Artikelilmiahs

Menampilkan 17.041-17.060 dari 50.008 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1704120214E1A013297KRITERIA PENETAPAN PELAKSANA TUGAS JABATAN KEPALA DINAS DI PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PELAKSANAAN WEWENANG KEDINASANPasal 34 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan menyebutkan bahwa apabila apabila Pejabat Pemerintahan sebagaimana berhalangan menjalankan tugasnya, maka atasan Pejabat yang bersangkutan dapat menunjuk Pejabat Pemerintahan yang memenuhi persyaratan untuk bertindak sebagai Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas. Dalam melakukan penunjukan pelaksana tugas diperlukan suatu kriteria. Pelaksana Tugas dilekati wewenang dan memperoleh wewenangnya melalui mandat. Permasalahan yang akan dibahas adalah mengenai kriteria penetapan Pelaksana Tugas jabatan kepala dinas di pemerintahan kabupaten/kota dan Implikasi hukum terhadap pelaksana tugas kedinasan yang dilaksanakan oleh Pelaksana Tugas Jabatan Kepala Dinas di Pemerintahan Kabupaten/Kota.
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku literatur, dan situs-situs internet.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa dalam menetapkan kriteria Pelaksana Tugas jabatan kepala dinas di pemerintah kabupaten/kota didasarkan pada Surat Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor K.26.-30/V.20-3/99, kriteria untuk menjadi Pelaksana Tugas Kepala Dinas, yaitu: Pegawai Negeri Sipil atau Pejabat yang menduduki Jabatan pimpinan tinggi Pratama dan Jabatan tersebut berada pada eselon yang sama atau setingkat lebih tinggi dilingkungan unit kerjanya. Implikasi hukum terhadap pelaksana tugas kedinasan yang dilaksanakan oleh Pelaksana Tugas Jabatan Kepala Dinas di Pemerintah Kabupaten/Kota, Pelaksana tugas kepala dinas mempunyai kewenangan terbatas dalam hal mengambil keputusan dan/atau tindakan yang bersifat strategis yang berdampak pada perubahan status hukum pada aspek kepegawaian, meliputi: pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai.
Article 34 Paragraph (2) of Law Number 30 Year 2014 about the Government Administration states that if the Government Officials Are Obstructive in Performing Their Duties, then the Principal Officer may appoint a Government Official Who Meets Requirements to Act as Daily Executor or Task performer. To perform the appointment of task perfromer, it required a criterion. The task performer is given authority and get the authority through mandate. Issues to be discussed are about the criteria for determining the task performer of the head office of the district / city government and the legal implications of the official duties executed by the Task Performer of the Head of the Department in the District/City Government.
The method used in this study is normative juridical approach method with law approach and analytical approach. The data used are secondary data in the form of legislation, literature books, and internet sites.
The results of this study indicated that in determining the criteria of the duty officer of the head of office in the district/city government is based on the Letter of the Head of the State Personnel Agency Number K.26.-30 / V.20-3 / 99, the Criteria for being the task performer of Chief Officer: Civil Servants or Officials who occupy the first high leader positions and the Position located on the same echelon or on the higher level within the work unit. The Legal Implication of the task performer conducted by the Chief of Office of the Head of Department in the District/City Government, Task Performer of the Head of the Department in the District/City Government has limited authority in making strategic decisions and/or actions that impacted on the changes in legal status on the employment aspect, including: appointment, transfer and dismissal of employees.
1704220215G1G013003HUBUNGAN PERILAKU DOKTER GIGI DAN PETUGAS REKAM MEDIS DENGAN KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS KASUS KARIES DI RUMAH SAKIT KABUPATEN BANYUMAS Penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilakukan oleh dokter gigi diwajibkan melengkapi berkas rekam medis gigi. Penulisan berkas rekam medis dipengaruhi oleh perilaku dokter gigi dan petugas rekam medis yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku ini mencakup pengetahuan, sikap, dan tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku dokter gigi dan petugas rekam medis (bagian pengkoding) dengan kelengkapan pengisian rekam medis kasus karies di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi analitik. Rancangan penelitian yang digunakan dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 9 dokter gigi, 10 petugas rekam medis (bagian pengkoding), dan 512 berkas rekam medis kasus karies. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner kepada dokter gigi dan petugas rekam medis, observasi kelengkapan rekam medis kasus karies, keakuratan kode diagnosis dan tindakan menggunakan kertas check list. Data hasil penelitian di uji dengan menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian kepada dokter gigi didapatkan pengetahuan (p = 0,011) dan sikap (p= 0,031) menunujukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan tindakan dalam pengisian rekam medis. Hasil penelitian kepada petugas rekam medis didapatkan pengetahuan (p = 0,007) dan sikap (p = 0,027) menunjukan terdapat hubungan yang signifikan dengan tindakan dalam pengisian rekam medis. Terdapat hubungan signifikan antara kelengkapan rekam medis dengan keakuratan kode diagnosis (p = 0,037) dan terdapat hubungan kelengkapan rekam medis dengan keakuratan kode tindakan (p = 0,008). Faktor dominan yang berhubungan dengan kelengkapan pengisian rekam medis adalah pengetahuan dokter gigi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan pengetahuan dan sikap dokter gigi maupun petugas rekam medis dengan kelengkapan pengisian rekam medis.

Kata kunci : Perilaku dokter gigi, petugas rekam medis, kelengkapan rekam medis.
Kepustakaan : 20 (2002-2016)
Dentists are required to complete the dental medical records during medical practice. The medical records completeness was influenced by the dentist and medical records officers behavior who can be observed directly or indirectly. This behavior includes knowledge, attitude, and action. The aim of this study was to find out the correlation of the dentist and medical records officers behavior on medical records filling completeness of dental caries cases Hospitals in Banyumas Regency. This study was done with analytical observational study using cross sectional design. The samples of this study consisted of 9 dentists, 10 medical records officers (Coder), and 512 dental caries medical records. The data were collected by filling out the questionnaire by the dentist and medical records officers, observation of the completeness of the dental medical records, assessment of the accuracy of the diagnosis code and treatment using the check list paper. The data of this study were tested using Chi-Square. The result of the dentists showed that the knowledge (p=0,011) and attitude (p=0,016) had significant correlation on medical records filling. Moreover the result of the medical records officers showed that the knowledge (p=0,044) and attitude (p=0,012) had significant correlation on medical records filling. There was also significant correlation between the completeness of medical records and the accuracy of the diagnosis code (p=0,037), as well as between the completeness of the medical records and the accuracy of the treatment code (p=0,008). Dominant factor that related in medical records filling completeness was knowledge of the dentists. The conclusion of this study was knowledge and attitude of dentist and medical records officers related to completeness of medical records filling.

Keyword : Behavior of the dentist, medical recorders, medical record completeness
Bibliography : 20 (2002-2016)
1704321449G1G011043PERBANDINGAN TINGKAT KEPARAHAN PENYAKIT PERIODONTAL ANTARA PENDERITA HIPOTIROID DAN HIPERTIROID
DI KLINIK BP2GAKI MAGELANG
PERBANDINGAN TINGKAT KEPARAHAN PENYAKIT PERIODONTAL ANTARA PENDERITA HIPOTIROID DAN HIPERTIROID DI KLINIK BP2GAKI MAGELANG


Fadila Isnaening Ratih1, A. Haris Budi Widodo2, Erna Kusumawati3
Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman

Alamat koresponden: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122
Email: fadilairatih@gmail.com
INTISARI
Penyakit hipotiroid dan hipertiroid merupakan kondisi kelainan pada seseorang akibat adanya gangguan kelenjar tiroid yang berkaitan dengan perubahan bentuk kelenjar dan fungsinya. Hormon tiroid memiliki peranan yang sangat penting dalam berbagai macam proses metabolisme dalam tubuh. Penyakit hipotiroid dan hipertiroid memiliki pengaruh terhadap peningkatan penyakit periodontal sebagai faktor risiko. Penderita hipotiroid dan hipertiroid juga memiliki kerentanan terhadap peningkatan penyakit periodontal akibat adanya manifestasi yang timbul pada rongga mulut dan peningkatan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat keparahan penyakit periodontal pada penderita hipotiroid dan hipertiroid. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 36 orang yang terdiri dari 18 orang penderita hipotiroid dan 18 orang penderita hipertiroid. Sampel dipilih dengan cara simple random sampling. Sampel yang didapat dilakukan pemeriksaan OHI-S dan pemeriksaan status jaringan periodontal. Data hasil penelitian diuji dengan menggunakan uji Mann-Whitey U Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01) tingkat keparahan penyakit periodontal antara penderita hipotiroid dan hipertiroid. Simpulan penelitian ini adalah tingkat keparahan penyakit periodontal pada penderita hipertiroid lebih tinggi dari penderita hipotiroid. Masyarakat, keluarga, dan penderita hipotiroid maupun hipertiroid disarankan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sehingga terjadi peningkatan kesehatan gigi dan mulut khususnya pada penderita hipotiroid dan hipertiroid.

Kata Kunci : hipotiroid, hipertiroid, penyakit periodontal.
Kepustakaan : 38 (2000-2016)
THE COMPARISON OF PERIODONTAL DISEASE SEVERITY LEVEL BETWEEN PATIENTS WITH HYPOTHYROIDISM AND HYPERTHYROIDISM IN BP2GAKI CLINIC, MAGELANG


Fadila Isnaening Ratih1, A. Haris Budi Widodo2, Erna Kusumawati3
Dental Medicine of Jenderal Soedirman University

Adress of Correspondence: Dental Medicine of Jenderal Soedirman University
Purwokerto, Central Java, Indonesia, 53122
Email: fadilairatih@gmail.com
ABSTRACT
Hypothyroidism and hyperthyroidism are thyroid gland disorders related to changes in its form and function. Thyroid hormones have many important roles in metabolism of the body. Hypothyroidism and hyperthyroidism are risk factors of increase of periodontal disease. Patients with hypothyroidism and hyperthyroidism are susceptible to increase of periodontal disease due to oral manifestation and stress. The aim of this study was to compare of periodontal disease severity level on patients with hypothyroidism and hyperthyroidism. This study was descriptive-analytic study with cross-sectional approach. Thirty six samples were used in this study, consisted of 18 patients with hypothyroidism and 18 patients with hyperthyroidism. Samples were selected by simple random sampling. OHI-S and periodontal status examination were done for all samples. Collected data was statistically analyzed using Mann-Whitney U Test. The results of this study indicated that there was a very significant difference (p<0.01) of the severity of periodontal disease between patients with hypothyroidism and hyperthyroidism. Conclusion of this study was periodontal disease severity level in patients with hyperthyroidism is higher than in patients with hypothyroidism. Community, family, and patients with hypothyroidism or hyperthyroidism are advised to maintain oral health, especially in patients with hypothyroidism and hyperthyroidism.

Keyword : hypothyroidism, hyperthyroidism, periodontal disease.
Bibliography : 38 (2000-2016)
1704421577D1E014236KONSENTRASI N-NH3 DAN SINTESIS PROTEIN MIKROBA CAIRAN RUMEN SAPI POTONG YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN DISUPLEMENTASI
KULIT BUAH NAGA
Penelitian bertujuan untuk mengkaji efek suplementasi kulit buah naga terhadap konsentrasi N-NH3, dan sintesis protein mikroba cairan rumen sapi potong. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah cairan rumen yang berasal dari 3 ekor sapi potong jantan berumur 2 tahun. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimental in vitro dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan terdiri dari 3 perlakuan dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Perlakuan terdiri dari P0 = pakan yang diberikan jerami padi amoniasi dan konsentrat tanpa suplementasi kulit buah naga ; P1 = pakan yang diberikan jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan suplementasi kulit buah naga dosis 2% dari BK konsentrat ; dan P2 = pakan yang diberikan jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan suplementasi kulit buah naga dosis 4% dari BK konsentrat. Rataan konsentrasi N-NH3 berkisar antara 2,43±0,01 – 1,00±0,13 mM, dan rataan sintesis protein mikroba berkisar antara 68,00±8,75 – 58,01±4,19 mg/10ml. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa suplementasi kulit buah naga tidak berpengaruh nyata terhadap sintesis protein mikroba, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi N-NH3. Kesimpulan dari penelitian adalah semakin tinggi suplementasi kulit buah naga (sampai level 4%) dalam pakan, konsentrasi N-NH3 dan sintesis protein mikroba semakin menurun.The research aims to study the effects of dragon fruit’s peel supplementation on N-NH3 concentrations, and microbial protein synthesis of beef cattle’s rumen fluid. The materials used were rumen fluid from 3 bull 2 years old Limousin beef cattle taken from Bantarwuni abatoar in Bantarwuni, Sumbang, Banyumas as soon as cattle were slaughtered. This research was conducted using in vitro experiments and using completely randomized design (CRD). There were three treatment with six replications. The treatments tested were R0 (Treatment controls, 0%), R1 (Use dragon fruit’s peel supplementation as much as, 2%) and R2 (Use dragon fruit’s peel supplementation as much as, 4%). The average of N-NH3 concentration ranged from 2.43±0.01 – 1.00±0.13 mM, and the average of microbial protein synthesis ranged from 68.00±8.75 – 58.01±4.19 mg/10ml. The result of variance analysis showed that dragon fruit’s peel supplementation had no significant effect to microbial protein synthesis. Dragon fruit’s peel supplementation significantly influence (P < 0,05) to N-NH3 concentration. The conclusion of this research is the higher supplementation of the dragon fruit’s peel (up to 4%) in the feed, increased the concentration of N-NH3 and microbial protein synthesis.
1704521647A1M014058PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORIS TEPUNG AMPAS KELAPA TERMODIFIKASITepung ampas kelapa termodifikasi adalah tepung ampas kelapa yang dibuat dengan metode fermentasi agar kualitas tepung yang dihasilkan lebih baik. Untuk mengetahui kualitas tepung ampas kelapa termodifikasi, maka diperlukan penelitian mengenai penggunaan jenis kemasan dan variasi lama simpan terhadap kualitas tepung ampas kelapa termodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh jenis kemasan terhadap karakteristik kimia dan sensori tepung ampas kelapa termodifikasi selama penyimpanan; 2) Mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap karakteristik kimia dan sensori tepung ampas kelapa termodifikasi; 3) mengetahui interaksi antara jenis kemasan dengan lama penyimpanan terhadap karakteristik kimia dan sensori tepung ampas kelapa termodifikasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan dua faktor yang diteliti terdiri dari jenis kemasan (K), meliputi kemasan plastik PE (K1), kemasan plastik PP (K2), dan kemasan kertas yang dilapisi plastik PP (K3); lama pengeringan (L), meliputi lama simpan 5 hari (L1), 15 hari (L2), 25 hari (L3), dan 35 hari (L4), disusun secara faktorial dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan yang terbaik adalah dengan pengemas plastik PP dan lama simpan terbaik pada saat hari ke-5. Kombinasi antara keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel kimia, tetapi memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap variabel sensoris tepung ampas kelapa termodifikasi.Modified coconut pulp flour is a coconut pulp flour made by fermentation to improve the quality of the flour. In order to know the quality of modified coconut pulp flour, it is necessary to research about the use of packaging types and shelf life for the quality of modified coconut pulp flour. The purposes of this research are to study: 1) Effect of packaging types on the chemical and sensory characteristics of coconut pulp flour during storage; 2) Effect of shelf life on the chemical and sensory characteristics of coconut pulp flour; 3) Interaction between packaging types and shelf life on the chemical and sensory characteristics of coconut pulp flour. This research used Completely Randomized Design (CRD), with two factors tested, were packaging types (K), consists of PE plastic (K1), PP plastic (PP), and paper + PP plastic (K3); shelf life (L), consists of shelf life of day 5 (L1), day 15 (L2), day 25 (L3), and day 35 (L4), arranged in factorials with 3 triplicated. The results showed that the best type of packing was obtained on PP plastic (K2) and the best storage time was obtained at 5th day (L1). Interaction between them give no significant effect on the chemical variables, but give very significant effect on the sensory variables of modified coconut pulp flour.
1704620189D1E013100Pengaruh Penambahan Feed Supplement Agromix Pada Sapi Perah Terhadap Mineral Kalsium (Ca), Fosfor (P) Dan Magnesium (Mg) Darah.Mineral merupakan salah satu zat makanan yang esensial untuk produksi susu. Sapi perah memerlukan minimal 15 macam mineral dalam ransum untuk efisiensi produksi susu. Ketersedian mineral dalam ransum (melalui Feed supplement Agromix) akan meningkatkan metabolisme pakan yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan mineral dalam darah. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kandungan mineral kalsium (Ca), Fosfor (P), dan Magnesium (Mg) dalam darah sapi perah. Materi yang digunakan untuk penelitian adalah sapi perah Peranakan Friesian Holstein laktasi sebanyak 20 ekor terdiri dari sapi perah laktasi 2 sebanyak 12 ekor, dan sapi perah laktasi 3 sebanyak 8 ekor yang kemudian dibagi menjadi 10 ekor terdiri dari laktasi 2 sebanyak 6 ekor dan laktasi 3 sebanyak 4 ekor yang diberi perlakuan, dan 10 ekor terdiri dari laktasi 2 sebanyak 6 ekor dan laktasi 3 sebanyak 4 ekor sebagai kontrol. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 2 perlakuan dan ulangan sebanyak 10 kali dengan populasi 10 ekor untuk perlakuan dan 10 ekor untuk kontrol yang masing-masing terdiri dari 4 ekor laktasi 3 dan 6 ekor laktasi 2. Perlakuan yang diuji adalah penambahan Feed supplement Agromix yang di suplementasi kedalam konsentrat: C = kontrol dan F = Feed supplement C : (kontrol) berupa pakan basal F : Pakan basal + Feed Supplement dengan dosis 50gr/ekor/hari. Hasil uji t pada mineral kalsium (Ca) tidak nyata (t hitung < t 0,05), Fosfor (P) tidak nyata (t hitung < t 0,05), Magnesium (Mg) tidak nyata (t hitung < 0,05). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa penambahan feed suplement agromix sapi dengan periode laktasi 2 dan 3 tidak berpengaruh terhadap peningkatan mineral darah Kalsium, Fosfor, dan Magnesium.The mineral is one of the essential food substances for the production of milk. Dairy cows require a minimum of 15 kinds of minerals in ration to increase the efficiency of milk production. Availability of minerals in ration (via Feed supplement Agromix) will increase the metabolism of the feed used for the fulfillment of the needs of minerals in the blood. The purpose of the study was to know the mineral contents (calcium (Ca), phosphorus (P), and Magnesium (Mg)) in the blood of dairy cows. The materials used for the research of Friesian Holstein hybrida of dairy cows 20 heads, consisted of lactation 2 as many as 12 heads, and lactation 3 of 4 heads which were then divided into 10 heads made up of lactation 2 as many as 6 heads and lactation 3 as many as 4 heads treatments, and 10 heads consisted of lactation 2 as many as 6 heads and lactation 3 as many as 4 heads (control). The research used experimental method with 2 treatments and deuteronomy as heads many as 10 times with a population of 10 heads for treatment and 10 heads for control which consisted of 4 heads lactation 3 and 6 heads lactation 2. The treatments tested were the additions of Agromix Feed supplement that was added into concentrate: C = control and F = Feed supplement c: (control) in the form of the basal feed f: Fodder basal + Feed Supplement doses 50gr/head/day. T test results on minerals of calcium (Ca) was not significant (t count < t 0.05), phosphorus (P) was not significant (t count < t 0.05), Magnesium (Mg) was not significant (t count < t 0.05). Based on the research, the addition of agromix feed supplement into the feed for lactation 2 and 3 of dairy cows had no effect on the increase of blood minerals (calcium, phosphorus, and Magnesium).
1704720217B1J013035Kandungan fukosantin pada berbagai bentuk talus rumput laut coklat Sargassum polycystum yang berasal dari Pantai Karimunjawa dan MengantiSargassum polycystum merupakan salah satu rumput laut coklat yang memiliki distribusi cukup melimpah di Perairan Pantai Indonesia. Kandungan pigmen khususnya fukosantin yang terdapat pada S. polycystum berpotensi sebagai antioksidan dan antikarsiogenik, serta memiliki manfaat dalam proses fotosintesis yang belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Fukosatin merupakan salah satu pigmen dominan pada rumput laut coklat. Kandungan pigmen pada rumput laut dipengaruhi oleh bagian-bagian yang diekstrak dan asal lokasi tumbuh. Talus S. polycystum terdiri dari talus bentuk batang, talus bentuk daun, dan talus bentuk vesikel.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin pada rumput laut coklat Sargassum polycystum yang berasal dari dua lokasi yang berbeda yaitu Pantai Karimujawa dan Pantai Menganti. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Random Sampling dari Pantai Karimunjawa dan Pantai Menganti. Kandungan fukosantin didapat melalui metode ekstraksi dengan jenis maserasi dan diinjeksikan dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk mengetahui kandungan fukosantin. Variabel yang diamati berupa variabel bebas yaitu bentuk talus dan lokasi yang berbeda, serta variabel terikat yaitu kandungan fukosantin pada berbagai talus. Parameter yang diukur meliputi kandungan fukosantin pada talus bentuk batang, talus bentuk daun, dan talus bentuk vesikel. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split-plot dan menggunakan uji F. Hasil uji variansi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kandungan fukosantin pada berbagai talus rumput laut S. polycystum yang berasal dari lokasi yang berbeda (Pantai Karimunjawa dan Pantai Menganti).

Sargassum polycystum is one of Phaeopiceae seaweed class which has fairly abundant in Indonesian coastal. The pigmen content especially fucoxanthin found in S. polycystum has potential as an antioxidan and anticarsiogenic, and has benefit in photosynthesis process which has not widely used by Indonesian people. Pigmen content on seaweed was affected by extracting and environmental growth. Thallus of S. polycystum consist of rod-shaped, leaf-shaped and vesicular.
This research aims to determine the content of fucoxanthin in Sargassum polycystum from different locations that were Karimujawa and Menganti Beach. This research used survey method with purposive random sampling technique from Karimunjawa and Menganti Beach. The content of fucoxanthin were obtained by extraction method of maceration and injected by using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) to know the content of fucoxanthin. The variable which has observed were independent variable shape of thallus and different locations, and the dependent variable is the content of fucoxanthin on various thallus. Parameters that was measured were include the content of fucoxanthin on rod-shaped, leaf-shaped and vesicular. The data was analyzed by ANOVA split-plot pattern with Complete Random Design Pattern (RAL) and using F test. The results of variance test showed that there’s no significant difference of fucoxanthin content from shape of thallus S. polycystum from different location (Karimunjawa beach and Menganti Beach).
1704820216A1L013036APLIKASI METABOLIT SEKUNDER DUA ISOLAT Beauveria bassiana TERHADAP HAMA WERENG COKLAT (Nilaparvata Iugens Stall.) PADA PADIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder dua isolat B. bassiana terhadap mortalitas, intensitas serangan, dan populasi hama Wereng Batang Coklat (WBC). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium perlindungan tanaman dan screen house Fakultas Pertanian Universitas Jendral Soedirman pada bulan Desember 2016-Februari 2017. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali. Perlakuan tersebut terdiri atas B. Bassiana Jember konsentrasi 106 konidium/mL; B. bassiana Jember konsentrasi 108 konidium/mL; B. bassiana Papua konsentrasi 106 konidium/mL; dan B. bassiana Papua konsentrasi 108 konidium/mL. Variabel yang diamati yaitu mortalitas WBC, intensitas serangan WBC, dan populasi WBC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua isolat B. Bassiana mampu menimbulkan mortalitas WBC sebesar 31%-35%. B. Bassiana isolat Jember dan Papua dengan konsentrasi 106 konidium/mL mampu menekan intensitas serangan WBC sebesar 56% dan 64%. Perlakuan B. Bassiana dengan dua konsentrasi berbeda tidak mampu menekan populasi akhir WBC.This research aimed to know the effect of secondary metabolites from 2 Beauveria bassiana isolates toward brown planthopper. The research was caried out at the Laboratory of Plant Protection and a Screen House, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from December 2016 – February 2017. Randomized completely block design was used with 5 treatments repeated 5 times. The treatments were secondary metabolites B. bassiana Jember and Papua isolates with concentration of 106 conidia mL-1 and 108 conidia mL-1. Variable observed was mortality, attack intensity, and population of brown planthopper. Result of the research showed that secondary metabolites from both B. bassiana Jember and Papua isolates with concentration of 106 conidia mL-1 could affect mortality, and attack intensity of brown planthopper as 31-35% and 56 and 64%, respectively. The secondary metabolites of B. bassiana with 2 different concentration could not suppressed the brown planthopper late population.
1704921450D1E014283PENGGUNAAN FERMEHERBAFIT ENKAPSULASI DALAM PAKAN TERHADAP VOLUME CAIRAN EMPEDU DAN pH USUS AYAM BROILERPenelitian bertujuan untuk mengevaluasi efek penggunaan fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan terhadap volume cairan empedu dan pH usus ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 80 ekor DOC ayam broiler strain Multi Breeder (MB) 202 Platinum yang dipelihara sampai umur 35 hari. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan terdiri dari 5 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali dengan masing-masing ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Perlakuan terdiri dari R0 = pakan basal/kontrol; R1 = penggunaan 1,5% fermeherbafit nonenkapsulasi, R2 = penggunaan 1,5% fermeherbafit enkapsulasi, R3 = penggunaan 3,0% fermeherbafit enkapsulasi, dan R4 = penggunaan 4,5% fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan. Hasil penelitian diperoleh rataan volume cairan empedu pada perlakuan R0, R1, R2, R3, R4 sebesar 0,97 ml ± 0,09 dan rataan pH Usus (duodenum, jejenum, ileum) masing – masing 6,2± 0,04; 6,1± 0,07; 6,4± 0,13. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pH usus (jejenum dan ileum) dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap volume cairan empedu dan pH usus (duodenum) ayam broiler. Uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) terhadap volume cairan empedu menunjukkan bahwa R3 dan R4 berbeda nyata (P<0,01), sedangkan terhadap pH usus (duodenum) berbeda tidak nyata. Disimpulkan penggunaan fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan sampai taraf 4,5% mampu meningkatkan volume cairan empedu ayam broiler sebesar 1,25 ± 0,07 ml serta dapat mempertahankan pH usus (duodenum, jejenum, ileum) dengan pH masing-masing 6,2; 6,1 dan 6,4.This study was aim to evaluated the effects of fermeherbafit encapsulation in broiler feed to liquid bile volume and pH of bowel. The material used in this study were 80 species of DOC broiler strain Multi Breeder (MB) 202 Platinum maintained until the age of 35 days. The experiments were performedexperimental methods in vivo and using completely randomized design (CRD). The design consists of 5 treatments and each treatment was repeated 4 times with each replicate consisting of 4 chickens. The treatment consists of R0 = feed basal / control; R1 = 1.5% fermeherbafit non-encapsulation, R2 = 1.5% fermeherbafit encapsulation, R3 = 3.0% fermeherbafit encapsulation, and R4 = 4.5% fermeherbafit encapsulation. Results showed the average volume of bile acids in the treatment of R0,R1,R2,R3,R4 at 0.97 ml ± 0.09 and the average pH of intestine (duodenum, jejenum, ileum) 6,2± 0,04; 6,1± 0,07; 6,4± 0,13 respectively. Results of analysis of variance showed that the fermeherbafitencapsulationin feed has not significant effect (P> 0.05) on intestinal pH (jejenum and ileum) and significant (P <0.05) on volume of bile and the pH of broilers intestine (duodenum). Further test with Honestly Significant Difference (HSD) to the volume of bile shows that R4 very significantly (P<0,01), while on the pH of the intestine (duodenum) not significant. Concluded that fermeherbafit encapsulation in the feed to the extent of 4.5% were able to increase the bile volume of broiler 1.25 ± 0.07 ml and can maintain the pH of the intestine (duodenum, jejenum, ileum) with pH 6.2; 6.1 and 6.4 respectively.
1705020219H1E013046Pengaruh Filter Baji terhadap Profil Keluaran Radiasi Unit Pesawat Co-60 untuk TPS dengan Metode Monte Carlo menggunakan Software MCNPxUnit pesawat radioterapi merupakan alat yang sering digunakan untuk terapi kanker. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan pembuatan model dan simulasi unit pesawat radioterapi Co-60. Pemodelan terdiri dari sumber radiasi C0-60, kolimator, pantom air, filter baji dengan sudut kemiringan profil 15°, 30°, 45°, dan 60°. Perjalanan foton dan interaksinya dengan materi merupakan peristiwa yang random sehingga dapat disimulasikan dengan metode Monte Carlo menggunakan software MCNPX. Sumber dimodelkan sebagai sumber titik arah cone (kerucut) dengan spektrum energi Co-60 1,17 MeV dan 1,33 MeV. Berdasarkan riwayat hidup perjalanan foton yang diamati satu persatu ketika lepas dari sumber berinteraksi dengan material komponen pesawat radioterapi dan pantom air maka diperoleh kurva PDD pada sumbu vertikal dengan kedalaman build-up 0,65 cm. Penggunaan filter baji dapat mengubah kurva keluaran radiasi. Kurva profil terfilter baji menunjukkan bahwa semakin besar sudut filter, maka semakin besar pula fluks yang masuk ke pantom. Co-60 Radiotherapy unit is a tool often used for cancer therapy. The analysis in this research is done by modeling and simulating the unit of aircraft radioterapi Co-60. Modeling consists of radiation source C0-60, collimator, water pantom, wedge filter with a profile angle of 15 °, 30 °, 45 °, and 60 °. The journey of the photon and its interaction with matter is a random event so that it can be simulated using Monte Carlo method using MCNPX software. The source is modeled as a cone (cone) point source with the energy spectrum of Co-60 1.17 MeV and 1.33 MeV. Based on the photographic life biography observed one by one when separated from the source interact with the material components radiotherapy aircraft and water pantom then obtained the curve of PDD on the vertical axis with a build-up depth of 0.65 cm. The use of wedge filters can change the radiation output curve. The wedge filtered profile curve shows that the larger the angle of the filter, the greater the flux that goes into the pantom
1705120218H1E013052Penentuan Dosis Radiasi Sinar Gamma Pada Kanker Payudara Dan Organ Sekitarnya Sebagai Perencanaan Radioterapi (Co-60) Dengan Program Monte Carlo N-PartikelTelah dilakukan pemodelan unit kepala radioterapi tipe Gamma Beam 100-80 nomor seri 1003 beserta phantom rongga dada dan simulasi transport foton dengan program Monte Carlo N-Partikel. Untuk penentuan dosis serap sel kanker payudara dan organ sekitarnya, pemodelan dilakukan dengan mendefinisikan geometri dan komposisi material pada unit kepala radioterapi, water phantom dan phantom tubuh rongga dada termasuk sel kanker payudara. Sumber radiasi cobalt 60 diasumsikan sebagai sumber titik monoenergi sebesar 1,25 MeV dengan arah cone. Dimulai dari tahap pertama yaitu pemodelan unit teleterapi beserta water phantom untuk mengetahui nilai percentage depth dose (PDD). Berdasarkan transport foton, nilai percentage depth dose pada kedalaman 0,6 cm. Tahap kedua yaitu pemodelan unit kepala radioterapi beserta phantom tubuh rongga dada dan penentuan dosis serap pada sel kanker dan organ sekitarnya. Penyinaran searah dilakukan pada penelitian ini, penyinaran tegak lurus pada organ dibagian kiri. Dosis serap pada sel kanker payudara adalah 82.457 Gy, payudara kanan adalah 0,00385 Gy, tulang belakang 0,019 Gy dan pada jantung adalah 1,059 Gy. Modeling of radiotherapy head unit of Gamma Beam 100-80 series 1003 serial number and phantom of chest cavity and simulation of photon transport with Monte Carlo N-Particle program. For the determination of absorbent doses of breast cancer cells and surrounding organs, the modeling was done by defining the geometry and material composition of the radiotherapy head unit, phantom water and phantom of the chest cavity including breast cancer cells. The cobalt 60 radiation source is assumed to be a monoenergy point source of 1.25 MeV with a cone direction. Starting from the first stage is modeling teleterapi unit with water phantom to know the value of percentage depth dose (PDD). Based on photon transport, the value of percentage depth dose at a depth of 0.6 cm. The second stage is the modeling of the radiotherapy head unit along with the phantom of the chest cavity body and the determination of the absorbent dose on cancer cells and surrounding organs. Directional irradiation performed in this study, irradiation perpendicular to the organ on the left. The absorbent dose of breast cancer cells is 82,457 Gy, the right breast is 0.00385 Gy, the spine is 0.019 Gy and the heart is 1,059 Gy.
1705220220D1E012028KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR PAKAN PADA SAPI PERAH LAKTASI YANG MENDAPAT FEED SUPPLEMENTPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan feed supplement Heith-Chrose terhadap kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan materi penelitian sebanyak 21 ekor. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Tersarang dengan 3 perlakuan dan ulangan 4 kali (grup A) dan 3 kali (grup B). Perlakuan level feed supplement Heith-Chrose pada pakan sapi perah adalah R0 = 0% Heith-Chrose, R1 = 1% Heith-Chrose, R2 = 2% Heith-Chrose. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa penambahan feed supplement Heith-Chrose menunjukan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap peningkatan kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian Feed Supplement Heith-Chrose pada sapi perah laktasi 2 dan laktasi 4 berpengaruh terhadap kecernaan serat kasar dan protein kasar. Penambahan Feed Supplement memberikan kecendrungan terbaik pada level 2%The research aimed to determine best level additional of feed supplement Heith-Chrose to digestibility of crude protein and crude fiber diet. This research applied experimental method with research material as much as 21 dairy cattle in lactation period 2 to 4 of late lactation. The study design applied Nested Classification with 3 treatments and replicates 4 times (group A) and 3 times (group B). The levels of feed supplement on dairy cows diet was 0%, 1% and 2% of total concentrate. The result showed that treatments affect significantly different (P>0.05) of digestibility of crude protein and crude fiber. Based on the explanation above, it can be concluded that feeding supplement Heith-Chrose of dairy cattle in lactation period 2 to 4 had affected digestibility of crude protein and crude fiber diet.
1705320221E1A013324PERBEDAAN PENENTUAN TENGGANG WAKTU GUGATAN DI PERADILAN TATA USAHA NEGARA (STUDI PUTUSAN NOMOR : 270/G/2015/PTUN-JKT)Penelitian ini bersumber pada putusan PTUN Jakarta Nomor : 270/G/2015/PTUN-JKT, yang akan menguraikan bagaimana perbedaan dalam menetukan tenggang waktu gugatan menurut Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, serta apakah pertimbangan hukum hakim telah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan.
Tergugat pada perkara a-quo adalah Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan objek gugatannya adalah Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 2091 Tahun 2015 tentang Penetapan Lokasi Untuk Pembangunan Akses Jalan Hutan Kota Kembangan Utara, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamatan Kembangan, Kota Administrasi Jakarta Barat tertanggal 05 Oktober 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-udangan dan pendekatan kasus.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa menetukan tenggang waktu gugatan pada Peradilan Tata Usaha Negara sangatlah penting, dan seharusnya Hakim dalam memutus suatu perkara selain menggunakan ketentuan Undang-Undang sebagai dasar memutus, ia juga harus mengedepankan keadilan, keadilan disini bukan hanya Keadilan Prosedural (keadilan yang didasari pada bunyi pasal dalam Undang-Undang) tetapi seharusnya juga Keadilan Substantif agar di dapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

Kata Kunci : Penentuan, Tenggang Waktu Gugatan, Peradilan Tata Usaha Negara.
This study is based on the decision of PTUN Jakarta Number: 270 / G / 2015 / PTUN-JKT, which will describe how the difference in determining the grace period of lawsuit according to the State Administration Judicature Law with Law No. 2 of 2012 on Land Procurement for Development For the Public Interest, as well as whether the judges legal considerations are in accordance with the Laws and Regulations.
The defendant in the a quo case is the Governor of the Special Capital Province of Jakarta Province, and the object of the lawsuit is the Decision of the Governor of the Province of the Special Capital Region of Jakarta Number 2091 of 2015 on the Stipulation of the Location for the Construction of North Kembangan City Forest Access, Kembangan Utara Village, Kembangan Sub- West Jakarta, dated 05 October 2015. The method used in this research is the normative juridical with the approach used is the approach of legislation and case approach.
The results of this study indicate that determining the grace period of the lawsuit at the State Administrative Court is very important, and should the Judge in deciding a case other than using the provisions of the Act as the basis of disconnect, he must also put forward justice, justice here not only Procedural Justice (justice is based on the chapter in the Law) but it should also be Substantive Justice in order to get justice as fair as possible.

Keywords: Determination, Time Limit of the Lawsuit, State Administrative Court.
1705420222E1A013204SENGKETA KEPEGAWAIAN AKIBAT DITERBITKANNYA
SURAT KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG
PENJATUHAN DISIPLIN TERHADAP PNS
(STUDI PUTUSAN NOMOR: 04/G/2015/PTUN.JKT)
Penelitian ini bersumber pada putusan PTUN Jakarta Nomor : 04/G/2015/PTUN.JKT, yang akan menguraikan bagaimana kriteria keabsahan dan pertimbangan hukum hakim dalam menentukan keabsahan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penjatuhan Disiplin berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah terhadap penggugat.
Tergugat dalam perkara aquo adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia, dan obyek gugatannya adalah Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 496/KMK.01/UP.92/2014 tertanggal 17 Oktober 2014 Tentang Penjatuhan Hukuman Disiplin Berupa Penurunan Pangkat Setingkat Lebih Rendah Selama 3 (Tiga) Tahun Kepada Penggugat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.
Majelis Hakim berpendapat bahwa Tergugat yang telah menerbitkan Surat Keputusan Objectum Litis, baik secara kewenangan, prosedur maupun substansi tidak terbukti bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sedangkan Surat Keputusan Objek Sengketa ternyata bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dan AUPB Dengan demikian penjatuhan disiplin berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah kepada Penggugat tidak sesuai.
Kata kunci : Disiplin PNS, Keabsahan KTUN.
This research is based on the decision of PTUN Jakarta Number 04 / G / 2015 / PTUN.JKT, which will describe how the criteria of legality and judge's judicial consideration in determining the validity of the Decree of the Minister of Finance of the Republic of Indonesia concerning the Accomplishment of Discipline in the form of lower rank demotion against the plaintiff.
The Defendant in the aquo case is the Minister of Finance of the Republic of Indonesia, and the object of the lawsuit is the Decree of the Minister of Finance No. 496 / KMK.01 / UP.92 / 2014 dated October 17, 2014 Regarding the imposition of disciplinary punishment for Lower Rank For 3 (Three) Years To the Plaintiff. The method used in this research is normative juridical with approach used is approach of legislation and approach of case.
The Panel of Judges is of the opinion that the Defendant who has issued the Letter of Objectum Litis, whether by authority, procedure or substance, is not proven to be contradictory to the prevailing Law Regulations and the Good Governance Principles, as intended in Article 53 paragraph (2) letter a and b Law Number 5 Year 1986 on State Administrative Court. While the Decision Letter of Objects Dispute was contradictory to the Regulation and AUPB Thus the disciplinary submission of lower rank demotion to the Plaintiff is not appropriate.
1705520223E1A013276PERLINDUNGAN HUKUM PEKERJA PERAWAT PEREMPUAN YANG BEKERJA PADA MALAM HARI DI RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTOPenelitian ini berjudul “Perlindungan Hukum Pekerja Perawat Perempuan Yang Bekerja Pada Malam Hari Di Rumah Sakit Ananda Purwokerto”.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari di rumah sakit Ananda Purwokerto, untuk mengetahui hambatan-hambatan dalam pemberian perlindungan hukum pada pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari di rumah sakit Ananda. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan “Perlindungan Hukum Pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari di rumah sakit Ananda Purwokerto” maka simpulan sebagai berikut: Bentuk perlindungan hukum terhadap pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari pada rumah sakit Ananda Purwokerto belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan, seperti: perlindungan waktu kerja, dan perlindungan tenaga kerja perempuan. Hambatan dalam pelaksanaan perlindungan pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari meliputi: Tidak adanya alat transportasi dari pihak rumah rumah sakit sehingga tidak adanya fasilitas antar jemput bagi pekerja perawat perempuan yang bekerja pada malam hari.Seringkali terjadi perubahan jadwal shift malam hari karena pekerja yang bersangkutan berhalangan untuk bekerja pada jadwal yang seharusnya sehingga harus digantikan dengan perawat yang lain.Karena jarak antara pekerja perawat yang satu dengan yang lainnya berjauhan, sehingga sulit dijangkau jika diterapkan fasilitas antar jemput tersebut. Waktu kerja malam hari bagi pekerja perawat perempuan dilaksanakan 10 jam karena diperuntukan demi kepentingan pasien.
Kata kunci: Perlindungan Hukum, Pekerja Malam, Perawat Perempuan.
This research titled "Protection of Legal Worker of Female Nurse Working at Night in Ananda Hospital Purwokerto" .The purpose of this research is to know the form of legal protection against female nurse worker at night in Ananda Hospital Purwokerto, to know the obstacles in providing legal protection to female nurses working at night in Ananda hospital. This research uses sociological juridical approach method. Based on the results of the study and discussion of "Legal Protection of female Nurse Workers Working at Night in Ananda Purwokerto Hospital", the conclusion is as follows: The form of legal protection for female nurse worker at night in Ananda Purwokerto hospital is not in accordance with the legislation. such as: protection of working time, and protection of women workers. Obstacles in the implementation of the protection of female nurses working at night include: The absence of transportation equipment from the hospital's house so that there is no shuttle facility for female nurses working at night. Often there is a change of night shift schedule because the worker concerned unable to work on a schedule that should be supposed to be replaced with another nurse. Due to the distance between nurse workers one with the other apart, making it difficult to reach if applied shuttle facilities. Night work time for female nurse worker is done 10 hours because it is intended for the sake of patient's interest
Keyword : Keywords: Legal Protection, Night Worker, Female Nurse.
1705620224A1C113035PERSEPSI WANITA TANI TERHADAP PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) DI DESA MAJAPURA, KECAMATAN BOBOTSARI, KABUPATEN PURBALINGGAKawasan Rumah Pangan Lestari atau Program KRPL merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan penganekaragamaan pangan terhadap masyarakat. Program KRPL lalu disampaikan melalui penyuluh kepada wanita tani yang kemudian dalam pelaksanaan program akan muncul sebuah persepsi pada tiap individu. Persepsi merupakan bentuk interpretasi dari sensasi yang diperoleh melalui alat indera dan adanya penambahan informasi untuk menggambarkan sensasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Persepsi wanita tani terhadap Program KRPL, 2) Dampak yang diperoleh wanita tani setelah melaksanakan Program KRPL, di Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2017 dengan sasaran anggota KWT “Wanita Mandiri” di Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan metode penentuan responden secara sensus. Jumlah wanita tani sebanyak 36 responden. Metode analisis yang digunakan analisis deskriptif dan metode Likert’s Summated Rating (LSR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi anggota KWT terhadap Program KRPL memiliki rata-rata skor yaitu 133,39 yang masuk dalam kategori tinggi, artinya anggota KWT dirasa sudah mampu melaksanakan Program KRPL baik pada lingkungan desa ataupun rumah. Selain itu, anggota KRPL juga merasa bahwa dengan adanya Program KRPL mempermudah mereka dalam memperoleh kebutuhan pangan untuk sehari-hari, baik pelengkap ataupun camilan. Dampak yang diinginkan oleh pemerintah melalui Program KRPL terhadap anggota KWT dirasa sudah tercapai. Pemerintah berharap dengan adanya Program KRPL mampu memenuhi kebutuhan pangan anggota dan keluarga serta memberi variasi pangan. Akan tetapi, dalam pencapaian usaha ekonomi produktif dianggap belum mencapai tingkat maksimal dikarenakan sebagian anggota KWT menjadikan hasil penanaman sebagai konsumsi pribadi dan tidak untuk dijual. Selain itu, Program KRPL dijadikan sebagai kegiatan tambahan bagi anggota KWT dikarenakan tiap-tiap anggota memiliki kesibukan yang lainnya.Sustainable Food House Program or KRPL Program is one of the effort from government to realize diversity of food for society.KRPL Program is transfered from instructor to women farmer then in the process there will be a perception from every individual. Perception is an interpretation from sensation that is coming from the sense and there will be an addition of information to describe it. This reaserch aims to: 1) perception of women farmer for KRPL Program, 2) impact for women farmer after implement the KRPL Program in Majapura Village, Bobotsari, Purbalingga. This research is realization on July until August 2017 and the target is member of women farmer group or KWT “Wanita Mandiri” in Majapura Village, Bobotsari, Purbalingga. The method of this research is case study method and the method for taking respondence is census. Total for the members are 36 respondents. The analisist method is using description and Likert’s Summated Rating (LSR) method. The result showed that perception of the KWT members for KRPL Program is the members had an average score 133,39, its included in high category, it meant that the KWT members could implement the KRPL Program either in village or neighborhood. In addition, KWT members also thought that KRPL Program made them got daily food needs easier, either complement or snack. The impact desired by the government through the KRPL Program for KWT members was achieved. The government expected that the KRPL Program would be able to satisfy the food needs of members and families and provide food variation. However, to achievement the productive economy business cannot achieve the maximum level because partly of the members make the planting as a personal consumption and not for sale. Besides, KRPL Program is used as an additional activity for KWT members because each members had another activities.
1705720192A1L011100PENGARUH PEMBERIAN DOSIS POC TINJA MANUSIA DAN
BERBAGAI MACAM MEDIA TANAM PADA BUDIDAYA
BAYAM CABUT ( Amaranthus hibrydus L. )
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk organik cair tinja manusia, dan macam media tanam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi bayam. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2017 sampai Februari 2017 di screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri dari 3 dosis POC tinja manusia, yaitu dosis 0 mL/pertanaman (K1), 0,4 mL/pertanaman (K2), 0,6 mL/pertanaman (K3). Faktor kedua adalah media tanam yang terdiri dari 3 macam, yaitu tanah atau kontrol (M0), tanah+arang sekam (M1), tanah+pupuk kandang (M2). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot tanaman segar, bobot akar segar, bobot tanaman kering, bobot akar kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC tinja manusia pada dosis 0,6 mL (K3) berpengaruh nyata terhadap jumlah daun. Pemberian media tanam berbeda sangat nyata terhadap semua variabel pengamatan, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot tanaman segar, bobot akar segar, bobot tanaman kering, bobot akar kering. Semua variabel tidak ditemukan adanya interaksi antara dosis POC tinja manusia dengan media tanam.The research aimed to know the effect of liquid organic fertilizers dose of human feces, and plant media type of both to increase the growth and the production of plant spinach. The research was carried January 2017 to February 2017 in screenhouse Faculty of Agriculture University of Jenderal Soedirman. The experimental design used was Block Randomized Design factorial with 9 treatments and 3 replicates. The first factor consists of 3 doses of human feces POC. Namely doses of 0 mL/plant (K1), 0,4 mL/plant (K2), 0,6 mL/plant (K3). The second factor is the planting medium consisting of 3 kinds of land or control (M0), land + husk charcoal (M1), land + Manure (M2). The observed variables include the number of leaves, plant height, root length, fresh weight of plant, root fresh weight, dry weight, root dry weight of the plant. The results showed that the granting of human feces in the POC 0,6 mL dose (K3) influential real against the number of leaves. Granting planting media differ very markedly against all variable observations i.e. high number of plants, leaves, root length, fresh weight of plant, root fresh weight, dry weight, root dry weight of the plant. All variables are not found the existence of an interaction between human feces POC dose with the media.
1705821451D1E014194KONSENTRASI VFA TOTAL DAN N-NH3 CAIRAN RUMEN DOMBA JANTAN YANG RANSUMNYA DISUPLEMENTASI UREA-ONGGOK DAN BUNGKIL KEDELAI TERPROTEKSIPenelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi VFA total dan N-NH3 yang paling optimal dari pemberian ransum perlakuan. Penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai dari 18 Oktober 2017 sampai 10 Januari 2018. Lokasi penelitian dilakukan di Experimental Farm dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah domba jantan umur 12 bulan sebanyak 15 ekor pada kisaran bobot 20-23 kg yang ditempatkan dalam kandang individu. Pemberian ransum perlakuan setelah melewati periode adaptasi (preliminary). Pengambilan cairan rumen dilakukan pada akhir periode koleksi diambil dengan cara stomach tube, 3 - 4 jam setelah diberi pakan. Cairan rumen yang dibutuhkan dari setiap ekor 10 ml kemudian diberi 1 ml HgCl2. Kemudian cairan rumen disimpan di dalam freezer untuk selanjutnya dianalisis VFA total dan N-NH3. Rancangan penelitian yang dilakukan yaitu rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang di uji R0 = ransum kontrol, R1 = ransum kontrol + 5% BK suplemen, R2 = ransum kontrol + 10% BK suplemen, R3 = ransum kontrol + 15% BK suplemen, R4 = ransum kontrol + 20% BK suplemen. Data dianalisis menggunakan analisisi variansi dan diuji lanjut dengan orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi VFA total (P>0,01) tetapi berpengaruh nyata terhadap konsentrasi N-NH3 (P<0,01). Rataan konsentrasi VFA total pada perlakuan R0, R1, R2, R3, dan R4 berkisar antara 78,33 mM – 86,66 mM. Rataan konsentrasi N-NH3 pada perlakuan R0, R1, R2, R3, dan R4 yaitu berkisar antara 5,33-20,33 mM. Disimpulkan hasil dari penelitian bahwa pemberian suplemen sampai level 20% tidak menganggu konsentrasi VFA total dan N-NH3 dalam kisaran normal untuk sintesis protein mikroba rumen.The aim of this research is to find out the most optimal total VFA and N-NH3 concentration from the treatment ration. The study was conducted for 3 months starting from October 18, 2017 to January 10, 2018. The study sites were conducted at Experimental Farm and Nutrition and Feed Science Laboratory. The material used in this study was a 12-month-old male 15 lambs in the 20-23 kg weight range placed in individual cages. Provision of treatment rations after passing a period of adaptation (preliminary). The rumen fluid taken at the end of the collection period by stomach tube, 3 - 4 hours after feeding. The required rumen fluid from each 10 ml tail is then given 1 ml of HgCl2. Then the rumen fluid is stored in the freezer for further analysis of total VFA and N-NH3. The design of the research was a complete randomized design with 5 treatments and 3 replications. The treatments were tested R0 = control ration, R1 = control ration + 5% BK supplement, R2 = control ration + 10% BK supplement, R3 = control ration + 15% BK supplement, R4 = control ration + 20% BK supplement. Data were analyzed using variance analysis and further tested with orthogonal polynomial. The results showed that the treatment had no significant effect on total VFA concentration (P> 0,01) but had significant effect on N-NH3 concentration (P <0.01). The mean total VFA concentration at treatment R0, R1, R2, R3, and R4 ranged between 78.33 mM - 86.66 mM. The mean of N-NH3 concentration on treatment of R0, R1, R2, R3, and R4 ranged from 5.33 to 20.33 mM. It was concluded from the study that supplementation up to 20% level did not disturb the total VFA and N-NH3 concentrations in the normal range for rumen microbial protein synthesis.
1705921452G1H013046HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN ENERGI, LEMAK DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN UKURAN LINGKAR PINGGANG PADA ANGGOTA POLISI POLRES BANYUMASLatar Belakang: Obesitas sentral merupakan peningkatan lemak tubuh pada daerah abdominal. Obesitas sentral dapat dinilai dari hasil pengukuran lingkar pinggang, termasuk dengan obesitas sentral jika lingkar pinggang >90 cm pada laki-laki dan >80 cm pada wanita dewasa. Kejadian obesitas sentral di Banyumas mengalami peningkatan pada tahun 2015 menjadi 47,7%. Data Riskesdas (2013) menunjukan bahwa orang dewasa yang bekerja sebagai TNI, Polisi dan PNS merupakan kelompok prevalensi obesitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat asupan energi, lemak dan indeks massa tubuh (imt) dengan ukuran lingkar pinggang pada anggota polisi Polres Banyumas.

Metodologi: Penelitian dilakukan dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 60 anggota polisi Polres Banyumas dan pengambilan sampel menggunakan metode cluster random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran lingkar pinggang, berat badan dan tinggi badan secara langsung, Recall 2 x 24 jam untuk mengetahui tingkat asupan energi dan lemak. Analisis yang digunakan untuk menguji hubungan tingkat asupan energi, lemak dan indeks massa tubuh dengan ukuran lingkar pinggang menggunakan uji chi-square.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan 50% anggota polisi Polres Banyumas mengalami obesitas sentral serta 56.7% termasuk dalam kategori indeks massa tubuh lebih. P value hubungan tingkat asupan energi dan lemak dengan ukuran lingkar pinggang >0.05 yaitu 1.000 dan 0.683 sedangkan P value hubungan indeks massa tubuh dengan ukuran lingkar pinggang <0.05 yaitu 0.000.

Kesimpulan: Tidak ada hubungan tingkat asupan energi dan lemak dengan ukuran lingkar pinggang pada anggota polisi Polres Banyumas. Ada hubungan indeks massa tubuh (imt) dengan ukuran lingkar pinggang anggota polisi Polres Banyumas.

Kata Kunci: Ukuran lingkar pinggang, Tingkat asupan energi, lemak, Indeks massa tubuh (IMT)
Background: Central obesity is increasing fat in abdominal area. It can be assessed by the measurement on size of waist circumference, including central obesity if the size of waist circumference >90 cm on men and >80 cm on adult women. The central obesity has increased in 2015 to 47.7% in Banyumas. The Riskesdas data (2013) showed the adults who worked as TNI, Police, and civil servants were the groups of high prevalence of obesity. The aim of the study is to determine the correlation between the levels of energy intake, fat, body mass index (BMI) and size of waist circumference on Polres Banyumas Police Officers.

Metodology: The research was done by cross-sectional approach. The sampling was 60 Polres Banyumas Police Officers and sample was taken by using cluster random sampling method. The data was collected by measuring waist circumference, body weight and height directly, Recall 2 x 24 hours to find out the level of energy intake and fat. The analysis used chi-square to test the correlation of energy intake level, fat and body mass index (BMI) and size of waist circumference.

Result: The result shows 50% of Polres Banyumas Police Officers were central obesity and 56.7% were included in the category of more body mass index. P value the correlation the energy level and fat intake and size of waist circumference >0.05 is 1.000 and 0.683 whereas P value the correlation of body mass index and size wait circumference <0.05 is 0.000.

Conclusion: There is no correlation between the level of energy, fat intake and size of waist circumference on the Polres Banyumas Police Officers. There is a correlation between body mass index (BMI) and the size of waist circumference of Polres Banyumas Police Officers.

Keyword: Waist circumference, level of energy and fat intake, body mass index (BMI).
1706021578A1L013029PEMANFAATAN LIMBAH CAIR TEMPE SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF FORMULA DUA ISOLAT Trichoderma harzianum UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT MOLER BAWANG MERAHPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan limbah cair tempe sebagai bahan alternatif formula dua isolat T. harzianum, mendapatkan formula terbaik dua isolat T. harzianum dalam mengendalikan penyakit moler bawang merah, dan mendapatkan formula terbaik dua isolat T. harzianum dalam meningkatkan pertumbuhan bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2017- Januari 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan yaitu kontrol, limbah cair rebusan kedelai T. harzianum isolat bawang merah, limbah cair rendaman kedelai T. harzianum isolat bawang merah, limbah cair rebusan kedelai T. harzianum isolat jahe, limbah cair rendaman kedelai T. harzianum isolat jahe, limbah cair rebusan kedelai gabungan dua isolat T. harzianum, dan limbah cair rendaman kedelai gabungan dua isolat T. harzianum. Variabel pengamatan meliputi kepadatan T. harzianum dalam formula, masa inkubasi, intensitas penyakit dan keefektifan pengendalian, laju infeksi, Area Under the Disease Progress Curve, populasi akhir patogen, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot umbi segar, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair rendaman kedelai terbukti dapat digunakan sebagai bahan alternatif formula cair dua isolat T. harzianum ditunjukan dengan kepadatan spora mencapai 8,45x10⁷ konidium/mL. Formula cair terbaik dalam menekan penyakit moler bawang merah adalah formula cair rendaman kedelai gabungan dua isolat T. harzianum dengan nilai laju infeksi, intensitas penyakit dan populasi akhir patogen masing masing 0,14 unit/minggu, 9,91% dan 6x10² upk/g lebih rendah dibandingkan kontrol. Formula cair rendaman kedelai gabungan dua isolat T. harzianum juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah ditunjukan dengan meningkatkan tinggi tanaman sebesar 13,77% dan bobot umbi sebesar 10,98% dibandingkan kontrol.This research aimed to study the effect of using tempe waste as liquid formula alternative material of two of Trichoderma harzianum isolates, the best formula of two T. harzianum isolates in controlling shallot Fusarium wilt, and the best formula of two T. harzianum isolates increasing growth of shallot. The research was conducted in August 2017-February 2018. Randomized block design was used with treatments consisted of control, soybean stew liquid waste T. harzianum shallot isolate, liquid soybean immersion T. harzianum shallot isolate, liquid soybean immersion T. harzianum ginger isolate, soybean stew liquid waste T. harzianum ginger isolate, soybean stew liquid waste of mixed two T. harzianum isolates, and liquid soybean immersion of mixed two T. harzianum isolates. Variables observed included density of formula T. harzianum, disease intensity and effectiveness of control, incubation period, disease intensity, infection rate, Area Under the Disease Progress Curve, late pathogen population, crop height, leaf number, tuber fresh weight, and root length. The results showed that soybean liquid waste proved to be used as an alternative material of liquid formula of two isolates T. harzianum showed with spore density reached 8.45x10⁷ conidium/mL. The best liquid formula in suppressing moler shallot disease is a liquid formula of combined soybean of two isolates of T. harzianum with infestation rate, disease intensity and endogenous population of each of 0.14 units / week, 9.91% and 6x10 ² upk / g lower than control. Liquid soybean formula combined two isolate T. harzianum can also increase the growth of shallot plant shown with high value of plant consecutively equal to 13,77% and tuber weight to 10,98% than control.