Home
Login.
Artikelilmiahs
45721
Update
FEBRIANI UTAMI
NIM
Judul Artikel
Risiko Usahatani Kubis di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kubis (Brassica oleracea var. capitata) merupakan tanaman sayuran krop yang memiliki banyak kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk tubuh. Kubis umunya dibudidayakan di daerah dataran tinggi salah satunya adalah Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Usahatani kubis memiliki berbagai hambatan pada proses produksinya yang berasal dari berbagai sumber seperti produksi, pasar, harga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani kubis, untuk mengetahui tingkat risiko produksi, harga, dan pendapatan usahatani kubis, dan untuk mengetahui sumber-sumber risiko usahatani kubis. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survey di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga dari bulan November hingga Desember 2023. Responden diambil dengan metode cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 petani kubis. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian ini yaitu 1) rata-rata biaya usahatani dengan luas lahan 0,17 ha yang dikeluarkan oleh petani kubis sebesar Rp3.810.504., rata-rata penerimaan usahatani kubis sebesar Rp10.471.296, dan rata-rata pendapatan usahatani kubis sebesar Rp6.660.792, 2) tingkat risiko produksi usahatani kubis memiliki nilai CV sebesar 0,078, risiko harga memiliki nilai CV sebesar 0,057, dan risiko pendapatan memiliki nilai CV sebesar 0,178. Petani kubis di Kecamatan Karangreja akan mendapatkan keuntungan atau mengalami impas, dan 3) sumber-sumber risiko usahatani kubis di Kecamatan Karangreja di antaranya adalah perubahan iklim dan cuaca, gangguan organisme pengganggu tanaman, harga kubis yang fluktuatif, kurangnya gapoktan dalam membantu ketersediaan sarana dan prasarana produksi, berkurangnya tenaga kerja dalam produksi, dan modal usahatani yang terbatas.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) is a crop vegetable plant that contains a lot of vitamins and minerals essential for the body. Cabbage is commonly cultivated in highland areas like the Karangreja district in Purbalingga Regency. Cabbage farming faces numerous challenges in the production process, come from various sources such as production, markets, and prices. This research aimed to determine the costs, revenue, and income of cabbage farming, identify the levels of risk in production, price, income, and pinpoint the sources of these risks. The research was conducted using a survey method in the Karangreja district, Purbalingga Regency, from November to December 2023. A total of 50 cabbage farmers were selected as respondents through cluster sampling method. The analysis methods used were both descriptive and quantitative. The results of this research are 1) the average cost of farming with a land area of 0.17 ha incurred by cabbage farmers is Rp3.810.504, the average revenue from cabbage farming is Rp10.471.296, and the average income from cabbage farming is Rp6.660.792, 2) the production risk level of cabbage farming has a CV value of 0.078, the price risk has a CV value of 0.057, and the income risk has a CV value of 0.178. Cabbage farmers in Karangreja District will benefit or break even, and 3) sources of risk of cabbage farming in Karangreja District include climate and weather changes, disturbances by plant pests, fluctuating cabbage price, lack of gapoktan to help with the availability of production facilities and infrastructure, the reduction of labor in production,, and limited farming capital.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save