Artikelilmiahs
Menampilkan 4.001-4.020 dari 48.758 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 4001 | 13829 | G1A012110 | PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN BUBUK ABATE DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK ETHANOL DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP MORTALITAS LARVA Aedes spp | Latar Belakang: Abate memiliki efek toksik pada organisme hidup dan lingkungan. Perlu dilakukan usaha untuk mendapatkan larvasida alami untuk mengurangi resistensi dan dampak negatif abate. Ekstrak ethanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) diduga memiliki efek untuk membunuh larva Aedes spp. Tujuan: Membandingkan keefektifan ekstrak ethanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dengan bubuk abate terhadap larva nyamuk Aedes spp. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental post test only with control. Objek percobaan berupa larva nyamuk Aedes spp. instar III dan IV. Objek menjadi 3 kelompok : Kelompok A (Kontrol), Kelompok B (bubuk abate 1g dalam 1 liter air), dan Kelompok C (ekstrak ethanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dengan dosis 100 mg dalam 1 liter air). Hasil: Uji post hoc Mann-Whitney menunjukkan kelompok ekstrak ethanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) pada waktu pengamatan 48 jam paling signifikan lainnya (p<0,05). Kelompok bubuk abate signifikan pada waktu pengamatan 24 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan efektivitas bubuk abate dengan ekstrak ethanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes spp. Abate memiliki presentase 100% dan ekstrak ethanol daun jeruk nipis memiliki presentase 73% dalam membunuh larva Aedes spp. Sehingga bubuk Abate lebih efektif membunuh larva Aedes spp. Kata Kunci: abate, Citrus aurantifolia, Aedes spp. | Background: Abate has a toxic effect on living organisms and the environment . Effort should be made to obtain natural larvicides to reduce resistance and negative effects of abate. Ethanol citrus leaf extract (Citrus aurantifolia) allegedly have the effect of killing the larvae of Aedes spp . Objective: To compare the effectiveness of abate powder dose of 1 g per 1 L water with ethanol citrus leaf extract (Citrus aurantifolia) dose of 100 mg per 1 L water against Aedes spp. larvae mortality. Method: This study used an experimental design post-test only with control. The object of the experiment was in the form of Aedes spp larvae, third and fourth instars. The objects were divided into 3 groups: Group A (control), Group B (1 g abate powder in 1 L water), Group C (100 mg ethanol citrus leaf extract in 1 L water). Result: Post hoc Mann-Whitney test showed that the group of ethanol citrus leaf extract (Citrus aurantifolia) at least 48 hours of observation time more significant (p<0.05). Group of abate powder was significant at the time of observation 24 (p<0.05). Conclusion: There are differences in the effectiveness of abate powder with ethanol citrus leaf extract (Citrus aurantifolia) on mortality of larvae of Aedes spp. Abate has a percentage of 100% and ethanol citrus leaf extract has a percentage of 73% in killing the larvae of Aedes spp. Abate powder more effective in killing the larvae of Aedes spp. Keyword: abate, Citrus aurantifolia., Aedes spp. | |
| 4002 | 13831 | H1D010045 | Analisis Neraca Air (Water Balance) pada Waduk Penjalin Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes | Waduk Penjalin merupakan waduk yang terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Fungsi utama waduk yaitu sebagai sarana pemanfaatan sumber daya air untuk keperluan irigasi di Kabupaten Brebes. Sumber air Waduk Penjalin sangat bergantung dengan jumlah curah hujan yang terjadi pada daerah sekitar Waduk Penjalin sehingga analisis neraca air harus dilakukan guna mengetahui besarnya ketersediaan air dan kebutuhan air yang diperlukan untuk irigasi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan analisis debit ketersediaan air dengan Model Mock dan hasilnya dibandingan dengan data debit hasil observasi Waduk Penjalin. Penelitian ini fokus pada distribusi aliran Waduk Penjalin dan kebutuhan di lahan yang direncanakan mendapat manfaat dari waduk. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan Kepala Operasi & Pemeliharaan Waduk Penjalin dan pengamatan langsung pada Waduk Penjalin tentang permasalahan yang terdapat pada waduk dan daerah aliran irigasi. Data yang digunakan dalam analisis penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari hasil inventarisasi yang telah dilakukan berbagai lembaga maupun institusi antara lain BPSDA& BMKG. Pengolahan data dilakukan untuk memperoleh nilai ketersedian debit air, kebutuhan air yang harus dicukupi dan imbangan air pada lokasi studi. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa Waduk Penjalin memiliki volume ketersediaan air dari hasil Model Mock sebesar 13,19 juta m3/tahun dan hasil observasi sebesar 13,75 juta m3/tahun. Volume kebutuhan air yang dapat dilayani oleh Waduk Penjalin adalah sebesar 177,23 juta m3/tahun dan volume kebutuhan air dari hasil perhitungan sebesar 14219,27 juta m3/tahun. Pada bulan Agustus kebutuhan air mengalami defisit, karena kebutuhan yang harus dilayani lebih besar dari ketersediaan yang ada. Pada bulan-bulan yang lain ketersediaan air lebih besar dari kebutuhannya (surplus). | Penjalin Reservoir is located in Brebes Regency, Central Java Province. The main function is exploiting water resources for irrigation in Brebes Regency. The water source of Penjalin Reservoir is dependent from the amount of rainfall that occurred in the area around the Penjalin Reservoir, so water balance analysis should be conducted to determine the amount of water availability and water demand for irrigation.. The method used in this study is to analyze the flow of water availability with Mock Model and the results are compared with the observed data. This research focuses on the distribution of Penjalin Reservoir flow and water demand in the areas that planned to have benefit from the reservoir. Data was collected from interview with the Head of Penjalin Reservoir office and direct observation at Penjalin Reservoir to get informations of reservoirs and irrigation flow area.The secondary data used in this study were obtained from government agencies and institutions, such as BPSDA and BMKG. Data was processed to obtain the availability of discharge water, the water demand and the water balance in the study area. Based on Model Mock it was shown that volume of water availability is 13.19 million m3/ year and observations is 13.75 million m3 / year. The volume of water demand that can be served by Penjalin Reservoiris 177.23 million m3 / year and the volume of water demand from the calculation is 14219.27 million m3 / year. In August the water demand is in deficit, because water demand is larger than the existing availability. In the other months water supply is greater than its needs (surplus). | |
| 4003 | 13832 | H1G011030 | EVALUASI KANDUNGAN BAHAN ORGANIK PADA UNIT INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH KAWASAN INDUSTRI PT. EJIP CIKARANG | Kawasan Industri PT. EJIP CIkarang merupakan salah satu indikasi berkembangnya sektor industri. Kawasan industri tersebut selain memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, juga menyebabkan dampak negatif pada aspek lingkungan berupa pencemaran limbah yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perusahaan dalam kawasan industri. Limbah tersebut memiliki daya cemar dengan bahan organik tinggi, maka harus dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke perairan umum. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dan perbedaan masing-masing unit pengolahan pada IPAL WWTP EJIP Cikarang dalam menurunkan bahan organik air limbah, serta melihat hasil akhir pengolahan. Metode penelitian ini ialah metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Titik-titik pengambilan terdiri dari influen, proses IPAL, serta effluen. Analisis penitian berupa analisis deskriptif komperatif dengan menghitung persen pengurangan dan ANOVA UJI F. Parameter kualitas air yang diukur terdiri dari parameter utama yaitu BOD, COD, dan TSS serta parameter pendukung yaitu pH, suhu, kekeruhan, dan DO. Hasil yang diperoleh, %pengurangan BOD, COD dan TSS pada tahap pra pengolahan yakni 10,21%, 63,91% dan 39,12%, tahap pengolahan sekunder, 62,50%, 86,27% dan 94,23%, serta tahap pengolahan tersier, 19,56%, 12,87% dan 51,62%. Unit pengolahan primer dan sekunder memiliki perbedaan yang nyata dan unit pengolahan tersier tidak nyata dalam menurunkan bahan organik. | PT. EJIP Cikarang industrial area is one indication of the development of industrial sector. The industrial area besides providing a positive impact on economic growth , they also providing a negatively impact on the environmental aspect such as wastewater pollution generated from all companies in the industrial area. The wastewater pollution has a blackened with a lot of organic materials, it should be treated before discharged to river. The aim of this research was to determine how much ability and differences of each processing unit at the WWTP EJIP Cikarang in reduces the organic matterials of wastewater, also to determine the final result of wastewater treatment. Research method is survey method with purposive random sampling technique. The sampling points are consists of an influent, wastewater treatment process and effluent. Research’s analysis is a comparative descriptive analysis to calculate the percent removal and F TEST ANOVA.Water quality parameters were measured are consists of the main parameters that organic matter (BOD , COD and TSS) and supporting parameters that pH , temperature, turbidity, and DO. The results, % removal of BOD , COD and TSS at the pre-treatment that are 10.21 %, 63.91 % and 39.12 % , secondary treatment are 62.50 %, 86.27 % and 94.23 %, tertiery streatment are 19.56 %, 12.87 % and 51.62 %. Primary and secondary treatment have real differences and tertiery treatment have not real differences on releaving organic materials of wastewater. | |
| 4004 | 13833 | G1A012084 | PENGARUH POLIMORFISME GEN ACTN3 TERHADAP PERUBAHAN KECEPATAN LARI PASCA INTERVENSI SPRINT INTERVAL TRAINING (SIT) | Latar belakang Kecepatan lari merupakan komponen kebugaran fisik yang sangat diperlukan untuk menunjang performa olahraga. Gen ACTN3 mengkode pembentukan protein spektrin α-actinin-3 pada serabut otot tipe 2 diyakini berpengaruh penting dalam peningkatan kecepatan lari individu. Sprint Interval Training (SIT) merupakan jenis latihan yang mampu meningkatkan performa anaerobik individu. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh polimorfisme gen ACTN3 terhadap perubahan kecepatan lari pasca intervensi SIT. Metode Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan pre test dan post test desaign tanpa kontrol. Sebanyak 27 orang laki-laki berusia 18 – 25 tahun dipilih menjadi subjek penelitian dengan metode consecutive sampling. Subjek dikelompokan menjadi 3 kelompok berdasarkan polimorfisme gen ACTN3 (RR, RX dan XX). Setiap subjek menjalani tahapan penelitian yaitu pengukuran kecepatan lari sebelum SIT dan setelah SIT, mengikuti regimen SIT selama 5 minggu (W : R = 1 : 8). Data dari tiap kelompok dianalsisi dengan metode One Way ANOVA. Hasil Terdapat perbedaan yang signifikan pada tiap kelompok polimorfsime (p < 0,05) dengan perubahan rerata terbesar pada kelompok RR yaitu 0,44 ± 1,68 m/s-1. Kesimpulan Polimorfisme gen ACTN3 berpengaruh terhadap perubahan kecepatan lari pasca intervensi SIT pada mahasiswa UKM olahraga Universitas Jenderal Soedirman. | Background Sprint is a component of physical fitness that is necessary to support the sport performance. ACTN3 gene encodes making of α-actinin-3 spectrin protein on type 2 muscle fiber which is believed be influential toward individual sprint performance. Sprint Interval Training (SIT) is a training method which is proved to increase individual anaerobic performance. Objective This study was done to understand the effect of gene polymorphism ACTN3 on sprint changes after SIT. Method This study uses a quasi-experimental design with pre-test and post test design without control. Twenty seven men aged 18-25 years old were considered as research subjects under consecutive sampling method. Subjects were divided into 3 groups based on their gene polymorphism of ACTN3 (RR, RX and XX). Each subject completed every stages of the research, the measurement of sprint before and after SIT, 5 week SIT intervention (W: R = 1: 8). Data of each group was analyzed with One Way ANOVA test. Results There was a significant difference of sprint performance changes mean on each group polymorphism (p <0.05) where the biggest changes mean happened in the RR group which was 0.44 ± 1.68 m / s-1. Conclusion ACTN3 gene polymorphism influence sprint changes on student of sport activity unit of Jenderal Soedirman University after completed SIT. | |
| 4005 | 13834 | D1E009165 | Hubungan Antara Keterampilan Peternak dalam Pemeliharaan Sapi Simmental dengan Faktor Internal Peternak di Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo | Penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Keterampilan Peternak dalam Pemeliharaan Sapi Simmental dengan Faktor Internal Peternak di Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo”ini dilaksanakan dari tanggal 11 September 2015 sampai 21 September 2015. Tujuannya adalah untuk (1) mengetahui tingkat faktor peternak Sapi Simmental dalam mengelola usaha ternak, (2) mengetahui keterampilan pemeliharaan Sapi Simmental, dan (3) menganalisis hubungan antara tingkat faktor internal peternak dengan keterampilan pemeliharaan Sapi Simmental di Kecamatan Kertek. Sebagai sebuah penelitian deskriptif korelatif, penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan berbagai kondisi, situasi atau berbagai variabel secara terperinci serta menjelaskan hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain yang dalam hal ini adalah hubungan faktor internal peternak dengan keterampilan peternak dalam pemeliharaan sapi Simmental. Metode pencarian data yang digunakan adalah metode survey, yaitu melakukan observasi atau pengamatan langsung ke lapangan dan melakukan wawancara berdasarkan kuisoner. Data yang diperoleh menggunakan data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu pemilihan lokasi penelitian dengan teknik Purposive Sampling atau memilih dengan sengaja. Tahap kedua pengambilan sampel dengan menggunakan Stratified Random Sampling atau secara strata. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel pendidikan (X1), pendapatan (X2), pengalaman (X3), variabel keterampilan manajemen pakan (Y1) dan manajemen reproduksi (Y2) yang selanjutnya dianalisis menggunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat faktor internal peternak yang meliputi pendidikan, pendapatan, dan pengalaman peternak termasuk dalam kategori sedang. Tingkat keterampilan peternak yang meliputi manajeman pakan dan manajemen reproduksi termasuk dalam kategori sedang. Variabel tingkat faktor internal saling berhubungan dengan tingkat keterampilan peternak yang meliputi pendidikan, pendapatan, pengalaman peternak. | This study, entitled "The Relationship Between Breeders’ Skills In Raising Simmental Cattle And Their Internal Factors In Kertek Subdistrict, Wonosobo Regency", had been conducted from September 11 until September 21, 2015. It aimed at (1) determining the levels of Simmental Cattle breeders’ factors in managing their business; (2) assessing their skills in raising Simmental cow; and (3) analyzing the relationship between the levels of the breeders’ internal factors and their skills in raising the cattle in the subdistrict. This is a descriptive correlative research, meaning that it describes and illustrates a variety of conditions, situation or the various variables in detail, and also explains the correlation between one variable with another, which, in this case, is the relationship between the farmers’ internal factors and their skills in raising the cattle. In order to collect data this research used a survey method where the researcher conducted direct observation and questionnaires-based interviews in the field. Data obtained was primary and econdary data. Data sampling was performed through two steps; the first step was selecting the research location by using the purposive sampling technique or selection on purpose. The second step was collecting research sample which used the Stratified Random Sampling or strata. The variables observed in this research, which were the education variable (X1), income (X2), and experience (X3), the feeding managerial skills (Y1), and the reproduction managerial skills (Y2), were analyzed by using the Rank Spearman analysis. The results show that the level of internal factors of the breeders’, which are their education, income, and experience, included in the medium category. The levels of breeders’ skill in the feed management and the reproduction management included in the medium category. The internal factor levels are related to the levels of the breeders’ skills, which covers the education, income, and experience. | |
| 4006 | 13716 | H1F011011 | KARAKTERISTIK ENDAPAN PALEOTSUNAMI JAWA SELATAN DAERAH MALINGPING DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN | Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng yakni lempeng eurasia, indo-australia, dan pasifik. Aktivitas lempeng – lempeng tersebut dapat menimbulkan gempa yang dapat memicu terjadinya tsunami. Pada awalnya peneliti beranggapan bahwa Indonesia tidak akan mengalami gempa besar namun hal itu terbantahkan dengan terjadinya gempa besar dan tsunami Aceh tahun 2004. Dengan asumsi bahwa gempa besar pernah terjadi di Indonesia termasuk bagian selatan Jawa yang berdekatan dengan zona subduksi maka dimungkinkan dahulu pernah terjadi tsunami di daerah tersebut. Lebak merupakan daerah yang memperlihatkan adanya pola kelurusan berupa beach ridge dan swale yang merupakan ruang akomodasi yang baik bagi endapan tsunami purba. Geomorfolgi pada daerah penelitian terbagi menjadi lima, yaitu satuan punggungan pantai, satuan cekungan pantai, satuan punggungan gumuk pasir, satuan dataran pantai dan satuan dataran pasang – surut. Dengan menggunakan beberapa metode analisis seperti granulometri, mikrofauna dan loss on ignition (LOI) dari sampel bor yang diambil pada daerah penelitian. Menurunnya kandungan karbonat pada kedalaman 25 -30 cm dan terganggunya pola pengendapan gambut dengan hadirnya lanau yang dicirikan dengan anomali pada grafik mean, sorting, skewness dan kurtosis serta dengan hadirnya kurva bimodal pada grafik histogram distribusi besar butir pada kedalaman yang sama dapat menjadi rujukan bahwa pada kedalaman tersebut merupakan endapan paleotsunami sehingga data tersebut dijadikan sebagai karakteristik dari endapan paleotsunami. Pengendapan diawali dengan terbentuknya barrier island dan laguna yang kemudian berkembang menjadi beach ridge dan swale seiring dengan penurunan muka air laut dengan besar butir pasir halus sampai lanau. Swale berkembang menjadi rawa atau marsh yang banyak mengandung bahan organik. Saat proses pengendapan lapisan gambut kemudian gelombang tsunami hadir dan membawa sedimen berukuran lanau kasar. Datangnya gelombang tersebut mengganggu proses pengendapan gambut sehingga menurunkan kandungan karbon yang ada. Setelah sedimen tsunami terendapkan kemudian pengendapan gambut kebali terbentuk. | Indonesia is an area of the confluence of three plates Eurasia plate, the Indo-Australian and the Pacific. Plates activity can cause earthquakes that could trigger a tsunami. Initially, the researchers believe that Indonesia will not experience a large earthquake, but it is refuted by the massive earthquake and tsunami in 2004. Assuming that large earthquakes have occurred in Indonesia, including the southern part of Java, which is adjacent to the subduction zones it is possible to become ever tsunami in the area. Lebak is an area that showed a pattern of alignment in the form of beach ridge and swale which is a good accommodation space for ancient tsunami deposits. Geomorpholgy in the research area is divided into five, namely beach ridge unit, the unit basin beach, sand dune ridge units, units and unit-lying coastal plain tide - low tide. By using several analytical methods such as granulometri, microfauna and loss on ignition (LOI) of the drill samples taken in the area of research. The reduced content of carbonates at a depth of 25 -30 cm and disruption of peat deposition patterns with the presence of silt which is characterized by anomalies on the graph mean, sorting, skewness and kurtosis as well as with the presence of the curve on the graph histogram bimodal particle size distribution at the same depth can be a reference that on The depth of the sediment Paleotsunami so the data is used as a characteristic of sediment Paleotsunami. Precipitation begins with the formation of barrier island and lagoon which later evolved into a beach ridge and swale along with a decrease in sea level with a big grain of fine sand to silt. Swale developed into a swamp or marsh that contains a lot of organic material. When the process of depositing a layer of peat and then the tsunami wave comes and brings coarse silt sized sediment. The arrival of these waves interfere with peat deposition process resulting in lower carbon content there. After the sediment deposited tsunami then repeat deposition continues. | |
| 4007 | 13836 | H1F011035 | GEOLOGI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK PRA-LONGSORAN BERDASARKAN DATA GEOLISTRIK DAERAH PRENDENGAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH | Faktor terjadinya longsoran adalah adanya suatu bidang lemah pada lapisan batuan dibawah permukaan. Akumulasi dari bidang lemah akan menyebabkan suatu bidang gelincir dimana bidang gelincir adalah faktor utama terjadinya longsoran. Faktor utama tersebut yang menjadi hal yang dikaji dalam penentuan potensi longsoran). Fokus penelitian adalah mengenai geologi dan karakteristik pra-longsoran pada batuan breksi berumur kuarter (Qjo) disekitar Gunung Pawinihan tepatnya di Desa Sijeruk dan Desa Prendengan. Penelitian meliputi dua metode, yaitu metode observasi lapangan dan metode laboratorium. Metode observasi lapangan meliputi kegiatan pemetaan geologi, dan pengambilan data geolistrik. Selanjutnya dilakukan analisis data geolistrik dan korelasi titik-titik pengamatan geolistrik. Data geolistrik diambil disekitar daerah mahkota longsoran minor dan tepi cerukan sungai yang juga diintepretasikan sebagai longsoran minor. Hasil akhir merupakan identifikasi tiap korelasi titik untuk mengetahui potensi bidang gelincir. Hasil akhir menunjukkan bidang gelincir terdapat pada litologi Breksi Vulkanik dengan keterdapatan fragmen lebih sedikit dan tingkat pelapukannya sedang (moderately weathered). Interpretasi tersebut berdasarkan analisis data geolistrik yang telah di inversi dengan menggunakan software PROGRESS 3.0. Faktor yang mempengaruhi antara lain litologi penyusun, bidang gelincir, vegetasi, kemiringan lereng dan kemiringan lapisan batuan. Sehingga dapat diprediksi arah luncurannya dan model luncurannya yang berupa debris slide dan debris flow serta termasuk Zona Berpotensi Longsor Tipe A. | Factors occurrence of landslides is the presence of a weak strip in the rock layers below the surface. The accumulation of a weak strip will cause a sliding plane in which the sliding plane is a major factor in the landslide. The main factors being studied in the determination of potential of landslides. The focus of research is on the geology and characteristics pre-landslides on the quarter breccia rock (Qjo) around Mount Pawinihan precisely in the village of Sijeruk and Village Prendengan. The research included two methods, that is field observations and laboratory methods. Field observation method includes geological mapping, and geoelectric data retrieval. Furthermore the data analysis and correlation geoelectric observation points geoelectric. Geoelectric data were taken around the crown area and the banks of overdraft minor landslides river is also interpreted as minor landslides. The end result is the identification of each correlation points to determine the potential sliding plane. The final results show there is a sliding plane on lithology Volcanic Breccia fragments with fewer occurrences and degree of weathering was moderately weathered. This interpretation is based on the analysis of the data that has been geoelectric inversion using PROGRESS 3.0 software. Factors affecting among other lithological constituent, sliding plane, vegetation, slope and the slope of the rock layers. So predictable direction of landslides and the landslides models is debsris slide and debris flow, included in the Zone of Potential Landslide Type A. | |
| 4008 | 13842 | G1A012142 | Korelasi antara Durasi Hemodialisis dengan Derajat Disfungsi Ereksi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Penyakit ginjal kronik merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, dan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel. Penyakit ginjal kronik dapat mengakibatkan beberapa komplikasi, salah satunya adalah disfungsi ereksi pada pria. Faktor yang berhubungan dengan disfungsi ereksi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah sistem vaskuler, sistem neurogenik, sistem endokrin, faktor psikologis dan obat-obatan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara durasi hemodialisis dengan derajat disfungsi ereksi pada pasien penyakit ginjal kronik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode penelitian ini menggunakan cross sectional dengan teknik consecutive sampling. Subjek penelitiannya berjumlah 34 pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Data dianalisis univariabel berupa tabel distribusi frekuensi, kemudian analisis bivariabel menggunakan uji Spearman’s. Pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto 85.3% mengalami disfungsi ereksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara durasi hemodialisis dengan derajat disfungsi ereksi pada pasien penyakit ginjal kronik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto (p= 0.660; r= 0.078). Kesimpulan penelitian adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara durasi hemodialisis dengan derajat disfungsi ereksi, namun semakin lama durasi hemodialisis maka semakin tinggi pula derajat disfungsi ereksi. | Chronic kidney disease is a pathophysiological process with varied etiology and can lead to progressive and irreversible decline in renal function. Chronic kidney disease can lead to several complications, one of them is erectile dysfunction in men. Related factors of erectile dysfunction in patients with chronic kidney disease who are undergoing hemodialysis, among others are vascular system, neurogenic system, endocrine system, psychological factors and drugs used. This study aims to determine the correlation between the duration of hemodialysis with the degree of erectile dysfunction in patients with chronic kidney disease in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital. The method used for this study is cross sectional with consecutive sampling. The research subjects amounted to 34 patients with chronic kidney disease who underwent hemodialysis in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital. Univariate analysis were perfomed and were presented in the form of frequency distribution table. Bivariate analyses was also perfomed with Spearman. Approximately 85.3% patients with chronic kidney disease who underwent hemodialysis in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital had erectile dysfunction. The result showed that there was no statistically significant correlation between the duration of hemodialysis with the degree of erectile dysfunction in patients with chronic kidney disease in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital (p = 0.660; r = 0.078). The conclusion of the study is that there is no statistically significant correlation between the duration of hemodialysis with the degree of erectile dysfunction, but the longer the duration of hemodialysis, the higher the degree of erectile dysfunction. Keywords: Chronic kidney disease, duration of hemodialysis, degrees of erectile dysfunction | |
| 4009 | 13837 | A1L011138 | UJI APLIKASI PUPUK NPK, PUPUK DAUN, DAN Bacillus sp. TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU AIR CITRA SERTA KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT KARAT PUTIH | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui dosis pupuk NPK yang tepat terhadap pertumbuhan bibit tanaman jambu air citra dan ketahanan terhadap penyakit karat putih, 2) Mengetahui konsentrasi pupuk daun yang tepat terhadap pertumbuhan bibit tanaman jambu air citra dan ketahanan terhadap penyakit karat putih, 3) Mengetahui peran Bacillus sp. terhadap pertumbuhan bibit tanaman jambu air citra dan ketahanan terhadap penyakit karat putih, 4) mengetahui interaksi antara pupuk NPK, pupuk daun, dan Bacillus sp. Penelitian dilaksanakan di laboratorium perlindungan tanaman bagian penyakit tanaman Fakultas Pertanian dan Rumah Plastik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Waktu penelitian dimulai dari bulan Desember 2014 sampai dengan bulan Mei 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 faktor yaitu, penggunaan dosis pupuk NPK, konsentrasi pupuk daun, dan penggunaan Bacillus sp. Variabel yang diamati yaitu jumlah daun, luas daun, tinggi tanaman, jumlah cabang, intensitas penyakit, uji senyawa fenol, dan lingkungan. Hasil penelitian bahwa dosis pupuk NPK 30 g/tanaman dan 40 g/tanaman belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman jambu air citra dan ketahanan terhadap penyakit karat putih. Konsentrasi pupuk daun 1 g/l dan 2 g/l belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman jambu air citra dan ketahanan terhadap penyakit karat putih. Bacillus sp. mampu menurunkan intensitas penyakit karat putih pada bibit tanaman jambu air citra sebesar 36,18%. | This research aimed to: 1) Determined proper NPK fertilizer dosage for watery rose apple var. citra seedling growth and its resistance to white rust disease, 2) Determined proper foliar fertilizer concentration for watery rose apple var. citra seedling growth and its resistance to white rust disease, 3) Determined the role of Bacillus sp. for watery rose apple var. citra seedling growth and its resistance to white rust disease, 4) Determined the interaction between NPK fertilizer, foliar fertilizer, and Bacillus sp. This research conducted from December 2014 to May 2015 at Screenhouse and Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research used completely Randomized Block design with 3 factors. The factors were NPK dosage, foliar fertilizer concentration, and Bacillus sp. application. Observed variables were number of leaves, leaf area, plant height, number of branches, disease intensity, phenolic compound test, and surrounding environment. The result showed that 30 and 40 g NPK per plant were not able to increased watery rose apple var. citra seedling growth and its resistance to white rust disease. Foliar fertilizer for 1 and 2 g/l were not able to increased watery rose apple var. citra seedling growth and its resistance to white rust disease. Bacillus sp. was able to decreased white rust disease intensity on watery rose apple var. citra for 36,18%. | |
| 4010 | 13838 | G1A012069 | Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada Wanita Remaja Akhir | Latar Belakang. Obesitas merupakan penyakit metabolik dengan penyebaran terluas dan menjadi masalah di seluruh dunia, terutama obesitas yang terjadi pada usia remaja. Prevalensi obesitas wanita remaja lebih tinggi dari remaja laki-laki. Pengukuran antropometrik untuk menentukan seseorang memiliki berat badan normal, gemuk, maupun obesitas dapat dilakukan menggunakan Indeks Massa Tubuh. Indeks Massa Tubuh yang dinyatakan dalam kategori obesitas merupakan penyebab terpenting risiko gangguan kardiometabolik. Parameter Heart Rate Recovery merupakan prediktor yang baik untuk memprediksi risiko gangguan kardio-metabolik. Tujuan. Mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada wanita remaja akhir. Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Subjek merupakan 66 orang mahasiswi kedokteran umum berusia 19 tahun. Pengukuran IMT menggunakan timbangan injak kapasitas 120 kg dan microtoise staturemeter. Protokol pengukuran HRR menggunakan Kasch Step Test. HRR dihitung dengan HRR 1 menit didapatkan dari selisih denyut nadi puncak dengan denyut nadi istirahat setelah 1 menit istirahat, diukur pada arteri radialis. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil. Terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan HRR pada subjek penelitian (p = 0,002; r = -0,380). Nilai rerata IMT adalah 21,61 ± 2,99 kg/m2. Nilai rerata HRR adalah 25,17 ± 8,83 bpm. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada wanita remaja akhir. | Background. Obesity is a wide spread metabolic disease specially on adolescences and classified as problem all over the world. Obesity prevalence on women adolescences is higher than men adolescence. Antropometry measurement to determine whether someone has normal weight, overweight, or obesity can be done by Body Mass Index. Body mass index which shows obesity category is the main cause of cardiometabolic disorder risk. Heart Rate Recovery parameter is good predictor to predict cardiometabolic disorder risk. Objective. The study aims to understand the correlation between Body Mass Index (BMI) and Heart Rate Recovery (HRR) on late adolescence woman. Methods. This research was an observational analytic with cross-sectional design. The subjects were 66 female students of Medical Faculty aged < 19 year old. BMI measurement used 120 kg capacity scales stampede and microtoise staturmeter. HRR measurement protocol used Kasch Step Test. HRR was measured with 1 minute HRR were calculated by the difference between the peak pulse rate and the resting pulse rate after 1 minute rest on radialis artery. Bivariate analysis was performed by Pearson correlation test with p<0,05. Result. There was a significant correlation between BMI and HRR on late adolescence woman (p = 0,002; r = -0,380). Mean of BMI was 21,61 + 2,99 kg/m2. Mean of HRR was 25,17 + 8,83 bpm. Conclusion. There was a correlation between Body Mass Index (BMI) and Heart Rate Recovery (HRR) on late adolescence woman. | |
| 4011 | 13839 | G1A012078 | HUBUNGAN ANTARA PERSENTASE LEMAK TUBUH DENGAN HEART RATE RECOVERY (HRR) PADA WANITA REMAJA AKHIR | Latar Belakang. Parameter Heart Rate Recovery (HRR) merupakan prediktor yang baik untuk penyakit kardiovaskuler dan mortalitas. Obesitas merupakan salah satu penyebab terpenting dari risiko kardiometabolik. Obesitas diketahui berhubungan dengan disfungsi saraf otonom. Salah satu parameter antropometrik adalah body fat percentage atau persentase lemak tubuh yang mempresentasikan berat lemak dan sering digunakan untuk mengevaluasi komposisi tubuh seseorang. Tujuan. Mengetahui hubungan antara persentase lemak tubuh dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada wanita remaja akhir. Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Subjek merupakan 66 orang mahasiswi kedokteran umum berusia ≤ 19 tahun. Pengukuran persentase lemak tubuh menggunakan skinfold assessment kemudian dikonversi kedalam rumus Jackson, Pollock dan Ward untuk mencari densitas tubuh dan rumus Siri untuk mencari persentase lemak tubuh. Protokol pengukuran HRR menggunakan Kasch Step Test dan denyut nadi diukur pada arteri radialis. HRR 1 menit didapakan dari selisih denyut nadi puncak dan denyut nadi setelah istirahat selama 1 menit. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil. Terdapat hubungan antara persentase lemak tubuh dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada subjek penelitian (r = -0,266; p = 0,031). Rerata persentase lemak tubuh adalah 18,84 ± 6,85%. Nilai rerata Heart Rate Recovery (HRR) adalah 25,17 ± 8,83 bpm. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara persentase lemak tubuh dengan Heart Rate Recovery (HRR) pada wanita remaja akhir. | Background. Heart Rate Recovery (HRR) parameter is a good predictor for cardiovascular diseases and mortality. Obesity is the main cause of cardiometabolic disorder risk. Obesity is related to autonom nerve dysfunction. One of antropometry parameter is body fat percentage which presents fat weight and often used to evaluate body composition related to cardiometabolic risk increasing, specially obesity. Objective. This study aims to understand the correlation between body fat percentage and Heart Rate Recovery (HRR) on late adolescence woman. Methods. This research was an observational analytic with cross-sectional design. The subjects were 66 female students of Medical Faculty aged < 19 year old. Body fat percentage measurement used skinfold assessment then converted to a formula. HRR measurement protocol used Kasch Step Test. HRR 1 minute were calculated by the difference between the peak pulse rate and the resting pulse rate after 1 minute rest on radialis artery. Correlation analysis between body fat percentage and HRR was done by Pearson correlation test with p<0,05. Result. There was a significant correlation between body fat percentage and heart rate recovery (HRR) on subjects (r = -0,266; p = 0,031). Mean of body fat percentage was 18,84 + 6,85%. Mean of HRR was 25,17 + 8,83 bpm. Conclusion. There was a correlation between body fat percentage and Heart Rate Recovery (HRR) on late adolescence woman. | |
| 4012 | 13840 | A1C111043 | Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tepung Tapioka pada Perusahaan Suka Karya Mandiri di Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas | Setiap perusahaan harus mengadakan perencanaan pengadaan dan persediaan bahan baku secara ekonomis agar kegiatan produksi tidak terganggu dan dana yang ditanamkan dalam persediaan bahan baku tidak berlebihan, namun banyak perusahaan yang belum melakukan pengendalian persediaan bahan baku secara ekonomis. Pengetahuan tentang pengendalian persediaan bahan baku yang ekonomis diperlukan untuk melakukan tindakan pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis persediaan bahan baku di perusahaan Suka Karya Mandiri, yang terdiri dari jumlah pemesanan ekonomis (EOQ), persediaan pengaman (SS), titik pemesanan kembali (ROP), total biaya penyimpanan (TIC) 2) Menganalisis efisiensi biaya persediaan bahan baku di perusahaan Suka Karya Mandiri. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, dilakukan di Perusahaan Suka Karya Mandiri yang terletak di Desa Gumelar, Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini dimulai pada bulan Agustus hingga Oktober 2015. Pemilihan tempat pada penelitian ini dilakukan secara purposive. Variabel yang diteliti meliputi kuantitas pembelian bahan baku, biaya persediaan, harga bahan baku, frekuensi pembelian, reorder point, lead time, safety stock. Perhitungan metode analisis meliputi Economic Order Quantity, Total Inventory Cost, Reorder Point, Safety Stock. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa perhitungan pengendalian persediaan bahan baku menggunakan metode EOQ lebih ekonomis, terbukti dari total biaya persediaan menggunakan metode EOQ lebih kecil dibandingkan dengan persediaan bahan baku senyatanya yang dilakukan perusahaan, selisih total biaya pada bulan Juni sebesar Rp 5.231.034,- pada bulan Juli sebesar Rp 7.398.172,- dan pada bulan Agustus sebesar Rp 8.896.847,-. Jumlah persediaan minimum yang harus dimiliki perusahaan pada bulan Juni sebesar 3.839 Kg, bulan Juli sebesar 4.441 Kg dan pada bulan Agustus sebesar 2.136. titik pemesanan kembali pada bulan Juni sebesar 19.113 Kg, bulan Juli 22.222 Kg, dan pada bulan Agustus sebesar 18.156 Kg. | Every company should make their procurement and inventory of materials plan economically in order to make production process goes smoothly and the funds invested in materials inventory are not excessive. However there are many companies that still have not used a more economic materials inventory control. The knowledge of a more economic materials inventory control is needed to execute a perfect control actions. This research therefore has 2 purposes. The first is to analyze the material inventory in Suka Karya Mandiri company that consists of economic order quantity, safety stock, reorder point, and total inventory cost. The second purpose of this research is to analyze the efficiency of cost of material inventories in Suka Karya Mandiri. This research is a case study research conducted in Suka Karya Mandiri company that is located in Gumelar village, Gumelar district, Banyumas regency. This research started from August till October of 2015. The selection of the location of the research is done purposively. The variables that are analyzed are the quantity of material purchases, inventory cost, materials price, purchase frequency, reorder point, lead time, and safety stock. The calculation of analysis method consists of Economic Order Quantity, Total Inventory Cost, Reorder Point, Safety Stock. The result of this research shows that the calculation of materials inventory control with EOQ method is economically better, proven by the total inventory cost using EOQ method which is smaller than the total inventory cost using the company initial method. The difference of total cost in june is Rp 5.231.034,- ,Rp 7.398.172,- in july, and Rp 8.896.847,- in august. The minimum amount of inventory of the company in june is 3.839 Kg, 4.441 Kg in july, and 2.136 in august. Reorder point in june is 19.113 Kg, 22.222 Kg in july, and 18.156 Kg in august. | |
| 4013 | 13841 | G1A012002 | Korelasi Paparan Kadmium dengan Kadar Ureum dan Kreatinin Serum pada Petani Tanaman Hias di Baturraden | Latar Belakang: Kadmium merupakan logam berat yang sangat toksik bagi manusia dan digunakan sebagai salah satu bahan pada pestisida dan pupuk fosfat oleh petani tanaman hias di Baturraden. Paparan kadmium dengan dosis kecil dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kadmium terakumulasi di dalam ginjal, sehingga dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum. Tujuan: Mengetahui korelasi paparan kadmium dengan kadar ureum dan kreatinin serum pada petani tanaman hias di Baturraden. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian ini adalah 43 petani tanaman hias di Baturraden. Data penelitian bersumber dari wawancara, pemeriksaan kadar kadmium urin dengan menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) serta pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin serum dengan menggunakan metode kinetika enzimatis. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil: Terdapat korelasi yang signifikan antara paparan kadmium terhadap kadar ureum serum dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi lemah (r= 0,399, p=0,08). Terdapat korelasi yang signifikan antara paparan kadmium terhadap kadar kreatinin serum dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi lemah (r= 0,331, p=0,03). Kesimpulan: Semakin besar paparan kadmium maka akan semakin besar pula kadar ureum dan kreatinin serum pada petani tanaman hias di Baturraden. | Background: Cadmium is a heavy metal which highly toxic to human, and it is used as an ingredient in pesticides and phosphates of ornamental plant farmers in Baturraden. Cadmium exposure in small doses and for a long time causes cadmium accumulation in the kidneys, the kidney damage that may result due to increased serum urea and creatinine levels. Objective: To determine the correlation between cadmium exposure and the serum urea and creatinine levels in ornamental plant farmers in Baturraden. Methods: This study was analytic observational, cross sectional design. Number of respondents were 43 farmers of ornamental plants in Baturraden. Research data were collected by interviews, examination of urinary cadmium levels using Atomic Absorption Spectrometry (AAS) and examination of serum urea and creatinine levels using enzymatic kinetics methods. Data were analyzed using Spearman test. Result: Study result showed, that there was a significant correlation between cadmium exposure and serum levels of urea with positive and weak correlation (r=0.399, p=0.08). There was a significant correlation between cadmium exposure and serum levels of creatinine with positive and weak correlation (r=0.331, p 0.03). Conclusion: The higher the cadmium exposure level, the higher the serum ureum and creatinin levels in ornamental plants farmers in Baturraden. | |
| 4014 | 13843 | G1A012131 | HUBUNGAN PEMBERIAN VITAMIN E DENGAN PENURUNAN DERAJAT NYERI DISMENORE PRIMER | Latar Belakang: Dismenore primer diasosiasikan dengan peningkatan produksi prostaglandin endometrium, yang menyebabkan kontraksi uterus. Vitamin E mengurangi dismenore primer dengan cara menekan enzim phopholipase A2 serta aktivitas cyclo-oxygenase (COX) untuk menghambat produksi prostaglandin. Tujuan: Mengetahui hubungan pemberian vitamin E 250 IU dengan penurunan derajat nyeri dismenore primer. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Experimental dengan pendekatan pre—post test without control group design pada kelompok subjek penderita dismenore primer yang diberi intervensi vitamin E 250 IU/hari selama 5 hari dalam satu siklus menstruasi. Pengukuran derajat nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) yang dilakukan saat siklus menstruasi bulan pertama (sebelum intervensi vitamin E) dan saat siklus menstruasi bulan kedua (sesudah intervensi vitamin E). Data dianalisis dengan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan pada p<0,05. Hasil: Derajat nyeri dismenore primer setelah intervensi vitamin E menurun dari 6,00 (3-8) menjadi 3,00 (0-7). Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian vitamin E dengan penurunan derajat nyeri dismenore primer (p=0,01¬). Kesimpulan: Terdapat hubungan pemberian vitamin E 250 IU dengan penurunan derajat nyeri dismenore primer. | Background: Primary dysmenorrhoea is associated with the high production of prostaglandins of the endometrium, which triggers uterine contractions. Vitamin E suppress phospholipase A2 and cyclo-oxygenase (COX) activities to inhibit prostaglandin production. Objective: To determined the correlation between vitamin E 250 IU and pain intensity reduction of primary dysmenorhhoea. Method: This research was a quasi experimental study using pre—post test without control group design on a subject group who suffered from primary dysmenorrhoea which given vitamin E 250 IU/day intervention for 5 days in one menstrual cycle. Pain intensity was evaluated using the Visual Analogue Scale (VAS) for 1 month before the intervention of vitamin E (menstrual cycle month 1) and after the intervention of vitamin E (menstrual cycle month 2). Data was analyzed using Wilcoxon test with significance level at p<0,05. Result: The pain intensity of primary dysmenorrhoea after the intervention of vitamin E decreased from 6,00 (3-8) to 3,00 (0-7). There was a significant correlation between vitamin E and pain intensity reduction of primary dysmenorhhoea (p=0,01). Conclusion: There was a correlation between vitamin E 250 IU and pain intensity reduction of primary dysmenorhhoea. | |
| 4015 | 13849 | H1F011054 | GEOLOGI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK LONGSORAN BERDASARKAN DATA GEOLISTRIK DAERAH KALIDONDONG DAN SEKITARNYA KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARA JAWA TENGAH | Gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Potensi Bidang gelincir merupakan zona potensi yang menjadi penyebab terjadinya longsoran karena pada bidang tersebut kuat geser menjadi lemah dan rentan terhadap gerakan tanah dan material di atasnya. Bidang gelincir seringkali menjadi fokus penelitian dalam memprediksi suatu lokasi yang berpotensi longsor. Fokus penelitian adalah mengenai identifikasi karakteristik bidang gelincir longsoran yang akan terjadi dan prediksi terjadinya longsoran berikutnya. Metode yang dilakukan adalah pemetaan geologi untuk mengetahui kondisi geologi daerah penelitian dan survey geolistrik tahanan jenis untuk mengetahui profil bawah permukaan daerah penelitian dan identifikasi potensi bidang gelincir. Survei geolistrik tahanan jenis dengan konfigurasi Schlumberger dilakukan pada 8 titik di sekitar mahkota longsoran yang kemudian diolah menggunakan software Progress 3.0. Hasil akhir menunjukkan potensi bidang lemah terdapat pada Breksi tufan dan potensi bidang gelincir terdapat pada kontak tanah dengan litologi Breksi dengan keterdapatan fragmen banyak dan tingkat pelapukannya kuat. Kata Kunci : gerakan tanah, bidang lemah, potensi bidang gelincir dan Breksi. | Ground movement is a consequence of the dynamic phenomena of nature to achieve a new condition as a result of a balance disorder that occurs slopes, both natural and manmade. Ground movements will occur on a slope, if there is an imbalance that causes a mechanical process, resulting in part from the slopes of the move to the force of gravity, and then after the landslide, the slopes will be balanced or stabilized. Potential Field of sliding is a zone of potential causes for the occurrence of avalanches in the plane shear strength becomes weak and susceptible to ground movement and the material on it. Sliding plane often becomes a focus of research in predicting a location prone to landslide. The focus of research is on the identification of the characteristics of an avalanche sliding plane is going to happen next and the prediction of the occurrence of avalanches. The method is carried out geological mapping to determine the condition of regional geological studies and geoelectric resistivity survey to determine the profile of the subsurface area of research and identification of potential sliding plane. Geoelectric resistivity survey with Schlumberger configuration is done at 8 points around the crown of the avalanche that was processed using Progress Software 3.0. The final results indicate potential weak areas contained in tuffaceous breccia and potential sliding plane found on the ground with lithological contacts Breccia with fragments occurence numerous and Highly weathered. Keywords: land movement, a weak plane, the potential sliding plane and Breccia. | |
| 4016 | 13844 | G1A012136 | HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DAN LAMA PERSALINAN DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014 | HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DAN LAMA PERSALINAN DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014 Agnesya Ria Monica, Edy Priyanto, Agus Budi Setiawan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Indonesia Email: nessy_nessya@yahoo.com ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah partus lama yang dapat disebabkan karena usia ibu terlalu muda (<20 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu kala I fase aktif dan kala II pada berbagai kelompok usia ibu di RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari-Desember 2014 Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Responden adalah ibu yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto pada Bulan Januari-Desember 2014. Responden sebanyak 111 orang dibagi menjadi 3 kelompok (masing-masing 37 responden) berdasarkan usia yakni kelompok usia <20 tahun, usia 20-35 tahun, dan kelompok usia >35 tahun. Data mengenai lama persalinan didapat dari rekam medis dan partograf pasien dan dinyatakan dalam hitungan menit. Analisis statistik yang digunakan adalah uji one way Analisis Varian (ANOVA). Hasil: Kelompok responden usia >35 tahun memiliki waktu persalinan kala I fase aktif (248,51±48,82) dan kala II (38,46±15,89) lebih lama dibandingkan kelompok lain, sedangkan kelompok responden usia 20-35 tahun memiliki waktu persalinan kala I fase aktif (219,62±47,67) dan kala II lebih singkat (30,08 ± 14,12) dibandingkan kelompok lain. Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,014) waktu kala I fase aktif dan kala II pada berbagai kelompok usia ibu di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode Januari- Desember 2014. Kesimpulan: Terdapat hubungan berupa perbedaan waktu kala I fase aktif dan kala II pada berbagai kelompok usia ibu di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode Januari–Desember 2014. Kata kunci: Usia ibu, Kala I fase aktif, Kala II | THE ASSOCIATION BETWEEN MATERNAL AGE WITH FIRST STAGE OF LABOR (ACTIVE PHASE) AND SECOND STAGE OF LABOR IN PROF. DR. MARGONO SOEKARJO HOSPITAL OF PURWOKERTO IN THE PERIOD OF JANUARY-DECEMBER 2014 Agnesya Ria Monica, Edy Priyanto, Agus Budi Setiawan Medical Faculty of Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Indonesia Email: nessy_nessya@yahoo.com ABSTRACT Background: One of the couse of maternal mortality is prolonged labor. It can be caused by young maternal age which is (< 20) or advanced maternal age (>35). Objective: This study aimed to determine the difference of first stage of labor (active phase) and second stage of labor times at various mother’s age groups in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto period of January-December 2014. Method: Observasional research using cross sectional study. The sampling technique in this study used a consecutive sampling. Samples are mothers who delivered in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto period of January-December 2014. The number of samples are 111 people who were divided into 3 groups (37 people each group). The groups were for those age <20, age 20-35, and >35. Data of labor were collected using medical record and partograph (minute). Statistical analysis used one way Analisis Varian (ANOVA). Result: For those age >35 had the longest first stage of labor (active phase) (248,51±48,82) and prolonged second stage of labor (38,46±15,89), while for those age 20-35 had the shortest first stage of labor (active phase) (219,62±47,67) and prolonged second stage of labor (30,08 ± 14,12). Statistical test showed significant differences (p=0.014) of first stage of labor (active phase) and second stage of labor times at various mother’s age groups in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto period of January-December 2014. Conclusion: There was a difference of first stage of labor (active phase) and second stage of labor times at various mother’s age groups in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto period of January-December 2014. Key word: Maternal age, first stage of labor (active phase), second stage of labor | |
| 4017 | 13846 | H1K011037 | SISTEM TRANSMISI DATA KUALITAS AIR LAUT MENGGUNAKAN MODUL GSM (Global System for Mobile Communications) BERBASIS WEBSITE | Perkembangan teknologi bidang instrumentasi kelautan semakin meningkat seiring perkembangan zaman. Salah satu tujuan pengembangan teknologi di bidang ini adalah untuk memudahkan dan membantu pekerjaan manusia. Pada bidang kelautan sistem transmisi data berbasis website dengan menggunakan SMS (Short Message Servive) untuk aplikasi pada sistem pemantau kualitas air laut telah dikembangkan. Sistem transmisi data ini terdiri dari mikrokontroler AVR ATMega128 sebagai basis kerja, sensor pH, salinitas, suhu, dan kekeruhan air digunakan sebagai alat pengukur parameter kualitas air laut. Modul GPS dan GSM (SIM908) digunakan sebagai penentu posisi dan pengirim data, sementara itu modem GSM digunakan sebagai media penerima data. Sistem kerja dari alat ini dibangun dengan nama modul kualitas air laut. Sensor mengukur objek, kemudian diproses oleh mikrokontroler menghasilkan data dan dikirim ke modem penerima dengan bantuan modul GSM (SIM908). Tujuan penelitian ini adalah melakukan perancangan sistem transmisi data kualitas air laut menggunakan modul GSM (Global System For Mobile Communications) dan mengolah data kualitas air laut serta menampilkannya secara real-time melalui website. Data yang dikirim masuk ke server web dengan format Tanggal/Waktu/GPS/pH/Suhu/Salinitas/Kekeruhan disesuaikan pada sistem penyajian data server web. Dalam penelitian ini sistem transmisi data telah dirancang dan diuji pada Laboratorium dan secara keseluruan berjalan dengan semestinya. Parameter kualitas yang diukur (pH, suhu, salinitas dan kekeruhan air) data telah berhasil dikirimke server web | Marine instrumental technology development has increasing over the times. One objective of the marine technology is to facilitate and assist the human and their works. In this article, the marine a web-based has been using for data transmission system with SMS (Short Message Service) for applications marine water quality monitoring system. The transmission system of data consists of AVR Atmega 128 microcontroller as a work base, sensor of pH, salinity, temperature, and turbidity as some water quality parameters. GPS (Global Positioning System) module and GSM (Global System for Mobile Communication) SIM 908 is used to identified the position and to send the datas, while the GSM modem is used as the media of data receiver. Work system of instrumental technology was named sea water quality module, the sensor measured the object and processed by a microcontroller, and produced the data. Afterword the data have sent to the receiver used modem GSM module (SIM908). The purpose of research is designing a system of data transmission for marine water quality using the module GSM (Global System for Mobile Communications) and process data of marine water quality and displaying in real-time through the web site. Data will sent in web server with format Date/Time/GPS/pH/temperature/salinity/turbidity data representation customized by system to the web server. In this study, the data transmission system has been designed and tested in the laboratory and all of system running properly. Quality parameters measured (pH, temperature, salinity and turbidity of water) has been able to send the data to a web server. | |
| 4018 | 13845 | G1G010020 | PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN TERHADAP PENURUNAN KELARUTAN DAN KEBOCORAN TEPI PADAGLASS IONOMER CEMENT SEBAGAI FISSURE SEALANT ( Penelitian Eksperimental Laboratoris ) | Kasus karies gigi pada anak berdasarkan data yang diperoleh dari klinik Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga menunjukan angka yang cukup besar yaitu mencapai angka 90%. Fissure sealant menjadi salah satu cara pencegahan karies pada usia anak ataupun dewasa muda. Suatu bahan fissure sealant yang baik memiliki nilai kelarutan bahan dan tingkat kebocoran tepi yang sekecil mungkin. Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan bahan yang biasa digunakan sebagai fissure sealant karena dapat melepaskan fluor seacara konstan. Salah satu bahan alami yang dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi sifat brittle dari GIC adalah kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kitosan pada glass ionomer cement terhadap penurunan nilai kelarutan dan kebocoran tepifissure sealant.Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratories. Sampel penelitian yang digunakan adalah 7 sampel untuk setiap kelompok, sehingga jumlah sampel total yang diteliti adalah 14 sampel. Kelompok terdiri dari 2 kelompok besar yang terbagi lagi untuk 2 pengujian yaitu, Kelompok IA adalah kelompok perlakuan dengan aplikasi fissure sealant menggunakanGIC tambahan kitosan dan diuji kelarutannya, kelompok A adalah kelompok aplikasi fissure sealant menggunakanGIC tanpa tambahan kitosan dan diuji kelarutannya, kelompok IB adalah kelompok perlakuan dengan aplikasi fissure sealant menggunakanGIC tambahan kitosan dan diuji kebocoran tepinya, kelompok B adalah kelompok aplikasi fissure sealant menggunakan GIC tanpa tambahan kitosan dan diuji kebocoran tepinya. Hasil yang diperoleh ditabulasikan, kemudian diuji dengan uji-t tidak berpasangan dan uji non parametrik Mann Whitney. Hasil uji-t tidak berpasangan didapat perbedaan yang bermakna antara kelompok A dan kelompok IA (p=0,000, p<0,05). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kelompok B dan kelompok IB (p=0,009, p<0,05). Kelarutan bahan dan tingkat kebocoran tepi pada fissure sealant menggunakan GIC tambahan kitosan memiliki nilai yang lebih kecil daripada kelompok GIC tanpa tambahan kitosan, dan penurunan nilai kelarutan GIC tambahan kitosan dapat mengurangi tingkat kebocoran tepi fissure sealant. | The caries prevalence in children is estimated 90%, according to the data obtained from Pediatric Clinic Airlangga University. Fissure sealants is an effective preventive technology for children and young adult at high risk of dental decay. The minimum material solubility and microleakage were required for the better retention of the fissure sealant material. Glass ionomer cement is widely used as the fissure sealant material, as its capacity to release fluor constantly. The addition of chitosan indicated to reduce the brittle nature of the GIC. This study was aimed to determine the effect of chitosan addition to reduce the solubility and micro-leakage of glass ionomer cement as fissure sealant material. This type of research is an experimental laboratory. The study was carried on total 28 samples (14 samples for each large group). The samples were divided into 2 large groups, each group were subdivided into 2 subgroups as follow: Group IA (Treatment Group-GIC reinforced by chitosan, solubility test), Group A (Control Group-GIC, solubility test), Group IB (Treatment Group-GIC reinforced by chitosan, micro-leakage test), Group B (Control Group-GIC, micro-leakage test). The result obtained was tabulated and analyzed with t-test and Mann Whitney (non-parametric). T-test revealed that there was a significant difference between Group A and Group IA(p=0,000, p<0,05). Mann-Whitney revealed that there was a significant difference between Group B and Group IB(p=0,009, p<0,05).The solubility and micro-leakage of GIC reinforced by chitosanas fissure sealant material has a smaller value than Group-GIC, and impairment solubility can reduce the micro-leakage of fissure sealant. | |
| 4019 | 13847 | G1A012067 | HUBUNGAN DERAJAT SESAK NAPAS DENGAN KUALITAS TIDUR PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | ABSTRAK Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah suatu penyakit dengan keterbatasan aliran udara berkelanjutan pada paru. World Health Organisation (WHO) mencatat prevalensi PPOK meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu gejala PPOK adalah sesak napas. Sesak napas bersifat persisten serta progresif dan juga sebagai penyebab ketidakmampuan penderita untuk melakukan aktivitas dan mengganggu kualitas tidur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi derajat sesak napas dengan kualitas tidur pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Peneliti mewancarai 34 pasien PPOK yang memeriksakan diri di klinik paru RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Responden diambil menggunakan non probability sampling dengan metode consecutive sampling. Derajat sesak napas diukur dengan kuesioner Modified Medical Research Council (MMRC) dan Kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis bivariat dilakukan dengan uji koefisien kontingen. Terdapat hubungan derajat sesak napas dengan kualitas tidur yang bermakna (p<0,000) dengan arah negatif dan kekuatan hubungan sangat kuat (r = -0,814). Dapat disimpulkan semakin berat derajat sesak napas maka kualitas tidur semakin buruk | Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a disease which caused by continuous airflow limitation in the lung. World Health Organisation (WHO) noted the prevalence of COPD is increasing from year to year. One of the symptoms of COPD are breathlessness. Breathlessness is persistent and progressive as well as the cause of the patient’s inability to perform activities and disrupt the quality of sleep. The aims of this study was to analyze the correlation degree of breathlessness with the COPD patient’s quality of sleep in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. This research was an analytic observational with cross-sectional approach. Researcher interviewed 34 patients with COPD who visited pulmonology clinic RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Respondents were taken by using a non-probability sampling with consecutive sampling method. The degree of breathlessness was measured with questionnaires Modified Medical Research Council (MMRC) and sleep quality was measured by using a questionnaire Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Bivariate analysis was used by Contingent Coefficient test. There was a significant correlation between degree of breathlessness and quality of sleep (P<0.000) with positive direction and very strong correlation (r = -0.814). It was concluded that more severe degrees of breathlessness will strongly impact the quality of sleep in COPD patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. | |
| 4020 | 13848 | G1A012048 | HUBUNGAN JUMLAH KONSUMSI BATANG ROOK DENGAN SINDROM MATA KERING PARAMETER OCULAR SURFACE DISEASE INDEX (OSDI) PADA MAHASISWA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Sindrom mata kering adalah gejala multifaktorial yang terjadi pada lapisan air mata (LAM) dan permukaan mata yang berpotensi merusak permukaan mata disertai dengan peningkatan osmolaritas LAM dan inflamasi dari permukaan mata. Untuk mengetahui hubungan jumlah konsumsi batang rokok dengan sindrom mata kering parameter OSDI pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pemilihan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dengan populasi kasus terjangkau adalah mahasiswa perokok aktif berjenis kelamin laki-laki yang berkuliah di Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan pada Desember 2015-Januari 2016 di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman. Responden melakukan pengisian kuesioner jumlah batang rokok dan kuesioner Occular Surface Disease Index (OSDI). Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square, Kruskal Wallis, dan uji Spearman. Hubungan jumlah konsumsi batang rokok dengan sindroma mata kering dinilai dengan skor OSDI memiliki nilai p<0,05 (p=0,000) yang memiliki arti terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah konsumsi batang rokok dengan sindroma mata kering parameter OSDI. Analisis mengenai hubungan usia mulai merokok dengan skor OSDI pada responden didapatkan hasil (p=0,106) yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada skor OSDI antara kelompok yang dibandingkan. Sedangkan, analisis terkait korelasi jumlah rokok yang pernah dikonsumsi dengan skor OSDI memiliki nilai (p=0,001) yang berarti bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah konsumsi batang rokok dengan sindrom mata kering parameter OSDI. | Dry eye syndrome is a multifactorial phenomenon of the tear film and the occular surface that could potentially damage the occular surface by the increased of tear film’s osmolarity and inflammation of the ocular surface.To determine the ratio of consumption of cigarettes with dry eye using OSDI parameters in General Soedirman University students. This research used observational analytical method with cross-sectional approach. Sample were tahen with consecutive sampling technique Achievable population was students of the active male smokers who enrolled in the General Soedirman University. This research was conducted in December 2015- January 2016. The research began with checked with cigarette questionnare and Occular Surface Disease Index Questionnare. After that, the data were analyzed with Chi Square, Kolmogorov Smirnov test and Spearman test. Relationship between cigarette smoking with dry eye syndrome was evaluated with a score of OSDI p<0.05 (p = 0.000), it means there is a significant relationship between the number of cigarettes and dry eye using OSDI parameters. Analysis of the relationship between age of onset of smoking OSDI scores for respondents (p = 0.106), it means that there are no significant differences in OSDI scores between the groups were compared. Meanwhile, the analysis about the correlation of the number of the cigarettes consumption by the OSDI score’s value is (p=0,001) that means there is positive correlation with weak strength of the data relation. There is a significant relationship between the amount of smoking with dry eye using OSDI parameters. |