Artikelilmiahs

Menampilkan 17.821-17.840 dari 50.049 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1782120859A1H013007PENINGKATAN KUALITAS BIOGAS MELALUI PROSES PEMURNIAN MENGGUNAKAN ADSORBEN ARANG AKTIF DAN SERBUK BESISalah satu penggunaan sumber energi alternatif yang mulai dipertimbangkan manfaatnya dan ramah lingkungan adalah biogas. Biogas merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berasal dari bahan organik yang didegradasi secara anaerobik oleh bakteri dalam lingkungan bebas oksigen. Komposisi biogas didominasi oleh gas metan (50%-70%), gas karbon dioksida (30%-40%), dan gas lainnya (H2S, H2O) dalam jumlah kecil. Teknologi pemurnian pada biogas merupakan teknologi yang menggunakan prinsip adsorpsi penyerapan gas terutama CO2 sehingga presentase kandungan CH4 di dalam biogas akan meningkat. Teknologi adsorpsi pemurnian biogas pada penelitian ini menggunakan adsorben (padatan) arang aktif dan serbuk besi. Tujuan dari penelitian adalah untuk meningkatkan konsentrasi gas metana (CH4) dan menurunkan gas-gas lain pada biogas (CO2, H2S, H2O, dan lainnya) melalui pemurnian menggunakan arang aktif dan serbuk besi, mengetahui jenis adsorben yang baik dan pengaruh lamanya proses pemurnian biogas terhadap kualitas gas metan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan adsorben arang aktif dan serbuk besi dapat meningkatkan kandungan gas CH4 pada perlakuan selama 90 menit dengan konsentrasi 77.229 ppm menggunakan perbandingan adsorben 70% arang aktif - 30% serbuk besi dan dapat menurunkan kandungan gas CO2 pada perlakuan selama 90 menit dengan konsentrai 740,085 ppm menggunakan perbandingan adsorben 30% arang aktif dan 70% serbuk besi. Lama waktu pengujian dan jumlah perbandingan adsorben berpengaruh terhadap konsentrasi gas CH4 yang dihasilkan, dimana semakin lama waktu pengujian gas metan yang didapat semakin meningkat.One use of alternative energy sources that are considered useful and environmentally friendly is biogas. Biogas is a renewable energy source derived from organic matter degraded anaerobically by bacteria in an oxygen-free environment. The composition of biogas is dominated by methane gas (50% -70%), carbon dioxide gas (30% -40%), and other gases (H2S, H2O) in small quantities. Purification technology in biogas is a technology that uses the principle of adsorption of gas absorption, especially CO2 so that the percentage of CH4 content in biogas will increase. Adsorption biogas adsorption technology in this research using adsorbent (solid) active charcoal and iron powder. The objective of the study was to increase the consentration of methane gas (CH4) and reduce other gases in biogas (CO2, H2S, H2O, and others) by purification using activated charcoal and iron powder, knowing good adsorbent type and the influence of duration of purification process of biogas to methane gas quality. The results showed that the use of activated charcoal adsorbent and iron powder could increase CH4 gas content in treatment for 90 minutes with concentration of 77.229 ppm using 70% activated charcoal - 30% iron powder and reducing CO2 gas content on treatment for 90 minutes with concentrations 740,085 ppm using 30% adsorbent ratio of activated charcoal and 70% iron powder. The duration of the test and the amount of the adsorbent ratio have an effect on the resultant CH4 gas concentration, the longer the methane gas testing time is increased.
1782220848A1L013114PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) PADA MACAM MEDIA TANAM DAN BERBAGAI SUMBER NUTRISI DALAM SISTEM HIDROPONIKPakcoy merupakan jenis sawi yang memiliki kandungan vitamin, serat dan mineral yang lengkap. Salah satu alternatif budidaya tanaman selain konvensional, dalam meningkatkan kualitas sayuran pakcoy dapat menggunakan teknologi hidroponik. Pemilihan media tanam dalam hidroponik seperti cocopeat, kompos, arang sekam dan lain-lain, dilakukan untuk meningkatkan hasil tanaman pakcoy. Media tanam yang digunakan dalam hidroponik umumnya mengandung sedikit unsur hara. Oleh karena itu, pemberian nutrisi dalam sistem hidroponik ini sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui media tanam yang paling tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dalam sistem hidroponik, (2) mengetahui sumber nutrisi yang paling tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dalam sistem hidroponik, dan (3) mengetahui kombinasi perlakuan terbaik antara media tanam dan sumber nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dalam sistem hidroponik.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2017 di Screen House, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama terdiri dari 3 macam media tanam, yaitu arang sekam, cocopeat dan campuran arang sekam : cocopeat (1:1). Faktor kedua terdiri dari 3 taraf sumber nutrisi, yaitu AB Mix (100%), AB Mix (50%)a + POC Nasa (50%), dan POC Nasa (100%). Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot akar, volume akar, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, dan bobot tajuk tanaman segar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman maka dilanjutkan dengan DMRT taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam dalam sistem hidroponik berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, bobot tanaman kering, bobot akar dan volume akar. Media tanam paling tepat adalah cocopeat. Sumber nutrisi berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, dan bobot tajuk tanaman segar. Sumber nutrisi paling tepat adalah AB Mix 100% tidak berbeda dengan AB Mix (50%) + POC Nasa (50%) dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy dalam sistem hidroponik. Kombinasi perlakuan media tanam cocopeat dan sumber nutrisi AB Mix 100% cenderung memberikan rerata hasil bobot tajuk tanaman segar sebesar 175,18 gram.
Pakcoy is a type of mustard that has a complete content of vitamins, fiber and minerals. Hydroponic is one alternative of cultural technique to increase the quality and production of pakcoy. Selection of suitable organic materials as growing media such as cocopeat, compost, rice husk and others, can also be done to improve the yield of pakcoy. The growing media used in hydroponic aggregates generally contains abit of nutrients. Therefore, the provision of nutrients in the hydroponics system is very important. This research aimed to determined (1) find out the most appropriate growing media for the growth and yield of the pakcoy crops in the hydroponic system, (2) find out the most appropriate sources of nutrition on the growth and yield of the pakcoy crops in the hydroponic system, and (3) to know the best treatment combination between growing media and nutrient sources to the growth and yield of the pakcoy plant in the hydroponics system.
This research was conducted from May to July 2017 at the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research uses Randomized Block Design (RBD). The first factor consisted of 3 kinds varieties of growing media, which were rice husk, cocopeat and combination of rice husk:cocopeat (1:1). The second factor consisted of 3 levels of nutrient sources, ie AB Mix (100%), AB Mix (50%)+POC Nasa (50%), and POC Nasa (100%). The variables observed were plant height, leaf number, leaf area, root weight, root volume, fresh plant weight, dry plant weight and fresh crown weight. Data were analyzed by F test, and continued with DMRT if significant with an alpha of 5%.
The results showed that growing media in the hydroponic system was able to have a affect on the plant height, variable of leaf amount, weight of dry plant, root weight and root volume. The best of growing media is cocopeat. Sources of nutrients was able to have affect on the variable height of plants, leaf amount, leaf area, weight of fresh plant, weight of dry plant, and the weight of fresh plant canopy. The best source of nutrients is AB Mix 100% however AB Mix (50%)+POC Nasa (50%) can be give prospect an alternative source of nutrients in hydroponics systems. The combination treatment of growing media cocopeat and source of nutrition AB Mix (100%) tends to show the average weight of fresh plant canopy is 175,18 gram.
1782320893A1L013185PRODUKSIVITAS KOPI ROBUSTA HASIL PERBANYAKAN VEGETATIF DAN GENERATIF PADA TIGA STRATA ELEVASIPenelitian bertujuan untuk : 1) mengkaji perbedaan produksi kopi Robusta dari tanaman hasil perbanyakan vegetatif dan generatif di Kabupaten Purbalingga, 2) mengkaji pengaruh elevasi terhadap hasil kopi Robusta perkebunan rakyat di Kabupaten Purbalingga meliputi Kecamatan Kutasari elevasi 400 m dpl, Karangjambu elevasi 600 m dpl, dan Karangreja elevasi 800 m dpl, dan 3) mengkaji pengaruh kombinasi antara perbedaan elevasi dan hasil perbanyakan terhadap hasil tanaman kopi Robusta di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei agronomik dengan rancangan purposive random sampling menggunakan 2 faktor. Faktor pertama yaitu elevasi dan faktor kedua tanaman hasil perbanyakan vegetatif dan generatif. Sampel pada penelitian ini memiliki 3 kriteria ketinggian tempat, terdiri atas 10 sampel tanaman hasil perbanyakan vegetatif dan 10 dari tanaman generatif. Jumlah keseluruhan sampel yaitu 60 sampel. Varibel yang diamati berupa bobot buah segar, bobot buah kopi kering, cabang produktif, jumlah tandan, bobot tandan, bobot 100 biji segar, dan bobot 100 biji kering. Data dianalisis dengan analisis ragam tersarang. Jika berbeda nyata dilanjutkan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukan tanaman hasil perbanyakan vegetatif memberikan produksi bobot kopi kering lebih tinggi (1,585 kg) dibandingkan dengan tanaman hasil perbanyakan generatif (0,231 kg). Elevasi yang memberikan produksi bobot kopi kering terbaik pada elevasi 600 m dpl sebesar 1,166 kg diikuti elevasi 800 m dpl sebesar 0,329 kg dan elevasi 400 m dpl sebesar 0,321 kg. Tanaman hasil perbanyakan vegetatif berproduksi paling tinggi di seluruh elevasi. Produksi terbaik pada strata 600 m dpl.



The research aims to: 1) examine the difference of Robusta coffee production from vegetative (grafting) and generative method plant breeding in Purbalingga District; 2) to examine the effect of elevation on Robusta coffee plantation in Purbalingga District covering Kutasari Subdistrict with 400 m asl elevation, Karangjambu elevation 600 m asl and the Karangreja elevation of 800 m asl, and 3) studied the effect of a combination of elevation differences and the method of plant breeding of Robusta coffee plant Purbalingga District. This research was conducted using agronomic survey method with purposive random sampling design using 2 factors. The first factor is the elevation and the second factor of vegetative and generative plant breeding methods. The sample in this research has 3 elevation criteria, consisting of 10 plant samples of vegetative plant breeding method and 10 from generative plant breeding method. The total sample is 60 samples. The variables observed were fresh fruit weight, dry fruit coffee weight, productive branch, amount of bunches, weight of bunches, weight of 100 fresh seeds, and weight of 100 dry seeds. the data were analyzed by nested analysis of varians design. If there a significant diffrence then followed by Least Significant Different Test (LSD). The results showed vegetative plant breeding method provide the yield of dried coffee weight higher (1,585 kg) compared to generative plant breeding method (0.231 kg). Elevation which gives the best yield of dried coffee weight at an elevation of 600 m above sea level of 1,166 kg followed by elevation of 800 m above sea level elevation of 0.329 kg and 400 m of 0.321 kg. Crop yields the highest production of vegetative plant breeding method throughout the elevation. The best production at 600 m above sea level.



1782420850F1A013013PERLAWANAN PERSATUAN RAKYAT PENYELAMAT KARST GOMBONG TERHADAP PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN OLEH PT SEMEN GOMBONG DI KABUPATEN KEBUMENPenelitian ini bertujuan sebagai berikut : Pertama, mendeskripsikan proses terbentuknya Perpag sebagai wadah perjuangan masyarakat untuk melawan PT Semen Gombong yang menjadi dalang dari agenda penambangan semen. Kedua, mendeskripsikan startegi gerakan Perpag dalam perjuangan melawan ancaman penambangan yang merusakan kawasan karst gombong selatan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripsitf dengan pendekatan penelitian studi kasus. Pendekatan studi kasus adalah pendekatan yang berupaya untuk meninjau sebuah kasus yang terjadi fenomena dan keterkaitan antara relasi para aktor yang ada dalam pergulatan suatu fenomena tersebut. Pendekatan ini digunakan untuk melihat atau memotret gerakan yang dilakukan oleh Perpag dalam perjuangan mempertahankan ekosistem kawasan karst gombong selatan dari ancaman eksploitasi alam yang berupa penambangan batu gamping sebagai bahan baku semen oleh PT Semen Gombong.
Hasil Penelitian ini mengungkap konflik yang terjadi di kawasan karst bentang alam karst gombong selatan dilatarbelakangi oleh Pemerintah Kabupaten, Provinsi hingga Pusat yang berkolaborasi dengan korporasi yaitu PT Semen Gombong untuk menguasi sumber daya alam di KBAK Gombong Selatan. Masyarakat mempercayai dengan hadirnya penambangan semen yang merusakan kawasan karst gombong selatan akan menghancurkan sumber penghidupan yang menjadi sandaran aktivitas ekonomi bagi masyarakat yaitu berupa sumber air karena masyarakat adalah mayoritas sebagai Petani. Dalam perjuangan masyarakat yang diwadai oleh Perpag menggunakan banyak strategi gerakan baik dalam aspek politik maupun organisasi. Pada strategi Perpag meliputi kegitan langsung dengan cara mengambil kesempatan politik dengan mennfaatkan situasi, mobilisasi sosial serta membangun penyatuan pandangan di basis masyarakat.
This study aims to: First, describe the process of the formation of the Perpag as a container of community struggle against PT Semen Gombong who became the mastermind of the cement mining agenda. Second, describes the strategy of the Perpag movement in the struggle against the threat of mining that destroyed the southern karst gombong area.
This research uses qualitative research method description with case study research approach. A case study approach is an approach that attempts to review a case of phenomena and the relationship between actors in the struggle of a phenomenon. This approach is used to view or photograph the movement carried out by the Perpag in the struggle to maintain the southern karst gombong area ecosystem from the threat of natural exploitation in the form of limestone mining as raw material of cement by PT Semen Gombong.
The results of this study reveal the conflicts that occurred in the karst karst landscape south gombong dilatarbelakangi by District Government, Province to Central in collaboration with corporations namely PT Semen Gombong to control the natural resources in the KBAK South Gombong. The community believes that the presence of cement mining that destroys the southern karst gombong area will destroy the source of livelihood which is the backbone of economic activity for the community that is in the form of water source because the community is majority as a farmer. In the struggle of people who are financed by the Perpag use many movement strategies in both political and organizational aspects. The strategy of Perpag involves direct activity by taking political opportunities by utilizing situations, social mobilization and building a unified view on the basis of society.
1782520856A1H013012UJI PERFORMANSI MESIN PENGERING TIPE ROTARY MANUAL PADA PROSES PENGERINGAN KOPI(Coffea sp.)Tanaman kopi (Coffea sp.) termasuk familia Rubiaceae dan merupakan tumbuhan tropis yang banyak diperdagangkan di dunia. Menurut Wanggai (2007), bila penerapan teknologi budidaya perkebunan kopi di masyarakat diperbaiki, maka produksinya bisa ditingkatkan. Pengeringan merupakan tahapan yang penting dalam pengolahan kopi, salah satunya menggunkan mesin pengering tipe rotary manual.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis performansi mesin pengering tipe rotary manual dalam pengeringan kopi meliputi perubahan kadar air, kapasitas optimum, efisiensi termal, dan daya putar mesin pengering. Metode penelitian yang dilakukan yaitu metode eksperimental. Variabel yang diukur yaitu suhu, massa kopi, waktu, massa bahan bakar, daya tuas pemutar, diameter tuas pemutar, dan rpm tuas pemutar. Penelitian dilakukan menggunakan mesin pengering tipe rotary manual dengan bahan bakar gas LPG. Percobaan yang dilakukan yaitu menghitung laju penurunan kadar air kopi, kapasitas mesin, efisiensi termal, dan daya putar mesin pengering dengan melakukan pengambilan data sebanyak tiga kali sebagai pengulangan pada setiap perlakuan yang diujikan. Perlakuan yang diujikan menggunakan 4 perlakuan massa kopi awal yaitu 2 kg (P1), 3 kg (P2), 4 kg (P3) dan 5 kg (P4).Perubahan kadar air kopi paling cepat terjadi pada perlakuan P1 dengan waktu pengeringan selama 4 jam dan kadar air akhir sebesar 12,83 % bb dengan laju pengeringan sebesar 10,15%/jam. Kapasitas optimum mesin pengering sebesar 4,5 kg. Efisiensi termal mesin pengering rata-rata sebesar 13,29%, dan daya putar mesin pengering paling besar terjadi pada perlakuan P4 yaitu sebesar 17, 75 watt.The coffee plant (Coffea sp.) includes the Rubiaceae family and is the most widely traded tropical plant in the world. According to Wanggai (2007), if the application of coffee plantation cultivation technology in the community is improved, then the production can be improved. Drying is an important step in coffee processing, one of which uses manual rotary type drying machine. The purpose of this research is to analyze the performance of manual rotary type drying machine in coffee drying, including changes in water content, optimum capacity, thermal efficiency, and turning power of the dryer. The research method is experimental method. Measured variables were temperature, coffee mass, time, fuel mass, rotating lever power, diameter of rotary lever, and rpm of rotary lever. The study was conducted using a manual rotary type dryer engine with LPG gas fuel. The experiments were to calculate the rate of decreasing the water content of coffee, machine capacity, thermal efficiency, and the rotary power of the dryer by collecting the data three times as repetition on each treatment tested. The treatments were tested using 4 initial mass coffee treatments of 2 kg (P1), 3 kg (P2), 4 kg (P3) and 5 kg (P4). The most rapid changes in coffee water content occurred in treatment P1 with 4 hours drying time and final water content of 12.83% bb with a drying rate of 10.15% / hour. The optimum capacity of dryer machine is 4.5 kg. The thermal efficiency of the dryer machine averaged 13.29%, and the largest engine turnover occurred at P4 treatment of 17.75 watts.
1782621530E1A014048TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN ANAK OLEH IBU KANDUNGNYA (Kinderdoodslag) (Studi Terhadap Putusan Perkara Nomor 135/Pid.B/2015/PN.Kbm) Penelitian dengan judul TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN ANAK OLEH IBU KANDUNGNYA (Kinderdoodslag) (STUDI TERHADAP PUTUSAN PERKARA NOMOR 135/Pid.B/2015/PN.Kbm), dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penerapan unsur-unsur Pasal 341 KUHP dalam tindak pidana pembunuhan anak oleh ibu kandungnya serta untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim dalam menjatuhkan putusan. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian yuridis normatif. Data-data sekunder yang telah terkumpul diolah, disajikan dalam bentuk teks naratif atau deskriptif, dan dianalisis dengan metode kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perbuatan Terdakwa merupakan tindak pidana yang telah memenuhi unsur di dalam Pasal 341 KUHP, yaitu: 1) Unsur seorang ibu; 2) Unsur dengan sengaja mengilangkan nyawa anaknya; 3) Unsur pada waktu anak itu dilahirkan atau tidak beberapa lama anak itu dilahirkan; 4) Unsur takut ketahuan melahirkan seorang anak dan Dasar pertimbangan hukum Hakim dalam menjatuhkan pidana dalam Putusan Perkara Nomor 135/Pid.B/2015/PN.Kbm diatur dalam Pasal 50 Undang-Undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dasar pertimbangan hakim ada dua yaitu Dasar mengadili dan Dasar memutus. Dasar mengadili telah diatur dalam ketentuan Pasal 84 KUHAP, sedangkan Dasar memutus dengan terlebih dahulu mempertimbangkan terbuktinya semua unsur-unsur Pasal 341 KUHP, adanya pembuktian berdasarkan alat-alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yang diperkuat dengan barang bukti yang diajukan dalam persidangan serta keyakinan dari Hakim dan adanya hal-hal yang memberatkan dan meringankan ancaman pidana terhadap Terdakwa, yang diatur dalam Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP serta mempertimbangkan hak terdakwa, masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, yang diatur dalam Pasal 22 ayat (4) KUHAP.

Kata Kunci: Tindak Pidana, Pembunuhan Anak, Ibu Kandung

This study has the title "CRIME OF CHILD MURDER BY HIS MOTHER" (Kinderdoodslag) (STUDIES IN CASE VERDICT NUMBER 135/ Pid.B/2015/PN.Kbm), conducted with the aim to know the application of elements of Article 341 of the Criminal Code in a criminal act murder a child by his biological mother and to know the judge's legal consideration in deciding the verdict. The approach method used in the research is the normative juridical approach. The secondary data that has accumulated is processed, presented in the narrative or descriptive text, and analyzed by the qualitative method.
Based on the results of the research and discussion can be concluded that the Defendant act is a crime that has complied the elements in Article 341 of the Criminal Code, namely: 1) Elements of a mother; 2) Elements deliberately eliminate the lives of their children; 3) The element at the time the child was born or not some time the child was born; 4) The element of fear of discovery gave birth to a child and basic of the judge's legal considerations in the imposition of the criminal sanction in Case Verdict Number 135 / Pid.B / 2015 / PN.Kbm provided for in Article 50 of Law Number 48 of 2009 on Judicial Power. Basic considerations there are two basic judges adjudicate and decide basis. Basic prosecute has been subject to the provisions of Article 84 Criminal Code, while basic cut off by first considering the evidence of all the elements of Article 341 of the Criminal Code, the existence of proof based on the evidence provided in Article 184 paragraph (1) Criminal Procedure Code which is reinforced by the evidence presented in the trial and conviction of the judge and the things burdensome and lighten criminal threats against the defendant, which is stipulated in Article 197 paragraph (1) f of the Criminal Procedure Code as well as consider the arrest or detention is deducted entirely from the sentence imposed, as provided in Article 22 paragraph (4) Criminal Procedure Code

Keywords: Crime, Child Murder, Mother



1782721541A1M013014Preferensi Konsumen terhadap Yoghurt Jagung pada Masyarakat Kota PurwokertoYoghurt merupakan salah satu minuman fermentasi. Pada umumnya, yoghurt terbuat dari susu sapi, namun sekarang mulai banyak penelitian yang menggunakan bahan dasar nabati, contohnya adalah jagung manis. Jagung manis merupakan salah satu bahan pangan yang dapat diolah menjadi yoghurt nabati. Yoghurt jagung manis memiliki beberapa keunggulan dari yoghurt hewani pada umumnya, diantaranya adalah kandungan serat, karbohidrat, dan karoten yang lebih tinggi dari yoghurt pada umumnya. Penelitian tentang sifat fisik, kimia, maupun fisikokimia yoghurt jagung sudah banyak dilakukan namun belum banyak yang meneliti tentang preferensi konsumen yoghurt jagung manis. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui penilaian sifat sensoris dan preferensi konsumen terhadap yoghurt jagung manis, mengetahui pengaruh karakteristik responden terhadap preferensi pada yoghurt jagung manis.
Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan responden masyarakat Kota Purwokerto. Responden ditentukan dengan accidental sampling, jumlah responden ditentukan dengan metode slovin. Total responden sebanyak 100 orang yang tersebar di 4 kecamatan (Purwokerto Utara, Purwokerto Timur, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan). Pada penelitian ini terdapat 3 jenis yoghurt yang diujikan kepada responden yaitu yoghurt jagung manis dengan penambahan 5% susu skim (A), 10% susu skim (B), 15% susu skim (C). Faktor yang diamati pada penelitian ini adalah penilaian sensori pada warna, aroma, rasa dan kesukaan, serta pengaruh karakteristik konsumen yaitu usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan terhadap kesukaan. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji Friedman dan uji chi square.
Hasil penelitian menunjukkan konsumen paling menyukai yoghurt jagung manis dengan penambahan susu skim 15%. Sifat sensoris yoghurt jagung manis yang disukai oleh masyarakat adalah yoghurt jagung manis yang berwarna putih kekuningan (1,94), aroma jagung tidak terlalu kuat (2,85), rasa yang asam (3,91). Karakteristik responden yaitu usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan tidak berpengaruh (p>0,05) pada penilaian tingkat kesukaan terhadap yoghurt jagung.
Yoghurt is one of the fermented drinks. Generally, yoghurt is made from cow's milk, but now many studies are beginning to use vegetable base, for example is sweet corn. Sweet corn is one of the foods that can be processed into vegetable yoghurt. Sweet corn yogurt has some of the hallmarks of animal yoghurt in general, which is higher in fiber, carbohydrate, and carotene than yoghurt in general. Research on the physical, chemical, and physicochemical yoghurt has been done but has not much to discuss about the preferences of sweet corn yoghurt. This study aims to: know the characteristics of consumers and consumer preferences of yoghurt, know the influence of respondent's characteristic to preferences for sweet corn yoghurt.
This research is a survey research with respondent sample that is community of Purwokerto City. Respondents with accidental sampling, the number of respondents determined by slovin method. Total respondents were 100 people spread in 4 sub-districts (Purwokerto Utara, Purwokerto Timur, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan). In this study, 3 types of yogurt were tested with sweet corn yoghurt with 5% skim milk (A), 10% skim milk (B), 15% skim milk (C). Factors observed in this study were sensory assessment on color, aroma, taste and preferences, and the influence of consumer characteristics on age, education and work of preferences. The data obtained in the analysis using Friedman test and chi square test.
The results showed that most consumers liked sweet corn yoghurt with the addition of 15% skim milk with yoghurt color yellowish white (1.94), aroma of corn is not very strong (2.85) and acidic taste (3.91). Characteristics of respondents on age, education and work have no effect (p> 0.05) on the preference for sweet corn yoghurt.
1782820853A1H013036RANCANG BANGUN ALAT PENDETEKSI FORMALIN DENGAN SENSOR GAS SEMIKONDUKTOR SnO2 BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 2560Penyalahgunaan zat formalin sebagai bahan pengawet di Indonesia semakin banyak ditemukan. Banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi kasus penyalahgunaan formalin, salah satunya adalah dengan melakukan analisis kimia pada bahan pangan yang dicurigai mengandung zat formalin, hal ini tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak semua kalangan masyarakat mampu untuk melakukan analisis tersebut. Oleh karena itu, peneliti merancang alat pendeteksi formalin yang diharapkan dapat mendeteksi formalin secara cepat, dan dapat digunakan oleh semua kalangan masyarakat tanpa membutuhkan latar belakang pendidikan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk merancang bangun alat pendeteksi formalin berbasis ATmega 2560, mempelajari bagaimana karakteristik tiap sensor dalam pendeteksian formalin, dan mengetahui bagaimana pola data yang diukur oleh sensor terhadap sampel dengan menggunakan metode Principle Component Analysis. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode PCA (Principle Component Analysis) sebagai metode analisis utama, Loading Plot, dan Ecludian Distance sebagai analisis pendukung. Rancang bangun alat pendeteksi formalin berbasis mikrokontroller Arduino ATmega 2560 pada penelitian kali ini mengunakan tujuh jenis sensor semikonduktor yaitu sensor gas TGS2600, TGS2602, TGS2620, MQ137, MQ135, MQ5 dan TGS813. Hasil dari ketiga metode analisis menunjukkan deret tujuh sensor yang digunakan mampu mengindra keberadaan formalin pada sampel dengan kadar konsentrasi formalin yang berbeda. Semakin tinggi konsentrasi formalin pada bahan pangan, respon sensor menunjukkan luaran sensor yang semakin tinggi pula. Analisa nilai PCA juga menunjukkan hasil kumulatif dari nilai dua PC (Principle Component) yang dapat digunakan untuk membedakan konsentrasi formalin (10%, 20% dan 30%) secara jelas, namun keberadaan formalin pada bahan pangan, sistem baru dapat membedakan bahan pangan tanpa formalin dengan bahan pangan yang terpapar formalin secara jelas.Abuse of formalin substances as preservatives in Indonesia is increasingly found. Many efforts are made to overcome cases of abuse of formalin, one of them is to conduct chemical analysis on food that is suspected to contain formalin substance, this certainly takes a long time and not all people are able to do the analysis. Therefore, researchers designed a formalin detection tool that is expected to detect formalin quickly, and can be used by all societies without the need for high educational background. The purpose of this study was to design the build of ATmega 2560 formalin detection apparatus, to study how the characteristics of each sensor in formalin detection, and to know how the data pattern measured by the sensor against the sample using Principle Component Analysis method. Data analysis method used in this research is PCA (Principle Component Analysis) method as main analysis method, Loading Plot, and Ecludian Distance as supporting analysis. Design of formalin detection tool based on microcontroller Arduino ATmega 2560 in this research using seven kind of semiconductor sensor that is gas sensor TGS2600, TGS2602, TGS2620, MQ137, MQ135, MQ5 and TGS813. The results of the three analytical methods showed that the seven sensor series used were able to sense the presence of formalin in samples with different levels of formalin concentration. The higher the formalin concentration in the food, the sensor response shows the higher sensor output. Analysis of PCA values also shows the cumulative results of two PC values (Principle Component) that can be used to clearly distinguish formalin concentrations (10%, 20% and 30%), but the presence of formalin in foodstuffs, the new system can differentiate food without formalin with food exposed to formaldehyde clearly.
1782920851B1J013123Karakteriasi Morfologi Jamur Makroskopis Di Kebun Raya BaturradenJamur merupakan salah satu indikator dari ekosistem hutan yang baik dan memiliki peran yang sangat fungsional bagi ekosistem sebagai dekomposer, simbion pada tanaman, dan mengatur siklus hara tanah. Diversitas jamur yang tinggi di hutan perlu diinventarisasi guna mengetahui kekayaan spesies, serta menyediakan data dan informasi mengenai manfaat dari setiap spesies tersebut. Kebun Raya Baturraden memiliki iklim yang cocok untuk pertumbuhan jamur, karena memiliki temperatur rendah, kelembapan tinggi, pH tanah asam sampai netral, serta curah hujan tinggi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui genus dan atau spesies jamur makroskopis yang terdapat di Kebun Raya Baturraden dan mengetahui indeks biodiversitas (H’) jamur makroskopis yang ditemukan di Kebun Raya Baturraden.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Jamur makroskopis yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter makroskopis dan mikroskopis menggunakan buku kunci identifikasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif guna mengetahui karakter morfologi dan secara kuantitatif guna mengetahui indeks biodiversitas jamur makroskopis yang diperoleh. Hasil penelitian didapatkan 32 spesies dari 24 genera jamur makroskopis. Karakter jamur yang ditemukan rata-rata memiliki bentuk tudung convex, bentuk batang equal, dan bentuk lamela close. Indeks biodiversitas jamur makroskopis di Kebun Raya Baturraden termasuk dalam tingkat sedang dengan nilai H’ 1,96.
Mushroom is one of the indicator of a good forest ecosystem and it has a very functional role for the ecosystems, that is a decomposer, plant symbionts, and to regulate the soil nutrient cycles. The high fungi diversity in the forest needs to be inventoried to find out the richness of species as well as providing data and information about the benefits of each species. Baturraden Botanical Garden has an exact climate for the growth of mushrooms, which has a low temperature, high humidity, acid to neutral pH, and high rainfall density. This study is conducted in order to know the genus or species and the index of biodiversity of macroscopic fungi. The method used in the research is a survey with purposive random sampling. The fungi are identified by macroscopic and microscopic characters using identification key. Data were analyzed descriptively to know the morphological character and analyzed quantitatively to know the index of biodiversity of macroscopic fungi. The result of the inventory can be obtained 32 species of 24 genus of macroscopic fungi. The genus which often found are mycena, favolaschia and coprinellus. Then index of biodiversity of macroscopic fungi in Baturraden Botanical Garden is in medium level with H value 1,96.
1783020855A1L113026PENGARUH INTERVAL FERTIGASI NITROGEN, JENIS DAN
FREKUENSI PEMBERIAN BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum L.)
DI LAHAN PASIR PANTAI NUSAWUNGU, CILACAP
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan interval fertigasi nitrogen yang
optimum bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai, (2)
menentukan jenis dan frekuensi pembenah tanah yang memberikan pengaruh terbaik
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di lahan pasir pantai, dan (3)
mengetahui pengaruh interaksi antar interval fertigasi dengan jenis dan frekuensi
pembenah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di lahan
pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2017 sampai September 2017,
di lahan pasir pantai Jetis, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten
Cilacap. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (split plot), petak utama
adalah interval fertigasi (I), terdiri atas 2 taraf, yaitu tiap 7 hari (I1) dan tiap 14 hari
(I2). Anak petak adalah frekuensi pemberian pembenah tanah (M), terdiri atas 2 taraf,
yaitu tiap musim tanam (M1) dan 2 musim tanam sekali (M2) dan jenis pembenah
tanah (J), terdiri atas 3 taraf, yaitu Vertisol (J1), Campuran pupuk kandang ayam :
sapi = 1:1 (J2), dan Vertisol dan campuran pupuk kandang ayam : sapi = 1:1 (J3).
Data dianalisis dengan uji F dilanjutkan dengan DMRT 5 %. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) interval fertigasi 14 hari merupakan aplikasi yang paling
optimum dengan menghasilkan umbi segar 8,50 ton/ha . (2) Jenis dan frekuensi
pemberian pembenah tanah tiap musim dengan campuran tanah vertisol 30 t/ha dan
pupuk kandang (ayam dan sapi) 20 t/ha merupakan perlakuan terbaik untuk
pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah dengan menghasilkan umbi segar
11,45 ton/ha. (3) Tidak ada interaksi yang terjadi antara interval fertigasi dengan
jenis dan frekuensi pemberian pembenah tanah
This study aims to: (1) examine the effect of optimum nitrogen fertigation
intervals for the growth and shallot yields in coastal sandy land, (2) to determine the
type and frequency of soil enhancers that give the best effect to the growth and yield
of shallot on coastal sand, and (3) to know the effect of combinations between
fertigation intervals and the type and frequency of soil enhancers on the growth and
yield of shallots on coastal sandy land. The research was conducted in April 2017
until September 2017, at Jetis coastal sandy land, Banjarsari village, Nusawungu
sub-district, Cilacap regency. Research using a split plot design, the main plot is the
fertigation interval (I), consisting of 2 levels, ie every 7 days (I1) and every 14 days
(I2). The sub plot is the frequency of soil conditioner (M), consisting of 2 levels, ie
each planting season (M1) and 2 planting seasons (M2) and soil conditioner type (J),
consisting of 3 levels, Vertisol (J1), Mixed chicken manure: cow = 1: 1 (J2), and
Vertisol mixture of chicken manure: cow = 1: 1 (J3). Data were analyzed by F test,
then tested further by DMRT 5%. The results showed that (1) 7 days is the most
optimum aplication by yielding fresh tuber 9,14 ton/ha. (2) The type and soil
conditioner of soil mixture of clay soil 30 t / ha and manure (chicken and cow) 20 t /
ha is the best kind of improvement for the growth and yield of shallot crop with yield
of fresh tuber 11,45 t / ha.(3)There is no interaction between the fertigation interval
and the type and frequency of soil conditioners.
1783120854A1C113034Studi Komparatif Usaha Gula Kelapa Cetak dan Gula Aren di Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten BanyumasKonsumsi gula selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produksi gula domestik saat ini diperkirakan hanya mencapai 2,2 juta ton, sementara kebutuhan mencapai 5,7 juta ton. Jadi dibutuhkan tambahan sekitar 2,5 sampai 3 juta ton gula impor per tahun. Ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi gula cukup besar, sehingga perlu dilakukan diversifikasi produk yaitu upaya untuk mengusahakan atau memasarkan produk gula yang sejenis agar mampu memenuhi kebutuhan gula secara nasional, salah satunya yaitu gula aren. Gula aren juga diproduksi di Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas, namun usaha gula aren tidak berkembang seperti usaha gula kelapa cetak. Pohon aren kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan atau dibudidayakan secara intensif oleh berbagai pihak karena proses budidaya pohon aren yang sulit, belum tersedianya bibit unggul pohon aren, dan kendala pemasaran gula aren di tingkat perajin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keuntungan, Break Even Point, kelayakan usaha, dan nilai tambah dari usaha gula kelapa maupun gula aren.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa di Desa Sunyalangu terdapat usaha gula kelapa cetak dan gula aren. Pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 25 April sampai 3 Juni 2017 dengan sasaran perajin gula kelapa cetak dan gula aren. Penentuan sampel gula kelapa cetak menggunakan metode simple random sampling diperoleh 13 responden dan gula aren menggunakan metode sensus diperoleh 20 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis keuntungan; BEP; R/C; dan nilai tambah.
Usaha gula aren lebih menguntungkan dari gula kelapa cetak karena keuntungan usaha gula aren sebesar Rp3.222,88 per kg lebih besar dari keuntungan usaha gula kelapa cetak sebesar Rp2.625,07 per kg. Jumlah produk gula aren pada saat BEP sebesar 1,91 kg, penerimaan pada saat BEP Rp15.393,52, dan harga jual pada saat BEP Rp4.935,49 lebih kecil dari jumlah produk gula kelapa cetak pada saat BEP sebesar 4,55 kg, penerimaan pada saat BEP Rp33.239,29, dan harga jual pada saat BEP Rp4.669,23. Nilai R/C gula aren sebesar 1,66 lebih besar dari nilai R/C gula kelapa cetak sebesar 1,55. Nilai tambah gula aren sebesar Rp2.380,01 per kg dengan rasio nilai tambah 55 persen lebih besar dari nilai tambah gula kelapa cetak sebesar Rp2.297,73 per kg dengan rasio nilai tambah sebesar 57 persen.
Sugar consumption always increases from year to year. Domestic sugar production is currently estimated at only 2.2 million tons, while demand reaches 5.7 million tons. So it takes an additional 2.5 to 3 million tons of imported sugar per year. The dependence of society on sugar consumption is big enough, so it needs to diversify the product is effort to cultivate or market the same kind of sugar product to be able to fulfill requirement of sugar nationally, one of them is palm sugar. Palm sugar is also produced in Sunyalangu Village, Karanglewas Subdistrict, but the palm sugar business does not grow like a coconut sugar business. Palm trees receive less attention to be developed or cultivated intensively by various parties due to the difficult process of palm tree cultivation, the unavailability of superior seeds of palm trees, and marketing constraints of palm sugar at the crafters level. This study aims to determine the advantages, Break Even Point, business feasibility, and added value from the business of coconut sugar and palm sugar.
The research method used survey method. Site selection is done purposively, considering that in Sunyalangu Village there are coconut sugar and palm sugar business. The data was collected from April 25 to June 3, 2017 targeted by coconut sugar and palm sugar craftsmen. Sample determination of coconut sugar used simple random sampling method that obtained 13 respondents and palm sugar used census method that obtained 20 respondents. Data analysis used is profit analysis; BEP; R/C; and value added.
The palm sugar business is more profitable than coconut sugar because palm sugar business profit of Rp3,222.88 per kg is greater than the coconut sugar business profit of Rp2,625.07 per kg. The amount of palm sugar product at BEP of 1.91 kg, acceptance at BEP of Rp15,393.52, and selling price at BEP Rp4,935.49 less than the amount of coconut sugar product at BEP of 4.55 kg, receipt at BEP Rp33,239.29, and selling price at BEP Rp4,669.23. Palm sugar R/C value of 1.66 is greater than the value of R/C of coconut sugar at 1.55. The added value of palm sugar amounted to Rp2,380.01 per kg with a value added ratio of 55 percent greater than the added value of coconut sugar of Rp2,297.73 per kg with a value-added ratio of 57 percent.
1783220857A1C113028Kajian Finansial dan Kontribusi Pendapatan Pengrajin Opak Ketan Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Di Kecamatan Cibeureum Kota TasikmalayaOpak ketan merupakan sejenis makanan ringan yang bahan utamanya terbuat dari beras ketan. Sejak dulu Kota Tasikmalaya khususnya Kecamatan Cibeureum merupakan salah satu sentra opak ketan yang sudah dikenal sebagai pengrajin olahan makanan tradisional khas Orang Sunda. Olahan makanan opak ketan di Kecamatan Cibeureum merupakan pekerjaan utama bagi pengrajin, namun para pengrajin belum melakukan pembukuan dengan baik seperti biaya produksi, penerimaan dan pendapatan, sehingga pengrajin tidak mengetahui usaha tersebut layak atau tidak, serta besarnya kontribusi pendapatan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya produksi, pendapatan, R/C dan kontribusi pendapatan pengrajin opak ketan terhadap pendapatan rumah tangga. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan September 2017 di Kampung Cikatuncar dan Kampung Cilendek Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan karena hanya ada dua kampung tersebut yang memproduksi opak ketan di Kecamatan Cibeureum. Metode analisis data yang digunakan meliputi: analisis biaya, pendapatan, R/C, dan kontribusi pendapatan pengrajin opak ketan terhadap pendapatan rumah tangga. Hasil penelitian sebagai berikut: total biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan pengrajin opak ketan sebesar Rp17.760.986, penerimaan rata-rata sebesar Rp25.963.000, dan pendapatan rata-rata sebesar Rp8.202.015. Nilai R/C rata-rata sebesar 1,4, dengan demikian pengrajin opak ketan di Kecamatan Cibeureum layak untuk diusahakan, karena R/C lebih besar dari 1. Besarnya kontribusi pendapatan pengrajin opak ketan terhadap pendapatan rumah tangga rata-rata sebesar 87,37 persen, yang dapat diartikan bahwa usaha opak ketan tersebut merupakan pekerjaan pokok atau utama. Glutinous rice opak is a kind of snack that the main ingredients are made from glutinous rice. Since the first Tasikmalaya City, especially District Cibeureum is one of the glutinous rice opak center that has been known as craftsmen processed traditional food typical of the sundanese. The glutinous rice opak household industry doesn’t calculate financial in detail such us cost production, revenue, and benefit, so the industry doesn’t know the business feasible or not to be continued. The research aim to was to find out the costs, benefit business, R/C and well as revenue contribution business activities glutinous opak to household income. Data collection is conducted from August to September 2017 in Kampung Cikatuncar and Kampung Cilendek, Cibeureum subdistrict, Tasikmalaya city. Site selection is done purposively. The consideration is that there are only two urban villages producing glutinous rice opak in Cibeureum Subdistrict. Data analysis includes: cost analysis, benefit, R/C, and revenue contribution business activities glutinous rice opak on household income. The result of the study as follows: total average production cost used is Rp17.760.986, the average admission is Rp25.963.000, and the benefit an average of Rp8.202.015. the average R/C value is 1,4, therefore glutinous rice opak business in Cibeureum District worthy, because R/C greater than 1. The majoy business revenue Contributions of glutinous rice opak on household income average of 87,37 percent, which can be interpreted that the business is glutinous rice opak is the main job or main.
1783320858C1F015006EVALUASI PENGELOLAAN DANA DESA DI KECAMATAN SEWON, KABUPATEN BANTULPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan Dana Desa di Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dana Desa yang dimaksud adalah APBN sebagai amanat dari UU No.6 tahun 2014. Penelitian ini diarahkan pada evaluasi pengelolaan dana desa dari tahap perencanaan hingga tahap pelaporan dana desa.
Populasi dalam penelitian ini adalah Desa-Desa di Indonesia. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah desa-desa di Kecamatan Sewon yaitu sejumlah 4 desa. 4 Desa tersebut adalah Desa Bangunharjo, Desa Panggungharjo, Desa Pendowoharjo dan Desa Timbulharjo. Analisis dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Setelah mendapatkan gambaran pengelolaan dana desa dilapangan dilanjutkan dengan analisis berdasarkan dokumen-dokumen yang sudah diperoleh serta wawancara.
Hasil penelitian ini bahwa pengelolaan Dana Desa (DD) di Kecamatan Sewon sudah cukup baik. Semua desa telah mencapai realisasi dana desa diatas 90% sehingga dapat telah efektif. Terdapat 3 desa telah cukup efisien sedangkan satu Desa yang masih kurang efisien.
This study purposes to evaluate the effectiveness and efficiency in the management of Village Funds in Sewon, Bantul, Yogyakarta. The Village Fund is referred to as APBN as mandate of Law No. 6 of 2014. This research is directed to evaluate of village fund management from planning stage to village fund reporting stage.
The population in this study are the villages in Indonesia. While the sample in this study is the villages in the subdistrict of Sewon that consist of 4 villages. The four villages are Bangunharjo, Panggungharjo, Pendowoharjo and Timbulharjo. The analysis is done by qualitative descriptive analysis. After getting the description of village fund management followed by analysis based on the documents that have been obtained and interview.
The result of this research is that the management of Village Fund in in the subdistrict of Sewon is good enough. All villages have achieved realization of village funds above 90% so that it can be effective. There are 3 villages have been efficient enough while one village is still less efficient.
1783420861A1C113041ANALISIS KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF
INDUSTRI GULA SEMUT DENGAN ANALISIS BIAYA SUMBERDAYA DOMESTIK DI KOPERASI SERBA USAHA (KSU) NIRA SATRIA, KECAMATAN CILONGOK
Koperasi Serba Usaha (KSU) Nira Satria memasarkan produknya dalam orientasi Perdagangan Antar Daerah (PAD) dan Promosi Ekspor (PE), agar dapat mempertahankan posisi dan meningkatkan kemampuan bersaingnya koperasi perlu mengetahui keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk 1)Mengetahui profil KSU Nira Satria, 2)Mengetahui pendapatan finansial maupun pendapatan ekonomi KSU Nira Satria pada orientasi PAD dan PE, 3)Menganalisis keunggulan kompetitif dan komparatif KSU Nira Satria pada orientasi PAD dan PE, dan 4)Mengetahui batas kenaikan harga bahan baku yang dapat ditolerir dan pengaruhnya terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif. Penelitian dilaksanakan di Koperasi Serba Usaha (KSU) Nira Satria, Kecamatan Cilongok pada bulan September 2017 dengan metode studi kasus. Sasaran penelitian adalah data penjualan produk dan komponen biaya produksi gula semut di KSU Nira Satria periode tahun 2014 sampai 2016. Analisis data meliputi: 1)analisis deskriptif, 2)analisis pendapatan, 3)analisis biaya sumberdaya domestik, dan 4)analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KSU Nira Satria memasarkan produk gula semutnya sebesar 10 persen untuk lokal dan 90 persen untuk luar negeri. Hasil analisis baik finansial maupun ekonomi keduanya menguntungkan. Keunggulan kompetitif orientasi PAD lebih tinggi dibandingkan orientasi PE. Meskipun kenaikan harga bahan baku memberikan nilai positif yang menyebabkan kenaikkan nilai KBSD dan KBSD*, keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif yang dimiliki tetap stabil terhadap perubahan harga bahan baku dari tingkat harga semula. The market of Multipurpose Cooperative (KSU) Nira satria product is in the orientation of Inter-Regional Trade (PAD) and Export Promotion (PE). In order to maintain the position and improve the competitiveness of cooperativesneed to know the advantages possessed. This research is aimed at 1)Knowing profile of KSU Nira Satria, 2)Knowing financial income and economic income of KSU Nira Satria on PAD and PE orientation; 3)Analyzing competitive and comparative advantage of KSU Nira Satria on PAD and PE orientation; and 4)Knowing limits tolerable price increases of raw materials and their impact on comparative and competitive advantages. The research was conducted in Nira Satria Multipurpose Cooperatives (KSU), Cilongok Sub-district,on September 2017 with case study method. The research targets are sales data of anther and palm sugar production cost at KSU Nira Satria period 2014 to 2016. Data analysis includes: 1)descriptive analysis, 2)income analysis, 3)analysis of domestic resource cost, and 4)sensitivity analysis. The results show that KSU Nira Satria markets its products at 10% for local and 90% for overseas. The results of both analysis, financial and economic are profitables. The competitive advantage of PAD orientation is higher than the PE orientation. Although, the increase in raw material prices provides a positive value that leads to an increase in the value of KBSD and KBSD *, its competitive advantage and comparative advantage remain stable against changes in raw material prices from the original price level.
1783520860A1C012018FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI PETANI DALAM USAHATANI JAGUNG DI DESA LINGGASARI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS Jagung merupakan salah satu komoditas utama yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di Indonesia. Desa Linggasari adalah desa penghasil jagung tertinggi di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Pada tahun 2015, produksi jagung di Kecamatan Kembaran mengalami penurunan dari 8.320 ton/tahun menjadi 6.172 ton/tahun. Produksi jagung yang menurun ini berhubungan dengan motivasi petani dalam menanam jagung. Motivasi petani dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi petani jagung adalah umur, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, dan pengalaman usahatani. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi petani jagung adalah informasi dari petani lain, peluang pasar, dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui tingkat motivasi petani dalam berusahatani jagung, 2) mengetahui bagaimana pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam usahatani jagung di Desa Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Pengambilan data dilaksanakan di Desa Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas pada tanggal 15 November hingga 9 Desember 2016. Metode yang digunakan dalam penentuan responden dilakukan dengan metode simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 54 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis validitas dan reabilitas, analisis Method of Successive Interval dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tingkat motivasi petani dalam usahatani jagung di Desa Linggasari secara keseluruhan berada dalam kategori tinggi, nilai rerata tingkat motivasi petani sebesar 65,72 yang berada di antara median dan kuartil tiga, 2) secara keseluruhan terdapat pengaruh antara variabel umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, informasi dari petani lain, peluang pasar, dan pendapatan usahatani jagung terhadap motivasi petani jagung, sedangkan secara parsial variabel tingkat pendidikan, peluang pasar, dan pendapatan usahatani jagung berpengaruh terhadap motivasi petani jagung, sedangkan variabel umur, pengalaman usahatani, tanggungan keluarga, luas lahan, dan informasi dari petani lain tidak berpengaruh terhadap motivasi petani jagung di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran.Corn is one of the main commodities that mostly cultivated in Indonesia. The village of Linggasari was the highest corn-producing village in Kembaran District Banyumas Regency. In 2015, the production of corn in Kembaran District has decreased from 8.320 tons/year into 6.172 tons/year. The decreased of corn production has related to the farmer’s motivation for planting corn. The motivation of farmers can be affected by several factors, which consists of internal factors and external factors. Internal factors that can affect the corn farmer is age, land area, number of family dependants, education level, and experience of farming. External factors that can affect corn farmers is information from other farmers, market opportunities, and income of corn farming. This research aims to: 1) find out the level of farmer’s motivation of corn farming, 2) find out how factors that affect the farmer’s motivation of corn farming in the village of Linggasari Kembaran District Banyumas Regency. The research was carried out in the village of Linggasari Kembaran District Banyumas Regency on November 15th to Desember 9th 2016. Determination method of the respondent's is done by simple random sampling method with the total number of respondents as many as 54 people. Analysis of the method used is descriptive analysis, validity and reliability analysis, Method of Successive Intervals analysis and multiple linear regression analysis. The results showed that: 1) the level of farmer’s motivation of corn farming in the village of Linggasari Kembaran District as a whole are in high categories, the value of the average level of the farmer’s motivation amounted to 65,72 between median and quarter three, 2) in total, there are influences between variables age, level of education, experience of farming, the number of family dependants, land area, information from other farmers, market opportunities, and the income of farming corn against corn farmers’s motivation, while partially variable levels of education, market opportunities, and the income of farming corn influences corn farmers’s motivation, whereas the variables age, experience of farming, family dependants, land area, and the information from the farmer no other effect on the motivation of the corn farmers in the village of Linggasari, Kembaran District.
1783620862F1A013065Tradisi Begalan dalam Adat Pernikahan Banyumas Khas Desa Kalisalak di Kecamatan Kedungbanteng
Tradition Begalan in Traditional Wedding Banyumas Typical Village Kalisalak in Kedungbanteng District
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi tradisi begalan dalam adat pernikahan Banyumas dan perubahan yang terjadi pada tradisi begalan. Sasaran utama penelitian ini adalah anggota group begalan dan beberapa masyarakat yang ketika hajatan mengadakan tradisi begalan. Tradisi begalan merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak lama, berawal pada masa pemerintahan bupati pertama yang bernama Ki Hadi Wijaya yang akan menikahkan anaknya dengan seorang pemuda bernama Adipati Wirasaba dan terjadi perampokan saat dalam perjalanan yang terjadi pada hari sabtu pahing. Tradisi begalan di Desa Kalisalak memiliki ciri khas di antaranya iringan lagu, tarian dan kostum yang digunakan serta peralatan yang digunakan. Eksistensi tradisi begalan dapat dilihat dari masih dilaksanakannya tradisi begalan, adanya organisasi group begalan, serta upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensinya dengan meneruskan informasi secara terus menerus dan mengembangkan pola, seperti tata bahasa untuk menarik perhatian masyarakat. Perubahan yang terjadi pada tradisi begalan di antaranya, waktu pelaksanaan, alat musik yang digunakan tidak lagi menggunakan iringan gendhing asli tetapi hanya menggunakan kaset audio yang membuat masyarakatnya cenderung praktis hal ini dikarenakan tidak lagi adanya gending dan orang yang memainkan, dan tidak lagi diadakannya sesajen dalam ritual tradisi begalan karena adanya anggapan musrik. Research aims to understand to determine the existence of traditional begalan in Banyumas wedding customs and changes that occur in traditional begalan. The main targets of this research are group members and somesocieties when the celebration holds a tradition. Tradition begalan is a tradition that has been done for a long time, originated in the reign of the first regent named Ki Hadi Wijaya who will marry his first child with man named Adipati Wirasaba and robbery occured during the journey that on Saturday pahing. Tradition begalan in the Village Kalisalak has characteristics such as the accompainment of song, dance and costumes used and the equipment used. The existence of traditions can be seen from thhe persistence of tradition begalan, the existence of group organizations sand efforts made to maintain its existece by continuing information coninously and develop a pattern , such as grammar to attract public attention. Changes that occur in the tradition such as, time of execution, thhe instrumentused is no longer using the accompainment of original music but only using audio tapes that make people tend to practical this is becaue no longer the gendhing and player, and no longer held sesajen in ritual tradition because of musric assumption.
1783720863A1C012036FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM USAHATANI TANAMAN PANGAN PADA MUSIM KEMARAU DI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS Terdapat beraneka ragam jenis tanaman pangan seperti serealia, biji-bijian, umbi-umbian, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Kecamatan Kembaran merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan beberapa komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung, bengkuang dan kacang tanah. Petani sebagai pengelola usahatani dapat memilih dan mengambil keputusan terhadap usahataninya, terutama dalam menghadapi musim. Petani tentunya memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga mereka membudidayakan komoditas tersebut pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi karakteristik petani tanaman pangan, 2) menghitung besarnya biaya dan pendapatan usahatani tanaman pangan pada musim kemarau, dan 3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam usahatani tanaman pangan pada musim kemarau. Metode yang digunakan dalam penentuan responden adalah metode Simple Random Sampling dengan jumlah responden sebanyak 43 orang. Penelitian dilaksanakan pada 23 Desember 2016 sampai dengan 30 Januari 2017. Metode analisis yang digunakan adalah analisis usahatani dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) karakteristik petani di Kecamatan Kembaran berjenis kelamin laki-laki, berumur produktif, luas lahan petani cukup luas dan merata, tingkat pendidikan petani rendah, pengalaman usahatani sudah cukup berpengalaman, jumlah anggota keluarga petani cukup banyak, dan jumlah tanggungan keluarga petani sedikit, 2) usahatani yang mengeluarkan biaya terendah adalah usahatani jagung dan usahatani yang mengeluarkan biaya tertinggi adalah usahatani bengkuang, sedangkan usahatani yang paling menguntungkan adalah usahatani bengkuang, dan 3) faktor-faktor yang sangat mempengaruhi pengambilan keputusan petani pada musim kemarau: usahatani padi adalah jumlah tanggungan keluarga; usahatani jagung adalah biaya produksi; usahatani bengkuang adalah luas lahan; dan usahatani kacang tanah adalah kemudahan budidaya.There are so many types of food crops, such as cereals, grains, tubers, and various other types. Kembaran Subdistrict is one of the subdistricts in Banyumas Regency, which is famous by food crops commodity, such as rice, corn, yam bean, and peanuts. Farmers as managers of farming can choose and take decisions, especially to face of the season. Farmers obviously has certain considerations so that they are cultivating these commodities during the dry season. The research aims to: 1) identifying characteristics of food crop farmers, 2) calculating the magnitude of the costs and income of farmers food crops during the dry season, and 3) find out the factors that affect the decision-making of farmers in food crops farming during the dry season.The methods used in the determination of the respondent is Simple Random Sampling with the total number of respondents as many as 43 persons. The research was carried out during December 23rd 2016 until January 30th 2017. Analysis of the method used is analysis of farming and analysis of factors.The results showed that: 1) characteristics of the farmer in Kembaran Subdistrict are male farmers, has productive age, the land area is quite extensive and evenly, has low level of education, has enough experienced, the number of family members are quiet a lot, and the number of family dependents just a few, 2) the lowest cost of farming is corn farming and the highest cost of farming is yam bean farming, while the most profitable is yam bean farming, and 3) factors that greatly influence the decision-making of farmers during the dry season: rice farming is the number of family dependents; corn farming is the production cost; yam bean is land area; and peanut farming is the ease of cultivation.
1783821542E1A014231EKSEPSI KOMPETENSI ABSOLUT SEBAGAI DASAR PUTUSAN GUGATAN TIDAK DITERIMA
(STUDI PUTUSAN NOMOR 076/G/2015/PTUN.Smg)
ABSTRAK
Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN), menyebutkan mengenai kewenangan/kompetensi absolut PERATUN bahwa pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara, yaitu sengketa yang timbul akibat dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN). Pada kasus putusan Nomor 076/G/2015/PTUN.Smg, para penggugat mengajukan gugatan dengan objek gugatannya berupa sertifikat hak atas tanah, sehingga timbul permasalahan dalam menentukan kompetensi absolut PERATUN yang menempatkan sertifikat hak atas tanah sebagai objek gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus dan pendekatan konseptual. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang disusun secara sistematis, logis dan rasional.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sertifikat hak atas tanah sebagai objek gugatan di PTUN merupakan kompetensi absolut PERATUN, apabila dalam gugatannya ialah mempermasalahkan keabsahan diterbitkannya KTUN dan dalam petitumnya agar KTUN tersebut dinyatakan batal atau tidak sah. Pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara a quo yang menyatakan gugatan tidak diterima, tidak mendasarkan pada SEMA Nomor 7 Tahun 2012 tentang Rumusan Hukum Hasil Rapat Plano Kamar Mahkamah Agung sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang berisi mengenai ketentuan dalam menentukan suatu sengketa merupakan sengketa Tata Usaha Negara atau sengketa Perdata (kepemilikan).
ABSTRACT


The Article 47 Undang-Undang No 5 Tahun 1986 about Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN), mentions the authority or absolute competence of PERATUN that the court has the duty and authority to examine, decide, and resolve the PERATUN that is the dispute which cause by issuing a Decision of State Administration. The study comes on the decision No 076/G/2015/PTUN.Smg. the plaintifs filed lawsuit which the object of its is a land title, then there is problem in deciding PERATUN absolute competence in making a land titles as a lawsuit paintifs in Administrative Court.
The approach method used in this research is the normative juridical approach method with legislation, case, and conceptual approach. The research specification is the perspective in the form of description which arranged systematically, logically, and rationally.
The result of this study indicate that land title certificate as the object of the lawsuit in the Adminnistrative Court is absolute competence of PERATUN, if in its lawsuit is to question the validity of the issuance of the KTUN and in its petitum so that the KTUN shall be declared null and void. The judge’s legal consideration in deciding the a quo case which states the lawsuit is not accepted according to SEMA No 7 in 2012 regarding Legal Formulation of The Plenary Result Meeting of The Supreme Court Room as A Guideline for The Duties Execution for The Court containing the provisions in determining a dispute which is dispute of State Administration or civil disputes (ownership).
1783920864A1H013043RANCANG BANGUN DAN UJI PERFORMANSI REVERSE FLOW BIODIESEL REACTOR SECARA BATCHBahan bakar fosil selama ini menjadi sumber energi utama yang paling sering dimanfaatkan oleh manusia. Biodiesel merupakan salah satu sumber energi alternatif dan terbarukan yang dapat diperbaharui selama bahan bakunya masih tersedia, biodiesel dapat diproduksi melalui proses transesterifikasi. Proses transesterifikasi biodiesel biasanya memanfaatkan putaran adukan yang searah. Adukan yang searah menghasilkan efek aliran vortex. Aliran vortex menyebabkan tumbukan molekul yang berlangsung pada proses transesterifikasi menjadi kurang efektif sehingga dapat menghambat laju reaksi dan dapat berpengaruh pada hasil proses transesterifikasi. Laju reaksi yang berlangsung lama juga akan membebani kinerja motor penggerak pada reaktor. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan inovasi untuk merubah aliran adukan yang tadinya satu arah menjadi aliran bolak-balik. Tujuan dari penelitian adalah merancang reaktor biodisel aliran bolak-balik (reverse flow biodiesel reactor) yang dapat meningkatkan tumbukan antar molekul serta mempercepat laju reaksi transesterifikasi dan mengetahui kualitas biodiesel yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa reverse flow biodiesel reactor dapat berfungsi secara baik dan sesuai dengan perancangan dan perhitungan, reverse flow biodiesel reactor memiliki kapasitas tangki sebesar 7 liter dengan kecepatan pengadukan 500 rpm. Pada proses uji coba pembuatan biodiesel diberikan perlakuan katalis (KOH) sebanyak 0,5 %, perlakuan suhu sebesar 60 oC dan waktu produksi 10, 20, dan 30 menit. Hasilnya, kadar metil ester yang terkandung pada waktu 10 menit sebesar 99,35 %, waktu 20 menit 99,32 %, dan waktu 30 menit 99,46 %. Kemudian untuk rendemen yang dihasilkan pada waktu 10 menit sebesar 66,3%, 20 menit 78,3% dan 30 menit 71,7 %. Hasil tersebut sudah sesuai dengan SNI 7182:2015 dimana kadar metil ester yang terkandung minimal sebesar 96,5%, sehingga dapat dikatakan bahwa hanya dalam waktu 10 menit reverse flow biodiesel reactor sudah dapat menghasilkan biodiesel dengan kualitas baik dan sesuai standar.Fossil fuels have been the main source of energy most often used by humans. Biodiesel is one of the renewable and renewable energy sources that can be renewed as long as the raw materials are still available, biodiesel can be produced through the transesterification process. The transesterification process of biodiesel usually takes advantage of a direct rotation of the mortar. A direct mix produces a vortex flow effect. Vortex flow causes molecular collisions that take place in the transesterification process to be less effective so that it can inhibit the rate of reaction and can affect the results of the transesterification process. The long-lasting reaction rate will also overload the performance of the driving force in the reactor. To overcome the problem is done innovation to change the flow of mortar that had one direction to flow back and forth. The purpose of this research is to design reverse flow biodiesel reactor which can increase collision between molecules and accelerate the rate of transesterification reaction and know the quality of biodiesel produced. The results showed that reverse flow biodiesel reactor can function well and in accordance with the design and calculation, reverse flow biodiesel reactor has a tank capacity of 7 liters with 500 rpm stirring speed. In the biodiesel testing process, the catalyst treatment (KOH) is 0.5%, the temperature treatment is 60oC and the production time is 10, 20, and 30 minutes. The result, the content of methyl ester contained at the time of 10 minutes amounted to 99.35%, time 20 minutes 99.32%, and time 30 minutes 99.46%. Then for yield yielded at the time of 10 minute equal to 66.3%, 20 minutes 78.3% and 30 minute 71.7%. The results are in accordance with SNI 7182: 2015 where the content of methyl ester contained at least 96.5%, so it can be said that in just 10 minutes reverse flow biodiesel reactor can produce biodiesel with good quality and standards.
1784020865B1J012024KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN OBAT TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT SUKU BADUY KANEKES BANTENIndonesia merupakan negara yang kaya akan kenakeragaman hayati. Keanekaragaman tumbuhan yang tumbuh di negara Indonesia meliputi 40.000 spesies, 1.300 spesies diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat sebagai obat. Indonesia sendiri terdapat banyak etnis yang menyimpan sejumlah pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat Suku Baduy yang merupakan salah satu suku etnis yang ada di Jawa Barat yang sampai saat ini dalam kehidupanya masih mempertahankan adat istiadat secara kuat sehingga belum banyak tersentuh oleh pengaruh moderenisasi, sementara adat tersebut terlihat baik dari cara hidup, perilaku kehidupan sehari-hari yang khas, terutama dalam penggunaan tumbuhan yang ada disekitarnya, baik, untuk dijadikan bahan makanan, kerajinan, dan obat-obatan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan pemanfaatan tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh Masyarakat Suku Baduy Kanekes Banten. Penelitian dengan menggunakan metode survey. Pengambilan sampel dengan teknik Snowball sampling. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara semi terstuktur dengan panduan kuesioner. Parameter penelitian meliputi sifat morfologi spesies tumbuhan seperti bagian tumbuhan, cara pemanfaatan dan manfaat tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Suku Baduy Kanekes Banten. Data hasil penelitian disajikan secara deskriptif.
Hasil penelitian di Masyarakat Suku Baduy Kanekes Banten diperoleh 40 familia, 61 genus dan 67 spesies. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan obat tradisional dari semua bagian yang diolah dengan cara direbus, diteteskan, disangrai, ditumbuk, diseduh, dioleskan, ditempel dan dimakan langsung. Tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu dari famili Zingiberaceae yaitu sebanyak 9 spesies atau 13,42 % yang bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti maag, badan pegal-pegal, demam, diare, asam urat, mengembalikan kebugaran setelah melairkan dan memacu keluarnya ASI.
Indonesia is a rich country in biodiversity. The diversity of plants grown in the country of Indonesia includes 40,000 species, 1,300 species of which are medicinal plants. Indonesia itself has many ethnicities which hold some knowledges about the use of plants as a medicine. The Baduy Tribe Society is one of the ethnic tribes in West Java that until now, in its life, still maintains strong customs. So that has not been touched by the influence of modernization, while the custom looks good from the way of life, the typical daily life behavior , especially in the use of existing plants nearby either for food, handcrafts, or medicines.
The purpose of this study is to determine the diversity and the utilization of plants used as a drug by the Baduy Society of Kanekes Banten. Sampling technique used in this research is survey method with Snowball sampling technique. Data were collected using semi-structured interview technique with questionnaire guidance. The research parameters include morphological characteristics of plant species such as plant parts, utilization methods and plant benefits used as traditional medicinal materials by the Baduy Kanekes Banten. The data of the research are presented descriptively.
The result of research at Baduy Kanekes Banten Society is 40 families, 61 genera and 67 species. The community uses plants as traditional medicinal ingredients from all parts, which processed by certain ways or be eaten directly. The most widely used plants of the family Zingiberaceae are as many as 9 species or 13.42% which is useful for treating various kinds of diseases such as ulcers, body aches, fever, diarrhea, gout, restore fitness after melting and spur the release of breast milk.