Artikelilmiahs

Menampilkan 24.641-24.660 dari 50.313 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2464127664B1A015072Karakterisasi Senyawa Bioaktif dari Isolat Streptomyces sp. SAE4034 yang Menghambat Bakteri PatogenMikroorganisme mampu menghasilkan ribuan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri dan antifungi. Kelompok mikroorganisme yang berpotensi sebagai antibakteri antara lain Aktinomisetes. Salah satu contoh anggota Aktinomisetes yaitu Streptomyces. Isolat Streptomyces sp. SAE4034 diketahui mampu menghasilkan senyawa bioaktif. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui stabilitas senyawa antibakteri dari ekstrak kasar Streptomyces sp. SAE4034 terhadap suhu dan pH, mengetahui golongan-golongan senyawa yang dihasilkan oleh Streptomyces sp. SAE4034 dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan fitokimia, dan mengetahui golongan senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil penelitian ini yaitu aktivitas penghambatan ekstrak kasar Streptomyces sp. SAE4034 stabil pada suhu 80oC dan pH asam, netral, dan basa. Hasil pemisahan senyawa bioaktif ekstrak kasar Streptomyces sp. SAE4034 dengan metode KLT dihasilkan 4 spot dengan nilai Rf 0,94; 0,83; 0,125; dan 0,062. Spot dengan nilai Rf 0,94 termasuk golongan senyawa terpenoid, spot dengan nilai Rf 0,83 termasuk golongan senyawa alkaloid, dan spot dengan nilai Rf 0,125 dan 0,062 termasuk golongan senyawa flavonoid. Senyawa dengan nilai Rf 0,94 dan 0,062 memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan keempat bakteri uji berdasarkan uji bioautografi.Microorganisms are able to produce bioactive compounds that function as antibacterial and antifungal. Groups of microorganisms that act as antibacterial include actinomycetes. One example of a member of actinomycetes is Streptomyces. Isolate Streptomyces sp. SAE4034 is able to produce bioactive compounds. The purpose of this study was to study the antibacterial compounds from crude extracts of Streptomyces sp. SAE4034 includes its stability on temperature and pH, the compound class using Thin Layer Chromatography (TLC) and phytochemical methods, and to identify the compound class that inhibit the growth of Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. The results of this study are the crude extract of Streptomyces sp. SAE4034 showed antibacterial stability at 80oC and acidic, neutral and basic pH. The TLC analysis showed 4 spots with an Rf values of 0.94; 0.83; 0.125; and 0.062. Spot with an Rf value of 0.94 belongs to terpenoid compound group, spot with an Rf value of 0.83 included alcaloid compound group, and spots with an Rf value of 0.125 and 0.062 included in the flavonoid group. Compound with Rf values of 0.94 and 0.062 have ability to inhibit bacterial growth based on bioautographic tests.
2464227666I1A015018FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEBERADAAN BAKTERI Coliform PADA ES JERUK DI PEDAGANG KAKI LIMA PURWOKERTO TIMURLatar Belakang : Kontaminasi dan keracunan makanan dan minuman merupakan akibat dari proses produksi yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur sehingga menimbulkan penyakit seperti Diare. Resiko diare juga dapat ditimbulkan dari es jeruk yang dijual di pedagang kaki lima karena terhadap kontaminasi bakteri Coliform sehingga menyebabkan Diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keberadaan Bakteri Coliform Pada Es Jeruk Di Pedagang Kaki Lima Purwokerto Timur
Metodologi : Penelitian merupakan penelitian survei analitik metode dengan pendekatan cross sectional, sampel penelitian sebanyak 56 penjual es jeruk di Pedagang Kaki Lima Purwokerto Timur, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan uji laboratorium.
Hasil Penelitian : Ada pengaruh antara sanitasi peralatan dengan keberadaan bakteri Coliform pada es jeruk (OR=3,992), ada pengaruh antara pemilihan bahan baku dengan keberadaan bakteri Coliform pada es jeruk (OR=1,228), tidak ada pengaruh antara personal hygiene dengan keberadaan bakteri Coliform pada es jeruk, tidak ada pengaruh antara kondisi sanitasi tempat penjualan dengan keberadaan bakteri Coliform pada es jeruk.
Kesimpulan : Ada pengaruh antara sanitasi peralatan, dan pemilihan bahan baku dengan keberadaan bakteri Coliform pada es jeruk yang dijual di Pedagang Kaki Lima Purwokerto Timur.
Research Background : Contamination and poisoning of food and drink due to production process is not appropriate can cause diseases such as diarrhea. The risk of getting diarrhea can also be caused by Citrus ice sold in street vendors for Coliform bacteria contamination. This research aims at find factors that influencing to the existence of Coliform bacteria in citrus ice sold in east purwokerto street vendors.
Methodology : This research uses analytical survey method with cross sectional approach. The sample of this research is 56 citrus ice sellers in East Purwokerto street vendors. The data collection is conducted through interviews, observation and laboratory test.
Research Result : There are influence between equipment sanitation and the existence of Coliform bacteria in citrus ice (OR=13,721) and influence between raw material selection and the existence of Coliform bacteria in citrus ice (OR=3,992). There are no influence between personal hygiene and the existence of Coliform bacteria in citrus ice and also no influence between sanitation condition of selling place and the existence of Coliform bacteria in citrus ice.
Conclusion : There are influences between equipment sanitation and raw material selection to the existence of Coliform bacteria in citrus ice sold in East Purwokerto street vendors.
2464327667I1A015001FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN HIV PADA LAKI-LAKI SEKS LAKI-LAKI (LSL) DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2019Latar Belakang : HIV merupakan penyakit infeksi pembunuh nomor empat di dunia dan menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Risiko HIV pada laki-laki seks laki-laki (LSL) lebih besar daripada lelaki yang berpasangan seksual dengan wanita sehingga perilaku pencegahan penting untuk dilakukan agar distribusi kasus tidak meluas dan LSL mampu melakukan upaya perlindungan diri dari penularan HIV. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV pada laki-laki seks laki-laki (LSL).
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu laki-laki seks laki-laki (LSL) yang terjaring oleh LPPSLH di Kabupaten Banyumas. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 40 LSL. Variabel penelitian meliputi usia, lama menjadi LSL, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dukungan keluarga, dukungan teman, keterlibatan dalam organisasi, dan perilaku pencegahan HIV. Analisis data dilakukan secara univariat, dan bivariat dengan chi square.
Hasil Penelitian : Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV pada LSL di Kabupaten Banyumas yaitu dukungan teman (p-value 0,026). Variabel yang tidak berhubungan yaitu usia, lama menjadi LSL, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dukungan keluarga, dan keterlibatan dalam organisasi.
Simpulan dan Saran : Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV pada LSL yaitu dukungan teman. Peningkatan pengetahuan mengenai HIV diperlukan untuk menekan angka kejadian HIV.
Background: HIV is the number four killer infectious disease in the world and one of the main health problems in Indonesia. The risk of HIV in men sex men (MSM) is greater than that of men who are sexually coupled with women so prevention behavior is important to take so that the distribution of cases is not widespread and MSM are able to protect themselves from HIV transmission. The purpose of this study is to determine the factors associated with HIV prevention behavior in male sex men (MSM).
Method: This research is a quantitative study with cross sectional approach. The study population is male sex men (MSM) who were netted by LPPSLH in Banyumas. Samples in this study used a purposive sampling technique with inclusion and exclusion criteria totaling 40 MSM. Research variables include age, length of MSM, education, employment, income, knowledge, attitudes, information exposure, family support, friend support, involvement in organizations, and HIV prevention behaviors. Data analysis using univariate, and bivariate analysis with chi square test.
Results: The results of the bivariate analysis showed that the variables associated with HIV prevention behavior in MSM in Banyumas District were peer support (p-value 0.026). Unrelated variables are age, length of MSM, education, occupation, income, knowledge, attitude, information exposure, family support, and involvement in the organization.
Conclusion and Suggestion : Factors related to HIV prevention behavior in MSM is friend support. Increased knowledge about HIV is needed to reduce the incidence of HIV.
2464427668B1A015069OPTIMALISASI Lepiota sp. DARI KEBUN RAYA BATURRADEN UNTUK DEKOLORISASI LIMBAH BATIK INDIGOSOL BLUE PADA WAKTU INKUBASI DAN KONSENTRASI GLUKOSA BERBEDA Indigosol blue (IB) merupakan salah satu zat warna sintetis yang seringkali digunakan pada industri batik tetapi dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia. Metode biologi menjadi metode alternatif dengan menggunakan jamur Basidiomycota yang lebih efisien dan ramah lingkungan mendegradasi zat warna dengan mekanisme adsorpsi dan enzimatik. Salah satu jamur Basidiomycota yang diketahui memiliki kemampuan dekolorisasi limbah IB adalah Lepiota sp. dari Kebun Raya Baturraden. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan jamur Lepiota sp. dari Kebun Raya Baturraden dengan waktu inkubasi dan konsentrasi glukosa berbeda untuk dekolorisasi limbah IB, serta mengetahui perlakuan kombinasi waktu inkubasi dan konsentrasi glukosa optimal. Metode penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan kombinasi yaitu penggunaan jamur Lepiota sp. pada waktu inkubasi 24, 48, 72, dan 96 jam, serta konsentrasi glukosa 0%, 0,5%, 1%, dan 2%. Analisis data menggunakan metode Analysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bawah Lepiota sp. dari Kebun Raya Baturraden mampu mendekolorisasi limbah IB pada waktu inkubasi dan konsentrasi glukosa berbeda dengan persentase 42,59% - 85,78%. Persentase tertinggi ditunjukan pada waktu inkubasi 72 jam dan konsentrasi glukosa 1%.Indigosol blue (IB) is one of the synthetic dyes that usually used in batik industry, but can have a negative impact on the environment and humans. Biological methods become alternative methods by using Basidiomycota which more efficient and environmentally friendly to degrade dyes by adsorption and enzymatic mechanisms. One of the Basidiomycota that known have the ability to decolorize IB effluent is Lepiota sp. from Baturraden Botanical Garden. The purpose of this study is to investigate the capability of Lepiota sp. from Baturraden Botanical Garden with different incubation times and glucose concentration in dye decolorization of IB effluent, and to investigate optimum treatment of incubation time and glucose concentrations. This research method is Rancangan Acak Lengkap (RAL) with a combination treatment are the usage of Lepiota sp. at incubation times 24, 48, 72, and 96 hours, and 0%, 0.5%, 1%, and 2% of glucose concentrations. Analysis of Variance (ANOVA) method will be used with 95% and 99% continued with the Beda Nyata Jujur test (BNJ). The results showed that Lepiota sp. from the Baturraden Botanical Garden was able to decolorize IB effluent at different incubation time and glucose concentration with percentage 45.29% - 85.78%. The highest percentage is shown at 72 hours incubation time and 1% glucose concentration.
2464527670B1A015113PEMANFAATAN EKSTRAK KU¬LIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI JARINGAN DAUN DAN BATANG KROKOT
(Portulaca oleracea L.)
Pewarna berfungsi untuk memperjelas jaringan tumbuhan yang akan diamati dengan mikroskop, pewarna yang biasa digunakan adalah pewarna sintetis yang bersifat karsinogenik, harganya mahal dan dapat mencemari lingkungan. Pewarna alami menjadi alternatif pengganti pewarna sintetis dikarenakan bersifat aman, murah dan ramah lingkungan. Sumber pewarna alami diperoleh dari bagian-bagian tumbuhan misalnya kulit buah. Upaya pemanfaatan limbah kulit buah manggis selain sebagai obat herbal dapat dimanfaatkan juga sebagai pewarna alami karena memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi. Antosianin dalam kulit buah manggis dapat diperoleh melalui ekstraksi. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang mudah dilakukan dimana hasilnya hanya dipengaruhi oleh jenis pelarut dan lama ekstraksi. Krokot (Portulaca oleracea L.) digunakan sebagai bahan penelitian karena saat ini krokot telah banyak dimanfaatkan karena kandungan gizi diantaranya mengandung zat pengatur metabolisme dan antioksidan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak kulit buah manggis dalam mewarnai jaringan daun dan batang krokot, dan untuk mengetahui jenis pelarut dan waktu perendaman yang optimal untuk menghasilkan ekstrak kulit buah manggis sehingga dapat mewarnai jaringan daun dan batang krokot dengan baik.
Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu faktor 1 adalah jenis pelarut menggunakan etanol 96% dan asam sitrat 14%, faktor ke 2 lama perendaman, yaitu 26, 27 dan 28 jam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif meliputi kekontrasan dan kejelasan preparat awetan jaringan daun dan batang krokot.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit buah manggis memiliki kemampuan dalam mewarnai jaringan daun dan batang krokot. Jenis pelarut asam sitrat 14% dengan lama perendaman selama 28 jam merupakan yang optimal dalam menghasilkan ekstrak kulit buah manggis sehingga mampu mewarnai jaringan daun dan batang krokot.
The dye functions to clarify the plant tissue that will be observed with a microscope, the dye that is commonly used is synthetic dyes that are carcinogenic, the price is expensive and can pollute the environment. Natural dyes are an alternative to synthetic dyes because they are safe, inexpensive and environmentally friendly. natural dye sources obtained from plant parts such as fruit peels. Efforts to use mangosteen rind waste as an herbal remedy can also be used as a natural dye because it has a high enough anthocyanin content. Anthocyanins in mangosteen peel can be obtained through extraction. Maceration is an easy extraction method where the results are only affected by the type of solvent and the extraction time. Purslane (Portulaca oleracea L.) is used as research material because currently purslane has been widely used because of its nutritional content including high metabolic and antioxidant regualting substances. This study aims to determine the ability of mangosteen rind extract in coloring the leaf and stem tissue of purslane, and to determine the type of solvent and optimal immersion time to produce mangosteen rind extract so that it can color the leaf tissue and stems purslane well.
The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors: factor 1 was the type of solvent using ethanol 96% and citric acid 14%, the second factor was immersion time, namely 26, 27 and 28 hours. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively including the contrast and clarity of the preserved tissue preparation of leaf and stem purslane.
The results showed mangosteen rind extract has the ability to dye leaf tissue and stems. The type of 14% citric acid solvent with 28 hours soaking time was optimal in producing mangosteen rind extract so that it was able to dye the leaf and stem tissue of purslane.
2464627425E1A015237TEKNIK PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK MELALUI DIVERSI (STUDI KASUS DI POLRES KOTA TASIKMALAYA)ABSTRAK

TEKNIK PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK MELALUI DIVERSI
(Studi Kasus di Polres Kota Tasikmalaya)

Oleh :
Dhela Megalia Putri
E1A015237

Tindak pidana yang dilakukan oleh anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab anak tersebut karena dari sisi psikologis dan kemampuan berfikir anak masih belum terbentuk secara sempurna. Oleh karena itu perlu ada mekanisme yang secara terstruktur untuk melindungi anak sebagai pelaku tindak pidana tanpa mengesampingkan korban dan masyarakat. Terhadap kasus tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh Y (17) atas korban M (14) menurut ketentuan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur secara khusus bahwa anak yang berhadapan dengan hukum pada tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan perkara di pengadilan wajib diupayakan diversi. Diversi merupakan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Dengan adanya diversi yaitu untuk mencapai perdamaian antara korban dan pelaku serta menghindarkan anak dari efek negatif peradilan pidana dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi serta menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui teknik penyelesaian tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh anak melalui diversi dan untuk mengetahui hambatan yang dihadapi penyidik dalam penyelesaiannya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi kepustakaan, dan wawancara dengan informan. Hasil dari penelitian bahwa penyidik anak bagian Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) di Polres Kota Tasikmalaya sudah melakukan penyelesaian tindak pidana melalui diversi dengan cara musyawarah antara pelaku dan korban yang masing-masing didampingi orang tua/wali, dihadiri pihak penyidik, pembimbing kemasyarakatan dan pekerja sosial profesional. Perkara penganiayaan yang dilakukan anak pada tahun 2016-2019 terjadi 7 (tujuh) kasus yang berhasil diselesaikan melalui upaya diversi dan 2 (dua) kasus gagal diupayakan diversi.

Kata Kunci : Teknik Penyidikan, Anak, Diversi, Tindak Pidana Penganiayaan.
ABSTRACT
Technique Completion Criminal Act Mistreatment That Committed By Children Through Diversion (Case Study in Tasikmalaya City Police)
By:
Dhela Megalia Putri
E1A015237
Criminal act committed by children is not entirely the responsibility of the child because from of the child’s psychological side and thinking ability are still not formend perfectly. Therefore, there needs to be a structured mechanism protect children as criminal offender without putting victims and the community. Against criminal cases mistreatment committed by Y (17) for the victim M (14) in accordance with the provisions of Law Number 11 of 2012 about Child Criminal Justice System specifically regulate that children in conflict with the law at the level of investigation, prosecution and examination of children cases in district courts must be pursued diversion. Diversion is a child's diversion settlement of the criminal justice process to outside the criminal justice process. With the diversion that is to achieve peace between victims and perpetrators and prevent children from the negative effects of criminal justice and encourage the community to participate and instill a sense of responsibility to children. The purpose of this study for know technique completion criminal act mistreatment that committed by children through diversion and to know the obstacles facing the investigator in its completion. The research method used is sosiological juridical with descriptive research specifications. The types of data use are primary data and secondary data. Data collection techniques used was literature studies, and interviews with informants. The results of the study that the child investigation of the Women’s and Children’s service unit (UPPA) at the police station Tasikmalaya City has done completion of the offense by the diversion by means of consultation between the perpetrator and the victim are each accompanied by a parent / guardian, attended by the investigator, supervisor of community and professional social workers. Case of child maltreatment in 2016-2019 occurred seven (7) cases were successfully resolved through the efforts of diversion and two (2) cases of attempted diversion fails.

Keywords: Investigation Technique, Child, Diversion, Criminal Act Of Mistreatment.
2464728708C1B016003ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
(Studi Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi
di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2018)
Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di Bursa Efek Indonesia periode kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Joko Widodo-Jusuf Kalla)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Ratio (DR), Total Asset Turnover (TATO), terhadap kinerja keuangan perusahaan, dan untuk mengetahui variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap Kinerja Keuangan terhadap perusahaan sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2018, serta dapat digunakan untuk membandingkan kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi pada kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono periode 2009-2013 dengan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla periode 20014-2018. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2018. Jumlah populasi 76 dan dengan menggunakan purposive sampling di dapat 7 sampel. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif bersifat asosiatif dengan teknik analisis regresi data panel menggunakan program Eviews. Serta jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan uji beda perbandingan Paired Sample T-Test menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil analisis dari kedua model diperoleh bahwa Current Ratio tidak berpengaruh terhadap Return On Asset. Debt to Ratio berpengaruh negatif terhadap Return On Asset. dan Total Asset Turnover tidak berpengaruh terhadap Return On Asset. Hasil uji beda menunjukkan Return On Asset dan Total Asset Turnover memiliki perbedaan yang signifikan antara model 1 dengan model 2, sedangkan Current Ratio dan Debt to Ratio tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara model 1 dengan model 2. Implikasi penelitian ini perusahaan sebaiknya tetap memaksimalkan dana atau modal untuk dapat berinvestasi kembali, mengontrol serta mengurangi persediaan atau dengan menekan hutang lancar yang tidak begitu dibutuhkan perusahaan, tidak melakukan pembelian aktiva yang berasal dari hutang yang memiliki bunga karena laba digunakan untuk membayar hutang bunga dan menurunkan profitabilitas, meningkatkan total assets turnover dengan memanfaatkan total asset yang dimilikinya untuk meningkatkan pendapatan.This study is entitled "Analysis of the Effect of Financial Ratios on Financial Performance of Companies (Study of the Infrastructure, Utilities, and Transportation Sector in the Indonesia Stock Exchange, the Period of President Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono and Joko Widodo-Jusuf Kalla)". The purpose of this study is to analyze the effect of Current Ratio (CR), Debt to Ratio (DR), Total Asset Turnover (TATO), on the company's financial performance, and to find out the variable that have a dominant influence on Financial Performance on Infrastructure, Utility sector companies and Transportation listed on the Indonesia Stock Exchange in 2009-2018, and can be used to compare the financial performance of companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the Infrastructure, Utilities and Transportation sectors under the leadership of President Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono for the 2009-2013 period with President Joko Widodo- Jusuf Kalla period 20014-2018. The population in this study are companies in the infrastructure, utilities and transportation sectors listed on the Indonesia Stock Exchange in 2009-2018. The number of population is 76 and by using purposive sampling obtained 7 samples. This type of research is associative quantitative research with panel data regression analysis techniques using the Eviews program. And the type of descriptive research with a quantitative approach by using the Paired Sample T-Test in SPSS program. Based on the analysis of the two models, it is found that the Current Ratio does not affect on Return On Assets. Debt to Ratio has a negative affect on Return On Assets. and Total Asset Turnover does not affect on Return On Assets. Different test results show Return On Assets and Total Asset Turnover has a significant difference between model 1 and model 2, while Current Ratio and Debt to Ratio does not have a significant differences between model 1 and model 2. The implication of this research is that companies should still maximize funds or capital to be able to reinvest, control and reduce inventory or by suppressing current debt that is not so needed by the company, not buying assets that come from debt with interest because profits are used to pay interest debt and reduce profitability, increase total assets turnover by utilizing the total assets they have to increase revenue.
2464827673B1A015012Ketahanan Struktural Beberapa Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Terhadap Penyakit Karat DaunKedelai merupakan salah satu komoditas pangan terbesar di Indonesia yang kebutuhannya masih belum bisa terpenuhi dari hasil petani lokal. Hal ini disebabkan karena kedelai dapat mengalami berbagai penyakit tanaman yang berimbas pada penurunan hasil produksi, salah satunya penyakit karat daun oleh jamur Phakopsora pachyrhizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketahanan struktural anatomi daun kedelai terhadap penyakit karat daun dan mengetahui tingkat ketahanan beberapa kultivar kedelai terhadap penyakit karat daun.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial. Faktor pertama yaitu kultivar kedelai, menggunakan 4 kultivar yaitu kultivar Gepak Kuning (K1), Slamet (K2), Tanggamus (K3), dan Wilis (K4). Faktor kedua yaitu inokulasi jamur P. pachyrhizi sebanyak 0 uredospora/ml (L0) dan 104 uredospora/ml (L1). Masing-masing perlakuan dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian diperoleh bahwa lapisan kutikula, epidermis dan kerapatan trikomata berpengaruh terhadap ketahanan struktural tanaman kedelai. Kultivar kedelai yang memiliki lapisan kutikula dan epidermis lebih tebal, dan kerapatan trikomata yang tinggi memiliki ketahanan structural yang lebih baik terhadap penyakit karat daun. Kultivar Wilis dan Slamet termasuk kultivar tahan, didukung dengan intensitas penyakit masing-masing sebesar 20% dan 24,6%. Sementara kultivar Gepak Kuning termasuk kultivar rentan, didukung dengan intensitas penyakit sebesar 85,3%.
Soybean is one of the biggest food commodities in Indonesia, whose needs cannot be fulfilled from the result of local farmers. This is due to the fact that soybeans can experience a variety of plant disease that impact on the decrease in production, one of them is leaf rust by Phakopsora pachyrhizi. The objectives of research is to determine the anatomical structural resistance of soybean leaves to rust disease and to determine the level of resistance of some cultivars of soybean to leaf rust disease.
This research uses a Completely Randomize Design (CRD) Factorial Pattern. The first factor is soybean cultivar, using 4 cultivars, namely Gepak Kuning (K1), Slamet (K2), Tanggamus (K3), and Wilis (K4). The second factor was P. pachyrhizi inoculation with 0 uredospores/ml (L0) and 104 uredospores/ml (L1). Each treatment with 5 replication. The result showed that the cuticle layer, epidermis and trichomata density affect the structural resistance of soybean plants. Soybean cultivars that have thicker cuticle and epidermal layers, and high trichomata density have better structural resistance to leaf rust disease. Wilis and Slamet cultivars are resistant cultivars, supported by disease intensity of 20% and 24.6%, respectively. While the Gepak Kuning cultivar is a vulnerable cultivar, supported by an intensity of disease of 85.3%.
2464927683B1A015037PENGARUH pH DAN WAKTU INKUBASI BERBEDA TERHADAP PRODUKSI β-GLUKAN Auricularia auricula

Auricularia auricula merupakan salah satu jamur pangan dari filum Basidiomycota. Jamur ini digunakan sebagai jamur pengobatan karena mampu menghasilkan senyawa berupa β-glukan yang bermanfaat sebagai senyawa bioaktif. Waktu inkubasi dan pH yang tepat merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi miselium jamur A. auricula dalam menghasilkan senyawa β-glukan. Medium yang digunakan untuk pertumbuhan miselium yaitu medium cair karena lebih menguntungkan antara lain dapat memproduksi miselium yang banyak dalam waktu yang singkat, mempermudah pemanenan miselium serta kemungkinan kontaminasi rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pH yang paling baik dan waktu inkubasi yang efektif terhadap pertumbuhan jamur A. auricula serta untuk mengetahui pH dan waktu inkubasi terbaik untuk produksi β-glukan jamur A. auricula.
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL faktorial) dengan dua faktor yang digunakan yaitu variasi pH dan waktu inkubasi, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Nilai pH yang digunakan yaitu pH 5, 6, dan 7. Waktu inkubasi yang digunakan yaitu 20, 25 dan 30 hari. Variabel yang digunakan terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pH dan waktu inkubasi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan miselium jamur dan produksi β-glukan yang dihasilkan. Parameter yang diamati adalah bobot β-glukan yang dihasilkan. Parameter pendukung adalah bobot kering miselium dan pH akhir medium. Analisis data menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan Duncan’s Multiple Range Test pada tingkat kepercayan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH dan waktu inkubasi terbaik untuk pertumbuhan miselium A. auricula yaitu pH 7 dengan waktu inkubasi 30 hari. Produksi β-glukan A. auricula dari filtrat yaitu pH 6 dengan waktu inkubasi 20 hari dengan bobot β-glukan 9 mg/100 mL, sedangkan pH dan waktu inkubasi terbaik untuk produksi β-glukan A. auricula dari miselium yaitu pH 6 dengan bobot β-glukan 6,56 mg/100mL dan waktu inkubasi 30 hari dengan bobot β-glukan 7,22 mg/100 mL.


Auricularia auricula is one of edible mushrooms of the phylum Basidiomycota. This mushroom was used as a medicinal fungus because of its ability to produce a compound in the form of β-glucan which is beneficial as a bioactive compound. The incubation time and the correct pH were important factors that could affect mycelial of A. auricula mushroom in producing β-glucan compounds. The medium used for the growth of mycelium was liquid medium because it was more beneficial among others and could produce many mycelium in a short time, facilitate the harvesting of the mycelium and the possibility low contamination. The purpose of this research was to find out the best pH and the most effective incubation time for the growth of A. auricula mushroom and to find out the best pH and the incubation time for the production of β-glucan A. auricula.
This research was done experimentally used Completly Randomized Design with Factorial pattern, two factors that used were pH variation and incubation time and each treatment repeated 3 times. The initial pH used were pH 5, 6, and 7. Incubation time used were 20, 25 and 30 days. The variables used consist of independent variables and dependent variables. The independent variables in this study were pH and incubation time. The dependent variable in the study were the mycelial growth and production of the resulting β-glucan. The observed parameter was the weight of the β-glucan. The supporting parameters were dry weight and final pH. Data analysis using Analysis of Variance (ANOVA) and Duncan's Multiple Range Test at the 95% confidence level e Range Test at a trust rate of 95%.
The results showed that the best pH and incubation time for mycelial growth of A. auricula was pH 7 with 30 days incubation time. Production of β-glucans A. auricula from the filtrate was at pH 6 and 20 days incubation with the weight of β-glucan was 9 mg/100 ml, while the best pH and incubation time for the production of β-glucan A. auricula from mycelium was pH 6 with the weight of β-glucan was 6,56 mg/mL and incubation time of 30 days with the weight of β-glucan was 7,22 mg/mL.

2465027691G1I014048Faktor Eksternal Dan Internal Siswa Mengikuti Ekstrakurikuler Bola Voli Di SMP Negeri 2 Karanglewas Kabupaten BanyumasFaktor Eksternal Dan Internal Siswa Mengikuti
Ekstrakurikuler Bola Voli Di SMP Negeri 2
Karanglewas Kabupaten Banyumas

Latar Belakang: Penelitian ini dilatar belakangi oleh banyaknya siswa di SMP Negeri 2 Karanglewas yang mengikuti ekstrakurikuler bolavoli tetapi belum diketahui faktor eksternal dan internal. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor eksternal dan internal siswa mengikuti ekstrakurikuler bolavoli.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini berjumlah 30 siswa SMP Negeri 2 Karanglewas. Langkah menganalisis data adalah dengan mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data dan kemudian menyimpulkan. Data yang telah dianalisis, dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kata-kata untuk mendiskripsikan fakta yang ada di lapangan menggunakan rumus persentase.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor eksternal yang dominan mempengaruhi siswa mengikuti ekstrakurikuler bolavoli meliputi: Lingkungan: banyak warga yang bermain bolavoli (63,4%). Keluarga: motivasi dari orang tua (50%). Sarana dan prasarana: sarana dan prasarana lengkap (40%). Pelatih: pelatih memiliki kompetensi (43,4%). Sekolah: sekolah mempunyai prestasi yang bagus (36,6%). Faktor internal yang dominan mempengaruhi siswa mengikuti ekstrakurikuler bolavoli meliputi: Minat: hobi (73,4%). Harapan tertentu: menambah pengalaman bermain bolavoli (30%). Prestasi: meningkatkan prestasi bolavoli (33,4%). Rekreasi: percaya diri (40%). Kesehatan: melatih kelincahan (26,6%).

Kesimpulan: Faktor eksternal dan internal berperan besar sebagai pengaruh agar siswa tertarik pada ekstrakurikuler bolavoli yang diadakan di sekolah. Faktor yang dominan mempengaruhi siswa untuk mengikuti esktrakurikuler bolavoli yaitu hobi (73,4%) dari faktor internal, sedangkan dari faktor eksternal yang paling dominan mempengaruhi siswa yaitu dari faktor lingkungan (63,4%). Siswa yang mengikuti pembelajaran ekstrakurikuler bolavoli diharapkan untuk mengikuti ekstrakurikuler dengan baik, tidak hanya asal melakukan teknik-teknik permainan bolavoli dan sekedar ingin mencari nilai ekstrakurikuler.
The External And Internal Students Follow Extracurricular
Volleyball In Junior High Schools 2 Karanglewas
District Banyumas

Background: This research while such by the students in junior high schools 2 Karanglewas follows extracurricular volleyball but unknown factor external and internal. This study aims to know the external and internal students follow extracurricular volleyball.
Research Methodology: The research is descriptive qualitative research, the sampling method of purposive sampling. The subject of study is 30 students public junior high schools 2 Karanglewas. Step analyzed data is to collect the data, reduce data, provides the data and a later concluding. The data that has been analyzed, explained and understood in the form of words to describe the facts in the fields using formulas the percentage.
Research: The result of this research stated that external factors dominant influence students follow extracurricular volleyball covering environmental: many people play volleyball (63,4%). The family: motivation of parents (50%). Facilities and infrastructure: facilities complete (40%). Coach: coach having competence (43,4%). School: school has a good achievement (36,6%). The internal factors dominant influence students to follow extracurricular volleyball covering: interest: pastime (73,4%). Hope certainly: add experience of playing volleyball (30%). Achievement: improve achievement volleyball (33,4%). Recreation: confident (40%). Health: train agility (26,6%).
Conclusion: An external and internal factor have played a big part in the effect that students interested in extracurricular volleyball that is held in school. The dominant factor to affect students to follow volleyball extracurricular that is a hobby (73,4%) of the internal factor, while the traffic from the external factor most dominant influence students from environmental factor (63.4%). Students who attend the extracurricular learning volleyball extracurricular well be expected to follow, not only do the game of volleyball origin techniques and just to want to find extracurricular.
2465127675I1C015037Penetapan Kadar Flavonoid Total dan Uji Aktivitas Antioksidan pada Ekstrak Etanol Lempuyang Gajah (Zingiber zerumbet (L.) Sm.) dan Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Valeton)Radikal bebas dapat menyebabkan penyakit degeratif yang dilaporkan oleh Riskesdas 2018 mengalami peningkatan prevalensi. Lempuyang gajah dan lempuyang wangi sebagai salah satu agen antioksidan tumbuh melimpah di Indonesia. Salah satu senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan flavonoid secara KLT dan metode Alumunium Klorida, aktivitas antioksidan metode FRAP serta korelasi kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan dengan Pearson’s Correlation. Hasil KLT menunjukkan flavonoid, kadar flavonoid total lempuyang gajah dan lempuyang wangi masing-masing adalah 9,654 ± 0,276 mg kuersetin ekuivalen/ g ekstrak dan 9,924 ± 0,544 mg kuersetin ekuivalen/g ekstrak. IC50 lempuyang gajah 147,265 µg/ml menunjukkan aktivitas moderat dan lempuyang wangi 154,056 µg/ml menunjukkan aktivitas lemah. Korelasi flavonoid total dan aktivitas antioksidan lempuyang gajah dan lempuyang wangi masing-masing 0,790 dan 0,739. Free radicals can cause degenerative diseases reported by Riskesdas 2018 which have an increased prevalence. Lempuyang gajah and lempuyang wangi as one of the antioxidant agents gorws abundant in Indonesia. One of the compounds that has antioxidant activity is flavonoids. This study aims to determine the content of flavonoids by TLC and Aluminum Chloride method, antioxidant activity with FRAP method and the correlation of total flavonoid content and antioxidant activity with Pearson's Correlation. TLC results showed flavonoids, total flavonoid content of lempuyang gajah and lempuyang wangi were 9,654 ± 0,276 mg QE/ g extract and 9,924 ± 0,544 mg QE/ g extract respectively. IC50 lempuyang gajah 147,265 µg/ml showed moderate activity and lempuyang wangi 154,056 µg/ml showed weak activity. Correlation of flavonoids content and antioxidant activity of lempuyang wangi and lempuyang wangi were 0,790 and 0,739, respectively.
2465227674I1C015063Identifikasi Senyawa Terpenoid Hasil Isolasi Rimpang Lempuyang Emprit (Zingiber amaricans) dengan Spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) dan Uji Aktivitas Antibakteri terhadap Bacillus cereusRimpang Z. amaricans diketahui mengandung senyawa terpenoid. Beberapa senyawa terpenoid telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri, terutama terhadap bakteri Gram positif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi senyawa terpenoid dari rimpang Z. amaricans dan mengetahui potensi aktivitas antibakterinya terhadap B. cereus. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap utama. Pertama, isolasi senyawa terpenoid dari rimpang Z. amaricans, meliputi proses ekstraksi, fraksinasi, dan pemisahan menggunakan kromatografi kolom. Selanjutnya dilakukan identifikasi struktur senyawa isolat menggunakan spektroskopi NMR 1 Dimensi (1H-NMR, 13C-NMR), NMR 2 Dimensi (HSQC, HMBC, COSY, ROESY), dan polarimetri. Kedua, uji aktivitas antibakteri ekstrak metanol, fraksi n-heksan, dan senyawa isolat terhadap bakteri B. cereus menggunakan metode mikrodilusi sehingga didapatkan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Hasil penelitian ini didapatkan satu isolat murni. Pada spektra 1H-NMR didapatkan 16 sinyal utama pada δH 4,12 (d, J=5 Hz, 1H); 5,35 (dd, J=16,3; 6 Hz, 1H); 5,17 (d, J=16,3 Hz, 1H); 1,98 (dd, J=13,4; 10 Hz, 1H); 1,81 (overlap, 1H); 5,04 (dd, J=10; 6 Hz, 1H); 2,09 (dd, J=17,5; 4,7 Hz, 1H), 1,86 (overlap, dd, J=11; 4,7 Hz, 1H); 1,2 (overlap, 1H); 1,62 (m, 1H); 1,44 (m, 2H); 1,24 (overlap, 1H); 1,49 (s, 3H); 0,99 (d, J=6,9 Hz, 3H); 1,10 (s, 3H); 1,08 (s, 3H). Pada spektra 13C-NMR didapatkan 15 sinyal utama. Sedangkan, hasil nilai putaran optik yaitu [α]D23 +39,3 (c 0,001; MeOH). Nilai KHM dari ekstrak metanol, fraksi n-heksan, dan isolat terhadap B. cereus secara berturut-turut sebesar 1000 ppm, 500 ppm, dan 500 ppm. Senyawa terpenoid berhasil diisolasi dari rimpang Z. amaricans berupa senyawa 4,4,7,11-tetrametil-2,6-sikloundekadien-1-ol dengan rumus molekul C15H26O. Fraksi n-heksan memiliki aktivitas antibakteri lebih baik dibandingkan ekstrak metanol. Sedangkan, isolat tidak aktif sebagai antibakteri terhadap B. cereus.Z. amaricans rhizome has been known to contain terpenoid compounds. Terpenoid compounds has been shown to have activity as antibacterial agent, specifically against Gram-positif bacteria. This study aims to isolate terpenoid compounds from Z. amaricans rhizome and find out its antibacterial activity against B. cereus. This study was conducted in two steps. First, isolation of terpenoid compound from Z. amaricans rhizome which included the extraction, fractination, and separation with column chromatography. Then, identification of terpenoid compound used 1-Dimensional NMR spectroscopy (1H-NMR, 13C-NMR), 2-Dimensional NMR spectroscopy (HSQC, HMBC, COSY, ROESY), and polarimetry. Second, antibacterial activity were evaluated by microdilution method to determine Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of methanol extract, n-hexane fraction, and isolated compound against B. cereus. The result of this study found one pure isolate. In the 1H-NMR spectra, 16 main signals were obtained at δH 4,12 (d, J=5 Hz, 1H); 5,35 (dd, J=16,3; 6 Hz, 1H); 5,17 (d, J=16,3 Hz, 1H); 1,98 (dd, J=13,4; 10 Hz, 1H); 1,81 (overlap, 1H); 5,04 (dd, J=10; 6 Hz, 1H); 2,09 (dd, J=17,5; 4,7 Hz, 1H), 1,86 (overlap, dd, J=11; 4,7 Hz, 1H); 1,2 (overlap, 1H); 1,62 (m, 1H); 1,44 (m, 2H); 1,24 (overlap, 1H); 1,49 (s, 3H); 0,99 (d, J=6,9 Hz, 3H); 1,10 (s, 3H); 1,08 (s, 3H). In the 13C-NMR spectra were obtained 15 main signals. MIC value of methanol extract, n-hexane fraction, and isolate against B. cereus were 1000 ppm, 500 ppm, dan 500 ppm, respectively. Terpenoid compound was successfully isolated from Z. amaricans rhizome that identified as 4,4,7,11-tetramethyl-2,6-cycloundecadien-1-ol with the molecular formula C15H26O. Antibacterial activity of n-hexane fraction was better than methanol extract. Isolated compound showed no antibacterial activity against B. cereus.
2465327677F1G013030STRUKTUR WACANA KRITIS IKLAN "MATAHARI" PADA MOMEN HARI RAYAPenelitian ini berjudul “Struktur Wacana Kritis Iklan MATAHARI pada Momen Hari Raya”. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur makro, superstuktur, dan struktur mikro yang terdapat dalam iklan MATAHARI pada momen hari raya serta membandingkannya dengan struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro yang terdapat dalam iklan MATAHARI pada hari biasa. Sumber data dalam penelitian ini adalah transkripsi dari iklan MATAHARI pada momen hari raya yang akan diteliti. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode simak dengan teknik sadap sebagai teknik dasarnya serta teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode critical linguistics.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa iklan MATAHARI pada momen hari raya memiliki bentuk persuasi yang berbeda dengan iklan MATAHARI pada hari biasa dalam mempromosikan pusat perbelanjaannya. Dalam iklan MATAHARI pada momen hari raya, cara promosi iklan dilakukan tanpa menjelaskan kelebihan-kelebihan dari pusat perbelanjaan yang sedang diiklankan secara langsung, sedangkan dalam iklan MATAHARI pada hari biasa, terdapat sedikit penjelasan mengenai kelebihan-kelebihan dari pusat perbelanjaan yang sedang diiklankan, seperti penggunaan kata “terbesar” dan “terlengkap”.
This research is titled "Struktur Wacana Kritis Iklan MATAHARI pada Momen Hari Raya". This type of research is a qualitative descriptive study. This study aims to describe the macro structure, superstructure, and microstructure contained in the MATAHARI advertisement during the feast day and compare it with the macro structure, superstructure, and microstructure contained in the MATAHARI advertisement on an ordinary day. The data source in this study is the transcription of the MATAHARI advertisement at the moment of the feast to be examined. Data collection methods used in this study are the simak method with sadap techniques as the basic technique as well as simak bebas libat cakap techniques and catat techniques as a follow-up technique. Data analysis method used in this study is the critical linguistics method.

The results of this study conclude that the MATAHARI adverts on the moment of the feast has a different form of persuasion from the MATAHARI adverts on normal days in promoting their shopping centers. In the MATAHARI advertisement on the feast day, the way of advertising promotion is done without explaining the advantages of the shopping center that is being advertised directly, whereas in the MATAHARI advertisement on a normal day, there is little explanation of the advantages of the shopping center being advertised, such as the use of the words "terbesar" and "terlengkap".
2465429042F1A016085ORIENTASI SEKSUAL PRIA PENATA RIAS DI KECAMATAN REMBANG KABUPATEN PURBALINGGAPria penata rias merupakan seorang pria yang berprofesi sebagai penata rias. Banyak macam dari kegiatan tata rias seperti tata rias kecantikan, tata rias pengantin, tata rias wajah, dan berbagai tata rias lainnya. Di Indonesia seorang pria penata rias masih belum dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Peneliti melihat bahwa para pria penata rias selalu mendapat stereotype antara lain dikatakan sebagai laki-laki feminin, kemayu dan memiliki orientasi seksual sejenis atau homoseksual.
Penelitian ini berusaha mengungkap salah satu stereotype yang selalu melekat pada pria penata rias yaitu orientasi seksual yang mereka miliki serta faktor yang melatarbelakangi pemilihan orientasi seksual mereka. Rumusan masalah penelitian ini antara lain: Faktor apa yang melatarbelakangi pemilihan orientasi seksual pria penata rias di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga dan bagaimanakah orientasi seksual pria penata rias di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Sumber data penelitian terdiri dari sumber data primer yaitu, dua pria penata rias (utama) dan dua pelanggan salon (pendukung). Sumber data sekunder berasal dari dokumentasi dan kepustakaan melalui buku, media cetak dan internet. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah snowball sampling dan teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber, sedangkan untuk menganalisis data yang telah terkumpul yaitu dengan teknik analisis data dengan pedoman analisis interaktif Miles dan Huberman dengan 4 tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) faktor yang melatarbelakangi pemilihan orientasi seksual pria penata rias di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga antara lain: Pertama, proses perkembangan yang meliputi pengalaman traumatik, ketiadaan figur ayah serta ketidaknyamanan peran gender. Kedua, sosial budaya yang meliputi teman sebaya (peer) dan keluarga/pola asuh. 2) Pria penata rias di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga memiliki orientasi seksual yang sejenis atau homoseksual/gay. Hubungan seksual dilakukan dengan para pelanggaan salonnya dengan cara oral seks, anal seks dan jepit paha. Motif dalam melakukan hubungan seksual atas dasar dorongan seksual dan kebutuhan materi atau uang. Pria penata rias Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga merupakan gay bertipe bottom sedangkan tipe pasangan homoseksual bertipe terbuka, selain itu mereka juga telah melakukan proses coming out atau mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual ke publik. Komunikasi non-verbal (dalam personal front) ditunjukkan melalui simbol-simbol untuk merayu pelanggannya meliputi simbol sikap dan perilaku, simbol gerak tubuh dan simbol gaya (manner) dan penampilan (appearance). Sedangkan dalam panggung belakang (personal back) pria penata rias di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga cenderung tidak bisa menjaga sikap dan perilaku, gestur tubuh serta gaya dan penampilannya yang seperti seorang perempuan. Mereka akan berjalan, tertawa, berpenampilan dan bersikap santai layaknya laki-laki pada umumnya.
The makeup artists male is a man who works as a makeup artist. There are many kinds of make up activities such as make up, bridal make up, face make up, and various other make up. In Indonesia, a makeup artist man is still not acceptable to the general public. Researchers see that makeup artists always get stereotypes, among other things, are said to be feminine, chemically male and have a sexual orientation or homosexual.
This study tries to uncover one of the stereotypes that are always attached to makeup artists man, namely the sexual orientation they have and the factors underlying their sexual orientation selection. The formulation of the problem of this study include: What factors are behind the selection of male sexual makeup artists in Rembang District, Purbalingga Regency and how is the sexual orientation of male makeup artists in Rembang District, Purbalingga Regency.
This research uses a qualitative-descriptive method. Sources of research data consisted of primary data sources namely, two makeup artists (main) and two salon customers (supporters). Secondary data sources come from documentation and literature through books, print media and the internet. Data collection techniques by observation, interview, documentation. The sampling technique used is snowball sampling and the data validity technique uses source triangulation technique, whereas to analyze the data that has been collected is the data analysis technique with interactive analysis guidelines for Miles and Huberman with 4 stages namely data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions .
The results showed that 1) the factors underlying the selection of male sexual makeup artists in Rembang Subdistrict, Purbalingga District include: First, the development process which includes traumatic experience, the absence of a father figure and the discomfort of gender roles. Second, social culture that includes peers (peer) and family / parenting. 2) Makeup artists in Rembang Subdistrict, Purbalingga Regency have the same sexual orientation or are homosexual / gay. Sexual intercourse is carried out with the customers of her salon by oral sex, anal sex and thigh clips. The motive for sexual intercourse is based on sexual urges and material or financial needs. The makeup artist from Rembang Subdistrict, Purbalingga Regency is a gay of the bottom type while the type of homosexual couple is an open type, in addition they also have a process of coming out or identifying themselves as homosexuals to the public. Non-verbal communication (in the personal front) is shown through symbols to seduce customers including attitudes and behavior symbols, gestures and manner symbols and appearance. Whereas in the back stage (personal back), the makeup artist in Rembang Subdistrict, Purbalingga Regency tends to not be able to maintain the attitudes and behavior, body gestures and style and appearance that is like a woman. They will walk, laugh, look and be relaxed like men in general.
2465527705I1B015027HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN IBADAH PADA LANSIA DI RUANGAN RAWAT INAP RSUD BANYUMASHUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN IBADAH PADA LANSIA YANG RAWAT INAP DI RSUD BANYUMAS
Elsa Silalahi1, Rahmi Setiyani2, Agis Taufik3
ABSTRAK
Latar Belakang: Lansia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi baik saat sehat maupun sakit, salah satunya adalah kebutuhan spiritual yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah sholat 5 waktu. Pihak yang berperan penting dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar selain perawat adalah keluarga. Keluarga dapat memberikan dukungan dengan cara selalu mengingatkan, mengajak, mendukung.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap pelaksanaan ibadah pada lansia selama di rawat di rumah sakit.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, tehnik pengambilan sampelnya menggunakan accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 56 lansia dan keluarga. Menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan pelaksanaan sholat 5 waktu. Analisis menggunakan uji chi square.
Hasil: Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar anggota keluarga hanya memberikan dukungan rendah terhadap pelaksaaan ibadah lansia selama di rumah sakit (48,2%) dan sebagian besar lansia tidak menjalankan ibadah sholat selama di rumah sakit (71,4%). Hasil uji menunjukan terdapat hubungan antara dukungan keluarga terhadap pelaksanaan ibadah pada lansia selama di rawat di rumah sakit (P = 0,001).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan ibadah pada lansia di ruang rawat inap di rumah sakit.
Background: Elderly has basic needs that must be met both when healthy and sick, one of which is the spiritual needs associated with the implementation of the five-time prayer. The party that plays an important role in helping to fulfill basic needs besides the nurse is the family. Families can provide support by always reminding, inviting, supporting.
Objective: To determine the relationship of family support to the implementation of worship in the elderly during hospitalization.
Method: This study used a cross sectional design, the sampling technique used accidental sampling with a number of respondents as many as 56 elderly and families. Using a family support questionnaire and the implementation of prayer 5 time. Analysis using chi square test.
Results: The results of the study showed that the majority of family members only gave low support for the implementation of elderly worship during hospitalization (48.2%) and the majority of elderly people did not perform prayer during hospitalization (71.4% ). The test results show there is a relationship between family support for the implementation of worship in the elderly during hospitalization (P = 0.001).
Conclusion: There is a relationship between family support and the implementation of worship in the elderly in the inpatient room at the hospital.
Keywords: Elderly, spiritual, family support, practice of worship.
2465627679I1C015066Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bonggol, Batang dan Pelepah Pisang Raja (Musa acuminata x Musa balbisiana) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureusTujuan : Untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang raja terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Metodologi : Penelitian experimental laboratorium. Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri S.aureus dengan metode dilusi padat untuk menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM).
Hasil : Nilai KHM dan KBM ekstrak bonggol pisang raja yaitu pada konsentrasi 0,625% dan 1,25%. Ekstrak etanol batang dan pelepah pisang raja memiliki nilai KBM yang sama yaitu 50%, sedangkan nilai KHM ekstrak pelepah (25%) lebih rendah dibandingkan ekstrak batang (37,5%).
Kesimpulan : Ekstrak etanol bonggol menunjukan aktivitas yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan S.aureus dibandingkan dengan ekstrak batang dan pelepah.
Objective: To determine and compare the antibacterial activity of ethanolic extracts of corms, pseudostems and petioles of Pisang Raja against S.aureus
Methodology: This research was an experimental laboratory study. Antibacterial activity of extracts obtained was evaluated with solid dilution method against S.aureus to determine Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bakterisidal Concentration (MBC).
Results: The highest value of MIC and MBC were showed by corm extracts with the MIC of 0.625% and MBC 1.25%. The ethanol extract of pseudostem and petioles has the same MBC value at concentration of 50%, while the MIC values of the petioles extract (25%) was higher than the pseudostem extract (37.5%).
Conclusion: The ethanolic extracts of corms showed the best activity in inhibiting the growth of S. aureus compared to stem and petioles extracts.
2465727743L1C015049STUDI HABITAT JUVENILE SPINY LOBSTER (Panulirus sp.) BERDASARKAN JENIS SEDIMEN DAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI TELUK PENYU, CILACAPPenelitian berjudul “Studi Habitat Juvenile Spiny Lobster (Panulirus sp.) Berdasarkan Jenis Sedimen dan Kedalaman Yang Berbeda di Perairan Pantai Teluk Penyu, Cilacap”. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui habitat juvenile spiny lobster berdasarkan jenis sedimen, kedalaman dan parameter fisik kimia, mengetahui jenis dan kelimpahan juvenile spiny lobster, serta mengetahui hubungan antara jenis sedimen dan kedalaman dengan kelimpahan juvenile spiny lobster. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 di Perairan Pantai Teluk Penyu, Cilacap. Metode survey ini mengkoleksi sampel dengan metode purposive sampling. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun, yaitu stasiun 1 pada kedalaman 5 m, stasiun 2 pada kedalaman 10 m dan stasiun 3 pada kedalaman 15 m. Pengambilan data diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa juvenile spiny lobster ditemukan pada habitat jenis sedimen pasir lanauan pada kedalaman 5 – 10 m dan lanau pasiran pada kedalaman 15m. Parameter fisik kimia diperoleh masih berada pada kisaran hidup bagi juvenile spiny lobster. Spesies juvenile spiny lobster yang hidup di perairan Teluk Penyu, Cilacap didapatkan Panulirus homarus, Panulirus ornatus, Panulirus longipes dan Panulirus versicolor. Kelimpahan relatif juvenile spiny lobster berkisar antara 11,11 - 55,56 %. Hubungan antara kelimpahan juvenile dengan jenis sedimen (granul, pasir dan lanau) menunjukan tingkat hubungan sangat lemah sampai sedang Hubungan kelimpahan juvenile dengan kedalaman (5 m,10 m dan 15 m) menunjukan hubungan sedangThe study entitled "Study of Juvenile Spiny Lobster Habitat (Panulirus sp.) Based on Different Types of Sediments and Depths in Coast Waters Teluk Penyu Cilacap". The purpose of this study was to determine the juvenile spiny lobster habitat based on sediment type, depth and physical chemical parameters, determine the type and abundance of juvenile spiny lobster, and determine the relationship between sediment type and depth with abundance of juvenile spiny lobster. The study was conducted in August 2019 in the coast waters Teluk Penyu Cilacap. This survey method was collected samples based on a purposive sampling method. The research location was divided into 3 stations, namely station 1 at a depth 5 m, station 2 at a depth 10 m and station 3 at a depth 15 m. The collected of data was repeated 3 times. The results showed that juvenile spiny lobster was found in sediment type silt sand at a depth of 5 – 10 m and sand silt at a depth of 15 m. The physical chemical parameters was obtained in range spiny lobster juvenile life. Juvenile spiny lobster species that live in coast waters Teluk Penyu, Cilacap was obtained Panulirus homarus, Panulirus ornatus, Panulirus longipes and Panulirus versicolor. The relative abundance of juvenile spiny lobster ranges between 11.11 - 55.56%. The relationship between juvenile abundance with sediment types (gravel, sand and silt) was found a very weak to moderate level of relationship Juvenile abundance with depth (5 m, 10 m and 15 m) was found the relationship is moderate.
2465827681I1C015088Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bonggol, Batang dan Pelepah Pisang Mauli (Musa acuminata Colla.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureusLatar belakang: Ekstrak etanolik batang dan daun pisang mauli (Musa acuminata Colla.) telah terbukti sebagai antibakteri pada luka bakar. Batang dan daun pisang mauli (M. acuminata Colla.) dilaporkan mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin yang berperah sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang mauli terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Metodologi: Penelitian eksperimental laboratorium dianalisis secara kualitatif. Uji skrining fitokimia dilakukan dengan metode tabung (uji Harborne) untuk mengetahui keberadaan senyawa flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini menggunakan bonggol, batang dan pelepah pisang mauli untuk mengetahui potensi antibakteri dengan adanya nilai KHM dan KBM. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode dilusi padat dengan kontrol negatif DMSO 10%. Nilai KHM dan KBM dilihat dari jumlah koloni yang tumbuh pada media agar.
Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang mauli mengandung senyawa saponin, flavonoid dan tanin. Konsentrasi KHM bonggol, batang dan pelepah pisang sebesar 14%, 22,5% dan 20% dan konsentrasi KBM bonggol, batang dan pelepah pisang mauli sebesar 18%, 45% dan 28%.
Kesimpulan: Ekstrak bonggol, batang dan pelepah pisang mauli berpotensi sebagai antibakteri. Bonggol pisang mauli memiliki akktivitas antibakteri paling baik dibandingkan dengan batang dan pelepah pisang mauli.
Kata kunci: M. acuminata Colla., KHM, KBM, S. aureus
Objective: To determine and compare the antibacterial activity of ethanolic extracts of corms, pseudostems and petioles of Pisang Raja against S.aureus
Methodology: This research was an experimental laboratory study. Antibacterial activity of extracts obtained was evaluated with solid dilution method against S.aureus to determine Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bakterisidal Concentration (MBC).
Results: The results showed that the ethanol extracts of tubers, stems, and midribs of bananas contained the composition of saponins, flavonoids, and tannins. The MIC concentration of banana weevil, banana stems and stem is 14%, 22.5% and 20% and KBM concentrations of the banana weevil, stem and midrib of 18%, 45%, and 28%.
Conclusion: The ethanolic extracts of corms showed the best activity in inhibiting the growth of S. aureus compared to stem and petioles extracts.
2465928831K1B015043ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI DENGAN SEM-PLS UNTUK MENGETAHUI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS PUAP
(Studi Kasus Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng)
Penelitian ini menganalisis faktor PUAP dengan menggunakan SEM-PLS. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis: 1) efektivitas kinerja program dan 2) faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kinerja PUAP di Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Metode analisis faktor ini menggunakan confirmatory factor analysis (CFA) dengan SEM-PLS serta t-test. Software yang digunakan adalah SPSS dan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas kinerja program PUAP di Desa Dawuhan Wetan adalah 68 persen. Penelitian ini menggunakan variabel input, proses, output, dan karakteristik peminjam. Efektivitas kinerja program PUAP akan meningkat apabila pada variabel proses dan karakteristik peminjam dana PUAP lebih baik.The research studied of analysis factors of PUAP using SEM-PLS. This is to analyze: 1) the effectiveness of the PUAP performance and 2) the factors that influence the effectiveness of PUAP in Dawuhan Wetan Village, Kedungbanteng Subdistrict, Banyumas. The method of the analysis is confirmatory factor analysis (CFA) with SEM-PLS and a t-test. The software used is SPSS and SmartPLS. The results showed that the effectiveness of the PUAP program in Dawuhan Wetan Village is 68 percent. Here, the variable are input, process, output, and borrower characteristics. The effectiveness of the PUAP program will increase if the variable process and borrower characteristics getting better.
2466027682I1C015104Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bonggol, Batang dan Pelepah Pisang Ambon (Musa x paradisiaca L.) Terhadap Staphylococcus aureusTujuan: Untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang Ambon (Musa x paradisiaca L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Metodologi: Penelitian dengan sampel bakteri Staphylococcus aureus. Dilakukan skrining fitokimia dengan metode tabung untuk mengetahui keberadaan flavonoid, saponin dan tanin. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah diuji menggunakan metode dilusi padat. Konsentrasi ekstrak bonggol yaitu 10%; 12,5%; 25%, esktrak pelepah 12,5%; 25%; 30%, ekstrak batang 12,5%; 25%; 50%. Dilihat nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dengan menghitung jumlah koloni pada cawan.
Hasil Penelitian: Skrining fitokimia menunjukkan ketiga ekstrak mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Nilai konsentrasi hambat minimum dan konsentrasi bunuh minimum paling baik ditunjukkan oleh ekstrak bonggol dengan KHM 12,5% dan KBM 15%, ekstrak pelepah dengan KHM 25% dan KBM 30%, kemudian ekstrak batang dengan KHM 25% tetapi tidak memiliki KBM.
Kesimpulan: Ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang Ambon dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Ekstrak bonggol memiliki aktivitas antibakteri paling kuat bila dibandingkan dengan ekstrak pelepah dan batang pisang Ambon.
Objective: This study aims to determine and compare the antibacterial activity of ethanol extracts of corms, pseudo-stems and petioles of Ambon banana (Musa x paradisiaca L.) against Staphylococcus aureus.
Methods: This was an experimental laboratory study with Staphylococcus aureus as the sample. Phytochemical screening was carried out by the tube method to determine the presence of flavonoid, saponins and tannins. The antibacterial activity of ethanol extracts of Ambon corms, pseudo-stems and petioles were tested using the solid dilution method. The corm extracts concentration are 10%; 12,5%; 25%, psedo-stem extracts are 12,5%; 25%; 30%, stem extracts are 12.5%; 25%; 50. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value and the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) value are calculated by counting the number of colonies in the petri dish.
Results: Phytochemical screening showed that the three extracts contained flavonoids, saponins and tannins. The highest value of MIC and MBC were showed by corm extracts with the MIC of 12.5% and MBC 15%, followed by the petioles extracts with the MIC of 25% and MBC 30%, then pseudo-stems extracts with the MIC of 25% but without MBC.
Conclusion : Ethanol extracts of Ambon banana corms, pseudo-stems and petioles can inhibit the growth of Staphylococcus aureus.The corm extract has the most powerful antibacterial activity when its compared to petioles and pseudo-stem extracts.