Artikelilmiahs
Menampilkan 24.701-24.720 dari 50.309 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 24701 | 27068 | A1A115009 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PENYADAP GETAH KARET DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX AFDELING KRUMPUT KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH | Produksi karet di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Afdeling Krumput mengalami fluktuatif, yang disebabkan oleh adanya naik turunnya produktivitas tenaga kerja penyadap getah karet. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja penyadap getah karet pada PTPN IX Afdeling Krumput, (2) Menganalisis pengaruh masing-masing faktor terhadap produktivitas tenaga kerja penyadap getah karet pada PTPN IX Afdeling Krumput, dan (3) Menentukan hubungan antara produktivitas tenaga kerja penyadap getah karet dengan produksi karet di PTPN IX Afdeling Krumput. Penelitian dilaksanakan di PTPN IX Afdeling Krumput yang terletak di Desa Karangrau, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penentuan tempat penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan merupakan salah satu BUMN yang menghasilkan karet berupa karet alam dengan kualitas terbaik. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 April 2019 sampai dengan 31 Mei 2019 dengan sasaran penelitian adalah tenaga kerja penyadap getah karet di PTPN IX Afdeling Krumput. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified random sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 33 orang. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Likert’s Summated Ratings, Analisis Regresi Linier Berganda, dan Analisis Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan faktor internal yang berpengaruh secara signifikan yaitu pendapatan dari menyadap dan kedisplinan dalam bekerja, sedangkan variabel usia, tingkat pendidikan formal, status tenaga kerja, dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh secara signifikan dan faktor eksternal yang berpengaruh secara signifikan adalah umur tanaman, teknik dan waktu menyadap, jaminan sosial, fasilitas untuk menyadap, keterikatan penyadap dengan perusahaan, dan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment), serta yang tidak berpengaruh secara signifikan adalah hubungan mandor dengan penyadap dan hubungan antar sesama penyadap. Pengaruh positif pada variabel yaitu: pendapatan dari menyadap, teknik dan waktu menyadap, fasilitas untuk menyadap, dan keterikatan penyadap dengan perusahaan, sedangkan pengaruh negatif pada variabel sikap dan disiplin dalam bekerja, umur tanaman, jaminan sosial, dan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment), serta terdapat hubungan korelasi positif antara produktivitas tenaga kerja penyadap getah karet dan produksi getah karet. | The rubber production in PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Afdeling Krumput is fluctuating due to the instability of the latex tapping labors’ productivity. The objective of this research is to (1) Determine the factors that influence the latex tapping labors’ productivity in PTPN IX Afdeling Krumput, (2) Analyze the influence of each factors against the productivity of the latex tapping labors in PTPN IX Afdeling Krumput, and (3) Determine the correlation between the latex tapping labors’ productivity and the rubber production itself in PTPN IX Afdeling Krumput. The research is conducted in PTPN IX Afdeling Krumput that is located in Karangrau Village, Banyumas Regency, Central Java. The location is determined purposively based on a consideration, in which it is one of a BUMN that produces best quality of natural rubber. The research started on April 30th 2019 and ended on May 31st 2019 with the latex tapping labors in PTPN IX Afdeling Krumput as the research target. The sampling is done by conducting stratified random sampling method that resulted 33 respondents. The analysis consists of Likert’s Summated Ratings, Doubled Regression Linier Analysis, and analysis corelation. The result of this analysis internal factors did significancy, such as: incomes and diciplines, while internal factors didn’t significancy, such as: age, formal education, age workers’status, years of service, and number of family dependents, and some absolute direct external factors did significancy, such as: the age of the tree, technique and time of tapping, social security, the facility, the labors’ bound, and reward and punishment, while the other non direct external factors didn’t significancy are the relationship with the overseer and the relationship between the labors. The positive influences against the variable are: incomes, technique and tapping time, the facility for tapping, and the bound to the company variable, while the negative influences against the variable are: actions and disciplines, the age pf the tree, social security, reward and punishment, and it shows that there is a positive between the latex tapping labors’ productivity and the production of the rubber itself. | |
| 24702 | 27720 | E1A015175 | DISSENTING OPINION PADA PERKARA MERINTANGI PENYIDIKAN KORUPSI DALAM PUTUSAN BANDING (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 23/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI) | ABSTRAK Salah satu wujud keaktifan hakim dalam menangani suatu perkara, yaitu timbulnya dissenting opinion dalam suatu putusan. Dissenting opinion merupakan pendapat atau putusan yang ditulis oleh seorang hakim atau lebih yang tidak setuju dengan putusan mayoritas anggota majelis hakim. Berkaitan dengan dissenting opinion dalam Putusan nomor 23/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI terdakwa atas nama Frederich Yunadi sebagai advokat telah merintangi proses penyidikan korupsi e-KTP yang dilakukan oleh Setya Novanto. Atas dasar hal tersebut, terdapat dissenting opinion yang diajukan oleh salah satu anggota majelis hakim karena putusan yang telah diambil oleh mayoritas anggota majelis hakim dirasa belum memenuhi unsur keadilan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif, yaitu dengan mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum maupun norma-norma hukum. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka. Selanjutnya metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis terhadap Putusan Nomor 23/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI, dapat ditarik kesimpulan bahwa dissenting opinion yang diajukan oleh salah satu hakim anggota majelis lebih tepat dari pada putusan mayoritas majelis hakim. Selain itu dissenting opinion dalam Putusan tersebut tidak menimbulkan akibat hukum dalam penjatuhan pidana terdakwa, namun adanya dissenting opinion tersebut membawa akibat nilai-nilai positif dan negatif dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. | ABSTRACT DISSENTING OPINION FOR OBSTRUCTING CASE OF CORRUPTION INVESTIGATIONS IN APPEAL DECISIONS (Judicial Review of Decision Number 23 / Pid.Sus-TPK / 2018 / PT.DKI) The activeness of judges in examining, judging and deciding a criminal act of corruption is very important to eradicate corruption. Dissenting opinion in a decision is one of form judges’ activeness in facing case. Dissenting opinion is an opinion or a decision written by a judge or more who disagrees with the decision of the majority of the members of the panel of judges. In connection with dissenting opinion in decision number 23 / Pid.Sus-TPK / 2018 / PT.DKI the defendant Frederich Yunadi also an Advocate has obstruct the process of investigation the corruption of e-KTP conducted by Setya Novanto. Based on this, there was a dissenting opinion submitted by a member of the judges, because the decision taken by the majority of the panel of judges was not considered to have fulfilled the element of justice. This study uses normative juridical research methods with prescriptive research specifications, namely by studying the purpose of law, the values of justice, the validity of the rule of law, legal concepts and legal norms. The type of data used is secondary data obtained through literature study. Furthermore, the data analysis method in this research uses descriptive analytical method with a qualitative approach. Based on the results of research conducted by the author of the Decision Number 23 / Pid.Sus-TPK / 2018 / PT.DKI, it can be concluded that the dissenting opinion submitted by one of the panel of judges is more appropriate than the decision of the majority of judges. In addition, the dissenting opinion in the decision did not result in legal consequences in the conviction of the defendant, but the presence of the dissenting opinion resulted in positive and negative values in the justice system in Indonesia. | |
| 24703 | 27663 | G1I014013 | EVALUASI KONDISI SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SE-SUB RAYON II KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2019 | Latar Belakang: Sarana dan prasarana menjadikan hal penting untuk keaktifan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Sekolah Menengah Pertama. Sesuai dengan survei, perlu adanya pengadaan, penyimpanan, penggunaan dan pemanfaatan. Agar prose, belajar mengajar penjas berjalan baik sesuai dengan program kurikulum. Sekolah Menengah Pertama Se-Sub Rayon II Kabupaten Banyumas belum diketahui, kondisi dan status kepemilikan. Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan data dengan cara survei quisioner, wawancara dan dokumentasi. Pengambilan sampel di Sekolah Menengah Pertama Se-Sub Rayon II Kabupaten Banyumas yang terdapat 15 sekolah menengah pertama tersiri dari 9 Sekolah Menengah Pertama Negeri dan 6 Sekolah Menengah Pertama Swasta. Pengambilan data kuisioner mengenai kondisi dan status kepemilikan sarana dan prasarana olahraga. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan yaitu hasil penelitian sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Pertama Se-Sub Rayon II Kabupaten Banyumas masuk dalam kategori baik sebesar 13,0% sampai 7,0% , sebesar 6,9% sampai 4,0% mempunyai kategori cukup atau sedang, dan sebesar 3,9% sampai 0% mempunyai kategori kurang. Hasil tersebut dapat disimpulkan keadaan sarana dan prasarana olahraga di Sekolah Menengah Pertama Se-Sub Rayon II Kabupaten Banyumas adalah sedang atau cukup. Kesimpulan: Sarana dan prasarana olahraga di Sekolah Menengah Pertama Se-Sub Rayon II Kabupaten Banyumas dalam kategori keadaan dan statu kepemilikan hampir keseluruhan sudah baik, tapi ada sekolah yang keadaan dan status status kepemilikan belum sesuai standar sarana dan prasarana olahraga. Kata Kunci : Kondisi, Status Kepemilikan, Sarana dan Prasarana Olahraga | Background: Facilities and infrastructure make it important for the activity of Sports and Health Physical Education in Junior High School. Based on survey, the need for procurement, storage, use and utilization so that the teaching and learning process of Physical Education runs well in accordance with the curriculum program. Banyumas Regency Sub-Secondary School in Banyumas Regency is unknown, condition and ownership status. Research methods: The method used in this research is quantitative descriptive method. Retrieval of data by questionnaire surveys, interviews and documentation. Sampling in Junior High Schools in Sub-Rayon II of Banyumas Regency which has 15 junior high schools consisting of 9 Public Middle Schools and 6 Private Middle Schools. Retrieval of questionnaire data regarding the condition and status of ownership of sports facilities and infrastructure. Research result: Based on the results of the study it can be concluded that the results of research facilities and infrastructure in the Secondary Secondary School in Banyumas Regency included in the good category of 13.0% - 7.0%, 6.9% - 4.0% had a category moderately or sufficient, and 3,9% - 0% have a less category. The results can be concluded that the condition of sports facilities and infrastructure in Junior High Schools in Sub-Rayon II of Banyumas Regency is moderate or sufficient. Conclusion: Sports facilities and infrastructure in Junior High Schools in Sub-Rayon II of Banyumas Regency in the category of conditions and ownership status are almost all good, but there are schools where the condition and status of ownership are not in accordance with the standards of sports facilities and infrastructure. Keywords: Condition, Ownership Status, Sports Facilities and Infrastructure | |
| 24704 | 27719 | C1B015068 | Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Air Minum Dalam Kemasan (Studi Kasus Pada CV Jaya Abadi Sejahtera) | Penelitian ini merupakan penelitian observasi pada kualitas produksi air minum dalam kemasan 220ml pada CV Jaya Abadi Sejahtera yang berada di desa Sumbang, Purwokerto. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Air Minum Dalam Kemasan (Studi Kasus Pada CV Jaya Abadi Sejahtera)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengendalian kualitas produk serta proses produksi pada CV Jaya Abadi Sejahtera. Untuk mengetahui tingkat pengendalian kualitas produk serta proses produksi tersebut bisa dilihat dari data-data yang beracuan pada standar air minum yang sudah dibakukan pada SNI 3553:2015, dengan ketentuan standar pada tingkat kekeruhan, pH, serta zat terlarut. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh produk air minum dalam kemasan yang di produksi oleh CV Jaya Abadi Sejahtera. Sampel dalam penelitian ini merupakan jenis produksi produk air minum dalam kemasan yang jumlah penjualannya paling laku dipasaran. Jumlah sampel yang diambil 70 buah air minum dalam kemasan, dengan penelitian yang dilakukan selama 14 hari, dengan setiap harinya dilakukan penelitian pada 5 sampel. Metode purposive sampling digunakan dalam penentuan jenis sampel. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis menggunakan metode statistical quality control menunjukan bahwa: (1) Nilai Grafik pada Control Chart Kekeruhan, pH, serta Zat yang Terlarut beberapa kali mengalami nilai stagnan, yang artinya terdapat penyebab khusus yang mempengaruhi proses produksi tersebut, sehingga proses produksi tidak stabil, (2) Nilai Cp dan Cpk pada setiap standar produk memiliki nilai lebih dari 1, yang artinya proses produksi berjalan dengan baik, (3) Penyebab utama dari defect pada produk air kemasan tersebut bukanlah pada kualitas bahan bakunya, melainkan karena produk yang terjatuh saat berada diruang penyimpanan sebanyak 523 buah (65.79%), serta produk kurang isi sebanyak 272 buah (34.21%). Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu melakukan perbaikan atas ketidakstabilan proses produksi, melakukan pelatihan kepada pegawai yang bertugas untuk mengoperasikan mesin pengisian kemasan, serta memperbaiki ruang penyimpanan agar produk tidak mudah terjatuh. | This research is an observational study on the quality of 220ml bottled drinking water production in CV Jaya Abadi Sejahtera located in the village of Sumbang, Purwokerto. This research takes the title: "Analysis of Quality Control of Bottled Drinking Water Production (Case Study in CV Jaya Abadi Sejahtera)". The purpose of this study was to determine the level of product quality control and production processes at CV Jaya Abadi Sejahtera. To find out the level of product quality control and the production process can be seen from the data referenced to drinking water standards that have been standardized in SNI 3553: 2015, with standard provisions on turbidity, pH, and solute levels. The population in this study are all bottled drinking water products produced by CV Jaya Abadi Sejahtera. The sample in this study is the type of production of bottled drinking water products whose sales are most salable in the market. The number of samples taken was 70 bottled drinking water, with research carried out for 14 days, with daily research conducted on 5 samples. The purposive sampling method is used in determining the type of sample. Based on the results of research and analysis using statistical quality control methods show that: (1) Graph Value on Turbidity, pH, and Dissolved Substance Control Charts have stagnated several times, which means that there are special causes that affect the production process, so the production process does not stable, (2) the value of Cp and Cpk on each product standard has a value of more than 1, which means the production process is going well, (3) The main cause of the defect in the bottled water product is not the quality of the raw material, but because the product has fallen while in the storage room there were 523 pieces (65.79%), as well as 272 pieces of defective products (34.21%). The implication of the conclusion above is to make improvements to the instability of the production process, conduct training for employees who are tasked with operating the packaging filling machine, and improve storage space so that the product does not fall easily. | |
| 24705 | 27698 | I1C015110 | Penentuan Kandungan Total Fenolik dan Aktivitas Sebagai Penenagkal Radikal Bebas Ekstrak dan Fraksi-fraksi Daun Mindi (Melia azedarach L) | Latar Belakang : Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan enzim, protein dan inti sel pada DNA. Salah satu antioksidan alami yang dapat meredam radikal bebas yaitu daun mindi karena memiliki senyawa golongan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total fenolik dan aktivitas sebagai penangkal radikal bebas pada ekstrak dan fraksi-fraksi daun mindi. Metodologi : Uji penentuan kandungan total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu dengan standar asam galat dan uji aktivitas sebagai penangkal radikal bebas menggunakan metode DPPH dengan standar vitamin C. Hasil Penelitian : Kandungan total fenolik ekstrak metanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan residu secara berturut-turut yaitu 10,536 mg GAE/g, 2,217 mg GAE/g, 13,766 mg GAE/g, 8,025 mg GAE/g. Nilai IC50 ekstrak metanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi residu secara berturut-turut yaitu 91,235 ppm, 297,635 ppm, 80,543 ppm dan 125,609 ppm. Kesimpulan : Ekstrak metanol dan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat, residu memiliki aktivitas antioksidan kategori sedang dan fraksi n-heksan memiliki aktivitas antioksidan kategori sangat lemah. | Background: Free radicals can cause damage to enzymes, proteins and cell nuclei in DNA. One of the natural antioxidants that can reduce free radicals is mindi leaves because they have phenolic compounds.This study aims to determine the total phenolic content and activity as an antidote to free radicals of extract and fraction mindi leaf. Methodology: Test for determining the total phenolic content using the Folin-Ciocalteu method with gallic acid standards and activity testing as an antidote to free radicals using the DPPH method with vitamin C standards. Results: The total phenolic content of methanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction and residual were 10,536 mg GAE / g, 2,217 mg GAE / g, 13,766 mg GAE / g, 8,025 mg GAE / g, respectively. IC50 values of methanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction and residual were 91.235 ppm, 297,635 ppm, 80,543 ppm and 125,609 ppm, respectively. Conclusion: Methanol extract and ethyl acetate fraction had strong category antioxidant activity, residual had moderate category antioxidant activity and n-hexane fraction had very weak category antioxidant activity. | |
| 24706 | 27721 | G1A015018 | PENGARUH PERILAKU PENGGUNAAN JILBAB TERHADAP TINGKAT KEPARAHAN KERONTOKAN RAMBUT PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Latar Belakang: Perilaku penggunaan jilbab merupakan salah satu faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat keparahan kerontokan rambut. Perilaku penggunaan jilbab adalah tindakan dan tata cara dalam menggunakan jilbab. Perilaku penggunaan jilbab dapat dinilai dari metode mengikat rambut, pemilihan bahan dan warna jilbab, kelembaban dan kebersihan rambut, psikologi responden, serta lama penggunaan jilbab. Tujuan: Untuk mengetahui adanya pengaruh perilaku penggunaan jilbab terhadap tingkat keparahan kerontokan rambut pada mahasiswi Jurusan Kedokteran FK Unsoed Angkatan 2017. Metode: Observasional analitik belah lintang dilaksanakan pada 68 mahasiswi. Pengumpulan data perilaku penggunaan jilbab menggunakan kuisioner dan tingkat keparahan kerontokan rambut dinilai dari jumlah rambut rontok selama 24 jam. Uji Analisis yang digunakan adalah uji korelasi spearman dengan nilai p <0,05. Hasil: Metode mengikat rambut (p=0,894), kelembaban rambut (p=0,425), kebersihan rambut (p=0,473), pemilihan bahan jilbab (p=0,944), pemilihan warna jilbab (p=0,488), dan psikologi responden (p=0,920) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat keparahan kerontokan rambut . Lama Penggunaan jilbab memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat keparahan kerontokan rambut (p=0,035). Kesimpulan: Perilaku penggunaan jilbab yang memilki hubungan yang signifikan terhadap tingkat keparahan kerontokan adalah lama penggunaan jilbab yang > 12 jam. | Background: The behavior of wearing a hijab is one of the factors that significantly influence the severity of hair loss. The behavior of wearing a hijab is a procedure for wearing a hijab.The behavior of wearing hijab can be assessed from tying hair method, hijab material and color selection, hair humidity and hygiene, psychology of respondents, and the duration of wearing hijab. Objective: To find out the influence of the behavior of wearing a hijab on the severity of hair loss in students of Medicine Faculty UNSOED 2017. Method: A cross-sectional analytic observational was conducted on 68 female students were research samples. Furthermore, the behavior of wearing jilbab was assessed from questionnaire and the severity of hair loss was assessed from the number of hair loss for 24 hours that have been collected by the respondents. The analysis test used is the spearman corellation test. Result:There are no relationship between tying hair method (p=0,894), hair humidity (p=0,425), hair hygiene (p=0,473), hijab material selection (p=0,944), hijab color selection (p=0,488) and psychology of respondents (p=0,920) with the severity of hair loss. There is a relationship between the duration of wearing a hijab and the severity of hair loss, p = 0,035. Conclusion: There is a significant relationship in the duration of wearing a hijab on the severity of hair loss. | |
| 24707 | 28709 | F1F016063 | PROGRAM "TEKO NANG JAWA" SEBAGAI UPAYA DIPLOMASI BUDAYA KOREA SELATAN DI INDONESIA TAHUN 2019 | Penelitian yang berjudul “Program “Teko Nang Jawa” Sebagai Upaya Diplomasi Budaya Korea Selatan di Indonesia Tahun 2019” dianalisis menggunakan konsep Diplomasi Budaya dan konsep Diplomasi Publik Baru. Fokus dari penelitian ini yaitu menganalisis bagaimana pelaksanaan dari program yang dibentuk Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia “Teko Nang Jawa” sehingga program tersebut dapat dikategorikan sebagai diplomasi budaya dan diplomasi publik. Kartikasari melalui karyanya menjelaskan bahwa diplomasi budaya dapat dilaksanakan dengan berbagai cara diantaranya adalah Konferensi, Eksibisi, Kompetisi Kebudayaan, Negosiasi, dan pertukaran misi. Program “Teko Nang Jawa” dapat dikatakan sebagai diplomasi budaya karena pelaksanaannya berbentuk eksibisi seni budaya dan juga kompetisi seni budaya non-benda. Sementara jika dilihat melalui Konsep Diplomasi Publik Baru, program “Teko Nang Jawa” juga memenuhi karakteristik yang dituliskan oleh Falk Hartig baik dari segi aktor maupun pemanfaatkan ilmu pengetahuan teknologi. | The research entitled “Program “Teko Nang Jawa” Sebagai Upaya Diplomasi Budaya Korea Selatan di Indonesia Tahun 2019” was analyzed using cultural diplomacy and new public diplomacy concepts. The research focused on the program has been formed by the Embassy of South Korea in Indonesia, “Teko Nang Jawa”. This research also analyzed how was the “Teko Nang Jawa” implemented, so that it can be categorized as South Korea’s cultural diplomacy and public diplomacy in Indonesia. Kartikasari through her book explained that cultural diplomacy can be carried out in several ways including conference, exhibition, cultural competition, negotiate, and exchange programs. The “Teko Nang Jawa” program can be categorized as cultural diplomacy because of its implementation that takes the form of cultural arts exhibitions and cultural arts competitions. Then, if the program viewed through the New Public Diplomacy concept, “Teko Nang Jawa” also fullfils the characteristics of new public diplomacy that written by Falk Hartig, both in terms of actors and the use of technology. | |
| 24708 | 28835 | F2A017008 | ANALISIS MOTIVASI DOSEN DALAM PROSES KENAIKAN JABATAN AKADEMIK DOSEN DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Setiap dosen mempunyai hak mendapatkan kenaikan jabatan akademik jika sudah memiliki prestasi kerja seperti yang telah ditetapkan dengan peraturan perundangan. Namun pada kenyataannya masih terdapat berbagai permasalahan yang muncul dalam pengembangan karir SDM terutama di Universitas Jenderal Soedirman. Permasalahan tersebut adalah proses kenaikan jabatan dosen yang berjalan lambat, padahal pengembangan karir dosen sangatlah penting untuk diwujudkan. Lambatnya kenaikan jabatan akademik dosen dapat disebabkan karena rendahnya motivasi dosen dalam mengusulkan kenaikan jabatan akademik dosen. Hal tersebut diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah motivasi intrinsik dosen dan motivasi ekstrinsik dosen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang positif dan signifikan baik secara parsial maupun secara bersama-sama antara Motivasi Intrinsik (X1) dan Motivasi Ekstrinsik (X2) terhadap Pengembangan Karir Dosen dalam Kenaikan Jabatan Akademik Dosen (Y) di Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengumpulan data kuisioner, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan distribusi frekuensi, tabulasi silang, analisis kendall tau c dan regresi ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Motivasi Intrinsik terhadap Pengembangan Karir Dosen dalam Kenaikan Jabatan Akademik Dosen di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. (2) Tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Motivasi Ekstrinsik terhadap Pengembangan Karir Dosen dalam Kenaikan Jabatan Akademik Dosen di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. (3) Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik secara bersama-sama terhadap Pengembangan Karir Dosen dalam Kenaikan Jabatan Akademik Dosen di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. | Each lecturer has the right to get an academic promotion if he already has work performance as stipulated in the legislation. But in fact there are still many problems that arise in the career development of human resources, especially in General Soedirman University. The problem is the process of lecturer promotion which runs slowly, even though the career development of lecturers is very important to be realized. The slow increase in lecturer academic positions can be caused by the low motivation of lecturers in proposing lecturer academic promotion. It is thought to be influenced by several factors including lecturer intrinsic motivation and lecturer extrinsic motivation. The purpose of this study is to determine the positive and significant influence both partially and jointly between Intrinsic Motivation (X1) and Extrinsic Motivation (X2) on the Career Development of Lecturers in Promoting Academic Position of Lecturers (Y) at General Soedirman University. This study uses a survey method by collecting questionnaire data, observation and documentation. Data analysis technique used is to use frequency distribution, cross tabulation, kendall tau c analysis and ordinal regression. The results showed that (1) There was a positive and significant influence between Intrinsic Motivation on the Career Development of Lecturers in Promoting Academic Position of Lecturers at General Soedirman University, Purwokerto. (2) There is no positive and significant influence between Extrinsic Motivation on the Career Development of Lecturers in Promoting Academic Position of Lecturers at General Soedirman University, Purwokerto. (3) There is a positive and significant influence between Intrinsic Motivation and Extrinsic Motivation together on the Career Development of Lecturers in Promoting Academic Position of Lecturers at General Soedirman University in Purwokerto. | |
| 24709 | 27736 | G1B015006 | PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea robusta) TERHADAP KADAR ENZIM KATALASE PADA FASE PROLIFERASI PENYEMBUHAN LUKA PASCA PENCABUTAN GIGI (Penelitian Eksperimental In Vivo pada Tikus Galur Wistar) | PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea robusta) TERHADAP KADAR ENZIM KATALASE PADA FASE PROLIFERASI PENYEMBUHAN LUKA PASCAPENCABUTAN GIGI (Penelitian Eksperimental In Vivo pada Tikus Galur Wistar) Sarah Zarwanda Amalia1, Eka Prasasti1, Christiana Cahyani1 1Jurusan Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Alamat Koresponden: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia 53122. Email: sarah_fawziah@yahoo.com ABSTRAK Pencabutan gigi merupakan tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak pada rongga mulut. Pencabutan gigi akan meninggalkan bekas luka dan memicu proses penyembuhan luka. Enzim katalase merupakan antioksidan endogen yang bekerja secara langsung dengan cara menangkap dan menguraikan radikal bebas di dalam sel. Biji kopi robusta memiliki kandungan antioksidan dan antiinflamasi yang membantu meningkatkan kadar enzim katalase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji kopi robusta dosis 1,25 g/kgBB, 2,5 g/kgBB, dan 5 g/kgBB terhadap kadar enzim katalase pada fase proliferasi pascapencabutan gigi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan posttest-only control group design yang dibagi menjadi 4 kelompok: Kelompok P1 (perlakuan ekstrak biji kopi robusta dosis 1,25 g/kgBB), Kelompok P2 (perlakuan ekstrak biji kopi robusta dosis 2,5 g/kgBB), Kelompok P3 (perlakuan ekstrak biji kopi robusta dosis 5 g/kgBB), dan Kelompok KN (kontrol negatif menggunakan DMSO 10). Pada semua kelompok dilakukan pencabutan gigi insisivus kanan rahang bawah yang sebelumnya dianestesi menggunakan ketamin menggunakan dosis 80 mg/kgBB. Ekstrak diberikan secara peroral sebanyak 2 mL setiap 12 jam selama 4 hari. Setiap kelompok diambil plasma darah pada hari ke-5 dan dilakukan pengukuran kadar enzim katalase menggunakan uji spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan ekstrak lebih tinggi daripada kelompok kontrol negatif dan meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi, hasil statistik menunjukkan hasil yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan Kelompok KN (p≤0.05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji kopi robusta dosis 1,25 g/kgBB, 2,5 g/kgBB, dan 5 g/kgBB dapat mempengaruhi kadar enzim katalase pada fase proliferasi pascapencabutan gigi. Kata Kunci : Pencabutan gigi, fase proliferasi, enzim katalase, biji kopi robusta Kepustakaan : 16 (1990-2018) | EFFECT OF GRAYING ETHANOL EXTRACT OF ROBUSTA COFFE BEANS (Coffea robusta) ON THE CATALASE ENZYME LEVEL IN PROLIFERATION PHASE OF WOUND HEALING (In Vivo Study in Wistar Rat Post Insisivus Extraction) Sarah Zarwanda Amalia1, Eka Prasasti1,Christiana Cahyani1 1Dental Medicine Study Program, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, Purwokerto Address of correspondence: Dentistry of Jenderal Soedriman University, Purwokerto, Central Java, Indonesia 53122. Email: sarah_fawziah@yahoo.com ABSTRACT Tooth extraction is a surgical procedure that involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. Tooth extraction causes injury which will lead into wound healing. The catalase enzyme is an endogenous antioxidant that works directly by capturing and decomposing free radicals in cells. Robusta coffee beans contain antioxidants and anti-inflammatory properties that help increase The catalase enzyme level. The aim of this study was to determine the effect of robusta coffee bean extract dose of 1.25 g/kgBB, 2.5 g/kgBB, and 5 g/kgBB on The catalase enzyme levels in the post-tooth extraction proliferation phase. The type of research was experimental laboratory with postest-only control group design , that devided into 4 groups. Group P1 (treated with 1,25 g/kgBB doses), Group P2 (treated with 2,5 g/kgBB doses), Group P3 (treated with 5 g/kgBB doses), and Group KN (negative control with DMSO 10%). Insisivus tooth of all group was extracted and anesthetized by ketamine 80 mg/kgBB. 2 mL extract was given by oral every 12 hours in a day. blood plasma was taken from each group at fifth day and The catalase enzyme was analized using spectrophotometer. The results showed that the extract treatment group was higher than the negative control group and increased with increasing concentration, the statistical results showed significant results between the treatment groups with the KN group (p≤0.05).Based on results of the study can be concluded that the dose 1,25 g/kgBB, 2,5 g/kgBB, dan 5 g/kgBB robusta coffea bean ethanol extract can affect The catalase enzyme levels on proliferation phase post tooth extraction. Kata Kunci : Tooth extraction, proliferaton phase, catalase enzyme, robusta coffea bean Kepustakaan : 16 (1990-2018). | |
| 24710 | 27724 | K1A015002 | PEMBUATAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI SERAT BATANG PISANG DENGAN ADITIF PS-PEG UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU | Serat batang pisang pada penelitian ini dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan membran selulosa asetat. Serat batang pisang diubah menjadi selulosa asetat melalui proses asetilasi dengan 4 tahap yaitu aktivasi, asetilasi, hidrolisis, dan pemurnian. Selulosa asetat yang diperoleh memiliki kadar asetil sebesar 40,89% yang merupakan jenis selulosa diasetat. Hasil analisis FTIR (Fourier Transform Infra-Red) menunjukkan serapan gugus karbonil (C=O) pada 1743,65 cm-1 dan serapan gugus asetil (C–O) pada 1234,44cm-1. Pada penelitian ini, pembuatan membran selulosa asetat (SA) dilakukan dengan penambahan aditif Polistirena (PS) dan Polietilen Glikol (PEG) yang diaplikasikan untuk menurunkan nilai BOD, COD, TDS, dan TSS limbah cair tahu. Karakterisasi membran komposit SA-PS-PEG meliputi fluks dan rejeksi. Nilai fluks air membran SA dan membran SA-PS-PEG sebesar 37,74 L/(m2.jam) dan 39,63 L/(m2.jam), sedangkan nilai fluks sampel membran SA dan membran SA-PS-PEG sebesar 13,58 L/(m2.jam) dan 22,64 L/(m2.jam). Nilai rejeksi membran SA dan membran SA-PS-PEG sebesar 35,5% dan 60,7%. Presentase penurunan BOD, COD, TDS, dan TSS limbah cair tahu sebesar 70,9%, 77,78%, 81,58%, dan 92,93%. | Banana stem fiber in this research was used as the basic material for making a cellulose acetate membrane. Banana stem fiber was converted to cellulose acetate through the acetylation process with 4 steps consisting of the activation, acetylation, hydrolysis, and purification process. Cellulose acetate that was obtained has acetyl content of 40,89% which is a cellulose diacetate type. The results of FTIR (Fourier Transform Infra-Red) showed absorption carbonyl group (C=O) at 1743,65 cm-1 and absorption of acetyl group (C–O) at 1234,44 cm-1. In this research, the production of cellulose acetate (CA) membrane by adding additive of polystyrene (PS) and polyethylene glycol (PEG) applied to reduce the value of BOD, COD, TDS, and TSS. Characterization of cellulose acetate covering flux and rejection. The water flux value of CA membrane and CA-PS-PEG membrane were 37,74 L/(m2.jam) dan 39,63 L/(m2.jam), while the sample flux value of CA membrane and CA-PS-PEG membrane were 13,58 L/(m2.jam) and 22,64 L/(m2.jam). The rejection value of CA membrane and CA-PS-PEG membrane were 35,5% and 60,7%. The precentage decrease of BOD, COD, TDS, and TSS were 70,9%, 77,78%, 81,58%, and 92,93%. | |
| 24711 | 27725 | G1A015091 | Pengaruh Intervensi Edukasi Terhadap TIngkat Pengetahuan dan Sikap Pasangan Pranikah Mengenai Premarital Screening Talasemia di Kabupaten Banyumas | Latar belakang: Indonesia merupakan salah satu negara dalam sabuk talasemia yang memiliki frekuensi gen talasemia tinggi. Tatalaksana talasemia tidak menyembuhkan penyakit tersebut, sehingga skrining karier dan edukasi dijadikan salah satu pencegahan kejadian talasemia. Program skrining dan edukasi masyarakat telah diimplementasikan namun masih bersifat insidental dan belum menyeluruh sehingga keikutsertaan masyarakat dalam program skrining masih sedikit. Tidak ada data pengetahuan mengenai talasemia di Banyumas. Tujuan penelitian: Mengetahui pengaruh intervensi edukasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap pasangan pranikah mengenai Premarital Screening talasemia di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian: Penelitian dilakukan dengan desain analitik eksperimental dengan menggunakan studi pre-post test. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Subjek penelitian adalah pasangan pranikah yang mendaftarkan pernikahan mereka di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas dan Kantor Urusan Agama Kecamatan Sumbang. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan edukasi terhadap tingkat pengetahuan (p<0.05) yang menunjukkan peningkatan tetapi pengaruh edukasi tidak signifikan pada perubahan sikap. Kesimpulan: Pengetahuan memiliki peran penting dalam pembentukan sikap hingga perilaku pasangan pranikah untuk mengikuti program Premarital Screening. | Background: Indonesia is one of the countries included in the thalassemia belt which has high frequency of thalassemia gene. The management of thalassemia does not cure the disease, making preventive measure such as carrier screening and education implemented as prevention of thalassemia morbidity. Public education and screening program have been implemented but are still incidental and not comprehensive yet, resulting to fraction of participation in the screening program. There is currently no data on knowledge of thalassemia in Banyumas Regency. Objective: Knowing the effect of educational interventions on the level of knowledge and attitudes of premarital couples regarding premarital screening of thalassemia in Banyumas Regency. Research Method: The study was conducted with an experimental analytic design using a pre-post test study. Sampling method used is consecutive sampling. The subjects of the study were premarital couples who registered their marriages at the Population and Civil Registration Department of Banyumas Regency (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas) and Religious Affairs Office of Sub-Distric Sumbang (Kantor Urusan Agama Kecamatan Sumbang). Result: The result of this study indicate that there is a significant increase on the level of knowledge (p<0.05) but the effect of education is not significant on attitude change. Conclusion: Knowledge has an important role in forming attitudes to the behaviour of premarital couples to take part in the premarital screening program. | |
| 24712 | 27726 | K1A015016 | Pembuatan Membran Selulosa Asetat dari Serat Batang Pisang dengan Aditif Formamida untuk Penurunan BOD Dan COD pada Limbah Cair Tahu | Batang pisang merupakan limbah pertanian potensial yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan membran karena kandungan selulosanya yang tinggi. Pembuatan membran selulosa asetat dari serat batang pisang dapat dilakukan dengan proses asetilasi melalui tahap aktivasi, asetilasi, hidrolisis, dan presipitasi. Penambahan aditif formamida dapat meningkatkan kinerja dari membran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik membran selulosa asetat berbahan dasar serat batang pisang dengan aditif formamida berdasarkan nilai fluks dan rejeksinya, serta mengetahui persentase penurunan BOD dan COD pada limbah cair tahu. Karakterisasi membran selulosa asetat meliputi uji fluks dan rejeksi. Hasil pengukuran diperoleh nilai fluks air dan sampel limbah untuk membran selulosa asetat dengan aditif formamida sebesar 37,66 dan 30,13 L/(m2.jam) dengan persen rejeksinya 59,56%. Persentase penurunan total BOD dan COD limbah cair tahu sebesar 83,6 dan 81,11%. | Banana stems are a potential agricultural waste that can be used for membrane manufacture because of its high cellulose content. The making of cellulose acetate membrane from banana stem fiber can be done through the process of acetylation with stages of activation, acetylation, hydrolysis, and precipitation. The addition of formamide additives can improve the performance of the membrane. This study aims to determine the characteristics of cellulose acetate membrane based on banana stem fiber with formamide additives based on the value of flux and rejection, and determine the percentage of reduction in BOD and COD in tofu wastewater. Characterization of cellulose acetate membranes includes flux and rejection tests. The measurement results obtained by the value of water flux and waste samples for cellulose acetate membrane with formamide additives amounted to 37.66 and 30.13 L/(m2.hours) with 59.56% rejection percentages. The percentage reduction in total BOD and COD of tofu wastewater was 83.6 and 81.11%. | |
| 24713 | 28710 | A1F016040 | KARAKTERISTIK KOPI ROBUSTA (Coffea Canephora) LOKAL PESANGKALAN PADA BERBAGAI VARIASI SANGRAI DAN SEDUH LEVEL | Kopi Pesangkalan memiliki cita rasa yang unik sehingga menghasilkan kopi robusta yang memiliki karakter rasa cokelat dan manis terasa di lidah, dan tidak terlalu berasa pahit getirnya. Kopi robusta Pesangkalan termasuk kopi organik dimana pohonnya ditanam dan dirawat tanpa menggunakan zat kimia, tanpa dihujani dengan pestisida dan herbisida. Begitu juga dengan proses pascapanen yang tidak menggunakan bahan kimia. Buah kopi yang telah dipanen memerlukan suatu proses yang sangat panjang sebelum menjadi minuman yang dapat dinikmati. Proses tersebut akan mempengaruhi karakteristik minuman kopi yang dihasilkan. Secara garis besar pengolahan biji kopi kering terdiri dari tiga tahap yaitu proses penyangraian (roasting), proses penggilingan (grinding), dan proses penyeduhan (brewing). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variasi penyangraian, suhu seduh dan perlakuan terbaik antara variasi penyangraian dengan suhu seduh terhadap fisikokimia dan sesnsori kopi robusta Pesangkalan Banjarnegara. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 9 kombinasi perlakuan dan diulangi 3 kali sehingga mengasilkan 27 unit percobaan. Faktor yang diteliti meliputi variasi penyangraian (A) yang terdiri dari light (A1), medium (A2), dark (A3) dan suhu penyeduhan (B) yang terdiri dari 75oC (B1), 85oC (B2), 95oC (B3). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada proses penyangraian kopi robusta lokal Pesangkalan memberikan pengaruh yang nyata pada kadar air dan keasaman (pH). Kadar air pada proses penyangraian perlakuan terbaik yaitu pada penyangraian dark dengan hasil kadar air yang rendah. Pada tingkat keasaaman perlakuan terbaik pada proses penyangraian dark dimana nilai pH mendekati pH netral. Pada proses penyeduhan suhu seduh berpengaruh nyata terhadap total fenol. Suhu seduh 75 0 C menghasilkan total fenol yang tinggi yaitu 68,28 mg/100gr. Kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Indeks Efektivitas dari aspek fisikokimia dan sensori yaitu pada penyangraian dark (A3) dan suhu penyeduhan 95oC (B3) yang memiliki karakteristik fisikokimia dan sensori sebagai berikut: Kadar Air 1,86%, Keasaman (pH) 6,4, Fenol 60,95 mg/100gr, kadar kafein 0,75%, warna gelap(4), aroma khas kopi(4), rasa pahit(5), dan agak suka(2). | Pesangkalan robusta coffee has a unique taste because it has a chocolate and sweet taste on the tongue, and less bitter taste. Pesangkalan robusta coffee was an organic coffee which trees were planted and treated without using chemicals, without being bombarded with pesticides and herbicides. The postharvest processes also did not use chemicals. Harvested coffee fruit required a very long process before it becomes a drink that can be enjoyed. The process will be affect the characteristics of the coffee drinks produced. In general, the processing of dried coffee beans consists of three stages; roasting, grinding, and brewing. This study aimed to study variation of roasting, brewing temperature and the best treatment between variation of roasting with brewing temperature on the physicochemical and sensory characteristic of Pesangkalan robusta coffee. This study was carried out experimentally using the Completely Randomized Design (CRD) method which was arranged in factorial with 9 combination of treatments and repeated 3 times thus there were 27 experimental units. Variaton of roasting factors (A) consist of light (A1), medium (A2), and dark (A3), and brewing temperature factors (B) consist of 75oC (B1), 85oC (B2), and 95oC (B3). Results showed the roasting process factors has a significant effect in water content and level of acidity (pH) of the Pesangkalan robusta coffee. The best water content in roasting process variable was dark roasting with low water content results. Also the best level of acidity was in the dark roasting process where the pH value required to a neutral pH. The brewing temperature factors has a significant effect in total phenol content. Brewing in 75 0C produced a high total phenol (68.28 mg/100gr). The best treatment in this study was the Pesangkalan robusta coffee with dark roasting (A3) and brewing in 95oC which have the following physicochemical and sensory characteristics; water content 1.86%, the level of acidity (pH) 6.4, total phenol content 60.95 mg/100gr, caffeine content 0.75%, has a black color (4), has a distinctive aroma of coffee (4), has a bitter taste (5), and the panelist rather likes the coffee (2). | |
| 24714 | 29044 | F1F016040 | Olimpiade Pyeongchang 2018 Sebagai Peluang Reunifikasi di Semenanjung Korea | Penelitian yang berjudul “Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 Sebagai Peluang Reunifikasi di Semenanjung Korea” disusun berdasarkan penyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 yang menjadikan Korea Selatan sebagai tuan rumah. Dalam kesempatan itu Korea Selatan mengajak Korea Utara untuk berpartisipasi dalam olimpiade. Interaksi yang tercipta diantara Korea Selatan dan Korea Utara kemudian menciptakan perdamaian dan peluang reunifikasi di Semenanjung Korea. Penelitian ini dianalisis menggunakan konsep Soft Power Diplomacy Joseph Nye dan mekanisme Sport Diplomacy oleh Havard Mokleiv Nygard dan Scott Gates. Olimpiade merupakan salah satu momentum untuk menjalin hubungan baik antar negara dan kesempatan negara untuk menyampaikan kepentingan negaranya. Begitu pula dalam penyelenggaraan Olimpiade Pyeongchang 2018 ini, Korea Selatan memadukan sumber Soft Power yaitu event olahraga dan hiburan untuk menjalin hubungan baik dengan negara – negara terutama Korea Utara dan menciptakan peluang reunifikasi yang berbeda di Semenanjung Korea. Upaya Korea Selatan dalam penyelenggaraan Olimpiade Pyeongchang 2018 ini menggunakan mekanisme Sport Diplomacy yang berupa pembangunan citra (image building), pembangunan platform dialog (building a platform for dialogue), pembangunan kepercayaan (trust-building), dan terakhir rekonsiliasi, integrasi dan anti rasisme (reconciliation, integration and anti-racism). Berdasarkan data yang diperoleh penulis, Korea Selatan menjadikan Olimpiade Pyeongchang 2018 menjadi “Peace Olympic”dan interaksi dalam event olahraga berlanjut menjadi pembicaraan delegasi tingkat tinggi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Mekanisme Sport Diplomacy tercapai hingga terciptanya rekonsiliasi dan perjanjian damai yang mengakhiri konflik di Semenanjung Korea. | Abstract The research entitled "2018 Pyeongchang Olympics as Reunification Opportunities in the Korean Peninsula" compiled based on the holding of the 2018 Pyeongchang Winter Olympics which made South Korea as the host country. On that opportunity, South Korea invited North Korea to participate in the Olympics. The interaction that created between South and North Korea then creates peace and opportunities for reunification in the Korean Peninsula. This research was analyzed using the concept of Soft Power Diplomacy by Joseph Nye and Sport Diplomacy mechanism by Havard Mokleiv Nygard and Scott Gates. Olympics is one of the momentum to establish relations between countries and the country's opportunity to convey the interests of their country. Likewise, in this 2018 Olympics Pyeongchang, South Korea use their Soft Power source that combines sports and entertainment events to establish good relations with another countries , especially North Korea and creating different way of opportunities for reunification in the Korean Peninsula. South Korea's efforts in organizing the 2018 Pyeongchang Olympics use the Sport Diplomacy mechanism in the form of Image building, Building a platform for dialogue, Trust-building, and Reconciliation, integration and anti-racism. According to the data, South Korea turned the 2018 Pyeongchang Olympics into a "Peace Olympic" and interaction in sport events continued to be a discussion of high-level delegations between South and North Korea. The Sport Diplomacy mechanism was reached until reconciliation and a peace agreement that ended the conflict in the Korean Peninsula. | |
| 24715 | 27727 | C2A017005 | ANALISIS EFEKTIVITAS, EFISIENSI, DAN KONTRIBUSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN TERHADAP PAD KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013 – 2017 | Salah satu pendapatan yang diperoleh untuk meningkatkan angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan meningkatkan pendapatan dalam sektor pajak.Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang telah mengubah sistem pengelolaan PBB khususnya sektor Perdesaan dan Perkotaan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang awalnya merupakan pajak pusat kini menjadi pajak daerah. Mulai 1 Januari 2013 Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menerapkan undang-undang tersebut. PBB-P2 dan BPHTB merupakan pajak yang potensial sebagai sumber penghasilan untuk membiayai pembangunan yang diselenggarakan pemerintah. Penelitian ini dilaksanakan di Badan Keuangan Daerah Kabupaten Banyumas dari bulan Februari sampai dengan April 2018. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat efisiensi, efektivitas dan kontribusi PBB-P2 dan BPHTB terhadap PAD di Kabupaten Banyumas dari tahun 2013-2017. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan studi deskriptif, dan dengan teknik analisis deskriptif menggunakan indikator nilai interpretasi efektivitas, efisiensi, dan kontribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektifitas penerimaan PBB-P2 dan BPHTB Kabupaten Banyumas tahun 2013-2017 secara keseluruhan menunjukkan kriteria nilai interpretasi sangat efektif, dengan rata-rata persentase PBB-P2 sebesar 109,92% dan BPHTB sebesar135,73%. Tingkat efisiensi penerimaan PBB-P2 dan BPHTB Kabupaten Banyumas tahun 2013-2017 secara keseluruhan menunjukkan kriteria nilai interpretasi sangat efisien, dengan rata-rata persentase PBB-P2 sebesar 4,55% dan BPHTB sebesar 3,68%. Kontribusi penerimaan PBB-P2 dan BPHTB terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Banyumas tahun 2013-2017 secara keseluruhan menunjukkan kriteria nilai interpretasi sangat kurang, dengan rata-rata persentase PBB-P2 sebesar 9,07% dan BPHTB sebesar 6,37%. | One of the revenues obtained to increase the figure of Local Original Revenue (PAD) is by increasing revenue in the tax sector. Law No. 28 of 2009 concerning Regional Taxes and Regional Retribution which has changed the management system of Land and Building Tax especially in the Rural and Urban sectors and the Obligation of Land and Building Rights which was originally a central tax has now become a local tax. Starting in 2013 the Banyumas District Government has implemented the law. PBB-P2 and BPHTB are potential taxes as sources of income to finance government-run development. This research was conducted at the Regional Finance Agency of Banyumas Regency from February to April 2018. The purpose of this study was to determine the level of effectiveness, efficiency, and contribution of PBB-P2 and BPHTB to PAD in Banyumas Regency from 2013-2017. This research is a type of quantitative research with descriptive studies, and with descriptive analysis techniques using indicators of interpretation of efficiency, effectiveness and contribution values. The results showed that the effectiveness of PBB-P2 and BPHTB reception in the Banyumas Regency in 2013-2017 as a whole showed that the interpretation value criteria were very effective, with an average percentage of PBB-P2 of 109.92% and BPHTB of 135.73%. The level of efficiency of the reception of PBB-P2 and BPHTB of Banyumas Regency in 2013-2017 as a whole shows the criterion value of interpretation is very efficient, with an average percentage of PBB-P2 of 4.55% and BPHTB of 3.68%. The contribution of PBB-P2 and BPHTB revenues to the Banyumas Regency's Original Revenue in 2013-2017 as a whole showed the very poor interpretation of the criteria, with an average percentage of PBB-P2 of 9.07% and BPHTB of 6.37%. | |
| 24716 | 27728 | K1A015015 | SINTESIS DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN C-METILKALIKS[4]RESORSINARENA SULFONAT DENGAN METODE DPPH (1,1-DIPHENYL-2-PICRYLHYDRAZYL) | Kaliks[4]resorsinarena merupakan senyawa makromolekul siklis yang dapat disintesis dari resorsinol dan aldehida. Senyawa tersebut hanya larut pada beberapa pelarut organik dan tidak larut pada air. Perlu dilakukan suatu modifikasi dengan cara menambahkan gugus sulfonat pada C-metilkaliks[4]resorsinarena untuk dapat menghasilkan senyawa yang mudah larut dalam pelarut air. Senyawa C-metilkaliks[4]resorsinarena sulfonat dapat disintesis melalui dua tahap yaitu siklisasi dan sulfonasi. Pada penelitian ini hasil sintesis C-metilkaliks[4]-resorsinarena sulfonat yang diperoleh adalah sebesar 69,80%. Sulfonasi menghasilkan senyawa C-metilkaliks[4]resorsinarena yang larut dalam air dan DMSO, larut sebagian di metanol dan etanol, serta tidak larut pada pada aseton, dan n-heksana. Identifikasi menggunakan FTIR, mengindikasikan adanya serapan pada bilangan gelombang 3421 cm-1 yang merupakan serapan gugus O-H; 2921, 2866, 1381 cm-1 yang ketiganya merupakan serapan dari Csp3-H; serapan aromatis C-C muncul pada 1600 cm-1 dan 1493 cm-1. Serta serapan pada 1149 dan 1076 cm-1 yang merupakan serapan dari gugus sulfonat(-SO3). Analisis selanjutnya menggunakan spektrometer 1H NMR. Hasil sintesis memberikan sinyal proton hidroksil, proton aromatik, jembatan metin, gugus sulfonat dan metil. Tetapi selain sinyal tersebut masih muncul beberapa sinyal yang kemungkinan adalah sinyal dari pengotor. Masing-masing puncak resonansi muncul pada δ 8,05; 7,66; 4,21; 1,89; dan 1,15 ppm. Selain itu dilakukan pula pengujian terhadap aktivitas antioksidan dari senyawa C-metilkaliks[4]-resorsinarena sulfonat. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan C-metilkaliks[4]-resorsinarena sulfonat memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong lemah yaitu pada ES50 sebesar 318,34 ppm (mg.L-1). | Calix[4]resorcinarene was a cyclic macromolecular compound that can be synthesized from resorsinol and aldehyde. The compound is only soluble in some organic solvents and not soluble in water. Modifications need to be made by adding a sulfonate group to the C-methylcalix[4]-resorcinarene to made it soluble in water. The C-methylcalix[4]resorcinarene sulfonate can be synthesized through two stages namely cyclization and sulfonation. In this study the result of the synthesized of C-methylcalix[4]resorcinarene sulfonate was 69.80%. C-methylcalix[4]resorcin-arene sulfonate soluble in water and DMSO, mostly soluble in methanol and ethanol, and insoluble in acetone, and n-hexane. Identification using FTIR, indicates the presence of a 3421 cm-1 wave number that is an absorption of the -OH group; 2921, 2866, 1381 cm-1 all three of them are absorption of the C-H; C-C aromatic absorption appears at 1600 cm-1 and 1493 cm-1. As well as the absorption at 1149 and 1076 cm-1 which is the absorption of the sulfonate (-SO3) group. Further analysis was performed using a 1H NMR spectrometer. The results give the signal of hydroxyl protons, aromatic protons, methine bridges, sulfonate and methyl groups. Each signal means the resonance peak of each proton. Each resonance peak appeared at δ 8.05; 7,66; 4,21; 1,89; and 1.15 ppm. The compound was not pure, because the 1H NMR spectrum showed more than five signal above. In addition antioxidant assay of the C-methylcalix[4]resorcinarene sulfonate are reported. The antioxidant assay was performed using DPPH method. The results of antioxidant activity test showed that C-methyllobals [4] -specific sulfonate has weak antioxidant activity at ES50 of 318,34 ppm (mg.L-1). | |
| 24717 | 27730 | E1A015025 | PENOLAKAN STATUS JUSTICE COLLABORATORS TERHADAP TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI ANDI NAROGONG OLEH HAKIM TINGKAT BANDING (Studi Perbandingan Putusan Nomor 100/Pid.Sus-TPK/2017/PN.JktPst dan Putusan Nomor 5/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI) | Korupsi sebagai white collar crime dilakukan secara sistematis dan terorganisir yang sulit untuk dibongkar oleh aparat penegak hukum, oleh karenanya dibutuhkan sebuah metode untuk memberantasnya salah satunya yaitu dengan bantuan peran Justice Collaborator yang nantinya memperoleh reward berkat bantuannya terebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dapat tidaknya permohonan status Justice Collaborator ditolak oleh pengadilan tingkat Banding dan untuk mengetahui kesesuaian pertimbangan Hakim antara pengadilan tingkat pertama dengan pengadilan tingkat Banding dalam mengabulkan dan menolak permohonan status Justice Collaborator terhadap SEMA No. 4 Tahun 2011 dan UU No. 31 Tahun 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perbandingan, serta spesifikasi penelitian yaitu preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hakim Pengadilan Tinggi dalam Perkara Nomor 5/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI dapat menolak status Justice Collaborator yang sudah dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena Pengadilan Tinggi tingkat Banding memiliki fungsi korektor. Terdapat perbedaan pertimbangan dari kedua putusan dalam hal ini Pengadilan Negeri hanya mempertimbangkan aspek yuridis dan sosiologis sedangkan Pengadilan Tinggi telah mempertimbangkan aspek yuridis, sosiologi, dan filosofis. | Corruption as white collar crime was conducted systematically and organized which was difficult to be dismantled by law enforcement officers, therefore need a method to eradicate it one of them is the support of the Justice Collaborator role that that will receive reward for his assistance. This study aims to analyse can or not status request Justice Collaborators rejected by the Court of Appeal and to know the conformity of judge consideration between the District Court and the Court of Appeal to approve or reject the status of Justice collaborator towards SEMA No. 4 of 2011 and Law No. 31 of 2014. The method used in the study is normative juridical with a comparative approach method, and the research specification is prescriptive. Results of study indicate that the judges Court of Appeals in Decision No. 5/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI can reject the status of Justice Collaborator that has been granted by the Central Jakarta District Court because the High Court of Appeal has the function corrector. There are differences in consideration of both decisions in this case the District Court only considers juridical and sociological aspects whereas the High Court has considered the juridical, sociological, and philosophical aspects. | |
| 24718 | 28711 | C1G016022 | THE EFFECT OF GOVERNMENT EXPENDITURE ON EDUCATION, GOVERNMENT EXPENDITURE ON HEALTH, AND POVERTY ON THE QUALITY OF HUMAN RESOURCES IN INDONESIA | Penelitian ini berjudul “The Effect of Government Expenditure on Education, Government Expenditure on Health, and Poverty on The Quality of Human Resources in Indonesia”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah bidang pendidikan, pengeluaran pemerintah bidang kesehatan, dan kemiskinan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia tahun 2001-2017, serta menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia tahun 2001-2017. Pada penelitian ini data yang digunakan merupakan data dari tahun 2001-2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda menggunakan pendekatan ordinary least square. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variable independen memiliki pengaruh secara signifikan terhadap human development index di Indonesia. Penelitian ini juga memberikan hasil bahwa secara parsial pengeluaran pemerintah bidang pendidikan dan pengeluaran pemerintah bidang kesehatan memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manudia di Indonesia, sedangkan variabel kemiskinan memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia. Untuk variabel yang paling berpengaruh melalui uji elastisitas diperoleh variable independen kemiskinan merupakan variable yang paling berpengaruh. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya upaya untuk meningkatkan pengeluaran pemerintah bidang pendidikan dan pengeluaran pemerintah bidang kesehatan untuk meningkatkan tingkat indeks pembangunan manusia, serta menurunkan angka kemiskinan untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. | This research is entitled "The Effect of Government Expenditure on Education, Government Expenditure on Health, and Poverty on The Quality of Human Resources in Indonesia". The purpose of this study is to analyze the effect of government expenditure on education, government expenditure on health, and poverty on the human development index in Indonesia in 2001-2017, and analyze the factors that most influence on the human development index in Indonesia in 2001-2017. This type of research is quantitative research. The method of analysis in this study is multiple regression analysis using ordinary least square approach. The data used are secondary and time-series data covering the time period of 2001 to 2017. Based on the results of the study showed that simultaneously all independent variables have a significant influence on the human development index in Indonesia. This study also provides results that partially government expenditure on education and government expenditure on health variables have a significant positive effect on the human development index in Indonesia, while the poverty variable has a significant negative effect on the human development index in Indonesia. For the most influential variable through the elasticity test, the independent variable of poverty is the most influential variable. The implication of this research is the importance of efforts to increase government expenditure on education and government expenditure on health to increase the level of the human development index, as well as reduce poverty to increase the human development index to improve the quality of human resources in Indonesia. | |
| 24719 | 28836 | H1B016068 | Pengaruh Kadar Air Pemadatan terhadap Potensi Pengembangan Tanah Lempung Ekspansif Stabilisasi Kapur pada Jalan Raya Gunung Tugel - Banyumas | Tanah lempung ekspansif memiliki kembang-susut yang tinggi dan banyak ditemukan di Indonesia, salah satunya di Jalan Raya Gunung Tugel, Banyumas. Pada jalan tersebut masih terdapat kerusakan struktur seperti jalan amblas dan bergelombang, walaupun sudah dilakukan perbaikan. Siklus kerusakan tersebut semakin mengindikasikan keberadaan tanah lempung ekspansif pada lapisan tanah dasar jalan. Salah satu cara untuk meminimalisasi sifat ekspansif adalah menggunakan stabilisasi kapur. Namun, hasil upaya stabilisasi bergantung pada kondisi kadar air dalam tanah di lapangan saat pelaksanaan yang dapat memengaruhi proses pemadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kadar air pemadatan dalam mengurangi potensi pengembangan tanah lempung ekspansif yang distabilisasi kapur. Parameter untuk mengetahui tingkat ekspansif tanah lempung sebelum maupun setelah dilakukan stabilisasi dengan kapur dalam penelitian ini adalah nilai batas-batas konsistensi dan indeks pengembangan bebas. Pengujian awal tanah dilakukan untuk mendapatkan klasifikasi dan sifat tanah, serta Optimum Moisture Content (OMC). Nilai OMC akan digunakan dalam acuan variasi kadar air pemadatan, yakni sebesar OMC, OMC±5%, dan OMC±10%. Kapur yang digunakan sebanyak 7,5% dari total berat tanah. Tanah ekspansif dan kapur 7,5% dicampur secara merata dengan variasi kadar air untuk pemadatan. Pengujian benda uji dilakukan setelah masa perawatan selama 3 hari dan didapatkan hasil yang menunjukkan penurunan nilai indeks plastisitas sebesar 4,34% serta penurunan nilai indeks pengembangan bebas sebesar 12,55%. | Expansive soil has high swell-shrinkage potential and is found in such many places in Indonesia, one of them is located in Gunung Tugel Road, Banyumas. The road still experiences its structural damage such as potholes even though the improvements have been done. This repeating damage cycle indicates more the existence of expansive soil in the subgrade of the road. A very common way to minimize the swelling potential in expansive soil is using lime stabilization. However, the stabilization result depends on the conditions of soil moisture content in the field during implementation which can affect the compaction process. This experimental study aims to determine how the effect of compaction water content in reducing the swelling potential of lime-treated expansive soil. The parameters to determine the expansiveness level before and after lime stabilization are the value of consistency limits and free swell index. Initial soil testing is done to get the classification and soil properties, also to get Optimum Moisture Content (OMC). The OMC value will be used in reference to the variation of compaction water content, which are equal to OMC, OMC±5%, and OMC±10%. The amount of lime used is 7,5% of the total weight of soil. Expansive soil and 7,5% lime were as well mixed with various moisture contents for compaction. Speciments tests were done after the treatment period for 3 days and the results showed the decreases in the value of plasticity index by 4,34% and free swell index by 12,55%. | |
| 24720 | 27731 | G1B015046 | DESKRIPSI MORFOLOGI PERMUKAAN NANOKOMPOSIT FLOWABLE PADA PEMBERIAN FILLER NANOSELULOSA BERBASIS SEKAM PADI (Oryza sativa L.) DAN KARBONAT APATIT DENGAN BERBAGAI VARIASI KOMPOSISI UNTUK APLIKASI TEKNIK RESTORASI DIRECT | Komposit dalam bidang kedokteran gigi dapat di klasifikasikan berdasarkan bentuknya yaitu komposit packable dan komposit flowable. Kekurangan resin komposit flowable yaitu kekerasan yang kurang baik dan penyusutan dimensi yang tinggi. Filler dari komposit dapat dimodifikasi dengan menggunakan nanoselulosa yang berasal dari sekam padi atau bahan alam lain untuk meningkatkan kekuatan mekaniknya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi komposisi filler nanoselulosa sekam padi (Oryza sativa L.) dan karbonat apatit terhadap kekerasan permukaan pada komposit flowable. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test only control group design. Pembuatan kelompok sampel dilakukan dengan berbagai perbandingan antara nanoselulosa dan CHA dengan perbandingan 30:70, 50:50, 70:30 dan resin komposit flowable komersial sebagai kelompok kontrol. Hasil uji kekerasan permukaan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Nilai kekerasan dari kelompok perbandingan 30:70 yaitu 24,72±4,17VHN; kelompok perbandingan 50:50 yaitu 21,38±4,47VHN; kelompok perbandingan 70:30 yaitu 20,44±3,33VHN; dan kelompok Kontrol yaitu 27,76±1,85VHN. Hasil uji karakteristik morfologi terdapat gambaran yang halus namun terdapat porositas pada setiap kelompok perlakuan sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat porositas. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan morfologi permukaan pada nanokomposit flowable dengan pemberian filler nanoselulosa berbasis sekam padi dan karbonat apatit dengan berbagai variasi untuk aplikasi teknik restorasi direct. | Composite in dentistry can be classified based upon their handling characteristics were packable composite and flowable composite. Flowable composite has disadvantages such as unfavorable hardness and high shrinkage. The filler from composite can be modified by using nanocellulose from rice husk (Oryza sativa L.) or other nature resources to increase the mechanical strength. The purpose of this research was to know the effect of filler composition variation of nanocellulose and carbonate apatite toward the surface hardness of flowable composite. The type of this research was experimental laboratory with the post-test only control group design. Sample groups were made with various comparisons between nanocellulose and CHA in the ratio of 30:70, 50:50, 70:30 and commercial flowable composite resin as a control group. The hardness surface test shows that there is no significant difference between treatment group and control group. The hardness value from group with ratio 30:70 is 24,72±4,17VHN; group with ratio 50:50 is 21,38±4,47VHN; group with ratio 70:30 is 20,44±3,33VHN; and the control group is 27,76±1,85VHN. The morphological characteristics test results are smooth, but there is still porosity. The conclusion of this study is that there is a different on the surface morphological of flowable nanocomposite in addition of nanocellulose-based rice husk and carbonate apatite filler with various variation for the application of direct restoration. |