Artikelilmiahs

Menampilkan 44.681-44.700 dari 48.759 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4468148053G1A021073
EFEK PEMBERIAN KEFIR SUSU KAMBING BERBAGAI DOSIS TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) TIKUS PUTIH GALUR WISTAR MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2
Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 memicu kondisi hiperglikemia sehingga menyebabkan stres oksiatif. Kondisi stres oksidatif ditandai dengan peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) yang mengoksidasi polyunsaturated fatty acid (PUFA) di membran sel dan menghasilkan hidroperoksida. Hidroperoksida ini dapat dipecahkan, menghasilkan zat reaktif seperti malondialdehid (MDA). Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian kefir susu kambing berbagai dosis terhadap kadar MDA tikus putih galur Wistar model diabetes melitus tipe 2. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan pendekatan posttest only with control group design. Tiga puluh ekor tikus dibagi ke dalam lima kelompok secara acak. Kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit yang induksi HFD-STZ-DM tipe 2, kelompok perlakuan C, D, E yang diinduksi HFD-STZ-DMT2 dan diberi kefir susu kambing selama 28 hari dengan dosis berturut turut, yaitu 1,05, 2,1, dan 4,2 mL/200gBB/hari. Hasil: Secara statistik, rerata kadar MDA (nmol) pada setiap kelompok tikus, yaitu kelompok A = 1,58 ± 0,74; kelompok B = 1,85 ± 0,71; kelompok C = 2,89 ± 0,74; kelompok D = 2,50 ± 0,83; kelompok E = 2,28 ± 0,75. Hasil uji non parametrik Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p = 0,145 yang berarti tidak terdapat perbedaan rerata kadar MDA yang signifikan antar kelompok. Kesimpulan: Kefir susu kambing berbagai dosis tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar MDA tikus putih (Rattus norvegicus)

Introduction: Type 2 diabetes mellitus triggers hyperglycemia, resulting in an imbalance in the number of free radicals and antioxidants in the body, causing oxidative stress. Oxidative stress conditions are characterized by increased production of reactive oxygen species (ROS) which oxidize polyunsaturated fatty acids (PUFA) in cell membranes and produce hydroperoxides. These hydroperoxides can be broken down, producing reactive substances such as Malondialdehyde (MDA). Objective: The aim of this study was to determine the effect of giving various doses of goat's milk kefir on the MDA levels of Wistar white rats, a model of type 2 diabetes mellitus. Method: This research uses a true experimental method with a posttest only approach with control group design. Thirty mice were divided into five groups randomly. Group A was a healthy control, group B was a diseased control that was induced by HFD-STZ-DM type 2, treatment groups C, D, E were induced by HFD-STZ-DMT2 and were given goat's milk kefir for 28 days with successive doses, namely 1.05, 2.1, and 4.2 mL/200gBW/day. Results: Statistically, the average MDA level (nmol) in each group of mice, namely group A = 1.58 ± 0.74; group B = 1.85 ± 0.71; group C = 2.89 ± 0.74; group D = 2.50 ± 0.83; group E = 2.28 ± 0.75. The results of the non-parametric Kruskal-Wallis test showed a p value = 0.145, which means there was no significant difference in mean MDA levels between groups. Conclusion: Goat's milk kefir at various doses did not have a significant effect on MDA levels in white rats (Rattus norvegicus) with type 2 DM.
4468248054G1A021083HUBUNGAN LITERASI KESEHATAN DENGAN KONTROL GLIKEMIK PADA PASIEN
PROLANIS DIABETES MELITUS DI KABUPATEN BANYUMAS
Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terus meningkat
prevalensinya dan berisiko menimbulkan komplikasi jika tidak dikendalikan. Program
Prolanis bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes melitus melalui
edukasi kesehatan, termasuk peningkatan literasi kesehatan. Namun, hubungan literasi
kesehatan terhadap kontrol glikemik masih masih belum sepenuhnya dipahami. Tujuan:
Menganalisis hubungan antara tingkat literasi kesehatan dengan kontrol glikemik pada
pasien Prolanis diabetes melitus di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini
menggunakan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder dari 358 responden
Prolanis tahun 2022. Literasi kesehatan diukur dengan kuesioner HLS-EU-Q16, sedangkan
kontrol glikemik berdasarkan hasil HbA1c. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square
dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda. Hasil: Mayoritas
responden memiliki tingkat literasi kesehatan tinggi (93,6%), tetapi kontrol glikemi rendah
(72,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara literasi kesehatan dengan kontrol glikemik (p=1,000). Variabel lain seperti
usia, jenis kelamin, pendidikan, dan status ekonomi tidak memiliki hubungan yang
signifikan dalam analisis multivariat. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan yang
signifikan antara literasi kesehatan dengan kontrol glikemik pada pasien Prolanis diabetes
melitus di Kabupaten Banyumas
Background: Diabetes mellitus is a chronic disease with increasing prevalence and a risk
of complications if not well controlled. The Prolanis program aims to improve the quality of
life of diabetes mellitus patients through health education, including enhancing health
literacy. However, the relationship between health literacy and glycemic control is not yet
fully understood. Objective: This study aimed to analyze the relationship between health
literacy and glycemic control among Prolanis diabetes mellitus patients in Banyumas
Regency. Methodology: A cross-sectional design was used with secondary data from 358
Prolanis participants in 2022. Health literacy was measured using the HLS-EU-Q16
questionnaire, and glycemic control was assessed based on HbA1c results. Bivariate
analysis was performed using the chi-square test, and multivariate analysis was conducted
using multiple logistic regression. Results: Most respondents have high health literacy
(93.6%) but poor glycemic control (72.6%). Bivariate analysis shows no significant
relationship between health literacy and glycemic control (p = 1.000). Other variables such
as age, gender, education, and economic status also show no significant association in
multivariate analysis. Conclusion: There is no significant relationship between health
literacy and glycemic control among Prolanis diabetes mellitus patients in Banyumas
Regency.
4468348055K1B021056Estimasi Parameter Regresi Robust dengan Metode Least Trimmed Square dan Scale pada Simulasi Data R-GeneratedMetode ordinary least square (OLS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengestimasi parameter dalam analisis regresi linier. Namun, kemunculan outlier dapat menyebabkan pelanggaran dalam asumsi klasik sehungga menghasilkan model yang tidak akurat. Oleh karena itu, diperlukan penanganan outlier yaitu membentuk model baru dengan regresi robust. Pada penelitian ini menggunakan dua metode estimasi parameter regresi robust, yaitu scale (S) dan last trimmed square (LTS). Model dievalusi berdasarkan tiga kriteria keputusan, diantaranya mean square error (MSE), mean absolute deviation (MAD), dan nilai koefisien determinasi (R^2). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penanganan model regresi linier berganda yang mengandung outlier menggunakan regresi robust estimasi S dan LTS dengan pembobot Tukey Bisquare serta mengetahui perbandingan dari kedua estimasi tersebut dengan data R-generated. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa estimasi S menghasilkan model yang paling direkomendasikan dengan nilai adjusted R^2 sebesar 86,6% dan MSE sebesar 450,2337.Ordinary least squares (OLS) method is one of the methods used to estimate parameters in linear regression analysis. However, the presence of outliers can cause violations of classical assumptions, resulting in an inaccurate model. Therefore, it is necessary to handle outliers by creating a new model with robust regression. In this study, two methods for estimating robust regression parameters were used, namely scale (S) and least trimmed squares (LTS). The model is evaluated based on three decision criteria, including mean square error (MSE), mean absolute deviation (MAD), and the coefficient of determination (R^2) value. The purpose of this research is to understand the handling of multiple linear regression models containing outliers using robust regression with S and LTS estimators with Tukey Bisquare weights and to compare the two estimators with R-generated data. Based on the research results, it was found that the S estimation produced the most recommended model with an adjusted R^2 value of 86,6% and MSE of 450,2337.
4468448056K1B021020Pendekatan Regresi Robust Estimasi M dengan Fungsi Pembobot Bisquare Tukey dan Welsch pada Pemodelan Data IPM Jawa TengahRegresi linier berganda yaitu metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat. Namun, metode ini menjadi kurang optimal ketika data mengandung pencilan. Salah satu metode pendekatan dalam menyelesaikan masalah tersebut adalah regresi robust estimasi M, yang menerapkan fungsi pembobot untuk meminimalkan pengaruh pencilan terhadap model. Studi ini membandingkan dua fungsi pembobot, yaitu Bisquare Tukey dan Welsch. Pemilihan model terbaik didasarkan pada perbandingan nilai adjusted R-Squared dan mean squared error dari masing-masing model. Hasilnya menunjukkan bahwa model yang direkomendasikan adalah model dengan fungsi pembobot Welsch yang memiliki nilai adjusted R-Squared sebesar 0,9949984 dan nilai MSE sebesar 0,09477644.Multiple linear regression as a method used to determine the influence of two or more independent variables on a dependent variable. However, this method becomes less optimal when the data contains outliers. One of the approaches method in solving this problem is robust regression with M estimation, which applies a weighting function to minimize the influence of outliers on the model. This study compares two weighting functions, namely Bisquare Tukey and Welsch. The selection of the best model is based on the comparison of the adjusted R-Squared values and the mean squared error of each model. The results show that the recommended model is the model with the Welsch weighting function has an adjusted R-Squared value of 0.9949984 and an MSE value of 0.09477644.
4468548057E1A021098Implementasi Hukum Pengelolaan Limbah Medis Sebagai Pemenuhan Hak Lingkungan Yang Baik Dan Sehat (Studi di Rumah Sakit Islam Wonosobo)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang implementasi hukum pengelolaan limbah medis sebagai pemenuhan hak lingkungan yang baik dan sehat di Rumah Sakit Islam Wonosobo serta pengaruh faktor kedisiplinan, fasilitas, dan kerjasama implementasi hukum pengelolaan limbah medis sebagai pemenuhan hak lingkungan yang baik dan sehat di Rumah Sakit Islam Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis empiris dengan pendekatan kuantitatif dan spesifikasi penelitian deskriptif. Pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Jenis dan sumber data meliputi data primer dan sekunder yang diperoleh dengan metode angket dan kepustakaan. Metode pengolahan data menggunakan teknik coding, editing, dan tabulasi kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan tabel data. Analisis data dengan analisis distribusi frekuensi, analisis tabel silang, analisis isi, dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi hukum pengelolaan limbah medis sebagai pemenuhan hak lingkungan yang baik dan sehat di Rumah Sakit Islam Wonosobo adalah efektif. Hal ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut: kurang efektifnya tahap pemilahan limbah medis; efektifnya tahap pelabelan limbah medis; efektifnya tahap pegumpulan limbah medis; efektifnya tahap penyimpanan limbah medis; dan kurang efektifnya tahap pengangkutan limbah medis. Faktor kerjasama sebagai faktor sosial berpengaruh secara positif, artinya semakin baik faktor kerjasama maka semakin efektif pula implementasi hukum pengelolaan limbah medis sebagai pemenuhan hak lingkungan yang baik dan sehat di Rumah Sakit Islam Wonosobo. Faktor kedisiplinan sebagai faktor personal kurang berpengaruh karena kurang tegasnya sanksi pada pelanggar, dan faktor fasilitas sebagai faktor sosial tidak berpengaruh karena terbatasnya alat pengangkut limbah.This study aims to examine the implementation of medical waste management law as a fulfillment of the right to a good and healthy environment at Wonosobo Islamic Hospital, as well as to analyze the influence of discipline, facilities, and cooperation factors on the implementation of medical waste management law in fulfilling environmental rights at the hospital. This research employs an empirical juridical method with a quantitative approach and a descriptive research specification. The sampling technique used is simple random sampling. The types and sources of data include primary and secondary data obtained through questionnaires and literature study. Data processing methods involve coding, editing, and tabulation techniques, and are presented in narrative text and data tables. Data analysis was conducted using frequency distribution analysis, cross-tabulation analysis, content analysis, and comparative analysis. The results show that the implementation of medical waste management law as a fulfillment of the right to a good and healthy environment at Wonosobo Islamic Hospital is effective. This is measured through the following indicators: the medical waste segregation stage is less effective; the labeling stage is effective; the collection stage is effective; the storage stage is effective; and the transportation stage is less effective. The cooperation factor as a social factor has a positive influence, meaning that the better the cooperation, the more effective the implementation of the medical waste management law. The discipline factor as a personal factor has little influence due to the lack of strict sanctions against violators, while the facilities factor as a social factor has no significant influence due to the limited availability of waste transportation equipment.
4468648058I1A018010GAMBARAN POLA ASUH ORANG TUA DAN PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DI KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang: Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang meliputi perkembangan fisik, mental, emosional, dan terutama sosial. Pada masa ini, remaja menghadapi berbagai masalah dalam tugas perkembangan sosialnya, terutama kenakalan remaja. Pola asuh orang tua memainkan peran penting dalam mencegah perilaku menyimpang pada remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pola asuh orang tua dan perkembangan sosial remaja di Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas.

Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Informan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian melibatkan 12 informan (utama dan pendukung), yaitu remaja 15-18 tahun, orang tua, guru wali kelas, dan tetangga. Peneliti sebagai instrumen utama menggunakan pedoman wawancara mendalam terkait pola asuh dan sosial remaja. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman.

Hasil Penelitian: Pola asuh orang tua menunjukkan bahwa adanya pola asuh permisif dan demokratis. Pola asuh permisif menghasilkan remaja yang pendiam, tidak patuh, kurang mandiri, kurang bertanggung jawab, dan kemampuan sosial yang baik, seperti memiliki hubungan baik dengan teman, memiliki eksplorasi minat hobi yang terarah, memiliki gaya penampilan sendiri, serta sudah menetapkan tujuan di masa depan. Pola asuh demokratis menghasilkan remaja yang cerita, patuh, mandiri, bertanggung jawab, dan kemampuan sosial yang baik, seperti memiliki hubungan baik dengan teman, memiliki eksplorasi minat hobi yang terarah, memiliki gaya penampilan sendiri, serta sudah menetapkan tujuan di masa depan.

Kesimpulan: Pola asuh orang tua dan perkembangan sosial remaja menunjukkan bahwa adanya pola asuh permisif dan demokratis. Pola asuh demokratis menghasilkan perkembangan sosial remaja yang baik.
Background: Adolescence is a transitional period from childhood to adulthood which includes physical, mental, emotional, and especially social development. During this period, adolescents face various problems in their social development tasks, especially juvenile delinquency. Parenting plays an important role in preventing deviant behavior in adolescents. This study aims to determine the description of parenting patterns on adolescent social development in East Purwokerto District, Banyumas Regency.

Method: The research was conducted in a descriptive qualitative approach. Informants were determined using purposive sampling technique. The research involved 12 informants (main and supporting), namely adolescents 15-18 years old, parents, homeroom teachers, and neighbors. The researcher as the main instrument used in-depth interview guidelines related to parenting and social patterns of adolescents. Data analysis used the Miles and Huberman model.

Research Results: Parenting patterns shows that there are permissive and democratic parenting patterns. Permissive parenting produces adolescents who are quiet, disobedient, less independent, less responsible, and good social skills, such as having good relationships with friends, having directed exploration of hobbies, having their own appearance style, and having set goals in the future. Democratic parenting produces adolescents who are storytelling, obedient, independent, responsible, and good social skills, such as having good relationships with friends, having a directed exploration of hobby interests, having their own appearance style, and having set goals in the future.

Conclusions: Parenting patterns and adolescent social development shows that there are permissive and democratic parenting patterns. Democratic parenting patterns which result in good adolescent social development.
4468748059D1A021162Analisis Ekonomi Usaha Kemitraan Ayam Broiler Dengan Sistem Kandang Closed House di Kecamatan Kutasari Kabupaten PurbalinggaTingginya permintaan daging ayam broiler dari masyarakat menjadikan usaha peternakan ayam broiler memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya dibidang peternakan menjadikan kemudahan dalam aktivitas produksi ternak dan terciptanya efisiensi yang tinggi menjadikan usaha peternakan ini cukup menjanjikan dari segi ekonomi. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan analisis ekonomi pada sebuah usaha kemitraan peternakan ayam broiler dengan menggunakan kandang closed house. Pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan selama 1 periode pemeliharaan di peternakan ayam broiler di Kecamatan Kutasari. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara kepada pemilik usaha peternakan tersebut. Hasil analisis ekonomi usaha kemitraan ayam broiler dengan populasi 48.500 ekor menunjukkan hasil keuntungan yang didapatkan dalam satu periode pemeliharaan ayam broiler adalah Rp 168.057.255, dengan nilai efisiensi usaha sebesar 1,083, nilai BEP harga dan BEP produk sebesar Rp 18.733 dan 100.114,93 Kg, nilai rentabilitas sebesar 3,91%, serta nilai payback period adalah 4 tahun. Berdasarkan hasil analisis ekonomi dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut menghasilkan keuntungan dan layak untuk dijalankan.The high demand for broiler chicken meat from the civilization makes the broiler chicken farming business have great potential to be developed. The increasing development of science, especially in the field of animal husbandry, makes it easier to produce livestock and creates high efficiency, making this livestock business quite promising in terms of economy. The aimed article is to report an economic analysis of a broiler chicken farming partnership business using a closed house cage. Data collection was carried out by implementing an internship program for 1 raising period at broiler chicken farm in Kutasari district. The data collection method was carried out by observation and interviews with the owner of the livestock business. The results of the economic analysis of the broiler chicken partnership business with a population of 48,500 chickens show that the profit obtained in one period of broiler chicken raising is IDR 168,057,255, with a business efficiency value of 1.083, a BEP price and BEP product value of IDR 18,733 and 100,114.93 Kg, a profitability value of 3.91%, and a payback period value of 4 years. It can be concluded the business is profitable and feasible to run.
4468848060I1D020077HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DAN FOOD CRAVING DENGAN RISIKO GANGGUAN MAKAN PADA REMAJA PUTRI SMA IT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH PURWOKERTODi Indonesia prevelensi gangguan makan pada remaja putri mencapai 52,7%. Risiko gangguan makan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat stres dan food craving. Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami stres dan gangguan makan akibat tekanan psikologis, beban akademik, serta tuntutan lingkungan. SMA IT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto menerapkan sistem full day school dengan durasi pembelajaran yang panjang dan aktivitas yang padat, sehingga berpotensi menimbulkan stres dan memengaruhi pola makan siswi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan food craving dengan risiko gangguan makan pada remaja putri. Desain penelitian ini adalah cross sectional terhadap 76 siswi yang berusia 15-17 tahun dengan pengambilan data melalui teknik propotional sampling. Penelitian ini menggunakan kuisioner Eating Attitude Test (EAT-26) untuk risiko gangguan makan, Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk tingkat stress, dan Food Craving Questionnaire Trait Reduced Trait (FCQ-Tr) untuk food craving. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian adalah sebanyak 53,9% mengalami stres dengan kategori sedang. Sebanyak 46,1% mengalami food craving dalam kategori sedang. Sebanyak 61,8% remaja tidak mengalami gangguan makan. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan risiko gangguan makan (p=0,000) Terdapat hubungan yang signifikan antara food craving dengan risiko gangguan makan (p=0,000). Terdapat hubungan antara tingkat stres dan food craving dengan risiko gangguan makan. In Indonesia, the prevalence of eating disorders among adolescent girls reaches 52.7%.The risk of eating disorders can be influenced by several factors such as stress levels and food cravings.Adolescent girls are a group vulnerable to experiencing stress and eating disorders due to psychological pressure, academic burdens, and environmental demands.SMA IT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto implements a full day school system with long learning durations and dense activities, which has the potential to cause stress and affect the eating patterns of female students.Based on this, this study aims to determine the relationship between stress levels and food craving with the risk of eating disorders in adolescent girls. This study employed a cross-sectional design involving 76 female students aged 15–17 years, selected data through proportional sampling. The instruments used were the Eating Attitude Test (EAT-26) to assess the risk of eating disorders, the Perceived Stress Scalinstrue (PSS-10) to measure stress levels, and the Food Craving Questionnaire Trait Reduced (FCQ-Tr) to evaluate food craving. Data were analyzed using the Chi-Square test. A total of 53.9% of respondents experienced moderate levels of stress, while 46.1% reported moderate levels of food craving. Additionally, 61.8% of adolescents were not identified as experiencing eating disorders. A significant relationship was found between stress levels and the risk of eating disorders (p = 0.000). Similarly, a significant relationship was observed between food craving and the risk of eating disorders (p = 0.000). There is a significant relationship between stress levels and food craving with the risk of eating disorders among adolescent girls.
4468948061C1B021016PENGARUH JOB SATISFACTION, JOB EMBEDDEDNESS, DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI (STUDI PADA PEGAWAI DITJEN PERBENDAHARAAN PROVINSI JAWA TENGAH)Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan aset penting dalam suatu organisasi. Keberhasilan keberlangsungan suatu organisasi sangat bergantung pada kualitas, kemampuan, dan komitmen pegawai. Komitmen merupakan salah satu faktor kunci yang dapat menentukan keberhasilan dan kinerja suatu organisasi. Di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah, komitmen pegawai sangat penting untuk menjamin pengelolaan keuangan negara yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komitmen pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah. Alat bantu pengelolaan data dalam penelitian ini menggunakan SmartPLS (Partial Least Square). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh terhadap komitmen organisasi pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah, job embeddedness memiliki pengaruh terhadap komitmen organisasi pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah, dan budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap komitmen organisasi pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Jawa Tengah.Human Resources (HR) are important assets in an organization. The success of an organization's sustainability is highly dependent on the quality, ability, and commitment of its employees. Commitment is one of the key factors that can determine the success and performance of an organization. In the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office, employee commitment is very important to ensure effective and efficient management of state finances. This study aims to determine the commitment of employees of the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office. Data collection was carried out by distributing questionnaires to employees of the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office. The data management tool in this study used SmartPLS (Partial Least Square). Based on the results of the study, it shows that job satisfaction has an influence on the organizational commitment of employees of the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office, job embeddedness has an influence on the organizational commitment of employees of the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office, and organizational culture does not affect the organizational commitment of employees of the Directorate General of Treasury, Central Java Regional Office.
4469048062F1A018075KAMPANYE ANTI KEKERASAN BERBASIS GENDER DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (ANALISIS SEMIOTIKA PADA AKUN INSTAGRAM @magdaleneid)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan oleh Magdalene melalui akun Instagram @magdaleneid dalam mengkampanyekan anti Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) serta untuk melihat respon pengguna Instagram terhadap konten kampanye tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Data yang digunakan berupa data visual dari postingan-postingan di akun Instagram @magdaleneid, termasuk poster, foto, dan video yang mengkampanyekan anti KBGO. Analisis dilakukan dengan mengkaji tiga unsur utama dalam semiotika Peirce, yaitu tanda (gambar, bentuk, warna, tulisan pada postingan), objek (makna dari tanda-tanda tersebut), dan penafsir (sikap dan pola pemikiran kreator). Hasil analisis menunjukkan bahwa Magdalene berhasil menggunakan elemen visual yang kuat dan narasi yang menggugah emosi untuk menarik perhatian audiens, serta mendorong partisipasi aktif dalam diskusi mengenai KBG. Respon pengguna Instagram terhadap konten kampanye menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi, menciptakan ruang aman bagi korban untuk berbagi pengalaman mereka. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai alat efektif dalam menyebarluaskan pesan-pesan sosial dan meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu gender.This research aims to find out and describe the efforts made by Magdalene through the Instagram account @magdaleneid in campaigning against online gender-based violence (OGBV) and to see the response of Instagram users to the campaign content. The research method used is descriptive qualitative with a Charles Sanders Peirce semiotic analysis approach. The data used is visual data from posts on the @magdaleneid Instagram account, including posters, photos, and videos campaigning against GBV. The analysis was carried out by examining the three main elements in Peirce's semiotics, namely signs (images, shapes, colors, writing on posts), objects (the meaning of these signs), and interpreters (attitudes and thought patterns of the creator). The results of the analysis show that Magdalene successfully used strong visual elements and emotionally evocative narratives to attract audience attention and encourage active participation in discussions about GBV. Instagram users' response to the campaign content showed high levels of engagement, creating a safe space for victims to share their experiences. The conclusion of this study confirms the importance of social media as an effective tool in disseminating social messages and raising public awareness on gender issues.
4469148063D1A021088PENGARUH SISTEM PEMELIHARAAN YANG BERBEDA TERHADAP KEJADIAN TREMATODIASIS PADA SAPI POTONG PERNAKAN ONGOLELatar Belakang. Sistem pemeliharaan menjadi faktor penting dalam usaha produksi sapi potong dikarenakan sistem pemeliharaan mempunyai pengaruh terhadap banyak faktor seperti kesehatan ternak, pertumbuhan, dan kualitas daging itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis trematoda yang menginfeksi sapi PO, serta melihat pengaruh sistem pemeliharaan yang berbeda terhadap trematodiasis sapi PO pada dua sistem pemeliharaan yang berbeda. Sistem pemeliharaan intensif diambil di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, dan sistem pemeliharaan semi intensif di Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Materi dan metode. Materi yang digunakan pada penelitian yaitu 70 sampel feses sapi PO dari sistem pemeliharaan intensif dan 96 sampel dari sistem pemeliharaan semi intensif, setiap sampel diambil 3 gram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei melalui pengambilan feses sapi potong dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara non-invasive sampling dan wawancara terhadap responden. Hasil identifikasi menunjukkan tingkat prevalensi pada sistem pemeliharaan intensif sebesar 65.71% dengan infeksi Fasciola sp. dan Paramphistomum sp., sedangkan pada sistem pemeliharaan semi intensif tingkat prevalensinya sebesar 8.33% dengan infeksi yaitu Fasciola sp. Hasil analisis Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sistem pemeliharaan dengan kejadian trematodiasis pada sapi PO. Hasil Odds Rasio 0,47 yang diartikan bahwa sistem pemeliharaan semi intensif memiliki resiko lebih kecil terinfeksi trematodiasis dibandingkan dengan sistem pemeliharaan intensif. Simpulan dari hasil penelitian ini yaitu sistem pemeliharaan intensif dan semi intensif berpengaruh terhadap trematodiasis pada Sapi PO, sistem pemeliharan semi intensif memiliki resiko lebih kecil terinfeksi trematodiasis dibandingkan sistem pemeliharaan intensif. Hasil identifikasi telur trematoda ditemukan Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. pada sistem pemeliharaan intensif, sedangkan pada sistem pemeliharaan semi intensif ditemukan Fasciola sp.Background The management system is an important factor in beef cattle production, as it influences various aspects such as animal health, growth, and meat quality. This study aims to determine the prevalence and types of trematodes infecting Ongole crossbred (PO) cattle, as well as to observe the effect of different management systems on the occurrence of trematodiasis in PO cattle under two different systems. The intensive management system was observed in Sumbang Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency, while the semi-intensive management system was studied in Sumberwaru Village, Banyuputih Subdistrict, Situbondo Regency. Materials and Methods The materials used in this study consisted of 70 fecal samples from PO cattle raised under an intensive management system and 96 samples from cattle raised under a semi-intensive system, with each sample weighing 3 grams. The method used was a survey approach by collecting fecal samples from beef cattle using a non-invasive sampling technique, as well as conducting interviews with respondents. Results The identification results showed a prevalence rate of 65.71% in the intensive management system with infections caused by Fasciola sp. and Paramphistomum sp., while in the semi-intensive system, the prevalence rate was 8.33%, with infections caused solely by Fasciola sp. The Chi-square analysis indicated a significant relationship between the management system and the occurrence of trematodiasis in PO cattle. The Odds Ratio result was 0.47, indicating that the semi-intensive management system posed a lower risk of trematodiasis infection compared to the intensive system. Conclusion The study concludes that intensive and semi-intensive management systems have an impact on the occurrence of trematodiasis in PO cattle. The semi-intensive system presents a lower risk of trematodiasis infection compared to the intensive system. The identification of trematode eggs revealed the presence of Fasciola sp. and Paramphistomum sp. in the intensive system, whereas only Fasciola sp. was found in the semi-intensive system.
4469248064I1A021029Analisis Autokorelasi Spasial Kejadian Diabetes Melitus di Kabupaten Banyumas Tahun 2024Latar Belakang: Kasus DM (Diabetes Melitus) di Kabupaten Banyumas pada tahun 2024 mencapai 21.580 kasus dan mengalami peningkatan di beberapa kecamatan dibandingkan tahun 2023. Tingginya angka kejadian DM memerlukan analisis autokorelasi spasial untuk mengetahui hubungan antara faktor agen, lingkungan, dan fasilitas kesehatan dengan kejadian DM berdasarkan wilayah yang diamati sehingga dapat membantu dalam menentukan kebijakan dan intervensi pencegahan DM bagi pemangku kepentingan terkait.
Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan pendekatan studi ekologi. Sampel penelitian menggunakan total populasi dari 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan penyajian peta kuantil tematik dan analisis statistik inferensial dengan analisis bivariat Global Moran's dan LISA menggunakan aplikasi GeoDa.
berdasarkan variabel merokok.
Hasil: Hasil analisis spasial Global Moran's menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai variabel obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, pendidikan rendah, dan ekonomi lemah, maka semakin tinggi pula angka kejadian DM di Kabupaten Banyumas. Kemudian, hasil analisis LISA menunjukkan bahwa di Kecamatan Pekuncen dan Kecamatan Purwojati terbentuk hotspot pada variabel merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, ekonomi lemah, pendidikan rendah, usia ≥40 tahun, dan daerah perkotaan.
Kesimpulan: Hotspot DM terbentuk di Kecamatan Pekuncen berdasarkan variabel merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, ekonomi lemah, usia ≥40 tahun, dan wilayah perkotaan. Selain itu, hotspot DM juga terbentuk di Kecamatan Purwojati berdasarkan variabel merokok.
Background: DM (Diabetes Mellitus) cases in Banyumas Regency in 2024 reached 21,580 cases and increased in several sub-districts compared to 2023. The high rate of DM requires spatial autocorrelation analysis to determine the relationship between agent, environment, and health facility factors with DM incidence based on the observed area so that it can assist in determining DM prevention policies and interventions for relevant stakeholders.
Methods: This study used observational research with an ecological study approach. The research sample used the total population of 27 sub-districts in Banyumas Regency. The data analysis used was descriptive statistical analysis with the presentation of thematic quantile maps and inferential statistical analysis with bivariate analysis of Global Moran's and LISA using the GeoDa.
Results: The results of the Global Moran's spatial analysis showed that the higher the value of the variables obesity, lack of physical activity, unbalanced diet, low education, and weak economy, the higher the incidence of DM in Banyumas Regency. Then, the results of the LISA analysis show that in Pekuncen Subdistrict and Purwojati Subdistrict, hotspots are formed on the variables of smoking, lack of physical activity, unbalanced diet, weak economy, low education, age ≥40 years, and urban areas.
Conclusion: DM hotspots were formed in Pekuncen Sub-district based on the variables of smoking, physical inactivity, unbalanced diet, economic deprivation, age ≥40 years, and urban area. In addition, DM hotspots were also formed in Purwojati Sub-district based on smoking variables.
4469348065G1A021094PENGARUH KOMBINASI JUS BUAH MENGKUDU DAN MADU TERHADAP
KADAR TRIGLISERIDA PADA TIKUS MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan
komplikasi hipertrigliseridemia. Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan madu menjadi
alternatif terapi pada pasien DMT2 dengan hipertrigliseridemia.
Tujuan: mengetahui pengaruh kombinasi jus buah mengkudu dan madu terhadap kadar
trigliserida pada tikus model diabetes melitus tipe 2.
Metode: Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan desain post test only with
control group. Sampel berjumlah 35 ekor tikus yang dibagi 7 kelompok: KS (kontrol sehat),
KD (kontrol diabetes), P1 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan 0,72 mL/200g jus buah
mengkudu), P2 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan 0,2 mL/200g madu), P3 (diinduksi
DMT2 kemudian diberikan kombinasi 0,36 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g
madu), P4 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan kombinasi 0,72 mL/200g jus buah
mengkudu dan 0,2 mL/200g madu), P5 (diinduksi DMT2 kemudian diberikan kombinasi
1,44 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu). Kadar trigliserida diukur
menggunakan metode GPO.
Hasil: Rerata kadar trigliserida darah terbesar secara berurutan adalah kelompok P5, P4, P1, P3, dan P2. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada seluruh kelompok. Hasil uji Post Hoc Tukey’s HSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar semua kelompok.
Kesimpulan: Semakin tinggi dosis mengkudu pada kombinasi jus buah mengkudu dan
madu, semakin tinggi pula menurunkan kadar trigliserida darah pada tikus yang diinduksi
DMT2, yang mana dosis paling tinggi menurunkan adalah kombinasi 1,44 mL/200g jus buah mengkudu dan 0,2 mL/200g madu.
Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a global health issue with complications such as hypertriglyceridemia. Noni (Morinda citrifolia L.) and honey are considered therapeutic options for patients with T2DM and hypertriglyceridemia.
Objective: To investigate the effect of the combination of noni fruit juice and honey on
triglyceride levels in a type 2 diabetes mellitus rat model.
Methods: This experimental laboratory study used a post-test only with control group design. A total of 35 rats were divided into 7 groups: KS (healthy control), KD (diabetic control), P1 (induced with T2DM and then given 0.72 mL/200g noni fruit juice), P2 (induced with T2DM and then given 0.2 mL/200g honey), P3 (induced with T2DM and then given a combination of 0.36 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey), P4 (induced with T2DM and then given a combination of 0.72 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey), P5 (induced with T2DM and then given a combination of 1.44 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey). Triglyceride levels were measured using the GPO
method.
Results: The greatest average reduction in blood triglyceride levels, in order, was observed in the P5, P4, P1, P3, and P2 groups. One Way ANOVA results showed significant differences across all groups. Post Hoc Tukey’s HSD test indicated significant differences between all groups.
Conclusion: The higher the dose of noni in the combination of noni fruit juice and honey, the greater the reduction in blood triglyceride levels in rats induced with T2DM, with the highest dose combination of 1.44 mL/200g noni fruit juice and 0.2 mL/200g honey showing the greatest reduction.
4469448066H1A021037PERANCANGAN SISTEM MONITORING DAN KONTROL SOLAR TRACKER PADA PLTS SKALA KECIL DENGAN SISTEM SWITCHING BERBASIS INTERNET OF THINGSPenggunaan solar tracker yang memungkinkan panel surya mengikuti pergerakan matahari untuk menangkap radiasi dan menghasilkan energi listrik merupakan salah satu implementasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Untuk mendukung keberlanjutan sistem ini, diperlukan monitoring jarak jauh secara real-time guna memastikan bahwa panel surya selalu beroperasi secara optimal dan efisien, memberikan informasi kepada pengguna mengenai waktu yang tepat untuk melakukan perawatan, serta memberikan informasi kepada pengguna mengenai kinerja panel surya. Penelitian ini bertujuan merancang sistem monitoring kinerja solar tracker melalui Node-RED dengan penambahan fitur kontrol switching secara real-time untuk mengatur penggunaan daya melalui panel surya atau PLN sesuai kebutuhan, dan dilengkapi dengan fitur notifikasi melalui Telegram, yang memberikan peringatan kepada pengguna jika terjadi gangguan tegangan kecil atau hilang, sehingga pengguna dapat segera mengambil tindakan. Hasil dari penelitian ini adalah sistem yang dikembangkan berhasil menampilkan data sensor secara akurat, fungsi kontrol manual responsif, dan notifikasi yang dikirim melalui Telegram efektif dalam memberikan informasi kepada pengguna.Utilization of solar trackers, which enable solar panels to follow the movement of the sun to capture radiation and generate electricity, is one implementation of technology to increase energy efficiency in Solar Power Plant (PLTS) systems. To support the sustainability of this system, real-time remote monitoring is necessary to ensure that the solar panels are always operating optimally and efficiently, providing users with information on the right time for maintenance, and giving information about the performance of the solar panels. This research aims to design a performance monitoring system for solar trackers using Node-RED, with the addition of real-time remote switching control features to manage power usage through solar panels or the national grid (PLN) as needed. It also includes notification features via Telegram, which provide warnings to users if minor voltage disturbances or outages occur, so that users can take immediate action. The result of this research is the developed system successfully displays sensor data accurately, manual control functions are responsive, and notifications sent via Telegram are effective in providing information to user.
4469548067I1C021010Analisis Fingerprint Minyak Atsiri Spesies Cymbopogon Menggunakan Kombinasi Metode Spektrofotometri UV-Vis dengan KemometrikLatar belakang: Minyak atsiri dari spesies Cymbopogon memiliki berbagai manfaat yang sering digunakan di masyarakat, terutama di bidang kosmetik, farmasi, insektisida, dan aromatik. Kandungan kimia utama seperti citronellal, citronellol, citral, dan geraniol menentukan manfaat yang akan diberikan pada setiap spesies minyak atsiri. Oleh karena itu, kombinasi metode analisis fingerprint spektrofotometri UV-Vis dan kemometrik diperlukan untuk membedakan kandungan kimia dari setiap spesies minyak sehingga dapat memastikan keaslian bahan baku minyak atsiri murni.
Metodologi: Minyak atsiri diukur serapannya pada panjang gelombang 200-800 nm dengan interval 0,5 nm dalam pelarut n-heksana. Data spektrum UV-Vis dianalisis menggunakan PCA untuk mengklasifikasikan spesies berdasarkan kemiripan profil spektrum.
Hasil: Kombinasi metode fingeprinting spektrofotometri UV-Vis dengan kemometrik dapat digunakan dalam identifikasi lima spesies Cymbopogon, terutama senyawa citral dan geraniol dengan mencakup >70% variasi data yang terdeteksi pada rentang panjang gelombang 215-260 nm.
Kesimpulan: Metode fingerprint spektrofotometri UV-Vis yang dikombinasikan dengan kemometrik dapat digunakan untuk membedakan lima spesies minyak atsiri Cymbopogon.
Kata kunci: Minyak atsiri, Cymbopogon, spektrofotometri UV-Vis, kemometrik.
Background: Essential oils of Cymbopogon species have various benefits that are often used in the community, especially in the fields of cosmetics, pharmaceuticals, insecticides, and aromatics. The main chemical contents such as citronellal, citronellol, citral, and geraniol determine the benefits that will be given to each essential oil species. Therefore, a combination of UV-Vis spectrophotometric and chemometric fingerprint analysis methods is needed to distinguish the chemical content of each oil species so as to ensure the authenticity of pure essential oil raw materials.

Methodology: Essential oils were measured for absorption at wavelengths of 200-800 nm at 0.5 nm intervals in n-hexane solvent. UV-Vis spectra data were analyzed using PCA to classify species based on similarity of spectra profiles.

Results: The combination of UV-Vis spectrophotometric fingeprinting method with chemometrics can be used in the identification of five Cymbopogon species, especially citral and geraniol compounds by covering >70% of the variation of data detected in the wavelength range of 215-260 nm.

Conclusion: UV-Vis spectrophotometric fingerprint method combined with chemometrics can be used to distinguish the five species of Cymbopogon essential oil.

Keywords: Essential oil, Cymbopogon, UV-Vis spectrophotometry, chemometrics.

4469648068I1D021039MI BASAH TAPIOKA, TKKPP, DAN LELE: ALTERNATIF
SUMBER PROTEIN LOKAL UNTUK PENCEGAHAN
STUNTING
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dengan ciri fisik tubuh pendek dari seusianya pada bayi berusia dibawah 2 tahun karena asupan protein yang inadekuat. Mi basah dari tapioka, tepung kecambah koro pedang putih (TKKPP) dan ikan lele dapat digunakan sebagai alternatif pangan lokal sumber protein untuk pencegahan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik mi basah yang dibuat dari tapioka, TKKPP, dan ikan lele berdasarkan
kadar protein total, lemak total, dan mutu sensori (warna, aroma, tekstur, dan rasa). Rancangan Acak Kelompok (RAK) Eksperimental Non-Faktorial. Faktor perlakuan yaitu proporsi tapioka, TKKPP, dan lele yang terdiri dari 6 formula meliputi P1 (50:40:10); P2 (50:30:20); P3 (50:20:30); P4 (50:10:40); P5 (50:0:50); dan P6 (50:50:0) dengan 4 kali pengulangan. Analisis statistik kadar protein total dan lemak total menggunakan ANOVA dan DMRT (beda signifikan jika
α<0.05), sedangkan uji mutu sensori menggunakan Friedman. Proporsi tapioka : TKKPP : lele berpengaruh (p = 0,000) terhadap protein total, warna, tekstur,
aroma, dan rasa, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap lemak total mi basah (p=0,657). P1 (50:40:10) merupakan formula terbaik berdasarkan indeks efektivitas. P1 mengandung protein sebesar 24,45 %bk, lemak 0,57 %bk; kadar air 68,46 %bb; kadar abu 3,14 %bk; dan karbohidrat by difference 71,81 %bk. Formula tersebut memiliki skor warna 3,3 (cukup putih kekuningan); aroma 2,4 (beraroma beany dan amis); tekstur 1,98 (kurang kenyal); dan rasa 3,46 (cukup terasa kecambah dan lele). Satu sajian mi basah yaitu 40 g.
Stunting is a short body stature caused by protein intake deficiency in infants under two. Tapioca, jack bean sprout flour (JBSF), and catfish based wet noodles can be used as an alternative local protein sources to stunting prevention. Determine the best formula of wet noodles made from tapioca, JBSF, and catfish based on the optimum total protein content, total fat content, and sensory
quality (color, aroma, texture, and taste). Non-Factorial Randomized Block Design (RBD) with the treatment factor (P) is the proportion of tapioca: JBSF: catfish, consist of 6: P1 (50:40:10); P2 (50:30:20); P3 (50:20:30); P4 (50:10:30); P5 (50:0:50); and P6 (50:50:0) with 4 repetitions. Total protein and total fat content analyzed with ANOVA and DMRT(significantly different if α<0.05), sensory quality tested with Friedman. P1 (50:40:10) is the best formula has 24.45% db of protein content, 0.57% db of fat content, 68.46% wb of water content, 3.14% db of ash content, and 71.81% db of carbohydrate by difference. Texture score is 1.98 (less chewy), color score is 3.3 (quite yellowish white), aroma is 2.4 (beany and fishy), and taste score is 3.46 (simply tastes of sprouts and catfish). Provides 156.12 kcal of energy, fulfilling 11.56% of the Recommended Dietary Allowance (RDA) for infants aged 1-3 years; contains 9.79 of protein (48.96%), 0.23 g of fat (0.51%), and 28.74 g of carbohydrate (13.29%) per 40 g.
4469748069H1A021096RANCANG BANGUN SOLAR TRACKER PADA PLTS SKALA KECIL SEBAGAI OPTIMASI DAYA BERBASIS ARDUINO DENGAN SISTEM SWITCHINGPembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan salah satu solusi energi alternatif yang ramah lingkungan dengan potensi besar untuk dikembangkan. Namun, efisiensi panel surya sering terhambat oleh variasi intensitas cahaya matahari dan sudut kemiringan panel terhadap matahari, yang menyebabkan daya keluaran tidak maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan daya keluaran panel surya dengan menerapkan teknologi solar tracker berbasis mikrokontroler arduino dan sistem switching. Solar tracker menggunakan sensor cahaya untuk mendeteksi posisi matahari dan menggerakkan panel agar selalu menghadap matahari sepanjang hari. Selain itu, sistem switching dirancang untuk memungkinkan untuk pemindahan sumber daya dari PLN atau panel surya sesuai dengan kondisi. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi energi PLTS sekaligus memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan sumber daya listrik.Solar Power Plants (PLTS) are an environmentally friendly alternative energy solution with significant potential for development. However, the efficiency of solar panels is often hindered by variations in sunlight intensity and the angle of inclination of the panels toward the sun, resulting in suboptimal power output. This study aims to enhance the power output of solar panels by implementing a solar tracker technology based on Arduino microcontrollers and a switching system. The solar tracker utilizes light sensors to detect the sun's position and adjusts the panels to continuously face the sun throughout the day. Additionally, the switching system is designed to enable the transfer of power sources between the utility grid (PLN) and solar panels according to prevailing conditions. This technology is expected to improve the energy efficiency of PLTS while providing flexibility in managing power resources.
4469848070C1A021047PENGARUH STABILITAS FINANSIAL, LITERASI KEUANGAN DAN FEAR OF MISSING OUT (FOMO) TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI PASAR MODAL DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNSOEDPenelitian ini berjudul “Pengaruh Stabilitas Finansial, Literasi Keuangan,
dan FoMO terhadap Keputusan Investasi Mahasiswa FEB Unsoed.” Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis bagaimana ketiga variabel tersebut memengaruhi
keputusan investasi mahasiswa. Dengan menggunakan metode regresi linier
berganda, data dikumpulkan dari 135 responden yang merupakan mahasiswa FEB
Unsoed yang berinvestasi di pasar modal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas finansial tidak berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi, yang mengindikasikan bahwa mahasiswa
tetap berinvestasi meskipun kondisi keuangan belum stabil. Sebaliknya, literasi
keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan, menunjukkan bahwa
pemahaman keuangan yang lebih baik meningkatkan kecenderungan mahasiswa
untuk berinvestasi dengan lebih terencana. FoMO juga berpengaruh positif dan
signifikan, yang berarti mahasiswa terdorong berinvestasi karena faktor psikologis
dan tren pasar. Secara bersama - sama, ketiga variabel ini berpengaruh terhadap
keputusan investasi dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 56,9%.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa keputusan
investasi mahasiswa lebih dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan dan faktor
psikologis dibandingkan stabilitas finansial. Oleh karena itu, diperlukan
peningkatan edukasi keuangan agar mahasiswa dapat membuat keputusan investasi
yang lebih rasional dan terhindar dari investasi yang didorong oleh tren sesaat.
This study is titled "The Influence of Financial Stability, Financial Literacy,
and FoMO on Investment Decisions of FEB Unsoed Students." It aims to analyze
how these three variables affect students' investment decisions. Using multiple
linear regression methods, data were collected from 135 respondents who are FEB
Unsoed students investing in the capital market.
The results show that financial stability does not significantly affect
investment decisions, indicating that students continue to invest despite their
financial conditions being unstable. On the other hand, financial literacy has a
positive and significant effect, suggesting that better financial understanding
increases students' tendency to invest more strategically. FoMO also has a positive
and significant effect, meaning students are driven to invest due to psychological
factors and market trends. Bersama - samaeously, these three variables influence
investment decisions, with a coefficient of determination (R²) of 56.9%.
Based on these findings, it can be concluded that students' investment
decisions are more influenced by financial literacy and psychological factors than
financial stability. Therefore, enhancing financial education is necessary to help
students make more rational investment decisions and avoid investments driven
solely by temporary trends.
4469949073K1A020057OPTIMASI PENJERNIHAN MINYAK JELANTAH DENGAN PARTIKEL
DAUN KELOR SEBAGAI ADSORBEN
Daun kelor telah digunakan sebagai adsorben karena mengandung senyawa aktif
seperti flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol, yang berperan dalam mengikat senyawa polar,
radikal bebas, serta kotoran melalui mekanisme adsorpsi. Struktur serat dan luas permukaan
partikel daun kelor yang tinggi mampu meningkatkan efisiensi adsorpsi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui potensi partikel daun kelor (Moringa oleifera Lamk) sebagai
adsorben alami dalam proses penjernihan minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak
goreng yang telah digunakan berulang kali dan mengalami kerusakan selama proses
penggorengan. Metode adsorpsi digunakan dengan memvariasikan ukuran partikel (60-120
mesh), suhu (70-100 °C), dan waktu kontak (30-120 menit) untuk mengoptimalkan proses
adsorpsi. Hasil menunjukkan bahwa partikel daun kelor optimum sebagai adsorben adalah
berukuran 120 mesh, pada suhu 90 °C, dan waktu kontak 90 menit dengan karakteristik kadar
air sebesar 0,0151%, bilangan asam sebesar 0,5049 mg KOH/g, angka iod sebesar 38,43 g
I₂/100g, dan bilangan ester sebesar 87,84 mg KOH/g. Penggunaan daun kelor sebagai
adsorben mampu meningkatkan kualitas minyak jelantah dan meningkatkan nilai ekonomis
tanaman kelor.
Moringa leaves have been used as adsorbents because they contain active
compounds such as flavonoids, saponins, tannins, and polyphenols, which play a role
in binding polar compounds, free radicals, and dirt through adsorption mechanisms.
The fiber structure and high surface area of moringa leaf particles can increase
adsorption efficiency. This study aims to determine the potential of moringa leaf
particles (Moringa oleifera Lamk) as a natural adsorbent in the process of clarifying
used cooking oil. Used cooking oil is cooking oil that has been used repeatedly and is
damaged during the frying process. The adsorption method is used by varying the
particle size (60-120 mesh), temperature (70-100 °C), and contact time (30-120
minutes) to optimize the adsorption process. The results showed that the optimum
moringa leaf particles as an adsorbent were 120 mesh in size at a temperature of
90 °C and a contact time of 90 minutes with characteristics of water content of
0.0151%, acid number of 0.5049 mg KOH/g, iodine number of 38.43 g I₂/100g, and
ester number of 87.84 mg KOH/g. The use of moringa leaves as an adsorbent can
improve the quality of used cooking oil and increase the economic value of moringa
plants.
4470048071I1E021012 KAJIAN PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BEST TIME ATLET RENANG DI AQUATIC SWIMMING CLUB PURBALINGGAKAJIAN PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI
BEST TIME ATLET RENANG DI AQUATIC SWIMMING CLUB
PURBALINGGA

Asyarafi Pangestu1
, Kusnandar2
, Jajang Dede Mulyani3

Latar Belakang: Keterlibatan orang tua pada pertumbuhan dan proses tumbuh kembang anak tidak
dapat diabaikan saat menyokong prestasi buah hati. Dukungan orang tua terhadap prestasi anak tidak
hanya terbatas pada aspek psikologis, tetapi juga mencakup perhatian, pemberian gizi yang tepat,
penyediaan fasilitas lengkap dan sesuai kebutuhan, serta penciptaan kondisi yang menunjang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran orang tua dalam meningkatkan prestasi best time atlet
renang di Aquatic Swimming Club Purbalingga, dengan harapan dapat memberikan wawasan
mengenai pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung perkembangan anak.

Metodologi: Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif untuk
mengetahui bagimana peran orang tua dalam meningkatkan prestasi best time atlet renang di Aquatic
Swimming Club Purbalingga. Sampel penelitian ini yaitu orang tua atlet prestasi sebanyak 30 orang
yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan kuisioner melalui google form. Penilaian indikator dilakukan menggunakan skala
likert dengan rentang skor 1 hingga 4.

Hasil Penelitian: Analisis deskriptif menunjukkan bahwa peran orang tua dalam meningkatkan
prestasi best time atlet renang di Aquatic Swimming Club Purbalingga masuk ke dalam kategori
sangat baik dengan rata-rata skor sebesar 115. Sebanyak 20 (66,67%) orang tua memberikan
dukungan dengan kategori sangat baik, dan sisanya sebanyak 10 (33,33%) orang tua memberikan
dukungan dengan kategori baik. Dukungan orang tua dalam berbagai faktor juga dikaji, di mana
sebanyak 17 orang tua (56,67%) memberikan perhatian dengan kategori sangat baik, sedangkan 13
orang tua (43,33%) berada dalam kategori baik. Dalam faktor pemberian gizi, sebanyak 15 orang
tua (50%) memberikan dukungan dengan kategori baik, 12 orang tua (40%) dalam kategori cukup
baik, 2 orang tua (6,67%) dalam kategori kurang baik, dan 1 orang tua (3,33%) dalam kategori
kurang baik. Pada faktor sarana dan prasarana, sebanyak 26 orang tua (86,67%) memberikan
dukungan dengan kategori sangat baik dan 4 orang tua (13,33%) dengan kategori baik. Selain itu,
faktor lingkungan menunjukkan bahwa sebanyak 25 orang tua (83,33%) memberikan dukungan
dengan kategori sangat baik dan 5 orang tua (16,67%) dengan kategori baik.

Kesimpulan: Keterlibatan orang tua benar-benar berpengaruh pada peningkatan pencapaian best
time terhadap atlet renang di Aquatic Swimming Club Purbalingga.

Kata Kunci: Peran Orang Tua, Atlet Renang, Best Time
STUDY OF THE ROLE OF PARENTS IN IMPROVING THE BEST TIME
PERFORMANCE OF SWIMMING ATHLETES AT THE PURBALINGGA
AQUATIC SWIMMING CLUB

Asyarafi Pangestu1
, Kusnandar2
, Jajang Dede Mulyani3

Background: The role of parents in children's growth and development cannot be ignored in
supporting children's achievements. Parental support for children's achievements is not only limited
to psychological aspects, but also includes attention, providing proper nutrition, providing adequate
facilities and infrastructure, and creating a supportive environment. This research aims to examine
the role of parents in improving the best time performance of swimming athletes at the Purbalingga
Aquatic Swimming Club, with the hope of providing insight into the importance of parental
involvement in supporting children's development.

Methodology: This research was conducted with a quantitative descriptive research design to find
out the role of parents in improving the best time performance of swimming athletes at the
Purbalingga Aquatic Swimming Club. The sample for this research was the parents of 30
performance athletes taken using a purposive sampling technique. Data collection was carried out
using a questionnaire via Google Form. Indicator assessment was carried out using a Likert scale
with a score range of 1 to 4.

Results: Descriptive analysis shows that the role of parents in improving the best time performance
of swimming athletes at Aquatic Swimming Club Purbalingga falls into the very good category, with
an average score of 115. A total of 20 parents (66.67%) provided support in the very good category,
while the remaining 10 parents (33.33%) provided support in the good category. Parental support in
various factors was also analyzed, where 17 parents (56.67%) provided attention in the very good
category, while 13 parents (43.33%) were in the good category. In the nutrition provision factor, 15
parents (50%) provided support in the good category, 12 parents (40%) in the fairly good category,
2 parents (6.67%) in the poor category, and 1 parent (3.33%) in the poor category. For the facilities
and infrastructure factor, 26 parents (86.67%) provided support in the very good category, while 4
parents (13.33%) provided support in the good category. Additionally, the environmental factor
shows that 25 parents (83.33%) provided support in the very good category, and 5 parents (16.67%)
in the good category.

Conclusion: The role of parents is very influential in improving the best time performance of
swimming athletes at the Purbalingga Aquatic Swimming Club.

Keywords: Role of Parents, Swimming Athletes, Best Time