Artikelilmiahs

Menampilkan 44.621-44.640 dari 48.759 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4462147998J1A021018Multimodal Discourse Analysis on BBC Sky at Night Magazine WebsitePenelitian ini menggunakan pendekatan multimodal untuk menganalisis komunikasi, terutama meneliti kombinasi mode visual dan verbal pada website BBC Sky at Night Magazine. Mode verbal dianalisis berdasarkan jenis kalimat dari teori Aarts (2001), yang dikategorikan berdasarkan kalimat deklaratif, interogatif, imperatif, dan eksklamatif. Mode visual berupa gambar dianalisis berdasarkan compositional meaning dari Kress dan van Leeuwen (2021), yang terdiri dari information value, framing, dan salience. Penelitian ini menggunakan purposive sampling untuk mengumpulkan data berdasarkan mode verbal dan visual yang ditemukan dalam menu 'science'. Mode verbal mencakup deskripsi dan mode visual adalah gambar yang terkait dengan deskripsi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan sembilan data verbal yang terdiri dari 3 kalimat deklaratif dan 6 kalimat interogatif. Data information value diperoleh 2 pola given-new, 3 central-margin, dan 2 ideal-real; salience dipengaruhi oleh kontras warna, ukuran dan posisi objek; framing diperoleh 4 disconnected dan 3 connected. Penelitian ini juga mengamati interaksi antara mode visual dan verbal dalam menyampaikan informasi secara efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara teks verbal dan gambar dalam menu 'science' saling melengkapi, membangun makna, menarik perhatian pembaca, serta meningkatkan keterlibatan pembaca.This study employs a multimodal approach to analyze communication, specifically examining the combination of visual and verbal modes on the BBC Sky at Night magazine website. The verbal mode is analyzed based on sentence types from Aarts' (2001) theory, which categorizes sentences as declarative, interrogative, imperative, and exclamative. Visual modes in the form of images are analysed based on the compositional meaning of Kress and van Leeuwen (2021), which consists of information value, framing, and salience. This research used purposive sampling to collect data based on the verbal and visual modes found in the 'science' menu. The verbal mode includes descriptions and the visual mode is the images related to the descriptions. The findings reveal nine verbal data points consisting of 3 declarative sentences and 6 interrogative sentences. Information value data obtained 2 given-new patterns, 3 central-margin, and 2 ideal-real; salience is influenced by color contrast, size and position of objects; framing obtained 4 disconnected and 3 connected. This study also observed how the interaction between visual and verbal modes plays a role in conveying information effectively. The results indicate that the interaction between verbal text and images in the 'science' menu complement each other, build meaning, attract readers' attention, and increase readers' engagement.
4462247999J1D021044Register Petani Padi di Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas (Kajian Sosiolinguistik)Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan penggunaan bahasa dalam kelompok petani padi di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas dengan kelompok lain. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bentuk, makna, dan fungsi register. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data berupa tuturan dan wawancara petani. Teknik pengumpulan data melalui metode simak dan cakap. Analisis dilakukan dengan teori sosiolinguistik Wardhaugh, bentuk satuan lingual, makna, dan fungsi register. Hasil penelitian menemukan 11 register kategori alat, terdiri dari 11 kata tunggal. Fungsi register meliputi fungsi menyuruh, informasi, dengan beberapa register memiliki lebih dari satu fungsi. Hasil menunjukkan bahwa register dominan berupa kata tunggal, bermakna sesuai norma dan tradisi lokal, memiliki fungsi utama sebagai informasi.This research is motivated by the differences in language use between groups of rice farmers in Darmakradenan Village, Ajibarang District, Banyumas Regency and other groups. The purpose of this research is to reveal the form, meaning, and function of the register. This research uses a qualitative method with data sources in the form of farmers' speech and interviews. The technique of data collection is through the method of simak and cakap. The analysis was conducted using Wardhaugh's sociolinguistic theory, lingual unit form, meaning, and register function. The results found 11 registers of tool category, consisting of 11 single words. Register functions include the function of telling, information, with some registers having more than one function. The results show that the dominant registers are single words, meaningful according to local norms and traditions, having the main function as information.
4462348001A1C020036Pengaruh Batas Kelembapan Tanah pada Irigasi Tetes Otomatis Terhadap Sifat Fisik Tanah dan Pertumbuhan Padi Lahan Kering Varietas Situ Bagendit Kebutuhan pangan masyarakat akan meningkat seiring meningkatnya
pertumbuhan penduduk. Sedangkan produksi padi disepanjang 2023 mencapai 53,89
juta ton GKG, mengalami penurunan sebesar 767,98 ribu ton GKG (1,40%)
dibandingkan 2022 yang sebesar 54,75 juta ton GKG (Badan Pusat Statistik, 2024).
Adanya pengaruh pemanasan global, intensitas hujan yang turun menjadi tidak terduga.
Pemberian air yang sesuai dengan kelembapan tanah dapat membantu efektivitas irigasi
yang dapat mencukupi air tersedia. Tujuan penelitian adalah 1) Mengidentifikasi
pengaruh pemberian irigasi berdasarkan batas kelembapan tanah terhadap sifat fisik
tanah dan pertumbuhan padi gogo varietas Situ Bagendit skala polybag, 2)Mengetahui
batas kelembapan tanah yang efektif untuk budidaya tanaman padi gogo Situ Bagendit
skala polybag.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas
Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 1 faktor 3 perlakuan dan ulangan sebanyak 3 kali, sehingga total percobaan
sebanyak 9. Perlakuan yang digunakan adalah batas kelembapan tanah 40– 42%, 60
62%, dan 80– 82%. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini antara lain pertumbuhan
tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah batang), dan sifat fisik tanah
(kerapatan tanah, porositas tanah, dan permeabilitas tanah). Hasil data akan dianalisis
menggunakan Uji Analysis of Variance (ANOVA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas kelembapan tanah untuk pertumbuhan
tanaman berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Kemudian untuk sifat fisik tanah
batas kelembapan tanah tidak berpengaruh terhadap kerapatan tanah, porositas tanah,
permeabilitas tanah, bobot basah, dan bobot kering tanaman. Batas kelembapan tanah
40– 42% memberikan hasil tertinggi dari perlakuan yang dilakukan tetapi tidak
berpengaruh terhadap bobot basah dan bobot kering tanaman.
The community's food needs will increase along with population growth. Meanwhile,
rice production throughout 2023 reached 53.89 million tons of GKG, a decrease of 767.98
thousand tons of GKG (1.40%) compared to 2022 which amounted to 54.75 million tons of
GKG (Central Statistics Agency, 2024). The influence of global warming has made the
intensity of the rain unpredictable. Providing water that is suitable for soil moisture can
help the effectiveness of irrigation that can meet the available water. The objectives of the
study are 1) To identify the effect of irrigation based on soil moisture limits on the physical
properties of the soil and the growth of Situ Bagendit variety gogo rice on a polybag scale,
2) To determine the effective soil moisture limit for the cultivation of Situ Bagendit gogo
rice plants on a polybag scale.
The research was carried out at the Agronomy Laboratory, Faculty of Agriculture,
Jenderal Soedirman University. This study used a Complete Random Design (RAL) with 1
factor 3 treatments and 3 repeats, resulting in a total of 9 experiments. The treatment used
is a soil moisture limit of 40– 42%, 60– 62%, and 80– 82%. The variables studied in this
study include plant growth (plant height, number of leaves, and number of stems), and
physical properties of soil (soil density, soil porosity, and soil permeability). The data
results will be analyzed using the Analysis of Variance Test (ANOVA).
The results of the study show that the soil moisture limit for plant growth affects
plant growth. Then for the physical properties of the soil, the soil moisture limit has no
effect on soil density, soil porosity, soil permeability, wet weight, and dry weight of plants.
The soil moisture limit of 40– 42% provides the highest results from the treatment carried
out but has no effect on the wet weight and dry weight of the plant.
4462448002I1A021049Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit WIjayakusuma PurwokertoLatar Belakang: Stres pada umumnya dapat terjadi pada berbagai jenis kelompok masyarakat, terutama para pekerja. Perawat memiliki intensitas kerja yang tinggi sehingga menimbulkan berbagai faktor yang memicu stres. Terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor risiko stres kerja yaitu beban kerja, jenis kelamin, usia, shift kerja, peran ganda, dukungan sosial, dan masa kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stres kerja pada perawat di RS Wijayakusuma Purwokerto.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 105 perawat di RS Wijayakusuma Purwokerto. Sampel penelitian sebanyak 105 perawat dengan teknik total sampling. Analisis data univariat, bivariat, dan multivariat
Hasil Penelitian: Variabel yang mempengaruhi stres kerja pada perawat di RS Wijayakusuma Purwokerto adalah peran ganda (p=0,000), beban kerja (p=0,000), dan usia (p=0,011). Variabel yang tidak berpengaruh adalah jenis kelamin (p=0,962), tingkat pendidikan (p=0,880), masa kerja (p=0,205), shift kerja (p=0,402), dan dukungan sosial (p=0,926).
Kesimpulan: Variabel yang berpengaruh terhadap stres kerja pada perawat di RS Wijayakusuma Purwokerto adalah peran ganda, beban kerja, dan usia. Variabel paling berpengaruh adalah peran ganda dengan OR 19,295. Perawat disarankan untuk belajar mengelola waktu dengan lebih baik, meningkatkan ketahanan terhadap beban kerja, dan mengupayakan untuk selalu beradaptasi serta terus lakukan olahraga.
Background: Stress is common across various community groups, particularly among workers. Nurses have high work intensity, which triggers various factors leading to stress. Several risk factors for work-related stress include workload, gender, age, work shifts, role conflict, social support, and duration of employment. This studi aims to identify the factors influencing work-related stress among nurses at Wijayakusuma Hospital Purwokerto.
Methods: This quantitative research employed a cross-sectional design. The study population consisted of 108 nurses at Wijayakusuma Hospital Purwokerto. The research sample included 105 nurses, selected using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate technique.
Results: The variables affecting occupational stress among nurses at Wijayakusuma Hospital Purwokerto were role conflict (p=0.000), workload (p=0.000), and age (p=0.011). Variables that did not significantly influence stress were gender (p=0.962), education (p=0.880), duration of employment (p=0.205), work shifts (p=0.402), and social support (p=0.926).
Conclusion: The significant factors influencing occupational stress among nurses at Wijayakusuma Hospital Purwokerto were dual role, workload, and age with dual role being the most influential (OR=19,295). Nurses are advised to improve their time management skills, enhance their resilience to workload, and strive to continuously adapt as well as maintain physical exercise.
4462548003A1A021014Analisis Efektivitas Pupuk Bersubsidi dan Pengaruhnya terhadap Produksi Jagung di Kecamatan Kembaran Kabupaten BanyumasKebijakan pupuk bersubsidi merupakan salah satu kebijakan fiskal pemerintah yang bertujuan untuk mendukung sektor pertanian dengan memberikan subsidi pupuk sebagai input produksi. Kecamatan Kembaran di Kabupaten Banyumas menjadi salah satu sentra komoditas jagung dengan produktivitas terbesar di Kabupaten Banyumas yakni 7,6 ton/ha. Namun, petani jagung di Kecamatan Kembaran masih dihadapkan permasalahan dalam distribusi pupuk subsidi seperti harga pupuk subsidi yang diterima tidak sesuai dengan HET dan jumlah pupuk subsidi yang tidak dapat mencukupi kebutuhan. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk melihat efektivitas pupuk bersubsidi dengan menggunakan enam indikator yakni tepat harga, tempat, waktu, jumlah, mutu, dan jenis. Penelitian bertujuan untuk: (1) Mengetahui prosedur distribusi pupuk bersubsidi pada petani jagung di Kecamatan Kembaran; (2) Mengetahui efektivitas pupuk bersubsidi pada petani jagung di Kecamatan Kembaran; dan (3) Mengetahui pengaruh efektivitas pupuk bersubsidi terhadap produksi jagung di Kecamatan Kembaran.
Metode penelitian yang digunakan yaitu survei dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif deskriptif Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kembaran dan dilaksanakan pada 28 Desember 2024 hingga 20 Januari 2025. Data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh langsung dari petani jagung melalui kuesioner dan informan pemilik Toko Mutiara sebagai kios resmi pupuk bersubsidi melalui wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari publikasi seperti BPS. Analisis data dilakukan menggunakan deskriptif untuk mengetahui prosedur distribusi pupuk, pendekatan kualitatif untuk menganalisis efektivitas, dan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis pengaruh efektivitas terhadap produksi jagung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur distribusi pupuk subsidi sudah dilaksanakan secara sistematis. Efektivitas pupuk bersubsidi pada petani jagung tergolong dalam kriteria cukup efektif. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata efektivitas enam indikator secara keseluruhan dengan persentase 73,81 persen. Indikator tepat harga dan tepat jumlah dikategorikan tidak efektif, indikator tepat waktu dikategorikan cukup efektif, indikator tepat tempat dan tepat jenis dikategorikan sangat efektif, sedangkan indikator tepat mutu dikategorikan efektif. Efektivitas pupuk bersubsidi memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi jagung di Kecamatan Kembaran. dengan nilai signifikansi 0,049 nilai tersebut kurang dari taraf signifikansi α (0,05) dan perolehan nilai thitung > ttabel (2,676 > 2,003), sehingga hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya variabel efektivitas pupuk bersubsidi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel produksi jagung.
The subsidized fertilizer policy is one of the government's fiscal policies aimed at supporting the agricultural sector by providing fertilizer subsidies as a production input.Kembaran District in Banyumas Regency has become one of the centers for corn commodities with the highest productivity in Banyumas Regency, namely 7.6 tons/ha.However, corn farmers in Kembaran District are still facing problems in the distribution of subsidized fertilizers, such as the price of the received subsidized fertilizers not matching the HET and the quantity of subsidized fertilizers not being sufficient to meet their needs.Therefore, a study is needed to examine the effectiveness of subsidized fertilizers using six indicators, namely price, place, time, quantity, quality, and type.The research aims to: (1) Determine the distribution procedures of subsidized fertilizers to corn farmers in Kembaran District; (2) Assess the effectiveness of subsidized fertilizers on corn farmers in Kembaran District; and (3) Analyze the impact of the effectiveness of subsidized fertilizers on corn production in Kembaran District.
The research method used is a survey with a descriptive quantitative and qualitative approach. The research location is in Kembaran District and was conducted from December 28, 2024, to January 20, 2025. The data used includes primary data obtained directly from corn farmers through questionnaires and informants, the owner of Toko Mutiara as the official subsidized fertilizer kiosk through interviews, and secondary data obtained from publications such as BPS. Data analysis was conducted using descriptive methods to understand the fertilizer distribution procedures, qualitative approaches to analyze effectiveness, and quantitative approaches to analyze the impact of effectiveness on corn production.
The research results show that the procedure for distributing subsidized fertilizers has been carried out systematically. The effectiveness of subsidized fertilizer among corn farmers falls into the fairly effective category. This is indicated by the average effectiveness value of the six indicators overall, with a percentage of 73,81 percent. The indicators of the right price and the right quantity are categorized as ineffective, the indicator of the right time is categorized as fairly effective, the indicators of the right place and the right type are categorized as very effective, while the indicator of the right quality is categorized as effective. The effectiveness of subsidized fertilizers has a significant impact on corn production in Kembaran District. with a significance value of 0.049, which is less than the significance level α (0,05), and the obtained t-value > t-table (2,676 > 2,003), thus the null hypothesis H0 is rejected and the alternative hypothesis H1 is accepted, meaning that the variable of subsidized fertilizer effectiveness partially has a significant effect on the variable of corn production.
4462648004E1A021125TANGGUNG JAWAB HUKUM TIM KESEHATAN TRADISIONAL INTEGRASI DALAM PELAYANAN KESEHATANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sinkronisasi pengaturan dan bentuk-bentuk tanggung jawab hukum tim kesehatan tradisional integrasi dalam pelayanan kesehatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan analitis, dan pendekatan konsep. Spesifikasi penelitian ini adalah inventarisasi perundang-undangan, sinkronisasi hukum, dan penemuan hukum in concreto. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tanggung jawab hukum tim kesehatan tradisional integrasi dalam pelayanan kesehatan telah menunjukkan adanya sinkronisasi vertikal dan horizontal. Artinya, peraturan dengan derajat lebih rendah tidak bertentangan dengan peraturan yang derajatnya lebih tinggi dan peraturan yang lebih tinggi menjadi dasar dibentuknya peraturan yang lebih rendah. Selain itu, peraturan yang sederajat tidak saling bertentangan dan dapat saling melengkapi. Bentuk tanggung jawab hukum tim kesehatan tradisional integrasi dalam pelayanan kesehatan meliputi: tanggung jawab hukum pidana berdasarkan Pasal 308 ayat (1) dan Pasal 440 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan; tanggung jawab hukum perdata berdasarkan Pasal 308 ayat (2) Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan; dan tanggung jawab hukum administrasi berdasarkan Pasal 283, Pasal 306, dan Pasal 313 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Pasal 83 ayat (2) dan (4) Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, Pasal 492, Pasal 500, Pasal 736, Pasal 752 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, serta Pasal 20 ayat (2) dan (3) Permenkes No. 37 Tahun 2017 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi.This study aims to determine the synchronization of arrangements and forms of legal responsibility of integrated traditional health teams in health services. The type of research used is normative juridical with the method of statutory approach, analytical approach, and concept approach. The specifications of this research are legislative inventory, legal synchronization, and legal discovery in concreto. The data used is secondary data obtained through literature study. The method of analysis used is normative qualitative. The results showed that the regulation of the legal responsibility of the integrated traditional health team in health services has shown vertical and horizontal synchronization. This means that regulations of a lower degree do not conflict with regulations of a higher degree and higher regulations are the basis for the formation of lower regulations. In addition, regulations of the same level do not contradict each other and can complement each other. The forms of legal responsibility of the integrated traditional health team in health services include: criminal legal responsibility based on Article 308 paragraph (1) and Article 440 of Law No. 17 of 2023 concerning Health; civil legal responsibility based on Article 308 paragraph (2) of Law No. 17 of 2023 concerning Health; and administrative legal responsibility based on Article 283, Article 306, and Article 313 of Law No. 17 of 2023 concerning Health, Article 83 paragraph (2) and (4) of Government Regulation No. 103 of 2014 concerning Traditional Health Services, Article 492 of Government Regulation No. 103 of 2014 concerning Traditional Health Services, Article 492 of Government Regulation No. 103 of 2014 concerning Traditional Health Services, and Article 492 of Government Regulation No. 103 of 2014 concerning Traditional Health Services. 17 of 2023 on Health, Article 83 paragraphs (2) and (4) of Government Regulation No. 103 of 2014 on Traditional Health Services, Article 492, Article 500, Article 736, Article 752 paragraphs (2) and (4) of Government Regulation No. 28 of 2024 on the Implementation Regulation of Law No. 17 of 2023 on Health, and Article 20 paragraphs (2) and (3) of Ministry Of Health Regulation No. 37 of 2017 on Integration of Traditional Health Services.
4462748005C1A021046Pengaruh IPM, TPAK, dan Inovasi Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Inovasi Daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data panel dari 34 provinsi selama periode 2021–2023, dengan metode regresi data panel dan pendekatan *Fixed Effect Model* (FEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa TPAK memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan IPM dan Inovasi Daerah berpengaruh positif secara signifikan. Secara simultan, ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan nilai koefisien determinasi sebesar 88,82%. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguatan inovasi daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.This study aims to analyze the effect of the Labor Force Participation Rate (LFPR), Human Development Index (HDI), and Regional Innovation on economic growth in Indonesia. Using panel data from 34 provinces during the period 2021–2023, this research employs a panel data regression method with a Fixed Effect Model (FEM) approach. The results show that LFPR has a negative effect on economic growth, while HDI and Regional Innovation have a significant positive effect. Simultaneously, the three variables have a significant influence on economic growth, with a coefficient of determination of 88.82%. These findings highlight the importance of improving human resource quality and strengthening regional innovation to foster sustainable economic growth.
4462848006I1A021026STUDI PERBANDINGAN PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO
OBESITAS PADA USIA DEWASA MUDA DI WILAYAH PERDESAAN
DAN PERKOTAAN (Studi Di Kecamatan Purwojati Dan Purwokerto
Selatan)
Latar Belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi meningkat,termasuk di Indonesia. Perbedaan lingkungan perdesaan dan perkotaan memengaruhi gaya hidup, pola makan, dan aktivitas fisik yang berkontribusi pada obesitas. Studi ini membandingkan prevalensi dan faktor risiko obesitas pada dewasa muda di kedua wilayah

Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan pada 208 responden, masing-masing 104 dari
perdesaan (Desa Kaliputih, Desa Kaliurip) dan perkotaan (Kelurahan Teluk, Purwokerto Kulon). Sampel diambil dengan cluster random sampling. Status obesitas diukur dengan antropometri, adapun variabel bebas meliputi genetik, sosial ekonomi, pola makan, aktivitas fisik, dan stres, menggunakan kuesioner baku seperti FFQ, GPAQ, dan PSS-10. Analisis data dilakukan dengan uji univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan SPSS.

Hasil: Prevalensi obesitas lebih tinggi di perkotaan (55,9%) dibandingkan perdesaan (42,2%). Diperdesaan, obesitas berhubungan dengan stres (POR 2,895; 95% CI: 1,112–7,539), pemanfaatan Posbindu (POR 0,360; 95% CI: 0,134–0,969), dan pola makan (POR 0,325; 95% CI: 0,132–0,805). Di perkotaan, faktor risiko utama adalah jenis kelamin perempuan (POR 4,859; 95% CI: 1,458– 16,198), pola makan berisiko (POR 3,387; 95% CI: 1,377–8,332), dan aktivitas fisik rendah (POR 3,861; 95% CI: 1,517–9,826).

Kesimpulan: Perbedaan prevalensi menunjukkan perlunya intervensi berbasis komunitas yang berfokus pada pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik untuk mencegah obesitas.

Background: Obesity is a global health problem whose prevalence continues to increase, including in Indonesia. Differences in the characteristics of rural and urban environments influence lifestyle, diet and physical activity which are risk factors for obesity. This study aims to compare the prevalence and risk factors for obesity in young adults in rural and urban areas.

Methods: A cross-sectional study was conducted on 208 respondents, with 104 from rural areas (Kaliputih and Kaliurip Villages) and 104 from urban areas (Teluk and Purwokerto Kulon Subdistricts). The sample was selected using cluster random sampling. Obesity status was measured through anthropometric assessments, while independent variables included genetic factors, socioeconomic status, diet, physical activity, and stress, assessed using standardized questionnaires such as FFQ, GPAQ, and PSS-10. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate statistical tests with SPSS.

Results: The prevalence of obesity was higher in urban areas (55.9%) than in rural areas (42.2%). In rural areas, obesity was associated with stress (POR 2.895; 95% CI: 1.112–7.539), the utilization of Posbindu (integrated health post) services (POR 0.360; 95% CI: 0.134–0.969), and diet (POR 0.325; 95% CI: 0.132– 0.805). In urban areas, key risk factors included being female (POR 4.859; 95% CI: 1.458–16.198), unhealthy diet (POR 3.387; 95% CI: 1.377–8.332), and low physical activity (POR 3.861; 95% CI: 1.517– 9.826).

Conclusion: Differences in obesity prevalence indicate the need for community-based interventions focusing on healthy eating habits and increased physical activity to prevent
4462948021L1C020067Studi Variabilitas Sirkulasi dan Karakteristik Massa Air di Laut Sulawesi pada Tahun 2015 – 2020 Menggunakan Pemodelan NumerikLaut Sulawesi merupakan gerbang primer Arlindo terbesar, yang dilintasi oleh aliran massa air hangat dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia. Laju transpor Arlindo diketahui dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya perubahan kondisi klimatologi. Penelitian ini bertujuan memahami dinamika oseanografi Laut Sulawesi pada berbagai kondisi klimatologi (ENSO) melalui studi terhadap sirkulasi dan karakteristik massa air sepanjang 2015-2020. Studi dilakukan melalui pemodelan numerik CROCO dengan memanfaatkan data klimatologi dan oseanografi global sebagai input. Berdasarkan indeks ONI, fenomena ENSO mengalami beberapa kali perubahan fase sepanjang tahun 2015-2020. El-Niño kuat terjadi pada tahun 2015, sementara La-Niña lemah hingga sedang terjadi pada akhir 2016, musim barat 2018, dan akhir 2020. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa El-Niño pada 2015 menyebabkan penurunan temperatur serta peningkatan salinitas, sedangkan La-Niña pada 2018 dan 2020 meningkatkan temperatur dan menurunkan salinitas, terutama di pintu masuk dan keluar Arlindo. Selain itu, El-Niño kuat menyebabkan kecepatan arus musiman menurun, sedangkan La-Niña pada 2018 dan 2020 meningkatkan kecepatan arus, terutama pada lapisan termoklin. Variasi ini mencerminkan pengaruh ENSO yang kuat terhadap dinamika sirkulasi dan karakteristik massa air Laut Sulawesi selama 2015-2020.The Celebes Sea served as the primary gateway for the Indonesian Throughflow (ITF), facilitating the transport of warm water masses from the Pacific Ocean to the Indian Ocean. The ITF transport was influenced by various factors, including changes in climatological conditions. This study aimed to understand the oceanographic dynamics of the Celebes Sea under different climatological conditions (ENSO) by analyzing circulation and water mass characteristics during 2015–2020. Numerical modeling was conducted using CROCO, with global climatological and oceanographic data as inputs. Based on the ONI index, ENSO underwent multiple phase shifts during 2015–2020. A strong El Niño occurred in 2015, while weak to moderate La Niña events were observed in late 2016, the 2018 western monsoon, and late 2020. Modeling results revealed that the 2015 El Niño reduced temperatures and increased salinity, while the 2018 and 2020 La Niña events raised temperatures and lowered salinity, particularly at the ITF's entry and exit points. Additionally, strong El Niño events decreased seasonal current velocities, whereas La Niña in 2018 and 2020 intensified currents, especially in the thermocline layer. These variations highlighted ENSO's significant influence on the Celebes Sea's circulation dynamics and water mass characteristics during the study period.
4463048125D1A020178Pengaruh Suplementasi Sumber Fitogenik Pada Ayam Niaga Petelur Terhadap Produksi Telur dan Clutch SizePenelitian “Pengaruh Suplementasi Sumber Fitogenik Pada Ayam Niaga Petelur Terhadap Produksi Telur dan Clutch Size” telah dilaksanakan pada tanggal 10 Juli-27 Agustus 2023. Penelitian suplementasi fitogenik bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung bawang putih, tepung sambiloto, dan tepung jahe terhadap produksi telur dan clutch size pada ayam niaga petelur. Penelitian ini berlokasi di Experimental Farm, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi dan bahan penelitian terdiri atas ayam niaga petelur strain Hy-line Brown umur 50 minggu, tepung bawang putih, tepung sambiloto, dan tepung jahe. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yang terdiri P0 (kontrol), P1 (pakan basal +2% tepung bawang putih), P2 (pakan basal +2% tepung sambiloto), P3 (pakan basal +2% tepung jahe), P4 (pakan basal + 2% tepung bawang putih, sambiloto, dan jahe) dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data penelitian dianalisis dengan analisis variansi (ANAVA). Hasil analisis variansi menunjukkan perlakuan suplementasi fitogenik berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap produksi telur dan clutch size. Rataan produksi telur diperoleh 91,4 ± 4,14% sampai dengan 89,6 ± 5,27%, sedangkan rataan clutch size diperoleh 5,6 ± 0,59 butir sampai dengan 5,6 ± 0,55 butir. Dapat disimpulkan bahwa suplementasi fitogenik belum mampu meningkatkan produksi telur dan clutch size pada ayam niaga petelur umur 50 minggu – 58 minggu.The research entitled "The Effect of Phytogenic Supplementation on Broiler Layer Hens on Egg Production and Clutch Size" was conducted from July 10 to August 27, 2023. This study aimed to determine the effect of garlic powder, andrographis powder, and ginger powder on egg production and clutch size in broiler layer hens. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Animal Science, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. The research materials included 50-week-old Hy-line Brown broiler layer hens, garlic powder, andrographis powder, and ginger powder. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: P0 (control), P1 (basal feed + 2% garlic powder), P2 (basal feed + 2% andrographis powder), P3 (basal feed + 2% ginger powder), P4 (basal feed + 2% garlic, andrographis, and ginger powder), with each treatment repeated five times. The data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The results of variance analysis showed that phytogenic supplementation had no significant effect (P>0.05) on egg production and clutch size. The average egg production ranged from 91.4 ± 4.14% to 89.6 ± 5.27%, while the average clutch size ranged from 5.6 ± 0.59 eggs to 5.6 ± 0.55 eggs. It can be concluded that phytogenicsupplementation has not been effective in increasing egg production and clutch size in 50- to 58-week-old commercial laying hens.
4463148329A1C019040PENERAPAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK
MENGETAHUI PENYEBAB TIDAK DIGUNAKAN ALAT COMBINE
HARVESTER DI KABUPATEN PURBALINGGA
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi terbesar di Indonesia terutama komoditas padi.
Peran mekanisasi pertanian dalam pemanenan padi yaitu penggunaan alat combine harvester. Pemerintah
memberikan bantuan combine harvester yang dibagikan kepada kelompok tani atau UPJA di Kabupaten
Purbalingga, tetapi bantuan-bantuan tersebut tidak dimanfaatkan atau mangkrak. Peneliti menganalisis
penyebab mangkraknya bantuan alat combine harvester menggunakan metode Analytical Hierarchy
Process (AHP). Penggunaan metode ini diawali dengan membuat struktur hirarki terhadap permasalahan
mangkraknya combine harvester. Pada hirarki terdapat tujuan utama, kriteria, sub kriteria dan alternatif
dari permasalahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis berbagai faktor yang
menentukan keputusan petani menggunakan combine harvester dan mengetahui dan menganalisis faktor
utama petani dalam memilih sistem pemanenan padi. Penelitian ini dilakukan dengan sampel desa yang
mendapatkan bantuan combine harvester di Kabupaten Purbalingga. Di Kabupaten Purbalingga terdapat
56 desa yang mendapatkan bantuan alat combine harvester dan hampir seluruhnya mangkrak. Penelitian
ini menggunakan 112 responden dari total 56 kelompok tani atau UPJA di Kabupaten Purbalingga. Hasil
penelitian menunjukan faktor utama yang mempunyai nilai tertinggi adalah faktor sosial sebesar sebesar
0,26723 atau 26,72%. Hasil analisis alternatif pengelolaan combine harvester yaitu penyuluhan
penggunaan alat sebesar 0,152152 atau 15,21%.
The agricultural sector is one of the largest economic sectors in Indonesia largely in rice commodity. The
role of agricultural mechanization in rice harvesting is the use of combine harvesters. The government
provided combine harvester assistance which was distributed to farmer groups or UPJA in Purbalingga
Regency, but this assistance was not utilized or stalled. Researchers analyzed the causes of the decline in
combine harvester equipment using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The use of this
method begins with creating a hierarchical structure for the problem of idle combine harvesters. In the
hierarchy there are main objectives, criteria, sub-criteria and alternative problems. The aim of this
research is to find out and analyze the various factors that determine farmers' decisions to use a combine
harvester and to find out and analyze the main factors for farmers in choosing a rice harvesting system.
This research was conducted with a sample of villages that received combine harvester assistance in
Purbalingga Regency. In Purbalingga Regency, there are 56 villages that received combine harvester
assistance and almost all of them have stalled. This research used 112 respondents from a total of 56 farmer
groups or UPJA in Purbalingga Regency. The research results show that the main factor with the highest
value is the social factor of 0.26723 or 26.72%. The results of the analysis of alternative combine harvester
management, namely education on the use of the tool, were 0.152152 or 15.21%.
4463248007E1A021077PEMBERIAN BANTUAN HUKUM TERHADAP TERSANGKA TINDAK PIDANA KORUPSI PENGELOLAAN KREDIT PEGADAIAN AMANAH DALAM PROSES PENYIDIKAN (Studi Kasus Di Kejaksaan Negeri Purwokerto)
Dasar pemberian bantuan hukum diatur dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Kasus korupsi dengan bantuan hukum di Kejaksaan Negeri Purwokerto jarang terjadi, karena mayoritas tersangka di dampingi advokat pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemberian bantuan hukum di Kejaksaan Negeri Purwokerto dan faktor penghambat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan dan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan metode kualitatif dan disajikan dalam bentuk uraian yang tersistematis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pemberian bantuan hukum dalam tindak pidana korupsi atas nama Fahmi di Kejaksaan Negeri Purwokerto berdasarkan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman telah berjalan dengan baik, meskipun terdapat kekosongan peraturan mengenai mekanisme penunjukan advokat. Namun dilihat dari faktor keberhasilan penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto, terdapat hambatan berupa faktor hukum, budaya dan masyarakat. Meskipun terdapat hambatan, pelaksanaan pemberian bantuan hukum di Kejaksaan Negeri Purwokerto telah berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku. The basis for providing legal aid is regulated in Article 28 paragraph (1) of the 1945 Constitution, Article 56 of the Criminal Procedure Code, and Law of the Republic of Indonesia Number 16 of 2011 concerning Legal Aid. Corruption cases with legal aid at the Purwokerto District Attorney's Office are rare, because the majority of suspects are accompanied by private lawyers. This study aims to determine the implementation of legal aid at the Purwokerto District Attorney's Office and the inhibiting factors in its implementation. The research method used is juridical sociological with descriptive research specifications. The data used in this research are primary data obtained through interviews with informants and secondary data obtained from literature studies. The data obtained is then processed and analyzed with qualitative methods and presented in the form of systematic descriptions. The results showed that the implementation of legal aid in the criminal act of corruption on behalf of Fahmi at the Purwokerto District Attorney's Office based on Lawrence M. Friedman's legal system theory has been going well, although there is a regulatory vacuum regarding the mechanism for appointing advocates. However, seen from the success factors of law enforcement according to Soerjono Soekanto, there are obstacles in the form of legal, cultural and community factors. Although there are obstacles, the implementation of legal aid at the Purwokerto District Attorney's Office has been running in accordance with applicable regulations.
4463348008I1A021038Perilaku Pengendalian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas RawaloLatar Belakang: Lansia mengalami penurunan fungsi fisiologis sehingga rentan terhadap berbagai
masalah kesehatan salah satunya hipertensi. Data Puskesmas Rawalo tahun 2023 menunjukkan
penderita hipertensi terbanyak terjadi pada usia lansia yaitu sebanyak 3.251 jiwa. Lansia penderita
hipertensi perlu melakukan pengendalian hipertensi untuk mencegah peningkatan tekanan darah dan
mencegah komplikasi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh antara pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dengan perilaku
pengendalian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rawalo.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dilakukan pada bulan September 2024-
Januari 2025 di wilayah kerja Puskesmas Rawalo dengan instrumen berupa kuesioner. Populasi
sejumlah 2.763 lansia, dengan sampel sebanyak 103 menggunakan teknik cluster random sampling.
Analisis data meliputi univariat, bivariat menggunakan uji chi square dan multivariat menggunakan
uji regresi logistik ganda.
Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p value
= 0,001), sikap (p value = 0,029), dan dukungan keluarga (p value = 0,001) dengan perilaku
pengendalian hipertensi pada lansia. Variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku
pengendalian hipertensi pada lansia yaitu variabel dukungan keluarga dengan p value = 0,001; OR
= 24,576; 95% CI 7,024-85,983.
Kesimpulan: Dukungan keluarga paling dominan mempengaruhi perilaku pengendalian hipertensi
pada lansia. Oleh karena itu, disarankan kepada keluarga penderita hipertensi untuk meningkatkan
dukungan instrumental agar hipertensi dapat dikendalikan dengan baik.
Kata Kunci: Hipertensi, Lansia, Pengetahuan, Sikap, Dukungan Keluarga
Background: The elderly experience a decrease in physiological function making them vulnerable
to various health problems, one of which is hypertension. Data from the Rawalo Health Center in
2023 showed that the highest number of hypertensive patients occurred in the elderly age, namely
3,251 people. Elderly people with hypertension need to control hypertension to prevent an increase
in blood pressure and prevent complications.
Objective: To determine the influence between knowledge, attitude, and family support with
hypertension control behavior in the elderly in the Rawalo Health Center Working Area.
Method: This study used a cross-sectional design, conducted in September 2024-January 2025 in
the working area of the Rawalo Health Center with a questionnaire instrument. The population was
2,763 elderly, with a sample of 103 using cluster random sampling technique. Data analysis includes
univariate, bivariate using chi square test and multivariate using multiple logistic regression test.
Results: The results of the bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge
(p value = 0.001), attitude (p value = 0.029), and family support (p value = 0.001) with hypertension
control behavior in the elderly. The variable that has the most influence on hypertension control
behavior in the elderly was the family support variable with p value = 0.001; OR = 24.576; 95% CI
7.024-85.983.
Conclusion: Family support is most dominant in influencing hypertension control behavior in the
elderly. Therefore, it is recommended for families of patients with hypertension to increase
instrumental support so that hypertension can be controlled properly.
Keywords: Hypertension, Elderly, Knowledge, Attitude, Family Support
4463448010A1A021016Analisis Faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian Petani terhadap Bibit Alpukat Bersertifikat pada CV. Cahya Tani, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten BanyumasDinas Pertanian telah menyatakan bahwa bibit bersertifikat adalah bibit yang telah melewati proses seleksi dan dinyatakan memenuhi standar kualitas bibit. Saat ini Dinas Pertanian sedang berusaha untuk meningkatkan produsen bibit bersertifikat dengan tujuan untuk meningkatkan peredaran bahan pangan berkualitas sesuai dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi pasca pandemi Covid-19. Namun pada kenyataannya produsen bibit bersertifikat di Indonesia khususnya di Kabupaten Banyumas masih sangat sedikit jumlahnya. Hal ini dikarenakan para produsen bibit masih belum memiliki keberanian untuk mengajukan sertifikasi usahanya, alasannya karena para produsen bibit takut akan hilangnya konsumen mereka seiring dengan peningkatan harga jual bibit setelah mendapatkan sertifikasi. CV. Cahya Tani sebagai salah satu produsen bibit alpukat bersertifikat yang dirasa berpotensi dan telah berhasil berkembang, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan, 1) Mengetahui apakah petani sudah menyadari pentingnya label sertifikasi produsen bibit dan kualitas mutu tanaman alpukat, 2) Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian petani terhadap bibit alpukat bersertifikat, 3) Mengetahui seberapa besar faktor-faktor tersebut memengaruhi keputusan pembelian petani terhadap bibit alpukat bersertifikat pada CV. Cahya Tani, Desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan dilaksanakan di CV. Cahya Tani dan petani alpukat yang berlokasi di Dusun I, Desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng pada bulan November dan Desember 2024. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik sampel jenuh atau sensus dengan responden petani alpukat bersertifikat yang membeli bibitnya dari CV. Cahya Tani. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Variabel yang diamati terdiri dari harga bibit, umur petani, pendidikan petani, tinggi bibit alpukat, pendapatan usahatani, dan pengalaman usahatani untuk variabel independen, dan keputusan pembelian petani untuk variabel dependen. Metode analisis yang digunakan pada tujuan penelitian pertama menggunakan analisis indeks presentase, tujuan penelitian kedua dan ketiga menggunakan analisis regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86 persen petani sudah menyadari akan pentingnya penggunaan bibit bersertifikat. Hasil Uji-F dari analisis regresi linier berganda telah menjawab tujuan penelitian kedua dan menunjukkan bahwa keenam faktor-faktor yang menjadi variabel independen secara bersama-sama berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian petani terhadap bibit alpukat bersertifikat, dan secara parsial terdapat empat faktor yang berpengaruh signifikan meliputi variabel harga bibit bersertifikat (X1), umur petani (X2), tinggi bibit alpukat (X4), dan variabel pendapatan petani (X5). Pada tujuan penelitian ketiga telah diketahui bahwa variabel harga bibit bersertifikat (X1) berpengaruh secara signifikan dengan arah negatif sebesar -1,448 terhadap keputusan pembelian petani, variabel umur petani (X2) memiliki pengaruh signifikan dengan arah negatif sebesar -0,468 terhadap keputusan pembelian petani, variabel tinggi bibit alpukat (X4) berpengaruh secara signifikan dengan arah positif sebesar 0,533 terhadap keputusan pembelian petani, pendapatan usahatani (X5) memiliki pengaruh yang signifikan dengan arah positif sebesar 3,379 terhadap keputusan pembelian petani.
The Department of Agriculture has stated that certified seeds are seeds that have gone through a selection process and are declared to meet seed quality standards. Currently, the Department of Agriculture is trying to increase certified seed producers with the aim of increasing the circulation of quality food in accordance with increasing public awareness of the importance of nutritious food after the Covid-19 pandemic. However, in reality, certified seed producers in Indonesia, especially in Banyumas Regency, are still very few in number. This is because seed producers still do not have the courage to apply for certification of their businesses, the reason being that seed producers are afraid of losing their consumers along with the increase in the selling price of seeds after obtaining certification. CV. Cahya Tani as one of the certified avocado seed producers that is considered to have potential and has succeeded in developing, this study was conducted with the aim of, 1) Finding out whether farmers are aware of the importance of seed producer certification labels and the quality of avocado plants, 2) Finding out the factors that influence farmers' purchasing decisions for certified avocado seeds, 3) Finding out how much these factors influence farmers' purchasing decisions for certified avocado seeds at CV. Cahya Tani, Dawuhan Kulon Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency.
This research uses the case study method and was carried out at CV. Cahya Tani and avocado farmers located in Hamlet I, Dawuhan Kulon Village, Kedungbanteng District in November and December 2024. The sampling method used in this research was a saturated sampling technique or census with certified avocado farmer respondents who bought their seeds from CV. Cahya Tani. Data collection techniques use interviews, questionnaires and documentation. The observed variables consisted of seed price, farmer age, farmer education, avocado seed height, farming income, and farming experience for the independent variable, and farmer purchasing decisions for the dependent variable. The analytical method used for the first research objective uses percentage index analysis, the second and third research objectives use multiple linear regression analysis.
The research results show that 86 of farmers are aware of the importance of using certified seeds. The F-test results from multiple linear regression analysis have answered the second research objective and show that the six factors that are independent variables together simultaneously influence farmers' purchasing decisions for certified avocado seeds, and partially there are four factors that have a significant influence includes the variable price of certified seeds (X1), age of farmer (X2), height of avocado seedlings (X4), and variable farmer income (X5). In the third research objective, it is known that the certified seed price variable (X1) has a significant influence in a negative direction of -1.448 on farmers' purchasing decisions, the farmer's age variable (X2) has a significant influence in a negative direction of -0.468 on farmers' purchasing decisions, the variable height Avocado seeds (X4) have a significant influence in a positive direction of 0.533 on farmers' purchasing decisions, farming income (X5) has a significant influence in a positive direction of 3.379 on farmers' purchasing decision.
4463548022H1A021002RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING DAN KENDALI PEMBERIAN NUTRISI OTOMATIS PADA GREENHOUSE BERBASIS INTERNET OF THINGS MENGGUNAKAN ESP32Greenhouse berbasis IoT menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya di daerah yang menghadapi tantangan iklim. Dengan mengintegrasikan mikrokontroler ESP32 yang terhubung melalui Wi-Fi dengan sensor lingkungan seperti suhu, pH, dan kadar nutrisi, pemantauan dan pengendalian kondisi greenhouse secara real-time dapat dilakukan, sehingga meningkatkan efisiensi dan hasil panen. Data yang dikumpulkan dikirimkan ke broker MQTT untuk komunikasi yang ringan dan cepat, memungkinkan pengelolaan jarak jauh. Pemberian nutrisi dilakukan secara otomatis menggunakan Fuzzy Logic, memastikan dosis yang tepat berdasarkan umpan balik sensor. Ketika kadar nutrisi atau pH di bawah ambang batas, sistem mengaktifkan pompa untuk menyesuaikan sesuai kebutuhan. Teknologi ini sangat relevan untuk mendukung pertanian berkelanjutan, seperti di Gapoktan Rahayu Makmur Temanggung, yang saat ini masih menggunakan metode manual. Dengan penerapan otomatisasi berbasis IoT, efisiensi penggunaan sumber daya dapat meningkat, biaya operasional berkurang, hasil produksi meningkat, dan mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.IoT-based greenhouses offer an innovative solution to enhance agricultural productivity, particularly in regions with climate challenges. By integrating the ESP32 microcontroller with Wi-Fi connectivity and environmental sensors such as temperature, pH, and nutrient level sensors, real-time monitoring and control of greenhouse conditions can be achieved, improving efficiency and crop yields. Data collected is transmitted to an MQTT broker for lightweight and fast communication, enabling remote management. Nutrient delivery is automated using Fuzzy Logic, ensuring precise dosing based on sensor feedback. When nutrient levels or pH fall below thresholds, the system activates pumps to adjust levels as needed. This technology is particularly relevant for sustainable farming, such as in Gapoktan Rahayu Makmur Temanggung, which currently relies on manual methods. By implementing IoT-based automation, resource use efficiency can be increased, operational costs reduced, and crop production improved while promoting environmentally friendly agriculture.
4463648023I1E021030HUBUNGAN POWER OTOT TUNGKAI, KECEPATAN, KOORDINASI MATA DAN KAKI, DAN KONSENTRASI DENGAN KETEPATAN SHOOTING PADA EKSTRAKURIKULER FUTSAL DI SMA NEGERI 1 PAGUYANGAN
Latar Belakang: Olahraga adalah aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran dan kualitas hidup, baik secara individu maupun kelompok, termasuk melalui ekstrakurikuler seperti futsal di SMA Negeri 1 Paguyangan. Futsal, yang dimainkan oleh lima orang per tim, menuntut penguasaan teknik dasar seperti passing, dribbling, dan shooting. Teknik shooting yang baik dipengaruhi oleh kekuatan otot tungkai, kecepatan, koordinasi mata-kaki, serta konsentrasi mental. Namun, berdasarkan observasi di SMA tersebut, latihan futsal hanya dilakukan sekali seminggu, sehingga banyak siswa belum menguasai teknik shooting dengan baik, terutama dalam hal akurasi dan kekuatan tendangan.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel terdiri dari 30 siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji linieritas, uji korelasi pearson, dan regresi berganda
Hasil Penelitian: Kriteria keputusan uji korelasi apabila nilai sig < 0,05 maka dapat disimpulkan memiliki hubungan antara variabel bebas dengan terikat. Hasil analisis product moment power otot tungkai 0,001, kecepatan 0,001, koordinasi mata dan kaki 0,001, dan konsentrasi 0,016. Secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut memberikan kontribusi sebesar 97,34% terhadap ketepatan shooting.
Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan power otot tungkai, kecepatan, koordinasi mata dan kaki, konsentrasi dengan ketepatan shooting futsal.
Kata Kunci: Futsal, shooting, power otot tungkaai, kecepatan, koordinasi mata dan kaki, dan konsentrasi.
Background: Sport is a physical activity that aims to improve fitness and quality of life, both individually and in groups, including through extracurricular activities such as futsal at SMA Negeri 1 Paguyangan. Futsal, which is played by five people per team, demands mastery of basic techniques such as passing, dribbling, and shooting. Good shooting techniques are influenced by leg muscle strength, speed, eye-foot coordination, and mental concentration. However, based on observations at the high school, futsal training is only done once a week, so many students have not mastered shooting techniques well, especially in terms of accuracy and strength of kicks.
Methodology: This study used a quantitative method with a correlational approach. The sample consisted of 30 students who participated in extracurricular futsal purposive sampling. Data analysis was carried out through normality test, linearity test, Pearson correlation test, and multiple regression.
Research Results: The decision criteria for the correlation test if the sig value is <0.05, it can be concluded that there is a relationship between the independent and dependent variables. The results of product moment analysis of leg muscle power 0,001, speed 0,001, eye and foot coordination 0,001, and concentration 0.016. Overall, these factors contributed 97.34% to the shooting accuracy. to shooting accuracy.
Conclusion: There is a significant relationship of leg muscle power, speed, eye and foot coordination, concentration with futsal shooting accuracy.
Keywords: Futsal, shooting, leg muscle power, speed, eye and foot coordination, and concentration.
4463748009B1A021056Profil Anatomi Daun dan Morfologi Bandotan (Ageratum conyzoides L.) pada Ketinggian Tempat Tumbuh BerbedaBandotan (Ageratum conyzoides L.) adalah tumbuhan yang dikenal sebagai tumbuhan liar namun dapat dijadikan sebagai tumbuhan obat karena mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, polifenol, alkaloid, dan minyak atsiri. Senyawa fenol tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan desinfektan. Karakteristik daun baik secara anatomi dan morfologi memiliki keragaman sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi lingkungan, termasuk ketinggian tempat tumbuh yang berbeda. Penelitian tentang karakteristik anatomi dan morfologi tumbuhan bandotan belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan profil anatomi dan morfologi tumbuhan bandotan pada ketinggian tempat yang berbeda.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dan pengambilan sampel secara acak terpilih. Variabel penelitian yang diamati adalah ketinggian tempat sebagai variabel bebas dan profil anatomi serta morfologi sebagai variabel terikat. Metode pengamatan untuk profil anatomi yaitu pembuatan preparat segar dan awetan daun bandotan, sementara metode pengamatan untuk profil morfologi yaitu melalui pengamatan seluruh bagian tumbuhan bandotan. Parameter anatomi yang diamati meliputi panjang dan lebar stomata, kerapatan stomata dan trikomata, tebal kutikula, tebal mesofil, tebal epidermis, dan panjang trikomata. Parameter untuk pengamatan morfologi meliputi karakter kuantitatif seperti tinggi tumbuhan, panjang akar, dan diameter akar, diameter batang, panjang batang, jumlah daun, panjang tangkai daun, panjang daun, lebar daun, jumlah bunga majemuk, diameter bunga majemuk. Parameter morfologi secara kualitatif yaitu jenis batang, bentuk batang, tekstur permukaan batang, warna ujung batang, warna pangkal batang, arah pertumbuhan batang, jenis percabangan, arah tumbuh cabang, tata letak daun, warna tangkai, warna adaksial daun, warna abaksial daun, tipe daun, pangkal daun, jumlah daun, tepi daun, ujung daun, warna tulang daun, jenis tulang daun, tekstur permukaan daun, bangun daun, daging daun, tipe bunga, posisi bunga, kelengkapan bunga, bentuk dasar bunga majemuk, jumlah bunga majemuk, warna bunga, jenis buah, bentuk buah, warna biji, bentuk biji, serta parameter pendukungnya yaitu faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, pH tanah, dan intensitas cahaya. Data pengamatan profil anatomi dan morfologi parameter kualitatif dianalisis secara deskriptif, sementara data pengamatan profil anatomi dan morfologi parameter kuantitatif dianalisis menggunakan ANOVA atau uji F dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%, hasil yang berbeda nyata dilakukan uji lanjut BNJ taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan berpengaruh terhadap anatomi daun bandotan serta beberapa parameter pengamatan morfologi bandotan seperti tinggi tumbuhan, panjang akar, panjang batang, panjang tangkai daun, jumlah daun, jumlah bunga majemuk, dan diameter bunga majemuk. Stomata bandotan bertipe anomositik amfistomatik dan trikomata uniseriat. Batang, daun, bunga, buah, dan biji masing-masing menunjukkan warna tertentu. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap profil anatomi dan beberapa profil morfologi bandotan.
Bandotan (Ageratum conyzoides L.) is a plant known as a wild plant, but can be used as a medicinal plant because it contains secondary metabolite compounds such as flavonoids, saponins, polyphenols, alkaloids, and essential oils. The phenolic compounds of this plant can also be used to manufacture of disinfectants. Leaf characteristics both anatomically and morphologically have diversity as a form of adaptation to environmental conditions, including different growing altitudes. Research on the anatomical and morphological characteristics of bandotan plants has not been widely conducted. This research examines and contrasts the anatomical and morphological traits of bandotan plants growing at different altitudes.
This research conducted using a survey method, randomly selected sampling. The research variables observed are the altitude as the independent variable and the anatomical and morphological profiles as the dependent variables. The observation method for the anatomical profile is the preparation of fresh and preserved bandotan leaf preparations, while the observation method for the morphological profile is through comprehensive observation of all parts of the bandotan plant. The anatomical parameters to be observed include the length and width of the stomata, the density of the stomata and trichomes, the thickness of the cuticle, the thickness of the mesophyll, the thickness of the epidermis, and the length of the trichomes. Parameters for morphological observations include quantitative characters such as plant height, root length, and root diameter, stem diameter, stem length, number of leaves, leaf stalk length, leaf length, leaf width, number of inflorescence, compound flower diameter. Qualitative morphological parameters are stem type, stem shape, stem surface texture, stem tip color, stem base color, stem growth direction, branching type, branch growth direction, leaf layout, stalk color, leaf adaxial color, leaf abaxial color, leaf type, leaf base, number of leaves, leaf edge, leaf tip, leaf vein color, leaf vein type, leaf surface texture, leaf structure, leaf flesh, flower type, flower position, flower completeness, basic form of compound flowers, number of compound flowers, flower color, fruit type, fruit shape, seed color, seed shape, and supporting parameters are environmental factors such as temperature, humidity, soil pH, and light intensity. Anatomical and morphological profile observation data of qualitative parameters were analyzed descriptively, while anatomical and morphological profile observation data of quantitative parameters were analyzed using ANOVA or F test with 95% and 99% confidence levels, if there is a significant difference, a further BNJ test of 5% level was carried out.
The results showed that environmental factor significantly influenced leaf anatomy and several morphological parameters, including plant height, root length, stem length, petiole length, number of leaves, number of inflorescences, and inflorescence diameter. Type of the stomata is anomositik amfistomatik and trichomes type uniseriat. Shoot, leaves, fruits, and seeds showed different colors. Altitude influences the anatomy and morphology of the bandotan.
4463848011E1A021111PELAKSANAAN RESTORATIVE JUSTICE SEBAGAI PENYELESAIAN
DALAM PERKARA PENIPUAN ATAU PENGGELAPAN
PADA TINGKAT PENUNTUTAN
(Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Purbalingga)
Tindak pidana penipuan dan penggelapan merupakan dua bentuk kejahatan yang
paling sering terjadi di masyarakat Indonesia. Dalam praktik penyelesaian perkara
kedua tindak pidana tersebut, selama ini lebih menekankan pada keadilan
retributive. Restorative justice hadir sebagai alternatif penyelesaian perkara pidana
yang menitikberatkan pada pemulihan bagi korban dan pelaku melalui proses
perdamaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan restorative
justice serta hambatan yang dilalui Kejaksaan Negeri Purbalingga dalam
menangani kasus tindak pidana penipuan atau penggelapan motor. Penelitian ini
menggunakan metode yuridis sosiologis yang sumber data primernya diperoleh dari
wawancara dengan jaksa, pelaku dan korban sedangkan untuk data sekunder dari
studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi restorative
justice dalam kasus penipuan atau penggelapan motor di Kejaksaan Negeri
Purbalingga telah berjalan dengan baik sesuai regulasi yang berlaku. Namun, dalam
penerapannya, terdapat hambatan yang dihadapi berdasarkan teori Lawrence M.
Friedman. Pertama, hambatan dari faktor struktural hukum yaitu adanya tumpang
tindih kewenangan kepolisian dan kejaksaan dalam penyelesaian perkara dengan
restorative justice. Kedua, dari faktor sosial masyarakat yang masih memiliki
budaya hukum formalistik dan retributive. Oleh karena itu, perlu adanya
peningkatan koordinasi antar lembaga, serta sosialisasi kepada masyarakat guna
mendukung efektivitas restorative justice.
Criminal acts of fraud and embezzlement are among the most common crimes in
Indonesian society. In practice, the resolution of these cases has predominantly
emphasized retributive justice. Restorative justice emerges as an alternative
approach to criminal case resolution, focusing on the recovery of both victims and
offenders through a reconciliation process. This study aims to analyze the
implementation of restorative justice and the obstacles encountered by the
Purbalingga District Prosecutor’s Office in handling cases of fraud or motorcycle
embezzlement. This research employs a socio-legal method, with primary data
obtained from interviews with prosecutors, offenders, and victims, while secondary
data is gathered from literature studies. The findings indicate that the
implementation of restorative justice in fraud or motorcycle embezzlement cases at
the Purbalingga District Prosecutor’s Office has been conducted in accordance
with applicable regulations. However, its application faces several challenges
based on Lawrence M. Friedman’s theory. First, from a legal structural perspective,
there is an overlap in authority between the police and the prosecutor’s office in
resolving cases through restorative justice. Second, from a socio-cultural
perspective, the community still adheres to a formalistic and retributive legal
culture. Therefore, it is necessary to enhance inter-institutional coordination and
conduct public awareness campaigns to support the effectiveness of restorative
justice.
4463948012E1A021204KETIDAKTEPATAN HAKIM DALAM PENJATUHAN PIDANA MATI PADA TINDAK PIDANA NARKOTIKA
(Studi Perbandingan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No. 225/Pid.Sus/2015/PN. Jkt Brt dan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 192/Pid/2015/PT. DKI)
Pidana mati dijatuhkan untuk kejahatan yang sangat membahayakan masyarakat dan diakui dalam konstitusi Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis kekhilafan hakim dalam menjatuhkan pidana mati pada perkara narkotika dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 192/Pid/2015/PT.DKI dibandingkan dengan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No. 225/Pid.Sus/2015/PN. Jkt Brt, serta prinsip-prinsip penjatuhan pidana mati. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan analisis kualitatif berbasis studi kepustakaan. Penjatuhan pidana mati terhadap terdakwa perkara tindak pidana narkotika dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 192/Pid/2015/PT.DKI dianggap sebagai ketidaktepatan, karena hakim tidak mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Sebaliknya, dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Nomor 225/Pid.Sus/2015/PN. Jkt Brt, hakim mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan menjatuhkan pidana penjara 20 tahun. Kedua putusan Pengadilan tersebut menyatakan terdakwa tidak terbukti bersalah atas dakwaan primair, namun terbukti bersalah atas permufakatan jahat memproduksi narkotika golongan I lebih dari 5 gram. Mengingat terdapat ketidaktepatan dalam menjatuhkan pidana pada putusan Pengadilan Tingkat Banding. Oleh karena itu, terhadap putusan dimaksud dapat diajukan permohonan peninjauan kembali karena mengandung ketidaktepatan atau kekeliruan nyata dari hakim. Prinsip penerapan pidana mati di Indonesia berlaku untuk pelaku kejahatan berat, seperti narkotika, terorisme, korupsi, dan pelanggaran HAM, sebagai langkah terakhir dalam sistem peradilan. Penerapan pidana mati tidak bertentangan dengan hak hidup yang dijamin UUD 1945, karena konstitusi mengakui pembatasan hak asasi manusia untuk ketertiban dan keadilan sosial. Selain itu, ICCPR masih memperbolehkan pidana mati dengan pembatasan spesifik di negara yang belum menghapusnya.The death penalty is imposed for crimes that pose a serious threat to society and is constitutionally recognized in Indonesia. This study aims to analyze judicial errors in imposing the death sentence in a narcotics case, specifically comparing the Jakarta High Court Decision No. 192/Pid/2015/PT.DKI with the West Jakarta District Court Decision No. 225/Pid.Sus/2015/PN.Jkt.Brt, while also examining the principles underlying the imposition of capital punishment. This research employs a normative juridical approach using qualitative analysis based on literature review. The imposition of the death penalty in the High Court decision is deemed inappropriate, as the judges failed to consider both aggravating and mitigating circumstances of the defendant. In contrast, the District Court judgment took such factors into account and sentenced the defendant to 20 years’ imprisonment. Both courts found the defendant not guilty of the primary charge but guilty of conspiracy to produce more than 5 grams of a Schedule I narcotic. Given the judicial inaccuracy in the appellate court decision, a request for judicial review may be submitted, as the ruling reflects a clear and significant error. In Indonesia, the death penalty is applied to perpetrators of serious crimes, such as drug offenses, terrorism, corruption, and human rights violations, as a last resort within the justice system. Its application is not considered a violation of the right to life as guaranteed by the 1945 Constitution, since the constitution permits certain restrictions on human rights for the sake of public order and social justice. Furthermore, the ICCPR still allows the death penalty under specific limitations for countries that have not yet abolished it.
4464048593J0A022064Creating Instagram Informational Videos About Innovation Services At Immigration Office Class I TPI CilacapLaporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja yang
dilaksanakan pada 2 September - 3 Desember 2024. Tujuan laporan ini adalah untuk
membuat video informatif Instagram bagi instansi tersebut dan untuk mengetahui
hambatan serta solusi dalam pembuatan video informatif di Kantor Imigrasi Kelas
I TPI Cilacap. Topik layanan inovasi dipilih karena instansi tersebut tidak memiliki
video dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan layanan inovasi ini. Oleh karena
itu, perlu dibuat video informatif agar orang asing dapat mengetahui lebih banyak
tentang layanan inovasi yang disediakan oleh Kantor Imigrasi Cilacap.
Dalam menyusun Laporan Praktik Kerja ini, terdapat metode yang
digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ketiga metode ini
diterapkan selama praktik kerja berlangsung. Metode-metode ini diterapkan selama
praktik kerja, yang melibatkan pembuatan tiga video informatif tentang layanan
inovasi, fasilitas yang mendukung proses layanan inovasi, dan testimonial dari
beberapa pemohon paspor. Hasil dari video tersebut adalah video sinematik dengan
voice-over dalam bahasa Inggris dan subtitle bahasa Inggris.
Ada tiga tahapan dalam proses pembuatan video informatif yaitu pra-
produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, yang termasuk
adalah penentuan ide, penulisan naskah, pembuatan storyboard, persiapan talent
(baik teknis maupun non-teknis), dan pembuatan jadwal waktu. Pada tahap
produksi, dilakukan pengambilan gambar, penyuntingan video, dan rekaman suara
oleh talent voice-over. Pada tahap pasca-produksi, dilakukan tahap akhir video dan
publikasi video. Terdapat beberapa hambatan selama proses ini, namun hambatan-
hambatan tersebut dapat diselesaikan. Video yang dihasilkan diunggah di Instagram
Kantor Imigrasi Cilacap untuk membantu mempromosikan layanan inovasi.
This final report is based on the job training that was carried out on September 2 - December 3, 2024. The purposes of this report is to create instagram informational videos for the institution and to find out the obstacles and solutions in creating an informational videos at the Immigration Class I TPI Cilacap Office. The innovation services topic was chosen because the institution did not have any videos available in English related to these innovation services. Therefore, it was necessary to create informational videos so that foreigners can learn more about the innovation services provided by the Immigration Office Cilacap.
In Creating this job training report, there are three methods named observation, interview, and documentation. These three methods were carried during the job training. These methods were applied during the job training, which involved creating three informational videos about innovation services, the facilities that support the innovation services process, and testimonials from several passport applicants. The result of the videos was a cinematic videos with English voice-over and English subtitles.
There were three stages in the process of creating informational videos named pre-production, production, and post-production. In the pre-production stages, these included determining the idea, scriptwriting, storyboarding, preparing talent (both technical and non-technical), and making a time schedule. In the production stages, there were video shooting, video editing, and voice recording by the voice-over talent. In the post-production stages, video finishing and video publishing took place. There were several obstacles during the process, but these obstacles can be solved. The final videos was uploaded to the Immigration Cilacap Office's Instagram to help promote the innovation services.