Artikelilmiahs
Menampilkan 4.061-4.080 dari 48.757 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 4061 | 13892 | A1L110001 | SELEKSI GALUR-GALUR PADI GOGO UNTUK MENDAPATKAN VARIETAS PADI GOGO TOLERAN KEKERINGAN PADA FASE PEMBIBITAN | Penelitian ini bertujuan untuk :1)Memperoleh galur murni padi gogo toleran kekeringan untuk calon varietas unggul toleran kekeringan . 2)Mengidentifikasi adanya padi gogo toleran kekeringan. Penelitian dilaksanakan di labaratorium Pemulian, Bioteknologi tanaman dan screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Puwokerto. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan mulai bulan September 2014 - Oktober 2014, rancangan RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) faktor pertama yang di coba 40 galur dan 3 varietas, IRAT 144, HAWARA BUNAR, KOSHI, faktor kedua Yosida 0 % PEG, Yosida 10 % PEG. Variabel yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah tajuk, dan bobot kering tajuk. Analisis yang dipakai uji F dan uji lanjut UJGD taraf 5 %. Tanaman yang kekeringan mengalami stres dapat menunjukan gejala pada penurunan pertumbuhan, baik daun, batang dan akar. Kondisi seperti ini evapotranpiasi menjadi rendah sehingga tanaman bisa bertahan hidup lebih lama. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua padi yang diberikann cekaman akan terhambat pertumbuhanya, pada semua galur hanya tinggi tanaman yang memberikan repon yang baik, dari hasil analisis ragam hanya tinggi tanaman yang sangat nyata. | This study aims to: 1) Obtaining a pure strain of drought-tolerant upland rice varieties tolerant to drought candidate. 2) Identify the drought-tolerant upland rice. The experiment was conducted in labaratorium Pemulian, plant biotechnology and screen house the Faculty of Agriculture, University of General Sudirman Puwokerto. Research carried out for 1 month starting in September 2014 - October 2014, the draft RAKL (Design Randomized Complete) the first factor in trying to 40 lines and three varieties, IRAT 144, Hawara Bunar, Koshi. the second factors is Yosida 0% PEG, Yosida 10% PEG , Observed variables plant height, leaf number, root length, wet weight root, root dry weight, wet weight crown, and shoot dry weight. The analysis used F test and further UJGD level of 5%. Plants are drought stress can show symptoms of a decrease in the growth of both leaves, stems and roots. Such conditions evapotranpiasi be low so that the plants can survive longer. The results showed that all the rice will be hampered pertumbuhanya diberikann stress, in all strains only plant height gives good repon, from the results of analysis of variance of plant height only very real. | |
| 4062 | 13891 | F1B111035 | PENGARUH KOMUNIKASI SUMBERDAYA DISPOSISI DAN STRUKTUR BIROKRASI TERHADAP IMPLEMENTASI ELECTRONIC GOVERNMENT PADA WEBSITE PEMERINTAH KOTA BOGOR | Electronic Government adalah penggunaan teknologi informasi (internet) untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Bogor mengaplikasikan konsep e-Government untuk mewujudkan Bogor sebagai Kota yang Cerdas (Smart City), dibutuhkan proses pelaksanaan yang baik, tapi dalam implementasi e-Government pada website Kota Bogor belum berjalan optimal. Penelitian ini mengkaji Implementasi, mengacu pada teori Implementasi George Edward III yang terdiri dari Variabel Komunikasi, Sumberdaya, Disposisi, dan Struktur Birokrasi. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara Komunikasi, Sumberdaya, Disposisi, dan Struktur Birokasi terhadap Implementasi Kebijakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, dan teknik analisis dengan menggunakan korelasi Kendall Tau-b, konkordansi Kendall W, dan Regresi Ordinal. Hasil analisis statistik membuktikan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi terhadap implementasi dengan nilai koefisien regresi sebesar 21.765, yang signifikan pada taraf 0,16, serta koefisien determinan sebesar 21,6%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara sumberdaya terhadap implementasi dengan nilai koefisien regresi sebesar 25.604, yang signifikan pada taraf 0,006, serta koefisien determinan sebesar 30,9%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara disposisi terhadap implementasi dengan nilai koefisien regresi sebesar 23.626, yang signifikan pada taraf 0,52, serta koefisien determinan sebesar 20,3%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara struktur birokrasi terhadap implementasi dengan nilai koefisien regresi sebesar 15.486, yang signifikan pada taraf 0,035, serta koefisien determinan sebesar 12,1%. Terdapat pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap implementasi dengan nilai koefisien regresi sebesar 51.170, yang signifikan pada taraf 0,01, serta koefisien determinan sebesar 60,9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi terhadap implementasi; sumberdaya terhadap implementasi; disposisi terhadap implementasi; struktur birokrasi terhadap implementasi; serta pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap Implementasi Electronic Government di Kota Bogor. | Electronic Government is an internet uses to improve the efficiency, effectiveness, transparency and accountability of the Government. Bogor City applied the concept of e-Government to achive as a smart city. To achieve that goal required a good implementation process, but in reality the electronic government implementation on Bogor City government website not running optimally. This research examines the implementation, refers to theory of Implementation George Edward III consisting of Variable Communication, Resources, Disposition, and Bureaucratic Structure. The hypothesis in this research is there is a positive influence and significant between Communication, Resources, Disposition, and Structure Bureaucracy jointly against Implementation. Survey approach is the methods used, and analysis techniques using Kendall Tau-b correlation, concordance Kendall W, and Ordinal Regression. The results of statistical analysis proves that there is a positive influence and significant between communication against implementation with the value of regression coefficient 21.765, significant extent 0,16, and determinant coefficient 21,6%. The results of statistical analysis proves that there is a positive influence and significant between resources against implementation with the value of regression coefficient 25.604, significant extent 0,006, and determinant coefficient 30,9%. The results of statistical analysis proves that there is a positive influence and significant between disposition against implementation with the value of regression coefficient 23.626, significant extent 0,52, and determinant coefficient 20,3%. The results of statistical analysis proves that there is a positive influence and significant between bureaucratic structure against implementation with the value of regression coefficient 15.486, significant extent 0,035, and determinant coefficient 12,1%. The results of statistical analysis proves that there is a positive influence and significant between communication, resources, disposition, and structure bureaucracy jointly against implementation with the value of regression coefficient 51.170, significant extent 0,01, and determinant coefficient 60,9%. Based on the results of the research it can be concluded that there is a positive influence and significant between communication against implementation; resources against implementation; disposition against implementation; bureaucratic structure against implementation; and a positive influence and significant between communication, resources, disposition, and structure bureaucracy jointly against implementation. | |
| 4063 | 13920 | A1L010243 | KAJIAN PEMANFAATAN BIO P60 UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK CERCOSPORA(Cercospora longissima Sacc.) PADA DAUN SELADA ORGANIK | Kualitas selada merupakan prasyarat hal yang mutlak bagi penikmat lalapan selada. Adanya kecacatan akibat penyakit dan serangan hama harus dihindari. Oleh karena itu, penyakit Cercospora yang biasa menyerang tanaman selada harus dikendalikan. Bakteri antagonis dapat digunakan untuk pengendalian penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) kemampuan Bio P60 untuk mengendalikan serangan patogen Cercospora longissima pada tanaman selada organik dan 2) pengaruh Bio P60 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2015 di Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas (600 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non-faktorial, dengan 5 perlakuan yaitu penyemprotan Bio P60 1 kali, 2 kali, 3 kali, dan 4 kali, dan tanpa penyemrpotan (kontrol). Variabel yang diamati yaitu intensitas penyakit, masa inkubasi, kejadian penyakit, jumlah daun, bobot segar dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bio P60 belum mampu mengendalikan penyakit bercak Cercospora pada tanaman selada organik, tetapi mempunyai potensi mengendalikan penyakit tersebut. Ini ditunjukkan dengan penurunan intensitas penyakit sebesar 17,86%, perpanjangan masa inkubasi 31,87%, dan penurunan kejadian penyakit 1,34%. Penggunaan Bio P60 belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik, tetapi mempunyai potensi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman selada organik yaitu meningkatkan jumlah daun sebesar 1,62% dan tinggi tanaman sebesar 4,97%. | Lettuce quality is an important manner for lettuce consumers. Low performance due to be pests and diseases should be avoided. Therefore, Cercospora disease that attack lettuce must be controlled. Antagonistic bacteria could be used for controlling the disease. The goals of this research were to (1) know ability of Bio P60 in controlling the disease organic lettuce, and (2) study the effect of Bio P60 on growth and yield of lettuce. The research was carried out at Windujaya village, Kedungbanteng subdistric, Banyumas residence, from March to May 2015. Randomized completly block design was used in this experiment. Let treatments were spraying Bio P60 on crop once, 2, 3 and 4 times, and without spraying, with 5 replicates. Observed variables were disease intensity, incubation period, number of leaves, fresh weight, and height of plants. Results of the research showed that Bio P60 did not control the disease yet. Our, it had potency as biofungicide for controlling the disease by decreasing the disease intensity as 17.86 %, prolonging incubation period as 31.87 %, and decreasing disease incidence of 1.34%. Usage of Bio P60 did not increase growth and yield of lettuce. | |
| 4064 | 14045 | B1J011135 | KULTUR MIKROALGA Navicula sp. PADA MEDIA LIMBAH CAIR TAPIOKA DENGAN TINGKAT PENGENCERAN DAN KONSENTRASI FOSFAT YANG BERBEDA | Limbah cair tapioka dapat dijadikan sebagai media kultur mikroalga karena mengandung beberapa unsur hara yang dibutuhkan untuk kehidupan mikroalga, salah satunya adalah fosfat. Fosfat berpengaruh baik pada proses pembelahan sel dan pembentukan lemak. Limbah cair tapioka harus diencerkan terlebih dahulu dengan menambahkan akuades. Proses pengenceran ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam media yang berpengaruh terhadap proses fotosintesis mikroalga. Salah satu mikroalga yang dapat hidup di limbah cair tapioka yaitu Navicula sp. Mikroalga ini mampu hidup dengan mendapatkan unsur hara yang berasal dari limbah cair tapioka yang telah mengalami penguraian oleh mikroorganisme. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial. Faktor I adalah tingkat pengenceran limbah cair tapioka, sedangkan sebagai faktor II adalah konsentrasi fosfat . Parameter utama yang diukur yaitu kepadatan Navicula sp. Hasil uji variansi pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% menunjukkan bahwa interaksi antara tingkat pengenceran dan konsentrasi fosfat berpengaruh dalam peningkatan kepadatan Navicula sp. pada kultur skala laboratorium. Hasil uji Duncan menunjukkan perlakuan terbaik yang menghasilkan kepadatan Navicula sp. maksimal adalah media limbah cair tapioka dengan tingkat pengenceran 20% tanpa penambahan fosfat. | Tapioca liquid waste can be used as a medium for microalgae culture because they contain some nutrients that support microalgae’s life, one of those nutrients is phosphate. Phosphate has a good effect on cell division process and fat formation. The waste has to be diluted first by adding distilled water. This dilution process aims to increase light intensity that comes into the medium which affects photosynthesis process of microalgae. One of microalgae that can live in tapioca liquid waste is Navicula sp. This microalgae capable to live by getting nutrients from derived tapioca liquid waste that has been decomposed by microorganisms. This research used experimental method with Completely Randomized Design (RAL) factorial pattern. The first factor was the degree of dilution tapioca liquid waste and the second factor was concentration of phosphate. The main parameter was density of Navicula sp. Results of variance test at 95% and 99% confidence level indicated that the interaction of the different levels of phosphate dilution and concentration gave a very real effect on the density of Navicula sp. on a laboratory scale culture. Whereas Duncan test results indicated that the best treatment for the medium was with 20% dilution rate without phosphate addition. | |
| 4065 | 13981 | A1C011019 | POLA KEMITRAAN DALAM PEMASARAN MANGGA GEDONG GINCU DI KECAMATAN SEDONG KABUPATEN CIREBON | Kecamatan Sedong merupakan salah satu sentra produksi mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon. Ketidakpastian pasar dan harga merupakan masalah yang umumnya sering dihadapi petani dalam pemasaran. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan adanya penerapan pola kemitraan antara gapoktan dengan perusahaan eksportir. Tidak semua petani menerapkan pola kemitraan dalam pemasaran, bahkan sebagian petani lebih memilih tidak bermitra. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi saluran pemasaran mangga gedong gincu dengan pola kemitraan dan non kemitraan. (2) Membandingkan marjin pemasaran mangga gedong gincu pada saluran pemasaran dengan pola kemitraan dan non kemitraan.(3) Membandingkan farmer’s share dengan pola kemitraan dan non kemitraan.(4) Mengetahui tingkat efisiensi antara saluran pemasaran mangga gedong gincu dengan pola kemitraan dan non kemitraan. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penentuan responden petani dilakukan dengan metode Simple Random Sampling dan untuk responden lembaga pemasaran menggunakan metode Snowball Sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, marjin pemasaran, Farmer’s Share, efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat empat pola saluran pemasaran mangga gedong gincu di Kecamatan Sedong, saluran I yaitu petani mitra – gapoktan – eksportir, saluran II yaitu petani mitra – gapoktan – eksportir – pengecer, saluran III yaitu petani non mitra – pedagang pengumpul – eksportir, dan saluran IV yaitu petani non mitra – pedagang pengumpul – eksportir – pengecer (2) Marjin pemasaran mangga gedong gincu pada pola saluran kemitraan yaitu saluran I lebih kecil dibandingkan dengan saluran non kemitraan yaitu saluran III, saluran II lebih kecil dibandingkan saluran IV. (3) Farmer’s share mangga gedong gincu pada saluran pola kemitraan yaitu saluran I mempunyai persentase yang lebih besar dibandingkan dengan saluran non kemitraan yaitu saluran III,saluran II mempunyai persentase lebih besar dibandingkan saluran IV (4) Saluran pemasaran pola kemitraan yaitu II merupakan saluran yang paling efisien jika dibandingkan dengan saluran lainnya. | Sedong District is one of the gedong gincu mango production center in Cirebon Regency. Market uncertainty and price is an issue that generally frequently faced by farmers in marketing. Those problems can be overcome with the implementation of a partnership between the gapoktan and exporters. Not all farmers to implement a marketing partnership, even some farmers prefer not to partner. This research aims to (1) Identify of gedong gincu mango marketing channels with a partnership and non partnerships. (2) Compare of gedong gincu mango marketing margin on marketing channels with the partnership and non partnerships channel. (3) Compare the farmer's share with the partnership and non partnerships. (4) Knowing the level of efficiency between marketing channels of gedong gincu mango with a partnership and non partnerships. This research was conducted in the Sedong District of Cirebon Regency. The research method used is a survey method. Determination of farmer respondents was conducted by Simple Random Sampling method and marketing agencies using Snowball Sampling method. Analysis of the data used is descriptive analysis, marketing margin, Farmers share, technical and economic efficiency. The results of research showed that. (1) There are four of marketing channels gedong gincu mango in Sedong District, channel I that Farmers partners - gapoktan - exporters, channel II which Farmers partners - gapoktan - exporters - retailers, channel III which Farmers non-partners - collector - exporters, and the channel IV is Farmers non partners - collector - exporters – retailer. (2) The marketing margin gedong gincu mango on the first channel is smaller than the third channel, and the second channel is smaller than the fourth channel. (3) Farmer's share of gedong gincu mango on first marketing channels have a greater percentage than the third channel, the second channel has a larger percentage than the fourth channel. (4) Marketing partnership the second channel that is most efficient when compared with other channels. | |
| 4066 | 13893 | D1E011169 | TINGKAT KEPUASAN PETERNAK SAPI PERAH TERHADAP KINERJA KOPERASI DI KABUPATEN BOYOLALI | Penelitian yang dilaksanakan di KUD Mojosongo, KUD Musuk, dan KUD Cepogo di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakteristik peternak sapi perah yang terdiri dari umur, pendidikan, dan lama waktu menjadi anggota di KUD, 2) mengetahui tingkat kepuasan peternak sapi perah terhadap pelayanan yang di berikan oleh koperasi, dan 3) menganalisa hubungan antara karakteristik tersebut dengan tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang di berikan oleh koperasi. Terdapat 30 responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian yang diambil dari tiap KUD yang terpilih. Variabel yang diamati adalah umur, pendidikan, dan lama waktu menjadi anggota koperasi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik Penetapan Wilayah (KUD) menggunakan purposive sampling dan sampel dipilih dengan Metode Simple random sampling secara non proposional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) karakteristik peternak sapi perah di tiga KUD tersebut adalah sebagai berikut; sebagian besar berpendidikan SD, umur 27-47 tahun, dan lama menjadi anggota >5 tahun. 2) Tingkat kepuasan peternak sapi perah terhadap pelayanan yang diberikan oleh koperasi di KUD Mojosongo, KUD Musuk, dan KUD Cepogo di Kabupaten Boyolali dikategorikan sangat puas. 3) Ada hubungan yang nyata antara tingkat Pendidikan, Umur, dan Lama menjadi anggota koperasi dengan Tingkat Kepuasan di KUD Mojosongo, KUD Musuk, dan KUD Cepogo di Kabupaten Boyolali. Kata kunci: tingkat kepuasan, umur, pendidikan, lama menjadi anggota koperasi | This research, which had been conducted at KUD (Koperasi Unit Desa, village-based cooperative) Mojosongo, KUD Musuk, and KUD Cepogo in Boyolali Regency, Central Java, aims at 1) assessing the dairy farmers’ characteristics which consists of age, education, and length of their membership at the KUDs; 2) measuring the dairy farmers’ satisfaction level with the cooperative service in Boyolali; and 3) observing the relationship between the ¬farmer’s characteristics and the satisfaction level with the cooperative service. There were 30 respondents taken as the research sample from each selected KUD. The variables being measured were their age, education, and length of membership at the cooperatives. The method used was the Zoning Technique (KUD) using purposive sampling and the sample was selected by non-proportionally simple random sampling method. The results show that 1) the characteristics of dairy farmers at the three KUDs are that the majority of them have elementary education, age 27-47 years old, and have been members for more than 5 years, 2) their satisfaction level with Cooperative service is categorized as very satisfied, and 3) there is a concrete relationship between the level of education, age, and duration as cooperative member with the satisfaction level. Keyword: satisfaction level, age, education, membership duration. | |
| 4067 | 13890 | E1A011124 | Penegakan Hukum Izin Usaha Pariwisata Di Kabupaten Majalengka | Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dalam menjalankan bentuk usaha/kegiatannya usaha pariwisata memerlukan izin dalam pelaksanaannya. Untuk terciptanya ketertiban kegiatan usaha pariwisata maka perlu ditetapkan pengaturan, penyelenggaraan, berikut penegakan hukumnya. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana penegakan hukum izin usaha pariwisata di Kabupaten dan membahas mengenai apa saja hambatan-hambatannya dalam penegakan hukum izin usaha pariwisata di Kabupaten Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Lokasi penelitian ini di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Majalengka. Jenis data menggunakan Data Sekunder dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian ini memberikan simpulan bahwa penegakan hukum izin usaha pariwisata di Kabupaten Majalengka dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan penerapan sanksi. Pengawasan dilakukan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal melalui pengawasan administrasi berupa pemberian izin usaha pariwisata. Penerapan sanksi dilakukan terhadap pelanggaran penyelenggaraan izin usaha pariwisata yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, berupa sanksi administratif yaitu peringatan tertulis, pencabutan izin usaha, penyegelan atau penutupan sementara usaha serta pembongkaran tempat usaha/kegiatan dan sanksi pidana berupa kurungan dan denda sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka No. 4 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Perizinan di Kabupaten Majalengka dan Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Hambatan-hambatan dalam melakukan penegakan hukum izin usaha pariwisata seperti pengawasan adalah kurangnya jumlah tenaga pengawasan di lapangan mengakibatkan kurangnya dilakukan pengawasan secara keseluruhan serta keterbatasan anggaran dan peran serta masyarakat dalam membantu penegakan dalam pelanggaran izin usaha pariwisata masih kurang dilakukan. | Tourism business is a business which provide goods and/or services for fulfilling the needs of travelers and tourism operation. As it stated in regulations number 10 of 2009 about tourism in running its establishment/activity, tourism businesses require a permit in its implementation. In order to create a neatness torism business activities, it is necessary to set the rules, operations, and also the law enforcements. This research discusses about how establishment of legal business license tourism in Majalengka District and discusses about the obstacles in the establishment of legal business license tourism in Majalengka. Normative juridicial approach is used in this research and specification descriptive study. This research sites in BPPTPM of Majalengka district. The type of data using secondary data with primary legal materials and secondary legal materials which compiled systematically. The result of the research gives conclusion that the establishment of legal business license tourism in Majalengka conducted through mechanism of monitoring and sanctions. Supervision conducted by BPPTPM through administrative supervision in the form of tourism business license. The application of sanction is done to the implementation of the tourism business license violations which is not accordance with the regulations, in the form of administrative sanctions formed in written warning, revocation of business license, sealing or temporary closure of business and demolition of business/activity place and criminal sanctions in the form of confinement and fines appropriate to Local Regulations of Majalengka District Number 4 year 2012 about Implementation of Licensing and in Regulation Number 10 year 2009 abou Tourism Operation. The obstacles in doing the establishment of legal business license tourism like supervision are the insufficient numbers of supervision personnel in the field which causing lack of overall supervision and budget constraints and community participation in helping the establishment in tourism business license violations still less to do. | |
| 4068 | 13895 | F1B011027 | EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT DALAM LELANG PENGADAAN PEMBANGUNAN TROTOAR JALAN HR BUNYAMIN TAHAP II TAHUN ANGGARAN 2014 KABUPATEN BANYUMAS | Pemerintah Kabupaten Banyumas menerapkan e-procurement sejak tahun 2010, dan telah menyelesaikan berbagai macam lelang, salah satunya adalah lelang pengadaan Pembangunan Trotoar Jalan HR Bunyamin Tahap II yang dipilih sebagai objek penelitian karena masih terdapat ragam kesenjangan antara tujuan e-procurement dengan kenyataan sehingga efektivitasnya belum optimal. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan mengapa efektivitas e-procurement dalam lelang ini masih belum optimal. Penelitian ini dilaksanakan di ULP dan LPSE dengan sasaran rekanan, panitia ULP, staf LPSE, dan Pejabat Pembuat Komitmen, yang berada di Kabupaten Banyumas. Efektivitas program diukur melalui sosialisasi program, pemahaman program, tersedianya sarana dan prasarana, serta pencapaian tujuan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Hasil penelitian ini yaitu: Pertama, berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas, terdapat perbedaan keterangan antara BAHP dengan informasi pengumuman pemenang di SPSE yang disebabkan karena SPSE versi 3.5 belum menyediakan otomatisasi dalam pembuatan BAHP yang tersinergi dengan SPSE, dan pembuatan jadwal upload dokumen penawaran yang sama dengan aanwizing, hal ini disebabkan karena rekanan kurang memanfaatkan fasilitas aanwizing dan SPSE versi 3.5 belum menyediakan pembuatan jadwal otomatis yang sesuai aturan. Kedua, berkaitan dengan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, banyak rekanan tidak dapat mengakses lelang ini karena belum memiliki syarat K3, hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan pemahaman rekanan terhadap syarat tersebut, kemudian terdapat dua indikasi persekongkolan yang disebabkan karena rekanan dan panitia kurang memahami rambu-rambu indikasi persekongkolan dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012. Ketiga, aplikasi e-monev belum dimanfaatkan dan audit e-procurement belum disinergikan dengan e-audit auditor, hal ini disebabkan karena aplikasi e-monev masih berada pada masa transisi dan belum terdapat aplikasi e-audit dalam e-procurement. Keempat, dalam pemenuhan kebutuhan akses informasi yang realtime, masih terdapat server error dan koneksi yang lambat, disebabkan karena maintenance serta kapasitas server dan bandwidth yang kurang memadai. Kesimpulannya adalah transparansi dan akuntabilitas yang belum optimal disebabkan oleh sarana SPSE versi 3.5 yang kurang baik, akses pasar dan persaingan sehat yang belum optimal disebabkan oleh sosialisasi dan pemahaman program yang kurang baik, monitoring dan audit yang belum optimal disebabkan karena belum siapnya ketersediaan sarana, dan akses informasi realtime yang belum optimal disebabkan oleh prasarana yang kurang memadai. | Government Banyumas implementing e-procurement since 2010, and has completed a wide range of auction, one of which is procurement auction of Bunyamin HR Road Pavement Construction Phase II is selected as the research object because there is still a wide gap between the objectives of e-procurement by the fact that its effectiveness has not been optimal. Therefore, the objective of this study is to explain why the effectiveness of e-procurement in this auction is still not optimal. This research was conducted at ULP and LPSE with targeted partners, the committee ULP, staff LPSE, and Committing Officer, residing in Banyumas. The effectiveness of the program is measured through a socialization program, understanding of the program, the availability of infrastructure, as well as the achievement of goals. The method used is descriptive qualitative and used purposive sampling for informant selection sampling. The results of this research are: First, with regard to transparency and accountability, there are differences in information between BAHP with information announcement of the winner on SPSE due SPSE version 3.5 does not yet provide automation in manufacturing BAHP that synergized with SPSE, and manufacture of upload schedule bidding documents together with aanwizing, this was due to an underutilization of facilities aanwizing by partner and SPSE version 3.5 does not yet provide an automatic schedule creation that according to the rules. Secondly, with regard to market access and fair business competition, many partners can not access this auction because it has no requirement K3, this is caused by a lack of socialization and understanding partner to qualify, then there are two indications of a conspiracy that caused a partner and the committee less understanding signposts indications of a conspiracy in the Presidential Decree No. 70 of 2012. Third, the application of e-monev untapped and auditing of e-procurement has not been synergized with e-audit the auditor, this was due to the application of e-monitoring and evaluation is still in transition and not yet there are e-audit in e-procurement. Fourth, in fulfillment of realtime access to information, there is still a server error and the connection is slow, due to maintenance and server capacity and bandwidth inadequate. The conclusion was that transparency and accountability are not optimal due to the means of SPSE version 3.5 is not good, market access and fair competition is not optimal due to the dissemination and understanding of the program is not good, monitoring and auditing are not optimal due to the immature state of availability of facilities, and access to realtime information that is not optimal due to inadequate infrastructure. | |
| 4069 | 13896 | D1E012199 | KEEMPUKAN, pH, DAN TINGKAT KESUKAAN TERHADAP SOSIS DAGING AYAM BROILER YANG DISUBSTITUSI DAGING ITIK PETELUR AFKIR | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh substitusi daging itik petelur afkir untuk daging ayam broiler terhadap keempukan, pH, dan tingkat kesukaan sosis. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk pengujian keempukan dan pH dengan perlakuan yaitu perbandingan antara daging ayam broiler : daging itik petelur afkir, P1= 100% : 0%, P2= 75% : 25%, P3= 50% : 50%, P4= 25% : 75%, dan P5= 0% : 100% dengan empat kali ulangan. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan untuk menguji tingkat kesukaan dengan 16 panelis semi terlatih sebagai pengujinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempukan dan pH berpengaruh tidak nyata (P>0,05), dan uji tingkat kesukaan berbeda sangat nyata (P<0,01). Sosis 75% : 25% memiliki tingkat kesukaan paling tinggi. Sosis 100% : 0%, sosis 75% : 25% dan sosis 50% : 50% memiliki tingkat kesukaan sama tetapi sosis 100% : 0% sedikit dibawah tingkat kesukaan sosis 75% : 25% dan diatas tingkat kesukaan sosis 50% : 50%. Sosis 50% : 50% dan sosis 25% : 75% memiliki tingkat kesukaan sama tetapi sosis 25% : 75% sedikit dibawah tingkat kesukaan sosis 50% : 50%. Sosis 0% : 100% memiliki tingkat kesukaan paling rendah. Disimpulkan bahwa sosis daging ayam broiler yang disubstitusi dengan daging itik petelur afkir sampai dengan 100% memiliki keempukan dan pH yang sama, tetapi tingkat kesukaan semakin berkurang. | This research aimed to assess the effects of substituting culled laying duck meat for broiler chicken meat on the tenderness, pH and the organoleptics levels of the sausage. This experimental research used the Completely Randomized Design (CRD) to assess the tenderness and pH with several treatments consisting of different comparisons between broiler meat and culled laying duck meat which were, respectively, P1= 100% : 0%, P2= 75% : 25%, P3= 50% : 50%, P4= 25% : 75%, and P5= 0% : 100%, each of which was repeated four times. The Group Random Design (RAK) was used to measure the organoleptics level tested by 16 semi-trained panelists. The results showed that the substitution does not significantly affect (P>0.05) the tenderness and pH of the sausage, but it does significantly affect (P<0.01) the organoleptics level. The sausage at 75%: 25% has the highest organoleptics level. The sausage at 100%: 0%, 75%: 25% and that at 50%: 50% have the similar organoleptics levels but that of 100%: 0%, has lower ornaoleptics level than that at 75%: 25% and higher than that at 50%: 50%. The sausage at 50%: 50% and that at 25%: 75% have the same level organoleptics but the latter has lower organoleptics level than the former. Meanwhile the sausage at 0%: 100% has the lowest organoleptics level. It could be concluded that the substituting culled laying duck meat for broiler meat up to 100% has the same tenderness and pH, but it decrease the organoleptics level of the sausage. | |
| 4070 | 13897 | G1A009014 | HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO | Latar Belakang : Ikterus neonatorum didefinisikan oleh WHO sebagai bayi yang lahir dengan warna kuning pada sclera, kulitm atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin yang meningkat. Kadar Hb yang rendah atau anemia merupakan salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya persalinan preterm dan memicu kejadian ikterus neonatorum. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Prof. Dr. Margono Sokerjo Purwokerto. Metode : Observasional analitik dengan menggunakan pendekatan secara cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 134 pasien. Data penelitian diambil dari rekam medik. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan kejadian ikterus neonatorum. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat 113 (84,30%) bayi lahir mengalami ikterus neonatorum dan 21 (15,70%) bayi lahir yang tidak mengalami ikterus neonatorum. Hasil analisis dengan chi square test menunjukkan nilai χ² = 7,872 dan p = 0,005. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi kejadian ikterus yang signifikan pada bayi baru lahir pada kelompok ibu dengan kadar Hb tidak normal dengan kelompok ibu dengan kadar Hb normal. Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (64,9%) ibu melahirkan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto memiliki kadar hemoglobin tidak normal (rendah). Kejadian ikterus neonatorum di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sangat tinggi (84,3%). Kata Kunci : hemoglobin, ikterus neonatorum, anemia | Background : Neonatal jaundice is defined by the WHO as a baby born in yellow on the sclera, skin, or other tissues due to accumulation of bilirubin in the body or increased accumulation of bilirubin. Low hemoglobin levels or anemia is one of the factors that play a role in the occurrence of preterm delivery and neonatal jaundice triggering events. Objective : Knowing the relationship between hemoglobin levels in pregnant women with the incidence of neonatal jaundice in hospitals Prof. Dr. Margono Sokerjo Purwokerto. Method : Observational using cross sectional approach. 134 patients as research subjects. Data were taken from medical records. The bivariate analysis was conducted to determine the relationship between hemoglobin levels in pregnant women with the incidence of neonatal jaundice. Result : The results showed there were 113 (84.30%) infants born suffered neonatal jaundice and 21 (15.70%) infants born who did not have neonatal jaundice. The results of the analysis with chi square test showed χ² value = 7.872 and p = 0.005. These results indicate that there are differences in the proportion of a significant incidence of jaundice in newborns in the group of women with normal hemoglobin levels not seen in women with normal hemoglobin levels. Conclusion : The results showed the majority (64.9%) of mothers giving birth in hospitals Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto have abnormal hemoglobin level (low). The incidence of neonatal jaundice in hospitals Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto very high (84.3%). Keywords : hemoglobin, neonatal jaundice, anemia | |
| 4071 | 13899 | B1J011107 | prevalensi tungau parasit larva nyamuk Aedes sp. di daerah endemis demam berdarah dengue Kota Semarang | Kota Semarang merupakan kota endemis DBD dengan kasus terbanyak di Jawa Tengah. Tahun 2013 jumlah kasus DBD sejumlah 2.364 kasus atau naik 89,11% dari 1.250 kasus pada Tahun 2012. Demam berdarah merupakan penyakit yang menular secara tidak langsung yang disebabkan oleh vektor nyamuk Aedes sp. populasi nyamuk Aedes sp. ini ditentukan oleh survivalitas dari larva nyamuk. Pertumbuhan larva nyamuk Aedes sp. dari instar ke instar di alam dikendalikan oleh tungau-tungau parasit yang akan mempengaruhi mortalitas/angka kematian larva tersebut. Keberhasilan menemukan inang yang tinggi pada tungau parasit akan menaikkan kemampuan menginfeksinya sehingga prevalensi tungau parasit menjadi sangat penting pada larva nyamuk Aedes sp. umumnya akan besar pula. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prevalensi tungau parasit larva nyamuk Aedes sp. di daerah endemis DBD di Kota Semarang. Metode yang digunakan dengan teknik pengambilan sampel secara stratified random sampling. Lokasi ditentukan berdasarkan tingkat endemis demam berdarah tertinggi, sedangkan jumlah sampel ditentukan berdasarkan rumus populasi dengan tingkat kesalahan 5 %. Variabel dalam penelitian ini adalah prevalensi tungau parasit larva Aedes sp. Parameter utama yang diamati adalah jumlah seluruh stadium larva yang terinfeksi tungau, sedangkan parameter pendukung yang diukur yaitu temperatur/suhu, kelembaban udara, pH air, musim dan curah hujan. Metode analisis menggunakan rumus prevalensi yaitu jumlah larva yang mengandung tungau dibagi jumlah larva yang diperiksa dikali 100%. Hasil penelitian diperoleh lima individu tungau parasit dari 2420 sampel larva nyamuk Aedes sp. yang diperiksa. Hasil identifikasi tungau yang diperoleh adalah Familia Hydrachnidae dan Hydrozetidae. Nilai prevalensi tertinggi terdapat di Kelurahan Ngalian yaitu 0,48% kemudian pada Kelurahan Tembalang dan Kalipancur yaitu 0,25% dan Kelurahan Bulusan yaitu 0,24%. Nilai prevalensi Kota Semarang yaitu 0,20%. | Semarang city is a area endemic Dengue Haemorrhogic Fever (DHF) with most cases in Central Java. in 2013 the number of cases of dengue number of 2,364 cases, up 89.11% from the 1,250 cases in 2012. Dengue fever is infection diseases indirectly caused by Aedes sp. mosquitoes vector. Populations of Aedes sp. is determined by survivality of mosquito larvae. The growth of larvae Aedes sp. mosquitoes step by step in nature controlled by parasitic mites which will effect the larvae mortality/death rate. Success finding a host of high on parasitic mites will increase the ability infecting to prevalence parasitic mite becames very important on larvae Aedes sp. mosquitoes will generally be greater. The purpose of this study is determine prevalence parasitic mite larvae Aedes sp. mosquitoes in area endemic Dengue Haemorrhogic Fever (DHF) in Semarang city. The method used the sampling technique stratified random sampling. The location determined based on the highest level of endemic dengue fever, while the number of samples is determined based on the formula of the population with an error rate of 5%. The variable in this study is the prevalence of parasitic mite larvae of Aedes sp. The main parameters observed are the total number of infected larvae mite, while parameter supporter observed are temperature, humidity, pH water, season and rainfall. methods of analysis using prevalence formula is the number of larvae that contain mite divided by the number of larvae which examined and multiplied by 100%. the results obtained five individual parasitic mites from 2420 sampel larvae Aedes sp. mosquitoes which examined. The result identification mite obtained is family Hydrachnidae and Hydrozetidae. The highest prevalence of the value contained in Ngaliyan is 0,48% then Tembalang and Kalipancur is 0,25% and Bulusan is 0,24%. | |
| 4072 | 13860 | D1E011055 | HUBUNGAN ANTARA BOBOT POTONG DENGAN BOBOT KARKAS DAN BOBOT KULIT SAPI SIMMENTAL | Penelitian yang dilaksanakan di Rumah Potong Hewan Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, ini bertujuan untuk 1) mengetahui bobot potong, bobot karkas dan bobot kulit, 2) mempelajari hubungan antara bobot potong dengan bobot karkas, dan 3) untuk mempelajari hubungan antara bobot potong dengan bobot kulit. Materi penelitian yang digunakan adalah 50 ekor ternak sapi Simmental jantan. Variabel yang diamati adalah bobot potong dengan menggunakan alat timbang merk “Crane Scale” berkapasitas 1000 kg dan ketelitian 0,01 kg, sedangkan bobot karkas dan bobot kulit menggunakan timbangan digital gantung merk “Excellent” dengan kapasitas 600 kg dan ketelitian 0,1 kg. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan data menggunakan pendekatan purposive sampling. Analisis penelitian menggunakan koefisien determinasi, koefisien korelasi, uji ANAVA dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik kuantitatif sapi Simmental jantan untuk bobot potong 463,8 ± 4,53 kg, bobot karkas 257,56 ± 2,98 kg, bobot kulit 46,62 ± 5,24 kg, % karkas 55,43 ± 0,39 % dan % kulit 10,07 ± 0,08 %. Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan BKar= 6,07 + 0,54 BP dan BKul= 7,29 + 0,09 BP. ANAVA menunjukkan bahwa bobot potong mempunyai hubungan yang nyata (P<0,05) dengan bobot karkas dan bobot kulit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa bobot potong mempunyai korelasi positif dengan bobot karkas dan bobot kulit sapi Simmental. | This research, which had been conducted at the Mersi Slaughterhouse, Purwokerto, Central Java, aims to 1) assess the slaughter, carcass, and hide weight of Simmental bulls, 2) study the correlation between their slaughter and carcass weight, and 3) measure the correlation between their slaughter and hide weight. The materials used in this research were 50 Simmental bulls. The variables were the slaughter weight, which was measured by using the “Crane Scale” scale whose capacity and degree of accuracy is, respectively, 1000 kg and 0,01 kg, and the carcass weight, which was measured by using the “Excellent” digital scale whose capacity and degree of accuracy is, respectively, 600 kg and 0,1 kg. This research used purposive sampling approach to obtain the data. The analysis of this research used the simple regression, the coefficient correlation, the coefficient determination, and ANOVA. The results shows that the quantitative characteristics of the Simmental bulls’ slaughter weight (SW) was 463,8 ± 4,53 kg, carcass weight (CW) was 257,56 ± 2,98 kg, hide weight (HW) was 46,62 ± 5,24 kg, % carcass 55,43 ± 0,39 % and % hide 10,07 ± 0,08 %. The results of the multiple regression analysis show that CW= 6,07 + 0,54 SW and HW= 7,29 + 0,09 SW. The partial regression test analysis shows that the slaughter weight has a significant correlation (P<0.05) with the carcass and leather weight. Based on the results of this research, it can be concluded that the slaughter weight has a positive correlation to the carcass and hide weight of Simmental. | |
| 4073 | 13894 | E1A012103 | IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM (Kajian Terhadap Penertiban Pedagang Kaki Lima di Taman Alun-alun Singaparna Kabupaten Tasikmalaya) | Peningkatan pedagang kaki lima pada setiap tahunnya di Kabupaten Tasikmalaya menampilkan wajah ganda, di satu sisi terlihat perkembangan pembangunan dengan beragam arsitektur, namun disisi lain tampak menjamur lingkungan kumuh dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai untuk mendukung keberlangsungan kehidupan manusia. Taman dan ruang terbuka yang semula cukup tersedia, beralih rupa menjadi kawasan perdagangan. Keberadaannya menimbulkan banyak masalah khususnya berkaitan dengan pelanggaran ketertiban umum. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimnana penegakan hukum oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya khususnya di instansi terkait yakni Satpol PP serta hambatan apa saja yang dihadapi dan agar dapat memberikan solusi dalam menerapkan Pasal 9 Ayat (6) Peraturan Daerah Kabupaten Tasikmalaya Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum. Penelitian dilakukan menggunakan jenis penelitian yuridis normatif yakni dalam menyelesaikan permasalahan yang akan dibahas, berdasar pada peraturan-peraturan dengan tujuan mengetahui penegakan hukum Pasal 9 Ayat (6) Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014. Metode pengumpulan bahan yang digunakan adalah studi kepustakaan serta wawancara sebagai bahan pelengkap. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, penegakan hukum Peraturan Daerah terkait pedagang kaki lima di Kabupaten Tasikmalaya masih belum efektif dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. | Abstrack | |
| 4074 | 13900 | D1E010145 | PENGGUNAAN PREBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP KONVERSI PAKAN DAN INCOME OVER FEED COST ITIK TEGAL JANTAN PADA UMUR 2 BULAN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan prebiotik (FOS (fructooligoscaride), GOS (galactooligosacaride) dan Inulin) dalam pakan terhadap konversi pakan dan income over feed cost itik Tegal jantan umur 2 bulan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2015 sampai 10 Juni 2015 di Selo Arum Farm, Sokaraja. Materi yang digunakan adalah 80 ekor itik Tegal jantan umur 2 bulan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah Pakan basal (R0), pakan basal + 0,2 % FOS (R1), pakan basal + 0,2% GOS (R2) dan pakan basal + 0,2% Inulin (R3). Data dianalisis dengan menggunakan analisis variansi di mana hasilnya menujukkan bahwa perlakuan penggunaan prebiotik (FOS, GOS dan Inulin) dalam pakan itik Tegal jantan umur 2 bulan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konversi pakan dan income over feed cost. Rataan hasil konversi pakan adalah 2,77 g (R0); 2,59 g (R1); 2,79 g (R2); 2,56 g (R3), dan rataan hasil income over feed cost adalah Rp 846,80 (R0); Rp 1216,11 (R1); Rp 1327,55 (R2); Rp 1223,77 (R3). Kesimpulan penelitian penggunaan prebiotik FOS, GOS, dan Inulin dalam pakan itik Tegal jantan umur 2 bulan menghasilkan konversi pakan dan income over feed cost relatif sama. | The study aimed to determine the effect of kinds of prebiotics (FOS, GOS, and inulin) in feed conversion and income over feed cost of male Tegal ducks age 2 months. The material used were 80 heads of (Anas plathyrhincos) 2-month-old male Tegal ducks. The research had been conducted from May 2nd until June 10th, 2015 at Seloarum Farm and at the Laboratory Science and Nutrition, Faculty of Animal Husbandry, General Sudirman University, Purwokerto. The treatments were basal feed (R 0), basal feed + 0.2% FOS (R 1), basal feed + GOS 0.2% (R 2), basal feed + Inulin 0.2% (R 3) that were given twice-a-day in the morning and afternoon as much as 100g /head /day and drinking water, ad libitum. The research used experimental method which was designed by using the Completely Randomized Design (CRD). The parameters being measured were feed conversion and income over feed cost. The data, which were analyzed with the analysis of variances, showedthat the use of prebiotics in the diet did not affect significantly (P>0.05) on the feed conversion and income over feed cost. The results of feed conversion averaged 2,77 g (R0); 2,59 g (R1); 2,79 g (R2); 2,56 g (R3), and the results of income over feed cost averaged Rp 846,80 (R0); Rp 1216,11 (R1); Rp 1327,55 (R2); Rp 1223,77 (R3). This research concludes that the additions of prebiotic types of FOS, GOS and Inulin in eight-week-old male Tegal ducks feed resulted in relatively similar feed conversion and income over feed cost. | |
| 4075 | 13901 | G1F012058 | Daya antifungi ekstrak terpurifikasi daun kamboja (plumeria rubra L) terhadap saprolegnia sp. yang diisolasi dari ikan gurami (osphronemus gourami) | Saprolegnia sp. merupakan fungi yang sering menyerang ikan air tawar, menyebabkan penyakit saprolegniasis. Usaha pengendalian saprolegniasis telah dilakukan dengan berbagai cara tetapi hasilnya belum memuaskan. Kamboja (Plumeria rubra L) merupakan tumbuhan yang diketahui memiliki aktivitas anti fungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak terpurifikasi daun kamboja dan aktivitas anti fungi terhadap Saprolegnia. Serbuk daun kamboja dimaserasi menggunakan metanol dan didiamkan selama 3x24 jam, diekstraksi cair-cair menggunakan n-heksan, sehingga diperoleh ekstrak terpurifikasi daun kamboja. Identifikasi kandungan senyawa kimia dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis dan uji tabung. Pengujian aktivitas anti fungi menggunakan perhitungan bobot biomassa kering fungi dengan 6 perlakuan yaitu tanpa ekstrak (kontrol negatif), ketoconazole 2% (kontrol positif), DMSO 5%, ekstrak konsentrasi 2%, 4%, dan 6% yang diujikan terhadap Saprolegnia sp hasil isolasi dari ikan gurami yang mengalami saprolegniasis. Data biomassa kering yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil identifikasi kandungan kimia menunjukkan ekstrak terpurifikasi daun kamboja mengandung alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan saponin. Ekstrak terpurifikasi daun kamboja pada konsentrasi 6% mampu menghambat pertumbuhan fungi yang tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif (ketoconazole 2%). | Saprolegnia sp. a fungus that often infects freshwater fish, causing saprolegniasis disease. Up to now, control of saprolegniasis have been done in various ways but the results are not satisfactory. Cambodia (Plumeria rubra L) is one of the plant species are known to have anti-fungal activity. This study aims to determine the compound contained its purified leaves extract and its anti-fungal activity against the Saprolegnia sp. Cambodia leaf powder was macerated using methanol for 3x24 hours, then the liquid-liquid extracted using n-hexane, in order to obtain purified extract of cambodia leaves. Identify of chemical compounds is done by Thin Layer Chromatography and tube test methods. Testing the activity of anti-fungal based on weight of dry biomass of fungi with 6 treatments ie without extract (negative control), ketoconazole 2% (positive control), DMSO 5%, the extract concentration of 2%, 4%, and 6% were tested against Saprolegnia sp. isolated from carp experiencing with saprolegniasis. Data weight of dry biomass of fungi were analyzed using ANOVA then performed a further test using LSD. Results identification of chemical constituents shows purified extract of cambodia leaves contain alkaloids, flavonoids, terpenoids, and saponins. The test results show that the anti-fungal activity at a concentration of 6% could inhibit fungal growth not differ significantly from positive control (ketoconazole 2%). | |
| 4076 | 13902 | G1A012101 | Korelasi Intensitas Pruritus dengan Kualitas Hidup Santri Penderita Skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen | Latar Belakang: Skabies merupakan penyakit kulit yang umum ditemukan pada anak dengan prevalensi di Indonesia mencapai 12,95%. Gejala utama dari skabies adalah rasa gatal yang amat sangat pada malam hari. Rasa gatal yang diderita dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, terutama pada dimensi fisik dan dimensi psikologis. Tujuan: Mengetahui korelasi intensitas pruritus dengan kualitas hidup santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. Metode: Penelitian observasional analisis dengan pendekatan cross-sectional dan teknik purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 40 santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. Variabel bebas yaitu intensitas pruritus dan variabel terikat adalah kualitas hidup. Hasil: Intensitas pruritus santri penderita skabies adalah termasuk kategori gatal sedang. Kualitas hidup santri penderita skabies adalah termasuk kategori derajat tinggi. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p = 0,151 dan r = -0,167 sehingga tidak terdapat korelasi yang bermakna. Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi bermakna antara intensitas pruritus dengan kualitas hidup santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. | Background: Scabies is a common skin disease among children with its prevalence in Indonesia reached 12,95%. The major symptom of scabies is severe nocturnal pruritus. This pruritic feeling can cause degradation of quality of life, especially in physical and psychological domains. Objective: Knowing the correlation of pruritus intensity with quality of life in students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. Method: Observational studied with cross-sectional approach and purposive sampling technique. Subjects were 40 students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. The independent variable was pruritus intensity and the dependent variable was quality of life. Result: The pruritus intensity in students suffering scabies was moderate pruritus. The quality of life in students suffering scabies was high degree. Spearman’s correlation test resulted p = 0,151 and r = -0,167 which showed there was no significant correlation. Conclusion: There was no significant correlation between pruritus intensity with quality of life in students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. | |
| 4077 | 13904 | A1C010015 | KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI PEMBESARAN IKAN GURAMI TERHADAP PENDAPATAN PETANI DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS | Kecamatan Sokaraja merupakan daerah yang memiliki jumlah produksi ikan gurami konsumsi terbesar di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Besarnya biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usahatani pembesaran ikan gurami di Kecamatan Sokaraja. 2) Besarnya pendapatan petani ikan diluar usahatani pembesaran ikan gurami di Kecamatan Sokaraja. 3) Besarnya kontribusi usahatani pembesaran ikan gurami terhadap pendapatan rumah tangga di Kecamatan Sokaraja. Penelitian ini dilakukan di Desa Kalikidang, Desa Lemberang, Desa Banjarsari Kidul dan Desa Klahang, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas pada bulan Juni 2015 sampai dengan Juli 2015. Pengambilan data secara simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 32 orang. Analisis data yang digunakan analisis biaya dan pendapatan, analisis kontribusi input (factor share), analisis kontribusi pendapatan (income share), dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan usaha pembesaran ikan gurami di Kecamatan Sokaraja dilakukan menggunakan kolam tanah. Hasil produksi ikan gurami konsumsi dijual ke tengkulak daerah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Purwokerto. Produksi ikan gurami konsumsi yang dihasilkan petani di Kecamatan Sokaraja rata-rata setiap 6 bulan adalah 359,69 kg. Analisis biaya, penerimaan dan pendapatan per periode produksi (6 bulan) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa rata-rata biaya sebesar Rp9.204.394,27, penerimaan sebesar Rp10.438.218,75, dan pendapatan sebesar Rp1.233.824,48 dengan luas garapan 153,78 m2. Usaha pembesaran ikan gurami layak dikembangkan meski sebagai usaha sampingan karena nilai R/C ratio 1,08 dan income share 6,74 persen. Faktor produksi yang memegang peranan penting adalah bibit ikan dengan nilai factor share sebesar 38,84 persen. | Sokaraja District is an area that has a largest number of production gouramy consumption in Banyumas. This reaserch aims to know: 1) The cost of production, revenue, and farmers income gouramy enlargement in Sokaraja District. 2) The amount of income outside of farming fish in Sokaraja District. 3) The contribution of gouramy enlargement farming on household income in the Sokaraja District. This research was conducted in Kalikidang Village, Lemberang Village, Banjarsari Kidul Village and Klahang Village, Sokaraja District, Banyumas Regency on June 2015 until July 2015. Data collection by simple random sampling obtained with 32 respondents. The data analysis used are cost and revenue analysis, contribution analysis input (factor share), analyzes the contribution of income (income share), and analysis of R / C ratio. The results showed gouramy enlargement in Sokaraja District carried out using ground pool. The production of gourami consumption is sold to middlemen Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara and Purwokerto. Production of gouramy consumption produced by farmers in the Sokaraja District average every 6 months was 359.69 kg. The analysis of costs, revenues and income per production period (6 months) in 2015 showed that the average cost of Rp9.204.394,27, revenue of Rp10.438.218,75, and income of Rp1.233.824,48 with land size 153,78 m2. Gouramy enlargement efforts should be developed even as a sideline since the value of R / C ratio of 1.08 and the income share of 6,74 percent. Factor production which play an important role is fish seeds with a value share of 38.84 percent factor. | |
| 4078 | 13906 | H1D011040 | ANALISIS KINERJA PERSIMPANGAN JALAN TIDAK BERSINYAL DI SIMPANG TIGA MT. HARYONO KOTA BALIKPAPAN DENGAN METODE PKJI2014 | Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, terkadang berbagai masalah dihadapi, salah satunya terjadi di daerah sekitar simpang. Simpang sebagai penunjang prasarana transportasi yang utamanya bertujuan meningkatkan mobilitas dan mengurangi kemacetan, faktanya menjadi penyebab kemacetan dan salah satunya terjadi di Kota Balikpapan. Salah satu simpang yang menjadi perhatian adalah simpang di MT. Haryono, Jl. Soekarno - Hatta Simpang Km. 4,5 terletak di Kelurahan Graha Indah Kecamatan Balikpapan Utara merupakan suatu area yang memiliki volume lalu lintas tinggi karena merupakan gerbang arus lalu lintas dari dan menuju Kota Balikpapan dan merupakan penghubung antar zona pemukiman, zona kegiatan perekonomian (perdagangan, jasa, dan industri), dan zona pendidikan sehingga pada jam-jam sibuk (peak hour) sering terjadi antrian, tundaan, dan kemacetan. Hasil analisis dengan metode PKJI 2014, menunjukkan bahwa jam puncak terjadi pada hari Senin, 27 Juli 2015 pukul 16.00-17.00 WITA dengan volume lalu lintas sebesar 3200 smp/jam, kapasitas (C) sebesar 2477 skr/jam, derajat kejenuhan (DJ) sebesar 1,308, tundaan simpang (TL) sebesar 151 det/skr, peluang antrian (PA) sebesar 71-146% dan tingkat pelayanan F. Derajat kejenuhan masih belum memenuhi nilai yang ditetapkan PKJI 2014, yaitu lebih dari 0,85. Maka perlu dilakukan perubahan untuk peningkatan kinerja. Berdasarkan hasil simulasi alternatif peningkatan kinerja, solusi yang terbaik pada tahun 2015 adalah perubahan menjadi simpang APILL dengan kondisi geometrik eksisting. Untuk solusi terbaik pada tahun 2020 adalah alternatif perubahan menjadi simpang APILL dengan penambahan lebar pendekat. | Transportation is used for human mobility in daily activity. However, sometimes problem are faced, for example it happened arround intersection. Intersection as the support of transportation infrastructure are primarily aimed for increasing mobility and reduce traffic, the fact is the cause of traffic and one of which is happens in the City of Balikpapan. One of intersection in concern is the intersection at MT. Haryono, Soekarno-Hatta Street in KM 4,5, is located in the North Graha Indah Village that is the area that has a high traffic volume as the gateway for traffic flow to Balikpapan and connecting between residential zone, economical zone, and educational zone so that at peak hour, frequently causing queues, delays and congestion. The result of the analysis of PKJI 2014 method, showed that the peak hours is occurred on Monday, July 27th, 2015, at 16.00-17.00 PM with a traffic volume 3200skr/hour, capacity (C) 2477 skr/hour, degree of saturation (DJ) 1.308, intersection delay (T) 151 sec/skr, chances of queue (PA) 71 – 146% and level of services F. The degree of saturation is below the value from PKJI 2014 method. So that it is need to be changed to improve the performance. Based from the result of analysis alternate simulation result for improving intersection performance, the best solution in 2015 was a change to intersection with signal with existing geometric conditions. Meanwhile, the best solution in 2020 was a change to intersection with signal with the additons of wide of the road. | |
| 4079 | 13939 | A1L011091 | APLIKASI MIKROBA ANTAGONIS DALAM FORMULA CAIR UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT HAWAR DAUN KENTANG | Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan formula cair P. fluorescens dan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit hawar daun, pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Lab. Perlintan Fakultas Pertanian, Unsoed dan lahan kentang di Desa Serang, Purbalingga. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2015. Rancangan yang digunakan adalah RAK dengan 6 perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali. Perlakuan terdiri atas kontrol, fungisida, aplikasi mikroba antagonis 1, 4, 8, dan 12 kali. Variabel pengamatan meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, kepadatan akhir antagonis, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah batang, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, bobot kering akar, jumlah umbi, bobot umbi per tanaman dan kandungan senyawa fenol. Analisis dilakukan dengan uji F taraf 5% dilanjutkan dengan uji DMRT. Formula cair P. fluorescens dan T. harzianum yang diaplikasikan belum mampu menekan masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi penyakit hawar daun, namun mampu meningkatkan meningkatkan senyawa fenol. Mikroba yang diaplikasikan 4, 8, dan 12 kali mampu meningkatkan tinggi tanaman, berturut-turut sebesar 22,63%, 27,50%, dan 28,71%. Mikroba yang diaplikasikan 12 kali berpotensi dalam meningkatkan bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar dan bobot umbi, berturut-turut sebesar 42,54%, 38,26%, 42,73%, dan 39,50%. | This research aimed to examine capability of liquid formula P. fluorescens and T. harzianum to control late blight disease, effect for growth, and yield potato in the field. This research was conducted in Lab. Perlintan Agriculture Faculty, Unsoed and potato field at Serang, Purbalingga. This research was carried out in Maret to June 2015. The design used CRBD with 6 treatments and 5 replicates. The treatment were control, fungicide, application antagonist microbes 1, 4, 8, and 12 times. The observed variables were incubation periode, disease intensity, infection rate, late density of the antagonist, crop height, leave total, branch total, fresh crop weight, dry crop weight, fresh root weight, dry root weight, tuber total, tuber weight and phenol compounds. The data were analyzed using the F Test on 5% levels followed by DMRT. Liquid formula P. fluorescens and T. harzianum couldn’t to suppress incubation periode, disease intensity, infection rate, but could to increase phenolic compounds. Microbes are applied 4, 8, and 12 times effective to increase crop height, as 22,63%, 27,50%, and 28,71%. Microbes are applied 12 times potensially to increase fresh crop weight, dry crop weight, fresh root weight, and tuber weight, as 42,54%, 38,26%, 42,73%, and 39,50%. | |
| 4080 | 13992 | E1A111057 | Pembuktian Tindak Pidana Pencurian Dengan Pemberatan Dilakukan Anak (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Nomor: 01/Pid.Sus.Anak/2015/PN Pwt) | Penelitian ini mengambil judul “Pembuktian Tindak Pidana Pencurian Dengan Pemberatan Dilakukan Anak (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Nomor: 01/Pid.Sus.Anak/2015/PN Pwt)”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui petimbangan hakim dalam memutus perkara Pencurian Dengan Pemberatan Dilakukan Anak pada Putusan Nomor : 01/Pid.Sus.Anak/2015/PN Pwt. Dan untuk mengetahui akibat hukum terhadap putusan yang dijatuhkan putusan Nomor : 01/Pid.Sus.Anak/2015/PN Pwt. Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis normatif yaitu metode pendekatan menggunakan konsep legisme yang positivistis. Konsep ini hukum dipandang identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang dan melihat hukum sebagai suatu sistem normatif yang mandiri, bersifat tertutup dan terlepas dari kehidupan masyarakat yang nyata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pembuktian dalam persidangan terhadap Putusan perkara Nomor: 01/Pid.Sus.Anak/2015/PN.Pwt yaitu dengan hakim memeriksa beberapa alat bukti berupa beberapa keterangan saksi, keterangan terdakwa dan barang bukti dan hakim memperoleh keyakinan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian dalam keadaan memberatkan dan dijatuhi putusan berupa pidana penjara selama 6 (enam) bulan. | This study entitled "Crime Evidence theft by weighting Do Son (Judicial Review Court Decision No. 01 / Pid.Sus.Anak / 2015 / PN PWT)". The purpose of research is to find out the considerations the judge in deciding the case of theft by weighting Do Son in Decision No. 01 / Pid.Sus.Anak / 2015 / PN PWT. And to determine the legal consequences of the decision handed down decision No. 01 / Pid.Sus.Anak / 2015 / PN PWT. The method used is the method of normative juridical approach uses the concept of the positivistic legisme. This concept is seen as identical with the legal norms made written and enacted by institutions or officials who authorized and view the law as a normative system which is independent, is closed and apart from real people's lives. Based on the results of this study concluded that the proof in the court case against the Decision No. 01 / Pid.Sus.Anak / 2015 / PN.Pwt ie with judges examine some of the evidence in the form of some of the witness statements, the statements of the accused and the evidence and judges gain confidence that the defendant legally and convincingly guilty of committing the crime of theft in aggravating circumstances and was sentenced the form of imprisonment for six (6) months. |