Artikelilmiahs

Menampilkan 17.721-17.740 dari 50.034 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1772120754F1B013026EFEKTIVITAS SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DALAM PENATAAN DAN PENGAWASAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KECAMATAN PURWOKERTO BARAT KABUPATEN BANYUMAS
Keberadaan PKL hampir disetiap sudut kota seperti di Kota Purwokerto dianggap cukup mengganggu keindahan kota maupun ketertiban umum karena tidak memperhatikan tata ruang kota. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah baik ditingkat nasional maupun daerah untuk mengatasi masalah PKL yaitu dengan menunjuk Satuan Polisi Pamong Praja. Adapun tugas pokok Satpol PP yaitu menegakkan peraturan daerah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyaraka serta perlindungan masyarakat. PKL merupakan salah satu bagian dari permasalahan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya di Kota Purwokerto khususnya Kecamatan Purwokerto Barat masih terdapat banyak PKL yang berjualan disepanjang jalan.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui efektivitas Satuan Polisi Pamong Praja dalam penataan dan pengawasan pedagang kaki lima di Kecamatan Purwokerto Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian ini berada di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Banyumas dan Kecamatan Purwokerto Barat dengan sasaran penelitian yaitu Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja dan pedagang kaki lima di Kecamatan Purwokerto Barat. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling.
Hasil penelitian secara umum menunjukkan, produktivitas kerja yaitu sarana dan prasarana untuk menunjang program kerja penataan dan pengawasan PKL menggunakan truk dan mobil cukup memadai, Pencapaian target organisasi sudah tercapai untuk penataan dan pengawasan PKL sebesar 92,72%. Berkaitan dengan kemampuan beradaptasi hubungan internal dan eksternal organisasi terjalin sudah cukup bagus terkait penataan dan pengawasan PKL. Berkaitan dengan kemampuan bekerja Satpol PP dalam penataan dan pengawasan PKL di Kecamatan Purwokerto Barat sudah sesuai SOP, strategi yang dilakukan dengan himbauan dan peringatan untuk PKL sedangkan untuk tugas pokok dan fungsi mengalami banyak hambatan. Kemudian untuk pencarian sumberdaya masih ada beberapa petugas Satpol PP yang tidak sesuai kriteria dan terbatasnya anggota Satpol PP untuk penanganan PKL.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa profuktivitas kerja, kemampuan beradaptasi, kemampuan bekerja dan pencarian sumber daya Satpol PP dalam penataan dan pengawasan PKL di Kecamatan Purwokerto Barat sudah cukup efektif akan tetapi belum maksimal dikarenakan banyaknya hambatan ketika proses penertiban berlangsung.
The existence of street vendors which are almost in every corner of the city, like Purwokerto is considered quite disturbing the beauty of city and public order because it does not pay attention to the spatial city. One of the efforts that has been done by the government both national and local level to overcome the problem of street vendors is by appointing Satuan Pamong Praja Police Unit. The main task of Satpol PP is to enforce local regulations and to organize public order and peace of community and protection of society. PKL is one part of public order problem and public peace. However, in fact in Purwokerto City, especially Purwokerto Barat District there are still many street vendors who sell along the way.
This research aims to determine the effectiveness of Civil Service Police Unit in the arrangement and supervision of street vendors in West Purwokerto District. This research used qualitative research methods. The location of this research is in Police Precinct Unit Office of Banyumas Regency and West Purwokerto Subdistrict with the target of research that is Satuan Polisi Pamong Praja and street hawkers in West Purwokerto Subdistrict. The technique of selecting informant in this research using purposive sampling and snowball sampling technique.
The results of the research generally indicate, the productivity of work is the means and infrastructure to support the work program structuring and supervision of street vendors using trucks and cars quite adequate, Achieving the target organization has been achieved for structuring and supervision of street vendors of 92.72%. Relating to the ability to adapt internal and external relationships of the organization is well established related to the structuring and supervision of street vendors. In relation to Satpol PP's ability to manage and supervise street vendors in West Purwokerto Subdistrict, the strategy is done with appeals and warnings for street vendors while the main tasks and functions have many obstacles. Then to search for resources there are still some Satpol PP officers who do not fit the criteria and limited members of Satpol PP for handling street vendors.
The conclusion of this research indicates that job proficiency, adaptability, ability to work and search of Satpol PP resources in structuring and supervision of street vendors in West Purwokerto District have been quite effective but not maximal due to the many obstacles when the controlling process takes place.
Keywords: Organizational effectiveness, Satpol PP of Banyumas Regency, Arrangement and Supervision of Street Traders in Purwokerto Barat District.


1772220764E1A011252Kekuatan Alat Bukti Testimonium de Auditu Dalam Tindak Pidana Pencurian (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan No. 72/PID.B/2016/PN.BNR)Testimonium de Auditu, de audituverklaring atau hearsay evidence (Inggris) berasal dari “testimonium” yang berarti 1. (getuigenis) kesaksian, penyaksian, keterangan; 2. (getuigschift) surat keterangan, sedangkan “testimonium de auditu” adalah keterangan yang hanya dari mendengar saja, penyaksian menurut kata orang, keterangan tangan kedua. Wikipedia menyebutnya sebagai kesaksian berdasarkan desas-desus. Secara harafiah testimonium de auditu yang berarti mendengar dari ucapan orang lain, sehingga disebut juga sebagai bukti tidak langsung (second hand evidence) sebagai lawan dari bukti langsung (original evidence). Karena mendengar dari ucapan orang lain, maka saksi testimoniumde auditu ini mirip dengan sebutan report, gosip, atau rumor.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan alat bukti Testimonium de Auditu dalam Putusan Nomor 72/Pid.B/2016/Pn.Bnr. dan pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencurian dalam Putusan Nomor 72/Pid.B/2016/Pn.Bnr
Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kekuatan alat bukti Testimonium de Auditu dalam Putusan Nomor 72/Pid.B/2016/Pn.Bnr. dan pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencuriandalam Putusan Nomor 72/Pid.B/2016/Pn.Bnr adalah sebagai berikut:

1.kekuatan alat bukti testimonium de auditu dalam tindak pidana pencurian pada PutusanNo. 72/PID.B/2016/PN.BNR.“tidak memiliki kekuatan pembuktian” didasarkan pada tidak adanya alasan reasonable bagi majelis hakim.
2.Pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencurian pada PutusanNo. 72/PID.B/2016/PN.BNR.“telah sesuai” didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap di persidangan, unsur-unsur tindak pidana telah terpenuhi, pertimbangan hukum hakim serta tuntutan pidana penuntut umum dan ancaman pidana dari delik yang bersangkutan dihubungkan dengan fungsi dan tujuan pemidanaan, maka Majelis Hakim menjatuhkan pidana selama 8 (delapan) bulan.

Testimonium de Auditu, de audituverklaring or hearsay evidence derived from "testimonium" which means1. (getuigenis) testimony; 2. (getuigschift letter of statement, while "Testimonium de auditu" is the only testimony of hearing, testimony by word of mouth, or second hand testimony. Wikipedia says a testimony based on rumors.Literally,Testimonium de auditu means hearing from others’ statements, thus it is also called as indirect evidence (second hand evidence) as the opposite of direct evidence (original evidence). Because it is heard from others’ statements, therefore the testimoniumde audituwitness is similar to report, gossip, or rumor.
This study aims to find out the power of evidence of Testimonium de Auditu in Verdict Number 72 / Pid.B / 2016 / Pn.Bnr. and the judge's legal consideration in deciding theft crime cases in Verdict Number 72 / Pid.B / 2016 / Pn.Bnr.
The result of the study shows thatthe power of evidence of Testimonium de Auditu in Verdict Number 72 / Pid.B / 2016 / Pn.Bnr. and the judge's legal consideration in deciding theft crime cases in Verdict Number 72 / Pid.B / 2016 / Pn.Bnr, as follows:
1. The power of evidence oftestimonium de auditu in theft crime in Verdict Number 72 / PID.B / 2016 / PN.BNR. "has no evidential power" based on the absence of reasonable grounds for the judges.
2. Judge's legal consideration in deciding theft crime cases in Verdict Number 72 / PID.B / 2016 / PN.BNR. "is suitable" based on the revealedfacts in the court, the fulfilledelements of crime, the judge's legal considerations along with public prosecutor's charges and crime penalties from the offense which are related to the function and purpose of the penalty, thus the judges rinnegnshall impose a penalty for 8 months.
1772320789G1G013059HUBUNGAN EKSPRESI CD44 DENGAN GAMBARAN KLINIKOPATOLOGI KARSINOMA SEL SKUAMOSA RONGGA MULUTKarsinoma sel skuamosa merupakan keganasan sel epitel skuamosa yang disebabkan oleh kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol sehingga berakibat pada terjadinya mutasi genetik. Tingkat keparahan karsinoma sel skuamosa dapat ditentukan melalui gambaran klinikopatologi (usia, jenis kelamin pasien, lokasi tumor, dan diferensiasi tumor) maupun biomarker seperti CD44. CD44 merupakan modulator adhesi spesifik sel yang dapat menjadi biomarker deteksi dini dari karsinoma sel skuamosa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana hubungan ekspresi CD44 dengan gambaran klinikopatologi penderita karsinoma sel skuamosa rongga mulut. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan posttest-only group design. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 13 orang penderita karsinoma sel skuamosa rongga mulut. Pengumpulan data dimulai dengan dilakukan pembuatan preparat yang diambil dari sediaan blok parafin selanjutnya dilakukan pewarnaan imunohistokimia dengan metode Cell Signaling Technology. Selanjutnya dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dengan teknik scoring sel berupa Allerd score. Secara statistik uji Chi square menunjukkan adanya hubungan antara ekspresi CD44 terhadap parameter berupa usia, lokasi tumor, diferensiasi tumor, namun tidak ada hubungan terhadap parameter jenis kelamin. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan ekspresi CD44 pada penderita karsinoma sel skuamosa rongga mulut dengan usia pasien, lokasi tumor, dan diferensiasi tumor. Tidak terdapat hubungan ekspresi CD44 pada penderita karsinoma sel skuamosa rongga mulut dengan jenis kelamin.Squamous cell carcinoma is a malignancy derived from squamous epithelial cells caused by smoking and alcohol consumption that lead to genetical mutation. The severity degree of squamous cell carcinoma can be determined through clinicopathologic features (age, sex of the patient, tumor location, and tumor differentiation) or by biomarkers such as CD44. CD44 is a cell-specific adhesion modulator that can be a biomarker for early detection of squamous cell carcinoma. The purpose of this research was to know expression of CD44 in relation with clinicopathology image of squamous cell carcinoma patients of oral cavity. The type of this research is analytic observational research with cross-sectional approach using posttest-only group design. The samples used in this study were 13 people with squamous cell carcinoma of the oral cavity. Immunohistochemical staining with Cell Signaling Technology method Tissue samples was performed in patient’s tissue sample stored in paraffin blocks. Further observations were made under the microscope with a cell scoring technique of Allred score. Statistically Chi square test showed a correlation between CD44 expression to parameters such as age, tumor location, tumor differentiation, but there was no correlation between CD44 expression and gender. The conclusion of this study, there was a relation of CD44 expression in patients with squamous cell carcinoma of the oral cavity with patient age, location of the tumor, and tumor differentiation. There was no association of CD44 expression in people with squamous cell carcinoma of the oral cavity with gender.
1772421525G1G013060PERBEDAAN TINGKAT KEPUASAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANTARA PASIEN BPJS KESEHATAN DAN NON-BPJS KESEHATAN
(Studi Kasus Pada Beberapa Puskesmas di Kabupaten Banyumas)
Kepuasan pasien dianggap sebagai salah satu dimensi yang sangat penting dan merupakan salah satu indikator utama dari standar suatu fasilitas kesehatan yang merupakan akibat pengaruh pelayanan kesehatan yang disampaikan pihak rumah sakit. Hal inilah yang membuat pengukuran kepuasan pasien menjadi komponen penting. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan perbedaan tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut antara pasien BPJS dan Non-BPJS di Puskesmas Se-Kabupaten Banyumas. Metode penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional. Diambil 33 pasien BPJS PBI, 33 pasien BPJS Non-PBI dan 34 pasien Non-BPJS dengan teknik purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney U-test. Hasil menunjukan kepuasan secara umum antara pasien BPJS dan pasien Non-BPJS peneliti dapat menyimpulkan bahwa rerata skor tingkat kepuasan pasien umum lebih tinggi dibandingkan dengan pasien BPJS. Kesimpulan, berdasarkan hasil penelitian, bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan antara tingkat kepuasan pasien BPJS dengan pasien Non-BPJS di Puskesmas se-Kabupaten Banyumas, dengan hasil tingkat kepuasan pasien umum lebih tinggi dibandingkan dengan pasien BPJS.

The patient satisfaction is considered as one of the most important dimensions and main indicators of the standard of health facilities as a result of health services delivered by the hospital. This is what makes measurement of patient satisfaction is an important component. The purpose of this study was to compare the difference level of satisfaction of dental and oral health services between BPJS and non-BPJS patients at Puskesmas in Banyumas Regency. This research method was observational with cross sectional approach. The respondents consisted of 33 BPJS PBI patients, 33 BPJS Non-PBI patients, and 34 non-BPJS patients, obtained by purposive sampling technique. The statistical test was Mann Whitney U-test. The results showed satisfaction in general between BPJS patients and Non-BPJS patients. Average score of non-BPJS patients satisfaction level was higher than BPJS patients. The conclusion there was difference of patient satisfaction level between BPJS and Non-BPJS patientsat Puskesmas in Banyumas Regency, with the result of general patient satisfaction level is higher than BPJS patient
1772520755F1A013051Kelas Olahraga (Studi Mengenai Motivasi Siswa Bersekolah di Kelas Olahraga SMA Negeri 3 Purwokerto)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap kelas olahraga dan motivasi siswa bersekolah di kelas olahraga di SMA Negeri 3 Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Informan dari peneltian ini adalah siswa kelas olahraga, guru olahraga, dan orangtua dari siswa yang bersekolah di kelas olahraga. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Validasi data menggunakan teknik triangulasi yaitu dengan membandingkan hasil wawancara dengan satu responden dengan responden lain, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif yang meliputi reduksi data dan displai data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan para siswa menilai Kelas olahraga merupakan program yang baik karena dapat meningkatkan prestasi pada bidang olahraga khususnya di Banyumas. Kendalanya, siswa kurang fokus pada bidang akademik karena faktor kelelahan disaat latihan sehingga berpengaruh pada nilai akademik siswa atlet. Faktor intrinsik yang memotivasi siswa bersekolah di kelas olahraga berupa menyalurkan hobi, meningkatkan prestasi, memperdalam ilmu, dan sarana meraih cita-cita. Sedangkan Faktor ekstrinsik berupa: faktor pelatih, tawaran dari pihak sekolah, kemudian adanya dorongan dari teman. Implikasi dari penelitian ini adalah pihak sekolah diharapkan mampu meningkatkan capaian prestasi akademik siswa kelas olahraga, kemudian mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana olahraga di SMA Negeri 3 Purwokerto.The purpose of this research is knowing about student perception of sport class and student motivation of schooling in sport class in SMA Negeri 3 Purwokerto. This research using qualitative approximation. The informant of this research is sport class students, sport teacher, and student’s parent. Collecting data using interview, observation, and documentation. Checking the validity of the data using triangulasi which is comparing each other informant interview result, observation, and documentation. Data analysis using qualitative description include data reduction, data display, and take a conclusion. The result of this research about student perception of sport class is: Sport class is a good program because this program can increase achievement in sport sector, especially in Banyumas. The obstacle of sport class is the lack of focus on academic due to fatigue factors during the exercise, and affecting the academic score of athletes students. The result of this research about student motivation of schooling in sport class is: intrinsic factors in the form of: hobby, improve achievement, deepen knowledge, and means to reach the ideals. Extrinsic factors include: coach factors, offers from the school, then the encouragement of friends. for the school is expected to improve the achievement of academic achievement of sports class, then able to improve the quality and quantity of sports facilities and infrastructure in SMA Negeri 3 Purwokerto.
1772620756B1J012020KEANEKARAGAMAN DAN HUBUNGAN KEMIRIPAN KULTIVAR KELENGKENG (Dimocarpus longan Lour.) di KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAPKelengkeng (Dimocarpus longan Lour.) merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang termasuk anggota familia Sapindaceae. Kelengkeng terdiri dari 2 macam yaitu kelengkeng lokal dan kelengkeng introduksi. Di beberapa daerah di Indonesia telah dibudidayakan kelengkeng lokal seperti kelengkeng batu dan kelengkeng kopyor, sedangkan kelengkeng introduksi yang dibudidayakan yaitu Diamond river, Pingpong, dan Itoh. Tingkat keanekaragaman pada kelengkeng ditunjukkan dengan adanya perbedaan bentuk daun, penampilan warna daun dan warna kulit buah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman kultivar kelengkeng dan mengetahui hubungan kemiripan kultivar kelengkeng yang terdapat di Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Metode yang digunakan adalah survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih (Purposive Random Sampling) di 5 desa yaitu Desa Binangun, Desa Pasawahan, Desa Alangamba, Desa Pasuruhan, dan Desa Kemojing. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi batang, daun, bunga, buah, dan biji dari masing-masing kultivar kelengkeng. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui keanekaragaman. Hubungan kemiripan dianalisis dengan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) dengan software MEGA (Molecular Evolutionary Genetic Analysis) version 5.05.
Hasil penelitian di Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap diperoleh empat kultivar kelengkeng dewasa yaitu Dimocarpus longan ‘Itoh’, D. longan ‘Pingpong’, D. longan ‘Diamond River’, dan D. longan ‘Hawaii’, dan empat kultivar kelengkeng bibit adalah D. longan ‘Hawaii’, D. longan ‘Merah’, D. longan ‘Kuantong’, D. longan ‘Kinglong’, dan D. longan ‘Aroma durian’. Hubungan kemiripan terdekat terdapat pada kultivar D. longan ‘Itoh’ dan D. longan ‘Diamond River’ dengan indeks dissimilaritas 0,222, sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu antara kultivar D. longan ‘Pingpong’ dan D. longan ‘Hawaii’ dengan indeks dissimilaritas 0,556. Pembeda pada 4 kultivar kelengkeng terlihat pada bentuk tajuk, warna batang, bentuk daun, dan warna biji
Longan (Dimocarpus longan Lour.) is a plant from native southeastern Asia which is one of the sapindaceae family. Longan has two variation of the longan, there are longan local and import. The increase of the diversity on longan is indicated that the variation form of fruits, the physical appearance of leaf color and the peel of fruit color. This research is aimed to know the diversity of longan cultivars and also the similarities cultivars in Binangun Regency, Cilacap. The method of this research is used the measurement method and also uses the technique of Purposive Random Sampling in 5 villages. There are Binangun, Pasawahan, Alangamba, Pasuruhan, and Kemojing village. The observations of parameters are morphological characters, the stem, leaves, flower, fruit, and seeds from each cultivar longan. The data uses descriptive method to know diversity. Then, to know the similarity which has analyzed method UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) with software MEGA (Molecular Evolutionary Genetic Analysis) version 5.05.
The result of this research in Binangun Regency, Cilacap have retrived 8 cultivars longan namely Dimocarpus longan ‘Itoh’, D.longan ‘Pingpong’, D.longan ‘Diamond river’, D.longan ‘Hawaii’, D.longan ‘Merah’, D.longan ‘Kuantong’, D.longan ‘Kinglong’, and D.longan ‘Aroma durian’. The relation of similar is on the longan cultivar D.longan ‘Itoh’ and D.longan ‘Diamond river’ with the index dissimilarities 0.222, whereas the relationship between the long distance resemblance cultivar D.longan ‘Pinpong’ and D.longan ‘Hawaii’ with index dissimilarities 0.556. distinguishing cultivar longan 4 seen in the form of the heading, the color of the stem, leaf, and seed color.
1772720757E1A013034IMPLEMENTASI INFORMED CONSENT PADA PELAYANAN KESEHATAN OLEH DOKTER GIGI STUDI DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK.IV BOGOR ABSTRAK
Implementasi persetujuan tindakan medik (informed consent) pada dasarnya merupakan proses penyelenggaraan hukum yang pada interaksinya tidak terlepas dari pengaruh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi persetujuan tindakan medik (informed consent) dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang cenderung berpengaruh terhadap implementasi persetujuan tindakan medik (informed consent) pada pelayanan kesehatan oleh dokter gigi di Rumah Sakit Bhayangkara TK.IV Bogor.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis dan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini mengambil lokasi di Rumah Sakit Bhayangkara TK.IV dengan informan penelitian meliputi dokter, perawat, pasien serta dengan menggunakan purposive sampling yang diikuti oleh snowball sampling sebagai metode pengambilan informan. Jenis dan sumber data meliputi data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan metode interview, observasi dan studi dokumen, serta diolah dengan menggunakan metode reduksi data, display data dan kategorisasi data yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan matriks data. Dalam penelitian ini penafsiran hukum yang digunakan adalah penafsiran analogi dan gramatikal Hasil penelitian diperoleh bahwa implementasi relatif informed consent pada pelayanan kesehatan oleh dokter gigi di Rumah Sakit Bhayangkara TK.IV efektif. Hal ini dapat dibuktikan dengan parameter-parameter yaitu pemberian informasi prosedur tindakan medik, penyampaian informasi tentang risiko yang mungkin terjadi, penyampaian manfaat dari tindakan medik yang akan dilakukan, penyampaian informasi kemungkinan yang dapat timbul apabila tidak dilakukan tindakan medik terhadap pasien, kerahasiaan rekam medik, penyampaian informasi biaya pengobatan yang dibutuhkan serta pengambilan keputusan tindakan medik berdasarkan kemampuan pasien dalam mengambil keputusan yang semua parameter tersebut terlaksana dengan baik. Faktor personal, faktor sosial, faktor hukum, faktor masyarakat, faktor fasilitas dan faktor budaya ada yang cenderung mendukung ada juga yang menghambat terhadap implementasi informed consent pada pelayanan kesehatan oleh dokter gigi di Rumah Sakit Bhayangkara TK.IV Bogor.
ABSTRACT
Implementation of informed consent is basically a process of law enforcement which in its interaction is inseparable from influence. The purpose of this research is to know the implementation of informed consent and to know what factors tend to influence the implementation of informed consent on health service by dentist at Bhayangkara TK.IV Bogor Hospital. Method the research used is qualitative with sociological juridical approach and descriptive research specification. This study took place at Bhayangkara TK.IV Hospital with research informants including doctors, nurses, patients and by using purposive sampling followed by snowball sampling as a method of taking informants. Types and data sources include primary data and secondary data collected by interview method, observation and document study, and processed by using data reduction method, data display and data categorization presented in the form of narrative text and data matrix. In this study the interpretation of the law used is the analogy and grammatical interpretation The results obtained that the implementation of relative informed consent on health services by dentists in Bhayangkara TK.IV Hospital effective. This can be proven by the parameters of the provision of information on the procedure of medical action, the delivery of information about possible risks, the delivery of the benefits of the medical action to be performed, the delivery of possible information that may arise if no medical action on the patient, medical record confidentiality, the delivery of information on medical expenses required as well as decision-making of medical action based on the patient's ability to make decisions that all parameters are well executed. Personal factors, social factors, legal factors, community factors, facilities and cultural factors are likely to support some that hinder the implementation of informed consent on health services by dentists at Bhayangkara TK.IV Bogor Hospital.

Keywords: Dental Health Services, Dentist, Patient, Informed Consent, Influential Factors
1772820758C1J013031ANALYSIS OF LEADING SECTORS IN DISTRICTS AND CITIES IN CENTRAL JAVA PROVINCE 2011-2015Penelitian ini berjudul “Analisis Sektor Unggulan Di Kabupaten Dan Kota Di Provinsi Jawa Tengah 2011-2015”. Sektor unggulan merupakan salah satu komponen penting dalam kontribusi Produk Domestik Regional Bruto suatu daerah. Dengan mengetahui sektor uggulan yang dimiliki suatu daerah dapat mengarahkan pembuatan kebijakan yang akan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Static Location Quotient dan Dynamic Location Quotient serta analisis Overlay. Analisis SLQ dan DLQ digunakan untuk mengetahui sektor unggulan dan bukan sektor unggulan. Sedangkan analisis overlay digunakan untuk mengetahui sektor potensial di suatu daerah.
Hasil penelitian menunjukkan daerah yang unggul pada masing-masing sektor dengan nilai SLQ dan DLQ terbesar. Pada sektor pertanian, Kabupaten Kebumen unggul dengan nilai sebesar 1.8246 dan 2.6098. Pada sektor pertambangan, Kabupaten Blora unggul dengan nilai sebesar 8.4695 dan 26.2093. Pada sektor industri pengolahan, Kabupaten Semarang unggul dengan nilai sebesar 1.1034 dan 1.4562. Pada sektor pengadaan listrik dan gas, Kabupaten Cilacap unggul dengan nilai sebesar 1.1998 dan 18.6197. Pada sektor pengadaan air, Kabupaten Pemalang unggul dengan nilai sebesar 1.1735 dan 91.3669. Pada sektor konstruksi, Kota Pekalongan unggul dengan nilai sebesar 1.3798 dan 1.0648. Pada sektor perdagangan besar, Kabupaten Blora unggul dengan nilai sebesar 1.4313 dan 2.9625. Pada sektor transportasi, Kabupaten Wonosobo unggul dengan nilai sebesar 1.7110 dan 2.1592. Pada sektor akomodasi, Kabupaten Wonosobo unggul dengan nilai sebesar 1.0184 dan 2.8795. Pada sektor informasi, Kabupaten Sukoharjo unggul dengan nilai SLQ sebesar 1.2155 dan 1.7783. Pada sektor jasa keuangan, Kabupaten Temanggung unggul dengan nilai sebesar 1.1125 dan 5.3482. Pada sektor real estate, Kabupaten Cilacap unggul dengan nilai sebesar 1.0009 dan 2.8203. Pada sektor jasa perusahaan, Kabupaten Blora unggul dengan nilai sebesar 1.0571 dan 2.5668. Pada sektor administrasi pemerintahan, Kota Magelang unggul dengan nilai sebesar 4.0896 dan 1.8154. Pada sektor jasa pendidikan, Kabupaten Kebumen unggul dengan nilai sebesar 2.1685 dan 2.5912. Pada sektor jasa kesehatan, Kabupaten Kudus unggul dengan nilai sebesar 7.6378 dan 1.7428. Pada sektor jasa lainnya, Kabupaten Wonosobo memiliki nilai sebesar 1.3849 dan 2.3856.
Dengan mengetahui sektor unggulan di setiap daerah, dapat membantu meningkatkan kontribusi PDRB dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah perlu menetapkan prioritas pembangunan pada sektor unggulan. Dengan hal tersebut bukan berarti bahwa sektor lainnya tidak penting, namun hal ini dilakukan karena adanya keterbatasan dana dan sumber daya yang tersedia yang dimiliki masing-masing daerah.
This research entitled "Analysis of Leading Sector in Districts and Cities In Central Java Province 2011-2015”. Leading sector is one of an important component in contribution of Gross Regional Domestic Product (GRDP) in a region. By knowing a leading sector in a region will lead the making of policy which will affect to the community welfare.
The method that used in this research are analysis of Static Location Quotient (SLQ) and Dynamic Location Quotient (DLQ) also analysis of Overlay. Analysis of SLQ and DLQ is used to know the leading and non leading sector. Whereas analysis of Overlay is used to know the potential sector of a region.
The result of this research showed region which lead in each sector with the highest value of SLQ and DLQ. In the agricultural sector, Kebumen is lead with value of 1.8246 and 2.6098. In the mining sector, Blora is lead with value of 8.4695 and 26.2093. In industrial sector, Semarang is lead with value of 1.1034 and 1.4562. In electricity and gas, Cilacap is lead with value of 1.1998 and 18.6197. In water supply sector, Pemalang is lead with with value of 1.1735 and 91.3669. In construction sector, Pekalongan City is lead with value of 1.3798 and 1.0648. In wholesale sector, Blora is lead with value of 1.4313 and 2.9625. In transportation sector, Wonosobo is lead with value of 1.7110 and 2.1592. In accommodation sector, Wonosobo is lead with value of 1.0184 and 2.8795. In information sector, Sukoharjo is lead with value of 1.2155 and 1.7783. In financial services sector, Temanggung is lead with value of 1.1125 and 5.3482. In real estate sector, Cilacap is lead with value of 1.0009 and 2.8203. In company services sector, Blora is lead with value of 1.0571 and 2.5668. In government administration, Magelang City is lead with value of 4.0896 and 1.8154. In educational services sector, Kebumen is lead with value of 2,1685 and 2,5912. In health services sector, Kudus is lead with value of 7.6378 and 1.7428. In other services sector, Wonosobo is lead with value of 1.3849 and 2.3856.
By knowing the leading sectors in each district and city in Central Java will help to increase the contribution of the GRDP and economic growth in Central Java that can improve society welfare. The local government need to set priorities for development of the leading sectors. With the determination of development priorities in leading sectors, does not mean that other sectors are not important, but this is done because of limited funds and resources available owned by each region.
1772920759A1L013091PENGARUH TINGKAT EC (ELECTRICAL CONDUCTIVITY) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS SELADA PADA HIDROPONIK SISTEM RAKIT APUNGBanyaknya ragam bahan pangan di Indonesia menjadikan masyarakat dapat mengonsumsinya dengan mudah karena dapat ditemukan sepanjang waktu termasuk didalamnya sayur-sayuran. Namun bertambahnya tingka konsumsi masyarakat tidak diiringi dengan peningkatan produksi sayuran, khususnya selada. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu dan hasil produksi selada adalah dengan menggunakan teknologi budidaya hidroponik. Hidroponik merupakan sistem budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Budidaya tanaman ini dilakukan pada media air dengan tetap menjaga ketersediaan unsur hara yaitu melalui pemberian larutan hara. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui nilai EC (Electrical Conductivity) yang paling sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tiga varietas selada yang ditanam pada teknologi hidroponik sistem rakit apung, 2) Mengetahui varietas selada yang terbaik dari tiga varietas selada yang ditanam pada hidroponik sistem rakit apung, dan 3) Mengetahui interaksi antara nilai EC dan varietas yang digunakan.
Penelitian ini dilaksanakan di screen house Pondok Pesantren Darul Qur`an Al-Karim, Desa Karang Tengah, Baturraden selama bulan April sampai dengan Juni 2017 dan kegiatan analisis dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan petak utama nilai EC yaitu EC 2 mS cm-1 (P1), EC 3 mS cm-1 (P2), dan EC 4 mS cm-1 (P3) serta sub petak berupa varietas yaitu varietas Abby Red (V1), varietas Chloe Red (V2), dan varietas Red Rapid (V3) dengan jumlah ulangan sebanyak 3 ulangan. Data pengamatan dianalisis dengan uji F yang kemudian dilanjutkan Uji Jarak Ganda Duncan (UJGD) dengan taraf kesalahan 5%.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan nilai EC sangat berpengaruh pada bobot akar segar dan bobot tajuk segar, sedangkan pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan panjang akar perlakuan EC tidak memiliki pengaruh. Penggunaan tiga varietas berpengaruh pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot akar segar, serta sangat berpengaruh pada panjang akar dan bobor tajuk segar. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Nilai EC yang memberikan pengaruh tertinggi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada adalah EC 2 mS cm-1dilihat dari hasil analisis bobot akar segar dan bobot tajuk segar, 2) Varietas Red Rapid memberikan hasil terbaik pada semua variabel pengamatan kecuali variabel tinggi tanaman, dan 3) Perlakuan nilai EC dan varietas tidak menunjukkan adanya interaksi.
A lot of food variety in Indonesia makes people can consume it easily because it can be found all the time, include vegetables. But the increase of vegetable consumption on society was not followed by the production, especially lettuce. One of the effort taken is to improve the quality and yield of lettuce production by cultivation using hydroponic technology. Hydroponics is a cultivation method without soil as the media. This cultivation method use water as the planting medium while still maintaining the needs of nutrients through the provision of nutrient solution. This research aims to: 1) Know the most appropriate EC (Electrical Conductivity) values for growth and yield of three varieties of lettuce grown in hydroponic floating raft system technology, 2) know the best lettuce variety grown in hydroponic floating system, and 3) know the interaction between EC values and varieties used
This research was conducted at screen house of Darul Qur`an Al-Karim Islamic Boarding School, Karang Tengah Village, Baturraden started from April until June 2017 and the data analysis was conducted at Laboratory of Agronomy and Horticulture, Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University. The experimental design used was Split Plot Design with EC as main plot which were EC 2 mS cm-1 (P1), EC 3 mS cm-1 (P2), and EC 4 mS cm-1 (P3) and varieties as sub plot which were Abby Red (V1), Chloe Red (V2), and Red Rapid (V3) varieties with 3 replications. Observation data were analyzed by F test which then continued Duncan Multiple Range Test (DMRT) with 5% error level.
The results of the analysis of showed that the treatment of EC value is very influential on fresh root weight and fresh crown weight, whereas in plant height, leaf number, leaf area, and root length of EC treatment have no effect. The application of three varieties showed an effect on plant height, leaf number, leaf area, and fresh root weight, and very influential on root length and fresh crown weight. The results of the experiment showed that: 1) EC values that had the highest effect on growth and yield of lettuce crops were EC 2 mS cm-1 seen from fresh root weight and fresh crown weight 2) Red Rapid varieties gave the best results in all variables except plant height variables, and 3) The application of EC and variety showed no interaction.
1773020760B1J012074IDENTIFIKASI LOKUS rs31489 GEN CLPTM1L/TERT PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARINGKarsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di daerah fossa Rosenmuller. KNF bersifat multifaktor yang terdiri atas faktor infeksi Epstein-Barr Virus (EBV), faktor lingkungan, dan faktor genetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi gen CLPTM1L/TERT lokus mutasi rs31489 pada penderita KNF dengan teknik PCR konvensional dan mengetahui positivitas deteksi gen CLPTM1L/TERT lokus mutasi rs31489. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang berbentuk studi belah lintang (cross sectional). Sebanyak 22 sampel DNA diisolasi dari darah vena penderita KNF yang berobat di RSMS dan memenuhi kriteria inklusi. Identifikasi gen CLPTM1L/TERT lokus mutasi rs31489 dilakukan dengan metode PCR konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen CLPTM1L/TERT lokus mutasi rs31489 pada penderita KNF dapat diidentifikasi dengan metode PCR dan dihasilkan pita fragmen DNA berukuran 341 pb. Gen CLPTM1L yang terdeteksi sebanyak 9 dari 22 sampel penelitian.Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignant tumor that grows in the nasopharynx with a predilection in the Rosenmuller fossa. NPC is multi-factorial consisting of Epstein-Barr virus (EBV) infection, environmental factors, and genetic factors. The purposes of this study are to identify CLPTM1L genes locus rs31489 in nasopharyngeal carcinoma patients using conventional PCR technique and to determine the sensitivity of conventional PCR method in CLPTM1L gene detection. The method was descriptive formed in a cross sectional study. A total of 22 DNA samples were isolated from venous blood of NPC patients treated at RSMS and met the inclusion criteria. CLPTM1L gene identification was performed in a conventional PCR technique. The results showed that CLPTM1L gene in nasopharyngeal carcinoma patients can be identified by conventional PCR method and produced DNA fragment of 341 bp. CLPTM1L gene was detected in 9 of 22 samples of this study.

1773120761E1A011274KEKUATAN PEMBUKTIAN DNA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN ( Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 27/PID/2015/PT/PLG )Di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, penemuan-penemuan baru di bidang teknologi ternyata banyak yang kondusif untuk upaya upaya pembuktian perkara yang dilakukan oleh hakim, di antaranya teknologi perekam suara, perekam gambar, pelacak sidikjari, dan tes DNA. pembuktian tindak pidana di pengadilan itu berada dalam wilayah yuridis formal, sehingga sah tidaknya sesuatu untuk digunakan sebagai alat bukti amat bergantung kepada ketentuan - ketentuan formal yang mengaturnya. Putusan Nomor : 27/PID/2015/PT/PLG, perkara yang diajukan adalah perkara dugaan Tindak Pidana Pembunuhan dengan terdakwa Rendi Oktareza, dengan putusan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pembunuhan Berencana sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan melanggar Pasal 340 KUHP. Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis normative yaitu metode pendekatan menggunakan konsep legisme yang positivistis. Konsep ini hukum dipandang identik dengan norma - norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang dan melihat hokum sebagai suatu sistem normatif yang mandiri, bersifat tertutup dan terlepas dari kehidupan masyarakat yang nyata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kekuatan Pembuktian DNA dalam Putusan Nomor 27/PID/2015/PT/PLG yaitu dengan hakim telah memeriksa beberapa alat bukti berupa beberapa keterangan saksi, Keterangan terdakwa Rendi Oktareza dan barang bukti serta alat bukti petunjuk yaitu tes DNA yang hasilnya tertuang dalam berita acara pemeriksaan laboratories kriminalistik No. LAB : 1743/KBF/2014 tanggal 09 Oktober 2014 terhadap barang bukti cocok antara bercak darah yang di baju dengan darah korban, dari alat bukti di atas sudah memenuhi 2 alat bukti yang sah, serta sesuai dengan Pasal 184 KUHAP dalam mengungkap suatu tindak pidana.Cases of theft with violence in Decision Number: No. 81 / Pid.B / 2015 / PN SNT, very interesting studied for use in committing a crime airsoftgun theft with violence in aggravating circumstances as stipulated and punishable violated Article 365 Paragraph (2) ke- 2 of the Code of Criminal Law Act. Therefore, the authors are interested in conducting research on "Strength of Evidence Airsoft Gun in the Crime of Theft With Violence (Judicial Review Decision No. 81 / Pid.B / 2015 / PN SNT).The method used is the method of normative juridical approach uses the concept of the positivistic legisme. This concept is seen as identical with the legal norms made written and enacted by institutions or officials who authorized and view the law as a normative system which is independent, is closed and apart from real people's lives.Based on the results of this study concluded that the decision No. 81 / Pid.B / 2015 / PN SNT Sengeti has met 2 evidence is witness testimony that Hunaifi, Rika, Elisa Pupils, SoniPanji, and the testimony of the defendant and the evidence that Doni so judges Airsoft Gun gain confidence that the defendant legally and convincingly proven guilty of committing a crime "Theft with violence in aggravating circumstances" in accordance with Article 365 paragraph (1) criminal Code and was sentenced the form of imprisonment for 1 (one) year eight (8) months.
1773220762G1A014032Perbedaan Rerata Usia Metabolisme Antara Mahasiswa Yang Mengikuti Latihan Fisik Teratur dan Tidak Mengikuti Latihan Fisik TeraturLatar Belakang : Usia metabolisme merupakan konsep usia yang dapat menggambarkan status kesehatan seseorang sekaligus menjadi indikator penuaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi usia metabolisme adalah aktivitas fisik. Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan rerata usia metabolisme antara mahasiswa yang mengikuti latihan fisik teratur dan yang tidak mengikuti latihan fisik teratur. Metode :Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 48 pada tiap kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok mahasiswa yang mengikuti latihan fisik teratur dan kelompok kedua adalah mahasiswa yang tidak mengikuti latihan fisik teratur. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa rerata usia metabolisme yang mengikuti latihan fisik 15,96±0,98 tahun dan yang tidak mengikuti latihan fisik 20,19±4,00 tahun. Hasil analisis menggunakan ujiMann Whitney menunjukkan nilai p=0,000 untuk perbedaan usia kedua kelompok. Kesimpulan :Terdapat perbedaan rerata usia metabolisme pada dua kelompok subjek penelitian, dimana mahasiswa yang mengikuti latihan fisik teratur memiliki rerata usia metabolisme yang lebih rendah dibanding yang tidak mengikuti latihan fisik teratur.Background : Metabolism age is a concept of age which can describe the state of healthy and a good indicator to describe aging when it is compared by chronological age. Exercise is one factor that can influence metabolism age. Objective : The aim of this study was to find the difference of metabolism age between students who with regular exercise and students who without regular exercise. Method : The method of this study was cross sectional with 48 students for each group. The first group were students with regular exercise and the second group were students without regular exercise. We used Mann Whitney test to find the difference of metabolism age, chronological age, and body fat percentage between two groups of student. Result : The result showed that mean of exercise group is 15,96±0,98 years old and mean of non exercise group is 20,19±4,00 years old. Mann Whitey test showed the difference of metabolism age of two groups with p value =0,000. Conclusion : There was difference of metabolism age between students with regular exercise and students without regular exercise. Students with regular exercise have younger metabolism age than students without regular exercise.
1773320763E1A111016PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA JASA ANGKUTAN UDARA ATAS HILANGNYA BARANG BAGASI KABINMILIK PENUMPANG DI MASKAPAI QATAR AIRWAYS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN ( STUDI PUTUSAN MA NOMOR: 649 K/Pdt.Sus-BPSK/2016 )Penelitian ini mengambil judul “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pengguna Jasa Angkutan Udara Atas Hilangnya Barang Bagasi Kabin Milik Penumpang Di Dalam Pesawat Maskpai Qatar Airways Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Studi Putusan Nomor 649 K/Pdt.Sus-BPSK/2016)”. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa angkutan udara atas hilangnya barang bagasi kabin milik penumpang di dalam pesawat Maskapai Qatar Airways berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 649 K/Pdt.Sus-BPSK/2016.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi secara deskriptif analitis dengan menggunakan data yang bersumber dari data sekunder. Metode pengumpulan data dengan menggunakan studi kepustakaan dan disajikan dalam deskriptif secara sistematis, logis, dan rasional dengan analisi data secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Maskapai Qatar Airways telah melanggar hak konsumen yang diatur di dalam Pasal 4 huruf (a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dalam penelitian ini Leo Mulady Christofeel selaku konsumen yang menggunakan jasa angkutan udara Maskapai Qatar Airways. Tanggung jawab dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ganti rugi diberikan kepada konsumen dalam hal dimana konsumen menderita menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang dan/atau memanfaatkan jasa atau apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sesuai dengan informasi yang diterimanya.
The study entitled “Legal Protection Towards Consumers of Air Transport Services Users for Losing of Baggage Passenger Cabin in Qatar Airways Airlines According to Law Number 8 of 1999 about Consumer Protection (Study of Decision Protection 649 K/Pdt.Sus-BPSK/2016)”. The problem of this research is how legal protection towards consumer of air transport services users for losing of baggage passenger cabin in Qatar Airways Airlines according to Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection in Study of Decision Number 649 K/Pdt.Sus-BPSK/2016.
This research uses method of researches with normative juridical approaches with descriptive analytical specification by using sources from secondary data. Methods of data collection is using literature study and presented in descriptive in a systematic, logical, and rational with qualitative data analysis.
The results of the study shows us that Qatar Airways Airlines has violated the consumer’s right set forth in Article 4 (a) Law Number 8 of 1999 regarding Consumer Protection. In this Study Leo Mualdy Christofeel as a Consumer who used air transportation services Qatar Airways Airlines. Responsibility in Article 19 of Law Number 8 of 1999 regarding Consumer Protection, compensation is provided to consumers in cases where consumers suffer losses from consuming things and/or utilizing services of things and/or services that he received are not in accordance with the deal or not accordance with the information that he got before.
1773420696A1L113091PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA DAN IBA (Indole Butyric Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MELATI PUTIH (Jasminum sambac L.) Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan stek melati putih, 2) mengetahui pengaruh pemberian hormon IBA (Indole Butyric Acid) terhadap pertumbuhan stek melati putih, 3) mengetahui tingkat konsentrasi air kelapa dan IBA (Indole Butyric Acid) yang optimum terhadap pertumbuhan stek melati putih. Penelitian ini telah dilaksanakan sejak bulan Juni 2017 sampai Agustus 2017 di Desa Tanan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah air kelapa dengan 4 taraf, yaitu konsentrasi 0 % (A0), 2 % (A1), 4 % (A2), dan 6 % (A3). Faktor kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) dengan 4 taraf, yaitu konsentrasi 0 ppm (B0), 100 ppm (B1), 200 ppm (B2), 300 ppm (B3). Jumlah kombinasi perlakuan yaitu 16 perlakuan dengan 3 kali ulangan, menghasilkan 48 unit percobaan. Variabel pertumbuhan yang diamati dalam penelitian ini yaitu persentase hidup, pertumbuhan panjang tunas, jumlah akar, panjang akar, bobot basah akar, bobot kering akar, jumlah daun, dan luas daun. Hasil penilitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan air kelapa dan IBA (Indole Butyric Acid) tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel petumbuhan. This research aimed to 1) coconut water agains the growth of cutting of white jasmine, 2) know how the granting of hormone IBA (Indole Butyric Acid) towards growth cuttings of white jasmine, 3) knowing the level of concentration of the water coconut and IBA (Indole Butyric Acid) towards the optimum growth of cutting of white jasmine. Research has been conducted from June 2017 to August 2017 at Taman Village, Pemalang. This study used a Randomized Complete Block Design with 2 factors. The first factor was coconut water with 4 levels, there are concentration 2 % (A1), 4 % (A2), 6 % (A3) and for comparison used control (A0). The second factor was the concentrations of growth regulator with 4 levels, there are concentration 100 ppm (B1), 200 ppm (B2), 300 ppm (B3) and for comparison used control (B0). The number of treatment combinations is 16 with 3 replications, yielding 48 experimental units. The variables observed in this study were percentage of life, growth of long shoots, number of roots, root length, the wet weight of the roots, the dry weight of the roots, the number of leaves, and broad leaf. The result shows that the combination treatment of coconut water and the IBA (Indole Butyric Acid) does not have significantly effect to all growth variables.
1773520765C1A013054FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PENGUSAHA INDUSTRI KNALPOT DI KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modal, jumlah tenaga kerja, lama usaha, dan e-commerce terhadap pendapatan pengusaha industri knalpot serta mengidentifikasi variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha industri knalpot di Kabupaten Purbalingga, Metode Penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan pelaksanaanya menggunakan teknik kuisioner dan wawancara. Penelitian dilakukan di Kabupaten Purbalingga. Populasi penelitian ini adalah pengusaha industri knalpot di Kabupaten Purbalingga dan dalam pengambilan sampel menggunakan rumus solvin sehingga di dapatkan 70 pengusaha industri knalpot. Teknik analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS).
Hasil analisis menunjukan bahwa modal, jumlah tenaga kerja, lama usaha dan e-commerce mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pengusaha industri knalpot di Kabupaten Purbalingga. Variabel yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha industri knalpot adalah modal.
Implikasi dari kesimpulan diatas perlu adanya peningkatan modal agar pendapatan pengusaha meningkat dan untuk mendapatkan modal yang lebih tinggi pemerintah atau lembaga keuangan lainperlu mengadakan pinjaman modal dengan bunga yang ringan agar industri knalpot di Kabupaten Purbalingga bisa lebih berkembang.

Kata Kunci: Pendapatan pengusaha, Modal, Jumlah tenaga kerja, Lama usaha, dan E-commerce

This study aims to analyze the influence of capital, the amount of labor, the length of business, and e-commerce to the income of the exhaust industry entrepreneurs as well as identify which variables are most influential on the income of exhaust industry entrepreneurs in Purbalingga regency, This research method is descriptive quantitative and implementation using techniques questionnaires and interviews. The study was conducted in Purbalingga District. The population of this research is the exhaust industry entrepreneur in Purbalingga Regency and in the sampling using solvin formula so that get 70 industrial entrepreneur exhaust. Data analysis technique using multiple linear regression with Ordinary Least Square (OLS) method.
The result of analysis shows that the capital, the number of manpower, the length of business and e-commerce have a positive and significant influence to the income of exhaust industry entrepreneurs in Purbalingga Regency. The most influential variable to the income of exhaust industry entrepreneurs is capital.
The implications of the above conclusions need to increase the capital so that the income of the entrepreneurs increases and to obtain higher capital of government or other financial institutions to hold a capital loan with a light interest so that the exhaust industry in Purbalingga regency can be more developed.

Keywords: Income of entrepreneurs, Capital, number of labor, length of business, and E-commerce.
1773620766E1A011203STUDI TENTANG KASUS KEJAHATAN PERANG DENGAN KORBAN PENDUDUK SIPIL DI SURIAH BERDASARKAN HUKUM HUMANITERPerang memang menyebabkan pembunuhan besar-besaran dan hanya merupakan salah satu bentuk perwujudan dari naluri mempertahankan diri baik dalam pergaulan antara manusia maupun dalam pergaulan antar bangsa. Prinsip pembedaan dalam Hukum Humaniter Internasional seharusnya dapat diimplementasikan terhadap suatu peperangan oleh pihak-pihak berperang dalam hal ini adalah kombatan. Penduduk sipil sebagai korban atas perang itu sendiri perlu adanya jaminan berupa perlindungan. Salah satunya yaitu Hukum Humaniter Internasional secara rinci memberikan perlindungan terhadap keselamatan seseorang selama para pihak yang berperang mematuhinya. Tujuan Hukum Humaniter selain melindungi korban perang juga melarang senjata yang dilarang dan mengakibatkan siapapun dapat terluka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menggunakan metode pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan studi dokumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui suatu aturan hukum terutama penerapan Hukum Humaniter Internasional diterapkan terhadap para pihak yang terlibat dalam konflik.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa para pihak berperang masih saja ada yang tidak mematuhi suatu ketentuan yang sudah diatur dalam Hukum Humaniter Internasional sehingga mengakibatkan penduduk sipil terkena dampak perang dan menjadi korban. Penggunaan senjata kimia seharusnya tidak digunakan, senjata tersebut tidak bisa memilih target antara kombatan dan penduduk sipil.

War does cause mass killings and is only one form of manifestation of the instinct of self-defense both in the association between humans and in the inter-nation association. The principle of distinction in international humanitarian law should be able to be implemented against a war by the warring parties in this case is combatant. The civilian population as victims of the war itself needs a guarantee of protection. One of them is International Humanitarian Law in detail provides protection for the salvation of a person as long as the belligerents obey him. The purpose of Humanitarian Law in addition to protecting the victims of war also prohibits prohibited weapons and causes anyone to be injured.
This research used normative juridical approach by using data collection method through literature and document study. The purpose is to find out how a rule of law is applied, especially the application of International Humanitarian Law to the involved parties in conflict.
Based on the results of the research, it can be concluded that the fighting parties still exist that there is no provision that has been regulated in international humanitarian law so that civilians affected by war and become victims. The use of chemical weapons should not be used, the weapons could not choose targets between combatants and civilians.


1773720767F1C013058PERAN DAN STRATEGI COMMUNITY DEVELOPMENT OFFICER PT. GUNUNG SEJAHTERA PUTRI PESONA (GSPP) DALAM MENERAPKAN CORPORATE SOCIAL RESPONBILITY KESEHATAN“REVITALISASI POSYANDU ” PADA EKSTERNAL PERUSAHAAN Setiap tugas seorang pekerja pasti memiliki peran dan tanggung jawab dalam menyelesaikan suatu tujuan perusahaan. Sama halnya dengan seorang Humas, selain memiliki tujuan untuk mensukseskan perusahaan dalam bidang profit dan keterbukaan informasi kepada khalayak eksternal. Seorang humas juga harus mampu menjalankan program Corporate Social Responbility secara benar dan tepat guna untuk eksternal perusahaan, khususnya lingkungan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, peran dan strategi seorang humas atau Public Relations dalam menjalankan CSR, apabila berjalan dengan baik nantinya akan terlihat juga partisipasi dari masyarakatnya itu sendiri. Peneliti menggunakan metode kualitatif. Pemilihan informan menggunakan metode purposive sampling yang terdiri dari 7 orang informan, yaitu 2 orang peserta posyandu dan 3 orang kader posyandu, dan 2 orang pihak PT. GSPP yaitu humas atau Community Development Officer dan bidan internal PT. GSPP. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa seorang humas merencanakan pelaksanaan program revitalisasi posyandu, sudah ada dalam SOP PT. GSPP. Selain itu, humas juga memiliki peran sebagai pembimbing para kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu desa binaan dan juga pemberi bantuan berupa PMT atau pemberian makanan tambahan untuk balita yang BGM (atau dibawah garis merah). Partisipasi masyrakat sudah cukup aktif antara humas PT. GSPP dan juga kader dimana mereka saling berkomunikasi yang mengakibatkan pelaksanaan posyandu menjadi terus aktif dari tahun 2013 hingga sekarang. Each worker's job must have a role and responsibility in completing a company's goals. Similarly, a Public Relations, in addition to having a goal to succeed the company in the sector of profit and information disclosure to external audiences. Public Relations should be able to perform the Corporate Social Responbility program properly and appropriately for external companies, especially the corporate environment. The purpose of this study is to determine, the role and strategy of a public relations to operate Corporate Social Responbility, if it goes well will be seen also the participation of the community itself. Researcher use qualitative methods in this study. The selection of informants used purposive sampling method consisting of 7 informants, 2 posyandu participants and 3 posyandu cadres, and 2 PT. GSPP is a public relations officer or Community Development Officer and an internal midwife of PT. GSPP. The results of this study indicate that a publicist planning the implementation of posyandu revitalization program, already exist in Standard Operational Procedural PT. GSPP. In addition, public relations also has a role as guidance of the cadres in the implementation of posyandu village activities as well as providers of assistance in the form of PMT or supplementary feeding for infants who BGM (or under the red line).Community participation has been active enough between public relations PT. GSPP as well as cadres where they communicate with each other that resulted in the implementation of posyandu become active from 2013 until now.
1773820780G1G013015PERBANDINGAN PENGARUH PERENDAMAN LARUTAN SODIUM FLUORIDE 0,05% DAN CHLORHEXIDINE 0,012% TERHADAP KOROSIVITAS DAN DAYA LENTING AUSTRALIAN WIRE ORTHODONTIC DIAMETER 0,014 INCH (Studi In Vitro Pada Perendaman Selama 1, 7, dan 14 Hari)Kawat Australian wire merupakan salah satu kawat ortodontik yang digunakan untuk piranti ortodontik. Daya lenting yang tinggi diperlukan dalam karakteristik kawat. Daya lenting pada kawat dapat berubah karena dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah pengaruh dari obat kumur yang digunakan sehari-hari. Obat kumur yang sering digunakan untuk mencegah karies pada pasien ortodontik adalah obat kumur dengan kandungan chlorhexidine dan sodium fluoride. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh perendaman larutan sodium fluoride 0,05% dan chlorhexidine 0,012% terhadap korosivitas dan daya lenting Australian wire diameter 0,014” pada perendaman selama 1, 7, dan 14 hari. Sebanyak 72 kawat dipotong sepanjang 20 mm dan dikelompokkan berdasarkan media perendaman dan waktu perendaman. Pada kelompok media perendaman sodium fluoride dan chlorhexidine, kawat direndam dan dikocok selama satu menit sebanyak dua kali dalam sehari kemudian dibilas dan direndam dalam saliva buatan. Penelitian dilakukan pengulangan selama 1, 7, dan 14 hari. Larutan perendaman diuji korosivitasnya dengan atomic absorption spectrophotometry dan kawat diuji daya lentingnya menggunakan tension gauge. Analisis penelitian menggunakan uji statistik Two-way Anova dan regresi sederhana. Hasil menunjukkan kawat yang direndam dalam sodium fluoride memiliki korosivitas yang tinggi dan daya lenting yang rendah setelah 14 hari dan hasil regresi linier menunjukkan korosivitas berpengaruh terhadap daya lenting kawat ortodontik. Simpulan dari penelitian ini adalah obat kumur berpengaruh terhadap korosivitas dan daya lenting kawat.

Australian wire is one of the orthodontic wire used for orthodontic appliances. High resilience is required in wire characteristics. Resilience is affected by several factors, one of them is daily mouthwash. Mouthwash with chlorhexidine and sodium fluoride content is often used to prevent caries in orthodontic patients. The aimed of this study was to compare of the effect of immersion in sodium fluoride 0.05% and chlorhexidine 0.012% to corrosivity and resilience of Australian wire diameter 0.014" on immersion for 1, 7, and 14 days. A total of 72 wires were cut 20 mm each and grouped by immersion solution and immersion time. In the immersion group of sodium fluoride and chlorhexidine, the wire is soaked and shaken for one minute twice a day then rinsed and immersed in artificial saliva. The study was repeated for 1, 7, and 14 days. The immersion solution was tested for its corrosivity with Atomic Absorption Spectrophotometry and the wire was tested for resilience using a tension gauge. The statistical test using Two-way Anova and simple regression. The results showed that the wire soaked in sodium fluoride had high corrosivity and low resilience after 14 days and the linear regression results showed that corrosivity affected the orthodontic wire resilience. The conclusion of this study was mouth rinses affect the corrosivity and resilience of the wire.
1773920768F1A013025Hubungan Patron Klien Antara Pemilik Lahan dengan Buruh Tani (Studi Di Desa Larangan Kecamatan Pengadegan Kabupaten Purbalingga)

Client Patron's Relationship Between Land Owners with farmers Labor
(Study In Village District Subdistrict District Of Purbalingga District)
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pola hubungan patron-klien yang terjadi di Desa Larangan, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. sasaran utama penelitian ini yaitu sembilan orang yang mana yang terdiri dari tiga patron dan enam klien. Hubungan patron klien yang ada di Desa Larangan sudah tidak banyak ditemukan seperti apa yang dipaparkan oleh James Scott tentang hubungan patron klien yang mana patron bertanggungjawab memberikan kebutuhan subsistensi. Terdapat beberapa klien yang pada saat terjadi musim paceklik yang mana pekerjaannya hanya bergantung pada pertanian tidak diberikan perhatian dari patron berupa pemberian pemenuhan kebutuhan subsistensi seperti beras atau sembako. Tetapi masih ada sebagian patron yang masih memberikan perhatian maupun tanggung jawab terhadap klien seperti memberikan kebutuhan subsistensi, memberikan bantuan secara sukarela baik berupa uang maupun hasil pertaniannya sendiri seperti pisang, dan memberikan bantuan berobat untuk memeriksakan kesehatannya ketika kliennya sedang sakit.
Kata kunci: Pertanian, Patron-klien, Reciprocity, pedesaan.
The purpose of this study is to find out how the pattern of patron-client relationship that occurred in the Village Larangan, District Pengadegan, Purbalingga District. the main target of this research is nine people which consists of three patrons and six clients. The results of this study that the relationship of patron clients in the village of Larangan is not much found as what is described by James Scott about the relationship of patron clients in which the patron is responsible for providing subsistence needs. There are some clients who in the event of a famine season whose job depends only on agriculture is not given the attention of the patron in the form of providing subsistence needs such as rice or food. But there are still some patrons who still give the attention and responsibility to the client such as providing subsistence needs, providing voluntary assistance both in the form of money and agricultural products like bananas, and provide medical help to check their health when clients are sick.
Keywords: Agriculture, Patron-Klien, Resiprositas, Rural.
1774020769E1A013066TINDAK PIDANA MENYERAHKAN PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV BERUPA RIKLONA DAN ALPHRAZOLAM
(Tinjauan Yuridis Putusan Perkara No 38/Pid.sus/2016/PN.Bnr)
Penelitian ini berjudul “Tindak Pidana Menyerahkan Psikotropika Golongan IV Berupa Riklona dan Alphrazolam” (Tinjauan Yuridis Putusan Perkara No 38/Pid.sus/2016/PN.Bnr). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan unsur-unsur Tindak Pidana Menyerahkan Psikotropika Golongan IV Berupa Riklona dan Alphrazolam serta untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dalam Putusan Perkara Nomor 38/Pid.sus/2016/PN.Bnr.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Lokasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu di Pusat Informasi Ilmiah (PII) Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, dan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Jenderal Soedirman, Serta metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan unsur-unsur Tindak Pidana Menyerahkan Psikotropika Golongan IV dalam Putusan Perkara Nomor 38/Pid.Sus/2016/PN.Bnr, dengan terdakwa atas nama Agus Widodo Als Gimbal Bin Sunardi telah terbukti sesuai dengan Pasal 60 ayat (4) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, yaitu unsur setiap orang dan unsur menyerahkan psikotropika golongan IV. Serta pertimbangan hakim dalam memberikan sanksi pidana dalam perkara tersebut telah didasarkan pada pertimbangan berikut, Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana kepada terdakwa kemudian Hakim dalam kasus diatas juga telah melihat dan mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan serta meringankan.
This study titled “Crime submit psychotropic class IV in the from of riklona and alphrazolam” (juridical review in decision by No.38/Pid.Sus/2016/PN.Bnr)”. The purpose of this study was to determine the implementation of elements crime submit psychotropic class IV in the from of riklona and alphrazolam and also to know the basic legal reasoning of judges consideration in imposing the criminal based on the Act No. 5 of 1997 about psychotropic the decision of case No. 38/Pid.Sus/2016/PN. Bnr.
The method used in this study is the method of normative juridical approach, the specification of preskriptive research. Locations used in this study is at the Center for Scientific Information (PII) libraries, and library of the University Faculty of Law General Soedirman. While the data analysis methods used are qualitative normative.
From the research that has been done, it can be concluded that the application of elements crime submit psychotropic class IV in the decision of case No. 38/Pid.Sus/2016/PN. Bnr, with defendant on behalf of Agus Widodo Als. Gimbal Bin Sunardi has been the elements adapted to Article 60 paragraph (4) Act No. 5 of 1997 about psychotropic. Its elements are all people, and the elements of crime submit psychotropic class IV. And the judge’s consideration in giving criminal sanction in the case is based on the following considerations, the judge’s did not find things that could eliminate the criminal responsibility to the defendant and the judge’s in the above case has also seen and considered incriminating and lightening things.