Artikelilmiahs
Menampilkan 2.961-2.980 dari 48.733 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2961 | 12738 | B1J010114 | Keanekaragaman dan Dominansi Mikrofitobenthos di Sungai Pekacangan Purbalingga yang Terkena Limbah Cair Industri Tapioka | Berkembangnya industri-industri di Indonesia sangat membantu peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, tetapi di sisi lain menimbulkan dampak yang kurang baik bagi lingkungan, yaitu adanya limbah yang dihasilkan sebagai hasil samping dari suatu proses pengolahan dalam industri. Industri tapioka yang berada di Desa Timbang Kecamatan Kejobong, Purbalingga, merupakan salah satu industri yang membuang limbah cair ke Sungai Pekacangan. Limbah cair tersebut akan mempengaruhi ekosistem perairan termasuk kualitas fisik-kimia, maupun biota yg hidup didalamya, salah satunya mikrofitobenthos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan dominansi mikrofitobenthos serta untuk mengetahui kualitas perairan di Sungai Pekacangan Purbalingga yang terkena limbah cair industri tapioka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, penentuan 5 stasiun yaitu 2 stasiun sebelum pembuangan limbah cair industri tapioka, 1 stasiun tepat pembuangan limbah cair industri tapioka, 2 stasiun setelah pembuangan limbah cair industri tapioka. Parameter yang diamati meliputi parameter utama yaitu jumlah jenis dan jumlah individu mikrofitobenthos dan parameter pendukung yaitu faktor fisik (substrat dasar, kecepatan arus, suhu, kedalaman, penetrasi cahaya, TDS dan TSS) dan faktor kimia (DO, CO2, BOD, nitrat, orthofosfat dan pH). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman dari Shannon-Wiener untuk mengetahui keanekaragaman mikrofitobenthos dan indeks dominansi dari Simpson untuk mengetahui mikrofitobenthos yang dominan di Sungai Pekacangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrofitobenthos yang diperoleh di Sungai Pekacangan terdapat 5 divisi yaitu Chlorophyta, Chrysophyta, Cyanophyta, Cryptophyta, dan Phyrrophyta. Divisi Chlorophyta terdiri dari 18 spesies, divisi Chrysophyta terdiri dari 43 spesies, divisi Cyanophyta terdiri dari 4 spesies, divisi Cryptophyta terdiri dari 3 spesies, dan divisi Phyrrophyta terdiri dari 2 spesies. Indeks keanekaragaman mikrofitobenthos di Sungai Pekacangan berkisar antara 1,95-3,05 menunjukkan keanekaragaman mikrofitobenthos sedang-tinggi. Indeks Dominansi mikrofitobenthos di Sungai Pekacangan Berkisar antara 0,07-0,23, yang menunjukkan bahwa tidak ada mikrofitobenthos yang mendominasi. | Development of industries in Indonesia is very helpful economic development and welfare of the community, but on the other hand cause unfavorable impact on the environment, namely the waste generated as a by product of a process in the processing industry. Tapioca industry in the village of the Timbang District Kejobong, Purbalingga, is one of the industries that dispose of liquid waste into the river Pekacangan. The liquid waste will affect aquatic ecosystems including the physical-chemical quality, and biota living, one mikrofitobenthos. This study aims to determine the diversity and dominance mikrofitobenthos as well as to determine the water quality in the Pekacangan River affected by industrial liquid waste of tapioca. The method used in this research is the survey method. The sampling technique was done by purposive sampling, namely the determination of the 5 stations 2 stations before disposal of industrial wastewater tapioca, 1 station on the disposal of industrial wastewater tapioca, 2 stations after the disposal of industrial wastewater tapioca. The parameters observed were the main parameters are the number of species and number of individuals mikrofitobenthos and supporting parameters that physical factors (substrate, current speed, temperature, depth, light penetration, TDS and TSS) and chemical factors (DO, CO2, BOD, nitrate, orthophosphate and pH). Data were analyzed using diversity index of Shannon-Wiener diversity to know mikrofitobenthos and dominance index of Simpson to determine the dominant mikrofitobenthos Pekacangan River. The results showed that mikrofitobenthos obtained in Pekacangan River there are 5 divisions, namely Chlorophyta, Chrysophyta, Cyanophyta, Cryptophyta, and Phyrrophyta. Chlorophyta division consists of 18 species, Chrysophyta division consists of 43 species, Cyanophyta division consists of four species, Cryptophyta division consists of three species, and Phyrrophyta division consists of two species. Mikrofitobenthos diversity index Pekacangan River ranged from 1.95 to 3.05 indicates moderate mikrofitobenthos diversity. Mikrofitobenthos dominance index Pekacangan River Ranging from 0.07 to 0.23, which indicates that there is no mikrofitobenthos that dominates. | |
| 2962 | 12741 | B1J010134 | ASPEK REPRODUKSI IKAN BREK ( Puntius orphoides ) YANG TERTANGKAP DI SUNGAI PELUS PERIODE JUNI – JULI 2014 | Sungai Pelus merupakan salah satu sungai yang berada di daerah Banyumas, mengalir dari daerah Baturraden yaitu bagian hulu sungai dan bagian hilir sungai daerah Sokaraja. Adanya aktivitas berupa kegiatan rumah tangga, pertanian, maupun kegiatan industri di lingkungan perairan sungai Pelus akan mengakibatkan penurunan kualitas perairan di sungai Pelus yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap biota perairan di sungai Pelus, diantaranya ikan. Sungai Pelus dijadikan sebagai habitat bermacam – macam ikan, diantaranya ikan brek (Puntius orphoides). Penurunan kualitas perairan di sungai Pelus dapat mengakibatkan berkurangnya ikan brek. Selain penurunan kualitas perairan, penangkapan juga mengakibatkan berkurangnya ikan brek. Berkurangnya populasi ikan brek berdampak pada penurunan kemampuan reproduksi yang merupakan bagian dari aspek reproduksi. Beberapa hal yang mencakup aspek reproduksi ikan brek antara lain Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG), fekunditas, dan nisbah kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui TKG, IKG, fekunditas, dan nisbah kelamin ikan brek yang tertangkap di sungai Pelus dan mengetahui hubungan panjang tubuh dan berat tubuh ikan brek terhadap fekunditas. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Hasil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif mengenai TKG, IKG, fekunditas, dan nisbah kelamin, sedangkan hubungan panjang dan berat tubuh terhadap fekunditas dianalisis dengan korelasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aspek reproduksi ikan brek di sungai Pelus pada 3 stasiun yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TKG yang ditemukan di sungai Pelus pada tingkatan I, II, III, IV, IKG ikan brek jantan lebih rendah dari betina, fekunditas tertinggi pada daerah tengah sungai, sedangkan nisbah kelamin ikan brek jantan lebih besar dari betina. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa panjang tubuh dan berat tubuh ikan brek di sungai Pelus memiliki hubungan yang kuat dengan fekunditas yaitu semakin panjang dan berat tubuh ikan semakin meningkat fekunditasnya. | Pelus river is one of the river in the Banyumas, flowing from Baturraden to Sokaraja. There are activity of household, agriculture, and industrial activities in the waters of the Pelus river, will lead to lower the quality of waters in the Pelus river, will be the effect also on biota in the Pelus river of fish. Pelus river be used as a habitat for various kinds of fish, including the brek (Puntius orphoides). A declining in quality of the waters in the Pelus river can lead to a reduction the brek. In addition to decline in quality waters, arrest, also resulted in reduced fish the brek. Reduced the population of the brek has made the ability of reproduction which is part of the aspects of reproduction. A few things that includes the reproduction of fish the brek, among others, the level of maturity of the gonad (TKG), the maturity of the gonad (IKG), fecundity, and sex ratio. The purpose of this research is to knowing TKG, IKG, fecundity, sex ratio of the brek are caught in the Pelus river and knowing the length of the body and body weight of the brek to fecundity. The method used is a survei by using a random sampling. The results obtained were analyzed in a descriptive about TKG, IKG, fekundity, and sex ratio, the relationship long and weight of fecundity be reviewed with a correlation. This research is provide information about aspects reproduction of brek fish in Pelus river in 3 stations. The result showed that TKG are found in Pelus river at the I, II, III, IV levels, IKG which is male bigger than female, fecundity the highest in the middle of the rivers. The sex ratio of male is bigger than female. The analysis of correlation suggests that length and weight of the brek fish at the Pelus river have a relationship with fecundity. | |
| 2963 | 12739 | F1B008079 | KINERJA DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DALAM PELAYANAN PEMBUATAN AKTA KELAHIRAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Pelayanan Akta Kelahiran merupakan salah satu barometer kualitas pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Baik atau tidaknya pelayanan Akta Kelahiran tersebut akan memperlihatkan sejauh mana kinerja dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil terkait pembuatan Akta Kelahiran. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian yang berjudul ’Kinerja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam pelayanan Pembuatan Akta Kelahiran di Kabupaten Banyumas’ bertujuan untuk menganalisis kinerja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas dalam pelayanan pembuatan Akta Kelahiran. Metode penelitian menggunakan teknik kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang membuat membuat akte kelahiran pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyunas dengan sampel 100 orang. Teknik analisis yang digunakan yaitu menggunakan analisis kelas interval. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas, diketahui bahwa pelayanan akta kelahiran yang diberikan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas kepada masyarakat sudah mampu memberikan kepuasan. Dari kelima dimensi tersebut, dapat diketahui bahwa dimensi produktivitas, kualitas pelayanan, responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas sudah berjalan dengan baik sehingga memberikan kepuasan. Kinerja Dindukcapil berdasarkan persepsi masyarakat sudah baik atau memuaskan, namun demikian untuk mempertahankan serta meningkatkan kepuasan masyarakat maka perlu adanya perbaikan diantaranya memberikan arahan kepada pegawai untuk lebih teliti dalam melaksanakan tugasnya, dan peningkatan koordinasi yang baik antar pegawai agar dapat meningkatkan kecermatan pegawai dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. Setiap pengajuan akta kelahiran dari masyarakat, harus disertai dengan nomor kontak masyarakat yang dapat dihubungi, sehingga apabila terjadi kekurangan persyaratan, pihak Disdukcapil Kabupaten banyumas dapat segera menghubungi masyarakat yang bersangkutan. Hal lainnya yang pelru menjaid perhatian yaitu jaminan tepat waktu dalam pelayanan akta kelahiran dapat diberikan dengan adanya SOP (Standard Operating Procedure), serta informasi mengenai pelayanan penting untuk dipublikasikan secaraluas dan jelas kepada masyarakat. | The Birth Certificate Services is one barometer of the quality of service in the Department of Population and Civil Registry. Whether or not the service of a birth certificate will show the extent to which the performance of the Department of Population and Civil Registration Birth Certificate related to the manufacture. Based on this background, the study entitled 'Performance Department of Population and Civil Registration Birth Certificate Creation ministry in Banyumas' aims to analyze the performance of the Department of Population and Civil Registration Banyumas in the service of making a birth certificate. The research method uses quantitative techniques. The population in this study is the community that makes creating a birth certificate at the Department of Population and Civil Registration Banyunas district with a sample of 100 people. The analysis technique used is using class analysis interval. The baased on the results of research conducted in the Department of Population and Civil Registration Banyumas, it is known that the birth certificate service given the Department of Population and Civil Registration Banyumas to the community has been able to provide satisfaction. From the fifth dimension, it is known that the dimension of productivity, quality of service, responsiveness, responsibility and accountability are already well underway to provide satisfaction. Performance Dindukcapil based on public perception has been good or satisfactory, however, to maintain and increase the satisfaction of the people it is necessary to repair them provide guidance to employees to be conscientious in carrying out their duties, and increased coordination both among employees in order to improve the precision of employees in completing each job , Each submission of birth certificates of society, must be accompanied by a public contact number that can be contacted, so that in case of shortage of requirements, Banyumas regency Disdukcapil parties can immediately contact the relevant community. The other thing that attention that guarantees timely birth certificate service can be provided by the SOP (Standard Operating Procedure), as well as important information regarding the services to be published secaraluas and clear to the public | |
| 2964 | 12740 | G1B011072 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) PREMI BPJS KESEHATAN BAGI PEKERJA SEKTOR INFORMAL (PENDERES GULA KELAPA) DI KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS | Salah satu kendala dalam rangka mencapai universal coverage di Indonesia yaitu rendahnya kepesertaan BPJS Kesehatan bagi sektor informal. Kepesertaan asuransi kesehatan ini dapat didukung dengan adanya kemauan seseorang untuk membayar premi (willingness to pay). Penderes gula kelapa merupakan salah satu pekerja sektor informal yang keberadaanya paling signifikan di Kabupaten Banyumas dan masih rendahnya cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemauan membayar premi BPJS Kesehatan bagi pekerja sektor informal (penderes gula kelapa) di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampelnya sebanyak 102 keluarga penderes gula kelapa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil analisis multivariat dari tujuh variabel independen hanya satu variabel yang berpengaruh pada kemauan membayar premi BPJS Kesehatan yaitu variabel persepsi terhadap model pembiayaan kesehatan melalui skema asuransi dengan nilai p = 0,002. Meningkatkan upaya sosialisasi atau menguatkan kembali pemberian informasi tentang program BPJS Kesehatan, meliputi manfaat yang dapat diterima dan juga sistem pelaksanaannya, kepada masyarakat dapat meningkatkan persepsi masyarakat mengenai model pembiayaan kesehatan melalui skema asuransi. | One of the obstacles in order to achieve universal coverage in Indonesia is the low participation of BPJS health for the informal sector. This health insurance membership can be supported by their willingness to pay a premium. Palm sugar worker is one of the informal sector workers that their existence is the most significant in Banyumas and lack of the participants in BPJS Health. The purpose of this research is to determine the factors that influence the willingness to pay the BPJS health premium for the informal sector workers (palm sugar workers) in sub district Somagede, Banyumas Regency. This research is a quantitative research with cross sectional approach. The samples are 102 palm sugar workers families by using simple random sampling technique. Based on the results of the multivariate analysis from seven independent variables, it is only one variable that affects the willingness to pay the BPJS health premium that is variable perceptions toward the health financing model through insurance schemes with a value of p = 0.002. Increasing the efforts to reinforce the dissemination or providing information about BPJS Health program, including the benefits that can be received and also the system of implementation, the community can improve public perception of the model of health financing through insurance schemes. | |
| 2965 | 12742 | F1J011013 | EFEKTIVITAS MEDIA LAGU TERHADAP PENGUASAAN KOSAKATA DAN KEMAMPUAN MENYIMAK BAHASA JEPANG (Studi Eksperimen pada SMK Negeri 1 Purbalingga) | Penguasaan kosakata dan kemampuan menyimak merupakan aspek terpenting dalam hal penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Jepang. Akan tetapi, terdapat beberapa kesulitan dalam mempelajari kedua aspek tersebut. Untuk itu, penelitian ini menggunakan lagu sebagai media alternatif dalam pembelajaran menyimak dan menguasai kosakata bahasa Jepang. Penelitian ini menggunakan metode Quasi-Experimental Design. Sampel dalam penelitian ini tidak diambil secara acak. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas X SMK Negeri 1 Purbalingga (15-16 tahun), dengan menggunakan dua kelas sebagai sampel. Kedua kelas dibedakan menjadi kelas E dan kelas K. Berdasarkan hasil pengolahan data, tingkat penguasaan kosakata dan kemampuan menyimak kedua kelas sebelum perlakuan memiliki kesamaan. Terdapat pula kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kebingungan, pertimbangan yang prematur, dan melamun. Setelah perlakuan, tingkat penguasaan kosakata dan kemampuan menyimak kelas K yang mendapat penyampaian materi secara konvensional lebih rendah daripada kelas E. Sementara kelas E yang mendapat penyampaian materi melalui lagu mengalami peningkatan. Dengan kata lain, penyampaian materi melalui lagu memberikan pengaruh pada siswa dalam hal penguasaan kosakata dan kemampuan menyimak. | Vocabulary and listening skills are the most important aspects in mastering a foreign language, especially Japanese. However, there are some difficulties in learning these two aspects. Therefore, this research used Japanese song as an alternative way in listening and mastering the Japanese vocabularies. This research used Quasi-Experimental Design method. The samples of this research were not put randomly. The population of this research was the 10th grade of Purbalingga State Vocational High School 1 (15-16 years old), with two classes as the samples. These classes were distinguished as E class and K class. based on the result of data process, both of these classes had a similar level on vocabulary and listening skills before the experiment. There are some errors that caused by some factors like confuse, miss understanding, and daydream. After the experiment, K class which got a conventional method had obtained a lower score than E class. While E class which got a song method had improved their vocabularies and listening skills. Therefore, a song method gave a good effect to increase the ability of Japanese vocabulary and listening skills. | |
| 2966 | 12744 | G1B011052 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN | Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang berlangsung dalam waktu 280 sampai 300 hari atau 39–40 minggu, selama masa kehamilan tersebut ibu hamil memerlukan pengawasan yang tepat. Wilayah kerja Puskesmas II Kembaran tahun 2014 memiliki AKI cukup tinggi di wilayah Kabupaten Banyumas. Berdasarkan profil KIA Puskesmas II Kembaran, pada tahun 2014 terdapat 3 kasus kematian ibu serta jumlah ibu hamil resiko tinggi yaitu 48%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawatan kehamilan pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dengan metode crossectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling pada ibu hamil trimester 3 dan didapatkan sampel berjumlah 80 orang. Cara pengumpulan data menggunakan wawancara.Tahap analisis data meliputi univariat, bivariat dan multivariat. Uji univariat menunjukan responden sebagian besar memiliki usia tidak berisiko (78,8%), tingkat pendidikan dasar (55%), paritas kehamilan primipara (35%), tidak bekerja (58,8%), pendapatan per kapita kurang (< Rp 574.923) (8,8%), memiliki pengetahuan baik (57,5%), sikap baik (56,3%), dukungan keluarga baik (57.5%), terpapar informasi (67,5%) dan perilaku perawatan kehamilan kurang baik (51.3%). Hasil bivariat menggunakan uji chi square didapat variabel keterpaparan informasi berhubungan dengan perilaku perawatan kehamilan (p=0.013). Hasil multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel dukungan keluarga berpengaruh terhadap perilaku perawatan kehamilan pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas II Kembaran dengan nilai p=0,009 serta variabel keterpaparan informasi dengan nilai p=0,045. Informasi mengenai perawatan kehamilan terutama hygiene personal (memotong kuku, mandi, mengganti celana dalam), kegawatan kehamilan, konsumsi zat gizi sebaiknya ditambahkan. | Pregnancy is a natural process that will be experienced by every woman that took place within 280 to 300 days or 39-40 weeks, during pregnancy the pregnant woman requires proper supervision. Kembaran II primary health center in 2014 had the high MMR and there were 3 cases of maternal mortality and the number of high-risk pregnant women was 48%. The purpose of this research was to analyze the factors that influence to prenatal care behaviour of pregnant women in Kembaran II primary health center. This research used the quantitative cross sectional approach. The population of research was 102 pregnant women. Sampling technic used Simple Random Sampling to third trimester pregnant women and the obtained sample was 80 people. Data collection was performed by interviewing using questionnaire. To analyze the data, comprise of univariate, bivariate used chi-square and multivariate used regression logistics test. Univariate test showed the majority of respondents in no risk of age ( 78.8 % ) , the level of basic education ( 55 % ) , primiparous parity pregnancies ( 35 % ) , does not work ( 58.8 % ) , per capita income less than ( < USD 574 923 ) ( 8.8 % ) , have a good knowledge ( 57.5 % ) , good attitude ( 56.3 % ) , good family support ( 57.5 % ), information exposure ( 67.5 % ) and poor prenatal care behavior ( 51.3 % ). Bivariate test results showed information exposure related to prenatal care behavior ( p = 0.013 ). The results of multivariate test showed that the variables of family support (p=0,009) and information exposure (p=0,045) affects the prenatal care behaviour of pregnant women in Kembaran II primary health center. Information about prenatal care, especially personal hygiene (cutting nails, bathe, change of underwear), pregnancy crisis, consumption of nutrients should be added. | |
| 2967 | 12746 | B1J010211 | STRUKTUR KOMUNITAS MIKROZOOBENTHOS DI SUNGAI PEKACANGAN KABUPATEN PURBALINGGA YANG TERKENA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA | Sungai Pekacangan adalah salah satu sungai yang digunakan untuk pembuangan limbah cair tapioka. Limbah cair tapioka yang mengandung bahan organic maupun anorganik akan mempengaruhi kondisi lingkungan perairan pada sebelum dan sesudah terkena limbah termasuk kualitas fisika kimia perairan. Sungai merupakan habitat untuk pertumbuhan organisme, sehingga organisme yang hidup didalamnya juga akan terpengaruh oleh limbah tersebut. Salah satu organisme yang yang ada di perairan tersebut adalah mikrozoobenthos. Organisme ini merupakan konsumen pertama dalam ekosistem perairan yang keberadaannya sebagai pakan alami bagi larva dan ikan-ikan kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mikrozoobenthos (kelimpahan, keanekaragaman dan dominansi) dan mengetahui kualitas air di perairan Sungai Pekacangan Kabupaten Purbalingga sebelum dan setelah terkena limbah cair tapioka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan tehnik pengambilan sampel secara puprosive sampling. Penentuan stasiun berdasarkan perbedaan rona lingkungan perairan yang terkena limbah cair tapioca yaitu Stasiun 1 dan Stasiun 2 sebelum terkena limbah, Stasiun 3 tepat terkena limbah, Stasiun 4 dan Stasiun 5 Setelah terkena limbah. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval waktu 2 minggu. Parameter utama yaitu jumlah jenis dan jumlah individu mikrozoobenthos, sedangkan parameter pendukung adalah pH, arus, penetrasi cahaya, suhu, kedalaman, DO, BOD, dan TSS. Kelimpahan jenis dihitung berdasarkan modifikasi dari “Inverted Microscope Counts”dianalisis dengan menggunakan kelimpahan relatif, analisis indeks keanekaragaman menggunakan persamaan Shanon-Wienner, analisis indeks dominasi dengan menggunakan persamaan Simpson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas mikrozoobenthos pada sebelum dan sesudah terkena limbah cair tapioka yang diperoleh terdiri dari 3 phylum dan 12 spesies dengan kelimpahan berkisar 682-1025 ind/mm2. Nilai indeks keanekaragaman jenis tergolong sedang (1,15-1,90)dan nilai indeks dominansi tidak memperlihatkan adanya spesies yang mendominasi (0,11-0,28). Kualitas fisika-kimia Sungai Pekacangan Kabupaten Purbalingga sebelum dan sesudah terkena limbah cair tapioka secara umum masih dalam kisaran yang dapat ditolerir dan mendukung organisme akuatik untuk hidup. | Pekacangan river is a river that is used as tapioca’s liquid waste disposal. Which contains organic and anorganic material that will affect the aquatic ecosystems condition includes before and after affected tapioca liquid waste the quality of chemical and physical condition of water. River as the habitat of organism to grow, one of the living organism is mikrozoobenthos. This organism is the first level of consumer in this ecosystem which its existence as the natural food for the larvas and small fishes. This research was aimed to understand community structure mikrozoobenthos (abundance, diversity and dominance) and the water quality in the waters of the River Pekacangan Purbalingga before and after affected tapioca liquid waste. This research used survey method with purposive sampling method in collecting the sample. In choosing the stations is based on the differences environment affection of waters by the tapioca liquid waste, namely station 1 and 2 which non-contaminated stations, stastion 3 exposed to waste, station 4 and 5 after the contaminated station . The main parameters is the number of the type and quantity of mikrozoobenthos, while thesecondary parameter is pH, stream, light quantity, temperature, depth, DO, BOD and TSS. The variety quantity is calculated based on the modification of inverted counts microscopy,analyzed by relative variant, the diversity index was analyzed by Shanon-Wienner equation, the domination index was analyzed by Simpson equation. The results showed that the mikrozoobenthos community structure before and after affected tapioca liquid waste consists of 3 phylum and 12 species with quantity rangeis 682-1025 ind/mm2. The diversity index value mikrozoobenthos is medium (1,15-1,90) and the dominating index value shows no species dominates (0,11-0,28). The quality of Pekacangan river chemistry-physics condition in Purbalingga regency is still within the range that can be tolerated and it supports aquatic organisms to live. | |
| 2968 | 12747 | F1F009040 | SUBALTERN REPRESENTATION IN PRAMOEDYA ANANTA TOER’S THE GIRL FROM THE COAST | Penelitian yang berjudul “Subaltern Representation in Pramoedya Ananta Toer’s The Girl from the Coast” bertujuan untuk menemukan representasi subaltern dan perspektif Jawa tentang submisifitas gadis pantai terhadap Bendoro dalam novel The Girl from the Coast karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam penelitian ini, pendekatan poskolonial dan teori subaltern digunakan untuk meneliti novel The Girl from the Coast. kemudian analisis tersebut dujabarkan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Terdapat beberpa langkah dalam memeliti novel ini. Langkah pertama yaitu membaca novel The Girl from the Coast untuk memahami isi novel tersebut. Langkah kedua adalah mengidentifikasi teks yang berisi representasi subaltern. langkah terakhir adalah menjelaskan representasi subalterndan situasinya didukung oleh bukti-bukti yang ada di dalam novel. Berdasarkan analisis yand ada, penulis menemukan representasi subaltern. representasi tersebut ditemukan dalam dua bentuk yaitu submisifitas gadis pantai terhadap Bendoro. sedangkan, pandangan Jawa terhadap submisifitas terlihat dalam Serat Jatna Susila yang menjelaskan tentang peran perempuan, Serat Kandha Bumi yang menjelaskan Etika Jawa terutama tentang kesopanan. Maka dari itu, teori subaltern dan pandangan Jawa dicantumkan dalam hasil penelitian. | The research entitled “Subaltern Representation in Pramoedya Ananta Toer’s The Girl from the Coast” aims to find out the subaltern representation and Javanese Perspective on submissiveness of the girl from the coast to Bendoro in novel The Girl from the Coast written by Pramoedya Ananta Toer. This research uses postcolonial approach and subaltern theories. Furthermore, the analysis is arranged using descriptive qualitative method. There are several steps in analyzing this novel. First, the researcher reads the novel to understand the content and to collect the data. Second, the researcher identifies texts which have subaltern representations. The last step is that the researcher explains subaltern representation and the situations supported by many proofs in the novel. Based on the analysis, the researcher finds many representations of subaltern. The representation is the girl from the coast’s submissiveness to Bendoro. In other hand, the Javanese perspective on the submissiveness is seen in Serat Jatna Susila explaining the role of woman, and Serat Kandha Bumi explaining the Javanese ethic especially politeness.Thus, both subaltern theory and Javanese perspective are included in the result. | |
| 2969 | 12748 | G1B011032 | EFEKTIVITAS PENJANGKAUAN PEER EDUCATOR TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKUNCEN | Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap perbuatan yang kurang baik. Masalah yang sering dialami remaja adalah masalah yang berkaitan dengan seksualitas atau kesehatan reproduksi. Penjangkauan oleh pendidik sebaya akan membantu remaja lain dalam memberikan informasi yang akurat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penjangkauan peer educator terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu. Jumlah sampel penelitian ini masing-masing sebanyak 52 remaja, kelompok perlakuan dan pembanding, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan paired t-test dan independent test. Berdasarkan hasil univariat, sebagian besar remaja berusia 15 tahun, pendidikan menengah, laki-laki dan perempuan, tidak mendapat paparan informasi, dan tidak mendapat dukungan teman. Hasil bivariat terdapat perbedaan antara pengetahuan dan sikap antara kelompok perlakuan dan pembanding setelah penjangkauan peer educator dengan nilai p=0,000. Serta perbedaan pengetahuan setelah (post test) antara kelompok perlakuan dan pembanding dengan nilai p=0,000. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok perlakuan setelah penjangkauan peer educator. Tidak ada perbedaan pengetahuan dan sikap pada kelompok pembanding. Tidak ada perbedaan pengetahuan sebelum (pre test), sikap sebelum (pre test), dan sikap sesudah (post test) antara kelompok pembanding dan perlakuan. Saran bagi puskesmas adalah perlu adanya program remaja yang lebih rutin dilakukan supaya remaja mendapatkan informasi yang tepat tentang kesehatan reproduksi remaja. | Adolescence is a period which is less susceptible to good behavior. Issues that often vex are issues related to sexuality or reproductive health. Outreach by peer educators will help other teens in providing accurate information. The purpose of this Research is to know the effectiveness of outreach peer educator to increased knowledge and attitudes about adolescent reproductive health. This research uses quasi experiment method. The number of samples of each of these studies as much as 52 teenagers, groups the treatment and comparison, using purposive sampling technique. The instrument used a questionnaire. Analysis used univariate and bivariat analysis Ude paired t-test and independent test. Based on the results of the univariate, mostly 15 years old, secondary education, male and female, not get exposure information, and not have the support of friends. Based on the bivariat results, there is a difference between knowledge and attitude between the treatment and comparison Rafter outreach peer educator with a value of p = 0.000. As well as the difference of knowledge after (post test) between the treatment and comparison groups with a value of p = 0.000. This indicates an increase in knowledge and attitude on treatment group after peer outreach educator. There was no difference in knowledge and attitude in the comparison group. There is no difference of knowledge before (pre test), attitude before (pre test), and attitude after (post test) between the comparison group and treatment. Advice for health centers is a adolescent program is need for more routine done so that teenagers get the right information about adolescent reproduction health. | |
| 2970 | 12749 | G1B011047 | FAKTOR - FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PERILAKU HYGIENE MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 2 KEMBARAN | Menstruasi merupakan pendarahan yang terjadi secara teratur. Hygiene yang buruk saat menstruasi merupakan salah satu faktor risiko terkena Infeksi Saluran Reproduksi (ISR). Kasus ISR pada remaja di Kabupaten Banyumas meningkat pada tahun 2014 yaitu 44 kasus, di mana 50% kasus berada di Puskesmas II Kembaran. Tujuan penelitian mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP N 2 Kembaran. Jenis penelitian kuantitatif, dengan metode crossectional. Pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling pada siswi kelas VII dan VIII, didapatkan sampel 70 orang. Uji univariat menggunakan distribusi frekuensi menunjukkan sebagian besar umur responden 13 tahun, usia menarche 12 tahun, perilaku hygiene menstruasi baik, sebagian besar tidak mengikuti PIK Remaja, memiliki pengetahuan baik, sikap baik, sarana kebersihannya di rumah tersedia, akses informasinya tersedia, peran ibu mendukung dan peran teman sebaya mendukung. Hasil bivariat menggunakan uji chi square didapat variabel pengetahuan berhubungan dengan perilaku hygiene menstruasi (p=0.019). Analisis menggunakan uji regresi logistik ganda menunjukkan variabel pengetahuan dan peran teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku hygiene menstruasi pada siswi SMPN 2 Kembaran. Diharapkan sekolah meningkatan pengembangan dan pengelolaan ekstrakulikuler PIK Remaja, karena pada dasarnya peningkatan pengetahuan dan peningkatan peran peer educator melalui pendidik sebaya tergantung kepada efektifitas penyelenggaraan kegiatan ekstra kulikuler PIK Remaja. | Menstruation was periodically bleeding. Bad hygiene during menstruation is one of risk factor caused reproductive tract infection (ISR). The ISR cases based on Kembaran Public Health Office increase on 2014 for about 44 cases which is 50% cases located in Puskesmas II Kembaran. The aim of this research is to know the factors influence hygiene menstruation behavior of teenage girl in SMPN 2 Kembaran, which is school that located in area of Puskesmas II Kembaran. This is a quantitative research using crossectional method. The sampling method technique of this research id stratified random sampling for students in grade VII to VIII and reached total sample about 70 people. The univariate used frequency distribution showed most of respondent was 13 year, 12 year menarche age, good hygiene menstruation behavior, most of them didn’t follow PIK Remaja, has good knowledge, good attitude, availability of cleanness tools, availability of information access, role of mother, and role of peers. The result of bivariate used chi square test got knowledge variable correlate with menstruation hygiene (p=0.019). The analysis used multiple logistic regression test showed that knowledge variable and role of peer influenced menstruation hygiene behavior of SMPN 2 Kembaran’s students. School should improve the development and management of co-curricular PIK Remaja, because the improvement of knowledge and role of peer trough peer counselor are depend on efectivity of co-curricular PIK Remaja. | |
| 2971 | 12754 | B1J010066 | PREVALENSI DAN VARIASI MORFOMETRIK Trichodina sp. PADA BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.) PENDEDERAN II YANG DIJUAL DI TEMPAT PENJUALAN IKAN (TPI) PURBALINGGA | Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) merupakan ikan air tawar konsumsi yang cukup mahal. Purbalingga merupakan kabupaten yang minat masyrakat terhadap konsumsi ikan gurami cukup tinggi. Ikan gurami dijual di Tempat Penjualan Ikan (TPI) Purbalingga dalam ukuran konsumsi maupun benih, seperti benih ikan gurami pendederan II yang masih dianggap rentan terinfeksi ektoparasit Trichodina sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi benih ikan gurami pendederan II yang dijual di TPI Purbalingga yang terinfeksi Trichodina sp., serta variasi morfometrik Trichodina sp. pada benih ikan gurami pendederan II yang dijual di TPI Purbalingga. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sampel yang diambil sebanyak 100 benih. Prevalensi benih ikan gurami pendederan II yang terinfeksi Trichodina sp. di TPI Purbalingga sebesar 40% sehingga masuk pada kategori commonly atau umum, Hasil pengukuran karakter morfometrik terdapat variasi morfometrik Trichodina sp. pada benih ikan gurami pendederan II dengan hasil identifikasi 38 individu Trichodina sp. yang diduga spesies Trichodina acuta, Trichodina heterodentata, Trichodina magna dan Trichodina nobilis. | Gouramy (Osphronemus gouramy Lac.) is a quite expensive freshwater fish for consumption. Purbalingga is a district there its people interested to consumpting is quite high. Gouramy fishes are sold at the Fish Market (TPI) Purbalingga, from consumption size and fry size, such as second nursery phase gouramy that still considered to be infected by a Trichodina sp. ectoparasite. This study aims to determine the prevalence of second nursery phase gouramy in TPI (Fish Market) Purbalingga that infected by Trichodina sp. and to determine the species of Trichodina and its morphometric variations in second nursery phase gouramy that sold in TPI (Fish Market) Purbalingga. The benefits of this research are to monitor parasite infection and to identify species of Trichodina, which can be used as a foundation in early efforts towards control a disease in gouramy seed cultivation center. The method used in this study was a survey. Sampling was done by simple random sampling. The prevalence of second nursery phase gouramy infected by Trichodina sp. in TPI Purbalingga was 40%, so entered the category commonly, the measurement results of morphometric characters are presented morphometric variation Trichodina sp. of second nursery phase gouramy with the results of the identification of 38 individuals Trichodina sp. suspected species of Trichodina acuta, Trichodina heterodentata, Trichodina magna and Trichodina nobilis. | |
| 2972 | 12751 | F1F009029 | Prostitutes Life in Eighteenth-Century England as Reflected in Emma Donoghue’s “Slammerkin” | Prostitutes Life in Eighteenth-Century England as Reflected in Emma Donoghue’s “Slammerkin”. Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Pembimbing I: Tribuana Sari, M.Si., Pembimbing II: Aidatul Chusna, MA., Penguji: Mia Fitria A., M.A. Kata kunci: Pelacur, Abad Delapan Belas, Inggris, Slammerkin Penelitian yang berjudul“Prostitutes Life in Eighteenth-Century Englandas Reflected in Emma Donoghue’s Slammerkin”bertujuan untuk menjabarkan kehidupan parapelacur yang hidup di Inggris pada abad delapan belas yang tergambarkan pada novel tersebut.This study describes the life of the prostitutes in the eighteenth-century England depicted in the characters and events of the novel Slammerkin. Penelitian in imenggunakan metode deskriptif kualitatif pada novel “Slammerkin” karya Emma Donoghue.Novel tersebut di analisis menggunakan pendekatan sosiologi.Terdapat beberapa langkah untuk memahami dan menganalisis novel tersebut dalam rangka menjawab rumusan masalah. Yang pertama adalah dengan menentukan objek untuk di analisis, yaitu novel Slammerkin, dan yang kedua adalah dengan menganalisis elemen intrinsik novel tersebut yang berupa narasi, kejadian, karakterisasi, dan dialog sebagai elemen yang paling dominan pada novel, untuk mendeskripsikan kehidupan para pelacur di Inggris pada abad delapan belas. Peneliti juga mengumpulkan latar belakang sejarah prostitusi di Inggris pada abad delapan belas.Yang ketiga, peneliti menganalisis data yang terkumpul dengan mengkorelasikannya dengan teori sosiologi sastra oleh Alan Swingewood, dan setelah itu peneliti bias menarik kesimpulan. Dari penelitian yang telah dilakukan, gambaran kehidupan para pelacur di Inggris pada abad delapan belas terdapat pada karakter Mary, Doll, dan para pelacur lainnya. Peneliti menemukan bahwa penyebab para wanita memutuskan untuk menjadi pelacur adalah mereka yang yatim piatu, atau ditelantarkan oleh keluarganya dan yang mengalami masalah keuangan. Sistem pelacuran membahas tentang para pelaku di bisnis prostitusi, lokasi prostitusi, pakaian par apelacur, fenomena Gin Craze dan penyakit kelamin. Selain itu terdapat usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka memberantas prostitusi yang dilakukan oleh aparat, The Reformer Society, dan para dermawan. | Prostitutes Life in Eighteenth-Century Englandas Reflected in Emma Donoghue’s “Slammerkin”. Thesis, English Language and Literature Study Program, Department of Education And Culture English Language and Literature, Faculty of Humanities, JenderalSoedirman University Purwokerto. Academic Year 2014/2015.Supervised by AidatulChusna, MA. And Tribuana Sari, M.Si. Examiner: Mia FitriaAgustina, MA. Keywords: Prostitutes, eighteenth century, England, Slammerkin. The research entitled“Prostitutes Life in Eighteenth-Century England as Reflected in Emma Donoghue’s Slammerkin”is aimed todescribe the life of the prostitutes in the eighteenth-century England depicted in the characters and events of the novel Slammerkin. In this research, qualitative method is used to analyze the data; the novel by Emma Donoghue with the title Slammerkin. The main Data of this study is the novel which is analyzed by using sociology approach. There are some steps in understanding and analyzing the novel in order to answer the research question. The first is determining the object to be analyzed, that is the novel Slammerkin and the second is obtaining the intrinsic elements of the novel, such as the narrations, events, characterization and the dialogues as the most dominant elements of the novel, to describe the life of the prostitutes in eighteenth-century England. The researcher also obtains the historical background of prostitution in eighteenth-century England. The third is analyzing the data by connecting them with sociology of literature by Alan Swingewood and the last step is concluding. From the research, the portrayal of the prostitutes life in eighteenth-century England is found in the character of Mary, Doll, and other fellow prostitutes. The research discovers the cause of the women who became prostitutes, which are being orphaned or desserted and financial problem. The system of prostitution discusses about the actors in the prostitution business, the venue of prostitution, the outfit of the prostitutes, gin craze phenomenon, and venereal diseases. There are efforts to eradicate prostitution conducted by the legal authority, the reformer society, and the philanthropist. | |
| 2973 | 12752 | B1J008050 | MORFOMETRIK KEPITING Emerita emeritus (Linnaeus, 1767) DARI PESISIR PANTAI KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP | Kepiting Emerita emeritus merupakan genus Emerita dan termasuk ke dalam Familia Hippidae yang hidup pada wilayah pantai berpasir, beriklim tropis dan hidup di wilayah intertidal. Terdapat beberapa lokasi yang biasa untuk menangkap kepiting E. emeritus diantaranya di pesisir pantai Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Morfometrik merupakan ukuran dalam satuan panjang atau perbandingan ukuran bagian-bagian luar tubuh organisme seperti panjang total, panjang baku, tinggi dan lebar badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfometrik kepiting E. emeritus (Linnaeus, 1767), dan mengetahui sebaran ukuran panjang karapas kepiting E. Emeritus yang tertangkap di pesisir pantai Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dan dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Karakter morfologi yang diukur meliputi panjang karapas (BL), lebar karapas (BW; a, b, c), panjang antenna (LA), panjang exopod-uropod (UEL) dan bobot tubuh. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian didapatkan rasio karakter morfometrik kepiting E. emeritus yang tertangkap pada bulan November dan Desember 2014, sebagian besar (60%) menunjukkan perbedaan yang sangat nyata, 10% menunjukan perbedaan yang nyata, dan 30% menunjukan perbedaan yang tidak nyata. Panjang karapas E. emeritus, yang tertangkap pada bulan November 2014 berkisar antara 1,5 – 3,3 cm, sedangkan yang tertangkap pada bulan Desember 2014 berkisar 1,8 – 3,5 cm. Karakter morfometrik kepiting E. emeritus yang tertangkap pada bulan November 2014 dan Desember 2014, mengindikasikan adanya perbedaan pertumbuhan yang dialami kepiting pada masing-masing waktu pengambilan sampel. Kepiting E. emeritus yang tertangkap pada bulan Desember 2014 memiliki karapas lebih panjang dan bobot rata-rata lebih kecil. | Crab Emerita emeritus of the genus Emerita and included in Familia Hippidae who live in the area of sandy beaches, tropical climate and life in the intertidal area. There are some unusual locations to catch crabs E. emeritus of them on the coast of Cilacap District of Binangun. Morphometric the size in units of length or comparative size of the outer body of the organism such as total length, standard length, height and width of the body. This study aims to determine the morphometric characters crab E. emeritus (Linnaeus, 1767), and knowing the size distribution crab E. emeritus carapace length were caught on the coast of Cilacap District of Binangun. This research was conducted by survey method and the sampling technique is purposive random sampling. Morphological characters were measured include carapace length (BL), carapace width (BW; a, b, c), the length of antenna (LA), long-uropod exopod (UEL) and body weight. Data were analyzed by descriptive statistics. The result showed the ratio of E. emeritus crab morphometric characters are caught in November and December 2014, the majority (60 %) showed a highly significant difference, 10 % showed a real difference, and 30 % showed no real difference. Carapace length of E. emeritus, who was caught in November 2014 ranged from 1.5 to 3.3 cm, while those caught in December 2014 ranged from 1.8 to 3.5 cm. Morphometric characters crab E. emeritus are caught in November 2014 and December 2014, indicating differences in growth experienced by a crab at each sampling time. Crab E. emeritus caught in December 2014 had a carapace length and weight more on average smaller. | |
| 2974 | 12737 | F1J011021 | BENTUK DAN FUNGSI AIZUCHI SOO-GROUP DALAM DRAMA SUNAO NI NARENAKUTE (HARD TO SAY I LOVE YOU) | Penelitian ini berkaitan dengan bentuk dan fungsi aizuchi soo-group dalam drama Sunao Ni Narenakute (Hard to Say I Love You). Penelitian ini menitikberatkan pada penggunaan aizuchi bentuk soo. Aizuchi soo-group memiliki banyak variasi dibandingkan bentuk lainnya. Selain dapat digunakan secara tunggal, aizuchi soo-group juga dapat digunakan dalam bentuk pengulangan serta digabungkan dengan aizuchi dan partikel lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi aizuchi soo-group dalam drama Sunao Ni Narenakute (Hard to Say I Love You). Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, serta metode penjaringan data berupa metode simak bebas libat cakap dan metode catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 171 aizuchi soo-group dan aizuchi jenis soo muncul paling banyak yaitu 42 kali. 7 aizuchi berfungsi sebagai continuer, 59 sebagai tanda paham, 5 sebagai tanda dukungan terhadap penilaian penutur, 28 sebagai tanda setuju, 39 sebagai ungkapan emosional, serta 33 sebagai tambahan, koreksi, dan meminta informasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa aizuchi soo-group memiliki fungsi yang sama dengan fungsi aizuchi secara umum. Produksi tuturan aizuchi soo-group ini sangat dipengaruhi oleh faktor kekerabatan dan fungsi. Ungkapan soodesu menunjukkan bahwa terdapat jarak yang jauh antara pelaku tutur. Sementara ungkapan sooda menunjukkan hubungan yang dekat antara pelaku tutur. Beberapa bentuk dipengaruhi oleh fungsi, seperti Soone dan Sooyo yang digunakan untuk mengekspresikan kesepakatan atau dukungan. Sookana dan soodana dituturkan ketika terdapat perasaan ragu atau sedang memikirkan jawaban. | This research is related to the forms and the functions of aizuchi in the drama entitled Sunao Ni Narenakute (Hard to Say I Love You), focusing on the use of aizuchi soo-group as the main data. Aizuchi soo-group has the most variety forms than other forms. It can be used as single form, repetition form, and combined with other forms of aizuchi or particles. The purpose of this research is to describe the forms and the functions of aizuchi soo-group in the drama entitled Sunao Ni Narenakute (Hard to Say I Love You). The qualitative descriptive research is used in this research. There are two methods used as the method of data collection, such as Simak Bebas Libat Cakap and Catat method. The result of the research shows that there are 171 aizuchi soo-group found in the drama, and the soo form is the most appeared form with total 42 frequencies. 7 aizuchi of continuer, 59 of display understanding, 5 of signal of support toward the speaker’s judgement, 28 of agreement, 39 of emotional response, 33 of minor addition, correction and request for information. In conclusion, aizuchi soo-group has similar functions to common aizuchi. The production of aizuchi soo-group is influenced by the relationship and the function. For example, Soodesu shows that the speaker and the listener have distance in their relationship. Meanwhile, sooda shows the closer relationship. Some forms are influenced by function. For example, Soone and sooyo are to show the expression of agreement or support. Sookana and soodana are uttered when the speaker has doubt about something or thinking the answer. | |
| 2975 | 12765 | G1F011073 | FORMULASI GEL MINYAK KULIT KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) DENGAN BASIS HPMC SEBAGAI SEDIAAN ANTINYAMUK Aedes aegypti | Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang endemik bagi nyamuk berkembang biak. Kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) diketahui memiliki kandungan eugenol yang mampu menolak gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gel dari minyak atsiri kulit kayu manis dengan basis HPMC yang memenuhi syarat evaluasi sifat fisik dan stabilitas fisik selama penyimpanan serta mengetahui aktivitas antinyamuk dari formula terpilih sediaan gel. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi HPMC (3%, 5%, dan 7%) dengan 1% minyak atsiri kulit kayu manis. Pengujian aktivitas antinyamuk dilakukan pada 2 kelompok sediaan gel selama 6 jam dalam kandang berisi 25 ekor nyamuk betina Aedes aegypti dengan pengulangan 10 kali per sepuluh detik. Evaluasi sediaan gel meliputi uji organoleptis, homogenitas, dan pengukuran pH yang dianalisis deskriptif, sedangkan viskositas, daya lekat, dan daya sebar dianalisis ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil data yang signifikan diuji lanjut menggunakan BNJ atau Dunnet T3. Aktivitas antinyamuk dianalisis dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terpilih dalam penelitian ini adalah formula I dengan konsentrasi HPMC 3% dengan nilai viskositas sebesar 42900-68200 cps, daya sebar 5,0-5,4 cm, dan daya lekat > 1 detik. Pada pengujian aktivitas antinyamuk formula terpilih memiliki daya proteksi > 90% selama 3 jam. | Indonesia is a tropical country that is endemic for mosquitoes to breed. Cinnamon bark (Cinnamomum burmannii) are known to contain eugenol which can resist the bite of Aedes aegypti. This study aims to create a gel formulation of essential oil of cinnamon bark with HPMC base of qualified evaluation of physical characteristics and physical stability during storage and determine the repellant activity of the selected formula gel preparations. The study by varying the concentration of HPMC (3%, 5% and 7%) to 1% essential oil of cinnamon bark. Repellant activity test conducted on two groups for 6 hours in cages containing 25 female Aedes aegypti mosquitoes by repeating 10 times per ten seconds. Evaluation of gel preparations include organoleptic test, homogeneity, and pH measurements were analyzed descriptively, whereas viscosity, adhesion, and the dispersive power analyzed one-way ANOVA with 95% confidence level. Significant data results further tested using HSD or Dunnet T3. Repellant activity were analyzed by Mann whitney test. The results showed that the formula was chosen in this study is the formula I with a concentration of 3% HPMC with a viscosity of 42900-68200 cps, dispersive power from 5.0 to 5.4 cm, and adhesion > 1 sec. In testing repellant activity chosen formula has a protection > 90% for 3 hours. | |
| 2976 | 12721 | F1G008019 | TINJAUAN INTRINSIK DALAM NOVEL THE SWEET SINS KARYA RANGGA WIRIANTO PUTRA | Skripsi ini berjudul “Tinjauan Intrinsik dalam Novel The Sweet Sins Karya Rangga Wirianto Putra”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik yang meliputi tokoh dan penokohan, tema, alur, latar, dan amanat. Serta mengetahui keterjalinan antarunsur intrinsik dalam novel The Sweet Sins karya Rangga Wirianto Putra. Penelitian ini termasuk deskriptif dengan fokus penelitian berupa keterjalinan antarunsur intrinsik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah membaca seluruh isi novel, kemudian mencatat bagian-bagian penting dari novel The Sweet Sins yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan teori struktural. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terdapat delapan keterjalinan antar unsur intrinsik dalam novel The Sweet Sins karya Rangga Wirianto Putra yang meliputi; hubungan tokoh dan tema, hubungan tokoh dan alur, hubungan tokoh dan latar, hubungan tokoh dan amanat, hubungan tema dan latar, hubungan tema dan amanat, hubungan alur dan latar, dan hubungan alur dan amanat. | The thesis is entitled “Tinjauan Intrinsik dalam Novel The Sweet Sins Karya Rangga Wirianto Putra”. This research aims at investigating the intrinsic element which cover and character characterization, theme, plot, background, and message found in the novel. In addition, it is to study the interested connections of those intrinsic elements in Rangga Wirianto’s The Sweet Sins. This is descriptive research focussing on the interrelated connections of those intrinsic elements in the novel. The data collection technique employed in this research is done by comprehensively reading the novel and then noting the important parts of the novel which are related to the intrinsic element. Next is data analysis. It is done by employing the structuralism theory. Based on the analysis, there are eight interrelacted connections among the intrinsic found in Rangga Wirianto Putra’s The Sweet Sins. Those are the connections of the characters and the theme, characters and the plot, characters and setting, characters and messages, theme and setting, theme and messages, plot and setting, and the last one is plot and messages. | |
| 2977 | 12756 | B1J010043 | penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman jeruk siam (Citrus nobilis) di Desa Karangsari Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut | RINGKASAN Jeruk siam (Citrus nobilis) banyak tumbuh serta ditemui di dataran rendah dengan ketinggian 700 mdpl. Tanaman jeruk siam banyak dibudidayakan di Indonesia, salah satunya di Desa Karangsari Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut. Seperti halnya tanaman lain, jeruk siam merupakan salah satu tanaman yang rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh cendawan, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang disebabkan oleh cendawan agar dapat meningkatkan produksi jeruk siam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan, jenis cendawan penyebab penyakit, penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang paling banyak muncul dan persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman jeruk siam. Metode yang digunakan ialah survei dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Jenis-jenis penyakit yang ditemukan dideskripsikan sesuai dengan tanda dan gejala yang terlihat pada bagian tanaman dengan menggunakan buku “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia” dan “Ilmu Penyakit Tumbuhan ” dilanjutkan dengan menghitung persentase penyakitnya. Untuk mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit dideskripsikan menggunakan buku identifikasi “ Illustrated Genera of Imperfect Fungi ” dan “Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi”. Penelitian dilakukan di Desa Karangsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut dan Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Unsoed pada bulan Juli-Oktober 2014. Hasil penelitian diperoleh dua penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman jeruk siam di Desa Karangsari Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut, yaitu penyakit antraknosa dan penyakit embun tepung. Jenis cendawan yang diperoleh adalah Colletotrichum sp. dan Oidium sp. Penyakit cendawan yang paling banyak muncul adalah penyakit antraknosa (247 kali). Persentase penyakit antraknosa sebesar 65% dan persentase penyakit embun tepung sebesar 17%. Kata kunci : Jeruk siam, cendawan penyebab penyakit, persentase penyakit cendawan. | SUMMARY The tangerine is many found in lowlands to an altitude of 700 meters above sea level. The tangerine has many been cultivated in Indonesia, one of the them on Desa Karangsari Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut. Same with other plant, the tangerine is one of kind plant which vulnerable to illness caused fungus, therefore we require effort to preventation and control disease caused fungus so able to improve production of tangerine. This research aims to determine the types of diseases caused by fungi on celery, a disease caused by a fungus that the most appears and the percentage of disease caused by the fungus on celery plants. The method used was a survey with a sampling technique by simple random sampling. Make 5 diagonal plots at three different locations. The types of diseases that are found described in accordance with the signs and symptoms that are visible on the plant by using the book "Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia", "Dasar-dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan" and “Ilmu Penyakit Tumbuhan”, and then calculate the percentage of the disease. Samples of the plants parts which were attacked by fungi pathogens were isolated and identified with the guidance of “Illustrated Genera of Imperfect Fungi, and “Compendium of Soil Fungi”. The research was conducted in the Karangsari Village, Karangpawitan district, Garut in December-Febraury 2015. Research results obtained by the two diseases caused by fungi on plant citrus in the Karangsari Village Karangpawitan District Garut, namely antraknosa and Powdery mildew. Fungi obtained is Colletotrichum sp. and Oidium sp. Fungal disease that appears most are anthracnose disease (247 times). The percentage of anthracnose disease by 65% and the percentage of powdery mildew disease by 17%. Keywords: Citrus, the disease caused by fungi, the percentage of disease. | |
| 2978 | 12757 | F1F008017 | ANALYSIS OF METAPHORICAL CONCEPTS USED BY MARGARET THATCHER IN THE IRON LADY MOVIE | Judul penelitian ini adalah “Analisis Konseptual Metafor Oleh Margaret Thatcher dalam Film The Iron Lady. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis-jenis metafora berdasakan teori dari Lakoff dan Johnson (1980), menentukan konsep metafor, dan menelaah arti ujaran-ujaran yang mengandung metafora dalam film The Iron Lady. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini. Karena tujuan penelitian ini adalah untuk mencari informasi rinci mengenai metafora dalan ujaran sehari-hari, maka ini adalah metode yang tepat. Metode kualitatif juga diterapkan dalam penelitian ini karena data yang diperoleh adalah dari ujaran-ujaran seseorang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis metafora dalam film ini. Keempat jenis itu adalah struktural, orientasional, ontologikal, dan metonimi. Dari keempat jenis tersebut, yang paling sering dilontarkan oleh Margaret adalah struktural, dimana menyebut suatu istilah dengan istilah lain. Sementara itu, konsep metafora yang ditemukan cukup bervariasi tergantung dari ujaran dan pilihan kata. Hal ini terjadi karena Margaret memproduksi banyak istilah yang sebenarnya dimaksudkan untuk istilah lain dalam membentuk metafora struktural. Peneliti menyarankan pada peneliti lain, untuk meneliti tiap jenis metafora lebih terperinci dan memfokuskan hanya pada satu jenis di tiap penelitian untuk memperoleh pemahman yang lebih mendalam. Untuk pembaca, penelitian ini dapat memperlus pengetahuan mengenai metafora dalam kehidupan sehari-hari. | The title of this research is “Analysis of Metaphorical Concepts Used by Margaret Thatcher in The Iron Lady Movie. This research is aimed at discovering the types of metaphor based on Lakoff and Johnson’s theory (1980), determining the concepts, and finding the meaning of utterances that contain metaphor through the context in The Iron Lady movie. The researcher used descriptive qualitative method in this research. Since the aim of this research is to find out detailed information about metaphorical concept in daily utterance, the descriptive method is a proper method. The qualitative method is also applied in this research because the data were taken from utterances. The result of this research shows that there are four types of metaphor in this movie. They are structural, orientational, ontological, and metonymy. From the four metaphors, the most produced by Margaret is structural, which is saying one term in term of another. Meanwhile, the concepts of metaphor were various depending on the utterances and the words that were used. This happened because Margaret also used various terms and choice of word that built the structural metaphor. The researcher suggested the other researchers to observe each type of metaphor in more detailed way, focusing on only one type to strengthen the understanding of each type. For the readers, expand the knowledge of any field of study especially in metaphor that people use everyday. | |
| 2979 | 12758 | G1F011049 | FORMULASI SUPPOSITORIA EKSTRAK TERPURIFIKASI KULIT DUAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) DENGAN BASIS PEG 400 DAN PEG 6000 | FORMULASI SUPPOSITORIA EKSTRAK TERPURIFIKASI KULIT DUAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) DENGAN BASIS PEG 400 DAN PEG 6000 Rani Saskia Jeanita Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman ranijeanita@yahoo.com 08561009362 INTISARI Lidah buaya (Aloe vera) dengan kandungan antrakuinon memiliki aktivitas sebagai laksatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sediaan suppositoria dari ekstrak terpurifikasi kulit daun lidah buaya (A.vera) dengan basis PEG 400 dan PEG 6000 dan untuk menentukan rasio konsentrasi PEG 400 dan PEG 6000 yang memenuhi persyaratan fisik suppositoria. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan memformulasikan ekstrak terpurifikasi kulit daun lidah buaya (A.vera) dengan variasi konsentrasi PEG 400 : PEG 600 yaitu: 30% : 70% ; 40% : 60% ; 50% : 50% ; 60% : 40% ; 70% : 30% menggunakan metode cetak tuang, evaluasi sifat fisik suppositoria yang meliputi: organoleptis, keseragaman bobot, titik lebur, waktu leleh, dan kekerasan. Data organoleptis dan keseragaman bobot yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif sedangkan uji yang lain dianalisis menggunakan metode statistik Anava pada taraf kepercayaan 95%, kemudian dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi PEG 400 dan PEG 6000 menghasilkan suppositoria berwarna cokelat kehijauan dan bobot yang seragam, serta berpengaruh signifikan terhadap penurunan titik lebur, waktu leleh dan kekerasan sediaan suppositoria ekstrak terpurifikasi kulit daun lidah buaya. Rasio konsentrasi PEG 400 dan PEG 6000 yang memberikan sifat fisik paling baik adalah formula III dengan rasio konsentrasi PEG 400 : PEG 6000 adalah 50% : 50%. Kata kunci: Aloe vera, PEG 400, PEG 6000, Suppositoria | FORMULATION OF PURIFIED SKIN LEAF EXTRACT OF ALOE VERA SUPPOSITORY WITH PEG 400 AND PEG 6000 BASE Rani Saskia Jeanita Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman ranijeanita@yahoo.com 08561009362 ABSTRACT Aloe vera with the content of anthraquinone have activity as laxative. The purpose of this research is to create a suppository dosage of purified skin leaf extract of Aloe vera with base PEG 400 and PEG 6000 and to determine the ratio of the concentration of PEG 400 and PEG 6000 which meets the physical requirements suppositories. This research is an experimental research by formulating the extract of A.vera with various concentrations of PEG 400 : PEG 600 ie: 30% : 70% ; 40% : 60% ; 50% : 50% ; 60% : 40% ; 70% : 30% using cast molding methods, evaluation of physical properties suppositories which include: organoleptic, uniformity of weight, melting point, melting time, and hardness. Organoleptic data and uniformity of weight were analyzed using descriptive analysis while the other test were analyzed using Anova at 95% confidence level, statistical method was followed by LSD test. The results showed that the variation of the concentration of PEG 400 and PEG 6000 produces greenish brown suppositories and weights were uniform, and significant effect on decrease in the melting point, the time of melting, and hardness suppository of purified skin leaf extract of A.vera. The ratio of the concentration of PEG 400 and PEG 6000 which provide the most excellent physical properties is the formula III with a concentration ratio of PEG 400 : PEG 6000 is 50% : 50%. Keyword: Aloe vera, PEG 400, PEG 6000, Suppository. | |
| 2980 | 12763 | G1D011032 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AMBAL II KABUPATEN KEBUMEN | Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan diabetes melitus yang terjadi karena resistensi tubuh terhadap efek insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas. Pengendalian kadar glukosa darah pada penderita DM tipe 2 dapat dilakukan dengan menggunakan obat tradisional. Diketahui bahwa banyak penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Ambal II Kabupaten Kebumen menggunakan obat tradisional. Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat tradisional pada penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Ambal II Kabupaten Kebumen. Metode: Penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian analitik observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 93 responden, pengambilan sampel menggunakan metode total sampling yang didasarkan pada kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Data dianalisis secara univariat, bivariat (menggunakan uji chi square α=5%), dan multivariat (menggunakan uji regresi logistik α=5%). Hasil: Faktor tingkat pendidikan (p=0,000), pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,000), dan pendapatan (p=0,000) merupakan faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat tradisional pada penderita DM tipe 2, sedangkan faktor umur (p=0,639) dan jenis kelamin (p=0,718) tidak berhubungan dengan penggunaan obat tradisional. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan penggunaan obat tradisional pada penderita DM tipe 2 adalah sikap (p=0,001 dan OR=56,784). Kesimpulan: Faktor yang paling dominan berhubungan dengan penggunaan obat tradisional pada penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Ambal II Kabupaten Kebumen adalah sikap. Sedangkan faktor lain yang berhubungan yaitu: tingkat pendidikan, pengetahuan, dan pendapatan. | Background: Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is one of DM which occurs because resistance for the effects of insulin produced by β cells of the pancreas. Control of blood glucose levels in people with type 2 DM may be performed by the using of traditional medicine. Known that there are many patients type 2 DM in the work area of Puskesmas Ambal II Kabupaten Kebumen who use traditional medicines. Purpose: To identify the factors that related to traditional medicines used by type 2 DM patients in the work area of Puskesmas Ambal II Kabupaten Kebumen. Methods: This was a quantitive research, with observational method and cross sectional design. The number of respondent was 93, and the samples were chosen by total sampling based on the inclusion and exclusion criterias. Instrument that used in this study was questionnaire. The data was analyzed in univariat, bivariat (by chi square test α=5%), and multivariate (by logistic regression α=5%). Results: Education factors (p=0,000), knowledge (p=0,000), the attitude (p=0,000), and income (p=0,000) were factors related for the using of traditional medicine, whereas age factors (p=0,639), and the sex (p=0,71) were not factors related for the using traditional medicine. The dominant factor related to traditional medicine used by type 2 DM was the attitude (p = 0.001 and OR=56,784). Conclusion: The dominant factor related to traditional medicine used by type 2 DM was attitude. The other factors related the traditional medicine used by those with type 2 DM were the education, knowledge, and income. |