoleh disajikan dengan teks naratif dan metode analisis yang digunakan adalah normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, hakim menyatakan tindakan Tergugat I/Pembanding I dan Tergugat II/Pembanding II sebagai perbuatan melawan hukum. Namun, majelis hakim dalam pertimbangannya tidak menjelaskan kriteria perbuatan melawan hukum yang dilakukan. Penulis berpendapat bahwa perbuatan melawan hukum tergugat memenuhi kriteria melanggar hak orang lain yaitu hak perorangan, bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku berdasarkan Pasal 310 ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Majelis Hakim juga dalam membebankan tanggung jawab ganti kerugian kepada Tergugat II/Pembanding II tidak mengkualifisir unsur-unsur dari Pasal 1367 ayat (3). Penulis berpendapat unsur-unsur dari Pasal 1367 ayat (3) adalah pelayan/bawahan harus melakukan perbuatan melawan hukum yang dapat dituntut berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, adanya hubungan kerja yang merupakan hubungan subordinasi, ada hubungan antara perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh bawahan dengan pekerjaan yang diberikan oleh majikan. Penulis juga berpendapat jika pembebanan tanggung jawab ganti kerugian kepada Tergugat II/Pembanding II didasari oleh teori tanggung jawab risiko, karena perusahaan sebagai pemberi perintah telah meminta bantuan karyawannya untuk mengantarkan barang kepada konsumen, sehingga sudah kerugian dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat I/Pembanding I dapat dibebankan kepada Tergugat II/Pembanding II. | This research is motivated by the negligence of the employee as a driver who made a sudden U-turn on the toll road causing a traffic accident and causing losses to the Plaintiffs/Appellants who suffered permanent disability and the loss of his wife who died. This study aims to analyze how the judge's consideration in qualifying tort and compensation claims. In this research, the author uses normative juridical research methods by conducting an assessment of secondary data with prescriptive analytical research specifications. The data obtained is presented with narrative text and the analysis method used is normative qualitative. Based on the results of the research, the judge declared the actions of Defendant I/Appellant I and Defendant II/Appellant II as unlawful. However, the judges in their reasoning did not explain the criteria for unlawful acts committed. The author argues that the defendant's unlawful act meets the criteria of violating the rights of others, namely individual rights, contrary to the legal obligations of the perpetrator based on Article 310 paragraph (4) of the Road Traffic and Transportation Law. The Panel of Judges also failed to qualify the elements of Article 1367 paragraph (3) in imposing liability of compensation to Defendant II/Appellant II. The author argues that the elements of Article 1367 paragraph (3) are that the servant/subordinate must commit a tort that can be prosecuted under Article 1365 of the Civil Code, there is a working relationship which is a relationship of subordination, there is a relationship between the tort committed by the subordinate and the work provided by the employer. The author is also of the opinion that the imposition of liability of compensation to Defendant II/Appellant II is based on the theory of risk liability, because the company as the issuer of the order had requested the assistance of its employees to deliver the goods to the consumers, so the loss from the unlawful act committed by Defendant I/Appellant I can be imposed on Defendant II/Appellant II. | |
| 44732 | 48096 | C1L021010 | Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan, Literasi Digital, dan Internal Locus of Control Terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMA Negeri 1 Ajibarang | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ajibarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha; pengaruh literasi digital terhadap minat berwirausaha; pengaruh internal locus of control terhadap minat berwirausaha siswa; pengaruh pendidikan kewirausahaan, literasi digital, dan internal locus of control terhadap minat berwirausaha siswa SMA Negeri 1 Ajibarang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ajibarang Tahun Ajaran 2024/2025 berjumlah 431 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling sebanyak 215 siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan program SPSS versi 27. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Data kuesioner yang telah diperoleh ditransformasikan menjadi data interval menggunakan Metode Suksesif Interval (MSI) berbantuan Microsoft Excel. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha, literasi digital tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha, internal locus of control berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha, dan pendidikan kewirausahaan, literasi digital, dan internal locus of control secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ajibarang. | This study is motivated by the low interest in entrepreneurship in class XI students of SMA Negeri 1 Ajibarang. This study is a quantitative study with a survey approach that aims to analyze the effect of entrepreneurship education on entrepreneurial interest; the effect of digital literacy on entrepreneurial interest; the effect of internal locus of control on student entrepreneurial interest; the effect of entrepreneurship education, digital literacy, and internal locus of control on entrepreneurial interest in students of SMA Negeri 1 Ajibarang. The population in this study were grade XI students of SMA Negeri 1 Ajibarang Academic Year 2024/2025 totaling 431 students. Sampling using proportional random sampling technique as many as 215 students. The data analysis technique used was multiple linear regression analysis with the SPSS version 27 program. The data collection method used questionnaires and interviews. The questionnaire data that has been obtained is transformed into interval data using the Successive Interval Method (MSI) assisted by Microsoft Excel. Based on the results of the study it can be concluded that entrepreneurship education has a positive and significant effect on interest in entrepreneurship, digital literacy does not have a significant effect on interest in entrepreneurship, internal locus of control has a positive and significant effect on interest in entrepreneurship, and entrepreneurship education, digital literacy, and internal locus of control together have a positive and significant effect on interest in entrepreneurship of grade XI students of SMA Negeri 1 Ajibarang. | |
| 44733 | 48097 | F1F021028 | Efektivitas Rezim ASEAN Convention on Counter Terrorism dalam Penanganan Kasus Terorisme di Asia Tenggara Tahun 2019-2024 | Skripsi ini menganalisis “Efektivitas Rezim ASEAN Convention on Counter Terrorism dalam Penanganan Kasus Terorisme di Asia Tenggara Tahun 2019-2024”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rezim ACCT yang merupakan instrumen hukum internasional yang diadopsi oleh negara-negara anggota ASEAN, bertujuan untuk meningkatkan kerjasama regional dalam upaya pemberantasan terorisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, menganalisis implementasi ACCT dalam beberapa negara anggota ASEAN yang terdampak terorisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan dalam hal koordinasi antar negara anggota dan variasi kapasitas institusi di masing-masing negara, rezim ini telah terbukti efektif dalam memperkuat kerjasama regional dalam menghadapi ancaman terorisme berdasarkan Teori Efektivitas Rezim Arild Underdal. Teori ini menilai keefektivitasan rezim melalui 3 variabel yakni variabel dependen, independen dan intervening. Beberapa bentuk tantangan dan hambatan yang terjadi selama proses implementasi diantaranya yaitu adanya prinsip ASEAN Way, tantangan dalam proses yang lambat, dampak konkret yang masih tergolong lemah, hingga kepada prioritas permasalahan dan kepentingan dalam negeri yang berbeda. Efektif atau tidaknya rezim ini juga dapat terlihat dari proses implementasi mekanisme pemantauan, pertukaran informasi, serta peningkatan kapasitas aparat keamanan di tingkat nasional dan regional yang menjadi faktor utama keberhasilan ACCT. | This thesis analyzes "The Effectiveness of the ASEAN Convention on Counter Terrorism Regime in Handling Terrorism Cases in Southeast Asia in 2019-2024". This study aims to analyze the ACCT regime which is an international legal instrument adopted by ASEAN member countries, aiming to improve regional cooperation in efforts to eradicate terrorism. This study uses a qualitative approach with a case study method, analyzing the implementation of ACCT in several ASEAN member countries affected by terrorism. The results of the study show that although there are challenges in terms of coordination between member countries and variations in institutional capacity in each country, this regime has proven effective in strengthening regional cooperation in dealing with the threat of terrorism based on Arild Underdal's Regime Effectiveness Theory. This theory assesses the effectiveness of the regime through 3 variables, namely dependent, independent and intervening variables. Some forms of challenges and obstacles that occur during the implementation process include the existence of the ASEAN Way principle, challenges in the slow process, concrete impacts that are still relatively weak, to the priority of different domestic problems and interests. The effectiveness of this regime can also be seen from the process of implementing monitoring mechanisms, information exchange, and increasing the capacity of security forces at the national and regional levels which are the main factors in the success of ACCT. | |
| 44734 | 48098 | I1D021031 | Potensi Antidiabetik Tempe Kecambah Koro Pedang Putih pada Lama Fermentasi dan Jenis Kemasan Berbeda | Latar Belakang: Tempe kecambah koro pedang putih dapat menjadi alternatif pengelolaan DM, karena mengandung fenolik yang berpotensi sebagai antidiabetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi lama fermentasi dan jenis kemasan berbeda untuk menghasilkan tempe kecambah koro pedang putih terbaik berdasarkan kandungan fenolik, kenampakan fisik, dan mutu hedonik. Metode: Eksperimental faktorial 3x3 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor perlakuan terdiri dari lama fermentasi (48, 60, dan 72 jam) dan jenis kemasan (plastik, daun pisang, dan daun jati). Jumlah perlakuan yaitu 9 dengan 3 kali ulangan. Analisis statistik kandungan fenolik menggunakan ANOVA, sedangkan mutu hedonik menggunakan uji Friedman. Apabila terdapat pengaruh nyata (p<0,05), maka dilanjutkan dengan DMRT. Perlakuan terbaik dianalisis menggunakan uji indeks efektivitas De Garmo. Hasil: Tempe kecambah koro pedang putih pada lama fermentasi dan jenis kemasan berbeda berpengaruh nyata terhadap kandungan fenolik (p=0,075), kenampakan fisik, mutu warna (p=0,000), aroma (p=0,004), dan penampilan (p=0,000), namun tidak berpengaruh nyata terhadap mutu rasa (p=0,100). Tempe kecambah koro pedang putih terbaik yaitu tempe pada lama fermentasi 60 jam dan menggunakan kemasan plastik. Kesimpulan: Tempe terbaik mengandung fenolik 0,97 mg GAE/g (rendah), nilai aktivitas antioksidan IC50 6.951,38 ppm (lemah), miselium tebal dan kompak, serta skor mutu rasa 3,50 (khas tempe); aroma 3,20 (tidak langu); warna 3,90 (putih); dan penampilan 3,20 (kompak). Berdasarkan kandungan fenolik dan aktivitas antioksidannya, L2J1 belum cukup kuat untuk menghambat stres oksidatif. | Background: Germinated jack bean tempeh has potential as an alternative for diabetes mellitus management due to its phenolic content, which exhibits antidiabetic properties. This study evaluated the interaction effects of different fermentation durations and packaging types on the production of optimal germinated jack bean tempeh based on phenolic content and hedonic qualities. Method: A factorial randomized block design (3×3) was used, with two factors: fermentation durations (48, 60, and 72 hours) and packaging types (plastic, banana leaves, and teak leaves). There were 9 treatment combinations, each replicated three times. Phenolic content was analyzed using ANOVA, while hedonic qualities were assessed using the Friedman test. If significant effects (p<0,05) were observed, further analysis was conducted using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The best treatment was determined using De Garmo’s effectiveness index. Result: The interaction between fermentation duration and packaging type significantly affected phenolic content (p=0,075), physical appearance, color (p=0,000), aroma (p=0,004), and overall appearance (p=0,000), but had no significant effect on taste (p=0,100). The best treatment was tempeh fermented for 60 hours and packaged in plastic, with a phenolic content of 0,97 mg GAE/g (low) and antioxidant activity (IC50) of 6.951,38 ppm (weak). Its hedonic scores were 3,50 for taste (typical of tempeh), 3,20 for aroma (not musty), 3,90 for color (white), and 3,20 for appearance (compact). Conclusion: Based on its phenolic content and antioxidant activity, the product is not sufficiently potent to effectively inhibit oxidative stress. | |
| 44735 | 48099 | I1D021059 | INDEKS GLIKEMIK, BEBAN GLIKEMIK, TINGKAT KEKENYANGAN SUSU KECAMBAH KORO PEDANG PUTIH DENGAN PEMANIS STEVIA DAN GULA AREN | Latar Belakang: Penderita diabetes melitus (DM) perlu mengendalikan kadar glukosa darah, salah satunya dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah. Koro merupakan bahan pangan yang berpotensi memiliki nilai IG rendah karena mengandung tinggi serat. Rebusan serai dan jahe mampu membantu menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan kadar antioksidan serum. Kecambah koro pedang putih, serai, dan jahe potensial untuk dibuat menjadi susu nabati sebagai alternatif pangan antidiabetes. Minuman ini menggunakan pemanis gula aren dan stevia karena kedua pemanis tersebut merupakan pemanis yang dianjurkan untuk penderita diabetes dan memiliki nilai IG yang rendah.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan nilai IG, BG, dan Tingkat Kekenyangan (TK) susu kecambah koro pedang putih dengan gula aren (SKKPP-A) dan susu kecambah koro pedang putih dengan stevia (SKKPP-S). Metode: Perhitungan IG menggunakan perhitungan luas Area Under Curve (AUC); perhitungan BG menggunakan rumus beban glikemik; sedangkan pengukuran TK menggunakan Visual Analogue Scale kemudian dihitung luas AUC. Data diuji normalitasnya menggunakan Saphiro Wilk, dilanjutkan dengan uji paired t-test. Hasil Penelitian: IG SKKPP-S adalah 38,21±32,20 (p = 0,000) dan nilai IG SKKPP-A adalah 53,05±46,47 (p = 0,011). BG SKKPP-S adalah 11,46±9,67 (p = 0,000) dan nilai BG SKKPP-A adalah 15,91±13,94 (p = 0,011). Nilai TK SKKPP-S adalah 170,16±91,40 (p = 0,038) dan nilai TK SKKPP-A adalah 105,24±62,93 (p = 0,799). Kesimpulan: Nilai IG dan BG SKKPP-S maupun SKKPP-A termasuk kategori rendah, dan nilai TK termasuk kategori tinggi. | Background: Individuals with diabetes mellitus (DM) need to manage their blood glucose levels, which can be achieved by consuming foods with a low glycemic index (GI) and glycemic load (GL). Jack beans have the potential to possess a low GI value due to their high fiber content. Boiled lemongrass and ginger can help lower blood glucose levels and increase serum antioxidant levels. White jack bean sprouts, lemongrass, and ginger are potentially suitable for making plant-based milk as an antidiabetic food alternative. This beverage uses palm sugar and stevia as sweeteners because both are recommended for people with diabetes and have low GI values. The purpose of this study was to analyze the differences in GI, GL, and Satiety Level (SL) values between white jack bean sprout milk with palm sugar (SKKPP-A) and white jack bean sprout milk with stevia (SKKPP-S). Method: The GI calculation used the area under the curve (AUC) calculation; the GL calculation used the glycemic load formula; while the SL measurement used the Visual Analogue Scale, and then the AUC area was calculated. Data normality was tested using Saphiro Wilk, followed by a paired t-test. Results: The GI value of SKKPP-S was 38.21±32.20 (p = 0.000), and the GI value of SKKPP-A was 53.05±46.47 (p = 0.011). The GL value of SKKPP-S was 11.46±9.67 (p = 0.000), and the GL value of SKKPP-A was 15.91±13.94 (p = 0.011). The SL value of SKKPP-S was 170.16±91.40 (p = 0.038), and the SL value of SKKPP-A was 105.24±62.93 (p = 0.799). Conclusion: The GI and GL values of both SKKPP-S and SKKPP-A are in the low category, and the SL values are in the high category. | |
| 44736 | 48100 | F1C021008 | ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN KONTEN YOUTUBE SWARGALOKA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN BRANDING ENGAGEMENT | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengelolaan konten Youtube Swargaloka sebagai upaya meningkatkan branding engagement. Swargaloka, yang dikelola oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya, berfungsi sebagai media informasi untuk menyampaikan layanan administrasi kependudukan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis data Miles and Huberman, yang mengembangkan model analisis dari tiga tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan konten yang efektif melalui penerapan The Circural Model of SOME, yang mencakup aspek share, optimize, manage, dan engage, Swargaloka hanya berhasil menerapkan 2 aspek dari SOME yaitu share, dan manage. Dari Penelitian ini juga terdapat beberapa alasan masih belum meningkatnya engagement pada beberapa konten yang ada di Youtube @swargalokasby, seperti keterbatasan sumber daya manusia dan kurangnya pemahaman tentang strategi pemasaran digital. Oleh karena itu, disarankan agar Swargaloka terus berinovasi dalam pengembangan konten, meningkatkan kolaborasi dengan influencer, dan memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan informasi. | This research aims to analyze Swargaloka's Youtube content management strategy as an effort to increase branding engagement. Swargaloka, which is managed by the Surabaya City Population and Civil Registration Office, functions as an information media to deliver population administration services. The research method used is qualitative with Miles and Huberman data analysis, which develops an analysis model from three stages, namely data collection, data reduction, data presentation, conclusion drawing and verification. The results of this study show that effective content management through the application of The Circural Model of SOME, which includes aspects of share, optimize, manage, and engage, Swargaloka only managed to implement 2 aspects of SOME, namely share and manage. From this research, there are also several reasons for the lack of engagement on some of the content on Youtube @swargalokasby, such as limited human resources and lack of understanding of digital marketing strategies. Therefore, it is recommended that Swargaloka continue to innovate in content development, increase collaboration with influencers, and utilize social media to expand the reach of information. | |
| 44737 | 48101 | I1A021024 | STUDI PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO HIPOTENSI PADA REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUMBIR TAHUN 2024 | Latar Belakang: Temuan kasus hipotensi sebesar 16% pada remaja di Desa Cingebul, Kecamatan Lumbir mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Kondisi ini juga menimbulkan dugaan adanya kasus serupa di desa lain dalam wilayah kerja Puskesmas Lumbir yang belum terdeteksi akibat keterbatasan pemeriksaan rutin. Beberapa faktor risiko, baik internal seperti jenis kelamin dan riwayat penyakit dalam keluarga (genetik), maupun eksternal seperti pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan kebiasaan sehari-hari, turut berperan dalam kejadian hipotensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hipotensi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian hipotensi pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Lumbir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 160 remaja menggunakan teknik proportional random sampling. Instrumen pengambilan data berupa kuesioner serta pengukuran tekanan darah dilakukan untuk menentukan status hipotensi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian hipotensi, sedangkan variabel independennya meliputi jenis kelamin, riwayat kesehatan keluarga, status sosial ekonomi, pengetahuan, aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, dan status gizi. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat menggunakan Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Prevalensi hipotensi pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Lumbir adalah 56,9% (91 dari 160 remaja). Faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipotensi meliputi jenis kelamin perempuan (p-value = 0,043), riwayat penyakit kardiovaskular pada keluarga (p-value = 0,003), aktivitas fisik kurang (p-value = 0,031), dan kualitas tidur (p-value = 0,001). Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian hipotensi berupa kualitas tidur yang buruk (POR = 5,010), jenis kelamin perempuan (POR = 3,905), riwayat penyakit kardiovaskular pada keluarga (POR = 3,078), dan status gizi kurang (POR = 2,221). Kesimpulan: Prevalensi hipotensi di wilayah kerja Puskesmas Lumbir cukup tinggi dan faktor yang paling dominan adalah kualitas tidur, di mana remaja dengan kualitas tidur buruk memiliki risiko lebih dari lima kali lipat untuk mengalami hipotensi dibandingkan dengan remaja yang memiliki kualitas tidur baik. | Background: The finding of a 16% hypotension rate among adolescents in Cingebul Village, Lumbir District, indicates a health issue that requires attention. This condition also suggests the possibility of similar undetected cases in other villages within the working area of Lumbir Public Health Center due to limited routine examinations. Several risk factors, both internal such as gender and family history of disease (genetics), and external such as diet, physical activity, sleep quality, and daily habits, contribute to the incidence of hypotension. This study aimed to determine the prevalence of hypotension and the factors influencing its occurrence among adolescents in the working area of Lumbir Public Health Center. Methods: This research used a cross-sectional study design with a sample of 160 adolescents selected through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires and blood pressure measurements to determine hypotension status. The dependent variable was the incidence of hypotension, while the independent variables included gender, family health history, socioeconomic status, knowledge, physical activity, dietary patterns, sleep quality, and nutritional status. Data analysis was conducted through univariate analysis, bivariate analysis using Chi-square tests, and multivariate analysis using logistic regression. Results: The prevalence of hypotension among adolescents in the working area of Lumbir Public Health Center was 56.9% (91 out of 160 adolescents). Factors significantly associated with hypotension included female gender (p-value = 0.043), a family history of cardiovascular disease (p-value = 0.003), low physical activity (p-value = 0.031), and poor sleep quality (p-value = 0.001). Factors influencing the occurrence of hypotension were poor sleep quality (POR = 5.010), female gender (POR = 3.905), family history of cardiovascular disease (POR = 3.078), and undernutrition (POR = 2.221). Conclusion: The prevalence of hypotension in the working area of Lumbir Public Health Center is relatively high, with poor sleep quality being the most dominant risk factor. Adolescents with poor sleep quality have more than a fivefold increased risk of developing hypotension compared to those with good sleep quality. | |
| 44738 | 48102 | H1B021012 | OPTIMALISASI DIMENSI DINDING PENAHAN TANAH TIPE GRAVITASI AKIBAT PENGARUH HUJAN PADA TANAH LEMPUNG MEDIUM | Dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi yang dibuat untuk menahan tegangan lateral akibat beban di belakang dinding penahan tanah. Dinding penahan tanah terdiri dari beberapa jenis, salah satunya dinding penahan tanah tipe gravitasi dengan material batu kali. Hingga kini, sering dijumpai terjadinya fenomena kegagalan dinding penahan tanah ketika terjadi hujan dengan intensitas tertentu namun berdurasi cukup lama. Sehingga perlu adanya penelitian terkait optimasi dimensi dinding penahan tanah akibat pengaruh intensitas hujan. Dalam menganalisa kestabilan lereng terdapat beberapa metode, salah satunya adalah metode elemen hingga dengan bantuan perangkat lunak Geostudio. Metode ini mampu menyelesaikan permasalahan kompleks seperti fluktuasi aliran air tanah akibat hujan yang cukup sulit untuk diselesaikan dengan metode konvensional. Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh bahwa adanya perilaku hujan dapat mengakibatkan penurunan angka keamanan pada lereng, namun peningkatan intensitas sebesar 20 mm/hari sampai 25 mm/hari tidak berpengaruh signifikan pada penurunan angka keamanan. Penurunan angka keamanan ini diakibatkan oleh peningkatan tekanan air pori pada tanah yang mengakibatkan sifat mekanik tanah menurun. Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh klasifikasi rasio dimensi lebar fondasi terhadap lereng (H) untuk tanah medium. Pada tanah medium, apabila ditinjau dari stabilitas global, maka hingga ketinggian 10 meter dapat digunakan rasio dimensi minimum sebesar 0,3H. Penggunaan rasio dimensi yang semakin besar menyebabkan peningkatan pada stabilitas global. Penggunaan rasio dimensi umum ini juga tetap aman ditinjau dari deformasi izin tanah. Namun, semakin besar rasio yang digunakan, akan meningkatkan deformasi yang terjadi pada tanah. | Retaining walls are a construction made to withstand lateral tension due to loads behind the retaining wall. Retaining walls consist of several types, one of which is a gravity type retaining wall with river stone material. Until now, the phenomenon of retaining wall failure is often found when it rains with a certain intensity but for a long duration. So it is necessary to conduct research related to optimizing the dimensions of retaining walls due to the influence of rain intensity. In analyzing slope stability, there are several methods, one of which is the finite element method with the help of Geostudio software. This method is able to solve complex problems such as groundwater flow fluctuations due to rain which are quite difficult to solve with conventional methods. From the results of the analysis that has been carried out, it was obtained that the behavior of rain can result in a decrease in the safety factor on the slope, but an increase in intensity of 20 mm/day to 25 mm/day does not have a significant effect on the decrease in the safety factor. This decrease in the safety factor is caused by an increase in pore water pressure in the soil which causes the mechanical properties of the soil to decrease. From the results of the analysis carried out, a classification of the ratio of the dimensions of the foundation width to the slope (H) for medium soil was obtained. On medium soil, when viewed from a global stability perspective, a minimum dimension ratio of 0.3H can be used up to a height of 10 meters. The use of a larger dimension ratio causes an increase in global stability. The use of this general dimension ratio also remains safe in terms of soil deformation permits. However, the larger the ratio used, the greater the deformation that occurs in the soil. | |
| 44739 | 48103 | H1B021028 | PENGARUH KETINGGIAN LERENG TERHADAP STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH TIPE GRAVITASI | Dinding Penahan Tanah (DPT) berfungsi untuk menahan tekanan tanah lateral dan mencegah keruntuhan pada lereng curam. Ketinggian lereng menjadi faktor yang berpengaruh terhadap stabilitas DPT. Peningkatan ketinggian lereng dapat menurunkan stabilitas DPT yang berpotensi mengurangi kestabilan lereng dan kinerja DPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ketinggian lereng terhadap terhadap stabilitas DPT tipe gravitasi. Penelitian dilakukan dengan memodelkan DPT dengan material batu kali pada variasi ketinggian lereng 1,5 m hingga 10 m dan rasio lebar (B) terhadap tinggi (H) lereng antar 0,3 - 0,7 dengan metode elemen hingga. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi ketinggian lereng, semakin rendah nilai faktor keamanan (SF). Peningkatan SF pada batu kali juga lebih signifikan terhadap perubahan rasio B/H. SF meningkat seiring bertambahnya rasio B/H, menunjukkan stabilitas DPT yang lebih baik dengan dimensi yang lebih besar. Penurunan SF untuk setiap kenaikan ketinggian lereng 0,5 m pada batu kali berkisar 5,61% hingga 6,53%. | Retaining walls (DPT) function to resist lateral earth pressure and prevent failure on steep slopes. Slope height is a key factor influencing the stability of the retaining wall. An increase in slope height can reduce the stability of the DPT, potentially compromising slope stability and the overall performance of the wall. This study aims to analyze the effect of using gravity-type retaining wall materials on stability. The research was conducted by modeling DPT using rubble stone material at varying slope heights from 1.5 m to 10 m, and width-to-height (B/H) ratios ranging from 0.3 to 0.7, using the finite element method. The results show that as the slope height increases, the safety factor (SF) decreases. The increase in SF for rubble stone is also more significant with changes in the B/H ratio. The SF increases with a higher B/H ratio, indicating improved DPT stability with larger dimensions. The decrease in SF for every 0.5 m increase in slope height using rubble stone ranges from 5.61% to 6.53%. | |
| 44740 | 48104 | H1C020028 | Pemetaan Geologi Bawah Permukaan dan Perhitungan Sumber Daya Hidrokarbon pada Sub-Cekungan Tarakan, Kalimantan Utara | Sub-Cekungan Tarakan berpeluang besar untuk kembali menjadi sumber utama produksi minyak dan gas bumi di Indonesia. Untuk mewujudkan potensi ini dan mendukung kemandirian energi nasional, kegiatan eksplorasi dan penelitian geologi menjadi pilihan yang menarik. Data Kementerian ESDM tahun 2021 menunjukkan cadangan minyak Indonesia sebesar 3,95 miliar barel dan gas bumi sebesar 60,61 triliun kaki kubik. Tanpa penemuan baru, cadangan ini diperkirakan akan habis dalam 9 tahun (minyak) dan 18 tahun (gas). Pemetaan geologi bawah permukaan Sub-Cekungan Tarakan, menggunakan data sumur dan seismik, mengungkapkan siklus perubahan lingkungan pengendapan dari penurunan muka laut (regresi) ke kenaikan muka laut (transgresi) yang berulang sejak Oligosen Akhir hingga Pliosen. Perubahan ini mengakibatkan variasi lingkungan dari laut dalam ke dangkal, lalu ke darat, dan kembali lagi ke laut dalam, yang menyebabkan perubahan jenis sedimen (Sedimentary Switching) dan menghasilkan lapisan batuan dengan percampuran sedimen laut dalam (serpih dan batugamping) dan sedimen darat (klastik dari lingkungan delta). Semakin tebal endapan sedimen, semakin besar kemungkinan akumulasi hidrokarbon. Sesar tumbuh (Growth fault) di cekungan ini juga berperan sebagai jalur migrasi dan perangkap hidrokarbon. Pada lapisan Pliosen, yang ditunjukkan oleh data sumur dan peta bawah permukaan sebagai lingkungan delta, teridentifikasi potensi sumber daya gas awal di tempat (OGIP) sebesar 185,80 BSCF dan minyak awal di tempat (OOIP) sebesar 226,79 MMSTB. | The Tarakan Sub-basin has a significant potential to once again become a primary source of oil and natural gas production in Indonesia. To realize this potential and support national energy independence, exploration activities and geological research are compelling options. Data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) in 2021 indicated that Indonesia's oil reserves were 3.95 billion barrels and natural gas reserves were 60.61 trillion cubic feet. Without new discoveries, these reserves are projected to be depleted within the next 9 years (for oil) and 18 years (for gas). Subsurface geological mapping of the Tarakan Sub-basin, utilizing well and seismic data, reveals recurring cycles of depositional environment changes from sea-level fall (regression) to sea-level rise (transgression) since the Late Oligocene to the Pleistocene. These changes resulted in environmental variations from deep marine to shallow marine, then to land, and back to deep marine, causing shifts in sediment types (Sedimentary Switching) and producing rock layers with interbedded deep marine sediments (shale and limestone) and terrestrial sediments (clastics from deltaic environments). The thicker the sediment deposits, the greater the possibility of hydrocarbon accumulation. Growth faults in this basin can also act as migration pathways and traps for hydrocarbons. In the Pliocene layer, which well data and subsurface maps indicate as a deltaic environment, significant original gas in place (OGIP) resources of 185.80 BSCF and original oil in place (OOIP) resources of 226.79 MMSTB have been identified. |