Artikelilmiahs

Menampilkan 24.621-24.640 dari 50.309 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2462127644F1A015047Perceraian Pada Ibu Rumah Tangga
(Studi Kasus Cerai Gugat di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas)
Artikel ini mendeskripsikan alasan ibu rumah tangga di Desa Pageraji melakukan cerai gugat dan pemaknaan perceraian dari perspektif ibu rumah tangga sebagai pelaku cerai gugat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan sasaran utama penelitian adalah ibu rumah tangga. Hasil penelitian ini ditemukan delapan alasan yang mendorong perempuan dengan status ibu rumah tangga melakukan gugatan perceraian antara lain: alasan kekurangan ekonomi, suami yang tidak bertanggungjawab, suami melakukan perselingkuhan, suami pergi meninggalkan istri, dan perjodohan, usia saat bercerai, lingkungan sosial, dan adanya bantuan sosial dari pemerintah yang dapat meringankan beban finansial. Beberapa pemaknaan perceraian dari prespektif ibu rumah tangga sebagai pelaku cerai gugat antara lain: perceraian merupakan jalan untuk memperoleh kejelasan status, perceraian merupakan jalan untuk mencapai tujuan pernikahan yang sebelumnya telah gagal dengan melakukan remarriage, perceraian merupalkan jalan untuk menghindari dosa akibat ketidakikhlasan dalam menjalanani kehidupan rumah tangga, dan perceraian juga merupakan jalan untuk memperoleh ketenangan hidup dari permasalahan yang ada dalam rumah tangga. This article describes the reasons housewives in Pageraji Village make divorce and divorce interpretations from the perspective of housewives as contenders for divorce. The method used in this research is descriptive qualitative method with the main research objective is housewife. The results of this study found facts that encourage women with the status of housewives to make divorce suits, among others: economic reasons, irresponsible husbands, husbands committing adultery, husbands going to visit wives, and arranged marriages, telling stories of divorce, social environment, and consider social assistance from the government that can ease the financial burden. Some of the interpretations of divorce from the perspective of housewives are as follows divorce: divorce is a way to obtain clarity of status, divorce is a way to achieve the goal of marriage that is expected to support rework, divorce is a way to help the stairs, and divorce is also a way to get peace of life from the debate in the household.
2462227646J1B015025Gaya Bahasa Personifikasi Serta Efek yang Ditimbulkannya pada Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko DamonoPenelitian ini berjudul “Gaya Bahasa Personifikasi Serta Efek yang Ditimbulkannya pada Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono”. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan gaya bahasa personifikasi pada kumpulan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono serta efek yang ditimbulkan dari penggunaannya. Bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan menggunakan pendekatan stilistika.
Adapun hasil penelitian dari kumpulan puisi Hujan Bulan Juni ini terdapat empat puluh lima majas personifikasi yang ditemukan. Selain itu, terdapat efek mengindahkan karena pemanfaatannya sebagai sarana pengkiasan makna, ambiguitas sehingga membuat penarasian bercabang maknanya, dan menghasilkan efek tidak membosankan karena membuat pembaca ingin lebih mendalami maknanya.
The tittle of this research is “Gaya Bahasa Personifikasi Serta Efek yang Ditimbulkannya pada Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono”. This research aimed to describe the personification of style language from it, and the effect of itself.this research were using qualitative and descriptive method, and used the stylistica approach.
The results of this research there was fourth five personification style language, also there was heed effect because of its use as a means purifying meaning, ambiguity so the narrations becomes brunched in meaning and produces a non-boring effect beacuse it makes the reader want to go deeper into the meaning.
2462327648H1H013019INVENTARISASI EKTOPARASIT PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DAN IKAN KOKI (Carasius auratus) YANG DIPERJUALBELIKAN DI TOKO IKAN HIAS HOBIKU PURWOKERTOTujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi ektoparasit yang mencakup nilai prevalensi dan nilai intensitas ektoparasit yang menyerang ikan hias Koi (Cyprinus carpio) dan ikan Koki (Carassius auratus). Sampel ikan berjumlah 15 individu/spesies diperoleh dari toko Hobiku pada bulan Januari sampai April 2019. Pengamatan ektoparasit dilakukan pada sampel mucus yang diambil dari insang dan permukaan tubuh mengunakan mikroskop.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 4 jenis ektoparasit pada ikan Koi dan ikan Koki. Trichodina sp.; Dactylogyrus sp.; dan Gyrodactylus sp. ditemukan pada kedua spesies, sedangkan Argulus sp. hanya ditemukan pada ikan Koki. Jenis parasit pada ikan koi dengan nilai prevalensi paling tinggi adalah Dactylogyrus sp. (46%, insang) diikuti Trichodina sp. (40%, permukaan tubuh), dan Gyrodactylus sp. (26%, insang). Jenis parasit pada ikan Koki dengan nilai prevalensi paling tinggi adalah Gyrodactylus sp. (53%, insang), diikuti oleh Dactylogyrus sp. (47%, insang). Trichodina sp. ditemukan dengan intensitas tertinggi pada ikan Koi (7,83 ind parasit/ikan terinfeksi, permukaan tubuh) dan pada ikan Koki ( 7,33 ind parasit/ikan terinfeksi, permukaan tubuh). Hasil ini mengindikasikan bahwa infeksi ektoparasit adalah ancaman pada budidaya ikan hias.
The purpose of this research were to inventory ectoparasite and to determine prevalence and intensity values of the ectoparasite on Koi carp (Cyprinus carpio) and gold fish(Carassius auratus). A total of fifteen (15) samples/species was obtained from Hobiku shop from January to April, 2019. Ectoparasite observation was done microscopically on mucus sample scrapped from gill and body surface.The results showed that there were 4 types of ectoparasites found in Koi carp and Gold fish. Trichodina sp .; Dactylogyrus sp .; and Gyrodactylus sp. were found in both species, while Argulus sp. was only found in Gold fish. The parasite in Koi carp with the highest prevalence value was Dactylogyrus sp. (46%, gills), followed by Trichodina sp. (40%, body surface), and Gyrodactylus sp. (26%, gills). The parasitic species in Koi carp with the highest prevalence was Gyrodactylus sp. (53%, gills), followed by Dactylogyrus sp. (47%, gills). Trichodina sp. was found with the highest intensity in Koi fish (7.83 ind parasites / infected fish, body surface) and Gold fish (7.33 ind parasites / infected fish, body surface). These results indicate that ectoparasite infection is a threat to ornamental fish farming.
2462427649F1B015032IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN DESTINASI PARIWISATA DI KABUPATEN CIAMISData Badan Pusat Statistik tahun 2016-2018 sektor pariwisata berkontribusi dengan baik dalam meningkatkan devisa negara dengan kenaikan jumlah wisatawan dari tahun ke tahun, selain mampu menarik wisatawan, Beberapa obyek wisata yang berada di Kabupaten Ciamis ada yang sepenuhnya di kelola oleh Pemerintah Daerah yang di tugaskan kepada Dinas Pariwisata, ada pula yang dikelola oleh masyarakat ataupun desa di sekitar obyek pariwisata. Penelitian ini mengkaji tentang implementasi program pengembangan destinasi pariwisata di Kabupaten Ciamis karena sebelumnya Kabupaten Ciamis di dalamnya mencakup wilayah pariwisata yang terkenal sudah mancanegara yaitu Kabupaten Pangandaran tetapi sejak 25 Oktober 2012 telah melakukan pemisahan wilayah menjadi Kabupaten, sejak itu Kabupaten Ciamis mengalami penurunan PAD secara drastis karena telah kehilangan primadona bidang kepariwisataan. Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis dalam menghadapi situasi tersebut maka dibuatlah kebijakan program pengembangan destinasi pariwisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan fokus penelitian implementasi program pengembangan destinasi pariwisata di Kabupaten Ciamis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi kebijakan program pengembangan destinasi pariwisata yang diharapkan dapat meningkatkan PAD, ekonomi masyarakat serta meningkatkan daya saing belum mampu membuat perubahan sesuai yang direncanakan. Adanya kebijakan program pengembangan pariwisata belum memberikan hasil yang signifikan, akan tetapi upaya Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis sudah semaksimal mungkin, faktor dana serta SDM Dinas Pariwisata yang tidak sesuai dengan kemampuan dalam penempatan kerja yang membuat progam tidak berjalan dengan maksimal.Data from the Central Statistics Agency in 2016-2018 tourism sector contributed well in increasing the country's foreign exchange by increasing the number of tourists from year to year, Some tourism objects in Ciamis Regency are fully managed by the Regional Government assigned to the Department of Tourism, some are managed by the community or villages around the tourism object. This study examines the implementation of a tourism destination development program in Ciamis Regency because previously Ciamis Regency included a well-known tourism area which is internationally known as Pangandaran Regency but since October 25, 2012 has divided regions into Regencies, since then Ciamis Regency has experienced a drastic decrease in PAD because has lost the belle of tourism. Ciamis Regency Government in dealing with this situation, a tourism destination development policy program was made. The research method uses qualitative research with the focus of the implementation of tourism destination development programs in Ciamis Regency. The results of this study indicate that the implementation of tourism destination development program policies that are expected to increase PAD, the community's economy and increase competitiveness have not been able to make changes as planned. The tourism development program policy has not yet yielded significant results, but the efforts of the Ciamis District Tourism Office have been as maximum as possible, the funding and HR factors of the Tourism Office that are not in accordance with the capabilities in work placements that make the program not run optimally.
2462527622I1A015029DETERMINAN PERILAKU SADARI PADA WANITA USIA SUBUR PENGGUNA KB HORMONAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBANG 1 KABUPATEN BANYUMAS
TAHUN 2019
ABSTRAK
Latar Belakang : Kanker payudara merupakan penyebab kematian terbanyak pada wanita. Salah satu faktor risiko kanker payudara adalah pemakaian KB hormonal. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan upaya yang efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara yang dapat menekan angka kematian sebesar 25-30%. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis determinan perilaku SADARI pada wanita usia subur pengguna KB hormonal di Wilayah Kerja Puskesmas Sumbang 1.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Variabel penelitian: pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat, dan peran petugas kesehatan, dengan populasi berjumlah 855, dan sampel berjumlah 87 dengan pembambilan sampel menggunakan teknik randon sampling. Uji yang dilakukan Univariat, Bivariat (Chi-square), Multivariat (Regresi Logistik).
Hasil Penelitian : Analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan adalah dukungan keluarga (p = 0,011), dan peran petugas kesehatan (p = 0,042). Analisis multivariat menunjukkan variabel yang berpengaruh adalah dukungan keluarga dengan POR 3,853 (CI 1,501-9,891) dan sikap dengan POR 2,547 (CI 1,011-6,419).
Kesimpulan : Determinan perilaku SADARI pada wanita usia subur pengguna KB hormonal di Wilayah Kerja Puskesmas Sumbang 1 adalah dukungan keluarga. Masyarakat diharapkan dapat melakukan perilaku SADARI sesuai dengan prosedur yang benar untuk mengenal lebih awal gejala kanker payudara, sehingga dapat mencegah terjadinya kanker payudara
Kata Kunci : Kanker payudara, KB Hormonal, Perilaku SADARI.
ABSTRACT
Background: Breast cancer is the most common cause of women’s death. One risk factor for breast cancer is the use of hormonal contraceptive. Breast self-examination (BSE) is an effective way for breast cancer early detection, so it can reduce mortality by 25-30%. The purpose of this study was to analyze the determinant of BSE behavior in women of childbearing age with hormonal contraceptive in Puskesmas 1 Sumbang working area.
Method: This study used a cross-sectional approach, with variabels of : knowledge, attitude, information exposure, family’s support, community leader’s support, and the role of health officer. The population in this study was 855 women and the samples were 87 women selected using random sampling technique. The data analyzed in Univariate, Bivariate (Chi-square), and Multivariate (Logistic Regression).
Results: The bivariate analysis showed that the related variabels were family support (p = 0.011), and the role of health officer (p = 0.042). Multivariate analysis showed that the dominant variabels were family support with POR 3,853 (CI 1,501-9,891) and attitude with POR 2,547 (CI 1,011-6,419).
Conclusion: Determinans of breast self-examination (BSE) behavior of women of childbearing age using hormonal contraceptive in Puskesmas 1 Sumbang. The public is expected to be able to perform BSE behavior according to the correct procedures to get to know early symptoms of breast cancer, so as to prevent the occurrence of breast cancer.
Keywords: Breast cancer, Hormonal contraceptive, BSE behavior
2462627142K1C015008Simulasi Kuantum Prosed Dekarboksilasi pada Permukaan PtRu(111) berbasis Density Functional TheoryPenelitian terkait simulasi kuantum untuk pemecahan COOH menjadi CO2 dan H pada permukaan PtRu(111) dengan Density Functional Theory (DFT) telah berhasil dilakukan. Logam Platinum (Pt) digunakan sebagai katalis dengan memecah COOH untuk mempermudah jalannya reaksi antara air dan methanol dari reaksi DMFC. Campuran logam Ruthenium (Ru) sendiri ditambahkan untuk mengurangi efek racun yang dihasilkan dari katalis Pt akibat menyerap banyak senyawa CO yang terbentuk dari reaksi air dengan methanol. Metode yang dilakukan untuk mengetahui energi dari tiap-tiap situs menggunakan DFT, yang merupakan metode akurat untuk menghitung energi suatu sistem atom kompleks dengan mempertimbangkan sifat elektroniknya. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa energi aktivasi yang paling rendah untuk memecah COOH menjadi CO2 dan H adalah sebesar 0,29 eV menggunakan metode NEB. Mekanisme pemecahan COOH menjadi CO2 dan H dapat terjadi akibat molekul CO2 terserap kuat pada atom bridge PtRu di permukaan. Muatan di sekitar atom H berpindah menuju atom Pt di permukaan, sehingga membuat atom H tertarik menuju atom Pt yang kemudian memicu terpecahnya molekul CO2.Quantum simulation for the decarboxylation of COOH into CO2 and H on the surface of PtRu (111) using Density Functional Theory (DFT) has been successfully carried out. This simulation can later be used as a consideration for realizing Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). This research was conducted to find out how much energy barrier is in the process of deformation COOH to CO2 and H, and the mechanism that occurs during the solution. Platinum metal (Pt) is used as a catalyst by breaking down COOH to facilitate the reaction between water and methanol from the DMFC reaction. The Ruthenium (Ru) metal alloy itself is added to reduce the toxic effects produced from the Pt catalyst as it absorbs many CO compounds formed from the reaction of water with methanol. The method used to determine the energy of each site is by DFT, which is an accurate method for calculating the energy of a complex atomic system by considering its electronic properties. Based on the results of the study, it is known that the lowest activation energy to break down COOH into CO2 and H is 0,29 eV using the NEB method with the initial position of the PtRu bridge and the final position of the CO2 site in the hollow FCC and H is at the top of Pt. These results are calculations performed using the NEB method to find stable sites between the initial position and the final position of the decarboxylation COOH solution.
2462727651J1B015010ANALISIS KONTRASTIF VERBA BERMAKNA MENYAKITI DALAM BAHASA SUNDA DAN BAHASA INDONESIAPenelitian ini berjudul “Analisis Kontrastif Verba Bermakna menyakiti dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia”. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan komponen makna, persamaan dan perbedaan komponen makna dalam bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia, serta relasi semantisnya. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini berlandaskan pada kajian semantik dan analisis kontrastif. Jenis penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Metode analisis data yang digunakan ialah metode padan dengan teknik dasar pilih unsur penentu dan teknik lanjutan hubung banding. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak libat cakap dan teknik cakap.
Hasil dari penelitian ini komponen makna pada verba bermakna menyakiti terdiri dari komponen makna sasaran, komponen makna bagian atau alat yang digunakan, komponen makna cara yang dilakukan, serta komponen makna arah pergerakan. Selain itu persamaan terdapat pada komponen makna bagian atau alat yang digunakan dan perbedaan pada komponen makna terdapat pada komponen makna sasaran dan arah pergerakannya. Relasi semantisnya meliputi; relasi inklusi, relasi tumpang tindih, relasi keberlwanan, dan relasi persinggungan. Hampir semua leksem dalam bahasa Sunda termasuk ke dalam relasi inklusi dan hanya sedikit yang termasuk ke dalam relasi keberlawanan.
This research is entitled "Contrastive Analysis of Meaningful Verbs to Hurt in Sundanese and Indonesian". The purpose of this research is to describe the components of meaning, similarities and differences in the meaning of meaningful verbs that hurt in Sundanese with Indonesian, and their semantic relations. The analysis used in this research is based on semantic studies and contrastive analysis. This type of research is descriptive qualitative. Data analysis method used is the method of matching with the basic technique of selecting the determining elements and the advanced comparative relationship technique. The data collection techniques used in this research are the methods of listening competently involved the conversation and conversation techniques.
The results of this research are the meaning components of meaningful verbs to hurt consists of the components of the target meaning, the component meaning of the part or tool used, the component meaning of the way that is done, as well as the component meaning of the direction of movement. In addition, there are similarities in the component meaning of the part or tool used and differences in the component meaning are in the component meaning of the target and the direction of its movement. Semantic relations include; inclusion relations, overlapping relations, voluntary relations, and contact relations. Almost all leksem in Sundanese are included in the relations of inclusion and only a few are included in the opposite relations.
2462827653F1J014048IMPLEMENTASI HONNE TATEMAE PADA PENYELESAIAN KONFLIK MASYARAKAT DALAM ANIME DURARARA!!!Penelitian ini berjudul “Implementasi Honne Tatemae pada Penyelesaian Konflik Masyarakat dalam Anime Durarara!!!” Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan makna dan implementasi dari honne dan tatemae yang diterapkan pada penyelesaian konflik masyarakat oleh tokoh utama, Ryuugamine Mikado. Data yang digunakan berupa monolog dan dialog yang diucapkan oleh tokoh utama dalam anime Durarara!!!. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori konflik sosial milik Soekanto. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simat dan catat. Analisis dilakukan pada 25 (dua puluh lima) episode pada anime, dengan hasil 4 (empat) perilaku honne, 2 (dua) perilaku tatemae, dan 18 (delapan belas) implementasi honne tatemae pada penyelesaian konflik masyarakatThis research is entitled “Implementation of Honne Tatemae in Solving Social Conflict in Durarara!!! Anime”. The purpose of this research is to explain the meaning and implementation of honne and tatemae which is applied upon conflict in community by the main character Ryuugamine Mikado. Data were collected in form of monologues and dialogues which were spoken by the main character. This research’s theory based on conflict social theory by Soekanto. Methods which is used in this research was descriptive qualitative methods. The techniques used in this study were to refer and note. Analysis was done upon 25 (twenty five) episodes, with 4 (four) honne’s acts, 2 (two) tatemae’s acts, and 18 (eighteen) honne tatemae’s implementation in conflict social solution as the results.
2462927654F1B115019KINERJA BALAI LATIHAN KERJA CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH DALAM PENYELENGGARAAN PELATIHAN KERJAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Kinerja Balai Latihan Kerja Cilacap Provinsi Jawa Tengah dalam Penyelenggaraan Pelatihan Kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Sasaran penelitian ini adalah pegawai BLKC Provinsi Jawa Tengah. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan rata-rata (mean). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada 31 responden menunjukkan rata-rata nilai indeks kinerja BLKC Provinsi Jawa Tengah dalam penyelenggaraan pelatihan kerja adalah sebesar 74,2% sehingga termasuk dalam kategori baik. Adapun hasil analisis berdasarkan dimensi yaitu, rata-rata nilai indeks pada dimensi input sebesar 71,4% masuk kategori baik. Rata-rata nilai indeks pada dimensi process sebesar 80,5% dengan kategori sangat baik. Rata-rata nilai indeks pada dimensi output sebesar 83,5% dengan kategori sangat baik. Rata-rata nilai indeks pada dimensi outcome sebesar 76,4% dengan kategori baik.This study aims to determine and describe the Performance of the Job Training Center Cilacap, Central Java Province in the Implementation of Job Training. The research method used is descriptive quantitative. The target of this research is BLKC Central Java Province employees. The method of data analysis in this study uses the frequency distribution and the mean (mean). Data collection methods used were questionnaire, interview, observation, and documentation. Based on the results of the analysis conducted on 31 respondents showed the average value of the performance index of the Central Java BLKC in the organization of job training was 74.2% so it was included in the good category. The results of the analysis based on dimensions, namely, the average index value on the input dimension of 71.4% is in the good category. The average index value on the process dimension is 80.5% with a very good category. The average index value on the output dimension is 83.5% with a very good category. The average index value on the outcome dimension is 76.4% with a good category.
2463028830D1A016151KONSUMSI SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR PAKAN KAMBING YANG DISUPLEMENTASI TEPUNG BAWANG PUTIH (Allium sativum) DAN MINERAL CHROMIUM ORGANIKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi tepung bawang putih (Allium satium) dan mineral Chromium organik dalam pakan kambing terhadap konsumsi serat kasar (SK) dan protein kasar (PK). Materi penelitian yang digunakan adalah kambing Peranakan Etawa (PE) jantan umur 8 bulan. Pakan perlakuan terdiri atas 40% hijauan, 60% konsentrat (PK 14,36 %; TDN 66,32 %), 250 ppm tepung bawang putih (Allium sativum), dan 1,5 ppm mineral Chromium organik. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diujicobakan yaitu R0 : Pakan basal; R1 : Pakan basal + 250 ppm tepung bawang putih; R2 : Pakan pasal + 250 ppm tepung bawang putih + 1,5 ppm mineral Chromium organik. Perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi serat kasar (g/ekor/hari) dengan rataan R0 = 628,86 ± 39,42; R2 = 745,72 ± 57,48; R1 769,17 ± 51,90, namun perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein kasar (g/ekor/hari) dengan rataan R0 = 256,81 ± 33,57; R1 = 219,53 ± 32,78; R2 = 236,97 ± 25,22. Kesimpulannya, suplementasi 250 ppm tepung bawang putih dan 1,5 ppm mineral Chromium organik dalam pakan kambing meningkatkan konsumsi serat kasar namun tidak mempengaruhi konsumsi protein kasar.This research aims to study the effect of garlic flour (Allium satvium) supplementation and organic Chromium mineral in goat feed on consumption of crude fiber and crude protein. The research material used was Peranakan Etawa (PE) 8 month old goats. The treatment feed consisted of 40% forage, 60% concentrate (PK 14.36%; TDN 66.3 2%), 250 ppm garlic flour, and 1.5 ppm organic Chromium mineral. The research method is experimental using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments researched were R0 : Base feed; R1: Base feed + 250 ppm garlic flour; R2: Base feed + 250 ppm garlic flour + 1.5 ppm organic Chromium mineral. The treatment was repeated 6 times. The results showed that the treatment had a highly significant effect (P <0,01) on the consumption of crude fiber (g/head/day) with an average of R0 = 628.86 ± 39.42; R2 = 745.72 ± 57.48; R1 769.17 ± 51.90, but the treatment had no significant effect (P> 0.05) on the consumption of crude protein (g/head/day) with an average of R0 = 256.81 ± 33.57; R1 = 219.53 ± 32.78; R2 = 236.97 ± 25.22. In conclusion, supplementation of 250 ppm garlic flour and 1.5 ppm organic Chromium mineral in goat feed increases consumption of crude fiber but does not affect consumption of crude protein.
2463127105K1C015016IDENTIFIKASI KEDALAMAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI DESA BINANGUN KECAMATAN BANYUMASDesa Binangun Kecamatan Banyumas adalah salah satu desa yang sering mengalami krisis air (kekeringan). Penduduk desa Binangun kekurangan air bersih karena sumber air dari sumur galian mengering sepanjang musim kemarau. Keberadaan sumber air tanah menjadi alternatif kedua yang bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu, sebelum eksploitasi air tanah dilakukan terlebih dahulu eksplorasi di atas permukaan tanah. Metode yang digunakan untuk mengetahui keberadaan akuifer (pembawa air) adalah metode geolistrik konfigurasi schlumberger. Metode geolistrik ini mempelajari sifat resistivitas batuan bawah permukaan sebagai pengetahuan pertama untuk interpretasi. Hasil akuisisi yang diperoleh kemudian diolah menggunakan dua software, yakni software progress dan software IP2WIN. Adapun akuisisi metode geolistrik ini akan dilakukan pada tiga titik sounding dengan panjang lintasan 600 m untuk titik 1 dan lintasan 400 m untuk titik 2 dan titik 3. Pada titik 1 diperoleh nilai resistivitas sebesar 2,15 Ωm dengan kedalaman 45 m dan ketebalan 14,9 m. Lapisan ini di identifikasikan sebagai lapisan akuifer tertekan. Pada titik 3 diperoleh nilai resistivitas sebesar 2,63 Ωm dengan kedalaman 7,15 m dan ketebalan 5,25 m. Lapisan ini diidentifikasikan sebagai lapisan akuifer bebas. Binangun village, the Banyumas sub-district is one of the villages that often experience a water crisis (drought). Binangun villagers lack clean water because the water sources from the dug wells dry up throughout the dry season. the existence of groundwater sources is the second alternative that can be utilized. Therefore, before groundwater exploitation is carried out the first exploration on the surface. The method used to find out the existence of aquifer (water carrier) is the Schlumberger configuration geoelectrical method. This geoelectrical method studies the resistivity of the subsurface as the first knowledge for interpretation. The acquisition results obtained were then processed using two software, namely progress software and IP2WIN software. The acquisition of the geoelectrical method will be conducted at three sounding points with a track length of 600 m for line 1 and a track length of 400 m for line 2 and line 3. At point 1 the resistivity value of 2.15 Ωm is obtained with a depth of 45 m and a thickness of 14.9 m. This layer is identified as a confined aquifer. At point 3 the resistivity value of 2.63 Ωm is obtained with a depth of 7.15 m and a thickness of 5.25 m. This layer is identified as the unconfined aquifer.
2463227656B1A015033PENGARUH KONSENTRASI GLUKOSA DAN WAKTU INKUBASI YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKSI β-GLUKAN Auricularia auriculaJamur Auricularia auricula (jamur kuping) telah digunakan oleh masyarakat di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan (edible mushroom) maupun obat (medicinal mushroom). A. auricula mengandung β-glukan yang berpotensi sebagai antitumor, antikanker dan immunomodulator. β-glukan dapat diisolasi dari tubuh buah, miselium dan filtrat kultur medium jamur dan diekstraksi menggunakan metode Yap & Ng. Pertumbuhan dan produksi β-glukan jamur dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa dan waktu inkubasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi glukosa dalam medium dan waktu inkubasi yang berbeda untuk pertumbuhan A. auricula dan mengetahui konsentrasi glukosa dalam medium dan waktu inkubasi yang optimal untuk produksi β-glukan dari A. auricula.
Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi glukosa 10, 20 dan 30 g/L, dan faktor ke dua adalah waktu inkubasi 20, 25 dan 30 hari. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi glukosa dalam medium dan waktu inkubasi terbaik untuk pertumbuhan miselium A. auricula pada konsentrasi glukosa 20 g/L dalam waktu inkubasi 30 hari dengan bobot kering miselium 0,76 g/100 mL. Tidak ada interaksi antara konsentrasi glukosa dalam medium dan waktu inkubasi untuk produksi β-glukan dari filtrat kultur dan miselium jamur A. auricula. Konsentrasi glukosa yang optimal untuk produksi β-glukan dari filtrat kultur jamur A. auricula adalah konsentrasi 20 g/L yaitu dengan bobot β-glukan 0,16 g/100 mL. Waktu inkubasi yang optimal untuk produksi β-glukan dari miselium jamur A. auricula adalah 30 hari dengan bobot β-glukan 0,12 g/100 mL.
Auricularia auricula (ear mushroom) has been used by Indonesian people and it used as food (edible mushroom) and medicine (medicinal mushroom). A. auricula contains β-glucans which have the potential as antitumor, anticancer and immunomodulator. β-glucans can be isolated from fruit bodies, mycelium and mushroom culture filtrate that extracted using the Yap & Ng method. The growth and production of β-glucan fungi are affected by glucose concentration and incubation time. The purpose of this research was to determine the effect of different glucose concentrations in the medium and incubation time for A. auricula growth and to determine the optimal glucose concentration in the medium and incubation time for β-glucan production from A. auricula.
This research used experimental method. The experimental design used was a Completely Randomized Design with Factorial pattern (CRD Factorial). Two factors used were glucose concentration and incubation time. The first factor is glucose concentration (10, 20 and 30 g / L), and the second factor is the incubation time (20, 25 and 30 days). The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a 95% confidence level. ANOVA test results were significantly followed by the Duncan Multiple Range Test (DMRT).
The results showed that glucose concentration in the medium and the best incubation time for the growth of mycelium A. auricula were at a glucose concentration of 20 g/L in an incubation time of 30 days with mycelium dry weight 0,76 g/100 mL. There was no interaction between glucose concentration in the medium and incubation time for the production of β-glucans from culture filtrate and the fungus mycelium A. auricula. The optimal glucose concentration for β-glucan production from the A. auricula culture filtrate was of 20 g / L (0,16 g / 100 mL). The optimal incubation time for β-glucan production from the A. auricula mycelium was 30 days (0,12 g / 100 mL).
2463327657B1A015025PENGARUH pH DAN WAKTU INKUBASI BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN METABOLIT SEKUNDER YANG DIHASILKAN Schizophyllum communeSchizophyllum commune merupakan salah satu jamur edible dari phylum Basidiomycota. Jamur S. commune memiliki kemampuan untuk menghasilkan berbagai metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit sekunder yang dihasilkan jamur dipengaruhi oleh medium pertumbuhan dan kondisi kulturnya termasuk pH dan waktu inkubasi. Produksi metabolit sekunder yang maksimal diperoleh pada pH dan waktu inkubasi yang optimal bagi pertumbuhan jamur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pH dan waktu inkubasi yang optimal terhadap pertumbuhan jamur S. commune serta mengetahui golongan metabolit sekunder yang dikandung oleh jamur S. commune.
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL faktorial) dengan dua faktor yang digunakan yaitu pH dan waktu inkubasi, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. pH yang digunakan yaitu pH 4, pH 5, pH 6, dan pH 7. Waktu inkubasi yang digunakan yaitu 10, 15, 20, 25, dan 30 hari. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pH dan waktu inkubasi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan jamur dan metabolit sekunder yang dihasilkan. Parameter utama yang diamati adalah bobot kering miselium dan golongan senyawa metabolit sekunder. Parameter pendukung adalah pH akhir medium. Analisis data menggunakan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% dan Duncan’s Multiple Range Test pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan miselium S. commune dipengaruhi oleh pH dan waktu inkubasi. Nilai pH yang paling baik untuk pertumbuhan miselium S. commune yaitu pH 6 pada waktu inkubasi 25 hari dengan rata-rata bobot kering miselium 0,61 g/100 mL. Jamur S. commune mampu menghasilkan senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, terpenoid, dan flavonoid.
Schizophyllum commune is one of edible fungus that include in phylum Basidiomycota. S. commune can produce a variety of primary metabolites and secondary metabolites. Secondary metabolites produced by fungi are influenced by the growth medium and culture conditions including pH and incubation time. Maximum secondary metabolite production is obtained at optimal pH and incubation time for fungal growth. The aim of this study was to determine the optimal pH and incubation time for the growth of S. commune and to know the group of secondary metabolites produced by S. commune.
This research was done experimentally used Completely Randomized Design with factorial pattern (CRD factorial). Two factors used were pH and incubation time, each treatment was repeated 3 times. The pH used were pH 4, pH 5, pH 6, and pH 7. The incubation time used were 10, 15, 20, 25, and 30 days. The independent variables in this study were pH and incubation time. The dependent variables in this study was fungal growth and secondary metabolites. The main parameters observed were the dry weight of mycelium and the group of secondary metabolites. The supporting parameter is the final pH of the medium. Data analysis used ANOVA at 95% confidence level and Duncan's Multiple Range Test at 95% confidence level.
The results showed that the growth of S. commune mycelium was influenced by pH and incubation time. The best pH for mycelial growth was pH 6 with a 25 days incubation time which resulted in dry weight of mycelium 0,61 g/100 mL. Phytochemicals analysis revealed that S. commune contains alkaloids, terpenoids, and flavonoids.
2463427665B1A015106Purifikasi Parsial dan Aktivitas Enzim Fitase asal Candida tropicalis Tkd-3Asam fitat merupakan simpanan utama fosfor didalam biji-bijian tanaman. Asam fitat termasuk dalam zat antinutrisi yang menyebabkan terhambatnya penyerapan fosfor dalam saluran pencernaan unggas. Enzim fitase memiliki kemampuan dalam menghidrolisis senyawa fitat menjadi senyawa myo-inositol bebas dan fosfat anorganik. Salah satu kelompok mikroorganisme yang diketahui mampu menghasilkan enzim fitase adalah khamir. Penelitian mengenai khamir penghasil fitase dilakukan pada isolat Candida tropicalis Tkd-3 yang diisolasi dari produk makanan tempe. Pengujian yang dilakukan bertujuan untuk mengekstraksi dan mempurifikasi enzim fitase yang dihasilkan oleh isolat khamir C. tropicalis Tkd-3, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan tambahan (feed additive) pada unggas. Pengujian yang dilakukan meliputi uji kualitatif produksi enzim fitase, pengukuran aktivitas enzim fitase, pengukuran kadar protein terlarut dan pengukuran aktivitas spesifik enzim fitase. Hasil uji kualitataif produksi enzim fitase khamir C. tropicalis Tkd-3 mampu menghasilkan zona jernih sebesar 1,48 ± 0,088 mm. Aktivitas enzim fitase asal khamir C. tropicalis Tkd-3 pada sampel ekstrak kasar enzim adalah 1,7332 U/mL, pada sampel enzim hasil presipitasi ammonium sulfat 70 % adalah 0,890 U/mL dan pada enzim hasil dialisis adalah 2,840 U/mL. Kadar protein terlarut enzim fitase asal khamir C. tropicalis Tkd-3 pada sampel ekstrak kasar enzim adalah 93,0430 mg/mL, pada sampel enzim hasil presipitasi ammonium sulfat 70 % 1,0740 mg/mL dan pada enzim hasil dialisis adalah 1,5443 mg/mL. Aktivitas spesifik enzim fitase asal khamir C. tropicalis Tkd-3 pada sampel ekstrak kasar enzim adalah 0,0200 U/mg, pada sampel enzim hasil presipitasi ammonium sulfat 70 % 0,2633 U/mg dan pada enzim hasil dialisis adalah 1,8467 U/mg. Phytic acid is main deposit of phosphorus in plant grains. Phytic acid including antinutrient subtant that can inhibit absorbtion of in digestive tract of poultry. Phytase has ability to hydrolize phytat compound into free myo-inositol and anorganic phosphate. One group of microorganism that has been known to produce phytase is yeast. Research about yeast producing phytase carried out on Candida tropicalis Tkd-3 isolate that has been isolated from tempeh. Various test carried out aim to extract and purify the phytase enzyme produced by C. tropicalis Tkd-3, so that it can be utilize as feed additive in poultry. Tests carried out include qualitative test of phytase production, measuring phytase activity, dissolved protein levels and specific activity phytase enzyme. Result of qualitative test of phytase production by C. tropicalis Tkd-3 enable to produce diameter of clear zone 1,48 ± 0,088 mm. phytase activity from C. tropicalis Tkd-3 on crude extract sample is 1,7332 U/mL, on ammonium sulphate 70 % presipitation is 0,890 U/mL and on dialysis sample is 2,840 U/mL. Dissolved protein level of phytase from C. tropicalis Tkd-3 on crude extract sample is 93,0430 mg/mL, on ammonium sulphate 70 % presipitation is 1,0740 mg/mL and on dialysis sample is 1,5443 mg/ML. Specific activity of phytase from C. tropicalis Tkd-3 on crude extract sample is 0,0200 U/mg, on ammonium sulphate 70 % presipitation is 0,2633 U/mg and on dialysis sample is 1,8467 U/mg.
2463527678C1A015037ANALISIS POTENSI SUB SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2013-2017Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian data sekunder pada sub-sub sektor pertanian yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, jasa pertanian dan perburuan, kehutanan dan penebangan kayu, dan perikanan di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2013-2017. Kabupaten Pekalongan memiliki jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang cukup tinggi namun memiliki laju pertumbuhan terendah di Karesidenan Pekalongan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sub sektor pertanian basis dan bukan basis, perubahan dan pergeseran pertumbuhan, pengelompokkan pertumbuhan, menganalisis sub sektor pertanian unggulan, dan kontribusi produksi sub sektor unggulan. Penelitian ini menggunakan alat analisis yaitu Location Quotient, Shift-Share, Typologi Klassen, Overlay, dan Kontribusi Produksi produk unggulan tiap kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam perhitungan (LQ) terdapat sub sektor basis yaitu tanaman perkebunan, dan jasa pertanian dan perburuan, Perubahan dan pegeseran sub sektor pertanian menunjukkkan rata-rata nilai yang positif dan terdapat beberapa sub sektor yang memiliki keunggulan kompetitif. Klasifikasi pertumbuhan terdiri empat kuadran yaitu pada kuadran I tidak terdapat sub sektor pertanian maju. Kuadran II terdapat tanaman hortikultura, kehutanan dan penebangan kayu, dan perikanan, sedangkan pada kuadran III terdapat tanaman perkebunan, dan pada kuadran IV terdapat tanaman pangan, peternakan, dan jasa pertanian dan perburuan. Sub sektor pertanian unggulan di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2013-2017 yaitu tanaman perkebunan. Kabupaten Pekalongan memiliki 19 kecamatan, dan produk tanaman perkebunan sebanyak 15 produk. Kecamatan Paninggaran menjadi kecamatan yang memiliki kontribusi produk tanaman perkebunan terbanyak di Kabupaten Pekalongan.
Kata Kunci: Sub Sektor Pertanian, LQ, Shift-Sharer, Klasifikasi Pertumbuhan, Sub Sektor Unggulan, Kontribusi
Abstract

This research is secondary data research in the agricultural sub-sectors, those are food crops, horticulture, plantations, animal husbandry, agriculture and hunting services, forestry and logging, and fisheries in Pekalongan Regency in 2013-2017. Pekalongan Regency has a relatively high number of Gross Regional Domestic Product (GRDP) but has the lowest growth rate in the Pekalongan Residency. The purpose of this research is to analyze the basic and non-basic agricultural sub-sectors, shifts-share in growth, classification of growth, analyzing leading agricultural sub-sectors, and the contribution of leading sub-sector production. This research used analysis tools, they were Location Quotient, Shift-Share, Klassen Typology, Overlay, and Contribution Production of superior products in each district. The results of this research show that: basic subsectors are plantation and agriculture and hunting services, changes and shifts in the agricultural sub-sector show positive average value and several sub-sectors have a competitive advantage. Growth classification consists of four quadrants: quadrant I that doesn’t have advanced agricultural sub-sectors. Quadrant II contained horticultural crops, forestry and logging, and fisheries, while in Quadrant III there were plantation crops, and in Quadrant IV there were food crops, livestock, and agricultural and hunting services. Leading agriculture sub-sector in Pekalongan Regency in 2013-2017 was plantation crops. Pekalongan Regency has 19 districts, with 15 products of plantation crop. Paninggaran District had the highest contribution of plantation crops in the Pekalongan Regency.
Keywords: Agriculture Sub Sector, LQ, Shift-Share, Growth Classification, Leading Sub Sector, Contribution
2463627658F1J013039Nilai Chuugi Bushido pada Film Animasi Sengoku Musou Karya Kojin OchiPenelitian ini mengacu pada salah satu nilai budaya masyarakat Jepang populer Bushido khususnya nilai chuugi yang terdapat dalam film animasi Sengoku Musou karya Kojin Ochi. Tujuan penelitian ini di antaranya: 1) Mendeskripsikan implementasi nilai chuugi dalam bushido. 2) Mendeskripsikan tindakan yag mencerminkan nilai chuugi. 3) Mendeskripsikan tindakan yang tidak mencerminkan atau menyimpang nilai chuugi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menemukan terdapat 20 tindakan yang mencerminkan nilai chuugi dan 5 tindakan yang menyimpang dari chuugi dalam film animasi Sengoku Musou. Dengan demikian penelitian ini membuktikan bahwa munculnya nilai chuugi dalam film animasi Sengoku Musou pada kehidupan nyata bisa dipicu oleh beberapa faktor dan aspek kehidupan. Ditandai dengan adanya aspek kepatuhan terhadap perintah, keinginan untuk tetap bersama dan rela mengorban segalanya demi tuannya, sedangkan penyimpangan nilai chuugi terjadi karena adanya faktor ekonomi, faktor depresi, faktor psikopati, faktor mencari pelampiasan rasa kecewa dan faktor ikatan sosial yang berlawanan.This research is based on the one of the popular Japanese cultural value called Bushido especially chuugi’s value in Sengoku Musou by Kojin Ochi. The purposes of this research are: 1) Describing the implementation of chuugi’s value in bushido. 2) Describing the act of chuugi. 3) Describing the act that deviate from chuugi. The method used in this research is qualitative research method. The result of the research found that there are 20 acts of chuugi and 5 acts that deviate from chuugi in Sengoku Musou. Thus, this research proves that the act of chuugi in Sengoku Musou in real life can be triggered by several factors of life. That shown by the aspect of obedience with orders, the desire to stay together and the will to sacrifice everything for their master, while the deviation of chuugi occur because of economic factor, depression factor, psychopathic factor, seeking a target for disappointment factor and opposing social bonding factor.
2463727659F2C017017NEGOSIASI IDENTITAS KOMUNITAS KASEPUHAN ADAT KALITANJUNG SEBAGAI PENGANUT KEJAWENPenelitian ini membahas mengenai bagaimana bentuk negosiasi identitas yang dilakukan oleh Komunitas Kasepuhan Adat Kalitanjung sebagai penganut Kejawen. Mengingat penganut aliran kepercayaan semacam Kejawen ini kerap masih dipandang sebagai kepercayaan yang menyimpang, dan seringkali penganutnya mendapatkan diskriminasi dari masyarakat mayoritas yang menganut agama yang diresmikan oleh pemerintah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, karena melalui metode ini, peneliti dapat mendeskripsikan, dan menggambarkan bagaimana fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Terutama berfokus pada bagaimana bentuk negosiasi identitas yang dilakukan oleh komunitas sebagai penganut Kejawen yang merupakan agama leluhur mereka. Penerapan teori negosiasi identitas sebagai salah satu solusi pun dilakukan melalui beragam ritual dan upacara adat yang dilakukan oleh Komunitas Kasepuhan Adat Kalitanjung. Hasil analisis menunjukan bahwa Komunitas Kasepuhan Adat Kalitanjung menghadapi stigma negatif mengenai kepercayaan mereka, dan ada perbedaan pandangan atau pemaknaan antara komunitas yang menganut Kejawen, dan masyarakat di luar komunitas yang menganut agama resmi yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunitas Kasepuhan Adat Kalitanjung dapat bernegosiasi dengan perbedaan yang ada, mereka memegang pedoman hidup yang kuat sebagai bentuk identitas mereka. Namun proses negosiasi yang dilakukan tidak berlangsung dengan singkat, karena merubah pemahaman masyarakat mayoritas bukanlah hal yang mudah.

Keyword: negosiasi identitas, kasepuhan adat, agama leluhur, kejawen

This study discusses how the form of identity negotiations carried out by the Kasepuhan Adat Kalitanjung Community as followers of Kejawen. Bearing in mind that followers of this kind of belief like Kejawen are often viewed as deviant beliefs, and often followers get discrimination from the majority community who adheres to a religion that was formalized by the government. The study was conducted using descriptive qualitative research methods, because through this method, researchers can describe, and illustrate how the facts that occur in the field. Mainly focused on how the form of identity negotiations carried out by the community as followers of Kejawen which is their ancestral religion. The application of the theory of identity negotiation as one of the solutions is carried out through various rituals and traditional ceremonies conducted by the Kasepuhan Adat Kalitanjung Community. The analysis shows that the Kasepuhan Adat Kalitanjung Community faces a negative stigma about their beliefs, and there are differences in views or meanings between communities that adhere to Kejawen, and people outside the community who adhere to official religions established by the government. The results showed that the Kasepuhan Adat Kalitanjung Community can negotiate with existing differences, they hold strong life guidelines as a form of their identity. However, the negotiation process did not take place briefly, because changing the understanding of the majority community was not easy.

Keyword: identity negotiation, Kasepuhan adat, ancestral religion, kejawen
2463827661C1B014068Pengaruh Keadilan Organisasi terhadap Stres dengan konflik kerja-keluarga sebagai variabel mediasiTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keadilan organisasi terhadap stres member Tupperware Dito Mulyo Pangestu Purwokerto dengan konflik kerja-keluarga sebagai variabel mediasi. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 80 responden dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis regresi berganda dengan software SPSS. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa keadilan organisasi berpengaruh negatif terhadap stres member Tupperware dengan konflik kerja-keluarga sebagai variabel mediasi.The purpose of this study is to analyze the influence of organizational justice on Dito Mulyo Pangestu Tupperware member stres with work-family conflict as mediating variable. There were 80 member chosen as respondent of the research by using purposive sampling method. This research using quantitative approach. Analysis tool used in this research is Multiple Regression with SPSS software. Based on the result of the analysis, it can be concluded that organizational justice has negative effect on on Dito Mulyo Pangestu Tupperware member stres with work-family conflict as a mediating variable.
2463927662I1A015102Analisis Spasial Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Angka Kematian Neonatal di Kabupaten Purworejo Tahun 2018Analisis spasial adalah metode untuk melihat hubungan antar variabel berdasarkan wilayah. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisis masalah kesehatan masyarakat salah satunya AKN. AKN Kabupaten Purworejo sebesar 8,3 per 1000 KH dan masih diatas AKN Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan AKN secara spasial. Metode penelitian yaitu observasional analitik terhadap data sekunder menggunakan analisis spasial. Subjek penelitian ini yaitu seluruh kecamatan di Kabupaten Purworejo berjumlah 16 kecamatan. Analisis data spasial yang dilakukan yaitu uji Moran’s I dan uji LISA. Variabel yang berhubungan dengan AKN yaitu cakupan kunjungan K4, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, kunjungan neonatal lengkap, komplikasi neonatal ditangani, komplikasi kebidanan ditangani, dan neonatal risti (I ≠ 0). Variabel tersebut berhubungan lokal di Kecamatan Kutoarjo, Bruno, Kemiri, Purwodadi, Grabag, Pituruh, Gebang, dan Loano. Variabel yang tidak berhubungan yaitu BBLR dan ibu risti (I = 0). Faktor yang berhubungan dengan AKN yaitu cakupan kunjungan K4, cakupan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, kunjungan neonatal lengkap, komplikasi neonatal ditangani, komplikasi kebidanan ditangani, dan neonatal risti. Sebaiknya pemerintah dapat menggunakan hasil analisis spasial untuk menangani AKN agar turun.Spatial analysis is a method for seeing relationships between variables by region. This method can be used to analyze public health problems, one of them is NMR. The Purworejo Regency NMR was 8.3 every 1000 live birth and was still above the Central Java NMR. This study aims to determine the factors associated with NMR spatially. This research was an analytic observational research using secondary data for spatial analyzed. The subject of this research was all districts in Purworejo Regency that amount of 16 district. Spatial data analized using Moran’s I test and LISA test. Variables related to NMR as a whole are coverage of K4 visits, coverage of deliveries assisted by health workers, coverage of complete neonatal visits, coverage of neonatal complications handled, high risk neonates, and coverage of obstetric complications handled (I ≠ 0). These variables are related locally in the Districts of Kutoarjo, Bruno, Kemiri, Purwodadi, Grabag, Pituruh, Gebang, and Loano. Unrelated variables were LBW and high risk mother (I =0). Factors associated with NMR are coverage of K4 visits, coverage of deliveries assisted by health workers, coverage of complete neonatal visits, coverage of neonatal complications handled, high risk neonates, and coverage of obstetric complications handled. The government can uses the spatial anaysis result so the NMR goes down.
2464029041D1A016120PERSENTASE KADAR AIR DAN BAHAN ORGANIK KOMPOS BERBAHAN BAKU FESES SAPI POTONG MENGGUNAKAN AKTIVATOR KULTUR CAMPURAN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA
SIGIT SOLIKHIN. Penelitian bertujuan untuk mengkaji penurunan kadar air dan bahan organik pada pupuk feses sapi potong yang diberi penambahan aktivator kultur campuran dengan dosis yang berbeda. Pembuatan kompos dilakukan dengan mencampurkan feses sapi potong, 10% gergaji kayu, 10% abu jerami, 2% kapur dolomit, air gula 10 ml per 100kg dan aktivator kultur campuran dengan dosis yang berbeda. Dosis aktivator kultur campuran diantaranya A0(0%), A1(0,1%), A2(0,2%), A3(0,3%) dan A4(0,4%). Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan dan 4 kali ulangan sehingga total terdapat 20 gunungan. Pembuatan pupuk berlangsung selama 4 minggu dengan 1 minggu sekali dilakukan pembalikan. Pengambilan sampel dengan cara pencuplikan diberbagai sisi. Analisis kadar air dan bahan organik dilakukan di Laboratorium penguji balai pengkajian teknologi pertanian Jawa Tengah. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Hasil analisis variansi menunjukkan hasil bahwa penambahan aktivator kultur campuran tidak berpengaruh nyata pada kadar air dan bahan organik (P>0,05). Hasil data kadar air A0, A1, A2, A3, A4 masing-masing sebesar 41.70%, 45.55%, 45.67%, 44.20%, 46.16% dan bahan organik, A1, A2, A3, A4 masing-masing sebesar 20.31%, 21,31%, 22,78%, 23,99% , 19,66%. Berdasarkan analisis, penambahan aktivator kultur campuran pada pembuatan pupuk organik berbahan baku feses sapi potong tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar air dan bahan organik karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, hal ini menandakan bahwa Penambahan aktivator kultur campuran tidak dapat meningkatkasn kualitas kompos jika dilihat dari persentase kadar air dan bahan organiknya.ABSTRACT
SIGIT SOLIKHIN. This study was aimed atdetemining the decrease of moisture and organic matter content of beef cattle faeces fertilizer supplemented mixed-culture activator in different dosages”. Composting conducted by mixing beef cattle faeces fertilizer, 10 % of sawdust waste, 10% rice straw ash, 10% dolomite, sugar water 10 ml per 100kg and mixed-culture activator in different dosages.The dodages of mixed-culture activator were A0(0%), A1(0,1%), A2(0,2%), A3(0,3%) and A4(0,4%). This study consisted of 5 treatments and 4 replications and the total was 20 mixtures. Composting took 4 weeks and reversed once a week. Each sides were collected to be a representative sample. The Moisture content and organic matter were analyzed in the Laboratory of Indonesian Agency of Agricultural Reasearch and Development of Central java. The research design was a completely randomized design. The result of analysis variance showed that mixed-culture activator supplementation had no significant effect on moisture content and organic matter. (P>0,05). The result of moisture content of A0, A1, A2, A3, A4 were 41.70%, 45.55%, 45.67%, 44.20%, 46.16% and organic matter ofA1, A2, A3, A4 were 20.31%, 21.31%, 22.78%, 23.99%, 19.66%. Based on the analysis, it concluded that mixed culture activator supplemented into composting of beef cattle faeces fertilizer had no effect on reducing moiture content and organic matter, it means that mixed culture activator supplementation could not increase fertilizer quality in terms of moisture and organic matter percentage.