Artikelilmiahs

Menampilkan 24.681-24.700 dari 50.309 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2468127704H1A013042DEGRADASI FOTOKATALITIK ZAT WARNA TEKSTIL RHODAMINE B MENGGUNAKAN Fe2O3Limbah industri tekstil merupakan salah satu penyebab pencemaran lingkungan perairan di Indonesia. Salah satu zat yang menyebabkan pencemaran pada limbah industri tekstil adalah kandungan rhodamine B didalamnya. Padahal rhodamine B termasuk dalam senyawa beracun dan karsinogenik yang sangat berbahaya. Degradasi fotokatalitik merupakan metode yang dapat diterapkan untuk mendegradasi rhodamine B. Fotokatalis Fe2O3 dapat digunakan sebagai fotokatalis karena memiliki kestabilan kimia, ketersediaan unsur yang melimpah, biaya yang murah, dan energi celah pita (band gap energy) sebesar 2,2 eV. Degradasi rhodamine B menggunakan fotokatalis Fe2O3 dengan bantuan sinar ultravioet telah berhasil dilakukan dengan kondisi pH optimum berada pada pH 2 dengan penurunan rhodamine B sebesar 25,360 % yang didegradasi dengan waktu optimum 8 jam.Textile industry waste is one of the causes of water environment pollution in Indonesia. One of the substances that cuase pollution in textile industry waste is the content of rhodamine B in it. Even though rhodamine B is included in the contradiction and carcinogenic which is very dangerous. Photocatalytic degradation is a method that can be applied to degrade rhodamine B. Fe2O3 photocatalyst can be used as a photocatalyst because it has chemical stability, abundant element availability, low cost, and band gap energy of 2.2 eV. The degradation of rhodamine B using photocatalyst Fe2O3 with the help of ultraviolet light has been successfully carried out with an optimal pH at pH 2 with a decrease in rhodamine B by 25,360 % which was degraded with an optimal time of 8 hours.
2468227701I1D015011PENGARUH PEMBERIAN JUS KOMBINASI SEMANGKA KUNING – PISANG RAJA TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PASCA AKTIVITAS ANAEROBIK Abstrak

PENGARUH PEMBERIAN JUS KOMBINASI SEMANGKA KUNING – PISANG RAJA TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PASCA AKTIVITAS ANAEROBIK

Vira Gemilang Garna, Hesti Permata Sari, Farida
Latar Belakang: Proses metabolisme anaerobik menghasilkan sisa metabolisme berupa asam laktat. Pisang raja mengandung kalium dan semangka kuning mengandung sitrulin yang dapat menekan produksi asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan membandingkan pengaruh pemberian jus kombinasi buah semangka kuning dengan pisang raja terhadap kadar asam laktat darah pasca aktivitas anaerobik.
Metodologi: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post-test only with controlled group design. Uji kadar asam laktat darah dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan alat spektofotometer. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus Sprague Dawley jantan berusia 8 minggu yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif (tidak diberi jus dan tidak diolahragakan anaerobik), kelompok kontrol negatif (tidak diberi jus dan diolahragakan anaerobik), dan tiga kelompok perlakuan dosis jus 1,8 g, 3,6 g, dan 1,8 g + gula 0,27 g/200 g BB dan diolahragakan anaerobik. Jus diberikan 30 menit sebelum dilakukan olahraga anerobik yaitu renang selama 3 menit lalu dilanjutkan dengan pengambilan darah. Data kadar asam laktat diuji dengan uji shapiro wilk dan perbedaan kadar asam laktat tiap kelompok dianalisis menggunakan one way ANOVA dilanjutkan uji LSD.
Hasil Penelitian: Rata-rata kadar asam laktat pada kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, dan tiga kelompok perlakuan dosis jus 1,8 g, 3,6 g, dan 1,8 g + gula 0,27 g/200 g BB berturut-turut adalah 1,38 mMol/L, 7,14 mMol/L, 3,74 mMol/L, 1,66 mMol/L, dan 2,91 mMol/L.
Kesimpulan: Dosis jus pada kelompok perlakuan 2 (3,6 g/200 g BB) adalah dosis yang paling baik karena menghasilkan asam laktat terendah.

Kata Kunci: Anaerobik, Asam Laktat, Pisang Raja, Semangka Kuning, Sport Drink
Abstract

THE IMPACT ON GIVING COMBINATION OF YELLOW WATERMELON – RAJA’S BANANA JUICE WITH LACTATE ACID PRODUCTION AFTER ANAEROBIC EXERCISE

Vira Gemilang Garna, Hesti Permata Sari, Farida
Background: Anaerobic metabolic processes produce metabolic waste in the form of lactate acid. Raja’s banana contains potassium and yellow watermelon contains citrulline which can suppress lactate acid production. This research was aimed to find out and compare the impact of the combination of yellow watermelon and raja’s banana juice with lactate acid production after anaerobic exercise.
Method: This experimental research used post-test only with controlled group design. The examination of lactate acid production was done by colorimetry method using spectrophotometer. Thirty Sprague Dawley 8 weeks male mouse were divided into five groups; one positive control group (not given any juice and not done any anaerobic exercise), one negative control group (not given any juice but done the anaerobic exercise), and three groups with juice doses treatment respectively 1,8 g, 3,6 g, and 1,8 g + 0,27 g of sugar/200 g body weight and done the anaerobic exercise. Juice was given 30 minutes before 3 minutes of swimming as anaerobic exercise then continued by taking blood. The data of lactate acid production was examined by shapiro wilk examination and the differences on each lactate acid production in every group and was analysed by one way ANOVA and was proceeded with LSD examination.
Result: The average of lactate acid production on positive control group, negative control group, and three groups of juice giving treatment 1,8 g, 3,6 g, and 1,8 g, + 0,27 g of sugar /200 g body weight consecutively were 1,38 mMol/L, 7,14 mMol/L, 3,74 mMol/L, 1,66 mMol/L, and 2,91 mMol/L.
Conclusion: The dose of juice on treatment 2 (3,6 g/200 g body weight) was the most effective dose since it resulted the least lactate acid.

Keywords: Anaerobic, Lactate acid, Raja’s banana, Sport drink, Yellow watermelon
2468328834H1B013001REPRESENTASI MATRIKS DAN FORMULA EKSPLISIT GENERALISASI BARISAN FIBONACCIArtikel ini membahas tentang representasi matriks dan formula eksplisit generalisasi barisan Fibonacci. Representasi matriks generalisasi barisan Fibonacci dan formula eksplisitnya diperoleh dengan menggunakan beberapa konsep dalam matriks seperti diagonalisasi dan masalah nilai eigen.This paper discusses a matrices representation and an explicit formula for generalized Fibonacci sequences. The matrices representation and explicit formula for the generalized Fibonacci sequences are obtained using some notions in matrices such as diagonalization and eigen value problem.
2468427703P2A015008HUBUNGAN KANDUNGAN KADMIUM AIR LINDI TERHADAP RISIKO KESEHATAN MASYARAKAT SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH KALIWLINGI KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBESLindi sampah mengandung logam berat berbahaya salah satunya adalah cadmium (Cd). Sumber Cd di TPA Kaliwlingi berupa plastik bekas, residu cat, residu pestisida dan baterai. Paparan akut oleh Cd dapat menyebabkan gejala nausea (mual), muntah, diare, kram otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema dan degenerasi testicular (Adji dan Sudarmaji, 2006).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam kadmium di air lindi dan air sumur serta menganalisis hubungan antara kandungan cadmium air sumur dengan risiko kesehatan masyarakat sekitar TPA. Rancangan penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Analisis univariat dilakukan untuk mengukur kualitas air sumur dan laju asupan dan risiko kesehatan masyarakat. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk membuktikan hipotesis yang dibuat, yaitu ada hubungan antara kualitas air sumur yang dikonsumsi dengan kesehatan masyarakat sekitar TPA Kaliwlingi. Analisis bivariat dalam penelitian menggunakan uji Pearson Corellation dengan mengetahui nilai r < p value (0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam cadmium dalam air sumur yang terendah yang terendah yaitu 0,042 mg/l berada di titik 4 (jarak 250 meter) dari TPA dan tertinggi yaitu 0,055 mg/l terdapat di titik ke 1(jarak 50 meter). Hasil pemeriksaan menunjukkan kandungan cadmium melebihi baku mutu menurut Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001. Berdasarkan Uji Pearson Corellation menunjukkan untuk variable konsentrasi cadmium dengan risiko kesehatan (p value >0.05; p value 0.358) maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan variabel konsentrasi cadmium dengan risiko kesehatan, sedangkan hasil analisis variable laju asupan dengan risiko kesehatan menunujukkan nilai p value sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa variabel laju asupan berhubungan dengan risiko kesehatan masyarakat di sekitar TPA.
Kata Kunci: Kandungan cadmium air lindi TPA, air sumur, risiko kesehatan masyarakat
One of the dangerous heavy metal waste leachates is cadmium (Cd). The Cd source at the Kaliwlingi landfill consists of used plastic, residual paint, pesticide residues and batteries. Acute exposure by Cd can cause symptoms of nausea (nausea), vomiting, diarrhea, muscle cramps, anemia, dermatitis, slow growth, kidney and liver damage, cardiovascular disorders, emphysema and testicular degeneration (Adji and Sudarmaji, 2006).
This study discusses the cadmium metal in leachate and water and analyzes the relationship between the cadmium content of well water and the health risks of the community around the landfill. The study design used was an analytic survey with cross sectional research design. Univariate analysis was carried out to measure the quality of well water and the rate of intake and public health risks. While the bivariate analysis is used to prove the hypothesis made, namely there is a relationship between the quality of the required well water and the health of the community around the Kaliwlingi landfill. Bivariate analysis in the study used the Pearson Correlation test by knowing the value of r <p value (0.05).
The results showed that the lowest cadmium metal content in the well was 0.042 mg / l at point 4 (250 meters distance) from the landfill and the highest was 0.055 mg / l provided at point 1 (50 meters distance). Examination results show cadmium content exceeds quality standards according to Government Regulation No. 82 of 2001. Based on the Pearson Correlation Test shows that cadmium concentration variables with health risks (p value> 0.05; p value 0.358) can be used to prove whether the variable is related to cadmium with risk. health, while the results of the analysis of the variable increase in intake with health showed a p value of 0,000 it can be concluded that the variable increase in consumption is related to the health risks of the community around the landfill.

2468527706E1A015162Penerapan Ketentuan Pasal 18 Ayat (1) Huruf g Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam Perjanjian Pembiayaan Di BMT Ben Sejahtera KroyaPenerapan klausula baku secara sepihak oleh pelaku usaha dalam suatu perjanjian masih banyak menimbulkan masalah di kemudian hari. Klausula baku dianggap cenderung menguntungkan pelaku usaha dan merugikan konsumen. Akad Pembiayaan Murabahah di BMT Ben Sejahtera Kroya terdapat klausul mengenai ketentuan ‘iwad (denda) yang nominalnya belum ditentukan oleh pihak BMT Ben Sejahtera sebagai pelaku usaha atau dengan kata lain nominalnya masih berupa bagian kosong. Hal tersebut dapat mengakibatkan pelanggaran pasal 18 ayat (1) huruf g Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Penerapan Ketentuan Pasal 18 Ayat (1) huruf g UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam Perjanjian Pembiayaan Di BMT Ben Sejahtera Kroya. Penelitian ini menggunakan metode analisis data kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif dan spesifikasi penelitian deskriptif analisis. Jenis dan sumber data yang digunakan meliputi data sekunder yang diperoleh dengan studi kepustakaan, dan wawancara, kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan disusun secara sistematis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa BMT Ben Sejahtera Kroya telah menerapkan klausula baku dalam perjanjian pembiayaan berdasarkan Pasal 18 ayat 1 huruf g Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Klausula-klausula dalam perjanjian telah sesuai dan tidak melanggar Ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf g Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
The implementation of unilaterally standard clauses by business actors in an agreement still causes many problems subsequently. Standard clauses are considered likely to benefit business actors and harm consumers. Murabahah Financing Agreement at BMT Ben Sejahtera Kroya there is a clause regarding the provisions of ‘iwad (fines) whose nominal value has not been determined by BMT Ben Sejahtera as a business actors or in other words the nominal is still in the blank. This may result in violation of Article 18 paragraph (1) letter g of Acts Number 8 of 1999 on Consumer Protection.
The aims of this research are to get to know The Implementation of Provision Article 18 Paragraph (1) Letter g of Acts Number 8 of 1999 on Consumer Protection in financing agreement at BMT Ben Sejahtera Kroya. his research used data analysis based on qualitative methods with a normative juridical approach and descriptive analysis research specifications.
Types and sources of data used include secondary data obtained by library research and interviews, then presented in the form of narrative texts and arranged systematically.
The results of research showed that BMT Ben Sejahtera Kroya had implemented a standard clause in the financing agreement based on Article 18 paragraph 1 letter g of Acts Number 8 of 1999 on Consumer Protection. The clauses in the agreement are in accordance and do not break the provisions of Article 18 paragraph (1) letter g of Acts Number 8 of 1999 on Consumer Protection.
2468627707I1A015096Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia (PPSLU) Sudagaran Kabupaten BanyumasABSTRAK
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP LANSIA DI PANTI PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA (PPSLU) SUDAGARAN KABUPATEN BANYUMAS
Anisatur Rizqiyah, Bambang Hariyadi, Eri Wahyuningsih

Latar Belakang : Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan dalam tubuh untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi. Umumnya lansia menghadapi kelemahan dan keterbatasan fisik yang mengakibatkan kualitas hidup menjadi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia (PPSLU) Sudagaran Kabupaten Banyumas.
Metodologi : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional pada 44 lansia. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Analisis data yang dilakukan adalah univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat dengan uji regresi logistik.
Hasil Penelitian : Kualitas hidup lansia di Panti Pelayanan Sosial Lansia Sudagaran Kabupaten Banyumas sebagian besar dalam kategori baik yaitu 32 lansia (72,7%).
Kesimpulan : Hasil penelitian didapatkan ada pengaruh antara penyakit fisik dengan kualitas hidup dengan nilai p-value 0,030.

Kata Kunci : Kualitas Hidup, Lansia, Panti
ABSTRACT
FACTORS AFFECTING THE QUALITY OF LIFE AMONG ELDERLY LIVING IN THE SUDAGARAN ELDERLY SOCIAL SERVICE INSTITUTION, BANYUMAS REGENCY

Anisatur Rizqiyah, Bambang Hariyadi, Eri Wahyuningsih

Background : Aging is a process of slowly disappearing the ability of tissues in the body to maintain its normal structure and function so that it cannot survive infection. Generally the elderly face physical weaknesses and limitations that result in decreased quality of life. This study discusses the factors that affect the quality of life of the elderly at the Sudagaran Social Care Institution (PPSLU) in Sudagaran, Banyumas Regency.

Metodology : This research is a quantitative study using a cross sectional study design on 44 elderly people. Sampling with purposive sampling. Data analysis performed was univariate, bivariate with chi-square test and multivariate with logistic regression test.
Result of Research : The quality of life of the elderly in the Sudagaran Elderly Social Services Institution in Banyumas Regency is mostly in the good category, namely 32 elderly people (72.7%).

Conclussion : The results showed there was an influence between physical illness and quality of life with a p-value 0,030.


Keyword : Quality of Life, Elderly, Institution

2468727708I1C015042Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Tanaman Pisang Batu (Musa balbisiana Colla) Terhadap S.aureus

Secara empiris tanaman pisang diketahui berkhasiat sebagai tanaman obat. Tanaman pisang telah diteliti mengandung senyawa antibakteri yaitu tanin, saponin dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa fitokimia pada ekstrak etanol tanaman pisang menggunakan uji tabung dan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol bonggol, batang dan pelepah pisang Batu (Musa balbisiana Colla) terhadap bakteri S.aureus menggunakan metode dilusi padat. Data hasil penelitian dianaisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol tanaman pisang batu mengandung flavonoid, tannin, dan saponin. Nilai konsentrasi hambat minimum dan konsentrasi bunuh minimum paling baik ditunjukkan oleh ekstrak etanol bonggol dengan nilai KHM 12,5% dan KBM 25%, diikuti oleh ekstrak pelepah dengan KHM 25% dan KBM 50%, kemudian ekstrak batang dengan KHM 25% dan nilai KBM esktrak etanol batang belum ditemukan.Empirically, banana plants are known to have medicinal properties. Banana plants contain antibacterial compounds such as flavonoids, saponins and tannins. This study aims to determine the content of phytochemical compounds of banana plant ethanol extracts using the tube method and compare the antibacterial activity of ethanol extracts of corms, pseudo-stems and petioles of Batu banana (Musa balbisiana Colla) against S. aureus bacteria using the solid dilution method. The results showed that the ethanol extract of Batu banana plants (corms, pseudo-stems, and petioles) contained tannin, saponin, and flavonoid compounds. The MIC and MBC values of Batu banana corm extracts against S. aureus are at concentrations of 12.5% and 25%, the petioles extracts with the MIC value of 25% and MBC 50%, the pseudo-stem extracts has a 25% MIC while the MBC value has not been found.
2468827709K1A015059UJI AKTIVITAS ANTIBIOTIK LEVOFLOXACIN MENGGUNAKAN BIOSENSOR DENGAN BAKTERI AMOBIL PADA POLIVINIL ALKOHOL-ALGINATPerkembangan biosensor semakin pesat dalam beberapa dekade terakhir. Biosensor memiliki beberapa kelebihan seperti biaya yang rendah, efisien, dan waktu respon analisis yang cepat. Kecepatan analisis dengan biosensor diterapkan pada berbagai metode analisis konvensional, salah satunya untuk uji aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini yaitu menguji aktivitas levofloxacin sebagai antibiotik terhadap bakteri gram negatif (Escherichia coli) dan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus). Bakteri E. coli dan S. aureus serta serbuk besi diamobilisasi terlebih dahulu di dalam matriks polivinil alkohol-alginat untuk penggunaan berulang dan stabilitas penyimpanan beads. Prinsip penelitian ini yaitu elektron yang diproduksi dari metabolisme sel bakteri ditransfer ke K3[Fe(CN]6] untuk membentuk K4[Fe(CN)6]. FeCl3 kemudian ditambahkan ke dalam K4[Fe(CN)6 dan membentuk larutan berwarna hijau kebiruan yang disebut Prussian Blue. Larutan PB diukur intensitas warnanya melalui proses scanning oleh alat scanner. Validasi metode biosensor dilakukan pada penelitian ini dengan hasil koefisien korelasi untuk bakteri E. coli dan S. aureus berturut-turut adalah sebesar 0,997 dan 0,998; batas deteksi (LOD) sebesar 46,05 ppm dan 39,48 ppm; batas kuantifikasi (LOQ) sebesai 153,5 ppm dan 131,58 ppm; rata-rata % recovery sebesar 100,09% dan 101,26%; nilai KV sebesar 0,64% dan 0,44%; serta HORRAT sebesar 0,17% dan 0,11%. Nilai KHTM menggunakan metode kertas cakram sebesar 12,5 ppm dan 6,25 ppm untuk bakteri E. coli dan S. aureus. Konsentrasi levofloxacin terendah yang masih dapat terdeteksi menggunakan biosensor berbasis sel yaitu sebesar 46,05 ppm dan 39,48 ppm, sehingga diperoleh faktor prediksi uji biosensor sebesar 3,7 kali untuk uji KHTM (E. coli) dan 6,3 kali untuk uji KHTM (S. aureus). Hasil analisis penggunaan berulang beads menunjukkan bahwa baik beads E. coli maupun S. aureus masih dapat digunakan sebanyak 4 kali pengulangan, sedangkan uji stabilitas penyimpanan menunjukkan bahwa beads E. coli dan S. aureus masih stabil pada penyimpanan hari ke 13.The development of biosensor has increased rapidly in the last few decades. Biosensors have several advantages such as low-cost, efficient, and fast response time analysis. Fast response time analysis of biosensors has been applied in almost of conventional analysis method include antimicrobial activity test. The purpose of this study is to examine the activity of levofloxacin as a antimicrobial drug against gram negative bacteria (Escherichia coli) and gram positive bacteria (Staphylococcus aureus). E. coli and S. aureus also iron oxide immobilized in polyvinyl alcohol-alginate for repeatable and stability storage of beads. Electrons produced from bacteria cells metabolism are transfered to K3[Fe(CN]6] forms K4[Fe(CN)6]. FeCl3 then added into K4[Fe(CN)6 and form a green-blue solution called Prussian Blue. PB solution was measured its color intensity through a scanning process by a scanner device. Validation of biosensors method has evaluated in this study with the result of correlation coefficient (r) for E. coli and S. aureus are 0.997 and 0.998; limit of detection (LOD) 46.05 ppm and 39.48 ppm; limit of quantity (LOQ) 153.5 ppm and 131.58 ppm; average of % recovery 100.09% and 101.26%; KV 0.64% and 0.44%; HORRAT 0.17% and 0.11%. The minimum inhibitory concentration (MIC) with paper disc method is 12.5 ppm for E. coli and 6.25 ppm for S. aureus. The lowest concentration of levofloxacin that can still be detected using cell-based biosensors are 46.05 ppm and 39.48 ppm, so the prediction factor for E. coli (MIC method) is 3.7 times and 6.3 times for S. aureus (MIC method). The repeatability of beads shows that both E. coli and S. aureus beads can still be used 4 times, while the storage stability shows that E. coli and S. aureus beads are still stable on storage day 13.
2468927696I1C015071Formulasi Pasta Gigi Kombinasi Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) dan Cangkang Telur Bebek (Anas pltayrhynchos domesticus) Sebagai Antibakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies GigiDaun sirih hijau berkhasiat sebagai antimikroba. Cangkang telur bebek pada pasta gigi digunakan sebagai bahan abrasif karena mengandung CaCO3 yang dapat meremineralisasi enamel gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pasta gigi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans penyebab karies gigi. Sediaan pasta gigi dibuat 3 konsentrasi ekstrak daun sirih berbeda yaitu F1 0,5%, F2 1,5 %, F3 3%, dan diuji sifat fisik sediaan yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, viskositas, daya lekat, daya sebar, pH, dan stabilitas. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dan analisis data menggunakan One Way Anova. Ketiga formula memiliki sifat fisik sediaan yang baik dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. F1 dan F2 menghasilkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 6,81 mm dan 10,54 mm (kategori sedang), sedangkan F3 sebesar 16,85 mm (kategori kuat).Piper betle L. is a herbs that have benefit as an antimicrobial agent. Duck eggshells on toothpaste is used for abrasive ingridients because it containst CaCO3 for remineralization tooth enamel. The aim from this research is to know the activities of antibacterial toothpaste against to Streptococcus mutans growth that cause dental caries. Toothpaste were made with 3 different betel leaf extract concentrations, namely F1 0.5%, F2 1.5%, F3 3%, then the physical were tested including organoleptic, homogeneity, viscosity, adhesion, dispersion, pH, and stability. Antibacterial activity of the toothpaste were evaluated by disk diffusion method. The results were analyzed by One Way Anova. Three toothpaste formulas have a good physical properties and have a activities antibacterial against Streptococcus mutants. F1 and F2 give a result an average diameter of inhibition zone are 6,81 mm and 10,54 mm (medium category), while the F3 are 16,85 mm (strong category).
2469027723H1D013034Penerapan Metode Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) Untuk Menganalisis Laju Erosi Lahan
(Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing, Purbalingga
Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing yang secara administrasi pemerintahan berada di wilayah Kabupaten Purbalingga, meliputi kecamatan: Bobotsari, Mrebet, Bojongsari, Purbalingga, Kaligondang, dan Kemangkon. DAS Klawing termasuk salah satu kawasan rawan banjir di wilayah Purbalingga. Faktor utama yang berperan besar adalah curah hujan yang tinggi dan konservasi lahan di DAS Klawing, sehingga potensi terjadinya erosi juga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran tanah yang hilang akibat erosi pada DAS Klawing menggunakan metode RUSLE dan menentukan indeks bahaya erosi pada DAS Klawing, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu dengan piranti lunak ArcMap GIS. Kelima jenis peta yang dibutukan dalam penelitian ini diantaranya peta erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, vegetasi penutup tanah, dan konservasi lahan yang dinyatakan sebagai layer-layer dalam skala yang sama di dalam ArcGIS. Dilakukan tumpang tindih (overlay) terhadap kelima peta dengan cara mengkalikan kelima peta tersebut sehingga menghasilkan peta tingkat bahaya erosi. Penelitian ini menggunakan sampel data sepanjang 18 tahun dari tahun 2001 smpai tahun 2017. Berdasarkan hasil penelitian, DAS Klawing dari tahun 2001 sampai tahun 2017 mempunyai nilai erosi total sebesar 89.301.660 ton. Besar laju erosi yang terjadi di DAS Klawing mempunyai nilai yang variatif per tahunnya, hal ini sangat dipengaruhi dua parameter yang lebih dominan, yaitu faktor vegetasi penutup tanah dan faktor konservasi lahan.The Klawing watershed (DAS) are located in Purbalingga district, and includes sub-districts: Bobotsari, Mrebet, Bojongsari, Purbalingga, Kaligondang, and Kemangkon. The Klawing watershed is one of the flood prone area in Purbalingga District. The main factors are high rainfall and land conservation itself of Klawing watershed, so it also has high erosion potential. This research was purposed to determine the amount of soil lost due to erosion in Klawing watershed that are using RUSLE methods and determine the erosion hazard index in Klawing watershed, Purbalingga district. The methods was used of this research is using a Geographic Information System (GIS) approachment and supported by using ArcMap GIS Software. This research used 5 types of maps which are, rain erosivity maps, soil erodibility maps, slope length and slope maps, ground vegetation cover vegetation maps, and land conservation maps that stated as layers on a same scale in ArcGIS. Thus five maps are overlapped (overlay) by multiplying those five maps to produce an erosion hazard index map. This research took 18 years sample started from 2001 to 2017. Based on the results, Klawing watershed started on 2001 to 2017 had an erosion value of 89.301.660 tons. Klawing watershed has varied erosion value every year, that caused by two dominant parameters, thus are ground vegetation cover factor and land conservation factor.
2469127710I1D015032HUBUNGAN ASUPAN CAIRAN, KALIUM, DAN NATRIUM DENGAN STATUS HIDRASILatar Belakang: Cairan tubuh mengandung air dan elektrolit dimana keduanya sangat dibutuhkan tubuh. Elektrolit yang banyak dibutukan tubuh adalah natrium (Na+) dan kalium (K+). Kalium di dalam tubuh bekerja sama dengan natrium dalam mengatur keseimbangan muatan elektrolit cairan tubuh. Ketidakseimbangan cairan di dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan cairan, kalium, dan natrium dengan status hidrasi.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan 56 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Asupan cairan diambil dengan metode Food Recall 2x24 jam, asupan kalium dan natrium diambil dengan metode SQ-FFQ. Data dianalisis menggunakan uji Rank Spearman.
Hasil : Asupan cairan responden tertinggi yaitu kategori kurang sebesar 98,21%. Asupan kalium seluruh responden termasuk dalam kategori kurang. Asupan natrium responden tertinggi yaitu kategori kurang sebesar 94,6%. Status hidrasi responden tertinggi yaitu kategori kurang terhidrasi sebesar 73,2%. Berdasarkan analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara asupan cairan dengan status hidrasi (p=0,000), namun tidak terdapat hubungan antara asupan kalium dengan status hidrasi (p=0,135) dan tidak ada hubungan antara asupan natrium dengan status hidrasi (p=0,414).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asupan cairan dengan status hidrasi. Tidak terdapat hubungan antara asupan kalium dan asupan natrium dengan status hidrasi.
Background: Body fluids contain water and electrolytes in which both are needed by the body. The most needed electrolytes in the body are sodium (Na+) and potassium (K+). Potassium in the body works with sodium in regulating the body's electrolyte charge. An imbalance of fluids in the body can cause dehydration. This research aims to knowing the relationship between intake of fluid, potassium, and sodium with hydration status.
Method: This research was an observational study with a cross-sectional approach with 56 samples. The sampling technique used random sampling. Fluid intake was taken with 2x24 hour Food Recall, intake of potassium and sodium was taken with SQ-FFQ. Data were analyzed using the Rank Spearman test.
Results: The highest fluid intake of respondents was less category at 98,21%. Potassium intake of all respondents included in the category of less. The highest sodium intake of respondents was less category at 94,6%. The highest hydration status of respondents was less hydrated by 73,2%. Based on bivariate analysis showed that there was a relationship between fluid intake and hydration status (p = 0,000), but there was no relationship between potassium intake and hydration status (p = 0,135) and there was no relationship between sodium intake and hydration status (p = 0,414).
Conclusion: There was a significant relationship between fluid intake and hydration status. There was no relationship between potassium intake and sodium intake with hydration status.
2469227680I1C015016Hubungan Estimasi Kadar Fenitoin dalam Darah dengan Tanda Toksisitas yang Muncul Pada Pasien di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo PurwokertoPenelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan estimasi kadar fenitoin dalam darah dengan kejadian toksisitas terkait tanda toksik yang muncul pada pasien rawat inap RSUD Prof dr Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ibservasional ini dilakukan secara prospektif dengan mencatat rekam medik rawat inap dan wawancara pasien. Pengambilan data dilakukan secara total sampling pada pasien rawat inap bangsal saraf dan bangsal penyakit dalam RSUD Prof dr Margono Soekarjo Purwokerto selama bulan Mei hingga Juli 2019 dengan jumlah 30 pasien. Estimasi kadar fenitoin dan tanda toksisitas yang muncul didokumentasikan dalam lembar pengumpul data. Analisis statistic yang digunakan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 23 kasus dengan estimasi kadar fenitoin di bawah rentang terapi (<10 mg/L), 8 kasus sesuai rentang terapi (10-20 mg/L), dan 1 kasus di atas rentang terapi (>20 mg/L). Tanda toksisitas yang muncul hanya mual pada 2 pasien dengan estimasi kadar dibawah KTM (≤ 20 mg/L). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara estimasi kadar fenitoin dalam darah dengan kejadian toksisitas obat yang muncul pada pasien di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pemantauan kadar obat dalam darah sebaiknya dilakukan secara langsung dengan sampling darah.This study aimed to determine the correlation between serum level of phenytoin in blood and its toxicity using estimation method in hospitalized patients at RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. This study was an observational study with a prospective design by collected data from the patient medical record and conduct interview related to toxicity signs. Samples collected by total sampling method in hospitalized patients at the neurological care unit and internal diseases unit at RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto from May until July 2019 with total of 30 patients. The estimated serum level phenytoin and its toxicity case were collected in the data collected sheet, and was analysed statically using coefficient contingency. Research result obtained there were 23 cases with estimated serum levels phenytoin under therapeutic range (<10 mg / L), 8 cases in therapeutic range (10-20 mg/L), and 1 case above the therapeutic range (>20 mg/L). The case of toxicity appears in 2 cases with estimated serum levels phenytoin below MTC (≤ 20 mg/L) is nausea. The results showed that there is no correlations between serum level of phenytoin and its toxicity in hospitalized patients at RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Monitoring serum level phenytoin should be done directly by taking blood samples.
2469327711G1A015089HUBUNGAN ADEKUASI HEMODIALISIS DENGAN PERUBAHAN ANEMIA
DAN PERUBAHAN STATUS INDEKS MASSA TUBUH PADA
PASIEN HEMODIALISIS REGULER
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Berdasarkan data di beberapa pusat Nefrologi di Indonesia pada tahun 2016 tercatat sekitar 499.800 orang menderita PGK. Di Purwokerto, khususnya di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada tahun 2017 tercatat 144 pasien PGK yang rutin periksa ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Pencapaian adekuasi hemodialisis (HD) diperlukan untuk menilai efektivitas tindakan HD yang dilakukan. Status gizi yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) sangat berpengaruh pada pengobatan PGK dan PGK dapat menyebabkan anemia. Efektivitas tindakan HD dapat mempengaruhi status IMT maupun perubahan anemia. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan adekuasi hemodialisis dengan perubahan anemia dan perubahan status IMT pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis reguler di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo. Bentuk penelitian yang dilakukan adalah observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis rutin 2 kali seminggu selama minimal 3 bulan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto di tahun 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara adekuasi hemodialisis dengan perubahan anemia (p=0,524), ada hubungan bermakna antara adekuasi hemodialisis dengan perubahan status IMT (p=0,024). Adekuasi HD berhubungan dengan perubahan status IMT. Namun tidak berhubungan dengan perubahan anemia pada pasien hemodialisis reguler.
Chronic kidney disease (CKD) is a public health problem throughout the world. Based on data in several Nephrology centers in Indonesia in 2016 there were around 499,800 people suffering from CKD. In Purwokerto, especially at the RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in 2017 recorded 144 patients with CKD who routinely checked into the RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Achieving HD adequacy is needed to assess the effectiveness of HD actions performed. Nutritional status marked by BMI is very influential in the treatment of CKD and CKD can cause anemia. The effectiveness of HD action can affect BMI status and changes in anemia. The objective is to find out the correlation between hemodialysis adekuation with anemia changes and BMI changes status in patients with chronic renal failure undergoing regular hemodialysis at the RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo. The research is observational analytic using a cross sectional design with purposive sampling method. The subjects of this study were chronic kidney disease patients who underwent routine hemodialysis 2 times a week for a minimum of 3 months at Prof. RSUD. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in 2018. The results of this study indicate that there is no correlation between the hemodialysis adekuation and anemia changes (p= 0.524), there is a correlation between the hemodialysis adekuation and changes in BMI status (p= 0.024). There is a relationship between the hemodialysis adekuation and changes in BMI status, while the hemodialysis adekuation with changes in anemia has no significant relationship.
2469427713I1A015038FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAMANAN PANGAN PADA KERUPUK YANG DIJUAL DI PASAR PURWOKERTOFAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAMANAN PANGAN PADA KERUPUK YANG DIJUAL DI PASAR PURWOKERTO

Missi Suci (1), Kuswanto (2),Agnes Fitria W (2)

(1) Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
(2) Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman

Jl.Dr.Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123 Gedung B Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Telp. 0831 1691 1199 E-mail: missisuci@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang:Keamanan makanan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.Di Purwokerto banyak terdapat pasar yang didalamnya terdapat pedagang yang menjual bahan pangan, salah satunya kerupuk yang mempunyai bentuk dan warna yang menarik dan laris dijual dengan relative murah dan banyak dibeli oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keamanan panganpada kerupuk yang dijual di Pasar Purwokerto.

Metodologi :Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang kerupuk yang berada di Pasar Purwokerto yang berjumlah 50 pedagang.Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknikTotal Sampling.

Hasil Penelitian :Terdapat 11 sampel (22%) kerupuk mengandung Rhodamin B. Hasil uji bivariat menggunakan Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan (p=0.020) dan tingkat penjualan (p=0.008) dengan keamanan pangan pada kerupuk yang dijual di Pasar Purwokerto. Ada hubungan antara pengetahuan dan tingkat penjualan dengan keamanan pangan pada kerupuk serta tidak ada hubungan antara sikap dan peran pemerintah dengan keamanan pangan pada kerupuk.

Kesimpulan :Masih ditemukannya kerupuk yang tidak aman (mengandung Rhodamin B), 31 pedagang (62%) berpendidikan dasar dan 38 pedagang (76%) berjenis kelamin perempuan.

Kata Kunci:Kerupuk, Keamanan Pangan
ABSTRACT

FACTORS RELATED TO FOOD SAFETY IN CRACKS FOR SALE IN PURWOKERTO MARKET

Missi Suci (1), Kuswanto (2), Agnes Fitria W (2)

(1) Public Health Student at Jenderal Soedirman University
(2) Lecturer in Public Health, Jenderal Soedirman University



Background: Food safety is a very important aspect of daily life. This study aims to determine the factors associated with food safety in crackers which are sold in Purwokerto Market.

Methodology: This research was an observational analytic study with a cross sectional approach. The population in this study were all cracker traders who were in Purwokerto Market, amounting to 50 traders. Sampling in this study using the Total Sampling technique.

Research Results: There were 11 samples (22%) of crackers containing Rhodamin B. Bivariate test results showed a relationship between knowledge (p = 0.013) and level of sales (p = 0.008) with food safety in crackers sold in Purwokerto Market. There is a relationship between knowledge and level of sales with food safety in crackers and there is no relationship between the attitude and role of the government with food security in crackers.

Conclusion: There are still found unsafe crackers (containing Rhodamin B), as many as 31 respondents (62%) had basic education level categories (SD / MI, SMP / MTs) and 11 traders (76%) were female.

Keywords: Crackers, Food Safety
2469527714I1D015043Faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral pada pegawai Kantor Pemerintah Sekretaris Daerah Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Obesitas sentral adalah kondisi kelebihan lemak perut atau lemak pusat. Obesitas merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit degenerativ yang disebabkan oleh banyak faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral pada pegawai di Kantor Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian menggunakan subjek sebanyak 54 orang yang dipilih menggunakan simple random sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Obesitas sentral diukur menggunakan pengukuran Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP). Asupan makan menggunakan recall 2x24 jam, aktivitas fisik menggunakan form International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan kondisi mental emosional menggunakan form Self Reporting Questionnare (SRQ). Data dianalisis menggunakan uji fisher dan uji likelhood.
Hasil Penelitian: Hasil menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral pada pegawai di Kantor Pemerintah Kabupaten Banyumas sebesar 81,5% dengan rata-rata RLPP 0,93 cm dengan jenis kelamin perempuan sejumlah 30 orang. Asupan energi ±77,74%, asupan lemak ±80%, asupan serat ±21,96, aktivitas fisik ±600 MET-menit/minggu, durasi tidur ±6 jam dan stress ±3 pertanyaan.
Kesimpulan: Obesitas sentral tidak berhubungan dengan jenis kelamin, genetik, asupan energi, asupan lemak, asupan serat, aktivitas fisik, durasi tidur dan berhubungan dengan kondisi mental emosional.
Kata Kunci: Obesitas sentral, Asupan energi, Asupan lemak, Aktivitas fisik, Kondisi mental emosional.
Background: Central obesity is a condition of excess belly fat or central fat. Central obesity is one of the causes of degenerative diseases caused by many risk factors. This study aims to determine the factors related with central obesity among employees at the Government Office of the Secretary Region of Banyumas Regency.
Method: This study was an observational study with a cross-sectional approach. The study used 54 subjects who were selected using simple random sampling with inclusion and exclusion criteria. Central obesity is measured using Waist and Pelvic Circumference (RLPP) measurements. Meal intake uses 2x24 hour recall, physical activity uses the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) form and mental emotional conditions using the Self Reporting Questionnare (SRQ) form. Data were analyzed using Fisher test and likelhood test.
Research Results: The results showed the prevalence of obesity was centered on employees in the Banyumas Regency Government Office of 81.5% with an average RLPP of 0.93 cm with a female gender of 30 people. Energy intake ± 77.74%, fat intake ± 80%, fiber intake ± 21.96, physical activity ± 600 MET-minutes / week, sleep duration ± 6 hours and stress ± 3 questions.
Conclusion: Central obesity is not related to gender, genetic, energy intake, fat intake, fiber intake, physical activity, sleep duration and related to mental emotional state.
Keywords: Central obesity, energy intake, fat intake, physical activity, emotional mental state.
2469627702G1B014070FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI KAMPUNG KB KELURAHAN KARANG PUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATANFAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI KAMPUNG KB KELURAHAN KARANG PUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN
Rosiana Nurul Hidayati¹, Colti Sistiarani², Arrum Firda Ayu M³

¹Mahasiswa kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
²Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman

Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53121 Gedung B Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Telp. 082227034451 Email: rosiana.nurul@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang: Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar karena jumlah penderita HIV/AIDS terus mengalami peningkatan, tercatat pada tahun 2017 di Indonesia terdapat 11.049 kasus HIV/AIDS dan di Jawa Tengah terdapat 1.258 kasus HIV/AIDS sehingga mengakibatkan turunnya produktifitas kerja. Sebagai upaya pencegahan terhadap HIV/AIDS sejak usia remaja salah satunya dengan mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Kampung KB Kelurahan Karang Pucung Kecamatan Purwokerto Selatan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Populasi seluruh remaja usia 10-20 tahun di Kampung KB Kelurahan Karang Pucung Kecamatan Purwokerto Selatan yang berjumlah 110 remaja dengan sampel 74 remaja. Analisis yang digunakan analisis univariat,bivariat, dan multivariat.
Hasil Penelitian: Hasil analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan: pendidikan remaja (p=0,000), akses informasi (p=0,000), dan peran orang tua (p=0,017), sedangkan yang tidak berhubungan: jenis kelamin remaja (p=0,645). Hasil analisis multivariat menunjukan variabel yang paling berpengaruh: akses informasi.
Simpulan: ada hubungan pendidikan remaja, akses informasi dan peran orang tua terhadap pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan tidak ada hubungan jenis kelamin remaja dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.
Kata kunci: HIV/AIDS, Remaja, Pengetahuan

FACTORS RELATED TO THE KNOWLEDGE OF ADOLESCENTS ABOUT HIV/AIDS IN THE KB VILLAGE OF KARANG PUCUNG SUB-DISTRICT SOUTH PURWOKERTO
Rosiana Nurul Hidayati¹, Colti Sistiarani², Arrum Firda Ayu M³

¹Mahasiswa kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
²Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman

Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53121 Gedung B Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Telp. 082227034451 Email: rosiana.nurul@gmail.com

ABSTRACT
Background: HIV/AIDS is the biggest health problem because the number of HIV/AIDS sufferers continues to increase, recorded in 2017 in Indonesia there were 11,049 cases of HIV/AIDS and in central java there were 1,258 cases of HIV/AIDS resulting in decreased work productivity. As an effort to prevent HIV/AID since adolescence, one of them is by knowing adolescent knowledge about HIV/AIDS. The purpose of this study was to determine the factors associated with knowledge of HIV/AIDS in the KB Village of Karang Pucung Sub-district south Purwokerto.
Methods: This research is a quantitative research using cross-sectional approach with a purposive sampling technique. Population of all adolescents aged 10-20 years in the KB village of Karang Pucung Sub-district South Purwokerto. which amounted to 110 adolescents with a sample of 74 adolescents. The analysis used univariate, bivariate, and multivariate analysis.
Result: The result of bivariate analysis shows related variables: teen education (p=0,000), access to information (p=0,000) and the role of parents (p=0,017), while unrelated: gender (p=0,645). The most influential multivariate analysis results: access to information.
Conclusion: There is teen education, access to information and the role of parents knowledge of HIV/AIDS and there is no gender knowledge of HIV/AIDS.
Keywords: HIV/AIDS, adolescent, eduction

2469727716K1C015055SIMULASI PERHITUNGAN DOSIS SERAP PADA VARIASI UKURAN JARINGAN KANKER PAYUDARA DENGAN TEKNIK RADIOTERAPI KONFORMAL TIGA DIMENSI Teknik radioterapi konformal tiga dimensi dengan penambahan multileaf colimator telah menjadi standar minimum radioterapi di negara maju dan negara berkembang dalam perencanaan pemberian dosis radiasi secara akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dosis serap jaringan kanker payudara dengan teknik radioterapi konformal tiga dimensi. Multileaf collimator dimodelkan berupa balok dengan ukuran (40 x 40 x 7,5) 〖cm〗^3 . Di tengahnya disisipi ruang kosong yang berbentuk bola dengan variasi diameter 0,9 cm dan 1,3 cm. Jaringan kanker dimodelkan berbentuk bola dengan diameter 2,0 cm dan 3,0 cm yang ditempatkan di pusat payudara kiri. Untuk memastikan jatuhnya berkas foton pada target kanker, dilakukan track plotting pada program MCNPX. Dosis serap pada arah penyinaran 300° dan 120°didapat dari hasil running tally f6. Hasil track plotting memperlihatkan berkas foton yang jatuh merata pada target untuk setiap sudut penyinaran. Dosis serap gabungan untuk kedua arah penyinaran, didapat pada jaringan kanker dengan diameter 2 cm adalah 0,83 Gy dan pada jaringan kanker berdiameter 3 cm adalah 0,71 Gy. Three-dimensional conformal radiotherapy technique with the addition of multileaf colimator has become the minimum standard of radiotherapy in developed and developing countries in planning accurate radiation dosing. This study aims to calculate the absorptive dose of breast cancer tissue with a three-dimensional conformal radiotherapy technique. Multileaf collimator is modeled in the form a size (40 x 40 x 7,5) 〖cm〗^3. In the middle is inserted a ball-shaped empty space with variations in diameter of 0,9 cm and 1,3 cm. Cancer tissue is modeled in the shape of a ball with a diameter of 2,0 cm and 3,0 cm which is placed at the center of the left breast. To ensure the fall of a photon beam to a cancer target, a track plotting performed on the MCNPX program. Absorption doses in the direction of irradiation of 300° and 120° are obtained from running tally f6 results. The track plotting results show a photon beam that falls evenly on the target for each irradiation angle. The combined absorbent dose for both directions of radiation, obtained in cancer tissue with a diameter of 2 cm is 0,83 Gy and in cancer tissue with a diameter of 3 cm is 0,71 Gy.
2469827717I1C015045SINTESIS NANOSILVER DENGAN METODE REDUKSI MENGGUNAKAN LIMBAH AMPAS TAHUNanosilver merupakan partikel perak dalam ukuran nano yang memiliki banyak manfaat dalam aplikasi dunia kesehatan. Nanosilver dapat disintesis menggunakan reduktor alami yang ramah lingkungan. Sumber reduktor alami yang berpotensi untuk dimanfaatkan adalah ampas tahu, karena mengandung pati. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kadar gula pereduksi ampas tahu dan karakteristik nanosilver yang terbentuk pada proses sintesis. Metode analisis dilakukan dengan uji kualitatif protein menggunakan metode biuret, uji kuantitatif gula pereduksi menggunakan metode Somogyi-Nelson pada spektrofotometer uv-vis, dan karakterisasi nanosilver menggunakan spektrofotometer uv-vis dan particle size analyzer.Hasil penelitian menunjukan hasil positif protein pada uji Biuret dengan kadar gula pereduksi sebesar 5,49 %b/b ampas tahu. Sementara karakteristik nanosilver yang didapat adalah  maksimum pada 424 nm dan nilai z-average sebesar 279,6 nm, rata-rata polydispersity index sebesar 0,429, dan rata-rata intensitas ukuran sebesar 609,6 nm. Kesimpulan Gula pereduksi dari ampas tahu dapat digunakan pada proses sintesis nanosilver dengan konsentrasi sebesar 100 ppm. Karakteristik nanosilver yang didapatkan menunjukan nanosilver berada pada rentang nanopartikel dengan nilai PDI yang baik.Nanosilver is a nanoparticle silver which has benefits in health applications. Nanosilver can be synthesized using eco-friendly reductor. The source of eco-friendly reductor that have potential to be used is tofu waste, because it contain starch. The aim of this study was to determine the level of reducing sugar from tofu waste and the nanosilver characteristics formed in the synthesis process. The analysis method was carried out with qualitative protein test using biuret method, quantitative test of reducing sugars using Somogyi-Nelson method with uv-vis spectrophotometer, and nanosilver characterization using uv-vis spectrophotometer and particle size analyzer. The results showed positive result in biuret test and reducing sugar levels of 5.49% w/w. While the nanosilver characteristics obtained are the maximum wavelength at 424 nm, z-average value of 279.6 nm, average polydispersity index of 0.429, and average value of size intensity of 609.6 nm. Conclusion the reducing sugar from tofu waste can be used to synthesized nanosilver with concentration of 100 ppm. The characteristics obtained show that nanosilver is in size of nanoparticles with good PDI.
2469927718G2A017005DETEKSI Plasmoudium knowlesi PADA MANUSIA DI KECAMATAN MUARA KOMAM KALIMANTAN TIMURPlasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia ada lima spesies; P. falciparum, P. vivax, P. malariae, P. ovale dan P. knowlesi. Inang alami dari Plasmodium knowlesi adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Pemeriksaan molekuler nested PCR merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik untuk identifikasi P. knowlesi. Tujuan penelitian ini untuk mendeteksi P. knowlesi pada manusia dengaan pemeriksaan RDT, mikroskopis, dan nested PCR. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dengan subyek penelitian pasien terduga terinfeksi malaria yang melakukan pemeriksaan malaria di Puskesmas Muara Komam dengan jumlah 123 pasien. Pemeriksaan mikroskopis dan pemeriksaan RDT dilakukan di Puskesmas Muara Komam, sedangkan untuk identifikasi P. knowlesi dengan metode nested PCR dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Eijkman Jakarta. Hasil pemeriksaan P. knowlesi tidak ditemukan dengan pemeriksaan RDT maupun mikroskopis. Namun sebanyak 16 dari 123 (13%) sampel positif malaria P. falciparum dan P. vivax dengan dan 10 dari 123 (8,1%) sampel positif malaria P. falciparum dan P. vivax secara mikroskopis. Pemeriksaan nested PCR yang menargetkan gen ssu rRNA mengidentifikasi sebesar 6 dari 123 (4,87%) sampel positif P. knowlesi. Penelitian ini memberikan bukti tentang adanya penyebaran infeksi P. knowlesi pada manusia di Muara Komam, Kalimantan Timur.There are five species of Plasmodium that cause malaria in humans; P. falciparum, P. vivax, P. malariae, P. ovale and P. knowlesi. The natural host of Plasmodium knowlesi is a long-tailed macaque (Macaca fascicularis). Nested PCR assays is the most sensitive and specific test to identify P. knowlesi. The present study aimed detect P. knowlesi in humans by RDT, microscopy and nested PCR assays. This study was a descriptive study with a cross-sectional approach and research subjects were malaria suspected patients at the Muara Komam Health Center with a total of sample 123 patients. Microscopy and RDT were done at the Muara Komam Health Center, whereas identification of P. knowlesi used nested PCR assays worked at the Eijkman Molecular Biology Laboratory in Jakarta. A total of 123 samples were negative for P. knowlesi by microscopy and RTDs. However, 16 of 123 (13%) samples were positive of P. falciparum and P. vivax by RDT and 10 of 123 (8.1%) samples were positive of P. falciparum and P. vivax by microscopy. Six of 123 (4.87%) samples were positive P. knowlesi by nested PCR by targeting ssu rRNA gene. This study provides evidence of the spread of P. knowlesi infection in humans in Muara Komam, East Kalimantan.
2470028699F1F016070Dampak New Southern Policy Korea Terhadap Hubungan Kerja Sama Ekonomi Politik Indonesia-Korea Selatan Tahun 2017-2019Penelitian yang berjudul “Dampak New Southern Policy Korea Terhadap Hubungan Kerja Sama Ekonomi Politik Indonesia-Korea Selatan Tahun 2017-2019” ini dianalisis berdasarkan konsep interdependensi dan teori kerjasama internasional. Fokus penelitian ini adalah menganalisis mengenai bagaimana dampak kebijakan new southern policy Korea terhadap hubungan kerja sama ekonomi politik Indonesia-Korea Selatan pada tahun 2017-2019 dengan memfokuskan pada hubungan perdagangan, investasi, finansial dan politik. Hubungan tersebut akan membawa kedua negara pada kerja sama bilateral. Berdasarkan data-data yang diperoleh, adanya kebijakan new southern policy Korea membawa dampak pada peningkatan hubungan kerja sama ekonomi politik Indonesia-Korea Selatan. Hal ini dikarenakan kebijakan new southern policy membawa kedua negara pada peningkatan status hubungan kedua negara menjadi special strategic partnership. Dimana status tersebut dilandaskan kesamaan prinsip dan nilai-nilai demokrasi, HAM, dan ekonomi terbuka. Lalu dalam implementasinya, kebijakan new southern policy membuahkan kerja sama kedua negara dimana menargetkan perdagangan sebesar US$ 30 Milyar pada 2022 dan menghasilkan nota kesepahaman dengan investasi sebesar US$ 6,2 Milyar pada 2018. Hubungan kedua negara diyakini akan semakin meningkat mengingat pemenuhan akan kebutuhan masing-masing dan situasi global yang tidak menentu.The study entitled “The Impact of Korea's New Southern Policy on the Cooperation between Indonesia and South Korea's Political Economy in 2017-2019” was analyzed based on the concept of interdepence and international cooperation theory. The focus of this study is to analyze the impact of New Southern Policy Korea on the economic-political cooperation relationship between Indonesia and South Korea in 2017-2019 by focusing on trades, investments, financials, and political relations. This relationship will brings the two countries into bilateral cooperation. Based on the findings, the existence of New Southern Policy Korea has an impact on increasing the relationship of economic-political cooperation between Indonesia and South Korea. This happened because the New Southern Policy Korea has brought them to become a special strategic partnership, where the status based on the equality of principles and values of democracy, human rights, and the open economy. Then, in its implementation, the New Southern Policy produced a cooperation between them that target the trade of US$ 30 Billion in 2022 and produced a memorandum of understanding with an investment of US$ 6,2 Billion in 2018. The relationship between the two countries is believed to be increasing considered the fulfillment of needs from each countries and uncertain global situations.