Artikelilmiahs
Menampilkan 17.901-17.920 dari 50.037 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 17901 | 20927 | G1A014095 | PERBEDAAN KADAR SUPEROXIDE DISMUTASE TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN PASCA INDUKSI BERBAGAI MODEL STRES SLEEP DEPRIVATION | Latar Belakang : Sleep deprivation (SD) dapat menyebabkan stres yanbg berakibat pada produksi stres oksidatif dengan menurunkan kadar antioksidan dalam tubuh atau ekspresi berlebihan dari prooksidan yang menyebabkan munculnya reaksi berlawanan yang memperburuk stres oksidatif. Sleep recovery (SR) dapat memperbaiki keseimbangan antioksidan dan radikal bebas termasuk reactive oxygen species (ROS) dengan mengurangi beban mitokondria akibat sleep deprivation. Tujuan : Mengetahui perbedaan kadar superoxide dismutase (SOD) tikus putih (Rattus norvegicus) jantan pasca induksi berbagai model stres sleep deprivation. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analisis eksperimental dengan posttest only and control group design. Hewan coba berjumalh 30 tikus dibagi ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol, kelompok PSD (20 jam SD/ hari selama 5 hari), TSD (20 jam SD/ hari selama 5 hari), kelompok PSD+SR (20 jam SD/ hari selama 5 hari dilanjutkan SR selama 7 hari) group, dan kelompok TSD+SR (24 jam SD/ hari selama 5 hari dilanjutkan SR selama 7 hari). Hasil : Nilai rerata tertinggi ditemukan pada kelompok TSD (82.70±12.93 U/mL), diikuti oleh kelompok PSD (68.92±19.08 U/mL), kelompok PSD+SR (62.20±11,27 U/mL), kelompok kontrol (53.35±5.77 U/mL), dan kelompok TSD+SR(52.69±9.34 U/mL). Uji One-way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0.05) nilai rerata SOD antar kelompok hewan coba. Uji Post-hoc Tukey menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok TSD (p=0.011) dan juga pada kelompok TSD dengan TSD+SR (p=0.009). Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan nilai rerata SOD tikus putih (Rattus norvegicus) jantan pasca induksi berbagai model stres sleep deprivation dan setelah induksi perlakuan sleep recovery. | Background : Sleep deprivation (SD) cause stress which is able to produce oxidative stress by the decreasing amount of antioxidant levels or overexpression of antioxidant that caused the opposite effects against oxidative stress. Sleep recovery (SR) could recover the balance between antioxidant and free radical and reactive oxygen species by reducing stress on mitochondria due to sleep deprivation. Objective : To find out the differences of superoxide dismutase (SOD) level in male albino rats after induction of various stress models of sleep deprivation. Method : The research was an analytical experiment with posttest only and control group design. Thirty male albino rats were distributed into 5 groups consist of control group, PSD (20 hours of SD/ day for 5 days) group, TSD (24 hours of SD/ day for 5 days) group, PSD+SR (20 hours of SD/ day for 5 days then SR for 7 days) group, and TSD+SR (24 hours of SD/ day for 5 days then SR for 7 days) group. Result : The highest mean of SOD level was found in TSD group (82.70±12.93 U/mL), followed by PSD group (68.92±19.08 U/mL), PSD+SR group (62.20±11,27 U/mL), control group (53.35±5.77 U/mL), and TSD+SR group (52.69±9.34 U/mL). One-way ANOVA test showed a significant difference (p<0.05) of SOD mean levels between groups. Post-hoc Tukey showed significant differences in control group between group TSD (p=0.011) and between group TSD and TSD+SR (p=0.009). Conclusion : The research showed significant differences of SOD mean level in male albino rats after induction of various stress models of sleep deprivation and after the induction of sleep recovery. | |
| 17902 | 20948 | H1D014057 | PERILAKU BALOK BETON YANG DIPERKUAT BAMBU DENGAN PEREKAT MORTAR M20 MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA | Kegagalan elemen struktur yang diakibatkan gempa sangatlah berbahaya. Salah satu upaya untuk menghindari kegagalan struktur adalah dengan dilakukannya perkuatan elemen struktur. Penggunaan bambu sebagai material perkuatan balok beton dengan pengikat mortar memiliki banyak kelebihan diantaranya harga yang murah, bahan yang ringan, dan mudah didapatkan, serta sesuai dengan kearifan lokal. ATENA merupakan program komputer berbasis elemen hingga khusus untuk menganalisis permasalahan struktur beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku struktur pada perkuatan balok beton dengan bambu dengan perekat mortar menggunakan metode elemen hingga dan membandingkannya dengan hasil eksperimental. Analisis dilakukan terhadap 2 model yaitu balok kontrol (BK), dan balok perkuatan (BP). Hasil penelitian menunjukan kapasitas beban lentur balok perkuatan (BP) meningkat terhadap balok kontrol (BK). Untuk rasio kapasitas beban lentur ATENA terhadap eksperimental bernilai 0.96 dan 0.96 untuk balok kontrol (BK) 1/2 dan 1/4, serta 0.88 dan 0.90 untuk balok perkuatan (BP) 1/2 dan 1/4. Rasio indeks daktilitas hasil analisis dengan ATENA terhadap eksperimental berturut-turut 0.83 dan 0.81 masing-masing untuk balok kontrol (BK) 1/2 dan 1/4, serta 1.10 dan 1.11 masing-masing untuk balok perkuatan (BP) 1/2 dan 1/4. Sedangkan rasio kekakuan ekivalen hasil analisis dengan ATENA terhadap eksperimental 1.22 dan 1.13 untuk balok kontrol (BK) 1/2 dan 1/4, serta 0.63 dan 0.68 untuk balok perkuatan (BP) 1/2 dan 1/4. Hasil pola retak eksperimental dan dengan ATENA menunjukan keruntuhan lentur untuk semua model benda uji. | The failure of structural elements caused by earthquakes is very dangerous. One attempt to avoid structural failure is by reinforcing structural elements. The use of bamboo as a reinforcing concrete beam material with mortar binder has many advantages including low price, light material, and easy to get, and in accordance with local wisdom. ATENA is a finite element-based computer program specifically for analyzing concrete structure problems. This study aims to examine the behavior of structures on the reinforcement of concrete blocks with bamboo mortar adhesives using finite element method and compare them with the experimental results. The analysis was conducted on 2 models namely control beam (BK), and reinforcement block (BP). The results showed that the load capacity of the reinforced beam bending (BP) increased against the control block (BK). For an ATENA flexural load capacity ratio of 0.96 and 0.96 for the control beam (BK) 1/2 and 1/4, and 0.88 and 0.90 for the 1/2 and 1/4 strengthening blocks (BP). The ratio of ductility index of the analysis results with ATENA to the experimental were 0.83 and 0.81 respectively for the control beam (BK) 1/2 and 1/4, and 1.10 and 1.11 respectively for the reinforced beam (BP) 1/2 and 1/4. While the ratio of equivalent stiffness of the analysis results with ATENA to experimental 1.22 and 1.13 for control beam (BK) 1/2 and 1/4, and 0.63 and 0.68 for beam reinforcement (BP) 1/2 and 1/4. The results of the experimental crack pattern and with ATENA show bending failure for all models of the specimen. | |
| 17903 | 20907 | A1C113021 | Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Buah Jeruk Impor di Kota Purwokerto | Jeruk impor merupakan salah satu buah yang diminati oleh masyarakat kota Purwokerto. Impor jeruk dapat terjadi karena adanya pengaruh dari harga, jumlah penghasilan, jarak untuk memperoleh, tingkat pendidikan dan frekuensi pembelian. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap buah jeruk impor sangat penting. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan buah jeruk impor di kota Purwokerto perlu dianalisis sehingga dapat memprediksi kebutuhan masyarakat akan buah jeruk impor dan dapat melakukan perencanaan yang strategis. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui karakteristik konsumen buah jeruk impor di kota Purwokerto, (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan buah jeruk impor di kota Purwokerto dan (3) mengetahui elastisitas permintaan buah jeruk impor di kota Purwokerto. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidentally sampling terhadap 96 konsumen di pasar tradisional dan beberapa kios buah di kota Purwokerto. Data penelitian berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui wawancara, kuisioner dan studi pustaka. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2017 dengan sasaran penelitian adalah konsumen buah jeruk impor. Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, analisis regresi linear berganda dan elastisitas permintaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen buah jeruk impor di kota Purwokerto mayoritas berprofesi sebagai karyawan swasta, berjenis kelamin perempuan, usia antara 15 sampai dengan 64 tahun, telah menyelesaikan pendidikan akhir tamat SMA/ SMK, memiliki jumlah penghasilan rumah tangga antara Rp2.000.000,00 sampai dengan Rp3.000.000,00 per bulan, memiliki jumlah anggota keluarga sebesar 4 orang dan melakukan pembelian dengan frekuensi 1 kali per bulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan buah jeruk impor di kota Purwokerto adalah harga jeruk impor, jumlah penghasilan keluarga dan frekuensi pembelian. Elastisitas permintaan harga buah jeruk impor bersifat inelastis, elastisitas silang menunjukkan bahwa buah jeruk lokal merupakan barang pengganti buah jeruk impor. | Imported orange is one of the fruits of interest by the people in Purwokerto city. Orange import can occur due to the influence of price, amount of income, distance to obtain, education level and frequency of purchase. Knowing the factors that influence of consumer’s demand is very important. It is necessary to analysis the factors affecting the demand for imported orange fruit in Purwokerto city so that can be predicted the community needs for imported orange fruit and can undertake strategic planning. The aims of this research are (1) to know the characteristics of imported orange fruit consumers in Purwokerto city, (2) to know the factors that influence the demand of imported orange fruit in Purwokerto city and (3) to know the elasticity of the demand of imported orange fruit in Purwokerto city. The sampling method was done by using accidentally sampling on 96 consumers in traditional market and some fruits store in Purwokerto city. The research data are primary and secondary data were obtained through the interviews, questionnaires and literature. The research was conducted on July to August 2017 with the objective of the research being the consumers of imported orange fruit consumers. The data analysis are descriptive analysis, multiple linear regression analysis, and demand elasticity. The result shows that characteristic of consumer of imported orange fruit in Purwokerto city majority work as the private employee, female gender, age between 15 to 64 years, have graduated from senior high school/ vocational school, has a total household income between Rp2,000,000.00 to Rp3,000,000.00 per month, has 4 family members, and frequency of purchase 1 times per month. Factors that influence the demand of imported orange fruit in Purwokerto city are the price of imported orange fruit, amount of family income and frequency of purchase. The price demand elasticity of imported orange fruit is inelastic, the cross elasticity indicates that the local orange fruit is substitute for imported orange fruit. | |
| 17904 | 20578 | H1F012077 | GEOLOGI DAN STUDI ALTERASI – MINERALISASI ENDAPAN TIMAH PRIMER DAERAH TEMAYANG DAN SEKITARNYA KECAMATAN TOBOALI, KABUPATEN BANGKA SELATAN KEPULAUAN BANGKA BELITUNG | Bangka Selatan merupakan salah satu penghasil timah terbesar di Indonesia. Casiterit Pulau Bangka Selatan telah mengalami pengayaan sekunder oleh proses erosi yang berlangsung selama jutaan tahun, menghasilkan endapan-endapan aluvial yang terkayakan akan timah. Seiring berjalannya penambangan letakan (aluvial) cadangan timah sekunder yang ada pun semakin menipis. Hal ini membuat eksplorasi endapan timah primer kembali dilakukan. Salah satunya yaitu didaerah Bangka Selatan yang sampai saat ini masih dilakukan eksplorasi dengan cara pengeboran. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi, alterai-mineralisasi dan arah sebaran urat. Metode yang digunakan adalah sampling litologi, analisis petrografi, analisis mineralgrafi yang dilakukan pada urat, analisis ASD dan XRD untuk mengetahui zonasi alterasi dan analisis XRF untuk mengetahui kandungan Timah (Sn). Morfologi daerah penelitian dibagi menjadi dua yaitu Satuan Dataran Intrusi Denudasional dan Satuan Fluvial. Zona alterasi daerah penelitian terbagi menjadi dua zona yaitu Zona Argilik Dalam dan Zona Argilik Luar, dibagi berdasarkan temperatur dan Ph pembentukanya, mineralisasi daerah penelitian berupa Kasiterit, Sphalerit, Kalkopirit dan Mineral Oksidasi, yang didapat dari hasil analisis urat. Dimana arah persebaran urat daerah penelitian dominan arah NW-SE. Zonasi alterasi greisen daerah penelitian diawali dari adanya pengkayaan Zona Greisen (kuarsa+muscivit), Zona Silicification, Zona Albitisation II dan Zona Microclinisation II, Zonasi tersebut terbentuk pada saat Post-Magmatic. | South bangka is one of the largest tin producers in Indonesia. Casiterit in South Bangka had undergro secondary enricment process because of the oretion since hundred years ago that produc tin alivial deposit. The amount of secondary tin deposit in that area is reclently decrease due to high mining activites. So that primary tin deposit eksploration is done drilling. Research conducted to determine the geological condition, alteration-mineralization and direction of vein distribution. The metod used are lithology sampling, petography analysis mineralgraphy analysis done on vein, ASD and XRD to know the alteration zone and XRF analysis to know contens of Tin (Sn). The morphology of the study area is divided into two, namely Denudasional Intrusion Plain Unit and Fluvial Unit. The alteration zone of the research area is divided into two zones namely Inner Argilic Zone and Outer Argilic Zone, divided by temperature and Ph formation, mineralization of research area consist of Kasiterit, Sphalerit, Chalkopyrite and Mineral Oxidation, obtained from the result of vein analysis . Where the direction of the spreading urate area of dominant research direction NW-SE. Greisen alteration zone in research area begins from the enrichment of Greisen Zone (quartz + muscivit), Silicification Zone, Albitisation II Zone and Microclinisation II Zone, Zoning is formed at Post-Magmatic. | |
| 17905 | 20908 | A1L113001 | RESPON MORFOLOGI DAN FISIOLOGI TANAMAN PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS URIN SAPI BUNTING | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) respon morfologi dan fisiologi tanaman pakcoy dalam menanggapi berbagai jenis dan dosis POC berbasis urin sapi; 2) respon morfologi dan fisiologi tanaman pakcoy dalam menanggapi berbagai interval penyiraman; dan 3) interaksi antara aplikasi berbagai jenis dan dosis POC urin sapi dan berbagai interval penyiraman terhadap morfologi dan fisiologi tanaman pakcoy. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Agroekologi, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto mulai Mei sampai Agustus 2017. Jenis rancangan yang digunakan adalah RAKL dengan dua faktor yang terdiri dari berbagai jenis dan dosis POC (tanpa diberi POC, POC urin sapi bunting (USB) dosis 30 ml/l air, POC USB dosis 60 ml/l air, POC urin sapi tidak bunting (US) dosis 30 ml/l air, dan POC US dosis 60 ml/l air) dan interval penyiraman (interval penyiraman 2 kali sehari, 1 kali sehari, dan 2 hari sekali) sehingga terdapat 15 perlakuan serta diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, bobot basah, bobot kering, kerapatan stomata, kandungan klorofil, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif. Data dianalisis menggunakan uji F dan uji DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC USB mampu memberikan hasil yang nyata terhadap variabel panjang akar dan bobot basah masing masing sebesar 20,12 cm dan 31,71 g. POC USB juga mampu menurunkan kerapatan stomata sebesar 36,5% dari perlakuan kontrol. Perlakuan interval penyiraman mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, kandungan klorofil, dan bobot basah tanaman masing masing sebesar 20,58 cm; 14,73 helai; 36,25 unit; dan 30,05 g. Interaksi antar-perlakuan mampu menurunkan kerapatan stomata dengan kombinasi POC USB dosis 60 ml/l air dengan interval penyiraman 1 kali sehari yaitu sebesar 63,6% dibandingkan dengan perlakuan kontrol. | This study aimed to determine: 1) morphological and physiological response of pakcoy (Brassica rapa L.) to various types and doses of liquid organic fertilizer cow’s urine; 2) morphological and physiological response of pakcoy to various watering intervals; and 3) interaction between various types and doses of cow’s urine fertilizer and various watering intervals to morphological and physiological response of pakcoy. This research was conducted at greenhouse of Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karawangkal Village, North Purwokerto Subdistrict, Purwokerto City for 4 months started from May to August 2017. This study used a Completely Randomized Block Design with two factors consisting of various types and liquid organic fertilizer dose (without fertilizer, pregnant cow’s urine fertilizer dose 30 ml/l water, pregnant cow’s urine fertilizer dose 60 ml/l water, unpregnant cow’s urine fertilizer dose 30 ml/l water, and unpregnant cow’s urine fertilizer dose 60 ml/l water) and watering intervals (2 times daily, 1 times daily, and 1 times in 2 days), in total there were 15 treatments, and repeated for three times. Observed variables were: plant height, number of leaves, root length, leaf area, leaf total, wet weight, dry weight, stomatal density, chlorophyll content, net assimilation rate and relative growth rate. Observational data were analyzed by F test and continued test with Duncan's Multiple Range Test at 5% error level. Results showed that treatment of pregnant cattle’s urine fertilizer was able to give a significant outcome of pakcoy’s morphology on root length and wet weight of each 20,12 cm and 31,71 g. Pregnant cattle’s urine fertilizer also able to decrease stomatal density by 36,5% compared with control treatment. Watering interval treatment gave effect on morphological and physiological of pakcoy on plant height, leaf total, chlorophyll content, and wet weight of each 20,58 cm; 14,73 pieces; 36,25 units; and 30,05 g. Interaction between treatments also gave significantly results in stomatal density with a combination of treatment of pregnant cattle’s urine fertilizer doses of 60 ml/l of water with a watering interval of 1 time daily. Combination of these treatments managed to decrease stomatal density by 63,6% compared with control treatment. | |
| 17906 | 20909 | A1L011057 | Korelasi pH dan C organik Tanah Terhadap Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes | Pemanfaatan lahan pertanian yang intensif dapat mempercepat terjadinya degradasi tanah yang berpengaruh terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah. pH dan C organik tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah yang dapat mempengaruhi proses dan hasil budidaya bawang merah. Sehingga dapat diperoleh nilai dan hubungan pH dan C organik tanah terhadap hasil produksi bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Nilai pH dan C organik tanah serta memetakan sebaran di Kecamatan Wanasari, 2) besarnya produksi riil petani bawang merah di Kecamatan Wanasari, 3)korelasi pH dan C organik tanah terhadap produksi bawang merah di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes dan Balai Pengkajian Tanaman Pangan Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dari bulan oktober 2016 sampai Januari 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei tanah semi detail dengan skala 1 : 100.000. pengamatan dan pengambilan sampel didasarkan pada Satuan Lahan Homogen yang ditentukan atas dasar tumpang susun (overlay) antara peta administrasi, peta jenis tanah, dan peta jenis pengairan. Jumlah titik sampel berdasarkan interpretasi peta adalah 24 titik sampel. Sedangkan sampel responden untuk memperoleh data hasil produksi dilakukan menggunakan two stage cluster random sampling, jumlah responden yang diperoleh 76 orang. Variabel pengamatan yang diamati meliputi nilai pH tanah, C organik tanah dan hasil produksi bawang merah di Kecamatan Wanasari. Pengukuran pH tanah dengan pH meter dan C organik tanah dengan metode walkey-black. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi berganda. Hasil penelitian menunjukan: 1). Rata-rata pH di Kecamatan Wanasari pada lahan bawang merah adalah: pH tanah netral 6,78 sebaran 1468 Ha dan rata-rata hasil produksi 9,52 ton/ha. pH tanah agak alkalis 7,73 sebaran luas 3019 ha dan rata-rata hasil produksi 9,142 ton/ha. 2). pH tanah netral dan agak alkalis tidak berkorelasi terhadap hasil produksi bawang merah nilai signifikansi pH tanah netral 0,609 > nilai F 0,05 dan nilai signifikansi pH tanah agak alkalis 0,732 > nilai F 0,05. 3). Kadar C organik tanah di daerah penelitian tergolong sangat rendah yaitu rata-rata 0,79 % sebaran 4487 Ha rata-rata hasil produksi 9,22 ton/ha. 4). C organik berkorelasi terhadap hasil produksi bawang merah dengan nilai signifikansi 0,006 < nilai F 0,05. 5). pH tanah tidak berkorelasi terhadap C organik dengan nilai signifikansi pH tanah netral 0,901 dan agak alkalis 0,199 > nilai F 0,05. 6). pH dan C organik tanah tidak berkorelasi terhadap hasil produksi bawang merah di Kecamatan Wanasari dengan nilai signifikansi F.change > nilai F 0,05 baik ditanah netral dan agak alkalis. | Of land use agricultural intensive can hasten the relegation land influential against the character of physical , biological and chemistry land . pH and C organic land is one of the chemical nature land that can affect processes and results cultivation onion . So it can be exploited value and relations ph and c organic of soil against produce onion . Research aims to understand: 1) pH values and C organic soil and map to scatter in wanasari subdistrict, 2) The amount of real production farmers onion in Wanasari subdistrict, 3) Correlation pH and C organic of soil against production onion in wanasari kabupaten brebe. Research was conducted in Wanasari subdistrict Brebes regency and the study food crops Yogyakarta. Research carried out of the months october 2016 until january 2017. Research methods that were used of these tests are a method of surveying the the land of semi detail with an arbitrary scale 1: 100.000. Observation and the sample collection based on the figures for a unit of the acquisition of land for homogeneous that had been determined on the basis of the overlaps the set up a set ( overlay ) between between the map administration, maps the type of soil, and map type irrigation. The number of sample point is predicated on an interpretation a map is 24 the point of sample. While sample by respondents in order to obtain the results of the the production of carried out using of for example two stage of the clusters of random sampling, the number of respondents bni offered for its shares 76 people .Variables reaches as high as the observations that observed include the value of ph the ground, c organic the ground and quantity of produce red onion in Wanasari subdistrict. Measurement of the pH the soil with the pH meters and had C organic soil with the money paid a method of walkey-black .The method of analysis the data used was correlation multiple. The results showed that: 1) the pH average at wanasari sub district in a plot of land onions the reds are: pH the land of neutral 6,78 to scatter 1468 Ha of land and production average 9,52 tons /hectare. Ph the land of somewhat alkalis 7,73 to scatter broad 3019 ha and production average 9,142 tons/hectare.2) pH the land of neutral and somewhat alkalis do not correlate of the results of the the production of red onion the value of significance of the pH the land of neutral 0,609 > the value of F 0,05 and value of significance of the ph the land of somewhat alkalis 0,732 > the value of F 0,05 .3) The nature of all that C organic the land in the study areas classified as a very low at average 0,79 % to scatter 4487 Ha and quantity average of produce 9,22 tons /hectare.4) C organic correlate of the results of the the production of red onion with a value of up significance of the 0,006 < the value of F 0,05 . 5) pH the soil without another blow to correlate against c organic with a value of up significance of the pH the land of neutral 0,901 and somewhat alkalis 0,199 > of the total value of F 0,05 . 6) Ph and c organic land do not correlate of the onion production in subdistrict wanasari because the significance f.change & gt; value f 0.05. | |
| 17907 | 20910 | F1A013059 | TRADISI “NGASA” GUNUNG KUMBANG DALAM ERA GLOBALISASI ( STUDI DI DESA CIPUTIH KECAMATAN SALEM KABUPATEN BREBES ) | Kebudayaan merupakan suatu hal yang sifatnya kompleks, hampir disetiap kehidupan manusia memiliki budaya. Banyak hal yang merupakan hasil dari budaya, diantaranya ialah adat istiadat, kebiasaan, tradisi, ritual-ritual dan lain sebagainya. Era Globalisasi berdampak kepada lunturnya nilai-nilai budaya tradisional. Salah satunya adalah Tradisi Ngasa Gunung Kumbang di Desa Ciputih Kecamatan Salem Kabupaten Brebes. Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui kebudayaan yang masih dilestarikan di Era Globalisasi sekarang ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi “Ngasa” merupakan suatu bentuk bakti masyarakat Desa Ciputih yang berada di kaki Gunung Kumbang. Selain itu, Tradisi Ngasa juga mencerminkan kehidupan bermasyarakat yang menyerukan untuk memupuk rasa kebersamaan dan sebagai bentuk kerukunan bermasyarakat yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Ciputih. Tradisi Ngasa merupakan hal yang sakral, sehingga para peserta yang mengikuti Tradisi Ngasa juga harus diniatkan dengan keikhlasan hati tanpa paksaan dari pihak manapun. Terlepas dari ajaran agama tentang boleh tidaknya tradisi tersebut dilakukan, Tradisi Ngasa perlu dipertahankan sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat yang menjadi ciri manusia. Bukan untuk menentang agama, tetapi lebih kepada melestarikan kebudayaan yang telah diciptakan oleh masyarakat terdahulu. | Culture is a complex thing, almost every human life has a culture. Many things that are the result of culture, such as customs, customs, traditions, rituals and so forth. The era of Globalization has resulted in adaptation processes and impacts on the decline of traditional cultural values. One of them is Ngasa Mountain Beetle Tradition in Ciputih Village, Salem District, Brebes District. The purpose of writing is to know the culture that is still implemented in the Era of Globalization today. The results showed that the tradition "Ngasa" is a form of community devotion Ciputih Village located at the foot of Mount Beetle. In addition, Ngasa tradition also reflects the social life that calls for the cultivation of a sense of togetherness and as a form of social harmony that is carried out in the daily life of the people of Ciputih Village. Ngasa tradition is a sacred thing, so that the participants who follow the tradition Ngasa also must be intended with sincerity of the heart without coercion from any party. Apart from the teachings of religion about whether or not the tradition is done, Ngasa tradition needs to be maintained as one of the cultural wealth of society that characterizes humans. Not to oppose religion, but rather to preserve the culture that had been created by the former society. | |
| 17908 | 20911 | A1L013168 | kajian lama perendaman dan konsentrasi ekstrak daun sirih dan nira tebu sebagai larutan pulsing untuk memperpanjang kesegaran bunga potong gerbera (Gerbera jamesonii) | Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi ekstrak daun sirih dengan nira tebu serta waktu lama perendaman yang paling tepat terhadap kesegaran bunga gerbera. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman mulai bulan Mei sampai dengan Juli 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 Faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama merupakan kombinasi antara ekstrak daun sirih dengan nira tebu yang terdiri dai 4 kombinasi yaitu kontrol, 5% ekstrak daun sirih + 10% nira tebu, 10% ekstrak daun sirih + 10% nira tebu dan 15% ekstrak daun sirih + 10% nira tebu. Faktor kedua merupakan waktu lama perendaman yang terdiri dari 3 taraf uji coba yaitu 3jam, 6jam dan 9jam. Data yang diperoleh dianaisis menggunakan Uji F 5% kemudian dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 10% ekstrak daun sirih dan 10% nira tebu dapat mempertahankan kesegaran bunga gerbera hingga 13,67 hari. Waktu lama perendaman 6 jam mampu memperpanjang masa kesegaran bunga gerbera hingga 11,69 hari. Kata kunci : kesegaran, daun sirih, nira tebu, lama perendaman, bunga gerbera | This research aimed to know the most appropriate of decoction of betel leaves extract and sugarcane juice to extend the freshness of gerbera flowers. Research has been conducted at the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman on Auguts to September, 2016. This research used randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor were the betel leaves extract and sugarcane juice levels that consisted of four combination in explanation concentrations of control, betel leaf extract 5% + sugarcane 10%, betel leaf extract 10% + sugarcane 10%, betel leaf extract 15% + sugarcane 10% . The second factor is the long immersion time consisting of 3 test levels of 3 hours, 6 hours and 9 hours. The observed characters were analyzed by using F test at the 5% level of error then followed Duncen Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the concentration of 10% betel leaf extract and 10% sugar cane juice can maintained vase life of gerbera flowers to 13,67 days. A long time immersion of 6 hours is able can extend vase life of gerbera flowers to 11,69 days Keywords: vase life, piper betle, sugar cane,long immersion, gerbera flower | |
| 17909 | 20912 | F1F012022 | DECONSTRUCTION OF WITCH IMAGE IN POSTMODERN ENGLAND AS DEPICTED IN PAULO COELHO’S THE WITCH OF PORTOBELLO (2007) | Penelitian yang berjudul “Deconstruction of Witch Image in Postmodern England as Depicted in Paulo Coelho’s the Witch of Portobello (2007)” ini menggunakan novel Paulo Coelho yang berjudul the Witch of Portobello sebagai objek kajian. Secara umum, novel tersebut menceritakan tentang perjalanan seorang penyihir bernama Athena dalam memenuhi misi-misinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan gambaran penyihir yang didekonstruksi pada postmodern Inggris seperti yang digambarkan pada karakter Athena. Untuk menemukan gambar penyihir yang didekonstruksi, penelitian ini menggunakan teori dekonstruksi dari Derrida. Dekonstruksi adalah sebuah konsep kritis untuk melihat dan menganalisis arti yang lebih dalam dari sebuah teks tanpa mengubah esensi makna sesungguhnya. Dekonstruksi juga memberikan ruang untuk hal yang hilang dan terlupakan dari sebuah teks yang belum disadari. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sedangkan langkah-langkah analisis pada penelitian ini adalah dengan membaca novel, menemukan teori, menemukan masalah atau topik di novel, mengatur, menganalisis dan menyimpulkakn data. Gambaran penyihir Athena didekonstruksi dari imej stereotip penyihir yang sudah secara umum diketahui seperti jahat, kasar, pendendam dan brutal. Hasil dari dekonstruksi gambaran penyihir pada Athena didapatkan melalui misi dan karakter Athena. Gambaran yang didekonstruksi dari misi Athena yaitu memiliki seorang anak, mempelajari kaligrafi dan menemukan penerimaan setelah dibuang. Dari karakter Athena dapat ditemukan bahwa ia adalah seorang penolong dan wanita bijak yang merupakan dekonstruksi dari karakter seorang penyihir. | This research entitled “Deconstruction of Witch Image in Postmodern England as Depicted in Paulo Coelho’s the Witch of Portobello (2007)”. This research uses the novel of Paulo Coelho entitled the Witch of Portobello. Generally, the story of novel tells about the journey of a witch’s life named Athena in fulfilling her missions. The purpose of the research is to find out the deconstructed witch image in postmodern England as depicted in Athena’s characterization. To figure out the deconstructed witch image, this research uses deconstruction theory by Derrida as the main theory. Deconstruction is a critical concept to see and analyze deeper meaning of a text without destroying its real essence of meaning. Also, deconstruction gives a space to what is missing and forgotten of a text that has not been realized. The research method used in this research is qualitative method. The method of analysis in this research are reading the novel, finding the theories, finding the problems or topics in the novel, arranging, analyzing and concluding the data. Athena’s witch image is deconstructed from the evil stereotype image of a witch that has been known generally such as vicious, cruel, vengeful and brutal. The results of the deconstructed witch image in Athena can be found through her missions and her characterizations. The deconstructed images from Athena’s missions are having a baby, learning calligraphy, and finding acceptance after being abandoned. From Athena’s characterizations can be found that she was a helper and a wise woman | |
| 17910 | 21535 | C1J014013 | DETERMINANTS OF POVERTY IN NORTH SUMATERA IN 2011-2015 | Penelitian ini mengambil judul “Determinan Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara pada Tahun 2011-2015”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh populasi penduduk, PDRB per kapita, pengeluaran pemerintah, pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Sumatera Utara pada tahun 2011-2015. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan pooled least square atau data panel dengan beberapa kriteria dalam data panel, maka model yang terbaik adalah adalah fixed effect. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) Populasi penduduk dan PDRB perkapita memiliki hubungan negative dan sinifikan, (2) pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan, (3) variabel pengangguran berpengaruh positif dan tidak signifikan, (4) berdasarkan hasil uji F, semua koefisien regresi secara bersama-sama signifikan berpengaruh pada tingkat signifikansi 5%, (5) koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa pemilihan variabel sudah tepat, karean R2 yang dihasilkannya 0,992 hampir mencapai angka 1. Implikasi dari penelitian ini yaitu pertama, karena variabel independen memiliki pengaruh besar terhadap kemiskinan maka pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan peranan dan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memanfaatkan tingkat pertumbuhan populasi yang besar yang diharapkan dapat mengurangi pengangguran, dan lebih kritis serta bijaksana dalam mengelola pengeluaran pemerintah. Kedua, pemerintah daerah harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebagai upaya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan memanfaatkan pertumbuhan penduduk yang besar dan alokasi pengeluaran pemerintah diharapkan lebih bijak dan tepat sasaran. | This study took the title "Determinants of Poverty in North Sumatra Province 2011-2015". This study aims to determine the effect of human population, GDP per capita, government expenditure, unemployment and life expectancy partially and simultaneously affect the level of poverty in North Sumatra in 2011-2015. The results of this study indicate three significant variables to poverty rate that is human population and GDP per capita with negative relationship towards poverty and government expenditure with positive effect on poverty, while unemployment variable and life expectancy have no effect on poverty. Based on the results of the F test or the jointly test, all the regression coefficients are simultaneously significant at the 5% significance level. The coefficient of determination (R2) indicates that the selection of variables is correct, because the R2 produced 0.992 almost reaches 1. The implication of this research is first in the effort to overcome the problem of poverty in North Sumatera Province, local government is expected to improve the quality of education and provide assistance for the underprivileged and achievement so that populations dominated by productive age can become a qualified workforce. Second, to increase economic growth as an effort to reduce poverty and improve people's welfare. Third, the government is expected to be more critical and selective in managing local spending so that the budget issued can be effective, efficient and targeted in its use. Locally, local governments can provide more employment, particularly in labor-intensive and training institutions, to take advantage of the tens of population growth that can trigger unemployment. | |
| 17911 | 20913 | D1E013089 | Analisis Biaya Pemasaran dan Profit Margin Lembaga Pemasaran Sapi Potong di Pasar Hewan Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara | ABSTRAK Penelitian dengan judul “Analisis Biaya Pemasaran dan Profit Margin Lembaga Pemasaran Sapi Potong di Pasar Hewan Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara” telah dilaksanakan pada 17 September 2017 – 17 Oktober 2017. penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui analisis biaya pemasaran dan profit margin lembaga pemasaran, perbedaan biaya pemasaran sapi potong lokal dan sapi potong impor di Pasar Hewan Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan metode survey di Wilayah Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Penentuan responden dilakukan secara purposive sampling terdiri atas peternak dan pedagang. Hasil menunjukan bahwa rata-rata profit margin peternak sapi potong impor 26,87% dan sapi potong lokal 13,53% sedangkan rata-rata profit margin pedagang sapi potong impor 16,27% dan sapi potong lokal 15,34% dengan jumlah biaya pemasaran dari peternak Rp 75.200/ekor dan jumlah biaya pemasaran dari pedagang Rp 60.400/ekor. | ABSTRACT The research entitled "Marketing Cost Analysis and Profit Margin of Beef Cattle Marketing Institution at Livestock Market of Bawang Subdistrict of Banjarnegara Regency" was held on 17th of September until 17 th of October 2017. This study aims to know the analysis of marketing costs and profit margin of the marketing agencies, and difference in marketing costs of local beef cattle and imported beef cattle at the livesstock Market of Banjarnegara District. This research uses survey method in Bawang District Banjarnegara District. Determination of respondents conducted by purposive sampling to 19 farmer and 10 trader. The results show that the average profit margin of imported beef cattle breeder is 26.87% and local beef cattle 13.53% while the average profit margin of beef cattle importer is 16.27% and local beef cattle is 15.34% with total marketing cost from breeder 75.200/head and total marketing cost from merchant 60.400/head. | |
| 17912 | 20918 | D1E014164 | PENGARUH SUPLEMENTASI UREA-ONGGOK DAN BUNGKIL KEDELAI TERPROTEKSI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI SERAT DAN PROTEIN KASAR DOMBA JANTAN | Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsumsi serat kasar (SK) dan protein kasar (PK) domba jantan yang disuplementasikan urea lepas lambat (urea-onggok) dan bungkil kedelai terproteksi tanin kondensasi daun lamtoro. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2017 sampai dengan tanggal 10 Januari 2018. Lokasi penelitian di experimental farm dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 15 ekor domba lokal jantan umur ±12 (23-25 kg), pakan kontrol (jerami padi : konsentrat = 30 : 70%), dan suplemen (urea-onggok : bungkil kedelai terproteksi = 54 : 46%). Metode penelitian adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu R0 : ransum kontrol, R1 : ransum kontrol + 5% BK suplemen, R2 : ransum kontrol + 10% BK suplemen, R3 : ransum kontrol + 15% BK suplemen, dan R4 : ransum kontrol + 20% BK suplemen. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji ortogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan tidak berpengaruh terhadap konsumsi serat kasar (SK) (P>0,05), namun dapat meningkatkan konsumsi protein kasar (PK) (P<0,01). Respon konsumsi PK membentuk kurva linier dengan persamaan Y=113,005 + 1,86X. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suplementasi kombinasi urea-onggok dan bungkil kedelai terproteksi dalam ransum domba jantan dengan persentase hingga 20% BK suplemen dapat diberikan dalam ransum basal untuk mengoptimalkan konsumsi protein kasar domba tanpa mengganggu konsumsi serat kasar. | The purpose of this research is to measure the effect of urea cassava waste and Leucaena leucocephala tannin extract protected soybean meal supplementation in ration on crude fiber and crude protein intake of ram. This research was held from October 18th, 2017 until January 10th, 2018 at Experimental Farm and Animal Feed and Nutrition Laboratory, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The material used in this research were ±12 months old male sheep (23-25 kg) as many as 15 sheep, control ration (rice straw : concentrate = 30 : 70%), supplement (urea cassava waste : protected soybean meal = 54 : 46%), and experimental cage. The method of this research was in vivo experiment with completely randomized design followed by orthogonal polynomial if the treatment had significant effect. Treatments tested in this research was the percentage of supplementation that consist of R0 (control), R1 (control + 5% DM supplement), R2 (control + 10% DM supplement). R3 (control + 15% DM supplement), and R4 (control + 20% DM supplement). The result of ANOVA showed us that supplementation of urea cassava waste and protected soybean meal in male sheep ration had no significant effect (P>0,05) on male sheep crude fiber intake and had very significant effect (P<0,01) on male sheep crude protein intake with linear shaped curve (Y=113,005 + 1,86X). The conclusion of this research is supplementation of urea cassava waste and protected soybean meal as much as 20% DM in rams basal ration did not affect crude fiber intake and could optimalize crude protein intake. | |
| 17913 | 20914 | H1C012038 | PEMODELAN PROPAGASI RUANG TERTUTUP MODUL ESP8266-12E PADA KONDISI LINE OF SIGHT (LOS) DAN NON LINE OF SIGHT (NLOS) | Adanya berbagai material di dalam gedung mengakibatkan terjadinya proses redaman terhadap sinyal yang dikirim dari transmitter ke receiver. Redaman tersebut menyebabkan berkurangnya kualitas sinyal yang diterima. Pada penelitian Tugas Akhir ini akan dilakukan pemodelan propagasi modul ESP8266-12E sehingga kualitas sinyal yang dipengaruhi oleh adanya penghalang dapat diketahui. Untuk mendapatkan pemodelan propagasi, dilakukan pengukuran kuat sinyal dalam keadaan LOS dan NLOS dengan berbagai jarak yang telah ditentukan. Sebelum melakukan pengukuran tersebut, akan dicari terlebih dahulu pola radiasi dari Modul ESP8266-12E, sehingga radiasi sinyal terkuat dapat dipancarkan dari transmitter ke receiver. Model propagasi yang didapat berupa persamaan matematis dan dalam bentuk grafik. Setelah model propagasi didapat, selanjutnya dilakukan uji lokalisasi dengan metode trilaterasi menggunakan modul ESP8266-12E. Dari pengujian tersebut akan diketahui bagaimana keandalan modul ESP8266-12E jika digunakan untuk mencari koordinat suatu Access Point (AP) ketika terdapat tiga client yang terhubung ke AP tersebut dalam sebuah jaringan lokal. Client akan diletakkan pada koordinat tertentu dan tidak berpindah-pindah, sedangkan AP akan diletakkan pada empat koordinat berbeda yang telah ditentukan. Koordinat tersebut akan dibandingkan dengan koordinat hasil pengujian. | Various materials in a building cause the attenuation of signal sent from transmitter to receiver. This process causes a decrease in the quality of received signal. In this Final Project, we will do some research to determine a propagation model of ESP8266-12E module so we will see that the existence of barriers have a big impact to the signal quality. In order to obtain the propagation model, a signal level measurement is made in LOS and NLOS state at various distances. But before performing these measurements, radiation pattern of the ESP8266-12E modules will be determined first. Therefore, the strongest signal radiation can be transmitted from transmitter to receiver. The propagation model will be in the form of mathematical equations and graphs. The next step is to perform localization using trilateration method to determine the reliability of ESP8266-12E modules if used in the process. The method is applied by connecting three clients to an Access Point (AP) in local network. There will be an area where clients placed in a specific coordinate. The AP is moved into four different coordinates. Those coordinates will be compared with the ones obtained from the test using trilateration method. | |
| 17914 | 20915 | H1C012047 | ANALISIS KOORDINASI KERJA RECLOSER DENGAN FCO (FUSE CUT OUT) AKIBAT GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG KALIBAKAL-05 PT. PLN (PERSERO) AREA PURWOKERTO | Pada era sekarang energi listrik merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan manusia, industri, rumah tangga, dan perkantoran. PT. PLN (Persero) selaku perusahaan penyedia energi listrik nasional wajib mengutamakan pelayanan yang ramah dan bebas dari rugi-rugi (losses), sehingga peralatan proteksi yang baik menjadi hal penting. Pada penyulang Kalibakal-05, peralatan proteksi utama yang dipasang yaitu recloser dan FCO (Fuse Cut Out). Kedua peralatan tersebut bekerja secara koordinatif dengan peralatan proteksi cadangan di masing-masing zona. Berdasarkan data PT. PLN Area Purwokerto intensitas terjadinya gangguan pada penyulang Kalibakal-05 cukup tinggi. Pada zona proteksi 2 recloser mengalami trip dan FCO sering putus. FCO yang digunakan pada penyulang Kalibakal-05 yaitu FCO tipe K (cepat). Hal ini mengindikasikan peralatan proteksi yang menjaga kehandalan sistem distribusi listrik belum optimal. Analisis koordinasi proteksi dilakukan untuk menguji seberapa baik peralatan proteksi yang terpasang pada penyulang Kalibakal-05 dalam menangani arus gangguan hubung singkat melalui perbandingan data di lapangan, perhitungan teoritis, serta simulasi menggunakan software ETAP12.6.0. Dari analisis yang diperoleh untuk mendapatkan koordinasi kerja yang tepat antara recloser dan FCO pada penyulang Kalibakal-05, seharusnya mengganti FCO tipe K (cepat) menjadi tipe T (lambat) dengan rating 40 A. Sehingga menghasilkan pengaturan (setting) yang tepat untuk mengoptimalkan koordinasi kerja antara recloser dan FCO pada penyulang Kalibakal-05 dalam menangani gangguan listrik. | Nowadays, electrical energy is essential needs in human life, industry, household, and office. PT. PLN (Persero) as a national energy supply company must provide friendly services and free of losses, so that good protection device becomes important. In Kalibakal-05 feeder, the main protection device installed is recloser and FCO (Fuse Cut Out). Both equipment work in coordination with backup protection device in each zone. Based on data of PT. PLN Area Purwokerto, intensity of disturbance at Kalibakal-05 is high enough. In protection zone 2, recloser experience trip and FCO often break. The FCO used in Kalibakal-05 feeder is FCO type K (fast). This means that protection device maintaining the electrical distribution system has not been in it’s best condition. The protection coordination analysis is performed to test how well the protection device installed on Kalibakal-05 feeder in handling short circuit current. The analysis is performed using field data comparison, theoretical calculation, and simulation using ETAP12.6.0 software. From the analysis, there will be a proper coordination of work between recloser and FCO on Kalibakal-05 feeder, it should replace FCO type K (fast) to type T (slow) with raiting of 40 A. So it will have the proper settings to optimize coordination of work between recloser and FCO on Kalibakal-05 feeder to handle power failure. | |
| 17915 | 20916 | H1C013024 | ANALISIS PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP RUGI-RUGI DAYA (LOSSES) PADA PENYULANG LANGENSARI PT. PLN (PERSERO) RAYON BANJAR PATROMAN | Abstrak Pada sistem distribusi, ketidakseimbangan beban sering terjadi karena pembagian beban trafo distribusi yang tidak merata yang mengakibatkan mengalirnya arus netral di penghantar netral. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketidakseimbangan beban pada sistem distribusi penyulang Langensari. Data yang didapat adalah data beban disaat beban puncak yaitu pada malam hari. Parameter yang diteliti meliputi pengaruh ketidakseimbangan beban terhadap arus netral yang muncul beserta rugi daya akibat arus netral, jatuh tegangan dan rugi daya total pada penyulang. Metode pemerataan beban dilakukan untuk memperbaiki ketidakseimbangan beban. Pada kondisi awal pembebanan, nilai persentase ketidakseimbangan beban sebesar 7,13%. Dengan metode pemerataan beban yang dilakukan, nilai ketidakseimbangan beban mengalami penurunan menjadi 0,6%. Nilai arus netral juga mengalami penurunan dari nilai awal sebesar 17,92A menjadi 0,5078 A. Dengan menurunnya arus netral, rugi total daya juga menurun dari nilai awal 430,851 kW menjadi 400,967 Kw. Nilai persentase rugi daya dengan pemerataan beban menjadi 2,85% dari nilai awal 2,94%. | In the distribution system, load unnbalance often occurs due to uneven load distribution. This process causes the neutral current to flow over the neutral carrier. In this research weanalyze the effects of load unnbalance on Langensari feeder. The data obtained is the peak load at night. The parameters studied include the effect of load imbalance to neutral currents, power losses due to neutral currents, voltage drops and total power loss at the feeder. The load equalization method is performed to correct the load imbalance. In initial loading conditions, the percentage of load imbalance is 7.13%. With load equalization method, the load imbalance value decreased to 0.6%. The neutral current value also decreased from the initial value of 17.92 A to 0,5078 A. With the decrease of neutral current, the total power loss also decreased from the initial value of 430,851 kW to 400,967 kW. The percentage value of power loss equalization method becomes 2.85% from the initial value of 2.94%. | |
| 17916 | 20832 | G1A014103 | PERBEDAAN TINGKAT KEPARAHAN PSORIASIS PADA PASIEN PSORIASIS DENGAN DAN TANPA FOKAL INFEKSI | Psoriasis adalah penyakit kulit yang sering dijumpai, kronik, tidak menular, terjadi akibat kelainan kompleks pada pertumbuhan dan diferensiasi epidermal serta abnormalitas multipel dari biokimia, imunologi, dan vaskular. Salah satu faktor risiko psoriasis adalah fokal infeksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan tingkat keparahan psoriasis pada pasien psoriasis dengan dan tanpa disertai fokal infeksi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah 40 pasien psoriasis yang berobat di Poli Kulit dan Kelamin RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo pada bulan November hingga Desember 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat keparahan psoriasis diukur menggunakan Psoriasis Area Severity Index (PASI). Penelitian ini menunjukkan rata-rata tingkat keparahan psoriasis pada pasien dengan fokal infeksi 28,63 dan tanpa fokal infeksi 17,29, dengan jenis fokal infeksi didapatkan fokal infeksi intraoral (47,5%) dan genital (2,5%). Perbedaan tingkat keparahan psoriasis pada pasien dengan dan tanpa fokal infeksi didapatkan p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan signifikan tingkat keparahan psoriasis pada pasien dengan dan tanpa fokal infeksi. | Psoriasis is a common, chronic, noncontagious skin disease, caused by complex abnormal epidermal growth with multiple abnormality of biochemistry, immunology, and vascular. One of psoriasis risk factors is focal infection. This study was an analytical study with cross-sectional approach, to establish the difference of Psoriasis Area Severity Index (PASI) in patients with and without focal infections in Prof. Dr. Margono Soekarjo Public Hospital, Purwokerto. Subjects of this study were psoriasis outpatients in Dermatology and Venereology Clinic in November until December 2017. Forty subjects who fulfilled the inclusion and exclusion criteria were measured using PASI. This study showed the average of the PASI on patients with focal infections was 28.63 and without focal infections was 17.29, with types of the focal infections were intraoral focal infections (47,5%) and genital focal infections (2,5%). The difference of PASI between patients with and without focal infections was significant with p = 0,000 (p < 0,05). The study concluded there was a significant difference of PASI between patients with and without focal infections. | |
| 17917 | 20919 | B1J013211 | KADAR PROTEIN DAN LEMAK TUBUH IKAN SIDAT (Anguilla bicolor McClelland) YANG DIINDUKSI HCG PADA PEMELIHARAAN DENGAN SALINITAS BERBEDA | Ikan sidat (Anguilla bicolor McClleland) diketahui sulit matang gonad dalam kondisi budidaya. Pematangan gonad ikan sidat dapat dipacu dengan induksi hormon dan perlakuan faktor lingkungan. Salinitas menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada pematangan gonad ikan sidat, tetapi membutuhkan waktu yang lama, sehingga perlu dipacu dengan induksi hormon. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) merupakan hormon glikoprotein (peptida) yang diketahui dapat memacu pematangan gonad. Proses pematangan gonad tersebut dapat mempengaruhi komposisi kimia tubuh, seperti protein dan lemak. Protein dan lemak menjadi sumber utama cadangan energi dan menjadi parameter penting kajian reproduksi terkait kebutuhan energi selama proses pematangan gonad. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar protein dan lemak tubuh ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh pada pemeliharaan dengan salinitas berbeda. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan perlakuan yang dicobakan yaitu A: ikan sidat yang diinduksi NaCl fisiologis dipelihara pada salinitas 0 ppt (kontrol), B: ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 0 ppt, C: ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 30 ppt, dengan lima kali ulangan. Parameter yang diukur adalah berat basah, berat kering, kadar protein, kadar lemak dan kadar air tubuh ikan sidat. Pengukuran kadar protein menggunakan metode Kjeldahl, kadar lemak menggunakan metode Soxhlet dan kadar air menggunakan metode oven. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 0 ppt dan 30 ppt meningkatkan kadar protein tubuh ikan sidat (P<0,05). Sedangkan kadar lemak tubuh meningkat pada ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 30 ppt (P<0,05). Kadar protein tubuh ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 0 ppt (45,5%) dan 30 ppt (40,87%). Sedangkan kadar lemak tubuh ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 30 ppt (46,51%) lebih tinggi dari kadar lemak tubuh ikan sidat yang diinduksi HCG 1,5 IU/g berat tubuh dipelihara pada salinitas 0 ppt (34,52%). | Eel fish (Anguilla bicolor McClleland) is known has a difficulty in maturing their gonads under cultivation conditions. The maturation of eel fish gonad can be stimulated by hormone induction and environmental factor treatment. Salinity is one of the environmental factors that influence the maturation of eel fish’s gonad but it takes a long time effect. Hormone induction induction is needed to quicken the maturation process. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) is a glycoprotein hormone (peptide) known as gonad-maturation-booster hormone. Gonadal maturation process can affect chemical composition of eel fish’s body, such as protein and fat. Proteins and fats are a major source of energy reserves and are important parameters of reproductive studies related to energy requirements during the gonad maturation process. The objective of this research was to know the difference of eel fish’s protein and fat level that induced by HCG 1,5 IU/ g of body weight on breeding process with different salinity. This research was conducted by experimental method of Completely Randomized Design (RAL) and the treatments were: A: physiologic NaCl-induced eel fish maintained at 0 ppt salinity (control), B: HCG-induced eel fish 1,5 IU/g body weight was maintained at 0 ppt salinity, C: HCG-induced eel fish 1,5 IU/g body weight maintained at 30 ppt salinity, with five replications. The parameters measured were dry weight, wet weight, protein, fat and water -contained on eel fish body. Measurement of protein level using Kjeldahl method, fat level using Soxhlet method and water level using oven method. The collected data were analyzed using ANOVA at 95% confidence level. Based on the result of the research, obtained that induced HCG 1,5 IU/g body weight and 0 ppt and 30 ppt salinity-maintained eel fish effected into the increasing of eel fish protein level (P<0,05). While the body fat level of eel fish induced with HCG 1,5 IU/g body weight and maintained at 30 ppt salinity is also increased (P <0,05). The protein level of eel fish induced with HCG 1,5 IU/g body weight is increasing 45,5% at 0 salinity and 40,87% at 30 salinity. Then, the fat level of eel fish induced with HCG 1,5 IU/g body weight and maintained at 30 ppt of salinity is higher (46,51%) than eel fish induced with 1,5 IU/g body weight and maintained at 0 ppt of salinity (35,42%). | |
| 17918 | 20984 | D1E013259 | KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK DAUN JAMBU BIJI, DAUN PEPAYA, DAUN GAMAL, KULIT NANAS DALAM RANSUM SECARA INVITRO | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan bahan organik (KBO) berbagai hijauan dalam pakan sapi potong secara in vitro. Materi yang digunakan adalah daun jambu biji, daun pepaya, daun gamal, kulit nanas dan konsentrat (onggok, dedak padi, pollard, urea, bungkil kelapa, dan mineral) dan menggunakan metode eksperimental secara in vitro dan rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (4 perlakuan dan 5 ulangan). Peubah yang diamati yaitu kecernaan bahan kering dan bahan organik dengan perlakuan P1 (40% kulit nanas+60% konsentrat), P2 (40% daun gamal+60% konsentrat), P3 (40% daun pepaya+60% konsentrat), dan P4 (40% daun jambu biji+60% konsentrat). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Rataan KBK adalah P1=16,58+2,34%, P2=20,60+1,51%, P3=34,62+2,53%, P4=12,21+2,17%. Rataan KBO adalah P1=16,28+2,16%, P2=21,59+1,88%, P3=36,75+2,69%, P4=14,14+2,23. Uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) KBK P1 berbeda nyata dengan P2, P3, dan P4. KBO P1 dan P4 tidak berbeda nyata dan P2 dan P3 berbeda nyata dengan P1 dan P4. Disimpulkan bahwa dari keempat perlakuan hanya daun pepaya yang memiliki KBK dan KBO tertinggi yaitu 34,62% dan 36,75%. | This research was to determine the digestibility of dry matter and organic matter of various forages in cattle feed. The material used in the research were guava leaf, papaya leaf, gamal leaf, pineapple skin, as well as concentrate (onggok, rice bran, pollard, urea, coconut cake and minerals) and used experimental in-vitro method and Using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The variables were the value of digestibility of dry matter and organic matter. The treatments used were P1 (40% pineapple skin+60% concentrate), P2 (40% gamal leaf+60% concentrate), P3 (40% papaya leaf+60% concentrate), dan P4 (40% guava leaf+60% concentrate). Data were analysed by using an analysis of variance and then using the test honest significant difference (HSD). The research showed that treatment were very significant effect (P<0.01) on digestibility of dry matter and organic matter. The average of digestibility of dry matter were P1=16,58+2,34%, P2= 0,60+1,51%, P3=34,62+2,53%, P4=12,21+2,17%. The average of digestibility of organic matter were P1=16,28+2,16%, P2=21,59+1,88%, P3=36,75+2,69%, P4=14,14+2,23. Honest significant difference (HSD) test on KBK showed that P1 was significant than P2, P3 dan P4. KBO showed that P1 and P4 were not significant and P2 and P3 were significant than P1 and P4. Concluded of this research that only papaya leaf has digestibility of dry matter and organic matter as highest, those were 34,62% and 36,75%. | |
| 17919 | 20935 | B1J012136 | KERAGAMAN TUNGAU EKTOPARASIT PADA CICAK POHON DI DAERAH PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH | Cicak mempunyai sifat mudah menyebar dan membentuk kelompok baru, sehingga berpeluang untuk terinfestasi oleh tungau ektoparasit. Perilaku dan persebaran cicak dipengaruhi oleh jenis habitat sehingga diduga dapat mempengaruhi jenis tungau dan jumlah jenis tungau pada tubuh cicak. Tungau ektoparasit yang menginfestasi cicak masuk dalam familia Pterygosomatidae yang dikenal sebagai ektoparasit penghisap darah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis tungau ektoparasit dan keragaman tungau ektoparasit yang terdapat pada cicak pohon di Purwokerto. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai peran ekologis tungau ektoparasit pada cicak pohon di daerah Purwokerto Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan purposive random sampling. Pengambilan sampel cicak pohon dilakukan di Purwokerto pada empat kecamatan yang berbeda yaitu Purwokerto Timur, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan dan Purwokerto Utara dengan masing-masing sampel berjumlah 25 cicak pohon untuk setiap kecamatan. Variabel yang diamati adalah keragaman jenis tungau ektoparasit pada tubuh cicak. Parameter yang diamati adalah jumlah individu tungau ektoparasit, jumlah jenis tungau ektoparasit yang didapat dan parameter lingkungan. Keragaman dan kemerataan tungau ektoparasit pada cicak pohon dianalisis menggunakan indeks shannon-wiener dan shannon-evennes. Hasil penelitian teridentifikasi 5 jenis tungau ektoparasit Geckobia simplex, Geckobia turkestana, Geckobia keegani, Geckobia gleadovania dan Geckobia diversipilis. Nilai keragaman tungau ektoparasit pada cicak H.platyurus lebih tinggi dibandingkan H.frenatus dan tersebar lebih merata pada H.platyurus. Tungau ektoparasit pada cicak pohon H.platyurus lebih banyak dan masing-masing spesies lebih tersebar merata dibandingkan dengan H.frenatus. | Geckos can easily spread and form new groups, thus are likely to be infested by ectoparasitic mites. The behavior and dispersal of geckos are influenced by habitat and assumed to affect the species and number of mites on geckos’ body. The ectoparasitic mites that infested gecko belongs to the family Pterygosomatidae, known as blood-sucking ectoparasites. The purpose of this study was to determine the species and diversity of ectoparasite mites on tree gecko in Purwokerto. This study is expected to obtain information about ecological role of ectoparasite mites on tree gecko in Purwokerto, Banyumas Regency, Central Java. This research used survey method with purposive random sampling technique. Sampling were conducted in four different subdistricts in Purwokerto, namely Purwokerto Timur, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan and Purwokerto Utara with 25 samples of tree gecko in each subdistrict. The observed variable was the diversity of the ectoparasitic mites on the tree gecko. The parameters observed were the number of individuals, the species and number of ectoparasite mites acquired and the environmental parameters. Diversity of mites were analyzed by shannon-wiener and shannon-evennes indexes. This study identified 5 species of ectoparasite mites, Geckobia simplex, Geckobia turkestana, Geckobia keegani Geckobia gleadovania and Geckobia diversipilis. Diversity of ectoparasite mites on the gecko H.platyurus was higher than H.frenatus and the mites were evenly distributed on H.platyurus. | |
| 17920 | 20917 | D1E013052 | PENGETAHUAN TENTANG PENGOBATAN TRADISIONAL PADA PETERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT | Penelitian yang berjudul “Pengetahuan Tentang Pengobatan Tradisional Pada Peternak Sapi Perah di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat” telah dilaksanakan pada tanggal 1 Desember sampai 4 Desember 2017, bertempat di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak dilihat dari pendidikan, umur, pengalaman beternak, mengetahui tingkat pengetahuan obat tradisional, mengetahui hubungan karakterisitik peternak dengan pengetahuan pengobatan tradisional. Penelitian dilaksanakan dengan model penelitian survey. Sasaran penelitian adalah peternak sapi perah yang berada di Kecamatan Cigugur. Teknik pengambilan sampel wilayah digunakan dengan metode sensus dengan melakukan wawancara secara terstruktur menggunakan kuisioner sebagai alat bantu. Pengambilan sampel sebanyak 3 KUD yaitu KUD Saluyu 13 Peternak, KUD Larasati 12 Peternak, KUD Karya Nugraha 10 Peternak dengan jumlah seluruh anggota peternak dari 3 KUD di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan sebanyak 35 Peternak, pengambilan sampling responden diambil 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik peternak terdiri dari pendidikan,umur, dan pengalaman beternak, Pengetahuan peternak di Kecamatan Cigugur berpotensi sedang karena minimnya pengetahuan tentang pengobatan tradisional, Karakterisitik peternak dihubungakn dengan pengetahuan pengobatan tradisional saling berhubungan nyata P>0,05 dengan korelasi sedang 0,40. | The research entitled "Knowledge of Traditional Medicine at Dairy Farmers in Cigugur District of Kuningan Regency of West Java" was held on December 1 to 4, 2017, in Cigugur District, Kuningan Regency, West Java. This study aims to determine the characteristics of farmers from education, age, farming experience, to knowing the level of knowledge of traditional medicine, the characteristic relationship of farmers with knowledge of traditional medicine. The research was conducted by survey to is dairy farmers located in District Cigugur. Area sampling technique used census method conduct structured interview using questionnaire as a tool. Sampling of 3 KUDs were KUD Saluyu 13 Farmers, KUD Larasati 12 Farmers, KUD Karya Nugraha 10 Breeders with the total number of 35 farmers from 3 KUD in District Cigugur Kuningan Regency. The results showed that farmers characteristics consisted of education, age, and breeding experience. The knowledge of farmers in Cigugur sub-district was of moderate potential due to the lack of knowledge about traditional medicine. The characteristics of breeders were related to traditional interconnected knowledge of P> 0.05 with moderate correlation 0.40. |