Artikelilmiahs
Menampilkan 3.961-3.980 dari 48.758 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3961 | 13798 | G1G011009 | PENGARUH KONSUMSI TEH TERHADAP KEJADIAN DENTAL FLUOROSIS PADA SISWA SD DI DESA KEMUNING KECAMATAN NGARGOYOSO KABUPATEN KARANGANYAR | Teh merupakan minuman tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yang terbuat dari daun tanaman Camellia sinensis yang diseduh dengan air panas. Kandungan fluor pada daun teh kering adalah 100-400 mg/kg dan kandungan fluor pada satu gelas teh adalah 0,3-05 mg/l. Konsumsi teh yang berlebihan dapat menjadi faktor penyebab dental fluorosis. Dental fluorosis merupakan kelainan yang terjadi pada enamel gigi yang ditandai dengan peningkatan porositas permukaan enamel yang memberikan gambaran bercak putih sampai dengan kecokelatan pada gigi. Sebanyak 72 kasus dental fluorosis ditemukan pada siswa SD di Desa Kemuning yang memiliki kebiasaan rutin mengkonsumsi teh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara konsumsi teh terhadap kejadian dental fluorosis pada siswa SD di Desa Kemuning Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Konsumsi teh dalam penelitian ini meliputi volume teh yang dikonsumi, lama kebiasaan konsumsi teh, serta kadar fluor dalam teh yang dikonsumsi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode case control. Penelitian ini menyertakan 72 siswa SD yang mengalami dental fluorosis sebagai kelompok kasus dan 72 siswa SD yang tidak mengalami dental fluorosis sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan gigi, serta pengukuran kadar fluor dalam seduhan teh. Data hasil observasi kemudian dilakukan uji statistik dengan uji regresi logistik ganda untuk mengetahui pengaruh konsumsi teh terhadap kejadian dental fluorosis. Hasil uji regresi logistik ganda menunjukan nilai signifikansi p-value < 0.05, yaitu terdapat pengaruh antara konsumsi teh terhadap kejadian dental fluorosis. | Tea is a traditional beverage familiarly consumed by people in Indonesia which is made from Camellia sinensis’s leaves plant that brewed in hot water. Fluorine content in dried tea leaves are 100-400 mg/kg and fluorine content in one cup of tea is 0,3-0,5 mg/l. Excessive consumption of tea can be a factor causing dental fluorosis. Dental fluorosis is a disorder that occurs in the tooth enamel that characterized by increased porosity of enamel’s surface that presents a white to brown spot on the teeth. A total of 72 cases of dental fluorosis discovered in the elementary students in Kemuning, Karanganyar district, which has a regular habit of tea consumption. The aim of this research was to determine the effect of tea consumption on the incidence of dental fluorosis in Kemuning, Karanganyar district. Consumption of tea in this research includes the amount of tea consumed, how long tea consumption habits, and level of fluorine in tea which is consumed. This type of research is analytic observational with case control method. This study included 72 primary school students who have dental fluorosis as the case group and 72 elementary school students who do not have dental fluorosis as the control group. Data collected by interview, examine the teeth, and measure the levels of fluorine in tea. Data from observation then analyzed by statistical tests with multiple logistic regression for determine the effect of tea consumption on the incidence of dental fluorosis. The result of multiple logistic regression showed significant p-value < 0,05, indicate that there is influence of tea consumption on the incidence of dental fluorosis. | |
| 3962 | 13791 | G1A011075 | GAMBARAN CEDERA KEPALA PASIEN KORBAN KECELAKAAN SEPEDA MOTOR DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO TAHUN 2014 | ABSTRAK Latar Belakang: Kecelakaan lalu lintas menempati urutan kesembilan pada disability adjusted life year (DALY). Sepeda motor merupakan penyumbang terbesar angka kecelakaan dan cedera. Cedera kepala akibat kecelakaan sepeda motor dapat berakibat langsung pada kematian korban Tujuan: mendeskripsikan gambaran cedera kepala pasien korban kecelakaan sepeda motor di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS) tahun 2014 Desain Penelitian: penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif. Subjek penelitian adalah seluruh korban cedera kepala akibat KLL sepeda motor tanggal 1 Januari s.d. 31 Desember 2014 yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan didapatkan 99 subjek. Data demografi dan klinis pasien didapatkan dari rekam medik. Data dianalisis menggunakan software komputer. Hasil: Demografi pasien: jenis kelamin; laki-laki 69.5% dan perempuan 30,3%, usia; produktif 68.7% dan tidak produktif 30.3%, posisi; pengendara 87.9% dan pembonceng 12.1%, waktu kejadian; malam hari 39.4% dan siang hari 60.6%. Data Klinis: Glasgow Coma Scale Instalasi Gawat Darurat; cedera kepala ringan 52.5%, sedang 41.4%, dan berat 6.1%, berdasarkan Resume Medis 13; cedera kepala ringan 47.5%, sedang 39.4%, dan berat 13.1%, gambaran Head CT-scan; komusio serebri 35.4%, hematom (subdural 16.2%, epidural 15.2%, intreaserebral 14.1%), kontusio serebri 19.2%. Kesimpulan: cedera kepala akibat kecelakaan sepeda motor lebih banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki, usia produktif, posisi pengendara, dan waktu kejadian siang hari. Sebagian besar pasien mengalami cedera kepala ringan dan komusio serebri. | ABSTRACT Background: Traffic accidents ranks ninth in disability adjusted life years (DALYs). Motorcycle is the largest contributor to accidents and injuries. Head injury after a motorcycle accident can lead directly to the death of the victim Objective: To describe the head injury in motorcycle accident victims patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital (RSMS) year of 2014 Research Design: This study used a descriptive study design. The subjects were all victims of head injuries due to motorcycle accidents January 1 to December 31, 2014 met the inclusion criteria. The sampling technique using purposive sampling and obtained a total of 99 subjects. Demographic and clinical data obtained from the patient's medical record. The data were analyzed using computer software. Results: Demographic data: gender; 69.5% men and 30.3% women, age; 68.7% productive and 30.3% unproductive, position; 87.9% driver and 12.1% passenger, the time of the event; night 39.4% and 60.6% during the day. Clinical Data: Glasgow Coma Scale at Emergency Department; mild head injury 52.5%, moderate 41.4%, and severe 6.1%, based on medical record 13; mild head injury 47.5%, moderate 39.4% and severe 13.1%, picture of Head CT-scan; 35.4% cerebral comution, hematoma (16.2% subdural, 15.2% epidural, 14.1% intreaserebral), brain contusion 19.2%, 2.0%. Conclusion: head injuries due to motorcycle accidents are more prevalent in the male sex, productive age, rider position, and time and attendance during the day. Most patients experienced mild head trauma and brain comution. | |
| 3963 | 13792 | A1M011003 | PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK KUNYIT DAN EKSTRAK TEMULAWAK DENGAN ATAU TANPA REMPAH LAIN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI JELLY DRINK | Jelly drink merupakan minuman semi padat yang memanfaatkan karagenan dari rumput laut Eucheuma sp. sebagai bahan pembentuk gel, serta diberi perasa sintesis untuk menambah daya tarik konsumen. Namun pada penelitian ini pembuatan jelly drink ditambahkan dengan perasa alami berupa ekstrak rempah kunyit atau temulawak asam dengan atau tanpa penambahan rempah lain berupa cengkeh, sereh, dan kapulaga. Penambahan eksrak rempah dalam berbagai konsentrasi berfungsi untuk menambah variasi rasa dan meningkatkan nilai fungsional dari jelly drink dan diharapkan menghasilkan karakteristik fisikokimia yang lebih baik pada jelly drink. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi ekstrak kunyit dan ekstrak temulawak dengan atau tanpa penambahan berbagai rempah terhadap sifat fisikokimia dan sensoris serta menentukan kombinasi perlakuan terbaiknya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu jenis rempah (T) yang terdiri atas kunyit asam (T1), kunyit asam-rempah (T2), temulawak asam (T3), temulawak asam-rempah (T4), serta faktor kedua yaitu konsentrasi ekstrak rempah (R) yang terdiri dari 5% (R1), 7,5% (R2), 10% (R3). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak rempah dengan konsentrasi yang berbeda ternyata tidak mempengaruhi sifat fisikokimia jelly drink berupa kadar air, pH dan sineresis tetapi menunjukkan hasil sangat berbeda nyata pada viskositas jelly drink. Penambahan ekstrak kunyit dan temulawak dengan atau tanpa rempah tambahan dengan berbagai konsentrasi berpengaruh terhadap sifat sensoris jelly drink. Kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan variabel sensori adalah perlakuan T1R1 (kunyit asam 5%) dengan menghasilkan produk dengan warna coklat tua, aroma rempah sedikit kuat, daya sedot agak mudah, agak kenyal, flavor rempah agak terasa, rasa rempah tambahan tidak terasa, agak manis, dan disukai. | Jelly drink is semi-condensed beverage which is using carageenan from seaweed Eucheuma sp. as the main ingredient to create the jelly texture and synthetic flavor is also added to attract customer’s attention. However in this research, the additional natural flavor ingredients are added such extra turmeric spices or sour ginger, with or without other spices such as chovy, lemongrass and cardamon. The additional of spices extract in various concentration is to add the variant of flavor and to rise the functional point from jelly drink. It is also expected to result the physicochemical’s characterization of jelly drink. This research aims to find out the influence of variety and concentration of extract turmeric and extract ginger with or without any additional varieties of spices to physicochemical and sensoric, and determine the best treatment combination. This research uses random design group with two factors, such as variety of spices (T) consist of sour turmeric (T1), sour-spice turmeric (T2), sour temulawak (T3), sour-spice temulawak (T4), and the second factor which is spice extract concentartion (R) consists of 5% (R1), 7,5% (R2), 10% (R3). Every experiment is repeated for three times until it reaches 36 units. The result of the research shows that the additional spice extract with different concentration does not effect the physicochemical of jelly drink which are consist of water, Ph and sineresis however, the result shows a clear difference of viscosity jelly drink. The additional turmeric extract and temulawak with various concentrations effecting the sensority of jelly drink. The best combination based on sensory variable is experiment T1R1 (5% of sour turmeric) which is resulting a brown color product, delicate aroma of spices, jelly texture, delicate taste of spices without any hint of other additional spices, a bit sweet and likeable. | |
| 3964 | 13793 | A1H011002 | KARAKTERISTIK OPTIK KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L) TUNGGAL PADA BERBAGAI KADAR AIR | Kacang merah sangat kaya dengan kandungan protein. Kualitas kacang merah dipengaruhi oleh kadar air dan penting untuk mengetahui kadar airnya. Oleh karena itu, perlu dikembangkan alat untuk memeriksa kualitas mutu biji kacang merah dengan mudah dan praktis. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui karakteristik optik kacang merah utuh, rusak dan terkontaminasi pada berbagai kadar air dan menentukan persamaan matematis hubungan antara karakteristik optik dengan kadar air kacang merah utuh, rusak dan terkontaminasi. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Integrating sphere single process. Alat ini terdiri dari komponen-komponen utama yaitu sinar laser dengan panjang gelombang 650 nm, 532 nm dan bright white. Alat ini juga dilengkapi oleh rangkaian 40 buah LDR sebagai sensor pendeteksi cahaya, dan multimeter digital untuk mengamati nilai resistansi LDR. Prinsip kerja yang digunakan alat ini adalah interaksi biji dengan cahaya yang ditembakkan pada biji. Cahaya yang direfleksikan selanjutnya diterima oleh LDR, dengan hasil berupa nilai resistansi biji yang ditampilkan oleh multimeter digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sensor memiliki hubungan yang erat antara respon sensor dengan perubahan kadar air kacang merah utuh, rusak, dan terkontaminasi. Cahaya 532 nm terbukti yang paling baik dalam mengidentifikasi kadar air pada kacang merah utuh. Sedangkan cahaya 650 nm merupakan yang paling baik dalam mengidentifikasi kadar air kacang merah terkontaminasi. | Red beans are rich of protein content. Its quality are influenced by the moisture content and it is very important to determine its moisture content. Therefore, it is necessary to develop a tools for checking the quality of red bean with an easy and practical way. The purpose of this research are knowing the optical characteristics of intact red beans, damaged and contaminated at various levels of moisture content and determine the equation of the corellation between the optical characteristics and moisture content of intact red bean, damaged and contaminated. The tools which used in this research is the Integrating sphere single process. This tools consist of the main components such the laser with a wavelength of 650 nm, 532 nm and bright white. This tool is also equipped by a series of 40 pieces LDR as the light detecting sensor, and a digital multimeter to observe the LDR resistance value. The working principle of this tool is use the interaction between the bean and light that shooted on bean. The reflected light then recieved by LDR, with results in resistance values shown by the digital multimeter. The results of this research showed that some of the censors has a strong corellation between the censor response with various levels of moisture content of intact red beans, damaged and contaminated. Light of 532 nm has proved the best to be used in identifying the moisture content of intact red beans. While the 650 nm light is best to be used in identifying the moisture content of contaminated red beans. | |
| 3965 | 13785 | A1G012015 | KAJIAN HARGA POKOK PRODUKSI EMPING MELINJO PADA UD SUKA HATI KECAMATAN KEDAWUNG CIREBON | KAJIAN HARGA POKOK PRODUKSI EMPING MELINJO PADA UD SUKA HATI KECAMATAN KEDAWUNG CIREBON Retnowati, Tatang Widjojoko, Dwi Purwastuti Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Alamat Koresponden : retnowati9090@gmail.com Ringkasan Melinjo (Gnetum gnemon, L) merupakan salah satu komoditas pertanian yang banyak tumbuh di pekarangan. Emping melinjo merupakan salah satu hasil olahan dari biji melinjo yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. UD Suka Hati adalah salah satu industri pembuat emping melinjo di Cirebon, tepatnya terletak di Desa Kalikoa, Kecamatan Kedawung. UD Suka hati tidak memperhitungkan secara terperinci aspek finansial dalam usahanya, padahal pencatatan laporan mengenai biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dan laporan laba rugi sangat diperlukan dalam suatu industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Harga Pokok Produksi (HPP) per kilogram emping melinjo aneka rasa dengan pendekatan Full Costing menggunakan perhitungan biaya bersama (joint cost), (2) harga jual per kilogram emping melinjo aneka rasa, dan (3) laporan rugi laba pada UD Suka Hati. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 - 30 November 2014. Sasaran penelitian ini adalah pemilik dan pegawai UD Suka Hati Desa Kalikoa, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu dengan menetapkan secara purposif. Metode analisis yang digunakan adalah : analisis biaya produksi bersama (joint product cost), analisis Harga Pokok Produksi (HPP) full costing, analisis harga jual produk full costing, dan analisis laporan laba rugi. Hasil analisis Harga Pokok Produksi (HPP) per kilogram dengan pendekatan Full Costing menggunakan perhitungan biaya bersama (joint cost) di peroleh ketuk pedas manis (KPM) sebesar Rp23.418,69/kg, ketuk asin (KA) Rp22.079,71/kg, ketuk manis asin (KMA) Rp22.653,81/kg dan seloman manis (SM) Rp24.248,24/kg. Harga jual emping melinjo ketuk pedas manis (KPM) sebesar Rp28.992,31/kg, emping melinjo ketuk asin (KA) sebesar Rp27.555,28/kg, emping melinjo ketuk manis asin (KMA) sebesar Rp28.223,15/kg, dan emping melinjo seloman manis (SM) sebesar Rp29.355,72/kg. Laba bersih yang diperoleh UD Suka Hati pada bulan November 2014 adalah sebesar Rp58.925.596,22. | THE COST OF GOODS MANUFACTURED EMPING MELINJO IN UD SUKA HATI KEDAWUNG DISTRICT CIREBON Retnowati, Tatang Widjojoko, Dwi Purwastuti Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Alamat Koresponden : retnowati9090@gmail.com Summary Melinjo (Gnetum gnemon, L) is one of many agricultural commodities which is commonly grown in the yard. Melinjo chips is one of processing product from the seeds which has high selling value. UD Suka Hati is a producen of Melinjo chips industry in Cirebon, precisely located in Kalikoa Village, Kedawung District. UD Suka Hati does not calculate financial aspects of the business in detail, while to note down on disbursement expenses report during process of production and the income statement are needed in an industry. This research aims to determine: (1) the cost of goods manufactured per kilogram of various flavors Melinjo chips by Full Costing approach using joint costs calculation, (2) the selling price per kilogram of various flavors Melinjo chips and (3) the income statement of UD Suka hati. This research was held on 1-30 of November 2014. The research targets were the owner and the staff of UD Suka Hati, Kalikoa Village, Kedawung District, Cirebon Regency. The research method was case study, by determining purposively. The analytic methods were analytic of joint product cost, full costing cost of goods manufactured, full costing selling price of products, and income statement. Analytic result for cost of goods manufactured per kilogram by full costing approach using joint cost calculation was obtained Rp23,418.69/kg of spicy-sweet ketuk, Rp22,079.71/kg of salty ketuk, Rp2,653.81/kg of sweet-salty ketuk and Rp24,248.24/kg of sweet seloman. Selling price of Melinjo chips for spicy-sweet ketuk was Rp28,992.31/kg, salty ketuk was Rp27,555.28/kg, sweet-salty ketuk was Rp28,223.15/kg, and sweet seloman was Rp29,355.72/kg. Net profit of UD Suka Hati in November 2014 was Rp58,925,596.22. | |
| 3966 | 13748 | H1E011026 | Interpretasi Data Anomali Medan Magnetik Untuk Mengidentifikasi Situs Peninggalan Kadipaten Pasir Luhur Desa Tamansari Karanglewas | Pengukuran medan magnet total telah dilakukan di daerah sekitar Situs Carangandul menggunakan Proton Precession Magnetometer (PPM). Pengukuran bermaksud untuk meneliti peninggalan Kadipaten Pasir Luhur yang mungkin terpendam di sekitar situs tersebut. Pengolahan data dengan koreksi harian dan IGRF untuk memperoleh anomali medan magnetik. Kemudian, anomali magnetik direduksi ke bidang datar dengan ketinggian 114 meter. Pemisahan anomali lokal dan regional dilakukan dengan kontinuasi ke atas dihasilkan anomali regional pada ketinggian 800 meter. Pemodelan bawah permukaan sayatan A-A’ dan B-B’ menggunakan perangkat lunak Mag2DC for windows. Dari dua pemodelan tersebut didapatkan hasil pendugaan gambaran bawah permukaan pada kedalaman 0-100 meter. Sayatan A-A’ pada kedalaman 0-10 meter terdapat endapan batu pasir dengan suseptibilitas 0,0013 cgs unit dan pada kedalaman 10-125 meter terdapat batuan beku breksi-andesit dengan suseptibilitas 0.026 cgs unit. Sayatan B-B’ pada kedalaman 0-125 meter terdapat tiga suseptibilitas batuan yaitu endapan batu pasir (sedimen) dengan suseptibilitas 0,0015 cgs unit, batuan beku andesit dengan sisipan endapan batu pasir yang memiliki suseptibilitas 0,0029 cgs unit, batuan breksi-andesit dengan suseptibilitas 0,0387 cgs unit. Dari hasil tersebut tidak ditemukan sebaran batuan andesit seperti situs yang ada dipermukaan. | Total magnetic field measurements have been conducted in the area around the Carangandul site using Proton Precession Magnetometer (PPM). The purpose of study is identifying the Kadipaten Pasir Luhur site which buried in subsurface of Carangandul site area. Magnetic field anomalies values obtain by processing data using daily correction and IGRF. Then, the magnetic field anomalies is reducted to a flat surface with 114 meters height value. Separation of local and regional anomalies is carried by upward continuation process which obtained regional anomalies at 800 meters altitude. Subsurface modelling of slice A-A’ and B-B’ is used Mag2DC for Windows software. The modeling results a prediction of subsurface structure at 0-100 meters of depth. On A-A' slice at 0-10 metres depth, there are deposits of sandstone with susceptibility 0,0013 cgs units and at 10-125 meters of depth, there is igneous breccia-andesite with susceptibility 0,026 cgs units. On B-B ' slice at 0-125 meters depth, there are three susceptibility of rock, such as sandstone sediment with susceptibility value 0,0015 cgs units, igneous andesite which composted by sandstone sediment with susceptibility value 0,0029 cgs units, rock breccia -andesit with susceptibility value 0,0387 cgs units. The results showed there is no distribution of andesite as sites Carangandul rock. | |
| 3967 | 13794 | C1A010067 | Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Sopir Taksi di Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jam kerja, pengalaman kerja, sistem sharing kendaraan, biaya sewa, dan jumlah tanggungan keluarga terhadap pendapatan sopir taksi di Purwokerto, untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh terhadap pendapatan sopir taksi di Purwokerto dan untuk mengetahui apakah pendapatan sopir taksi di Purwokerto sudah layak jika dibandingkan dengan angka KHL Kabupaten Banyumas 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh sopir taksi yang ada di Purwokerto. Jumlah populasi sebanyak 180 orang, terdiri dari 131 sopir taksi dari Kobata dan 49 sopir dari KPK. Penelitian ini menggunakan metode proportional random sampling. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 64 responden. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda menunjukkan bahwa variabel jam kerja, pengalaman kerja dan biaya sewa kendaraan secara parsial berpengaruh dan signifikan terhadap pendapatan sopir taksi di Purwokerto, sedangkan sistem sharing kendaraan dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh terhadap pendapatan. Variabel jam kerja, pengalaman kerja, sistem sharing kendaraan, biaya sewa kendaraan, dan jumlah tanggungan keluarga secara bersama-sama berpengaruh dan signifikan terhadap pendapatan sopir taksi di Purwokerto. Variabel biaya sewa kendaraan adalah variabel yang berpengaruh paling besar terhadap pendapatan sopir taksi di Purwokerto. Terdapat sejumlah 59 rumah tangga sopir taksi (92,19%) belum memenuhi standar KHL dan 5 rumah tangga sopir taksi (7,81%) sudah memenuhi standar KHL, oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa rata-rata pendapatan per kapita sopir taksi di Purwokerto belum layak karena belum memenuhi standar KHL Kabupaten Banyumas 2015. | This study purposed to analyze the effect of work hours, work experience, drivers sharing system, rent costs, and number of person in a family taxi drivers in Purwokerto, to determine which variabel that most affecting of revenue taxi drivers in Purwokerto, and to analyze revenue taxi drivers in Purwokerto with KHL Banyumas 2015. The population on this study are all of taxi drivers in Purwokerto. Number of population total are 180 persons, divided by 131 drivers from Kobata and 49 drivers from KPK. This study used proportional random sampling method. Number of sample on this study are 64 drivers. Based on result of this study using multiple linear regression, it was found that work hours, work experience and rent costs variabels partially affecting positive and give a significant impact to revenue taxi drivers in Purwokerto, but drivers sharing system and number of person in family variabels didn’t affect to revenue taxi drivers in Purwokerto. Work hours, work experience, drivers sharing system, rent costs, and number of person in a family variabels simultanly affecting positive and give a significant impact to revenue taxi drivers in Purwokerto. Rent costs variabel are variabel that most affecting of revenue taxi drivers in Purwokerto. There are 59 taxi drivers family (92,19%) haven’t meet the standart KHL and 5 taxi drivers family (7,8%) meet the standart KHL, or can be said that average of revenue taxi drivers family haven’t meet the standart KHL Banyumas 2015. | |
| 3968 | 13795 | C1J009021 | Analisis Perbedaan Konsumsi Rumah Tangga Penghuni KPR Inti indah dan Penghuni Sapphire Residence di Purwokerto | Penelitian Ini Berjudul “Analisis Perbedaan Konsumsi Rumah Tangga Penghuni KPR Inti Indah Dengan Penghuni Sapphire Residence Purwokerto “. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya MPC penghuni KPR Inti Indah dan penghuni Sapphire Residence dan untuk mengetahui pola konsumsi penghuni KPR Inti Indah dan penghuni Sapphire Residence. Penelitian ini dilakukan pada bulan April – bulan Mei 2015 dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel menggunakan metode stratified random sampling. Analisis yang digunakan untuk menghitung konsumsi digunakan fungsi regresi linier sederhana dan untuk mengetahui perbedaan konsumsi penghuni KPR Inti Indah dan Sapphire Residence digunakan fungsi Independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil perhitungan diperoleh besarnya nilai t hitung sebesar 4,9641 dan nilai t tabel sebesar 2,0017. Hal ini menunjukkan bahwa nilai t hitung > t tabel yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara konsumsi rumah tangga KPR Inti Indah dan Sapphire Residence. Besarnya pendapatan rumah tangga penghuni Sapphire Residence jauh diatas pendapatan rumah tangga penghuni KPR Inti Indah dengan rata-rata pendapatan Rp. 7.385.000 dengan pengeluaran untuk konsumsi makanan setiap bulannya sebesar 40,16 persen dan diluar makanan sebesar 59,84 persen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Besarnya MPC penghuni KPR Inti indah adalah 0,8043 sedangkan penghuni Sapphire Residence adalah 0,6862. Dengan demikian MPC penghuni KPR Inti Indah lebih besar daripada penghuni Sapphire Residence. 2) Penghuni KPR Inti Indah lebih banyak menggunakan pendapatannya untuk kosumsi makanan dengan prosentase sebesar 63,16 persen, sedangkan penghuni Sapphire Residence lebih banyak menggunakan pendapatannya untuk konsumsi diluar makanan dengan prosentase sebesar 59,84 persen. Implikasi dari penelitian ini adalah 1) Jika ada tambahan pendapatan seyogyanya tidak dihabiskan semua untuk konsumsi, diharapkan bisa ditabung untuk mengantisipasi jika ada kebutuhan yang tak terduga. 2) Pengelolaan pendapatan dalam mengkonsumsi rumah tangga penghuni KPR Inti Indah seyogyanya bisa menggunakan pengeluaran dengan lebih bijak. Sehingga pendapatan mereka tidak habis hanya untuk kegiatan konsumsinya. | The study entitled "The Analysis of Consumption Differences Between The Residents Living In The KPR Inti Indah And of Those Who Are Living In The Sapphire Residence In Purwokerto". The purpose of this study was to find out the number of MPC of the residents of KPR Inti Indah and the residents of Sapphire Residence and to find out the consumption pattern of the residents living in the KPR Inti Indah and of the Sapphire Residence. This research was conducted from April to May by using the survey method. Sampling using stratified random sampling method. The number of samples (respondents) were used in this study as many as 30 people. The analysis used to calculate consumption, it used simple linear regression and to find out the consumption gap of residents of KPR Inti Indah and Sapphire Residence, it applied Independent sample t-test function The results showed that the value of t statistic of 4.9641 and t table of 2.0017. This shows that the value of t statistic > t table which means there is a gap between household consumption of residents of the KPR Inti Indah and of the Sapphire Residence. The mean of household income of residents of Sapphire Residence is IDR 7,385,000 with the expense for foods is 40.16 percent and other than foods is 59.84 percent monthly. The conclusion of this study were: 1) the number of MPC of residents of KPR Inti Indah is 0.8043. Meanwhile, of the residents of Sapphire Residence is 0.6862. Therefore, the MPC of residents of the KPR Inti Indah is greater than of residents of the Sapphire Residence. 2) Residents of the KPR Inti Indah use their income is more for foods with the percentage of 63.16 percent, while the residents of the Sapphire Residence use their income is more on other than foods consumption with the percentage of 59.84 percent. The implication of this study were: 1) If there are additional revenues should not be spent all for consumption, is expected to be saved if there is a needed to anticipate the unexpected. 2) Management in consuming household income in KPR Inti Indah occupants should be able to use spending more wisely. So that their income is not exhausted only for consumption activities. | |
| 3969 | 18390 | G1A013100 | HUBUNGAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PEMBUAT BATU | Latar Belakang: Pekerjaan membuat batu bata merupakan salah satu pekerjaan yang rentan mengakibatkan penyakit akibat kerja. Proses pembuatan batu bata menghasilkan kadar debu yang tinggi sehingga berpotensi mengakibatkan gangguan fungsi paru pada pekerjanya. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) atau masker merupakan salah satu usaha untuk melindungi sistem pernafasan dari paparan debu yang diakibatkan oleh proses pembuatan batu bata Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan pemakaian APD dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pembuat batu bata Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian merupakan 41 pekerja pembuat batu bata di Desa Dawuhan Purbalingga yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan dipilih dengan metode consecutive sampling. Pengukuran fungsi paru dilakukan dengan menggunakan spirometer. Analisis bivariat menggunakan Uji Chi-Square untuk membandingkan hubungan pemakaian APD dengan gangguan fungsi paru Hasil: Hasil penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian APD dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pembuat batu bata p= 0,031 (p = <0,05). Jumlah pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru adalah 15 orang (36,58%), sedangkan jumlah pekerja yang memiliki fungsi paru normal adalah 26 orang (63,41%) Kesimpulan: Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pemakaian APD dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pembuat batu bata. Pekerja pembuat batu bata yang tidak menggunakan APD saat bekerja memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan fungsi paru dibandingkan pekerja yang menggunakan APD. | Backround: Brick-worker is at risk of occupational disease. The brick making process produces high level of dust as it may resulted in lung function impairment in the workers. Personal protective equipment or mask usage is aimed to protect brick-workers from dust exposure that produced by the brick-making process Objective: The aim of this study was to understand the correlation between personal protective equipment usage and lung function impairment in brick factory workers Methods: This study was analytic observational research with cross sectional design. Subject of this study was 41 brick-workers in Desa Dawuhan Purbalingga who met the inclusion and exclusion criteria and were chose by consecutive sampling method. Lung function was measured by spirometry. The bivariat data were analyzed using Chi-square test to understand the correlation understand the correlation between personal protective equipment usage and lung function impairment Result: Result of this study showed that there was significant correlation between personal protective equipment usage and lung function impairment, p=0,031 (p=<0,05). 15 subjects (36,58%) had lung function impairment, and 26 subjects (63,41%) had normal lung function Conclusions: This research conclude that there is correlation between personal protective equipment usage and lung function impairment in brick factory workers. Brick-workers who do not use personal protective equipment are at higher risk of having lung function impairment than the workers who use one. | |
| 3970 | 13797 | A1M011085 | KAJIAN SIFAT SENSORIS, GULA REDUKSI DAN TOTAL MIKROBA MINUMAN TEMULAWAK PADA BERBAGAI JENIS KEMASAN DAN UMUR SIMPAN SELAMA PENYIMPANAN SUHU REFRIGERATOR | Minuman temulawak umumnya dikemas menggunakan kantong plastik yang diduga tidak mampu menjaga minuman temulawak dari kerusakan produk sehingga produk menjadi berumur simpan pendek. Alternatif penanganan untuk meminimalisir kerusakan tersebut yaitu dengan pemilihan kemasan yang tepat dan penyimpanan pada suhu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan, umur simpan, dan kombinasi antara jenis kemasan dan umur simpan terhadap sifat sensoris, gula reduksi, dan total mikroba minuman temulawak selama penyimpanan suhu refrigerator. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor yang diuji yaitu 1) Jenis kemasan (K) terdiri dari plastik PE (K1); cup plastik PP (K2); dan botol kaca coklat (K3). 2) Umur simpan (L) terdiri dari 2 (L1); 6 (L2); 10 (L3); dan 14 hari (L4). Minuman temulawak terbaik diperoleh dari kombinasi perlakuan jenis kemasan cup plastik PP dengan umur simpan 6 hari yang menghasilkan warna 3,35 (kuning kecoklatan), rasa pahit 2,58 (pahit-agak pahit), rasa asam 2,95 (sedikit kuat-agak kuat), dan total mikroba 1,48 x 105 CFU/mL (masih memenuhi SNI total mikroba minuman jamu yaitu 106 CFU/mL). | Temulawak drinks generally packaged using plastic bags that were allegedly unable be able to keep temulawak drinks from product’s damages which makes the product have a short shelf life. Alternative treatment to minimize those damages is by selecting an appropriate packaging and store them at low temperatures. This research aimed to determine the effect of the packaging’s type, shelf life, and the combination of the packaging’s type and shelf life toward sensory properties, reduction sugar and total microbial of temulawak drinks during its storage in refrigerator’s temperature. This research was conducted by experimental method with Randomized Block Design (RBD) arranged in factorial with three replications. The examined factors were: 1) Type of packaging (K) which consists of a plastic PE (K1); plastic cup (K2); and a brown glass bottle (K3). 2) Shelf life (L) which consists of 2 (L1); 6 (L2); 10 (L3); and 14 days (L4). The best of temulawak drinks was produced from the combination treatment of the type of packaging plastic cup with a shelf life of 6 days which produce color 3,35 (tawny), 2,58 bitter taste (bitter- slightly bitter), sour taste of 2,95 (slightly stronger-bit strong), and the total microbial 1,48 x 105 CFU/mL (still qualify SNI total microbial herbal drink that is 106 CFU/mL). | |
| 3971 | 13637 | A1L011025 | APLIKASI DUA TEKNOLOGI BUDIDAYA DUA VARIETAS CABAI MERAH TERHADAP PENYAKIT VIRUS KUNING DI LAHAN PASIR PANTAI | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh Teknologi budidaya BPTP terhadap intensitas penyakit virus kuning, dan hasil tanaman cabai merah.Penelitian dilaksanakan di lahan pasir Pantai Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Daerah Istimewa Yogyakarta dari Maret sampai Agustus 2015. Faktor yang sudah dicoba adalah dua teknologi, yaitu aplikasi Teknologi budidaya BPTP terdiri atas aplikasi PGPR, perangkap likat kuning, penanaman border jagung dan aplikasi insektisida berbahan aktif Abamektin 18 EC., dan Teknologi budidaya Petani terdiri atas aplikasi insektisida berbahan aktif Abamektin 18 EC pada dua varietas cabai merah terdiri atas Varietas Kencana dan Helix, sehingga diperoleh 4 perlakuan dan jumlah ulangan 8 kali. Variabel pengukuran yang diamati adalah masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, luas serangan, tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang buah, jumlah buah, dan bobot hasil pertanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Teknologi budidaya BPTP tidak berpengaruh terhadap masa inkubasi, laju infeksi, danluas serangan penyakit. Teknologi budidaya petani mampu menurunkan Intensitas penyakit pada Varietas Kencana dan Helix masing-masing sebesar 25,37% dan 67,46%, dan laju infeksi mampu menurunkan pada Varietas Helix sebesar 75%. Teknologi budidaya BPTP pada Varietas Kencana dan Helix mampu meningkatkan tinggi tanaman masing-masing sebesar 12,44 dan 0,64%, jumlah buah sebesar 23,49 buah dan 16,74 buah, bobot hasil per tanaman sebesar 46,66 dan 59,42%. Teknologi budidaya BPTP dan Petani tidak berpengaruh terhadap jumlah cabang cabai merah, dan panjang buah. | A research aimed to determine the effect of BPTP cultivation technology on disease intensity and yieldof red chili. The research was carried outat the Bugel Sea coast land, Panjatan Subdistrict, Kulonprogo Regency, Yogyakarta Special Region, and at Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta from March up to August 2015. Factor tested was two technologies, i.e., BPTP cultivation technology consisted of PGPR, yellowtrap, planting of corn as border, and insecticide with active ingredient of Abamectin 18 EC application, and farmercultivation technology consistedof the insecticide application only on two red chili varieties, i.e., Kencana and Helix varieties and repeated 8 times Variables observed were incubation period, disease intensity, infection rate, attack area, crop height, number of branches, fruit length, number of fruits, and yield weight per crop. Result of the research showed that the BPTP cultivation technology was not significantly difference on Kencana and Helix varieties in incubation period, infection rate, and attack area of the disease. The farmer’s cultivation technology could decrease the disease intensity on Kencana and Helix varieties as 25,37and 67,46%, respectively, and the farmer’s cultivation technology could decrease the infection rate on Helix variety as 75%. The BPTP cultivation technology on Kencana and Helix varieties could increase crop height, number of fruits, and yield weight per crop as 12.44 and 0.64%, 23.49 and 16.74 fruits, and 46.66 and 59.42%, respectively. Both technologies did not affect the number of red chili branches and fruit length | |
| 3972 | 13799 | G1A012065 | HUBUNGAN BAKTERIURIA ASIMTOMATIK DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada masa kehamilan. Angka kejadian preeklampsia di Indonesia masih cukup tinggi dan menjadi penyebab kematian maternal tertinggi kedua di dunia. Etiologi pasti dari preeklampsia hingga saat ini belum diketahui, namun proses infeksi diduga berperan dalam patogenesis preeklampsia. Bakteriuria asimtomatik merupakan suatu kondisi terjadinya infeksi di dalam saluran kemih yang timbul tanpa menunjukkan adanya tanda dan gejala. Bakteriuria asimtomatik sering terjadi pada masa kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara bakteriuria asimtomatik dan kejadian preeklampsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada ibu hamil di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari 2014 hingga Desember 2014. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder yang diperoleh dari rekam medis, sebanyak 64 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian preeklampsia ditemukan pada 22 responden pada kelompok dengan bakteriuria dan 12 responden pada kelompok kontrol. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara bakteriuria asimtomatik dan kejadian preeklampsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (p<0,05). | Preeclampsia is one of the complications that occur during pregnancy. The incidence of preeclampsia in Indonesia is still high and became the second highest cause of maternal deaths in the world. Definite etiology of preeclampsia is still unknown, but the infection has been implicated in the pathogenesis of preeclampsia. Asymptomatic bacteriuria is an infection on the urinary tract that arises without showing any signs and symptoms. Asymptomatic bacteriuria is one of the common infections during pregnancy. The aim of this study was to analyze relation of asymptomatic bacteriuria and preeclampsia in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. This study was an observational analytic study with cross sectional design. The sampel on this study was pregnant women in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto period January 2014 to December 2014. Data were collected in the form of secondary data obtained from the medical records of the respondents. Data analysis was performed using Chi-square test. Data analysis was done by using Chi-square test. The results of this study show that the incidence of preeclampsia was found in 22 respondents in the group with bacteriuria and 12 respondents in the control group. In conclusion, there is a relationship between asymptomatic bacteriuria and preeclampsia in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (p <0.05). | |
| 3973 | 13800 | A1G012010 | KAJIAN NILAI TAMBAH SINGKONG MENJADI GROPAK (Studi Kasus pada Industri Rumah Tangga Gropak di Desa Sokaraja Tengah Kecamatan Sokaraja) | Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan mudah rusak jika tidak diolah. Pengolahan singkong dapat memberikan nilai tambah bagi singkong tersebut dan bagi pengrajin. Desa Sokaraja Tengah merupakan salah satu desa di Kecamatan Sokaraja yang memiliki banyak usaha industri rumah tangga. Salah satu industri rumah tangga yang diusahakan di desa Sokaraja Tengah adalah gropak dengan bahan baku singkong. Pada umumnya pengrajin tidak memperhitungkan secara terperinci aspek-aspek finansial dalam usahanya, contohnya biaya produksi, penerimaan dan keuntungan dalam usahanya. Perhitungan mengenai aspek-aspek finansial tersebut sangat menentukan dalam mempertahankan keberlanjutan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: biaya, penerimaan dan keuntungan industri rumah tangga gropak, dan nilai tambah singkong menjadi gropak. Pengambilan data dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 30 Maret 2015 dengan sasaran penelitian adalah pengrajin gropak sejumlah 18 orang. Penelitian ini menggunakan metode sensus untuk pengambilan sampel dan studi kasus untuk metode penelitiannya. Teknik pengumpulan data primer dengan cara menggunakan kuisioner dan observasi langsung, dan teknik pengumpulan data sekunder dengan cara studi pustaka dan studi dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah: analisis biaya, penerimaan, keuntungan, dan nilai tambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi gropak rata-rata pada bulan Maret 2015 sebesar Rp683.159,92, penerimaan rata-rata sebesar Rp876.433,74 dan keuntungan rata-rata sebesar Rp193.273,82. Hasil analisis nilai tambah bulan Maret 2015 sebesar Rp2.612 per kilogram bahan baku utama singkong dan rasio nilai tambah yang diperoleh adalah 15,68 persen. Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap nilai bahan baku Rp100,00 mendapatkan nilai tambah rata – rata sebesar Rp15,68. | Manioc or cassava is a crop that is widely cultivated in Indonesia and is easily decayed if not processed. Cassava processing can give value-added for the cassava and for the craftsman. Central Sokaraja Village is one of Villages in Sokaraja sub-district that has many home industries. One of central Sokaraja Village’s home industries is gropak, which is made of cassava. In general the producers do not count in detail financial aspects in their business, for example production cost, turnover and profit in their business. The calculationof the financial aspects are crucial in maintaining business continuity. This research aims to find out: cost, revenue and profit of gropak home industry, and the value- added cassava to be gropak. The data collection was held from March 1 until March 30, 2015 with the goal of the research is the Gropak craftsman as many as 18 people. This research uses census method for sampling and case study method for research. Primary data collection techniques were questionnaires and direct observation, and secondary data collection by literature study and documentation. The analytical method used is: analysis of cost, revenue, profit, and value- added. The results showed that the average cost of production of gropak - average in March 2015 was Rp683.159,92, average revenue was Rp876.433,74 and the average profit was Rp193.273,82. Result of the analysis of the value-added in March 2015 was Rp2.612 per kilogram of the main raw material of cassava, and the ratio of value-added obtained was 15.68 percent. It shows that for each value of the raw materials Rp100.00 gained value-added - average of Rp15,68. | |
| 3974 | 13802 | G1A012129 | PROFIL EKSPRESI MLH-1 (MutL Homolog 1) DAN KLINIKOPATOLOGIK KARSINOMA KOLOREKTAL DI WILAYAH BANYUMAS | ABSTRAK Latar Belakang: Gen MLH-1 adalah suatu gen missmatch repair (MMR) pada jalur karsinogenesis karsinoma kolorektal. Ekspresi protein MLH-1 positif pada penderita menunjukkan prognosis yang lebih baik dibandingkan ekspresi negatif. Penelitian mengenai profil ekspresi MLH-1 dan klinikopatologik karsinoma belum pernah dilakukan di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Tujuan: Mengetahui profil klinikopatologik (jenis kelamin, usia, topografi, stadium dukes, dan derajat diferensiasi) dan ekspresi MLH-1 pada karsinoma kolorektal. Metode: Sampel blok parafin yang berasal dari 45 kasus adenokarsinoma kolorektal post-hemikolektomi dikumpulkan sejak Januari hingga Desember 2014 di RSUS Prof. Margono Soekarjo Purwokerto dan Laboratorium Rujukan Banyumas, Jawa Tengah. Ekspresi MLH-1 diteliti melalui immunohistokimia menggunakan antibodi poliklonal (Biocare Medical; USA). Kriteria pewarnaan sel diklasifikasikan melalui metode skoring allred. Karakteristik klinikopatologik yang dikumpulkan meliputi jenis kelamin, usia, topografi, stadium dukes, dan derajat diferensiasi dinilai dari 57 sampel total. Hasil: Pewarnaan MLH-1 menunjukkan hasil positif 20% dan negatif 80%. Karakteristik klinikopatologik menunjukkan jenis kelamin laki-laki (56,1%), perempuan (43,9%), usia ≤40 tahun (19,3%) dan >40 tahun (80,7%), topografi kolon proksimal (40,4%) dan kolon distal (59,6%), stadium Dukes A (0%), B (70,2%), C (17,5%), D (12,3%), derajat diferensiasi baik (84,2%), moderat (14,0%), buruk (1,8%). Kesimpulan: Karakteristik klinikopatologik karsinoma kolorektal di wilayah Banyumas mayoritas berjenis kelamin laki-laki, usia terjadi pada usia >40 tahun, topografi pada kolon kiri, stadium Dukes pada stadium Dukes B, dan derajat diferensiasi baik. | ABSTRACT Background: MLH-1 is a mismatch repair (MMR) gene which classified as colorectal cancer carcinogenesis pathaway. Patients with positive expression of MLH-1 are known to have better prognosis. There has not any study about expression of MLH-1 and clinicopathological profile of colorectal cancer in Banyumas region, Central of Java, Indonesia. Aim: To discover the expression of MLH1 and clinicopathologic characteristics (including gender, age, site of tumor, Dukes staging, and histopatological grading of colorectal cancer. Method: Paraffin-preserved adenocarcinoma colorectal samples of 45 cases were collected from patients undergoing hemicolectomy from January through December 2014 in Prof. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital and Banyumas referral laboratory, Central of Java. MLH-1 expressions were studied using polyclonal antibody (Biocare Medical:USA). The number of cells that immunohistochemistry stained were assesed using allred score methods. Clinicopathologic data that assesed from 57 total sampling including gender, age, tumor location, Dukes staging and histopathological grading. Result: MLH-1 expression which showed positive and negative staining were 20% and 80%.Clinicopathological characteristic assesment results were male gender (56,1%), female (43,9%), ≤40 years of age (19,3%), >40 years (80,7%), distal colon sites of tumor (40,4%), proxymal colon (59,6%), Dukes staging A (0%), B (70,2%), C (17,5%), D (12,3%), and well-differentiated histopathological grading (84,2%), moderate-differentiated (14,0%), poor-differentiated (1,8%). Conclusion: The majority both clinicopathologic characteristic and MLH-1 expression of colorectal cancer in Banyumas region were male gender, >40 years of age, right sided colon sites of tumor, Dukes staging B, and well-differentiated histopathological grading. | |
| 3975 | 13801 | F1F011062 | An Analysis of Overlap Occurrences in the 2012 USA Vice Presidential Debate | Penelitian yang berjudul “An Analysis of Overlap Occurrences in the 2012 USA Vice Presidential Debate” ini bertujuan untuk (1) menganalisis tipe kejadian tumpang tindih selama debat; (2) menganalisis alasan dibalik terjadinya tumpang tindih, dan (3) menjelaskan bagaimana kejadian tumpang tindih teratasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis data utama. Data yang digunakan berasal dari Debat Wakil Presiden Amerika tahun 2012, dan sampel dipilih dari ujaran yang saling tumpang tindih sepanjang debat berlangsung. Pendekatan yang digunakan adalah analisis percakapan dalam ranah pragmatik, dan teori tentang kejadian tumpang tindih digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini diawali dengan menganalisis tipe tumpang tindih dengan mengacu pada teori Jefferson. Kemudian, alasan yang mendasari terjadinya tumpang tindih dianalisis menggunakan teori Wardhaugh, dan didukung oleh teori paralinguistik. Analisis yang terakhir yakni bagaimana kejadian tumpang tindih teratasi dengan mengacu pada teori Schegloff. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yaitu : (1) data keseluruhan ada 27; (2) data untuk tipe transitional onset yakni 16 yang dibagi menjadi empat data untuk terminal onset, tujuh data untuk latched onset, dan lima data untuk unmarked next position onset; (3) data untuk tipe recognitional onset yakni sembilan yang dibagi menjadi empat untuk item targetted onset, dan lima untuk thrust projective onset; (4) data untuk tipe progressional onset yakni dua yang dibagi masing-masing satu untuk onset upon mid utterance silence or silence fillers dan onset upon mid utterance stuttering; (5) data untuk kejadian tumpang tindih yang teratasi tepat setelah satu beat dari percakapan yang tumpang tindih yakni dua; (6) data untuk kejadian tumpang tindih yang teratasi setelah melewati beberapa beat yakni 25; dan (7) data untuk alasan terjadinya tumpang tindih karena memberikan klarifikasi yakni lima, alasan karena menunjukkan penolakan yakni tiga, alasan karena melengkapi penjelasan yakni sembilan, alasan karena menandakan kejengkelan yakni satu, alasan karena menunjukkan keadaan mendesak yakni empat, dan alasan karena ketidaksetujuan yakni lima. | The research entitled "An Analysis of Overlap Occurrences in the 2012 USA Vice Presidential Debate" aims to: (1) analyze type of each overlap; (2) analyze the reason of each overlap; (3) explain the resolution of each overlap in the debate. The research used qualitative method for analyzing the main data of the research. Data were collected from the 2012 USA Vice Presidential Debate, and the sample was taken from the overlapped utterances in the debate. The researcher used conversational analysis in pragmatics as the approach and theory of overlapping talk to answer the research questions. The study firstly examined the types of overlap in the debate by using Jefferson’s theory. Then, the reasons were investigated by using Wardhaugh’s theory. For helping to find out them more, paralinguistic theory was also applied. Finally, the study examined the resolution for each overlap by applying Schegloff’s theory. The result reveals that there are 27 total data for overlapped utterances in the debate which are categorized into three types. For transitional onset, there are 16 data which are divided into three subtypes: four data of terminal onset, seven data of latched onset, and five data of unmarked next position onset. Then, recognitional onset has nine data which are divided into two subtypes: four data of item targetted onset, and five data of thrust projective onset. Meanwhile, there are two data for progressional onset which are divided into two subtypes: one datum of onset upon mid utterance silence or silence fillers, and one datum of onset upon mid utterance stuttering. Moreover, there are two data for overlap which resolved after one beat, and 25 data for overlap resolved after competition. For the reasons: there are five data of showing clarification, three data of showing rejection, nine data of showing completion, one data of signalling annoyance, four data of showing urgency, and five data of showing disagreement. | |
| 3976 | 13803 | A1M011006 | PENGARUH VARIASI JENIS KEMASAN DAN UMUR SIMPAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN SENSORIS MINUMAN BERAS KENCUR PADA SUHU KAMAR | Minuman beras kencur mudah mengalami kerusakan pada suhu kamar sehingga perlu adanya pengemasan. Minuman beras kencur mengandung senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid dan minyak atsiri. Senyawa bioaktif rentan mengalami kerusakan akibat suhu tinggi, terpapar cahaya dan berinteraksi dengan oksigen. Kerusakan pada minuman beras kencur juga dapat dilihat dari adanya perubahan baik secara kimia, mikrobiologi maupun sensoris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan, umur simpan terhadap sifat kimia, mikrobiologi dan sensoris minuman beras kencur, menentukan kombinasi perlakuan minuman beras kencur terbaik serta mengetahui umur simpan minuman beras kencur pada masing-masing jenis kemasan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 12 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Faktor yang dicoba meliputi dua faktor yaitu jenis kemasan (K) terdiri dari kantong plastik PE (K1); gelas plastik PP (K2); botol kaca coklat (K3); umur simpan (L) terdiri dari 12 jam (L1); 24 jam (L2); 36 jam (L3) dan 48 jam (L4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K3L1 (botol kaca coklat, 12 jam) merupakan kombinasi perlakuan terbaik minuman beras kencur dengan karakteristik warna coklat (4,25), aroma rempah agak kuat (2,717), rasa yang manis (3,883), flavour mendekati enak (3,717), dan tingkat kesukaan mendekati suka (3,833). Serta kadar gula reduksi sebesar 1,462%bb dan total mikroba 1,132x104 yang sesuai dengan SNI minuman tradisional <106. Berdasarkan total mikroba dan sensoris umur simpan minuman beras kencur yang masih layak dikonsumsi pada kemasan kantong plastik PE, gelas plastik PP dan botol kaca coklat berturut-turut adalah 24, 36 dan 36 jam. | The greater galingale rice beverages is easily damaged at room temperature so that need for packaging. The greater galingale rice beverages contain bioactive compounds such as saponins, flavonoids and essential oils. Bioactive compounds susceptible to damage due to high temperatures, exposure to light and interacts with oxygen. Damage to the greater galingale rice beverages can also be seen from the change in both chemical, microbiological and sensory. The research was to determine the effect of the packaging’s types, shelf life to the chemical, microbiological and sensory the greater galingale rice beverages, determine the treatment combination of the greater galingale rice beverages best and know the shelf life of the greater galingale rice beverages on packaging’s types. The method used is an experimental method with Randomized Design (RBD) arranged as factorial with 12 combined treatment and repeated 3 times to obtain 36 experimental units. Factors to be tried include two factors: packaging’s types (K) consists of a plastic bag PE (K1); plastic cups PP (K2); brown glass bottle (K3); shelf life (L) consists of 12 hours (L1); 24 hours (L2); 36 hours (L3) and 48 hours (L4). The results showed that treatment K3L1 (brown glass bottle, 12 hours) is the best treatment combination the greater galingale rice beverages with characteristic brown color (4.25), a rather strong aroma of spices (2,717), a sweet taste (3,883), approached tasty flavor (3.717), and the preference level approach like (3.833). As well as reducing sugar amounted to 1.462% bb and the total microbial 1,132x104CFU/mL in accordance with SNI traditional beverage <106. Based on the total microbial and sensory shelf life of the greater galingale rice beverages are still suitable for consumption on the plastic bag PE, plastic cup PP and brown glass bottles in a row is 24, 36 and 36 hours. | |
| 3977 | 13805 | H1D011054 | PERMODELAN HIDRAULIK FISIK GERUSAN BAHU JALAN DI RUAS JALAN RAYA PURWOKERTO – BUMIAYU DENGAN VARIASI ALINYEMEN VERTIKAL | Bahu jalan merupakan salah satu prasarana yang penting bagi pengguna jalan salah satunya adalah sebagai tempat pemberhentian untuk menghindar dari kecelakaan. Salah satu masalah yang sering dijumpai pada bahu jalan adalah gerusan akibat air hujan. Gerusan ini menyebabkan cekungan yang cukup dalam yang tidak jarang membahayakan pengendara yang melintas jalan raya. Salah satu cara untuk mempelajari fenomena ini adalah dengan membuat model hidraulik fisik. Model dibuat di laboratorium untuk menirukan suatu badan jalan dan bahu jalan yang sedang tertimpa hujan. Saluran badan dan bahu jalan dibuat menggunakan bahan dari akrilik sedangkan rainfall simulator pada penelitian ini menggunakan 2 buah shower. Pada penelitian akan memperhatikan apa yang terjadi pada bahu jalan dalam kurun waktu tertentu dan pada intensitas tertentu. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui kedalaman dan lebar gerusan yang terjadi akibat guyuran air hujan dengan beberapa intensitas yang berbeda. Model fisik gerusan di bahu jalan direncanakan dengan membuat suatu bentuk yang menyerupai potongan melintang jalan dan bahu jalan. Hujan buatan akan dicurahkan di atas model hingga menyerupai kejadian hujan sesungguhnya dan akan diamati pengaruhnya terhadap gejala erosi di bagian bahu jalan. Hasil dari penelitian yang didapat adalah intensitas hujan dan durasi hujan termasuk dua hal yang mempengaruhi gerusan dibahu jalan. Semakin besar intensitas hujan semakin besar pula lebar, panjang dan kedalaman gerusan dibahu jalan begitu pula dengan durasi hujan semakin besar durasi hujan semakin besar pula gerusan yang terjadi. Kedalaman gerusan maksimal yang terjadi pada intensitas 5 mm/jam adalah 2,11 cm, pada intensitas 10 mm/jam adalah 2.11 cm, pada intensitas 15 mm/jam 2,2 cm, pada intensitas 20 mm/jam adalah 2,5 cm dan pada intensitas 25 mm/jam adalah 3 cm. Aliran hujan yang melewati bahu jalan selalu membuat alur terlebih dahulu. Alur yang dibuat oleh aliran air hujan berbentuk seperti sungai kecil. Setelah aliran hujan menemukan alurnya gerusan yang terjadi cenderung tetap. | Roadside is one of the essential infrastructure for road users. That can be used for stopping off point to avoid an accident. One of the problems often encountered on the roadside is local scouring due to rain. The local scouring cause hole, that deep enough to endanger motorists crossing the highway. One way to study for this phenomenon is to create a physical hydraulic model. The model was made in the laboratory to simulate a roadside of the road and being hit by rain. Road and roadside made on canal/flume that made from the multiplex. For the roadside, the mixing of coral and asphalt was spread above the flume, and the roadside of road was spread with sand, two pieces of showers was used for rainfall simulator. The research simulate the phenomenon that occur on the roadside in a certain perion of time and on a certain road slope. Results of the study were obtained, that rainfall intensity and vertical alignment are two things that affect the scour on roadside. The greater intensity of the rainfall will cause the greater the width, length and depth of roadside scour. The greather of vertikal alignment will effected on increasing of. The flow velocity also has proportional relationship with the depth scour. The increasing of flow velocity will increase the depth of local scouring.. For sample 1 , the maximum scour depth occurred in the vertical alignment 2 % , 15 % and 26 % with intensity of 5 mm / h is 1.5 cm , 1.6 cm , and 2.6 cm, for Intensity of 15 mm / h is 1.6 cm , 2.1 cm , and 3.3 cm . and the intensity of 25 mm / h 1.8 cm , 2.2 cm , and 3.7 cm. For sample 2 , the maximum scour depth occurred in the vertical alignment 2 % , 15 % , and 26 % with intensity of 5 mm / h is 1.2 cm , 1.5 cm , and 2.3 cm, for the intensity of 15 mm / h is 1.6 cm , 1.8 cm , and 3 cm . and the intensity of 25 mm / h is 1.8 cm , 2.1 cm , and 3.2 cm. Rain flow passing through the roadside always make the groove. Groove created by the flow of rain water shaped like a river . After the rain finding its groove scour flow that occurs tends to remain . | |
| 3978 | 13806 | G1A012123 | PENGARUH PEMBERIAN SARI BUAH MARKISA UNGU (Passiflora edulis var edulis) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR WISTAR MODEL HIPERKOLESTEROLEMIA | Latar Belakang: Hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis yang berisiko menimbulkan penyakit kardiovaskular. Markisa mengandung berbagai senyawa aktif yang dapat menghambat hiperkolesterolemia sehingga risiko penyakit kardiovaskular dapat dikurangi. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian sari buah markisa ungu (Passiflora edulis var. edulis) dosis bertingkat terhadap kadar trigliserida serum tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar model hiperkolesterolemia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental murni pre and post test with control group design. Perlakuan dibagi menjadi 5 kelompok (K) uji; K1 (kontrol tanpa induksi hiperkolesterolemia), K2 (kontrol dengan induksi hiperkolesterolemia selama 10 hari), K3 (perlakuan dosis 1,1 mL/200gBB/hari), K4 (perlakuan dosis 2,1 mL/200gBB/hari), dan K5 (perlakuan dosis 4,2 mL/200gBB/hari). Setelah 14 hari perlakuan dilakukan pengambilan sampel darah untuk mengetahui kadar trigliserida. Hasil: Kadar trigliserida K1 posttest (55,87±20,77), K2 posttest (139,82±77,10), K3 posttest (93,73±28,65), K4 posttest (79,22±26,54), dan K5 posttest (57,63±15,53) menunjukkan kadar yang berbeda pada setiap kelompok. Hasil uji parametrik One Way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,002), hasil uji Post Hoc Tukey menyatakan bahwa K5 menunjukkan perbedaan paling signifikan dibandingkan kelompok lain. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian sari buah markisa ungu (Passiflora edulis var edulis) dosis bertingkat terhadap kadar trigliserida serum tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar model hiperkolesterolemia. | Latar Belakang: Hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis yang berisiko menimbulkan penyakit kardiovaskular. Markisa mengandung berbagai senyawa aktif yang dapat menghambat hiperkolesterolemia sehingga risiko penyakit kardiovaskular dapat dikurangi. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian sari buah markisa ungu (Passiflora edulis var. edulis) dosis bertingkat terhadap kadar trigliserida serum tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar model hiperkolesterolemia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental murni pre and post test with control group design. Perlakuan dibagi menjadi 5 kelompok (K) uji; K1 (kontrol tanpa induksi hiperkolesterolemia), K2 (kontrol dengan induksi hiperkolesterolemia selama 10 hari), K3 (perlakuan dosis 1,1 mL/200gBB/hari), K4 (perlakuan dosis 2,1 mL/200gBB/hari), dan K5 (perlakuan dosis 4,2 mL/200gBB/hari). Setelah 14 hari perlakuan dilakukan pengambilan sampel darah untuk mengetahui kadar trigliserida. Hasil: Kadar trigliserida K1 posttest (55,87±20,77), K2 posttest (139,82±77,10), K3 posttest (93,73±28,65), K4 posttest (79,22±26,54), dan K5 posttest (57,63±15,53) menunjukkan kadar yang berbeda pada setiap kelompok. Hasil uji parametrik One Way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,002), hasil uji Post Hoc Tukey menyatakan bahwa K5 menunjukkan perbedaan paling signifikan dibandingkan kelompok lain. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian sari buah markisa ungu (Passiflora edulis var edulis) dosis bertingkat terhadap kadar trigliserida serum tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar model hiperkolesterolemia. | |
| 3979 | 13807 | H1F010043 | GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK PANTAI SERTA KAITANNYA DENGAN KETERDAPATAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN CILACAP, JAWA TENGAH | Indonesia sebagai negara kepulauan dengan pantainya yang panjang, menyimpan berbagai macam potensi untuk dikembangkan, salah satunya berupa potensi sumberdaya alam berupa bahan galian pasir besi. Potensi pasir besi erat kaitannya dengan kondisi geologi daerah tersebut dimana keberadaan batuan vulkanik sebagai asal mula endapan pasir besi. Lokasi penelitian berada di Pantai Selatan Cilacap, Jawa tengah. Metode penelitian yang digunakan berupa pemetaan geologi, deskripsi karakteristik pantai, penentuan lokasi pengamatan, dan pengambilan contoh sedimen pantai di permukaan dan bawah permukaan menggunakan bor tangan. Kemudian contoh sedimen dideskripsikan secara megaskopis dan dianalisis kandungan unsur kimianya menggunakan metode Atomic Absorption Spectrometry (AAS). Kondisi geologi daerah penelitian terbagi menjadi enam satuan tidak resmi, yaitu satuan breksi, satuan intrusi andesit, satuan batugamping, satuan aluvium endapan pantai tua, satuan endapan pantai muda, dan satuan aluvial-fluvial. Endapan pasir besi umumnya ditemukan di pantai dengan karakteristik pantai berpasir, baik di permukaan pantai maupun di lapisan pasir pantainya. Keterdapatan pasir besi meningkat kearah barat daerah penelitian, dengan persentase kadar besi (% Fe Total) mulai dari 5,86% hingga 16,61%. Keterdapatan pasir besi bersumber dari batuan gunungapi yang berada disekitar daerah penelitian. | Indonesian archipelago with it’s long coast, has many different potential to develop, which one is natural potential resource as iron sand. The iron sand potential is related to geological condition of the area that has a presence of volcanic rocks as a source for iron sand. The research location at the South Cilacap Beach, Central Java. The methods of research include geological mapping, coastal characteristic mapping, positioning, and coastal sediment sampling at the beach surface and subsurface using Hand Auger. The sediment sample is megascopic analysis and chemical analysis using Atomic Absorption Spectrometry (AAS) methode. Geological condition of research area devided into six unit, breccia unit, andesite intrusion, limestone unit, old beach alluvium, young beach alluvium, and alluvial-fluvial unit. Iron sand deposits generally occupy a sand beach, either on the beach surface or on the layer of the beach sand. The presence of iron sand are increasing to the west of research area, with a persentation (% Fe Total) from 5,86% to 16,61%. Iron sand reserves source from volcanic rocks that surrounded the research area. | |
| 3980 | 13809 | G1A012003 | HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PETANI YANG TERPAPAR PESTISIDA DI KECAMATAN KEDUNG BANTENG | Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Fakto risiko terhadap kejadian anemia sangat beragam, salah satunya adalah zat-zat toksik dalam pestisida. Petani padi di Kecamatan Kedung Banteng merupakan pengguna pestisida tertinggi kedua di Kabupaten Banyumas, sehingga mereka berisiko untuk terjadi keracunan pestisida dan menderita anemia akibat paparan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa kerja dan status gizi dengan kejadain anemia pada petani yang terpapar pestisida di Kecamatan Kedung Banteng. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian analitik observational dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 34 petani padi di Kecamatan Kedung Banteng yang didapatkan dengan metode multistage sampling. Data penelitian didapatkan dari hasil wawancara, serta pemeriksaan laboratorium sampel darah untuk pengukuran kadar enzim kholinesterase dan kadar hemoglobin darah. Analisis data yang digunakan adalah uji Fisher Exact. Hasil uji Fisher Exact menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p=0,268) dan status gizi (0,591) dengan kejadian anemia pada petani yang terpapar pestisida. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara masa kerja dan status gizi dengan kejadian anemia pada petani yang terpapar pestisida di Kecamatan Kedung Banteng. | Anemia is a public health problem worldwide, including Indonesia. Risk factors of anemia is very diverse, one of them is toxic substances in pesticides. Rice farmers in district Kedung Banteng is the second highest pesticides user in Banyumas, so they are at risk for pesticide poisoning and anemic due to pesticide exposure. The aim of this study was to determine the association between work period and nutritional status on the incidence of anemia in farmers exposed to pesticides in district Kedung Banteng. The study used an observational analytic study with cross sectional design. The number of responden were 34 rice farmers in district Kedung Banteng by multistage sampling method. Research data were from interviews and laboratory examination of blood samples for the measurement of enzyme cholinesterase concentration and haemoglobin concentration. Data were analyzed using Fisher Exact Test. The results of Fisher Exact Test showed there was no significant association between work period (p=0.268) and nutritional status (p=0.591) on the incidence of anemia in farmers exposed to pesticides. This study result shows that there was no association between work period and nutritional status on the incidence of anemia in farmers exposed to pesticides in district Kedung Banteng. |