Artikelilmiahs

Menampilkan 43.321-43.340 dari 48.831 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4332147431F1D021066CARNAL CONQUEST DALAM GERAKAN FEMINISME GYNOCENTRIST: Perlawanan Erotis Perempuan Jawa terhadap Kekuasaan Patriarki Kerajaan Mataram dalam Trilogi Rara MendutArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk menelaah motif-motif carnal conquest dalam gerakan feminism gynocentrist, terkhusus pada perlawanan erotis perempuan Jawa terhadap kekuasaan patriarki Kerajaan Mataram dalam Trilogi Rara Mendut. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutika dalam bingkai perspektif pascastrukturalis dan paradigma konstruktivisme. Hasil penelitian ini mengungkapkan, adanya aksi-aksi erotis Rara Mendut yang mengacu pada gerakan carnal conquest di mana gerakan tersebut tidak memposisikan laki-laki pada ranah yang lebih rendah dari perempuan, tetapi justru memanfaatkan kekuatan dan kekhasannya dalam segala sesuatu yang kontradiktif, mampu bertendensi menjadi suatu hal yang buruk. Artikel mengenai Trilogi Rara Mendut ini mengungkapkan, bahwa cara-cara kreatif yang ada pada feminisme gynocentrist untuk memanfaatkan tubuh perempuan sejatinya mampu menjadi wahana resistensi perempuan dalam tekanan konstruksi gender.This research article aims to examine carnal conquest motifs in the gynocentrist feminist movement, especially in the erotic resistance of Javanese women against the patriarchal power of the Mataram Kingdom in the Rara Mendut Trilogy. By using qualitative methods and hermeneutic approach within the framework of a poststructuralist perspective and constructivism paradigm. The results of this research reveal that there are erotic actions by Rara Mendut which refer to the carnal conquest movement where this movement does not position men in a lower realm than women, but instead utilizes their strengths and uniqueness in everything that is contradictory, capable of tending to be a bad thing. This article discussed about the Rara Mendut Trilogy reveals that the creative ways available in gynocentrist feminism utilize women's bodies can actually be a medium for women's resistance to the pressures of gender construction.
4332247432F1D021031Doksing dan Pelanggaran Kesusilaan dalam "Penyalin Cahaya": RepresentasiTubuh sebagai representasi identitas seseorang haruslah merdeka. Dalam kasus pelecehan seksual dan eksploitasi tubuh, terjadi politisasi tubuh karena adanya ketimpangan kuasa antara pelaku dan juga korban. Artikel ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan bentuk doksing dan pelanggaran kesusilaan dalam “Penyalin Cahaya”, serta menjelaskan bagaimana doksing dan pelanggaran kesusilaan tersebut merepresentasikan eksploitasi tubuh dan pelecehan seksual dalam institusi pendidikan di Jakarta. Artikel ini didasarkan dengan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika dalam bingkai perspektif pascastrukturalis dan paradigma dekonstruksionisme. Pengumpulan data pada artikel ini menggunakan teknik observasi dan studi dokumen, kemudian keabsahan data akan diuji menggunakan formula validitas makna. Penelitian ini menunjukkan bahwa doksing dalam “Penyalin Cahaya” dilakukan oleh korban dengan mengunggah instalasi teater ke Instagram dan website yang tanpa ia ketahui adalah potret dari tubuh korban pelecehan seksual. Selain itu, dalam penelitian ini ditunjukkan bahwa pelanggaran kesusilaan ditunjukkan oleh tindakan Amin dan Rama yang melakukan transaksi jual-beli foto privasi korban, serta tindakan Rama yang melecehkan korban dengan cara memotret tubuh para korban untuk dijadikan instalasi.The body, as a representation of one’s identity, must be free. In cases of sexual harrasmeny and body exploitation, the politization of the body occurs due to power imbalances between perpetrator and victims. This article aims to understand and describe the forms of doxing and moral violation in “Penyalin Cahaya” and explain how these acts represent body exploitation and sexual harrasment within educational institutions in Jakarta. This study employs a qualitative method with semiotic approach, framed with a poststructuralist perspective and deconstructionist paradigm. Data collection was conducted through observation and document study, while data validity tested using a meaning validity formula. The study reveals that the practice of doxing in “Penyalin Cahaya” was carried out by the victim, who uploaded a theatre installation to Instagram ang a website. Furthermore, this study highlights that indecency violation were demonstrated through Amin and Rama’s action, where they engaged in the buying and selling of the victim,s private photos. Addtionally, Rama sexually harassed the victims by photographing their bodies to be used as part of the theatre installation.
4332347437J1E020059A TEACHER’S PERCEPTION ON THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH DRAMA AS A PROJECT-BASED LEARNING PRODUCT IN ENGLISH CLASSES
(A DESCRIPTIVE STUDY OF GRADE XII MIPA 1 AND XII MIPA 3 AT SMAN 1 PURWOKERTO IN THE ACADEMIC YEAR OF 2023/2024)
Proyek drama sebagai produk dari Project-Based Learning (PjBL) menunjukkan potensi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan kerjasama tim siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan seorang guru SMAN 1 Purwokerto dan pelaksanaan proyek drama untuk kelas XII MIPA 1 dan XII MIPA 3 pada tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket skala Likert, wawancara semi terstruktur, dan pengumpulan RPP. Salah satu guru bahasa Inggris dari SMAN 1 Purwokerto dipilih sebagai sampel karena pengalamannya dalam mengimplementasikan proyek drama dalam pengajaran bahasa Inggris.
Hasilnya menunjukkan bahwa guru percaya bahwa proyek drama adalah cara yang baik untuk membantu siswa mengembangkan kreativitas, kerja tim, dan keterampilan bahasa Inggris mereka. Namun permasalahan seperti siswa yang memiliki motivasi rendah dan kendala bahasa juga muncul. Untuk menilai kinerja dan perkembangan siswa, guru menggunakan penilaian formatif dan sumatif. Guru juga membimbing dan memotivasi siswa dengan memberikan masukan yang konstruktif dan membimbing siswa dalam menulis naskah. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana guru memandang PjBL berbasis drama dan memberikan saran bagi guru untuk meningkatkan penerapannya dan bagi peneliti masa depan untuk menyelidiki efektivitasnya di tingkatan sekolah lain.
The drama project as a Project Based Learning (PjBL) product shows the potential to improve students' language skills, creativity and teamwork. This research aims to find out how a teacher at SMAN 1 Purwokerto views and implements the drama project for grades XII MIPA 1 and XII MIPA 3 in the academic year of 2023/2024. A qualitative descriptive method was used in this study, data collection was collected using Likert scale questionnaire, semi-structured interview, and lesson plan. One of the English teachers from SMAN 1 Purwokerto was chosen as a sample because of their experience using the drama project in English teaching.
The results show that the teacher believed that the drama project was a good way to help students develop their creativity, teamwork, and English language skills. However, problems such as students that had low motivation and language barriers also exist. To assess students' performance and development, the teacher used formative and summative assessments. The teacher also guided and motivated students by providing constructive feedback and guiding students in writing scripts. This study offers insight into how teachers view drama-based PjBL and provides suggestions for teachers to improve its implementation and for future researchers to investigate its effectiveness in other school settings.
4332447436F1D021027Indikasi Pork Barrel Politics di Kabupaten PurbalinggaArtikel ini bertujuan untuk menggambarkan praktik Pork Barrel Politics dalam Pilkada 2024 di Kabupaten Purbalingga. Praktik pork barrel politics merujuk pada program-program pemerintah yang bersifat populis, yang seringkali digunakan incumbent untuk meningkatkan keterpilihan atau mempertahankan dukungan dalam pemilihan kepala daerah. Kebijakan semacam itu dapat menjadi salah satu strategi yang efektif bagi para incumbent dalam menjaga keterpilihan mereka. Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan adanya indikasi pork barrel politics di Kabupaten Purbalingga dan implikasinya terhadap efektivitas pilkada 2024 di Kabupaten Purbalingga. Tulisan ini berdasarkan pada penelitian dengan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil tulisan ini, menunjukkan bahwa ditemukan indikasi praktik pork barrel politics di Kabupaten Purbalingga pada pilkada 2024 melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Indikasi pork barrel politics di Kabupaten Purbalingga terlihat dari pelaksanaan program kerja yang cenderung memihak, dengan memfokuskan alokasi program pada wilayah-geografis tertentu yang dianggap strategis untuk mendulang suara dalam pilkada. Selain itu, distribusi anggaran seringkali tidak merata dan lebih menguntungkan kelompok-kelompok tertentu. Hal ini diperkuat dengan adanya kendali signifikan yang dimiliki oleh bupati terkait penyaluran bantuan yang lebih diarahkan untuk memperkuat basis dukungan politik. Simpulan dari penulisan ini adalah bahwa praktik pork barrel politics tidak selalu bisa memberikan jaminan dengan kemenangan bagi incumbent.


This article aims to describe the practice of Pork Barrel Politics in the 2024 Regional Election (Pilkada) in Purbalingga Regency. Pork barrel politics refers to populist government programs that are often used by incumbents to increase electability or maintain support in regional elections. Such policies can be an effective strategy for incumbents to secure their electoral prospects. This study seeks to explain the indications of pork barrel politics in Purbalingga Regency and its implications for the effectiveness of the 2024 Pilkada in the region. This article is based on qualitative research methods, with data collected through interviews, observations, and document studies. The findings indicate the presence of pork barrel politics in Purbalingga Regency during the 2024 Pilkada through the Non-Cash Food Assistance (BPNT) program. The indications of pork barrel politics in Purbalingga can be observed in the implementation of government programs that tend to be biased, with program allocations concentrated in specific geographic areas deemed strategic for gaining electoral support. Additionally, budget distribution is often unequal and disproportionately benefits certain groups. This situation is reinforced by the significant control exercised by the regent over aid distribution, which is directed toward strengthening political support bases. The conclusion of this study is that the practice of pork barrel politics does not always guarantee electoral victory for incumbents.
4332546694E1A018064TINJAUAN YURIDIS PEMBATALAN MEREK “KILAT” BERDASARKAN UNDANG – UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DALAM PUTUSAN NOMOR 7/Pdt.Sus-HKI/Merek/2022/PN.Niaga.SbyMerek merupakan salah satu bagian dari Hak Kekayaan Intelektual yang sangat penting, terutama bagi pelaku usaha dalam menjaga persaingan usaha yang sehat. Merek mempunyai peranan sangat penting dalam kelancaran dan peningkatan perdagangan barang maupun jasa. Bagi pelaku usaha merek sangat penting untuk dapat membedakan suatu produk dan/atau jasa yang diperdagangkan, sedangkan bagi konsumen merek dapat membuat merasa puas akan kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga dapat menciptakan rasa positif terhadap merek. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana tinjauan yuridis pembatalan merek “KILAT” berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang merek dan Indikasi Geografis dalam Putusan Nomor 7/Pdt.Sus-HKI/Merek/2022/PN. Niaga.Sby.
Penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, kemudian data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif dan metode analisis data yang digunakan yaitu metode normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dikabulkannya gugatan pembatalan merek “KILAT” yang beriktikad tidak baik, sudah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Akibat hukum dari pembatalan merek “KILAT” adalah merek tersebut dicoret dalam Daftar Umum Merek Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, sehingga mengakibatkan berakhirnya perlindungan hukum atas merek tersebut.
Trademarks are an important part of Intellectual Property Rights, especially for business operators in maintaining healthy competition. Trademarks play a crucial role in the smooth flow and improvement of trade in goods and services. For business operators, trademarks are essential for distinguishing traded products and/or services, while for consumers, trademarks can create satisfaction in meeting their needs and desires, thus fostering a positive perception of the brand. This study aims to determine the juridical perspective on the cancellation of the "KILAT" trademark based on Law Number 20 of 2016 concerning trademarks and geographical indications in Decision Number 7/Pdt.Sus-HKI/Merek/2022/PN. Niaga.Sby.
This research uses the normative juridical approach method with the specification of descriptive analysis research. The data source used is secondary data, and the data collection method is conducted through literature study. Then, the obtained data is presented in the form of narrative text, and the data analysis method used is qualitative normative method.
Based on the research results and discussion, it can be concluded that the granting of the cancellation lawsuit for the "KILAT" trademark, which acted in bad faith, is in accordance with the provisions stipulated in Article 21 paragraph (3) of Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. The legal consequence of the cancellation of the "KILAT" trademark is that it will be removed from the General List of Trademarks of the Directorate General of Intellectual Property, resulting in the termination of legal protection for the said trademark.
4332646692B1A020053Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Ikan Lunjar (Rasbora lateristriata) dengan Pemberian Pakan Mikrokapsul Maggot Black Soldier FlyPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan larva R.lateristriata yang diberi pakan mikrokapsul maggot Black Soldier Fly. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Februari-Agustus 2024 menggunakan metode eksperimental dengan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari lima ulangan. Perlakuan terdiri dari (P0) : D0, (P1) : D0 mikrokapsul, (P2) : mikrokapsul maggot instar 4, (P3) : mikrokapsul maggot instar 5, dan (P4) mikrokapsul maggot instar 6. Variabel meliputi pertumbuhan dan perkembangan morfoanatomi larva ikan dianalisis ragam One Way Anova pada tingkat signifikasi 95%. Hasil berbeda nyata dilakukan uji lanjut Tukey. Data hubungan panjang tubuh dan CFRE dianalisis uji korelasi. Data mengenai perkembangan morfoanatomi bukaan mulut dan sirip meliputi pigmentasi dan bentuk dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan mikrokapsul maggot BSF instar 6 (P4) memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva. Pemberian pakan mikrokapsul instar 6 (P4) menghasilkan pertambahan bobot sebesar 0,033±0,012 g, pertambahan panjang sebesar 9,58±0,25 mm, RGR 1,109±943,1%, SGR 8,10±2,29%. Uji korelasi menunjukkan jumlah CFRE berhubungan positif (R=0,9970 ) dengan panjang tubuh larva. Pakan mikrokapsul maggot BSF tidak berpengaruh nyata terhadap FCR dan SR. Ditemukan adanya pigmentasi melanofor dan xantofor pada larva. Pemberian pakan mikrokapsul maggot Black Soldier Fly instar 6 menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan larva R.lateristriata paling optimal dibandingkan perlakuan lainnya. Dengan demikian, penggunaan mikrokapsul maggot BSF dapat digunakan sebagai subsitusi pakan komersial selama pemeliharaan larva ikan R.lateristriata.
This study aimed to investigate the growth and development of R. lateristriata larvae that were fed with BSF maggot microcapsules.The research was conducted in February-August 2024 using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) experimental design consisting of five treatments and each treatment consisted of five replicates. The treatments consisted of (P0) which is D0 feed; (P1) which is microcapsule D0 feed; (P2) which is forth instar maggot microcapsule feed; (P3): which is fifth instar maggot microcapsule feed, and (P4) which is sixth instar maggot microcapsule feed. Variables include the growth and development of morphoanatomy of fish larvae were analyzed by One Way Anova at the 95% significance level. This research result were significantly different, Tukey's further test was conducted. Data on the relationship between body length and CFRE were analyzed by correlation tests. Data on the development of morphoanatomy of mouth openings and fins including pigmentation and shape were analyzed descriptively.
The results showed that sixth instar maggot microcapsule feeding (P4) gave the best effect on growth and development of larvae. Sixth instar maggot microcapsule feeding (P4) resulted in weight gain of 0.033 ± 0.012 g, length gain of 9.58 ± 0.25 mm, RGR of 1,109±943.1%, SGR 8.10±2.29%.The correlation test showed that the number of CFRE was positively correlated (R=0.9970) with larvae body length. Feeding of maggot BSF microcapsules has no significant effect on FCR and SR. It was found that there was melanophore and xanthophore pigmentation in the larvae. Feeding Black Soldier Fly maggot resulted in better growth and development of R.lateristriata larvae compared to others instar and commercial feed with the optimal treatment of maggot microcapsule feed instar 6. Thus, the use of BSF maggot microcapsules can be used as a substitute for commercial feed during the rearing of R. lateristriata fish larvae
4332746690E1A020117Perlindungan Hukum Atas Hak Pekerja Paruh Waktu Dalam Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Pada Perusahaan Waralaba Di PurwokertoPekerja paruh waktu menjadi salah satu inovasi bagi perusaaan di era industrialisasi 4.0 karena fleksibilitas sistem dan waktu kerja. Seiring meningkatnya jumlah pekerja berstatus paruh waktu pemerintah harus memperhatikan perlindungan hukum salah satunya dalam proram BPJS Ketenaakerjaan yang bertujuan untuk memberikan perlindungan dan bantuan kepada tenaga kerja beserta keluarganya dari dampak akibat hilangnya penghasilan yang disebabkan oleh kecelakaan kerja, usia lanjut, dan sebagainya. Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana perlindungan hukum bagi pekerja paruh waktu dalam Program Badan Penyelengara Jaminan Sosial pada perusahaan waralaba di Purwokerto.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Metode penumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Data yang diperoleh disajikan dengan teks naratif, dan metode analisis data dilakukan secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian menyimpulkan bahwa Indonesia tidak memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus mengenai pekerja paruh waktu melainkan masih mengikuti peraturan yang berlaku secara internasional yaitu Part Time Work Convention No 175 yang belum diratifikasi sehingga belum bisa diberlakukan di Indonesia. Perjanjian kerja paruh waktu tetap dapat terlaksana dengan ketentuan mengenai upah pekerja paruh waktu yang tertaut pada Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.
Part-time workers are one of the innovations for companies in the era of industrialization 4.0 because of the flexibility of systems and working hours. As the number of workers with part-time status increases, the government must pay attention to legal protection, one of which is the BPJS Employment program which aims to provide protection and assistance to workers and their families from the impact of loss of income caused by work accidents, old age, and so on. Based on this background, the problem examined in this research is how legal protection is for part-time workers in the Social Security Administering Agency Program at franchise companies in Purwokerto.
The method used in this research is normative juridical with prescriptive research specifications. The data sources used are secondary data sourced from primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. The data collection method was carried out using literature study. The data obtained is presented in narrative text, and the data analysis method is carried out normatively qualitatively.
The results of the research and discussion provide a conclusion that Based on the research results, it is concluded that Indonesia does not have statutory regulations that specifically regulate part-time workers but still follows internationally applicable regulations, namely the Part Time Work Convention No. 175 which has not been ratified so it cannot be implemented in Indonesia. Part-time work agreements can still be implemented with the provisions regarding wages for part-time workers which are linked to Government Regulation No. 51 of 2023 concerning Amendments to Government Regulation No. 36 of 2021 concerning Wages.
4332846693J1C018043Mitologi Amaterasu dan Kala Rahu dalam Studi Komparatif Nilai Budaya KluckhohnPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai budaya yang terkandung dalam mitologi Amaterasu dari Jepang dan Kala Rahu dari Jawa dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Fokus utama penelitian ini adalah analisis nilai budaya kedua mitologi tersebut berdasarkan perspektif teori nilai budaya Kluckhohn. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, menggunakan Kojiki sebagai sumber primer untuk mitologi Amaterasu dan Ensiklopedi Wayang Purwa I untuk mitologi Kala Rahu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitologi Amaterasu merepresentasikan orientasi budaya yang menonjolkan harmoni dalam hubungan hierarkis, orientasi waktu linier, dan keberadaan yang bersifat progresif. Sebaliknya, mitologi Kala Rahu mencerminkan siklus dualitas dalam hubungan manusia dengan alam, orientasi waktu siklis, serta keberadaan yang tunduk pada keseimbangan kosmis. Variasi ini mengindikasikan bahwa mitologi Amaterasu mencerminkan nilai-nilai budaya Jepang yang berfokus pada struktur sosial, keberlanjutan, dan keteraturan, sedangkan mitologi Kala Rahu mencerminkan nilai budaya Jawa yang lebih adaptif, dinamis, dan selaras dengan alam.
Temuan ini memberikan implikasi teoretis pada kajian lintas budaya, khususnya dalam memahami bagaimana mitologi mencerminkan dan membentuk nilai-nilai budaya masyarakat. Secara praktis, penelitian ini dapat memperkaya pemahaman tentang integrasi budaya dalam konteks global. Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih dalam pengaruh mitologi terhadap perilaku sosial dan kultural di era modern, serta bagaimana mitologi-mitologi ini dapat dijadikan media pendidikan nilai-nilai budaya lintas generasi.
This study aims to compare the cultural values embedded in the Amaterasu mythology from Japan and the Kala Rahu mythology from Java using a qualitative descriptive approach. The main focus of this research is the analysis of the cultural values in both mythologies based on the perspective of Kluckhohn's cultural value theory. Data were collected through literature review, utilizing the Kojiki as the primary source for the Amaterasu mythology and the Ensiklopedi Wayang Purwa I for the Kala Rahu mythology.
The findings of the study indicate that the Amaterasu mythology represents a cultural orientation that emphasizes harmony in hierarchical relationships, a linear perception of time, and a progressive notion of existence. In contrast, the Kala Rahu mythology reflects a cyclical duality in the human relationship with nature, a cyclic perception of time, and an existence that is subordinated to cosmic balance. These variations suggest that the Amaterasu mythology embodies the cultural values of Japan, which focus on social structure, continuity, and order, while the Kala Rahu mythology reflects the cultural values of Java, which are more adaptive, dynamic, and aligned with nature.
This study has theoretical implications for cross-cultural studies, particularly in understanding how mythology reflects and shapes the cultural values of societies. Practically, this research can enrich the understanding of cultural integration in a global context. Further research may explore the influence of mythology on social and cultural behaviors in the modern era and how these mythologies can be used as educational media for transmitting cultural values across generations.
4332946695I1A020066GAMBARAN POLA ASUH DALAM PEMENUHAN GIZI PADA ANAK PENDERITA TUBERKULOSIS DI DESA DUKUHWALUH KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMASPendahuluan: Peningkatan yang signifikan pada kasus anak penderita tuberkulosis perlu menjadi perhatian karena tuberkulosis pada anak cenderung lebih sulit dideteksi. Selain itu, Tuberkulosis juga dapat menyebabkan berbagai persoalan seperti gangguan gizi buruk. Pola asuh dalam pemenuhan gizi berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan dan membantu kesembuhan anak penderita tuberkulosis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai gambaran pola asuh dalam pemenuhan gizi pada anak penderita tuberkulosis di Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.
Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian kualitatif dengan jenis penelitian analisis deskriptif. Pengambilan data melalui wawancara mendalam terhadap 5 informan utama dan 2 informan pendukung.

Hasil Penelitian: : Anak penderita tuberkulosis memiliki status gizi normal. Kecukupan energi dan protein pada anak penderita tuberkulosis dipenuhi dari asupan makan sehari-hari, tambahan asupan protein, tambahan konsumsi buah, tambahan konsumsi susu serta tambahan konsumsi vitamin. Anak penderita tuberkulosis memiliki berbagai macam perilaku terhadap makanan. Orang tua menerapkan perilaku berupa tuntutan atau kontrol kepada anak penderita tuberkulosis untuk makan.

Kesimpulan: Anak penderita tuberkulosis memiliki keragaman mulai dari status gizi, perilaku terhadap makanan, cara untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein serta perilaku dari orang tua dalam pemberian makan.
Introduction : The significant increase in cases of children with tuberculosis needs to be a concern because tuberculosis in children tends to be more difficult to detect. In addition, Tuberculosis can also cause various problems such as malnutrition. Parenting in fulfilling nutrition plays an important role in the growth, development and helping the recovery of children with tuberculosis. Therefore, this study was conducted to find out and understand more deeply about the description of parenting in fulfilling nutrition in children with tuberculosis in Dukuhwaluh Village, Kembaran District, Banyumas Regency.
Methode : The research design used is a qualitative research design with a descriptive analysis type of research. Data collection was conducted through in-depth interviews with 5 main informants and 2 supporting informants.
Results : Children with tuberculosis have normal nutritional status. The adequacy of energy and protein in children with tuberculosis is fulfilled from daily food intake, additional protein intake, additional fruit consumption, additional milk consumption and additional vitamin consumption. Children with tuberculosis have a variety of behaviors towards food. Parents apply behavior in the form of demands or control to children with tuberculosis to eat.
Conclusion : Children with tuberculosis have a diversity ranging from nutritional status, behavior towards food, ways to meet energy and protein needs and behavior from parents in feeding.
4333046451B1A019069Reduksi Logam Merkuri (Hg) Menggunakan Isolat Fungi Indigenous dari Limbah Pertambangan Emas Rakyat di Daerah Aliran Sungai Batanghari, JambiIndonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan tambang besar, salah satunya emas. Pertambangan emas rakyat banyak ditemui terutama di DAS Batanghari, Jambi. Kurangnya kesadaran masyarakat mengakibatkan minimnya kontrol penggunaan logam berat merkuri dalam pertambangan. Merkuri digunakan dalam ekstraksi emas pada sistem amalgamasi dan dibuang ke sungai maupun lingkungan sekitar. Merkuri yang sangat beracun menyebabkan pencemaran lingkungan dan berdampak bagi kehidupan. Reduksi dilakukan dengan bioremediasi menggunakan mikroba (bakteri, fungi, dan alga) dinilai lebih ekonomis. Fungi indigenous dipilih karena mampu beradaptasi terhadap lingkungan ekstrim dengan konsentrasi logam berat tinggi. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi isolat fungi indigenous DAS Batanghari, Jambi yang berpotensi mereduksi Hg limbah pertambangan emas rakyat dan mengetahui isolat fungi indigenous DAS Batanghari, Jambi terbaik yang mampu mereduksi merkuri Hg limbah pertambangan emas rakyat.
Hasil penelitian menunjukkan dari 40 isolat fungi indigenous DAS Batanghari, Jambi hasil isolasi, diperoleh 8 isolat berpotensi mereduksi Hg pertambang emas yakni isolat yang diidentifikasi berasal dari genus Aspergillus (isolat AH9, AH24, AH33, dan C3), Penicillium (isolat AH23), Trichoderma (isolat AH18 dan AH20), dan Fusarium (isolat A32). Persentase reduksi Hg yang diperoleh yakni isolat AH9 dengan persentase sebesar 82,66%, isolat AH23 sebesar 80,92%, AH24 sebesar 79,79%, AH 18 sebesar 73,67%, AH33 sebesar 66,28%, AH20 sebesar 63,28%, C3 sebesar 61,67%, dan AH32 sebesar 59,61%. Isolat terbaik yang mampu mereduksi Hg adalah isolat AH9 (Aspergillus) dengan diameter koloni sebesar 7,85 cm, nilai tingkat hambatan relatif sebesar 8,72%, bobot kering miselium sebesar 1,47 g, dan persentase reduksi Hg sebesar 82,66%.

Indonesia is known as a country with large wealth of mining materials, one of which is gold. Artisanal gold mining is common, especially in the Batanghari watershed, Jambi. Lack of public awareness results in minimal control over use of heavy metal mercury in mining. Mercury is used in gold extraction in amalgamation systems and discharged directly into the river and surrounding environment. Mercury is highly toxic, causing environmental pollution and impacting life. Reduction by bioremediation using microbes (bacteria, fungi, and algae) considered more economical. Indigenous fungi were chosen because able to adapt to extreme environments with high heavy metal concentrations. The research conducted to identify indigenous fungi isolates from Batanghari Watershed, Jambi that have the potential to reduce Hg from gold mining waste and to determine the best indigenous fungi isolates from Batanghari Watershed, Jambi that are able to reduce Hg from gold mining waste.
The research results show that of 40 isolates fungi indigenous from Batanghari watershed in Jambi, 8 isolates have potential to reduce Hg from artisanal gold mining. These isolates identified from the genus Aspergillus (isolates AH9, AH24, AH33, and C3), Penicillium (isolate AH23), Trichoderma (isolates AH18 and AH20), and Fusarium (isolate A32). The percentage of Hg reduction obtained was isolate AH9 with a percentage of 82,66%, AH23 with 80,92%, AH24 with 79,79%, AH18 with of 73,67%, AH33 with 66,28%, AH20 with 63,28%, C3 with 61,67%, and AH32 with a percentage of 59,61%. The best isolate capable of reducing Hg is isolate AH9 (Aspergillus) with colony diameter of 7,85 cm, the relative inhibition value of 8,72%, dry mycelium weight of 1,47 g, and Hg reduction percentage of 82,66%.
4333146696E1A020104TINJAUAN YURIDIS TERHADAP WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN MULTIGUNA
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1380/Pdt.G/2023/PN.Tng)
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya tindakan wanprestasi terhadap Perjanjian Pembiayaan Multiguna Nomor 85437161811, tanggal 15 Agustus 2018 yang dilakukan oleh PT. Clipan Finance Indonesia Tbk selaku penggugat dengan Sodikin selaku tergugat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam menentukan unsur-unsur wanprestasi tergugat dan untuk mengetahui dan menganalisis akibat hukum bagi para pihak atas wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Multiguna pada Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 1380/Pdt.G/2023/PN.Tng. Penelitian ini menggunakan metode jenis penelitian yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Data bersumber dari data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dengan menggunakan metode analisis data normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur wanprestasi dalam putusan pengadilan negeri tangerang sudah terpenuhi yaitu yang pertama dengan adanya perikatan yang timbul dari Perjanjian Pembiayaan Multiguna. Unsur kedua adalah debitur tidak berprestasi dimana tergugat sebagai debitur tidak melaksanakan prestasinya sama sekali karena tidak ada realisasi untuk membayarkan angsuran. Unsur ketiga yaitu adanya kesalahan dapat dibuktikan dari tergugat tetap tidak melaksanakan kewajibannya dengan tidak memberikan jawaban terhadap surat yang diberikan oleh pihak penggugat. Akibat hukum wanprestasi terhadap debitur diputus untuk membayarkan biaya pelunasan perjanjian pembiayaan multiguna, membayar bunga moratoir serta membayarkan biaya perkara pengadilan. Dalam hasil penelitian ini Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang sudah tepat dalam menimbang dan memutus bahwa debitur wanprestasi tapi dalam pertimbangannya tidak secara tegas memberikan penjelasan terkait dengan unsur-unsur dari wanprestasi dan Perjanjian Pembiayaan Multiguna.
This research is motivated by the act of default on the Multipurpose Financing Agreement Number 85437161811, dated August 15, 2018 committed by PT Clipan Finance Indonesia Tbk as the Plaintiff with Sodikin as the Defendant. This study aims to determine and analyze the legal considerations of judges in determining the elements of the defendant's default and to determine and analyze the legal consequences for the parties to the default of the Multipurpose Financing Agreement in the Tangerang District Court Decision Number 1380/Pdt.G/2023/PN.Tng. This research uses a normative juridical research method with prescriptive research specifications. Data is sourced from secondary data. The data collection method is done by literature study, using qualitative normative data analysis method.
Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the elements of default in the decision of the Tangerang District Court have been fulfilled, namely the first with the existence of an obligation arising from the Multipurpose Financing Agreement. The second element is that the debtor does not perform where the defendant as the debtor does not carry out his performance at all because there is no realization to pay installments. The third element, namely the existence of fault, can be proven from the Defendant still not carrying out its obligations by not providing an answer to the letter given by the plaintiff. The legal consequences of default on the debtor are decided to pay the cost of repaying the multipurpose financing agreement, paying moratoir interest and paying court costs. In the results of this study, the Panel of Judges of the Tangerang District Court was correct in considering and deciding that the debtor was in default, but in its consideration it did not explicitly provide an explanation related to the elements of default and the Multipurpose Financing Agreement.
4333246697E1A020259TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMBATALAN PUTUSAN
LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM (ONSLAG
VAN RECHTVERVOLGING) PADA TINDAK
PIDANA PENCUCIAN UANG
(Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 2113 K/PID.SUS/2023)
Hakim dalam memutus putusan lepas dalam praktiknya sering kali menimbulkan perbincangan di dalam khalayak umum terutama dalam kasus tindak pidana korupsi, penggelapan dan kejahatan ekonomi lainnya. Seperti halnya pada putusan perkara nomor 779/Pid.B/2022/PN.Jkt.Brt. Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Barat beranggapan bahwa perbuatan terdakwa bukan merupakan tindak pidana melainkan perkara perdata (onslag van recht vervolging), yang menyebabkan para korban merasa dirugikan akan putusan tersebut. Jaksa selaku penuntut umum melakukan permohonan kasasi terhadap terdakwa ke Mahkamah Agung. Dalam kasasi tersebut Penuntut umum menyatakan judex facti pada Pengadilan Negeri Jakarta barat dalam putusan nomor 779/Pid.B/2022/PN.Jkt.Brt telah salah dalam menerapkan hukum. Judex facti telah mengadili Terdakwa dalam perkara a quo tidak sesuai hukum acara pidana yang berlaku. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim dalam pembatalan putusan lepas dan mengetahui akibat hukum dari putusan mahkamah agung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normative dengan menggunakan pendekatan kasus dan pendekatan perundang-perundangan. Spesifikasi penelitian ini adalah perskriptif, Metode pengumpulan data studi kepustakaan yang kemudian disajikan melalui teks naratif. Hasil penelitian menunjukan bahwasannya majelis hakim mahkamah agung dalam judex juris menemukan kesalahan atau kekeliruan dalam penerapan hukum di dalam judex facti sehingga membatalakan putusan pengadilan negeri. Adapun akibat hukum dari putusan tersebut adalah putusan pengadilan negeri dibatalkan dan terdakwa harus menjalani putusan Mahkamah Agung tersebut.


The judge's issuance of a release verdict often generates public discourse, especially in cases involving corruption, embezzlement, and other economic crimes. For instance, in case number 779/Pid.B/2022/PN.Jkt.Brt, the judge at the West Jakarta District Court opined that the defendant's actions did not constitute a criminal offense but rather a civil matter (onslag van recht vervolging), leaving victims feeling aggrieved by the decision. The prosecutor, acting as the public prosecutor, filed an appeal to the Supreme Court against the defendant. In this appeal, the public prosecutor argued that the judex facti in the West Jakarta District Court in decision number 779/Pid.B/2022/PN.Jkt.Brt had erred in applying the law. The judex facti had tried the defendant in the case a quo in a manner inconsistent with the applicable criminal procedure law. Therefore, this research aims to examine the legal reasoning behind the judge's basis for overturning the release decision and to understand the legal consequences of the Supreme Court's ruling. This study uses a normative juridical research method with a case approach and a legislative approach. The research is prescriptive in nature, with data collected through library research and presented narratively. The research findings indicate that the Supreme Court's panel of judges, in judex juris, identified an error or misapplication of the law by the judex facti, leading to the annulment of the district court's decision. The legal consequence of this ruling is the annulment of the district court's decision, requiring the defendant to comply with the Supreme Court's judgment.

4333346698I1E020008SURVEI MANAJEMEN PERWASITAN SEPAKBOLA DI ASOSIASI KABUPATEN (ASKAB) BANYUMAS TAHUN 2024
Latar Belakang: Sepak bola di Indonesia dikelola oleh PSSI, yang meliputi Asprov dan Askab, yang mengatur klub, pemain, dan wasit. Di Banyumas, tantangan manajemen wasit mencakup kekurangan wasit tengah, perbedaan honor, serta masalah motivasi dan kondisi fisik, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang manajemen wasit di Askab Banyumas pada 2024 untuk mengevaluasi dan mencari solusi peningkatan kualitas pertandingan.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di Askab PSSI Banyumas.Sampel penelitian terdiri dari 15 peserta yang dipilih melalui Purposive Sampling.Penelitian ini dilakukan pada Juli-Agustus 2024 yang disertai dengan surat izin penelitian.

Hasil Penelitian: 1) Fungsi Perencanaan di Askab Banyumas, Askab Banyumas Perencanaan di bidang kepemimpinan fokus pada peningkatan kompetensi wasit untuk mencapai lisensi nasional C1, 2) Fungsi Pengorganisasian di Askab Banyumas, dipimpin oleh H.S. dan diatur oleh SK, memiliki biro wasit LM dan ES yang menugaskan wasit sesuai dengan lisensi dan kondisi fisik mereka melalui koordinasi WhatsApp, 3) Fungsi Penggerak di Askab Banyumas, pergerakan wasit dikelola oleh Biro Wasit secara adil dan transparan, dengan bimbingan dari ketua, penugasan sesuai kemampuan, dan kesempatan bagi wasit muda untuk menjaga profesionalisme, dan 4) Fungsi Pengendalian di Askab Banyumas, pengawasan wasit di Askab Banyumas mencakup pemantauan langsung, laporan melalui WhatsApp, dan rekaman untuk kasus-kasus khusus, dengan evaluasi forum untuk perbaikan kinerja.

Kesimpulan: 1) Perencanaan mencakup penyegaran, regenerasi, dan penyeragaman wasit, namun pelaksanaannya terkendala jadwal, partisipasi, dan biaya, sehingga memerlukan evaluasi untuk hasil optimal, 2) Pengorganisasian berjalan baik dengan struktur jelas dan koordinasi efektif, namun masih menghadapi kendala pada penugasan, regenerasi, penyegaran, dan penyeragaman seragam, sehingga diperlukan evaluasi untuk meningkatkan efisiensi dan keadilan, 3) Fungsi penggerakan telah berjalan baik dengan kepemimpinan, pembimbingan, dan motivasi yang efektif, namun perlu perbaikan transparansi dalam penugasan serta evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan keadilan dan kinerja wasit, dan 4) Pengawasan memastikan wasit bekerja sesuai standar melalui metode langsung, tidak langsung, dan berdasarkan kekecualian, meski menghadapi kendala keterbatasan waktu dan data, sehingga evaluasi yang cermat diperlukan untuk menjaga kualitas perwasitan.
Background: Football in Indonesia is managed by PSSI, which includes Asprov and Askab, overseeing clubs, players, and referees. In Banyumas, challenges in referee management include a shortage of central referees, differences in honorarium, as well as issues with motivation and physical condition. Therefore, the author is interested in conducting research on referee management in Askab Banyumas in 2024 to evaluate and find solutions to improve match quality.

Methodology: This research uses a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. This research was conducted at Askab PSSI Banyumas.The research sample consisted of 15 participants selected through Purposive Sampling.This research was conducted from July to August 2024, accompanied by a research permit.

Research Results: 1) The Planning Function in Askab Banyumas, Askab Banyumas Planning in the leadership field focuses on improving referees' competencies to achieve national C1 licenses, 2) The Organizing Function in Askab Banyumas, led by H.S. and regulated by SK, has referee bureaus LM and ES that assign referees according to their licenses and physical conditions through WhatsApp coordination, 3) The Mobilizing Function in Askab Banyumas, the movement of referees is managed by the Referee Bureau fairly and transparently, with guidance from the chairman, assignments according to abilities, and opportunities for young referees to maintain professionalism, and 4) The Controlling Function in Askab Banyumas, referee supervision in Askab Banyumas includes direct monitoring, reports via WhatsApp, and recordings for special cases, with forum evaluations for performance improvement.

Conclusion: 1) Planning includes refreshing, regenerating, and standardizing referees, but its implementation is hindered by schedules, participation, and costs, requiring evaluation for optimal results, 2) Organizing is going well with a clear structure and effective coordination, but still faces challenges in assignments, regeneration, refreshing, and uniform standardization, necessitating evaluation to improve efficiency and fairness, 3) The mobilization function has been effective with leadership, guidance, and motivation, but needs improvement in transparency in assignments and continuous evaluation to enhance fairness and referee performance, and 4) Supervision ensures referees work according to standards through direct, indirect, and exception-based methods, despite facing challenges of time and data limitations, thus careful evaluation is needed to maintain refereeing quality.
4333446699J1A018023DECIPHERING TRUST ISSUES IN “LET YOU DOWN” MUSIC VIDEO BY NFDasar dari setiap hubungan adalah kepercayaan. Segala sesuatu lainnya akan berakhir dalam kegagalan tanpa kepercayaan. Seseorang yang memiliki masalah dalam mempercayai orang lain bisa menjadi skeptis terhadap apa yang diinginkan orang lain darinya. Emosi yang sangat kuat yang dialami manusia umumnya diekspresikan melalui metode seperti seni. Di antara bentuk-bentuk seni ini, musik menonjol. Kehadiran musik di hampir setiap lingkungan yang kita temui menjadikannya salah satu media paling umum untuk ekspresi emosional. Salah satu musisi yang dikenal menggunakan video musik adalah Nathan John Feuerstein. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana masalah kepercayaan digambarkan dalam video musik NF berjudul "Let You Down". Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini diambil dari video musik resmi di kanal Vevo NF di YouTube, dengan tautan https://www.youtube.com/watch?v=fbHbTBP_u7U. Data tersebut berupa adegan dari video musik yang menggambarkan tanda-tanda masalah kepercayaan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikoanalisis Freud tentang masalah kepercayaan. Dari data yang diperoleh, peneliti menyimpulkan bahwa masalah kepercayaan yang dialami NF sangat terkait dengan kondisi masa kecilnya, terutama hubungannya yang rumit dengan ayahnya. Kurangnya dukungan emosional, kritik terus-menerus, dan perasaan dikecewakan oleh orang tuanya selama masa kecil menciptakan fondasi ketidakpercayaan. Sebagai seorang anak, ia mungkin menginternalisasi pesan bahwa orang-orang terdekatnya berbahaya, yang menyebabkan ia membangun dinding pertahanan dan mempertanyakan ketulusan orang lain saat dewasa. Lirik dan visualnya menggambarkan ketakutan akan kerentanan dan pengkhianatan, mencerminkan bagaimana pengalaman-pengalaman ini membentuk pandangannya terhadap dunia.The basis of any relationship is trust. Everything else is destined to failure without trust. a person who has trouble trusting others could be skeptical of what other people want from them. The overwhelming emotion which human experience is commonly expressed through method such as turning them to art. Among these forms, music stands out. Music presence in almost every environment we encounter makes it one of the most preferred mediums for emotional expression. One of the musicians known to use music video is Nathan John Feuerstein. This research aims to find how trust issues is portrayed in NF’s music video “Let You Down”. The method used in this thesis is descriptive qualitative method. The data of this research was from the The official music video on NF's Vevo channel from YouTube Link https://www.youtube.com/watch?v=fbHbTBP_u7U. The data were scenes from the music video that potrayed sign of trust issues. The theory used in this thesis is Freud’s psychoanalysis on trust issues. From the data the researcher concludes that the trust issues NF went through are closely tied to the circumstances of his upbringing, particularly his complicated relationship with his father. The lack of emotional support, constant criticism, and feelings of being let down by his parents during his childhood created a foundation of distrust. As a child, he likely internalized the message that those closest to him were harmful, leading him to build walls and question others' sincerity in adulthood. His lyrics and visual portrays fear of vulnerability and betrayal, reflecting how these experiences shaped his worldview.
4333546702J0A021029Producing Bilingual Informative Content on Purbasari Pancuran Mas Educational Tourism Park Instagram AccountLaporan Praktik Kerja Lapangan ini ditulis berdasarkan praktik kerja yang telah dilaksanakan di Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas pada tanggal 18 September 2023 sampai 18 Desember 2023. Laporan ini bertujuan untuk menyediakan konten dua bahasa di akun Instagram Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas. Tempat wisata ini merupakan salah satu objek wisata yang menggabungkan konsep wisata dan edukasi. Untuk menarik lebih banyak calon pengunjung, Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas menggunakan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp Bisnis.
Penulis menggunakan tiga metode untuk mengumpulkan informasi untuk konten: observasi, interview, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengetahui apakah Instagram merupakan media yang efektif untuk menyebarkan informasi dan sebagai media edukasi untuk khalayak umum. Interview digunakan untuk mengumpulkan informasi untuk menulis skrip konten. Dan dokumentasi digunakan untuk mengambil gambar dan video konten.
Dalam proses membuat konten informatif dua bahasa, penulis memilih 6 topik, yaitu Peta Rute Wisata, Himbauan, Fakta Menarik Hewan Julang Emas, dan Arapaima Gigas, Video Tutorial Pemesanan Tiket Online, dan pamflet Homestay Kraca Bungur. Setelah semua informasi berhasil dikumpulkan, penulis menerjemahkan semua informasi tersebut ke dalam bahasa Inggris dan kemudian menyerahkan hasil konten tersebut kepada tim pemasaran Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas. Ada juga kendala-kendala yang penulis temukan ketika memproduksi konten informatif dua bahasa, seperti kurangnya peralatan yang memadai untuk mengambil gambar untuk konten-konten yang akan diproduksi. Untuk mengatasi kendala tersebut, penulis meminjam kamera telepon genggam milik seorang teman. Kendala lain yang penulis temukan yaitu, sulitnya penulis menemukan waktu untuk berkonsultasi mengenai produk dengan tim pemasaran dari Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas. Penulis mengatasi kendala ini dengan membuat janji terlebih dahulu di H-2 atau H-3 sebelum penulis ingin berkonsultasi.
This Job Training Report was written based on the job training implemented at Purbasari Pancuran Mas Educational Tourism Park from 18 September 2023 to 18 December 2023. This report aimed to provide bilingual informative content on Purbasari Pancuran Mas Educational Tourism Park's Instagram account. This tourist attraction site is one of the tourist sites that conveys the combination of tourism and education. To promote and engage more potential visitors, Purbasari Pancuran Mas Educational Tourism Park uses social media, including TikTok, Instagram, and WhatsApp Business.
Three methods were used to gather content information: observation, interview, and documentation. The observation was used to measure whether Instagram is an effective medium for spreading information and as an educative medium for the public. The interview was used to gather some information for writing the content script. Documentation was used to capture pictures and videos for the content.
In the process of producing bilingual informative content, 6 topics was chosen for the content, namely Tourist Route Map, Appeals, Animal Fun Fact Wreathed Hornbill and Arapaima Gigas, Online Ticket Booking Video Tutorial, and Kraca Bungur Homestay pamphlet. After all the information had been collected, all the content scripts were translated into English and then submitted the content to the public relations and marketing division of Purbasari Pancuran Mas Educational Tourism Park. There were also obstacles found when producing the bilingual informative content, such as a lack of the equipment used to take the pictures for the content. To overcome this obstacle, a friend's camera phone was borrowed. Another obstacle founded was the time to consult with the public relations and marketing division about the product. The solution for this obstacle was to make an appointment in D-2 or D-2 before consulting.
4333646703E1B020036CYBERCRIME JURISDICTION
ACCORDING TO INTERNATIONAL LAW
(Case Study of Cybercrime by Malaysian Nationals Against Companies in the
United States of America in 2014)
Kejahatan Siber adalah setiap aktivitas kriminal yang melibatkan komputer baik
sebagai instrumen, target, atau sarana untuk melanggengkan kejahatan berada dalam lingkup
kejahatan siber. Kasus kejahatan siber yang menjadi sorotan adalah sebuah peristiwa pada
2014 yang dilakukan oleh Wong Ong Hua dan Ling Yang Ching warga negara Malaysia,
dengan bekerja sama hacker dari china menargetkan perusahaan video game di Amerika
Serikat dan di seluruh dunia untuk melakukan penipuan, peretasan komputer, pencurian
identitas, dan pencucian uang dan untuk menjual barang-barang digital yang diperoleh secara
illegal. Amerika Serikat mengajukan permintaan ekstradisi kepada Malaysia agar pelaku
dapat diadili oleh Amerika Serikat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui yurisdiksi kejahatan siber berdasarkan
hukum internasional serta menganalisis penerapan yurisdiksi kejahatan siber yang dilakukan
oleh warga negara Malaysia terhadap perusahaan di Amerika Serikat pada tahun 2014.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian
deskriptif analisis dan metode pendekatan perundangan-undangan, pendekatan analisis,
pendekatan kasus. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan
data dilakukan dengan studi kepustakaan, kemudian data yang diperoleh disajikan dalam
bentuk teks deskriptif dan metode analisis data yang digunakan yaitu yuridis normatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yurisdiksi kejahatan siber
berdasarkan hukum internasional landasan yurisdiksinya menggunakan konvensi
internasional terkait yaitu Konvensi Budapest 2001 dan United Nations Convention Against
Transnational Organized Crime (UNTOC). Sifat transnasional kejahatan siber melibatkan
yurisdiksi antarnegara dalam penegakannya dan mengharuskan negara-negara yang terlibat
melakukan kerja sama internasional. Penerapan yurisdiksi dalam kasus cybercrime oleh
warga negara Malaysia terhadap perusahaan di Amerika Serikat pada 2014 yang dianalisis
menggunakan prinsip yurisdiksi nasionalitas aktif dan teritorial subjektif, menunjukkan bahwa
Malaysia berhak untuk mengadili pelaku dan tidak wajib melaksanakan penyerahan ekstradisi
kepada Amerika Serikat.
Cybercrime is any criminal activity that involves computers either as an
instrument, target, or means to perpetuate a crime within the scope of cybercrime.
The cybercrime case in the spotlight was an incident in 2014 committed by Wong
Ong Hua and Ling Yang Ching, Malaysian citizens, in collaboration with hackers
from China targeting video game companies in the United States of America and
around the world to commit fraud, computer hacking, identity theft, and money
laundering and to sell illegally obtained digital goods. The United States of America
submitted an extradition request to Malaysia so that the perpetrators could be tried
by the United States of America.
This study aims to determine the jurisdiction of cybercrime based on
international law and analyse the application of cybercrime jurisdiction committed
by Malaysian citizens against companies in the United States of America in 2014.
This research uses normative juridical research with descriptive analysis and statute
approach, analytical approach and case approach. The data source used is secondary
data. The data collection method is conduct by literature study, then the data
obtained is presented in the form of descriptive text and the data analysis method
used is normative juridical.
Based on the results of the research, it can be concluded that the jurisdiction
of cybercrime based on international law is based on relevant international
convention such as the Budapest Convention 2001 and United Nations Convention
Against Transnational Organized Crime (UNTOC). The transnational nature of
cybercrime involves interstate jurisdiction in its enforcement and requires the states
involved to conduct international cooperation. The application of jurisdiction in a
cybercrime case by a Malaysian citizen against a company in the United States of
America in 2014 analysed using the principles of active nationality jurisdiction and
subjective territoriality, shows that Malaysia has the right to try the perpetrator and
is not obliged to carry out extradition to the United States of America
4333746704E1A020273Harmonisasi Ketentuan Tindak Pidana Kekerasan Seksual Dalam Hukum Pidana Positif IndonesiaHARMONISASI KETENTUAN TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL DALAM HUKUM PIDANA POSITIF INDONESIA

ABSTRAK

Oleh:
ALVIAN CANDRA HAVEANTO
NIM. E1A020273

Harmonisasi ketentuan tindak pidana kekerasan seksual dalam hukum pidana Indonesia bertujuan untuk mencapai keseimbangan, keserasian, dan keselarasan norma-norma hukum dalam peraturan perundang-undangan terkait tindak pidana kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, menganalisis ketentuan tindak pidana kekerasan seksual dalam hukum positif; kedua, menganalisis perbedaan ketentuan tersebut dalam hukum positif. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif, bersifat preskriptif, dengan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan, disajikan dalam bentuk uraian dan dianalisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: KUHP mengatur tindak pidana kekerasan seksual secara umum. UU PKDRT fokus pada kekerasan seksual dalam konteks rumah tangga dan meliputi berbagai aspek perlindungan korban. UU TPPO menangani perdagangan orang, termasuk eksploitasi seksual. UU Perlindungan Anak memberikan perlindungan khusus terhadap anak dari berbagai bentuk kekerasan seksual, baik dalam maupun di luar keluarga. UU TPKS menawarkan kerangka hukum yang lebih rinci untuk kekerasan seksual. Perbedaan tindak pidana kekerasan seksual dalam hukum positif Indonesia terletak pada pengaturan di berbagai undang-undang dan peraturan yang memiliki ketentuan spesifik. Peraturan tersebut saling melengkapi dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana kekerasan seksual. Perbedaan antara KUHP dengan undang-undang kekerasan seksual lain, dimana KUHP mengatur unsur kekerasan seksual secara umum, sedangan undang-undang kekerasan seksual lain yang mengatur tentang tindak pidana kekerasan seksual secara spesifik sesuai dengan konteks undang-undang dimaksud dengan memuat unsur kekerasan psikis, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual. Sehingga antara KUHP dengan peraturan kekerasan seksual yang lain tidak bisa diharmonisai dikarenakan KUHP hanya bersifat umum sedangkan peraturan kekerasan seksual yang lain lebih bersifat khusus.
HARMONIZATION OF SEXUAL VIOLENCE CRIMINAL PROVISIONS IN INDONESIAN POSITIVE CRIMINAL LAW
ABSTRACT
By:
ALVIAN CANDRA HAVEANTO
Student ID: E1A020273
The harmonization of provisions related to sexual violence offenses in Indonesian criminal law aims to achieve balance, harmony, and alignment of legal norms in legislation concerning sexual violence offenses. This study aims to: first, analyze the provisions of sexual violence offenses in positive law; second, analyze the differences in these provisions within positive law. The research adopts a juridical-normative approach, is prescriptive in nature, using secondary data collected through literature studies, presented in descriptive form, and analyzed qualitatively in a normative manner. Based on the results of the study and discussion, the following conclusions can be drawn: the Criminal Code (KUHP) regulates sexual violence offenses in general; the Domestic Violence Law (UU PKDRT) focuses on sexual violence within the household context and includes various aspects of victim protection; the Human Trafficking Law (UU TPPO) addresses human trafficking, including sexual exploitation; the Child Protection Law (UU Perlindungan Anak) provides specific protection for children from various forms of sexual violence, both within and outside the family; and the Sexual Violence Crime Law (UU TPKS) offers a more detailed legal framework for sexual violence. The differences in sexual violence offenses within Indonesia's positive law lie in their regulation across various laws and regulations with specific provisions. These regulations complement each other in the enforcement of sexual violence offenses. The distinction between the Criminal Code and other sexual violence laws is that the Criminal Code regulates the elements of sexual violence in a general manner, while other sexual violence laws regulate specific offenses according to their respective contexts, including elements of psychological violence, physical violence, and sexual violence. Therefore, harmonization between the Criminal Code and other sexual violence regulations is not possible, as the Criminal Code is general, while the other sexual violence laws are more specific.
4333846686H1D019052IMPLEMENTASI MARKET BASKET ANALYSIS MENGGUNAKAN ALGORITMA FREQUENT PATTERN GROWTH (FP-Growth) BERBASIS WEBSITE PADA DATA PENJUALAN CV INDO JAVA LANDBerdasarkan riset yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah perusahaan minuman berskala kecil di Indonesia pada tahun 2022 meningkat sebesar 199% dari tahun 2021. CV Indo Java Land berkeinginan untuk mengembangkan bisnisnya dengan memiliki pemahaman preferensi target pasar. Tiap produk yang diproduksi oleh CV Indo Java Land memiliki banyak varian. Hal ini menimbulkan pertanyaan, variasi apa saja yang menjadi kegemaran pelanggan, dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Salah satu cara untuk mendapatkan wawasan ini adalah melalui analisis keranjang belanja atau Market Basket Analysis. Penelitian ini menggunakan algoritma Frequent Pattern Growth dan Python sebagai bahasa pemrograman dan pengembangan web dengan Streamlit. Penelitian ini berhasil menghasilkan aturan asosiasi yang dapat dimanfaatkan oleh analis data sebagai sistem pendukung keputusan dalam menentukan paket promo barang, didapatkan 30 aturan asosiasi dengan nilai minimum support 0,01, confidence 0,1, dan lift 1. Dan sebanyak 16 aturan asosiasi dengan konfigurasi nilai minimum support 0,01, confidence 0,2, dan lift 1.Based on the research conducted by the Central Statistics Agency, the number of small-scale beverage companies in Indonesia in 2022 increased by 199% compared to 2021. CV Indo Java Land aims to expand its business by understanding the preferences of the target market. Each product produced by CV Indo Java Land has many variations. This raises the question of which variations are favored by customers and what can be done to increase sales. One way to gain insights is through market basket analysis. This research uses the Frequent Pattern Growth algorithm and Python programming language, with web development facilitated through Streamlit. This study successfully produced association rules that can be utilized by data analysts as a decision support system for determining promotional item bundles. A total of 30 association rules were generated with a minimum support value of 0.01, confidence of 0.1, and lift of 1. Additionally, 16 association rules were obtained using a configuration of minimum support value 0.01, confidence of 0.2, and lift of 1.
4333946501H1D019037APLIKASI ANDROID IDENTIFIKASI PENYAKIT BUAH KAKAO MENGGUNAKAN ALGORITMA CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK (CNN) INCEPTION RESNET DENGAN REST APIPeningkatan konsumsi buah kakao dunia tidak disertai dengan peningkatan produksi menimbulkan permasalahan kekurangan pasokan di dunia. Penyebab tersendatnya peningkatan produksi buah kakao salah satunya disebabkan oleh penyakit yang menyerang buah kakao. Penyakit tersebut dapat mengakibatkan tumbuhan tidak produktif, buah kakao tidak dapat dipakai, hingga menyebabkan penyebaran wabah dalam satu kebun buah kakao. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah identifikasi penyakit pada buah kakao agar dapat mengurangi penyebaran penyakit. Proses identifikasi biasanya dilakukan secara mandiri oleh para petani. Identifikasi penyakit buah kakao memerlukan pengetahuan dan pengalaman oleh para petani, sehingga dapat menyebabkan kesalahan identifikasi ataupun kegagalan identifikasi penyakit. Selain itu, dapat muncul faktor lain seperti jumlah petani yang memeriksa, luas kebun buah kakao, hingga urgensi identifikasi.
Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan aplikasi android dengan menggunakan algoritma Convolutional Neural Network (CNN) dengan arsitektur inception resnet. Data yang digunakan berupa citra yang diperoleh dari Kota Davao, Filipina. Proses pembuatan aplikasi android menggunakan framework Flutter dengan arsitektur Representational State Transfer Application Programming Interface (REST-API). Model yang diperoleh dari dataset yang dianalisis mendapatkan hasil terbaik 0.99, nilai specificity sebesar 0.99, dan nilai F1-score sebesar 0.99. Konfigurasi model yang digunakan yaitu nilai learning rate 0.0001, fungsi optimasi RMSProp, fungsi inisialisasi (x) He uniform, , fungsi inisialisasi (y) Glorot normal, serta dengan ukuran batch 32.
The increase in world cocoa consumption is not accompanied by an increase in production, causing a problem of supply shortages in the world. One of the causes of the stagnation in the increase in cocoa production is due to diseases that attack cocoa fruit. The disease can cause unproductive plants, unusable cocoa fruit, and even cause the spread of epidemics in a cocoa fruit garden. One of the preventions that can be done is to identify diseases in cocoa fruit in order to reduce the spread of the disease. The identification process is usually carried out independently by farmers. Identification of cocoa fruit diseases requires knowledge and experience by farmers, so it can cause misidentification or failure to identify the disease. In addition, other factors can arise such as the number of farmers who check, the area of the cocoa fruit garden, and the urgency of identification.
To help overcome these problems, an Android application was developed using the Convolutional Neural Network (CNN) algorithm with the inception resnet architecture. The data used is in the form of images obtained from Davao City, Philippines. The process of creating an Android application uses the Flutter framework with the Representational State Transfer Application Programming Interface (REST-API) architecture. The model obtained from the analyzed dataset obtained the best results of 0.99, a specificity value of 0.99, and an F1-score value of 0.99. The model configuration used was a learning rate value of 0.0001, an optimization function of RMSProp, an initialization function (x) of He uniform, an initialization function (y) of Glorot normal, and a batch size of 32.
4334046705D1A020140Produksi Susu Sapi Perah dan Dampak Luka Ambing Yang Dihasilkan
dengan Metode Pemerahan Susu Sistem Mesin Perah dan Sistem
Robotik di Peternakan Wahei Limited Company
Penelitian bertujuan untuk mengetahui produksi susu sapi
perah dan dampak luka ambing yang dihasilkan dengan
metode pemerahan susu sistem mesin perah dan sistem robotik
di perusahaan Wahei Co., Ltd, Betsukai, Hokkaido, Jepang.
Penelitian menggunakan 25 ekor sapi Friesian Holstein yang
dialokasikan kedalam 2 (dua) kelompok, pertama 10 ekor
diperah dengan mesin perah, kedua 15 ekor diperah dengan
sistem robotik. Semua sapi percobaan diberi makanan basah
hijauan dan konsentrat yang sama masing-masing sebanyak 40
kg dan 13 kg per ekor per hari. Metode yang digunakan adalah
survei dengan mengambil data primer berupa produksi susu
dan tingkat luka ambing, serta data sekunder berupa catatan
penunjang yang ada di Perusahaan Wahei Co., Ltd. Hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa produksi susu sangat
nyata (P<0.01) lebih tinggi pada sistem robotik dibandingkan
dengan pemerahan menggunakan mesin perah. Demikian pula
tingkat luka ambing lebih sedikit (13%) pada sistem robotik
dibandingkan pada pemerahan dengan mesin perah (50%).
Disimpulkan bahwa pemerahan sistem robotik lebih baik dibandingkan dengan sistem mesin perah.
The goals of this research were to look into the milk output of
dairy cows at Wahei Co., Ltd. in Betsukai, Hokkaido, Japan,
as well as the impact of udder wounds of using robotic and
machine milking techniques. A total of twenty-five Friesian
Holstein cows were employed in the study. Ten of the cows
were milked by a milking machine in the first group, and
fifteen more by a robotic system in the second. Forage wet
food weighing up to 40 kg and concentrate weighing up to 13
kg per cow per day were fed to all experimental cows. The
technique employed was a survey that collected secondary
data from Wahei Co. Company, Ltd.'s supporting documents
in addition to primary data on milk production and impact of
udder wounds. The results of statistical analysis showed that
milk production was significantly (P<0.01) higher in the
robotic system compared to milking using a milking machine.
Similarly, the level of udder wounds health was less (13%) in
the robotic system than in milking with a milking machine
(50%). It was concluded that robotic system milking is better
than the milking machine system.